• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bagian ini secara garis besar menjelaskan secara teoritis tentang berbagai

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Bagian ini secara garis besar menjelaskan secara teoritis tentang berbagai"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

2. TEORI PERT, PRODUKTIVITAS, DAN STRUKTUR BAJA

2.1 PENDAHULUAN

Bagian ini secara garis besar menjelaskan secara teoritis tentang berbagai aspek dalam penelitian. Tujuannya adalah memperoleh ketentuan-ketentuan yang mendasari metodologi penelitian, analisis data, dan lain-lain. Pemikiran utama pemilihan teori-teori tersebut adalah mengetahui ketentuan PERT dikaitkan dengan perhitungan produktivitas dan penerapannya pada proyek struktur baja.

Beberapa buku dan jurnal menjadi sumber landasan teori. Aspek-aspek penelitian meliputi aspek metode PERT, produktivitas, dan struktur baja. Buku Methods in Construction Management” oleh James J. Adrian menjelaskan aspek metode PERT dan produktivitas, didukung oleh beberapa jurnal tentang penelitian penentuan produktivitas ditambah buku

Proyek Dari Konseptual Sampai oleh Iman Soeharto.. Buku Construction Network Scheduling” oleh James D. Stevens memberi penjelasan tambahan untuk metode PERT. Aspek struktur baja dijelaskan dalam buku Methods and Management” oleh S. W. Nunnally, “Erecting

Steel”

oleh Samuel P. dan

of

Structural

Steel Building Frames” oleh Willian G. Rapp.

Penjelasan landasan teori dilakukan keseluruhan untuk setiap aspeknya,

untuk membentuk pemahaman yang menyeluruh terhadap penelitian. Hal ini

untuk menentukan langkah-langkah yang ditetapkan dalam penelitian, parameter

yang dicari, pelaksanaan analisis data yang tepat, dan lain sebagainya.

(2)

2.2.1 Pendahuluan

Metode PERT adalah cara perencanaan proyek dengan janngan- jaringan pekerjaan yang dihubungkan dengan pertimbangan tertentu. Metode ini seperti halnya CPM

(

Critical Path Method

)

memerlukan beberapa parameter, salah satunya durasi aktivitas. Penentuan durasi aktivitas pada CPM mengacu pada durasi pasti

),

artinya cukup melakukan estimasi satu durasi aktivitas.

Karakteristik proyek menyebabkan durasi aktivitas menjadi hal yang tidak pasti, karena durasi aktivitas dipengaruhi oleh bermacam-macam kondisi yang bervariasi. Metode PERT memberi asumsi pada durasi aktivitas sebagai hal yang probabitistik ( ) dikarenakan aktivitas konstruksi bervariasi.

2.2.2 Langkah-langkah Metode PERT

Garis besar metode PERT dan CPM hampir sama dalam pengelolaan jaringannya. Perbedaannya terdapat pada penentuan durasi aktivitas dan durasi jalur kritis. Garis besar metode PERT adalah sebagai berikut :

a. Penentuan aktivitas

beserta durasinya. PERT menggunakan tiga asumsi durasi aktivitas, yakni to

(

optimistic time

),

tp

(

pesiniislic time

),

dan tm

(

most prohuhle

time )

b. Korelasi waktu dengan serta menentukan expected time

(

te

),

standar deviasi (se

),

dan varian

(

ve

).

c. Expected time

( te )

ditentukan sebagai durasi aktivitas, kemudian dicari jalur

kritis seperti halnya pada CPM.

(3)

9

d. Tentukan durasi proyek dari jalur kritis tersebut ( Stevens, 1990, pp.142-143).

Hal-ha1 di atas memberi pemahaman mengenai PERT bahwa durasi aktivitas merupakan hal yang probabilistik. Asumsi PERT yang harus dilakukan adalah :

a. Masing-masing durasi aktivitas ditunjukkan sebagai

dengan durasi rata-rata, standar deviasi, dan varian yang dapat ditentukan.

b. Distribusi dari durasi jalur kritis dapat ditentukan dari durasi rata-rata, dan varian jalur kritis.

Penentuan to, tp, dan tm merupakan langkah awal dari PERT, karena tiga asumsi waktu ini menentukan te. Tiga durasi tersebut diasumsikan sebagai fungsi atau generalisasi dari distribusi Beta dengan variabel durasi aktivitas yang berarti durasi PERT merupakan tidak keluar dari daerah distribusinya. Fungsi distribusi Beta digunakan sebagai dasar untuk menentukan durasi te, standar deviasi ( se ), dan varian

(

ve

)

PERT sebagai berikut

:

(2.1)

(

2.2 )

(

2.3 )

Perumusan tersebut menunjukkan bahwa durasi aktivitas diasumsikan

sebagai yaitu distribusi Beta. Arti se dan ve

adalah sebagai indikator tingkat variabilitas te yang kita peroleh. Te adalah durasi

proyek yang diinginkan merupakan jumlah dari te jalur kritis. Ve merupakan

jumlah ve jalur kritis, demikian juga halnya Se, yang keduanya adalah gambaran

(4)

variabilitas dari Te. Perhitungan dimungkinkan adanya dua atau lebih jalur kritis, sehingga sebagai Te dipilih jalur kritis dengan Ve yang lebih besar.

