• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pentingnya Memahami Kepemimpinan Menurut Lukas 22:26

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Pentingnya Memahami Kepemimpinan Menurut Lukas 22:26"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Pentingnya Memahami Kepemimpinan Menurut Lukas 22:26

Josua Marsorin Simanjuntak

Sekolah Tinggi Teologi Samuel Elizabeth, Jakarta [email protected]

Abstract: The circumstances in the ministry of church leadership today have shifted away from the principles found in the Bible. Some pastors today behave like entrepreneurs. They are rarely in the midst of the congregation and rarely serve. They only accept various reports from below like a boss.

But in reality, they are very reluctant to go to the field and rarely take care of their congregation.

The purpose of this study is to explain the principles of servant leadership. This leadership principle based on the Gospel of Luke 22:26b is analyzed and developed, so as to produce a clear understanding of leadership. Leaders as servants in Luke 22:26b are humble leaders, leaders who are willing to sacrifice, leaders who care about love, and faithful leaders. This is a principle of servant leadership. In serving leadership, the leader's job is to serve his followers, not to rule or oppress.

Keywords: Christian leadership; commitment; humble; leader; ministry

Abstrak: Fenomena yang terjadi dalam pelayanan kepemimpinan gereja dewasa ini telah bergeser dari prinsip-prinsip yang terdapat dalam Alkitab. Beberapa gembala masa kini berlaku layaknya pengusaha. Mereka jarang berada di tengah-tengah jemaat dan jarang melayani. Mereka hanya menerima berbagai laporan-laporan dari bawahnya layaknya seorang bos. Namun pada kenyataan- nya, mereka sangat enggan turun ke lapangan dan jarang mengurus jemaatnya. Tujuan dari penelitian ini adalah memaparkan prinsip kepemimpinan yang melayani. Prinsip kepemimpinan ini berdasarkan Injil Lukas 22:26 tersebut dianalisa dan dikembangkan, sehingga melahirkan sebuah pemahaman yang jelas mengenai kepemimpinan. Pemimpin sebagai pelayan dalam Lukas 22:26 adalah pemimpin yang rendah hati, pemimpin yang rela berkorban, pemimpin yang peduli kasih, dan pemimpin yang setia. Hal ini merupakan sebuah prinsip kepemimpinan yang melayani. Dalam kepemimpinan yang melayani, tugas pemimpin adalah melayani para pengikutnya, bukan memerintah atau menindas.

Kata kunci: kepemimpinan Kristen; melayani; komitmen; pemimpin; rendah hati

PENDAHULUAN

Kepemimpinan bukanlah tentang hirarki atau sebutan atau juga status melainkan hal tersebut memiliki pengaruh dan menguasai untuk berubah. Kepemimpinan bukanlah sekedar membual hak-hak atau pertempuran atau bahkan untuk mengakumulasi kekayaan;

melainkan untuk menghubungkan dan melibatkan sejumlah orang pada tingkatan-tingkatan yang sesuai. Para pemimpin tidak bisa lagi memandang strategi dan eksekusi menjadi hal yang dipentingkan ketika hanya mampu mengandalkan konsep-konsep yang abstrak. Akan tetapi, seorang pemimpin diharapkan mampu menyadari bahwa kedua unsur tersebut pada akhirnya hanya membicarakan tentang orang.

Available at: http://sttse.ac.id/e-journal/index.php/stella Volume 1, No 1, April 2021 (29-44)

(2)

Dinamika kepemimpinan hamba Tuhan di dalam gereja semestinya berbeda dengan kepemimpinan sekuler. Tuhan Yesus memanggil pemimpin gereja yang penuh kerendahan hati dan memimpin dengan tujuan melayani. Keteladanan yang Tuhan Yesus berikan tidak semua pemimpin Kristiani dapat melakukannya, ada pemimpin gereja yang hanya melihat jemaat sebagai sumber penghasilan, dan mengatur proses ibadah yang ada untuk memperkuat hal tersebut. Pemimpin yang demikian cenderung merasa kurang peduli terhadap kualitas kerohanian jemaat, dan tidak memiliki hubungan khusus antara hamba Tuhan dengan jemaat.

Di sini terlihat bahwasanya begitu penting seorang pemimpin harus memiliki prinsip-prinsip dalam kepemimpinannya. Seperti dilansir dalam jurnal Jaffray,

mengungkapkan mengenai prinsip kepemimpinan Kristen sebagai berikut:

Pertama, dalam kepemimpinan terkandung beberapa unsur, yaitu adanya pemimpin, ada orang yang dipimpin, adanya kegiatan menggerakkan orang lain dengan mempengaruhi dan mengarahkan perasaan, pikiran, dan tingkah lakunya, dan adanya tujuan yang hendak dicapai. Kedua, kepemimpinan merupakan seni dan ilmu. Kepemimpinan sebagai seni menempatkan faktor penting dalam kepemimpinan. Kepemimpinan sebagai ilmu berarti kepemimpinan dapat dipelajari.

Kepemimpinan sebagai ilmu menitikberatkan pada proses belajar dan latihan.

Apabila keduanya digabungkan, maka akan tercipta suatu kepemimpinan yang efektif. Ketiga, Kepemimpinan melibatkan pemimpin dalam fungsi manajemen yang meliputi fungsi kegiatan perencanaan, fungsi organisasi, fungsi kegiatan memimpin, dan fungsi kegiaran pengawasan. Keempat, ada lima langkah praktis kepemimpinan sebagai strategi kepemimpinan Kristen yang efektif yang perlu diterapkan dalam memimpin organisasi, yaitu berdoa, bekerja keras, memotivasi, mendelegasikan tugas, dan menggunakan tipe kepemimpinan demokratis. Kelima langkah praktis kepemimpinan tersebut rnerupakan mata rantai yang berkaitan satu dengan yang lain, yang tidak dapat dipisahkan, sehingga membentuk kesatuan yang utuh sebagai kunci keberhasilan dalam kepemimpinan Kristen yang efektif.1

Latar belakang penelitian ini adalah mengenai pentingnya memahami kepemimpinan menurut Lukas 22:26, dikarenakan adanya kebutuhan mengeksposisi untuk menemukan teori kepemimipinan baru yang dapat ditemukan dalam Eksposisi Kitab Injil Lukas tersebut. Adapun fakta-fakta kenyataan yang terjadi di lapangan:

Diperlukannya pemimpin yang melayani secara kristiani. Dewasa ini sedang terjadi krisis kepemimpinan dalam gereja atau lembaga Kristen. Kirisis ini semakin diperburuk oleh pemimpin-pemimpin gereja atau lembaga Kristen, yang meniru dan mempraktikkan gaya kepemimpinan yang bersifat sekuler.2 Sebagai akibatnya, tentu saja pengaruh dunia semakin dalam masuk ke gereja. Apakah salahnya mempraktikkan kepemimpinan sekuler dalam pelayanan gereja? Permasalahan yang utama adalah pemimpin Kristen tidak memimpin suatu gereja dengan sukses, karena prinsip-prinsip kepemimpinan sekuler, tidak mengenal kuasa Roh Kudus. Tetapi ada satu perkembangan yang menarik untuk

1 Jermia Djadi, Jurnal Jaffray Volume 7 No. 1, (Jakarta: OJS.STTJAFRAY, 2009), 29.

2 Farel Panjaitan, Firman Hidup 68: Reformasi Spiritual, moral, dan etik, (Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 2008), 141.

