11 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kerangka Teori 1. Tinjauan tentang Alat Bukti
Alat-alat bukti yang sah yang ditentukan dalam Pasal 172 Undang- Undang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer (yang selanjutnya disebut Undang-Undang Peradilan Militer) adalah:
a. Keterangan saksi;
b. Keterangan ahli;
c. Keterangan Terdakwa;
d. Surat; dan e. Petunjuk.
Pasal 172 Undang-Undang Peradilan Militer telah menentukan secara limitatif alat bukti yang sah menurut undang-undang. Diluar alat bukti itu, tidak dibenarkan dipergunakan untuk membuktikan kesalahan terdakwa.
Adapun yang dinilai sebagai alat bukti yang sah dan yang dibenarkan mempunyai “kekuatan pembuktian” hanya terbatas pada alat-alat bukti itu saja.
Pembuktian dengan alat bukti diluar jenis alat bukti yang disebut pada Pasal 172 tidak mempunyai nilai serta tidak mempunyai kekuatan pembuktian yang mengikat. Selanjutnya akan diuraikan kekuatan pembuktian dari masing-masing alat bukti yang tercantum dalam Pasal 172 tersebut, yaitu:
a. Keterangan Saksi
Pengertian keterangan saksi menurut Pasal 1 angka 28 Undang- Undang Peradilan Militer adalah sebagai berikut: “Keterangan saksi adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri dengan menyebutkan alasan dari pengetahuannya itu”.
12
Semua orang pada umumnya dapat menjadi saksi. Pengecualian menjadi saksi tercantum dalam Pasal 159 Undang-undang Peradilan Militer (Andi Hamzah, 2009: 260):
(1) Keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai derajat ketiga dari Terdakwa atau yang bersama-sama sebagai Terdakwa.
(2) Saudara dari Terdakwa atau bersama-sama sebagai Terdakwa, saudara ibu atau bapak, juga mereka yang mempunyai hubungan karena perkawinan dan anak-anak saudara Terdakwa sampai derajat ketiga.
(3) Suami atau istri Terdakwa meskipun sudah bercerai atau yang bersama-sama sebagai Terdakwa.
b. Keterangan Ahli
Pengertian keterangan ahli menurut Pasal 1 angka 29 Undang- undang Peradilan Militer adalah sebagai berikut: “Keterangan yang diberikan oleh seorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan”. Rumusan Pasal 1 angka 29 tersebut di atas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1) Keterangan ahli ialah keterangan yang diberikan seorang ahli yang memiliki “keahlian khusus” tentang masalah yang diperlukan penjelasannya dalam suatu perkara pidana yang sedang diperiksa.
2) Maksud keterangan khusus dari ahli, agar perkara pidana yang sedang diperiksa “menjadi terang” demi untuk penyelesaian pemeriksaan perkara yang bersangkutan. Keterangan ahli juga diatur dalam Pasal 174 Undang-undang Peradilan Milter yang berbunyi
“Keterangan ahli sebagai alat bukti ialah keterangan ahli yang dinyatakan dalam persidangan”.
Penjelasan resmi Pasal 174 tercantum: “Keterangan ahli ini dapat juga sudah diberikan pada waktu pemeriksaan oleh penyidik atau Penuntut Umum yang dituangkan dalam suatu bentuk laporan dan dibuat dengan mengingat sumpah di waktu ia menerima jabatan atau pekerjaan”. Jika hal itu tidak diberikan pada waktu pemeriksaan oleh penyidik atau penuntut umum maka pada pemeriksaan di sidang diminta
13
untuk memberikan keterangan dan dicatat dalam berita acara pemeriksaan. Keterangan tersebut diberikan setelah ia mengucapkan sumpah atau janji dihadapan hakim (Leden Marpaung, 2011: 35).
Keterangan ahli dalam beberapa kasus juga dapat diperoleh dengan visum et repertum sebagaimana dalam Pasal 118 Undang-undang Peradilan Militer, visum et repertum yang pada dasarnya merupakan laporan tertulis dari seorang seorang dokter tentang apa yang dilihat dan ditemukan sehingga visum et repertum dapat membantu penyidikan guna mengungkapkan suatu perkara pidana. Visum et repertum berfungsi untuk:
1) membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan;
2) menentukan tugas selanjutnya bagi penuntut umum dan Hakim di Pengadilan; dan
3) menggantikan sepenuhnya corpus delicti (pengganti barang bukti) karena barang bukti yang berasal dari tubuh manusia seperti luka maupun jenazah akan berubah.
Melalui hasil pemeriksaan dari dokter terhadap korban yang dituangkan dalam bentuk visum et repertum sebagai pengganti barang bukti, maka penuntut umum/oditur militer dapat lebih mempertajam tuntutannya serta menerapkan pasal-pasal dari KUHP terutama dalam peristiwa yang dilakukan dengan kekerasan bahkan jaksa selaku penuntut umum/oditur militer maupun hakim setelah mempelajari isi dari visum et repertum dapat membayangkan bagaimana keadaan barang bukti pada saat terjadinya peristiwa pidana. Di dalam Undang-undang Peradilan Milter kedudukan atau nilai visum et repertum adalah salah satu alat bukti yang sah. Visum et repertum turut berperan dalam proses pembuktian suatu perkara pidana terhadap kesehatan dan jiwa manusia, visum et repertum menguraikan segala sesuatu tentang hasil pemeriksaan medis (Atang Ranoemiharja, 1980: 15).
c. Keterangan Terdakwa
14
Alat bukti keterangan terdakwa diatur dalam Pasal 175 Undang- Undang Peradilan Militer yang berbunyi:
(1) Keterangan Terdakwa ialah apa yang Terdakwa nyatakan di sidang tentang perbuatan yang ia lakukan atau yang ia ketahui sendiri atau alami sendiri.
(2) Keterangan Terdakwa yang diberikan di luar sidang dapat digunakan untuk membantu menemukan bukti di sidang, asalkan keterangan itu didukung oleh suatu alat bukti yang sah sepanjang mengenai hal yang didakwakan kepadanya.
(3) Keterangan Terdakwa hanya dapat digunakan terhadap dirinya sendiri.
(4) Keterangan Terdakwa saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia bersalah melakukan perbuatan yang didakwakan kepadanya, melainkan harus disertai dengan alat bukti yang lain.
Mengenai Pasal 175 ayat (3) Undang-Undang Peradilan Militer memang selayaknya demikian, karena terdakwa tidak disumpah dan keterangannya dipertegas disini, hanya untuk dirinya. Perlu diperhatikan bahwa keterangan terdakwa benar-benar tuntas dalam arti tidak cukup umpamanya pengakuan atas perbuatan yang didakwakan melainkan segala keterangan mengenai perbuatan yang dilakukannya dan cara-cara melakukannya (Leden Marpaung, 2011: 40-41).
Nilai kekuatan pembuktian alat bukti keterangan atau pengakuan terdakwa adalah sebagai berikut (M. Yahya Harahap, 2003: 332-333):
1) Sifat Nilai Pembuktiannya adalah Bebas
Hakim tidak terikat pada nilai kekuatan yang terdapat pada alat bukti keterangan Terdakwa. Dia bebas untuk menilai kebenaran yang terkandung di dalamnya. Hakim dapat menerima atau menyingkirkannya sebagai alat bukti dengan jalan mengemukakan alasan-alasannya. Jangan hendaknya penolakan akan kebenaran keterangan Terdakwa tanpa alasan yang didukung oleh argumentasi yang tidak proporsional dan akomodatif. Demikian juga sebaliknya,
15
seandainya hakim hendak menjadikan alat bukti keterangan terdakwa sebagai salah satu landasan pembuktian kesalahan terdakwa, harus dilengkapi dengan alasan yang argumentatif dengan menghubungkannya dengan alat bukti yang lain.
