• Tidak ada hasil yang ditemukan

LEMBARAN DAERAH KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II PALU NOMOR 1 TAHUN 1998 SERI C NOMOR 1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "LEMBARAN DAERAH KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II PALU NOMOR 1 TAHUN 1998 SERI C NOMOR 1"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

LEMBARAN DAERAH KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II PALU NOMOR 1 TAHUN 1998 SERI C NOMOR 1

PERATURAN DAERAH KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II PALU NOMOR 19 TAHUN 1998

TENTANG

LARANGAN BEROPERASINYA BECAK DALAM WILAYAH KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II PALU

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTAMADYA KEPALA DAERAH TINGKAT PALU,

Menimbang : a. bahwa dalam rangka lebih meningkatkan ketertiban dibidang lalu lintas dan angkutan jalan serta sebagai upaya menciptakan Kota Palu yag lebih bersih indah dan tertib , diiringan dengan laju pertumbuhan perekonomian dan sarana angkutan yang cukup memadai, perlu diimbangi dengan peraturan teknis transportasi yang lebih aman, tertib terkendali dan sesuai dengan topografi kota;

b. bahwa becak sebagi sarana angkutan umum pada hakikatnya tidak layak sebagai angkutan penumpang umum dengan melihat perkembangan kehidupan dan martabat bangsa Indonesia sebagai bangsa yang merdeka;

c. bahwa untuk memenuhi huruf a dan b di atas, perlu pelarangan beroperasinya becak sebagai sarana angkutan pelarangan beroperasinya becak sebagai sarana angkuta penumpang umum diwilayah Kota Palu yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di daerah (Lembaran Negata Tahun 1974 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3480);

2. Undang-undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutam jalan (Lembaran Negara Tahun 1994 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3555);

3. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1994 tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Palu (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3480);

(2)

4. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1990 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintahan Dalam Bidang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan Dari Pemerintah Pusat Kepada Pemerintah Daerah Tingkat II Dan Pemerintah Daerah Tingkat II (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 26, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3410) ; 5. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan dan

Pengemudi (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 64, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3530);

6. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil diLingkungan Pemerintah Daerah;

7. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 1993 tentang Bentuk Peraturan Daerah dan Peraturan Daerah.

Dengan persetujuan bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Palu

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN DAERAH KOTA PALU TENTANG PELARANGAN BEROPERASINYA BECAK DALAM WILAYAH KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II PALU.

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini, yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Kotamadya Daerah tingakt II Palu;

2. Kepala Daerah adalah Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Palu;

3. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kotamadya Daerah tinkat II Palu;

4. Becak adalah Kendaraan beroda tiga yang cara menjalankannya dengan mngunakan tenaga manusia yang digunakan untuk mengunakan tenaga manusia yang digunakan untuk kepentingan angkutan umum;

5. pemilik becak adalah secara perorangan yang memiliki becak;

(3)

BAB II

KETENTUAN-KETENTUAN MENGENAI BECAK Pasal 2

(1) Untuk mewujudkan Lalu Lintas dan angkutan jalan dengan selamat, aman, cepat, lancar tertib dan teratur diperlukan penertiban;

(2) Penertiban sebagaiman dimaksud pada ayat (1) pasal ini, agar mampu berperan dalam meningkatkan kelancarkan arus penumpang dan barang.

Pasal 3

(1) Keamanan, ketertiban dan kesempatan transportasi jalan serta perkembangan dan kemajuan teknologi angkutan yang semakin pesat, sangat mempengaruhi dan meningkatkan kecepatan kendaraan dijalan umum;

(2) Sarana dan prasarana jalan, umumnya masih sangat terbatas baik panjang maupun lebar badan jalan.

Pasal 4

Dengan perimbangan manusia secara administrasi, topograsi daerah tidak menunjang (berbukit-bukit) sehingga tidak memungkinkan beroperasinya becak sebagai sarana angkutan penumpang umum dalam Daerah.

Pasal 5

Setiap pemilik becak dana/atau pengemudi Becak dilarang:

a. Melaksanakan kegiatan beroprasinya becak dalam wilayah Daerah sebagai sarana angkutan penumpang umum;

b. Membuat dan merakit becak dalam Daerah;

c. Memasukan becak melalui jasa angkutan darat, laut maupun udara baik dalam bentuk komponen/peralatan becak secara terpisah.

(4)

BAB III

KETENTUAN PIDANA Pasal 6

(1) Pelanggaran atas ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah ini, diknakan ancaman kurungan selama-lamanya 6 (enam) bulan atau denda setinggi- tingginya Rp 50.000,-(Lima puluh ribu rupiah);

(2) Tindakan Pidana dimaksud ayat (1) pasal ini adalah pelanggaran.

BAB IV

KETENTUAN PENYIDIKAN Pasal 7

Selain oleh penyidik umum yang bertugas menyidik Tindak Pidana, Penyidikan atas Tindak Pidana sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Daerah ini dapat juga dilakukan oleh Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil dilakukan Pemerintah Daerah, yang pengangkatannya telah ditetapkan sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 8

(1) Dalam melakukan tugas penyidikan para Penyidik Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pasal 6 Peraturan Daerah ini berwenang:

a. Menerima Laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana;

b. Melakukan tindakan pertama pada pada saat itu pada tempat kejadian dan melakukan pemeriksaan;

c. Menyuruh berhenti seseoang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka;

d. Melakukan Penyitaan benda atau surat;

e. Mengambil sidik jari dan memotret seseorang;

(5)

h. Menghentikan Penyidikan setelah mendapat petunjuk dari penyidik umum bahwa tidak terdapat cukup bukti atau peristiwa tersebut bukan merupakan tindak pidana, dan selanjutnya melalui penyidik umum memberitahukan hal tersebut kepada Penuntut Umum, tersangka atau keluarganya;

i. Mengadakan tindakan lain menurut ukum yang dapat dipertanggungjawabkan.

