A. Landasan Hukum Perubahan/Pengembangan Kurikulum
Teks penuh
(2) Tanggal 29 Desember 1945 Badan Pekerja KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) mengusulkan kepada Kementerian Pengajaran untuk segera menyusun pedoman pendidikan dan pengajaran, a.l.: 1) Sesuai dengan dasar susunan Negara Republik Indonesia, 2) Paham perseorangan haruslah diganti dengan paham kesusilaan dan rasa peri kemanusiaan yang tinggi, 3) Sesuai dengan dasar keadilan sosial, semua sekolah harus terbuka untuk tiap penduduk negara, 4) Untuk memperkuat kesatuan rakyat hendaklah diadakan satu macam sekolah (yang lama belajarnya 6 tahun untuk tiap-tiap anak Indonesia) yang lambat laun harus dapat dilaksanakan secara merata. (Sumber Jasin Anwar 1987 dari Soegarda Poerbakawatja, Pendidikan di Alam Indonesia Merdeka, Jakarta: Gunung Agung, 1972).. Dalam rapat-rapat Panitia Penyelidik Pengajaran, Ki Hadjar Dewantara menekankan pentingnya dasar kebangsaan yang dihubungkannya bukan hanya dengan UUD 1945, Pasal 31, Ayat 2 (sistem pengajaran nasional), tetapi juga dengan Pasal 32 (kebudayaan nasional Indonesia), Pasal 36 (Bahasa Indonesia), Pasal 27 Ayat 1 (persamaan kedudukan segala warga negara di dalam hukum dan pemerintahan) dan Ayat 2 (hak tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan kehidupan yang layak bagi kemanusiaan. “Teranglah dari fatsal-fatsal dalam Undang-Undang Dasar tersebut itu, bahwa pendidikan dan pengajaran di dalam Republik Indonesia haruslah berdasarkan kebudayaan dan kemasyarakatan bangsa Indonesia menuju ke arah kebahagiaan hidup batin serta keselamatan hidup lahir.” (Notula rapat Panitia Penyelidik Pengajaran, 12-5-1946 dan lampirannya). Di samping dasar kebangsaan, sila-sila lain pun digunakan sebagai dasar untuk menentukan isi pendidikan dan pengajaran. Misalnya, Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, dengan menunjuk Pasal 29 UUD 1945 sebagai dasar untuk mengusulkan dimasukkannya pelajaran agama ke dalam rencana pelajaran sekolah-sekolah negeri. Dalam pembicaraan komisi-komisi panita Penyelidik, dasar kebangsaan sangat menonjol dalam menentukan isi dan susunan pendidikan dan pengajaran yang sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan dan kebutuhan bangsa Indonesia. Tujuannya adalah untuk menarik garis pemisah yang tegas antara pendidikan dan pengajaran kolonial dan pendidikan dan pengajaran nasional. Ini adalah gambaran penerapan Pancasila dan kondisi yang melahirkan Rencana Pelajaran (Kurikulum) 1947. UU No. 4 Tahun 1950 tentang Dasar-dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah merumuskan tujuan kurikuler pendidikan rendah sebagai berikut: Kurikulum pendidikan rendah ditujukan untuk menyiapkan anak agar memiliki dasar-dasar pengetahuan, kecakapan, dan ketangkasan baik lahir maupun batin, serta mengembangkan bakat dan minat..
(3) B. Dasar Pengambilan Keputusan Kurikulum pada Awal Kemerdekaan s.d. Masa Pemerintahan Orde Lama Sesuai dengan paparan tentang dasar keputusan tentang kurikulum seperti telah dikemukakan, berikut ini disajikan hasil kajian tentang dasar-dasar yang digunakan para pengembang kurikulum dalam menyusun Kurikulum 1947 dan Kurikulum 1964. Kurikulum 1952 tidak dimasukkan karena sumber kepustakaannya amat terbatas, hanya satu buku tentang Rencana Pelajaran Terurai untuk Sekolah Rakyat 3 dan 6 Tahun. C. Prinsip Pengembangan Kurikulum pada Awal Kemerdekaan s.d. Masa Orde Lama Prinsip pengembangan kurikulum sering pula disebut sebagai asas pengembangan kurikulum. Yang dimaksudkan dengan asas ini adalah prinsip pedagogis dan didaktik pembaharuan kurikulum yang dijadikan pedoman untuk memilih bahan dan kegiatan belajar, menentukan luas dan urutan bahan dan kegiatan, serta menyusun metodologi pengajaran.. Kurikulum 1947 Ada 5 prinsip (asas) pembaharuan yang melahirkan Kurikulum 1947, yaitu: 1. Asas pendidikan dan pengajaran sebagai alat pembangunan bangsa dan negara. 2. Perkembangan yang seimbang dan harmonis. 3. Isi pengajaran yang praktis dan beban yang tidak terlalu berat. 4. Belajar aktif, kreatif, dan produktif. 5. Menyesuaikan pendidikan dan pengajaran dengan tingkat perkembangan anak. Kelima prinsip atau asas ini amat dipengaruhi oleh gagasan sekolah kerja (Arbeitschule dalam bahasa Jerman, Doe-school dalam bahasa Belanda atau Doing School dalam bahasa Inggris) yang diperbincangkan dalam rapat-rapat Panitia Penyelidik Pengajaran, terutama dalam Komisi Penyelidik II (Sekolah Kerja, Pekerjaan Tangan, Gerak Badan, dan Sekolah Partikelir). Gagasan ini dilontarkan untuk mengganti model sekolah lama yang disebut sebagai ”lusiteren praat-school” (sekolah ”dengar dan bicara”). Dalam laporan komisi itu ditandaskan bahwa pembaharuan pendidikan untuk bangsa Indonesia akan berarti sebesar-besarnya jika pembaharuan itu akan menghasilkan: a) Cara mendidik yang dapat membuat bangsa kita terlepas dari tradisi kolonial, dan dapat membangkitkan serta mengembangkan kekuatan kreatif sehingga bangsa kita dapat menjadi masyarakat yang kuat serta sehat, baik lahir maupun batin; dan b) Cara mendidik yang membawa kita kepada martabat perikemanusiaan yang tinggi. Dalam sekolah kerja anak-anak dipimpin agar produktif dan berguna bagi masyarakat..
(4) Melalui sekolah kerja anak dapat berkembang secara seimbang dan harmonis karena ciri pendidikan kolonial adalah terlalu intelektualistik atau terlalu menekankan perkembangan kecerdasan otak (intelek). Pendidikan nasional hendaknya menekankan keseimbangan antara perkembangan kecerdasan otak dan perkembangan watak, budi pekerti, jasmani dan rasa keindahan, antara perkembangan manusia sebagai pribadi dan sebagai warga negara dan anggota masyarakat, antara isi pelajaran teoritis dan yang praktis dan keterampilan tangan. Untuk itu, dalam memilih bahan pelajaran harus dijaga agar praktis atau relevan dengan kebutuhan anak, masyarakat, dan pembangunan bangsa serta tidak terlalu berat bagi anak. Gagasan sekolah kerja ini tampak juga pada prinsip belajar aktif, kreatif, dan produktif. Melalui sekolah kerja anak dipimpin agar produktif dan berguna bagi masyarakat. Untuk itu, sekolah harus berusaha agar: c) Anak-anak bersifat aktif, kreatif, dan belajar atas dasar pengalaman; d) Anak-anak bisa mencari, mendapat, dan mempergunakan pengetahuan dan pengalamannya; e) Perhatian dan usaha pendidikan dipusatkan pada keadaan dan jiwa anak; f) Anak-anak dapat menghasilkan barang sesuatu dengan kemauan dan kekuatan sendiri; g) Anak-anak belajar menyediakan diri untuk keperluan masyarakat; h) Anak-anak kelak menjadi anggota masyarakat yang bertabiat sosial; dan i) Sekolah berwujud ’kuntum masyarakat’ dan kelas menjadi persekutuan kerja. Berdasarkan prinsip-prinsip yang telah diuraikan, pendidikan dan pengajaran di sekolah rendah harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak, dengan selalu mengindahkan pusat-pusat perhatian murid serta batas-batas kejiwaan atau kesanggupannya yang berhubungan dengan umur, corak jiwa, sifatnya (lakiperempuan), agamanya, dan suasana lingkungan lainnya. (Laporan Komisi II dan Laporan Komisi Pekerja tentang Pengajaran Rendah, , Panitia Penyelidik Pengajaran, 1946). Konsep sekolah kerja tampaknya dipengaruhi aliran psikologi belajar inkuiri yang pada masa itu amat dipengaruhi pandangan-pandangan John Dewey tentang pendidikan progresif. Ia menandaskan bahwa pendidikan warga negara yang terlibat mengandung: ● Penghargaan terhadap keanekaragaman, dalam arti kemampuannya, minat, ide, kebutuhan, dan identitas budayanya tiap individu harus diakui; dan ● Pengembangan kecerdasan kritis dan terlibat secara sosial yang memampukan individu untuk memahami dan berpartisipasi secara efektif dalam urusan masyarakat setempat dalam upaya kerja sama untuk mencapai kebaikan umum. Belajar berbasis inkuiri berhubungan dengan: ● Pertanyaan: muncul dari pengalaman. ● Bahan: bervariasi, otentik, menantang..
(5) ●. Kegiatan: melibatkan, pengalaman konkret menggunakan tangan (handson experience), membuat kreasi, bekerja sama, menghidupi peran baru. ● Dialog: mendengarkan orang lain; mengartikulasi pemahaman. ● Refleksi: mengekspresikan pengalaman; bergerak dari konsep baru ke tindakan. John Dewey menandaskan bahwa dalam menghadapi sebuah dunia yang berubah, gunakanlah metode ilmiah: ● Menyadari suatu masalah ● Rumuskan masalah itu ● Ajukan hipotesis untuk memecahkannya ● Selidiki konsekuensi hipotesis dalam cahaya pengalaman ● Tes solusi yang paling mungkin Tampaknya para penyusun Kurikulum 1947 hendak meninggalkan konsepsi tradisional kurikulum ini, yang amat menekankan konten atau isi ilmu pengetahuan yang terlalu intelektualistis. Tampaknya melalui gagasan sekolah kerja, mereka menghendaki agar siswa-lah yang aktif mencari dan menemukan dalam dunia empirik dengan melakukan kegiatan belajar melalui dialog atau kerja sama antar-siswa. John Dewey mengatakan,“tfducation is life itself” (Pendidikan adalah kehidupan itu sendiri). Untuk itu, guru pun hendaknya melakukan hal yang sama dalam melakukan pengajaran yang berpusat kepada siswa (student-centered learning). John Dewey mengatakan, “True learning is based on discovery guided by mentoring rather than the transmission of knowledge” (Belajar yang benar lebih berdasarkan penemuan yang dibimbing melalui mentoring daripada transmisi pengetahuan). Siswa-lah yang melakukan aktivitas dalam siklus inkuiri ini. Kurikulum 1964 Pemikiran yang mendahului kelahiran Kurikulum 1964 menunjukkan keinginan yang kuat agar penyusunan kurikulum selalu didasarkan atas pertimbangan seberapa jauh program pengajaran atau kurikulum itu memberikan sumbangan bagi: 1. Kesejahteraan anak-anak didik di sekolah; 2. Pembangunan masyarakat di sekitar sekolah; dan.
