4 2.1 Dasar Teori
Dalam perkembangan pelayanan darah di Indonesia saat ini, pengadaan darah yang berkualitas, mudah didapat, cepat, serta dalam jumlah yang memadai harus terus ditingkatkan. Pelayanan darah telah menjadi salah satu mata rantai dari berbagai pelayanan medis di fasilitas kesehatan, dan memiliki peran yang penting terutama dalam tindak lanjut pada keadaan gawat darurat, persiapan tindakan operasi, dan peningkatan status kesehatan pasien pada berbagai kasus kelainan darah.(2)
2.1.1 Darah
Darah adalah jaringan cair yang terdiri atas dua bagian yaitu plasma darah dan sel darah. Sel darah terdiri dari tiga jenis yaitu eritrosit, leukosit dan trombosit. Volume darah secara keseluruhan adalah satu per dua belas berat badan atau kira-kira lima liter.
Sekitar 55% adalah plasma darah, sedang 45% sisanya terdiri dari sel darah.(9)
Darah berwarna merah, antara merah terang apabila kaya oksigen sampai merah tua apabila kekurangan oksigen. Warna merah pada darah disebabkan oleh hemoglobin, protein pernapasan (respiratory protein) yang mengandung besi dalam bentuk heme, yang merupakan tempat terikatnya molekul-molekul oksigen. Fungsi utama darah dalam sirkulasi adalah sebagai media transportasi, pengaturan suhu,
pemeliharaan keseimbangan cairan, serta keseimbangan basa eritrosit selama hidupnya tetap berada dalam tubuh.(9)
Manusia memiliki sistem peredaran darah tertutup yang berarti darah mengalir dalam pembuluh darah dan disirkulasikan oleh jantung. Darah dipompa oleh jantung menuju paru-paru untuk melepaskan sisa metabolisme berupa karbon dioksida dan menyerap oksigen melalui pembuluh arteri pulmonalis, lalu dibawa kembali ke jantung melalui vena pulmonalis. Setelah itu darah dikirimkan ke seluruh tubuh oleh saluran pembuluh darah aorta. Darah mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh melalui saluran halus darah yang disebut pembuluh kapiler. Darah kemudian kembali ke jantung melalui pembuluh darah vena cava superior dan vena cava inferior. Darah juga mengangkut bahan-bahan sisa metabolisme, obat-obatan dan bahan kimia asing ke hati untuk diuraikan dan ke ginjal untuk dibuang sebagai air seni.(9)
2.1.1.1 Plasma Darah
Plasma merupakan komponen terbesar dari darah, jumlah nya sekitar 55% dari seluruh komponen darah. Ketika terisolasi, plasma darah berwarna kuning, mirip dengan warna jerami. Bersama dengan air, plasma membawa garam dan enzim.(14)
Tujuan utama dari plasma adalah untuk mengangkut nutrisi, hormon, dan protein untuk bagian-bagian tubuh yang memerlukannya. Plasma membantu menghilangkan limbah dari tubuh. Plasma darah juga membatu transportasi dari semua elemen dari darah melalui system peredaran darah.(12)
2.1.1.2 Sel-sel Darah
Sel-sel darah terdiri atas sel darah merah (eritrosit); sel darah putih (leukosit) dan trombosit (platelet).(13)
Jenis sel-sel darah diilustrasikan pada gambar 2.1
Gambar 2.1 Sel – sel Darah
Sumber : http://thietbixetnghiem.com/chi-dinh-xet-nghiem-pap.stmm
1. Eritrosit
Eritrosit merupakan sel yang berfungsi untuk mengangkut oksigen (O2) ke jaringan tubuh dan membantu pembuangan karbondioksida (CO2) juga proton yang dihasilkan dari proses metabolisme jaringan tubuh. Sel ini memiliki ukuran diameter 7-8 μm, tidak memiliki inti tetapi mengandung organel dalam sitoplasmanya, berbentuk bikonkaf yang menyebabkan eritrosit bersifat fleksibel sehingga dapat melewati lumen pembuluh darah yang sangat kecil, memiliki membran berupa lapisan lipid bipolar yang mengandung protein structural dan kontraktil dan banyak enzim serta antigen permukaan.(13,14)
Susunan eritrosit terdiri atas 50% membran adalah protein, 40% lemak dan sampai 10% karbohidrat. Lipid terdiri dari 60% fosfolipid netral (terutama kolesterol) dan 10% glikolipid. Fosfolipid dan glikolipid adalah struktural dengan gugus polar pada permukaan eksterna dan interna dan gugus nonpolar pada tengah membran.
Karbohidrat terdapat hanya pada permukaan eksterna sedangkan protein diduga baik sebagai bagian tepi (perifer) ataupun integral, yang menembus bilamina lipid (lipid bilayer). Satu dari protein tersebut – spektrin – diduga struktural pada permukaan dalam, yang mempertahankan bentuk bikonkaf. (13)
Ilustrasi tentang unit membran eritrosit disajikan pada gambar 2.2
Gambar 2.2 Unit Membran Eritrosit
Sumber : Salma. 2017. Hubungan Lama Darah Penyimpanan Donor Komponen Packed Red Cell Terhadap Nilai Fragilitas Osmotik. Artikel Karya Tulis Ilmiah. Bandung: Poltekkes Kemenkes RI
Bandung
2. Leukosit
Leukosit adalah salah satu komponen darah yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Leukosit pada umumnya dibagi menjadi granulosit (neutrofil, eosinofil, basofil) yang mempunyai granula khas, dan agranulosit (limfosit dan monosit) yang tidak mempunyai granula khas. Dalam darah tepi, jumlah leukosit relatife paling sedikit dengan masa hidup 13 hingga 20 hari. Selama berada di dalam darah, leukosit hanya bersifat sementara mengikuti aliran darah ke seluruh tubuh karena fungsi sel ini lebih banyak dilakukan di dalam jaringan.(15,16)
3. Trombosit
Trombosit adalah sel darah yang berperan penting dalam proses hemostatis.
