• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembelajaran Matematika Sekolah Menggunakan Cooperative Learning

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Pembelajaran Matematika Sekolah Menggunakan Cooperative Learning"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

Pembelajaran Matematika Sekolah Menggunakan Cooperative Learning

Nabilah Dwi Dianti, Nadia Hanifah Sidik

Pendidikan Matematika, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMMKA [email protected] , [email protected]

ABSTRAK

Pembelajaran merupakan suatu aktivitas yang bertujuan. Tugas utama guru dalam melayani belajar peserta didik adalah membangkitkan sengat dan mental peserta didik agar terlibat aktif dalam kegiatan belajar di kelas. Keaktifan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran dapat dikondisikan oleh guru dengan berbagai pendekatan model belajar. Model pembelajaran cooperative learning meruapakan salah satu model pembelajaran yang tepat gunakan dalam pembelajaran dan memiliki karakteristik tesrsendiri serta berbeda dengan model pembelajaran lain. Melelui model pembelajaran cooperative learning peserta didik dapat berinteraksi langsung dengan sesama peserta didik melalui tindakan diskusi. Secara psikologis model pembelajaran cooperative learning dapat menstimulasi peserta didik baik dalam berpikir. Keunggulan model pembelajaran cooperative learning dapat meningkatkan semangat belajar peserta didik di kelas, model pembelajaran ini menekankan pada keaktifan peserta didik dan membangun aktifitas secara bersama pada mata pelajaran matematika, siswa akan mengalami kesulitan apabila dalam proses pembelajarannya dilakukan secara individu. Maka dari itu guru harus menggabungkannya dengan pendekatan cooperative learning, sehingga dapat membantu siswa dapat mengkomunikasikan suatu gagasan dari data hasil penginderaan/memeriksa secara akurat suatu objek atau kejadian, serta dapat mengubah data dalam bentuk tabel ke bentuk lainnya.

Keywords: Pembelajaran Cooperative Learning, Pembelajaran Matematika, Metode Cooperative Learning

A. Pendahuluan

Pembelajaran merupakan suatu interaksi pendidikan yang terjadi dengan sengaja dalam pencapaian tujuan tertentu. Dalam pencapaian tujuan tersebut tidak jarang terdapat kendala karena siswa yang kesulitan belajar. Siswa yang kesulitan belajar tentunya memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Perbedaan karakteristik siswa yang kesulitan belajar matematika tersebut menuntut guru mencari model pembelajaran yang lain yaitu model

(2)

pembelajaran cooperative learning, agar dalam proses belajar siswa dapat bekerja sama dalam menyelesaikan permasalahannya.

Cooperative learning berasal dari kata cooperative yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim.

Sistem cooperative learning bukanlah sesuatu hal yang baru. Sistem kooperatif dalam pembelajaran atau biasa dikenal dengan sebagai cooperative learning merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang didasarkan pada paham konstruktivisme dan merupakan strategi belajar dimana siswa belajar dalam kelompok kecil, saling membantu untuk memahami suatu pembelajaran, memeriksa, dan memperbaiki jawaban. Sistem cooperative learning merupakan sistem pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama siswa lainnya dalam tugas-tugas terstruktur. Implementasi cooperative learning akan membantu siswa bisa menyikapi keberagaman dan kerjasama sebagai etos akademik dalam menemukan dan mengungkapkan kejadian ilmiah, yaitu dari kebiasaan anak diberi tahu yang mengarah kepada memfasilitasi anak mencari tahu.

B. Macam-macam Metode Cooperative Learning

Pada sistem pembelajaran dalam pendidikan, terdapat berbagai metode pembelajaran.

Salah satunya adalah metode pembelajaran kooperatif atau cooperative learning. Dalam sistem cooperative learning, setelah guru menerangkan materi, siswa diminta untuk berdiskusi dengan membentuk kelompok-kelompok belajar yang terdiri dari 4 sampai 5 siswa untuk bekerjasama dalam menguasai materi yang diberikan oleh guru tersebut.

1. Pengertian Metode Cooperative Learning

Cooperative learning adalah pembelajaran yang secara sadar dan sengaja mengembangkan interaksi yang saling asuh antara siswa untuk menghindari ketersinggungan dan kesalahpahaman yang dapat menimbulkan permusuhan. Model pembelajaran ini akan mebekali kemandirian, kreatif serta keterlibatan lasing siswa dalam proses pembelajaran.

Menurut Lie, 2014, Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untukbekerja sama dengan sesame siswa dalam tugas-tugas yang terstuktur (Lie, 2004: 12)

(3)

Selain itu, terdapat definisi lain mengenai model pembelajaran Cooperative learning dan interactive learning adalah model pembelajaran yang terjadi sebagi akibat dari adanya pendekatan pembelajaran yang bersifat kelompok.

Slavin, 1995, Eggen & Kauchak, 1996, Suherman, 2001. Artzt & Newman (1990:448) menyatakan bahwa dalam belajar kooperatif siswa belajar bersama sebagai suatu tim dalam menyelesaikan tugas-tugas kelompok untuk mencapai tujuan bersama.

Menurut Johnson & Johnson, 1994, Kelompok belajar kooperatif adalah kelompok yang dibentuk dengan tujuan untuk memaksimalkan belajar antara siswa. Setiap anggota kelompok mempunyai tanggung jawab terhadap (a) kontribusi mereka dalam usaha mencapai tujuan dan (b) bantuan untuk anggota yang membutuhkan. (Johnson &

Johnson, 1994).

Belajar kooperatif mempunyai ide bahwa siswa bekerja sama untuk belajar dan bertanggung jawab pada kemajuan belajar temannya. Sebagai tambahan, belajar kooperatif menekankan pada tujuan dan kesuksesan kelompok, yang hanya dapat dicapai jika semua anggota kelompok mempelajari tujuan (penguasaan materi) yang akan dicapai (Slavin, 1995).

