PEMBERIAN KOMPRES PANAS TERHADAP INTENSITAS NYERI PEMBENGKAKAN PAYUDARA PADA ASUHAN
KEPERAWATAN Ny. L DENGAN POST PARTUM DI PUSKESMAS
FIFIN HERDIANA HESTIYOWATI
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA PEMBERIAN KOMPRES PANAS TERHADAP INTENSITAS
NYERI PEMBENGKAKAN PAYUDARA PADA ASUHAN KEPERAWATAN Ny. L DENGAN POST PARTUM
DI PUSKESMAS GAJAHAN SURAKARTA
DISUSUN OLEH :
FIFIN HERDIANA HESTIYOWATI NIM. P.13024
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA SURAKARTA
2016
PEMBERIAN KOMPRES PANAS TERHADAP INTENSITAS NYERI PEMBENGKAKAN PAYUDARA PADA ASUHAN
KEPERAWATAN Ny. L DENGAN POST PARTUM GAJAHAN SURAKARTA
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA
PEMBERIAN KOMPRES PANAS TERHADAP INTENSITAS NYERI PEMBENGKAKAN PAYUDARA PADA ASUHAN
KEPERAWATAN Ny. L DENGAN POST PARTUM DI PUSKESMAS GAJAHAN SURAKARTA
Untuk
Dalam Menyelesaikan Program Diploma III Keperawatan
FIFIN HERDIANA HESTIYOWATI
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA PEMBERIAN KOMPRES PANAS TERHADAP INTENSITAS
NYERI PEMBENGKAKAN PAYUDARA PADA ASUHAN KEPERAWATAN Ny. L DENGAN POST PARTUM
DI PUSKESMAS GAJAHAN SURAKARTA
Karya Tulis Ilmiah
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
Menyelesaikan Program Diploma III Keperawatan
DISUSUN OLEH :
FIFIN HERDIANA HESTIYOWATI NIM. P.13024
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA SURAKARTA
2016
PEMBERIAN KOMPRES PANAS TERHADAP INTENSITAS NYERI PEMBENGKAKAN PAYUDARA PADA ASUHAN
KEPERAWATAN Ny. L DENGAN POST PARTUM DI PUSKESMAS GAJAHAN SURAKARTA
Menyelesaikan Program Diploma III Keperawatan
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA
Puji Syukur penulis panjat kan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena berkat, rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Pemberian Kompres Panas Terhadap Intensitas Nyeri Pembengkakan Payudara Pada Asuhan Keperawatan Ny. L dengan Post Partum di Puskesmas Gajahan Surakarta.”
Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis banyak mendapat bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih dan penghargaan kepada yang terhormat :
1. Ns. Wahyu Rima Agustin M.Kep, selaku Ketua STIKES Kusuma Husada Surakarta yang telah memberikan kesempatan untuk dapat menimba ilmu di STIKES Kusuma Husada Surakarta.
2. Ns. Meri Oktariani M.Kep, selaku Ketua Program Studi DIII Keperawatan yang telah memberikan kesempatan untuk dapat menimba ilmu di STIKES Kusuma Husada Surakarta.
3. Ns. Alfyana Nadia R. M.Kep, selaku Sekretaris Program Studi DIII Keperawatan yang telah memberikan kesempatan dan arahan untuk dapat menimba ilmu di STIKES Kusuma Husada Surakarta.
4. Ns. Siti Mardiyah S.Kep, selaku dosen pembimbing sekaligus sebagai penguji yang telah membimbing dengan cermat, teliti yang sudah meluangkan banyak waktunya dan memberikan masukan-masukan, inspirasi, perasaan nyaman dalam bimbingan serta memfasilitasi demi sempurnanya studi kasus ini.
5. Ns. Diyah Ekarini S.Kep, selaku dosen penguji yang telah membimbing dengan cermat, teliti dan memberikan masukan-masukan, inspirasi, perasaan nyaman dalam bimbingan serta memfasilitasi demi sempurnanya studi kasus ini.
6. Semua dosen Program Studi DIII Keperawatan STIKES Kusuma Husada Surakarta yang telah memberikan bimbingan dengan sabar dan sudah memberikan wawasan baru serta ilmu yang bermanfaat.
7. Kedua Orangtuaku, yang bekerja keras untuk memenuhi segala keperluan dan yang selalu menjadi inspirasi dan memberikan semangat untuk menyelesaikan pendidikan.
8. Teman-teman kelas 3A yang selama 3 tahun ini berjuang bersama-sama yang selalu
Semoga laporan studi kasus ini bermanfaat untuk perkembangan ilmu keperawatan dan kesehatan. Amin.
Surakarta, 12 Mei 2016
FifinHerdianaHestiyowati
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
PERNYATAAN TIDAK PLAGIATISME ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI... vi
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang ... 1
B. Tujuan Penulisan ... 5
C. Manfaat Penulisan ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teori ... 7
1. Post Partum ... 7
2. Asuhan Keperawatan ... 16
3. Pembengkakan Payudara ... 22
4. Nyeri ... 23
5. Kompres Panas ... 29
B. Kerangka teori ... 33
BAB III METODE PENYUSUNAN KTI APLIKASI RISET A. Subjek aplikasi riset ... 34
B. Tempat dan waktu ... 34
C. Media dan alat yang digunakan ... 34
D. Prosedur tindakan berdasarkan aplikasi riset ... 35
E. Alat ukur evauasi dari aplikasi tindakan berdasarkan riset ... 36
C. Perumusan Masalah Keperawatan ... 41
D. Rencana Keperawatan ... 42
E. Tindakan Keperawatan ... 44
F. Evaluasi ... 47
BAB V PEMBAHASAN A. Pengkajian ... 51
B. Perumusan Diagnosa Keperawatan ... 54
C. Rencana Keperawatan ... 57
D. Tindakan Keperawatan ... 60
E. Evaluasi ... 66
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 68
B. Saran ... 71 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1. Gambar 2.1 Skala Nyeri Numerik ... 26
2. Gambar 2.2 Skala Nyeri Verbal ... 27
3. Gambar 2.3 Skala Nyeri Visual ... 27
4. Gambar 2.4 Skala Nyeri Oucher ... 28
5. Gambar 2.5 Skala Nyeri Wong dan Baker ... 28
Lampiran 1 Usulan Judul Lampiran 2 Lembar Konsultasi Lampiran 3 Surat Pernyataan Lampiran 4 Jurnal
Lampiran 5 Asuhan Keperawatan Lampiran 6 Log Book
Lampiran 7 Lembar Pendelegasian Lampiran 8 Lembar Observasi Lampiran 9 Daftar Riwayat Hidup
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masa nifas pada persalinan normal dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai dengan 6 minggu berikutnya. Masa nifas (pourperium) adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat- alat kandungan kembali seperti prahamil. Lama masa nifas yaitu 6-8 minggu (Bahiyatun, 2009).
Menurut Ambarwati (2010) masa nifas (pourperium) dimulai sejak plasenta lahir sampai alat-alat kandungan kembali seperti masa sebelum hamil. Batas waktu nifas paling singkat (minimum)tidak ada batasan waktunya, bahkan dalam waktu yang relatif pendek darah sudah keluar, sedangkan batas maksimumnya adalah 40 hari.
Pada tahun 2011 Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa jumlah kasus infeksi payudara yang terjadi pada wanita seperti kanker, tumor, mastitis, penyakit fibrocustic terus meningkat, dimana penderita kanker payudara mencapai hingga lebih 1,2 juta orang yang terdiagnosis, dan 12%
diantaranya merupakan infeksi payudara berupa mastitis pada wanita pasca post partum. Data ini kemudian didukung oleh The American Cancer Society yang memperkirakan 211.240 wanita di Amerika Serikat akan didiagnosis menderita kanker payudara invasive (stadium I-IV) tahun ini dan
40.140 orang akan meninggal karena penyakit ini. Sebanyak 3 persen kasus kematian wanita di Amerika disebabkan oleh kanker payudara. Sedangkan di Indonesia hanya 0,001/100.000 angka kesakitan akibat infeksi berupa mastitis (Depkes RI, 2011).
Berdasarkan laporan dari Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI,2011), diusia lebih dari 25 tahun sepertiga wanita di Dunia (38%) didapati tidak menyusui bayinya karena terjadi pembengkakan payudara, dan di Indonesia angka cakupan ASI eksklusif mencapai 32,3% ibu yang memberikan ASI eksklusif pada anak mereka. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2010-2011 menunjukkan bahwa 55%
ibu menyusui mengalami mastitis dan putting susu lecet, kemungkinan hal tersebut disebabkan karena kurangnya perawatan payudara selama kehamilan, masa menyusui serta pengetahuan ibu yang kurang tentang menyusui (Astuti, 2013). Berdasarkan survei tahun 2011 olehNutrition and Healthdi Jawa Tengahtentang Ibu yangmemberikan ASI pada bayinya, di perkotaan hanya 13% ( 13bendungan ASI dari 100 ibu yang menyusui ) dan di pedesaan13% kejadian bendungan ASI dari 100 ibu yang menyusui ) (Depkes. RI.,2011).
