• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

5 BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tumbuhan Mikania micrantha (L.)

2.1.1 Uraian umum Mikania micrantha (L.)

Mikania micrantha Kunth merupakan tumbuhan gulma merambat yang berasal dari Amerika Selatan dan Amerika Tengah. Memiliki nama ilmiah Mikania micrantha Kunth. Tumbuhan Mikania micrantha Kunth memiliki nama lokal yang berbeda disetiap daerahnya. Di daerah Tapanuli Selatan tumbuhan ini dikenal dengan nama “siroppaspara”. Di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur tumbuhan ini dikenal dengan nama “sembung rambat”. Di Jawa Barat (Sunda) tumbuhan ini dikenal dengan nama “caputuheun”. Dalam bahasa Inggris, tumbuhan ini lebih dikenal dengan nama American rope, mile-a-minute weed, bittervine, dan Chinesecreeper (Harahap dan hidayat, 2015).

2.1.2 Klasifikasi Mikania micrantha (L.)

Klasifikasi tumbuhan Mikania micrantha (L.) adalah sebagai berikut (Harahap dan hidayat, 2015):

Kingdom : Plantae

Super divisi : Spermatophyta (berbiji) Divisi : Magnoliophyta (berbunga) Kelas : Magnoliopsida (dikotil) Sub Kelas : Asteridae

Ordo : Asterales Famili : Asteraceae Genus : Mikania

Spesies : Mikania micrantha (L.)

(2)

6

Gambar 2.1 Gulma Mikania micrantha (L.) Sumber : Helprin Marpaung, 2019

2.1.3 Botani Mikania micrantha (L.)

Sembung rambat merupakan gulma tahunan. Mikania micrantha Kunth memiliki karakteristik fisik yang unik. Batang sembung rambat berwarna hijau muda dan ditumbuhi rambut-rambut halus. Pada setiap ruas batang terdapat dua helai daun yang saling berhadapan, tunas baru, dan bunga. Daun sembung rambat berbentuk segitiga yang menyerupai hati dengan panjang 4-13 cm dan lebar 2-9 cm.

Permukaan daun menyerupai mangkok dengan tepi daun bergerigi. Bunga tumbuhan sembung rambat berwarna putih, berukuran kecil, serta tumbuh dari ketiak daun atau pada ujung Tunas (Harahap dan hidayat, 2015). Satu tangkai sembung rambat dapat menghasilkan 20.000-40.000 biji dalam satu musim.

Penyebaran benih terjadi pada bulan Oktober dan April. Pertumbuhan sembung rambat muda sangat cepat (8-9 cm dalam 24 jam). Sembung rambat dapat tumbuh pada daerah yang lembab atau agak kering, baik pada areal terbuka ataupun sedikit ternaungi. Dapat ditemukan pada ketinggian 0-2000 m dpl.

Sembung rambat dapat tumbuh dengan merambat memanjat pohon, sehingga pohon tertutup oleh daun-daun sembung rambat tersebut (Sankaran, 2015).

(3)

7

2.1.4 Penyebaran dan Status Mikania micrantha (L.)

Sembung rambat mudah berkembang biak melalui potongan batang dan biji.

Viabilitas biji mencapai lebih dari 60%, sedangkan daya tumbuh stek dapat mencapai 95%. Sembung rambat dapat tumbuh dengan merambat memanjat pohon, sehingga pohon tertutup oleh daun-daun sembung rambat tersebut (Sankaran, 2015). Ancaman utama sambung rambat adalah pengurangan hasil panen, hilangnya keanekaragaman hayati dan pencegahan regenerasi hutan (Sankaran, 2015).

2.1.5 Kerugian yang ditimbulkan oleh Mikania micrantha (L.)

Sembung rambat terkenal sebagai salah satu spesies gulma ganas di dunia (Lowe et al. 2001). Di hutan penyebaran sembung rambat tidak terkendali dengan jarak elevasi di bawah 1000 m (Kuo, 2003). Gulma ini menyebabkan tertutupnya pohon di daerah ekosistem teresterial sehingga pohon susah hidup. Jenis gulma ganas ini terus meningkat sehingga penggendaliannya menjadi perhatian umum oleh pemerintah setempat (Kuo et al. 2002). Sembung rambat menyebar sangat cepat menjajah dan menganggu lingkungan.

