• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. negaranya, salah satunya yaitu dalam bidang pendidikan. Berdasarkan Badan Pusat Statistik pada tahun 2010, jumlah penduduk

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. negaranya, salah satunya yaitu dalam bidang pendidikan. Berdasarkan Badan Pusat Statistik pada tahun 2010, jumlah penduduk"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user 1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Tingkat pencapaian pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan salah satu indikator kemajuan pembangunan suatu bangsa.

Sumber Daya Manusia yang bagus serta memadai merupakan jembatan bagi suatu bangsa untuk meningkatkan daya saing di dalam berbagai sektor kehidupan. Untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia yang terdapat dalam suatu bangsa, maka diperlukan perhatian serta usaha dari pemerintah untuk dapat memberikan akses yang memadai bagi setiap warga negaranya, salah satunya yaitu dalam bidang pendidikan.

Pendidikan merupakan salah satu sarana dalam meningkatkan sumber daya manusia. Pendidikan menjadi salah satu pokok masalah yang mendapat perhatian di seluruh negara termasuk Negara Indonesia, hal ini dikarenakan kesadaran akan bahaya keterbelakangan pendidikan di Indonesia. Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai jumlah anak cukup banyak.

Berdasarkan Badan Pusat Statistik pada tahun 2010, jumlah penduduk Indonesia adalah 237.641.326 jiwa dan sekitar kurang lebih 40 persennya adalah anak-anak yaitu sekitar 90 juta jiwa (http://sp2010.bps.go.id/, 27/03/2015).

Salah satu hak anak yaitu mendapatkan pendidikan dan pemerintah mempunyai kewajiban untuk mengatur penyelenggaraan dan memfasilitasi

(2)

commit to user

pendidikan sebagai hak dasar bagi setiap warga negara untuk meningkatkan kualitas anak bangsa. Tanpa adanya pendidikan suatu negara akan semakin tertinggal karena perkembangan zaman yang semakin maju serta teknologi semakin canggih. Hal ini telah tertera di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam Pasal 31 ayat (1) bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan serta dalam pasal 31 ayat (3) yang menyatakan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.

Menurut data dari laporan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, setiap menit ada empat anak yang putus sekolah. Bahkan pada tahun 2010, sebanyak 1,3 juta anak usia 7-15 tahun terancam putus sekolah (http://smpn26ska.sch.id/, 29/03/2015). Pendidikan yang semakin mahal harus ditanggung oleh masyarakat ikut menambah beban masyarakat miskin.

Melihat kenyataan seperti ini, pemerintah sebagai pelayan publik/masyarakat maka melakukan upaya untuk menangani berbagai masalah yang terjadi terkait dengan pendidikan. Diantaranya yaitu dengan mengeluarkan program Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Bantuan Siswa Miskin (BSM) dan Bantuan Khusus Murid Miskin (BKMM). Meskipun sekarang ini sekolah sudah mendapat Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Bantuan Siswa Miskin (BSM) maupun Bantuan Khusus Murid Miskin (BKMM), namun hal itu

(3)

commit to user

masih belum mencukupi biaya pendidikan bagi masyarakat yang kurang mampu.

Adanya kewenangan pemerintah daerah untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya dan salah satu yang menjadi kewenangan pemerintah daerah untuk kabupaten/kota adalah penyelenggaraan pendidikan. Masalah pendidikan telah diberikan kewenangannya kepada daerah masing-masing, meskipun demikian pemerintah pusat tetap memiliki kewenangan dalam urusan pendidikan. Salah satu yang menjadi wewenang pemerintah daerah yaitu mengenai bantuan biaya pendidikan.

Salah satu daerah yang mengeluarkan kebijakan terkait bantuan pendidikan di daerahnya sendiri yaitu Kota Surakarta. Kota Surakarta merupakan salah satu kota di Jawa Tengah yang mempunyai anak putus sekolah cukup banyak. Berdasarkan data Surakarta Dalam Angka tahun 2011 tentang jumlah penduduk usia sekolah menurut partisipasi sekolah dan jenis kelamin di Kota Surakarta, menunjukkan bahwa di Kota Surakarta masih banyak masyarakat usia sekolah yang belum bisa mendapatkan pendidikan dari pemerintah disebabkan karena kemiskinan. Hal ini dibuktikan dengan adanya anak usia sekolah yang tidak sekolah dan putus sekolah mulai dari jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK. Dari total penduduk Kota Surakarta usia 7-24 tahun yaitu sebanyak 323.370 jiwa, yang tidak pernah sekolah dan putus sekolah sebanyak 39.892 jiwa.