(6) 3. Pembangunan bangsa dan negara dalam rangka mencapai tingkat hidup yang lebih tinggi bagi rakyat dan masyarakat Indonesia, lahir dan batin. Keinginan itu tercermin pula dalam salah satu prinsip atau asas didaktik Kurikulum 1964 yang menyatakan bahwa semua pengetahuan dan kegiatan yang diajarkan haruslah fungsional praktis dalam arti berguna bagi anak dan masyarakat, sekarang dan di masa yang akan datang, dalam mencapai tiga kerangka tujuan revolusi nasional. Sehubungan dengan gagasan sekolah kerja dan pendekatan inkuiri tampaknya gagasan ini belum terwujud pada sekolah dasar. Namun, upaya pembaharuan pendidikan dan pengajaran telah mulai dilembagakan secara struktural pada awal tahun 1950-an. Kementerian PP dan K mulai mendirikan lembaga-lembaga yang diserahi tugas membuat pembaharuan kurikulum, seperti: ● Balai Pendidikan Pengetahuan Alam (Science Learning Center – STC) yang bertugas menatar guru dan mengembangkan kurikulum IPA. ● Urusan Pengajaran Bahasa Indonesia dan Balai Bahasa Daerah (UPBID) dan Urusan Pengajaran Ilmu Kemasyarakatan (UPIK) yang bertugas mengawasi dan membina mata pelajaran serta membantu mengembangkan dan memperbaiki mata pelajaran yang bersangkutan. ● Urusan penyelidikan (research) yang melanjutkan tugas Balai Penyelidikan dan Perancang Pendidikan dan Pengajaran (BP4) dalam menyelenggarakan sekolah-sekolah percobaan, mengembangkan tes hasil belajar, dan mengumpulkan statistik persekolahan. Kurikulum yang diujicoba merupakan revisi rencana pelajaran Sekolah Dasar yang berlaku waktu itu. ● Urusan Kewajiban Belajar yang menyelenggarakan percobaan pelaksanaan kewajiban belajar dan mengusahakan pembaharian isi pendidikan dan metode pengajaran, terutama Pendidikan Keterampilan. ● Urusan Pendidikan Taman Kanak-kanak dan Sekolah Rakyat (UPTK/SR) sebagai bagian Jawatan Pendidikan Umum bertugas dan bertanggung jawab dalam perencanaan, pengawasan, dan penilaian pendidikan, termasuk perencanaan kurikulum dan penyelenggaraan ujian negara, yaitu Ujian Masuk Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama secara rutin. Ketika Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan melalui Instruksi No. 2 tahun 1961 memerintahkan mengadakan pembaharuan kurikulum sesuai dengan sistem Pancawarhana, UPTK/SR-lah yang melaksanakan penyusunan kurikulum sekolah dasar yang baru (1961). Konsep kurikulum sekolah dasar yang baru kemudian diujicoba. Akan tetapi, upaya itu hanya berjalan dua tahun (1962 – 1963) karena perencanaan yang kurang sistematis dan matang serta biaya dan sarana yang serba kurang. Setelah Jawatan Pendidikan Umum dihapuskan pada tahun 1963, dibentuk Direktorat Pendidikan Prasekolah, Sekolah Dasar, dan Sekolah Luar Biasa. Direktorat baru ini meneruskan tugas UPTK/SR. Upaya pembaharuan kurikulum yang mendahului Kurikulum 1964 tampaknya kurang membuahkan hasil yang diharapkan berkenaan dengan konsepsi sekolah kerja dan pendekatan inkuiri karena perencanaan yang kurang matang dan keterbatasan dana dan sarana..
(7) D. Ciri-ciri Manusia pada Kurikulum pada Awal Kemerdekaan s.d. Masa Orde Lama Kurikulum 1947: ● ● ● ● ● ● ●. ●. Perasaan bakti kepada Tuhan YME; Perasaan cinta kepada ibu dan bapak; Perasaan cinta kepada alam, negara, bangsa, dan kebudayaan; Perasaan berhak dan wajib ikut memajukan negaranya menurut pembawaan dan kekuatannya; Keyakinan bahwa orang menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarga dan masyarakat; Keyakinan bahwa orang hidup dalam masyarakat harus tunduk kepada tata tertib; Keyakinan pada dasarnya manusia itu sama harganya karena itu harus hormat-menghormati, berdasar rasa keadilan, dengan berpegang teguh atas harga diri sendiri; Keyakinan negara memerlukan warga negara yang rajin bekerja, tahu kewajiban, jujur dalam pikiran dan tindakan. (Keputusan Menteri PP&K 1946 No. 1186/Bahg.A). Tujuan institusional sekolah dasar pada Kurikulum 1947: Tujuan pendidikan di sekolah rendah, agar murid-murid lambat laun dengan rasa tanggung jawab: ● makin dapat menyelenggarakan sendiri kesehatannya, ● rasa bahagia, serta ● paham hidupnya bersama penyesuaian diri dengan corak kebangsaan Indonesia (yang berdasar Ketuhanan YME dan kemanusiaan yang adil dan beradab), dan ● makin tegas hasratnya untuk mengembangkan (dan mempergunakan) jiwaraganya ke arah keluhuran kebudayaan serta kemakmuran Republik Indonesia (sebagai negara kesatuan yang berbentuk kedaulatan rakyat dan keadilan sosial). (Sumber: Laporan Panitia Penyelidik Pengajaran, Bagian Pengajarana Rendah, 1946). Kurikulum 1964: ● ● ● ● ● ● ● ●. Semangat patriot, Gotong royong, Bersahaja, Mengutamakan kejujuran, Mendahulukan kewajiban daripada hak, Mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, Susila dan budi luhur, Kerelaan berkorban,.
(8) ● ● ● ● ●. Hidup hemat, Disiplin, Kepandaian untuk menghargai waktu, Cara berpikir rasional dan ekonomis, Kesadaran bekerja untuk membangun dengan kerja keras.. (Sumber: Tap MPRS No. II/MPRS/1960: Gambaran manusia sosialis Indonesia yang dimuat juga dalam Lampiran Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana 1961).. E. Perkembangan Struktur Program Kurikulum pada Awal Kemerdekaan s.d. Masa Orde Lama Tabel 4.3 Daftar Jam Pelajaran bagi Sekolah Rakyat Yang Berbahasa Daerah sampai Kelas III (Rencana Pelajaran 1947) No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Bahasa Daerah Berhitung Ilmu Alam Ilmu Hayat * Ilmu Bumi Sejarah Menggambar Menulis Seni Suara Pekerjaan Tangan Pekerjaan Keputrian ** Gerak Badan *** Kebersihan dan Kesehatan Didikan Budi Pekerti Jumlah **** Pendidikan Agama ***** Jumlah seluruhnya. I 10 6 4 2 1 3 1 1 28 28. II 10 6 4 2 1 3 1 1 28 28. Kelas III IV 8 8 6 4 7 7 2 1 1 1 3 3 2 2 2 2 (1) 3 3 1 1 2 2 35 36 2 35 38. Keterangan V 8 4 7 1 2 2 2 2 2 2 (2) 3 1 2 38 2 40. VI 8 4 7 1 2 2 2 2 2 2 (2) 3 1 3 39 2 41. Di Kelas I dan II lama tiap jam pelajaran: 30 menit; di Kelas IV ke atas: 40 menit. Mencakup Ilmu Tumbuh-tumbuhan, hewan, dan tubuh manusia. ** Diadakan pada hari Jumat sesudah Pukul 11. *** Termasuk juga tari dan pencak. **** Berdasarkan Keputusan Menteri PP dan K 19 – 11-1946, No. 1153/A. ***** Berdasarkan Penetapan Bersama Menteri PP dan K dan Menteri Agama..
(9) Tabel 4.4 Daftar Jam Pelajaran bagi Sekolah Rakyat Yang berbahasa pengantar Bahasa Indonesia dari Kelas I (Rencana Pelajaran 1947) No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Berhitung Ilmu Alam Ilmu Hayat * Ilmu Bumi Sejarah Menggambar Menulis Seni Suara Pekerjaan Tangan Pekerjaan Keputrian ** Gerak Badan *** Kebersihan dan Kesehatan Didikan Budi Pekerti Jumlah **** Pendidikan Agama ***** Jumlah seluruhnya. I 10 6 4 2 1 3 1 1 28 28. II 10 6 4 2 1 3 1 1 28 28. Kelas III IV 8 8 8 7 2 1 1 1 4 4 3 3 3 3 (1) 3 3 1 1 2 2 33 35 2 33 37. Keterangan V 8 7 1 2 2 2 2 3 3 (2) 3 1 2 36 2 38. VI 8 7 1 2 2 2 2 3 3 (2) 3 1 3 36 2 38. Mencakup Ilmu Tumbuh-tumbuhan, hewan, dan tubuh manusia. ** Diadakan pada hari Jumat sesudah Pukul 11. *** Termasuk juga tari dan pencak. **** Berdasarkan Keputusan Menteri PP dan K 19 – 11-1946, No. 1153/A. ***** Berdasarkan Penetapan Bersama Menteri PP dan K dan Menteri Agama.. Di Kelas I dan II lama tiap jam pelajaran: 30 menit; di Kelas IV ke atas: 40 menit.
(10) Tabel 4. 5 Daftar Jam Pelajaran bagi Sekolah Rakyat Yang diselenggarakan sore hari (Rencana Pelajaran 1947) No.. Mata Pelajaran. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15. Bahasa Indonesia Bahasa Daerah Berhitung Ilmu Alam Ilmu Hayat Ilmu Bumi Sejarah Menggambar Menulis Seni Suara Pekerjaan Tangan Pekerjaan Keputrian Gerak Badan Kebersihan dan Kesehatan Didikan Budi Pekerti Jumlah ** Pendidikan Agama ***** Jumlah seluruhnya. 16. I AB 7 - 7 5 5 ----3 3 -2 2 1 1 -3 3 1 1 1 1 23 23 -23 23. II A B 7-7 55 ---1 -33 -22 11 -33 11 1 1 23 24 -23 24. III A B 8 8 -6 9 8 --11 -43 -32 32 -43 11 2 1 35 35 -35 35. IV A B 8 8 -4 8 7 --11 11 43 -22 22 11 43 11 2 2 36 36 2 2 36 38. Kelas A = Sekolah-sekolah yang berbahasa pengantar bahasa Indonesia dari kelas I. Kelas B = Sekolah-sekolah yang berbahasa pengantar bahasa daerah sampai kelas III. ** Berdasarkan Edaran Mengteri PP dan K 8-1-1947 No. 203/B. Susunan Rencana Pelajaran 1964 masih sederhana, yaitu mencakup unsur pokok: dasar dan tujuan serta sistem pendidikan dasar, struktur program kurikulum, garis- garis besar program pengajaran (GBPP) tiap wardhana, dan pedoman pelaksanaan hari krida di sekolah dasar. Rencana pelajaran ini membedakan 2 macam struktur program, yaitu: 1) Untuk sekolah-sekolah yang menggunakan pengantar bahasa daerah dari kelas I sampai dengan kelas III. 2) Untuk sekolah-sekolah yang menggunakan pengantar bahasa Indonesia mulai kelas I. Garis-garis besar susunan program pengajarannya dikemukakan berikut ini. Pertama, sesuai dengan struktur program itu, mata pelajaran atau bidang studi dikelompokkan sesuai dengan Pancawardhana menjadi 5 kelompok bidang studi, yaitu perkembangan moral, kecerdasan, emosional-artistik, keprigelan / keterampilan, dan jasmaniah. Kedua, susunan tiap wardhana adalah: 1) Uraian pendahuluan tentang komposisi bidang studi yang termasuk dalam wardhana yang bersangkutan, tujuan kurikuler yang hendak dicapai, kriteria pemilihan bahan, dan petunjuk praktis dalam memilih kegiatan yang relevan; 2) Tiap bidang studi dibagi menurut kelas, dan urutan bahan yang.