(3)

diperhatikan, yaitu dunia bisnis yang sering diasumsikan sebagai dunia sekuler justru memakai pola kepemimpinan yang alkitabiah, sementara gereja meninggalkannya.

Menurut Frank Mendoza, meskipun persyaratan seorang pemimpin sudah sangat berat, namun itu belum memadai untuk menjadikan seseorang pemimpin yang “benar-benar pemimpin”, ada satu unsur yang amat esensial, yang belum disebutkan dalam kepemimpinan, unsur tersebut lebih dikenal dengan kata “melayani”.3 Memimpin itu berarti melayani. Memimpin itu berarti mengabdi. Memimpin itu juga berarti menghamba.

Pemimpin sejati seharusnya mempunyai mental seorang pelayan, motivasi seorang hamba, bersikap dan bertindak seperti seorang hamba (pemimpin yang menghamba), artinya adalah hamba yang memimpin. Menurut Medoza kata melayani yang harusnya menjadi kata sentral di dalam pelayanan sudah tidak bernilai lagi, dan kehilangan makna aslinya dari hari ke hari. Namun yang ironis adalah kesadaran tentang pentingnya pelayanan itu muncul di dalam dunia bisnis (sekuler), karena mereka menganggap bahwa pelayanan adalah hal yang sangat krusial dalam menjual produk-produk mereka.

Mengapa ironis? Karena kata pelayanan itu muncul dan berkembang di dalam lingkup kekristenan, kata tersebut menjadi tema sentral orang-orang Kristen di sepanjang masa. Namun dunia sekuler mencoba memakai konsep kata tersebut dan mendapatkan keuntungan darinya. Dalam dunia bisnis, keuntungan adalah motivasi yang mendorong orang untuk melayani. sehingga setiap pelayanan yang diberikan bertujuan untuk mencari keuntungan. Dan dalam dunia bisnis juga, pelanggan merupakan raja. Pelayan akan berusaha melayani pelanggan sebaik mungkin dan membuat pelanggan nyaman. Tetapi hal ini hanya bertahan selama pelanggan masih bisa diharapkan akan menguntungkan pelayan.

Sebenarnya pelayanan ini demi kepentingan siapa? Jawabannya amat jelas: “Pelayanan versi ini adalah melayani kepentingan sendiri”. Self service, dan ini jelas bukan melayani seperti yang dikehendaki Tuhan Yesus.

Dibutuhkannya keseimbangan antara pemimpin dan pelayanan. Eka Darmaputera mengatakan bahwa: Krisis kepemimpinan terjadi, karena pemimpin tidak lagi memimpin.

Memimpin telah semakin dipahami sekadar menguasai. Padahal, antara keduanya itu antara memimpin dan menguasai, sungguh besar bedanya! Memimpin artinya memotivasi, mengajak, mengarahkan. Sedang menguasai artinya adalah memaksa, mengancam, memanipulasi. Kepemimpinan mengandalkan visi dan kepercayaan, sementara kekuasaan mengandalkan kekuatan.

Hal di atas secara sepintas dapat dikatakan, bahwa pemimpin hampir melepaskan diri dari unsur-unsur pelayanan. Sebagaimana yang tertulis dalam Matius 20:28, di dalam bagian tertentu ayat ini disebutkan bahwa melayani adalah memberikan nyawa menjadi tebusan banyak orang. Dengan demikian, jika seorang pemimpin yang melayani, tidak bisa terlepas dari Matius 20:28 yang pemahamannya senada dengan yang dikatakan Lukas 22:26.

3 Eka Darmaputera, Kepemimpinan dalam Perspektif Alkitab, (Yogyakarta: Kairos, 2005), 68.

(4)

Untuk sementara dapat dikatakan bahwa seorang dalam konteks pelayanan kristiani haruslah memiliki pengorbanan dalam kepemimpinannya, sehingga pemimpin mengalami proses pembentukan di dalam pelayanannya. Sebenarnya yang seharusnya terjadi dalam proses kepemimpinan adalah para pengikutnya harus yakin bahwa sang pemimpinlah yang melayani. seperti yang pernah dikatakan Napoleon bahwa “seorang pemimpin adalah seorang agen penyalur harapan.” Dan Robert Towsend, mantan CEO Avis Rent – A – Car, melihat bahwa: “Kepemimpinan yang sejati haruslah mendatangkan keuntungan bagi para pengikutnya, dan bukannya untuk mendatangkan kekayaan bagi sang pemimpin.4

“Jadi pelayan adalah pemimpin, dan kepemimpinan dilakukan/dijalankan melalui”.

Demikianlah salah satu pernyataan Peter Senge tentang kepemimpinan yang melayani (servant leadership).5 Pelayanan perlu menjadi substansi utama dalam kepemimpinan, karena pada waktu diperadapi dengan kenyataan, sering terjadi penyalahgunaan kekuasaan.

Dalam lingkup ini pilihan pertama dan utama dari kepemimpinan bukanlah masalah metode dan teknik memimpin, melainkan justru adalah pilihan untuk melayani.

Siapa yang memiliki jiwa kepemimpinan dialah yang melayani kelompoknya.

Melayani adalah berpikir dan berbuat bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk orang lain seperti yang dicontohkan Tuhan Yesus pada Matius 20:28. Ia bukan memerintah dan menguasai, melainkan dan menjadi teladan (1 Petr. 5:2-3).6 Ia bukan melayani dibibir;

menyebut diri hamba Tuhan namun berlagak seperti tuan besar atau pejabat tinggi. Ia bukan melayani kepentingan sendiri, melainkan kepentingan kelompok. Kepemimpinan kristiani (gerejawi) adalah melayani dan menjadi pemimpin-pelayan (servant leader).

Diperlukannya seorang pemimpin yang setia. Pelayan yang setia tidak menganggap dirinya paling penting. Pelayanan bagi Tuhan dan bagi sesama adalah hal terpenting bagi pelayan Tuhan yang setia. Pelayan yang setia pasti dapat menjadi teladan. Keteladanan tidak dibangun dalam satu malam. Keteladanan merupakan buah dari sikap setia terhadap kebenaran di tengah-tengah tantangan dan kesulitan yang dialami. Bukti paling sahih dari kesetiaan adalah pelayanan. Sebab dengan melayani, seorang pemimpin tidak mencari kepentingan sendiri atau popularitas diri yang sia-sia. Sebaliknya, justru menempatkan kepentingan dan kebutuhan orang lain mejadi pusat atau menjadi yang lebih utama.

Seperti yang dikatakan dalam I Korintus 5:1, 2 “Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah. Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai”. Demikianlah seorang pemimpin yang baik dan setia menurut Tuhan Yesus, di mana seorang pemimpin itu tidak mementingkan kepentingannya sendiri dan motivasi seorang pemimpin itu sesuai dengan yang Firman Tuhan katakan, ialah menjadi hamba yang setia dan dapat dipercaya, yaitu melalui pelayanan. Dengan beberapa

4 Philip Kotler, Marketing Insights From A to Z, (Jakarta: Airlangga, 2003), 109.

5 Sanerya Hendrawan, Spiritual Management, (Bandung: Mizan Pusaka, 2009), 176..

6 Andar Ismael, Selamat Melayani Tuhan, (Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 2009), 128.

(5)

pertimbangan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan yang melayani sangat diperlukan, sekaligus menantang para pemimpin gereja saat ini.