Dalam darah tepi, sel ini berjumlah sekitar 150.000 – 400.000 sel/µL. Masa hidup sel trombosit berkisar satu hingga dua minggu atau kira kira 8 hari. Trombosit tersusun atas substansi fosfolipid yang penting dalam pembekuan dan menjaga keutuhan pembuluh darah serta memperbaiki pembuluh darah kecil yang rusak. Trombosit tidak memiliki inti sel, berukuran 1-4 μm, dan sitoplasma nya berwarna biru dengan granula ungu-kemerahan. Trombosit merupakan derivat dari megakariosit, berasal dari fragmen sitoplasma megakariosit. Pada proses hemostasis, trombosit melekat pada lapisan endotel pembuluh darah yang robek (luka) dengan membentuk plug trombosit.(15,17)
2.1.2 Transfusi Darah
Transfusi darah adalah serangkaian proses pemindahan darah atau komponen darah dari donor kepada resipien. Tujuan transfusi darah secara umum untuk mengembalikan serta mempertahankan volume normal peredaran darah, mengganti kekurangan komponen selular darah, meningkatkan oksigenasi jaringan, serta memperbaiki fungsi homeostasis pada tubuh. Pada kasus-kasus tertentu, transfusi darah dapat sangat bermanfaat atau bahkan menyelamatkan nyawa pasien.(17)
Menurut Shubba Allard (2013), istilah transfuse darah mengacu pada penggunaan terapi darah utuh atau komponen-komponennya (sel darah merah, trombosit, plasma beku segar dan kriopresipitat).(24)
2.1.2.1 Epidemiologi
World Health Organization melaporkan setiap tahunnya lebih dari 9 juta transfusi darah yang dilakukan di lebih dari 47.000 rumah sakit di seluruh dunia. Di Indonesia, PMI (2008) melaporkan 1.283.582 transfusi dilakukan. Pada tahun 2009 Healthcare Cost and Utilization Project (HCUP) melaporkan 3 juta komponen darah ditransfusikan di Inggris, dimana transfuse dilakukan pada lebih dari 10% pasien rawat inap. Sedangkan Morton (2010) di Amerika serikat melaporkan transfuse darah dilakukan pada 5,8% pasien rawat inap. Pada tahun 2013, US Red Cross melaporkan lebih dari 30 juta komponen darah ditransfusikan.(24,25)
2.1.3 Komponen Darah Pendonor yang memberikan komponen Whole Blood (WB) dapat dipecah
menjadi beberapa fraksi komponen darah lainnya. Satu unit whole blood dapat menyediakan 1 unit Packed Red Cells (PRC), trombosit konsentrat, dan Fresh Frozen Plasma (FFP). Teknologi apheresis mampu memisahkan komponen-komponen tersebut. Penyimpanan dari komponen darah itupun berbeda-beda dalam mempertahankan fungsinya; untuk PRC disimpan pada suhu 4-10ºC, FFP pada suhu - 18˚C, trombosit pada suhu ruangan 24-25ºC. Selain itu, bank darah juga menyediakan
kemasan dengan ukuran pediatrik sehingga beberapa unit darah dapat dibuat dari 1 donor dewasa.(18)
Proses diperolehnya komponen darah donor dimuat pada gambar 2.3 berikut.
Gambar 2.3 Komponen Darah Donor
Sumber : http://melakabloodbank.blogspot.co.id/2010/04/darah-komponen-dan- kegunaan.html
2.1.3.1 Darah Lengkap (Whole Blood)
Darah lengkap berisi semua jenis komponen darah (eritrosit, leukosit, trombosit dan plasma). Satu unit kantung darah lengkap berisi 450 mL darah dan 63 mL larutan pengawet/anti koagulan, kadar Hb ± 12 g/dL, dan hematokrit (HCT) 35% - 45% tanpa trombosit fungsional atau faktor koagulasi akut (V dan VII). Darah lengkap dapat bertahan pada suhu penyimpanan berkisar antara 2oC sampai 6oC setelah pengambilan , harus dimulai dalam waktu 30 menit setelah darah dikeluarkan dari bloodbank di dalam refrigerator dengan masa penyimpanan tergantung antikoagulan yang digunakan.(10) Darah lengkap dapat bertahan hingga 21 hari adalah darah sitrat (CPD/Citrate Phospate Dextrose), 35 hari untuk darah CPDA-1 (Citrate Phospate Dextrose and Adenin) dan 49 hari apabila ditambahkan larutan nutritife SAGM (Saline, Dextrose, Adenine, Manitol).(7,17,18)
Menurut WHO dalam The clinical use of blood, darah lengkap diindikasikan pada keadaan perdarahan akut dengan hipovolemik, transfusi pada pasien yang membutuhkan transfusi sel darah merah dimana sel darah merah konsentrat atau suspensi tidak tersedia. Sedangkan menurut Djoerban E, pemberian darah lengkap pada keadaan perdarahan akut dengan hipovolemik tidak menjadi pilihan utama.
Pemulihan segera volume darah pasien jauh lebih penting dari pada penggantian sel darah merah, sedangkan menyiapkan darah untuk transfuse memerlukan waktu. Darah lengkap sebaiknya tidak diberikan pada pasien dengan anemia kronik yang normovolemik atau yang bertujuan meningkatkan sel darah merah.(22,23)
Pada orang dewasa, 1 unit darah lengkap akan meningkatkan Hb sekitar 1 g/dL atau hematokrit 3-4%. Saat ini pemberian darah lengkap bukan menjadi pilihan,karena risiko yang dapat terjadi lebih tinggi daripada pemberian transfusi komponen darah, terutama penularan infeksi. Untuk menghindari hal tersebut, pemisahan sebaiknya menggunakan filter darah dengan ketepatan tetesan tergantung keadaan klinis pasien,namun sebaiknya dilakukan dalam waktu 4 jam.(23)
2.1.3.2 Sel Darah Merah Pekat (Packed Red Cell/PRC)
Sel darah merah pekat merupakan komponen yang terdiri dari sel darah merah yang telah dipekatkan dengan memisahan komponen-komponen yang lain sehingga mencapai hematokrit 65% hingga 70% dengan itu maka sebanyak 150-200 mL plasma telah dihilangkan dalam satu unitnya. Setiap unit PRC memiliki volume kira-kira 128- 240 mL, dengan kadar haemoglobin kira-kira 20g/dL (≥ 45 g/unit). Pengolahan PRC dipisahkan dari WB dilakukan dalam waktu 6 sampai 18 jam pengambilan jika disimpan pada suhu 2oC sampai 6oC, atau dipisahkan dalam waktu 24 jam pengambilan jika disimpan pada suhu 20oC sampai 24oC.(5) Penyimpanan PRC serupa dengan whole blood, yaitu pada temperatur 2oC -6oC, serta darah yang telah dikeluarkan dari tempat penyimpanan (refrigerator) seharusnya segera ditransfusikan maksimal dalam 30 menit.(7,16,20,21)
2.1.3.2.1 Proses Pembuatan Darah Komponen Packed Red Cell
Gambar 2.4 Bagan proses pembuatan komponen PRC
Dokumentasi proses pembuatan komponen PRC dilapmpirkan pada lampiran 2 halaman 72.