(11) disesuaikan dengan tujuan kurikuler dan instruksional tiap bidang studi; 3) Tiap tujuan instruksional disertai bahan-bahan yang diajarkan dan petunjuk praktis dalam memilih dan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan tersebut; dan 4) Sistematika program pengajaran Pendidikan Agama belum disesuaikan dengan susunan seperti tersebut pada butir (2) dan (3) dan kurikulum Pendidikan Agama Islan disusun oleh Departemen Agama secara terpisah. Demikian juga halnya dengan kurikulum-kurikulum agama-agama lain, disusun oleh lembaga-lembaga keagamaan yang berwenang. (Sumber: 50 Tahun Perkembangan Pendidikan Indonesia, Jakarta: Depdikbud, 1996). Tabel 4.6 Struktur Program dan Pembagian Waktu per Minggu Bagi sekolah dasar yang menggunakan bahasa pengantar bahasa daerah di Kelas I s.d. Kelas III (Rencana Pendidikan 1964) No. I. II. III IV V. Wardhana / Bidang Studi PERKEMBANGAN MORAL: 1. Pendidikan Kemasyarakatan * 2. Pendidikan Agama / Budi Pekerti PERKEMBANGAN KECERDASAN 1. Bahasa Daerah 2. Bahasa Indonesia 3. Berhitung 4. Pengetahuan Alamiah PERKEMBANGAN EMOSIONAL / ARTISTIK: 1. Pendidikan Kesenian ** PERKEMBANGAN KEPRIGELAN: 1. Pendidikan Keprigelan *** PERKEMBANGAN JASMANI: 1. Pendidikan Jasmani / Kesehatan Jumlah. Kelas III IV. I. II. 1 1. 2 2. 3 2. 9 6 1. 8 6 1. 2. Keterangan V. VI. 3 2. 3 2. 3 2. 5 6 6 2. 3 8 6 2. 3 8 6 2. 3 8 6 2. 2. 4. 4. 4. 4. 2. 2. 4. 4. 4. 4. 3. 3. 4. 4. 4. 4. 25. 26. 34. 36. 36. 36. Kelas I dan II, 1 jam pelajaran: 30 menit; Kelas III s.d. VI: 30 menit.. Integrasi Sejarah, Ilmu Bumi, dan Kewargaan Negara. ** Seni Suara / Musik, Seni Lukis / Rupa, Seni Tari, Seni Sastra / Drama. *** Pertanian, Peternakan, Industri Kecil, Pekerjaan Tangan, Koperasi / Tabungan, dan Keprigelan lain-lain. Tabel 4.7 Struktur Program dan Pembagian Waktu per Minggu Bagi sekolah dasar yang menggunakan bahasa pengantar bahasa Indonesia dari Kelas I (Rencana Pendidikan 1964) No I. II. I. II. Kelas III IV. V. VI. 1 1. 1 2. 4 2. 4 2. 4 2. 4 2. 9 6 1. 8 6 1. 9 6 2. 9 6 2. 9 6 2. 9 6 2. Wardhana / Bidang Studi PERKEMBANGAN MORAL: 1. Pendidikan Kemasyarakatan * 2. Pendidikan Agama / Budi Pekerti PERKEMBANGAN KECERDASAN 1. Bahasa Indonesia 2. Berhitung 3. Pengetahuan Alamiah. Keterangan Kelas I dan II, 1 jam pelajaran: 30 menit; Kelas III s.d. VI: 40 menit..
(12) III IV V. PERKEMBANGAN EMOSIONAL / ARTISTIK: 1. Pendidikan Kesenian ** PERKEMBANGAN KEPRIGELAN: 1. Pendidikan Keprigelan *** PERKEMBANGAN JASMANI: 1. Pendidikan Jasmani / Kesehatan Jumlah. 2. 2. 4. 4. 4. 4. 2. 2. 5. 5. 5. 5. 3. 3. 4. 4. 4. 4. 25. 25. 36. 36. 36. 36. Integrasi Sejarah, Ilmu Bumi, dan Kewargaan Negara.. ** Seni Suara / Musik, Seni Lukis / Rupa, Seni Tari, Seni Sastra / Drama. *** Pertanian, Peternakan, Industri Kecil, Pekerjaan Tangan, Koperasi / Tabungan, dan Keprigelan lain-lain. F.. Perkembangan Komponen Kurikulum pada Awal Kemerdekaan s.d. Masa Orde Lama. Dari struktur kurikulum 1947 dan 1964 terlihat perbandingan mata pelajaran yang diajarkan pada masa itu. Tiap mata pelajaran terdiri dari beberapa komponen kurikulum. Dari segi komponen, kurikulum paling tidak mengandung 6 komponen, yaitu tujuan, materi atau bahan, metode atau kegiatan belajar, sumber belajar yang terdiri dari alat, bahan, sumber; (alat) penilaian, dan alokasi waktu. Pada bagian ini akan dikemukakan tentang perkembangan komponen kurikulum dengan memilih mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam sebagai contoh dan perbandingan umum sajian komponen kurikulum dalam dokumen kurikulum. Perkembangan komponen kurikulum Dari segi komponen kurikulum, dikemukakan komponen-komponen kurikulum Kurikulum 1952 dan Kurikulum 1964. (Komponen Kurikulum 1947 tidak dikemukakan penulis dalam buku ini karena dokumen kurikulum yang diperoleh belum lengkap). Kurikulum 1952 Dari 6 komponen kurikulum seperti terlihat pada gambar di atas, Kurikulum 1952 berisi 2 komponen, yaitu bahan pengajaran (materi) dan apa yang dipentingkan dan peringatan, keindahan, dsb. (kegiatan belajar). Penyajian kurikulum ini dalam bentuk matriks yang terdiri dari 4 kolom. Berikut ini dikemukakan contoh dari Ilmu Hayat kelas IV SD dikemukakan berikut ini..
(13) Tabel 4.8 Bahan pengajaran mata pelajaran Ilmu Hayat kelas IV SD Kurikulum 1952 No.. Bahan pengajaran. 1a.. Biji. 1b.. Biji yang sedang tumbuh (kacang tanah, kedelai, jagung, dsb.). 2. Akar (bandingkanlah akar kacang tanah dengan akar jagung). Apakah yang dipentingkan Bagian 1a: 1. kulit ari (kulit tipis) 2. pusat biji (asal tumbuhtumbuhan 3. keping (belahan), gunanya 1 - 3 Bagian 1b: 1. akar 2. batang 3. daun, gunanya 1 - 3 Bangsa akar: 1. akar tunggang 2. akar serabut Bagian nomor 1 a. akar tunggang b. akar cabang c. akar rambut d. bulu akar e. tudung akar. Peringatan, keindahan, dsb. 1. Akar selalu menuju ke bawah, ke dalam tanah. 2. Batang selalu tegak ke luar di atas tanah. 3. Biji sedang tumbuh dapat mengangkat segumpal tanah, gunanya 1 – 3 (dengan tawakkal dan ketabahan hati tercapailah cita-cita. 4. Keping selalu susut dan hilang lenyap (ingatlah: manusia akan lenyap juga). 1. Biji berkeping dua: berakar tunggang. 2. Biji tunggal: berakar serabut 3. Bulu akar: pengisap makanan 4. Tudung akar: penjaga akar waktu menembus tanah. Tunjukkanlah: pembagian pekerjaan alam.. Bagian nomor 2 a. akar serabut b. – (tak ada) c. – (tak ada) d. bulu akar e. tudung akar. Kurikulum 1964 Dari 6 komponen kurikulum, Kurikulum 1964 berisi 4 komponen, yaitu Tujuan, Bidang / Bahagian (materi), Kegiatan / alat, dan Keterangan / Petunjuk bagi Guru yang mengarah ke kegiatan belajar. Penyajian kurikulum ini dalam bentuk matriks yang terdiri dari 4 kolom. Berikut ini dikemukakan contoh dari Ilmu Pengetahuan Alamiah (IPA) kelas IV SD..
(14) Tabel 4.9 Bahan Pengajaran Mata Pelajaran IPA Kelas IV Kurikulum 1964 Tujuan Lihat tujuan pada kelas III. Bidang / Bahagian Sekolah: (Lihat petunjuk kelas III dan diperluas. Peristiwaperistiwa alam: hujan, sungai, banjir, angin, musim hijan / kemarau. Kegiatan / Alat Lihat petunjuk kelas III. Diperluas dan diperdalam dengan pengertian: Apa, Mengapa, dan Bagaimana. Mempergunakan alat-alat pembantu: - Kartu-kartu catatan atau buku-buku - Pengukur hujan, termometer, barometer - Higrometer - Himpunan batu-batuan; contoh tanah - Gambar-gambar anatomi dan model-model - Zat-zat penghilangan hama (disinfeksi) - Gambar-gambar bakteri, dsb. - Contoh-contoh makanan berasal dari tanam-tanaman - Model matahari, bulan, bumi (dibuat dari kawat, kayu, bola, dsb.) - Gambar-gambar dan peta - Model-model, perkakas, dan mesin-mesin 1. Mempergunakan peristiwaperistiwa alam itu untuk keperluan manusia. 2. Turut berusaha mengatasi kesulitan yang ditimbulkan oleh peristiwa atau bencana alam. Membuat herbarium. Pemeliharaan aquarium. Pemeliharaan terrarium. Mempelajari anatomi sederhana badan manusia.. Keterangan / Petunjuk bagi Guru Untuk menjelaskan dan melengkapkan pengertian sebaiknya mempergunakan alat peraga dengan seefisien-efisiennya. (Kalau alat peraga tidak ada, dibuat bersama dengan anak-anak dalam waktuwaktu lain). Seandainya alat peraga tidak dapat dibuat oleh anak-anak dan guru, mintalah bantuan atau penerangan dari Balai Pendidikan Keperagaan dan Pengetahuan Alam. Kalau alat peraga tidak dapat diciptakan, anak diberi tugas untuk mengamati dan mencatat / menggambar hasil tanggapannya tentang sesuatu benda dalam segala hubungannya. Misalnya: bulan terang pada malam hari, cuaca baik, bintang-bintang di langit waktu malam hendaklah berdiri di tempat yang lapang sehingga terlihat cakrawala.. Ini dibicarakan bila akibat peristiwaperistiwa itu terasa di tempat itu. Peristiwa-peristiwa tersebut akan dibicarakan lebih mendalam di kelas V. a.. Guru memberi penerangan tentang guna herbarium, aquarium, dan terrarium. b. Kegiatan-kegiatan ini hanya merupakan tambahan kegiatan pertanian, peternakan, perikanan, dsb.. Kurikulum SD pada Masa Pemerintahan Orde Baru Pemerintahan Orde Baru mengoreksi pemerintahan Orde Lama. Orde Baru bertekad melaksanakan Undang-Undang Dasar 1945 secara murni dan konsekuen. Karena itu, disusunlah kurikulum 1968 berdasarkan Pancasila, seperti yang terkandung dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. (Departemen P dan K, Kurikulum Sekolah Dasar, Jakarta: 1968). Dengan demikian, Kurikulum 1968 disusun pada awal. Orde Baru.
