• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisa Stabilitas Semi-submersible saat terjadi Kebocoran pada Column

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Analisa Stabilitas Semi-submersible saat terjadi Kebocoran pada Column"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Abstrak—Stabilitas merupakan kemampuan suatu struktur untuk melawan gaya-gaya luar yang menyebabkan kemiringan sehingga dapat kembali ke posisi semula. Stabilitas dapat dipengaruhi oleh bentuk bangunan,muatan, draft, dan ukuran nilai GM. Dalam penelitian ini, dilakukan pemodelan semi-submersible menggunakan perangkat lunak.

Pemodelan ini bertujuan untuk mengetahui nilai hidrostatik dari semi-submersible. Kemudian dapat dilakukan untuk analisa stabilitas awal semi- submersible dan stabilitas saat damage/kebocoran pada column dan pontoon. Sebelum melakukan analisa kebocoran, column dan pontoon harus terbagi menjadi beberapa kompartemen atau sekat kedap air agar flooding tidak menyebar ke seluruh area column pontoon. Dari ketentuan DNV untuk kebocoran maka salah satu dari column harus dibocorkan sebagian atau seluruhnya dan nilai G

z

(lengan pengembali) minimal 1 m, ratio perbandingan kurva righting moment dengan wind heeling moment adalah 1.3, serta heel maksimal yang ditetapkan sebesar 35 .

Pada penelitian ini dilakukan pemodelan satu compartment bocor yaitu pada column besar dan column kecil semi-submersible.. Hasil analisa stabilitas pada kebocoran kolom besar hanya mampu sampai setengah dari volume kolom dan pada kebocoran kolom kecil semi-submersible dapat kembali/stabil ke posisi tegaknya hingga volume full column bocor.

Kata kunci: Stabilitas; Semi-submersible; Kebocoran;

Column; DNV.

I. PENDAHULUAN

Kebutuhan migas di dunia makin bertambah, seriring banyaknya jumlah permintaan maka para industri migas segera menambah jumlah produksi migas dengan mencarinya hingga ke perairan dalam yang tentunya mempunyai kondisi lingkungan lebih ganas.

Salah satu teknologi yang dapat digunakan dalam pengeboran lepas pantai dilaut dalam adalah menggunakan semi-submersible. Semi-submersible merupakan sebuah teknologi yang fungsinya sama dengan kapal namun bentuk geometri dari semi-

submersible berupa pontoon dan column sebagai gaya apung struktur tersebut.

Dalam perancangan semi-submersible tentunya keselamatan dari struktur tersebut harus dipenuhi dan mampu beroperasi secara optimal. Pada masa operasi semi-submersible tentunya akan mengalami masalah seperti terjadinya kebocoran. Akibat kebocoran ini maka semi-submersible akan kehilangan buoyancy bahkan sampai tenggelam. Maka hal yang harus dilakukan untuk mencegah besarnya resiko tersebut adalah perancang bangunan semi-submersible harus merancang struktur tersebut secara sempurna sehingga ketika terjadi kebocoran masih dapat mengapung dan memiliki stabilitas yang aman (Lewis, 1998).

Salah satu cara untuk mengurangi kemungkinan tenggelamnya semi-submersible dikarenakan kebocoran adalah dengan membagi ponton dan kolom menjadi beberapa ruangan atau kompartemen, yaitu dengan cara memberi sekat kedap air pada kolom baik secara tranversal, longitudinal dan horizontal. Fungsi dari pembagian ruangan ini adalah untuk mengurangi hilangnya stabilitas semi-submersible akibat masuknya air kedalam kolom dan pontoon, mengurangi hilangnya daya apung cadangan (reserve bouyancy). Kenyataan di lapangan menjelaskan bahwa kebocoran (flooding) dapat terjadi tidak hanya pada satu kompartemen saja,namun bisa dua, tiga, dan secara acak dapat terjadi. Sehingga pada desain pembuatan semi-submersible untuk mencegah meluasnya kebocoran maka dapat di bangun sekat kedap air yang efisien dengan perhitungan berat konstruksi dan biaya yang cukup rendah. Dengan berbagai permasalahan di atas maka diperlukan suatu studi yang meneliti stabilitas semi-submersible pada saat terjadi kebocoran.

