PEMANTAPAN PERTUMBUHAN BIBIT JARAK PAGAR (Jatropha curcas Linn.) MELALUI PEMANFAATAN
CENDAWAN ENDOFIT DAN HYDROGEL, SERTA MODIFIKASI KOMPOSISI MEDIA TANAM
IWAN SHOFWAN HAPIDIN
DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2008
ABSTRAK
IWAN SHOFWAN HAPIDIN. Pemantapan Pertumbuhan Bibit Jarak Pagar (Jatropha curcas Linn.) Melalui Pemanfaatan Cendawan Endofit dan Hydrogel, serta Modifikasi Komposisi Media Tanam. Dibimbing oleh HAMIM dan MEMEN SURAHMAN.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian cendawan endofit (Aspergillus niger) dan hydrogel, serta jenis pemupukan terhadap pertumbuhan bibit jarak pagar (Jatropha curcas Linn). Penelitian ini menggunakan bibit jarak yang telah berumur 3 bulan dalam polybag berukuran 15x25 cm. Media dasar yang digunakan yaitu campuran arang sekam dan tanah jenis latosol (1:1). Tanaman diberi perlakuan kombinasi pemupukan, cendawan endofit atau hydrogel, serta perbedaan waktu penyiraman. Pupuk kompos yang digunakan sebanyak 500 g (1 250 kg/ha) dan pupuk NPK (30:6:8) sebanyak 16 g (400 kg/ha). Aspergillus niger yang dibiakkan pada media jagung sebanyak 62.5 g (156.25 kg/ha), sedangkan hydrogel sebanyak 5 g (12.5 kg/ha), serta perbedaan waktu penyiraman yaitu seminggu dan dua minggu sekali. Secara umum, pemberian endofit menunjukkan respon yang lebih baik dibandingkan dengan kontrol (tanpa pemberian cendawan endofit) terhadap pertumbuhan tanaman, yaitu terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, dan bobot basah tajuk tanaman.
Sedangkan pemberian hydrogel menunjukkan respon yang lebih baik dibandingkan dengan kontrol (tanpa pemberian hydrogel) terhadap tinggi tanaman, bobot basah tajuk dan akar, serta bobot kering akar tanaman.
ABSTRACT
IWAN SHOFWAN HAPIDIN. Growth Stabilization of jatropha (Jatropha Curcas Linn.) Seedling through Exploiting of Endophytic Fungus and Hydrogel, and Modification of Planted Media Composition. Supervised by HAMIM and MEMEN SURAHMAN.
The experiment aims to study the effect of endophytic fungus (Aspergillus niger) and hydrogel treatments, and the type of fertilizers on the growth of jatropha (Jatropha curcas Linn.) seedling. In this experiment three mounth old of jatropha seedlings grown in 15x25 cm polybag. The media was mixture of rice- husk coal and latosol soil (1:1). The plants were treated by combination of fertilizer, endophytic fungus or hydrogel, and difference of watering time.
Fertilizer treatment was a 500 g compost (1 250 kg/ha) and NPK fertilizer (30:6:8)
16 g (400 kg/ha). Aspergillus niger was inoculated on maize media and a 62.5 g
(156.25 kg/ha) was added to the pot, while hydrogel was applid by about 5 g (12.5
kg/ha) per pot. Watering was carried out by every one and two weeks. Generally,
endophytic fungus gave better response as compared to the control (without
endophytic fungus) on the growth of plant, i. e. plant height, leave number, and
wet weights of shoot plants. Hydrogel gave better response compared with the
control (without hydrogel) on plant height, and wet weights of shoot and root, and
dry weights root plant.
PEMANTAPAN PERTUMBUHAN BIBIT JARAK PAGAR (Jatropha curcas Linn.) MELALUI PEMANFAATAN
CENDAWAN ENDOFIT DAN HYDROGEL, SERTA MODIFIKASI KOMPOSISI MEDIA TANAM
IWAN SHOFWAN HAPIDIN
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains pada
Departemen Biologi
DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2008
Judul Skripsi : Pemantapan Pertumbuhan Bibit Jarak Pagar (Jatropha curcas Linn.) Melalui Pemanfaatan Cendawan Endofit dan Hydrogel, serta Modifikasi Komposisi Media Tanam
Nama : Iwan Shofwan Hapidin
Nrp : G34103021
Menyetujui
Pembimbing I Pembimbig II
Dr. Ir. Hamim, M.Si. Dr. Ir. Memen Surahman, M.Sc.
NIP. 131 878 946 NIP. 131 878 956
Mengetahui
Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor
Dr. Drh. Hasim, DEA.
NIP. 131 578 806
Tanggal lulus :
PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini. Judul yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan dari bulan Februari sampai dengan Agustus 2007 adalah Pemantapan Pertumbuhan Bibit Jarak Pagar (Jatropha curcas Linn.) Melalui Pemanfaatan Cendawan Endofit dan Hydrogel, serta Modifikasi Komposisi Media Tanam. Bertempat di rumah kaca Laboratorium Fisiologi Tumbuhan dan Laboratorium Anatomi Tumbuhan, Departemen Biologi, FMIPA IPB.
Terima kasih penulis ucapkan kepada berbagai pihak yang telah membantu penyelesaian karya ilmiah ini, antara lain almarhumah Dr. Ir. Theresia Prawitasari, M.Si, Dr. Ir. Hamim, M.Si. dan Dr. Ir. Memen Surahman, M.Sc.
selaku pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan dan saran. Selain itu, penghargaan juga penulis sampaikan kepada Dr. Okky Setyawati Dharmaputra selaku wakil komisi pendidikan yang telah banyak memberikan sarannya. Penulis ucapkan terima kasih juga kepada Mba Ucu, Mba Dewi, Mas Andeng, Hadi, Dendi, Mba Awi, Ibu Dorly dan Mba Ela yang telah banyak membantu dalam penelitian. Terima kasih penulis sampaikan kepada Ayah, Ibu, Kakak, Adek dan Hartini tercinta atas do’a, dukungan secara moral, material dan kasih sayangnya. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada teman- teman Biologi 40.
Akhir kata penulis berharap semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor, Januari 2008
Iwan Shofwan Hapidin
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Subang pada tanggal 10 Maret 1985, putra keempat dari lima bersaudara dari Ayah Drs. H. Pidin Hapidin, MBA. MM. dan Ibu Hj. Icih Cicih.
Tahun 2003 penulis lulus dari Madrasah Aliyah Negeri I Subang dan pada tahun yang sama penulis melanjutkan kuliah di Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor, melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). Penulis memilih Program Studi Biologi, Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
Selama masa perkuliahan, penulis pernah mengikuti organisasi antara lain
wakil ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) FMIPA IPB periode
2005/2006 dan pengurus Bioworld Divisi Embedding. Pada tingkat empat penulis
pernah mendapatkan beasiswa dari Supersemar. Pengalaman kerja yang pernah
ditekuni oleh penulis adalah mentor SMP 4 Bogor tahun 2004 dan sebagai tenaga
pengajar dari lembaga Nurul Ilmi pada tahun 2005 sampai 2006.
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR GAMBAR ... vii
DAFTAR LAMPIRAN ... vii
PENDAHULUAN ... 1
BAHAN DAN METODE ... 1
Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman ... 1
Pemberian Cendawan Endofit ... 2
Pemberian Hydrogel ... 2
Pengamatan Tanaman ... 2
Rancangan Percobaan ... 3
HASIL ... 3
Tinggi Tanaman ... 3
Jumlah Daun ... 4
Bobot Basah Tajuk dan Akar ... 5
Bobot Kering Tajuk dan Akar ... 5
Kandungan Klorofil ... 6
Jumlah dan Diameter Xilem ... 7
PEMBAHASAN ... 8
SIMPULAN ... 9
SARAN ... 9
DAFTAR PUSTAKA ... 9
LAMPIRAN ... 11
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1 Hydrogel yang digunakan pada penelitian ... 2
2 Pengaruh pemberian cendawan endofit terhadap tinggi tanaman ... 4
3 Pengaruh pemberian hydrogel terhadap tinggi tanaman ... 4
4 Pengaruh pemberian cendawan endofit terhadap jumlah daun... 4
5 Pengaruh pemberian hydrogel terhadap jumlah daun... 4
6 Pengaruh pemberian cendawan endofit dan hydrogel terhadap bobot basah tajuk dan akar pada kedua percobaan ... 5
7 Pengaruh pemberian cendawan endofit dan hydrogel terhadap bobot kering tajuk dan akar pada kedua percobaan ... 6
8 Kandungan klorofil pada kedua percobaan (pemberian cendawan endofit dan hydrogel) ... 6
9 Jarak pagar pada media yang diberi pupuk kompos (A) dan NPK (B) dengan penyiraman seminggu sekali ... 7
10 Pengaruh pemberian cendawan endofit terhadap jumlah dan diameter xilem akar sekunder ... 7
11 Pengaruh pemberian hydrogel terhadap jumlah dan diameter xilem akar sekunder ... 7
12 Sayatan akar sekunder jarak pagar (10 x 40) yang disiram seminggu sekali (A) dan dua minggu sekali (B) pada media NPK ... 8
DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Analisis sidik ragam pengaruh pemberian cendawan endofit, pemupukan dan penyiraman terhadap pertumbuhan tanaman jarak pagar ... 12
2 Analisis sidik ragam pengaruh pemberian hydrogel, pemupukan
dan penyiraman terhadap pertumbuhan tanaman jarak pagar ... 14
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ketergantungan Indonesia terhadap minyak bumi akibat konsumsi bahan bakar minyak yang melebihi produksi dalam negeri semakin besar. Mengingat jumlah pasokan dan cadangan minyak bumi Indonesia yang semakin berkurang serta kenaikan harga bahan bakar minyak fosil dunia yang bergerak naik secara cepat membuat perekonomian dalam negeri semakin terpuruk. Penggunaan biodiesel sebagai sumber energi semakin menuntut untuk direalisasikan. Sebab, selain merupakan solusi menghadapi kelangkaan energi fosil pada masa mendatang, biodiesel juga bersifat ramah lingkungan, dapat diperbaharui (renewable), serta mampu mengeliminasi emisi gas buang dan efek rumah kaca (Hambali et al. 2006). Untuk itu ketergantungan Indonesia terhadap minyak bumi sudah saatnya dikurangi. Hal ini dapat dilakukan melalui pengembangan sumber energi alternatif berbahan baku minyak nabati (biodiesel).
Salah satu sumber minyak nabati yang sangat prospektif untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel adalah biji jarak pagar (Jatropha curcas Linn). Hal ini dikarenakan minyak jarak pagar tidak termasuk dalam kategori minyak makan (edible oil). Selain itu, diharapkan dapat meningkatkan kualitas lingkungan dan kualitas hidup masyarakat.
Tanaman jarak pagar (Jatropha curcas Linn) masih satu keluarga dengan tanaman karet dan ubi kayu yaitu tergolong ke dalam famili Euphorbiaceae. Jarak pagar berupa tanaman perdu yang tingginya 1-7 meter, dengan percabangan tidak teratur. Batang berkayu, silindris dan bila terluka mengeluar- kan getah (Hambali et al. 2006). Jarak pagar merupakan tanaman tahunan yang tahan kekeringan. Tanaman ini mampu tumbuh dengan cepat dan kuat di lahan yang beriklim panas, tandus, dan berbatu (Prihandana &
Hendroko 2006). Selain itu jarak pagar dapat tumbuh pada berbagai ragam tekstur dan jenis tanah, serta mampu beradaptasi pada tanah yang kurang subur.
Indonesia memiliki lahan kering yang cukup luas dibanding lahan berpengairan, sehingga cukup berpotensi bagi pengembang- an tanaman jarak pagar (Tjitrosomo 1982;
Prihandana & Hendroko 2006). Namun kendala kekurangan air terutama pada musim kemarau sering menyebabkan terjadinya cekaman kekeringan yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman khususnya pada awal
pertumbuhan dan mengakibatkan rendahnya produksi buah (Harjadi & Yahya 1988). Oleh karena itu, upaya untuk membantu pe- mantapan pertumbuhan pada awal pembibitan sangat diperlukan, salah satu diantaranya dengan pemanfaatan cendawan endofit dan hydrogel. Pemberian cendawan endofit dan hydrogel pada tanaman jarak pagar diharap- kan mampu memantapkan tanaman tersebut khususnya pada awal pertumbuhan yang dapat bertahan dalam kondisi kekeringan.
Cendawan endofit adalah cendawan tanah yang hidup bersimbiosis secara mutualisma dengan tanaman, dari hubungan ini terjadi kerja sama yang saling menguntungkan, yaitu tanaman dapat memperoleh unsur hara dari tanah terutama fosfat. Selain itu, adanya cendawan endofit dapat membantu tanaman dalam penyerapan air (Prihandana &
Hendroko 2006). Cendawan endofit selain berfungsi sebagai pengendali hayati hama dan penyakit tanaman juga mampu men- dekomposisi bahan organik (Saeed et al.
2002, Zareen et al. 2001, Rubini et al. 2005).
Menurut Chuangui et al. (2004) cendawan Aspergillus niger termasuk ke dalam kelompok cendawan endofit.
Hydrogel adalah polimer baik sintetik (polyacrylamide dan polyvinyl alcohol), natural (alginate dan gelatin), maupun biologi (collagen dan amnion) yang dapat menyerap air (Fagly 2006). Karena sifat ini, maka dalam dunia pertanian hydrogel sangat berguna untuk penyerap air dan pemupukan. Di beberapa tempat sudah dikembangkan campuran antara hydrogel dan tanah untuk memperlambat kekeringan pada tanaman atau untuk pengaturan pemupukan (Fagly 2006).
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh cendawan endofit dan hydrogel, serta jenis pemupukan terhadap pertumbuhan bibit tanaman jarak pagar.
BAHAN DAN METODE
Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman Bibit jarak pagar (asal Lampung) yang telah berumur tiga bulan ditanam dalam polybag berukuran 15x25 cm. Media dasar yang digunakan yaitu media campuran arang sekam dan tanah jenis latosol (1:1), pupuk kompos sebanyak 500 g (setara dengan 1 250 kg/ha) dan pupuk NPK (30:6:8) sebanyak 16 g (setara dengan 400 kg/ha). Perbedaan waktu penyiraman yaitu seminggu dan dua minggu sekali, kemudian tanaman dipelihara di dalam rumah kaca selama tiga bulan. Pemeliharaan
2
tanaman yang dilakukan juga meliputi penyiangan gulma.
Pemberian Cendawan Endofit
Cendawan endofit akar yang digunakan yaitu Aspergillus niger, diperoleh dari Bagian Mikologi, Departemen Biologi, FMIPA IPB.
Cendawan tersebut dibiakkan pada media jagung. Sebanyak 62.5 g biakkan tersebut dicampur dengan media dasar tanah jenis latosol dan arang sekam (1:1) masing-masing sebanyak 500 g. Media tanaman ditempatkan di dalam polybag berukuran 15x25 cm, kemudian bibit jarak pagar ditanam pada media tanam. Setiap perlakuan dibuat lima ulangan, selanjutnya tanaman dipelihara dalam rumah kaca selama tiga bulan.
Pemberian Hydrogel
Sebanyak 500 g media dasar tanah jenis latosol dan arang sekam (1:1) dimasukan ke dalam polybag berukuran 15x25 cm.
Kemudian sebanyak 5 g hydrogel kering direndam dalam 250 ml air leding selama 2 jam. Hydrogel yang digunakan diperoleh dari Kuntum Nursery, Bogor. Selanjutnya bibit ditanam pada media tanam dan hydrogel yang sudah direndam diletakkan di bawah sistem perakaran jarak pagar. Setiap perlakuan dibuat 5 ulangan, kemudian tanaman dipelihara dalam rumah kaca selama tiga bulan.
Hydrogel yang digunakan pada penelitian dapat dilihat pada gambar 1.
Gambar 1 Hydrogel yang digunakan pada penelitian.
Pengamatan Tanaman
Pengamatan dilakukan terhadap beberapa parameter pertumbuhan untuk mengetahui kondisi pertumbuhan tanaman. Parameter yang di amati, yaitu tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), bobot basah dan bobot kering tajuk dan akar tanaman (gram), kandungan klorofil daun (g/ml), jumlah dan diameter xilem (mm).
Tinggi tanaman
Tinggi tanaman diukur mulai dari buku pertama hingga titik tumbuh (pucuk) tanaman.
Pengamatan tinggi tanaman dilakukan pada 8 minggu setelah tanam (MST).
Jumlah daun
Jumlah daun dihitung dari daun yang tumbuh paling bawah sampai teratas, dan warna daun masih hijau/ belum menguning.
Pengamatan jumlah daun dilakukan pada 8 MST.
Bobot basah tajuk dan akar
Bobot basah tajuk dan akar tanaman diukur pada saat panen (13 MST). Tajuk jarak pagar dipisahkan dari akarnya untuk mendapatkan bobot basah tajuk dan akar tanaman. Untuk mendapatkan bobot basah akar, terlebih dahulu akar dibilas dengan air leding. Kemudian untuk mengetahui bobot basah tajuk dan akar ditimbang menggunakan timbangan digital berskala 0.01 g (merek ACIS M-Series).
Bobot kering tajuk dan akar
Untuk mendapatkan bobot kering tajuk dan akar tanaman, terlebih dahulu akar dibilas dengan air leding kemudian dibungkus dengan aluminium foil, sedangkan tajuk langsung dibungkus aluminium foil. Akar dikeringkan di dalam oven pada suhu 85 0C selama 5 hari, sedangkan tajuk pada suhu 85 0C selama satu minggu, selanjutnya ditimbang menggunakan timbangan digital berskala 0.01 g (merek ACIS M-Series).
Hydrogel
Kandungan klorofil
Kandungan klorofil dianalisis dengan menggunakan metode Arnon dan Mac Kinney yang dimodifikasi (Arnon 1959, Mac Kinney 1941). Daun ke enam dari pucuk dipotong dengan ukuran 1x1 cm, kemudian diambil sebanyak 0.2 g dan dihancurkan dengan alu/
mortar sampai halus. Selanjutnya pada sampel ditambah aseton 80% hingga homogen, lalu disaring dengan kertas saring lembaran ke dalam labu ukur berukuran 10 ml. Proses penyaringan dilakukan beberapa kali sampai mencapai volume akhir sebanyak 10 ml.
Sebanyak 0.5 ml supernatan diencerkan dengan aseton 80% sampai mencapai volume akhir 5 ml. Selanjutnya supernatan diukur dengan spektrofotometer untuk mengetahui nilai transmisinya (T) pada panjang gelombang (λ) 645 nm dan 663 nm, kemudian dikonversi ke absorban dengan rumus A = 2–
log T. Untuk menghitung kandungan klorofil digunakan rumus:
Ca = 0.0127 A663 – 0.00269 A645
Cb = 0.0229 A645 – 0.00468 A663
3
Kandungan klorofil total (C) dalam g/l : C = Ca + Cb
C = 0.0202 A645 + 0.00802 A663
Kandungan klorofil total (C) dalam mg/l : C = 20.2 A645 + 8.02 A663
Keterangan :
Ca = kandungan klorofil a (g/l) Cb = kandungan klorofil b (g/l) C = kandungan klorofil total (mg/l)
An = absorban yang diukur pada panjang gelombang n
Untuk data kandungan klorofil tidak dianalisis statistik, karena hanya satu sampel (satu ulangan).
Jumlah dan diameter xilem
Akar sekunder disayat membujur dengan menggunakan pisau silet setipis mungkin, hasil sayatan langsung diletakkan di atas kaca objek dan ditetesi safranin encer 0.1% sebagai zat pewarna, kemudian ditetesi gliserin dan ditutup dengan kaca penutup. Jumlah xilem dihitung menggunakan mikroskop dengan perbesaran 40x. Diameter xilem ditentukan dengan menghitung grid pada mikrometer okuler, selanjutnya dikonversikan ke dalam milimeter (mm).
Rancangan Percobaan
Penelitian ini terdiri dari dua percobaan, keduanya menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial (Mattjik & Sumertajaya 2000) masing-masing terdiri dari tiga faktor.
Pada percobaan 1, faktor pertama perlakuan cendawan endofit (E0: tidak diberi endofit dan E1: diberi endofit), faktor kedua ialah pemupukan yang terdiri atas dua taraf yaitu kompos (N1) dan NPK (N2), dan faktor ketiga ialah penyiraman terdiri atas P1: penyiraman satu minggu sekali dan P2: penyiraman dua minggu sekali. Pada percobaan 2, faktor pertama perlakuan hydrogel yaitu H0: tidak diberi hydrogel dan H1: diberi hydrogel, sedangkan faktor kedua dan ketiga sama dengan percobaan 1. Masing-masing percobaan terdiri atas 8 perlakuan kombinasi, setiap kombinasi dibuat 5 ulangan. Kedua percobaan tersebut yaitu:
Percobaan 1
Pengaruh cendawan endofit (tidak diberi endofit dan diberi endofit), pemupukan (kompos dan NPK) dan penyiraman (satu minggu dan dua minggu) terhadap pertumbuhan jarak pagar. Terdiri atas 8 perlakuan kombinasi, yaitu:
E0N1P1: tanpa endofit + kompos + penyiraman satu minggu sekali
E0N1P2: tanpa endofit + kompos + penyiraman dua minggu sekali E0N2P1: tanpa endofit + NPK + penyiraman
satu minggu sekali
E0N2P2: tanpa endofit + NPK + penyiraman dua minggu sekali
E1N1P1: endofit + kompos + penyiraman satu minggu sekali
E1N1P2: endofit + kompos + penyiraman dua minggu sekali
E1N2P1: endofit + NPK + penyiraman satu minggu sekali
E1N2P2: endofit + NPK + penyiraman dua minggu sekali
Percobaan 2
Pengaruh hydrogel (tidak diberi hydrogel dan diberi hydrogel), pemupukan (kompos dan NPK) dan penyiraman (satu minggu dan dua minggu) terhadap pertumbuhan jarak pagar.
Terdiri atas 8 perlakuan kombinasi, yaitu:
H0N1P1: tanpa hydrogel + kompos + penyiraman satu minggu sekali H0N1P2: tanpa hydrogel + kompos +
penyiraman dua minggu sekali
H0N2P1: tanpa hydrogel + NPK + penyiraman satu minggu sekali
H0N2P2: tanpa hydrogel + NPK + penyiraman dua minggu sekali
H1N1P1: hydrogel + kompos + penyiraman satu minggu sekali
H1N1P2: hydrogel + kompos + penyiraman dua minggu sekali
H1N2P1: hydrogel + NPK + penyiraman satu minggu sekali
H1N2P2: hydrogel + NPK + penyiraman dua minggu sekali
Pengujian pengaruh perlakuan terhadap parameter yang diamati dilakukan dengan menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA).
Uji lanjut dilakukan dengan menggunakan analisis LSD (List Significant Difference).
HASIL
Tinggi Tanaman
Pada percobaan 1 pemberian cendawan endofit berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman (Lampiran 1). Kecuali pada perlakuan endofit dengan penambahan pupuk kompos dan penyiraman dua minggu sekali (E1N1P2) dan perlakuan endofit dengan penambahan pupuk NPK dan penyiraman seminggu sekali (E1N2P1) yang tidak berbeda nyata dengan kontrol (tidak diberi endofit) (Gambar 2). Pemberian cendawan endofit secara umum memberikan pengaruh yang
4
nyata pada tinggi tanaman. Penggunaan pupuk kompos dan NPK tidak memberikan perbedaan yang nyata pada tinggi tanaman, demikian pula dengan faktor penyiraman.
0 20 40 60 80
N1P1 N1P2 N2P1 N2P2
Tinggi tanaman (cm)
Tidak diberi endofit Diberi endofit
Gambar 2 Pengaruh pemberian cendawan endofit terhadap tinggi tanaman dengan berbagai perlakuan yaitu N1P1 (kompos dengan penyiraman seminggu sekali), N1P2 (kompos dengan penyiraman dua minggu sekali), N2P1 (NPK dengan penyiraman seminggu sekali), N2P2 (NPK dengan penyiraman dua minggu sekali).
Pada percobaan 2 pemberian hydrogel dengan penambahan pupuk berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman (Lampiran 2).
Pemberian hydrogel dengan penambahan pupuk NPK berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman. Sedangkan pemberian hydrogel dengan penambahan pupuk kompos tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman (Gambar 3). Dengan demikian pemberian pupuk NPK memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman dibandingkan dengan pemberian kompos.
0 20 40 60 80 100
N1P1 N1P2 N2P1 N2P2
Tinggi tanaman (cm)
Tidak diberi hydrogel Diberi hydrogel
Gambar 3 Pengaruh pemberian hydrogel terhadap tinggi tanaman dengan berbagai perlakuan yaitu N1P1 (kompos dengan penyiraman seminggu sekali), N1P2 (kompos dengan penyiraman dua minggu sekali), N2P1 (NPK dengan penyiraman seminggu sekali), N2P2 (NPK dengan penyiraman dua minggu sekali).
Jumlah Daun
Pada percobaan 1 pemberian cendawan endofit berpengaruh nyata terhadap jumlah daun (Lampiran 1). Pemberian cendawan endofit berpengaruh nyata terhadap jumlah
daun pada tanaman yang diberi kompos dengan penyiraman dua minggu sekali (E1N1P2) (Gambar 4). Sedangkan pemupukan dan penyiraman tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah daun.
0 5 10 15
N1P1 N1P2 N2P1 N2P2
Jumlah daun (helai)
Tidak diberi endofit Diberi endofit
Gambar 4 Pengaruh pemberian cendawan endofit terhadap jumlah daun dengan berbagai perlakuan yaitu N1P1 (kompos dengan penyiraman seminggu sekali), N1P2 (kompos dengan penyiraman dua minggu sekali), N2P1 (NPK dengan penyiraman seminggu sekali), N2P2 (NPK dengan penyiraman dua minggu sekali).
Pada percobaan 2 pemberian hydrogel tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah daun (Lampiran 2). Pemberian hydrogel tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah daun pada semua perlakuan (Gambar 5).
0 5 10 15
N1P1 N1P2 N2P1 N2P2
Jumlah daun (helai)
Tidak diberi hydrogel Diberi hydrogel
Gambar 5 Pengaruh pemberian hydrogel terhadap jumlah daun dengan berbagai perlakuan yaitu N1P1 (kompos dengan penyiraman seminggu sekali), N1P2 (kompos dengan penyiraman dua minggu sekali), N2P1 (NPK dengan penyiraman seminggu sekali), N2P2 (NPK dengan penyiraman dua minggu sekali).
Pemupukan dan penyiraman pada percobaan 2 berpengaruh pada tanaman yang diberi pupuk kompos, sedangkan tanaman yang diberi pupuk NPK tidak terlihat berbeda nyata antara tanaman yang mengalami cekaman ringan (penyiraman seminggu sekali) dan cekaman berat (penyiraman dua minggu sekali).
5
Bobot Basah Tajuk dan Akar
Pada percobaan 1 pemberian cendawan endofit berpengaruh nyata terhadap bobot basah tajuk (Lampiran 1). pemberian cendawan endofit tidak berpengaruh nyata terhadap bobot basah tajuk dan akar pada tanaman yang diberi pupuk kompos dengan penyiraman dua minggu sekali, serta tanaman yang diberi pupuk NPK dengan penyiraman seminggu dan dua minggu sekali (Gambar 6a dan 6b). Sedangkan pemberian cendawan endofit dan pupuk kompos dengan penyiraman seminggu sekali memberikan pengaruh yang nyata terhadap bobot basah tajuk (Gambar 6a). Pada percobaan 1 pemupukan dan penyiraman memberikan pengaruh yang nyata terhadap bobot basah tajuk pada tanaman yang diberi cendawan endofit dan pupuk kompos (E1N1P1 dan E1N1P2) dengan selang penyiraman yang berbeda (cekaman ringan dan cekaman berat).
Pada percobaan 2 pemberian hydrogel juga pemupukan berpengaruh nyata terhadap bobot basah tajuk dan akar. Selain itu, hydrogel dan penyiraman berpengaruh nyata terhadap bobot basah akar (Lampiran 2).
Pemberian hydrogel dengan penambahan pupuk NPK dan penyiraman seminggu sekali (H1N2P1) berpengaruh nyata terhadap bobot basah tajuk dan akar (Gambar 6c dan 6d).
Selain itu, hydrogel dengan pemberian kompos dan penyiraman seminggu sekali (H1N1P1) memberikan pengaruh yang nyata terhadap bobot basah akar. Faktor pemupukan dan penyiraman pada percobaan 2 berpengaruh nyata terhadap bobot basah tajuk dan akar, dimana tanaman yang diberi pupuk NPK mengalami penurunan bobot basah tajuk dan akar ketika diberi perlakuan cekaman berat (penyiraman dua minggu sekali), sedangkan tanaman yang diberi pupuk kompos tidak terlihat berbeda nyata antara tanaman yang mengalami cekaman ringan (penyiraman seminggu sekali) dan cekaman berat (penyiraman dua minggu sekali) (Gambar 6c dan 6d).
0 50 100 150
N1P1 N1P2 N2P1 N2P2
Bobot basah tajuk (g)
Tidak diberi endof it Diberi endof it
(a) bobot basah tajuk pada perlakuan cendawan endofit dan tanpa cendawan endofit.
0 5 10 15 20 25
N1P1 N1P2 N2P1 N2P2
Bobot basah akar (g)
Tidak diberi endofit Diberi endofit
(b) bobot basah akar pada perlakuan cendawan endofit dan tanpa cendawan endofit.
0 50 100 150
N1P1 N1P2 N2P1 N2P2
Bobot basah tajuk (g)
Tidak diberi hydrogel Diberi hydrogel
(c) bobot basah tajuk pada perlakuan hydrogel dan tanpa hydrogel.
0 5 10 15 20 25 30
N1P1 N1P2 N2P1 N2P2
Bobot basah akar (g)
Tidak diberi hydrogel Diberi hydrogel
(d) bobot basah akar pada perlakuan hydrogel dan tanpa hydrogel.
Gambar 6 Pengaruh pemberian cendawan endofit dan hydrogel terhadap bobot basah tajuk dan akar pada kedua percobaan.
Bobot Kering Tajuk dan Akar
Pada percobaan 1 pemberian cendawan endofit tidak berpengaruh nyata terhadap bobot basah tajuk dan akar (Lampiran 1).
Pemberian cendawan endofit tidak berpengaruh nyata terhadap bobot basah tajuk dan akar pada tanaman yang diberi pupuk kompos dengan penyiraman seminggu dan dua minggu sekali, serta tanaman yang diberi pupuk NPK dengan penyiraman dua minggu sekali (Gambar 7a dan 7b). Sedangkan pada pemberian endofit dan pupuk NPK dengan penyiraman seminggu sekali berpengaruh nyata terhadap bobot kering tajuk dan akar
6
(Gambar 7a dan 7b). Pemupukan dan penyiraman pada percobaan 1 tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap bobot kering tajuk dan akar tanaman.
Walaupun demikian interaksi antara pemberian endofit dengan NPK cenderung meningkatkan bobot kering tajuk dan akar.
Pada percobaan 2 pemberian hydrogel berpengaruh nyata terhadap bobot kering akar (Lampiran 2). Pemberian hydrogel dengan penambahan pupuk NPK dan penyiraman seminggu sekali berpengaruh nyata terhadap bobot kering tajuk dan akar (Gambar 7c dan 7d). Pemupukan dan penyiraman pada percobaan 2 juga berpengaruh terhadap bobot kering tajuk dan akar, dimana tanaman yang diberi pupuk NPK mengalami penurunan bobot kering tajuk dan akar ketika diberi cekaman berat (penyiraman dua minggu sekali), sedangkan tanaman yang diberi pupuk kompos tidak berbeda nyata antara tanaman yang mengalami cekaman ringan (Penyiraman seminggu sekali) dan cekaman berat (penyiraman dua minggu sekali).
0 5 10 15 20
N1P1 N1P2 N2P1 N2P2
Bobot kering tajuk (g)
Tidak diberi endofit Diberi endofit
(a) bobot kering tajuk pada perlakuan cendawan endofit dan tanpa cendawan endofit.
0 1 2 3 4 5
N1P1 N1P2 N2P1 N2P2
Bobot kering akar (g)
Tidak diberi endofit Diberi endofit
(b) bobot kering akar pada perlakuan cendawan endofit dan tanpa cendawan endofit.
0 5 10 15 20
N1P1 N1P2 N2P1 N2P2
Bobot kering tajuk (g)
Tidak diberi hydrogel Diberi hydrogel
(c) bobot kering tajuk pada perlakuan hydrogel dan tanpa hydrogel.
0 1 2 3 4 5 6
N1P1 N1P2 N2P1 N2P2
Bobot kering akar (g)
Tidak diberi hydrogel Diberi hydrogel
(d) berat kering akar pada perlakuan hydrogel dan tanpa hydrogel.
Gambar 7 Pengaruh pemberian cendawan endofit dan hydrogel terhadap bobot kering tajuk dan akar pada kedua percobaan.
Kandungan Klorofil
Berdasarkan hasil analisis kandungan klorofil, pemberian endofit dengan penambahan pupuk kompos dan penyiraman 7 hari (E1N1P1) memiliki kandungan klorofil paling tinggi yaitu 85.84 mg/l dibandingkan dengan perlakuan lainnya (Gambar 8).
65 70 75 80 85 90
N1P1 N1P2 N2P1 N2P2
Kandungan klorofil daun (mg/l)
Tanpa endofit, tanpa hydrogel endofit hydrogel
Gambar 8 Kandungan klorofil pada kedua percobaan (pemberian cendawan endofit dan hydrogel) dengan berbagai perlakuan yaitu N1P1 (kompos dengan penyiraman seminggu sekali), N1P2 (kompos dengan penyiraman dua minggu sekali), N2P1 (NPK dengan penyiraman seminggu sekali), N2P2 (NPK dengan penyiraman dua minggu sekali).
7
Selain itu terdapat perbedaan pada ketebalan daun yaitu daun yang mendapat perlakuan cendawan endofit, baik pada media kompos maupun NPK cenderung lebih tebal dan lebih berwarna hijau jika dibandingkan dengan perlakuan lainnya (hydrogel, tanpa cendawan endofit dan tanpa hydrogel) (Gambar 9).
A
B
Gambar 9 Jarak pagar pada media yang diberi pupuk kompos (A) dan NPK (B) dengan penyiraman seminggu sekali : a. Tanpa endofit, tanpa hydrogel, b. Cendawan endofit, dan c. Hydrogel.
Jumlah dan Diameter Xilem
Pada percobaan 1 pemberian cendawan endofit berpengaruh nyata terhadap jumlah xilem (Lampiran 1). Pemberian cendawan endofit berpengaruh nyata terhadap jumlah xilem, tetapi pemberian endofit tidak berpengaruh nyata terhadap diameter xilem dibandingkan dengan kontrol (tidak diberi cendawan endofit) (Gambar 10a dan 10b).
0 10 20 30 40 50 60
Kontrol Cendawan endofit
Jumlah xilem
(a) Jumlah xilem pada kontrol dan yang diberi cendawan endofit.
0.030 0.035 0.040 0.045 0.050
ameter xilem (mm)
Kontrol Cendawan endofit
Di
(b) Diameter xilem pada kontrol dan yang diberi cendawan endofit.
Gambar 10 Pengaruh pemberian cendawan endofit terhadap jumlah dan diameter xilem akar sekunder.
Demikian pula pada percobaan 2 pemberian hydrogel berpengaruh nyata terhadap jumlah xilem (Lampiran 2).
Pemberian hydrogel berpengaruh nyata terhadap jumlah xilem, tetapi pemberian hydrogel tidak berpengaruh nyata terhadap diameter xilem dibandingkan dengan kontrol (tidak diberi hydrogel) (Gambar 11a dan 11b).
0 10 20 30 40 50 60
Kontrol Hydrogel
Jumlah xilem
a) Jumlah xilem pada kontrol dan perlakuan hydrogel.
0.030 0.035 0.040 0.045 0.050
Kontrol Hydrogel
Diameter xilem (mm)
(b) Diameter xilem pada control dan perlakuan hydrogel.
Gambar 11 Pengaruh pemberian hydrogel terhadap jumlah dan diameter xilem akar sekunder.
a b c
a b c
8
Hasil sayatan melintang pada akar sekunder jarak pagar disajikan pada Gambar 12.
A
B
Gambar 12 Sayatan akar sekunder jarak pagar (10 x 40) yang disiram seminggu sekali (A) dan dua minggu sekali (B) pada media NPK : a. Tanpa endofit, tanpa hydrogel, b. endofit, dan c. hydrogel.
PEMBAHASAN
Simbiosis mutualisma cendawan endofit dengan tanaman memberikan beberapa keuntungan. Menurut Moore-Landecker (1996) ada tiga potensi yang berrmanfaat untuk tanaman yang diinfeksi oleh cendawan endofit, yaitu: (1) meningkatkan pertumbuhan vegetatif tanaman, (2) tanaman lebih toleran terhadap kekeringan dan (3) menghasilkan toksin yang melindungi tanaman dari patogen.
Selain itu, dengan adanya cendawan endofit tanaman dapat memperoleh unsur hara dari tanah terutama fosfat dan tanaman juga dibantu dalam penyerapan air. Endofit juga berfungsi sebagai pengendali hayati hama dan penyakit tanaman serta mampu mendekomposisi bahan organik (Saeed et al.
2002, Zareen et al. 2001, Rubini et al. 2005).
Hasil penelitian membuktikan bahwa pemberian cendawan endofit pada jarak pagar memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap pertumbuhan tanaman dengan adanya peningkatan terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, bobot basah dan bobot kering tajuk dan akar dibandingkan dengan kontrol (tidak diberi cendawan endofit) (Gambar 2, 4, 6a, 6b, 7a dan 7b). Selain itu, pemberian
endofit memberikan pengaruh pada kandungan klorofil daun, yaitu daun yang mendapat perlakuan cendawan endofit, baik pada media kompos maupun NPK cenderung lebih tebal dan lebih berwarna hijau jika dibandingkan dengan perlakuan lainnya (hydrogel dan kontrol/ tidak diberi endofit).
Walaupun pada percobaan ini tidak begitu nampak berbeda jika dibandingkan dengan kontrol (tidak diberi endofit), namun menurut Zulfitri (2007) daun jarak pagar yang diinokulasi dengan cendawan endofit memiliki kandungan klorofil yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan kontrol (tidak diberi endofit).
a b c
a b c
Selain berpengaruh terhadap pertumbuhan, pemberian endofit juga membantu tanaman mengatasi cekaman kekeringan hal ini terlihat dari tinggi tanaman, jumlah daun, bobot basah tajuk dan akar, serta bobot kering tajuk dan akar yang tidak berbeda nyata antara penyiraman seminggu dan dua minggu sekali.
Hydrogel adalah polimer yang dapat menyerap air. Pemberian hydrogel pada media tanam bertujuan untuk membantu tanaman lebih toleran terhadap kekeringan. Pada umumnya campuran antara hydrogel dan tanah digunakan untuk memperlambat kekeringan pada tanaman atau untuk pengaturan pemupukan (Fagly 2006). Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian, pemberian hydrogel pada media tanam memberikan pengaruh yang lebih baik dibandingkan dengan kontrol terhadap tinggi tanaman, bobot basah dan bobot kering tajuk dan akar (Gambar 3, 6c, 6d, 7c dan 7d ).
Pemberian pupuk kompos dan NPK pada media tanam terutama unsur N mempengaruhi pertumbuhan vegetatif terutama tinggi tanaman. Unsur nitrogen merupakan unsur utama yang mendukung pertumbuhan tinggi tanaman (Leiwkabessi 1980). Jika dibandingkan pemberian kompos pada penelitian ini pupuk NPK lebih terlihat pengaruhnya pada tanaman. Hal ini diduga karena tanaman lebih mudah menyerap pupuk NPK dibandingkan dengan pupuk kompos.
Menurut Hsieh dan Hsieh (1990) komposisi pupuk organik dengan pupuk anorganik mempengaruhi proses dekomposisi N- organik. Jika hanya diberi pupuk anorganik proses dekomposisi berlangsung cepat, sedangkan apabila hanya diberi pupuk organik, proses dekomposisi berlangsung lambat. Tetapi bila diberi kombinasi pupuk anorganik dan pupuk organik maka proses dekomposisi berlangsung tidak secepat apabila hanya diberi pupuk anorganik dan
9
tidak selambat bila hanya diberi pupuk organik. Sedangkan menurut Sutater (1991) peningkatan jumlah N yang tidak meningkatkan pertumbuhan tanaman disebabkan adanya faktor lain yang merupakan pembatas seperti air, daya serap akar dan daya serap tanaman, sehingga respon tanaman tidak maksimal.
Selain itu, penyiraman juga berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Harjadi dan Yahya (1988) menyatakan bahwa bila suatu tanaman mengalami cekaman kekeringan semakin berat, misalnya sebagai akibat kurang hujan atau irigasi, diferensiasi organ-organ baru dan perluasan/ pembesaran organ yang sudah ada yang terkena pengaruh cekaman kekeringan pertama kali. Kemudian cekaman yang lebih lanjut baru menyebabkan berkurangnya laju fotosintesis.
Menurut Milburn (1979) xilem merupakan saluran air utama pada tanaman, karena sebagian besar pengangkutan air terjadi di dalam xilem. Berdasarkan analisis statistik pemberian endofit dan hydrogel tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap diameter xilem, tetapi terhadap jumlah xilem kedua percobaan memberikan pengaruh yang nyata. Pemberian endofit dan hydrogel mengakibatkan jumlah xilem lebih sedikit jika dibandingkan dengan kontrol (tidak diberi cendawan endofit, tidak diberi hydrogel) (Gambar 10b dan 11b). Hal ini belum diketahui secara pasti faktor yang berpengaruhi terhadap menurunnya jumlah xilem pada tanaman yang diberi cendawan endofit dan hydrogel dibandingkan dengan kontrol (tidak diberi cendawan endofit, tidak diberi hydrogel).
SIMPULAN
Secara umum pemberian cendawan endofit dan hydrogel pada jarak pagar meningkatkan pertumbuhan tanaman jika dibandingkan dengan kontrol (tidak diberi cendawan endofit, tidak diberi hydrogel). Jarak pagar yang diberi endofit menunjukkan respon yang lebih baik terhadap tinggi, jumlah daun, dan bobot basah tajuk tanaman. Sedangkan jarak pagar yang diberi hydrogel menunjukkan respon yang lebih baik terhadap tinggi, bobot basah tajuk dan akar, serta bobot kering akar dibandingkan dengan kontrol (tidak diberi hydrogel).
SARAN
Perlu dilakukan aplikasi di lapangan terhadap penggunaan cendawan endofit dan hydrogel untuk meningkatkan pertumbuhan bibit jarak pagar. Selain itu, perlu dilakukan analisis terhadap kandungan hara media tanam, jaringan tanaman dan produksi buah pada penelitian lebih lanjut.
DAFTAR PUSTAKA
Arnon D.I. 1959. Copper enzymes in isolated chloroplast. Polyphenol oxidase in Beta vulgaris. Plant Physiol 24: 1-15.
Chuangui W, Jianyong W, Xingguo M. 2004.
Enhancement of taxol production and excretion in taxus chinensis cell culture by fungal elicitation and medium renewal.
Mikrobiol and Biotechnol 55 (44): 404- 410.
Fagly. 2006. Hydrogel Media. http//www.
Google. Com/hydrogel. Html. [25 Nov 2006].
Hambali E. et al. 2006. Jarak Pagar Tanaman Penghasil Biodiesel. Jakarta: Penebar Swadaya.
Harjadi SS, Yahya S. 1988. Fisiologi Stress Lingkungan. Bogor: PAU Institut Pertanian Bogor.
Hsieh SC, Hsieh CF. 1990. The use of organic matter in crop production. ASPAC, Food and Fertilizer Technology Center, Extention Bull 315: 1-19.
Leiwakabessy F. 1980. Kesuburan Tanah.
Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Mac Kinney, G. 1941. Absorption of light by chlorophyll solution. J.Biol. Chem., 140:315-322.
Mattjik AA, Sumertajaya M. 2000.
Perancangan Percobaan dengan Aplikasi SAS dan Minitab. Jilid 1. Bogor: IPB Pess.
Milburn J. 1979. Water Flow in Plants.
London dan New York: Longman.
Moore-Landecker E. 1996. Fundamental of the Fungi [Fourth Edition]. New Jersey:
Prentice-Hall.
10
Prihandana R, Hendroko R. 2006. Petunjuk Budi Daya Jarak Pagar. Jakarta: Agro Media Pustaka.
Rubini et al. 2005. Diversity of endophytic fungal community of cacao (Theobroma cacao L.) and biological control of Crinipellis perniciosa, causal agent of Witches’ Broom Disease. Int J Biol Sci 1:
24-33.
Tjitrosomo SS. 1982. Botani Umum [edisi kedua]. Bogor: Departemen Botani Institut Pertanian Bogor.
Saeed S, Bhatti HN, Bhatti TM. 2002.
Bioleaching studies of rock phosphate using Aspergillus niger. J Biol Sci 2(2):
76-78.
Sutater T. 1991. Dosis Pupuk N dan K pada Tanaman Krisan. Di dalam: Toto Sutater, H. Hendro S, Aziz AA, Sri W, Penyunting.
Prosiding Tanaman Hias; Cipanas, 29 Agustus 1991. Cipanas: Balai Penelitian Hortikultura. hlm: 157-160.
Zareen A. Zaki MJ, Khan NJ. 2001. Effect of fungal filtrates of Aspergillus species on the development of root-knot nematodes and growth of tomato (Lycopersicon esculentum Mill.) Pakistan J Biol Sci 4(8):
995-999.
Zulfitri A. 2007. Pengaruh Cendawan Mutualistik Endofit Akar dan Mikoriza Arbuskula (CMA) terhadap Pertumbuhan Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas Linn) [skripsi]. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.
LAMPIRAN
12
Lampiran 1 Analisis sidik ragam pengaruh pemberian cendawan endofit, pemupukan dan penyiraman terhadap pertumbuhan tanaman jarak pagar
1.1 Tinggi tanaman
Sumber keragaman Db JK KT F hit P
Endofit Pemupukan Penyiraman
Endofit*Pemupukan Endofit*Penyiraman Pemupukan*Penyiraman
Endofit* Pemupukan*Penyiraman Galat
Total
1 1 1 1 1 1 1 32 40
1232.10 0.10 164.03 168.10 1.23 5.62 225.63 4829.20
145866
1232.10 0.10 164.03 168.10 1.23 5.62 225.63 150.91
8.16 0.00 1.09 1.11 0.01 0.04 1.50
0.01*
0.98 0.30 0.30 0.93 0.85 0.23
1.2 Jumlah daun
Sumber keragaman Db JK KT F hit P
Endofit Pemupukan Penyiraman
Endofit*Pemupukan Endofit*Penyiraman Pemupukan*Penyiraman
Endofit* Pemupukan*Penyiraman Galat
Total
1 1 1 1 1 1 1 32 40
50.63 5.62 24.02 11.03 15.63 0.63 0.63 245.60 2559.00
50.63 5.62 24.02 11.03 15.63 0.63 0.63 7.68
6.60 0.73 3.13 1.44 2.04 0.08 0.08
0.02*
0.40 0.09 0.24 0.16 0.78 0.78
1.3 Bobot basah tajuk
Sumber keragaman Db JK KT F hit P
Endofit Pemupukan Penyiraman
Endofit*Pemupukan Endofit*Penyiraman Pemupukan*Penyiraman
Endofit* Pemupukan*Penyiraman Galat
Total
1 1 1 1 1 1 1 31 39
2504.388 1612.266 486.435
60.867 60.916 498.424 199.485 14019.863 344187.535
2504.388 1612.266 486.435
60.867 60.916 498.424 199.485 452.254
5.538 3.565 1.076 0.135 0.135 1.102 0.441
0.025*
0.068 0.308 0.716 0.716 0.302 0.512
1.4 Bobot basah akar
Sumber keragaman Db JK KT F hit P
Endofit Pemupukan Penyiraman
Endofit*Pemupukan Endofit*Penyiraman Pemupukan*Penyiraman
Endofit* Pemupukan*Penyiraman Galat
Total
1 1 1 1 1 1 1 31 39
86.859 0.456 16.746
3.504 24.766
7.274 12.123 1016.884 11853.216
86.859 0.456 16.746
3.504 24.766
7.274 12.123 32.803
2.648 0.014 0.511 0.107 0.755 0.222 0.37
0.114 0.907 0.48 0.746 0.392 0.641 0.548
13
1.5 Bobot kering tajuk
Sumber keragaman Db JK KT F hit P
Endofit Pemupukan Penyiraman
Endofit*Pemupukan Endofit*Penyiraman Pemupukan*Penyiraman
Endofit* Pemupukan*Penyiraman Galat
Total
1 1 1 1 1 1 1 31 39
35.696 19.729 0.141 18.323 30.564 0.330 0.383 608.535 7440.465
35.696 19.729 0.141 18.323 30.564 0.330 0.383 19.63
1.818 1.005 0.007 0.933 1.557 0.017 0.019
0.187 0.324 0.933 0.341 0.221 0.898 0.890
1.6 Bobot kering akar
Sumber keragaman Db JK KT F hit P
Endofit Pemupukan Penyiraman
Endofit*Pemupukan Endofit*Penyiraman Pemupukan*Penyiraman
Endofit* Pemupukan*Penyiraman Galat
Total
1 1 1 1 1 1 1 31 39
2.305 0.752 0.511 0.402 0.618 0.002 1.246 43.244 415.049
2.305 0.752 0.511 0.402 0.618 0.002 1.246 1.395
1.652 0.539 0.366 0.288 0.443 0.001 0.893
0.208 0.468 0.550 0.595 0.511 0.974 0.352
1.8 Jumlah xilem akar sekunder
Sumber keragaman Db JK KT F hit P
Endofit Pemupukan Penyiraman
Endofit*Pemupukan Endofit*Penyiraman Pemupukan*Penyiraman Endofit*
Pemupukan*Penyiraman Galat
Total
1 1 1 1 1 1 1 16 24
1751.042 51.042 63.375 57.042 84.375 1190.042 315.375 3124.67 46899
1751.042 51.042 63.375 57.042 84.375 1190.042 315.375 195.292
8.966 0.261 0.325 0.292 0.432 6.094 1.615
0.0085**
0.6162 0.577 0.596 0.52 0.0252*
0.222
1.7 Diameter xilem akar sekunder
Sumber keragaman Db JK KT F hit P
Endofit Pemupukan Penyiraman
Endofit*Pemupukan Endofit*Penyiraman Pemupukan*Penyiraman
Endofit* Pemupukan*Penyiraman Galat
Total
1 1 1 1 1 1 1 16 24
1.18155 0.000253 3.13296 5.74635 6.897 4.74014 5.78752 0.000275 0.0533
1.18155 0.000253 3.13296 5.74635 6.897 4.74014 5.78752 1.72
0.686 14.682 1.8196 0.334 0.040 2.753 0.336
0.419 0.002**
0.196 0.572 0.844 0.117 0.570
Keterangan: Jika F hitung > F tabel atau probabilitasnya < 0.05 maka hasil uji sidik ragam berbeda nyata (signifikan). Berbeda nyata pada taraf kepercayaan 95% (α=5%).
