18
BAB II
STUDI KEPUSTAKAAN TEMUAN DAN PEMBAHASAN
A. Studi Kepustakaan Tindak Pidana Kekerasan Fisik oleh Suami Terhadap Istri yang Tidak Menimbulkan Halangan untuk Melakukan Kegiatan Sehari-Hari dalam Perspektif Teori Keadilan Bermartabat
Bagian yang pertama dari Bab ini berisi kajian pustaka tentang konsep- konsep yang terdapat di dalam tindak pidana kekerasan fisik yang dilakukan oleh suami terhadap isteri yang tidak menimbulkan halangan untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Berikut di bawah ini konsep-konsep dan pengertian dari konsep-konsep tersebut diuraikan satu demi satu. Uraian akan dimulai dengan konsep tindak pidana. Selanjutnya digambarkan konsep kekerasan.
1. Teori Keadilan Bermartabat
Teori Keadilan Bermartabat merupakan teori hukum baru. Teori Keadilan Bermartabat dikemukakan oleh Teguh Prasetyo. Menurut teori Keadilan Bermartabat, hukum dapat ditemukan di dalam jiwa bangsa atau yang disebut sebagai volkgeist. Bentuk nyata dari volkgeist adalah peraturan perundang- undangan dan putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap. Adapun yang menjadi fungsi dari teori Keadilan Bermartabat adalah untuk menjelaskan dan menjustifikasi suatu sistem hukum. Kehadiran teori Keadilan Bermartabat tidak bersifat sebagai kompetitor dari teori-teori hukum yang sudah ada sebelumnya.
Kehadiran teori Keadilan Bermartabat tidak mengendaki adanya konflik-konflik
19
dari teori-teori lainnya.18 Teori ini disebut bermartabat karena Keadilan Bermartabat merupakan wujud dari pemahaman dan penjelasan ilmiah tentang keharmonisan antara konsep hukum yang terdapat dalam kaidah dan asas-asas hukum yang berlaku serta doktrin yang merupakan wajah, struktur, atau susunan dan isi dari spirit masyarakat yang berdasarkan sistem hukum Pancasila.19 Dalam sistem hukum yang berdasarkan Pancasila, artinya Pancasila adalah jiwa bangsa atau volkgeist. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, begitu pula sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia menjadi sumber dari segala sumber hukum, atau menjadi kesepakatan pertama.20 Tujuan terpenting dari adanya hukum adalah untuk memenuhi keadilan. Tegaknya hukum dan keadilan serta penghormatan terhadap keluhuran nilai kemanusiaan merupakan prasyarat tegaknya martabat dan integritas Negara.21 Thomas Aquinas menjelaskan bahwa keadilan sendiri dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu keadilan umum (iustita generalis) dan keadilan khusus (iustitia specialis).22 Keadilan umum merupakan konsep keadilan yang berkaitan dengan hubungan antar manusia dengan memberikan apa yang menjadi haknya.23 Sedangkan keadilan khusus terdiri dari keadilan distributif, komutatif, dan keadilan vindikatif.
Keadilan distributif menekankan pada pembagian hak dan kewajiban secara
18 Adriana Pakendek, Cerminan Keadilan Bermartabat Dalam Putusan Pengadilan Berdasarkan Pancasila, Jurnal Yustitia, Vol., 18 No., 1, Mei, 2017, hal., 24.
19 Muhammad Khambali, Perlindungan Hukum Masyarakat terhadap Cybercrimes Berbasis Keadilan Bermartabat, Jurnal Cakrawala Hukum, Vol., XIII No., 2, 2017, hal., 35.
20 Teguh Prasetyo & Abdul Halim Barkatullah, Filsafat, Teori, & Ilmu Hukum Pemikiran menuju Masyarakat yang Berkeadilan dan Bermartabat, Cetakan ke-1, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2012, hal., 367.
21 Adriana Pakendek, Loc., Cit.
22 Mashuril Anwar, Rini Fathonah, Niko Alexander, Menelaah Keadilan dalam Kebijakan Penanggulangan Illegal Fishing di Indonesia: Perspektif Konsep Keadilan Thomas Aquinas, Jurnal SASI, Vol., 27, No., 2, 2021, hal., 129.
23 P. Srisusilawati, & N. Eprianti, Penerapan Prinsip Keadilan dalam Akad Mudharabah di Lembaga Keuangan Syariah, Law and Justice, Vol., 2, No., 1, 2017, hal., 12-23.
20
proporsional. Keadilan komutatif menekankan pada interaksi melalui pertukaran atar invidu. Sedangkan keadilan vindikatif mengarah kepada pembalasan yang setimpal.24
2. Konsep Tindak Pidana
Berdasarkan KBBI, delik merupakan suatu perbuatan yang dapat dikenakan hukuman karena melanggar apa yang tertera dalam peraturan perundang- undangan. Tindak pidana biasanya disejajarkan dengan delik, yang berasal dari bahasa Latin yaitu delictum.25 Para ahli hukum pidana telah memberikan definisi dari konsep atau istilah tindak pidana. Konsep tindak pidana memiliki persamaan arti dengan konsep (strafbaarfeit) dalam Hukum pidana Belanda. Para ahli hukum mencoba untuk memberikan pengertian dari istilah tersebut, namun sampai saat ini belum ada keseragaman pendapat mengenai definisi dari strafbaarfeit.26 Konsep tindak pidana (strafbaarfeit) mempersoalkan suatu perbuatan atau tindakan manusia yang mempunyai hak dan kewajiban sebagai suatu perbuatan atau tindakan yang melawan hukum atau melanggar hak orang lain. Perbuatan pidana atau tindak pidana adalah suatu perbuatan yang dilarang dan diancam hukum pidana oleh undang-undang hukum pidana bagi siapa yang melanggar larangan tersebut. Hal ini sejalan dengan pandangan Simons. Menurut Simons strafbaarfeit atau tindak pidana adalah suatu tindakan melanggar hukum yang telah di lakukan dengan sengaja ataupun dengan tidak sengaja oleh orang yang
24M. Erwin, Filsafat Hukum Refleksi Kritis terhadap Hukum Indonesia (dalam Dimensi Ide dan Aplikasi), Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2016, hal., 12.
25Teguh Prasetyo, Hukum Pidana, Cetakan 8, Raja Grafindo Persada, Depok, 2017, hal., 47.
26Teguh Prasetyo, Keadilan Bermartabat Prespektif Teori Hukum, Cet., 1, Peneribit Nusa Media, Bandung, 2015, hal., 3-4.
21
dapat dipertanggung jawabkan atas tindakannya dan yang oleh undang-undang telah dinyatakan sebagai suatu tindakan yang dapat dihukum.27
Menurut Zainal Abidin Farid, Strafbaarfeit adalah istilah dengan makna universal yang dikenal semua orang terutama ahli hukum.28 Selanjutnya S. R.
Sianturi merumuskan bahwa tindak pidana adalah sebagai suatu tindakan pada, tempat, waktu, dan keadaan tertentu yang dilarang (atau diharuskan) dan diancam dengan pidana oleh undang-undang bersifat melawan hukum, serta dengan kesalahan dilakukan oleh seseorang (yang bertanggungjawab).29 Menurut Pompe, strafbaar feit secara teoritis dapat merumuskan sebagai suatu pelanggaran norma (gangguan terhadap tertib hukum) yang dengan sengaja ataupun dengan tidak disengaja telah dilakukan oleh seorang pelaku, di mana penjatuhan terhadap pelaku tersebut adalah perlu demi terpeliharanya tertib hukum dan terjaminnya kepentingan hukum.30 Menurut Indiyanto Seno Adji tindak pidana adalah perbuatan seseorang yang diancam pidana, perbuatannya bersifat melawan hukum, terdapat suatu kesalahan yang bagi pelakunya dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya.31 Menurut Moeljatno tindak pidana adalah suatu perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana barang siapa yang melanggar hukum.32 Menurut Vos adalah salah satu diantara para ahli yang
27P. A. F. Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Cetakan ke.., Citra Aditya Bakti, Bandung, 1997, hal,. 185.
28Prof Dr. A. Zainal Abidin Farid, Hukum Pidana I Politik dan Hukum, SINAR Grafika, Jakarta, 1995, hal., 170.
29Amir Ilyas, Asas-Asas Hukum Pidana, Rangkang Education Yogyakarta & PuKAP Indonesia, 2012, hal., 18-19.
30 Erdianto Effendi, Hukum Pidana Indonesia Suatu Pengantar, Refika Aditama Bandung, 2014, hal., 97.
31Indriyanto Seno Adji, Korupsi dan Hukum Pidana, Kantor Pengacara dan Konsultasi Hukum
“Prof. Oemar Seno Adji & Rekan, Jakarta, 2002, hal.,155.