Kemampuan untuk mempengaruhi adalah syarat utama dan pertama untuk menjadikan seorang pemimpin. Oleh sebab itu, pemimpin dan kepemimpinan bagaikan tulang dengan dagingnya, bagaikan api dengan panasnya. Dua sisi mata uang yang saling mengesahkan satu dengan lainnya. Yang menjadi pertanyaan adalah pemimpin yang bagaimana yang dapat memberikan yang terbaik kepada yang dipimpinnya? Apa syarat- syarat yang harus dipenuhi agar seseorang layak menjadi seorang pemimpin? Menurut Anwar Sanusi, paling tidak ada tiga syarat yang harus dipenuhi agar seseorang pantas dan layak dipilih sebagai seorang pemimpin, antara lain: pemimpin harus bersikap adil, harus memiliki ilmu pengetahuan dan memiliki wawasan keterbukaan.7 Seorang pemimpin juga harus memiliki: kebijaksanaan, ketulusan, kebaikan, keberanian, dan disiplin.8

Kebijaksanaan berarti berpengetahuan luas dan dalam, mampu menyusun pemikiran untuk mempertimbangkan segala sesuatu dari berbagai aspek dan sudut pandangan yang berbeda untuk kemudian mengambil keputusan yang paling optimal.9 Ketulusan adalah niat baik yang murni apa adanya dari dalam dirinya terhadap bawahan.10 Seorang pemimpin yang menganggap bawahannya adalah orang yang dikasihi sebagaiman anaknya sendiri akan mengakibatkan sang bawahan mengasihinya dengan segenap hati dan pikiran.

Kebaikan adalah suatu sikap yang menyingkirkan hal-hal yang tidak penting, membawa kembali pada keberadaan yang sederhana.11 Sebagai pemimpin harus mempunyai kebaikan di dalam diriny, yaitu dengan sikap yang mengayomi anggota. Bawahan akan merasa bahwa apa yang diperjuangkan merupakan kepentingan bersama dan bukan demi kepentingan pemimpin semata. Kebaikan paling tampak pada bagaimana seorang pemimpin peduli terhadap bawahan pada tingkatan yang jauh lebih rendah darinya.

Keberanian adalah sebuah kemampuan untuk memperhitungkan resiko yang ada dan mengambil tindakan yang diperlukan tanpa ragu-ragu jika memang dibutuhkan.

Keberanian tercermin dari teladan yang diberikan sang pemimpin dalam situasi krisis sekalipun pilihan tindakan pribadinya. Dalam konteks yang lain, keberanian juga berarti sikap sportif untuk mengakui kesalahan dan bertanggung jawab penuh manakala sang pemimpin mengambil keputusan yang keliru. Dengan kata lain, berani menang dan berani kalah tanpa harus mencari kambing hitam. Disiplin diri adalah kemampuan untuk mengendalikan diri berdasarkan prinsip-prinsip tertentu. Disiplin tergambar dalam kata

7 Anwar Sanusi, Jalan Kebahagiaan, (Depok: Gema Insanim 2006), 23-30.

8 Sujoko Efferin dan Bonnie Soeherman, Seni Perang Sun Zi dan Sistem Pengendalian Manajemen, (Jakarta: IKAPI, 2010), 59-60.

9 Andar Ismail, Selamat Menabur: 33 Renungan Tentang Didik-Mendidik, (Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 1997), 8.

10 Emmanuel Gerrit Singgih, Dua Konteks, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), 79.

11 Piero Ferruci, Bagaimana Menjadi Orang Baik, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), 8.

(6)

“ketaatan”. Orang yang berdisiplin akan meraih sukses karena terlatih, memfokuskan tujuan, dan konsisten dengan prioritasnya itu.12

Integritas adalah batu yang menjadi dasar bangunan kesuksesan bisnis – kualitas produk dan pelayanan, hubungan langsung dengan pelanggan dan penyedia, dan catatan kemenangan.13 Untuk menjadi seorang pemimpin, seseorang harus memiliki pengikut. Dan untuk memiliki pengikut, seseorang harus memiliki rasa percaya. Tetapi syarat utama bagi seorang pemimpin adalah integritas yang tak dapat dipertanyakan. Tanpa integritas, tidak ada kesuksesan yang mungkin, tidak peduli apakah dalam kelompok, lapangan sepak bola, pasukan atau di kantor. Bila rekan-rekan orang tersebut menemukannya bersalah, atau kekurangan integritas langsung, ia akan gagal. Pengajaran dan tindakannya harus adil terhadap satu sama lain. Karena itu, syarat utama seorang pemimpin adalah integritas dan tujuan yang tinggi.

Tanggung Jawab dan Peran Pemimpin dalam Gereja

Pemimpin gereja yang sesungguhnya adalah Allah sendiri. Dan di dalam perkembangan gereja, Allah telah menggunakan banyak pribadi untuk menjadi perpanjangan tangan kepemimpinan dan penggembalaan-Nya.14 Para pemimpin selanjutnya dipilih untuk melanjutkan panggilan-perutusan menggembalakan umat. Maka, sikap rendah hati merupakan tanda keterbukaan terhadap terhadap kuasa Roh Allah, penghargaan terhadap para pendahulu yang telah mencurahkan hidup mereka demi perkembangan Gereja dan kesediaan untuk bekerjasama dengan semua pihak demi pelaksanaan kepemimpinan yang menumbuhkan hidup Gereja.

Siapakah para pemimpin dalam gereja? Mereka adalah siapa-siapa saja yang memegang jabatan-jabatan yang mempunyai tanggung jawab atau mereka yang dengan sengaja menggunakan pengaruhnya pada orang-orang lain. Para pendeta, penatua, diakon, guru sekolah minggu, pemimpin kelompok pemahaman Alkitab, administrator, pemimpin, paduan suara dan pemimpin kaum muda termasuk golongan ini.15 Pemimpin gereja harus peka terhadap peluang untuk perbaikan, kebutuhan akan perbaikan dan persiapan untuk perbaikan. Perbaikan dalam manajemen gereja bertumpu pada pertumbuhan pengetahuan dan keterampilan.16 Ketika pemimpin gereja melakukan pekerjaannya, mereka harus membandingkan antara apa yang mereka lihat dan apa yang ingin mereka capai. Mereka tidak saja akan menemukan hal-hal baru yang dapat dilakukan lebih baik, tetapi juga kebutuhan akan tambahan pengetahuan dan keterampilan baru.

Pemimpin gereja, seperti orang yang lainnya, tidak dapat hanya bergantung pada apa yang telah dipelajari untuk seluruh sisa hidupnya. Diperlukan pertumbuhan terus- menerus dalam pengetahuan dan keterampilan. Hal ini dapat diperoleh dari membaca

12 Endang Sri Astuti dan Resminingsih, Bahan Dasar Untuk Pelayanan Konseling Pada Satuan Pendidikan Menengah Jilid I, (Jakarta: Grasindo, t.t), 26.

