• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lampiran 1: Headline Bisnis Indonesia 28 Januari 2010

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Lampiran 1: Headline Bisnis Indonesia 28 Januari 2010"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

92

Lampiran 1: Headline Bisnis Indonesia 28 Januari 2010

(2)

93

Lampiran 2: Headline Bisnis Indonesia 29 Januari 2010

(3)

94 Lampiran 3: Transkrip Wawancara

Narasumber: Marlina A. Jobs, Asisten Redaktur/Penanggungjawab Redaksi Harian Bisnis Indonesia wilayah Jatim & Bali, S. Ardiansyah, Asisten Manajer Pemasaran.

Waktu : 5 mei 2010,

Alamat : Kantor Harian Bisnis Indonesia Surabaya, Jl.Opak no.8 Surabaya

Peneliti : Apakah peristiwa 100 hari ini diannggap penting sekali untuk pelaku bisnis?

Marlina : Ini kan kali ke dua pemerintahan SBY, dengan mempertaruhkan nama baiknya.

Peneliti : pelaku bisnis merupakan salah satu unsur yang mampu menjatuhkan suatu pemerintahan. Bisnis Indonesia merupakan pegangan atau referensi hampir seluruh pengusaha besar di Indonesia. Yang saya mau lihat, bagaimana Bisnis Indonesia membingkai momen 100 hari dalam pemberitaannya. Sesuatu bisa dianggap penting juga tidak lepas dari campur tangan media. Ketika media menyoroti suatu peristiwa, maka peristiwa tersebut dipandang penting bagi pembacanya.

Marlina : Saya coba menangkap pemikiran teman-teman di Jakarta ya Van. Ini kan sudah berulang terus, yang ganti kabinet, dalam kabinet pun ganti-ganti

S. Ardiansyah: Pengamat pasar modal top di Indonesia, Jeffrey yang lahir dari Surabaya itu juga begitu. Pemain saham, mulai dari tingkat kecil maupun besar, itu sama dia dianjurkan belajarlah di Koran Bisnis Indonesia. Atau kalau di Surabaya, mainlah di kantor Bisnis Indonesia. Disini tempat mainnya para pengusaha sebelum jadi Bupati.

Marlina : Koran Bisnis di Jakarta banyak, salah satu contohnya investor daily.

Itu persis seperti kita. Andalannya adalah bursa saham, Cuma

(4)

95

Lampiran 3: Transkrip Wawancara (Sambungan)

barangkali Bisnis Indonesia hanya menang karena kita pertama.

Jadi waktu tahun 1985 muncul, belum ada yang sejenis itu. Dan perjalanannya panjang. Dulu itu sakral sekali judul koran. Jadi di kiri kanan koran ga dijual sama sekali untuk iklan. Jadi dulu istilah kuping juga dikatakan terlalu komersil. Kok di samping namanya sendiri kok dijual. Sedangkan kita yang namanya jurnalistik atau produk jurnalisme jauh dari jual beli. Saya cerita itu untuk masuk kesini, hubungannya sama arah pemberitaan itu. Ada nuansa itu, bahwa kita jadinya harus pro (barangkali) istilahnya kepada pengusaha. Tetapi kemudian, setelah dipikir -pikir memang ia.

Pengusaha kan yang menggerakkan perekonomian. Bahwa pemerintah mengatur, membuat regulasi, ia betul. Tapi yang betul- betul punya modal niat untuk berusaha sendiri, boleh dibilang seseorang yang disebut pengusaha itu kan? Mereka adalah orang- orang yang sebelumnya adalah orang biasa yang diberi talenta untuk menjadi pedagang. Pabrikan yang membangun usahanya dari kecil hingga menjadi besar. Itulah yang menjadi dasar kalau kita menulis berita. Jadi, kita berusaha, tapi wartawannya gak boleh jadi pengusaha. Cuma berusaha Van, tahu sudut pandang si pengusaha itu. Karena pengusaha itu bagian dari masyarakat juga. Dan itulah yang mendasari ini semuanya van. Termasuk dalam menilai kabinet. Jadi, salah satu yang saya ingat, proses di kabinet SBY.

