PENGARUH OUTDOOR EDUCATION BERLANDASKAN EXPERIENTIAL
LEARNING TERHADAP KREATIVITAS
TESIS
Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Memperoleh Gelar Magister Pendidikan
Program Studi Pendidikan Olahraga
Oleh :
Asep Ramdan Afriyuandi
1201401
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN OLAHRAGA
SEKOLAH PASCA SARJANA
=============================================================
PENGARUH OUTDOOR EDUCATION
BERLANDASKAN EXPERIENTIAL
LEARNING TERHADAP KREATIVITAS
Oleh
Asep Ramdan Afriyuandi
Sebuah tesis yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Magister Pendidikan pada Sekolah Pasca Sarjana
© Asep Ramdan Afriyuandi 2014 Universitas Pendidikan Indonesia
Skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruhya atau sebagian, dengan dicetak ulang, difoto kopi, atau cara lainnya tanpa ijin dari penulis.
ASEP RAMDAN AFRIYUANDI
PENGARUH OUTDOOR EDUCATION BERLANDASKAN EXPERIENTIAL LEARNING TERHADAP KREATIVITAS
Disetujui dan disahkan oleh pembimbing:
Pembimbing I
Dr. Dikdik Zafar Sidik, M.Pd NIP. 196812181994021001
Pembimbing II
Dr. Kardjono, M.Sc NIP. 196105251986011002
Mengetahui,
ABSTRAK
PENGARUH OUTDOOR EDUCATION BERLANDASKAN EXPERIENTIAL LEARNING TERHADAP KREATIVITAS
.
Outdoor education berlandaskan experiential learning merupakan sarana menambah pengalaman belajar dan menjadi pelajaran yang sangat penting membawa perubahan bagi kehidupan seseorang. Pengalaman yang ditemukan tentunya sangat mendidik, artinya bahwa pengalaman tersebut memberikan pengertian yang sangat mendalam dan melampaui pengalaman yang hanya merupakan sebuah transaksi dari seseorang dan lingkungan yang dirasakan itu. Berdasarkan konsep-konsep diatas maka outdoor education dilakukan berlandaskan experiential learning, yang ditujukan untuk meningkatkan kreativitas. Kreativitas merupakan kemampuan yang dimiliki setiap orang dengan tingkat yang berbeda-beda, setiap orang lahir dengan potensi kreatif yang dapat dikembangkan dan dipupuk. Ciri-ciri kreativitas dapat dibedakan menjadi dua yaitu aptitude atau ciri kognitif dari kreativitas dan non-aptitude atau ciri afektif dari kreativitas. Tujuan dalam penelitian ini adalah ingin mengetahui pengaruh dari Outdoor Education berlandaskan Experiential Learning terhadap kreativitas. Metode yang digunakan adalah Quasi Eksperimen dengan pendekatan Non-Randomized Control Group Pretest-Postest Design. Sampel dalam penelitian ini adalah pecinta alam mahasiswa olahraga (pamor) yang mengikuti kegiatan outdoor education sebanyak 20 orang, dan siswa bukan anggota pecinta alam yang tidak mengikuti outdoor education dalam jumlah yang sama. Sampel tersebut diambil dengan cara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa aktivitas outdoor education berlandaskan experiential learning memberikan pengaruh signifikan terhadap kreativitas dengan nilai t hitung 5,2 > t
tabel 1,68 dengan taraf α 0,05 dan dk = n1 + n2 – 2. Kesimpulan dalam penelitian
ini adalah aktivitas outdoor education berlandaskan experiential learning memberikan pengaruh signifikan terhadap kreativitas.
ABSTRAK
PENGARUH OUTDOOR EDUCATION BERLANDASKAN EXPERIENTIAL LEARNING TERHADAP KREATIVITAS
.
Outdoor education berlandaskan experiential learning merupakan sarana menambah pengalaman belajar dan menjadi pelajaran yang sangat penting membawa perubahan bagi kehidupan seseorang. Pengalaman yang ditemukan tentunya sangat mendidik, artinya bahwa pengalaman tersebut memberikan pengertian yang sangat mendalam dan melampaui pengalaman yang hanya merupakan sebuah transaksi dari seseorang dan lingkungan yang dirasakan itu. Berdasarkan konsep-konsep diatas maka outdoor education dilakukan berlandaskan experiential learning, yang ditujukan untuk meningkatkan kreativitas. Kreativitas merupakan kemampuan yang dimiliki setiap orang dengan tingkat yang berbeda-beda, setiap orang lahir dengan potensi kreatif yang dapat dikembangkan dan dipupuk. Ciri-ciri kreativitas dapat dibedakan menjadi dua yaitu aptitude atau ciri kognitif dari kreativitas dan non-aptitude atau ciri afektif dari kreativitas. Tujuan dalam penelitian ini adalah ingin mengetahui pengaruh dari Outdoor Education berlandaskan Experiential Learning terhadap kreativitas. Metode yang digunakan adalah Quasi Eksperimen dengan pendekatan Non-Randomized Control Group Pretest-Postest Design. Sampel dalam penelitian ini adalah pecinta alam mahasiswa olahraga (pamor) yang mengikuti kegiatan outdoor education sebanyak 20 orang, dan siswa bukan anggota pecinta alam yang tidak mengikuti outdoor education dalam jumlah yang sama. Sampel tersebut diambil dengan cara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa aktivitas outdoor education berlandaskan experiential learning memberikan pengaruh signifikan terhadap kreativitas dengan nilai t hitung 5,2 > t
tabel 1,68 dengan taraf α 0,05 dan dk = n1 + n2 – 2. Kesimpulan dalam penelitian
ini adalah aktivitas outdoor education berlandaskan experiential learning memberikan pengaruh signifikan terhadap kreativitas.
ABSTRACT
THE IMPACT OF OUTDOOR EDUCATION BASED ON EXPERIENTIAL
LEARNING TO CREATIVITY
Outdoor education based on experiential learning is one of facilities to add learning experience and to be a lesson that is very important to bring a change in someone’s life. The experiences found surely very educate means that the experience itself gives a deep understanding and experience beyond just a transaction of someone and the perceived environment. Based on the concepts above, the outdoor education is done based on experiential learning, which is intended to increase the creativity. Creativity is the ability of everyone with a different level, everyone is born with creative potential that can be developed and nurtured. The characteristics of creativity can be divided into two, which is aptitude of cognitive characteristics of creativity and non-aptitude or affective characteristics of creativity. This study aims wants to know the impact of outdoor education based on experiential learning to creativity. A Quasi Experiment method with Non-Randomized Control Group Pretest-Posttest Design approach was used in this study. The sample of this study is the member of PAMOR who is participated in outdoor education activity as many as 20 people, and the student which is not a member of PAMOR who does not participated in outdoor education activity in the same amount. The sample was taken by purposive sampling. The result of this study shows that activity of outdoor education based on experiential learning has a significant impact to creativity with a t value of 5.2> t table α level of 1.68 to 0.05 and df = n1 + n2 - 2. The conclusion of this study is an outdoor activity education based on experiential learning has significant impact on creativity.