Tugas akhir ini disusun untuk menyampaikan hasil analisis stabilitas semi-submersibsible pada kondisi normal (operasi) dan pada saat mengalami kebocoran yang mengacu pada ketetapan dari klasifikasi Internasional.

II. METODE PENELITIAN

Penelitian mengenai stabilitas semi-submersible mengacu pada berbagai referensi dari peneliti-peneliti sebelumnya. Simonsen dkk (2009) melakukan penelitian stabilitas kapal pada kondisi rusak (damage stability)

Analisa Stabilitas Semi-submersible saat terjadi Kebocoran pada Column

P.C.Pamungkas a , I.Rochani b , J.J.Soedjono b

a Mahasiswa Jurusan Teknik Kelautan ITS, b Staf Pengajar Jurusan Teknik Kelautan ITS Jurusan Teknik Kelautan, Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)

Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111

(2)

dengan mempehitungkan struktur yang mudah rusak akibat kerusakan didaerah vessel. Analisis damage stability saat terjadi kebocoran (Perdana, 2012) menambahkan untuk menganalisa tegangan pada struktur akibat pengaruh damage stability. Analisa yang telah dilakukan meliputi kebocoran accommodation barge pada kompartmen yang telah ditentukan. Namun saat ini penelitian mengenai kebocoran semi-submersible di Indonesia sangat sedikit, oleh karena itu perlu dilakukan study dalam menganalisa stabilitas semi-submersible yang sesuai dengan kriteria dari klasifikasi Internasional.

Stabilitas merupakan kemampuan struktur untuk melawan gaya-gaya luar yang menyebabkan kemiringan sehingga dapat kembali ke posisi semula. Ada beberapa titik penting dalam perhitungan stabilitas seperti:

a. Titik (gravity) G yaitu titik berat dari pada kapal,ini dipengaruhi oleh bentuk dari konstruksi struktur tersebut.

b. Centre of buoyancy atau titik B (Buoyancy) adalah titik tekan keatas dari volume air yang dipindahkan oleh bagian bangunan yang ada dalam air.

c. Titik M (Metacenter) adalah titik perpotongan vektor gaya tekanan keatas pada keadaan tetap dena vektor gaya tekanan keatas pada sudut oleng yang kecil.

Gambar 1. Gaya-gaya dalam perhitungan stabilitas Dari ketiga titik tersebut maka dapat dihitung besarnya lengan pengembali (Gz) untuk kembali ke posisi tegak.

KM = KG + MG……. (1) GM = KB + BM – KG… (2)

Sehingga didapatkan lengan pengembali yaitu Gz = MG sin  (m)……. (3)

Momen stabilitas statis = W. Gz (ton m)..(4)

Besarnya momen stabilitas diatas adalah stabilitas untuk sudut oleng kecil ≤ 9  . Lengan pengembali yang digunakan utuk analisa sudut besar > 9  adalah

GZ GM    BMtg   sin………(5)

Dimana Gz = lengan pengembali (m) W = displacement (ton)

GM = jarak metacentre ke pusat gravitasi (m) BM = jarak metacentre ke titik buoyancy (m)

 = sudut oleng A. Stabilitas saat kebocoran

Untuk stabilitas pada saat kebocoran dapat diasumsikan sebagai penambahan muatan ataupun hilangnya buoyancy pada struktur tersebut.