(4)

commit to user

Menurut data yang dicatat Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kota Surakarta, angka putus sekolah terjadi di semua jenjang mulai dari SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/MA/SMK. Dari ratusan jumlah tersebut, pada jenjang SMP, putus sekolah paling banyak terjadi yakni sebanyak 137 siswa. Sisanya berasal dari jenjang SD (32 anak) dan SMA/MA/SMK (115 anak). Sebanyak 284 pelajar di Solo putus sekolah sepanjang tahun ajaran 2009/2010 kemarin. Sebagian besar dari ratusan siswa tersebut terpaksa berhenti sekolah karena himpitan ekonomi.

(http://www.suaramerdeka.com/, 29/03/2015).

Adapun upaya dari Pemerintah Kota Surakarta untuk mewujudkan pendidikan yang layak dan bermutu dan pendidikan untuk semua serta untuk mengurangi siswa putus sekolah, Kota Surakarta melakukan sebuah inovasi terkait penyelenggaraan atau kebijakan pendidikan agar dapat dinikmati oleh semua lapisan yaitu dengan mengadakan program Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Surakarta (BPMKS) yang diluncurkan mulai tahun 2010 sampai dengan sekarang. Program Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Surakarta ini diatur dalam Perwali No. 6-B tahun 2011 kemudian diperbaharui menjadi Perwali No.11-A tahun 2012 tentang Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Surakarta (BPMKS). Perwali No.11-A tahun 2012 tentang Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Surakarta (BPMKS) adalah peraturan yang masih dipakai dan digunakan sebagai pedoman pelaksanaan Program BPMKS hingga saat ini.

(5)

commit to user

Dalam Peraturan Walikota Surakarta Nomor 11-A Tahun 2012 Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Surakarta (BPMKS) merupakan kartu yang diterbitkan oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Surakarta untuk siswa/siswi pada jenjang SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB dan SMA/MA/SMK/SMALB baik negeri maupun swasta di Kota Surakarta yang berdomisili di Kota Surakarta. Program BPMKS ini merupakan salah satu upaya Pemerintah Kota Surakarta agar penduduk usia sekolah dan peserta didik dapat terlayani dan mengakses pendidikan berkualitas pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah baik negeri maupun swasta.

Kebijakan pemerintah mengenai kebijakan bantuan pendidikan ini diperuntukkan bagi masyarakat dalam Kota Surakarta dan bersekolah di Kota Surakarta khususnya bagi masyarakat kurang mampu atau miskin. Pemberian bantuan BPMKS ini diberikan untuk membantu masyarakat miskin/tidak mampu dalam bidang pendidikan. Untuk itu perlu adanya pelaksanaan yang baik agar tujuan program BPMKS dapat tercapai. Dalam pelaksanaan program BPMKS, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Surakarta yang berperan sebagai implementor utama program.

Permasalahan pelaksanaan BPMKS sejak diluncurkan tahun 2010 diantaranya yaitu masih ada siswa kurang mampu yang belum mendapatkan kartu BPMKS, sehingga sasaran dari program BPMKS masih belum tepat sasaran, persyaratan yang rumit, ketidaktepatan waktu pencairan dana BPMKS, padahal sudah jelas semua anggaran telah disiapkan oleh Pemkot

(6)

commit to user

untuk penyelenggaraan program BPMKS sesuai dengan anggaran yang tertulis dalam APBD.

Seperti yang dikatakan oleh Ketua Masyarakat Peduli Pelayanan Publik Solo (MP3S), Alex Taufik yang mengatakan bahwa:

“Pendataan pelayanan terhadap masyarakat yang seharusnya mendapatkan bantuan pendidikan dan kesehatan tidak tepat sasaran.

Pendataan yang dilakukan kedua lembaga (Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan) tersebut masih banyak yang tidak tepat sasaran.