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan semesta alam
atas segala rahmat dan karuniaNya, shalawat serta salam semoga senantiasa
tercurah kepada Nabi Besar Muhammad SAW, kepada keluarganya, sahabatnya
dan kita selaku umatnya, puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberi kami
kehidupan, menikmati hangatnya mentari pagi diatas puncak gunung, menikmati
hembusan angin dan menikmati indahnya ciptaanNya sehingga penulis dapat
menyelesaikan tesis ini.
Tesis ini berjudul : “PENGARUH OUTDOOR EDUCATION BERLANDASKAN EXPERIENTIAL LEARNING TERHADAP
KREATIVITAS”. Karya ilmiah ini merupakan salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Magister Pendidikan yang penulis tempuh selama mengikuti
studi pada Program Studi Pendidikan Olahraga, Sekolah Pasca Sarjana UPI.
Penulis menyadari tesis ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu
kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan oleh peneliti. Akhir kata,
semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi rekan-rekan
pembaca pada umumnya sebagai acuan penelitian selanjutnya.
Bandung, 17 Agustus 2014
UCAPAN TERIMA KASIH
Dalam menyelesaikan skripsi ini banyak pihak yang telah membantu
penulis, maka perkenankanlah penulis untuk mengucapkan terima kasih kepada:
1. Allah SWT yang telah memberikan jalan terbaik dalam melakukan segala hal
2. Kepada yang tercinta Ayahanda Wawan Yuswandi dan Ibunda Enung
Sutiarsih, S.Pd yang telah melahirkan, membesarkan dan mendidik penulis. Atas kasih sayang, dorongan do’a, moril dan materilnya hingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini dengan lancar. Adikku tercinta Astria Yuswanti yang
menjadi penyemangat untuk penulis.
3. Bapak Prof. Dr. H. Adang Suherman, M.A, selaku Ketua Prodi Pendidikan
Olahraga yang telah memberikan izin dan rekomendasi selama masa studi
dan menyelesaikan tesis ini.
4. Bapak Dr. Dikdik Zafar Sidik, M.Pd, selaku Dosen Pembimbing Akademik
sekaligus Pembimbing I tesis yang senantiasa membimbing penulis selama
masa studi dan menyelesaikan tesis ini.
5. Bapak Dr. Kardjono, M.Sc, selaku pembimbing II yang sudah meluangkan
waktunya untuk membimbing penulis menyelesaikan tesis ini.
6. Kepada Ketua Adat PAMOR dan Ketua Hima di FPOK atas izin dan
bantuannya dalam penelitian.
7. Staf Dosen Pendidikan Olahraga SPs UPI yang telah memberikan bekal ilmu
pengetahuan yang sangat bermamfaat sehingga penulis dapat menyusun tesis
ini.
8. Staf Karyawan SPs UPI yang telah membantu penulis dalam masalah
administrasi perkuliahan.
9. Seluruh Keluarga Besar PAMOR FPOK UPI yang telah memberikan ilmu
dan pengalaman yang luar biasa. Semoga PAMOR selalu Berjaya di Dunia
10. Untuk kawan seperjuangan di POR C 2012, terima kasih atas segalanya,
senang bisa menghabiskan waktu studi bersama-sama.
11. Semua pihak yang tak bisa penulis sebutkan satu persatu.
Akhir kata semoga dengan segala kebaikan dan bantuan dari semua pihak
yang telah diberikan kepada penulis mendapat balasan pahala yang berlipat ganda
dari Allah SWT. Aamiin. Sebagai penutup, penulis berharap semoga Allah SWT.
Menjadikan tesis ini sebagai hasil karya yang dapat bermanfaat bagi diri sendiri
khususnya dan orang lain pada umumnya.
Bandung, 17 Agustus 2014
DAFTAR ISI
ABSTRAK………...i
ABSTRACT...ii
KATA PENGANTAR………...………iii UCAPAN TERIMA KASIH………..……….……….iv
DAFTAR ISI………......vi
DAFTAR TABEL………...viii
DAFTAR GAMBAR……….....x
DAFTAR LAMPIRAN……….……….…...xi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian ... 1
B. Identifikasi Masalah Penelitian ... 7
C. Perumusan Masalah ... 8
D. Tujuan Penelitian ... 8
E. Manfaat Penelitian ... 8
F. Struktur Organisasi Tesis...9
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN A. Kajian Pustaka ... 11
1. Outdoor Education ... 11
2. Experiential Learning ... 18
3. Kreativitas ... 24
B. Penelitian yang Relevan ... 32
C. Kerangka Pemikiran ... 34
D. Hipotesis ... 36
A. Lokasi, Populasi, dan Sampel... 37
1. Tempat Penelitian ... 37
2. Populasi dan Sampel ... 37
B. Desain Penelitian ... 38
C. Metode Penelitian ... 39
D. Definisi Operasional ... 40
1. Variabel Penelitian ... 37
2. Definisi Operasional... 37
E. Instrumen Penelitian ... 41
F. Pengembangan Instrumen ... 44
G. Analisis Data ... 47
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 50
1. Analisis Data .. ... 50
2. Deskripsi Data .. ... 50
B. Diskusi Penemuan ... ... 69
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 72
B. Saran ... ... 72
DAFTAR PUSTAKA ... 74
LAMPIRAN – LAMPIRAN ... 77
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
2.1. Program Outdoor Education berlandaskan Experiential Learning
Penerapan Outdoor Education (Hiking)... 21
2.2. Program Outdoor Education berlandaskan Experiential Learning Penerapan Outdoor Education (Rafting)... 22
2.3 Program Outdoor Education berlandaskan Experiential Learning Penerapan Outdoor Education (Rock Climbing)... 23
2.4 Program Outdoor Education berlandaskan Experiential Learning Penerapan Outdoor Education (Camping)... 24
3.1 Pembagian Kelompok Penelitian... 38
3.2 Kisi-kisi Tes Kreativitas... 41
3.3 Kategori Pemberian Skor Alternatif Jawaban... 44
3.4 Interpretasi Terhadap Koefisien Korelasi Tingkat Validitas... 45
3.5 Interpretasi Terhadap Koefisien Korelasi Tingkat Realibilitas... 46
3.6 Interpretasi Terhadap Koefisien Korelasi Tingkat Objektivitas... 47
4.1 Nilai Rata-rata Kreativitas Mahasiswa Secara Keseluruhan... 50
4.2 Statistik Deskriptif Pada Kelompok Eksperimen Pre dan Post Tes... 52
4.3 Statistik Deskriptif Pada Kelompok Kontrol Pre dan Post Tes... 53
4.4 Analisis Perbedaan Rata-Rata Pada Kelompok Eksperimen dan Kontrol... 55
4.5 Uji normalitas data pretes diuji menggunakan Liliefors... 56
4.6 Uji Homogenitas Pretes... 56
4.7 Uji Perbedaan/Kesamaan Dua Rata-rata Pretes... 57
4.8 Uji normalitas data postes diuji menggunakan Liliefors... 58
4.9 Uji Homogenitas Postes... 58
4.10 Uji Perbedaan/kesamaan dua rata-rata postes... 59
4.12 Uji normalitas data gain diuji menggunakan Liliefors... 60
Tabel Halaman 4.13 Rata-rata Gain Score Per Indikator Variabel Kreativitas dan Total... 61
4.14 Uji Perbedaan/kesamaan dua rata-rata gain Kreativitas... 61
4.15 Uji perbedaan/kesamaan dua rata-rata gain fluiditas (kelancaran)... 62
4.16 Uji perbedaan/kesamaan dua rata-rata gain fleksibilitas (keluwesan)... 63
4.17 Uji perbedaan/kesamaan dua rata-rata gain orisinalitas (keaslian)... 63