2.2.3 Definisi Parameter PERT

Penentuan tiga durasi aktivitas ini menimbulkan berbagai macam- macam waktu, sehingga estimasi durasi aktivitas masing-masing perencana berbeda-beda karena perbedaan dalam menentukan to, tp, dan tm. Pengertian to, tp, dan tm menurut Adrian

(

1973, p.270

)

adalah

:

a. Durasi aktivitas pada CPM dapat dinyatakan sebagai durasi yang paling mungkin

(

tm

)

pada PERT. Durasi aktivitas sebenarnya akan menyimpang disekitar tm.

b. Durasi optimis

(

to

)

adalah durasi yang terjadi saat semua kondisi yang mempengaruhi pelaksanaan konstruksi berada pada keadaan optimal.

c. Durasi pesimis

(

tp

)

adalah durasi aktivitas yang dipengaruhi oleh keadaan yang menimbulkan masalah pada proyek.

Pengertian dari tiga durasi terebut masih tidak cukup untuk membantu perencana untuk menentukan to, tp, dan tm. Adrian

(

1973, p.270

)

memberi penjelasan bahwa

tm memiliki

pengaruh lebih besar pada

to

daripada tp.

Pengaruh ini diketahui dari selisih yang ada antara tp dan to. Selisih cukup

banyak antara tp dan to dapat diasumsikan bahwa te yang diperoleh memiliki

tingkat variabilitas yang tinggi daripada selisih tp dan to lebih kecil. Tingkat

variabilitas yang tinggi dari te menunjukkan tingkat ketidakpastian yang besar,

sehingga sedikit keyakinan terhadap te tersebut. Tingkat variabilitas ini diukur

(5)

1 1

oleh se dan ve. Nilai se dan ve berbanding lurus dengan selisih antara tp dan to, sehingga se dan ve akan besar jika selisih antara tp dan to juga besar.

Penjelasan di atas menyimpulkan bahwa penentuan tiga durasi aktivitas harus memperhatikan tingkat variabilitas yang sekecil mungkin sehingga te yang diperoleh memiliki tingkat keyakinan yang cukup besar.

2.2.4 Teori Probabilitas

Asumsi tiga durasi aktivitas pada PERT menggunakan analisis statistik untuk menentukan perumusannya. Asumsi awal bahwa durasi PERT merupakan fungsi distribusi normal dalam hal ini fungsi distribusi Beta, sehingga probabilitasnya juga demikian yang merupakan salah satu continous probability

Penelitian menggunakan data dari hasil penelitian lapangan. Data yang diperoleh tersebut terlebih dahulu dibentuk dalam data misalnya berupa lengkung normal yang sesuai dengan teori PERT, bahwa semua durasi tidak terlepas dan pola distribution sehingga penentuan setiap durasi tidak sembarang.

Fungsi distribusi Beta

simetris

pada nilai rata-ratanya. Hal ini merupakan asumsi PERT mengenai durasi aktivitas sebagai variabel acak yang mendekati distribusi normal

(

Adrian, 1973, p. 174

).

Penentuan probabilitas durasi aktivitas menggunakan limit theorem, yakni suatu teori matematis yang menggabungkan aktivitas PERT dengan salah satu continous

dalam hal ini distribusi Beta, untuk menentukan probabilitas durasi

pada jalur kritis

(

Stevens, 1990, p.

142 ).

(6)

menyatakan bahwa jika ukuran sampel besar, distribusinya mendekati normal, meskipun distribusi populasi awalnya bukan normal. Hal ini berarti walaupun distribusi populasi adalah continous, diskret,

simetris, maupun menetapkan selama varian

populasi terhingga, distribusi sampel mendekati normal, jika ukuran sampel cukup besar

(

Bhattacaryya dan Johnson, 1977, p.2

14 ).

Asumsi PERT dianggap cukup konsisten dengan theorem karena durasi aktivitas dianggap membentuk distribusi normal dengan anggapan bahwa durasi aktivitas adalah variabel acak, dengan populasi terhingga pada eksperimen tertentu.

2.2.5 Langkah Analisis Data

Penelitian di lapangan dilakukan pada setiap jenis pekerjaan pelaksanaan. Hasil penelitian lapangan berupa waktu pelaksanaan. Waktu pelaksanaan menjadi sumber untuk pengolahan data selanjutnya. Pengolahan data menggunakan metode statistik deskriptif, yaitu analisis statistik yang bertujuan untuk menyimpulkan dan penjabaran aspek-aspek penting dari data. Pencatatan waktu dari hasil penelitian dilanjutkan dengan metode PERT.

Perhitungan produktivitas juga membutuhkan data berat elemen struktur yang diperoleh dari perhitungan kontraktor sesuai dengan lampiran 2.

Produktivitas merupakan rasio antara berat

-

jam untuk setiap tenaga kerja

(

ton

/

jam

/

orang

).