13 John C. Maxwell, Hak untuk Memimpin, (t.t: Mitra Media, 2002), 85, 90.

14 Emanuel Pranawa, Gereja yang Melayani Dengan Rendah Hati, (Yogyakarta: Kanisius, 2009), 88.

15 Jerry White, Kejujuran Moral dan Hati Nurani, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, tt), 140.

16 Edgar Walz, Bagaimana Mengelola Gereja Anda?, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), 224.

(7)

berbagai buku dan artikel mengenai fungsi-fungsi kepemimpinan. Hadir di seminar-seminar juga memberi kesempatan untuk mendengarkan para ahli dan membandingkan pengetahuan dengan orang lain yang melaksanakan fungsi yang sama di gereja lainnya. Sebuah komitmen untuk melanjutkan pendidikan adalah kebutuhan dasar untuk kepemimpinan gereja yang baik. Pemimpin gereja harus menyadari kesempatan dan tanggung jawab yang diberikan Allah kepada pemimpin ketika Dia memanggil mereka dalam pelayanan. Dengan keyakinan bahwa posisi mereka memungkinkan mereka untuk melakukan pekerjaan besar bagi Allah, mereka akan bertahan dalam pekerjaannya dan maju dengan penuh percaya diri.

Bagi Warren, seorang pemimpin gereja adalah alat Allah yang hidup untuk melayani kehendak Allah, inspirator yang mengarahkan visi, memiliki dedikasi, hikmat, keterampilan dan doa (menjadi teladan).17 Warren juga mengatakan pemimpin sebagai gembala yang memiliki waktu (massa) pelayanan yang lama (cukup). Untuk melengkapi konsep pemimpin, ada baiknya jika memperhatikan mentalitas pemimpin. Pemimpin bersikap terbuka namun berprinsip, rendah hati dalam cinta kebenaran, memiliki kearifan dugo- prayoga (berbuat meskipun tidak diwajibkan, tidak berbuat meskipun tidak dilarang).

Pesan seorang pemimpin dalam sebuah organisasi gereja sangat diperlukan. Seorang menangani bidang kerohanian, dan seorang lagi menangani bidang manajemen, administrasi, dan keuangan.18 Hal ini mengacu pada firman Tuhan dalam Kitab Kisah Para Rasul 6:3-4 yang berbicara mengenai efektivitas pemeliharaan kerohanian warga jemaat:

“Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman.”

Dari nas tersebut kita melihat bahwa pada zaman para rasul, tugas-tugas pengelolaan jemaat sudah dipisah, yaitu mereka yang melayani bidang pemberitaan firman Tuhan, dan mereka yang melayani dalam bidang kebutuhan jasmani orang yang berkekurangan.

METODE PENELITIAN

Peneliti menggunakan metode kualitatif (library research) dengan pendekatan eksposisi. Sebelum judul ini ditetapkan, maka peneliti memperhatikan teks Lukas 22:26-27 guna menemukan tema yang cocok. Eksposisi Alkitab adalah salaj satu jenis pengembangan paragraph dalam penulisan yang dimana isinya ditulis dengan tujuan untuk menjelaskan atau memberikan pengertian dengan gaya penulisan yang singkat, akurat, dan padat. Istilah eksposisi dalam hubungannya dengan penafsiran Alkitab merujuk kepada aplikasi kontemporer (masa kini) atas dasar hasil penyelidikan eksegesis yang sudah dilakukan (what it means). Langkah-langkah eksposisi yang akan dilakukan peneliti meliputi:

menganalisis dengan menggunakan pendekatan konteks jauh dan konteks dekat, konteks historis, dan konteks teologis. Pembahasan pentingnya pentingnya memahami kepemim- pinan difokuskan pada teks Lukas 22:26.

17 Rijnardus A. Van Kooij, dkk, Menguak Fakta, Menata Karya Nyata, (Jakarta BPK Gunung Mulia, 2008), 32.

18 Suharto Prodjowijono, Manajemen Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), 22-27.

(8)

.

PEMBAHASAN

Kepemimpinan konteks Lukas 22:26

Dalam Lukas 22:24 terjadi juga pertengkaran tentang pertanyaan siapakah yang paling besar/penting diantara mereka. Dalam Lukas 9:46-48 (bnd. Mrk. 9:33-37) sudah diceritakan tentang pertengkaran semacam itu. Dalam Kitab Injil Markus di sana menyusullah dengan segera pertengkaran kedua (Mrk. 10:35-45); beberapa kata dari bagian itu disimpan Lukas untuk pasal ini! Barangkali isi Lukas 22:27 itu merupakan alasan untuk menghubungkan isi ayat-ayat ini dengan perjamuan. Lagi pula justru pada waktu perjamuan, dengan mudah dapat terjadi kecemburuan berhubung dengan tempat-tempat yang diduduki (bnd. Luk. 14:7). Tempat yang terhormat ialah tempat sebelah kanan tuan rumah, tempat yang kedua ialah di sebelah kirinya, dan seterusnya.

Jawab Tuhan Yesus dalam Lukas 22:25 pertama-tama memuat kecaman ini:

pertengkaran semacam ini membuktikan bahwa sikap dan keinginan-keinginan para murid itu sama sekali bersifat duniawi. Sebab di dunia ini adalah “raja-raja” (atau dalam zaman kita ini: kepala Negara, pemimpin-pemimpin politik) yang menginginkan kuasa atas rakyat (menurut bahasa Yunani: untuk menjadi kyrios (tuan) atas mereka, lih. Lukas 2:11). Dan justru orang-orang yang berkuasa itu – walaupun mereka merupakan diktator-diktator yang ditakuti – gemar disebutkan “pelindung” (Yunani: eu-ergetes).19 Sebab justru kata itu adalah istilah yang penting dalam pemujaan kaisar, biasanya bersama-sama dengan gelar soter (juru selamat, lih. Lukas 2:11). Kedua gelar itu adalah cocok dalam rangka memperdewa kaisar-kaisar. Pada mulanya gelar eu-ergetes itu terutama dipakai di Siria dan Mesir. Di kemudian hari istilah itu diambil alih juga oleh kaisar-kaisar Romawi. Khususnya Kaisar Agustus (Luk. 2:1) suka digelari dalam bagian timur kerajaannya sebagai “soter kai eu-ergetes” kai = dan). Orang-orang Romawi di Italia tidak mau pada waktu itu memperdewa kaisar selama ia masih hidup. Tetapi Kaisar Kaligula (tahun 37 – 41) membiarkan dirinya juga dipuja sebagai dewa Roma; dan Domitianus (tahun 84-96) malahan menyebutkan dirinya “Dominus et Deus” (orang-orang menjadi “tuan dan ilah”

atau dipuja seperti “Tuhan dan Allah”; kata lain dominus adalah sama dengan kata Yunani kyrios yang telah disebutkan di atas ini). Jadi Lukas 22:25 ini tentulah dengan langsung mengingatkan pembaca-pembaca kepada pemujaan kaisar itu.