32S.R Sianturi, Asas-Asas Hukum Pidana dan Penerapannya di Indonesia Cetakan Ke-2,
22
merumuskan tindak pidana secara singkat, yaitu suatu kelakuan manusia yang oleh peraturan perundang-undangan pidana diberi pidana.33 Tindak Pidana merupakan permasalahan manusia dan juga sosial.34
3. Konsep Kekerasan Fisik
Kekerasan adalah perbuatan seseorang baik secara kelompok maupun individu yang mengakibatkan kerusakan fisik atau matinya individu lain.35 Dalam bahasa Inggris, kata kekerasan disebut dengan violence. Maka dari itu, kekerasan merujuk pada kekerasan fisik maupun psikologis.36 Kekerasan juga merupakan hal yang bersifat atau berciri keras yang menyebabkan cidera atau matinya orang lain, kerusakan fisik, barang atau paksaan
.
37Pengertian dari kekerasan fisik diatur di dalam Pasal 6 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004. Pasal tersebut menyatakan bahwa kekerasan fisik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat.Berdasarkan rumusan Pasal 6 ini, kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat. Jadi, kekerasan fisik ini dilihat dalam kaitannya dengan akibat dari kekerasan, yaitu mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat.38 Dalam hal ini, yang digolongkan sebagai rasa
Alumni AHAEM PTHAEM, Jakarta, 1998, hal., 208.
33Andi Hamzah, Asas-Asas Hukum Pidana Edisi Revisi, Rineka Cipta, Jakarta, 2004, hal., 97.
34Marc Ancel, Social Defence: A Modern Approach to Criminal Problems, Routledge &
Paul Kegan, London, 1965, hal., 99
35W. J. S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, P. N. Balai Pustaka, Jakarta, 1990, hal., 425.
36Soejono Sukanto, Kriminologi (Pengantar Sebab‐Sebab Kejahatan), Politea, Bandung, 1987, hal., 125.
37M. Marwan dan Jimmy P., Kamus Hukum , Reality Publisher, Surabaya, 2009, hal., 343.
38 Taisja Limbat, Perlindungan Anak Terhadap Kekerasan Menurut Undang-Undang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, Lex Crimen, Vol., 3, No., 3, 2014, hal., 50.
23
sakit tidak perlu hingga menimbulkan perubahan ciri-ciri fisik. Rasa sakit hanya cukup bahwa seseorang merasa sakit.39
Dalam putusan Hoge Raad (Mahkamah Agung Belanda) tanggal 25-6- 1984, penganiayaan diartikan sebagai kesengajaan untuk menimbulkan perasaan sakit atau untuk menimbulkan sesuatu luka pada orang lain.40 Sedangkan menurut Lourensz & Powel, kekerasan fisik adalah suatu perbuatan yang disadari sehingga menghasilkan luka fisik.41 Kekerasan juga dapat didefinisikan sebagai serangan memukul yang masuk dalam katergori hukum yang mengacu pada perbuatan ilegal yang melahirkan ancaman dan penerapan kekuatan fisik kepada seseorang.42 Sedangkan Yesmil Anwar menjelaskan bahwa kejahatan kekerasan merupakan penggunaan kekuatan fisik yang melibatkan kekuasaan untuk mengancam terhadap diri sendiri, peorangan, atau kelompok orang sehingga menyebabkan memar atau trauma, kematian, kerugian psikologis, kelainan perkembangan atau perampasan hak.43 Di dalam KUHP, kejahatan kekerasan digolongan dengan kejahatan terhadap nyawa orang lain (Pasal 338-350 KUHP), kejahatan penganiayaan (Pasal 351-358 KUHP), kejahatan seperti pencurian, penodongan, perampokan (Pasal 365 KUHP), kejahatan terhadap kesusilaan (Pasal 285 KUHP), kejahatan yang menyebabkan kematian, atau luka kealpaan (Pasal 359-367 KUHP).44
39 I Wayan, Analisis Pembuat, Perbuatan, Dan Tindak Pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga, Jurnal Kertha Patrika, Vol., 40, No., 3, 2018, hal., 204.
40 P. A. F. Lamintang & C. D. Samosir, Hukum Pidana Indonesia, Sinar Baru, Bandung, 1983, hal. 144.
41 Beatriks Novianti Kiling-Bunga & Indra Yohanes Kiling, Tinjauan Persepsi Anak Terhadap Kekerasan, Journal of Health and Behavioral Science, Vol., 1, No., 2, 2019, hal., 90.
42 Topo Santoso, Kriminologi, Grafindo Persada, Jakarta, 2002, hal., 24.
43 Yesmil Anwar, Saat Menuai Kejahatan: Sebuah Pendekatan Sosiokultural Kriminologi Hukum, UNPAD Press, Bandung, 2004, hal., 54.
44 R. Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Serta Komentarnya Pasal Demi Pasal, Politea, Bogor, 1991, hal., 84-85.
24
B. Temuan Tindak Pidana Kekerasan Fisik oleh SuamiTerhadap Istri yang Tidak Menimbulkan Halangan untuk Melakukan Kegiatan Sehari-Hari dalam Perspektif Teori Keadilan Bermartabat
Sesuai dengan judul sub bab ini, berikut di bawah ini digambarkan tindak pidana kekerasan fisik oleh suami terhadap istri yang tidak menimbulkan halangan untuk melakukan kegiatan sehari-hari dalam perspektif teori Keadilan Bermartabat. Gambaran tindak pidana tersebut dikemukakan dalam rangka menjawab pertanyaan yang terdapat dalam rumusan masalah penelitian di bab terdahulu. Gambaran dimaksud sesuai dengan ilmu penemuan hukum berisi putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap. Ada dua temuan atau dua hasil penelitian yang digambarkan dalam sub bab ini. Di bagian pertama diuraikan putusan nomor 90/PID.B/2009/PN.PMS. Kemudian di bagian yang kedua digambarkan temuan yang kedua berupa putusan nomor 473/Pid/2009/PT.Mdn. Selanjutnya di bagian yang ketiga digambarkan temuan ketiga berupa putusan nomor 103 K/Pid.Sus/2010.
Diharapkan dengan gambaran dari ketiga putusan atau temuan tersebut dapat diketahui secara lebih jelas tindak pidana kekerasan fisik oleh suami terhadap istri yang tidak menimbulkan halangan untuk melakukan kegiatan sehari- hari dalam perspektif teori Keadilan Bermartabat. Putusan pengadilan dimaksud dalam ilmu penemuan hukum adalah temuan. Berikut ini temuan tindak pidana kekerasan fisik oleh suami terhadap istri yang tidak menimbulkan halangan untuk melakukan kegiatan sehari-hari dalam perspektif teori Keadilan Bermartabat yang pertama. Menurut teori Keadilan Bermartabat seperti telah disinggung di atas,
25
apabila orang mau menemukan hukumnya maka hukumnya tersebut harus ditemukan dalam jiwa bangsa (volkgeist). Manifestasi atau wujud konkrit dari volkgeist tersebut adalah peraturan perundang-undangan yang berlaku dan putusan-putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap. Hukumnya atau hukum yang dicari dan dijelaskan di bawah ini adalah kaidah (temuan pertama) tentang tindak pidana kekerasan fisik oleh suami terhadap istri yang tidak menimbulkan halangan untuk melakukan kegiatan sehari-hari dalam perspektif teori Keadilan Bermartabat.
1. Putusan Nomor 90/PID.B/2009/PN.PMS (Pengadilan Negeri Pematang Siantar)
Temuan nomor 90/Pid.B/2009/PN.PMS tentang tindak pidana kekerasan fisik oleh suami terhadap istri yang tidak menimbulkan halangan untuk melakukan kegiatan sehari-hari dalam perspektif teori Keadilan Bermartabat telah memenuhi syarat sebagai suatu kaidah hukum karena didasarkan atas prinsip dalam hukum acara pidana, bahwa suatu putusan harus berisi irah-irah Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Putusan ini adalah putusan Pengadilan Negeri Republik Indonesia di tingkat pertama. Kadiah hukum yang terdapat dalam putusan ini adalah kaidah hukum pidana khusus. Putusan ini dibuat pada tahun 2009 dalam perkara yang melibatkan terdakwa yaitu Hotman Siadari, seorang yang beragama dan bekerja sebagai pegawai PNS. Terdakwa, seorang laki-laki berkebangsaan Indonesia lahir di Prapat pada tanggal 12 Agustus 1975.
Terdakwa tinggal di Jalan Simarjarunjung No.2, Kelurahan Karo,Kecamatan Siantar Marihat, Pematang Siantar.
Ketika proses persidangan berlangsung, Terdakwa yaitu Hotman Siadari
26
tidak berada di dalam Tahanan. Duduk perkara di Pengadilan Negeri Pematang Siantar tersebut adalah sebagai berikut: Tempus delicti atau waktu dilakukannya perbuatan pidana yang didakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum adalah sebagai berikut. Tindak pidana dilakukan pada tanggal 19 Desember 2008 atau setidak- tidaknya pada waktu masih dalam tahun 2008. Locus delicti atau tempat terjadinya tindak pidana yang dilakukan oleh Terdakwa sebagaimana dakwaan Jaksa Penuntut Umum adalah di Jalan Simarjarunjung No.2 Kel. Karo Kec.