Untuk kebocoran pada ruang tertutup dapat dihitung dengan rumus muatan padat sebagai berikut :

Gambar 2. Pemuatan sebuah beban GG

 

 

…….(2) dan G

G  

 

… (3)

Dengan berpindahnya titik berat GG maka tinggi metacentre akan berubah menjadi :

Untuk melintang M

t

G’ = M

t

G + GG’…… (4) Untuk memanjang M

L

G’ = M

L

G + GG’… (5)

Untuk pemindahan memanjang titik G dapat menyebabkan terjadinya trim sehingga digunakan rumus

tb Lb 

 

…… (6)

td Ld 

 

…… (7)

Dimana td adalah besarnya trim depan dan tb adalah trim belakang.

Gambar 3.Metode kebocoran

(3)

Untuk Penambahan muatan dapat dilihat pada persamaan berikut ini :

Perpindahan titik buoyancy dan gravity

B BB1  

 

………….. (8)

G GG1  

 

…………. (9)

GM baru B1M1 B1G1……… (10)

B1M1 BG BB1 GG1 …...(11) G1M1     BG     Bb Gg ..(12)

   W w  G1M1 ....(13)     I1 i   W BG w BG

w  Bb BG Bg  ...………. (14)     I1 i  –  W BG w bg   ..(15) Sedangkan untuk persamaan loss of buoyancy adalah Perpindahan titik buoyancy

B BB2  

 

... (16)

GM baru B2M2 B2G B2M2 BG BB2 GM2   

   

 BG  

 

…… (17) Righting moment W GM2      I1 i   W BG w bg  ... (18)

Dalam perhitungan semisubmersible yang terpenting adalah nilai dari righting moment atau momen pengembali dari struktur tersebut untuk kembali ke posisi semula dan besarnya gaya angin atau wind heeling moment. Perbandingan ratio dari luasan dibawah kurva righting moment dengan luasan di bawah wind heeling moment sebesar 1.3 untuk semi-submersible.

A+B  1.3 B+C…….. (19)

Gambar 4. Kurva intact stability (DNV,2001)

III. HASIL DAN DISKUSI

Pada penelitian ini dibuat sebuah model Semi- submersible Sea Turtles dengan menggunakan perangkat lunak. Pemodelan ini mengacu pada model Semi- submersible Essar Wilcat yang beroperasi di perairan Natuna. Berikut ini adalah pemodelan Semi-submersible Sea Turtles :

Tabel 1. Dimensi model semi-submersible

Item Value Unit

Panjang Total 108.2 m

Lebar (moulded) 67.38 m Diameter kolom besar 7.92 m Diameter kolom kecil 5.79 m Diameter kolom buoyancy 4 m Jarak ke upper deck 39.63 m Jarak ke main deck 36.58 m

Tinggi pontoon 6.71 m

Pontoon width 10.98 m

Sarat operasi 21.4 m

Displacement kondisi operasi 24070 ton

Gambar 5. Pemodelan menggunakam software Untuk mendapatkan titik berat dari struktur tersebut maka dimodelkan pembebanan/loadcase pada semi- submersible. Setelah itu dilakukan validasi sebagai perbandingan antara model dengan Semi-submersible Essar Wildcat.

Tabel 2. Validasi model

Item Essar Model

Error (%)

Draft 21.4 m 21.4 m 0

Displacement 24173 ton 24070 ton 0.4 VCG 17.83 m 18.086 m 1.4

TCG 0.00 m 0.00 m 0

LCG -0.57 m -0.57 m 0

(4)

Hasil perbandingan antara Essar dengan model tidak terlalu besar atau error sehingga model tersebut dapat dikatakan valid dan dapat digunakan untuk analisa selanjutnya.

Kebocoran pada semi-submersible dapat terjadi dimana saja dan dapat menyebabkan struktur tersebut kehilangan buoyancy. Oleh karena itu diperlukan pembuatan compartment pada column dan pontoon yang terbagi menjadi beberapa bagian. Compartment tersebut terbagi dengan adanya sekat kedap air yang dipasang secara transversal, longitudinal, dan horizontal. Hal ini bertujuan untuk mengurangi dampak dari kebocoran yang dapat meluber ke area compartment lainnya.