Janganlah keinginan-keinginan semacam itu ada diantara kamu, begitulah maksudnya Lukas 22:26. Sebaliknya! Siapa yang dipandang sebagai “yang pertama” atau

“yang terbesar” diantara kamu, haruslah bertingkah-laku seakan-akan dialah yang paling muda; siapa yang dipandang sebagai “pemimpin”, haruslah menyadari bahwa ia seorang pelayan. Perhatikanlah bedanya dengan konteks Lukas 9:48, di mana maksudnya ialah:

siapa yang rendah hati dan bersedia untuk menjadi yang paling kecil, ia benar-benar “besar”

menurut ukuran yang berlaku di Kerajaan Allah. Dalam Lukas 22:26 ini terdapat jalan

19 B. J. Boland, Tafsiran Alkitab Injil Lukas, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1990), 529-530.

(9)

pikiran yang sebaliknya: hendaklah seorang “pemuka” diantara kamu (menurut usianya atau pembawaannya atau jabatan dalam jemaat) menjadi seolah-olah yang paling muda (sehingga ia bersedia juga melakukan pekerjaan yang rendah: band. Kis. 5:6,10) atau dengan perkataan lain: hendaknya seorang “pemimpin” menjadi seperti seorang yang sungguh-sungguh melayani! demikianlah kedua garis yang merupakan dasar untuk hidup bersama dalam sidang jemaat Kristen, sesuai dengan ukuran-ukuran Kerajaan Allah: siapa yang tampaknya “besar” haruslah rendah hati (Luk. 22:26) dan siapa yang rendah hati, dialah seorang yang sungguh-sungguh “besar” (Luk. 9:48).

Kepemimpinan dalam pendekatan historis Lukas 22:26

Sejarah atau historis adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari segala peristiwa atau kejadian yang telah terjadi pada masa lampau dalam kehidupan manusia.20 Di dalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, waktu, objek, latar belakang dan pelaku dari peristiwa tersebut. Menurut ilmu ini, segala peristiwa dapat dilacak dengan melihat kapan peristiwa itu terjadi, dimana, apa sebabnya, siapa yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Melalui pendekatan sejarah, seseorang diajak menukik dari alam idealis ke alam yang bersifat empiris dan mendunia. Dari keadaan ini seseorang akan melihat adanya kesenjangan atau keselarasan antara yang terdapat dalam alam idealis dengan yang ada di alam empiris dan historis.

Ketika itu para murid sedang bertengkar mengenai siapa yang terbesar diantara mereka (Luk. 22:24), lalu Tuhan Yesus berkata kepad mereka: (22:25) “Raja-raja bangsa- bangsa memerintah rakyat mereka dan orang-orang yang menjalankan kuasa atas mereka disebut pelindung-pelindung”. (Luk. 22:26) Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar diantara kamu hendaklah menjadi yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan. Dalam ayat ini Tuhan Yesus mengajar para murid bahwa siapa yang ingin menjadi terbesar hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin harus menjadi hamba, dan Tuhan Yesus menekankan bahwa yang memimpin hendaklah menjadi pelayan. Saat itu Tuhan Yesus melihat para ahli Taurat dan orang Farisi, yang pada saat menjabat pemimpin jemaat “suka duduk di tempat terhormat” (Mat. 23:6-7) dan Tuhan Yesus menegur mereka dengan keras.

Tuhan Yesus mengetahui pada saat itu yang berkuasa di daerah (Yudea) itu adalah Raja Herodes (Luk. 1:5), adapun kepribadian dari seorang Herodes adalah seorang pemimpin yang digerakkan oleh reputasi dan prestasi (keangkuhan hati) sehingga memiliki ciri-ciri: tujuan hidupnya adalah menyenangkan dirinya sendiri dan orang lain yang menguntungkan dirinya. Satu orang saja tidak dia pedulikan apa lagi jika satu orang itu tidak memberikan untung bagi dirinya.21 Bukan hanya itu saja, Tuhan Yesus juga mengetahui sistem pola kepemimpinan bangsa Romawi yang membuat orang Yahudi tidak puas. Dimana ketidakpuasan orang Yahudi berkisar seputar pajak. Dalam tata kehidupan perekonomian pada masa itu pajak atau upeti yang dipungut memang berat. Kota Roma

20 S.K. Kochhar, Teaching of History (Jakarta: Grasindo, 2008) 15

21 Joseph P. Free, Arkeologi dan Sejarah Alkitab (Malang: Gandum Mas, 2011) 355.

(10)

membiayai semua keperluannya dengan cara mengenakan dan memungut pajak, bukan dengan pertanian, industri atau perdagangan. Sistem romawi mengizinkan penyewaan hak memungut pajak kepada pengusaha-pengusaha yang mengenakan pajak jauh lebih tinggi di daerah mereka daripada yang wajib dibayar kepada Roma agar mereka mendapat keuntungan. Cara mengenakan pajak seperti ini mengundang kesusahan. Ketidakpuasan orang Yahudi dengan pemerintah Romawi juga mengandung unsur nasionalitas (Yoh.

8:33). Artinya adalah bahwa pemerintahan/kepemimpinan Romawi menggunakan kekuatan untuk mengatur rakyatnya/pengikutnya atau anggotanya, pemerintah Romawi mengguna- kan kekerasan dalam menjalankan kuasanya (Mat. 20:25), karena ketika rakyat tidak membayar pajak, maka mereka yang tidak membayar akan dikenakan sangsi atau dikenakan menjadi dua kali lipat. Sehingga rakyat yang kecil semakin kecil dan rakyat yang besar semakin besar. Demikianlah yang Tuhan Yesus lihat dan rasakan pada waktu itu pemerintah yang tidak mempedulikan rakyat kecil dan miskin, tetapi malah justru diasingkan dan dibiarkan begitu saja.

Tetapi Tuhan Yesus berkata kepada mereka (ay. 26), “tetapi kamu tidaklah demikian”, ini merupakan kepemimpinan yang Tuhan Yesus sampaikan kepada para murid, sangat kontras sekali dengan kepemimpinan yang ada pada waktu itu. Tuhan Yesus mengatakan bahwa siapa yang terbesar hendaklah ia sebagai yang paling muda (Lukas 22:26a). Di Palestina, orang yang paling muda, biasanya ditempatkan terakhir dalam urutan hirarki dan yang paling muda biasanya melayani yang tua atau lebih besar. Kalimat selanjutnya adalah “dan pemimpin sebagai pelayan” (Luk. 22:26b). Kata pelayan disini bukan diakonos tetapi diakonon yang artinya orang yang sedang melayani (pelayan). Jadi, kalau bisa disimpulkan frasa ayat 26b berbunyi seperti ini “pemimpin sebagai yang sedang melayani/pemimpin yang sedang melayani”. Karakter pemimpin Kristen adalah kesaksian dan pelayanan yang digerakkan oleh belas kasih Allah. Dengan demikian dituntut kerendahan hati, kesediaan berkurban, pengosongan diri, penyangkalan diri, dan kerelaan mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri.22 Hal ini merupakan prinsip pemimpin yang melayani yang Tuhan Yesus ajarkan kepada murid-muridNya.

Dalam Lukas tidak diceritakan bagaimana situasi pertengkaran para murid saat mereka sedang makan dan apa yang dirasakan oleh Tuhan Yesus. Tetapi hal ini diceritakan di Yohanes 13:4-5 sebagai berikut:23 (4) Lalu bangunlah Tuhan Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, (5) kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid- muridNya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggangnya itu. Semua murid sedang bertengkar diantara mereka dan Tuhan Yesus duduk sendiri terabaikan oleh mereka.