Pada ibu post partum terjadi perubahan fisiologis yang meliputi semua sistem tubuh salah satu diantaranya yaitu perubahan pada sistem reproduksi. Disamping involusi, terjadi juga perubahan- perubahan penting lainnya, yaitu timbulnya laktasi (Nengah dan Surinati, 2013).
Laktasi adalah keseluruhan proses menyusui mulai dari ASI diproduksi
sampai proses bayi menghisap dan menelan ASI. Dalam proses menyusui ditemukan beberapa masalah salah satunya adalah pembengkakan (engorgement) payudara. (Wulandari, 2010)
Pada ibu post partum banyak yang mengalami pembengkakan payudara,pembengkakan (engorgement) terjadi karena ASI tidak dihisap oleh bayi secara adekuat, sehingga sisa ASI terkumpul pada system duktus yang mengakibatkan terjadinya pembengkakan dan bendungan ASI (Bahiyatun, 2009).Statis pada pembuluh darah dan limfe akan mengakibatkan meningkatnya tekanan intraduktal yang mempengaruhi beberapa segmen pada payudara, sehingga tekanan seluruh payudara meningkat. Hal tersebut bisa juga terjadi dikarenakan adanya sumbatan pada susu (Bahiyatun, 2009).
Duktus tersumbat bisa menimbulkan nyeri pada payudara, nyeri biasanya timbul hanya pada satu payudara dan hanya sedikit rasa hangat dirasakan atau tidak ada rasa hangat sama sekali. Dalam penilitian Kusumastuti (2008), 96 dari 100 ibu dilaporkan mengalami nyeri pada waktu-waktu tertentu. Hal ini terjadi terutama antara hari ke-3 dan ke-7, pada beberapa wanita, nyeri ini berlangsungi selama 6 minggu (Wheleer, 2006).
Nyeri adalah pengalaman sensorik yang dicetuskan oleh rangsangan yang merupakan ancaman untuk menghancurkan jaringan. ( Mander, 2006). Munculnya nyeri sangat berkaitan erat dengan reseptor dan adanya
rangsangan. Reseptor nyeri dapat memberikan respons akibat adanya stimulasi atau rangsangan. Stimulasi yang diterima oleh reseptor tersebut ditransmisikan berupa impuls-impuls nyeri ke sumsum tulang belakang oleh dua jenis serabut, yaitu serabut A (delta) dan serabut C. Impuls nyeri menyeberangi tulang belakang pada interneuron dan bersambung ke jalur spinal asendens yang paling utama, yaitu jalur spinothalamictract (STT) atau spinothalamus dan spinoreticular tract (SRT) yang membawa informasi mengenai sifat dan lokasi nyeri (Uliyah, 2008).
Nyeri payudara pada post partum dapat dilakukan dengan kompres panas untuk mengurangi rasa sakit ( Ambarwati, 2010). Kompres panas juga akan menghasilkan efek fisiologis untuk tubuh yaitu efek vasodilatasi, peningkatan metabolisme sel dan merelaksasikan otot sehingga nyeri yang dirasa berkurang. Kompres panas dengan suhu 40,5- 43°C merupakan salah satu pilihan tindakan yang digunakan untuk mengurangi dan bahkan mengatasi rasa nyeri (Potter & Perry, 2006)
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Nengah dan Surinati (2013) yang berjudul “Pengaruh pemberian kompres panas terhadap intensitas nyeri pembengkakan payudara pada ibu post partum di Puskesmas Daun Puri” hasil penelitian adalah terdapat hubungan kompres panas terhadap penurunan intensitas nyeri pembengkakan payudara serta dapat meningkatkan kelancaran pengeluaran ASI.
Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik untuk mengaplikasikan tindakan kompres panas terhadap penurunan intensitas nyeri pembengkakan payudara pada ibu post partum di Puskesmas.
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mengaplikasikan tindakan kompres panas terhadap penurunan intensitas nyeri pembengkakan payudara pada ibu post partum
2. Tujuan Khusus
a. Penulis mampu melakukan pengkajian keperawatan pada pasien dengan nyeri payudara pada post partum
b. Penulis mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien dengan nyeri payudara pada post partum
c. Penulis mampu menyusun rencana keperawatan pada pasien dengan nyeri payudara pada post partum
d. Penulis mampu melakukan implementasi keperawatan pada pasien dengan nyeri payudara pada post partum
e. Penulis mampu melakukan evaluasi keperawatan pada pasien dengan nyeri payudara pada post partum
f. Penulis mampu menganalisa hasil pemberian kompres panas pada pasien dengan nyeri payudara pada post partum
C. Manfaat Penulisan
1. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan bacaan, masukan dan menambah wawasan bagi mahasiswa keperawatan, dalam hal pemberian asuhan keperawatan khususnya dalam keperawatan maternitas. Dapat digunakan sebagai acuan melaksanakan praktek klinik dalam membuat asuhan keperawatan pada ibu post partum.
2. Bagi Rumah Sakit
Sebagai masukan dalam membuat asuhan keperawatan pada ibu post partum yang mengalami nyeri payudara sehingga diharapkan dapat meningkatkan perkembangan bagi ilmu dan praktek keperawatan maternitas.
3. Bagi Penulis
Sebagai sarana yang dapat digunakan untuk menambah wawasan dan pengetahuan serta pengalaman dalam membuat asuhan keperawatan pada ibu post partum dengan masalah nyeri pembengkakan payudara sehingga selanjutnya dapat memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teori
1. Post Partum a. Pengertian
Post partum adalah masa sesudah persalinan dapat juga disebut masa nifas (puerperium) yaitu masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya 6 minggu (Bobak,2010). Masa nifas(puerperium)adalah masa 6-8 minggu sejak bayi lahir sampai organ-organ reproduksi sampai kembali ke keadaan normal seperti sebelum hamil (Bahiyatun,2009).
Menurut Ambarwati dan Wulandari (2010), masa nifas (puerperium) dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat- alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Batas waktu nifas yang paling singkat (minimum) tidak ada batas waktunya, bahkan bisa jadi dalam waktu yang relatif pendek darah sudah keluar, sedangkan batas maksimumnya adalah 40 hari.
b. Tahap Masa Post Partum
Menurut Saleha (2009), Tahapan yang terjadi pada masa nifas adalah sebagai berikut :
1) Periode Immediate Post Partum
Masa segera setelah plasenta lahir sampai dengan 24 jam. Pada masa ini sering terdapat banyak masalah, misalnya perdarahan karena antonia uteri.
2) Periode Early Post Partum
Fase ini berlangsung 24 jam – 1 minggu dan memastikan involusi uteri dalam keadaan normal, tidak ada perdarahan, lochea tidak berbau busuk dan tidak demam.
3) Periode Late Post Partum
Fase ini berlangsung 1 minggu – 5 minggu. Pada periode ini perlu dilakukan perawatan dan pemeriksaan sehari-hari serta konseling KB
c. Perubahan Fisiologis Masa Nifas 1) Sistem Reproduksi
a) Proses involusi
Proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil setelah melahirkan, proses ini dimulai segera setelah plasenta keluarakibat kontraksi otot-otot polos uterus. Uterus, pada waktu hamil penuh beratnya 11 kali berat sebelum hamil, berinvolusi menjadikira-kira 500 gr 1 minggu setelah melahirkan dan 350 gr dua minggu setelah lahir. Seminggu setelah melahirkan uterus beradadi dalam panggul. Pada minggu keenam, beratnya menjadi 50-60gr. Pada masa pasca
partum penurunan kadar hormone menyebabkan terjadinya autolisis, perusakan secara langsung jaringan hipertrofi yang berlebihan. Sel-sel tambahan yang terbentuk selama masa hamil menetap. Inilah penyebab ukuran uterus sedikit lebih besar setelah hamil (Bobak,2010).
b) Kontraksi
Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna segera setelah bayi lahir, hormon oksigen yang dilepas dari kelenjar hipofisis memperkuat dan mengatur kontraksi uterus, mengopresi pembuluh darah dan membantu hemostasis.
Salama 1-2 jam pertama pasca partum intensitas kontraksi uterus bisa berkurang dan menjadi tidak teratur. Untuk mempertahankan kontraksi uterus, suntikan oksitosin secara intravena atau intramuskuler diberikan segera setelah plasenta lahir(Suherni,2009).
c) Lochea
Menurut Saleha (2009), lochea adalah cairan sekret yang berasal dari cavum uteri dan vagina selama nifas. Lochea terbagi menjadi empat jenis, yaitu :
(1) Lochea Rubraberwarna merah karena berisi darah segar dan sisa selaput ketuban. Keluar selama 2-3 hari postpartum.
(2) Lochea Sanguilenta berwarna kuning berisi darah dan lender yang keluar pada hari ke-3 sampai ke-7 pasca persalinan.