2.2.5.1 Statistik.

Data penelitian berupa durasi aktivitas pelaksanaan masing-

masing elemen struktur. Pengolahan dilakukan secara statistik deskriptif

(7)

dengan bantuan program SPSS 9.0 untuk memperoleh beberapa parameter yakni :

a. Standar deviasi ( sd ), untuk menentukan to dan tp dengan probabilitas tertentu.

b. Nilai rata-rata

(

mean

)

adalah durasi aktivitas rata-rata yang terjadi sebenarnya

c. Skewness merupakan indikator distribusi normal pada data. Nilai skewness terdiri dari dua, yaitu

:

1.

Statistic of Skewness adalah nilai yang menunjukkan kesimetrisan distribusi normal. Nilai 0 menyatakan distribusi normal simetris.

Nilai positif berarti grafik distribusi memiliki “ekor” panjang ke kanan, dan sebaliknya negatif memiliki “ekor” panjang ke kiri. Nilai skewness lebih besar dari 1 menyatakan distribusi data memiliki perbedaan dengan distribusi normal ditinjau dari kesimetrisannya.

2. Standar error of skewness merupakan nilai uji kenormalan suatu

distribusi data. Nilai antara -2 sampai 2 menyatakan bahwa data tersebut diasumsikan berdistribusi normal.

Metode PERT diawali dengan menentukan durasi to, tp, dan tm. Nilai to dan tp berdasarkan teori PERT terletak di sekitar waktu rata- rata (tr). Probabilitas to dan tp dalam hal ini diasumsikan antara 90%

sampai 95% dengan persamaan

:

to=tr-z.sd

( 2.4

)

tp=tr+z.sd ( 2.5 )

(8)

Nilai z diperoleh dari tabel distribusi normal

(

dapat dilihat pada lampiran 3

)

dengan probabilitas yang telah ditentukan. Nilai tm merupakan nilai yang dicari kemudian dikorelasikan terhadap te dengan kata lain te diketahui lebih dulu daripada tm. Persamaan probabilitas normal adalah

:

tr-te

se

Nilai tr adalah waktu rata-rata yang dapat diasumsikan sebagai waktu rata-rata sebenarnya yang diperoleh dari hasil penelitian di lapangan. Nilai sd diketahui dari analisis statistik deskriptif. Nilai z diperoleh dari tabel distribusi normal dengan probabilitas tertentu. Nilai te dapat ditentukan dengan persamaan 2.6 karena ketiga parameter lainnya telah diketahui.

Persamaan untuk menentukan te dalam metode PERT adalah sesuai dengan persamaan 2. 1. Nilai tp,to, dan te telah diperoleh sehingga dengan menggunakan persamaan tersebut nilai tm dapat di tentukan.

Langkah awal metode PERT yakni penentuan nilai to, tm, dan tp telah dicapai.

Nilai se dan ve menggambarkan variabilitas te yang diperoleh.

Nilai se dan ve yang kecil menandakan suatu variabilitas yang kecil

sehingga tingkat keyakinan te lebih tinggi dari nilai se dan ve yang lebih

besar. Nilai probabilitas yang digunakan sebagai acuan adalah probabilitas

dengan nilai se dan ve yang terkecil karena dapat dianggap sebagai suatu

probabilitas dengan tingkat keyakinan yang cukup tinggi.

(9)

15

2.2.6 Kelemahan Metode PERT

Metode PERT berdasarkan pada beberapa asumsi. Asumsi tersebut meliputi estimasi tiga durasi aktivitas, distribusi waktu beserta probabilitasnya, dan penggunaan perumusan berdasarkan statistik. Pendekatan yang digunakan terutama yang berkaitan dengan perumusan matematika memiliki beberapa kesalahan.

Adrian

(

1973, p.277-278

)

menguraikan beberapa hal yang menjadi keleinahan metode PERT. Kelemahan ini menjadi perhatian para kontraktor, yang terletak pada kelemahan asumsi dan kesalahan penerapan

teori

probabilitas yang meliputi

:

a. Kesulitan menentukan tiga durasi aktivitas meskipun pengertian mengenai to, tp, dan tm sudah cukup banyak untuk membantu perencana. Pengertian to, tp, dan tm menjadi sangat relatif karena masing-masing perencana dapat memiliki pengertian dan asumsi tersendiri untuk ketiga asumsi durasi aktivitas tersebut.

b. Penggunaan fungsi distribusi Beta pada durasi aktivitas tidak tepat, karena tidak semua distribusi durasi aktivitas bersifat distribusi Beta.

c. Perumusan te, se, dan ve adalah perumusan pendekatan dari distribusi Beta.

Perumusan sebenarnya sangat rumit secara matematika, dan akan terjadi kemungkinan penyimpangan yang besar dari nilai-nilai tersebut terhadap perumusan sebenarnya.

d. Kondisi tertentu pada permodelan PERT melanggar central limit theorem yang

mengatakan bahwa distribusi populasi akan mendekati normal. Hal ini berarti

masing-masing probabilitas variabel acak, dalam hal ini durasi aktivitas, harus

independen, dan penjumlahannya memperoleh suatu probabilitas normal yang

(10)

memiliki nilai rata-rata dan standar deviasi sama. PERT melanggar ketentuan ini karena pada distribusi yang sama nilai standar deviasi berbeda jika estimasi to, dan tp berubah.