(15) untuk mengoreksi penyimpangan tujuan Kurikulum 1964 di masa Orde Lama.. dan. dasar. pendidikan. pada. A. Landasan Hukum Perubahan/Pengembangan Kurikulum Tabel 5.1 Kurikulum 1968. 1975. Landasan Hukum Pengembangan Kurikulum pada Awal Masa Orde Baru. Pancasila & UUD 1945 Pancasila dan UUD 1945. Pancasila dan UUD 1945. TAP MPR & GBHN. UU. Tap MPRS No. XXVII/1966 tentang tujuan dan isi pendidikan nasional.. Peraturan Pemerintah. Keputusan Menteri Kurikulum harus memberikan kemungkinan perkembangan maksimal terhadap cipta, rasa, karsa, dan karya anak yang sedang berkembang menjadi manusia yang bermental-moral-budi pekerti luhur dan kuat keyakinan agamanya, yang tinggi kecerdasan dan terampil dalam pembangunan dan yang memiliki fisik yang sehat dan kuat, sebagai manusia Pancasila. Terbit tanpa keputusan Menteri tapi hanya dengan kata pengantar resmi Direktur Jenderal Pendidikan Dasar. Keputusan Mendikbud (Sjarif Thajeb) No. 008C/U/1975 tentang Pembakuan Kurikulum Sekolah Dasar. TAP MPR tahun 1973: Dasar dan arah pembangunan di bidang pendidikan GBHN 1973: Pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia.. 1984. Pancasila dan UUD 1945. Tap MPR No. IV/MPR/1978 tentang GBHN (Agama dan Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Sosial-budaya: Dasar & tujuan pendidikan nasional. Unsur dalam GBHN 1983 tentang Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa dalam rangka Pendidikan Pancasila. UndangUndang No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Keputuran Mendikbud No. 026/U/1985 tentang Pelaksanaan GBPP Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.
(16) 1994. Pancasila dan UUD 1945 1945: Mencerdaskan Kehidupan bangsa Mengusahakan & menyelenggaraka n satu sistem pengajaran nasional. TAP MPR No. II/MPR/1993 yang berisi tujuan pendidikan nasional. UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional: Tujuan pendidikan nasional (Pasal 4) Fungsi pendidikan nasional Hak warga negara memperoleh pendidikan (Pasal 3, 5, 6). Tanggung jawab penyelenggaraa n pendidikan: keluarga, masyarakat, pemerintah (Penjelasan). Isi kurikulum pendidikan dasar tentang bahan kajian dan pelajaran (Pasal 39 & Penjelasan). PP No. 28 Tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar: Tujuan pendidikan dasar: bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk mengembangkan kehidupan & mempersiapkan siswa untuk mengikuti pendidikan menengah. Jabaran tujuan SD: (Pasal 14). Keputusan Mendikbud (Fuad Hassan) No. 060/U/1993 tentang Kurikulum Pendidikan Dasar. Kurikulum SD 1968 terdiri dari 4 unsur pokok, yaitu dasar, tujuan, dan asasasas pelaksanaan pendidikan nasional Pancasila di sekolah dasar; struktur program atau kerangka kurikulum sekolah dasar; bahan pendidikan atau GBPP; serta pedoman evaluasi atau pengisian dan penggunaan buku rapor murid sekolah dasar. Dasar, tujuan, dan asas pendidikan nasional Pancasila di sekolah dasar meliputi prinsip-prinsip berikut ini. Pertama, prinsip umum pelaksanaan pendidikan nasional Pancasila yang meliputi 3 hal, yaitu prinsip integritas, kontinuitas, dan sinkronisasi. Kedua, landasaan idiil yang terdiri dari 3 ketentuan pokok, yaitu dasar pendidikan nasional adalah falsafah negara Pancasila, tujuan pendidikan nasional adalah membentuk manusia Pancasila sejati, dan isi pendidikan nasional terdiri dari 3 hal, yaitu mempertinggi mental budi pekerti dan memperkuat keyakinan agama, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan serta membina / memperkembangkan fisik yang kuat dan sehat. Ketiga, prinsip umum pembinaan kurikulum meliputi 3 hal, yaitu kriteria pemilihan bahan atau isi kurikulum, prinsip-prinsip didaktik-metodik, dan sistem evaluasi yang meliputi prinsip-prinsip evaluasi yang bersifat menyeluruh, kontinu, dan objektif. Adapun yang menjadi objek penilaian adalah program, proses dan hasil, serta fungsi penilaian. Keempat, prinsip-prinsip pendidikan sekolah dasar mencakup 2 hal, yaitu tujuan pendidikan sekolah dasar dan garis-garis besar kurikulum sekolah dasar yang dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok pembinaan jiwa Pancasila,.
(17) kelompok pembinaan pengetahuan dasar dan kelompok pembinaan kecakapan khusus. Kelima, asas-asas didaktik-metodik sekolah dasar yang uraiannya sama dengan yang tercantum di dalam rencana pendidikan tahun 1964. Selama periode Repelita I sampai IV, sistem pendidikan nasional masih didasarkan pada dua undang-undang yang belum mencerminkan adanya kesatuan sistem pendidikan nasional. Masih berlakunya Undang-Undang No. 4 Tahun 1950 yo Undang-Undang No. 12 Tahun 1954 dan UndangUndang No. 22 Tahun 1961 sering dipandang sebagai suatu kendala yang cukup mendasar bagi pembangunan pendidikan yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Undang-undang itu tidak mencerminkan landasan kesatuan sistem pendidikan nasional karena didasarkan pada Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Serikat juga tidak sebagaimana diamanatkan UUD 1945.(Sumber: 50 Tahun Perkembangan Pendidikan Indonesia, Jakarta: Depdikbud, 1996). TAP MPR tahun 1973: Pembangunan di bidang pendidikan didasarkan atas Falsafah Negara Pancasila dan diarahkan untuk membentuk manusia pembangunan yang ber-Pancasila dan untuk membentuk Manusia Indonesia yang sehat jasmani dan rohaninya, memiliki pengetahuan dan keterampilan, dapat mengembangkan kreativitas dan tanggung jawab, dapat menyuburkan sikap demokrasi dan penuh tenggang rasa, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai budi pekerti yang luhur, mencintai bangsanya dan mencintai sesama manusia sesuai dengan ketentuan yang termaktub dalam UUD 1945. Tap MPR No. IV/MPR/1978 tentang GBHN (Agama dan Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Sosial-budaya): Dasar & tujuan pendidikan nasional. Ditegaskan bahwa “Pendidikan nasional berdasarkan atas Pancasila dan bertujuan untuk: meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional: Tujuan pendidikan nasional (Pasal 4) Fungsi pendidikan nasional: mengembangkan kemampuan, meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia..
(18) Hak warga negara memperoleh pendidikan (Pasal 3, 5, 6). Tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan: keluarga, masyarakat, pemerintah (Penjelasan). Isi kurikulum pendidikan dasar tentang bahan kajian dan pelajaran (Pasal 39 & Penjelasan) PP No. 28 Tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar: Tujuan pendidikan dasar: memberikan bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk mengembangkan kehidupan dan mempersiapkan siswa untuk mengikuti pendidikan menengah. Jabaran tujuan SD: Memberikan bekal kemampuan dasar “Baca-Tulis-Hitung”, pengetahuan dan keterampilan dasar yang bermanfaat bagi siswa sesuai tingkat perkembangan dan mempersiapkan mengikuti pendidikan di sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP). Isi kurikulum pendidikan dasar tentang bahan kajian dan pelajaran (Pasal 14) Pendidikan dasar (basic education) Berdasarkan Undang-Undang Pendidikan tahun 1950 yunto Tahun 1954, pendidikan dasar dimaksudkan hanya mencakup sekolah dasar. Sejak diterbitkan Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan dasar adalah pendidikan umum yang lamanya sembilan tahun, yang diselenggarakan enam tahun di sekolah dasar dan tiga tahun di sekolah lanjutan tingkat pertama atau satuan pendidikan yang sederajat. Tujuan pendidikan dasar adalah untuk memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara dan umat manusia, serta mempersiapkan peserta didik mengikuti pendidikan menengah. Bentuk satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan program 6 tahun terdiri atas sekolah dasar (umum) dan sekolah dasar luar biasa. Bentuk satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan program 3 tahun sesudah program 6 tahun terdiri atas sekolah lanjutan tingkat pertama dan sekolah lanjutan tingkat pertama luar biasa. Selain itu, terdapat pula bentuk satuan pendidikan dasar yang berciri khas agama Islam yang diselenggarakan oleh Departemen Agama, yakni Madrasah Ibtidaiyah setingkat sekolah dasar dan Madrasah Tsanawiyah setingkat sekolah lanjutan tingkat pertama. Berdasarkan PP No. 28 / 1990, pendidikan dasar mempunyai ciri-ciri yang berbeda dengan pendidikan dasar berdasarkan UU yang berlaku sebelumnya. Ciri-ciri tersebut dikemukakan berikut ini. 1) Pendidikan dasar merupakan pendidikan umum, yaitu pendidikan minimal yang berlaku untuk semua warga negara tanpa kecuali..
(19) 2) Pendidikan dasar berlangsung 9 tahun yang meliputi 6 tahun di SD dan 3 tahun di SMP atau yang sederajat. Ini tidak berarti bahwa SD dan SMP menjadi bentuk satu atap melainkan tetap terpisah meskipun keduanya merupakan pendidikan dasar. 3) Pendidikan dasar tidak bersifat seragam, dan tidak berarti bahwa semua peserta didik mendapatkan materi kurikulum yang sama seluruhnya secara seragam, melainkan dimungkinkan adanya perbedaan di luar materi muatan nasional sebanyak 20% dari seluruh bidang kajian di SD dan SMP. 4) Pendidikan dasar diselenggarakan melalui jalur sekolah dan jalur luar sekolah pada berbagai jenis dan bentuk satuan pendidikan. 5) Lulusan pendidikan dasar adalah setara baik untuk jalur sekolah maupun luar sekolah beserta wahananya yang pada dasarnya sama dan diakui sederajat sehingga perserta didik memiliki keleluasaan gerak untuk memanfaatkan semua rumpun dan wahana dan bila perlu dapat berpindah dari wahana satu ke wahana lainnya dengan mendapatkan perlakuan yang sama. (Sumber: 50 Tahun Perkembangan Pendidikan Indonesia, Jakarta: Depdikbud, 1996). B. Dasar Pengambilan Keputusan Kurikulum pada Masa Orde Baru Tabel 5.2 NO.. Dasar Pengambilan Keputusan pada Kurikulum pada Masa Orde Baru. Dasar keputusan tentang kurikulum Alasan pedagogis yang sahih Bukti (evidensi) terbaik yang tersedia. Kurikulum 1968 # Dominan pengaruh politik # Lebih dipengaruhi kepentingan politis. 3.. Konteks tujuan pendidikan yang umum. V Manusia Pancasilais sejati dan cerdas (Tap MPRS No. XXVII/1966). 4.. Konteks keputusan sebelumnya & kebutuhan keputusan tambahan Paduan kekuatan pelajar, proses belajar, tuntutan masyarakat & mata pelajaran. V. 6.. Kerja sama orang yang terlibat & orang yang paling terkena dampak keputusan. 7.. Fakta baru kehidupan seperti perkembangan ilmu, rasa persatuan & keanekaragaman Perbedaan individual siswa. 1. 2.. 5.. 8. 9.. Pandangan realistis pengorganisasian: desain kurikulum, pengalaman siswa, pengaturan waktu. Kurikulum 1975. Kurikulum 1984. Kurikulum 1994. V. V. V. V Berdasar uji coba inovasi, terutama di sekolah lab 8 IKIP yang sedang berjalan. V Berdasar uji coba inovasi Proyek CBSA & supervisi SD yang sedang berjalan. V Manusia pembangunan (Tap MPRS 1973 dan kemudian dimasukkan Tap MPR 1978 P4) V. V Manusia pembangunan Pancasilais (Tap MPR No. IV/MPR/1978 GBHN & UU SPN) V. V Berdasar hasil inovasi Proyek CBSA & supervisi SD, hasil penelitian & perbandingan kurikulum negara lain V Manusia Pancasila sbg manusia pembangunan yang bermutu tinggi (UU No. 2 Tahun 1989 SPN) V. V Tuntutan penggabungan mata pelajaran. V. V Tuntutan belajar aktif & pendekatan komunikatif bahasa. # Dilibatkan pejabat pendidikan di lapangan & unitunit departemen lain yang relevan # Pengaruh konsep Nasakom. V Dilibatkan intansi pemerintah yang relevan & guru di lapangan. V Tuntutan memasukkan PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) & keterampilan proses V Dilibatkan orang lapangan yang merintis inovasi. V Tuntutan kembali kepada Pancasila & UUD 1945. V Tuntutan belajar aktif. V Tuntuan hasil inovasi belajar aktif. V Pengantar bahasa daerah & bahasa Indonesia V Mulai berbentuk bidang studi. # Pengantar hanya bahasa Indonesia. # Mulai masuk muatan lokal. # Muatan lokal makin bervariasi. V Diterapkan bidang studi. V GBPP: Ada contoh kegiatan belajar aktif. V GBPP: dominan kegiatan belajar aktif. V Dilibatkan pakar dan praktisi lapangan yang relevan.