Siantar Marihat Kota Pematang Siantar atau setidak- tidaknya di tempat tertentu dalam daerah hukum Pengadilan Negeri Pematang Siantar yang berwenang memeriksa dan mengadili Terdakwa.
Menurut Jaksa Penuntut Umum, Terdakwa telah melakukan perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga. Perbuatan kekerasan fisik tersebut dilakukan oleh suami terhadap istri. Terdakwa diajukan ke Pengadilan Negeri Pematang Siantar dengan dakwaan primair dan dakwaan subsidair. Adapun dalam dakwaan primain perbuatan terdakwa diatur dan diancam pidana dalam Pasal 44 ayat (1) Undang- Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Sedangkan dalam dakwaan subsidair, perbuatan terdakwa diatur dan diancam pidana dalam Pasal 44 ayat (4) Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
Adapun modus operandi yang dilakukan oleh terdakwa adalah sebagai berikut. Surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum menguraikan modus operandi Terdakwa. Pada mulanya saksi Martina Goretti Br Silalahi yang merupakan istri dari terdakwa sedang memasak di dapur. Sedangkan terdakwa sedang memberi makan anak mereka. Setelah selesai memberi makan, Terdakwa hendak memberi
27
susu yang sudah disiapkan penjaga/pengasuh anak mereka sebelumnya. Disaat terdakwa mendapati bahwa susu tersebut terasa dingin, terdakwa mengira susu tersebut dibuat dengan air dingin. Karena hal tersebut, terdakwa murka dan mengatakan “Oh Naritikon” (Oh yang gila ini). Mendengar perkataan terdakwa, saksi korban Martina Goretti Br Silalahi merasa tersinggung. saksi korban Martina Goretti Br Silalahi menjawab dengan mengatakan “Te on” (Taik=
Kotoran). Terdakwa membalas dengan mengatakan, “So na tu ho hudokkon, tu san do” (bukan kau yang ku bilang, dia nya) sambil mulutnya diarahkan ke penjaga anak mereka. Terdakwa mengambil kain lap dan melemparkan kain tersebut kepada saksi Martina Goretti Br Silalahi. Setelah itu terdakwa pergi mengambil handuk lalu ke kamar mandi.
Kemudian saksi Martina Goretti Br Silalahi menggendong anak mereka sambil berkata “betul lah kau keturunan abang-abangmu pun suka memukul isterinya”. Mendengar perkataan saksi Martina Goretti Br Silalahi, Terdakwa langsung mendatangi saksi Martina Goretti Br Silalahi. Terdakwa memukul/menumbuk bagian kepala saksi sebanyak tiga kali, yaitu sebelah kiri, sebelah kanan, serta tengah. Terdakwa memukul dengan menggunakan tangannya. Terdakwa juga menunjang paha sebelah kiri dan kanan saksi Martina Goretti Br Silalahi. Saksi Martina Goretti Br Silalahi tidak tahan dan merasa kesakitan. Setelah itu saksi Martina Goretti Br Silalahi melepaskan anak mereka dari gendongan dan berlari keluar rumah meminta tolong sambil menangis ke rumah tetangga dengan mengatakan “Mak Ekel... Mak Ekel.... tolong aku mau dimatikan.” Tetangga saksi Mak Ekel mengatakan pada saksi korban “ya udahlah kak jangan nangis.” Tidak berapa lama keluar pengasuh anak mereka dan
28
memeluk saksi Martina Goretti Br Silalahi. Setelah itu saksi korban masuk kembali ke dalam rumah untuk menggendong anaknya.
Keterangan saksi korban ini juga dikuatkan oleh keterangan saksi Helida Simanjuntak yang memberikan keterangan di bawah sumpah/janji. Keterangan tersebut menyatakan bahwa ia adalah pengasuh anak saksi dan Terdakwa. Pada saat kejadian saksi melihat sendiri karena saksi sedang mencuci piring di dapur.
Saksi mendengar antara saksi korban dengan Terdakwa bertengkar masalah susu yang akan diberikan kepada anak mereka adalah susu dingin. Terdakwa melempar saksi dengan kain lap. Karena pertengkaran masih berlanjut, terdakwa bertambah emosinya dan memukul (meninju) kepala bagian belakang saksi korban sebanyak dua kali. Terdakwa juga menendang bagian paha saksi korban sebanyak dua kali Saksi korban merasa kesakitan lalu berlari keluar rumah sambil berteriak minta tolong.
Demikian juga dengan keterangan saksi Lusiana alias Mak Ekel yang merupakan tetangga saksi korban. Dalam BAP-nya menerangkan bahwa saat itu saksi sedang menonton televisi dan mendengar suara jeritan saksi korban meminta tolong. Saksi keluar dari rumah dan melihat saksi korban menangis. Tidak lama pengasuh anak saksi juga keluar lalu memeluk saksi korban sambil bertangis- tangisan. Saksi mendekati saksi korban sambil menghibur saksi korban dan mengatakan “sabarlah da”.
Selanjutnya berdasarkan pertimbangan alat bukti dan saksi yang telah di hadirkan di muka persidangan maka Majelis Hakim menyatakan 1.Terdakwa tersebut dalam perkara ini bernama Hotman Siadari tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya
29
dalam dakwaan primer; 2. Membebaskan Terdakwa Hotman Siadari dari dakwaan primer tersebut; 3. Menyatakan Terdakwa tersebut dalam perkara ini bernama Hotman Siadari telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “melakukan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga yang dilakukan oleh suami terhadap isteri yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan atau kegiatan sehari-hari”; 4. Menjatuhkan pidana oleh karena itu kepada Terdakwa Hotman Siadari dengan pidana penjara selama tiga bulan; 5. Menetapkan bahwa pidana tersebut tidak perlu dijalani kecuali jika di kemudian hari ada putusan Hakim yang menentukan lain disebabkan karena Terdakwa melakukan tindak pidana sebelum berakhirnya masa percobaan selama enam bulan; 6. Membebankan kepada Terdakwa untuk membayar biaya perkara ini sebesar Rp.1.000,-
2. Putusan Nomor 473/Pid/2009/PT.Mdn (Pengadilan Tinggi Medan)
Kemudian, Penulis akan mengemukakan putusan pengadilan tinggi Medan dalam hasil penelitian ini. Dibagian putusan yang kedua ini digambarkan temuan dengan putusan nomor 473/Pid/2009/PT.Mdn. Berikut ini temuan kedua tindak pidana kekerasan fisik oleh suami terhadap istri yang tidak menimbulkan halangan untuk melakukan kegiatan sehari-hari dalam perspektif teori Keadilan Bermartabat.
Temuan berikut ini adalah putusan nomor 473/Pid/2009/PT.Mdn. Temuan ini merupakan temuan kedua dari penelitian ini tentang tindak pidana kekerasan fisik oleh suami terhadap istri yang tidak menimbulkan halangan untuk melakukan kegiatan sehari-hari dalam perspektif teori Keadilan Bermartabat.
Temuan ini telah memenuhi syarat sebagai suatu kaidah hukum karena didasarkan
30
atas prinsip dalam hukum acara pidana, bahwa suatu putusan harus berisi irah-irah demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Putusan ini adalah putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia di tingkat kasasi. Kadiah hukum yang terdapat dalam putusan ini adalah kaidah hukum pidana khusus.
Putusan ini dibuat pada tahun 2009 dalam perkara yang melibatkan terdakwa, yaitu Hotman Siadari, seorang yang beragama dan bekerja sebagai PNS.
Terdakwa, sorang laki- laki berkebangsaan Indonesia lahir di Prapat pada tanggal 12 Agustus 1975. Terdakwa tinggal di Jalan Simarjarunjung No.2 Kelurahan Karo, Kecamatan Siantar Marihat, Pematang Siantar.
Ketika proses persidangan tingkat banding berlangsung, Terdakwa yaitu Hotman Siadari tidak berada di dalam tahanan. Terdakwa pertama kali diajukan ke muka persidangan di Pengadilan Negeri Pematang Siantar. Duduk perkara di Pengadilan Pematang Siantar tersebut adalah sebagai berikut. Tempus delicti atau waktu dilakukannya perbuatan pidana yang didakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum pada hari Jum’at tanggal 19 Desember 2008 sekira pukul 10.20 Wib atau setidak- tidaknya pada waktu lain dalam bulan Desember 2008. Sedagkan locus delicti atau tempat terjadinya tindak pidana yang dilakukan oleh Terdakwa sebagaimana dakwaan Jaksa Penuntut Umum adalah di rumah Terdakwa Jl.