Tuhan Yesus mendengar pertengkaran mereka dan dengan diam-diam Ia berdiri, menanggalkan jubahnya, mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkan pada pinggangnya dan mulai membasuh kaki murid-muridNya. Di dalam zaman Israel pada waktu itu yang

22 Andrias Harefa, Kepemimpinan Kristiani (Jakarta: UPI STT, 2001), 34.

23 Matthew Henry, Tafsiran Matthew Henry Injil Yohanes (Surabaya: Momentum, 2010), 923.

(11)

biasanya mencuci kaki para tamu undangan adalah para budak.24 Tuhan Yesus menanggalkan jubahnya, menunjukkan Yesus meninggalkan semua atribut dirinya dan merendahkan diri sebagai budak, hanya memakai cawat dan kain lap dipinggang yang dipakai untuk mengeringkan kaki setelah dibasuh.

Ini suatu contoh yang sangat berbeda sekali, bagaimana seharusnya tingkah laku seorang pemimpin dalam Kristus (Luk. 2:11). Ia tidak mengejar kedudukan atau kehormatan. Ia lebih mendahulukan pelayanan sebagai tujuan daripada kehormatan dirinya.

Tuhan Yesus mengajarkan prinsip kepemimpinan yang melayani, dimana yang ingin menjadi pemimpin harus menjadi pelayan atau hamba (doulos/diakonos). Alkitab memakai kata Yunani “doulos” dan “diakonos” yang diterjemahkan sebagai hamba. Meskipun kedua kata tersebut sulit dibedakan dalam penggunaannya, David Bennett dalam bukunya

“Leadership Images from the New Testament” menulis bahwa ‘doulos’ mengacu kepada seseorang yang berada di bawah otoritas yang lain, sedangkan ‘diakonos’ lebih menekankan kerendahan hati untuk melayani orang lain. Pengertian “hamba” mengungkapkan suatu hubungan.25 Seorang hamba adalah milik tuannya, yang lebih tinggi kedudukannya daripadanya. Tugasnya adalah mengerjakan pekerjaan menurut kehendak tuannya, tidak ada bantah-bantahan. Suatu sikap penyerahan segala “hak pribada” secara utuh untuk diatur oleh majikannya. Berarti ia sedang menyangkal diri, yang artinya ia bersedia untuk menanggalkan haknya dan berkorban.26 Hak itu sudah melebur /menyatu dengan hak tuannya. Akan tetapi haknya itu sekali lagi tak kelihatan kekuatannya. Dengan keadaan itu maka ia berada dalam status budak atau hamba. Pemimpin hamba bersifat vertikal dan horizontal. Maksudnya, secara vertikal pemimpin Kristen adalah hamba Tuhan yang telah dipanggil Allah untuk memimpin umatNya, namun di sisi lain (horizontal) ia adalah hamba jemaat (dalam tugas pelayanan).

Prinsip pemimpin yang melayani seperti Tuhan Yesus ajarkan ialah ‘kebesaran seorang pemimpin tidak terletak pada berapa orang yang menjadi pengikutnya, tetapi berapa banyak orang yang dilayaninya. Kebesaran seorang pemimpin terletak justru pada komitmennya kepada mereka yang tersisih, kecil, marjinal, dan sering terlupakan’. Tuhan Yesus memberikan konsep pemimpin sebagai pelayan di sini bukan menekankan aspek

“pemimpin”, namun aspek “pelayan” yang memperjuangkan nilai-nilai pelayanan, kepedulian pada kebutuhan yang lain, dan sikap rendah hati.27 Konsep inilah yang digunakan dalam prinsip kepemimpinan yang melayani. sehingga dari konsep Tuhan Yesus timbullah pemikiran yang mengemukakan: memimpin adalah melayani, namun melayani belum tentu memimpin. Yang tidak mau melayani, tidak boleh dan tidak berhak memimpin.

24 Donald B. Kraybill, Kerajaan Yang Sungsang (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005), 249.

25 Abineo J.I.Ch. Tafsiran Alkitab Surat Filipi (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), 2.

26 Marinus Hendrik Bolkestein, dkk, Kerajaan Yang Terselubung (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004), 161.

27 Anthony D’Souza, ENNOBLE, ENABLE, EMPLOWER Kepemimpinan Yesus Sang Almasih, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2009), 4.

(12)

Pemimpin adalah pelayan, namun pelayan belum tentu pemimpin. Yang tidak rela menjadi pelayan, tidak layak menjadi pemimpin.

Kepemimpinan dalam pendekatan Teologis (Lukas 22:26)

Pendekatan teologis harus memiliki dasar pemikiran bahwa Alkitab merupakan satu kesatuan, tidak ada pertentangan dalam Alkitab. Dalam kaidah etimologi satu kata yang tertulis di dalam seluruh Alkitab bisa memiliki berbagai pengertian dan makna sesuai dengan konteks dimana kata itu ditempatkan dalam kalimat, paragraph, pasal, atau buku.

Prinsip ini harus diperhatikan oleh setiap penafsir Alkitab. Kitab Injil Lukas menceritakan sejarah kehidupan Tuhan Yesus sebagai manusia sejati dan suci, penuh kesederhanaan dan ketulusan hati, sebagai teladan bagi murid-muridNya. Tuhan Yesus menjadikan diriNya sebagai contoh kualifikasi seorang pemimpin sejati. Adapun kualifikasinya ialah: (a) Tuhan Yesus adalah seorang yang rendah hati (rendah hati mengandung makna tidak mau menonjolkan diri, meskipun sebenarnya memiliki kemampuan)28 dan mau rela berkorban, Tuhan Yesus yang adalah Kristus Tuhan (Luk. 2:11) melayani para murid (Luk. 22:27; bnd.

Yoh. 13; Matius 20:28). (b) Tuhan Yesus adalah seorang yang lembut dan tulus, terlihat ketika Tuhan Yesus melayani atau menyembuhkan orang-orang sakit dan yang membutuhkan Dia, Ia memiliki kepekaan khusus terhadap orang-orang kecil yang menderita (Lukas 5:12; 7:1-10; 8:40-56). (c) Tuhan Yesus adalah seorang yang bijaksana, yang melakukan perbuatan-perbuatan mengherankan (Luk. 6:6-11; 20:20-26). (d) Yesus adalah seorang yang tegas (Luk. 11:37-54). (e) Tuhan Yesus adalah seorang yang suka berdoa (Luk. 5:16; 6:12; 9:18,28; 22:40). (f) Tuhan Yesus adalah seorang yang diurapi Roh Kudus (Luk. 3:21-22). (g) Tuhan Yesus adalah seorang yang tidak bercacat cela (Luk.

23:22; bnd. 2 Kor. 5:21).

Dalam Lukas 22:26b Tuhan Yesus memberikan konsep “pemimpin sebagai pelayan” yang nantinya menjadi prinsip kepemimpinan yang melayani kepada para muridNya. Dikatakan “Aku ada di tengah-tengah para murid sebagai pelayan” (Lukas 22:27), artinya ialah kehadiran Tuhan Yesus di dunia ini adalah untuk melayani bukan untuk memerintah, menindas, atau menghakimi, sedangkan dalam Matius 20:28 Tuhan Yesus berkata, “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani”. Bentuk pelayanan lain yang Tuhan Yesus lakukan ialah Ia berdoa untuk para muridNya (Yoh. 16:9- 10). Jadi kepemimpinan adalah sebuah pelayanan, bukan kekuasaan dan pemahaman kepemimpinan Tuhan Yesus adalah yang melayani

Inilah teladan yang diberikan Tuhan Yesus kepada murid-muridnya. Siapa yang mau menjadi terbesar diantara kamu haruslah menjadi yang terkecil untuk melayani, bukan yang dilayani. Kata Tuhan Yesus: “... Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan”

itulah Yesus, Guru, Tuhan, Anak Allah yang Maha Tinggi, Pencipta, merendahkan diri untuk melayani bahkan sampai mengurbankan dirinNya sampai mati di kayu salib.

Pemimpin hamba adalah orang yang mampu “mengosongkan” dirinya dari segala egoisme

28 H.M. Nasruddin Anshoriy dan Sudarsono, Kearifan Lingkungan dalam Perspektif Budaya Jawa, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2007), 148.

(13)

dan subjektivitas pribadi, menjadi pemimpin yang berorientasi kepada kemuliaan Tuhan dan kesejahteraan umatNya. Tuhan Yesus memberikan teladan “mengosongkan diri” (Filipi 2:7-8). Pengosongan diri “kenosis” tidak membuat Tuhan Yesus kehilangan posisi kepemimpinanNya, justru dengan melakukan itu, Dia dapat “menjadi sama” seperti manusia, sehingga mereka dapat menerima kehadiranNya, dan juga membuktikan kualitas kepemimpinanNya.29 Pelayanan Tuhan Yesus adalah suatu contoh (teladan) untuk pengikut-pengikutNya (bnd. Flp. 2:5 denan Luk. 22:26) dan justru karena Tuhan Yesus merendahkan diriNya sendiri, Ia dipermuliakan oleh Allah (bnd. Flp. 2:9-11 dengan Lukas 22:29-30).

Aplikasi Kepemimpinan yang Melayani menurut Lukas 22:26

Konsep kepemimpinan yang berlaku pada waktu jaman Tuhan Yesus, baik itu kepemimpinan yang berlaku secara umum maupun kepemimpinan Romawi dan Yahudi, sangat berbeda dengan konsep kepemimpinan yang Tuhan Yesus ajarkan. Orientasi kepemimpinan umum adalah siapa yang berada di atas siapa. Kepemimpinan adalah perihal siapa yang berkuasa atas siapa. Kepemimpinan adalah perihal siapa yang lebih besar dari siapa. Kepemimpinan umum mempersoalkan siapa yang lebih tinggi dari siapa. Tetapi Tuhan Yesus menunjukkan konsep kepemimpinan yang sangat berbeda dan bertolak belakang. Tuhan Yesus mengajarkan tentang kepemimpinan yang melayani atau pemimpin (yang terbesar) menjadi yang paling muda atau pemimpin sebagai pelayan.

Adapun aplikasi kepemimpinan yang melayani menurut Lukas 22:26 terhadap pemimpin gereja yaitu gembala sidang, adalah:

Pertama, pemimpin harus rendah hati. Rendah hati dalam kaitannya mengakui kelebihan orang lain. Jika dapat membangkitkan semua kekuatan yang terpendam pada pengikutnya, dialah pemimpin yang sebenarnya. Karena tidak semua orang dapat melakukannya. Ia bukan saja butuh pengalaman, tetapi juga kerendahan hati untuk mengakui kelebihan orang lain.30 Di sisi lain setelah gembala mengetahui kelebihan jemaat dan mengakuinya, gembala sidang juga harus mengolahn setiap kemampuan anggota jemaat yang ada, demi kemajuan dan perkembangan pelayanan di gereja. Rendah hati dalam kaitannya introspeksi diri. Introspeksi diri adalah berusaha melakukan koreksi pribadi dan mencari solusi perbaikan sehingga menghasilkan suatu perubahan ke arah yang positif.

Perlu disadari bahwa di dalam hidup ini ada hal-hal yang disebut kekuatan ada juga yang disebut kelemahan. Menyadari kekuatan dan kelemahan di dalam diri manusia merupakan proses yang relatif cepata atau lama, tentunya semua itu bergantung pada introspeksi diri.

Makin cepat seseorang mampu melakukan introspeksi diri, makin cepat pula dia memahami dan menyadari akan kekuatan dan kelemahannya. Seorang gembala yang memiliki waktu relatif banyak untuk selalu berproses dalam introspeksi diri, maka dia akan mengalami banyak keuntungan. Keuntungan tersebut adalah menghargai orang lain, menolong banyak

29 F. Suleeman, dkk, Bergumul Dalam Pengharapan, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004), 767.

30 Taufik Pasiak, Manajemen Kecerdasan (Bandung: Mizan Pustaka, 2006), 138.

(14)

orang, dapat menempatkan diri secara bijak dan selalu disukai banyak pihak. Memiliki kemampuan untuk memposisikan dirinya dalam situasi dan kondisi di manapun dia berada.

Kedua, pemimpin harus bisa atau mau rela berkorban. Dalam hal apa saja seorang gembala harus rela berkorban? (a) Pengorbanan Materi. Gembala sidang yang memimpin jemaat, harus memperhatikan (Maz. 23) keadaan sidang jemaatnya yang mengalami kekurangan atau beban dalam kebutuhan fisik, seperti kebutuhan primer dan sekunder, karena itu gembala harus menyediakan makanan untuk domba-dombanya. (b) pengorbanan waktu. Pada zaman Alkitab seorang gembala sungguh berat. Dari pagi sampai malam gembala berjalan bersama kawanan dombanya untuk mencari rumput dan sumur untuk mengambil air minum pada siang hari (Luk. 2:8)31, gembala menghabiskan waktu hidupnya untuk memelihara dombanya, bekerja keras dalam cuaca buruk dan menelusuri bukit-bukit tandus hingga menemukan pada rumput untuk makanan domba-dombanya. Dengan demikian tugas seorang gembala sidang ialah selalu siap sedia setiap waktu untuk jemaat- jemaatnya dan memberikan waktu untuk mendoakan jemaat. (c) Pengorbanan Daya.

Seorang gembala harus dapat mengupayakan semua hal yang baik bagi jemaat yang dipimpinnya, supaya jemaatnya terjaga dengan baik. Gembala yang baik mengenal domba- dombanya dan memberikan nyawanya untuk melindungi jemaatnya (Yoh. 10:11-15).

Dengan demikian gembala sidang mengerahkan seluruh daya yang ada padanya untuk menjaga sidang jemaatnya. (d) Pengorbanan Kepentingan. Sebagai contoh, jika seorang gembala menerima sebuah informasi tentang jemaatnya yang sedang kondisi kritis (sakit), sementara sang gembala sendang istirahat, apa yang harus ia lakukan? Hal inilah yang seringkali dialami para gembala sidang, selalu diperhadapkan dengan kepentingan pribadi.

Namun seorang gembala harus tetap mengutamakan kepentingan jemaatnya (tugas seorang gembala).

Ketiga, pemimpin harus peduli kasih. Gembala harus menguatkan domba yang lemah, harus mengobati domba yang sakit, harus membalut domba yang terluka, harus membawa pulang domba yang tersesat, dan domba yang hilang harus dicari. Gembala harus peka terhadap keadaan jemaatnya, misalnya jemaat sedang mengalami kesusahan, ujian iman, beban berat, ataupun masalah-masalah yang ada, seorang gembala harus tetap menghibur, menguatkan, serta memberikan suatu solusi untuk mengatasi masalah yang terjadi.