2) Harus Memenuhi Batas Minimum Pembuktian
Hakim harus memperhatikan ketentuan yang dirumuskan dalam Pasal 175 ayat (4) Undang-Undang Peradilan Militer, yang menentukan: “Keterangan Terdakwa saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia bersalah melakukan perbuatan yang didakwakan kepadanya, melainkan harus disertai dengan alat bukti yang lain”. Ketentuan ini dapat disimpulkan bahwa keharusan mencukupkan alat bukti keterangan terdakwa dengan sekurang- kurangnya satu lagi alat bukti yang lain, baru mempunyai nilai pembuktian yang cukup. Penegasan Pasal 175 ayat (4) Undang- Undang Peradilan Militer, sejalan dengan mempertegas asas batas minimum pembuktian telah menegaskan, tidak seorang terdakwa pun dapat dijatuhi pidana kecuali jika kesalahan yang didakwakan kepadanya telah dapat dibuktikan dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah.
3) Harus Memenuhi Asas Keyakinan Hakim
Keyakinan hakim merupakan hal penting dalam putusan yang akan diambilnya. Sekalipun kesalahan terdakwa telah terbukti sesuai dengan asas batas minimum pembuktian, masih harus lagi dipertimbangkan dengan “keyakinan hakim”, bahwa memang terdakwa yang bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya. Asas keyakinan hakim harus melekat pada putusan yang diambilnya sesuai dengan sistem pembuktian yang dianut Pasal 171 Undang-undang Peradilan Milter adalah “pembuktian menurut undang-undang secara negatif”. Artinya disamping dipenuhinya batas minimum pembuktian dengan alat bukti yang sah maka dalam pembuktian yang cukup tersebut harus dipertimbangkan dengan
16
keyakinan hakim bahwa terdakwalah yang bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya.
d. Surat
Surat sebagai alat bukti sah yang merupakan urutan ke-4 diatur oleh Pasal 172 Undang-Undang Peradilan Militer yang berbunyi:
Surat sebagaimana tersebut pada Pasal 172 ayat (1) huruf c, dibuat atas sumpah jabatan atau dikuatkan dengan sumpah, adalah:
(1) Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang berwenang atau yang dibuat dihadapannya, yang memuat keterangan tentang kejadian atau keadaan yang didengar, dilihat atau dialaminya sendiri, disertai dengan alasan-alasan yang jelas dan tegas tentang keterangannya itu.
(2) Surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang- undangan atau surat yang dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam tata laksana yang menjadi tanggung jawabnya dan diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal atau sesuatu keadaan.
(3) Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dari padanya.
(4) Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari alat pembuktian yang lain.
Penentuan nilai kekuatan pembuktian yang melekat pada alat bukti surat, dapat ditinjau dari segi teori serta menghubungkannya dengan beberapa prinsip pembuktian yang diatur dalam Undang-undang Peradilan Militer (M. Yahya Harahap, 2003: 309-310):
1) Ditinjau dari Segi Formal
Ditinjau dari segi formal, alat bukti surat yang disebut pada Pasal 176 huruf a, b dan c Undang-Undang Peradilan Militer adalah alat bukti yang “sempurna”. Sebab bentuk surat-surat yang disebut di dalamnya dibuat secara resmi menurut formalitas yang ditentukan peraturan perundang-undangan. Dengan dipenuhinya ketentuan formal dalam pembuatannya serta dibuat dan berisi keterangan resmi dari seorang pejabat yang berwenang dan pembuatan serta keterangan yang terkandung dalam surat dibuat atas sumpah jabatan maka ditinjau dari segi formal alat bukti surat seperti yang disebut
17
dalam Pasal 176 huruf a, b dan c adalah alat bukti yang bernilai
“sempurna”. Oleh karena itu, alat bukti surat resmi mempunyai nilai
“pembuktian formal yang sempurna”.
2) Ditinjau dari Segi Materiil
Ditinjau dari sudut meteriil, semua bentuk alat bukti surat yang disebut dalam Pasal 176 Undang-Undang Peradilan Militer, “bukan alat bukti yang mempunyai kekuatan mengikat”. Pada diri alat bukti surat itu tidak melekat kekuatan pembuktian yang mengikat. Nilai kekuatan pembuktian alat bukti surat, sama halnya dengan nilai kekuatan pembuktian keterangan saksi dan alat bukti keterangan ahli, sama-sama mempunyai nilai kekuatan pembuktian yang
“bersifat bebas”. Tanpa mengurangi sifat kesempurnaan formal alat bukti surat yang disebut pada Pasal 176 huruf a, b dan c sifat kesempurnaan formal tersebut tidak dengan sendirinya mengandung nilai kekuatan pembuktian yang mengikat. Hakim bebas untuk menilai kekuatan pembuktiannya. Hakim dapat mempergunakan atau menyingkirkannya.
e. Petunjuk
Alat bukti petunjuk diatur dalam Pasal 177 Undang-undang Peradilan Militer yang berbunyi:
(1) Petunjuk adalah perbuatan, kejadian atau keadaan, yang karena persesuaiannya, baik antara yang satu dengan yang lain, maupun dengan tindak pidana itu sendiri, menandakan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana dan siapa pelakunya.
(2) Petunjuk sebagaimana disebutkan dalam ayat (1) hanya dapat diperoleh dari:
a. Keterangan saksi;
b. Keterangan Terdakwa ; dan c. Surat.
(3) Penilaian atas kekuatan pembuktian dari suatu petunjuk dalam setiap keadaan tertentu dilakukan oleh hakim dengan arif lagi bijaksana, setelah ia mengadakan pemeriksaan dengan penuh kecermatan dan keseksamaan berdasarkan hati nuraninya.
Kekuatan pembuktian alat bukti petunjuk serupa sifat kekuatannya dengan alat bukti yang lain. Sebagaimana yang sudah diuraikan
18
mengenai kekuatan pembuktian keterangan saksi, keterangan ahli dan alat bukti surat, hanya mempunyai sifat kekuatan pembuktian “yang bebas” (M. Yahya Harahap, 2003: 317):
1) hakim terikat atas kebenaran persesuaian yang diwujudkan oleh petunjuk, oleh karena itu, hakim bebas menilainya dan mempergunakannya sebagai upaya pembuktian; dan
2) petunjuk sebagai alat bukti, tidak bisa berdiri sendiri membuktikan kesalahan terdakwa, dia tetap terikat kepada prinsip batas minimum pembuktian. Oleh karena itu, agar petunjuk mempunyai nilai kekuatan pembuktian yang cukup, harus didukung dengan sekurang-kurangnya satu alat bukti yang lain.
2. Tinjauan tentang Visum et Repertum a. Pengertian Visum et Repertum
Menurut Hukum Acara Pidana di Indonesia, mengenai permintaan bantuan tenaga ahli diatur dan disebutkan dalam Undang-undang Peradilan militer . Untuk permintaan bantuan tenaga ahli pada tahap penyidikan disebutkan pada Pasal 110 ayat (1). Sedangkan untuk permintaan bantuan keterangan ahli pada tahap pemeriksaan persidangan, terdapat pada Pasal 167 ayat (1).
Mengenai keterangan ahli sebagaimana disebutkan dalam kedua Pasal Undang-undang Peradilan militer , diberikan pengertiannya pada Pasal 1 butir ke-29 Undang-undang Peradilan militer, yang menyatakan :
“Keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan oleh seorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan”.