(3) Lochea Serosa berbentuk serum dan berwana merah jambu kemudian menjadi kuning. Lochea ini keluar pada hari ke-7 sampai hari ke-14 pasca persalinan
(4) Lochea Alba adalah lochea yang terakhir. Dimulai hari ke- 14 kemudian makin lama makin berkurang hingga sama sekali berhenti sampai satu atau dua minggu berikutnya.
d) Vagina dan Perineum
Pada minggu ketiga, vagina mengecil dan timbul ruggae (lipatan-lipatan atau kerutan) kembali. Pada perineum, terjadi robekan perineum pada semua persalinan pertama. Robekan perineum umunya terjadi di garis tengah dan bisa meluas apabila kepala janin terlalu besar (Suherni,2009).
Laserasi spontan pada vagina atau perineum dapat terjadi saat kepala dan bahu dilahirkan. Tindakan episiotomy adalah mengiris atau menggunting perineum menurut arah irisan ada tiga :medialis, mediolaeralis dan lateralis dengan tujuan agar tidak terjadi robekan perineum yang tidak teratur dan robekan musculus princter ani (Rukiyah,2009).
e) Payudara
Menurut Waryana (2010), Konsentrasi hormon yang menstimulasai perkembangan payudara selama wanita hamil (esterogen, progesteron, human chorionic gonadotropin, prolaktin, krotison, dan insulin) menurun dengan cepat setelah bayi lahir.
(1) Ibu tidak menyusui
Kadar prolaktin akan menurun dengan cepat pada wanita yang tidak menyusui. Pada jaringan payudara beberapa wanita, saat palpasi dailakukan pada hari kedua dan ketiga.
Pada hari ketiga atau keempat pasca partum bisa terjadi pembengkakan. Payudara teregang keras, nyeri bila ditekan, dan hangat jika di raba.
(2) Ibu yang menyusui
Sebelum laktasi dimulai, payudara teraba lunak dan suatu cairan kekuningan, yakni kolostrum. Setelah laktasi dimula, payudara teraba hangat dan keras ketika disentuh. Rasa nyeri akan menetap selama sekitar 48 jam. Susu putih kebiruan dapat dikeluarkan dari puting susu.
2) Sistem Pencernaan a) Nafsu makan
Setelah benar-benar pulih dari efek analgesia, anestesia, dan keletihan, ibu merasa sangat lapar
b) Mortilitas
Secara khas, penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap selama waktu yang singkat setelah bayi lahir.
c) Defekasi
Buang air besar secara spontan bias tertunda selama dua sampai tiga hari setelah ibu melahirkan.
(Waryana,2010).
3) Sistem Perkemihan
Setelah persalinan, terjadi diuresis fisiologis akibat pengurangan volume darah dan peningkatan produk sisa. Beberapa ibu khususnya setelah persalinan yang menggunakan bantuan alat, mengalami kesulitan saat mulai berkemih. Ada pula ibu yang mengalami kesulitan menahan lebih lama aliran urinnya saat ada dorongan berkemih. Banyak ibu mengeluarkan urinnya saat batuk, tertawa, bersin atau melakukan gerakan yang tiba-tiba. Gejala ini dikenal dengan inkontinensia stress (Brayshaw,2008).
4) Sistem Muskuloskeletal
Ambulasi pada umumnya dimulai 4-8 jam post partum. Ambulasi dini sangat membantu untuk mencegah komplikasi dan mempercepat proses involusi (Waryana,2010). Stabilisasisendi lengkap pada minggu ke-6 sampai ke-8 setelah wanita melahirkan. Akan tetapi, walaupun sendi kembali ke keadaan normal seperti sebelum hamil,
kaki wanita tidak mengalami perubahan setelah melahirkan (Bobak,2010).
5) Sistem Endokrin a) Hormon plasenta
Penurunan hormon human plasental lactogen, esterogen dan kortisol, serta Placental Enzyme Insulinase membalik efek diabetagenik kehamilan. Sehingga kadar gula darah menurun secara yang bermakna pada masa puerperium. Kadar esterogen dan progesteron menurun secara mencolok setelah plasenta keluar, penurunan kadar esterogen berkaitan dengan pembengkakan payudara dan diuresis cairan ekstra seluler berlebih yang terakumulasi selama masa hamil(Walyani, 2015).
b) Hormon Hipofisis
Waktu dimulainya ovulasi dan menstruasi pada wanita menyusui dan tidak menyusui berbeda. Kadar prolaktin serum yang tinggi pada wanita menyusui tampaknya berperan dalam menekan ovulasi. Karena kadar Folikel-Stimulating Hormone terbukti sama pada wanita menyusui dan tidak menyusui di simpulkan ovarium tidak berespon terhadap stimulasi FSH ketika kadar prolaktin meningkat (Walyani, 2015).
c) Hormon Oksitosin
Oksitosin dikeluarkan dari kelenjar, bekerja terhadap bawah otak bagian belakang (posterior), bekerja terhadap otot uterus dan
jaringan payudara. Pada wanita yang memilih menyusui bayinya, isapan sang bayi merangsang keluarnya oksitosin dan sangat membantu uterus kembali seperti keadaan normal (Ambarwati dan Wulandari, 2010)
6) Sistem Kardiovaskular
Denyut jantung, volume darah dan curah jantung meningkat segera setelah melahirkan karena terhentinya aliran darah ke plasenta yang mengakibatkan beban jantung meningkat. Cardiac output tetap tinggi dalam beberapa waktu sampai 48 jam post partum dan diikuti dengan bradicardi (Walyani, 2015).
7) Sistem Haematologi
Leukositosis mungkin terjadi selama persalinan, sel darah merah berkisar 15.000 selama persalinan. Peningkatan sel darah putih berkisar antara 25.000-30.000 yang merupakan manifestasi adanya infeksi dari proses persalinan. Hal ini dapat meningkat pada awal nifas yang terjadi bersamaan dengan peningkatan tekanan darah serta volume plasma dan volume sel darah merah.
Pada 2-3 hari post partum, konsentrasi hematokrit menurun sekitar 2% atau lebih. Total kehilangan darah pada saat persalinan dan nifas kira-kira 700-1500 ml (200 ml saat persalinan, 500-800 ml hilang pada minggu pertama post partum, dan 500 ml hilang pada saat nifas) (Bahiyatun,2009).
8) Sistem Integumen
Penurunan melanin umunya setelah persalinan menyebabkan berkurangnya hipetrpigmentasi kulit dan perubahan pembuluh darah yang tampak pada kulit karena kehamilan dan akan menghilang pada saat estrogen menurun (Walyani, 2015).
d. Perubahan Psikologis Masa Nifas
MenurutWalyani (2015), terdapat tiga fase perubahan psikologis masa nifas, antara lain :
1) Fase taking in
Fase taking in yaitu periode ketergantungan, berlangsung dari hari pertama sampai hari kedua melahirkan. Pada fase ini ibu sedang berfokus terutama pada dirinya sendiri. Ibu akan berulang kali menceritakan proses persalinan yang dialaminya dari awal sampai akhir. Hal ini membuat ibu cenderung lebih pasif terhadap lingkungannya.
2) Fase taking hold
Periode yang berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan.
Pada fase ini ibu timbul rasa khawatir akan ketidakmampuan dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat bayi. Ibu mempunyai perasaan sangat sensitive, sehingga mudah tersinggung dan marah.
3) Fase letting go
Periode dimana ibu telah menerima tanggung jawab akan peran barunya. Fase ini berlangsung 10 hari setelah melahirkan. Ibu sudah mulai menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayinya.
2. Konsep Asuhan Keperawatan
Asuhan masa nifas adalah penatalaksanaan asuhan yang diberikan pada pasien mulai dari setelah bayinya lahir sampai dengan kembalinya tubuhdalam keadaan sebelum hamil atau mendekati keadaan sebelum hamil (Saleha, 2009).
a. Pengkajian
1) Riwayat Kesehatan a) Keluhan utama
b) Adakah kesulitan atau gangguan dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari, misalnya pola makan, pola eliminasi, kebutuhan istirahan dan mobilisasi.
c) Riwayat Persalinan meliputi adakah komplikasi, laserasi atau episiotomi.
d) Obat atau suplemen yang dikonsumsi saat ini.
e) Perasaan ibu berkaitan dengan kelahiran bayi, penerimaan peran baru sebagai orang tua termasuk suasana hati yang ibu rasakan, kecemasan dan kekhawatiran.
f) Adakah kesulitan dalam pemberian ASI dan perawatan sehari- hari.
g) Bagaimana dukungan suami dan keluarga tehadap ibu.
h) Pengetahuan ibu tentas masa nifas.
