Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN-SETJEN DPR-RI| 81
PENERIMAAN PERPAJAKAN SEKTOR EKONOMI TRADABLE
DAN NON TRADABLE
Abstrak
Laju pertumbuhan sektor non-tradable lebih tinggi dari pada sektor tradable dan kontribusi penerimaan pajak terbesar pada sektor non-tradable, tapi sektor yang dapat menyerap tenaga kerja terbesar pada sektor tradable. Kedua sektor ekonomi ini sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, namun pertumbuhan ekonomi masih didominasi oleh sektor ekonomi non-tradable sedangkan pertumbuhan ekonomi akan mempengaruhi penerimaan pajak. Selain itu, kepatuhan wajib pajak untuk membayar pajak masih rendah. wajib badan tercatat ada 12 juta, baru 5 juta yang mempunyai NPWP, dan baru 540 ribu yang sudah membayar pajak. Sedangkan wajib pajak orang pribadi yang membayar pajak baru 25 juta dari 40 juta OP terdaftar.
A. Pendahuluan
Pendapatan negara dari penerimaan perpajakan dipengaruhi oleh sektor ekonomi tradable (seperti pertanian, peternakan, kehutanan, perikanan, pertambangan, dan industri pengolahan) dan sektor ekonomi non-tradable (seperti listrik, gas, air bersih, konstruksi, perdagangan, hotel, restoran, pengangkutan, komunikasi, keuangan, real estate, jasa perusahaan, dan jasa-jasa) karena dari kedua sektor ekonomi tersebut mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi mempengaruhi penerimaan perpajakan. Perkembangan kenaikan dari penerimaan perpajakan dapat dilihat dari tax rasionya, perkembangan tax ratio disajikan dalam grafik berikut :
Dari grafik di atas tax ratio mengalami fluktuasi dan pergerakan perubahannya tidak terlalu signifikan, berarti kenaikan penerimaan pajak cenderung stagnan.
Kemudian terkait mengenai pemerintah akan memberikan kebijakan teknis bidang
0 2 4 6 8 10 12
14 12.5 12.16 12.43 13.31
11.06 11.26 11.76 12.3 12.9 12.38
Tax Ratio (%)
Sumber:NotaKeuanganAPBNTA 2014
Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN-SETJEN DPR-RI| 82
pajak pada tahun 2015 yang salah satunya adalah mengintensifikasikan penggalian dari sektor ekonomi non-tradable. Perlu diketahui bahwa sektor non-tradable ini bukan sektor ekonomi yang padat karya dibanding dengan sektor tradable. Seperti konstruksi pada awalnya akan menyerap tenaga kerja tapi setelah selesai pembangunan maka pengangguran akan terjadi, jika pengangguran terjadi maka PDB menurun karena produktivitas rendah.
B. Perkembangan dan Penerimaan Pajak Per Sektor Usaha
Perkembangan penerimaan perpajakan dilihat dari tax rasionya belum mengalami kenaikan yang signifikan. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, dalam hal ini sektor usaha tradable maupun non-tradable. Perkembangan penerimaan pajak per sektor usaha disajikan sebagai berikut :
Tabel 1. Perkembangan Penerimaan PPh Non Migas Sektoral (Triliun Rupiah)
No Sektor 2007 2008 2009 2010 2011 2012
Real Real Real Real Real Perk.
Real 1 Pertanian,
peternakan,kehutanan dan
perikanan 4.7 9.9 10.5 9.5 11.4 15.1
2 Pertambangan migas 14.0 17.9 8.5 8.2 9.3 13.6
3 Pertambangan bukan migas 10.5 11.7 17.8 14.0 17.0 23.9
4 Penggalian 0.2 0.5 0.3 0.4 0.5 0.6
5 Industri pengolahan 41.9 56.6 62.7 77.8 93.1 110.9
6 Listrik, gas dan air bersih 4.7 5.3 5.4 7.9 9.5 11.0
7 Konstruksi 4.8 5.4 6.7 7.3 8.0 10.6
8 Perdagangan, hotel dan
restauran 16.9 24.3 27.1 32.2 39.2 47.2
9 Pengangkutan dan komunikasi 16.3 20.1 16.8 17.9 18.9 26.3 10 Keuangan, real estate dan jasa
perusahaan 54.8 60.5 67.6 69.1 82.6 107.8
11 Jasa lainnya 10.7 12.3 17.8 18.3 20.5 25.3
12 Kegiatan yang belum jelas
batasannya 0.2 4.5 2.4 2.7 5.3 5.6
Total 179.7 229.0 243.6 265.3 315.4 397.9 Belum Memperhitungkan PPh Valas dan restitusi
Sumber : Kementerian Keuangan
Dari tabel di atas dapat lihit bahwa industri pengolahan yang memberikan
kontribusi terbesar dari tahun ke tahun trand penerimaan cenderung naik. Kedua
sektor usaha ekonomi ini akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan
pertumbuhan ekonomi akan mempengaruhi penerimaan pajak. Pada realnya
sektor yang mengalami kenaikan signifikan pada sektor non-tradable. Selain
penerimaan pajak dari PPh Non Migas, penerimaan pajak juga disumbang oleh
kontribusi Pajak PPN yang disajikan sebagai berikut :
Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN-SETJEN DPR-RI| 83
Tabel 2. Perkembangan Penerimaan PPN Dalam Negeri Sektoral
(Triliun Rupiah)
No Sektor 2007 2008 2009 2010 2011 2012
Real Real Real Real Real Perk.