Terkait dengan bantuan keterangan ahli yang diperlukan dalam proses pemeriksaan suatu perkara pidana, maka bantuan ini pada penyidikan juga mempunyai peran yang penting untuk membantu penyidik mencari dan mengumpulkan bukti-bukti dalam usahanya menemukan kebenaran materiil suatu perkara pidana. Dalam kasus-kasus tertentu, bahkan penyidik sangat bergantung pada keterangan ahli untuk mengungkap lebih jauh suatu peristiwa pidana yang sedang ditangani.
Kasus-kasus tindak pidana seperti pembunuhan, penganiayaan, dan
19
pemerkosaan merupakan contoh kasus dimana penyidik membutuhkan bantuan tenaga ahli seperti dokter ahli forensik atau dokter ahli lainnya untuk memberikan keterangan medis tentang kondisi korban yang selanjutnya cukup berpengaruh bagi tindakan penyidik dalam mengungkap lebih lanjut kasus tersebut.
Keterangan ahli yang dimaksud yaitu keterangan dari dokter yang dapat membantu penyidik dalam memberikan bukti. Bukti tersebut berupa keterangan medis yang sah dan dapat dipertanggungjawabkan mengenai keadaan korban, terutama terkait dengan pembuktiaan adanya tanda-tanda kekerasan. Keterangan dokter yang dimaksudkan tersebut dituangkan secara tertulis dalam bentuk surat hasil pemeriksaan medis yang disebut Visum et Repertum.
Visum et Repertum adalah istilah yang dikenal dalam ilmu kedokteran forensik, biasanya dikenal dengan nama “Visum”. Visum berasal dari bahasa latin, bentuk tunggalnya adalah “Visa”. Dipandang dari arti etimologi atau tata bahasa. Kata “Visum” atau “Visa” berarti tanda melihat atau melihat yang artinya penandatanganan dari barang bukti tentang segala sesuatu hal yang ditemukan, disetujui, dan disahkan, sedangkan “Repertum” berarti melapor yang artinya apa yang telah didapat dari pemeriksaan dokter terhadap korban. Secara etimologi Visum et Repertum apalah apa yang dilihat dan diketemukan.
Menurut Staatsblad Tahun 1937 Nomor 350 “Visum et Repertum”
adalah laporan tertulis untuk kepentingan peradilan (pro justisia) atas permintaan yang berwenang, yang dibuat oleh dokter terhadap segala sesuatu yang dilihat dan ditemukan pada pemeriksaan alat bukti, berdasarkan sumpah pada waktu menerima jabatan, serta berdasarkan pengetahuannya yang sebaik-baiknya.
Abdul Mun’im Idris memberikan pengertian Visum et Repertum adalah suatu laporan tertulis dari dokter yang telah disumpah tentang apa ayang dilihat dan ditemukan pada barang bukti yang diperiksanya serta
20
memuat pula kesimpulan dari pemeriksaan tersebut guna kepentingan peradilan.
Pengertian Visum et Repertum dapat disimpulkan bahwa Visum et Repertum adalah keterangan dokter tentang apa yang dilihat dan ditemukan dalam melakukan pemeriksaan barang bukti guna kepentingan peradilan. Jadi dalam hal ini Visum et Repertum merupakan kesaksiaan tertulis dalam proses pemeriksaan peradilan.
b. Jenis-jenis Visum et Repertum
Macam-macam jenis pembagian Visum et Repertum berdasarkan objeknya yaitu sebagai berikut :
1) Visum et Repertum untuk orang hidup.
Jenis ini dibedakan lagi dalam :`
a) Visum et Repertum biasa. Visum et Repertum ini diberikan kepada pihak peminta (penyidik) utnuk korban yang tidak merlukan perawatan lebih lanjut.
b) Visum et Repertum sementara. Visum et Repertum sementara diberikan apabila korban memerlukan perawatan lebih lanjut karena belum dapat membuat diagnosis dan derajat lukanya.
Apabila sembuh dibuatkan Visum et Repertum lanjutan.
c) Visum et Repertum lanjutan. Dalam hal ini korban tidak memerlukan perawatan lebih lanjut karena sudah sembuh, pindah dirawat dokter lain atau meninggal dunia.
2) Visum et Repertum untuk orang mati (jenazah)
Pada pembuatan Visum et Repertum ini, dalam hal korban mati penyidik mengajukam permintaan tertulis kepada pihak kedokteran forensik untuk dilakukan bedah mayat (otopsi).
3) Visum et Repertum Tempat Kejadian Perkara (TKP). Visum ini dibuat setelah dokter selesai melaksanakan pemeriksaan di TKP.
4) Visum et Repertum penggalian jenazah. Visum ini dibuat setelah dokter selesai melaksanakan penggalian jenazah.
21
5) Visum et Repertum Psikiatri. Yaitu Visum pada terdakwa yang pada saat pemeriksaan di sidang pengadilan menunjukkan gejala- gejala penyakit jiwa.
6) Visum et Repertum barang bukti, misalnya Visum terhadap barang bukti yang ditemukan yang ada hubungannya dengan tindak pidana, contohnya darah, bercak mani, selongsong peluru, pisau.
c. Bentuk Umum Visum et repertum
Agar didapat keseragaman mengenai bentuk pokok Visum et Repertum, maka ditetapkan ketentuan mengenai susunan Visum et Repertum sebagai berikut :
1) Pada sudut kiri atas dituliskan “PRO YUSTISIA”, artinya bahwa isi Visum et Repertum hanya untuk kepentingan peradilan.
2) Di tengah atas dituliskan Jenis Visum et Repertum serta nomor Visum et Repertum tersebut.
3) Bagian Pendahuluan, merupakan pendahuluan yang berisikan : a) Identitas peminta Visum et Repertum.
b) Identitas surat permintaan Visum et Repertum.
c) Saat penerimaan surat permintaan Visum et Repertum.
d) Identitas dokter pembuat Visum et Repertum.
e) Identitas korban/barang bukti yang dimintakan Visum et Repertum.
f) Keterangan kejadian sebagaimana tercantum di dalam surat permintaan Visum et Repertum.
4) Bagian Pemberitaan, merupakan hasil pemeriksaan dokter terhadap apa yang dilihat dan ditemukan pada barang bukti.
5) Bagian Kesimpulan, merupakan kesimpulan dokter atas analisa yang dilakukan terhadap hasil pemeriksaan barang bukti.
6) Bagian penutup, merupakan pernyataan dari dokter bahwa Visum et Repertum ini dibuat atas dasar sumpah dan janji pada waktu menerima jabatan.
22
7) Disebelah kanan bawah diberikan nama dan tanda tangan serta cap dinas dokter pemeriksa.
d. Peranan dan Kedudukan Visum et Repertum
Visum et Repertum turut berperan dalam proses pembuktian suatu perkara pidana terhadap kesehatan dan jiwa manusia. Visum et Repertum menguraikan segala sesuatu tentang hasil pemeriksaan medik yang tertuang di dalam Pemberitaan, yang karenanya dapat dianggap sebagai benda bukti. Visum et Repertum juga memuat keterangan atau pendapat dokter mengenai hasil pemeriksaan medik tersebut yang tertuang di bagian Kesimpulan. Dengan demikian Visum et Repertum secara utuh telah menjembatani ilmu kedokteran dengan ilmu hukum sehingga dengan membaca Visum et Repertum dapat diketahui dengan jelas apa yang telah terjadi pada seseorang dan para praktisi hukum dapat menerapkan norma-norma hukum pada perkara pidana yang menyangkut tubuh/jiwa manusia.