2) Pemeriksaan Fisik
a) Keadaan umum, kesadaran
b) Tanda –tanda vital : tekanan darah, suhu, nadi, pernapasan c) Payudara : pembesaran, putting susu (menonjol atau mendatar,
adakah nyeri atau lecet pada putting), ASI atau kolostrum sudah keluar, adakah pembengkakan, radang atau benjolan abnormal.
d) Abdomen : tinggi fundus uteri, kontraksi uterus.
e) Kandung kemih kosong atau penuh.
f) Genetalia dan perineum : pengeluaran lochea (jenis, warna, jumlah, bau), odema, peradangan, keadaan jahitan, nanah, tanda-tanda infeksi pada luka jahitan, kebersihan perineum dan hemmoroid pada anus.
(Suherni, 2008).
b. Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik (tindakan episiotomi)
2) Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis ( bendungan payudara).
3) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan faktor biologis ( asupan nutrisi zat besi tidak adekuat) (Ujiningtyas, 2009).
4) Ketidakefektifan pemberian ASI berhubungan dengan kurang pengetahuan.
c. Intervensi Keperawatan
1) Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik (tindakan episiotomi)
Tujuan :
Setelah dilakukan intervensi keperawatan diharapkan nyeri dapat teratasi dengan kriteria hasil :
a) Pasien tidak meringis kesakitan menahan nyeri b) Skala nyeri berkurang (skala 1-3)
c) Pasien tampak nyaman dan rileks d) Tanda –tanda vital dalam batas normal Intervensi :
a) Kaji pola nyeri dengan skala PQRST
Rasional : untuk mengetahui penyebab nyeri, kualitas nyeri, lokasi nyeri, skala nyeri dan waktu terjadinya nyeri (durasi).
b) Berikan tindakan yang memberikan rasa nyaman, misalnya kompres hangat
Rasional : untuk melancarkan sirkulasi darah, mengurangi nyeri dan pembengakakan payudara serta melancarkan produksi ASI
(Ujiningtyas, 2009).
c) Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam
Rasional : teknik relaksasi dapat menurunkan nyeri karena respon relaksasi merupakan bagian dari penurunan fisiologis, kognitif dan stimulus perilaku. Relaksasi membantu seseorang untuk membantu membangun keterampilan kognitif serta mengurangi cara yang negatif dalam merespon situasi dalam lingkungan mnereka (Solehati dan Kosasih, 2015).
d) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgetik Rasional : analgetik berfungsi untuk mengurangi rasa nyeri 2) Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis ( bendungan
payudara).
Tujuan :
Setelah dilakukan intervensi keperawatan diharapkan nyeri dapat teratasi dengan kriteria hasil :
e) Pasien tidak meringis kesakitan menahan nyeri f) Skala nyeri berkurang (skala 1-3)
g) Pasien tampak nyaman dan rileks h) Tanda –tanda vital dalam batas normal Intervensi :
e) Kaji pola nyeri dengan skala PQRST
Rasional : untuk mengetahui penyebab nyeri, kualitas nyeri, lokasi nyeri, skala nyeri dan waktu terjadinya nyeri (durasi).
f) Berikan tindakan kompres panas untuk mengurangi nyeri pembengkakan payudara
Rasional : untuk melancarkan sirkulasi darah, mengurangi nyeri dan pembengakakan payudara serta melancarkan produksi ASI (Ujiningtyas, 2009).
g) Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam
Rasional : teknik relaksasi dapat menurunkan nyeri karena respon relaksasi merupakan bagian dari penurunan fisiologis, kognitif dan stimulus perilaku. Relaksasi membantu seseorang untuk membantu membangun keterampilan kognitif serta mengurangi cara yang negatif dalam merespon situasi dalam lingkungan mnereka (Solehati dan Kosasih, 2015).
h) Kolaborasi dengan keluarga terkait perawatan payudara
Rasional : keluarga sangat membantu ibu dalam perawatan payudara
3) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan faktor biologis ( asupan nutrisi zat besi tidak adekuat)
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kebutuhannutrisi dapat terpenuhi dengan kriteria hasil :
a) Pasien mengatakan nafsu makan meningkat b) Pasien mengatakan tidak mual muntah
c) Pasien tidak mengalami penurunan berat badan d) Pemeriksaan hemoglobin dalam batas normal Intervensi :
a) Kaji pola nutrisi dengan pola ABCD
Rasional : untuk mengetahui status nutrisi pasien b) Anjurkan klien makan porsi sedikit tapi sering
Rasional : untuk mengurangi mual muntah
c) Anjurkan klien makan dalam keadaan makanan hangat Rasional : untuk mengurangi mual muntah
d) Anjurkan klien makan makanan yang tinggi zat besi dan vitamin Rasional : menambah zat besi dan vitamin dalam tubuh
e) Kolaborasi dengan dokter dan ahli gizi terkait diet yang diberikan
Rasional : mengetahui porsi dan jenis makanan yang bisa dikonsumsi.
4) Ketidakefektifan pemberian ASI berhubungan dengan kurang pengetahuan ( perawatan payudara).
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan masalah ketidakefektifan pemberian ASI dapat teratasi dengan kriteria hasil : a) Perlekatan bayi yang sesuai pada payudara ibu
b) Ibu tidak mengalami nyeri tekan pada payudara
c) Keberlangsungan pemberian ASI lancar serta ibu mengetahui tanda payudara penuh
Intervensi :
a) Pantau keterampilan ibu dalam menempelkan bayi ke putting susu
Rasional : mengetahui apakan cara menyusui yang benar b) Ajarkan cara menyusui yang benar
Rasional : mempermudah ibu menyusui bayinya c) Berikan informasi tentang teknik perawatan payudara
Rasional : agar ibu mengerti cara perawatan payudara yang benar
d) Ajarkan cara memompa ASI dengan menggunakan alat
Rasional : mengeluarkan ASI agar tidak menjadi bendungan payudara
e) Kolaborasi dengan keluarga terkait penyimpanan ASI setelah dipompa
Rasional : agar ibu mengetahui cara menyimpan ASI dengan benar.
3. Pembengkakan Payudara
Payudara bengkak (engorgement) adalah kondisi di mana payudara menjadi terlalu penuh dengan susu. Payudara bengkak mungkin terasa membesar, keras, dan menyakitkan. Pembengkakan dapat menyebabkan
saluran susu (duktus laktiferus) tersumbat (Ambarwati dan Wulandari, 2010).
Terjadi peningkatan aliran darah ke payudara bersamaan dengan produksi ASI dalam jumlah banyak. Dalam menyusui ditemukan beberapa masalah salah satunya adalah pembengkakan (engorgement) payudara (Ambarwati dan Wulandari, 2010). Pembuluh darah payudara menjadi bengkak terisi darah sehingga timbul rasa hangat, bengkak dan sakit (Saleha, 2009).
Masalah ini paling sering ditemui pada ibu pasca bersalin.
Tersumbatnya saluran ASI dapat menyebabkan rasa sakit pada payudara, teraba ada benjolan yang terasa sakit, bengkak dan payudara mengeras.
Pada kondisi ini, saluran ASI tidak mengalami pengosongan yang baik, sehingga ASI menumpuk (Riksani,2012).
Statis pada pembuluh darah dan limfe akan mengakibatkan meningkatnya tekanan intraduktal yang mempengaruhi beberapa segmen pada payudara, sehingga tekanan seluruh payudara meningkat. Hal tersebut bisa juga terjadi dikarenakan adanya sumbatan pada susu (Bahiyatun, 2009).
4. Nyeri
a. Pengertian
Nyeri adalah pengalaman sensorik yang dicetuskan oleh rangsangan yang merupakan ancaman untuk menghancurkan jaringan.
(Mander, 2006). Munculnya nyeri sangat berkaitan erat dengan reseptor dan adanya rangsangan. Reseptor nyeri dapat memberikan respon akibat adanya stimulasi atau rangsangan. Stimulasi yang diterima oleh reseptor tersebut ditransmisikan berupa impuls-impuls nyeri ke sumsum tulang belakang oleh dua jenis serabut, yaitu serabut A (delta) dan serabut C. Impuls nyeri menyeberangi tulang belakang pada interneuron dan bersambung ke jalur spinal asendens yang paling utama, yaitu jalur spinothalamictract (STT) atau spinothalamus dan spinoreticular tract (SRT) yang membawa informasi mengenai sifat dan lokasi nyeri (Uliyah, 2008).
Nyeri pada payudara disebabkan karena adanya duktus yang tersumbat akan menimbulkan nyeri pada payudara, nyeri biasanya timbul hanya pada satu payudara dan hanya sedikit rasa hangat dirasakan atau tidak ada rasa hangat sama sekali. Dalam penilitian Kusumastuti (2008), 96 dari 100 ibu dilaporkan mengalami nyeri pada waktu-waktu tertentu. Hal ini terjadi terutama antara hari ke-3 dan ke- 7, pada beberapa wanita nyeri ini berlangsungi selama 6 minggu (Wheleer, 2006).
b. Klasifikasi
Nyeri diklasifikasikan menjadi dua, yaitu nyeri akut dan nyeri kronis. Nyeri akut disebabkan oleh penyakit, radang dan injuri jaringan. Nyeri akut umunya terjadi kurang dari 6 bulan. Nyeri kronis, secara luas dapat menggambarkan penyakitnya. Nyeri kronis dapat
berlangsung lebih lama (lebih dari 6 bulan). Nyeri ini dapat dan sering menyebabkan masalah yang berat bagi pasien (Judha, 2012).
c. Karakteristik Nyeri
1) Faktor Pencetus (P : Provocate)
Pengkajian tentang penyebab atau stimulus nyeri pada klien.