Input data pendonor Darah dari pendonor (whole blood)
Uji saring darah donor.
Darah dimasukan kedalam centrifuge bucket.
Centrifuge bucket diseimbangkan dengan cara
ditimbang.
Dimasukkan kedalam refrigated centrifuge.
Pemisahan komponen dengan plasma ekstraktor.
Pemotongan kantong transport dengan tube sealer.
Pelabelan
Komponen darah PRC disimpan pada tepat
penyimpanan
2.1.3.2.2 Tujuan Transfusi Packed Red Cell
Tujuan dilakukannya transfuse PRC adalah untuk menaikkan hemoglobin resepien tanpa menaikkan volume darah secara nyata. Keuntungan menggunakan PRC dibandingkan dengan WB adalah kenaikan Hb dapat diatur sesuai dengan yang diinginkan, mengurangi kemungkinan penularan penyakit dan reaksi imunologis, volume darah yang dierikan lebih sedikit sehingga kemungkinan overload berkurang serta komponen darah lainnya dapat diberikan kepada resepien yang lain.(47)
2.1.3.2.3 Indikasi Transfusi Packed Red Cell
Transfusi PRC hampir selalu diindikasikan pada kadar hemoglobin (Hb)
<7g/dL, terutama pada anemia akut. Transfusi dapat ditunda jika pasien asimptomatik dan/atau penyakitnya memiliki terapi spesifik lain, sehingga batas kadar Hb yang lebih rendah dapat diterima. Transfusi dapat dilakukan pada kadar Hb 7-10 g/dL apabila ditemukan hipoksia atau hipoksemia yang bermakna secara klinis dan laboratorium.
Transfusi tidak dilakukan bila kadar Hb ≥ 10 g/dL,kecuali bila ada indikasi tertentu, misalnya penyakit yang membutuhkan kapasitas transport oksigen lebih tinggi atau adanya tanda “oxygen need” (rasa sesak, mata berkunang,palpitasi,pusing dan gelisah) (contoh : penyakit paru obstruktif kronik berat dan penyakit jantung iskemik berat).(27) Pada tahun 2012 American Association of Blood Banks (AABB) merilis pedoman praktek klinis untuk transfusi PRC berdasarkan penelaahan sistematis beberapa uji klinis acak. AABB merekomendasikan bahwa dirumah sakit, pasien stabil dengan ambang batas 7g/dL sampai 8 g/dL harus dilakukan transfusi. Sedangkan
pasien dengan penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya dengan ambang batas 8 g/dL atau kurang, dan transfusi dilakukan sesuai dengan keadaan klinis pasien. Secara garis besar hal ini sesuai dengan beberapa pedoman terdahulu dimana kisaran kadar Hb antara 7-8g/dL.(8) Pedoman transfusi sel darah merah menurut beberapa organisasi disajikan pada tabel 2.1 berikut ini
Tabel 2.1 Medical Society clinical practice guadlines for red blood cell transfusion.
(Sumber : AABB Technical Manual 15th)
Recomendations
NIH Consesnsus Conference, 1988 <70 g/L (acute)
American Collage of Physicians, 1992 No number
American Society of Anesthesiologists, 1996 <60 g/L (acute) American Society of Anesthesiologists, 2006 No number
Canadian Medical Association, 1997 No number
Canadian Medical Association, 1998 No number
College of American Pathologists, 1998 60 g/L (acute)
British Committee for Standards in Haematology, 2001 No number British Committee for Standards in Haematology, 2012 70 g/L*
Australian Society of Blood Transfusion, 2001 70 g/L Society for Thoracis Surgeons, Society of Cardiovascular
Anesthesiology, 2007
70 g/L Society for Thoracis Surgeons, Society of Cardiovascular
Anesthesiology, 2011
80 g/L*
American College of Critical Care Medicine, Society of Critical Care Medicine, 2009
70 g/L American College of Critical Care Medicine, Society of Critical Care
Medicine, 2009
70 g/L Society for the Advancement of Blood Management, 2011 80 g/L
National Blood Authority, Australia, 2012 No number
AABB, 2012 70-80 g/L or
80g/LϮ Kidney Diseases: Improving Global Outcomes, 2012 No number
National Cancer Center Network, 2012 70 g/L
*For patients with acute blood loss, Ϯ for patient with symptoms of end-organ ischaemia.
2.1.3.2.4 Dosis dan Penggunaan Packed Red Cell
Sel darah merah ada tiga jenis yaitu sel darah merah pekat (Packed Red Cell / PRC),suspense sel darah merah, dan sel darah merah yang dicuci. Indikasi mutlak pemberian PRC ialah bila Hb penderita 5 g/dL. Jumlah PRC yang diperlukan untuk menaikkan Hb dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Jumlah PRC = Hb x 3 x BB Hb = Selisih Hb yang diinginkan dengan Hb sebelum transfusi BB = Berat badan
Menurut penelitian terbarukan yang dilansir oleh MedSpace (2018) aturan transfusi komponen PRC adalah sebagai berikut : (26)
Dewasa : Pasien kekurangan oksigen jaringan karena pendarahan aktif atau gejala anemia. 1 unit kantung darah komponen PRC, rata-rata meningkatkan hemoglobin 1g/dL tanpa perdarahan aktif atau hemolisis. Biasanya diberikan lebih dari 1-2 jam tetapi tidak lebih dari 4 jam. Jarang diperlukan untuk transfusi ke hemoglobin >10g/dL Anak : Pasien kekurangan oksigen jaringan karena pendarahan aktif / gejala anemia. 10-15mL/kg pemberian darah donor komponen PRC, meningkatkan hemoglobin 2-3 g/dL pada pasien tanpa perdarahan aktif atau hemolisis.
Kehamilan & Laktasi : CMV-negatif atau CMV mengurangi risiko (leukosit berkurang) RBC harus digunakan pada wanita hamil yang CMV-negatif atau status CMV-nya tidak diketahui.
Kategori kehamilan yang dapat menerima transfuse PRC adalah sebagai berikut : A: Secara umum dapat diterima. Studi terkontrol pada wanita hamil tidak menunjukkan bukti risiko janin.
B: Mungkin bisa diterima. Baik penelitian pada hewan tidak menunjukkan risiko tetapi penelitian pada manusia tidak tersedia atau penelitian pada hewan menunjukkan risiko kecil dan penelitian manusia dilakukan dan tidak menunjukkan risiko.
C: Gunakan dengan hati-hati jika manfaat lebih besar daripada risiko.
Penelitian pada hewan menunjukkan risiko dan penelitian pada manusia tidak tersedia atau tidak ada penelitian pada hewan atau manusia.
D: Gunakan dalam keadaan darurat, saat tidak ada obat yang lebih aman.
X: Jangan gunakan dalam kehamilan. Risiko yang terlibat lebih besar daripada manfaat potensial. Alternatif yang lebih aman ada.
Tidak boleh digunakan untuk mengobati anemia yang dapat dikoreksi dengan terapi non-transfusi (misalnya terapi besi) kecuali jika koreksi segera sangat diperlukan.Tidak diindikasikan hanya untuk menyediakan volume darah & / atau tekanan onkotik, atau untuk meningkatkan penyembuhan luka.
2.1.3.2.5 Reaksi Transfusi Packed Red Cell 1. Reaksi Transfusi Hemolitik
Reaksi hemolitik akut adalah reaksi yang disebabkan inkompatibilitas (ketidakcocokan) sel darah merah dimana eritrosit donor lisis karena adanya
antibodi pada resipien. Reaksi ini terjadi ketika antibodi resepien berikatan dengan antigen eritrosit donor dan mengaktifkan komplemen, membentuk membrane attack complex (C5-C9) dan melisiskan eritrosit donor.
Berbagai kompenen yang dilepaskan selama hemolisis seperti interleukin (IL- 1, IL-6) dan tumor necrosis factor (TNF)-α menjadi perantara terjadinya demam, hipotensi dan aktivasi endotelial. Meskipun volume darah inkompatibel hanya sedikit (10-50 ml) namun sudah dapat menyebabkan reaksi berat. Semakin banyak volume darah yang inkompatibel maka akan semakin meningkatkan risiko. (48)
Reaksi hemolisis akut akan timbul segera, biasanya dalam 15 menit, atau beberapa jam setelah transfusi dalam bentuk demam, menggigil, nyeri dada atau hipotensi. Gejala lain yang jarang terjadi adalah rasa panas di wajah (flushing), nyeri punggung bawah, sesak nafas, nyeri perut, muntah dan diare.
Pada kasus yang berat, dapat terjadi gangguan pembekuan darah (koagulopati) dan gagal ginjal. (48)
2. Reaksi Demam Non-Hemolitik
Reaksi demam non hemolisis adalah reaksi transfusi tersering yang dilaporkan ke bank darah. Kira-kira 0,2% – 1 % dari semua transfusi sel darah merah dapat dihubungkan dengan reaksi demam non hemolisis, pada transfusi trombosit angka ini lebih tinggi. Reaksi ini terjadi lebih sering pada pasien yang sebelumnya sudah mengalami aloimunisasi karena transfusi atau kehamilan. (48)
Reaksi demam non hemolisis sering didefinisikan sebagai peningkatan suhu > 38oC atau >1oC selama atau 1-2 jam setelah transfusi, demam hanya dihubungkan dengan transfusi tanpa ada penyebab lainnya. Demam biasanya disertai dengan rigor dan menggigil. Pada beberapa kasus dapat dihubungkan dengan sesak ringan atau takipneu, nyeri kepada dan mual. Pasien yang mendapat transfusi darah sering dalam keadaan imunosupresif atau memiliki komorbid lain, karena itu harus dipertimbangkan kemungkinan peningkatan suhu tidak berhubungan dengan penyakit yang mendasari ataupun reaksi transfusi lain seperti reaksi hemolisis dan kontaminasi bakteri. (48)
Antipiretik seperti asetaminofen dapat diberikan sebagai pengobatan simtomatis. Untuk kebanyakan reaksi demam non hemolisis, peningkatan suhu akan membaik tanpa terapi spesifik. Transfusi dapat diperlambat, namun apabila tidak ada perbaikan transfusi dihentikan atau diganti. (48)
3. Reaksi alergi
Reaksi alergi terjadi pada 1% dari semua transfusi darah, sering terjadi pada orang dengan riwayat alergi, dan lebih sering lagi pada yang telah banyak mendapat transfusi darah sebelumnya. Reaksi hipersensitivitas ini timbul karena adanya reaksi antibodi terhadap komponen protein plasma donor, biasanya tidak bersifat fatal. Tanda dan gejala berupa urtikaria disertai gatal, biasanya timbul segera atau 2-3 jam setelah dimulainya transfusi. Dapat disertai demam, sakit kepala muntah, dan angioedema. Pembengkakan kotak suara
(Edema laring) jarang terjadi, namun bila timbul merupakan komplikasi yang berat. Kadang ditemukan mengi pada 1-2 jam setelah transfusi. Reaksi alergi ringan tidak dihubungkan dengan demam, hipotensi atau kejadian kardiovaskular. Reaksi alergi ringan tidak membutuhkan pemeriksaan radiologi dan biasanya tidak menimbulkan perubahan hasil laboratorium. (48) 4. Reaksi Anafilaksis
Risiko meningkat sesuai dengan kecepatan transfusi. Sitokin dalam plasma merupakan salah satu penyebab bronkokonstriksi dan vasokonstriksi pada resipien tertentu. Selain itu, defisiensi IgA dapat menyebabkan reaksi anafilaksis sangat berat. Hal itu dapat disebabkan produk darah yang banyak mengandung IgA. Reaksi ini terjadi dalam beberapa menit awal transfusi dan ditandai dengan syok (kolaps kardiovaskular), distress pernapasan dan tanpa demam. Anafilaksis dapat berakibat fatal bila tidak ditangani dengan cepat dan agresif dengan antihistamin dan adrenalin. (48)
5. Transfusi Terkait Luka Paru Akut (Transfusion-Related Acute Lung Injury / TRALI)
Kerusakan paru akut akibat transfusi adalah reaksi transfusi yang jarang terjadi namun dapat menyebabkan komplikasi yang berat. Reaksi ini terjadi ketika permeabilitas mikrosirkulasi paru meningkat yang menyebabkan banyak cairan dan protein bocor lalu masuk ke ruang alveoli dan interstisial paru.
Insiden bervariasi antara 1:1300 – 1:500 transfusi, dan sangat berhubungan dengan jenis komponen darah yang ditransfusikan. (48)
6. Kelebihan Beban Peredaran Darah
Kelebihan cairan menyebabkan gagal jantung dan edema paru. Hal ini dapat terjadi bila terlalu banyak cairan yang ditransfusikan, transfusi terlalu cepat, atau penurunan fungsi ginjal. Kelebihan cairan terutama terjadi pada pasien dengan anemia kronik dan memiliki penyakit dasar kardiovaskular. (48) 7. Transfusi Associated Graft Versus Penyakit Host
Komplikasi ini jarang terjadi namun potensial membahayakan.