Johnson & Johnson (1994) menyatakan bahwa tujuan pokok belajar kooperatif adalah memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu maupun secara kelompok. Karena siswa bekerja dalam suatu tim, maka dengan sendirinya dapat memperbaiki hubungan di antara para siswa dari berbagai latar belakang etnis dan kemampuan, mengembangkan keterampilan- keterampilan proses kelompok dan pemecahan masalah (Louisell & Descamps, 1992).

Zamroni (2000) mengemukakan bahwa manfaat penerapan belajar kooperatif adalah dapat mengurangi kesenjangan pendidikan khususnya dalam wujud input pada level individual. Selain itu, belajar kooperatif dapat mengembangkan solidaritas sosial di kalangan siswa. Dengan belajar kooperatif, diharapkan kelak akan muncul generasi baru yang memiliki prestasi akademik yang cemerlang dan memiliki solidaritas sosial yang kuat.

Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang dirancang untuk membelajarkan kecakapan akademik (academic skill) sekaligus ketrampilan sosial (social skill) termasuk interpersonal skill (Yatim Riyanto, 2009: 270-271).

Pembelajaran Kooperatif adalah suatu system yang di dalamnya terdapat elemen- elemen yang saling terkait yakni saling ketergantungan positif, interaksi tatap muka,

(4)

akuntabilitas individual dan keterampilan untuk menjamin hubungan antar pribadi atau sosial yang sengaja diajarkan (Abdurrahman & Bintoro, 2000).

Di dalam Cooperative Learning terdapat 4 komponen penting seperti dinyatakan Garry D. Borich (1999: 426) “…how to organize your classroom for cooperative learning. There are four aspects in planning cooperative learning activity: teacher- student interaction, student-student interaction, task specialization and materials, role expectations and responsibilities”. (…bagaimana mengorganisasi kelas Cooperative Learning. Ada empat aspek dalam merancang cooperative learning yaitu interaksi guru dengan siswa, interaksi siswa dengan siswa, spesialisasi tujuan dan bahan, serta aturan permainan dan tanggung jawab).

Stephen N. Elliot, Thomas R. Kratochwill, Jean Littlefredl Cook, dan John F.

Travers (2000: 359) mengatakan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan metode pembelajaran yang mendesain siswa bekerja sama dalam menyelesaikan tugasnya.

Menurut Slavin, Abrani dan Chambers berpendapat bahwa belajar melalui kooperatif dapat dijelaskan dari beberapa prespektif, yaitu:

a. Prespektif motivasi, bahwa peghargaan yang diberikan kepada kelompok memungkinkan setiap anggota kelompok akan saling membantu.

b. Prespektif sosial, bahwa melalui kooperatif setiap siswa akan saling membantu dalam belajar karena mereka menginginkan semua anggota kelompok memperoleh keberhasilan.

c. Prespektif perkembangan kognitif, bahwa dengan adanya interaksi anggota kelompok dapat mengembangkan prestasi siswa untuk berpikir mengolah berbagai informasi.

d. Prespektif elaborasi kognitif, bahwa setiap siswa akan berusaha untuk memahami dan membina informasi untuk menambah pengetahuan kognitifnya.

2. Macam-macam Cooperative Learning

Model pembelajaran kooperatif dapat disajikan dengan menggunakan berbagai metode, seperti Team Game Turnament (TGT), Number Head Together (NHT), Student Teams Achievement Division (STAD), Team Assisted Individualization (TAI), Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC), Investigasi Kelompok (Group Investigation) , model Make A Match (Membuat pasangan) dan Jigsaw. Berikut akan di paparkan secara ringkas mengenai beberapa pendekatan pembelajaran kooperatif.

a. Model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Team Game Turnament)

(5)

Model pembelajaran kooperatif jenis ini mengadopsi pembelajaran mandiri siswa dengan saling bertanta antar kelompok secara bergantian. Tahap pembelajarannya adalah sebagai berikut:

Guru memberikan penjelasan umum tentang materi yang akan dipelajari. Siswa dikelompokan kedalam beberapa kelompok anggota 5-6 orang. Siswa mendiskusikan penjelasan guru serta materi yang diberikan, setelah selesai salah satu kelompok bertanya kepada kelompok yang ditunjuk terkait materi yang telah didiskusikan.

Apabila pertanyaan tidak dapat dijawab maka kelompok yang bersangkutan tidak mendapatkan nilai. Setelah itu setiap kelompok bergantian mengajukan pertanyaan kepada kelompok lain.guru mengevaluasi dan menyimpulkan pembelajaran.

b. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Division) Model pembelajaran ini pertama kali dikembangkan oleh slavin yang ide dasarnya adalah belajar kelompok dengan mengandalkan kelompok prestasi. Adapun tahapan pembelajaran adalah sebagai berikutMembentuk kelompok yang anggotanya kurang lebih 4 orang secara heterogen. Guru menyajikan pelajaran. Guru memberi tugas kepada setiap kelompok. Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa.

Memberi evaluasi dan menarik kesimpulan.

c. Model pembelajaran kooperatif tipe NHT (Number Head Together)

Model pembelajaran kooperatife tipe NHT (kepala bernomor) merupakan pengembangan dari model kooperatif tipe TGT model ini dikembangkan pertama kali oleh kagan. Ciri khususnya adalah pembelajaran kelompok melalui penyelesaian tugas dengan saling membagi ide. Setiap kelompok harus memastikan bahwa anggotanya memahami dan menguasai tugas, sehingga semua siswa memahami konsep bersamaan. Tahapan pembelajaran kooperatif tipe NHT adalah sebagai berikut: siswa dibagi dalam dua kelompok dimana setiap siswa dalam kelompok memiliki nomor. Guru memberikan tugas kepada masing-masing kelompok. Guru memanggil nomor siswa untuk menjawab tugas.

d. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)

Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) digunakan pada pembelajaran membaca dan menulis pada tingkatan 2-8 (setingkat TK sampai SD).

