20
Universitas Kristen Petra
pendekatan perancangan yang akan diambil. Permasalahan desain yang akan dipecahkan dengan pendekatan perancangan yang tepat maka akan didapat kata kunci dalam desain. Kata kunci ini yang kemudian digunakan untuk mendapatkan sebuah konsep yang akan membuat desain dapat terselesaikan dengan baik karena masalah yang ada telah dipecahkan dan desain yang muncul akan memiliki keunikan yang membedakan dengan bangunan sejenis.
3.1.1. Masalah Desain
Adalah bagaimana mendesainkan suatu fasilitas kebugaran yang nyaman dimana sebagian besar penggunanya merupakan kaum lansia/manula.
Menemukan desain yang mampu menghadirkan rasa aman, kebersamaan, dan kemudahan.
Permasalahan kedua adalah, bagaimana mendesain suatu fasilitas kebugaran yang menyatu dengan bermacam jenis fasilitas kebugaran. Mampu menyajikan batasan yang pasti antara area kebugaran yang satu dengan yang lainnya.
Poin terakhir adalah menghadirkan desain suatu fasilitas kebugaran yang friendly bagi manula yang bugar.
3.2. Pendekatan Perancangan
Pendekatan yang akan dipakai dalam desain adalah pendekatan perilaku demensia. Demensia adalah kelainan kronis dari proses mental yang disebabkan penyakit organik otak. Mengalami kemunduran daya ingat, daya tangkap, dan kemampuan mengurus diri sendiri, keterbatasan kemampuan fisik, perubahan kepribadian, serta disorientasi.
(http://www.epsikologi.com/epsi/lanjutusia_detail.asp?id=185)
Berdasarkan pendekatan tersebut hal-hal yang perlu diperhatikan sirkulasi, tampilan bentuk, pemakaian warna, penggunaan material, pemberian tempat istirahat pada zona tertentu, arah tujuan jelas, ketinggian lantai.
3.3. Pendalaman
Pendalaman yang dipilih adalah pendalaman karakter ruang, berdasarkan jenis olahraga yang dibedakan menurut jiwa, fisik, maupun pikiran. Pendalaman yang mengacu pada penataan ruang, warna, bahan material, view yang diperlukan, ketinggian lantai, suasana dalam ruang, serta bentuk ruangnya.
3.4. Pola penataan bangunan
Pada fungsi fasilitas kebugaran ini nantinya akan dikelompokkan menurut karakteristik masing-masing seperti fisik, pikiran, dan jiwa. Area fisik terdapat paling banyak jenis olahraganya, karena kebugaran banyak diperoleh dari banyak gerak seperti senam, dansa, tari, aqua aerobik, renang, tenis meja, Jogging track. Sedangkan olahraga yang membutuhkan pikiran di dapat dari catur dan giant chess. Sementara meditasi dan yoga adalah olahraga yang lebih mengarah ke jiwa orang.
Konsep penataan massa berawal dari pendekatan perilaku manula, keterbatasan manula akan daya ingat dan daya tangkap disikapi dengan pengarahan pengunjung ke Lobi terlebih dahulu (massa A) yang akan mendaftar ke resepsionis, setelah dari Lobi akan diarahkan menuju fasilitas kebugaran yang akan dituju seperti : Ruang dansa dan tari (massa B), Ruang meditasi dan yoga (massa C), Kolam renang dan aqua aerobik (massa D). Pada massa E dan F merupakan bangunan penunjang untuk Lobi. Hal ini diterapkan untuk menghindari suatu pilihan jalan yang mengharuskan orang berpikir akan lewat mana, jadi lebih difokuskan pada satu sirkulasi.
Gambar 3.1. Pola Penataan Massa Bangunan
Pemilihan bentuk bangunan berdasar fungsi massa dan menyesuaikan dengan site, pada massa B dipakai untuk dansa dan tari, perletakan di sudut untuk menarik perhatian orang, karena olahraga ini memiliki prestise yang cukup tinggi di kalangan manula, bentuk mengikuti lengkungan dari site yang letaknya menyudut, jadi dapat terlihat pada 2 sisi yang baik, Massa E digunakan sebagai penunjang Lobi utama, fungsi untuk wc dan klinik, bentuk bangunan yang menyikapi sisi barat, dengan luas permukaan yang lebih kecil dan pada sisi barat bangunan digunakan sebagai wc/toilet.
Massa C adalah ruang meditasi dan yoga, yang umumnya membutuhkan ketenangan, bentukan massa memberi kesan posisi yang menolak dari jalan, hal ini dapat mengurangi kebisingan karena luas bidang penerima menjadi lebih kecil, di sisi timur site terdapat sekolah. Untuk mengurangi kebisingan pada massa C di sisi timur di desain untuk ruang ganti dan toilet. Selain itu pemberian tanaman berdaun banyak dan jarak ± 15 meter dari jalan utama dan sekolah, membantu memperkecil tingkat kebisingan yang diterima. Bentukan massa pada bangunan sekolah mengenai kebisingan terdesain dengan cukup baik karena penataan ruang kelas.