Biasanya terjadi pada pasien imunodefisiensi, terutama pasien dengan transplantasi sumsum tulang; dan pasien imunokompeten yang diberi transfusi dari individu yang memiliki tipe jaringan kompatibel (HLA: human leucocyte antigen), biasanya yang memiliki hubungan darah. Gejala dan tanda, seperti demam, rash kulit dan deskuamasi, diare, hepatitis, pansitopenia, biasanya timbul 10-12 hari setelah transfusi. Tidak ada terapi spesifik, terapi hanya bersifat suportif. (48)
8. Purpura Pasca Transfusi
Purpura pasca transfusi merupakan komplikasi yang jarang tetapi potensial membahayakan pada transfusi sel darah merah atau trombosit. Hal ini disebabkan adanya antibodi langsung yang melawan antigen spesifik trombosit pada resipien. Lebih banyak terjadi pada wanita. Gejala dan tanda yang timbul
adalah perdarahan dan adanya trombositopenia berat akut 5-10 hari setelah transfusi yang biasanya terjadi bila hitung trombosit <100.000/uL.
Penatalaksanaan penting terutama bila hitung trombosit ≤50.000/uL dan perdarahan yang tidak terlihat dengan hitung trombosit 20.000/uL. Pencegahan dilakukan dengan memberikan trombosit yang kompatibel dengan antibodi pasien. (48)
9. Kelebihan Besi
Pasien yang bergantung pada transfusi berulang dalam jangka waktu panjang akan mengalami akumulasi besi dalam tubuhnya (hemosiderosis).
Biasanya ditandai dengan gagal organ (jantung dan hati). Tidak ada mekanisme fisiologis untuk menghilangkan kelebihan besi. Obat pengikat besi seperti desferioksamin, diberikan untuk meminimalkan akumulasi besi dan mempertahankan kadar serum feritin <2.000 mg/l. (48)
2.1.3.3 Sel Darah Merah Cuci (Washed Red Cell/WRC)
Washed Red Cell/WRC terbuat dari PRC yang telah dilakukan pencucian sebanyak 3 kali dengan larutan NaCl fisiologis dengan tujuan untuk menghilangkan leukosit dan antibodi plasma yang melekat pada eritrosit, dan harus segera digunakan dalam 4-6 jam setelah pembuatan. Komponen ini disarankan untuk pasien yang membutuhkan transfusi berulang-ulang dan juga pada pasien yang pernah memiliki reaksi demam karena leukosit donor (reaksi transfusi)(16,21)
2.1.3.4 Konsentrat Trombosit (Thrombocyte Concentrate)
Konsentrat trombosit diperoleh dari whole blood yang didonorkan atau dari single donor dengan pemisahan sel darah otomatis menggunakan teknologi apeheresis.
Trombosit konsentrat harus mengandung setidaknya 3,0 x 1011 trombosit per unit.
Komponen ini disimpan pada suhu 20-24oC dengan digoyang-goyang secara perlahan dan terus-menerus, karena jika disimpan pada suhu 1-6oC maka akan membuat menurunnya kelangsungan hidup trombosit pasca transfusi. (7,16,21)
Konsentrat trombosit juga dapat diperoleh dari darah utuh dengan proses sentrifugasi plasma kaya trombosit. Konsentrat Trombosit biasanya mengandung sedikit eritrosit dan mengandung 30mL hingga 50 mL plasma. Konsentrat trombosit yang diperoleh dengan cara ini setidaknya harus mengandung 5,5 x 1010 trombosit per unit.(7,16,21)
2.1.3.5 Plasma Segar Beku (Fresh Frozen Plasma)
Plasma Segar Beku atau fresh frozen plasma diperoleh dari pemisahan darah donor utuh (whole blood), dan dibekukan pada suhu -30oC dalam 1 jam kemudian disimpan dalam freezer. FFP mengandung kadar normal semua faktor koagulasi kecuali faktor VIII yang berkurang (setidaknya 70% dari kadar plasma segar), albumin, dan immunoglobulin. Volume dalam satu unit FFP berkisar antara 200 mL – 300mL.
FFP berguna untuk meningkatkan faktor pembekuan, ditransfusikan dalam waktu 6 jam setelah dicairkan.(1,10,12)
2.1.3.6 Kriopresipitat (Cryopresipitate / AHF)
Kriopresipitat adalah bagian terlarut dalam plasma. Komponen ini diperoleh dengan cara mencairkan plasma segar beku pada suhu 4oC, lalu akan tampak cold precipitable protein yang mengendap di bagian dasar, selanjutnya diputar dan plasma bagian atas dikeluarkan. Komponen ini mengandung sekitar 50% faktor VIII dan 20%
hingga 40% fibrinogen dalam unit plasma.(1,10,12)
2.1.4 Donor Darah
Donor darah adalah proses mentransfer darah dari satu orang ke dalam sistem peredaran darah orang lain. Donor darah dapat menyelamatkan jiwa dalam beberapa situasi, seperti kehilangan darah besar karena trauma, atau dapat digunakan untuk menggantikan darah yang hilang selama operasi. Sebelum melakukan donor darah, terdapat beberapa syarat yang harus terpenuhi oleh seorang pendonor, yaitu seperti pemeriksaan kesehatan (Hb, tekanan darah, dll).(3,4)
2.1.5 Penyimpanan Darah Donor
Berdasarkan masa penyimpananya darah lengkap dibagi menjadi dua bagian, yaitu darah segar (fresh blood), yaitu darah yang disimpan selama 6 jam, masih lengkap mengandung trombosit dan faktor pembekuan, serta darah yang disimpan (stored blood), yaitu darah yang sudah disimpan lebih dari 6 jam tergantung dari antikoagulan yang dipakai.(3)
2.1.5.1 Antikoagulan
Berbagai antikoagulan dapat digunakan untuk pengawet darah donor. Beberapa antikoagulan yang biasa digunakan pada kantong darah diantaranya :
1. Citrate Phosphate Dextrose (CPD)
Citrate Phosphate Dextrose (CPD) berperan mencegah koagulasi, mengoptimalkan pH selama penyimpanan, menjaga fiabilitas sel eritrosit dan mampu menyimpan darah hingga 28 hari. Kandungan sitrat berguna untuk mengikat kalsium sehingga tidak terjadi aktifitas koagulasi, dextrose menyediakan sumber energi untuk eritrosit, fosfat anorganik berfungsi sebagai buffer yang memelihara kadar 2,3 Difosfogliserat (DPG) dan meningkatkan produksi adenosine triphosphate (ATP) sehingga meningkatkan viabilitas eritrosit.(3,4)