Tugas pokok seorang dokter dalam membantu pengusutan tindak pidana terhadap kesehatan dan nyawa manusia ialah pembuatan Visum et Repertum sehingga bekerjanya harus obyektif dengan mengumpulkan kenyataan-kenyataan dan menghubungkannya satu sama lain secara logis untuk kemudian mengambil kesimpulan maka oleh karenanya pada waktu memberi laporan pemberitaan dari Visum et Repertum itu harus yang sesungguh-sesungguhnya dan seobyektif-obyektifnya tentang apa yang dilihat dan ditemukannya pada waktu pemeriksaan. Dengan demikian Visum et Repertum merupakan kesaksian tertulis. Maka Visum et Repertum sebagai pengganti peristiwa yang terjadi dan harus dapat mengganti sepenuhnya barang bukti yang telah diperiksa dengan memuat semua kenyataan sehingga akhirnya dapat ditarik suatu kesimpulan yang tepat. Selain daripada itu Visum et Repertum mungkin dipakai pula sebagai dokumen dengan mana dapat ditanyakan pada dokter lain tentang
23
barang bukti yang telah diperiksa apabila bersangkutan (jaksa, hakim) tidak menyetujui hasil pemeriksaan tersebut.
Maka Visum et Repertum merupakan suatu hal yang penting dalam pembuktian karena menggantikan sepenuhnya Corpus Delicti (tanda Bukti). Seperti diketahui dalam suatu perkara pidana yang menyangkut perusakan tubuh dan kesehatan serta membinasakan nyawa manusia, maka si tubuh korban merupakan Corpus Delicti. maka oleh karenanya Corpus Delicti yang demikian tidak mungkin disediakan atau diajukan pada sidang pengadilan dan secara mutlak harus diganti oleh Visum et Repertum. Dan tentunya kedudukan seorang dokter di dalam penanganan korban kejahatan dengan menerbitkan Visum et Repertum seharusnya disadari dan dijamin netralitasnya, karena bantuan profesi dokter akan sangat menentukan adanya kebenaran
Sehubungan dengan peran Visum et Repertum yang semakin penting dalam pengungkapan suatu kasus perkosaan misalnya, pangaduan atau laporan kepada pihak kepolisian baru akan dilakukan setelah tindak pidana perkosaan berlangsung lama sehingga tidak lagi ditemukan tanda- tanda kekerasan pada diri korban. Jika korban dibawa ke dokter untuk mendapatkan pertolongan medis, maka dokter punya kewajiban untuk melaporkan kasus tersebut ke polisi atau menyuruh keluarga korban untuk melapor ke polisi. Korban yang melapor terlebih dahulu ke polisi pada akhirnya juga akan dibawa ke dokter untuk mendapatkan pertolongan medis sekaligus pemeriksaan forensik untuk dibuatkan Visum et Repertum nya.
Apabila Visum et Repertum belum dapat menjernihkan persoalan di sidang pengadilan maka hakim dapat meminta keterangan ahli atau diajukannya bahan baru seperti yang tercantum dalam Undang-undang Peradilan militer yang memberi kemungkinan dilakukannya pemeriksaan atau penelitian ulang atas barang bukti apabila timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasehat hukumnya terhadap suatu hasil pemeriksaan (Pasal 167 Undang-undang peradilan militer ).
24
3. Tinjauan tentang Jenis Putusan dan Sanksi Pidana Perkara Militer a. Jenis Putusan Pengadilan Militer
Hukum Pidana berlaku bagi setiap orang, dengan demikian Hukum Pidana tersebut berlaku juga bagi anggota militer/TNI. Walaupun bagi anggota militer/TNI yang melakukan tindak pidana berlaku ketentuan- ketentuan Hukum Pidana, namun bagi anggota militer/TNI terdapat ketentuan-ketentuan yang menyimpang dari ketentuan- ketentuan yang diatur secara umum didalam KUHP yang khusus diberlakukan bagi militer. Ketentuan-ketentuan yang khusus itu diatur tersendiri didalam KUHPM.
Hukum pidana umum yang berlaku bagi setiap orang juga berlaku bagi setiap anggota militer. Jadi apabila ada tindak pidana yang dilakukan oleh tentara tidak diatur dalam KUHPM, maka yang berlaku adalah ketentuan dalam KUHP maupun perundang-undangan pidana yang lebih khusus. Anggota tentara yang melakukan tindak pidana haruslah mendapatkan hukuman yang lebih berat dari warga sipil. Hal ini dikarenakan bahwa anggota tentara haruslah mempunyai sikap dispilin yang tinggi, karena tentaralah yang bertugas menjaga pertahanan dan keamanan negara dari gangguan apapun (Ericko Priambodo, Jurnal Hukum Acara Vol.1 No.2, 2013: 174).
Berdasarkan Pasal 189 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer maka, jenis putusan yang dapat dijatuhkan terhadap terdakwa pelaku tindak pidana militer adalah:
1) Putusan Bebas: Apabila Pengadilan berpendapat bahwa dari hasil pemeriksaan di sidang kesalahan Terdakwa atas perbuatan yang didakwakan kepadanya tidak terbukti secara sah dan meyakinkan, Terdakwa diputus bebas dari segala dakwaan.
2) Putusan Lepas dari Segala Tuntutan: Apabila Pengadilan berpendapat bahwa perbuatan yang didakwakan kepada Terdakwa terbukti, tetapi perbuatan itu tidak merupakan suatu tindak pidana, Terdakwa diputus lepas dari segala tuntutan hokum.
25
3) Putusan Pemidanaan: Apabila Pengadilan berpendapat bahwa Terdakwa bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya, Pengadilan menjatuhkan pidana diatur dalam Pasal 190 ayat (1).
Putusan Pengadilan hanya sah dan mempunyai kekuatan hukum apabila diucapkan di sidang terbuka untuk umum. Selanjutnya menurut rumusan Pasal 196 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer. Putusan ditandatangani oleh Hakim dan Panitera seketika sesudah putusan diucapkan dan didistribusikan kepada:
1) Petikan putusan diberikan kepada Terdakwa, Penasehat Hukum dan Oditur Militer segera setelah putusan diucapkan.
2) Salinan putusan diberikan kepada Papera, Oditur Militer, Polisi Militer, Ankum sedangkan kepada Terdakwa atau Penasehat Hukum diberikan atas permintaan.
3) Salinan putusan boleh diberikan kepada orang lain hanya seizin Kepala Pengadilan Militer sesudah mempertimbangkan kepentingan dari permintaan tersebut.
b. Jenis Sanksi Pidana dalam Perkara Militer
Jenis Pidana diatur dalam Pasal 6 sampai dengan Pasal 31 Undang- Undang Nomor 39 Tahun 1947 tentang Peraturan Hukum Pidana Militer yang menjelaskan bahwa pidana-pidana yang ditentukan dalam Kitab Undang-Undang ini adalah:
1) Pidana Utama Ke-1, Pidana mati Ke-2, Pidana penjara Ke-3, Pidana kurungan
Ke-4, Pidana tutupan (Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1946) 2) Pidana Tambahan
Ke-1, Pemecatan dari dinas militer dengan atau tanpa pencabutan haknya untuk memasuki Angkatan Bersenjata
Ke-2, Penurunan pangkat
26
Ke-3, Pencabutan hak-hak yang disebutkan pada Pasal 35 ayat pertama pada nomor ke-1, ke-2 dan ke-3 KUHP penyebutan pidana tambahan di dalam KUHPM tersebut di atas sebagai aturan-aturan khusus bagi anggota Militer/TNI, hal tersebut merupakan penambahan dari aturan-aturan yang telah diatur secara umum didalam KUHP. Adapun alasan diadakannya peraturan-peraturan tambahan dari KUHPM itu disebabkan apabila:
a) Adanya beberapa perbuatan yang hanya dapat dilakukan oleh militer saja bersifat asli militer dan tidak berlaku bagi umum, contohnya: desersi, menolak perintah dinas, insubardiansi dan sebagainya.
b) Beberapa perbuatan yang bersifat berat sedemikian rupa, apabila dilakukan oleh anggota militer di dalam keadaan tertentu, ancaman hukuman dari hukum pidana umum dirasakan terlalu ringan.
c) Apabila peraturan-peraturan khusus yang diatur didalam KUHPM dimasukkan ke dalam KUHP akan membuat KUHP sukar dipergunakan, karena terhadap ketentuan-ketentuan itu hanya tunduk sebagian kecil dari anggota masyarakat, juga peradilan yang berhak melaksanakannya juga tersendiri yakni peradilan militer.