Prosesnya itu yang pertama pada ikut bingung. Nanti gimana nih kalau tar terbukti lagi kotak suara diapakan dimanipulasi. Karena dari awal ibu mega sudah mengingatkan supaya kotak suara jangan sampai dimanipulasi. Sudah terjadi di Jawa Timur. Karena bertepatan dengan pilgub, hasilnya ketat, sudah jelas ada permainan dan dihubung-hubungkan dengan partai demokrat, masih berjalan bulan Februari sudah masuk masa kampanye Maret SBY-Boediono.

Boleh dibilang, lukanya masyarakat belum sembuh, sudah harus

(5)

96

Lampiran 3: Transkrip Wawancara (Sambungan)

siap lagi untuk pilpres itu. Tapi di pengusaha waktu itu, akhirnya cuma bilang, saya ingat waktu itu “Iya, bagaimana deh. Yang mana yang bisa mulus jalannya kami sih tetap berproduksi” saya ingat ada salah satu pengusaha yang bilang begitu. Kami tidak terpengaruh, kalau bisa berjalan terus. Kenapa kok bisa seperti itu? Karena waktu itu ada krismon yang disebut krismon kedua, krisis global. Krisis global yang berawal dari Amerika 2008-2009 masih terus seperti itu. Jadi pengusaha emang ga bisa terlalu serius mau mikirin ikut menilai-nilai. Tapi mereka tentunya berharap kalau SBY yang berjalan terus, oke barangkali itu akan lebih stabil dibandingkan apabila ada orang baru sama sekali karena ada hubungannya sama kebijakan-kebijakan, aturan-aturan dan sebagainya.

Peneliti : maksudnya supaya berkelanjutan kah bu?

Marilina : ya, berkelanjutan! Jadi bukan figur SBYnya yang diperhatikan, tetapi kalau berganti lagi, programnya akan lain lagi. Kan sedang global intro. Jadi, ada hal lain yang mereka perlu konsentrasi. Jadi kalau berganti lagi dan bikin mereka bingung itu juga bikin mereka ga concern, sehingga mereka juga “oke deh kalau jalan terus. Tapi mudah-mudahan lancar, jangan ada masalah lagi.” Itu waktu terpilih, mengantisipasi kalau SBY terpilih lagi. Setelah SBY- Boediono jelas sudah terpilih, kemudian masuk kabinet 100 hari yang menyita waktu itu kan, kalau tidak salah waktu memilih mentrinya. Kalau tidak salah, untuk milih mentrinya itu sampai dua minggu. Bayangkan dari 100 hari yang cuma tiga bulan itu artinya 12an minggu, 2 minggunya sendiri untuk memilih mentri- mentrinya. Nah itu, pengusaha juga mikir, ini kira-kira siapa lagi orangnya. Komposisi mentrinya yang mereka dari awal antisipasi juga. Ini kira-kira berubah seperti apa sih. Nah, SBY disini sudah tepat menempatkan MS Hidayat di posisi Mentri Perindustrian.

Karena tadinya ketua KADIN (Kamar Dagang dan Industri),

(6)

97

Lampiran 3: Transkrip Wawancara (Sambungan)

semacam kumpulan pengusaha -pengusaha yang sudah berdiri lama sejak dulu. Semacam Chamber of Commerce di Eropa, AS, manca negara pasti ada kumpulan-kumpulan pengusaha. Mentri perindustrian dipilih dari ketuanya Kadin. Dan itu memang sudah benar, karena tidak ada yang lebih mengenal si pabrika n karena dia juga berkerja di bidang itu,juga pengusaha. Tapi mengenai kapasitas dia sebagai mentri apakah dia bisa atau tidak, itu lain cerita. Karena untuk membuat regulasi dan semacamnya juga butuh pengetahuan bagaimana prosesnya dan bagaimana agar cepat. Mungkin si Hidayat itu juga ga ngerti yang seperti itu sebagai mentri, tetapi karena dia sudah dari kalangan industri, boleh deh. Semua terima.