Model pembelajaran kooperatif tipe CIRC (cooperative integrated reading composition) adalah sebuah model pembelajaran yang sengaja dirancang untuk mengembangkan kemampuan membaca, menulis, dan keterampilan-keterampilan berbahasa lainnya baik pada jenjang pendidikan tinggi maupun jenjang dasar. Pada

(6)

tipe model pembelajaran kooperatif yang satu ini siswa tidak hanya mendapat kesempatan belajar melalui presentasi langsung oleh guru tentang keterampilan membaca dan menulis, tetapi juga teknik menulis sebuah komposisi (naskah). CIRC dikembangkan untuk menyokong pendekatan pembelajaran tradisional pada mata pelajaran bahasa yang disebut “kelompok membaca berbasis keterampilan”. Pada model pembelajaran CIRC ini siswa berpasang-pasangan di dalam kelompoknya e. Team Assisted Individualization (TAI)

Team Assisted Individualization (TAI) digunakan pada pembelajaran matematika untuk tingkat 3-6 (setingkat TK). TAI juga mirip dengan STAD dalam hal komposisi tim. Tipe model pembelajaran kooperatif yang satu ini sebenarnya adalah penggabungan dari pembelajaran kooperatif dengan pembelajaran individual.

Pada model pembelajaran kooperatif tipe TAI, siswa mengikuti tingkatan yang bersifat individual berdasarkan tes penempatan, dan kemudian dapat maju ke tahapan selanjutnya berdasarkan tingkat kecepatannya belajar. Jadi, setiap anggota kelompok sebenarnya belajar unit-unit materi pelajaran yang berbeda.

f. Investigasi kelompok (Group Investigation)

Secara umum perencanaan pengorganisasian kelas dengan menggunakan teknik kooperatif GI adalah kelompok dibentuk oleh siswa itu sendiri dengan beranggotakan 2-6 orang, tiap kelompok bebas memilih subtopik dari keseluruhan unit materi (pokok bahasan) yang akan diajarkan dan kemudian membuat atau menghasilkan laporan kelompok. Selanjutnya setiap kelompok mempersentasikan atau memamerkan laporannya kepada seluruh kelas untuk berbagi saling tukar informasi

g. Model Make A Match (Membuat Pasangan)

Model make a match (membuat pasangan) merupakan salah satu jenis dari metode dalam pembelajaran kooperatif. Penerapan metode ini adalah dimulai dengan teknik, yaitu siswa disuruh mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban/sial sebelum batas waktunya, siswa yang dapat mencocokan kartunya lalu diberi poin.

h. Model Tipe Jigsaw

Jigsaw merupakan salah satu variasi dari model pembelajaran kooperatif.

Pengertian jigsaw adalah sebuah teknik yang dipakai secara luas yang memiliki kesamaan dengan teknis "pertukaran dari kelompok ke kolompok lain dengan suatu perbedaan penting: setiap peserta didik mengajarkan sesuatu.

(7)

3. Jenis-Jenis Cooperative Learning

Ada beberapa jenis pembelajaran kooperatif, diantaranya adalah:

a. Kelompok pembelajaran kooperatif formal (formal cooperative learning group).

Kelompok pembelajaran kooperatif formal, guru dapat menyusun asas akademis atau persyaratan perkuliahan untuk pembelajaran kooperatif formal.

Kelompok pembelajaran kooperatif formal memastikan bahwa siswa terlibat aktif dalam pekerjaan intelektual mengatur materi, menjelaskannya, meringkasnya, dan mengintegrasikannya, ke dalam struktur konseptual yang ada.

b. Kelompok pembelajaran kooperatif informal (informal cooperative learning group).

Kelompok pembelajaran kooperatif informal, guru menggunakannya selama pengajaran langsung (demonstrasi kuliah) untuk memfokuskan perhatian siswa pada materi yang akan dipelajari, mengatur suasana belajar yang kondusif, membantu menetapkan harapan tentang materal, apa pelajaran yang akan dibahas, memastikan bahwa siswa secara kognitif memproses materi yang diajarkan memberikan penutupan ke sesi instruksional.

c. Kelompok basis kooperatif (cooperative base group).

Kelompok basis koperasi adalah jangka panjang (yang berlangsung paling tidak satu tahun), kelompok heterogen dengan keanggotaan yang stabil yang tujuan utamanya adalah agar anggota saling memberikan dukungan, bantuan, dorongan, dan bantuan masing-masing kebutuhan untuk maju secara akademis. Kelompok dasar menyediakan siswa dengan jangka panjang, hubungan berkomitmen.

d. Gabungan dari tiga kelompok kooperative (integrated use of cooperative learning group).

4. Tujuan Cooperative Learning

Menurut Slavin tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi di mana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya.

Sedangkan menurut Ibrahim model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidaktidaknya tiga tujuan pembelajaran, yaitu:

a. Meningkatkan Hasil Belajar Akademik

Dalam belajar kooperatif mencakup beragam tujuan sosial, dan memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit.

(8)

Model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar.

Pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik.

b. Penerimaan Terhadapa Perbedaan Individu

Pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas dari orangorang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuannya.

Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk saling menghargai satu sama lain.

c. Pengembangan Keterampilan Sosial

Pembelajaran kooperatif adalah mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan sosial, penting dimiliki oleh siswa sebab saat ini banyak anak muda masih kurang dalam keterampilan sosial. Novi Emildadiany, Cooperative Learning-Teknik Jigsaw (http: www.yahoo.com,

diakses 18 Februari 2009 ).