2. Citrate Phosphate Dextrose Adenine (CPDA-1)
Memiliki fungsi yang serupa seperti CPD dengan tambahan adenine eksogen diserap oleh eritrosit untuk membentuk ATP.(3)
3. Saline Adenine Glucose Manitol (SAGM)
Penggunaan antikoagulan ini dapat meningkatkan masa penyimpanan PRC selama 42 hari bila disimpan pada 2-6oC, mengatasi viskositas tinggi PRC, memelihara kadar ATP intraseluler, menjaga kualitas konsentrat PRC selama penyimpanan, membantu melindungi membran eristrosit. Penambahan garam dan manitol menurunkan kadar hemolisis dan glukosa menyediakan 1 alur substrat energi, sementara adenin mempertahankan kadar ATP.(3,4)
2.1.5.2 Suhu
Penyimpanan darah harus sesuai dengan standar untuk masing-masing komponen, seperti darah lengkap dan sel darah merah pekat disimpan pada suhu 2-6oC, trombosit konsentrat pada suhu 20-24oC, FFP pada suhu -25oC. Selama penyimpanan, eritrosit akan mengalami serangkaian perubahan struktural dan biokimiawi yang akan mempengaruhi fungsi dan viabilitasnya.(10,12)
Selain perubahan pada eritrosit, perubahanpun terjadi pada plasma di antaranya dari sekian macam faktor pembekuan, faktor V dan faktor VIII akan hilang. Hal tersebut terjadi karena faktor V dan VIII hanya dapat bertahan in vitro selama 4-6 jam.(10,12)
2.1.6 Mekanisme dan Perubahan Pada Penyimpanan Darah Donor Secara In Vitro
Perubahan suhu dapat mempengaruhi kualitas darah simpan, penyimpanan PRC pada blood bank dengan suhu standar 1-6oC dapat mengurangi terjadinya lisis, pendingin darah diharapkan dapat mengurangi metabolisme glukosa, meningkatkan kelangsungan hidup PRC dan memperlambat metabolisme lainnya. Penyimpanan RBC dengan proses pendinginan cepat dibawah 15oC, dapat mencegah hilangnya Diphosphoglyserate (DPG) dari eritrosit. Meskipun demikian, pendinginan lambat 6 jam pada suhu 21-24oC akan menyebabkan kehilangan DPG 13%.(10,12)
2.1.7 Fragilitas Eritrosit
Hemolisa adalah peristiwa keluarnya hemoglobin dari dalam sel darah merah menuju ke cairan di sekelilingnya. Keluarnya hemoglobin ini disebabkan karena pecahnya membran sel darah merah. Membran sel darah merah mudah dilalui atau ditembuh oleh ion-ion H+, OH-NH4+, HCO3-, Cl-, dan juga oleh substansi-substansi yang lain seperti glukosa, asam amino, urea, dan asma urat. Sebaliknya membran sel darah merah tidak dapat ditembus oleh Na+, K+ , Ca2+, Mg2+, fosfat organic dan juga substansi lain seperti hemoglobin dan protein plasma.(49)
Membran sel darah merah termasuk membran permeable selektif, yaitu membran yang dapat ditembus oleh molekul air dan substansi-substansi tertentu, tetapi tidak dapat ditembus oleh substansi yang lain. (49)
Ketahanan membran eritrosit terhadap terjadinya hemolisis dapat diketahui dengan mencampurkan eritrosit ke dalam larutan hipotonis (NaCl) dengan konsentrasi yang berbeda-beda. Larutan hipotonis dengan konsentrasi tertentu dapat mengakibatkan pecahnya eritrosit. Keadaan ini disebut dengan fragilitas eritrosit. (49) 2.1.7.1 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Fragilitas Eritrosit
Hemolisa Osmotik
Faktor primer yang mempengaruhi uji fragilitas osmotik adalah bentuk dari sel darah merah itu sendiri serta kondisi fungsional membrane sel eritrosit. Bentuk sel darah merah yang normal adalah bikonkaf, dengan bentuk seperti ini sel darah merah mampu menahan tekanan dari larutan hipotonis dengan meningkatkan volume sel
sebanyak ±70% sebelum akhirnya sel darah merah itu lisis. Keadaan tersebut menunjukkan adanya peningkatan resistensi atau penurunan fragilitas osmotik. Bentuk sel eritrosit normal dengan menggunakan mikroskop elektron ditunjukkan pada gambar 2.5, sebagai berikut.(33,34,35)
Gambar 2.5 Mikogram Elektron Sel Eritrosit Normal (Bikonkaf)
Sumber : http://biologimediacentre.com/foto-foto-mikroskop-elektron-2-sel-dan-jaringan-makhluk- hidup/. https://vdocuments.site/maqueta-de-enciclopedia-fondef-idea-ca12i10263-simulador-de-
fisiologia.html
Sebaliknya penurunan resistensi atau peningkatan fragilitas osmotik eritrosit terjadi karena bentuk sel spherosit yang memiliki area permukaan yang lebih sempit sehingga sedikit menyerap air sebelum mengalami lisis. Sel sferosit adalah sel yang lebih sferoidal (bulat) dibandingkan dengan sel darah merah normal namun tetap mempertahankan membran sel bagian luarnya. Diameter sel sferosit lebih kecil dan
ketebalannya lebih besar dari ukuran sel normal. Ukuran eritrosit dapat berpengaruh terhadap jumlah eritrosit yang berkaitan dengan jumlah hematokrit. Hal tersebut disebabkan jumlah eritrosit yang berhubungan dengan ukuran eritrosit dan akibat rendahnya kandungan oksigen di dalam darah. Seperti yang ditampilkan pada gambar 2.6 dimana terjadi tanda-tanda hemolisis,ditandai dengan perubahan bentuk eritrosit dari kondisi normal (bikonkaf) hingga menjadi sel sferosit.(33,34,35)
Gambar 2.6 Memindai mikrograf elektron dari eritrosit dengan tanda-tanda hemolisis. Mikrograf (a) menunjukkan RBCs dengan bentuk bikonkaf normal tanpa tanda kerusakan atau lesi pada hari ke-0 pada perbesaran rendah 2500x. Namun, sel- sel di mikrograf (b dan c) menunjukkan tanda hemolisis, terdapat lubang (kecil) di
membran sel darah merah. Mikrograf (d dan e) merupakan sferositosis dan echinocytes (burr cell). Mikrograf dari (c) ke (e) berada pada hari ke 28 dan pada
pembesaran yang lebih tinggi.