Kemudian untuk perdagangan sendiri Ibu Marina Pangestu diterusin aja, karena diperlukan loby-nya. Ibu Marina sendiri kan sudah pengamat, pengamat perdagangan, ekonomi dari CSIS Jakarta. Jadi akhirnya pemilihan orang yang penting kan Cuma 2-4 orang itu ya.

Kepala BKPN, dan yang tadi itu. Yang lain ya bisa diperkaya atau dirame -ramein. Tapi, yang benar-benar kekuatan modal bermain itu kan dua tadi, mentri perdagangan dan mentri perindustrian. Jadi begitu dua orang ini disebut, mentri keuangan Sri Mulyani yang pada saat itu belum kebuka soal bank century, pengusaha asik -asik aja tidak terlalu rame lagi. Arah pemberitaan bisnis akhirnya lebih ke bagaimana kebijakan yang dihasilkan. Pengusaha memang lebih pragmatis, jadi pemberitaan kami lebih ke sudah seperti apa kebijakan yang ada dan yang masih diperlukan seperti apa. Antara lain UKM ada, itu memang mesti diungkin ka rena SBY sendiri kan kebijakannya, Creative Industry. Dan itu pasti selalu berawal dari UKM pasti. Jadi bagaimana kebijakan di UKM. Jadi bisnis indonesia lebih ke solusi-solusinya, lebih melihat ke masing-masing sektor usaha ini kira-kira mereka menempatka n diri kemudian SBY melihat UKM seperti apa. Mediasi agar bisa berjalan seperti apa, itu

(7)

98

Lampiran 3: Transkrip Wawancara (Sambungan)

artinya dari perbankan. Dan memang pada 100 hari itu sudah lumayan kelihatan waktu itu. Komitmen-komitmen itu maksudnya diminta lagi lebih jelas waktu itu. Sekarang memang tinggal mengawal apakah betul seperti itu semua.

Peneliti : Berarti tentang 100 hari SBY-Boediono BI itu lebih melihat ke kinerjanya ya?

Marlina : ia, lebih tepatnya lebih melihat evaluasi kerja dan proyeksinya.

Mungkin karena dunia usaha itu lebih cepat, sayang sekali kalau tidak kita bantu. Jadi yang istilahnya kita sindir lebih ke,”Ayo cepat ini, kebijakannya dan penegasannya sudah perlu ini” seperti itu.

Jangan lagi lama-lama. Masih banyak kebijakan-kebijakan lama yang sampai sekarang masih belum beres. Misalnya ACFTA yang di-sign sama China, itu juga ternyata lupa dibahas. Tiba -tiba udah 1 januari semua bingung, baru sadar maksud kebijakan itu. Padahal kebijakan itu sudah ada sejak 2002. Mau ga mau itu masalah dan bukan saatnya lagi kita mengungkit, menyalahkan SBY. Soalnya sudah bukan masanya, sudah saatnya maju. Karena ini berjalan terus, bergulir terus. Tidak bisa lagi menyoroti itu, jadi porsinya yang menyesal, menyayangkan, memang harus ada, teta pi di Bisnis Indonesia itu topiknya sedikit. Lebih ke apa yang harus dilakukan karena pabrik harus berjalan terus, kalau tidak bisa ada PHK, kalau sudah begitu ada kerusuhan, konflik sosial, jadi akhirnya apa solusinya. Cepetan deh. Makanya muncul yang industri kreatif itu.

Karena itu kartu pengaman, karena UKM, retail, sektor informal merupakan perdagangan kecil misalnya UKM, koperasi, solusinya yang kita kawal terus. Ada halaman UKM dan Retail di BI itu ikut menyoroti 100 hari itu kira-kira kebijakannya seperti apa yang mau diambil. Mengubah sama sekali atau bagaimana? UKM juga ini harus dijaga sekali.