Kelemahan ini tentunya merupakan suatu penyimpangan dari teori probabilitas. Perencana dapat mengatasinya dengan Iebih mempertimbangkan aspek praktis dalam pemilihan metode PERT. Pengalaman dibutuhkan untuk memperoleh durasi aktivitas dengan kondisi teknis dan non-teknis tertentu.

Estimasi terbaik tentunya diperoleh oleh perencana atau kontraktor yang mampu menelaah hal-hal tersebut.

Permodelan PERT merupakan salah satu langkah untuk mempermudah perencanaan proyek serta mengatasi parameter yang bersifat probabilistik di dalamnya. Aplikasi PERT yang membantu untuk kondisi ini memiliki kemudahan dan kesulitan, namun penggunaannya tetap dapat dilakukan.

Kelemahan yang ada pada permodelan PERT tidak mengurangi keberadaannya sebagai metode untuk menangani parameter probabilistik.

2.3 PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA

Faktor tenaga kerja pada proses konstruksi tidak berdiri sendiri namun

memiliki kaitan dengan faktor lain seperti modal, peralatan, material, dan

lingkungan. Variabel yang mempengaruhi dalam estimasi jumlah atau

produktivitas tenaga kerja juga sangat kompleks. Hal ini perlu mendapat perhatian

dari pihak kontraktor.

(11)

17

2.3.1 Pengertian Produktivitas dan Produktivitas Tenaga Kerja

Proses perencanaan a k v i t a s melibatkan faktor-faktot utama, yakni, tenaga kerja, material, peralatan, modal, dan lingkungan, yang merupakan masukan pada garis besar model produksi aktivitas. Faktor waktu yang menjadi pertimbangan tambahan pada permodelan tersebut menghasilkan parameter baru yakni produktivitas. Penjelasan di atas memberi definisi bagi produktivitas sebagai jumlah banyaknya suatu produksi yang dihasilkan dalam periode waktu tertentu ( Adrian, 1973, p. 156 ).

Activity Production

Process

Activity

Gambar 2. I Sistem Produktivitas Aktivitas ( Adrian, 1973 )

Aktivitas konstruksi menggunakan sumber daya dengan jumlah tertentu. Jumlah tenaga kerja, ketersediaan anggaran, material, dan waktu, merupakan beberapa masukkan

( input )

aktivitas konstruksi yang diharapkan mewujudkan tujuan aktivitas proyek. Definisi produktivitas tenaga kerja adalah perbandingan antara masukkan dan hasil ( output

),

yaitu selesainya proyek sesuai keinginan dengan penggunaan sumber daya manusia secara efektif dan efisien per satuan waktu

(

Setyanto, Kaming, dan Wikantyasningsih, 1997, p.59

).

Produktivitas tenaga kerja dipengaruhi oleh faktor positif dan negatif.

Faktor positif adalah faktor penyebab tenaga kerja mampu mencapai atau bahkan

(12)

melampaui tingkat produktivitas. Faktor negatif adalah faktor yang menyebabkan tenaga kerja tidak bisa mencapai tingkat produktivitasnya. Kemampuan tenaga kerja dalam mengendalikan faktor-faktor tersebut adalah tingkat produktivitas tenaga kerja ( Maloney, 1983, p.321 ).

Pengertian lain adalah perbandingan efisiensi antara keadaan sebenarnya dan normal.

mendefinisikan produktivitas tenaga kerja sebagai pengukuran relatif efisiensi tenaga kerja, apakah bagus atau buruk, jika dibandingkan dengan suatu acuan atau standar yang telah ditetapkan ( Allmon et al. 2000, p.97 ).

Definisi di atas yang beragam memberi gambaran mengenai kesulitan perencana untuk menentukan tingkat produktivitas. Hal ini juga menyebabkan banyaknya satuan produktivitas tenaga kerja. Masing-masing perencana harus mampu memutuskan pengaruh produktivitas tersebut, apakah terhadap waktu, jumlah tenaga kerja, kapasitas kerja, atau biaya.

Penelitian ini menentukan tingkat produktivitas berdasarkan durasi aktivitas dan kuantitas pekerjaan. Perbandingan dilakukan dengan suatu durasi standar, yakni durasi penjadwalan. Definisi produktivitas berdasarkan Adrian dan Allmon, et.al menjadi dasar dalam penelitian ini.

2.3.2 Karakteristik Produktivitas Tenaga Kerja

Faktor tenaga kerja adalah komponen yang selalu terkait dengan proses

konstruksi berlangsung dengan metode dan peralatan apapun. Keterkaitan antara

tenaga kerja, peralatan, material, modal, dan lingkungan menjadi pertimbangan

(13)

19

dalam aktivitas produksi konstruksi, sehingga interaksi masing-masing komponen juga menentukan tingkat produktivitas dari aktivitas konstruksi.