(20) 10.. 11.. Pandangan tentang cara komunikasi & diseminasi kurikulum Pengalaman siswa yang tidak dapat diperoleh dengan memuaskan di luar sekolah. X. V. V. V. V. V. V. V. C. Ciri-ciri Manusia pada Kurikulum pada Masa Orde Baru Kurikulum 1968 disusun pada awal Orde Baru untuk mengoreksi penyimpangan tujuan dan dasar pendidikan pada Kurikulum 1964 di masa Orde Lama.. Kurikulum 1968: Tujuan pendidikan nasional adalah: “membentuk manusia Pancasilais sejati berdasarkan ketentuan-ketentuan seperti yang dikehendaki oleh Pembukaan UUD 1945” (Tap MPRS No. XXVII/1966 Bab II Pasal 3). Untuk mencapai dasar dan tujuan pendidikan nasional, isi pendidikan adalah sebagai berikut: ● Mempertinggi mental-moral-budi pekerti dan memperkuat keyakinan agama ● Mempertinggi kecerdasan dan keterampilan ● Membina / memperkembangkan fisik yang kuat dan sehat (Tap MPRS No. XXVII/1966 Bab II Pasal 4). Prinsip pengembangan kurikulum sering pula disebut sebagai asas pengembangan kurikulum. Yang dimaksudkan dengan asas ini adalah prinsip pedagogis dan didaktik pembaharuan kurikulum yang dijadikan pedoman untuk memilih bahan dan kegiatan belajar, menentukan luas dan urutan bahan dan kegiatan, serta menyusun metodologi pengajaran. Kurikulum 1975: Tujuan pendidikan nasional adalah: ● membentuk manusia pembangunan yang ber-Pancasila, dan untuk ● membentuk manusia Indonesia yang sehat jasmani dan rohaninya, ● memiliki pengetahuan dan keterampilan, ● dapat mengembangkan kreativitas dan ● tanggung jawab, ● dapat menyuburkan sikap demokrasi dan penuh tenggang rasa, ● dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai ● budi pekerti yang luhur, ● mencintai bangsanya dan sesama manusia sesuai dengan ketentuan yang termaktub dalam UUD 1945 Tujuan umum pendidikan SD adalah agar lulusan: ● Memiliki sifat-sifat dasar sebagai warga negara yang baik;.
(21) ● ●. Sehat jasmani dan rohani; Memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap dasar yang diperlukan untuk: Melanjutkan pelajaran; Bekerja di masyarakat; Mengembangkan diri sesuai dengan azas pendidikan seumur hidup. (Sumber: Depdikbud, 1976. Kerangka Program dan Dasar Metodik Pendidikan Moral Pancasila dalam Rangka Kurikulum 1975). Kurikulum 1984 Tujuan pendidikan sekolah dasar mengacu kepada tujuan pendidikan nasional seperti digariskan dalam GBHN 1983, yaitu ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan dan keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air, agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. Berdasarkan acuan itu, tujuan pendidikan pada sekolah dasar diuraikan menjadi: Pertama, mendidik para murid untuk menjadi manusia pembangunan sebagai warga negara Indonesia yang berjiwa Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Kedua, memberikan bekal kemampuan yang diperlukan bagi murid yang akan melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Ketiga, memberikan pula bekal dasar untuk hidup di masyarakat dan mengembangkan diri sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, lingkungan, dan kebutuhan pembangunan. (Sumber: Kurikulum 1984 SD (Sekolah Jakarta: Pusatbangkurrandik, Depdikbud, 1984).. Dasar):. Landasan,. Program,. dan. Pengembangan,. Kurikulum 1994: Pendidikan dasar (SD dan SLTP atau sekolah lanjutan tingkat pertama) bertujuan memberikan bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara dan anggota umat manusia serta mempersiapkan siswa untuk mengikuti pendidikan menengah (Pasal 3 Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar). Pendidikan dasar yang diselenggarakan di sekolah dasar (SD) bertujuan memberikan bekal kemampuan dasar “Baca-Tulis-Hitung”, pengetahuan dan keterampilan dasar yang bermanfaat bagi siswa sesuai dengan tingkat perkembangannya serta mempersiapkan mereka untuk mengikuti pendidikan di SLTP. (Kurikulum Pendidikan Dasar: Landasan, Program, dan Pengembangan, Jakarta: Depdikbud, 1993). D. Perkembangan Struktur Program Kurikulum pada Masa Orde Baru.
(22) Kurikulum SD 1968 masih menggunakan 2 macam struktur program, yaitu program untuk sekolah-sekolah yang menggunakan pengantar bahasa daerah sampai kelas III dan program untuk sekolah yang menggunakan bahasa pengantar bahasa Indonesia mulai dari kelas I. Susunan program pengajaran berdasarkan Kurikulum 1968 dikemukakan berikut ini. 1) Program pengajaran tiap bidang studi diawali dengan tujuan-tujuan kurikuler bidang studi yang bersangkutan, didaktik-metodik bidang studi itu, termasuk kriteria pemilihan bahan- bahan yang akan diajarkan, kegiatan belajar-mengajar, dan alat-alat pelajaran yang digunakan; 2) Bahan tiap bidang studi dibagi menurut kelas; dan 3) Susunan bahan tiap kelas, yaitu tujuan-tujuan instruksional yang akan dicapai tiap kelas dengan jumlah berkisar antara 1 sampai 11 tujuan, tergantung dari banyaknya bahan atau kemampuan yang akan dicapai oleh kelas tertentu; dan kegiatan-kegiatan belajar-mengajar yang disarankan. (Sumber: 50 Tahun Perkembangan Pendidikan Indonesia, Jakarta: Depdikbud, 1996). Mulai tahun ajaran 1966 / 1967 diadakan perubahan sistem penilaian di dalam buku rapor atau buku laporan pendidikan. Dalam buku laporan yang baru terdapat 2 jenis nilai atau sekor, yaitu berupa huruf a, b, c, dan d untuk semua nilai kelas I dan II, dan berupa angka 10 s.d. 100 untuk kelas III sampai kelas VI. Selain itu, mulai tahun ajaran itu juga digunakan 3 macam nilai, yaitu nilai untuk prestasi, rara-rata kelas, dan usaha dalam mencapai prestasi. (Sumber: 50 Tahun Perkembangan Pendidikan Indonesia, Jakarta: Depdikbud, 1996). Tabel 5.3 Kerangka Kurikulum Sekolah Dasar (1968) (Bagi sekolah dasar yang menggunakan bahasa pengantar bahasa daerah sebagai bahasa pengantar) No. I. II. III. Kelompok / Segi Pendidikan Pembinaan Jiwa Pancasila: 1. Pendidikan Agama 2. Pendidikan Kewargaan Negara * 3. Pendidikan Bahasa Indonesia 4. Bahasa Daerah 5. Pendidikan Olahraga Pembinaan Pengetahuan Dasar: 1. Berhitung 2. Ilmu Pengetahuan Alam 3. Pendidikan Kesenian 4. Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Pembinaan Kecakapan Khusus: 1. Pendidikan Kejuruan ** Jumlah. Kelas III IV. I. II. 2 2. 2 2. 3 4. 8 2. 8 2. 7 2. Keterangan V. VI. 4 4. 4 4. 4 4. 6 2 3. 6 2 3. 6 2 3. 6 2 3. 7 2. 7 4. 6 4. 6 4. 6 4. 2 1. 2 1. 4 2. 4 2. 4 2. 4 2. 2 28. 2 28. 5 40. 5 40. 5 40. 5 40. Di kelas I dan II, 1 jam pelajaran = 30 menit. Di kelas III s.d. VI, 1 jam pelajaran = 40 menit..
(23) * Mencakup Ilmu Bumi, Sejarah Indonesia, dan Civics. ** Agraria (pertanian, peternakan, dan perikanan). Teknik (pekerjaan tangan, perbengkelan) Ketatalaksanaan / jasa (tabungan dan koperasi). Tabel 5.4 Kerangka Kurikulum Sekolah Dasar (1968) (Bagi sekolah dasar yang berbahasa pengantar bahasa Indonesia dari kelas I) No.. Kelompok / Segi Pendidikan. I. Pembinaan Jiwa Pancasila: 1. Pendidikan Agama 2. Pendidikan Kewargaan Negara * 3. Pendidikan Bahasa Indonesia 4. Pendidikan Olahraga Pembinaan Pengetahuan Dasar: 1. Berhitung 2. Ilmu Pengetahuan Alam 3. Pendidikan Kesenian 4. Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Pembinaan Kecakapan Khusus: 1. Pendidikan Kejuruan ** Jumlah. II. III. Kelas III IV. I. II. 2 2. 2 2. 3 4. 8 2. 8 2. 7 2. Keterangan V. VI. 4 4. 4 4. 4 4. 8 3. 8 3. 8 3. 8 3. 7 2. 7 4. 7 4. 7 4. 7 4. 2 1. 2 1. 4 2. 4 2. 4 2. 4 2. 2 28. 2 28. 5 40. 5 40. 5 41. 5 40. Di kelas I dan II, 1 jam pelajaran = 30 menit. Di kelas III s.d. VI, 1 jam pelajaran = 40 menit.. * Mencakup Ilmu Bumi, Sejarah Indonesia, dan Civics. ** Agraria (pertanian, peternakan, dan perikanan). Teknik (pekerjaan tangan, perbengkelan) Ketatalaksanaan / jasa (tabungan dan koperasi). Tabel 5.5 Struktur Program Kurikulum Sekolah Dasar 1975 No. Bidang Studi. 1 2 3 4 5 6 7 8 9. Agama Pendidikan Moral Pancasila Bahasa Indonesia Ilmu Pengetahuan Sosial Matematika Ilmu Pengetahuan Alam Olahraga dan Kesehatan Kesenian Keterampilan Khusus Jumlah. I 2 2 8 6 2 2 2 2 26. II 2 2 8 6 2 2 2 2 26. Kelas III IV 2 3 2 2 8 8 2 2 6 6 3 4 3 3 3 4 4 4 33 36. Keterangan V 3 2 8 2 6 4 3 4 4 36. VI 3 2 8 2 6 4 3 4 4 36. Di kelas I dan II, 1 jam pelajaran = 30 menit. Di kelas III s.d. VI, 1 jam pelajaran = 40 menit.. Catatan: 1.. Pendidikan Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan Kependudukan diintegrasikan ke dalam beberapa bidang studi yang relevan.. 2.. Bahasa daerah merupakan bagian bidang studi Bahasa Indonesia, khusus bagi sekolah-sekolah yang memerlukan bahasa daerah. Khusus bagi daerah yang memerlukan pendidikan bahasa daerah, disediakan waktu 2 jam pelajaran seminggu dari kelas I sampai dengan kelas VI..