4.18 Uji perbedaan/kesamaan dua rata-rata gain elaborasi (kerincian)... 64
4.19 Uji perbedaan/kesamaan dua rata-rata gain evaluasi (penilaian)... 65
4.20 Uji perbedaan/kesamaan dua rata-rata gain rasa ingin tahu... 65
4.21 Uji perbedaan/kesamaan dua rata-rata gain imajinatif... 66
4.22 Uji perbedaan/kesamaan dua rata-rata gain tertantang oleh kemajemukan... 67
4.23 Uji perbedaan/kesamaan dua rata-rata gain berani mengambil resiko.. 67
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
3.1 Non-Randomized Control Group Pretest-Posttest Design... 39
3.2 Rumus Uji Validitas……….. 44
3.3 Rumus Uji Signifikansi Product Moment………. 45
3.4 Realibilitas Secara Matematis... 46
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. Kisi-kisi Tes Kreativitas... 77
2. Uji Validitas dan Realibilitas Skala Pengukuran Kreativitas... 79
3. Skala Tes Kreativitas... 84
4. Deskripsi Data Pretest Kelompok Eksperimen... 87
5. Deskripsi Data Pretest Kelompok Kontrol... 88
6. Uji Normalitas Pretest... 89
7. Uji Homogenitas Pretest... 96
8. T-Test Pretest... 98
9. Deskripsi Data Posttest Kelompok Eksperimen... 100
10. Deskripsi Data Posttest Kelompok Eksperimen... 101
11. Uji Normalitas Posttest... 102
12. Uji Homogenitas Posttest... 110
13. T-Test Posttest... 112
14. Uji Normalitas Gain Score Kreativitas... 114
15. Uji Homogenitas Gain Score Kreativitas... 121
16. T-Test Gain Score Kreativitas... 123
17. T-Test Gain Fluiditas (Kelancaran)... 125
18. T-Test Gain Fleksibilitas (Keluwesan)... 126
19. T-Test Gain Orisinalitas (Keaslian)... 127
20. T-Test Gain Elaborasi (Kerincian)... 128
21. T-Test Gain Evaluasi (Penilaian)... 129
22. T-Test Gain Rasa Ingin Tahu... 130
23. T-Test Gain Imajinatif... 131
27. Program Outdoor Education... 135
28. Jadwal Kegiatan Outdoor Education... 137
Lampiran Halaman 29. Data Pretes dan Postes ... 139
30. Dokumentasi Penelitian... 141
31. Surat Keputusan Pembimbing Tesis... 145
32. Surat Izin Penelitian... 147
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penelitian
Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan
potensi sumber daya manusia peserta didik dengan cara mendorong dan memfasilitasi
kegiatan belajar mereka. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional pun secara jelas mendefinisikan pendidikan sebagai
usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya. Pengembangan potensi
diri tersebut bertujuan untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara.
Kreativitas merupakan suatu kebutuhan pendidikan dan kehidupan yang sangat
penting pada masa kini. Kreativitas akan menciptakan berbagai inovasi dan
perkembangan baru dalam suatu kehidupan. Individu dan organisasi yang kreatif akan
selalu dibutuhkan oleh lingkungannya, karena mereka dapat mampu memenuhi
kebutuhan lingkungan yang terus berubah dan mampu untuk bertahan dalam kompetisi
yang dinamis dan ketat. Menurut Gordon dan Browne (dalam Moeslichatoen, 2004,
hlm.19) kreativitas merupakan “kemampuan menciptakan gagasan baru yang asli dan
imajinatif maupun kemampuan mengadaptasi gagasan baru dengan gagasan yang sudah ada.”
Pada intinya kreativitas dalam pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga
kesehatan (penjasorkes) merupakan kemampuan seseorang untuk menciptakan sesuatu
2
pendidikan jasmani dan olahraga kesehatan (penjasorkes) merupakan penciptaan sesuatu
yang baru terkait pembelajaran yang diwujudkan melalui metode, model, strategi, karya
pembelajaran untuk meningkatkan mutu pembelajaran yang dilakukan.
Untuk menjadi kreatif tidak selalu harus memiliki kemampuan akademik
dan kecerdasan yang tinggi. kreativitas tidak hanya membutuhkan kecerdasan semata,
kreatifitas juga membutuhkan kemauan atau motivasi, walaupun cerdas namun tidak ada
motivasi mustahil akan tercipta kreativitas. Di sisi lain, kreativitas merupakan denyut
nadi dari inovasi, tanpa kreatifitas tidak akan tercipta sebuah inovasi, semakin tinggi
kreatifitas, maka jalan ke arah penciptaan inovasi semakin besar pula. Menurut Devito
(dalam Supriadi, 1994, hlm.15) mengungkapkan bahwa “kreativitas merupakan
kemampuan yang dimiliki setiap orang dengan tingkat yang berbeda-beda, setiap
orang lahir dengan potensi kreatif yang dapat dikembangkan dan dipupuk.”
Anak merupakan generasi penerus bangsa yang berlangsung secara terus
menerus dan bersifat alami. Dari generasi ke generasi masyarakat suatu bangsa akan
mengalami pertumbuhan yang berbeda, dimana kualitas masyarakatnya akan ditentukan
oleh pengalaman dan pembelajaran yang diperoleh dan dimilikinya, baik secara formal
non formal maupun informal. Masyarakat yang memperoleh pengalaman dan
pembelajaran yang berkualitas tentu saja akan menjadikan generasi yang berkualitas
pula. Salah satu indikator yang menentukan kualitas suatu generasi masyarakat
ditentukan oleh pendidikan yang diperoleh semasa hidupnya.
Kreativitas penting dimiliki oleh setiap orang. Suatu keterampilan yang dimiliki
setiap orang jika dikembangkan dengan adanya kreativitas maka akan menciptakan hal
yang baru dalam memberikan ide-ide, inovasi, hingga mengatasi masalah secara kreatif.
Seperti yang diungkapkan Supriadi (1994, hlm.7) bahwa kreativitas adalah “kemampuan
seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada.”
3
manfaatnya bernilai lebih dibandingkan sebelumnya. Manusia kreatif sangat dibutuhkan
dalam mengantisipasi dan merespon secara efektif ketidakmenentuan perubahan saat
ini. Perkembangan kebudayaan dan peradaban juga terjadi berkat kreativitas
orang-orang yang istimewa dalam berbagai sektor kehidupan seperti politik, ekonomi, militer,
teknologi, pendidikan, agama, kesenian, olahraga, dan lain-lain.
Kreativitas merupakan hasil dari proses interaksi antara individu dan
lingkungannya. Seseorang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan dimana ia
berada. Dengan demikian, baik perubahan di dalam individu maupun di dalam
lingkungan dapat menunjang atau dapat menghambat upaya kreatif. Implikasinya adalah
bahwa kemampuan kreatif dapat ditingkatkan melalui pendidikan. Mengingat bahwa
kreativitas merupakan bakat yang secara potensial dimiliki oleh setiap orang yang dapat
diidentisifikasi, dan dipupuk melalui pendidikan yang tepat. Salah satu masalah yang
kritis adalah, bagaimana dapat mengidentisifikasi potensi kreatif siswa dan bagaimana
dapat mengembangkannya melalui pengalaman pendidikan.