Real 1 Pertanian, peternakan,kehutanan
dan perikanan
2.0
3.1
3.5
3.3
5.2 6.1
2 Pertambangan migas
14.6
17.0
3.9
2.8
4.3 5.1 3 Pertambangan bukan migas
1.8
1.4
1.9
2.1
2.0 2.3
4 Penggalian
0.1
0.1
0.1
0.2
0.1 0.2
5 Industri pengolahan
28.6
32.2
50.2
67.3
65.6 86.1 6 Listrik, gas dan air bersih
0.5
0.6
0.7
0.9
1.0 1.4
7 Konstruksi
12.0
11.3
12.4
12.1
15.1 18.5 8 Perdagangan, hotel dan restauran
17.9
20.3
23.5
28.0
32.9 39.9 9 Pengangkutan dan komunikasi
8.1
8.8 9.7
12.4
14.2 17.5 10 Keuangan, real estate dan jasa
perusahaan
10.8 9.4
10.4
12.1
15.3 18.7
11 Jasa lainnya
2.3
2.6
3.0
3.8
3.9 4.9 12 Kegiatan yang belum jelas
batasannya
1.9
5.9
6.5
7.3 9.3
10.9
Total
100.6
112.7
125.8
152.3
168.8 211.5 Belum memasukkan PPN belanja kementerian negara/ lembaga dan instansi yang offline.
Sumber : Kementerian Keuangan
Penerimaan pajak PPN Non Migas juga didominasi sektor industri pengolahan dan terendah pada sektor penggalian. Secara nominal penerimaan pajak total baik PPh maupun PPN mengalami kenikan secara signifikan. Kemudian perlu dilihat perkembangan dari perumbuhan masing-masing sektor yaitu sebagai berikut :
Tabel 3. Laju Pertumbuhan (%)
Lapangan Usaha 2009 2010 2011 2012 2013
1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan, dan Perikanan 3.96 3.01 3.37 4.20 3.54
2. Pertambangan dan Penggalian 4.47 3.86 1.60 1.56 1.34
3. Industri Pengolahan 2.21 4.74 6.14 5.74 5.56
4. Listrik, Gas dan Air Bersih 14.29 5.33 4.71 6.25 5.58
5. Konstruksi 7.07 6.95 6.07 7.39 6.57
6. Perdagangan, Hotel & Restoran 1.28 8.69 9.24 8.15 5.93
7. Pengangkutan dan Komunikasi 15.85 13.41 10.70 9.98 10.19
8. Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan 5.21 5.67 6.84 7.15 7.56
9. Jasa-jasa 6.42 6.04 6.80 5.25 5.46
Sumber : BPS Tahun 2014
Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN-SETJEN DPR-RI| 84
Dari tabel di atas jelas bahwa pada tahun 2013 laju pertumbuhan sektor tradable masih ada di bawah 5% sedangkan laju pertumbuhan sektor non-tradable lebih dari 5%. Jika dilihat dari peneyerapan tenaga kerja sektor tradable yang lebih banyak menyerap tenaga kerja di bandingkan dengan sektor non-tradable. Data penyerapan tenaga kerja disajikan dalam table berikut :
Table 4. Persentase Tenaga Kerja Menurut Pekerjaan Utama 2013
No. Lapangan Pekerjaan Utama Tenaga Kerja
(%) 1 Pertanian, Peternakan, Kehutanan, dan Perikanan 34.36
2 Pertambangan dan Penggalian 1.28
3 Industri Pengolahan 13.43
4 Listrik, Gas dan Air Bersih 0.23
5 Konstruksi 5.66
6 Perdagangan, Hotel & Restoran 21.42
7 Pengangkutan dan Komunikasi 4.55
8 Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan 2.63
9 Jasa-jasa lainnya 16.44
Sumber : BPS Tahun 2014, diolah
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa tenaga kerja di sektor tradable di bidang pertanian, perternakan, kehutanan, dan perikanan lebih besar menyerap tenaga kerja di banding sektor lainnya. Namun hal ini tidak signfikan dalam kontribusi PDB, sektor ini hanya memberikan kontribusi terhadap pdb hanya sebesar 14.43%, data kontribusi sektor lainnya disajikan dalam table berikut :
Tabel 5. Persentase Kontribusi Terhadap PDB
Lapangan Usaha 2009 2010 2011 2012 2013
(%) (%) (%) (%) (%)