2) Kualitas ( Q : Quality)
Merupakan sesuatu yang subjektif yang diungkapkan klien.
3) Lokasi ( R : Region)
Pengkajian tentang lokasi nyeri yang spesifik.
4) Keparahan ( S : Severe)
Tingkat keparahan pasien tentang nyeri merupakan karakteristik yang paling subyektif. Pada pengkajian klien diminta untuk menggambarkan nyeri yang dirasakan sebagai nyeri ringan, nyeri sedang atau nyeri berat.
5) Waktu (T : Time)
Pengkajian tentang awitan, durasi dan rangkaian nyeri.
(Judha, 2012).
d. Alat Ukur Nyeri
Pengukuran nyeri sangat subjektif dan individual serta kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan berbeda oleh dua orang yang berbeda. Penilaian intensitas nyeri dapat dilakukan dengan menggunakan skala sebagai berikut :
1) Skala Numerik Skala Numerik
pengganti alat pendeskrip dengan skala 0 sampai 10.
2) Skala Deskr
Skala Deskriptif Verbal
merupakan salah satu alat ukur tingkat keparahan yang lebih bersifat objektif. Skala Deskriptif Verbal ini merupakan sebuah garis yang terdiri dari beberapa kalimat pendeskripsi yang ters dalam jarak yang sama sepanjang garis. Pendeskripsi ini diranking dari “ tidak ada nyeri “ sampai “ nyeri yang tidak tertahankan”.
Alat VDS ini memungkinkan klien untuk memilih kategori untuk mendeskripsikan nyeri yang dirasakan.
Skala Numerik
Skala Numerik ( Numerical Rating Scale, NRS) digunakan sebagai pengganti alat pendeskripsi kata. Dalam hal ini, klien menilai nyeri dengan skala 0 sampai 10.
Gambar 2.1 Skala Nyeri Numerik Sumber : Andarmoyo (2013)
Skala Deskriptif Verbal
Skala Deskriptif Verbal ( Verbal Descriptor Scale, VDS) merupakan salah satu alat ukur tingkat keparahan yang lebih bersifat objektif. Skala Deskriptif Verbal ini merupakan sebuah garis yang terdiri dari beberapa kalimat pendeskripsi yang ters dalam jarak yang sama sepanjang garis. Pendeskripsi ini diranking dari “ tidak ada nyeri “ sampai “ nyeri yang tidak tertahankan”.
Alat VDS ini memungkinkan klien untuk memilih kategori untuk mendeskripsikan nyeri yang dirasakan.
Gambar 2.2 Skala Deskriptif Verbal Sumber : Andarmoyo (2013)
digunakan sebagai si kata. Dalam hal ini, klien menilai nyeri
( Verbal Descriptor Scale, VDS) merupakan salah satu alat ukur tingkat keparahan yang lebih bersifat objektif. Skala Deskriptif Verbal ini merupakan sebuah garis yang terdiri dari beberapa kalimat pendeskripsi yang tersusun dalam jarak yang sama sepanjang garis. Pendeskripsi ini diranking dari “ tidak ada nyeri “ sampai “ nyeri yang tidak tertahankan”.
Alat VDS ini memungkinkan klien untuk memilih kategori untuk
3) Skala Analog Visual Skala Analog Visual
garis lurus, yang mewakili intensitas nyeri yang terus menerus dan memiliki alat pendeskripsi verbal pada setiap ujungnya. Skala ini memberikan kebebasan pada klien untuk m
keparahan nyeri yang dirasakan.
4) Skala Nyeri Oucher
Skala Nyeri Oucher adalah alat yang terdiri dari dua skala yang terpisah, sebuah skala dengan nilai 0
untuk anak yang berusia lebih besar dan skala fotogr
gambar pada sisi sebelah kanan yang digunakan pada anak yang lebih kecil. Anak diminta untuk menunjuk ke sejumlah pilihan gambar untuk mendeskripsikan nyerinya.
Skala Analog Visual
Skala Analog Visual ( Visual Analog Scale, VAS) merupakan suatu garis lurus, yang mewakili intensitas nyeri yang terus menerus dan memiliki alat pendeskripsi verbal pada setiap ujungnya. Skala ini memberikan kebebasan pada klien untuk mengidentifikasi tingkat keparahan nyeri yang dirasakan.
Gambar 2.3 Skala Analog Visual Sumber : Andarmoyo (2013)
Skala Nyeri Oucher
Skala Nyeri Oucher adalah alat yang terdiri dari dua skala yang terpisah, sebuah skala dengan nilai 0 -100 pada sisi sebe;ah kiri untuk anak yang berusia lebih besar dan skala fotogr
gambar pada sisi sebelah kanan yang digunakan pada anak yang lebih kecil. Anak diminta untuk menunjuk ke sejumlah pilihan gambar untuk mendeskripsikan nyerinya.
merupakan suatu garis lurus, yang mewakili intensitas nyeri yang terus menerus dan memiliki alat pendeskripsi verbal pada setiap ujungnya. Skala ini engidentifikasi tingkat
Skala Nyeri Oucher adalah alat yang terdiri dari dua skala yang 100 pada sisi sebe;ah kiri untuk anak yang berusia lebih besar dan skala fotografik enam gambar pada sisi sebelah kanan yang digunakan pada anak yang lebih kecil. Anak diminta untuk menunjuk ke sejumlah pilihan
Gambar 2.4 Skala Nyeri Oucher Sumber : Andarmoyo (2013)
5) Skala Nyeri Wajah Wong & Baker
Wong dan Baker (1998) juga mengembangkan skala wajah untuk mendeskripsikan nyeri pada anak-anak. Skala tersebut terdiri dari 6 wajah profil kartun yang menggambarkan wajah tersenyum (bebas dari rasa nyeri) kemudian bertahap menjadi wajah kurang bahagia, wajah yang sangat sedih dan wajah yang sangat ketakutan (nyeri yang sangat). Anak berusia tiga tahun dapat menggunakan skala tersebut.
Gambar 2.5 Skala Wong dan Baker Sumber : Andarmoyo (2013)
5. Kompres Panas a. Pengertian
Kompres panas adalah tindakan memberikan rasa hangat pada daerah tertentu dengan menggunakan cairan atau alat yang menimbulkan rasa hangat pada bagian tubuh yang memerlukan.
Tindakan ini selain untuk melancarkan sirkulasi darah juga untuk mengurangi rasa sakit, merangsang peristaltic usus, pengeluaran getah radang menjadi lancer, serta memberikan ketenangan dan kenyamanan pada klien (Istichomah,2007).
Kompres panas dapat meredakan iskemia dan melancarkan pembuluh darah sehingga meredakan nyeri dan mengurangi ketegangan serta meningkatkan perasaan sejahtera (Bonde,2013).
b. Mekanisme dalam Menurunkan Nyeri
Pemakaian kompres panas dilakukan hanya pada bagian tubuh tertentu. Dengan pemberian kompres panas, pembuluh-pembuluh darah akan melebar sehingga akan memperbaiki peredaran darah di dalam jaringan tersebut. Aktivitas sel yang meningkat akan mengurangi rasa sakit atau nyeri dan akan menunjang penyembuhan luka dan proses peradangan (Andarmoyo,2013).
Menurut Potter dan Perry (2006) dalam rasdini (2012), terapi panas merupakan salah satu modalitas terapi fisik yang menggunakan sifat fisik panas secara konduksi untuk menstimulasi kulit sehingga
dapat menurunkan persepsi nyeri seseorang, selain itu teknik ini juga dapat dilakukan klien secara mandiri dirumah.
Memberikan kompres panas dapat memberikan rasa nyaman sesuai keinginan ibu (Chapman, 2006). Salah satu terapi non farmakologis yang berguna menurunkan intensitas nyeri yaitu stimulasi masase kuntaneus dan kompres panas (Price dan Wilson, 2006).
Potter dan Perry (2006) dalam Nengah dan Surinati (2013), Pemberian kompres panas menimbulkan efek hangat serta efek stimulasi kutaneus berupa sentuhan. Efek ini dapat menyebabkan terlepasnya endorphin, sehingga memblok transmisi stimulus nyeri.
Cara kerjanya adalah rangsangan panas pada daerah lokal akan merangsang reseptor bawah kulit dan mengaktifkan transmisi serabut sensori A beta yang lebih besar dan lebih cepat. Proses ini juga menurunkan transmisi nyeri melalui serabut C dan delta A berdiameter kecil. Keadaan demikian menimbulkan gerbang sinap menutup transmisi impuls nyeri.