Sumber : https://www.researchgate.net/figure/Scanning-electron-micrographs-of-erythrocytes-with signs-of-hemolysis-Micrograph-
(a) (c) (e)
a_fig1_291339545?_sg=tmtcJqEql8wmXV5v0ifY0FqvcvLIQx4gk5jQuXO0YB59IeAZBVT1i5KrMti h-oeAa77SgGVqyAfm2mNXlyBM7Q
Membran eritrosit normal, tersusun atas lapisan yang terdiri dari dua jenis lapisan yang berbeda dan tidak melekat satu dengan yang lainnya. Komposisi dan fungsi fisiologis dari setiap lapisannya pun berbeda. Lapisan luar tersusun atas dua lembar fosfolipid asimetris. Melekat dalam lipid bilayer yang memiliki protein transmembrane dan rakitan domain lipid yang berbeda dimana terdapat protein GPI- anchored yaitu glikolipid yang melekat pada C-terminus protein dan berperan penting dalam proses biologis. Lipid bilayer ini berperan sebagai penghalang bagi retensi kation dan anion di dalam sel darah merah sehingga memungkinkan molekul air melewatinya dengan bebas. Sel darah merah memiliki kandungan vitamin K+ intraseluler yang tinggi dan kandungan Na+ intraseluler yang rendah apabila dibandingkan dengan konsentrasi ion yang terdapat di dalam plasma.(36)
Perubahan struktur eritrosit selama proses penyimpanan disajikan pada gambar 2.7 sebagai berikut.(34,37)
Gambar 2.7 Pemindaian mikrograf elektron dari eritrosit yang disimpan dalam kantong darah, dengan pembesaran 10000x, mewakili perubahan morfologi RBC
dalam hari ke-0hingga hari ke-42.
Sumber : https://www.researchgate.net/figure/Scan-electron-micrograph-of-erythrocytes-stored-in- blood-bags-with-SAGM-
10000x_fig2_291339545?_sg=SXv1iXuhY8jICWMHvQcawGncKE6AeAPB0gaT-WBdTmPC- qDBZ2AAOcPt14lYO5Np18UxG8y_oMqRiZfnaq6ZzA
Selama penyimpanan tersebut, eritrosit akan mengalami serangkaian perubahan biokimiawi dan metabolik. Perubahan ini disebut dengan jejas penyimpanan (storage lesion). Storage lesion (jejas penyimpanan) dapat dibuktikan dengan adanya penurunan
adenosine triphosphate (ATP) dan 2,3 diphospogliserate (DPG) dalam eritrosit, peningkatan potassium dan laktat dehydrogenase (LDH) plasma, serta peningkatan kadar hemoglobin (Hb) bebas pada unit PRC. Adenosine Triphosphat (ATP) diperlukan untuk mempertahankan daya hidup eritrosit, fosforilasi glukosa dan mempertahankan pompa Na-K. Pendinginan selama penyimpanan pun akan menyebabkan kadar ATP menurun dan merangsang pompa Na-K eritrosit untuk menyeimbangkan kadar intrasel dan ekstrasel secara bertahap dengan melepas kalium keluar dari sel dan natrium masuk ke dalam sel eritrosit
Perubahan yang terjadi di antaranya disebabkan dengan adanya konsumsi gula dan proses glikolisis dalam proses metabolisme eritrosit sebagai berikut.
A. Jalur Embden-Meyerhof
Eritrosit ialah suatu sel yang tidak memiliki mitokondria atau organel lainnya juga metabolismee di dalam sitoplasmanya pun sangat rendah. Agar eritrosit tepat dapat berfungsi sebagaimana fungsinya, eritrosit memerlukan penambahan glukosa yang dipecahkan melalui glikolisis yaitu glukosa yang dimetabolisme menjadi laktat.
Untuk setiap molekul glukosa yang digunakan akan dihasilkan dua molekul ATP dan dihasilkan ikatan fosfat energi tinggi. ATP ini berguna dalam mempertahankan volume, bentuk, dan kelenturan eritrosit. Eritrosit mempunyai tekanan osmotik lima kali lipat plasma dan adanya kelemahan intrinsik membran akan menyebabkan pergerakan Na+ dan K+ yang terjadi secara terus-menerus. Diperlukan pompa natrium ATPase membran, dan pompa ini menggunakan satu molekul ATP untuk
mengeluarkan tiga ion natrium dari sel dan memasukan dua ion kalium ke dalam sel.
BPG (2,3-Bifosfogliserat) juga berasal dari pemecahan glukosa.(39)
Jalur Embden-Meyerhof juga menghasilkan NADH (Nikotinamida Adenosin Dinukleotida Hidrogen) yang diperlukan oleh enzim methemoglobin eduktase untuk mereduksi methemoglobin (hemoglobin teroksidasi) yang tidak berfungsi, yang mengandung besi ferri menjadi hemoglobin tereduksi yang aktif. 2,3-DPG yang dihasilkan pada pintas Luebering-Rapoport membentuk suatu kompleks 1:1 dengan hemoglobin.(39)
B. Jalan Heksosa Monofosfat (Pentosa Fosfat)
Sekitar 5% glikolisis terjadi dengan cara oksidatif, di mana glukosa 6 fosfat dikonversi menjadi 6-fosfoflukonat dan terus menjadi ribulosa 5-fosfat. NADPH (Nikotinamida Adenin Dinukleotida Fosfat) dihasilkan dan berikatan dengan glutation (GSH) yang menjaga keutuhan gugus sulfidril (-SH) dalam sel termasuk yang di dalam hemoglobin dan membrane sel darah merah. NADPH yang digunakan oleh methemoglobin reduktase lainnya memelihara besi hemoglobin dalam keadaan Fe2+
yang fungsional aktif. Selain itu dengan adanya O2 selalu terbentuk peroksida yang sangat reaktif, yang juga harus dimusnahkan. Hal ini terjadi secara enzimatik dengan bantuan glutation (GSH). Tripeptida (ɤ-Glu-Cys-Gly) yang atipikal ini membawa satu gugus tiol pada sistein. Pada reduksi methemoglobin dan peroksida, gugus tiol tersebut akan dioksidasi menjadi disulfida yang sesuai (GSSG). Regenerasi GSH dikatalisis
oleh glutation reduktase yang pada proses ini memerlukan NADPH sebagai koenzim.(39)
Gambar 2.8 Proses Glikolisis (Anaerob)
Sumber : http://valvehome.us/glycolysis-pathway-diagram/glycolysis-pathway-diagram-gallery-for- simple-glycolysis-pathway/
Apabila proses glikolisis terganggu dalam sel karena konsumsi gula yang terbatas,maka akan menyebabkan terjadinya penurunan konsentrasi ATP, akumulasi asam laktat (intraseluler) yang merupakan hasil dari proses konversi asam piruvat, kemudian menyebabkan terjadinya penurunan pH darah, akumulasi potassium/kalium di luar sel (ekstraseluler), kurva disosiasi oksigen bergeser ke kiri sebagai penurunan konsentrasi 2,3 DPG (2,3-difosfogliserat) atau daya ikat Hb terhadap oksigen yang menyebabkan berkurangnya oksigen yang dikeluarkan ke jaringan, sehingga oksigen dalam jaringan menurun.(39)
Penurunan kadar ATP menyebabkan terjadi perubahan viabilitas sel didalam darah. Kemudian berpengaruh terhadap perubahaan struktur protein membrane eritrosit serta hilangnya fosfolipid dan kolesterol membrane eritrosit sehingga sel kurang elastis dan akan berubah bentuk manjadi sferis/sferosit. Maka dengan bentuk sel yang sferosit menyebabkan eritrosit mudah lisis atau lebih rentan terhadap lisis osmotik karena kerapuhan membran sel erittrosit terhadap hemolisis meningkat.