Pasal 1 KUHPM berbunyi: “Pada waktu memakai undang-undang ini, berlaku aturan-aturan Hukum Pidana Umum, termasuk disitu Bab Kesembilan dari Buku Pertama KUHP, kecuali aturan-aturan yang menyimpang yang ditetapkan dalam undang-undang”. Berlainan dengan bunyi Pasal 2 KUHPM, yang hanya menyebutkan hal berlakunya Hukum Pidana Militer, maka Pasal ini menyebutkan bahwa pada waktu mempergunakan KUHPM, segala ketentuan-ketentuan dari undang- undang (termasuk KUHPM sendiri) yang mengadakan penyimpangan- penyimpangan mengenai hal-hal tertentu, hingga hal-hal tersebut dengan sendirinya tidak berlaku lagi KUHPM.
27
c. Hal-Hal yang Dimuat dalam Putusan Pidana Perkara Militer
Berdasarkan Pasal 194 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer menjelaskan bahwa:
1) Surat Putusan Pemidanaan Memuat:
a) Kepala putusan yang dituliskan berbunyi:
“DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA”.
b) Nama lengkap Terdakwa, pangkat, nomor registrasi pusat, jabatan, kesatuan, tempat dan tanggal lahir/umur, jenis kelamin, kewarganegaraan, agama dan tempat tinggal.
c) Dakwaan sebagaimana terdapat dalam surat dakwaan.
d) Pertimbangan yang disusun secara ringkas mengenai fakta dan keadaan beserta alat pembuktian yang diperoleh dari pemeriksaan di sidang yang menjadi dasar penentuan kesalahan Terdakwa.
e) Tuntutan pidana sebagaimana terdapat dalam surat tuntutan.
f) Pasal peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar pemidanaan atau tindakan dan pasal peraturan perundang- undangan yang menjadi dasar hukum dari putusan, disertai keadaan yang memberatkan dan yang meringankan Terdakwa.
g) Hari dan tanggal diadakannya musyawarah Hakim, kecuali perkara diperiksa oleh hakim tunggal.
h) Pernyataan kesalahan Terdakwa, pernyataan sudah terpenuhi semua unsur dalam rumusan tindak pidana disertai dengan kualifikasinya dan pemidanaan atau tindakan yang dijatuhkan.
i) Ketentuan kepada siapa biaya perkara dibebankan dengan menyebutkan jumlahnya yang pasti dan ketentuan mengenai barang bukti.
j) Keterangan bahwa seluruh surat ternyata palsu atau keterangan dimana letaknya kepalsuan itu, apabila terdapat surat autentik dianggap palsu.
28
k) Perintah supaya Terdakwa ditahan atau tetap dalam tahanan atau dibebaskan.
l) Hari dan tanggal putusan, nama Hakim yang memutuskan, nama Oditur, nama Panitera.
2) Tidak dipenuhinya ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, huruf e, huruf f, huruf h, huruf i, huruf j, huruf k dan huruf l mengakibatkan putusan batal demi hukum.
3) Putusan dilaksanakan dengan segera menurut ketentuan dalam undang-undang ini.
Pelanggaran terhadap berbagai peraturan terkait yang pelakunya anggota TNI dapat diselesaikan melalui sistem peradilan pidana militer sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Peradilan Militer (Toetik Rahayuningsih, 2002: 3).
4. Tinjauan tentang Tindak Pidana Pengguguran Kandungan a. Pengertian Aborsi dan Jenis-jenisnya
Secara medis aborsi adalah berakhirnya/gugurnya kehamilan sebelum kehamilan mencapai usia 20 minggu, yaitu sebelum janin dapat hidup di luar kandungan secara mandiri (Suryono Ekotomo dkk, 2001:
31). Istilah aborsi atau abortus secara kebahasaan berarti keguguran kandungan, pengguguran kandungan, atau membuang janin. Dalam istilah hukum, berarti pengeluaran hasil konsepsi dari rahim sebelum waktunya (sebelum dapat lahir secara alamiah) (Abdul Aziz Dahlan, 1996: 7).
Tindakan aborsi mengandung resiko yang cukup tinggi, apabila dilakukan tidak sesuai standar profesi medis. Menggugurkan kandungan atau dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah abortus. Berarti pengeluaran hasil konsepsi (pertemuan sel telur dan sel sperma) sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Ini adalah suatu proses pengakhiran hidup dari janin sebelum diberi kesempatan untuk bertumbuh. Dari segi
29
medis menurut Sofoewan (2005: 4) aborsi atas indikasi medis disebut juga aborsi terapeutik, yaitu aborsi yang dilakukan sebelum janin mampu hidup demi untuk kesehatan ibu:
1) untuk menyelamatkan jiwa ibu;
2) melindungi kesehatan ibu;
3) janin cacat berat sehingga tidak mampu hidup;
4) kehamilan yang tidak mampu hidup;
5) pengurangan janin pada kehamilan ganda;
6) kehamilan sangat merugikan kesehatan fisik dan mental ibu;
7) bayi yang akan dilahirkan akan menderita kelainan fisik dan mental;
atau
8) kehamilan sebagai akibat dari perkosaan dan incest.
Aborsi dapat dibedakan menjadi 2 (dua) jenis, yaitu abortus spontaneous dan abortus provocatus. Abortus spontaneous (yang tidak disengaja) dan Abortus provocatus yang terdiri dari 2 (dua) jenis, yaitu abortus artificalis therapicus dan abortus provocatus criminalis. Abortus artificalis therapicus adalah abortus yang dilakukan oleh dokter atas dasar indikasi medis, yakni apabia tindakan abortus tidak diambil dapat membahayakan jiwa ibu. Sedangkan, abortus provocatus criminalis adalah abortus yang dilakukan untuk melenyapkan janin dalam kandungan akibat hubungan seksual di luar pernikahan atau mengakhiri kehamilan yang tidak dikehendaki (Abdul Aziz Dahlan, 1996: 7).
Dampak mengerikan aborsi ilegal menurut Adi Utarini (2005: 45) adalah:
1) Jika dilakukan menggunakan alat-alat tidak standar dan tajam misalnya lidi, ranting pohon, atau yang lainnya, maka resiko rahim robek atau luka besar sekali.
2) Rahim yang lebih dari 3 kali di aborsi beresiko jadi kering, infeksi, atau bahkan memicu tumbuhnya tumor.
30
3) Aborsi illegal yang dilakukan oleh orang yang tidak ahli, dapat menyebabkan proses kuretasi tidak bersih hingga menjadi pendarahan hebat.