Gambar 6. Pemodelan compartment

Compartment yang terbagi menjadi beberapa bagian tersebut mempunyai volume yang berbeda-beda. Pada beberapa compartment atau tank berisi muatan yang.

Seperti waterballast pada Tank 1s,1p,2s, 2p, 5s,5p, 6s, 6p, 7s, 7p, 18s, 18p, 9s,9p, 10s, 10p, 12s, 12p, 14s, 14p, 15s, dan 15p. Fuel oil pada tank 13s, 13p dan drillwater pada Tank 11s, 11p, 19s, 19p. Selanjutnya untuk tank 3s, 3p, 4s, 4p, 8s, 8p, 17s, 17p, 20s, 20p, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, dan 28 tidak bermuatan zat cair atau kosong.

Gambar 7. Tank pada pontoon (tampak atas)

Gambar 8. Tank pada column (tampak samping) Analisa stabilitas semi-submersible pada kondisi operasi dengan displacement 24070 ton pada sarat 21.4 m. Ketetapan DNV yaitu nilai minimal lengan pengembali (Gz) adalah 1 m dengan ratio perbandingan righting moment terhadap wind heeling moment sebesar 1.3. Kecepatan angin kondisi normal adalah 70 knot.

Hasil analisa stabilitas awal semi-submersible tersebut dapat dilihat pada tabel dan grafik dibawah ini.

Tabel 3. Kondisi awal semi-submersible

Item Value

Draft Amidsh. M 21.398

Displacement tone 24070 Heel to Starboard degrees 0

Draft at FP m 19.301

Draft at AP m 23.495

Draft at LCF m 21.392

Trim (+ve by stern) m 4.194

WL Length m 88.503

WL Beam m 66.298

Wetted Area m^2 11126.23 Waterpl. Area m^2 369.475

Prismatic Coeff. 0.555

Block Coeff. 0.44

Midship Area Coeff. 0.792 Waterpl. Area Coeff. 0.205 LCB from Amidsh. (+ve fwd) m -1.144 LCF from Amidsh. (+ve fwd) m 0.128

KB m 6.037

KG fluid m 18.086

BMt m 12.445

BML m 14.701

GMt corrected m 0.383

GML corrected m 2.639

KMt m 18.482

KML m 20.739

Immersion (TPc) tonne/cm 3.788

Max deck inclination deg 2.7

Trim angle (+ve by stern) deg 2.7

(5)

s m

= b d p tr

H

Dis ton Dr Dr W W GZ Ma inc Tri by

H Di ton Dr Dr WL WL GZ Ma inc Tri (+v deg

p m d

Dari tabel emi-submersi mengalami trim

= 19.301. Sem belakang den dengan heel pembebanan y

rim belakang

Ga Tabel 4. S

Heel to Port  degrees  splacement  ne 

aft at FP m  aft at AP m  L Length m  L Beam m  Z m 

ax deck  clination deg  im angle (+ve 

 stern) deg 

Tabel 5

Heel to Port degrees splacement ne raft at FP m raft at AP m 2

L Length m 8 L Beam m 7 Z m

ax deck clination deg

im angle ve by stern) g

Pada graf perbandingan moment jauh dibawah kurva

-0.25 0 0.25 0.5 0.75 1 1.25 1.5 1.75 2

-5 0

3.2.2: Severe w ind a

GZ m

l diatas dapat ble pada ko m dengan sara mi-submersib ngan perbeda 0. Hal in yang tidak si

(LCG=-0.57)

ambar 9. Gra Stabilitas pada

‐5  0 

24071  240 19.381  19.