Kreativitas siswa dimungkinkan tumbuh dan berkembang dengan baik, apabila
lingkungan keluarga, masyarakat, maupun lingkungan sekolah, turut menunjang mereka
dalam mengekpresikan kreativitasnya. Menurut Munandar (1999, hlm.45) :
4
tinggi, berani menghadapi resiko, senang akan hal-hal yang baru, dan lain sebaginya.
Meskipun demikian, faktor orang tua, guru di sekolah, dan lingkungan, merupakan
faktor penting yang sangat mempengaruhi perkembangan kreativitas tersebut.
Karya-karya kreatif dalam berbagai sektor kehidupan tersebut penting peranannya karena
sebagian besar dapat menjadi solusi dari permasalahan-permasalahan yang ada di dunia.
Oleh karenannya, kreativitas menjadi penting sifatnya dalam menghadapi perubahan dan
perkembangan dunia yang sangat pesat saat ini.
Tampak adanya fenomena bahwa dalam proses pembelajaran pendidikan
jasmani di sekolah, masih ada kecenderungan terhadap pengekangan kebebasan siswa,
pembelajaran masih banyak didominasi guru, sehingga siswa hanya berperan sebagai
pelaksana terhadap perintah guru, siswa tidak mendapat kebebasan untuk
mengekspresikan dirinya. Jika hal tersebut dibiarkan, dikhawatirkan akan berdampak
negatif terhadap pengembangan kreativitas siswa. Padahal kreativitas penting untuk
dipupuk dan dikembangkan, karena kreativitas memang sangat dibutuhkan terutama
berkaitan dengan pembangunan Indonesia yang membutuhkan sumber daya manusia
berkualitas yang memiliki kreativitas tinggi.
Guru mempunyai peran penting dalam menciptakan lingkungan di dalam kelas,
yang merangsang siswa untuk belajar secara aktif dan kreatif dalam proses
pembelajaran, sehingga pada gilirannya dapat mencapai tujuan yang telah dicanangkan.
Demikian juga, pentingnya peranan guru untuk menciptakan suasana yang
menyenangkan, sehingga siswa dapat merasakan belajar dengan suasana senang dan
tidak merasa tertekan atau ketakutan yang akan menyebabkan siswa merasa nyaman,
sehingga proses pembelajaran lebih efektif dalam mencapai tujuan yang diharapkan.
Umumnya, sekolah ingin membentuk siswanya untuk kreatif akan tetapi para
siswa tidak pernah tahu bagaimana mengembangkan kreativitas itu sendiri. Kreativitas
hanya diberikan sebatas teori saja, siswa tidak diberikan suasana dan proses kegiatan
5
diberikan proses belajar yang kreatif dan didukung oleh suasana yang kreatif pula,
sehingga akan menciptakan sebuah karya yang kreatif.
Pendidikan jasmani memberikan kontribusi yang berarti terhadap pertumbuhan
dan perkembangan peserta didik secara menyeluruh. Kontribusi akan bermakna, jika
proses belajar mengajar pendidikan jasmani memberikan perubahan perilaku dan
pengetahuan terhadap peserta didik. Pendidikan jasmani menurut Lutan (2000, hlm.16) adalah “bagian integral dari pendidikan keseluruhan yang memberi kontribusi kepada perkembangan individu melalui media alamiah yaitu aktifitas fisik dan gerak termasuk olahraga”. Prioritas utama dalam upaya peningkatan pendidikan jasmani di sekolah, yaitu dengan perwujudan secara optimal peranan dan fungsi guru dalam kegiatan belajar
mengajar baik di ruangan maupun di lapangan.
Berdasarkan pokok pikiran tersebut, dalam pelaksanaannya, proses pendidikan
dapat dilaksanakan dengan berbagai pendekatan dan kegiatan belajar pada beberapa
kajian mata pelajaran. Namun di samping itu, semua sebagai langkah pengembangan
dalam dunia pendidikan, proses pembelajaran yang tujuannya untuk mengembangkan
seluruh potensi pada diri individu, dewasa ini dilakukan dengan penerapan pembelajaran
outdoor education dengan alam sebagai medianya.
Aktivitas luar sekolah (outdoor education) berisi tentang kegiatan di luar
kelas/sekolah dan di alam bebas lainnya, seperti; bermain di lingkungan sekolah, taman,
perkampungan pertanian/nelayan, dan kegiatan yang bersifat kepetualangan, serta
pengembangan aspek pengetahuan/konsep yang relevan serta nilai-nilai yang
terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, Outdoor Education dapat menjadi wahana
dalam mengembangkan potensi diri siswa, tentunya dengan kegiatan yang melibatkan
faktor dan aktifitas fisik yang dilaksanakan di lapangan atau di luar ruangan. Menurut
6
Tujuan pendidikan yang ingin dicapai melalui aktivitas di luar ruang kelas atau
di luar lingkungan sekolah, adalah membuat setiap individu memiliki kesempatan unik
untuk mengembangkan kreativitas dan inisiatif personal. Pendidikan juga ingin
menyediakan latar (setting) yang berarti bagi pembentukan sikap, mengembangkan
kesadaran, apresiasi dan pemahaman terhadap lingkungan alam serta bagaimana
manusia memiliki relasi dengan hal tersebut. Pendidikan harus membantu mewujudkan
potensi setiap individu agar jiwa, raga dan spiritnya dapat berkembang optimal, serta
memberikan „konteks‟ dalam proses pengenalan berkehidupan sosial dengan
memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk merasakan secara langsung.
Pendidikan juga memungkinkan siswa mengembangkan keterampilan dan
ketertarikan terhadap kegiatan-kegiatan luar kelas, menumbuhkan pemahaman untuk
secara bijak menggunakan dan melindungi lingkungan alam. Mengenalkan berbagai
kegiatan di luar kelas dapat membuat pembelajaran lebih kreatif, memberikan
kesempatan yang unik untuk perubahan perilaku melalui penataan latar pada kegiatan
luar kelas. Kegiatan di luar kelas juga memberikan kontribusi untuk membantu
mengembangkan hubungan guru dan murid agar lebih baik melalui berbagai
pengalaman di alam bebas. Kegiatan tersebut memberikan kesempatan untuk belajar
dari pengalaman langsung melalui implementasi bebas kurikulum sekolah diberbagai
area, dan memanfaatkan sumber-sumber yang berasal dari lingkungan maupun
komunitas sekitar untuk pendidikan.
Proses pembelajaran menggunakan alam sebagai media dipandang sangat efektif
dalam mengakomodir pengetahuan. Dalam hal ini, setiap orang akan dapat merasakan,
melihat langsung bahkan dapat melakukannya sendiri, sehingga transfer pengetahuan
berdasarkan pengalaman di alam dapat dirasakan, diterjemahkan, dikembangkan
berdasarkan kemampuan yang dimilikinya. Pendekatan ini mengasah aktivitas fisik dan
sosial anak, sehingga anak akan lebih banyak melakukan kegiatan-kegiatan yang secara
7
pengambilan keputusan, saling memahami, dan menghargai perbedaan. Selanjutnya
dikatakan oleh Brown (2010: hlm.3), yaitu:
“Learning outdoors can be enjoyable, creative, challenging and adventurous
and helps children and young people learn by experience and grow as confident and responsible citizens who value and appreciate the spectacular landscapes,
natural heritage and culture.”