5. Keterampilan-Keterampilan Cooperative Learning

Selain tujuan, dalam pembelajaran kooperatif diperlukan juga keterampilan- keterampilan kooperatif yang berfungsi untuk memperlancar hubungan kerja dan tugas.

Peranan hubungan kerja dapat dibangun dengan mengembangkan komunikasi antar anggota kelompok, sedangkan peranan tugas dilakukan dengan membagi tugas antar anggota kelompok. Menurut Lundgren keterampilan-keterampilan kooperatif terbagi menjadi tiga tingkat yaitu:

a. Keterampilan kooperatif tingkat awal, antara lain : menggunakan kesepakatan, menghargai kontribusi, mengambil giliran dan berbagi tugas, berada dalam kelompok, berada dalam tugas, mendorong partisipasi, mengundang orang lain untuk bicara, menyelesaikan tugas tepat waktunya, mengatasi gangguan, menolong tanpa memberikan jawaban, menghormati perbedaan individu.

b. Keterampilan kooperatif tingkat menengah, antara lain : menunjukkan penghargaan dan simpati, mengungkapkan ketidaksetujuan dengan cara yang dapat diterima, mendengarkan dengan aktif, bertanya, membuat ringkasan, menafsirkan, mengatur dan mengorganisir, memeriksa ketepatan, menerima tanggung jawab, menggunakan kesabaran, tetap tenang.

(9)

c. Keterampilan kooperatif tingkat mahir, antara lain : mengelaborasi, memeriksa dengan cermat, menanyakan untuk justifikasi, menganjurkan suatu posisi, menetapkan tujuan berkompromi, mengahadapi masalah khusus. T. G. Ratumanan, Belajar dan Pembelajaran, (Surabaya: UNESA University Press, 2004), hal. 133.

6. Karakteristik Cooperative Learning

Pembelajaran kooperatif berbeda dengan strategi pembelajaran yang lain.

Perbedaan tersebut dapat dilihat dari proses pembelajaran yang menekankan kepada proses kerja sama dalam kelompok. Tujuan yang ingin dicapai tidak hanya kemampuan akademik dalam pengertian penguasaan bahan pelajaran, tetapi juga adanya unsur kerja sama untuk penguasaan materi tersebut. Adanya kerja sama inilah yang menjadi cirri khas dari pembelajaran kooperatif. (Wina Sanjaya, op.cit, hal. 244).

Terdapat beberapa karakteristik strategi pembelajaran kooperatif, diantaranya yaitu:

a. Pembelajaran secara tim.

Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran secara tim. Tim merupakan tempat untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, tim harus mampu membuat setiap siswa belajar. Semua anggota tim harus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran. Untuk itulah, kriteria keberhasilan pembelajaran ditentukan oleh keberhasilan tim.

b. Didasarkan pada manajemen kooperatif

Dalam pembelajaran kooperatif mempunyai empat fungsi pokok, yaitu:

1) perencanaan, menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memerlukan perencanaan yang matang agar proses pembelajaran berjalan secara efektif;

2) pelaksanaan, menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif harus dilaksanakan sesuai dengan perencanaan, melalui langkah-langkah pembelajaran yang sudah ditentukan termasuk ketentuan-ketentuan yang sudah disepakati bersama;

3) organisasi, menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah pekerjaan bersama antar setiap anggota kelompok, oleh sebab itu perlu diatur tugas dan tanggung jawab setiap anggota kelompok;

4) kontrol, menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif perlu ditentukan kriteria keberhasilan baik melalui tes maupun nontes.

c. Kemauan untuk bekerja sama

(10)

Keberhasilan pembelajaran kooperatif ditentukan oleh keberhasilan secara kelompok. Oleh sebab itu, prinsip bekerja sama perlu ditekankan dalam proses pembelajaran kooperatif. Setiap anggota kelompok bukan saja harus diatur tugas dan tanggung jawanmasing-masing, akan tetapi juga ditanamkan perlunya saling membantu.

d. Keterampilan bekerja sama

Kemauan untuk bekerja sama itu kemudian dipraktikkan melalui aktivitas dan kegiatan yang tergambarkan dalam keterampilan bekerja sama. Dengan demikian, siswa perlu didorong untuk ikut dan sanggup berinteraksi berbagai hambatan dam berinteraksi dan berkomunikasi, sehingga setiap siswa dapat menyampaikan ide, mengemukakan pendapat, dan memberikan kontribusi kepada keberhasilan kelompok.

Menurut Donald C. Olich, Robert J. Harder, Richad C. Callahan, dan Harry W.

Gibson (1999: 275) ada lima karakteristik Cooperative Learning yaitu menggunakan kelompokkelompok, mendasari pada tugas atau tujuan untuk berprestasi, menuntut adanya kerja sama dan interaksi kelompok, tanggungjawab personal untuk kebersamaan, dan dukungan pembagian kerja. Menurut Slavin, Abrani, dan Chambers dalam Wina Sanjaya (2006: 242) berpendapat bahwa belajar dengan model pembelajaran Cooperative Learning memiliki beberapa perspektif, yaitu:

a. Perspektif motivasi artinya penghargaan yang diberikan kepada kelompok memungkinkan setiap anggota kelompok akan saling membantu. Keberhasilan setiap individu pada dasarnya adalah keberhasilan kelompok. Hal ini mendorong setiap anggota kelompok untuk memperjuangkan keberhasilan kelompoknya.

b. Perspektif sosial artinya melalui kooperatif setiap siswa akan saling membantu dalam belajar karena mereka menginginkan semua angota kelompok memperoleh keberhasilan. Bekerja secara tim dengan mengevaluasi diri oleh kelompok merupakan iklim yang bagus untuk mencapai keberhasilan tim.

c. Perspektif perkembangan kognitif artinya dengan adanya interaksi antar anggota kelompok dapat mengembangkan prestasi siswa untuk berfikir mengolah berbagai informasi.

d. Elaborasi kognitif artinya setiap siswa akan berusaha memahami dan menimba informasi untuk menambah pengetahuan kognitifnya.