Sehingga terjadi peningkatan nilai fragilitas osmotik eritrosit.(39)
Hemolisa Kimiawi
Hemolisa kimiawi adalah suatu kondisi dimana SDM dirusak oleh macam- macam substansi kimia. Dinding SDM terutama dari lipid dan protein, membentuk suatu lapisan lipoprotein. Jadi, setiap substansi kimia yang dapat melarutkan lemak (pelarut lemak) dapat merusak atau melarutkan membran SDM. Kita mengenal bermacam-macam pelarut lemak, yaitu kloroform, aseton, alcohol benzen, dan eter.
Susbtansi lain yang dapat merusak SDM diantaranya adalah bisa ular, bisa kalajengking, garam empedu, saponin, nitrobenzen, pirogalol, asalm karbon, resin, dan senyawa arsen. (49)
SDM yang ditempatkan pada larutan garam yang isotonis tidak akan mengalami kerusakan dan tetap utuh. Tetapi bila SDM ditempatkan dalam air destilata SDM akan mengalami hemolisa karena tekanan osmotik di dalam SDM jauh lebih besar daripada di luar sel sehingga mengakibatkan banyak air masuk ke dalam SDM.
Selanjutnya air yang banyak masuk ke dalam SDM itu akan menekan membran SDM sehingga membran pecah. (49)
pH Darah
Fragilitas eritrosit juga dipengaruhi oleh pH darah dalam larutan hipotonis.
Perubahan pH sebesar 0,1 setara dengan perubahan konsentrasi NaCl sebesar 0,1%.
Pada umumnya, fragilitas eritrosit akan menurun apabila terjadi peningkatan pH. (49)
Sinar Ultraviolet
Sinar ultraviolet yang terdapat dalam sinar matahari dapat meningkatkan lisis membran eritrosit dengan cara membentuk radikal bebas. Paparan sinar matahari juga berpengaruh terhadap eritrosit. Paparan sinar ultraviolet dari matahari dapat menyebabkan terbentuknya molekul oksigen singlet (O2), radikal superoksida (O2), hydrogen peroksida (H2O2), radikal peroksida (ROOo), dan radikal hidroksil (OHo).
Radikal hidroksil (OHo) ini merupakan oksidan yang paling toksik karena dapat bereaksi dengan bermacam-macam senyawa elemen dalam sel seperti protein, asam
nukleat, lipid, dan lain-lain, sehingga dapat dengan mudah dan cepat merusak struktur sel atau jaringan. Reaksi radikal hidroksil (OHo) dengan protein dapat mempercepat terjadinya proteolisis. Membran eritrosit merupakan salah satu membran yang rentan terhadap serangan radikal hidroksil (OHo). Jika radikal hidroksil (OHo) menyerang membran sel, maka dapat terjadi lisis bahkan kematian eritrosit. Hal ini menyebabkan terlepasnya hemoglobin dan dapat berlanjut menjadi anemia. (49)
2.1.7.2 Manfaat Tes Fragilitas Osmotik Eritrosit
Tes fragilitas osmotik menilai kejadian lisis eritrosit akibat adanya osmotic stress.
Tingkat fragilitas osmotik eritrosit dipengaruhi oleh perbandingan luas permukaan sel terhadap volume sel. Peningkatan fragilitas osmotik dapat ditemukan pada sferositosis.
Pada keadaan ini sel mengalami penurunan perbandingan luas permukaan terhadap volume sel. Hal ini menyebabkan sel sferosit tidak dapat mengembang seefektif eritrosit diskoid normal dan menjadi lebih rentan terhadap tekanan osmotik.
Peningkatan fragilitas osmotik juga dapat ditemukan pada anemia hemolitik autoimun (Paleari & Mosca, 2008), pasca transfusi (inkompatibilitas ABO 2 dan Rhesus), toksisitas obat atau zat kimia, leukemia limfositik kronis, dan luka bakar. Pada keadaan talasemia (mayor dan minor), anemia (defisiensi besi, asam folat, B6), polisitemia vera, post splenektomi, nekrosis hati akut dan subakut, dan ikterik obstruktif, fragilitas eritrosit menurun. Tes skrining yang paling sering digunakan untuk penilaian penurunan fragilitas eritrosit, seperti pada talasemia, adalah tes fragilitas (Wiwanitkit, 2009), contohnya One Tube Osmotic Fragility Test (OTOFT).(28)
2.2 Kerangka Konsep
Gambar 2.9 Bagan Kerangka Konsep
2.3 Hipotesis
Terdapat hubungan antara lama penyimpanan darah donor komponen Packed Red Cell (PRC) yang diperiksa pada penyimpanan hari ke 0, 7,14,21,28,35 dan 42 terhadap nilai fragilitas osmotik.
2.4 Definisi Operasional
Tabel 2.2 Definisi Operasional
No Variabel Definisi Cara
Ukur
Alat Ukur
Hasil Ukur Skala Ukur 1. Lama
penyimpanan darah
komponen Packed Red Cell
Waktu penyimpanan darah donor jenis Packed Red Cell yang menggunakan
antikoagulan CPDA (Citrate Phosphate Dekstrose Adenin) dan diperiksa pada hari ke 0, 7,14,21,28,35, dan 42
Visual Kalender Hari Rasio Lama Penyimpanan Darah Donor
Komponen Packed Red Cell Fragilitas Osmotik
2. Fragilitas Osmotik
Nilai fragilitas osmotik eritrosit ialah suatu nilai dari hasil pengukuran ketahanan eritrosit terhadap larutan hipotonis pada darah donor yang diperiksa pada hari ke 0, 7,14,21,28,35, dan 42
Instrument Spek trofotome ter
Nilai resistensi maksimum dan
minimum
Rasio