Keempat, pemimpin yang melayani harus setia. Tuhan Yesus memosisikan diriNya sebagai pelayan meja, adapun tugas dari pelayan meja adalah menunggu tuannya yang sedang makan sampai selesai. Hal ini membuktikan bahwa seorang pelayan meja diwajibkan setia terhadap pekerjaannya. Setia dalam kehidupan pribadi adalah suatu bentuk tanggung jawab yang harus dijalankan karena kepentingan diri sendiri, konsekuensi dari apa yang diperbuat, dilakukan dan dihasilkan. Demikian juga dengan gembala sidang dalam sebuah gereja, seorang gembala sidang harus tetap setia kepada pelayanan penggembalaan, meskipun jemaat yang dilayani tidak banyak dan jemaat yang dilayani latar belakangnya

31 Maria Bons-Storm, Apakah Penggembalaan Itu?, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1967), 3.

(15)

tidak mampu. Sebagai gembala sidang yang baik harus tetap semangat dan harus tetap setia dalam menggembalakan jemaat yang ada. Karena keberhasilan seorang gembala dalam menggembalakan sidang jemaatnya bukan dari banyaknya sidang jemaat yang ada, melainkan kualitas pelayanan seorang gembalanya, apakah gembala itu melakukan tugas pelayanannya dengan sungguh-sungguh atau tidak, memberikan yang terbaik dalam pelayanannya atau tidak, bahkan setia dalam pelayanannya atau tidak.

KESIMPULAN

Kepemimpinan yang melayani berarti seorang pemimpin harus dapat bersikap adil.

Ia harus memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan yang terbuka. Seorang pemimpin juga harus bijaksana, tulus, baik, berani, disiplin dan berintegritas. Setiap orang adalah unik.

Demikian juga seharusnya seorang pemimpin memiliki gaya kepemimpinan. Gaya kepemimpinan dapat diartikan sebagai gaya atau cara dalam memimpin. Tuhan Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya bahwa tugas seorang pemimpin ialah melayani. tugas seorang pemimpin bukan sekedar memerintah, menyuruh, bahkan menindas dan memeras rakyat atau pengikut. Seorang pemimpin juga harus beritegritas, dimana kesatuan kata dan tindakan itu benar-benar dilakukan. Gembala sidang sebagai pemimpin harus memiliki sedikitnya empat karakter sebagai perwujudan dari konsep pemimpin sebagai pelayan atau kepemimpinan yang melayani. keempat karakter yang dimaksud adalah rendah hati, rela berkorban, peduli kasih dan setia

REFERENSI

Astuti, Endang Sri dan Resminingsih. Bahan Dasar Untuk Pelayanan Konseling Pada Satuan Pendidikan Menengah Jilid I. Jakarta: Grasindo, t.t.

Boland, B.J., Tafsiran Alkitab Injil Lukas. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1990.

Bons-Storm, Maria. Apakah Penggembalaan Itu?. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1967.

Bolkestein, Marianus Hendrik, dkk. Kerajaan Yang Terselubung. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2004.

Ch, Abineno, J.I., Tafsiran Alkitab Surat Filipi. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2009.

D’Souza, Anthony. ENNOBLE, ENABLE, EMPLOWER Kepemimpinan Yesus Sang Almasih. Jakarta: Gramedia Pustaka. 2009.

Djadi, Jermia. Kepemimpinan Kristen yang Efektif. Jakarta: Jurnal Jaffray. 2009.

Darmaputera, Eka. Kepemimpinan dalam Perspektif Alkitab. Yogyakarta: Kairos. 2005.

Efferin, Sujoko, dan Bonnie Soeherman. Seni Perang Sun Zi dan Sistem Pengendalian Manajemen. Jakarta: IKAPI. 2010.

Ferruci, Piero. Bagaimana Menjadi Orang Baik. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2009.

Free, Joseph, P. Arkeologi dan Sejarah Alkitab. Malang: Gandum Mas. 2011.

H.M. Nasruddin Anshoriy, H.M. Nasrudin, dan Sudarsono. Kearifan Lingkungan dalam Perspektif Budaya Jawa. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 2007.

Harefa, Andrias Kepemimpinan Kristiani. Jakarta: UPI STT. 2001.

Henry, Matthew. Tafsiran Matthew Henry Injil Yohanes. Surabaya: Momentum.

2010Hendrawan, Sanerya. Spiritual Management. Bandung: Mizan Pusaka. 2009.

Ismail, Andar. Selamat Menabur: 33 Renungan Tentang Didik-Mendidik. Jakarta: BPK.

Gunung Mulia. 1997.

Ismael, Andar. Selamat Melayani Tuhan. Jakarta: BPK. Gunung Mulia. 2009.

(16)

Kaukahe, Phanny Tandy, and Fransiskus Irwan Widjaja. “Karakteristik Kepemimpinan Pentakostal-Karismatik: Refleksi Daniel 6:4.” DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika 3, no. 2 (2020): 82–90.

Kochhar, S.K., Teaching of History. Jakarta: Grasindo. 2008.

Kotler, Philip. Marketing Insights From A to Z. Jakarta: Airlangga. 2003.

Malahayatu, I’m the Boss. Jogja: Jogja Bangkit Publisher. 2010.

Maxwell, John C. Hak untuk Memimpin. t.t: Mitra Media. 2002.

Panjaitan, Farel. Firman Hidup 68: Reformasi Spiritual, moral, dan etik. Jakarta: BPK.

Gunung Mulia. 2008.

Parhusip, Akdel, Merry G Panjaitan, and Maya Dewi Hasugian. “Peran Manajemen Dalam Mengembangkan Pelayanan Di Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Perumnas Martubung, Medan.” EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani 4, no.

1 (2020): 44–56.

Pranawa, Emanuel. Gereja yang Melayani Dengan Rendah Hati. Yogyakarta: Kanisius.

2009.

Kraybill, Donald B. Kerajaan Yang Sungsang. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005.

Pasiak, Taufik. Manajemen Kecerdasan. Bandung: Mizan Pustaka. 2006.

Prodjowijono, Suharto. Manajemen Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2008.

Rinukti, Nunuk. “Peranan Perempuan Menurut Perjanjian Baru Bagi Perkembangan Kepemimpinan Perempuan Di Dalam Gereja.” Jurnal Teruna Bhakti 1, no. 1 (2018): 33–41. http://e-

journal.stakterunabhakti.ac.id/index.php/teruna/article/view/9.

Samarenna, Desti, and Harls Evan R Siahaan. “Memahami Dan Menerapkan Prinsip Kepemimpinan Orang Muda Menurut 1 Timotius 4:12 Bagi Mahasiswa Teologi.”

BIA’: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual 2, no. 1 (2019): 1–13.

http://www.jurnalbia.com/index.php/bia.

Sanusi, Anwar. Jalan Kebahagiaan. Depok: Gema Insanim. 2006.

Singgih, Emmanuel Gerrit. Dua Konteks. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2009.

Suleeman, F., dkk, Bergumul Dalam Pengharapan. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2004.

White, Jerry. Kejujuran Moral dan Hati Nurani. Jakarta: BPK Gunung Mulia. tt.

Walz, Edgar. Bagaimana Mengelola Gereja Anda?. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2008.

Van Kooij, Rijnardus A, dkk. Menguak Fakta, Menata Karya Nyata. Jakarta BPK Gunung Mulia. 2008.

Referensi

Dokumen terkait