Kompres panas dapat meningkatkan suhu kulit lokal, sirkulasi dan metabolisme jaringan. Kompres panas mengurangi spasme otot dan meningkatkan ambang nyeri. Kompres panas juga mengurangi respon “melawan atau menghindar” seperti dibuktikan dengan gemetar dan berdiri bulu roma (Simkin dan Ruth, 2005)
Menurut Kusumastuti (2008) dalam Nengah dan Surinati (2013) Kompres panas dianggap bermanfaat untuk memperbaiki sirkulasi darah, terutama pada engorgement payudara post partum. Salah satu pengurang nyeri dengan metode alami adalah metode panas dingin.
Memang tidak menghilangkan keseluruhan nyeri namun setidaknya dapat memberikan rasa nyaman. Botol air panas yang dibungkus handuk dan ditempelkan pada punggung dapat mengurangi rasa pegal dan kram (Judha, 2012)
Dalam report information from Donald dan Susanne (2014), menyatakan untuk pembengkakan payudara, bayi perlu minum ASI lebih sering untuk membantu mengalirkan susu, sedangkan pembengkakan payudara dapat mereda dengan kompres panas dan shower air panas di daerah payudara yang nyeri.
c. Prosedur dalam Kompres Panas
Instrument yang digunakan adalah tiga buah handuk ( dua handuk kecil untuk kompres panas, satu handuk ukuran sedang untuk menutup dan mengeringkan payudara yang sudah dikompres), air yang bersuhu 41 °C dalam waskom, thermometer air dan stopwatch (Nengah dan Surinati, 2013).
Fase kerjanya, sebelum melakukan tindakan menjaga privasi klien terlebih dahulu. Langkah yang pertama yaitu menyiapkan istrumen yang akan digunakan, lalu membuka baju bagian atas pasien, lalu meletakkan handuk ukuran sedang pada bahu untuk menutup
bagian payudara. Langkah selanjutnya melakukan kompres panas pada payudara pasien secara bergantian. Cara mengompres, menggunakan handuk kecil yang sudah dicelupkan ke dalam waskom yang berisi air panas lalu dikompreskan pada bagian payudara mulai dari pangkal payudara menuju putting susu, setelah itu mengeringkan payudara dan merapikan pasien (Donald dan Susanne, 2014).
Pembengkakan payudara
Nyeri akut
Pemberian kompres panas
B. Kerangka Teori
Post Partum Perubahan Fisiologis Payudara Ibu post partum
Masalah yang sering muncul saat menyusui : 1. Payudaraberwarna kemerahan
2. Nyeri payudara
3. Adanya sumbatan pada saluran ASI
Gambar 2.1. Kerangka Teori
Nyeri teratasi
BAB III
METODE PENYUSUNAN KTI APLIKASI RISET
A. SubjekAplikasi Riset
Subjek dari aplikasi jurnal ini adalah ibu post partum usia 31 tahun, GP4A0 yang mengalami pembengkakan payudara.
B. TempatdanWaktu
Aplikasi riset ini dilakukan di Puskesmas Gajahan Surakarta selama 3 hari yaitu pada tanggal 04- 06 Januari 2016.
C. Media danAlat yang digunakan 1. Ruangan yang nyaman
2. Tempat tidur atau kursi dengan sandaran rileks
3. Tiga buah handuk (dua handuk kecil untuk kompres panas, satu handuk ukuran sedang untuk menutup dan mengeringkan payudara yang sudah dikompres)
4. Air yang bersuhu 41° C dalamwaskom 5. Termometer air danstopwatch.
6. Skala nyeri numerik untuk mengukur tingkat keparahan nyeri seorang pasien
D. ProsedurTindakan
Menurut Donald dan Susanne (2014), Prosedurtindakan kompres panas adalah sebagai berikut :
1. Persiapan pasien
a. Identifikasi status nyeri pasien b. Kaji kesiapan dan perasaan pasien
c. Berikan penjelasan tentang kompres panas payudara 2. Persiapan Alat dan Ruangan
a. Ciptakan lingkungan yang nyaman
b. Sediakan tempat tidur atau kursi dengan sandaran rileks 3. Tindakan
a. Jelaskan tujuan tindakan dan prosedur yang akan dilakukan b. Menjaga privacy klien
c. Menyiapkan istrumen yang akan digunakan
d. Siapkan air panas dan ukur suhunya terlebih dahulu e. Berikan posisi yang nyaman
f. Anjurkan klien untuk duduk bersandar
g. Anjurkan klien untuk membuka pakaian atas lalu meletakkan handu kukuran sedang pada bahu untuk menutup bagian payudara.
h. Lakukan kompres panas pada payudara pasien secara bergantian.
Cara mengompres, menggunakan handuk kecil yang sudah dicelup kan kedalam waskom yang berisi air panas lalu
dikompreskan pada bagian payudara mulai dari pangkal payudara menuju putting susu, setelah itu mengeringkan payudara
i. Bereskanalat dan merapikanpasien
E. Alat Ukur
Instrumen dalam penelitian ini adalah menggunakan skala nyeri numerik untuk mengukur tingkatan nyeri seorang pasien. Skala ini berbentuk garis horizontal yang menunjukkan angka dari 0 – 10, angka 0 menunjukkan tidak ada nyeri dan angka 10 menunjukkan nyeri yang paling hebat. Tingkat angka yang ditunjukkan oleh klien dapat digunakan untuk mengkaji efektivitas dari intervensi pereda rasa nyeri.
Menurut Andarmoyo (2013), skala ini dipersepsikan sebagai berikut : 0 = tidak ada nyeri
1 – 3 = nyeri ringan
4 - 6 = nyeri sedang
7 – 9 = nyeri berat
10 = nyeri paling hebat
Skala Nyeri Numerik Sumber : Andarmoyo (2013)
BAB IV
LAPORAN KASUS
A. Pengkajian
Pengkajian dilakukan pada tanggal 06 Januari 2016 pada pukul 09.00 WIB, pasien masuk pada tanggal 06 Januari 2016 pada pukul 02.00 WIB. Pengkajian dilakukan dengan metode anamnesa, observasi, pemeriksaan fisik serta studi dokumentasi. Pengkajian identitas klien didapatkan hasil, pasien bernama Ny.L umur 31 tahun, agama Islam pendidikan terakhir SLTA pekerjaan ibu rumah tangga, alamat Pasar Kliwon Surakarta. Identitas penanggungjawab yaitu Tn.B, umur 33 tahun hubungan dengan pasien adalah suaminya.
Riwayat kehamilan dari persalinan lalu : pasien mengatakan ini kehamilan yang keempat. Riwayat kehamilan saat ini : Pasien selama hamil memeriksakan kehamilannya sebanyak 6 kali ke bidan, pada saat hamil pasien tidak mengalami masalah kehamilan seperti mual dan muntah. Riwayat persalinan : jenis persalinan spontan. Bayi yang dilahirkan berjenis kelamin laki- laki dengan berat badan : 3300 gram, panjang badan : 49 cm, lingkar kepala : 34 cm, lingkar dada : 33 cm.
Perdarahan yang terjadi 300 cc.
Riwayat ginekologi : pasien mengatakan menarche pada umur 13 tahun, siklusnya 28 hari dan lamanya 6 hari serta warnanya merah kental.
Pasien mengatakan tidak ada masalah pada organ reproduksinya. Pasien
mengatakan menggunakan KB dengan metode KB suntik sejak anak pertama lahir selama 2 tahun kemudian setelah anak kedua lahir klien tidak menggunakan KB, setelah anak ketiga lahir klien menggunakan KB metode suntik selama 4 tahun. Status setelah persalinan GP4A0, bayi rawat gabung dengan ibunya.
Pemeriksaan fisik : keadaan umum baik, kesadaran composmentis, berat badan : 63 kg, tinggi badan : 150 cm. pemeriksaan tanda- tanda vital didapatkan hasil tekanan darah : 90/60 mmHg, nadi : 84 x/menit, suhu : 36°C, pernapasan : 24 x/menit.
Pemeriksaan Head to toe : pada pemeriksaan kepala didapatkan bentuk kepala mesocephal, warna rambut hitam dan bersih. Pada mata didapatkan konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, pupil isokor, reflek terhadap cahaya +/+ serta tidak menggunakan alat bantu penglihatan. Pada pemeriksaan hidung didapatkan bentuk hidung simetris, hidung bersih tidak ada sekret dan tidak ada polip. Pada pemeriksaan mulut didapatkan gigi dan mulut bersih dan tidak ada stomatitis. Pada pemeriksaan telinga didapatkan bentuk telinga ka/ki simetris, bersih, tidak ada serumen. Pada pemeriksaan leher didapatkan hasil tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan tidak ada pembesaran vena jugularis.