23.43  23.4 88.496  88.4 66.551  66.2

‐0.044 

5.6  2

2.6  2

. Stabilitas he

20 25

24070 24070 19.621 20.82 23.335 22.512 88.473 91.603 70.552 73.15

0.437 0.847

20.1 25

2.4 1.

fik analisa antara luasa lebih besar d a wind heeling

5 10 1

and rolling Wind Heeling

He

diketahui bah ondisi sarat at air AP = 2 le tersebut m aan sarat seb

ni dikarenak imetris sehin .

fik intact stab heel -5 samp

070  24070  .38  19.379  413  23.428  496  88.496  298  66.551  0  0.043 

2.6  5.6 

2.6  2.6 

eel 20 sampai 4

5 30

0 24070 1 22.74 2 23.921 3 101.134 1 1 72.481 7 1.904

5 30

1 0.8

intact stabilit an dibawah dibandingkan g momen A+B

15 20 25

eel to Port deg.

hwa posisi aw operasionaln 3.495 m dan mengalami tr besar 4.194 kan titik be ngga mengala

bility ai 15 derajat

10  1

24070  24 19.521  19 23.334  23 88.484  88 67.32  68 0.113  0

10.3 

2.5 

40 derajat

35 24070 24 26.057 30 27.682 31 100.788 100 50.666 50 1.099 0

35

1.1

ty dapat dilih kurva righti n dengan luas B  1.3 B+C.

30 35

Max GZ = 1.909 m at 30.5

wal nya FP rim m erat ami

4069  9.655  3.268  8.473  8.636  0.238 

15.2 

2.3 

40 4070 0.163 .888 0.704 0.486 0.088

40

1.1

hat ing san

N ya de m su aw K

ke co ke m ad co 15 be

ta bo in

N T

N T 1

su sa

40 5 deg.

ilai maksimal ang didapatka erajat. Dari ke minimal Gz 1 ubmersible ini wal saat terjad Kebocoran Sem Sebelum ebocoran ma ompartment ya ehilangan day masuk. Pada pe

dalah column ompartment y 5.Kemudian eberapa compa

Permeabili nk adalah 0.9 ocor adalah 95 ni adalah volum

Tabel 6 Tank Name

Capa m

3

TANK

20 P 335.

11 177.

12 177.

13 239 14 239 15 262.

Tabel 7 Tank Name

Capa m TANK 19 P 180

25 449 26 14

DNV mene ubmersible saa atu column seb

Gambar

l Gz atau len an adalah seb etetapan yang 1 meter dan i sangat aman di olengan.

mi-submersible dilakukan aka harus d

ang ada. Hal i ya apungnya enelitian ini co n besar yang

yaitu tank 2 column kec artment tank ity yang dite

5 saat damag 5% dari total v me compartm

. Kapasitas ta city Capacit

3

Ton

154 343.

442 181.91 245 181.71 9.52 245.55 9.52 245.55 034 268.63

7. Kapasitas ta acity Capacit m

3

Ton

.547 180.54 .019 460.33 1.15 144.70

etapkan dalam at kebocoran a bagian atau sa

r 10. Compart

gan pengemb besar 1.904 m

diberikan DN ratio 1.3, s atau dapat ke

e

analisa sta diketahui vol

ini dikarenaka a seberat vol ompartment y g terbagi men

0 p, 11, 12 cil yang ter

19 p, 25, dan 2 etapkan rules

e, sehingga vo volume keselu ent sebuah co ank pada colum ty Damage Permeabil

% .6 95

3 95 1 95 56 95 56 95 38 95

ank pada colum ty Damag

permeabi

%

47 95 34 95 07 95

m perhitungan adalah dengan atu column pen

tment yang dib

bali dari anali m pada heel 3 NV dengan nil

stabilitas sem embali ke posi

abilitas akib lume tiap-tia an struktur aka lume air yan ang dibocorka njadi beberap 2, 13, 14, da rbagi menja 26.

s DNV sebua olume tank sa uruhan. Berik olumn.

mn besar e Capacity lity

Ton 326.42 172.8174 172.6255 233.2782 233.2782 255.206

mn kecil e Capacity ility

Ton

175.807 448.250 140.908

stabilitas sem n membocorka

nuh.

bocorkan sa 30 lai mi-

isi

bat ap an ng an pa an adi

ah aat kut

y

2 4 5 2 2 1

y

6 2 4

mi-

an

(6)

Berikut ini adalah kondisi hasil dari analisa stabilitas semi-submersible pada column besar yang dibocorkan.