Menurut Donald R. Cruickshank, Deborah L. Bainer dan Kim K. Metcalf (1999:

207) pembelajaran kooperatif memiliki karakteristik sebagai berikut:

(11)

a. Kelompok harus heterogen dalam beberapa hal seperti gender, kemampuan akademik, ras dan lain-lain.

b. Jenis tugas yang dibuat merupakan tugas kelompok

c. Peran tingkah laku yang diperlukan anggota kelompok, tanggung jawab individu, pertanggungjawaban terhadap kelompok, dukungan dan dorongan anggota lain, bantuan teman, pengajaran dan kerja sama.

d. Sistem pemberian hadiah yang unik.

7. Unsur-unsur dalam Cooperative Learning

Menurut Johnson & Johnson (1994), terdapat lima unsur penting dalam belajar kooperatif, yaitu seperti berikut ini:

a. Saling ketergantungan yang bersifat positif antar siswa

Dalam belajar kooperatif siswa merasa bahwa mereka sedang bekerja sama untuk mencapai satu tujuan dan terikat satu sama lain. Seorang siswa tidak akan sukses kecuali semua anggota kelompoknya juga sukses. Siswa akan merasa bahwa dirinya merupakan bagian dari kelompok yang juga mempunyai andil terhadap suksesnya kelompok.

b. Interaksi antar siswa yang semakin meningkat

Belajar kooperatif akan meningkatkan interaksi antar siswa. Hal ini, terjadi dalam hal seorang siswa akan membantu siswa lain untuk sukses sebagai anggota kelompok. Saling memberikan bantuan ini akan berlangsung secara alamiah karena kegagalan seseorang dalam kelompok mempengaruhi suksesnya kelompok. Untuk mengatasi masalah ini, siswa yang membutuhkan bantuan akan mendapatkan dari teman sekelompoknya. Interaksi yang terjadi dalam belajar kooperatif adalah dalam hal tukar menukar ide mengenai masalah yang sedang dipelajari bersama.

c. Tanggung jawab individual

Tanggung jawab individual dalam belajar kelompok dapat berupa tanggung jawab siswa dalam hal membantu siswa yang membutuhkan bantuan dan bahwa siswa tidak dapat hanya sekedar “membonceng” pada hasil kerja teman sekelompoknya.

d. Keterampilan interpersonal dan kelompok kecil

Dalam belajar kooperatif, selain dituntut untuk mempelajari materi yang diberikan seorang siswa dituntut untuk belajar bagaimana berinteraksi dengan siswa lain dalam kelompoknya. Bagaimana siswa bersikap sebagai anggota kelompok dan menyampaikan ide dalam kelompok akan menuntut keterampilan khusus.

(12)

e. Proses kelompok

Belajar kooperatif tidak akan berlangsung tanpa proses kelompok. Proses kelompok terjadi jika anggota kelompok mendiskusikan bagaimana mereka akan mencapai tujuan dengan baik dan membuat hubungan kerja yang baik.

8. Prinsip Cooperative Learning

Menurut Roger dan David Johnson (dalam Rusman) ada lima unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif (cooperative learning), yaitu: (Rusman, Op.Cit., hal. 203) a. Prinsip ketergantungan positif (positive interdependence)

b. Tanggung jawab perseorangan (individual accountability) c. Interaksi tatap muka (face to face promotion interaction) d. Partisipasi dan komunikasi (participation communication) e. Evaluasi proses kelompok

9. Teori Cooperative Learning

Terdapat tiga teori dalam cooperative learning, yaitu:

a. Teori Ausubel

Teori ini dikemukakan oleh David Ausubel. Menurut Ausubel bahan pelajaran yang dipelajari haruslah bermakna (meaning full). Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat pada struktur kognitif seseorang. Struktur kognitif berupa fakta, konsep, serta generalisasi yang telah dipelajari dan diingat siswa.

Pembelajaran bermakna terjadi apabila siswa mencoba menghubungkan fenomena 12esehat dalam pengetahuannya. Artinya, bahan pelajaran yang dipelajari harus sesuai dengan kemampuan yang dimiliki siswa, sehingga konsep-konsep baru akan lebih mudah terserap dan mudah dipahami. Berdasarkan hal tersebut, 12eseha intelektual emosional siswa juga terlibat dalam proses pembelajaran.

Menurut Ausubel, pemecahan masalah merupakan pembelajaran yang bermanfaat bagi siswa dan merupakan strategi yang efisien. Proses pemecahan masalah dapat dilakukan melalui bimbingan langsung dari guru, baik lisan maupun pemberian contoh tindakan. Sementara siswa diberikan kebebasan untuk membangun pengetahuannya sendiri.

b. Teori Piaget

(13)

Menurut Piaget, setiap individu mengalami tingkat perkembangan intelektual sebagai berikut:

1) Sensoni motor (0-2 tahun).

2) Pra operasional (2-7 tahun).

3) Operasional konkret (7-11 tahun).

4) Operasional formal (11 tahun keatas).

Teori ini mengacu kepada kegiatan pembelajaran yang harus melibatkan peserta didik, sehingga pengetahuan tidak hanya sekedar dipindahkan secara verbal, tetapi harus dikonstruksi dan direkonstruksi oleh peserta didik. Dalam kegiatan pembelajaran peserta didik harus bersifat aktif.

Proses pembelajaran akan lebih berhasil apabila sesuai dengan peringkat perkembangan kognitif siswa. Siswa harus diberikan kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan objek fisik. Sementara guru memberikan rangsangan agar siswa mampu berinteraksi dengan lingkungannya.