Simarjarunjung No.2 Kel. Karo Kec. Siantar Marihat Kota Pematang Siantar atau setidak-tidaknya pada tempat lain yang masih termasuk wilayah Hukum Pengadilan Negeri Pematang Siantar. Terdakwa diajukan ke Pengadilan Negeri Pematang Siantar dengan dakwaan primair dan dakwaan subsidair. Adapun dalam dakwaan primain perbuatan terdakwa diatur dan diancam pidana dalam Pasal 44 ayat (1) Undang- Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan
31
Dalam Rumah Tangga. Sedangkan dalam dakwaan subsidair, perbuatan terdakwa diatur dan diancam pidana dalam Pasal 44 ayat (4) Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
Surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum menguraikan modus operandi Terdakwa. Pada mulanya saksi Martina Goretti Br Silalahi yang merupakan istri dari terdakwa sedang memasak di dapur. Sedangkan terdakwa sedang memberi makan anak mereka. Setelah selesai memberi makan, Terdakwa hendak memberi susu yang sudah disiapkan penjaga/pengasuh anak mereka sebelumnya. Disaat terdakwa mendapati bahwa susu tersebut terasa dingin, terdakwa mengira susu tersebut dibuat dengan air dingin. Karena hal tersebut, terdakwa murka dan mengatakan “Oh Naritikon” (Oh yang gila ini). Mendengar perkataan terdakwa, saksi korban Martina Goretti Br Silalahi merasa tersinggung. saksi korban Martina Goretti Br Silalahi menjawab dengan mengatakan “Te on” (Taik=
Kotoran). Terdakwa membalas dengan mengatakan, “So na tu ho hudokkon, tu san do” (bukan kau yang ku bilang, dia nya) sambil mulutnya diarahkan ke penjaga anak mereka. Terdakwa mengambil kain lap dan melemparkan kain tersebut kepada saksi Martina Goretti Br Silalahi. Setelah itu terdakwa pergi mengambil handuk lalu ke kamar mandi.
Kemudian Saksi Martina Goretti Br Silalahi menggendong anak mereka sambil berkata “betul lah kau keturunan abang-abangmu pun suka memukul isterinya”. Mendengar perkataan saksi Martina Goretti Br Silalahi, Terdakwa langsung mendatangi saksi Martina Goretti Br Silalahi. Terdakwa memukul/menumbuk bagian kepala saksi sebanyak tiga kali, yaitu sebelah kiri, sebelah kanan, serta tengah. Terdakwa memukul dengan menggunakan
32
tangannya. Terdakwa juga menunjang paha sebelah kiri dan kanan saksi Martina Goretti Br Silalahi. Saksi Martina Goretti Br Silalahi tidak tahan dan merasa kesakitan. Setelah itu saksi Martina Goretti Br Silalahi melepaskan anak mereka dari gendongan dan berlari keluar rumah meminta tolong sambil menangis ke rumah tetangga dengan mengatakan “Mak Ekel... Mak Ekel.... tolong aku mau dimatikan.” Tetangga saksi Mak Ekel mengatakan pada saksi korban “ya udahlah kak jangan nangis.” Tidak berapa lama keluar pengasuh anak mereka dan memeluk saksi Martina Goretti Br Silalahi. Setelah itu saksi korban masuk kembali ke dalam rumah untuk menggendong anaknya. Perbuatan Terdakwa diatur dan diancam pidana dalam Pasal 44 ayat (1) Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
Membaca tuntutan pidana Jaksa/Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Pematang Siantar tanggal 29 April 2009 sebagai berikut :1. Menyatakan Terdakwa Hotman Siadari terbukti secara sah dan meyakinkan menurut Hukum bersalah melakukan tindak pidana “Melakukan Kekerasan Fisik Dalam Lingkup Rumah Tangga Yang Dilakukan Oleh Suami Terhadap Isteri Yang Tidak Menimbulkan Penyakit atau Halangan Untuk Menjalankan Pekerjaan Jabatan atau Mata Pencaharian atau Kegiatan Sehari-hari” sebagaimana diatur dalam Pasal 44 ayat (4) UndangUndang No.23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga dalam Dakwaan Subsidair. 2. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa Hotman Siadari dengan penjara selama tiga bulan; 3.
Menetapkan supaya Terdakwa dibebani biaya perkara sebesar Rp.1.000,-
Membaca putusan Pengadilan Negeri Pematang Siantar No.
90/PID.B/2009/PN.PMS. tanggal 13 Mei 2009 yang amar lengkapnya sebagai
33
berikut :1. Menyatakan Terdakwa tersebut dalam perkara ini bernama Hotman Siadari tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya dalam dakwaan primer; 2. Membebaskan Terdakwa Hotman Siadari dari dakwaan primer tersebut; 3. Menyatakan Terdakwa tersebut dalam perkara ini bernama Hotman Siadari telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “melakukan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga yang dilakukan oleh suami terhadap isteri yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan atau kegiatan sehari-hari”; 4. Menjatuhkan pidana oleh karena itu kepada Terdakwa Hotman Siadari dengan pidana penjara selama tiga bulan; 5.
Menetapkan bahwa pidana tersebut tidak perlu dijalani kecuali jika di kemudian hari ada putusan Hakim yang menentukan lain disebabkan karena Terdakwa melakukan tindak pidana sebelum berakhirnya masa percobaan selama enam bulan; 6.Membebankan kepada Terdakwa untuk membayar biaya perkara ini sebesar Rp.1.000,-
Dalam perkara tersebut, Jaksa Penuntut Umum mengajukan banding. Di dalam putusan Pengadilan Tinggi Medan No. 473/Pid/2009/PT.Mdn tanggal 21 Juli 2009 yang amar lengkapnya sebagai berikut : 1. Menerima permintaan banding dari Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Pematang Siantar tersebut ; 2. Membatalkan Putusan Pengadilan Negeri Pematang Siantar Nomor : 90/PID.B/2009/PN.PMS tanggal 13 Mei 2009, yang dimintakan banding tersebut.
Kemudian melihat dari alat bukti, saksi dan putusan pengadilan negeri yang sebelumnya maka Majelis Hakim mempertimbangkan bahwa benar pada saat kejadian tanggal 19 Desember 2008 Terdakwa sangat merasa emosi karena susu
34
yang diminumkan kepada anaknya sudah dingin,dan melempar celana jeans anaknya kepada korban hingga korban berlari keluar sambil menangis meminta tolong. Dan Majelis Hakim mempertimbangkan alasan Terdakwa yang menyatakan tidak ada memukul saksi korban, dan hanya melempar sakasi dengan celana jeans anak Terdakwa, dan menyatakan perkara ini tidak ada Visum Et Repertum. Dan dalam hal ini, Majelis Hakim berpendapat bahwa pada saat itu Terdakwa sangat emosi dan Saksi Korban menangis meminta pertolongan keluar rumah, dengan demikian adalah hal yang wajar kalau Terdakwa sampai melakukan pemukulan terhadap saksi korban karena emosi, dan kalau hanya melempar dengan celana jeans tidak mungkin saksi korban sampai berteriak minta pertolongan.
Oleh karena pertimbangan diatas maka Majelis Hakim mengadili sendiri, Menyatakan Terdakwa Hotman Siadari tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana yang didakwakan pada dakwaan Primair dan dakwaan Subsidair Jaksa Penuntut Umum tersebut; Melepaskan Terdakwa oleh karena itu dari segala tuntutan hukum (Ontslag Van Alles Rechtsvervolging); Memulihkan hak Terdakwa tersebut dalam kemampuan, kedudukan dan harkat serta martabatnya; Membebankan biaya perkara dalam kedua tingkat Pengadilan kepada Negara;
3. Putusan Mahkamah Agung Nomor 103 K/Pid.Sus/2010
Selanjutnya, Penulis akan mengemukakan putusan pengadilan yang ketiga dalam hasil penelitian ini. Dibagian putusan yang ketiga ini digambarkan temuan dengan putusan nomor 103 K/Pid.Sus/2010. Berikut ini temuan kedua tindak pidana kekerasan fisik oleh suami terhadap istri yang tidak menimbulkan
35
halangan untuk melakukan kegiatan sehari-hari dalam perspektif teori Keadilan Bermartabat.
Temuan berikut ini adalah putusan nomor 103 K/Pid.Sus/2010. Temuan ini merupakan temuan kedua dari penelitian ini tentang tindak pidana kekerasan fisik oleh suami terhadap istri yang tidak menimbulkan halangan untuk melakukan kegiatan sehari-hari dalam perspektif teori Keadilan Bermartabat. Temuan ini telah memenuhi syarat sebagai suatu kaidah hukum karena didasarkan atas prinsip dalam hukum acara pidana, bahwa suatu putusan harus berisi irah-irah demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Putusan ini adalah putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia di tingkat kasasi. Kadiah hukum yang terdapat dalam putusan ini adalah kaidah hukum pidana khusus. Putusan ini dibuat pada tahun 2010 dalam perkara yang melibatkan terdakwa, yaitu Hotman Siadari, seorang yang beragama dan bekerja sebagai PNS. Terdakwa, sorang laki- laki berkebangsaan Indonesia lahir di Prapat pada tanggal 12 Agustus 1975. Pada saat putusan kasasi ini dibuat terdakwa berusia 33 tahun. Terdakwa tinggal di Jalan Simarjarunjung No.2 Kelurahan Karo, Kecamatan Siantar Marihat, Pematang Siantar.