1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan & Perikanan 15.29 15.29 14.71 14.50 14.43
2. Pertambangan & Penggalian 10.56 11.16 11.82 11.80 11.24
3. Industri Pengolahan 26.36 24.80 24.34 23.97 23.70
4. Listrik, Gas & Air Bersih 0.83 0.76 0.75 0.76 0.77
5. Konstruksi 9.90 10.25 10.16 10.26 9.99
6. Perdagangan, Hotel & Restoran 13.28 13.69 13.80 13.96 14.33
7. Pengangkutan dan Komunikasi 6.31 6.56 6.62 6.67 7.01
8. Keuangan, Real Estate & Jasa Perusahaan 7.23 7.24 7.21 7.27 7.52
9. Jasa-jasa 10.24 10.24 10.58 10.81 11.02
Sumber : BPS Tahun 2014
Dari tabel 5 diperoleh informasi bahwa sektor tradable yang memberikan
kontribusi terbesar terhadp PDB, hal berarti sektor tradable juga memberikan
kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi. Lebih lanjut bahwa jika
pertumbuhan ekonomi naik maka penerimaan pajak juga akan naik.
Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN-SETJEN DPR-RI| 85
Kemudian kondisi penerimaan pajak per sektor usaha tahun 2014 disajikan sebagai berikut :
Tabel 6. Penerimaan Pajak Per Sektor Usaha Periode 1 januari s.d 8 Agustus 2014
No Jenis Sektor Usaha Realisasi
(Rp. Triliun) 1 Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 9,7 2 Jasa Profesional, ilmiah, dan Teknis 11,8 3 Administrasi Pemerintah dan Jaminan Sosial 12,4
4 Real Estate 12,6
5 Transportasi dan Pergudangan 17,9
6 Informasi dan Komunikasi 19,9
7 Konstruksi 26
8 Pertambangan dan Penggalian 36,4
9 Jasa Keungan dan Asuransi 72,2
10 Perdagangan Besar dan Eceran 81,3
11 Industri Pengolahan 201,3
12 Sektor Lainnya/Jasa-jasa Lainnya 38,4
Belum termasuk penerimaan PBB dan PPh Migas Sumber : Dashboard Penerimaan DJP
Analisa hubungan dari permasalahan di atas terhadap penerimaan pajak adalah sebagai berikut :
Sektor tradable dan non tradable memberikan kontribusi terdap PDB, dengan kata lain kedua sektor tersebut mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi akan mempengaruhi penerimaan pajak, terutama PPh dan PPN, lebih lanjut jika semakin tinggi pertumbuhan ekonomi maka semkin tinggi penghasilan dan transaksi bisnis yang dilakukan oleh masyarakat sehingga pajak yang dapat dihimpun semakin tinggi, dan berlaku sebaliknya.
Namun perlu diperhatikan bahwa pertumbuhan ekonomi didominasi oleh sektor non tradable, tapi serapan tenaga kerja semakin menurun. Akibatnya terjadi pengangguran dan penghasilan dari masyarakat akan berkurang sehingga akan menambah kemiskinan. Hal ini berdampak pada kegiatan ekonomi dari masyarakat akan berkurang yang berarti penerimaan pajak juga akan berkurang.
Selain itu juga kucuran dana pada sektor non-tradable lebih mudah dari pada tradable, seperti developer begitu mudah mendapat suntikan dana dari perbankan sedangkan petani begitu sulit untuk meminta suntikan dana. Properti akan menyerap banyak tenaga kerja pada di awal pembangunan, tapi akan banyak pengangguran setelah selesai pembangunan.
Sebagai langkah optimal penerimaan perpajakan, pemerintah harus bisa
menyeimbangkan kedua sektor tersbut. Sektor yang perlu mendapat perhatian
khusus berdasarkan data yang ada adalah bidang pertanian, karena lebih banyak
Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN-SETJEN DPR-RI| 86