Berikut ini merupakan implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pengajaran, antara lain:

1) Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa, sehingga guru dalam mengajar harus menggunakan 13eseha yang sesuai dengan cara berfikir anak.

2) Anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik.

Oleh karena itu, guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungannya.

3) Bahan yang akan dipelajari harus baru tetapi tidak asing.

4) Memberikan peluang anak untuk belajar sesuai dengan tingkatannya

5) Memberikan kebebasan anak untuk saling berinteraksi dan saling berdiskusi dengan temannya.

c. Teori Vygotsky

Vygotsky mengemukakan bahwa pembelajaran merupakan suatu perkembangan pengertian. Vygotsky juga membedakan adanya dua pengertian, yaitu pengertian spontan dan pengertian ilmiah. Pengertian spontan adalah pengertian yang diperoleh dari pengalaman anak sehari-hari, sedangkan pengertian ilmiah adalah pengertian yang didapat di dalam kelas atau dalam pembelajaran di sekolah.

Teori Vygotsky menekankan pada bakat sosiokultural dalam pembelajaran.

Menurutnya, pembelajaran terjadi saat anak bekerja dalam zona perkembangan

(14)

proksimal (zone of proximal development). Zona perkembangan proksimal adalah tingkat perkembangan diatas tingkat perkembangan seseorang pada saat ini.

Nur dan Samami mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan zona perkembangan proksimal adalah jarak antara tingkat perkembangan sesungguhnya dengan tingkat perkembangan potensial. Tingkat perkembangan sesungguhnya merupakan kemampuan pemecahan masalah secara mandiri, sedangkan tingkat perkembangan potensial merupakan kemampuan pemecahan masalah dibawah bimbingan orang dewasa melalui 14esehatan dengan teman sebayanya.

Ide lain yang diturunkan oleh Vygotsky adalah scaffolding, yaitu memberikan bantuan kepada anak pada tahap awal pembelajaran, kemudian memberikan kesempatan pada anak untuk mengambil alih tanggung jawab saat mereka sudah mampu melaksanakannya. Bantuan tersebut berupa petunjuk, peringatan, dorongan, maupun pemberikan contoh.

Menurut teori Vygotsky juga dijelaskan adanya hubungan langsung antara domain kognitif dengan sosial budaya. Kualitas berfikir siswa dibangun dalam ruang kelas, sedangkan aktivitas sosialnya dikembangkan dalam bentuk 14esehatan antar siswa di bawah bimbingan guru. (Isjoni, Op.Cit., hal. 35-40)

10. Konsep Utama dari Cooperative Learning menurut Slavin (1995)

a. Penghargaan kelompok, yang akan diberikan jika kelompok mencapai kriteria yang ditentukan.

b. Tanggung jawab individual, bermakna bahwa suksesnya kelompok tergantung pada belajar individual semua anggota kelompok. Tanggung jawab ini terfokus dalam usaha untuk membantu yang lain dan memastikan setiap anggota kelompok telah siap menghadapi evaluasi tanpa bantuan yang lain.

c. Kesempatan yang sama untuk sukses, bermakna bahwa siswa telah membantu kelompok dengan cara meningkatkan belajar mereka sendiri. Hal ini memastikan bahwa siswa berkemampuan tinggi, sedang dan rendah sama-sama tertantang untuk melakukan yang terbaik dan bahwa kontribusi semua anggota kelompok sangat bernilai.

11. Keunggulan Cooperative Learning

Menurut Ibrahim dkk (2000) belajar kooperatif lebih unggul dalam meningkatkan hasil belajar daripada dengan belajar kompetitif dan 14esehatan1414stic. Lebih lanjut,

(15)

Ibrahim dkk (2000) menyatakan bahwa belajar kooperatif dapat mengembangkan tingkah laku kooperatif dan hubungan yang lebih 15esehatan15 siswa, dan dapat mengembangkan kemampuan akademis siswa. Siswa belajar lebih banyak dari teman mereka dalam belajar kooperatif daripada dari guru.

Ratumanan (2002) menyatakan bahwa interaksi yang terjadi dalam belajar kooperatif dapat memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual siswa.

Menurut Kardi & Nur (2000) belajar kooperatif sangat efektif untuk memperbaiki hubungan antar suku dan etnis dalam kelas multibudaya dan memperbaiki hubungan antar siswa normal dan siswa penyandang cacat.

Johnson & Johnson (1994) menyatakan bahwa belajar kooperatif dapat digunakan dalam setiap jenjang 15esehatan15 mulai taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi, dalam semua bidang materi dan dalam sebarang tugas. Selain itu, Slavin (1995) menyatakan bahwa belajar kooperatif telah digunakan secara intensif pada setiap subjek 15esehatan15, dalam semua jenjang 15esehatan15 dan pada semua jenis persekolahan di berbagai belahan dunia.

Keunggulan pembelajaran kooperatif sebagai suatu strategi pembelajaran diantaranya (Wina 15esehat,op.cit,hal 249‐250) :

a. Melalui cooperative learning siswa tidak telalu menggantungkan pada guru, akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari siswa yang lain.

b. Cooperative learning dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.

c. Cooperative learning dapat membantu anak untuk respek pada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.

d. Cooperative learning dapat membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.

e. Cooperative learning merupakan suatu strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial, termasuk mengembangkan rasa harga diri, hubungan interpersonal yang positif dengan yang lain, mengembangkan keterampilan memanage waktu, dan sikap positif terhadap sekolah.

(16)

f. Melalui cooperative learning dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri, menerima umpan balik. Siswa dapat berpraktik memecahkan masalah tanpa takut membuat masalah, karena keputusan yang dibuat adalah tanggung jawab kelompoknya.

g. Cooperative learning dapat meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata (riil).

h. Interaksi selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan untuk berpikir. Hal ini berguna untuk proses 16esehatan16 jangka panjang.