(8)

99

Lampiran 3: Transkrip Wawancara (Sambungan)

Peneliti : ternyata beda ya koran bisnis dengan umum. Kalau yang saya amati, koran umum lebih banyak menyoroti demo dan sosok SBYnya. Kalau BI terlihat selama ekonomi aman, yang lain tidak menjadi porsi di dalam permberitaannya.

Marlina : ia, memang mau ga mau kita ga bisa memberitakan misalnya demo.

Bisa aja kita beritakan di depan. Tetapi istilahnya, “So,What gitu loh” karena itu hanya menambah resah saja. Bukan kita juga apatis, bukan juga kita oportunis, ga mau ikut rame atau ga mau cari susah, Cuma mau aman saja, tentu itu sah-sah saja ada yang menilai seperti itu. Itu sepertinya ada di halaman umum di belakang. Tetap ada dan tetap kritis, teman yang menulis itu dia sudah pakar sekali di bidang politik. Ini gerakan dan manuvernya seperti apa dia sudah tau sekali dan ada beberapa orang yang ahli seperti itu. Tetapi bukan tema kita kedepankan, yang ditaruh di depan, itu memang rasanya bukan kebijakan dari bisnis. Ya itu, bikin resah. Toh kalau resah, buntutnya ya seperti sekarang yang tidak resah saja banyak pabrik yang mangkir pajak, banyak yang PHK tidak kasih pesangon. Itu saja sudah terjadi semua. Apalagi kala u ditambah bikin resah. Semuanya seperti di luar kendali, itu malah semakin sulit. Masyarakat pada umumnya pasti sulit.

Peneliti : aku baca yang tanggal 29, fotonya demo tapi yang dibahas malah soal indeks saham.

Marlina : soal century itu sebenarnya ada. Kayak berita tentang sri mulyani yang mau ga mau terlibat. Entah dia dijebak atau bagaimana. Itu ada. Tapi pada saatnya, memang faktanya seperti itu. Jadi kalau kita ga tulis, pura-pura ga tahu kalau sri mulyani ini terlibat karena salah satu narasumber Bisnis Idonesia dalam hal masalah-masalah ekonomi adalah mentri keuangan, bukan karena ada kedekatan personal atau bagaimana. Tetapi kalau banyak pihak yang menilai, kalau kita menulis tidak sesuai dengan fakta ya itu juga menabrak

(9)

100

Lampiran 3: Transkrip Wawancara (Sambungan)

logika ya. Bahwa dia sengaja atau tidak, itu yang kita tidak tahu dan sedang dicari sejauh mana kesengajaan atau ketidaksengajaannya sejauh mana. Nah kalau yang kabinet 100 hari ini, ini memang dasar dari lima tahun ke depan kan? Jadi sudut pandang kita harus hati-hati sekali. Kalau mau bikin orang bingung-bingung bisa, tetapi yang kita maksud untuk lima tahun ke depan.

Peneliti : yang penting bagi penting bagi pengusaha dalam 100 hari itu seperti apa ya yang dimuat?

Marlina : iya, jadi kira-kira kebutuhannya pengusaha itu apa sih? Mereka sebenarnya bukan SBY atau siapa pun. Bukan itu, bahwa kita tahu ada beberapa pengusaha dekat dengan SBY, ia. Tetapi kita tetap mengatas namakan sekian juta pengusaha. Bukan hanya satu dua lima yang dekat dengan SBY. Itu memang dugaan kita saja. Dari skala besar sampai skala kecil. Kita bertolak dari situ. Bertolak dari situ. Karena pengusaha adalah bagian dari masyarakat juga. Mereka adalah individu yang betul-betul boleh dibilang lain daripada yang lain. Mereka risk taker. Dengan uang sekian mereka mau bangun usaha, UKM, atau toko, usaha kecil di rumah. Kan tidak semua orang seperti itu. Kebanyakan kan orang lebih memilih bekerja menjadi karyawan. Itu kan mentalnya lain. Pengusaha butuh aturan, tetapi kalau aturannya terlalu mengikat, tidak adil misalnya, itu kan susah. Itulah yang dipantau di 100 hari itu. Makro dari semuanya seperti apa.