Sembung rambat dapat merusak atau membunuh tanaman dengan menghalangi cahaya pada tumbuhan lain. Selain bersaing dengan tanaman lain untuk air dan nutrisi, sembung rambat juga mengganggu proses nitrifikasi dan melepaskan zat yang menghambat pertumbuhan tanaman lain (Sankaran, 2015).

2.1.6 Pengendalian gulma Mekania micrantha (L.)

Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu mekanik, biologi (bioherbisida) dan kimia (herbisida sintetik) (Sukman dan Yakup, 2002).

Keunggulan dalam pengendalian herbisida sintetik adalah efektivitasnya yang cepat terlihat terutama untuk areal yang luas, akan tetapi jika digunakan dalam jangka waktu yang panjang dapat menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan

(4)

8

sehingga perlu adanya pengendalian alternatif (Syakir et al., 2008). Bioherbisida alami menjadi pilihan utama antara lain karena bahan-bahannya yang melimpah di alam sehingga mudah ditemukan, dan tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan. Salah satu jenis mempunyai potensi tersebut adalah gulma sembung rambat (Mekania micrantha L.) (Perez et al., 2010), daun tanaman dapat dimamfaatkan sebagai pengendali gulma karna menghasilkan senyawa alelokimia yang dapat menghambat pertumbuhan gulma (padmanahan dan Daniel, 2003).

2.1.7 Alelokima Mikania micrantha (L.)

Tumbuhan yang mempunyai potensi untuk di kembangkan menjadi Bioherbisida yaitu gulma daun sembung rambat (M. micrantha L.). Berdasarkan penelitian analisis fitokimia Haisya et al. (2013) mengatakan bahwa ekstrak daun M.

micrantha Kunth mengandung zat aktif dalam bentuk metabolit sekunder seperti alkaloid, saponin, steroid, tannin, dan terpenoid.

Berdasarkan hasil penelitian Pebriayani et al., (2013) daun M. micrantha Kunth dapat menghambat perkecambahan biji dan pertumbuhan gulma. Penelitian perez et al. (2010) menyatakan bahwa M. micrantha Kunth memiliki senyawa alelokimia berupa fenol, flavonoid dan terpenoid.

Sembung rambat diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti tanin, alkaloid, saponin, steroid dan terpenoid yang dapat digunakan sebagai obat-obatan dan insektisida (Hajra et al., 2010).

(5)

9 2.2 Tanaman Mangifera indika (L.)

2.2.1 Klasifikasih Tanaman Mangifera indika (L.)

Menurut Natural Resources Conservation Service United State of Departement Agriculture (2017), dalam tata nama sistematika (taksonomi) tumbuhan, tanaman mangga (Mangifera indika L.) diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Mangnoliophyta Class : Magnoliopsida Ordo : Sapindales Famili : Anacardiaceae Genus : Mangifera

Species : Mangifera indika (L.)

2.2.2 Deskripsi Tanaman Mangifer indika (L.)

Tanaman mangga merupakan tanaman buah yang tergolong kedalam famili Anacardiaceae dan berasal dari negara India, kemudian menyebar ke wilayah Asia Tenggara. Tanaman mangga tersebar luas didaerah tropis dan subtropis (Jahurul et al., 2015).

2.2.3 Morfologi Tanaman Mangifera indika (L.)

Tanaman mangga memiliki akar tunggang serta batang yang tegak, bercabang banyak dan rindang (Bally, 2011. Prasetya, 2018). Tinggi tanaman dewasa mencapai 10-40 m dan bias berumur sampai lebih dari 100 tahun (Pracaya, 2011. Prasetya, 2018).

(6)

10

Daun mangga (Mangifera indika L.) memiliki daun sederhana dengan panjang tangkai mencapai 1-2 cm. bentuk daun biasanya berbentuk lonjong, daun tua berwarna hijau dengan bagian atasnya mengkilap, daun muda berwarna keunguan, dan akan berubah menjadi warna hijau seperti daun tua (Bally, 2006.

Prasetya, 2018).

Gambar 2.2 Tanaman Mangifera indika (L.) Sumber : Helprin Marpaung, 2019

2.2.4 Alelokimia Daun Mangifera indika (L.)

Daun mangga telah diketahui memiliki senyawa dengan potensi alelopati seperti flavonoid, asam fenol, tannin, saponin serta steroid (Sahoo et al., 2010; El- Rokiek et al., 2011; Ashafa et al., 2012; Khan et al., 2013; Saleem et al., 2013) dan substansi berkhasiat lainnya seperti mangiferin, galotanin, catechin, epi- catechin, epigallocatechin dan benzofenon (Barreto et al., 2008; Masibo & He, 2008).

(7)

11

Prinsip utama Alelopati adalah bahwa tumbuhan menghasilkan berjuta senyawa kimia atau disebut alelokimia. Beberapa senyawa alelokimia yang mengubah fungsi fisiologis dan pertumbuhan dari spesies. Berdasarkan hasil penelitian EL- Rokiek et al, 2010, ekstrak daun mangga dapat menghambat pertumbuhan rumput teki (Cyperus rotundus L.) pada konsentrasi 25% karena ekstrak daun mangga mengandung senyawa alelopati golongan fenol antara lain ferulic, coumaric, benzoic, vanelic, chlorogenic, caffeic, hydroxybenzoic, dan Cinnamic.

2.3 Tanaman Carica papaya (L.)

2.3.1 Klasifikasi Tanaman Carica papaya (L.)

Tata nama sistematika (taksonomi) tumbuhan, Klasifikasi tanaman pepaya (Carica pepaya L.) adalah sebagai berikut (Rukmana, dan Rahmat, 2009).

Kingdom : Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) Sub Kelas : Dilleniidae

Ordo : Caricales Famili : Caricaceae Genus : Carica

Spesies : Carica papaya L.

2.3.2 Deskripsi Tanaman Carica papaya (L.)

Pepaya merupakan tanaman yang berasal dari Meksiko bagian selatan dan bagian utara dari Amerika Selatan. Tanaman ini menyebar ke Benua Afrika dan Asia serta India. Dari India, tanaman ini menyebar ke berbagai negara tropis, termasuk Indonesia di abad ke-17. pepaya merupakan tanaman buah berupa

(8)

12

herba dari famili Caricaceae yang berasal dari Amerika Tengah dan Hindia Barat bahkan kawasan sekitar Mexsiko dan Costa Rica. Tanaman ini disebarluaskan ke berbagai penjuru dunia oleh para pedagang Spanyol. Di Indonesia sendiri, tanaman pepaya (Carica papaya L.) baru dikenal secara umum sekitar tahun 1930-an, khususnya di kawasan pulau Jawa. Tanaman buah tahunan ini tumbuh pada tanah lembab yang subur dan tidak tergenang air, dapat ditemukan di dataran rendah sampai ketinggian 1000 m di bawah permukaan laut.

Tanaman pepaya banyak ditanam orang, baik di daerah tropis maupun subtropis.

di daerah-daerah basah dan kering atau di daerah-daerah dataran dan pegunungan (sampai 1000 m dpl). Buah pepaya merupakan buah meja bermutu dan bergizi yang tinggi.

2.3.3 Morfologi Tanaman Carica papaya (L.)

Tanaman pepaya memiliki akar tunggang (radix primaria L.), karena memiliki akar lembaga tumbuh terus menerus yang menjadi akar pokok yang bercabang- cabang menjadi akar lembaga. Tumbuhan pepaya merupakan tumbuhan diatas kotiledon, Tumbuh pada titik tumbuh, yakni pada meristem apeks (pucuk), berada di atas permukaan tanah serta dapat termodifikasi dan tumbuh dibawah permukaan tanah.

Pohon pepaya umumnya tidak bercabang, pepaya juga bisa tumbuh hingga setinggi 5-10 m. Batang pepaya merupakan batang berkayu (lignosus) karena batangnya tumbuh tegak lurus dan kuat (softwood) dan termasuk tipe model batang yang monopodial karena batang pokok selalu tampak jelas dan memiliki satu sumbu batang. Bentuknya panjang bulat seperti silinder. Batangnya memperlihatkan bekas-bekas daun. Arah tumbuh batang tegak lurus ke atas.

(9)

13

Daun tersusun dalam satu helai dan memiliki tangkai bulat (silindris, berongga), dengan panjang 25-100 cm. Bentuk atau bangun daun bulat karena saling berhubungan satu sama lain, ujung daun runcing (acutus), karena kedua tepi daun di kanan kiri ibu tulang daun sedikit demi sedikit menuju keatas dan membentuk sudut lancip, susunan daun bertulang menjari, karena dari ujung tangkai daun keluar beberapa tulang yang memencar, memperlihatkan susunan seperti jari tangan, yang ditengah paling besar sedang ke samping semakin pendek, daging daun seperti perkamen (perkamenteus), warna permukaan daun bagian atas hijau tua, sedangkan bagian bawahnya hijau muda atau hijau keputih-putihan, permukaan daun licin (laevis) sedikit mengkilat (nitidus). Letak helaian daun tersebar (folia sparsa), kadang-kadang terletak berhadapan, pada tiap tiga lingkaran batang terdapat 8 daun.