Ketika proses persidangan kasasi berlangsung, Terdakwa yaitu Hotman Siadari tidak berada di dalam tahanan. Terdakwa pertama kali diajukan ke muka persidangan di Pengadilan Negeri Pematang Siantar. Duduk perkara di Pengadilan Pematang Siantar tersebut adalah sebagai berikut. Tempus delicti atau waktu dilakukannya perbuatan pidana yang didakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum pada hari Jum’at tanggal 19 Desember 2008 sekira pukul 10.20 Wib atau setidak- tidaknya pada waktu lain dalam bulan Desember 2008. Sedangkan locus delicti
36
atau tempat terjadinya tindak pidana yang dilakukan oleh Terdakwa sebagaimana dakwaan Jaksa Penuntut Umum adalah di rumah Terdakwa Jl. Simarjarunjung No.2 Kel. Karo Kec. Siantar Marihat Kota Pematang Siantar atau setidaktidaknya pada tempat lain yang masih termasuk wilayah Hukum Pengadilan Negeri Pematang Siantar. Terdakwa diajukan ke Pengadilan Negeri Pematang Siantar dengan dakwaan primair dan dakwaan subsidair. Adapun dalam dakwaan primain perbuatan terdakwa diatur dan diancam pidana dalam Pasal 44 ayat (1) Undang- Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Sedangkan dalam dakwaan subsidair, perbuatan terdakwa diatur dan diancam pidana dalam Pasal 44 ayat (4) Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
Surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum menguraikan modus operandi Terdakwa. Pada mulanya saksi Martina Goretti Br Silalahi yang merupakan istri dari terdakwa sedang memasak di dapur. Sedangkan terdakwa sedang memberi makan anak mereka. Setelah selesai memberi makan, Terdakwa hendak memberi susu yang sudah disiapkan penjaga/pengasuh anak mereka sebelumnya. Disaat terdaka mendapati bahwa susu tersebut terasa dingin, terdakwa mengira susu tersebut dibuat dengan air dingin. Karena hal tersebut, terdakwa murka dan mengatakan “Oh Naritikon” (Oh yang gila ini). Mendengar perkataan terdakwa, saksi korban Martina Goretti Br Silalahi merasa tersinggung. saksi korban Martina Goretti Br Silalahi menjawab dengan mengatakan “Te on” (Taik=
Kotoran). Terdakwa membalas dengan mengatakan, “So na tu ho hudokkon, tu san do” (bukan kau yang ku bilang, dia nya) sambil mulutnya diarahkan ke penjaga anak mereka. Terdakwa mengambil kain lap dan melemparkan kain
37
tersebut kepada saksi Martina Goretti Br Silalahi. Setelah itu terdakwa pergi mengambil handuk lalu ke kamar mandi.
Saksi Martina Goretti Br Silalahi menggendong anak mereka sambil berkata
“betul lah kau keturunan abang-abangmu pun suka memukul isterinya”.
Mendengar perkataan saksi Martina Goretti Br Silalahi, Terdakwa langsung mendatangi saksi Martina Goretti Br Silalahi. Terdakwa memukul/menumbuk bagian kepala saksi sebanyak tiga kali, yaitu sebelah kiri, sebelah kanan, serta tengah. Terdakwa memukul dengan menggunakan tangannya. Terdakwa juga menunjang paha sebelah kiri dan kanan saksi Martina Goretti Br Silalahi. Saksi Martina Goretti Br Silalahi tidak tahan dan merasa kesakitan. Setelah itu saksi Martina Goretti Br Silalahi melepaskan anak mereka dari gendongan dan berlari keluar rumah meminta tolong sambil menangis ke rumah tetangga dengan mengatakan “Mak Ekel... Mak Ekel.... tolong aku mau dimatikan.” Tetangga saksi Mak Ekel mengatakan pada saksi korban “ya udahlah kak jangan nangis.”
Tidak berapa lama keluar pengasuh anak mereka dan memeluk saksi Martina Goretti Br Silalahi. Setelah itu saksi korban masuk kembali ke dalam rumah untuk menggendong anaknya. Perbuatan Terdakwa diatur dan diancam pidana dalam Pasal 44 ayat (1) Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
Membaca tuntutan pidana Jaksa/Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Pematang Siantar tanggal 29 April 2009 sebagai berikut :1. Menyatakan Terdakwa Hotman Siadari terbukti secara sah dan meyakinkan menurut Hukum bersalah melakukan tindak pidana “Melakukan Kekerasan Fisik Dalam Lingkup Rumah Tangga Yang Dilakukan Oleh Suami Terhadap Isteri Yang Tidak
38
Menimbulkan Penyakit atau Halangan Untuk Menjalankan Pekerjaan Jabatan atau Mata Pencaharian atau Kegiatan Sehari-hari” sebagaimana diatur dalam Pasal 44 ayat (4) UndangUndang No.23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga dalam Dakwaan Subsidair. 2. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa Hotman Siadari dengan penjara selama tiga bulan; 3.
Menetapkan supaya Terdakwa dibebani biaya perkara sebesar Rp.1.000,-
Membaca putusan Pengadilan Negeri Pematang Siantar No.
90/PID.B/2009/PN.PMS. tanggal 13 Mei 2009 yang amar lengkapnya sebagai berikut :1. Menyatakan Terdakwa tersebut dalam perkara ini bernama Hotman Siadari tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya dalam dakwaan primer; 2. Membebaskan Terdakwa Hotman Siadari dari dakwaan primer tersebut; 3. Menyatakan Terdakwa tersebut dalam perkara ini bernama Hotman Siadari telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “melakukan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga yang dilakukan oleh suami terhadap isteri yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan atau kegiatan sehari-hari”; 4. Menjatuhkan pidana oleh karena itu kepada Terdakwa Hotman Siadari dengan pidana penjara selama tiga bulan; 5.
Menetapkan bahwa pidana tersebut tidak perlu dijalani kecuali jika di kemudian hari ada putusan Hakim yang menentukan lain disebabkan karena Terdakwa melakukan tindak pidana sebelum berakhirnya masa percobaan selama enam bulan; 6.Membebankan kepada Terdakwa untuk membayar biaya perkara ini sebesar Rp.1.000,-
Dalam perkara tersebut, Jaksa Penuntut Umum mengajukan banding. Di
39
dalam putusan Pengadilan Tinggi Medan No. 473/Pid/2009/PT.Mdn tanggal 21 Juli 2009 yang amar lengkapnya sebagai berikut : 1. Menerima permintaan banding dari Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Pematang Siantar tersebut ; 2. Membatalkan Putusan Pengadilan Negeri Pematang Siantar Nomor : 90/PID.B/2009/PN.PMS tanggal 13 Mei 2009, yang dimintakan banding tersebut.
Dalam hal mengadili sendiri, Menyatakan Terdakwa Hotman Siadari tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana yang didakwakan pada dakwaan primair dan dakwaan subsidair Jaksa Penuntut Umum tersebut ; Melepaskan Terdakwa oleh karena itu dari segala tuntutan hukum (Ontslag Van Alles Rechtsvervolging); Memulihkan hak Terdakwa tersebut dalam kemampuan, kedudukan dan harkat serta martabatnya;
Membebankan biaya perkara dalam kedua tingkat Pengadilan kepada Negara;
Mengingat akan akta tentang permohonan kasasi No.
17/KS/Akta.Pid/2009/PN.Pms, yang dibuat oleh Panitera pada Pengadilan Negeri Pematang Siantar yang menerangkan, bahwa pada tanggal 03 September 2009, Jaksa / Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Pematang Siantar mengajukan permohonan kasasi terhadap putusan Pengadilan Tinggi tersebut. Jaksa Penuntut Umum mengajukan kasasi dalam memori kasasi bertanggal 14 September 2009 dari Jaksa/Penuntut Umum sebagai pemohon kasasi yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Pematang Siantar pada tanggal 15 September 2009.
Putusan Pengadilan Tinggi tersebut telah diberitahukan kepada Jaksa/Penuntut Umum pada tanggal 24 Agustus 2009. Jaksa/Penuntut Umum mengajukan permohonan kasasi pada tanggal 03 September 2009. Memori kasasi
40
tersebut diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Pematang Siantar pada tanggal 15 September 2009. Dengan demikian permohonan kasasi beserta dengan alasan-alasannya telah diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara menurut Undang-Undang.
