• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUKUM PAJAK INTERNASIONAL. Isna Putri R JUNI 2022 FEB UNS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "HUKUM PAJAK INTERNASIONAL. Isna Putri R JUNI 2022 FEB UNS"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

HUKUM PAJAK INTERNASIONAL

Isna Putri R JUNI 2022

FEB UNS

(2)

Introduction

Pajak internasional terminologi yang merujuk pada aspek internasional dari ketentuan pajak dari masing- masing negara.

Ketentuan pajak internasional dari suatu negara pada dasarnya mengatur dua hal:

a. Pemajakan atas subjek pajak dalam negeri suatu negara yang menerima penghasilan dari sumber di luar negaranya

b. mengatur pemajakan atas subjek pajak luar negeri yang menerima penghasilan dari sumber di dalam daerah teritorial suatu negara.

(3)

Kedaulatan negara untuk mengatur aspek internasional dari ketentuan pajaknya dapat saja berbeda dan saling berbenturan dengan negara lainnya  dapat terjadi saling klaim hak pemajakan terhadap suatu objek pajak maupun subjek pajak  pajak berganda.

penyebab penghalang aktivitas bisnis lintas batas negara

(4)

Hukum pajak internasional

Hukum pajak internasional pada hakikatnya  hukum pajak nasional yang diangkat menjadi hukum pajak internasional yang diikat dengan suatu kesepakatan atau perjanjian dengan negara lain.

Hukum pajak internasional merupakan norma-norma yang mengatur perpajakan karena adanya unsur asing, baik subjek maupun objeknya.

Unsur asing pada objeknya adalah bahwa objek pajak tersebut berada di luar negeri, tetapi dimiliki oleh Wajib Pajak yang berada atau bertempat tinggal di Indonesia. Atau sebaliknya, objek pajak berada di Indonesia, tetapi dimiliki oleh orang asing yang berada di luar negeri.

Unsur asing pada subjeknya  misalnya, orang asing yang tunduk pada hukum pajak dari negara orang asing tersebut, tetapi mempunyai penghasilan di Indonesia. Atau sebaliknya, subjek pajak orang Indonesia yang berada atau bertempat tinggal di luar negeri dan mempunyai penghasilan di luar negeri.

(5)

Pajak Berganda

1. Pajak berganda secara yuridis merujuk pada situasi di mana satu subjek pajak dikenakan pajak oleh lebih dari satu negara atas penghasilan yang sama pada suatu periode (tahun) pajak yang sama.

(6)

2. Pajak berganda secara ekonomis merujuk pada situasi di mana suatu penghasilan yang sama dikenakan pajak lebih dari satu kali di dua atau lebih subjek pajak yang berbeda

Pajak Berganda

(7)

Agar Tidak terjadi Pajak Berganda,…

Perlu dibuat suatu ‘norma pajak internasional’  suatu panduan yang berlaku secara umum dan internasional

Norma pajak internasional  suatu negara tidak dapat menerapkan klaim hak pemajakannya terhadap negara lain apabila tidak terdapat faktor penghubung tertentu (connecting factor) yang dipersyaratkan.

Klaim hak pemajakan suatu negara terhadap negara lain hanya dapat diterapkan apabila terdapat faktor penghubung tertentu dengan negara lainnya tersebut.

(8)

Faktor Penghubung

1. Personal connecting factor.

Faktor penghubung ini mengaitkan hak pemajakan suatu negara berdasarkan status subjek pajaknya ‘terhubung’

dengan negara tersebut.

Untuk subjek pajak orang pribadi keterhubungan tersebut bisa ditentukan berdasarkan kriteria tempat tinggal atau keberadaan.

(9)

Faktor Penghubung

2. Objective connecting factor.

Faktor penghubung ini mengaitkan hak pemajakan suatu negara berdasarkan keberadaan aktivitas ekonomi atau objek pajaknya

‘terhubung’ dengan daerah teritorial suatu negara.

tempat suatu harta, tempat aktivitas pemberian jasa, tempat di mana suatu kontrak ditandatangani, tempat pembayar penghasilan berdomisili, atau tempat di mana suatu biaya dibebankan.

Oleh karena penekanannya adalah keterhubungan antara negara dan letak objek pajaknya maka konsep ini juga sering disebut dengan konsep source atau objective attachment.

(10)

Penerapan berbagai jenis faktor penghubung oleh ketentuan pajak domestik dari berbagai negara dapat berdampak dua atau lebih negara saling klaim hak pemajakan atas subjek pajak atau objek pajak yang sama

Dalam konteks ini, peran pajak internasional adalah mengatur batasan penerapan aspek internasional dari ketentuan pajak domestik masing-masing negara berdasarkan hukum kebiasaan internasional dan perjanjian penghindaran pajak berganda (P3B).

(11)

Perlu diperhatikan bahwa sebagian besar P3B yang ada pada saat ini dibuat berdasarkan suatu model tertentu, yaitu model yang dikembangkan oleh Organisation of Economic Cooperation and Development (OECD Model).

OECD Model merupakan model yang paling sering digunakan sebagai acuan oleh berbagai negara.

Terdapat juga model lain selain OECD Model, seperti model P3B yang dikembangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN Model). Namun, perlu diperhatikan bahwa ketentuan pasal-pasal dalam UN Model sebagian besar dikembangkan berdasarkan OECD Model.