Produktivitas tenaga kerja pada industri konstruksi berbeda dengan industri manufaktur karena memiliki karakteristik yang unik dan memerlukan perhatian khusus dalam perencanaan aktivitas. Karakteristik ini juga mempengaruhi produktivitas tenaga kerja Adrian

(

1973, p.167

)

memberi penjelasan mengenai karakteristik produktivitas pada industri konstruksi, dan dijabarkan sebagai berikut

:

a. Produktivitas tenaga kerja pada pekerjaan konstruksi dipengaruhi oleh kondisi lingkungan kerja yang sulit untuk diprediksi dan dikendalikan oleh kontraktor.

Hal ini menyebabkan ketidakpastian produktivitas tenaga kerja.

b. Variasi produksi konstruksi meliputi bangunan tinggal, perumahan, jembatan, jalan raya, saluran irigasi dan lain-lain. Masing-masing tipe bangunan tersebut menggunaan material dan peralatan yang berbeda-beda sehingga masing- masing proyek membutuhkan keahlian tenaga kerja dan metode yang tidak sama. Hal ini menggambarkan bahwa produk konstruksi sangat kompIeks dan mempengaruhi produktivitas kerja khususnya pada tenaga kerja

c. Produk industri konstruksi memiliki daya tahan sangat lama berbeda dengan industri barang konsumsi, sehingga dibutuhkan orang-jam kerja dengan aktivitas kerja yang sangat tinggi dari tenaga kerja yang menjadi suatu keterbatasan untuk mencapai produktivitas tinggi.

Karakteristik berikutnya adalah aspek manajemen proyek terutama

bagaimana pengaturan kelompok kerja, komposisi, dan pengawasannya. Soeharto

( 1997, pp. 164-166

)

menguraikan hal-hal sebagai berikut

:

(14)

a. Penyeliaan, yakni hal-hal yang berhubungan dengan pengelolaan tenaga kerja, pengawasan pelaksanaan, penjabaran, perencanaan, dan pengendalian, serta koordinasi dengan rekan penyelia lain yang terkait. Penyelia diharuskan memiliki kemampuan yang baik mengenai hal-hal tersebut selain pengalaman, sehingga dengan demikian kualitas penyelia berpengaruh pada produktivitas, bukan hanya tenaga kerja tetapi secara menyeluruh.

b. Komposisi kelompok kerja berkaitan dengan praktek di lapangan mencakup perbandingan jam-orang penyelia dan pekerjaan yang dipimpinnya, dan perbandingan jam-orang untuk disiplin kerja dalam kelompok kerja. Hal-ha1 di atas akan menunjukkan indikasi bagaimana komposisi yang tepat sehingga mampu menyelesaikan pekerjaan secara optimal. Misalnya untuk bangunan yang tidak terlalu kompleks perbandingan jumlah j am-orang penyelia dan pekerjaan adaIah 1

:

10-15, secara prinsip jam-orang yang berlebihan akan menaikkan biaya, sedangkan bila kurang akan menurunkan produktivitas.

c. Kerja lembur akan menaikkan jam-orang sehingga ada indikasi penurunan produktivitas.

d. Besar proyek juga mempengaruhi produktivitas tenaga kerja, yakni makin

besar

proyek tersebut, produktivitas makin berkurang.

e. pekerjaan langsung versus subkontraktor merupakan perbandingan antara

kontraktor merekrut langsung pekerjaan dan kontraktor menyerahkan paket kerja

pada subkontraktor. Paket kerja yang diberikan oleh kontraktor dilaksanakan

dengan produktivitas yang lebih tinggi daripada pekerjaan langsung karena

tenaga kerja subkontraktor lebih terbiasa dalam pekerjaan yang relatif terbatas

(15)

21

lingkup dan jenisnya, serta hubungan antara pekerja dan penyelia yang sudah sangat baik.

Karakteristik seperti yang telah disebutkan di atas menjelaskan mengapa tingkat produktivitas, khususnya produktivitas tenaga kerja mengalami peningkatan yang kecil tiap tahunnya. Penyebabnya karena banyaknya faktor yang berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap pelaksanaan proyek.

2.3.3 Tujuan Produktivitas Tenaga Kerja

Rekayasawan teknik sipil perlu mengetahui produktivitas tenaga kerja yang umumnya pada tahap perencanaan. Tahap ini merencanakan segala aspek teknis dan non-teknis proyek. Tingkat produktivitas tenaga kerja bertujuan untuk mengetahui beberapa hal yang berkaitan dengan pelaksanaan proyek, dan akan diuraikan sebagai berikut :

Estimasi produktivitas bertujuan untuk memperoleh kombinasi terbaik sumber daya yang digunakan kontraktor untuk mengupayakan kuantitas dan kualitas kerja proyek ( Adrian, 1973, p. 155

).

Produktivitas tenaga kerja bertujuan untuk perencanaan tenaga kerja proyek yang realistis dan memperoleh total biaya proyek, minimal pada aspek tenaga kerja dan fasilitas yang diperlukan

(

Suharto, 1997, p. 162

).

Tingkat produktivitas tenaga kerja bertujuan untuk mengetahui

banyaknya tenaga kerja, biaya yang dibutuhkan, durasi aktivitas, dan kapasitas

produksi yang dapat dihasilkan.