4) Peralatan yang tidak steril akan memicu munculnya infeksi di alat reproduksi wanita, bahkan sampai ke usus.
5) Bagi pelaku, rasa berdosa yang timbul karena aborsi dapat menyebabkan mereka menderita depresi, berubah kepribadiannya menjadi introvert, serta sering tidak dapat menikmati hubungan seksual jika telah menikah.
6) Jika pelaku aborsi kelak hamil kembali dengan kehamilan yang diinginkan, maka kehamilan tersebut ada kemungkinan besar akan bermasalah, atau janin dapat mengalami masalah pada mata, otak atau alat pencernaannya.
b. Faktor Penyebab Melakukan Aborsi
Adapun yang menjadi alasan seorang wanita memilih terminasi kehamilan atau melakukan aborsi yaitu antara lain:
1) Faktor ekonomi
Telah cukup anak dan tidak mungkin dapat membesarkan seorang anak lagi. Dimana dari pihak pasangan suami istri yang sudah tidak menginginkan untuk menambah anak lagi karena kesulitan biaya hidup, namun tidak memasang kontrasepsi, atau dapat juga karena kontrasepsi yang gagal. Atau ingin konsentrasi pada pekerjaan untuk menunjang kehidupan dengan anaknya.
2) Faktor penyakit herediter
Janin ternyata telah terekspos oleh substansi teratogenik, dimana pada ibu hamil yang sudah melakukan pemeriksaan kehamilan mendapat kenyataan bahwa bayi yang dikandungnya cacat secara fisik, atau wanita yang hamil menderita penyakit jantung yang berat (kronik), serta karena ingin mencegah lahirnya bayi dengan cacat bawaan.
3) Faktor psikologis
31
Seseorang yang hamil diluar pernikahan, dimana pada para perempuan korban pemerkosaan yang hamil harus menanggung akibatnya. Dapat juga menimpa para perempuan korban hasil hubungan saudara sedarah (incest), atau anak-anak perempuan oleh ayah kandung, ayah tiri ataupun anggota keluarga dalam lingkup rumah tangganya. Atau ayah anak yang dikandungnya bukan suaminya. Dapat juga karena ada masalah dengan suami.
4) Faktor usia
Para pasangan muda-mudi yang masih muda yang masih belum dewasa & matang secara psikologis karena pihak perempuannya terlanjur hamil, harus membangun suatu keluarga yang prematur.
Atau ayah anak yang dikandung bukan pria/suami yang diidamkan untuk perkawinannya. Atau juga karena ingin menyelesaikan pendidikan. Atau merasa terlalu tua/muda untuk mempunyai anak.
5) Faktor penyakit ibu
Dalam perjalanan kehamilan ternyata berkembang menjadi pencetus, seperti penyakit pre-eklampsia atau eklampsia yang mengancam nyawa ibu. Atau sang ibu terinfeksi HIV.
6) Faktor lainnya
Seperti para pekerja seks komersial, pasangan yang belum menikah dengan kehidupan seks bebas atau pasangan yang salah satu/keduanya sudah bersuami/beristri (perselingkuhan) yang terlanjur hamil atau gagal metode kontrasepsi. Penyebab lain karena suami menginginkan aborsi.
c. Pengaturan Mengenai Tindak Pidana Aborsi di Indonesia
KUHP mengatur berbagai macam kejahatan maupun pelanggaran.
Salah satu kejahatan yang diatur dalam KUHP adalah masalah tindak pidana aborsi. Ketentuan mengenai tindak pidana aborsi dapat dijumpai dalam Bab XIV Buku Kedua KUHP tentang kejahatan terhadap kesusilaan khususnya Pasal 299 KUHP, Bab XIX Buku Kedua KUHP tentang kejahatan terhadap nyawa khususnya Pasal 346, 347, 348 dan
32
349 KUHP. Rumusan tindak pidana Pasal 299 KUHP adalah sebagai berikut:
(1) Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruhnya supaya diobati, dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan, bahwa karena pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan, diancam dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun atau denda paling banyak tiga ribu rupiah.
(2) Jika yang bersalah, berbuat demikian untuk mencari keuntungan, atau menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan, atau jika dia seorang tabib, bidan atau juru obat, pidananya dapat ditambah sepertiga.
(3) Jika yang bersalah, melakukan kejahatan tersebut, dalam menjalani pencarian maka dapat dicabut haknya untuk melakukan pencarian itu.
Jika yang bersalah melakukan perbuatan aborsi untuk mencari keuntungan, atau menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan, atau jika dia seorang tabib, bidan atau juru obat, pidananya dapat ditambah sepertiga. Jika yang bersalah melakukan perbuatan aborsi dalam menjalani pencarian maka dapat dicabut haknya untuk melakukan pencarian itu. Tindak pidana menyebabkan atau menyuruh menyebabkan gugurnya kandungan atau matinya janin yang berada dalam kandungan oleh wanita yang mengandung janin itu sendiri, oleh pembentuk undang- undang telah diatur dalam Pasal 346 KUHP yang rumusannya di dalam bahasa Belanda berbunyi sebagai berikut (P.A.F. Lamintang, 2012: 86):
“De vrouw die opzettelijk de afdrijving of den dood van hare vrucht veroorzakt of door een ander laat veroorzaken, wordt gestraft met gevangenisstraf van ten hoogste vier jaren”.
Artinya:
Seorang wanita yang dengan sengaja menyebabkan atau menyuruh orang lain menyebabkan gugurnya kandungan atau matinya janin yang berada dalam kandungannya, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 4 (empat) tahun.
Menurut ketentuan pidana yang diatur dalam Pasal 346 KUHP itu, sama halnya dalam ketentuan-ketentuan pidana yang diatur dalam Pasal
33
347 dan Pasal 348 KUHP, pembentuk undang-undang melarang orang melakukan:
1) Suatu pengguguran kandungan atau afdrijving ataupun yang di dalam ilmu pengetahuan kedokteran juga disebut sebagai suatu abortus; dan
2) Sesuatu perbuatan yang menyebabkan matinya janin yang berada dalam kandungan (P.A.F. Lamintang, 2013: 90).
Rumusan Pasal 347 KUHP:
(1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.
(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
Unsur-unsur dari Pasal 347 KUHP yaitu:
1) Barang siapa;
2) Dengan sengaja;
3) Menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya.
Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun. Rumusan tindak pidana Pasal 348 KUHP yaitu:
(1) Barang siapa dengan sengaja mengugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun 6 (enam) bulan.
(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun.
Unsur-unsur dari Pasal 348 KUHP yaitu:
1) Barang siapa;
2) Dengan sengaja;
3) Mengugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita dengan persetujuannya.
34
Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun. Selain diatur dalam KUHP, aborsi pun diatur dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dalam Pasal 75, 76, 77 dan 194 yang rumusannya adalah sebagai berikut:
1) Rumusan Pasal 75 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan:
(1) Setiap orang dilarang melakukan aborsi.
(2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan berdasarkan:
a. indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan; atau b. kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan
trauma psikologis bagi korban perkosaan.
(3) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah melalui konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan perkosaan, sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Unsur-unsur dari Pasal 75 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yaitu:
a) Setiap orang dilarang melakukan aborsi.
b) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan berdasarkan:
(1) indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan; atau
(2) kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan.
35
c) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah melalui konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang.
2) Rumusan Pasal 76 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yaitu:
Aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan:
a. sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis;
b. oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri;
c. dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan;
d. dengan izin suami, kecuali korban perkosaan; dan
e. penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Menteri.
3) Rumusan Pasal 77 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yaitu: “Pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dan ayat (3) yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak bertanggung jawab serta bertentangan dengan norma agama dan ketentuan peraturan perundang-undangan”.
4) Rumusan Pasal 194 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yaitu: “Setiap orang yang dengan sengaja melakukan aborsi tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).” Unsur-unsur dari Pasal 194 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yaitu:
a) Setiap orang;
b) Dengan sengaja;
36
c) Melakukan aborsi tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2).
Dari rumusan pasal-pasal diatas bahwa tindakan aborsi tetap dilarang namun terdapat pengecualian karena adanya:
a) Indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan; atau
b) Kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan.
Aborsi berdasarkan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan ini memperbolehkan dilaksanakannya aborsi karena alasan medis atau kehamilan akibat perkosaan. Hal inilah yang membedakan dengan ketentuan aborsi yang ada didalam KUHP yang tidak memperbolehkan pelaksanaan aborsi tanpa terkecuali, bahkan abortus provocatus medicinalis atau abortus provocatus therapeutic pun dilarang. Setelah disahkannya Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan tersebut, pada tahun 2014 disahkanlah suatu peraturan pelaksana bagi Undang- Undang tersebut yakni Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi yang mencantumkan indikasi kedaruratan medis dan perkosaan sebagai pengecualian atas larangan aborsi.
Pasal 31-39 Peraturan Pemerintah Nomor 61 tentang Kesehatan Reproduksi ini diatur mengenai penyelenggaraan aborsi tersebut berdasarkan indikasi kedaruratan medis dan indikasi perkosaan dan siapa yang boleh melakukan aborsi tersebut. Rumusan- rumusan pasal-pasal tersebut adalah sebagai berikut:
a. Rumusan Lengkap Pasal 31 Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi:
37
(1) Tindakan aborsi hanya dapat dilakukan berdasarkan:
a. indikasi kedaruratan medis; atau b. kehamilan akibat perkosaan.
(2) Tindakan aborsi akibat perkosaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b hanya dapat dilakukan apabila usia kehamilan paling lama berusia 40 (empat puluh) hari dihitung sejak hari pertama haid terakhir.
Cukup jelas dalam pasal ini disebutkan bahwa tindakan aborsi hanya dapat dilaksanakan berdasarkan indikasi kedaruratan medis atau kehamilan akibat perkosaan yang hanya dapat dilakukan apabila usia kehamilan paling lama berusia 40 hari, atau sekitar 6 (enam) minggu.
b. Rumusan Lengkap Pasal 32 Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi:
(1) Indikasi kedaruratan medis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1) huruf a meliputi:
a. kehamilan yang mengancam nyawa dan kesehatan ibu; dan/atau
b. kehamilan yang mengancam nyawa dan kesehatan janin, termasuk yang menderita penyakit genetik yang berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan.
(2) Penanganan indikasi kedaruratan medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan standar.
Pasal 32 peraturan pemerintah ini mengatur mengenai keadaan yang bagaimana yang termasuk indikasi kedaruratan medis tersebut. Walaupun kondisi kehamilan yang mengancam nyawa dan kesehatan janin seperti yang tercantum dalam Pasal 32 ayat (1) huruf b ini dapat dibenarkan menjadi suatu alasan pelaksanaan aborsi, namun pada dasarnya janin tersebut merupakan suatu subjek hak asasi manusia yang diakui eksistensinya, hingga alasan ini dapat dikatakan sebagai alasan yang telah menyimpangi hukum hak asasi manusia.
c. Rumusan Lengkap Pasal 33 Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi:
38
(1) Penentuan adanya indikasi kedaruratan medis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 dilakukan oleh tim kelayakan aborsi.
(2) Tim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit terdiri dari 2 (dua) orang tenaga kesehatan yang diketuai oleh dokter yang memiliki kompetensi dan kewenangan.
(3) Dalam menentukan indikasi kedaruratan medis, tim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus melakukan pemeriksaan sesuai dengan standar.
(4) Berdasarkan hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), tim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) membuat surat keterangan kelayakan aborsi.
d. Rumusan Lengkap Pasal 34 Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi:
(1) Kehamilan akibat perkosaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1) huruf b merupakan kehamilan hasil hubungan seksual tanpa adanya persetujuan dari pihak perempuan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.
(2) Kehamilan akibat perkosaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuktikan dengan:
a. usia kehamilan sesuai dengan kejadian perkosaan, yang diyatakan oleh surat keterangan dokter; dan
b. keterangan penyidik, psikolog, dan/atau ahli lain mengenai adanya dugaan perkosaan.
e. Rumusan Lengkap Pasal 35 Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi:
(1) Aborsi berdasarkan indikasi kedaruratan medis dan kehamilan akibat perkosaan harus dilakukan dengan aman, bermutu, dan bertanggung jawab.
(2) Praktik aborsi yang aman, bermutu, dan bertanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. dilakukan oleh dokter sesuai dengan standar;
b. dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Menteri;
c. atas permintaan atau persetujuan perempuan hamil yang bersangkutan;
d. dengan izin suami, kecuali korban perkosaan;
e. tidak diskriminatif; dan
f. tidak mengutamakan imbalan materi.
(3) Dalam hal perempuan hamil sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c tidak dapat memberikan persetujuan, persetujuan aborsi dapat diberikan oleh keluarga yang bersangkutan.
39
(4) Dalam hal suami tidak dapat dihubungi, izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d diberikan oleh keluarga yang bersangkutan.
f. Rumusan Lengkap Pasal 36 Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi:
(1) Dokter yang melakukan aborsi berdasarkan indikasi kedaruratan medis dan kehamilan akibat perkosaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (2) huruf a harus mendapatkan pelatihan oleh penyelenggara pelatihan yang terakreditasi.
(2) Dokter sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bukan merupakan anggota tim kelayakan aborsi atau dokter yang memberikan surat keterangan usia kehamilan akibat perkosaan.
(3) Dalam hal di daerah tertentu jumlah dokter tidak mencukupi, dokter sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berasal dari anggota tim kelayakan aborsi.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.
g. Rumusan Lengkap Pasal 37 Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi:
(1) Tindakan aborsi berdasarkan indikasi kedaruratan medis dan kehamilan akibat perkosaan hanya dapat dilakukan setelah melalui konseling.
(2) Konseling sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi konseling pra tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor.
(3) Konseling pra tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dengan tujuan:
a. menjajaki kebutuhan dari perempuan yang ingin melakukan aborsi;
b. menyampaikan dan menjelaskan kepada perempuan yang ingin melakukan aborsi bahwa tindakan aborsi dapat atau tidak dapat dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan klinis dan pemeriksaan penunjang;
c. menjelaskan tahapan tindakan aborsi yang akan dilakukan dan kemungkinan efek samping atau komplikasinya;
d. membantu perempuan yang ingin melakukan aborsi untuk mengambil keputusan sendiri untuk melakukan aborsi atau membatalkan keinginan untuk melakukan aborsi setelah mendapatkan informasi mengenai aborsi;
dan
e. menilai kesiapan pasien untuk menjalani aborsi.
40
(4) Konseling pasca tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dengan tujuan:
a. mengobservasi dan mengevaluasi kondisi pasien setelah tindakan aborsi;
b. membantu pasien memahami keadaan atau kondisi fisik setelah menjalani aborsi;
c. menjelaskan perlunya kunjungan ulang untuk pemeriksaan dan konseling lanjutan atau tindakan rujukan bila diperlukan; dan
d. menjelaskan pentingnya penggunaan alat kontrasepsi untuk mencegah terjadinya kehamilan.
h. Rumusan Lengkap Pasal 38 Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi:
(1) Dalam hal korban perkosaan memutuskan membatalkan keinginan untuk melakukan aborsi setelah mendapatkan informasi mengenai aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (3) huruf d atau tidak memenuhi ketentuan untuk dilakukan tindakan aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (2), korban perkosaan dapat diberikan Pendampingan oleh konselor selama masa kehamilan.