(12)

Subjek pajak luar negeri (SPLN)

OP yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia, yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia; dan

orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia, yang dapat menerima atau

memperoleh penghasilan dari Indonesia tidak dari menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia.

(13)

BENTUK USAHA TETAP (BUT)

Bentuk usaha tetap adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia, yang dapat berupa:

(14)

BENTUK USAHA TETAP (BUT)

 tempat kedudukan manajemen;

 cabang perusahaan;

 kantor perwakilan;

 gedung kantor;

 pabrik;

 bengkel;

 gudang;

 ruang untuk promosi dan penjualan;

 pertambangan dan penggalian sumber alam;

 wilayah kerja pertambangan minyak dan gas bumi;

 perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan,atau kehutanan;

 proyek konstruksi, instalasi, atau proyek perakitan;

 pemberian jasa dalam bentuk apa pun oleh pegawai atau orang lain, sepanjang dilakukan lebih dari 60 (enam puluh) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan;

 orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya tidak bebas;

 agen atau pegawai dari perusahan asuransi yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang menerima premi asuransi atau

menanggung risiko di Indonesia; dan

 komputer, agen elektronik, atau

peralatan otomatis yang dimiliki, disewa, atau digunakan oleh penyelenggara

transaksi elektronik untuk menjalankan kegiatan usaha melalui internet.

(15)

Tempat Pendaftaran NPWP dan/atau

Pengukuhan PKP Wajib Pajak Internasional

Berbicara Wajib Pajak Internasional sebenarnya sangat luas cakupannya, tidak hanya BUT saja, melainkan juga hubungan bisnis internasional yang bisa berupa kepemilikan saham dan penanaman modal asing di Indonesia oleh orang atau perusahaan asing.

Berdasarkan peraturan Dirjen Pajak Nomor:Per-20/PJ/2011 tentang perubahan kedua atas peraturan Dirjen Pajak nomor: Per-9/PJ/2008 tentang Tempat Pendaftaran Bagi Wajib Pajak tertentu dan/atau tempat pelaporan usaha bagi Pengusaha Kena pajak tertentu, ditetapkan tempat pendaftaran NPWP dan/atau pengukuhan PKP bagi WP internasional

(16)
(17)
(18)

Objek PPh SPLN Non BUT

Pertama: Berdasarkan Pasal 26 ayat (1)

“Atas penghasilan tersebut di bawah ini (closed list), dengan nama dan dalam bentuk apa pun, yang dibayarkan, disediakan untuk dibayarkan, atau telah jatuh tempo pembayarannya oleh badan pemerintah, subjek pajak dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya kepada Wajib Pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap di Indonesia dipotong pajak sebesar 20% (dua puluh persen) atau tarif dalam P3B dari jumlah bruto oleh pihak yang wajib membayarkan”

(19)

Objek PPh Pasal 26 ayat (1)

dividen;

bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan sehubungan dengan jaminan pengembalian utang;

royalti, sewa, dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta;

imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan;

hadiah dan penghargaan;

pensiun dan pembayaran berkala lainnya;

premi swap dan transaksi lindung nilai lainnya; dan/atau

keuntungan karena pembebasan utang.

19

(20)

Objek PPh SPLN Non BUT

Kedua: Berdasarkan Pasal 26 ayat (2)

1. Atas penghasilan dari penjualan atau pengalihan harta di Indonesia, kecuali yang diatur dalam Pasal 4 ayat (2), yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap di Indonesia, dan

2. premi asuransi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi luar negeri

dipotong pajak 20% (dua puluh persen) dari perkiraan penghasilan neto.

(21)

Pemotongan PPh Pasal 26 ayat (2)

(22)

Ketiga: Berdasarkan Pasal 26 ayat (2a)

Objek PPh SPLN Non BUT

(23)
(24)

Contoh Tax Treaty

Indonesia-Singapura

(25)

Lihat Tax treaty antar negara

berisi daftar perjanjian penghindaran pajak berganda (P3B) antara negara Indonesia dengan negara mitra.

https://perpajakan.ddtc.co.id/p3b

(26)

Referensi

Dokumen terkait

Intensitas serangan hama lalat buah di Kalimantan Selatan pada tahun 2015 dan 2016 menunjukkan intensitas rata-rata serangan sebanyak 66,7%, untuk mengetahui

Adapun masalah pengendalian yang terdapat dalam bagian Pengelolaan dan Pelayanan Informasi Publik di KPU Kota Magelang adalah membutuhkan waktu yang lama

Untuk meningkatkan produksi batubara dilakukan dengan analisis aktual lapangan terhadap cycle time, Waktu Kerja Alat Angkut, Mechanical Availability,

Dalam hal gabungan beberapa perbuatan yang telah dilakukan oleh seorang pelaku dan masing-masing perbuatan harus dipandang sebagai perbuatan berdiri sendiri, dna

Sehingga secara tidak langsung, general control perusahaan dapat membantu menghasilkan kualitas informasi yang relevan dan reliable pada laporan keuangan, yang merupakan

“Dinamika Strategi Coping Terhadap Post-Power Syndrome Dalam Menjalani Masa Pensiun”, Skripsi Sarjana Strata 1, Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya

bahwa berdasarkan Ketentuan Pasal 285 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang