TANTANGAN DALAM PENERAPAN PASAR MODAL YANG EFISIEN DI INDONESIA
*ANGGRAINI SYAHPUTRI2, RICO NUR ILHAM1,
*Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bina Karya
**Universitas Malikussaleh Lhoksemawe
ABSTRAK
Pasar modal adalah salah satu indikator kemajuan ekonomi suatu negara.
Keberadaan pasar modal Indonesia mulai terbentuk telah mengalami beberapa pasang surut yang dapat dilihat dari indikator IHSG yang berfluktuasi. Ini sebagai akibat dari globalisasi dan integrasi ekonomi yang mengarah pada kinerja pasar modal sangat tergantung pada kinerja perekonomian nasional, regional, dan internasional. Semakin besar peran investor lokal diperlukan untuk mendorong pasar modal Indonesia agar lebih tahan terhadap berbagai krisis dan goncangan.
Tujuan Penelitian ini untuk memaksimalkan peluang pasar modal sebagai penggerak kemajuan roda perekonomian Indonesia dan memberikan sumbangsih penerimaan pajak bagi Indonesia, serta memberikan masukan bagaimana nantinya semua stakeholder agar mampu menjadikan pasar modal sebagai sarana Investasi yang paling efisien dari sisi penyelenggaraan dan regulasi dalam peraktiknya dimasa yang akan datang.
Penelitian ini menggunakan metode studi Literatur berdasarkan beberapa penelitian terdahulu dan jurnal ilmiah yang membahas tetang perkembangan pasar modal Indonesia. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah dan lembaga pengawas keuangan pasar modal dalam membuat regulasi sistem dan transaksi yang baik dan efisien bagi pasar modal Indonesia.
Keywords : Pasar Modal Indonesia, Tantangan, Regulasi, Efisiensi.
I. PENDAHULUAN
Pasar Modal Indonesia mer upakan pasar yang sedang berkembang yang dalam perkembangannya sangat rentan terhadap kondisi makroekonomi secara umum serta kondisi ekonomi global dan pasar modal dunia. Pengar uh makr oekonomi tidak mempengaruhi kinerja perusahaan secara seketika melainkan secara perlahan dan dalam jangka waktu yang panjang. Sebaliknya harga saham akan terpengaruh dengan seketika oleh perubahan faktor makro ekonomi tersebut karena para investor
lebih cepat bereaksi. Ketika perubahan makro ekonomi itu terjadi, para investor akan memperhitungkan dampaknya baik yang positif maupun yang negatif terhadap kinerja perusahaan beberapa tahun ke depan, kemudian mengambil keputusan membeli, menjual atau menahan saham yang bersangkutan. Oleh karena itu harga saham lebih cepat meny esuaikan diri terhadap perubahan variabel makroekonomi daripada kinerja perusahaan yang bersangkutan.
Indeks harga saham gabungan sebagai indikator per kembangan pasar modal Indonesia yang sekarang
bernama Bursa Efek Indonesia (BEI) membuktikan bahwa kondisi makroekonomi dan kondisi ekonomi global menyebabkan IHSG mengalami pergerakan yang sangat terkait dengan keadaan tersebut. Faktor lain yang juga berpengaruh terhadap pergerakan IHSG adalah kondisi politik dan keamanan negara. Tulisan ini membahas tentang sejarah, perkembangan dan tantangan pasar modal Indonesia dimasa yang akan datang.
Pasar modal merupakan lembaga keuangan non bank. Lembaga keuangan non bank ini, saat ini lebih dikenal dengan istilah Industri Keuangan non Bank (IKNB).
Permasalahan yang dihadapi Industri Keuangan non Bank (IKNB) pasar modal adalah bahwa pasar modal belum begitu dikenal masyarakat, karena sampai saat ini literasi pasar modal di kalangan masyarakat masih sangat rendah. Sebagai gambaran, berdasarkan hasil survey yang dilakukan OJK kepada 100 responden, hanya 7 orang yang mengaku tahu pasar modal.[1] Dapat disimpulkan secara umum hanya 7% masyarakat yang paham investasi pasar modal.
Selain kurangnya pemahaman masyarakat mengenai pasar modal, permasalahan lainnya adalah kurangnya literasi, sosialisasi, akses informasi, dan akses investasi pasar modal. Selain itu tingginya jumlah investor asing dibanding investor lokal menjadi permasalahan pokok pada penelitian ini.
Catatan data dari kustodian central efek Indonesia per juli 2016 berdasarkan komposisi kepemilikan total aset saham, investor asing mendominasi persentase kepemilikan saham sebesar 64%, sedangkan investor lokal hanya sebesar 36%.
Untuk meningkatkan kinerja pasar modal di Indonesia secara berkesinambungan, para pemangku kebijakan sudah seharusnya memanfaatkan peluang yang ada pada perekonomian Indonesia. Salah satu peluang yang perlu dimanfaatkan oleh para pemangku kebijakan pasar modal adalah meningkatnya golongan kelas menengah di Indonesia. Pertumbuhan populasi kelas menengah di Indonesia relatif tinggi.
II. KAJIANTEORITIS 2.1 Pasar Modal
Pasar modal dalam arti sempit adalah suatu tempat dalam pengertian fisik yang terorganisasi tempat efek- efek di perdagangkan yang disebut bursa efek. Pengertian bursa efek (stock exchange) adalah suatu sistem yang terorganisasi yang mempertemukan penjual dan pembeli efek yang dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung.
Menurut Undang-Undang Pasar Modal No.8 tahun 1995 tentang Pasar Modal[2]
mendefinisikan pasar modal “sebagai kegiatan yang bersangkutan dengan Penawaran umum dan perdagangan Efek, Perusahaan Publik yang berkaitan dengan Efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan Efek”.
Menurut Dahlan Siamat dalam pengertian sempit dan sederhana, pasar modal adalah tempat yang terorganisasi dan efek-efek yang diperdagangkan disebut bursa efek. Bursa efek atau stock exchange adalah sistem yang terorganisasi, yang mempertemukan penjual dan pembeli efek yang dilakukan baik secara langsung maupun melalui wakil-wakilnya. Fungsi bursa efek antara lain menjaga kontinuitas pasar dan menciptakan harga efek yang
wajar melalui mekanisme permintaan dan penawaran. Definisi pasar modal dalam arti luas adalah pasar konkret atau abstrak yang mempertemukan pihak yang menawarkan dan yang memerlukan dana jangka panjang, yaitu jangka satu tahun ke atas.[3]
Pengertian modal secara umum merupakan suatu tempat bertemunya para penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi dalam rangka memperoleh modal. Penjual dalam pasar modal merupakan perusahaan yang membutuhkan modal (emiten), sehingga mereka berusaha untuk menjual efek-efek di pasar modal.
Sedangkan pembeli (investor) adalah pihak yang ingin membeli modal diperusahaan yang menurut mereka menguntungkan.[4]
2.2 Saham
Secara sederhana saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan. Wujud saham adalah selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan kertas tersebut.
Membeli saham tidak ubahnya dengan menabung. Imbalan yang akan diperoleh dengan kepemilikan saham adalah kemampuannya memberikan keuntungan yang tidak terhingga. Tidak terhingga ini bukan berarti keuntungan investasi saham biasa sangat besar, tetapi tergantung pada perkembangan perusahaan penerbitnya.
Bila perusahaan penerbit mampu menghasilkan laba yang besar maka ada kemungkinan para pemegang sahamnya akan menikmati keuntungan yang besar pula. Karena laba yang besar tersebut menyediakan dana yang besar untuk didistribusikan kepada pemegang saham sebagi dividen.
Saham memberikan
kemungkinan penghasilan yang tidak terhingga. Sejalan dengan itu, risiko yang ditanggung pemilik saham juga relatif paling tinggi. Investasi memiliki risiko yang paling tinggi karena pemodal memiliki hak klaim yang terakhir, bila perusahaan penerbit saham bangkrut. Secara normal, artinya diluar kebangkrutan, risiko potensial yang akan dihadapi pemodal hanya dua, yaitu tidak menerima pembayaran dividen dan menderita capital loss.
Keuntungan lainnya adalah capital gain akan diperoleh bila ada kelebihan harga jual diatas harga beli. Ada kaidah-kaidah yang harus dijalankan untuk mendapat capital gain. Salah satunya adalah membeli saat harga turun dan menjual saat harga naik.
2.3 Obligasi
Obligasi adalah surat berharga atau sertifikat yang berisi kontrak antara pemberi pinjaman dengan penerima pinjaman. Surat obligasi adalah selembar kertas yang menyatakan bahwa pemilik kertas tersebut memberikan pinjaman kepada perusahaan yang menerbitkan obligasi.
Pada dasarnya memiliki obligasi sama persis dengan memiliki deposito berjangka. Hanya saja obligasi dapat diperdagangkan. Obligasi memberikan penghasilan yang tetap, yaitu berupa bunga yang dibayarkan dengan jumlah yang tetap pada waktu yang telah ditetapkan. Obligasi juga memberikan kemungkinan untuk mendapatkan capital gain, yaitu selisih antara harga penjualan dengan harga pembelian.
Kesulitan untuk menentukan penghasilan obligasi disebabkan oleh sulitnya memperkirakan perkembangan suku bunga. Padahal harga obligasi sangat tergantung dari perkembangan suku bunga. Bila suku bunga bank
menunjukkan kecenderungan meningkat, pemegang obligasi akan menderita kerugian.
Disamping menghadapi risiko perkembangan suku bunga yang sulit dipantau, pemegang obligasi juga menghadapi risiko kapabilitas (capability risk), yaitu pelunasan sebelum jatuh tempo. Sebelum obligasi ditawarkan di pasar, terlebih dahulu dibuat peringkat (rating) oleh badan yang berwenang. Rating tersebut disebut sebagai credit rating yang merupakan skala risiko dari semua obligasi yang diperdagangkan. Skala ini menunjukkan seberapa aman suatu obligasi bagi pemodal. Keamanan ini ditunjukkan dengan kemampuan untuk membayar bunga dan melunasi pokok pinjaman.
2.4 Saham Preferen
Saham preferen adalah gabungan (hybrid) antara obligasi dan saham biasa. Disamping memiliki karakteristik seperti obligasi juga memiliki karakteristik saham biasa.
Karakteristik obligasi misalnya saham preferen memberikan hasil yang tetap seperti bunga obligasi. Biasanya saham preferen memberikan pilihan tertentu atas hak pembagian dividen. Ada pembeli saham preferen yang menghendaki penerimaan dividen yang besarnya tetap setiap tahun, ada pula yang menghendaki didahulukan dalam pembagian dividen, dan lain sebagainya.
Pilihan untuk berinvestasi pada saham preferen didorong oleh keistimewaan alat investasi ini, yaitu memberikan penghasilan yang lebih pasti. Bahkan kemungkinan keuntungan tersebut lebih besar dari suku bunga deposito apabila perusahaan penerbit mampu menghasilkan laba yang besar, dan pemegang saham preferen memiliki
keistimewaan mendapatkan dividen yang dapat disesuaikan dengan suku bunga.
III. METODEPENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode studi Literatur, berdasarkan beberapa penelitian terdahulu dan jurnal ilmiah yang membahas tetang perkembangan pasar modal Indonesia.
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah dan lembaga pengawas keuangan pasar modal dalam membuat regulasi sistem dan transaksi yang baik dan efisien bagi pasar modal Indonesia.
3.1 Tujuan Penelitian
Tujuan Penelitian ini untuk memaksimalkan peluang pasar modal sebagai penggerak kemajuan roda perekonomian Indonesia dan memberikan sumbangsih penerimaan pajak bagi Indonesia, serta memberikan masukan bagaimana nantinya semua stakeholder agar mampu menjadikan pasar modal sebagai sarana Investasi yang paling efisien dari sisi penyelenggaraan dan regulasi dalam peraktiknya dimasa yang akan datang.
IV.PEMBAHASAN
4.1 Perkembangan Pasar Modal Indonesia
Pasar modal Indonesia sekarang sudah berkembang menjadi salah satu sumber pendanaan jangka panjang bagi dunia usaha dan pemerintah. Berbagai program seperti pembangunan infrastruktur pun turut didorong menggunakan pendanaan dari pasar modal.
Pemerintah sedang gencar melakukan pembangunan infrastruktur seperti pelabuhan, jalan tol, pembangkit listrik, jalur kereta api, bandara, dan
lainnya yang tentu butuh dana tidak sedikit, mengandalkan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) saja tidak cukup. APBN yang tersedia dalam lima tahun diperkirakan hanya Rp 1.500 triliun. Sedangkan kebutuhan pembangunan diprediksi lebih dari Rp 5.000 triliun.
Salah satu strategi yang saat ini dipilih melalui pemanfaatan berbagai instrumen pembiayaan di sektor pasar modal. Mulai dari instrumen konvensional seperti saham dan obligasi hingga instrumen investasi," ujarnya.
Berbagai instrumen investasi di antaranya Dana Investasi Infrastruktur berbentuk KIK, Efek Beragun Aset (EBA), Reksa Dana Penyertaan Terbatas, Reksa Dana Target Waktu, serta lainnya.
Kedepannya, pasar modal Indonesia juga akan semakin matang untuk bersaing, baik dalam segi literasi pasar modal, produk, maupun dalam menjalin kerja sama antar-pemangku kepentingan (stakeholders). Pasar modal Indonesia juga akan semakin siap untuk bersaing secara global.
4.2 Kendala dan Hambatan Yang Dialami Industri Pasar Modal di Indonesia
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan, ada beberapa kendala yang akan dialami dalam pengembangan industri pasar modal.
Pertama, literasi keuangan bahkan pemahaman literasi keuangan masih kecil. Sebagai konsekuensi dari globalisasi dan integrasi ekonomi, maka kinerja pasar modal sangat tergantung dari kinerja ekonomi nasional, regional, dan internasional. Laju pertumbuhan pasar modal turut ditentukan oleh berbagai indikator makro ekonomi seperti laju inflasi, tingkat suku bunga,
nilai tukar, dan besaran indikator makro lainnya.
Hal ini menjadi pondasi penting bagi pertumbuhan pasar modal ke depan karena akan menentukan sejauh mana tingkat laju pertumbuhan pasar modal. Beberapa indikator ekonomi yang berpengaruh terhadap kinerja pasar modal antara lain: tingkat suku bunga, laju inflasi, dan nilai tukar.
Perkembangan ekonomi regional baik di kawasan Amerika, Eropa, dan Asia.
Berpengaruh terhadap ekonomi dunia.
Demikian pula krisis surat utang yang melanda negara di Uni Eropa seperti Yunani, Portugal, Italia dan lain-lain dapat berdampak buruk bagi kawasan ekonomi lainnya.
Salah satu tantangan kinerja pasar modal adalah pertumbuhan transaksi di pasar sekunder. Pasar saham di Indonesia mengalami pertumbuhan kinerja yang sangat baik dan hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan indeks harga saham.
Ketika kasus subprime tahun 2008, indeks harga saham mengalami penurunan yang sangat tajam bahkan hampir menyentuh level 1.100. Untuk itu di perlukan suatu sweetener agar pasar sekunder tetap terus bergairah dalam bertransaksi, Sebagai salah satu negara dengan populasi terbesar di dunia, maka peningkatan pemodal lokal menjadi salah satu faktor yang turut memperkuat daya tahan pasar sehubungan dengan volatilitas aliran dana yang bersifat jangka pendek.
Dengan basis pemodal lokal yang besar dan kuat, maka pasar modal Indonesia lebih siap menghadapi
„guncangan‟ pasar. Untuk itu, edukasi dan sosialisasi merupakan medium yang harus terus ditumbuhkembangkan.
Peningkatan impelementasi Good Governance dan Etika Bisnis juga
harus terus dilakukan. Sejarah membuktikan bahwa pengabaian implementasi good governance berdampak pada penurunan kinerja, reputasi, hingga krisis. Betapa besar biaya yang harus dibayar setiap kali berhadapan dengan krisis, baik krisis perbankan tahun 97/98, krisis subprime 2008, dan krisis lain dengan dimensi berbeda dan dengan skala yang lebih kecil. Namun, semua pihak harus menyadari bahwa good governance merupakan kunci bagi keberlangsungan (sustainability) bisnis keuangan dan pasar modal. Selain itu, dalam konteks lain, juga berhadapan dengan risiko reputasi terkait dengan beberapa beberapa persoalan di perbankan seperti pembobolan dana nasabah dan lain-lain. Intinya adalah bagaimana implementasi good governance melalui penerapan manajemen risiko dan penegakan aturan sehingga bisnis keuangan mengedepankan etika bisnis.