(2) Anak yang dilahirkan dari ibu korban perkosaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diasuh oleh keluarga.
(3) Dalam hal keluarga sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menolak untuk mengasuh anak yang dilahirkan dari korban perkosaan, anak menjadi anak asuh yang pelaksanaannya dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.
i. Rumusan Lengkap Pasal 39 Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi:
(1) Setiap pelaksanaan aborsi wajib dilaporkan kepada kepala dinas kesehatan kabupaten/kota dengan tembusan kepala dinas kesehatan provinsi.
(2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan.
5. Tinjauan tentang Tindak Pidana Kesusilaan
Delik-delik pelanggaran kesusilaan diatur dalam Pasal 281-283 KUHP sekarang. Ketentuan ini mengatur persoalan pelanggaran kesusilaan yang berkaitan dengan tulisan, gambar, atau benda yang melanggar kesusilaan.
41
Selain itu delik pelanggaran kesusilaan diatur dalam Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik. Ketentuan ini mengatur persoalan dengan sengaja dan tanpa mendistribusikan dan/atau mentransmisikan membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan yang melanngar kesusilaan.
Delik asusila berarti tindak pidana berupa pelanggaran asusila.
Pelanggaran asusila dalam pengertian disini adalah suatu tindakan yang melanggar kesusilaan yang jenis dan bentuk-bentuk pelanggaran juga sanksinya telah diatur dalam KUHP. Ketentuan-ketentuan pidana yang diatur dalam KUHP tersebut dengan sengaja telah dibentuk oleh pembentuk undang-undang dengan maksud untuk memberikan perlindungan terhadap tindakan-tindakan asusila atau ontruchte handelingen dan terhadap perilaku- perilaku baik dalam bentuk kata-kata maupun dalam bentuk perbuatan- perbuatan yang menyinggung rasa susila karena bertentangan dengan pandangan orang tentang keputusan-keputusan dibidang kehidupan seksual, baik ditinjau dari segi pandangan masyarakat setempat dimana kata-kata itu telah diucapkan atau dimana perbuatan itu telah dilakukan, maupun ditinjau dari segi kebiasaan masyarakat setempat dalam menjalankan kehidupan seksual mereka.
Masyarakat secara umum menilai kesusilaan sebagai bentuk penyimpangan/kejahatan, karena bertentangan dengan hukum dan norma- norma yang hidup di masyarakat. Perkataan, tulisan, gambar dan perilaku serta produk atau media-media yang bermuatan asusila dipandang bertentangan dengan nilai moral dan rasa kesusilaan masyarakat. Sifat asusila yang hanya menampilkan sensualitas, seks dan eksploitasi tubuh manusia ini dinilai masih sangat tabu oleh masyarakat yang masih menjujung tinggi nilai moral. Menurut Simons kriterium eer boarheid (kesusilaan) menuntut bahwa isi dan pertunjukan mengenai kehidupan seksual dan oleh sifatnya yang tidak senonoh dapat menyinggung rasa malu kesusilaan orang lain.
Kejahatan terhadap kesusilaan meskipun jumlahnya relatif tidak banyak yang jika dibandingkan dengan kejahatan terhadap harta benda (kekayaan)
42
namun sejak dahulu sampai sekarang sering menimbulkan kekhawatiran, khusunya para orang tua. Delik kesusilaan menutut orang yang telah kawin yang melakukan perzinahan dengan orang yang telah kawin pula, tidak dapat dihukum sebagai turut melakukan dalam perzinahan yang dilakukan oleh orang yang tersebut terakhir. Delik kesusilaan diatur dalam bab XIV buku II KUHP dengan judul “kejahatan terhadap kesusilaan” yang dimulai dengan Pasal 281 KUHP sampai dengan Pasal 297 KUHP.
Tindak pidana kesusilaan adalah tindak pidana yang berhubungan dengan masalah kesusilaan. Ketentuan tindak pidana kesusilaan dalam KUHP dapat dikelompokkan menjadi:
a. Bentuk kejahatan diatur dalam Pasal 281-289 KUHP; dan b. Bentuk pelanggaran diatur dalam Pasal 532-535 KUHP.
Salah satu bentuk tindak pidana kesusilaan adalah persetubuhan.
Persetubuhan adalah peraduan alat kelamin laki-laki dan alat kelamin perempuan yang dilakukan untuk mendapatkan keturunan, dimana alat kelamin laki-laki harus masuk kedalam alat kelamin perempuan dan mengeluarkan air mani. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tidak ditemukan pengertian dari persetubuhan akan tetapi persetubuhan termasuk perbuatan cabul. Perbuatan cabul adalah segala perbuatan yang melanggar kesusilaan (kesopanan) atau perbuatan yang keji, kesemuanya itu di dalam lingkungan nafsu birahi kelamin, misalnya cium- ciuman, meraba-raba anggota kemaluan atau buah dada dan sebagainya.
Perbuatan cabul masuk dalam Bab XIV tentang kejahatan terhadap kesopanan. Yang menjadi dasar hukum perbuatan cabul terhadap anak dibawah umur diatur dalam Pasal 287 KUHP yang menentukan:
(1) Barangsiapa bersetubuh dengan wanita diluar perkawinan, padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umurnya belum lima belas tahun, atau kalau umurnya tidak jelas, bahwa belum waktunya untuk dikawin, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.
(2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan, kecuali jika umur wanita belum sampai dua belas tahun atau jika ada salah satu hal berdasarkan Pasal 291 dan Pasal 294.
43
Kerangka Pemikiran
Gambar 1. Alur kerangka pemikiran
Keterangan:
Kerangka pemikiran tersebut menjelaskan alur berpikir penulis dalam menyusun penulisan hukum. Dimulai dengan terjadinya tindak pidana pengguguran kandungan yang dilakukan oleh terdakwa dan tindak pidana melanggar kesusilaan, dalam pembuktiannya hakim memerlukan bantuan ahli berupa surat visum et repertum dan juga alat-alat bukti lain yang mendukung alat Pemecatan dari Dinas
Militer
Pasal 281 ke-1 KUHP
Pertimbangan Hakim
Visum Et Repertum Pembuktian
Tindak Pidana Melanggar Kesusilaan Pasal 281 ke-1 KUHP Tindak Pidana Pengguguran
Kandungan Pasal 347 ayat (1) KUHP
PUTUSAN PENGADILAN MILITER II-II YOGYAKARTA
NOMOR : 52-K/PM.II- 11/AD/V/2015 Alat-alat Bukti
(Pasal 172 UUPM)
KUHPM/KUHP
UUPM
44
bukti visum et repertum selanjutnya hakim mempertimbangkan alat-alat bukti yang telah dihadirkan dalam persidangan sehingga perbuatan terdakwa yang telah melanggar KUHP dan juga KUHPM yang kemudian pertimbangan ini meyakinkan hakim memutus terdakwa untuk diberikan hukuman tambahan berupa pemecatan dari dinas militer tentunya hakim memiliki pertimbangan yang menjadi dasar dalam mengadili terdakwa dengan PUTUSAN PENGADILAN MILITER II-II YOGYAKARTA NOMOR : 52-K/PM.II-11/AD/V/2015.