Berdasarkan Pasal 244 KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana), terhadap putusan perkara pidana yang diberikan pada tingkat terakhir oleh pengadilan lain selain daripada Mahkamah Agung, Terdakwa atau Penuntut Umum dapat mengajukan permintaan kasasi kepada Mahkamah Agung kecuali terhadap putusan bebas. Akan tetapi Mahkamah Agung berpendapat bahwa selaku badan peradilan tertinggi yang mempunyai tugas untuk membina dan menjaga agar semua hukum dan Undang-Undang di seluruh wilayah Negara diterapkan secara tepat dan adil, Mahkamah Agung wajib memeriksa apabila ada pihak yang mengajukan permohonan kasasi terhadap putusan Pengadilan bawahannya yang membebaskan Terdakwa, yaitu guna menentukan sudah tepat dan adilkah putusan Pengadilan bawahannya itu. Namun berdasarkan yurisprudensi, apabila ternyata putusan Pengadilan yang membebaskan terdakwa itu merupakan pembebasan murni sifatnya, maka sesuai ketentuan Pasal 244 KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana) tersebut, permohonan kasasi tersebut harus dinyatakan tidak dapat diterima. Namun sebaliknya, apabila pembebasan itu didasarkan pada penafsiran yang keliru terhadap sebutan tindak pidana yang dimuat dalam surat dakwaan dan bukan didasarkan pada tidak terbuktinya suatu unsur perbuatan yang didakwakan, atau apabila pembebasan itu sebenarnya adalah merupakan putusan lepas dari segala tuntutan hukum, atau apabila dalam menjatuhkan putusan itu Pengadilan telah melampaui batas kewenangannya (meskipun hal ini tidak
41
diajukan sebagai alasan kasasi), Mahkamah Agung atas dasar pendapatnya bahwa pembebasan itu bukan merupakan pembebasan yang murni harus menerima permohonan kasasi tersebut.
Alasan-alasan yang diajukan oleh Pemohon Kasasi/ Jaksa/Penuntut Umum pada pokoknya adalah sebagai berikut. Bahwa Pengadilan Tinggi Medan yang telah menjatuhkan putusan yang amarnya berbunyi seperti tersebut di atas dalam memeriksa dan mengadili perkara tersebut, telah melakukan kekeliruan dengan alasan: 1) Bahwa Majelis Hakim Pengadilan Tinggi tersebut tidak mempertimbangkan seluruh alat bukti yang ada dalam perkara tersebut dan juga tidak membuktikan semua unsur delik yang didakwakan terhadap Terdakwa.
Seandainya Majelis Hakim mempertimbangkan seluruh alat bukti yang meliputi perkara tersebut dan membuktikan semua unsur delik yang didakwakan terhadap Terdakwa maka seharusnya putusan Majelis Hakim Pengadilan Tinggi tersebut putusan (Onslag Van Recht Vervolging), karena dalam pertimbangannya Majelis Hakim menyatakan benar pada saat kejadian tanggal 19 Desember 2008 Terdakwa sangat merasa emosi karena susu yang diminumkan kepada anaknya sudah dingin, dan melempar celana jeans anaknya kepada korban hingga korban berlari keluar sambil menangis meminta tolong; 2) Bahwa Pengadilan Tinggi Medan dalam putusannya Nomor : 473/Pid/2009/PT.MDN tanggal 21 Juli 2009 telah salah melakukan / menerapkan peraturan hukum tidak sebagaimana mestinya. Hakim berpendapat dalam pertimbangannya bahwa unsur melakukan kekerasan fisik terhadap saksi korban Martina Goretti Br Silalahi (yang merupakan istri sah dari Terdakwa) tidak terbukti secara sah dan meyakinkan; 3) Bahwa pertimbangan Majelis Hakim terhadap unsur tersebut hanya dengan
42
mempertimbangkan keterangan Terdakwa tanpa mempertimbangkan semua fakta dan keadaan yang meliputi perkara tersebut. Sebagai contoh yaitu keterangan saksi korban Martina Goretti Br Silalahi yang mengatakan bahwa pada saat kejadian tanggal 19 Desember 2008, Terdakwa emosi karena mengira air susu yang diberikan kepada anak saksi susu yang dibuat dengan air dingin, lalu terjadi pertengkaran mulut antara saksi korban dengan Terdakwa. Selanjutnya Terdakwa melempar saksi korban dengan kain lap ke arah wajah saksi korban, dan perbuatan Terdakwa tidak berhenti di situ saja, selanjutnya Terdakwa juga memukul/meninju kepala saksi korban sebanyak tiga kali kemudian menunjang bagian paha sebelah kiri dan sebelah kanan masing-masing sebanyak sepuluh kali, sehingga korban merasa kesakitan dan berlari keluar rumah, sambil berteriak minta tolong, dan pada saat itu saksi korban tidak langsung melapor ke polisi.
Karena masih menunggu kata maaf dari Terdakwa akan tetapi sampai empat hari, Terdakwa tidak menyatakan maaf sehingga korban melaporkan ke polisi.
Keterangan saksi korban ini juga dikuatkan oleh keterangan saksi Helida Simanjuntak yang memberikan keterangan di bawah sumpah/janji. Keterangan tersebut menyatakan bahwa ia adalah pengasuh anak saksi dan Terdakwa. Pada saat kejadian saksi melihat sendiri karena saksi sedang mencuci piring di dapur.
Saksi mendengar antara saksi korban dengan Terdakwa bertengkar masalah susu yang akan diberikan kepada anak mereka adalah susu dingin. Terdakwa melempar saksi dengan kain lap. Karena pertengkaran masih berlanjut, terdakwa bertambah emosinya dan memukul (meninju) kepala bagian belakang saksi korban sebanyak dua kali. Terdakwa juga menendang bagian paha saksi korban sebanyak dua kali.
Saksi korban merasa kesakitan lalu berlari keluar rumah sambil berteriak minta
43 tolong.
Demikian juga dengan keterangan saksi Lusiana alias Mak Ekel yang merupakan tetangga saksi korban. Dalam BAP-nya menerangkan bahwa saat itu saksi sedang menonton televisi dan mendengar suara jeritan saksi korban meminta tolong. Saksi keluar dari rumah dan melihat saksi korban menangis. Tidak lama pengasuh anak saksi juga keluar lalu memeluk saksi korban sambil bertangis- tangisan. Saksi mendekati saksi korban sambil menghibur saksi korban dan mengatakan “sabarlah da”; 4. Bahwa ternyata keterangan saksi-saksi tersebut tidak dipertimbangkan oleh Majelis Hakim dan hanya mempertimbangkan keterangan Terdakwa. Terdakwa menyatakan tidak memukul saksi korban, dan hanya melempar saksi korban dengan celana jeans anak Terdakwa. Terdakwa juga menyatakan dalam perkara ini tidak ada Visum Et Repertum, sehingga Jaksa Penuntut Umum tidak sependapat dengan pertimbangan Majelis Hakim tersebut.
Majelis Hakim berpendapat bahwa pada saat itu Terdakwa sangat emosi dan saksi korban menangis meminta pertolongan keluar rumah. Dengan demikian adalah hal yang wajar kalau Terdakwa sampai melakukan pemukulan terhadap saksi korban karena emosi. Apabila hanya melempar dengan celana jeans tidak mungkin saksi korban sampai berteriak minta pertolongan.
Dengan demikian jelas terdapat fakta hukum bahwa terdakwa telah melakukan kekerasan fisik terhadap saksi korban. meskipun dalam hal ini tidak ada Visum Et Repertum, akan tetapi hal tersebut bukan menjadi alasan bahwa perbuatan Terdakwa tidak ada. Visum Et Repertum tidak ada dikarenakan saksi melaporkan perkara ini setelah empat hari. Bekas luka memar sudah tidak kelihatan lagi; 5. Majelis Hakim juga tidak membuktikan semua unsur delik yang
44
didakwakan yaitu unsur Pasal 44 ayat (4) Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2004 dalam dakwaan Primair yang mana pada Pasal tersebut salah satu unsurnya yaitu: “perbuatan tersebut dilakukan suami terhadap isteri atau sebaliknya tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian atau kegiatan sehari-hari.” Bahwa dalam hal ini Terdakwa melakukan kekerasan fisik terhadap saksi korban Martina Goretti Br Silalahi yang merupakan istri sah dari Terdakwa. Meskipun kekerasan fisik tidak sampai menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian atau kegiatan sehari-hari, tetap merupakan suatu delik yang dapat dihukum sesuai Pasal 44 ayat (4) Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2004.
Berdasarkan uraian di atas, kami menyatakan tidak sependapat dengan pertimbangan-pertimbangan dari Majelis Hakim dalam memberikan putusan terhadap terdakwa Hotman Siadari, yang menyatakan bahwa unsur melakukan kekerasan fisik tidak terpenuhi. Terdapat pertimbangan-pertimbangan lainnya di dalam surat dakwaan dan surat tuntutan yang tidak dipertimbangkan oleh Majelis Hakim. Dengan demikian Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Medan telah salah karena tidak menerapkan atau menerapkan peraturan Hukum tidak sebagaimana mestinya. Terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat bahwa alasan-alasan tersebut dapat dibenarkan. Judex facti telah salah menerapkan hukum. Berdasarkan keterangan saksi-saksi serta keterangant terdakwa di persidangan, Pasal 44 ayat (4) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang KDRT telah terpenuhi. Pertimbangan hukum Pengadilan Negeri telah tepat dan benar dan dapat dijadikan pertimbangan hukum Mahkamah Agung dalam
45 mengadili perkara ini.
Bahwa berdasarkan alasan-alasan yang diuraikan di atas Mahkamah Agung berpendapat, bahwa putusan Pengadilan Tinggi Medan No.