(24) 3.. Di kelas I dan II, 1 jam pelajaran = 30 menit. Di kelas III ke atas, 1 jam pelajaran = 40 menit.. Tabel 5.6 Susunan Program Pengajaran Kurikulum Sekolah Dasar (1984 ) No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11. Bidang Studi Pendidikan Agama Pendidikan Moral Pancasila Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa 1) Bahasa Indonesia 2) Ilmu Pengetahuan Sosial Matematika Ilmu Pengetahuan Alam Olahraga dan Kesehatan Pendidikan Kesenian Keterampilan Khusus Bahasa Daerah 3) Jumlah. I 2 2. II 2 2. 1 8/7 6 2 2 2 2 (2) 26/ 27 (28). 1 8/7 6 2 2 2 2 (2) 26/ 27 (28). Kelas III IV 2 3 2 2 1 8/7 2 6 3 3 3 4 (2) 33/ 33 (35). 1 8/7 3 6 4 3 3 4 (2) 36/ 37 (38). Jumlah V 3 2. VI 3 2. 15 12. 1 8/7 3 6 4 3 3 4 (2) 36/ 37 (38). 1 8/7 3 6 4 3 3 4 (2) 36/ 37 (38). 6 48/42 11 36 19 16 16 20 (12) 193/ 199 (205). Catatan: 1) Diberikan setiap caturwulan III 2) Pada caturwulan I dan II diberikan 8 jam / minggu, caturwulan III diberikan 7 jam / minggu 3) Daerah / sekolahyang memberikan bidang studi Bahasa Daerah. Menurut UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, sebagai pendidikan umum, kurikulum pendidikan dasar wajib memuat sekurangkurangnya bidang-bidang kajian berikut: pendidikan Pancasila agama kewarganegaraan bahasa Indonesia membaca dan menulis matematika (termasuk berhitung) pengantar sains dan teknologi ilmu bumi sejarah nasional dan sejarah umum kerajinan tangan dan kesenian pendidikan jasmani dan kesehatan menggambar serta bahasa Inggris Bidang-bidang itu bukan nama mata pelajaran tetapi nama kajian untuk membentuk kepribadian dan unsur-unsur kemampuan yang diajarkan dan dikembangkan melalui pendidikan dasar. Lebih dari satu unsur kajian dapat digabung dalam satu mata pelajaran atau sebaliknya satu unsur kajian dapat dibagi ke dalam lebih dari satu mata pelajaran..
(25) Berdasarkan UU No. 2 / 1989 Pasal 39, selanjutnya diatur oleh Keputusan Mendikbud No. 060/U/1993, secara rinci kurikulum pendidikan dasar memuat 10 mata pelajaran: 1) Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 2) Pendidikan Agama 3) Bahasa Indonesia (termasuk membaca dan menulis) 4) Matematika (termasuk Berhitung) 5) Ilmu Pengetahuan Alam (pengantar sains dan teknologi) 6) Ilmu Pengetahuan Sosial (termasuk ilmu bumi, sejarah nasional dan sejarah umum) 7) Kerajinan Tangan dan Kesenian (termasuk menggambar) 8) Pendidikan Jasmani dan Kesehatan 9) Bahasa Inggris, dan 10) Muatan lokal (sejumlah mata pelajaran). (Sumber: 50 Tahun Perkembangan Pendidikan Indonesia, Jakarta: Depdikbud, 1996).. Dengan mengacu kepada Tap MPR No. IV/MPR/1978 tentang GBHN (Agama dan Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Sosial-budaya): Dasar & tujuan pendidikan nasional, UU No. 2 / 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan PP dan PP No. 28 Tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar serta hasil inovasi yang telah dilakukan, tersusunlah struktur program Kurikulum 1994 berikut ini. Tabel 5.7 Susunan Program Pengajaran Kurikulum Sekolah Dasar 1994 *) No . 1 2 3 4 5 6 7 8 9. Kelas IV. V. VI. 2. 2. 2. 2. 2 10 10 -. 2 10 10 3. 2 8 8 6. 2 8 8 6. 2 8 8 6. -. -. 3. 5. 5. 5. 2. 2. 2. 2. 2. 2. 2. 2. 2. 2. 2. 2. 2. 2. 4. 5. 7. 7. 30. 30. 38. 40. 42. 42. Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Pendidikan Agama Bahasa Indonesia Matematika Ilmu Pengetahuan Alam Ilmu Pengetahuan Sosial Kerajinan Tangan dan Kesenian Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Muatan Lokal (sejumlah mata pelajaran) Jumlah. I. II. III. 2. 2. 2 10 10 -.
(26) Keterangan: a. Lamanya 1 jam pelajaran 1) Kelas I dan II SD 1 jam pelajaran = 30 menit 2) Kelas III s.d. VI SD 1 jam pelajaran = 40 menit b. Jumlah jam pelajaran per minggu: 1) SD Kelas I dan II= 30 jam pelajaran 2) SD Kelas III = 38 jam pelajaran 3) SD Kelas IV = 40 jam pelajaran 4) SD Kelas V dan VI = 42 jam pelajaran c. Jumlah jam pelajaran dalam satu minggu adalah jam pelajaran minimum yang diselenggarakan secara klasikal. d. Jatah waktu pada tabel di atas dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan unsurunsur yang terkandung dalam setiap mata pelajaran. (Sumber: Kurikulum Pendidikan Dasar, Depdikbud, 1993) *) Tabel ini diambil dari Tabel Susunan Program Pengajaran Kurikulum 1994 Pendidikan Dasar (SD dan SLTP). E. Perkembangan Komponen Kurikulum pada Masa Orde Baru Kurikulum 1968: Dari 6 komponen kurikulum, Kurikulum 1968 berisi 4 komponen, yaitu alokasi waktu, tujuan, bahan (materi), dan kegiatan. Berikut ini dikemukakan contoh dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) kelas IV SD. KELAS IV: (4 jam) A. Tujuan: Memperdalam dan memperluas pengenalan serta mensistematisir pengamatan anak didik mengenai tumbuh-tumbuhan. B. Bahan: Tanaman-tanaman yang ada di lingkungan seperti: jagung, padi, kacang tanah, singkong (ubi kayu), ubi jalar, pohon pepaya, bawang, keladi, jeruk, mangga, dsb. Yang dipelajari ialah: kehidupan (tempat tumbuhnya), kebutuhan hidupnya, cara hidupnya, fungsi bagian-bagiannya, hubungannya dengan manusia, pemeliharaan, kegunaan dan pengolahannya bagi kehidupan manusia serta segi ekonominya. C. Kegiatan: 1. Karyawisata, mengadakan kunjungan ke luar kelas, ke tempat tumbuhnya tanam-tanaman, ke sawah, ladang, kebun, taman, hutan dekat sekolah, dll., untuk mengadakan observasi (pengamatan) dan penyelidikan. 2. Membaca buku-buku yang menuliskan tentang tanam-tanaman yang sedang dipelajari. 3. Membuat laporan (karangan) dari hasil pengamatan murid-murid disertai gambar-gambar atau ilustrasi. 4. Memelihara tanam-tanaman di sekolah, di rumah maupun di tempattempat lain. 5. Mengadakan koleksi daun-daunan, bunga-bungaan, tanam-tanaman, bijibijian, dsb. (membuat herbarium)..
(27) A. Tujuan: Mensistematisir pengamatan serta memperdalam dan memperluas pengenalan anak-anak didik tentang hewan dan kegunaannya bagi kehidupan manusia. B. Bahan: Ternak dan hewan yang ada di lingkungan sekolah yang banyak hubungannya dengan kehidupan masyarakat di daerah itu, seperti: ayam, kucing, lembu, kerbau, kuda, anjing, itik, merpati, burung-burung lain, babi, tikus, musang, tupai, monyet, harimau, ikan, dsb. Mempelajari kehidupan, lingkungan, gunanya / ruginya, pemeliharaan, pengolahan (kalau hewan itu diolah menjadi makanan manusia, misalnya ikan dan daging dalam kalenga) dan segi ekonominya bagi kehidupan manusia. C. Kegiatan: 1. Karyawisata, mengadakan kunjungan ke luar kelas ke tempat pemeliharaan ternak, kebun binatang, dll. untuk mengadakan observasi. 2. Menggunakan kepustakaan mengenai hewan yang sedang dipelajari. 3. Membuat laporan (karangan) tentang hasil pengamatan anak yang disertai dengan gambar-gambar atau ilustrasi. 4. Memelihara ternak: di sekolah baik diadakan pula kandang ayam, kelinci, dll., dan kolam ikan yang mudah dapat diusahakan. 5. Mengadakan koleksi (membuat aquarium dan terrarium). A.. Tujuan: 1. Mengembangkan daya berpikir kritis anak dan membiasakan anak- anak ingin menyelidiki. 2. Belajar mengeksploitir kekayaan alam dan mengatasi kejadiankejadian alam yang membahayakan / merugikan kehidupan manusia.. B.. Bahan: 1. Peristiwa-peristiwa alam: hujan, sungai banjir, angin, cuaca, musim hujan / kemarau. Mempelajari gunanya bagi kehidupan manusia serta penyesuaian dan usaha manusia untuk mengatasinya. 2. Perumahan yang baik disesuaikan dengan keadaan daerahnya.. C.. Kegiatan: 1. Mengamatialat pengukur hujan, barometer, arah angin dan termometer. 2. Mengadakan catatan-catatan, kesimpulan-kesimpulan, mencari masalahmasalah dan pemecahannya. 3. Menggunakan perpustakaan.. A. Tujuan: Belajar menjaga kesehatan badan, kebersihan badan, dan lingkungan hidup..
(28) B. Bahan: 1. Meneruskan bahan kelas III. 2. Membandingkan tubuh dan hidup binatang dengan manusia. 3. Hidup sehat: makanan, pakaian, perumahan, udara, beberapa jenis penyakit. 4. Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (PPPK). C. Kegiatan: 1. Meneruskan kegiatan-kegiatan pada kelas III. 2. Menggunakan kepustakaan. 3. Mengunjungi instansi-instansi kesehatan setempat. 4. Mengadakan diskusi dan membuat laporan (karangan) tentang hasil- hasil pengamatan anak-anak. Catatan: 1. Dalam melaksanakan kegiatan pada I, II, III, dan IV dapat diberi tugas kelompok (kelas dibagi dalam beberapa kelompok). 2. Dapat pula diminta bantuan dari orang-orang atau instansi setempat dalam memberikan penjelasan-penjelasan maupun fasilitas-fasilitas untuk kelancaran belajar anak-anak. 3. Pameran kelas / sekolah diadakan secara berkala. (Sumber: Kurikulum Sekolah Dasar 1968, Jakarta: Direktorat Pendidikan Prasekolah / Sekolah Dasar / SLB, Direktorat Jendral Pendidikan Dasar, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1968).. Kurikulum 1975: Dari 6 komponen kurikulum, Kurikulum 1975 berisi 4 komponen, yaitu tujuan (Tujuan Kurikuler, Tujuan Instruksional), materi (Pokok Bahasan & Subpokok Bahasan; Bahan Pengajaran), sumber belajar (Sumber bahan), dan alokasi waktu. Berikut ini dikemukakan contoh dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) kelas IV SD..