Brown menjelaskan bahwa belajar mengenai hal-hal luar kelas atau alam bebas
dapat memberikan kenyamanan, kreatif, tantangan, dan petualangan. Hal itu lah akan
membantu anak atau anak muda untuk belajar dari pengalaman dan tumbuh menjadi
masyarakat yang percaya diri dan bertanggung jawab dalam memberikan nilai dan
apresiasi terhadap lingkungan tempat tinggalnya. Maksud dan tujuannya adalah, proses
pembelajaran atau pendidikan dan proses pengalaman ini merupakan suatu hal yang
sangat berguna untuk perkembangan, pertumbuhan, dan kemajuan manusia.
Sedangkan proses pendidikan melalui kegiatan ini sendiri, memiliki maksud dan
tujuan yang melibatkan perencanaan dalam pendidikan melalui berbagai macam proses
yang melibatkan resiko dalam suatu perjalanan, yang banyak melibatkan resiko fisik,
sosial dan spiritual. Melalui kegiatan outdoor education ini, siswa diharapkan menjadi
lebih kreatif dalam menciptakan ide-ide, inovasi, dan gagasan baru dalam menghadapi
suatu permasalahan. Berdasarkan pada latar belakang di atas, maka perlu ditelusuri
pengaruh-pengaruh outdoor education yang berhubungan dengan kreativitas. Seperti
dalam judul penelitian yang diajukan penulis adalah: Pengaruh Outdoor Education
Berlandaskan Experiential Learning Terhadap Kreativitas.
B. Identifikasi Masalah Penelitian
8
guru, siswa hanya berperan sebagai pelaksana terhadap perintah guru sehingga akan
berdampak negatif terhadap pengembangan kreativitas siswa.
2. Proses pembelajaran outdoor education dengan alam sebagai medianya, seperti yang
tercantum dalam kurikulum pendidikan diharapkan mampu mengembangkan
pembentukan karakter siswa, walaupun sampai sekarang masih kurang diterapkan
secara serius oleh para guru pendidikan jasmani (penjas) sebagai salah satu media
pembelajaran jasmani.
3. Kecenderungan kreativitas diajarkan hanya sebatas teori dan siswa tidak diberikan
suatu pengalaman belajar untuk mengembangkan kreativitas nya.
C. Rumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah penelitian yang telah dikemukakan, maka
penulis merumuskan masalah dari penelitian ini adalah: Apakah terdapat pengaruh yang
signifikan dari outdoor education yang berlandaskan experiential learning terhadap
kreativitas?
D. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan latar belakang dan rumusan masalah yang diajukan di atas, maka
tujuan dalam penelitian ini adalah: Untuk mengetahui dan mengkaji pengaruh dari
outdoor education berlandaskan experiential learning terhadap kreativitas.”
E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dan sumbangan
pengetahuan bagi berbagai pihak yang membutuhkan secara teoretis maupun praktis.
1. Manfaat teoritis
Memberikan informasi yang bermanfaat dan berkontribusi bagi dunia pendidikan
9
Menambah referensi bagi peneliti yang hendak meneliti masalah yang berhubungan
dengan penerapan pembelajaran outdoor education dalam pengajaran pendidikan
jasmani.
2. Manfaat praktis
Sebagai bahan masukan bagi guru pendidikan jasmani dan pembina olahraga,
tentang cara memberikan permainan yang efektif dalam pembelajaran pendidikan
jasmani. Memberikan suatu pembelajaran bagi masyarakat, bahwa kegiatan outdoor
education memberikan nilai positif khususnya bagi anak-anaknya. Dapat
meningkatkan pengetahuan dan pengalaman bagi para peneliti, khususnya menggali
pengaruh-pengaruh outdoor education untuk kepentingan pendidikan.
F. Struktur Organisasi Tesis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Identifikasi Masalah Penelitian
C. Rumusan Masalah Penelitian
D. Tujuan Penelitian
E. Manfaat Penelitian
F. Struktur Organisasi Tesis
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS
A. Kajian Pustaka
10
C. Kerangka Pikir/Asumsi
D. Hipotesis
BAB III
METODELOGI PENELITIAN
A. Lokasi, Populasi, dan Sampel
B. Desain Penelitian
C. Metode Penelitian
D. Definisi Operasional
E. Instrumen Penelitian
F. Pengembangan Instrumen
G. Teknik Pengumpulan Data
H. Analisis Data
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Rekomendasi
DAFTAR PUSTAKA
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi, Populasi, dan Sampel
1. Tempat Penelitian
Pelaksanaan penelitian dengan program hiking, rafting, rock climbing, dan
camping bertempat di:
a. Kampus UPI Bandung, Jl. Dr. Setiabudi No. 229 Bandung
b. Jayagiri-Cikole Lembang (KBB)
c. Tebing Citatah 48 & 60
d. Sungai Citarum
2. Populasi dan Sampel
Dalam suatu penelitian diperlukan adanya populasi dan sampel penelitian
tersebut, karena tanpa dua hal tersebut, suatu penelitian tidak akan berjalan.
Petualangan di alam terbuka dengan pengalaman ajar hiking, rafting, rock
climbing, dan camping kaya akan rintangan dan tantangan. Oleh karena itu,
peneliti memilih sampel dari Anggota PAMOR FPOK UPI dan mahasiswa IKOR
FPOK UPI angkatan 2011 dengan asumsi secara fisik mereka tidak akan
memperoleh kesulitan untuk melaksanakan aktivitas petualangan.
Adapun yang menjadi populasi penelitian terdiri dari 50 anggota aktif
PAMOR FPOK UPI dan 54 mahasiswa IKOR FPOK UPI angkatan 2011.
Sedangkan sampel dalam penelitian ini sebanyak 40 orang yang dibagi ke dalam
dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Karena setiap
unsur populasi tidak memberi kemungkinan untuk dipilih berdasarkan teknik
sampling, maka berdasarkan pertimbangan peneliti, pengambilan sampel
penelitian dilakukan dilakukan secara non-probability berupa sampling jenis
38
Besar sampel seluruhnya yang diambil yaitu 28 putra dan 12 putri yang
bersedia untuk mengikuti penelitian secara terus-menerus hadir dalam kegiatan
penelitian. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel 3.1.
Tabel 3.1.