(16)

2.3.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Tenaga Kerja

Tingkat produktivitas tenaga kerja merupakan hal yang unik, karena berkaitan dengan manusia dan lingkungan sekitarnya. Manusia memiliki keterbatasan berupa masalah fisik dan psikis yang secara langsung berpengaruh pada produktivitasnya.

Beberapa penelitian telah dilakukan untuk penentuan tingkat produktivitas yang dipengaruhi oleh faktor teknis proyek dan lingkungan. Berikut diuraikan beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat produktivitas tenaga kerja :

Faktor lingkungan berpengaruh langsung pada produktivitas.

Cuaca mengakibatkan terganggunya pelaksanaan proyek sehingga mempengaruhi produktivitas tenaga kerja. Kondisi lapangan pekerjaan menghambat pelaksanaan proyek dan mengurangi kapasitas kerja. Hal- hal tersebut berpengaruh langsung pada produktivitas tenaga kerja.

Penelitian oleh Thomas, Riley, dan Sanvido

(

1999, p.39

)

memperoleh kesimpulan bahwa produktivitas tenaga kerja berkurang sebanyak 4 1

%

pada cuaca bersalju dan 32% saat bekerja pada temperatur yang dingin.

Penelitian tersebut menggunakan proyek struktur baja sebagai obyek penelitian.

Manajemen konstruksi berpengaruh besar pada produktivitas

tenaga kerja dengan melihat aspeknya yang cukup luas. Manajemen

tersebut meliputi penyediaan perkakas, peralatan, material, dan langkah-

(17)

23

langkah yang harus dilakukan dalam pelaksanaan. Urutan pekerjaan yang sesuai dengan perencanaan merupakan fungsi lain dari manajemen yang dapat mempengaruhi produktivitas tenaga kerja

(

Maloney, 1983, p.32 1 ).

Manajemen proyek yang tidak tepat, terutama meliputi hal- hal yang telah disebutkan, mempengaruhi tingkat produktivitas kerja.

Perubahan konstruksi dapat dijadikan contoh. Penelitian oleh Thomas dan Napolitan ( 1995

)

menyatakan bahwa perubahan konstruksi saat pelaksanaan berpengaruh tidak langsung kepada produktivitas tenaga kerja. Dikatakan berpengaruh tidak langsung karena pengaruh yang terjadi terlebih dahulu terhadap aspek lainnya pada pelaksanaan proyek.

Penelitian yang sama menyatakan bahwa pengaruh tersebut berupa

:

a. Urutan pekerjaan berubah sehingga membutuhkan perencanaan dan

pengorganisasian ulang.

b. Berpengaruh pada pengadaan material serta sistematika peralatan.

Penelitian tersebut juga menyimpulkan terjadi kehilangan efisiensi sekitar 30% akibat gangguan dari perubahan konstruksi.

Thomas

(

2000

)

menambahkan bahwa perubahan urutan

pekerjaan menyebabkan gangguan kepada aliran kerja yang sudah

direncanakan. Hal ini menyebabkan kemungkinan terjadinya percepatan

pekerjaan yang mengakibatkan peningkatan kapasitas pekerjaan tertentu,

sehingga terjadi penurunan tingkat produktivitas tenaga kerja.

(18)

2.3.5 Penentuan Produktivitas Tenaga Kerja

Penentuan tingkat produktivitas tenaga kerja merupakan fungsi respon Hal ini tidak mudah dilakukan karena manusia manusia terhadap pekerjaan.

dipengaruhi banyak faktor dalam melakukan pekerjaannya.

Proses estimasi produktivitas tenaga kerja oleh kontraktor di hadapkan pada kompleksitas proses kerja konstruksi, sehingga diharuskan untuk memutuskan seberapa detail analisis yang hendak dilakukan. Analisis yang terlalu detail terbukti tidak cocok karena faktor waktu yang terlalu lama dan kemungkinan biaya yang cukup mahal sehingga kontraktor harus mampu untuk menangani variasi yang terkait pada produktivitas tenaga kerja (Adrian, 1973, p.168 ).

Langkah sederhana yang dilakukan kontraktor dalam memperkirakan produktivitas tenaga kerja adalah dengan produktitas rata-rata ( average productivity

).

Catatan produktivitas merupakan acuan produktivitas rata-rata yang diperoleh dari sumber-sumber penelitian, grafik produktivitas kontraktor dari proyek terdahulu, atau catatan produktivitas dari proyek terdahulu. Catatan ini berguna untuk memperkirakan produktivitas pada proyek selanjutnya meskipun jenis proyek tersebut tidak persis sama, karena catatan produktivitas proyek terdahulu menunjukkan karakteristik produktivitas proyek dari kontraktor yang bersangkutan, dan bukan merupakan gambaran tingkat kapasitas industri konstruksi secara keseluruhan ( Adrian, 1973, pp. 169-170 ).