Pada pemeriksaan jantung didapatkan hasil bentuk dada simetris, ictus cordis tidak tampak namun teraba di SIC V midclavicula, pada perkusi didapatkan suara pekak pada jantung, saat di ausultasi terdengan irama regular dan suara jantung normal (lup-dup). Pada pemeriksaan paru-
paru didapatkan hasil dari inspeksi bentuk dada simetris, ekspansi paru ka/ki sama, saat di palpasi vocal premitus ka/ki sama saat dipekusi suara paru sonor dan saat dilakukan auskultasi tidak ada suara tambahan dan sonor di seluruh lapang paru.
Saat dilakukan pemeriksaan payudara didapatkan hasil nyeri payudara skala 6, payudara tampak membesar, putting susu membesar, terdapat pigmentasi areola berubah warna menjadi kehitaman, payudara teraba keras dan kencang serta ASI yang keluar sedikit.
Pada pemeriksaan abdomen didapatkan hasil involusi uterus belum kembali seperti semula, fundus uterus 32 cm, kontraksi baik dan keras, posisi abdomen globuler (membulat). Kandung kemih teraba keras, terisi urine. Diastasis rektus abdominalis tidak ada. Fungsi pencernaan klien sudah berfungsi dengan baik. Terdapat striae gravidarum di daerah abdomen.
Pemeriksaan perineum dan genetalia didapatkan tidak ada edema pada vagina, integritas kulit baik, masih ada perdarahan. Tidak dilakukan episiotomi pada perineum. Untuk tanda REEDA hasilnya : ada kemerahan (Redness), tidak ada bengkak (Edema), tidak ada bintik biru/kebiruan (Echimosis), ada pengeluaran cairan darah (Discharge), dan penyatuan jaringan tampak baik (Approximate). Perineum dan genetalia bersih, pengeluaran lokhea pada pasien hari pertama dan kedua jenis lokhea rubra (merah kental) hari ketiga dan keempat lokhea sangunolenta (merah kekuningan), konsistensi cair, baunya amis.
Pemeriksaan ekstremitas didapatkan : tidak ada edema, tidak ada jejas, kekuatan otot 4 pada ekstremitas atas ( kanan, kiri) bawah (kanan, kiri). Pengkajian pola eliminasi didapatkan hasil pasien mengatakan sudah bisa BAK frekuensi 2-3 x/hari, pancaran lemah tapi belum bisa BAB, konstipasi. Pengkajian pola istirahat dan kenyamanan, pasien mengatakan pola tidurnya saat ini, tidur malam 5-6 jam karena mengeluh tidak nyaman saat tidur kadang terbangun karenma nyeri pada perut dan payudara.
Pengkajian pola mobilisasi dan latihan didapatkan hasil pasien mengatakan melakukan mobilisasi sedikit-sedikit karena masih merasa sakit perut, latihan untuk menekuk kaki, miring kanan dan kiri, bangun tidur dan jalan- jalan. Pengkajian pola nutrisi dan cairan didapatkan hasil pasien mengatakan mau makan banyak, jenis nasi, sayur, daging dan air putih. Pengkajian keadaan mental didapatkan hasil : adaptasi psikologis pasien mengatakan bersyukur karena persalinan normal dan sangat bahagia karena bayinya selamat, sehat dan normal.
Pada tanggal 6 Januari 2016 terapi medik yang didapatkan terdiri dari : amoxilin 500 mg/ 12 jam sebagai antibiotik, Methylengometrine 0,125 mg/ 8 jam sebagai pencegah perdarahan rahim setelah makan, Vitamin A 200.000 IU/ 24 jam sebagai suplemen, menjaga kesehatan kulit, kelenjar dan kesehatan mata, Tablet tambah darah 60 mg/ 8 jam sebagai suplemen tambah darah dan memenuhi zat gizi, Asam mefenamat 500 mg/
8 jam sebagai analgesik.
B. Rumusan Masalah Keperawatan
Berdasarkan pengkajian pada pasien pada tanggal 06 Januari 2015 pukul 09.00 WIB, didapatkan :
Data subyektif : pasien mengatakan nyeri karena payudara keras, kencang dan bengkak serta ASI keluar sedikit, nyeri terasa seperti ditusuk- tusuk, skala nyeri 5, nyeri datang hilang timbul. Data obyektif : pasien tampak meringis kesakitan saat payudara tersenggol atau ditekan, payudara teraba kencang dan keras. Tanda vitalnya : tekanan darah 90/60 mmHg, nadi 84 x/menit, pernapasan 24 x/menit, suhu 36,3°C. Sehingga didapatkan diagnosa keperawatan nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis ( bendungan payudara).
Data subyektif : pasien mengatakan ASI keluar sedikit, bayi rewel dan menangis setelah menyusui. Data obyektif : payudara teraba keras dan kencang, ASI keluar sedikit, terdapat nyeri tekan payudara. Sehingga didapatkan diagnosa keperawatan ketidakefektifan pemberian ASI berhubungan dengan kurang pengetahuan ( perawatan payudara).
Berdasarkan analisa data diatas penulis dapat memprioritaskan diagnosa keperawatan sebagai berikut , prioritas yang pertama adalah nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis ( bendungan payudara). Prioritas diagnosa keperawatan yang kedua adalah ketidakefektifan pemberian ASI berhubungan dengan kurang pengetahuan.
C. Rencana Keperawatan
Berdasarkan perumusan masalah, maka penulis menentukan rencana keperawatan sesuai dengan diagnosa keperawatan yang telah ditentukan :
Diagnosa keperawatan pertama nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis ( bendungan payudara). Rencana tindakan betujuan agar setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam masalah nyeri (bendungan payudara) dapat teratasi dengan kriteria hasil : nyeri berkurang dari skala 5 menjadi skala 1, pasien tidak tampak meringis kesakitan, pasien mampu mengontrol nyeri dan tampak rileks, tanda vital dalam batas normal, TD : 120/80 mmHg N : 60-100 x/menit RR : 16-24 x/menit S : 36,5-37°C .
Rencana keperawatan yang ditetapkan adalah kaji skala nyeri PQRST dengan rasional untuk mengetahui skala nyeri pasien. Observasi pembengkakan payudara yang rasionalnya untuk mengetahui keadaan payudara. Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam dengan rasional untuk merilekskan otot ketika merasakan nyeri. Berikan kompres panas dengan rasional untuk mengurangi nyeri payudara. Kolaborasi dengan keluarga terkait perawatan payudara pasien.
Diagnosa keperawatan kedua ketidakefektifan pemberian ASI berhubungan dengan kurang pengetahuan ( perawatan payudara). Rencana tindakan bertujuan agar setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam masalah ketidakefektifan pemberian ASI dapat teratasi dengan
kriteria hasil : perlekatan bayi yang sesuai pada payudara ibu, ibu tidak mengalami nyeri tekan pada payudara, keberlangsungan pemberian ASI lancar serta ibu mengetahui tanda payudara penuh.
Rencana keperawatan yang ditetapkan adalah pantau keterampilan ibu dalam menempelkan bayi ke putting susu dengan rasional untuk mengetahui apakan cara menyusui yang benar. Ajarkan cara menyusui yang benar dengan rasional untuk mempermudah ibu menyusui bayinya.
Berikan informasi tentang teknik perawatan payudara dengan rasional agar ibu mengerti cara perawatan payudara yang benar. Ajarkan cara memompa ASI dengan menggunakan alat dengan rasional untuk mengeluarkan ASI agar tidak menjadi bendungan payudara. Kolaborasi dengan keluarga terkait penyimpanan ASI setelah dipompa dengan rasional agar ibu mengetahui cara menyimpan ASI dengan benar
D. Tindakan Keperawatan
Tindakan keperawatan yang dilakukan pada tanggal 9 Januari 2016 pada diagnosa keperawatan nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis ( bendungan payudara) adalah jam 10.00 WIB mengkaji nyeri PQRST dan mengobservasi payudara dengan respon subjektif pasien mengatakan nyeri karena payudara keras, bengkak dan ASI keluar sedikit, nyeri terasa seperti ditusuk- tusuk, nyeri pada payudara, skala nyeri 5, nyeri datang hilang timbul. Skala pembengkakan payudara skore 4 (payudara keras, kencang dan terisi penuh) dan respon objektif yaitu
pasien tampak meringis kesakitan saat payudara tersenggol atau ditekan, payudara teraba keras, kencang dan terisi penuh, ASI yang keluar sedikit.
Jam 10.15 WIB memberikan kompres panas dan relaksasi nafas dalam dengan respon subjektif pasien mengatakan bersedia dan mulai lebih nyaman serta nyeri yang dirasakan berkurang. Respon objektif payudara teraba keras dan kencang, skore pembengkakan payudara 3 ( payudara keras tapi tidak terisi penuh).