Pembagian Kelompok Penelitian
Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol
Jenis
Kelamin
Usia Jumlah Jenis
Kelamin
Usia Jumlah
Putra 19-21 th 28 org Putra 19-21 th 28 org
Putri 19-21 th 12 org Putri 19-21 th 12 org
Dengan demikian kedua kelompok pada dasarnya dianggap memiliki bekal
perilaku (entry behavior) atau pengalaman yang sama. Yang membedakan
keduanya dalam satu hal yaitu kelompok eksperimen memperoleh perlakuan,
sementara kelompok kontrol tidak memperoleh perlakuan. Maka kriteria dalam
pemilihan sampel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Mahasiswa/i IKOR FPOK UPI angkatan 2011
2) Anggota aktif (muda) PAMOR FPOK UPI
3) Usia 19- 21 tahun
4) Laki-Laki dan Perempuan
B. Desain Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian Quasi
Experiment. Bentuk desain Quasi experiment yang digunakan adalah
Non-Randomized Control Group Pretest-Posttest Design. Adapun rancangan
39
Gambar 3.1 (Non-Randomized Control Group Pretest-Posttest Design)
Sumber: (Maksum 2012: hlm.100)
Keterangan:
T1 = pre-test kreativitas yang diberikan pada kelompok eksperimen.
T2 = post-test kreativitas yang diberikan pada kelompok eksperimen.
X = treatment yang diberikan kepada kelompok eksperimen dengan program
hiking, rafting, rock climbing, dan camping.
T11 = pre-test kreativitas yang diberikan pada kelompok kontrol.
T21 = post-test kreativitas yang diberikan pada kelompok kontrol.
~ = tidak ada perlakuan yang diberikan pada kelompok kontrol.
C. Metode Penelitian
Metode dalam sebuah penelitian adalah suatu cara yang digunakan oleh
peneliti untuk melakukan sebuah penelitian atau riset. Metode atau cara dalam
sebuah penelitian sangat penting, agar penelitian yang dilakukan dapat
memperoleh hasil berupa jawaban penelitian. Bentuk serta jenis metode penelitian
yang digunakan berbeda-beda tergantung kepada masalah yang hendak
dipecahkan dalam penelitian. Secara umum dikenal bentuk metode penelitian
seperti penelitian eksperimen, deskriptif, penelitian tindakan kelas dan yang
lainnya.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
eksperimen. Adapun pengertian dari metode eksperimen adalah suatu metode Pre Treatment Post
Eksperimen T1 X T2
---
40
Sugiyono membagi penelitian eksperimen ke dalam empat jenis yaitu “Pre
-experimental Design, True Experimental Design, Factorial Design, dan Quasi Experimental Design”. Adapun jenis penelitian eksperimen yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah Quasi Experiment.
D. Definisi Operasional
1. Variabel Penelitian
Variable yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel bebas dan
variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu, outdoor education
berlandaskan experiential learning. Variabel terikat dalam penelitian ini
adalah kreativitas.
2. Definisi Operasional
Definisi operasional dimaksudkan untuk menjelaskan makna variabel yang
sedang diteliti.
a. “Outdoor education in the use of experience in the outdoors for the
education and development of the whole person”. Bahwa outdoor
education adalah sebuah pendidikan yang menggunakan pengalaman
belajar di luar ruangan untuk pengembangan seseorang. (Neil dalam
Kardjono, 2009: hlm.96)
b. “Learning outdoors can be enjoyable, creative, challenging and
adventurous and helps children and young people learn by experience and
grow as confident and responsible citizens who value and appreciate the spectacular landscapes, natural heritage and culture.”. Bahwa belajar mengenai hal-hal luar kelas atau alam bebas dapat memberikan
kenyamanan, kreatif, tantangan, dan petualangan. Hal itu lah yang akan
membantu anak atau anak muda untuk belajar dari pengalaman dan
tumbuh menjadi masyarakat yang percaya diri dan bertanggung jawab
dalam memberikan nilai dan apresiasi terhadap lingkungan tempat
41
c. Kreativitas merupakan kemampuan menciptakan gagasan baru yang asli
dan imajinatif maupun kemampuan mengadaptasi gagasan baru
dengan gagasan yang sudah ada. (Gordon dan Browne, Moeslichatoen,
2004:19)
E. Instrumen Penelitian
Instrumen sebagai alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam
mengumpulkan data agar pekerjannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam
arti cermat, lengkap, dan sistematis, sehingga lebih mudah diolah. Instrumen yang
digunakan dalam penelitian ini berupa angket. Sejumlah pertanyaan tertulis yang
digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang
pribadinya atau hal–hal yang diketahui”.
Kisi-kisi dalam angket yang ada dikembangkan dalam rangka untuk
memperoleh data sekunder tentang faktor-faktor yang mempengaruhi. Untuk
memudahkan dalam penyusunan butir–butir pertanyaan atau pernyataan angket
serta alternatif jawaban yang tersedia, maka responden hanya diperkenankan
untuk menjawab salah satu alternatif jawaban. Jawaban yang dikemukakan oleh
responden didasarkan pada pendapatnya sendiri atau suatu hal yang dialaminya.
Dalam penelitian ini, alat pengukuran berupa angket yang penulis kutip
dari angket Tite Juliantine (Disertasi, 2010: hlm.153-154), adapun seluruh
kisi-kisi angket penulis ambil 100%. Untuk lebih jelasnya mengenai kisi-kisi-kisi-kisi angket
tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.2.
Tabel 3.2
Kisi-kisi Tes Kreativitas
42
f. Lebih cepat melihat kesalahan pada situasi
2. Fleksibilitas (Keluwesan)
a. Memberikan macam-macam penafsiran terhadap suatu masalah b. Menerapkan suatu konsep dengan
cara yang berbeda
d. Mencari pendekatan baru e. Bekerja
menemukan/menyelesaikan yang baru
4. Elaborasi (Kerincian)
a. Menyusun langkah penyelesain secara detail
b. Memperkaya gagasan orang lain c. Memiliki rasa keindahan yang
tinggi
d. Melengkapi gambar-gambar yang ada
5. Evaluasi (Penilaian)
a. Memberi pertimbangan
b. Menganalisis masalah dengan pertanyaan mengapa
c. Selalu memiliki alasan yang kuat d. Merancang suatu rencana kerja e. Bertahan pada pendapat sendiri Variabel Sub Variabel Indikator Deskripsi Tingkah Laku Kreativitas Non
a. Mempertanyakan banyak hal b. Senang mencoba atau membaca
2. Imajinatif a. Memikirkan hal-hal yang belum pernah terjadi
b. Memikirkan bagaimana jika melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan orang lain
c. Meramalkan apa yang akan dikatakan oleh orang lain
43
e. Melihat hal-hal dalam suatu gambar yang tidak dilihat orang lain
f. Membuat cerita tentang tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi atau tentang kejadian-kejadian yang belum pernah dialami
3. Tertantang oleh
kemajemukan
a. Menggunakan gagasan yang rumit b. Melibatkan diri dalam tugas-tugas
yang majemuk
c. Tertantang oleh situasi yang tidak dapat diramalkan keadaannya d. Mencari penyelesaian tanpa
bantuan orang lain
e. Tidak cenderung mencari jalan gampang
f. Mencari terus menerus agar berhasil
g. Mencari jawaban-jawaban yang lebih sulit
a. Berani memberikan gagasan yang berbeda
b. Berani mengakui kesalahan c. Berani menerima tugas yang sulit g. Berani mengakui kegagalan dan
berusaha lagi
5. Menghargai Menghargai hak sendiri dan orang lain
Menghargai diri sendiri dan prestasi sendiri
Menghargai keluarga, sekolah, dan teman-teman
44
Dalam instrumen ini setiap subjek diminta untuk memilih jawaban yang
paling benar sesuai dengan kemampuan berpikir kritis siswa. Alternatif jawaban
yang disediakan sebanyak 5 alternatif. Untuk lebih jelasnya mengenai alternatif
jawaban dan sistem penskoran disajikan pada tabel 3.3.