Estimasi produktivitas lain misalnya menggunakan beberapa parameter

seperti unit rate, relative weight, dan conversion factor yang berfungsi untuk

mengatasi variasi dari pelaksanaan proyek struktur baja dengan cara equivalensi

(19)

25

masing-masing jenis pekerjaan ke satu macam pekerjaan. Nilai-nilai ini diperoleh melalui penelitian oleh Thomas, Riley, dan Sanvido

(

1999 ) serta penerapannya pada proyek struktur baja. Unit rate adalah banyaknya unit pekerjaan yang selesai tiap satuan waktu, relative weight adalah berat relatif jenis pekerjaan, dan conversion factor adalah faktor konversi jumlah elemen dengan acuan elemen

tertentu. Penelitian ini menghasilkan produktivitas harian, kumulatif, serta kuantitas pekerjaan.

Penentuan bilangan indeks ( index number ) sebagai parameter pengukuran produktivitas dari suatu lokasi, sehingga jika kontraktor dari negara lain dapat melakukan konversi tingkat produktivitas dari negara asal ke kondisi negara di mana proyek dilakukan

(

Soeharto, 1997, p.162

).

Perumusan indeks produktivitas adalah :

Jumlah jam - orang yang sebenarnya digunakan untuk Jumlah jam - orang yang diperlukan untuk menyelesaikan

pekerjaan identik pada kondisi standar menyelesaikan pekerjaan tertentu Indeks Produktivitas

=

Indeks produktivitas bertujuan untuk menentukan produktivitas sebagai fungsi dari kondisi yang tidak tentu, seperti, pengaruh cuaca, tundaan, dan lain- lain. Misalnya produktivitas kelompok kerja untuk pekerjaan pengecoran beton adalah 100 cu yd setiap jam. Kondisi lingkungan menyebabkan produktivitas berkurang dengan indeks 0.9, sehingga pekerjaan tersebut hanya memiliki produktivitas 90 cu yd setiap jam

(

Adrian, 1973, p. 199-200

).

Langkah-langkah analisis produktivitas yang telah diuraikan di atas

dipengaruhi variasi kondisi dan pekerjaan, sehingga penetapan bilangan indeks,

(20)

unit rate, conversion factors, dan lain-lain adalah upaya untuk mengendalikan variasi tersebut.

Kontraktor sering kali melakukan estimasi produktivitas rata-rata berdasarkan pengetahuan dan pengalaman. Langkah-langkah analisis misalnya dengan permodelan dan statistik probabilistik membantu ketepatan estimasi tersebut, sehingga selain pengalaman kontraktor, metode lainnya dapat dijadikan alternatif lain untuk memperoleh tingkat produktivitas tenaga kerja.

2.4 STRUKTUR BAJA

Proses konstruksi struktur baja secara garis besar dibagi menjadi tiga komponen penting yakni perencanaan; fabrikasi dan persiapan elemen struktur di lapangan; dan pelaksanaan pembangunan ( Nunnally, 1998, p.405 ). Masing- masing tahapan memiliki tujuan tertentu untuk kelangsungan proyek.

Perencanaan bertujuan untuk menentukan misalnya, langkah kerja, jadwal kerja, dan alokasi sumber daya. Fabrikasi membentuk material baja agar sesuai dengan spesifikasi strukturnya serta penyesuaiannya dengan alat-alat yang digunakan.

Perencanaan proses kerja lapangan menentukan misalnya metode konstruksi, pengaturan pekerja, pemilihan peralatan, dan antisipasi terhadap kondisi lingkungan.

Prosedur pelaksanaan menggunakan tiga kelompok kerja, yang masing-

masing melaksanakan proses konstruksi secara berurutan. Raising crew bertugas

mengangkat elemen struktur pada tempatnya dan melakukan penyambungan

sementara. Elemen struktur kemudian diatur kesesuaiannya oleh fitting crew,

(21)

27

dilanjutkan dengan pengencangan baut oleh fastening crew untuk memperoleh spesifikasi yang diinginkan ( Nunnally, 1998, p.4 I 2 ).

Waktu kerja telah terjadual sedemikian rupa, namun perlu dipertimbangkan keterbatasan akibat adanya kondisi kerja yang dapat menghambat pekerjaan

(

Oppenheimer, 1960, p. 157

).

Kondisi ini misalnya cuaca yang buruk, pengadaan material, faktor manusia, dan lain-lain harus diperhatikan dalam perencanaan. Proses perencanaan juga membutuhkan pertimbangan pengaruh peralatan dan prosedur kerja pada elemen struktur guna mencegah kerusakan struktur saat pelaksanaan.

Pelaksanaan struktur baja membutuhkan sumber daya manusia.

Pembahasan dipusatkan pada tenaga kerja di lapangan dan pembagian tugasnya sehingga mampu melaksanakan pekerjaan dengan baik. Pengaturan proses pelaksanaan struktur baja dijabarkan oleh Oppenheimer

(

1960, pp. 167-177 ) sebagai berikut

:

a. Raising crew dalam memulai proses kerja diharuskan sudah dilengkapi dengan peralatan, serta mengerti mengenai penggunaan peralatan tersebut. Kelompok kerja juga mampu untuk mengupayakan pekerjaan sementara atau mengelola peralatan dengan benar. Pekerjaan pendahuluan harus dilakukan yakni pemeriksaan elemen struktur, ketepatan pengaturan alat, serta pemeriksaan kondisi lapangan untuk kelangsungan proses kerja. Kesalahan yang diketahui kemudian setelah seluruh alat, kelompok kerja, dan material tersedia di lapangan menjadi mahal untuk diperbaiki.

b. Proses persiapan untuk sambungan elemen baja hams selesai terlebih dahulu.