473/Pid/2009/PT.Mdn tanggal 21 Juli 2009 tidak dapat dipertahankan lagi. Oleh karena itu harus dibatalkan dan Mahkamah Agung akan mengadili sendiri perkara tersebut. Mahkamah Agung akan mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan yang meringankan. Hal-hal yang memberatkan adalah perbuatan terdakwa telah menyakiti istrinya, yang seharusnya dilindunginya. Hal-hal yang meringankan adalah terdakwa bersikap sopan di persidangan, Terdakwa belum pernah dihukum, dan terdakwa adalah seorang guru yang tenaga dan pikirannya sangat diperlukan oleh murid-muridnya. Maka dari itu permohonan kasasi Jaksa/Penuntut Umum dikabulkan dan terdakwa dinyatakan bersalah serta dijatuhi pidana. Biaya perkara pada semua tingkat Pengadilan dibebankan kepada Terdakwa. Memperhatikan Undang-Undang No. 48 Tahun 2009, Undang- Undang No. 5 Tahun 2004, Undang-Undang No.8 Tahun 1981 dan Undang- Undang No.14 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 dan peraturan perundang-undangan lain yang bersangkutan, Mahkamah Agung mengadili untuk mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi, yaitu Jaksa/ Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Pematang Siantar. Majelis Hakim juga membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Medan No. 473/Pid/2009/PT.Mdn tanggal 21 Juli 2009.
Mahkamah Agung memberi putusan yang incracht yang mana bertuliskan mengadili sendiri menyatakan Terdakwa Hotman Siadari tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya
46
dalam dakwaan primer. Sehingga terdakwa Hotman Siadari dibebaskan dari dakwaan primer tersebut. Selanjutnya Majelis Hakim menyatakan terdakwa Hotman Siadari telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana melakukan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga yang dilakukan oleh suami terhadap isteri yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan atau kegiatan sehari-hari. Majelis Hakim menjatuhkan pidana oleh karena itu kepada Terdakwa Hotman Siadari dengan pidana penjara selama tiga bulan. Selanjutnya ditetapkan bahwa pidana tersebut tidak perlu dijalani kecuali jika di kemudian hari ada putusan Hakim yang menentukan lain disebabkan karena Terdakwa melakukan tindak pidana sebelum berakhirnya masa percobaan selama enam bulan. Menghukum Termohon Kasasi/Terdakwa tersebut untuk membayar biaya perkara dalam semua tingkat Pengadilan dan dalam tingkat kasasi ini ditetapkan sebesar Rp. 2.500,- Demikianlah diputuskan dalam rapat permusyawaratan Mahkamah Agung pada hari Jum’at tanggal 11 Februari 2011 oleh H. Muhammad Taufik, S. H., M. H.
Hakim Agung yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai Ketua Majelis, H. Mansur Kartayasa, S. H., M. H. dan Dr. Salman Luthan, S. H., M. H.
Hakim-Hakim Agung sebagai Anggota. Hal tersebut diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum pada hari itu juga oleh Ketua Majelis beserta Hakim-Hakim anggota tersebut. Tety Siti Rochmat Setyawati, S. H. Sebagai Panitera Pengganti.
Persidangan tersebut tidak dihadiri oleh Pemohon Kasasi yaitu Jaksa/Penuntut Umum dan Terdakwa.
C. Pembahasan Tindak Pidana Kekerasan Fisik oleh Suami
Terhadap Istri yang Tidak Menimbulkan Halangan untuk
Melakukan Kegiatan Sehari-Hari dalam Perspektif Teori
Keadilan Bermartabat
47
Berikut dibawah ini dikemukakan pembahasan tentang tindak pidana kekerasan fisik oleh suami terhadap istri yang tidak menimbulkan halangan untuk melakukan kegiatan sehari-hari dalam perspektif teori Keadilan Bermartabat.
Adapun dalam sub bab ini, penulis akan melakukan komparasi terhadap dua putusan, yaitu Putusan Nomor 90/PID.B/2009/PN.PMS, Putusan Nomor 473/Pid/2009/PT.Mdn dan Putusan Mahkamah Agung Nomor 103 K/Pid.Sus/2010. Ketiga putusan tersebut adalah putusan mengenai tindak pidana kekerasan fisik oleh suami terhadap istri yang tidak menimbulkan halangan untuk melakukan kegiatan sehari-hari.
1. Analisa Temuan Tindak Pidana Kekerasan Fisik oleh Suami Terhadap Istri yang Tidak Menimbulkan Halangan untuk Melakukan Kegiatan Sehari-Hari dalam Perspektif Teori Keadilan Bermartabat
Dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 103 K/Pid.Sus/2010, Hakim Agung memutuskan untuk membatalkan Putusan Pengadilan Tinggi. Dalam hal ini, terdakwa Hotman Siadari pertama kali diajukan ke muka pengadilan pada tanggal 13 Mei 2009 melalui Pengadilan Negeri Pematang Siantar No.
90/PID.B/2009/PN.PMS. Melalui peradilan tersebut, terdakwa ditetapkan melakukan tindak pidana melakukan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga yang dilakukan oleh suami terhadap istri yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan atau kegiatan sehari-hari.
Perkara tersebut dilakukan upaya banding yang ditangani oleh Pengadilan Tinggi Medan No. 473/Pid/2009/PT.Mdn tanggal 21 Juli 2009. Di tingkat banding, terdakwa dinyatakan terlepas dari segala tuntutan hukum (Ontslag Van Alles Rechtsvervolging). Namun Jaksa Penuntut Umum mengajukan Kasasi.
48
Menurut Pasal 244 Hukum Acara Pidana, kasasi tidak dapat diajukan apabila putusan pengadilan sebelumnya memutuskan untuk bebas. Akan tetapi, Mahkamah Agung berpendapat bahwa terdapat kesalahan dalam menafsirkan hukum dalam pengadilan sebelumnya, maka Mahkamah Agung memutuskan untuk menerima permohonan kasasi. Hal tersebut sesuai dengan teori Keadilan Bermartabat yaitu kepastian hukum untuk memenuhi keadilan bagi masyarakat.
Terdakwa telah melakukan kekerasan fisik terhadap korban. Akibat dari perbuatan terdakwa, korban merasakan sakit karena kekerasan tersebut. Dalam perkara ini tidak terdapat Visum Et Repertum karena korban baru melaporkan terdakwa empat hari setelah kejadian. Hal tersebut membuat luka yang terdapat dalam tubuh korban sudah hilang. Hakim Agung telah tepat dalam menerapkan hukum karena menyatakan terdakwa melanggar Pasal 44 ayat (4) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
Sehingga Mahkamah Agung mengabulkan permohonan kasasi dan membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Medan No. 473/Pid/2009/PT.Mdn tanggal 21 Juli 2009. Penerapan hukum tersebut telah sesuai dengan teori Keadilan Bermartabat yang memanusiakan manusia dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Teori Keadilan Bermartabat merupakan teori hukum. Teori hukum dalam teori Keadilan Bermartabat menjelaskan bahwa apabila kita hendak menemukan dan mencari hukum, dapat dilakukan dengan cara melihat putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap dan peraturan perundang-undangan. Oleh karena itu, pertimbangan hukum yang dilakukan oleh hakim dalam kedua putusan tersebut sudah adil dan tepat hukum. Maka dari itu, kepastian, kemanfaatan, dan keadilan
49 hukum telah terpenuhi.
2. Analisa Konsep Tindak Pidana Atas Tindak Pidana Kekerasan Fisik oleh Suami Terhadap Istri yang Tidak Menimbulkan Halangan untuk Melakukan Kegiatan Sehari- Hari dalam Perspektif Teori Keadilan Bermartabat
Konsep tindak pidana diartikan sebagai mempersoalkan suatu perbuatan atau tindakan manusia yang mempunyai hak dan kewajiban sebagai suatu perbuatan atau tindakan yang melawan hukum atau melanggar hak orang lain. Di dalam temuan, penulis menemukan adanya pelanggaran terhadap orang lain.
Pelanggaran tersebut berupa kekerasan fisik yang dilakukan oleh suami terhadap istri yang tidak menimbulkan halangan untuk melakukan kegiatan sehari-hari.
Berdasarkan konsep tindak pidana, perbuatan terdakwa dalam temuan dikategorikan sebagai tindak pidana. Perbuatan pidana atau tindak pidana adalah suatu perbuatan yang dilarang dan diancam hukum pidana oleh undang-undang hukum pidana bagi siapa yang melanggar larangan tersebut.
Pertimbangan hakim dalam temuan yang menyatakan terdakwa merugikan hak orang lain berdasarkan undang-undang dinilai sesuai dengan teori Keadilan Bermartabat. Teori mengajarkan bahwa suatu hukum dapat ditemukan dan digali di dalam peraturan perundang-undangan atau putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap. Atas dasar pengertian tersebut, perbuatan terdakwa digolongkan sebagai tindak pidana sebagaimana diatur di dalam Pasal 44 ayat (4) Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Perbuatan terdakwa di dalam temuan dapat dikatakan suatu tindak pidana dikarenakan perbuatan tersebut terdapat pengaturan tentang ancaman pidana di dalam peraturan perundang-undangan.