Tanda: * = berbeda nyata pada taraf 5%
**= berbeda sangat nyata pada taraf 1%
14
Lampiran 2 Analisis sidik ragam pengaruh pemberian hydrogel, pemupukan dan penyiraman terhadap pertumbuhan tanaman jarak pagar
2.1 Tinggi tanaman
Sumber keragaman Db JK KT F hit P
Hydrogel Pemupukan Penyiraman
Hydrogel* Pemupukan Hydrogel *Penyiraman Pemupukan*Penyiraman
Hydrogel* Pemupukan*Penyiraman Galat
Total
1 1 1 1 1 1 1 32 40
1086.81 400.06 209.31 1066.06
0.31 94.56 58.81 4457.80 145025.25
1086.81 400.06 209.31 1066.06
0.31 94.56 58.81 139.31
7.80 2.87 1.50 7.65 0.00 0.68 0.42
0.01*
0.10 0.23 0.01*
0.96 0.42 0.52
2.2 Jumlah daun
Sumber keragaman Db JK KT F hit P
Hydrogel Pemupukan Penyiraman
Hydrogel* Pemupukan Hydrogel *Penyiraman Pemupukan*Penyiraman
Hydrogel* Pemupukan*Penyiraman Galat
Total
1 1 1 1 1 1 1 32 40
0.10 32.40 72.90 0.00 0.10 1.60 1.60 144.80 1816.00
0.10 32.40 72.90 0.00 0.10 1.60 1.60 4.53
0.02 7.16 16.11
0.00 0.02 0.35 0.35
0.88 0.01*
0.00**
1.00 0.88 0.56 0.56
2.3 Bobot basah tajuk
Sumber keragaman Db JK KT F hit P
Hydrogel Pemupukan Penyiraman
Hydrogel* Pemupukan Hydrogel *Penyiraman Pemupukan*Penyiraman
Hydrogel* Pemupukan*Penyiraman Galat
Total
1 1 1 1 1 1 1 31 39
2211.482 4761.150 741.343 442.948 168.407 108.475 346.570 10976.537 341081.442
2211.482 4761.150 741.343 442.948 168.407 108.475 346.570 354.082
6.246 13.44
6 2.094 1.251 0.476 0.306 0.979
0.018*
0.001**
0.158 0.272 0.496 0.584 0.330
2.4 Bobot basah akar
Sumber keragaman Db JK KT F hit P
Hydrogel Pemupukan Penyiraman
Hydrogel* Pemupukan Hydrogel *Penyiraman Pemupukan*Penyiraman
Hydrogel* Pemupukan*Penyiraman Galat
Total
1 1 1 1 1 1 1 31 39
337.08 20.929 11.838 11.413 156.483
0.267 44.829 921.154 14211.446
337.08 20.929 11.838 11.413 156.483
0.267 44.829 29.715
11.344 0.704 0.398 0.384 5.266 0.009 1.509
0.002**
0.408 0.533 0.540 0.029*
0.925 0.229
15
2.5 Bobot kering tajuk
Sumber keragaman Db JK KT F hit P
Hydrogel Pemupukan Penyiraman
Hydrogel* Pemupukan Hydrogel *Penyiraman Pemupukan*Penyiraman
Hydrogel* Pemupukan*Penyiraman Galat
Total
1 1 1 1 1 1 1 31 39
32.160 8.313 0.620 7.409 26.172 19.612 19.22 630.842 7420.262
32.160 8.313 0.620 7.409 26.172 19.612 19.22 20.350
1.580 0.408 0.03 0.364 1.286 0.964 0.945
0.218 0.527 0.863 0.551 0.265 0.334 0.339
2.6 Bobot kering akar
Sumber keragaman Db JK KT F hit P
Hydrogel Pemupukan Penyiraman
Hydrogel* Pemupukan Hydrogel *Penyiraman Pemupukan*Penyiraman
Hydrogel* Pemupukan*Penyiraman Galat
Total
1 1 1 1 1 1 1 31 39
8.983 0.363 0.57 0.807
5.09 0.141 2.110 38.362 483.189
8.983 0.363 0.57 0.807
5.09 0.141 2.110 1.237
7.259 0.293 0.461 0.652 4.113 0.114 1.705
0.011*
0.592 0.502 0.425 0.051 0.738 0.201
2.8 Jumlah xilem akar sekunder
Sumber keragaman Db JK KT F hit P
Hydrogel Pemupukan Penyiraman
Hydrogel* Pemupukan Hydrogel *Penyiraman Pemupukan*Penyiraman
Hydrogel* Pemupukan*Penyiraman Galat
Total
1 1 1 1 1 1 1 16 24
805.0417 715.0417 260.0417 145.0417 1.0417 852.0417 532.0417 5078.667 54239
805.0417 715.0417 260.0417 145.0417 1.0417 852.0417 532.0417 317.417
2.536 2.253 0.819 0.457 0.003 2.684 1.676
0.130821 0.152858 0.378829 0.508709 0.955027 0.120854 0.213808
2.7 Diameter xilem akar sekunder
Sumber keragaman Db JK KT F hit P
Hydrogel Pemupukan Penyiraman
Hydrogel* Pemupukan Hydrogel *Penyiraman Pemupukan*Penyiraman
Hydrogel* Pemupukan*Penyiraman Galat
Total
1 1 1 1 1 1 1 16 24
4.099 3.944 2.25 5.215 4.513 1.204 1.508 0.000146
0.05
4.099 3.944 2.25 5.215 4.513 1.204 1.508 9.184
0.446 4.295 0.245 5.679 0.0049 0.0131 0.164
0.514 0.055 0.627 0.0299*
0.945 0.91 0.691
Keterangan: Jika F hitung > F tabel atau probabilitasnya < 0.05 maka hasil uji sidik ragam berbeda nyata (signifikan). Berbeda nyata pada taraf kepercayaan 95% (α=5%) Tanda: * = berbeda nyata pada taraf 5%
**= berbeda sangat nyata pada taraf 1%