U
B C
E
F
A D
U
Gambar 3.2. Hubungan antara Massa Bangunan
Massa D berfungsi sebagai ruang ganti dan bilas, perletakkan massa sesuai dengan konsep awal yang diterima resepsionis pada awal memasuki site dan mengarah pada masing-masing fasilitas yang akan dituju.
Massa F merupakan massa pendukung bangunan karena letaknya yang kurang strategis, maka pada massa ini berfungsi sebagai ruang genset, ruang tandon, ruang filter, dan fasilitas pendukung servis lainnya.
3.4.1. Pendalaman Karakter Ruang
Perancangan untuk fasilitas kebugaran manula menggunakan pendalaman karakter ruang karena tujuan utama yang ingin dicapai yaitu untuk menciptakan suatu penanda yang jelas, baik berupa finishing material, maupun bentukan yang berbeda serta memberi kenyamanan dan kemudahan.
Beberapa arti warna yang dipakai pada bangunan :
Merah : cenderung mendatangkan energi, aktif, suasana hangat dan komunikatif, optimis, antusias, dan bersemangat. Warna ini juga dapat meningkatkan aliran darah dalam tubuh.
Ruang kelas
Arah kebisingan yang ditimbulkan
Dinding pembatas setinggi 4 meter
C F
D
Kolam renang
Gambar 3.3. Perspektif Interior Lobi
Gambar 3.4. Denah Interior Lobi
Biru : sesuatu yang konstan, keharmonisan, kebenaran, ketenangan dan kesan lapang. Pemakaian warna biru dapat menimbulkan perasaan tenang dan dingin, melahirkan perasaan sejuk, tentram, hening, damai, nyaman dan aman.
Kuning : memberi suasana kehangatan, bercahaya dan cerah dalam ruangan.
Kuning mewakili matahari yang cerah, membangkitkan energi, mood dan vitalitas.
Gambar 3.5. Perspektif Suasana Ruang Luar
Gambar 3.6. Perspektif Interior Kantin
Gambar 3.7. Perspektif Interior Ruang Kejuaraan
Gambar 3.8. Denah Ruang Kejuaraan
kesan tegas, batu bata ekspos memiliki tekstur yang jelas, warnanya yang merah memberi dampak dinamis, sensual, dan mewah. Tinggi massa bangunan utama yang terletak di tengah sengaja ditinggikan sedikit melebihi tinggi Sekolah Gloria agar tidak terdapat perbandingan yang mencolok bila dipandang mata dan bisa menjadi vocal point karena letak site tepat di pojok.
Gambar 3.9. Perspektif Human Eye View
Gambar 3.10. Perspektif Bird Eye View
Sekolah
3.6. Sistem struktur bangunan
Sistem struktur menggunakan sistem rangka dengan kolom dan balok baja komposit dan struktur atap dengan bahan baja IWF 50 cm. Keseluruhan bangunan menggunakan sistem struktur rangka dengan pola grid dengan pertimbangan efektif dan efisien.
Gambar 3.11. Denah Struktur
Gambar 3.12. Axonometri Struktur
Gambar 3.13. Denah Utilitas
3.7.1. Sistem Air Bersih
Pada bangunan ini menggunakan sistem gabungan mengingat bangunan terdiri atas 2 lantai dan massa A terdiri atas 3 lantai, memiliki jarak yang cukup jauh satu dengan lainnya (± 50 m). Tandon bawah diletakkan di 2 tempat (G dan E) agar distribusi air menjadi mudah dan efisien dan terjamin tidak habis.
Tandon bawah utama (G) dialirkan (dipompakan) menuju tiga tandon yang berbeda. Satu unit berada di lantai 3 (massa F), massa E, dan ke massa F dulu baru ke massa D, dari massa D dialirkan (dipompakan) menuju ke tandon H, baru menuju ke massa C. Sistem downfeed digunakan pada massa F dan massa E, Sistem upfeed diterapkan pada massa B dan C.
C
E B D
F A
G H
3.7.2. Sistem Air Kotor
Sistem pembuangan terdiri atas air kotor, kotoran dan air hujan. Air kotor dan kotoran dihasilkan dari floordrain, closet (cair dan padat), urinoir, dan washtafel (biasa dan pada kantin yang memerlukan penangkap lemak). Perletakan septictank dan sumur resapan dibagi menjadi 3 titik, karena jarak yang cukup jauh (± 30 m) . Septictank dan sumur resapan ditandakan dengan titik merah, biru, dan kuning. Pada titik merah diletakkan untuk mencakup massa D dan F. Titik biru menjangkau massa C, sedangkan titik kuning untuk mencakup massa B dan E.