Peneliti : pejabat selalu mengatakan jangan menilai semuanya dari 100 hari itu. Pertanyaan saya, kalau memang jangan dinilai dari situ, kenapa 100 hari itu digembar -gemborkan?

Marlina : cenderung kita mau ada batas dari pembicaraan dulu. Akhirnya diputuskan 3 bulan itu. Tapi dari kepala di belakangnya sudah tahu bahwa tidak mungkin mengharapkan sesuatu dari 3 bulan itu.

Seperti yang 2 minggu mentri bolak-balik ke cikeas. Ternyata tidak

(10)

101

Lampiran 3: Transkrip Wawancara (Sambungan)

jadi dibahas. Semua tahu bahwa 100 hari itu diperlukan hanya untuk pembicaraan awal. Bahwa SBY ini akan banyak menampung aspirasi atau tidak. Disitu aja sebenarnya. Indikatornya adalah dengan memilih orang-orangnya, mentri-mentri itu tadi. Tapi bahwa itu akan ada kebijakan yang keluar itu memang ga mungkin. Tapi dengan memilih mentri-mentri itu tadi, bisa dibayangkan diharapkan bisa dibayangkan kebijakan yang akan keluar itu seperti apa.

Peneliti : Roosevelt vs SBY

Marlina : jadi maksud Vany seharusnya dalam 100 hari harus ada bukti nyata ya. Kalau kita bicara tentang Sby ini, ini kan sudah yang kedua kalinya ya. Yang sering dikatakan kebijaka nnya buruk, tapi secara psikologis ga akan dia ubah karena itu buah kebijakannya sendiri.

Tapi memang kebiasaan kita di Indonesia yang semuanya serba lambat, betul memang tidak ada kebijakan-kebijakan yang kongrit sekali. Yang ada semacam pencanangan-penca nangan.

Saya tidak tahu, apa karena sudah kelamaan jadi wartawan. Sudah jenuh, jadi ga bisa ngerasa atau sensitif lagi, bisa jadi. Karena memang mau mengharapkan sesuatu yang berubah sekali tidak mungkin. Karena dia ini kan hanya meneruskan. Misalnya dia mau ganti mentrinya pun kan lebih ke kualitasnya. Kita semua rakyat indonesia akhirnya menurunkan standar kita. setidaknya dia sudah pilih orang-orang yang agak bisa diterima. Meskipun sekarang terbukti tidak beres juga. Tapi yang 100 hari itu kita memang sudah tidak bisa mengharapkan apa -apa.

Referensi

Dokumen terkait

Dari uraian diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengaruh pemberian herbisida paraquat diklorida per−oral terhadap pembengkakan hepatosit

Sehubungan dengan semakin meluasnya profesi di Indonesia maka alangkah baiknya kita dalam menjalankan suatu profesi membutuhkan suatu perjanjian asuransi

Hotel Mercure Bandung Setiabudi melakukan strategi promosi dalam upaya mempengaruhi minat tamu untuk melakukan reservasi melalui online dengan strategi Online

Teknik mikroabrasi email digunakan untuk mengatasi adanya pewarnaan gigi akibat fluorosis sebagai terapi awal yang diikuti oleh bleaching pada kasus pewarnaan yang berat

Sejatinya setiap orang mempunyai kreativitas yang berbeda-beda, baik anak-anak maupun orang dewasa. Hampir semua pekerjaan menuntut kreativitas, terutama menjadi

Sepupu-sepupu saya yang datang juga bercakap Bahasa Melayu dengan saya dan sekarang saya yakin apabila saya pulang nanti, saya tidak akan ada apa-apa masalah bercakap Bahasa

Luminance HDR Software (Akhir Thoughts) - Untuk seseorang mencari sesuatu yang gratis untuk bermain-main dengan program ini menghasilkan beberapa baik mencari gambar HDR alami..

Hal ini menjadikan konfigurasi bagi komputer client dan komputer server bisa berbeda seperti kapasitas memory, kecepatan processor atau alat masukan dan keluaran yang