Gambar 2.4 Tanaman Carica papaya (L.) Sumber : Helprin Marpaung, 2019

(10)

14

2.3.4 Alelokimia Tanaman Carica papaya (L.)

Daun pepaya mengandung senyawa alkaloid karpain, karikaksantin, violaksantin, papain, saponin, flavonoid, dan tannin (Milind dan Gurdita, 2011). Valentine et al., (2003) dan El-Rokiek (2010) melaporkan bahwa flavonoid merupakan turunan dari senyawa fenol yang dapat menghambat proses pertumbuhan tanaman. Robinson (1995) dan Kristanto (2006) menyatakan bahwa senyawa fenol dan flavonoid efektif dalam menghambat aktivitas enzim pada tanaman.

Senyawa alelokimia yang terkandung pada ekstrak daun sembung rambat dapat menghambat aktivitas hormon pemacu pertumbuhan. Menurut Trenggono (1990), pengaruh senyawa alelokimia menghambat proses pertumbuhan dengan mengganggu kerja hormon asam giberelin sehingga tidak dapat menginduksi enzim amilase.

Tanin merupakan salah satu senyawa yang termasuk ke dalam golongan polifenol yang terdapat dalam tanaman pepaya. Mekanisme kerja senyawa tanin adalah dengan mengaktifkan system lisis sel karena aktifnya enzim proteolitik pada sel tubuh serangga yang terpapar tanin (Harborne, 1987).

Menurut Harborne (1987) senyawa kompleks yang dihasilkan dari interaksi tanin dengan protein tersebut bersifat racun atau toksik yang dapat berperan dalam menghambat pertumbuhan dan mengurangi nafsu makan serangga melalui penghambatan aktivitas enzim pencernaan. Tanin mempunyai rasa yang sepat dan memiliki kemampuan menyamak kulit. Tanin terdapat luas dalam tumbuhan berpembuluh, dalam angiospermae terdapat khusus dalam jaringan kayu.

Umumnya tumbuhan yang mengandung tanin dihindari oleh hewan pemakan tumbuhan karena rasanya yang sepat. Salah satu fungsi tanin dalam tumbuhan adalah sebagai penolak hewan herbivore dan sebagai pertahanan diri bagi tumbuhan itu sendiri (Harborne, 1987).

Gambar

Gambar 2.1 Gulma Mikania micrantha (L.)  Sumber : Helprin Marpaung, 2019
Gambar 2.2 Tanaman Mangifera indika (L.)  Sumber : Helprin Marpaung, 2019
Gambar 2.4 Tanaman Carica papaya (L.)  Sumber : Helprin Marpaung, 2019

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mengatasi masaah tersebut ( pada saat kas perusahaan mengalami defisit ), maka perusahaan tersebut sementara dapat memasuki pasar uang sebagai peminjaman dengan mencari

diajarkan mata pelajaran tersebut menggunakan media buku panduan, setelah dilakukan observasi disekolah, dan berdasarkan hasil diskusi bersama guru mata pelajaran

yatim itu sendiri ialah anak kecil yang ditinggal wafat oleh penanggung jawab atau sandaran hidupnya yang dalam hal ini dibebankan kepada figure ayah.yang belum

Pada beberapa kasus dapat ditemukan pada manusia walaupun jarang dengan gejala yang ditimbulkan menunjukkan kemiripan dengan penyakit difteri (Diphtheria-like Diseases

Adapun saran yang dapat penulis berikan agar penerimaan pajak khususnya untuk UMKM agar dapat lebih optimal yaitu untuk Direktorat Jendral Pajak secara khusus kepada

o Kepada Pemerintah daerah: Sekiranya dapat lebih memperhatikan dan meninjau lagi bagaimana keberadaan sarana dan prasarana pendidikan khususnya pendidikan jasmani

(1) Sesuai dengan hasil penelitian, bahwa video pembelajaran kebugaran jasmani berlandaskan tri kaya parisudha adalah berdasarkan validitas hasil dari ahli olahraga

Pada saat R bekerja di lingkungan kantor yang memiliki peraturan ketat, atasan yang tegas dan fasilitas yang seadanya, karena R sudah pernah merasakan hidup di jalanan sebagai