3.7.3. Sistem Listrik (Titik Lampu)
Pencahayaan yang digunakan dapat berupa pencahayaan alami pada pagi hari dan buatan pada sore dan malam hari. Pengadaan listrik dari genset cukup mutlak untuk menjalankan alat-alat bantu operasional seperti komputer, dan lain sebagainya. Perletakan titik lampu dengan asumsi 3 m2 / lampu, karena pada dinding dalamnya memakai batu bata merah ekspos yang memiliki warna kurang cerah.
3.7.4. Sistem Pemadam Kebakaran Sistim pemadam menggunakan :
• Portable Fire Extinguisher (Pemadam Api Ringan / P.A.R). PAR ditempatkan dengan jarak kurang lebih 100m² antara yang satu dengan yang lain.
• Proyek tidak menggunakan sprinkler mengingat bangunan hanya memiliki ketinggian 2 hingga 3 lantai.
• Peletakan hydrant diusahakan dapat mengatasi radius 50m dari pusat hydrant.
Nama ruang Luas Kapasitas Standar Sumber
Entrance utama 77 m2
Kantin outdoor 270 m2 80 org
Lobi / R. Kejuaraan 524 m2 150 org Tangga ke lantai 2 46 m2
Klinik 93 m2
Toilet / WC 88 m2 25 org 3 m2/unit SR
R. Filter Air 45 m2
R. Genset, R. Panel, R. Trafo 32 m2 25 m2/unit SR
Dapur 36 m2 50%
R.makan
TSS
Lantai 2 :
Tabel 3.2. Zona Umum Lantai 2
Nama ruang Luas Kapasitas Standar Sumber Lobi lantai 2
(Cafe, R. Baca, Perpustakaan)
403 m2 43 org 9 m2/ org NAD
R. tangga 46 m2
Toilet 45 m2 9 org 3 m2/unit SR
Gudang 30 m2
Rest area karyawan 20 m2 8 org 1.4m2/unit NMH
Dapur lantai 2 20 m2 50%
R.makan
TSS
Mini Golf 96 m2 panjang
lintasan 15 meter
NAD
R.tenis meja, rest area, loker 70 m2 2 meja tenis
AS
Lantai 3 :
Tabel 3.3. Zona Umum Lantai 3
Nama ruang Luas Kapasitas Standar Sumber
Kantor pengelola 250 m2 10 org AS
WC wanita dan pria 80 m2 10 org 3 m2/unit SR
R. Tandon atas 32 m2
Rest area 40 m2 16 org 1.4m2/unit NMH
Dapur karyawan 20 m2 50%
R.makan
TSS
R. tangga 36 m2
3.8.2. Zona Kolam Renang
Tabel 3.4. Zona Kolam Renang
Nama ruang Luas Kapasitas Standar Sumber Kolam renang / aqua aerobik 160 m2 20 org AS Kamar ganti kolam renang 120 m2 12 org AS 3.8.3. Zona Dansa dan Tari
Lantai 1 :
Tabel 3.5. Zona Dansa dan Tari Lantai 1
Nama ruang Luas Kapasitas Standar Sumber
R. Dansa 336 m2 20 org 8x13 m /
6 org
NAD R. Tari dan senam 160 m2 18 org 6 x 8 /
6 org
NAD
Rest area 62 m2
R. ganti dan WC 108 m2 30 org 3 m2/unit SR Lantai 2 :
Tabel 3.6. Zona Dansa dan Tari Lantai 2
Nama ruang Luas Kapasitas Standar Sumber R. duduk dan sirkulasi 95 m2 16 org 1.4m2/unit NMH R. tari dan senam 204 m2 24 org 6x8 / 6 org NAD Kamar ganti / WC 108 m2 30 org 3 m2/org SR 3.8.4. Zona Yoga dan Meditasi
Lantai 1 :
Tabel 3.7. Zona Yoga dan Meditasi Lantai 1
Nama ruang Luas Kapasitas Standar Sumber
R. Yoga 164 m2 40 org 4 m2/org AS
Lobi dan tangga 44 m2
Kamar ganti yoga 63 m2 20 org 3 m2/org SR Tabel 3.8. Zona Yoga dan Meditasi Lantai 2
Nama ruang Luas Kapasitas Standar Sumber
Tabel 3.9. Zona Ruang Luar
Nama ruang Luas Kapasitas Standar Sumber Jogging track panjang 230 m 230 m 20 org AS
Area outdoor 360 m2 50 org 5m2/org AS
Giant chess 55 m2 4 org AS
3.8.6. Parkir
Tabel 3.10. Parkir
Nama ruang Luas Kapasitas Standar Sumber Parkir mobil 1450 m2 52 mobil 15 m2 NAD Parkir motor / sepeda 180 m2 30 sepeda 2 m2 NAD Parkir mobil pengelola 100 m2 4 mobil 15 m2 NAD Parkir sepeda karyawan 60 m2 20 sepeda 2 m2 NAD
Luasan 4363 m2
Total sirkulasi 1308 m2
Total luas bangunan 5671 m2
Lahan yang digunakan 8674 m2