(29)
(30)
(31)
(32)
(33)
(34) Kurikulum 1984: Dari 6 komponen kurikulum, Kurikulum 1984 itu lengkap karena berisi 6 komponen, yaitu tujuan (Tujuan Kurikuler, Tujuan Instruksional), Bahan Pengajaran (Pokok Bahasan dan Uraian yang mengarah kepada petunjuk kegiatan belajar), alokasi waktu, metode, Sarana / Sumber, Penilaian, dan keterangan. Berikut ini dikemukakan contoh dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) kelas IV SD..
(35) IPA Kelas IV: Tabel 5.8 GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN BIDANG STUDI: ILMU PENGETAHUAN ALAM SEKOLAH: SEKOLAH DASAR (SD) KELAS: IV TUJUAN KURIKULER. TUJUAN INSTRUKSIONAL. (1). (2) 1. Melalui pengamatan, mengkomunikasikan hasil pengamatan dan menarik kesimpulan murid memahami dan dapat menerapkan sifat-sifat dan kegunaan air. BAHAN PENGAJARAN POKOK URAIAN BAHASAN (3) (4) 1.1 Air 1.1.1 SifatAir mempunyai sifat air sifat-sifat sebagai berikut: mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah permukaannya selalu mendatar bentuknya sesuai dengan wadahnya dapat meresap melalui celahcelah kecil dapat berubah ujud jika dipanaskan / didinginkan dapat melarutkan berbagai macam zat. 1.1.2 Kegunaan air. Setiap konsep dapat dikembangkan dengan cara melakukan percobaan, yang kemudian melalui pengolahan dan pembahasan hasilnya diambil kesimpulannya, juga dengan penerapan konsep itu sendiri. Air mempunyai kegunaan misalnya: untuk pengairan sebagai pembangkit tenaga listrik untuk pengangkutan Setiap kegunaan dapat dikembangkan melalui percobaan sederhana, pengamatan langsung atau mengamati demonstrasi yang dilakukan guru dan disertai dengan diskusi.. KLS (5) IV. PROGRAM JAM CAWU PEL (6) (7) 1 24. METODE. (8) Percobaan, widyaiswara, diskusi dan pemberian tugas.. SARANA/SUMBER. (9). PENILAIAN. KETERANGAN. (10). (11). Buku paket Kit IPA SD Lingkungan sekitar Buku lain yang sesuai. Tes tertulis Tes lisan. Buku paket Kit IPA SD Lingkungan sekitar Buku lain yang sesuai. Tes tertulis Tes lisan. Demonstrasi, widyaiswara, diskusi dan pemberian tugas. Percobaan, diskusi, pemberian tugas. Ceramah, diskusi dan pemberian tugas.. Percobaan, widyaiswara, diskusi. Widyaiswara, diskusi.
(36) Kurikulum 1994: Pada Kurikulum 1994 dikenal istilah Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) yang berisi pendahuluan (Pengantar dan Rambu-rambu) dan Program Pengajaran (tujuan dan butir-butir pembelajaran). Contoh rambu-rambu: 1. GBPP ini merupakan pedoman mengajar bagi guru yang mengandung tujuan yang harus dicapai siswa, bahan kajian yang telah dirumuskan dalam konsep- konsep, serta pembelajarannya. 2. Tujuan pelajaran menggambarkan hasil berlajar yang harus dimiliki siswa dan cara siswa memperoleh hasil belajar tersebut. Hasil belajar meliputi pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai. 3. Urutan materi telah disesuaikan dengan sistematika keilmuan mata pelajaran IPA, tetapi apabila dalam pelaksanaannya dipandang perlu guru masih diperkenankan mengubah urutan tersebut asal masih berada dalam caturwulan yang sama. 4. Pembelajaran menggambarkan keluasan dan kedalaman bahan kajian, kemampuan siswa yang dikembangkan atau kegiatan siswa dalam proses belajar. Kegiatan siswa dalam pembelajaran merupakan saran untuk melaksanakan kegiatan belajar-mengajar. 5. Pengembangan dan penggunaan keterampilan proses harus dilaksanakan dengan tujuan untuk memahami konsep-konsep dan memecahkan masalah. 6. Program belajar-mengajar hendaknya memperhatikan hal-hal berikut ini. a. Belajar itu hendaknya bermakna b. Belajar itu hendaknya dimulai dari yang: - dekat ke yang jauh, - sudah diketahui ke yang belum diketahui, - konkret ke yang abstrak - mudah ke yang sukar, - sederhana ke yang rumit. c. Memperhatikan perbedaan perorangan dalam minat dan kemampuan. 7. Penanaman dan penerapan konsep hendaknya dilakukan dengan cara menyesuaikan dengan keadaan lingkungan dan kebutuhan daerah setempat. 8. Penilaian hasil belajar mencakup penilaian pemahaman konsep dan penguasaan keterampilan proses. Prinsip Pengembangan Kurikulum pada Masa Orde Baru Walaupun Kurikulum 1968 termasuk dalam kurikulum pada masa pemerintahan Orde Baru, namun prinsip dan pendekatan pengembangannya masih sama dengan kurikulum pada awal kemerdekaan s.d. masa Orde Lama. Kurikulum 1975 Kurikulum 1975 dikembangkan dengan menggunakan prinsip dan pendekatan pengembangan yang berbeda dari era sebelumnya..
(37) Kurikulum 1975 didahului oleh kondisi pembaharuan pendidikan dan kurikulum sekolah dasar selama pelaksanaan Repelita I tahun 1969 - 1974 berikut ini. 1. Usaha pembaharuan kurikulum dan metode mengajar yang dilaksanakan Proyek Pembaharuan Kurikulum dan Metode Mengajar (PKMM) yang meliputi mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah (Jawa dan Sunda), IPA, IPS, dan Pendidikan Kesenian. Proyek PKMM Jakarta yang menangani mata pelajaran Bahasa Indonesia berhasil menyusun satu seri buku pelajaran yang menggunakan metode struktural-analitissintetis (SAS), baik untuk pelajaran membaca (permulaan dan lanjutan) maupun untuk pelajaran bahasa. Seri buku ini dicetak secara massal setelah menunjukkan hasil yang cukup memuaskan dalam uji coba pada 50 SD di Jakarta. Proyek-proyek PKMM yang lain berhasil juga menyusun seri buku pelajaran lain untuk diujicoba tetapi tidak dicetak massal karena ada proyek Paket Buku SD yang menangani penulisan buku-buku yang bersangkutan, terutama buku pelajaran Matematika baru, IPA, dan IPS. 2. Sekolah Laboratorium IKIP Malang yang diikutsertakan dalam proyek ini mengadakan percobaan pembaharuan pendidikan SD untuk seluruh mata pelajaran. 3. Usaha penulisan dan pengadaan buku-buku pelajaran SD yang mulai dicetak massal, yaitu seri Bahasa Indonesia (hasil Proyek PKMM), Matematika, IPA, dan IPS (hasil Proyek Paket Buku SD). Langkah pembaharuan yang paling maju adalah diperkenalkannya Matematika Baru. Dengan digunakannya buku- buku pelajaran ini, de facto Kurikulum 1968 mulai ditinggalkan dan Kurikulum 1975 mulai dirintis. 4. Usaha identifikasi permasalahan pendidikan nasional melalui pengamatan lapangan yang dilakukan Proyek Penilaian Nasional Pendidikan (PPNP) sekitar tahun 1970-an, melalui seminar seperti yang dilakukan di Cipayung, Bogor. 5. Usaha mencari kerangka kerja dan mekanisme pembaharuan kurikulum melalui lokakarya, seperti yang diadakan Lembaga Pengembangan Kurikulum Badan Pengembangan Pendidikan (BPP) Agustus 1971 di Bandung. 6. Usaha identifikasi dan penyusunan tujuan kurikuler lembaga-lembaga pendidikan (SD, SLTP, SLTA) pada tahun 1971 / 1972 yang dilakukan sekelompok peserta latihan penggunaan pendekatan sistem (system approach) dalam perencanaan pendidikan. Latihan ini dilakukan BPP bersama American Institute for Research (AIR) yang disponsori Unesco. Latihan ini ternyata menjadi titik awal usaha menyusun kurikulum peralihan yang dikenal sebagai Kurikulum 1975 yang sebelumnya diujicoba pada sekolah-sekolah Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) di 8 IKIP, yaitu IKIP Padang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Malang, Surabaya, dan Ujung Pandang. 7. Pada sekolah-sekolah PPSP ini diperkenalkan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSP) yang berorientasi tujuan yang kemudian berkembang menjadi satuan pelajaran pada Kurikulum 1975..
(38) Semua usaha ini dimungkinkan karena ada biaya pembangunan dan bantuan luar negeri, dan bantuan Unesco. Prinsip-prinsip yang digunakan dalam mengembangkan Kurikulum 1975 dikemukakan berikut ini. 1. Prinsip fleksibilitas program: Penyelenggaraan pendidikan keterampilan di SD misalnya harus mengingat faktor-faktor ekosistem dan kemampuan menyediakan fasilitas bagi berlangsungnya program tersebut 2. Prinsip efisiensi dan efektivitas 3. Prinsip berorientasi pada tujuan 4. Prinsip kontinuitas 5. Prinsip pendidikan seumur hidup (Kurikulum Sekolah Dasar 1975: Garis-garis Besar Program Pengajaran, Buku I: Ketentuan-ketentuan Pokok, Jakarta: PN Balai Pustaka, 1976).. Prinsip berorientasi pada tujuan amat dipengaruhi model rasional Ralph Tyler yang telah digunakan dalam pengembangan kurikulum di Amerika Serikat. Pada tahun 1971 Depdikbud mengundang Ralph Tyler untuk memberikan saran-saran pada tahap awal pengembangan Kurikulum 1975, terutama tentang bagaimana mengidentifikasi kebutuhan tiap sektor kehidupan masyarakat yang penting dan bagaimana menterjemahkan dan menjabarkan kebutuhan itu dalam tujuan pendidikan dan kurikulum. Bertolak dari tujuan-tujuan itu, dikembangkan tujuantujuan lain yang lebih spesifik, materi, sistem instruksional, metode belajarmengajar, dan sistem evaluasi. Empat pertanyaan kunci dalam mendesain kurikulum menurut model teknologi Tyler adalah: 1. Apa tujuan-tujuan pendidikan yang harus dicapai sekolah? 2. Pengalaman apa yang dapat disediakan untuk mencapai tujuan-tujuan ini? 3. Bagaimana pengalaman belajar itu dipilih dan diorganisasi agar berguna untuk mencapai tujuan itu? 4. Bagaimana mengevaluasi efektivitas pengalaman belajar atau ketercapaian tujuan itu? (Tyler R W, 1949).