Tabel 8. Kondisi kesetimbangan saat kebocoran

Item Value

Draft Amidsh. M 25.23 Displacement tone 24070 Heel to Starboard degrees -22.2

Draft at FP m 14.276

Draft at AP m 36.185

Draft at LCF m 21.063 Trim (+ve by stern) m 21.909

WL Length m 97.691

WL Beam m 71.612

Wetted Area m^2 11381.58 Waterpl. Area m^2 485.729 Prismatic Coeff. 0.311

Block Coeff. 0.211

Midship Area Coeff. 0.678 Waterpl. Area Coeff. 0.193 LCB from Amidsh. (+ve fwd) m -3.134 LCF from Amidsh. (+ve fwd) m 16.813

KB m 7.129

KG fluid m 18.086

BMt m 14.151

BML m 16.451

GMt corrected m 2.659 GML corrected m 4.959

KMt m 21.28

KML m 23.58

Immersion (TPc) tonne/cm 4.98

MTc tonne.m 13.501

Max deck inclination deg 25.5 Trim angle (+ve by stern) deg 13.9

Tabel diatas merupakan kondisi ekuilibrium semi- submersible pada saat di bocorkankan sebagian yaitu pada tank 20 p, tank 11, dan tank 12. Posisi kesetimbangan dari struktur tersebut adalah pada heel 22.2 dan trim13.9 pada perbedaan sarat 21.063 m dari AP ke FP. Sedangkan heel maksimal dari DNV adalah sebesar 35 

Struktur semi-submersible tersebut kehilangan buoyancy sebesar 671 ton pada compartment 20p, 11, dan 12. Sehingga untuk analisa stabiliasnya didapatkan hasil sebagai berikut :

Gambar 11. Grafik damage stability (kolom besar) Tabel 9. Damage stability pada heel -5 sampai 15

Heel to Port

degrees -5 0 5 10 15 Displacement

tone 24071 24071 24070 24070 24070 Draft at FP m 9.767 9.696 10.038 11.101 12.59

Draft at AP m 36.512 36.547 36.222 35.422 34.612 WL Length m 99.447 92.392 99.275 98.65 97.935 WL Beam m 66.551 66.298 66.551 67.32 68.636 GZ m -0.901 -0.787 -0.673 -0.51 -0.302 Max deck

inclination

deg 17.5 16.9 17.2 18.1 20.1

Trim angle (+ve by stern)

deg 16.8 16.9 16.5 15.4 14

Tabel 10. Damage stablity pada heel 20 sampai 40

Heel to Port

degrees 20 25 30 35 40 Displacement

tone 24070 24070 24070 24070 24070 Draft at FP m 13.643 14.851 15.777 15.691 21.668

Draft at AP m 35.711 37.938 42.326 49.755 49.545 WL Length m 97.802 97.7 94.068 92.703 92.388 WL Beam m 70.552 73.169 75.221 69.075 49.407 GZ m -0.117 0.075 0.153 -0.019 -0.869 Max deck

inclination

deg 23.8 28.1 33.1 38.6 41.9

Trim angle (+ve by stern)

deg 14 14.6 16.7 21.1 17.5

Dari grafik dan table di atas menjelaskan bahwa nilai Gz lengan pengembali saat terjadi kebocoran adalah 0.153 m pada heel 30 degree. Luasan dari kurva righting moment jauh lebih besar di bandingkan dengan kurva heeling moment sehingga struktur tersebut masih mampu untuk kembali ke posisi stabil.

Meninjau dari maksimal lengan Gz yang hanya

sebesar 0.153 m, stabilitas struktur ini hanya mampu

pada kondisi bocor sebagian column besar, lebih dari itu

semi-submersible sudah tidak aman atau dapat

tenggelam.