Banyak warga yang seharusnya menerima bantuan justru tidak masuk pendataan. Sebaliknya, warga yang mampu justru masuk dalam pendataan penerima bantuan.” ( diambil dalam http://www.merdeka.com/, 7/9/2015 )

Masalah lainnya yaitu pencairan dana BPMKS, Anggota Komisi IV DPRD Kota Solo, Reny Widyawati mengatakan:

“Pembenahan terhadap mekanisme pencairan dana BPMKS itu perlu dilakukan, mengingat selama ini berbelit-belitnya proses tersebut menyebabkan dana itu belum terserap optimal. Walaupun pengawasan terhadap penerima bantuan itu dilakukan secara ketat, proses pencairannya harus dapat disederhanakan. Kalau sekarang dana BPMKS kan masuk ke rekening sekolah, padahal seharusnya bisa langsung diterima oleh siswa secara langsung. Belum lagi, proses pengajuan yang juga rumit. Jadi, kami harapkan, prosedur pencairan BPMKS bisa disederhanakan”. ( diambil dalam http://liputankotasolo.com/, 29/03/2015 )

Berdasarkan masalah-masalah di atas penulis tertarik untuk mengadakan penelitian yang dituangkan dalam bentuk skripsi. Penulis tertarik untuk membahas permasalahan ini dan melakukan penelitian dengan judul

“Efektivitas Pelaksanaan Program Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Surakarta (BPMKS) oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Surakarta”.

(7)

commit to user B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang sudah dijelaskan pada latar belakang masalah diatas, maka yang menjadi pokok masalah yang akan dibahas dalam penulisan ini adalah “Bagaimana Efektivitas Pelaksanaan Program Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Surakarta (BPMKS) oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Surakarta?”

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan masalah yang dirumuskan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah:

1. Tujuan Operasional

Untuk mengetahui Efektivitas Pelaksanaan Program Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Surakarta (BPMKS) oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Surakarta.

2. Tujuan Individual

Digunakan untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana (S-1) pada program studi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

a. Menambah pengetahuan tentang teori sosial yang berkaitan dengan Efektivitas Program

(8)

commit to user

b. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan referensi atau informasi ilmiah bagi penelitian-penelitian berikutnya

c. Memberikan sumbangan ilmu pengetahuan dalam pelaksanaan program yang efektif dan efisien untuk pengembangan program lainnya.

2. Manfaat Praktis

a. Memberikan gambaran tentang Efektivitas Pelaksanaan Program Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Surakarta (BPMKS) oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Surakarta.

b. Menambah pengetahuan dan wawasan bagi penulis maupun pembaca mengenai Program Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Surakarta (BPMKS) oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Surakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil pengukuran kinerja keuangan sebuah perusahaan yang buruk bisa jadi dikarenakan perusahaan tersebut sedang menginvestasikan sumber daya yang dimilikinya untuk kepentingan

Perjanjian-perjanjian yang dilakukan oleh kedua negara memiliki implikasi mendorong kerjasama perusahaan antara kedua negara atau menghambat kerjasama antara host

Kami berharap bahwa selama pelaksanaan PPL yang kami lakukan dengan mengajar di PAUD Terpadu Prima Sanggar (KB, TK, dan atau TPA), Kursus Tata Rias, Kursus

Pada tugas akhir ini dibuat sistem pengenalan spasi tulisan tangan berupa program aplikasi menggunakan pengolahan citra yang berfungsi untuk mengidentifikasi spasi menjadi 4 kelas

Kesibukan yang dimiliki oleh guru yang dituntut untuk mengajar minimal 24 jam perminggu disertai dengan tuntutan pekerjaan seperti persiapan membuat bahan ajar, koreksi dan

Merupakan suatu astigmatisma regular, $imana pa$a satu meri$ian re'raksi emmetr!p, se$ang pa$a %agian lain hypermetr!p ataupun my!pia 8yp. Astigmatisma, my!p

Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini yang pertama adalah Apakah permainan tradisional cublak-cublak suweng dapat meningkatkan keterampilan sosial anak di TK Aisyiyah

Sebagai rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu apakah ada pengaruh pemberian pupuk organik cair berbahan dasar air Lindi dari tempat pembuangan akhir sampah Telaga