Model pembelajaran ini berdasarkan hasil penelitian Johnson (1984) sebagaimana dijelaska oleh Nurha (2003), menunjukkan adanya beberapa keunggulan, antaranya:

a. Memudahkan siswa melakukan penyelesaian soal dan mengembangkan kegembiraan belajar yang sejati.

b. Memungkinkan para siswa saling belajar mengenai sikap, keterampilan, informasi, perilaku social, dan pandangan serta terbentuk dan berkembangnya nilai-nilai social dan komitmen.

c. Meningkatkan kepekaan dan keistimewaan social.

d. Menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri atau egois atau egosentris dan siswa dari penderitaan akibat kesendirian atau keterasingan.

e. Dapat menjadi acuan bagi bagi perkembangan kepribadian yang sehat dan integrasi.

f. Membangun persahabatan yang dapat berlanjut hingga masa dewasa.

g. Mencegah timbulnya gangguan kejiwaan dan terjadinya kenakalan masa remaja h. Menimbulkan perilaku rasional di masa remaja.

i. Berbagai keterampilan sosial yang diperlukan untuk memlihara hubungan saling membutuhkan dapat diajarkan dan dipraktikkan

j. Meningkatkan rasa saling percaya kepada 16eseha manusia, kemampuan memandang masalah dan situasi dari berbagai perspektif, perasaan penuh makna mengenai arah dan tujan hidup, kenyakinan terhadap idea tau gagasan sendiri, kesediaan menggunakan ide orang lain yang dirasakan lebih baik, motivasi belajar, dan kegemaram berteman tanpa memandang perbedaan kemampuan, jenis kelamin, normal atau cacat, etnis, kelas social, agama dan orientasi tugas.

k. Mengembangkan kesadaran bertanggung jawab dan saling menjaga perasaan.

(17)

l. Meningkatkan sikap positif terhadap belajar dan pengalaman belajar, keterampilan hidup bergoto-royong, 17esehatan psikologis, sikap tenggang rasa, serta kemampuan berpikir kreatif.

m. Memungkinkan siswa mampu mengubah pandangan klise dan stereotif menjadi pandangan dinamis dan realistis.

n. Meningkatkan rasa harga diri (self esteem) dan penerimaan diri (self acceptance).

o. Memberikan harapan yang lebih besar bagi terbentuknya manusia dewasa yang mampu menjalin hubungan positif dengan sesamanya, baik ditempat kerja maupun dimasyarakat.

p. Meningkatkkan hubungan positif antara siswa dengan guru dan personil sekolah, pandangan siswa terhadap guru yang bukan hanya sebagai penunjuang keberhasilan akdemik, tetapi juga perkembangan kepribadaian yang sehat dan terintegrasi, serta pandangan siswa terhdapa guru yang bukan hanya mengajar, tetapi juga pendidik.

12. Kelemahan Cooperative Learning

Di samping keunggulan, pembelajaran kooperatif juga memiliki kelemahan, diantanranya:

a. Untuk siswa yang dianggap memiliki kelebihan, contohnya mereka akan merasa terhambat oleh siswa yang dianggap kurang memiliki kemampuan. Akibatnya, keadaan semacam ini dapat mengganggu iklim kerja sama dalam kelompok.

b. Ciri utama dari cooperative learning adalah bahwa siswa saling membelajarkan. Oleh karena itu, jika tanpa peer teaching yang efektif, maka dibandingkan dengan pengajaran langsung dari guru, bisa terjadi cara belajar yang demikian apa yang seharusnya dipelajari dan dipahami tidak pernah dicapai oleh siswa.

c. Penilaian yang diberikan dalam cooperative learning didasarkan kepada hasil kerja kelompok. Namun demikian, guru perlu menyadari, bahwa sebenarnya hasil atau prestasi yang diharapkan adalah prestasi setiap induvidu siswa.

d. Keberhasilan cooperative learning dalam upaya mengembangakan kesadaran berkelompok memerlukan waktu yang cukup panjang, dan hal ini tidak mungkin dapat tercapai hanya dengan satu kali atau berkali-kali penerapan pembelajaran ini.

e. Walaupun kemampuan bekerja sama merupakan kemampuan yang sangat penting untuk siswa, akan tetapi banyak aktivitas dalam kehidupan yang hanya didasarkan pada kemampuan secara individual. Oleh karena itu, idealnya melalui cooperative learning selain siswa belajar bekerja sama, siswa juga harus belajar bagaimana

(18)

membangun kepercayaan diri. Untuk mencapai kedua hal itu dalam cooperative learning memang bukan pekerjaan yang mudah.

13. Prosedur Cooperative Learning

Agar pelaksanaan Cooperative Learning berjalan efektif perlu dilaksanakan menurut prosedur yang sistematis. Langkah-langkah pembelajaran kooperatif menurut Donald R. Cruickshank, Deborah L. Bainer dan Kim K. Metcalf (1999: 209-211) meliputi:

a. Persiapan (preparation)

1) menyediakan informasi dengan cara yang paling efektif,

2) menyiapkan siswa untuk ikut serta dalam kerja kelompok sehingga mereka dapat menguasai informasi.

b. Penyampaian (delivery)

1) menentukan tujuan kelompok (set the team goals),

2) menyiapkan siswa kerja kelompok (prepare students for teamwork) 3) memberikan penugasan kelompok (give the teams the assignment), 4) memonitor kerja kelompok ( monitor the teams),

5) pemberian dan penilaian quis pada siswa (Quiz the students and score), 6) pengumuman prestasi (recognize team accomplishment).

c. Penutup

1) mengingatkan siswa apa yang telah dipelajari,

2) memberikan informasi baru yang berkaitan dengan apa yang sudah mereka pelajari atau apa yang akan dipelajari,

3) menyediakan kesempatan untuk menerapkan atau menggunakan informasi yang mereka dapat.