50
3. Analisa Konsep Kekerasan Fisik Atas Tindak Pidana Kekerasan Fisik oleh Suami Terhadap Istri yang Tidak Menimbulkan Halangan untuk Melakukan Kegiatan Sehari- Hari dalam Perspektif Teori Keadilan Bermartabat
Teori Keadilan Bermartabat menyatakan bahwa hukum dapat ditemukan di dalam peraturan perundang-undangan. Supaya dapat menemukan hukum, perlu dilakukan identifikasi lebih lanjut terhadap unsur-unsur suatu perbuatan. Di dalam temuan, ditemukan perbuatan yang dilakukan oleh seorang suami terhadap istrinya. Perbuatan tersebut menimbulkan kerusakan fisik terhadap korban. Atas perbuatan tersebut majelis hakim di dalam ketiga temuan menyatakan bahwa perbuatan pelaku merupakan tindak pidana kekerasan fisik oleh suami terhadap istri yang tidak menimbulkan halangan untuk melakukan kegiatan sehari-hari.
Pertimbangan hakim dalam Putusan Nomor 103/K/PID.SUS/2010 sudah dinilai tepat secara hukum dan sesuai dengan konsep Keadilan Bermartabat. Pada perkara tersebut, majelis hakim menetapkan terdakwa melakukan tindak pidana kekerasan fisik oleh suami terhadap istri yang tidak menimbulkan halangan untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Keputusan hakim dinilai memenuhi unsur kepastian hukum demi terciptanya keadilan. Kepastian tersebut dirasakan oleh korban yang merasa bahwa dirinya mengalami kerugian berupa kerusakan fisik atau cidera. Di satu sisi, terdakwa juga mendapatkan kepastian hukum karena dirinya dihukum dengan Pasal yang tepat. Jenis kekerasan sendiri bermacam-macam. Setiap kekerasan memiliki konsekuensi hukumnya masing- masing. Dalam hal ini terdakwa dikenakan Pasal 44 ayat (4) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
Sedangkan dalam Putusan No.473/Pid/2009/PT.Mdn, pengadilan tingkat
51
banding pada mulanya menyatakan bahwa terdakwa terbebas dari segala tuntutan.
Namun pada akhirnya pada tingkat kasasi Hakim Agung merubah isi putusan tersebut dan menerapkan hukum dengan sebagaimana mestinya. Terdakwa dinyatakan melanggar Pasal 44 ayat (4) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, dengan pertimbangan- pertimbangan pada peradilan tingkat kasasi sebagai berikut:
1. Bahwa Majelis Hakim Pengadilan Tinggi tersebut tidak mempertimbangkan seluruh alat bukti yang ada dalam perkara tersebut dan juga tidak membuktikan semua unsur delik yang didakwakan terhadap Terdakwa.
Seandainya Majelis Hakim mempertimbangkan seluruh alat bukti yang meliputi perkara tersebut dan membuktikan semua unsur delik yang didakwakan terhadap Terdakwa maka seharusnya putusan Majelis Hakim Pengadilan Tinggi tersebut putusan (Onslag Van Recht Vervolging), karena dalam pertimbangannya Majelis Hakim menyatakan benar pada saat kejadian tanggal 19 Desember 2008 Terdakwa sangat merasa emosi karena susu yang diminumkan kepada anaknya sudah dingin, dan melempar celana jeans anaknya kepada korban hingga korban berlari keluar sambil menangis meminta tolong;
2. Bahwa Pengadilan Tinggi Medan dalam putusannya Nomor : 473/Pid/2009/PT.MDN tanggal 21 Juli 2009 telah salah melakukan / menerapkan peraturan hukum tidak sebagaimana mestinya. Hakim berpendapat dalam pertimbangannya bahwa unsur melakukan kekerasan fisik terhadap saksi korban MARTINA GORETTI Br SILALAHI (yang merupakan isteri sah dari Terdakwa) tidak terbukti secara sah dan meyakinkan;
3. Bahwa pertimbangan Majelis Hakim terhadap unsur tersebut hanya
52
dengan mempertimbangkan keterangan Terdakwa tanpa mempertimbangkan semua fakta dan keadaan yang meliputi perkara tersebut, seperti keterangan saksi- saksi yang diberikan di bawah sumpah yaitu keterangan saksi korban MARTINA GORETTI Br SILALAHI yang mengatakan bahwa pada saat kejadian tanggal 19 Desember 2008, Terdakwa emosi karena mengira air susu yang diberikan kepada anak saksi susu yang dibuat dengan air dingin, lalu terjadi pertengkaran mulut antara saksi korban dengan Terdakwa. Selanjutnya Terdakwa melempar saksi korban dengan kain lap ke arah wajah saksi korban, dan perbuatan Terdakwa tidak berhenti di situ saja, selanjutnya Terdakwa juga memukul/meninju kepala saksi korban sebanyak 3 (tiga) kali kemudian menunjang bagian paha sebelah kiri dan sebelah kanan masing-masing sebanyak 10 (sepuluh) kali, sehingga korban merasa kesakitan dan berlari keluar rumah, sambil berteriak minta tolong, dan pada saat itu saksi korban tidak langsung melapor ke polisi. Karena masih menunggu kata maaf dari Terdakwa akan tetapi sampai 4 (empat) hari, Terdakwa tidak menyatakan maaf sehingga korban melaporkan ke polisi. Keterangan saksi korban ini juga dikuatkan oleh keterangan saksi HELIDA SIMANJUNTAK yang memberikan keterangan di bawah sumpah/janji, menyatakan bahwa ia adalah pengasuh anak saksi dan Terdakwa, dan pada saat kejadian saksi melihat sendiri karena saksi sedang mencuci piring di dapur, yang mana saksi mendengar antara saksi korban dengan Terdakwa bertengkar masalah susu yang akan diberikan kepada anak mereka adalah susu dingin, dan selanjutnya Terdakwa melempar saksi dengan kain lap, dan karena pertengkaran masih berlanjut, Terdakwa selanjutnya bertambah emosi dan memukul (meninju) kepala bagian belakang saksi korban sebanyak 2 (dua) kali, selanjutnya Terdakwa juga menendang bagian
53
paha saksi korban sebanyak 2 (dua) kali, akibatnya saksi korban merasa kesakitan lalu berlari keluar rumah sambil berteriak minta tolong. Demikian juga dengan keterangan saksi LUSIANA Als. MAK EKEL yang merupakan tetangga saksi korban, dalam BAP-nya menerangkan bahwa saat itu saksi sedang menonton televisi dan mendengar suara jeritan saksi korban meminta tolong, lalu saksi keluar dari rumah dan melihat saksi korban menangis dan tidak lama pengasuh anak saksi juga keluar lalu memeluk saksi korban sambil bertangis-tangisan dan saksi mendekati saksi korban sambil menghibur saksi korban dan mengatakan
“sabarlah da”;
4. Bahwa ternyata keterangan saksi-saksi tersebut tidak dipertimbangkan oleh Majelis Hakim dan hanya mempertimbangkan keterangan Terdakwa, yang menyatakan tidak ada memukul saksi korban, dan hanya melempar saksi korban dengan celana jeans anak Terdakwa, dan menyatakan dalam perkara ini tidak ada Visum Et Repertum, sehingga kami Jaksa Penuntut Umum tidak sependapat dengan pertimbangan Majelis Hakim tersebut, bahwa dalam hal ini, Majelis Hakim berpendapat bahwa pada saat itu Terdakwa sangat emosi dan saksi korban menangis meminta pertolongan keluar rumah, dengan demikian adalah hal yang wajar kalau Terdakwa sampai melakukan pemukulan terhadap saksi korban karena emosi, dan kalau hanya melempar dengan celana jeans tidak mungkin saksi korban sampai berteriak minta pertolongan. Dengan demikian jelas terdapat fakta Hukum bahwa Terdakwa telah melakukan kekerasan fisik terhadap saksi korban, meskipun dalam hal ini tidak ada Visum Et Repertum, akan tetapi hal tersebut bukan menjadi alasan bahwa perbuatan Terdakwa tidak ada, dan Visum Et Repertum tidak ada dikarenakan saksi melaporkan perkara ini setelah 4 (empat)
54
hari, yang mana bekas luka memar sudah tidak kelihatan lagi;
5. Bahwa dalam hal ini Majelis Hakim juga tidak membuktikan semua unsur delik yang didakwakan yaitu unsur Pasal 44 ayat (4) Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2004 dalam dakwaan Primair yang mana pada Pasal tersebut salah satu unsurnya yaitu : “perbuatan tersebut dilakukan suami terhadap isteri atau sebaliknya tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian atau kegiatan sehari-hari”. Bahwa dalam hal ini Terdakwa melakukan kekerasan fisik terhadap saksi korban MARTINA GORETTI Br SILALAHI yang merupakan isteri sah dari Terdakwa, dengan demikian meskipun kekerasan fisik tidak sampai menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian atau kegiatan sehari-hari, tetap merupakan suatu delik yang dapat dihukum sesuai Pasal 44 ayat (4) Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2004.