Perencanaan sambungan meliputi ukuran lubang dan pemilihan jenis

(22)

sambungan harus sudah ditentukan. Pemilihan alat-alat perlengkapan pendukung diatur di lapangan untuk kemudahan pekerjaan. Pekerjaan persiapan lainnya harus dilengkapi, sehingga mencegah penundaan saat proses pelaksanaan dilakukan.

c. Proses persiapan elemen struktur merupakan tahap yang harus diselesaikan sebelum proses pelaksanaan dimulai. Proses ini meliputi pemindahan elemen dari workshop ke proyek, baik langsung dari truk ke lapangan, ataupun dari truk dikumpulkan dulu di daerah tersendiri di wilayah proyek, kemudian dipindahkan ke lapangan. Pelaksanaan proses persiapan material harus dilaksanakan dengan hati-hati untuk mencegah kerusakan material, sehingga metode dan peralatan harus ditentukan setepat mungkin.

d. Pengarahan proses pelaksanaan dipimpin oleh seorang pengawas yang berwenang penuh pada pekerjaan di lapangan. Pengawas bertanggungjawab untuk melakukan pekerjaan sesuai dengan perencanaan, alokasi pekerja, mengawasi proses pemasangan elemen struktur pada tempatnya, penyambungan, pengawasan pada peralatan, material, dan proses persiapan material di lapangan. Pengawas harus memiliki kemampuan untuk menangani pekerja, selain berpengalaman dalam pelaksanaan proyek dalam kondisi lingkungan yang bermacam-macam. Pengawas juga mampu untuk mengelola sumber daya dalam pelaksanaan proyek.

e. Pelaksanaan proses pelaksanaan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut

:

1 . Penggunaan alat angkat harus memperhatikan pengikatannya dengan Hal ini memiliki tujuan utama untuk meletakkan material

(

hooking

).

elemen baja pada tempatnya.

(23)

29

2. Elemen baja saat proses pengangkatan harus mencapi tempat yang ditentukan, sehingga perlu koordinasi masing-masing pekerja. Koordinasi ini diatur oleh seorang pengawas yang memberi tanda di mana suatu elemen struktur dipasang dan ketepatannya sehingga memudahkan saat proses penyambungan.

3. Pekerjaan penyambungan memerlukan orang-orang yang berpengalaman.

Pengawas mengarahkan posisi dalam penyambungan dan harus mampu memandu saat proses pengangkatan. Mereka juga mampu mengetahui metode kerja pengangkatan supaya elemen struktur mudah untuk diatur ketepatannya untuk penyambungan.

4. Elemen struktur sebelum dipasang permanen pada tempatnya harus disokong dengan cara tertentu hingga cukup kuat saat proses pekerjaan dilaksanakan. Pekerjaan ini membutuhkan presisi dari masing-masing elemen untuk mempermudah ketepatan.

5. Pengencangan sambungan dilakukan setelah seluruh elemen dipasang pada tempatnya, tata letak struktur telah sesuai, dan penyambungan sementara telah terpasang. Alat-alat dipilih untuk kemudahan, kecepatan, dan ketepatan pekerjaan. Pelaksanaan juga disesuaikan dengan jenis sambungan yang digunakan, apakah itu baut, las, atau paku keling. Masing-masing jenis sambungan memiliki cara dan spesifikasi kelompok kerja tersendiri.

Penguraian di atas memberi gambaran mengenai pelaksanaan struktur

baja di lapangan. Aspek teknis dan non-teknis proyek perlu diperhatikan untuk

mendukung metode dan proses pelaksanaan.

Gambar

Gambar 2.  I  Sistem Produktivitas Aktivitas  (  Adrian,  1973  )

Referensi

Dokumen terkait

Program dan sub program Balitbangtan selanjutnya menjadi landasan sub kegiatan BPTP Jawa Tengah 2015-2019 , meliputi: (1) Program Inventarisasi dan Pengembangan

Masjid yang paling tua usianya yaitu masjid Syamsul Huda terletak di desa Lambangan Kulon. Masjid ini berdiri tahun 1930 luas tanah/ luas bangunan tidak di

Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang menujukkan faktor paling dominan dengan kasus difteri di Puskesmas Bangkalan tahun 2016, yaitu seorang anak yang

Pembagian tikus ke dalam perlakuan dilakukan dengan mengelompokkan tikus berdasarkan berat badan (BB), kemudian secara acak dikelompokkan kedalam masing-masing perlakuan

Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Seksi Perluasan Kesempatan Kerja sesuai dengan bidang tugasnya. FUNGSI

LOKASI KULIAH KERJA NYATA TEMATIK UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA SEMESTER GENAP TAHUN AKADEMIK 2015/2016.. LOKASI : KABUPATEN

Pada penelitian ini Lukman (2014) mengungkapkan bahwa jumlah publikasi peneliti Indonesia yang terindeks di Scopus periode tahun 2001-2014 sebanyak 29.269 publikasi, dengan jenis