Tindakan keperawatan yang dilakukanpada diagnosa keperawatan ketidakefektifan pemberian ASI berhubungan dengan kurang pengetahuan ( perawatan payudara) pada jam 11.00 WIB mengajarkan cara menyusui dengan teknik yang benar dengan respon subjektif pasien mengatakan mengerti dan respon objektif pasien tampak mencoba cara menyusui dengan benar, bayi dapat menghisap putting susu ibu, bayi tampak rewel saat menyusu. Jam 11.30 WIB memberikan informasi tentang teknik memompa ASI dengan alat dengan respon subjektif pasien mengatakan mengerti dan akan memompa ASI ketika payudara penuh dan respon objektif pasien tampak mencoba dan ASI keluar sedikit.
Tindakan yang dilakukan pada tanggal 10 Januari 2016 pada diagnosa keperawatan nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis ( bendungan payudara)pada jam 15.00 WIB mengkaji nyeri PQRST dan mengobservasi payudara dengan respon subjektif pasien mengatakan nyeri karena payudara keras, bengkak dan ASI keluar sedikit, nyeri terasa dan bisa ditahan, nyeri pada payudara, skala nyeri 4, nyeri datang hilang
timbul. Skala pembengkakan payudara skore 2 ( sedikit keras pada payudara). Respon objektif pasien sudah tampak lebih rileks, payudara teraba sedikit keras ASI keluar sedikit. Jam 15.30 WIB memberikan kompres panas dengan respon subjektif pasien mengatakan bersedia dan mengatakan nyeri berkurang dan respon objektif payudara teraba sedikit keras tapi tidak terisi penuh, pasien tampak lebih nyaman. Jam 15.45 WIB mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam dengan respon subjektif pasien mengatakan bersedia melakukan relaksasi nafas dalam dan respon objektif pasien tampak nafas dalam ketika merasakan nyeri.
Tindakan keperawatan yang dilakukanpada diagnosa keperawatan ketidakefektifan pemberian ASI berhubungan dengan kurang pengetahuan ( perawatan payudara) adalah jam 16.00 WIB mengajarkan teknik memompa ASI dengan menggunakan alat dengan respon subjektif pasien mengatakan mengerti dan mau memompa ASI jika ASI tidak keluar lancar dan respon objektif pasien tampak memompa ASI secara mandiri. Jam 16.20 WIB memantau ketrampilan ibu dalam menempelkan bayi ke putting susu dengan respon subjektif pasien mengatakan bisa melakukannya dan respon objektif pasien melakukannya dengan benar dan bayi dapat menghisap putting susu.
Tindakan keperawatan yang dilakukan pada tanggal 11 Januari 2016 pada diagnosa keperawatan nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis ( bendungan payudara)adalah jam 10.00 WIB mengkaji nyeri PQRST dan mengobservasi payudara dengan respon subjektif pasien
mengatakan nyeri karena payudara keras, bengkak dan ASI keluar sedikit, nyeri terasa dan bisa ditahan, nyeri pada payudara, skala nyeri 2, nyeri datang hilang timbul. Skala pembengkakan payudara skore 1 ( lembut dan tidak ada bendungan pada payudara). Respon objektif payudara teraba lembut dan ibu mengerti cara mengosongkan payudara. Jam 10.30 WIB memberikan kompres panas dengan respon subjektif pasien mengatakan bersedia dan nyeri sudah berkurang dan respon objektif payudara teraba lembut dan tidak terisi penuh.
Tindakan keperawatan yang dilakukanpada diagnosa keperawatan ketidakefektifan pemberian ASI berhubungan dengan kurang pengetahuan ( perawatan payudara) adalah jam 11.00 WIB memberikan perawatan payudara (breast care) dengan respon subjektif pasien mengatakan bersedia dan respon objektif pasien tampak rileks, ASI sudah keluar dan payudara teraba lembut. Jam 11.30 WIB mengajarkan cara memompa ASI dengan menggunakan alat dengan respon subjektif pasien mengatakan mengerti dan respon objektif pasien tampak memompa ASI secara mandiri, ASI sudah keluar lancar. Jam 11.45 WIB kolaborasi dengan keluarga terkait perawatan payudara dengan respon subjektif pasien mengatakan keluarga bersedia membantu klien dalam perawatan payudara dan respon objektif keluarga tampak membantu klien dalam perwatan payudara.
E. Evaluasi Keperawatan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan pada tanggal 9 Januari 2016 pada jam 14.00 WIB didapatkan hasil evaluasi dengan metode SOAP pada diagnosa keperawatan pertama yaitu nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis ( bendungan payudara). Subjektif pasien mengatakan nyeri pada payudara dan merasa lebih nayaman setelah diberikan kompres panas, nyeri karena payudara keras, bengkak dan ASI keluar sedikit, nyeri terasa seperti ditusuk- tusuk, nyeri pada payudara, skala nyeri 5, nyeri datang hilang timbul. Skala pembengkakan payudara skore 4 (payudara keras, kencang dan terisi penuh) namun setelah diberikan kompres panas skore turun dari 4 menjadi 3 (payudara keras tapi tidak terisi penuh).
Objektif yaitu pasien tampak meringis kesakitan saat payudara tersenggol atau ditekan, ASI keluar sedikit, payudara teraba keras dan kencang.
Analisa masalah belum teratasi. Planning intervensi dilanjutkan yaitu kaji nyeri PQRST, observasi payudara, berikan kompres panas dan relaksasi nafas dalam, kolaborasi dengan keluarga terkait perawatan payudara.
Hasil evaluasi pada diagnosa keperawatan kedua yaitu ketidakefektifan pemberian ASI berhubungan dengan kurang pengetahuan ( perawatan payudara) pada jam 14.20 WIB didapatkan, subjektif yaitu pasien mengatakan ASI keluar sedikit, mengerti cara memompa ASI menggunakan alat jika payudara terisi penuh, serta paham cara menyusui yang benar. Objektif yaitu pasien mampu menjelaskan dan mempraktekkan cara menyusui dengan benar, ASI keluar sedikit. Analisa
masalah belum teratasi. Planning intervensi dilanjutkan yaitu berikan informasi teknik memompa ASI, pantau ketrampilan ibu menyusui bayinya.
Tanggal 10 Januari 2016 pada jam 17.00 WIB didapatkan hasil evaluasi dengan metode SOAP pada diagnosa keperawatan pertama yaitu nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis ( bendungan payudara). Subjektif pasien mengatakan nyeri berkurang, ASI keluar sedikit, pasien merasa lebih nyaman setelah diberikan kompres panas,nyeri karena payudara keras, bengkak dan ASI keluar sedikit, nyeri terasa seperti ditusuk- tusuk, nyeri pada payudara, skala nyeri 3, nyeri datang hilang timbul. Skala pembengkakan payudara skore 2 (sedikit keras pada payudara). Objektif yaitu payudara teraba sedikit keras, masih nyeri tapi tidak begitu parah, pasien tampak lebih rileks. Analisa masalah teratasi sebagian. Planning intervensi dilanjutkan dengan kaji nyeri PQRST, observasi payudara, berikan kompres panas dan relaksasi, kolaborasi dengan keluarga terkait perawatan payudara.
Hasil evaluasi pada diagnosa keperawatan kedua yaitu ketidakefektifan pemberian ASI berhubungan dengan kurang pengetahuan ( perawatan payudara) pada jam 17.20 WIB didapatkan, subjektif pasien mengatakan bisa melakukan menyusui dengan benar dan memompa ASI menggunakan alat secara mandiri. Objektif yaiuti pasien mampu menyusui bayinya dengan benar dan dapat memompa ASI secara mandiri, ASI keluar sedikit. Analisa masalah teratasi sebagian. Planning intervensi
dilanjutkan dengan berikan informasi teknik memompa ASI, pantau ketrampilan ibu menyusui bayinya.
Tanggal 11 Januari 2016 pada jam 12.00 WIB didapatkan hasil evaluasi dengan metode SOAP pada diagnosa keperawatan pertama yaitu nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis ( bendungan payudara). Subjektif pasien mengatakan nyeri berkurang, ASI sudah keluar lancar, payudara tidak keras dan bengkak serta sudah mengetahui cara melakukan perawatan payudara,nyeri karena payudara keras, bengkak dan ASI keluar sedikit, nyeri bisa ditahan, nyeri pada payudara, skala nyeri 1, nyeri datang hilang timbul. Skala pembengkakan payudara skore 1 (payudara lembut dan tidak ada perubahan payudara). Objektif yaitu payudara teraba lembut, ibu sudah mengerti cara mengosongkan payudara apabila terisi penuh. Analisa masalah teratasi. Intervensi dihentikan.
Hasil evaluasi pada diagnosa keperawatan kedua yaitu ketidakefektifan pemberian ASI berhubungan dengan kurang pengetahuan ( perawatan payudara) pada jam 12.20 WIB didapatkan, subjektif pasien mengatakan sudah mengetahui cara menyusui yang benar dan sudah bisa teknik memompa ASI menggunakan alat. Objektif yaiuti pasien mampu memompa ASI secara mandiri, ASI keluar lancar. Analisa masalah teratasi. Intervensi dihentikan.