(2) Pejabat Pegawai Negeri Sipil dalam melaksanakan wewenangnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini membuat berita acara setiap tindakan tentang:

a. Pemeriksaan tersangka;

b. Pemeriksaan rumah;

c. Pemeriksaan benda;

d. Pemeriksaan surat;

e. Pemeriksaan saksi;

f. Pemeriksaan ditempat kejadian:

(3) Berita Acara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pasal ini dikirimkan kepada Kejaksaan Negeri melalui Penyidik Kepolisian Republik Indonesia.

BAB V

KETENTUAN PENUTUP Pasal 9

Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka Peraturan Daerah Kota Palu Nomor 10 Tahun 2000 tentang Retribusi Pelayanan Persampahan/ kebersihan dan Peraturan daerah Kota Palu Nomor 12 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kota Palu Nomor 10 Tahun 2000 tentang Retribusi Pelayanan Persampahan / Kebersihan dinyatakan tidak berlaku lagi.

Pasal 10

Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini, sepanjang mengenai pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Kepala Daerah.

Pasal 11

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

(6)

Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Palu.

Ditetapkan di Palu

Pada tanggal 18 Mei 1998 DEWAN PERWAKILAN RAKYAT WALIKOTAMADYA KEPALA DAERAH DAERAH TINGKAT II PALU TINGKAT II PALU

KETUA

Ttd Ttd

Hi. ACHMAD MADJID RULY A. LAMADJIDO, SH

Disahkan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah dengan Keputusan Nomor 26

Tahun 1998, tanggal 28 Agustus 1998

--- Diundangkan dalam Lembaran Daerah

Kotamadya Daerah Tingkat II Palu Nomor 1 Tahun 1998 Seri C Nomor 1

tanggal 7 September 1998

SEKRETARIS KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II PALU Ttd

Drs. H. A. WAHAB PATUNRANGI PEMBINA UTAMA MUDA

NIP. 570004658

(7)

PENJELASAN

PERATURAN DAERAH KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II PALU NOMOR 19 TAHUN 1998

TENTANG

PELARANGAN BEROPERASINYA BECAK DALAM WILAYAH KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II PALU

I. PENJELASAN UMUM

Kotamadya Daerah Tingkat II Palu merupakan Daerah yang berfungsi ganda sebagai Kotamadya Daerah Tingkat II Palu juga merupakan, Ibukota Propinsi Sulawesi Tengah sehingga kelihatan bagi Kita semua laju pertumbuhan ekonominya sangat pesat seiring dengan perkembangan masyarakat dari seluruh penjuru daerah yang membuka usaha disegala sektor termasuk sektor transportasi. Untuk menjaga laju pertumbuhan ekonomi tersebut, maka perlu penertiban, pengamanan serta pengendalian disektor transportasi agar pemakai jalan terhindar dari hal-hal yang dapat merugikan.

Sehubungan dengan hal tersebut diatas, maka becak sebagai alat transportasi umum yang dapat dilihat dari sisi manaun tidak layak dioperasikan (penghisapan manusia terhadap manusia) sehinga tidak dibenarkan beroperasi dalam wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Palu, disamping itu sudah cukup banyak alat transportasi yang lebih aman dan nyaman. Untuk mempertahankan budaya bersih, tertib dan terkendali maka pelarangan beroperasinya becak perlu ditetapkan dengan Peraturan Daerah sebagai sarana hukum bagi aparatur Pemerintah Daerah dalam rangka menjalankan tugasnya.

II. PENJELASAN PASAL DEMI PASAL

Pasal 1 sampai dengan pasal 11 : Cukup Jelas.

Referensi

Dokumen terkait

Yang bertanda tangan di bawah ini saya, Rachmad Catur Hariady, menyatakan bahwa skripsi dengan judul: PENGARUH PROFESIONALISME AUDITOR DAN KUALITAS AUDIT TERHADAP

Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh variabel leverage, pertumbuhan perusahaan, dan free cash flow terhadap nilai perusahaan pada perusahaan barang konsumsi

Sedangkan untuk pembubaran Perseroan Terbatas yang sudah didirikan dengan akta pendirian yang dibuat dihadapan notaris namun belum berstatus Badan Hukum karena belum

barang dan/ataujasa yang dibeli oleh konsumen", Pasal 18 ayat (1) huruf g,-yan1isinya me- nyatakan, "tunduknya konsumen kepada peraturan yang berupa afuran

Pemeriksaan psikologi bagi Perwira TNI AD yang selama ini hanya dilaksanakan pada saat uji kompetensi jabatan Dansat dan pada akhir Dikbangum (Diklapa II dan Seskoad). Bila

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi temperatur dan fraksi massa uap dalam steamer yang berpengaruh terhadap kualitas teh yang dihasilkan dengan kecepatan

pengalaman baru yang didapat konseli setelah kegiatan bimbingan dan konseling berakhir karena saya sudah dapat menilainya selama proses bimbingan dan konseling

Pengendalian suhu menggunakan set point72,9° C dansettling time kurang dari 300 detik, Perancangan dan pembuatan sistem pengendalian suhu pada alat pasteurisasi