Tabel 3.3
Kategori Pemberian Skor Alternatif Jawaban
Alternatif Jawaban
Penghitungan dan analisis data dalam suatu penelitian dimaksudkan untuk
mengetahui makna dari data yang diperoleh dalam rangka memecahkan masalah
penelitian.Adapun teknik analisis data yang digunakan untuk penelitian ini adalah:
1. Uji Validitas
Validitas instrumen penelitian adalah ketepatan dari suatu instrumen
penelitian atau alat pengukur terhadap konsep yang akan diukur. Instrumen yang
valid harus dapat mendeteksi dengan tepat apa yang seharusnya diukur. Dalam
penelitian ini penulis mengadakan pengujian validitas soal dengan cara analisis
butir soal. Untuk menguji validitas alat ukur, maka harus dihitung korelasinya,
45
Berikut mengenai interpretasi koefisien korelasi tingkat validitas:
Tabel 3.4.
Interpretasi Terhadap Koefisien Korelasi Tingkat Validitas
2. Uji Reliabilitas
Reliabilitas instrumen digunakan untuk mengukur sejauh mana suatu alat
ukur memberikan gambaran yang benar-benar dapat dipercaya tentang
kemampuan seseorang.Untuk menguji reliabilitas instrumen digunakan rumus sebagai berikut :
Gambar 3.3 Rumus Uji Signifikansi Product Moment
(Maksum, 2012:119)
Tingkat Validitas Koefisien Korelasi
46
Taraf signifikansi koefisien uji dengan menggunakan rumus uji signifikansi
product moment dengan taraf kesalahan 5% atau (α) = 0,05. Setelah didapat nilai
koefisien yang dicari lalu lakukan pengujian signifikansi koefisien korelasi yang
disesuaikan dengan tabel interpretasi koefisien korelasi didapat sebagai berikut:
Tabel 3.5.
Interpretasi Terhadap Koefisien Korelasi Tingkat Realibilitas
3. Objektivitas
Hasil penghitungan uji signifikansi korelasi Person Product Moment
dimasukkan ke dalam rumus Spearman Brown, Selanjutnya membandingkan nilai
r hitung dengan r tabel dalam taraf kesalahan 5% atau α = 0.05. Dengan rhitung> r tabel =
0.632 kemudian mengoperasikan rhitungdengan r tabelyang artinya butir pertanyaan
tersebut dapat digunakan sebagai alat pengumpul data untuk menunjukan bahwa
korelasi mempunyai reliabilitas yang signifikan. Jika sebaliknya, yaitu nilai rhitung
lebih kecil daripada r tabel maka butir tersebut tidak bisa digunakan sebagai alat
data.
Secara matematis, realibilitas dapat didefinisikan sebagai berikut:
r
tt=
Vt
V
Gambar 3.4 Realibilitas Secara Matematis
(Maksum, 2012 : 121)
dimana:
Tingkat Realibilitas Koefisien Korelasi
Istimewa .90 - 1
Tinggi .80 - .89
Sedang/Cukup .60 – .79
47
rtt = realibilitas
V = true variance
Vt = variance total
Tabel 3.6.
Interpretasi Terhadap Koefisien Korelasi Tingkat Objektivitas
T-Test untuk Sampel Berbeda
√
Gambar 3.5 Rumus T-Test untuk Sampel Berbeda
(Maksum, 2012:175)
dimana:
M1 = Mean pada distribusi sampel 1
M2 = Mean pada distribusi sampel 2
S12= Nilai varian pada distribusi sampel 1
S22= Nilai varian pada distribusi sampel 2
N1 = Jumlah individu pada sampel 1
N2 = Jumlah individu pada sampel 2
Tingkat Objektivitas Koefisien Korelasi
Istimewa .95 – 1
Tinggi .85 - .94
Sedang/Cukup .70 – .84
48
penelitian. Adapun langkah-langkah dalam pengolahan data adalah sebagai
berikut:
1. Menyeleksi data setelah angket terkumpul dari para sampel sebagai
sumber data, maka harus diseleksi untuk diperiksa keabsahan
pengisian angket. Karena mungkin saja pada sebagian butir
pernyataan dalam angket, terdapat jawaban yang tidak diisi oleh
responden.
2. Memberikan nilai pada tiap-tiap butir pernyataan dalam angket.
3. Memasukkan atau input data skor tersebut pada program komputer
Microsoft Excel 2007.
Selanjutnya data tersebut diolah dan dianalisis, dengan tujuan dapat
memperoleh kesimpulan penelitian. Kesimpulan data tersebut diharapkan dapat
menjawab rumusan masalah dan hipotesis penelitian. Analisis data dilaksanakan
dengan menggunakan program Statistical Product and Service Solution (SPSS)
Serie 20. Adapun langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut:
1. Uji normalitas data
Uji normalitas data dilaksanakan dengan tujuan agar dapat memperoleh
informasi mengenai kenormalan data yang diperoleh. Selain itu, uji normalitas
data juga akan menentukan langkah yang harus ditempuh selanjutnya, yaitu
analisis statistik apa yang harus digunakan, apakah statistik parametrik atau
nonparametrik. Langkah yang dilakukan adalah dengan menginput dan
menganalisa menggunakan deskripsi explore data pada menu SPSS Seri. 20.
2. Uji homogenitas data
Uji homogenitas data dilaksanakan setelah uji normalitas data. Tujuan uji
homogenitas data adalah untuk mengetahui bahwa data tersebut berasal dari
sampel yang homogen. Selain itu juga untuk menentukan jenis analisis statistik
apa yang selanjutnya digunakan dalam uji hipotesis data. Langkah yang dilakukan
untuk uji homogenitas data menggunakan program software SPSS Seri 20 adalah
49
data tersebut sekaligus menghasilkan dua analisis, yaitu normalitas dan
homogenitas data.
3. Uji hipotesis
Uji hipotesis data dilakukan guna mendapatkan kesimpulan dari data yang
diperoleh. Jenis analisis statistik yang digunakan untuk melakukan uji hipotesis
dalam rangka mencari kesimpulan ditentukan oleh hasil uji normalitas dan
homogenitas data. Dalam uji hipotesis ini penulis membandingkan hasil tes
kemampuan berpikir kritis sebelum dan sesudah perlakuan (pre-test dan post-test).
Selain itu juga membandingkan hasil pre-test antara kelompok sampel eksperimen
dan kelompok sampel kontrol, serta membandingkan hasil post-test kelompok
sampel eksperimen dan kelompok sampel kontrol.
4. Analisis dan deskripsi data
Dalam kegiatan analisis dan deskripsi data yang dilakukan adalah
menganalisis serta mendeskripsikan angka-angka yang ada, hasil dari
penghitungan statistik. Angka atau nilai yang dihasilkan bisa dibandingkan
dengan angka tabel atau dideskripsikan secara langsung dengan berbagai
pertimbangan. Selain itu juga analisis didasarkan pada hipotesis yang dibuat untuk
BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. Kesimpulan
Dari hasil analisis data dan diskusi temuan diperoleh kesimpulan
sebagai berikut:
Kegiatan Outdoor education berlandaskan experiential learning dapat
meningkatkan kreativitas.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan temuan selama pelaksanaan
penelitian, penulis mengajukan beberapa rekomendasi sebagai berikut:
1. Bagipara pembuat kebijakan kurikulum pendidikan jasmani di sekolah
maupun universitas.