(7)

Kebocoran pada column kecil

Volume dari column ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan column besar pada semi- submersible. Hasil analisa damage stability semi- submersible saat column ini dibocorkan dapat dilihat sebagai berikut :

Tabel 11. Kondisi kesetimbangan saat kebocoran

Item Value

Draft Amidsh. M 24.62

Displacement tone 24070

Heel to Starboard degrees -25.8

Draft at FP m 18.746

Draft at AP m 30.494

Draft at LCF m 22.568

Trim (+ve by stern) m 11.748

WL Length m 95.896

WL Beam m 73.644

Wetted Area m^2 11387.21 Waterpl. Area m^2 474.263

Prismatic Coeff. 0.355

Block Coeff. 0.233

Midship Area Coeff. 0.656 Waterpl. Area Coeff. 0.193 LCB from Amidsh. (+ve fwd) m -1.957 LCF from Amidsh. (+ve fwd) m 15.438

KB m 6.755

BMt m 14.904

BML m 15.676

GMt corrected m 3.16

GML corrected m 3.932

KMt m 21.659

KML m 22.431

Immersion (TPc) tonne/cm 4.862

MTc tonne.m 10.707

Max deck inclination deg 26.6 Trim angle (+ve by stern) deg 7.6

Tabel diatas merupakan kondisi ekuilibrium semi- submersible pada saat kebocoran pada satu column full yaitu pada tank 19 p, tank 25, dan tank 26. Posisi kesetimbangan dari struktur tersebut adalah pada heel 25.8 dan trim.7.6 pada perbedaan sarat 11.748 m dari AP ke FP. Heel yang terjadi masih memenuhi dari ketetapan yang diberikan DNV sebesar 35

Struktur semi-submersible tersebut kehilangan buoyancy sebesar 765 ton pada compartment 19p, 25,

dan 26. Sehingga untuk analisa stabiliasnya didapatkan hasil sebagai berikut :

Gambar 12. Tampak perspektif saat kebocoran

Gambar 13. Kurva damage stability Tabel 12.Damage stability pada heel 26 sampai 32

Dari tabel dan grafik curve damage stability saat terjadi kebocoran pada column kecil, nilai maksimal Gz atau lengan pengembali dari struktur tersebut adalah 0.064 m pada heel 29. Untuk luasan kurva righting moment dan wind heeling moment didapatkan perbandingan sebagai berikut :

A = 12.768 B = 12.2033 C = 0.9242 A+B1.3B+C

24.9713 17.0657

Ratio perbandingan yang didapat adalah 1.4, maka

struktur semi-submersible ini mampu untuk kembali ke

posisi semula saat terjadi olengan pada kondisi satu

kolom kecil mengalami kebocoran.

(8)

IV. KESIMPULAN / RINGKASAN

Dari penelitian yang telah dilakukan dalam menganalisa stabilitas semi-submersible saat kondisi normalnya atau masa operasi dan stabilitas semi- submersible saat mengalami kebocoran sesuai rules/code yang ditetapkan untuk semi-submersible maka dapa ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1. Stabilitas semi-submersible pada kondisi awal atau operasi mempunyai momen pengembali yang cukup besar dengan nilai Gz maksimal = 1.904 pada heel 30  .Nilai Gz tersebut telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan DNV sebesar minimal 1 meter.

Struktur tersebut mengalami trim belakang dengan perbedaan sarat AP dan FP sebesar 4.194 m dan heel 0  . Sehingga dapat dikatakan bahwa semi- submersible tersebut aman atau mampu untuk kembali ke posisi tegak saat beroperasi apabila terjadi olengan.