4.3 Upaya Mewujudkan Pasar Modal Indonesia Yang Efisien
Pasar modal efisien diartikan dengan cara yang berbeda dengan tujuan yang berbeda. Pasar modal diartikan sebagai pasar yang biasa menyediakan jasa-jasa yang diperlukan oleh para investor dengan biaya minimal. Efisiensi pasar modal atau pasar yang efisien adalah pasar dimana harga semua sekuritas yang diperdagangkan telah mencerminkan semua informasi yang tersedia (Tandelilin, 2007).[5]
Beberapa kondisi yang harus terpenuhi untuk tercapainya pasar yang efisien yaitu:
1.Ada banyak investor yang rasional dan berusaha untuk memaksimalkan keuntungan, 2.Semua pelaku pasar dapat
memperoleh informasi pada
saat yang sama dengan cara yang mudah dan murah, 3.Informasi yang terjadi bersifat acak,
4.Investor bereaksi secara cepat terhadap informasi baru, sehingga harga sekuritas berubah sesuai dengan perubahan nilai sebenarnya akibat informasi tersebut.
Konsep dasar dari pasar modal efisien sebenarnya merupakan hasil sampingan dari penelitian oleh Maurice kenndall dengan subjek penelitian perilaku harga komoditi dan saham.
Tujuannya untuk memisahkan siklus harga yang teratur, tetapi ia tidak bisa menemukan siklus itu. Harga-harga tampaknya mengikuti random walk yang berarti bahwa perubahan harga di masa yang lalu tidak bisa memprediksi perubahan harga di masa yang akasn datang. Kenaikan dan penurunan harga saham sesuai dengan informasi yang diterima di pasar modal.
Berikut ini ialah syarat-syarat untuk sebuah pasaran saham menjadi efisien:
1.Penyingkapan informasi. Informasi adalah tidak tertangguh atau diawasi (disekat penyebarannya oleh pihak tertentu), dan dapat diperoleh oleh pihak umum dengan percuma, yaitu tiada biaya yang terlibat dalam mendapatkan informasi untuk peserta pasaran.
2.Turun naik harga adalah secara bebas. Harga tidak diawasi oleh pihak manapun apakah pembeli ataupun penjual saham. Mereka tidak dapat mempengaruhi harga, dan mereka juga dilarang dari pada manipulasikan harga oleh undang-undang.
3.Pasaran senantiasa dalam keseimbangan. Kalau pasaran
senantiasa efisien, maka pasaran itu akan senantiasa berbeda dalam keseimbangan.
V. KESIMPULAN
Pasar Modal memiliki peran penting bagi perekonomian suatu Negara. Perkembangan pasar modal Indonesia dilihat dari beberapa indikator menunjukkan pekembangan yang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Bagi perusahaan, pasar modal juga memberikan keuntungan besar, yaitu untuk mengembangkan usahanya dengan menggunakan dana dari hasil penjualan saham di pasar ini tanpa harus hutang ke Bank yang bunganya cukup besar, dengan syarat yang rumit.
Pasar ini juga sebagai Leading Indicator perekonomian suatu negara, jika kondisinya baik atau berkembang, maka ekonomi suatu negara tersebut juga akan baik.
Kesadaran akan pentingnya peran pasar modal ini bagi perekenomian nasional sebaiknya menjadi tugas kita bersama untuk serta merta memberikan sosialisasi, maupun edukasi untuk menambah wawasan masyarakat luas tentang pasar modal.
Bagi lembaga-lembaga penunjang pasar modal, perlu meningkatkan kontribusinya terhadap kemajuan pasa modal sesuai dengan fungsinya masing- masing.
DAFTARPUSTAKA
[1]m.solopos.com,“Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Semarang menggenjot sosialisasi pasar modal dengan menjalin kemitraan dengan sejumlah pihak, 29-11-2016, diakses 08-04-2017, 16.50 WIB.
[2]Undang-Undang Pasar Modal No.8 tahun 1995 tentang Pasar Modal
[3]Dahlan Siamat, 2005.Manajemen Lembaga Keuangan. “Kebijakan
Moneter dan
Perbankan”,Jakarta : Fakultas
Ekonomi Universitas
Indonesia,edisi kesatu.
[4] Ibid.hlm 207
[5]Tandelilin,
Eduardus.2010.Portofolio dan Investasi teori dan aplikasi.Kanisius : Yogyakarta Martalena.