14. Implementasi Cooperative Learning dalam Pembelajaran Matematika Sekolah Salah satu implementasi pembelajaran kooperatif dalam pembelajaran matematika sekolah yaitu menggunakan tipe Jigsaw. Tipe jigsaw dikembangkan oleh Aronson, dkk (Lie, 2002). Langkah-langkah implementasi dalam model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah sebagai berikut:

a. Siswa dikelompokkan ke dalam 4 anggota tim

(19)

b. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi matematika yang berbeda, misal kelompok pertama mendapatkan materi geometri bidang datar dan kelompok lainnya mendapatkan materi geometri bidang ruang

c. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan.

d. Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian subbab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan subbab mereka.

e. Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh (Slavin, 2015).

C. Daftar Pustaka

Sukiyanto, Sukiyanto. 2019. “Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Dengan Menggunakan Pendekatan Active Learning Pada Materi Bangun Datar.” MUST:

Journal of Mathematics Education, Science and Technology 4 (1): 57.

https://doi.org/10.30651/must.v4i1.2834.

Gide, André. 1967. “済無No Title No Title No Title.” Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952. 5–24.

Tersedia di

http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/Kana%20Hidayati,%20M.Pd./Impleme ntasi%20Pembelajaran%20Matematika%20Berwawasan%20Lingkungan.pdf

Ii, B. A. B. n.d. “Thobroni, Op.Cit., Hal. 286 Ibid, Hal. 287 14.” 14–49.

Tersedia di http://eprints.umm.ac.id/39523/3/BAB%20II.pdf

Ii, B. A. B., A. Model Pembelajaran, and Cooperative Learning. 2000. “BAB II KAJIAN TEORI A. Model Pembelajaran.” 13–55.

Tersedia di http://digilib.uinsby.ac.id/11269/5/Bab2.pdf

Konstruktivis, Pandangan, and Cooperative Learning Sebagian. 2009. “Cooperative Learning Dalam Pembelajaran Matematika.” (1998).

Tersedia di http://repository.uin-malang.ac.id/1728/7/1728.pdf

Kurniawan, Agus P. 2015. STRATEGI PEMBELAJARAN MATEMATIKA Government of Indonesia (GoI) and Islamic Development Bank (IDB).

Tersedia di http://digilib.uinsby.ac.id/20207/1/Strategi%20Pembelajaran%20Matematika.pdf Rofifah, Dianah. 2020. “済無No Title No Title No Title.” Paper Knowledge . Toward a

Media History of Documents 2:12–26.

(20)

Tersedia di https://pajar.ejournal.unri.ac.id/index.php/PJR/article/download/5063/4754 Sulaiman. 2014. “MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING (Suatu

Analisis Psikologis Dalam Pembelajaran).” Visipena Journal 5(2):25–35. doi:

10.46244/visipena.v5i2.258.

Tersedia di https://repository.ar-

raniry.ac.id/id/eprint/2003/1/MODEL%20PEMBELAJARAN%20COOPERATIVE%20 LEARNING%20%20%28Suatu%20Analisis%20Psikologis%20Dalam%20Pembelajara n%29.pdf

Volume, Edumatica. 2014. “Peranan Cooperative

Learning……….. | 16.”

04(April):16–22.

Tersedia di

http://download.garuda.ristekdikti.go.id/article.php?article=1328931&val=870&title=PE RANAN%20COOPERATIVE%20LEARNING%20DALAM%20PEMBELAJARAN%

20MATEMATIKA%20PADA%20KURIKULUM%202013

Wijayanto, M. 2009. “Pengaruh Penerapan Model Problem Based Learning Dan Cooperative Learning Terhadap Prestasi Belajar Matematika Ditinjau Dari Motivasi Belajar Siswa.”

Tersedia di https://digilib.uns.ac.id/dokumen/download/22447/NDY0ODY=/Pengaruh- Penerapan-Model-Problem-Based-Learning-dan-Cooperative-Learning-terhadap- Prestasi-Belajar-Matematika-Ditinjau-dari-Motivasi-Belajar-Siswa-Studi-Eksperimen- pada-Siswa-Kelas-X-Sekolah-Menengah-Atas-Negeri-Kabupaten-Wonogiri-Tahun- Pelajaran-200820-abstrak.pdf

(21)

Referensi

Dokumen terkait

Analisis BI pada Fasilkom Unsri menggunakan business intelligence roadmap meliputi fase justification , planning , dan business analysis mengusulkan solusi BI

Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak adanya interaksi yang terjadi antara perlakuan pati singkong karet dan sari bawang putih terhadap analisa ketebalan,

Model kinetika adsorpsi Lagergren orde satu-semu fenol oleh karbon aktif dari sekam padi pada konsentrasi 100 ppm dengan nilai parameter-parameter yang digunakan

Hanya pada tahun-tahun belakangan, berdasarkan kasus-kasus perkosaan dan kekerasaan seksual yang secara sistematis terjadi dalam konflik di Bosnia dan Rwanda,

waktu, kecuali kegagalan untuk berfungsi yang disebabkan oleh suatu cacat pada bahan atau pembuatannya; (b) atas kerusakan kosmetik/permukaan, termasuk akan tetapi tidak terbatas

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan Proposal Tugas Akhir ini. Penulisan Proposal

akan distimulasi sehingga terjadiya keterbukaaan wawasan dan menguasai kecakapan keterampilan dasar yang mereka butuhkan dalam budidaya jamur tiram. Dan tahapan ketiga,

Hasil produksi budi daya yang terus mengalami perkembangan, baik dari sisi produksi maupun pendapatan, menyebabkan sebagian besar nelayan mulai mengalihkan aktivitas