2. Pada analisa damage stability untuk kebocoran semi- submersible dari rule yang ditetapkan DNV yaitu bahwa satu kolom harus dibocorkan sebagian atau seluruhnya serta maksimal heel yang terjadi sebesar 35  .

a. Untuk stabilitas saat terjadi kebocoran pada kolom besar semi-submersible hanya mampu untuk damage dari setengah volume kolom besar. Apabila ada tambahan kebocoran pada compartment kolom tersebut maka semisubmersible akan tenggelam karena tidak ada momen pengembali dan gaya apung yang cukup untuk struktur tersebut. Stabilitas semi- submersible untuk kebocoran kolom besar pada tank 20p, 11, dan 12 mempunyai besar lengan pengembali Gz maksimal 0.153 m pada heel 30  . Luasan righting moment yang lebih besar dibandingkan dengan luasan heeling momen menunjukan bahwa struktur tersebut masih dapat stabil ketika mengalami olengan dari gaya angin. Struktur tersebut mengalami trim dengan perbedaan sarat dari AP terhadap FP sebesar 21.063 m. Penambahan sarat air dari 21.4 m menjadi 25.23 m pada midship. Akibat kebocoran struktur tersebut mengalami heel 22.2  .

b. Analisa damage stability selanjutnya pada pembocoran full kolom kecil yaitu Tank 19 p, 25, 26, struktur tersebut masih mampu untuk kembali ke posisi semula dengan ratio perbandingan luasan kurva righting moment terhadap luasan wind heeling moment sebesar 1.4 dengan lengan pengembali Gz 0.064 meter

pada heel 29.2. Kebocoran pada full column mengakibatkan terjadinya heel sebesar 25.8 

dengan penambahan sarat air menjadi 24.62 m.

Trim yang terjadi dari sarat pada AP ke FP sebesar 11.748 m.

V. DAFTAR PUSTAKA

Det Norske Veritas (DNV), Stabilitas and watertight integrity, DNV-OS-C103, 2001

Lewis, E.V. 1998. Principles of Naval Architecture Volume I : Stability and Strenght. New Jersey : The Society of Naval Architects and Marine Engineers.

Perdana.K.S. 2012. “Analisis Damage Stability Accomodation Barge Pada Saat Operasi Crawler Crane”. J. Tugas Akhir Teknik Kelautan, (105):1-82.

Simonsen, B.C., Rikard, T., Marie, L. 2009. “A

Simplified Grounding Damage Prediction Method

and Its Application in Modern Damage Stability

Requerements”. J. Marine Structure, (22):62-83.

Gambar

Gambar 1. Gaya-gaya dalam perhitungan stabilitas  Dari ketiga titik tersebut maka dapat dihitung  besarnya lengan pengembali (Gz) untuk kembali ke  posisi tegak
Gambar 4. Kurva intact stability (DNV,2001)
Gambar 6. Pemodelan compartment
Tabel 8. Kondisi kesetimbangan saat kebocoran
+2

Referensi

Dokumen terkait

Pita ukur atau meteran merupakan alat ukur yang umum digunakan Kantor Pertanahan Subang dalam melakukan pengukuran bidang tanah, karena pengukuran bidang tanah

Semakin meningkatnya penderita stroke dengan gangguan keseimbangan dan bridging exercise telah dianggap mampu meningkatkan stabilitas otot disekitar columna vertebra lumbal

Dalam rangkaia motor servo kabel warna merah merupakan kabel power yang berfungsi untuk mengkoneksikan dengan tegangan 5 volt pada board arduino, kabel yang

Sementara itu, lahan gambut menjadi areal yang potensial untuk kehidupan ikan lokal perairan rawa diantaranya ikan gabus ( Channa striata), betok ( Anabas

Hal ini sejalan dengan penelitian Mustakim et al (2006) dimana penggunaan kuning telur dengan konsentrasi tertinggi yaitu 15% mengalami penurunan dengan nilai

Setelah menonton video pembelajaran interaktif dan dengan arahan guru, siswa dapat menyajikan hasil laporan peninggalan benda bersejarah kerajaan Hindu dan Buddha pada

HK.03.05/I:/03086/2012 tentang Organisasi dan Tata Laksana Politeknik Kesehatan Kemenkes RI, Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya mempunyai tugas melaksanakan pendidikan