Pendidikan jasmani di sekolah dewasa ini cenderung lebih kearah
pembinaan keterampilan olahraga atau fisik secara umum saja. Sementara
peningkatan kreativitas siswa agak terabaikan. Sebetulnya dengan
pendidikan jasmani melalui kegiatan outdoor education berlandaskan
experiential learning dapat meningkatkan kreativitas. Oleh karena itu
perlu adanya pengkajian ulang mengenai pengembangan kurikulum
pendidikan jasmani dan olahraga di sekolah maupun universitas.
2. Bagi guru atau dosen pendidikan jasmani di sekolah atau universitas.
Guru atau dosen merupakan pendidik yang sepatutnya mendidik
bukan hanya sebagai pengajar bagi siswanya di sekolah maupun
universitas. Mendidik mungkin akan lebih sulit dibandingkan dengan
mengajar. Oleh karena itu guru diharapkan dapat mempertimbangkan
73
berlandaskan experiential learning. Kegiatan tersebut sudah dibuktikan
dapat meningkatkan kemampuan kreativitas.
3. Bagi siswa maupun mahasiswa
Pada dasarnya aktivitas jasmani dapat dilakukan dalam kegiatan
outdoor education berlandaskan experiential learning, hanya saja sedikit
orang yang mengetahui dan kebayakan tidak menyadari. Berbagai
penelitian menunjukkan bahwa outdoor education berlandaskan
experiential learning tidak hanya dapat meningkatkan kebugaran jasmani
saja tetapi dapat pula meningkatkan kreativitas, selain itu melalui kegiatan
outdoor education seseorang dapat meningkatkan kemampuan berpikir,
mengukur tingkat kecemasan, empati, dan rasa sosialnya.
4. Bagi peneliti selanjutnya
Dalam penelitian ini penulis belum mengungkap secara
keseluruhan manfaat dari outdoor education, penulis hanya mengungkap
pengaruh outdoor education berlandaskan experiential learning terhadap
kreativitas saja. Sedangkan masih banyak kegiatan-kegiatan outdoor
education lainnya yang sekiranya dapat mempengaruhi kemampuan
kognisi dan afeksi. Dengan demikian, penulis berharap agar ada peneliti
berikutnya yang dapat mengungkap mengenai kegiatan-kegiatan outdoor
education yang dapat mempengaruhi kognisi dan afeksi lebih spesifik lagi.
Jenis kegiatan outdoor education yang digunakan juga diharapkan dapat
lebih bervariasi lagi, terutama dapat melibatkan tiga aspek pembelajaran
DAFTAR PUSTAKA
Ancok, Djamaludin.(2003). Outbound Manajemen Training .Yogyakarta : UII
Press
Brown, Keith MSP. (2010). Curriculum For Excellence Through Outdoor
Learning. Learning and Teaching Scotland.
Danuminarto.Hari dan Santosa. Aris Budi (2007). Experiential Learning By
Outbound. Surabaya : Titik Terang
De Varies. (2006). Physical Education ansd Sport: Toward The Achievement of
Mellinneum Development Goals (MDG). International Conference of Asia
Society for Physical Education and Sport (ASPES)
Departemen Pendidkan dan Kebudayaan (DEPDIKBUD) tahun 1997
Hidayat, Yusuf. (2008). Pengantar Psikologi Olahraga. Bandung : FPOK UPI
Bandung
Hopkins, David and Roger Putnam. (1993). Personal Growth Through Adventure.
London. David Fulton Publishers.
Juliantine, Tite. (2010). Model Pembelajaran Inkuiri Dalam Pendidikan Jasmani
Untuk Mengembangkan Kreativitas Siswa Sekolah Dasar. Disertasi
Doktor pada Pendor SPs UPI.Bandung : tidak diterbitkan.
Kardjono.(2009). Pengendalian Diri (Self Control) Melalui Outdoor
Education.Disertasi Doktor pada Pendor SPs UPI.Bandung : tidak
diterbitkan.
Lutan, Rusli. (2008). Pedagogy pendidikan Jasmani: Review kuliah. Bandung:
Sekolah Pasca Sarjan UPI. Tidak diterbitkan.
Lynsey N. Hayden (2005).“Leaving the Classroom Behind: Increasing Student Motivation through Outdoor Education”.Creativity Reseach Journal. 17 (2&3), 257-264.
Maksum, Ali. (2012). Metedologi Penelitian dalam Olahraga.Surabaya : Unesa
75
Milest, Jhon. C and Priest, Simon.(1990). Adventure Education. Publisher:
Ventury Pub. (State College, PA).
Moeslichatoen.(2004). Metode Pengajaran Di Taman Kanak-Kanak. Jakarta:
Rineka Cipta.
Munandar, U. (1985). Mengembangkan Bakat Dan Kreativitas Anak Sekolah.
Jakarta: Gramedia.
____________ (1988).Kreativitas Sepanjang Masa. Jakarta: Grasindo.
____________ (2002). Kreativitas Dan Keberbakatan (Strategi Mewujudkan
Strategi Dan Bakat). Jakarta: Gramedia.
____________ (2009). Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta:
Rineka Cipta.
Neill, James. A Profile of Outdoor Education Programs And Their
Implemantation In Australia(Presented to the National Assembly for Youth
Development, World Convention Center, Miyazaki, Japan, November 14,
2001. (Journal)
Riduawan, (2008).Metode Teknik Menyusun Tesis.Bandung : Alfabeta
Riskomar.Dadan (2004).Pedoman Praktis Pelaksanaan Outdoor dan Fun Games
Activities.Jakarta : PT. Mandar Utama Tiga Books Devision
Sugiyono (2009). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D., Cv
Alpabeta, Bandung
Suharto. (1997). Buku Pedoman Berolahraga Panjat Tebing. Jakarta: Departemen
D&K Pusat Kesegaran Jasmani Dan Rekreasi.
Suherman, Adang. (2009). Revitalisasi Pengantar Dalam Pendidikan Jasmani.
Bandung: CV. Bintang Warli Artika
Supriadi, D. (1994). Kreativitas, Kebudayaan, dan Perkembangan Iptek. Bandung:
Alfabeta.
76
Tamara, Syamsul Hadi. Pendidikan Aktivitas Luar Kelas.
http://gurupenjaskesrek.blogspot.com/2011/10/pendahuluan.html Diakses
tanggal 10-2-2014 pukul 16:46 WIB
Taniguchi, Stacy T. (2004). Outdoor Education And Meaningful Learning:
Finding The Attributes Of Meaningful Learning Experiences In An
Outdoor Education Program. (Journal)
Tim Penulis Diktat Wanadri (1993).Diktat Wanadri.Bandung : Wanadri. Tidak
diterbitkan
Universitas Pendidikan Indonesia ( 2013 ). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah.
Bandung: UPI PRESS.
Undang-Undang No. 20 tahun 2003.
West, M. (2000). Developing Creativity On Organizations: Mengembangkan