(39) Selanjutnya, proses mendesain kurikulum mengikuti langkah-langkah seperti tertera pada gambar berikut ini.. Gambar 5.1 Langkah-langkah Desain Kurikulum (Sumber: http://www.uni.edu/~bian/curri/day%20three%20curriculum.ppt). Proses desain kurikulum sampai kepada persiapan mengajar guru kemudian dirumuskan dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI) yang diujicoba pada 8 sekolah PPSP pada 8 IKIP. Selanjutnya, PPSI ini dirumuskan dalam bentuk satuan pelajaran yang diperkenalkan melalui Kurikulum 1975. Tujuan introduksi satuan pelajaran ini adalah agar sebelum mengajar guru hendaknya membuat persiapan mengajar. Seluruh model Tyler sampai PPSI ini tampaknya membawa dampak kecenderungan terlalu ditekankannya tujuan-tujuan instruksional yang berciri behavioristik yang kurang sesuai dengan kecenderungan pola pikir deduktif-logis dalam membentuk manusia Indonesia yang berjiwa Pancasila. Selain itu, pola pencapaian tujuan instruksional yang terlalu behavioristik cenderung melemahkan upaya penerapan model sekolah kerja dan pendekatan inkuiri yang menjadi harapan utama dalam pelaksanaan Kurikulum 1947, 1964, dan 1968. Kurikulum 1984 Prinsip dan pendekatan pengembangan Kurikulum 1984 berbeda dengan yang digunakan pada Kurikulum 1975. Prinsip-prinsip pengembangan Kurikulum 1984 dikemukakan berikut ini..
(40) 1. Pendekatan belajar lebih menekankan bagaimana anak belajar daripada apa yang dipelajari, tanpa mengabaikan ketuntasan belajar yang memperhatikan kecepatan belajar murid. Hal ini dapat dilaksanakan dengan kelompok. Dengan kelompok tersebut murid dapat belajar sambil berbuat agar mampu mengelola perolehannya. Pendekatan ini disebut keterampilan memproses perolehan. 2. Kegiatan penilaian terutama diarahkan kepada upaya menentukan seberapa jauh tujuan-tujuan, baik yang bersifat proses maupun hasil belajar yang diinginkan, telah terwujud. Penilaian dilakukan secara berkesinambungan dan menyeluruh dalam rangka memperoleh umpan balik secepat mungkin agar dapat meningkatkan kualitas belajar-mengajar dan ketuntasan belajar. 3. Pengembangan kurikulum sekolah dasar berpedoman pada: a. Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945: Kurikulum dikembangkan dengan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, serta berpedoman pada GBHN yang berlaku dalam rangka mewujudkan citacita pembangunan nasional pada umumnya dan tujuan pendidikan nasional pada khususnya. b. Relevansi: Kurikulum dikembangkan dengan mempertimbangkan baik tuntutan kebutuhan murid pada umumnya maupun tuntutan kebutuhan murid secara perorangan sesuai dengan minat, bakat dan kemampuannya, serta kebutuhan lingkungan pada khususnya. c. Pendekatan pengembangan: Pengembangan kurikulum dilakukan secara terus-menerus, sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kebijaksanaan pemerintah, dan hasil-hasil penilaian terhadap pelaksanaan dan hasil-hasil yang telah dicapai untuk mengadakan perbaikan dan pemantapan pengembangan lebih lanjut. d. Pendidikan seumur hidup: Kurikulum dikembangkan untuk membuka kemungkinan pelaksanaan pendidikan seumur hidup. e. Keluwesan: Kurikulum dikembangkan dengan mempertimbangkan keluwesan program dan pelaksanaannya. (Sumber: Kurikulum 1984 SD (Sekolah Dasar): Landasan, Pengembangan, Jakarta: Pusatbangkurrandik, Depdikbud, 1984).. Program,. dan. Pengembangan Kurikulum 1984 menggunakan pendekatan keterampilan proses (process skill approach), yang diperkenalkan Wynne Harlen, seorang ahli sains untuk sekolah dasar dari Inggris yang menjadi konsultan sains bagi Pusat Kurikulum dalam rangka kerja sama antara Pemerintah Inggris dan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang diwakili Pusat Kurikulum BP3K (Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan, kemudian disingkat menjadi Balitbang Dikbud). Konsultan yang menjadi koordinator adalah Hugh Hawes dari Institute of tfducation University of London, yang kemudian dilanjutkan oleh Roy Gardner. Kerja sama ini diawali dengan kegiatan sains untuk SD dan kemudian dirintis Proyek Supervisi bagi guru SD di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat yang dimulai pada tahun 1979. Proyek ini kemudian dinamakan Active Learning through Professional Support (ALPS) Project. Di Indonesia proyek ini dikenal sebagai Proyek CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). Selain itu, gagasan baru.
(41) supervisi guru melalui forum kerja sama guru melalui Kelompok Kerja Guru (KKG), kepala sekolah melalui Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS), Kelompok Kerja Penilik Sekolah (KKPS), dan Pusat Kegiatan Guru (PKG) secara resmi dimasukkan ke dalam pedoman pembinaan guru pada Kurikulum 1984. Keterampilan proses pada dasarnya adalah keterampilan ilmiah yang amat jelas dilatih dalam pelajaran IPA. Contoh keterampilan proses disajikan berikut ini. Dasar (basic): - Melakukan observasi (dengan pancaindera) - Membandingkan - Membuat klasifikasi - Mengukur dan menggunakan alat - Mengkomunikasikan - Membuat inferensi (kesimpulan sementara) - Membuat prediksi - Melakukan analisis - Membuat generalisasi - Melakukan evaluasi - Membuat hipotesis Terintegrasi (integrated): - Memecahkan masalah secara kreatif - Mengambil keputusan - Menyelidiki Karena pendekatan keterampilan proses dianut dalam pengembangan Kurikulum 1984, dirumuskan berbagai keterampilan proses dalam berbagai mata pelajaran. Berikut ini disajikan ilustrasi sejumlah keterampilan proses yang pada dasarnya dapat diterapkan pada berbagai mata pelajaran Kurikulum 1994 Hasil-hasil dari Proyek Supervisi bagi guru SD yang kemudian dikenal dengan sebutan populer “Proyek CBSA” yang dimulai di Cianjur pada tahun 1979 kemudian direplikasi di Kota Mataram di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kabupaten Maros di Sulawesi Selatan, Kota Binjai di Sumatera Utara, Kota Bandar Lampung di Lampung, Kabupaten Sidoarjo di Jawa Timur, dan Kabupaten Tanah Laut di Kalimantan Selatan. Selain itu, Pusat Kurikulum juga bekerja sama dengan beberapa daerah lain dalam upaya replikasi ini. Sejalan dengan itu, direktorat sekolah dasar pada Ditjen Dikdasmen melakukan diseminasi melalui penataran terpusat dan kantor-kantor wilayah Depdikbud melakukan penataran tingkat provinsi yang dilanjutkan ke tingkat kebupaten dan kecamatan. Di samping itu, ada juga inisiatif sejumlah perguruan swasta yang bekerja sama dengan Pusat Kurikulum dan daerah-daerah binaan replikasi untuk menerapkan cara belajar siswa aktif. Penerbit swasta juga ikut.
(42) mengupayakan introduksi atau integrasi pendekatan belajar aktif dalam buku pelajaran yang diterbitkan. Dasawarasa 1980-an adalah dasawarsa kegairahan mencoba dan menerapkan cara belajar siswa aktif. Proyek Supervisi atau CBSA itu secara resmi diakhiri pada tahun 1992 sejalan dengan keputusan ODA / DFID Pemerintah Inggris mengakhiri bantuan kepada proyek ini. Hasil-hasil pengembangan cara belajar siswa aktif dan supervisi guru ini dimasukkan ke dalam Kurikulum 1994 dan pedoman-pedomannya. Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum pada Kurikulum 1994 dikemukakan berikut ini. 1. Kegiatan belajar-mengajar dilaksanakan dengan sistem klasikal yang mengelompokkan anak dengan usia dan kemampuan rata-rata hampir sama menerima pelajaran dari seorang guru dalam mata pelajaran yang sama dalam waktu dan tempat yang sama. Bila diperlukan dapat dibentuk penglompokan sesuai dengan tujuan dan keperluan pengajaran. 2. Kegiatan belajar-mengajar pada dasarnya mengembangkan kemampuan psikis dan fisik serta kemampuan penyesuaian sosial siswa secara utuh. Dalam rangka mempersiapkan siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan menengah atau memasuki lapangan kerja, perlu diusahakan pengembangan sikap bertanggung jawab dalam belajar dan mengemukakan pendapat, serta kemandirian dalam mengambil keputusan. 3. Mengingat anekaragamnya mata pelajaran, cara penyajian pelajaran hendaknya memanfaatkan berbagai sarana penunjang seperti kepustakaan, alat peraga, lingkungan alam dan budaya, serta masyarakat dan narasumber. 4. Kegiatan belajar-mengajar sebagai pembelajaran tambahan dapat diberikan kepada siswa baik yang akan melanjutkan ke pendidikan menengah maupun yang akan memasuki lapangan kerja / masyarakat umum. Siswa dapat mengikuti satu atau beberapa mata pelajaran sebagai pelajaran tambahan di luar jam pelajaran pada susunan program pengajaran, dengan jatah waktu yang sesuai dengan keadaan. Kegiatan pembelajaran tambahan dapat berupa kegiatan perbaikan atau kegiatan pengayaan. (Sumber: Kurikulum Pendidikan Dasar: Landasan, Program, dan Pengembangan, Depdikbud, 1993).. Jika diamati secara teliti, dalam berbagai kurikulum (GBPP; Garis-garis Besar Program Pengajaran) mata pelajaran pendekatan belajar aktif menjadi warna yang menonjol. Dari segi penyajian isi kurikulum dalam GBPP, komponen kegiatan belajar amat ditekankan. Hal ini terlihat dari uraian tentang kegiatan belajar yang aktif yang merupakan porsi utama dan terbesar dalam keseluruhan GBPP. Khusus dalam kurikulum mata pelajaran Bahasa Indonesia dikembangkan dengan menggunakan pendekatan komunikatif (communicative approach) yang menekankan keterampilan berbahasa, mengganti pendekatan struktural (structural approach) yang menekankan tatabahasa dalam kurikulum-kurikulum sebelumnya (Kurikulum 1947 s.d. Kurikulum 1984). Penerapan pendekatan komunikatif dalam Bahasa Indonesia berdampak juga kepada pengembangan kurikulum Bahasa.
Dokumen terkait
Pada umumnya wadah pemeliharaannya adalah bak semen atau akuarium yang ukurannya tidak perlu besar yaitu cukup 1 x 2 m atau akuarium 100 x 40 x 50 cm, sedang wadah perkawinannya
VI.. Semenjak berdirinya RI sampai dengan era pasca-reformasi saat ini, kekuatan-kekuatan politik strategis selalu mengalami pergeseran-pergesaran posisi. Dialektika antara
Teknik aseptik juga diperlukan saat dilakukan pemindahan mikroba atau media dari satu tabung reaksi ke tabung reaksi lain dengan menggunakan
Pada hari ini R a b u tanggal Dua puluh enam bulan Agustus tahun Dua ribu lima belas, kami selaku Kelompok Kerja Badan Layanan Pengadaan (BLP) Pekerjaan Konstruksi
The conclusion is reached that developing small business consultancy/case studies around specific marketing problems develops newteaching materials, provides the forum for
Setelah melakukan evaluasi isian kualifikasi yang telah Saudara Upload untuk paket pekerjaan Jasa Konsultan Supervisi Revitalisasi Terminal Pinang Baris.. Dinas Perumahan
Seluruh pekerja anak, keluarga pekerja anak, pekerja dewasa kilang batu bata di Jalan Pelak Desa Sekip Kecamatan Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang dan masyarakat di sekitarnya
The revenue forecasts are based on our predictive esports market model, which incor- porates data from multiple sources: macroeconomic and census data, primary consumer research,