Editor:
ASRAR MABRUR FAZA, MA.
Membuka Mata Hati
Imam Nawawi telah menjawab langsung berbagai persoalan tentang status dan pesan dari berbagai hadis yang populer
di masanya. Atau mungkin saja, persoalan itu masih terwariskan
di masa kini. Buku ini akan memberi jawaban.
Jl. Meranti No. Blok IX. N0. 30 Perumahan Medan Estate Deli Serdang, Sumatera Utara
Membuka Mata Hati
1 2
3
Untuk:
Buya & Ummi
4
5
Pedoman Transliterasi
ا
aخ
Khش
syغ
gن
Nب
bد
Dص
¡ف
fو
Wت
tذ
©ض
«ق
qـﻫ
Hث
£\ر
Rط
¯ك
kء
’ج
jز
Zظ
§ل
lي
Yح
¥س
Sع
‘م
mﺎـ
±ﻰـ
³ﻮـ
6
7
FATWA IMAM NAWAWI Seputar Hadis Nabawi
8
9
Asrar Mabrur Faza, M.A.__
EditorMembuka Mata Hati
10
Judul Asli : Fata>wa> al-Ima>m Al-Nawa>wi>:
al-Masa>’il Al-Mans\u>rah Ba>b fi> al-H{adi>s\
Penyusun : ‘Ala’ al-Di>n bin al-‘At}t}a>r
Judul Terjemahan : Fatwa Imam Nawawi: Seputar Hadis Nabawi Editor/ Penerjemah : Asrar Mabrur Faza, M.A.
Copy Right 2012 © PENERBIT RIWAYAH MEDAN
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.
Hak penulis dilindungi oleh undang-undang All rights reserved
Cetakan I : Desember 2012
Diterbitkan oleh : Penerbit Riwayah Jl. Meranti Blok IX No. 30 Deli Serdang
11
Pengantar
Segala pujian dan kesyukuran kepada Allah swt. atas segala nikmat yang telah dianugerahkan-Nya dalam kehidupan ini.
Salawat beserta salam kedamaian kepada Nabi Muhammad saw.
dan keluarganya serta para sahabatnya, yang telah memberikan gambar keislaman untuk diteladani umat Islam dalam bingkai sunnah-sunnahnya.
Kesyukuran itu pula yang penulis rasakan, saat merampungkan penulisan buku ini. Buku yang ada di tangan pembaca ini adalah terjemahan dari salah satu bagian dari koleksi jawaban Imam al- Nawa>wi> (w. 676 H/1278 M) terhadap berbagai pertanyaan keagamaan di masanya. Buku ini secara khusus menampilkan jawaban-jawaban yang diberikan Imam al-Nawawi> terhadap persoalan-persoalan terkait dengan hadis-hadis Nabi saw.
Persoalan-persoalan tersebut ditampilkan mulai dari aspek orisinalitas sebuah hadis dalam tinjauan kritik sanad, maupun kandungan matannya untuk dapat diamalkan dalam kehidupan.
Semoga upaya ini mendapat rida Allah swt. karena hanya kepada-Nya tempat kembali seluruh amal. Selamat membaca.
Makassar, 16 Desember 2012 Asrar Mabrur Faza, MA.
12
13
Daftar Isi
Pengantar ― 11 Daftar Isi ― 13
Hadis Mutawatir ― 15
Perbedaan S{ah}i>h} al-Bukha>ri>, S{ah}i>h} Muslim dan Kitab Hadis Lain
― 17
Hadis tentang Rentang Waktu antara Wafatnya Nabi dengan Hari Kiamat ― 19
Hadis tentang Menghafal 40 Hadis ― 21 Hadis tentang Mengenal Diri & Tuhan ― 23
Hadis tentang “Kesalahan” yang dilakukan Nabi ― 25 Hadis tentang Kewajiban Mencari Ilmu ― 27
Hadis tentang Umat Islam Laksana Hujan ― 29
Hadis tentang Makhluk adalah “Keluarga-keluarga” Allah ― 33 Hadis tentang Larangan memerangi Pelaku Salat ― 35 Hadis tentang Kewalian Imam ‘Ali>― 37
Hadis tentang “Menziarahi” Nabi saw. & Ibrahim as. ― 45 Hadis tentang Bahasa Bumi ― 47
Hadis tentang 2 Orang yang Paling Senior di Surga ― 49 Hadis tentang Kegelapan Malam ― 53
Hadis tentang Hubungan Zodiak & Black Magic ― 55 Hadis tentang Nyanyian ― 57
14
Hadis tentang Bermain Catur ― 59 Asal-Muasal Bunga Mawar ― 61
Hadis tentang Batas Usia Umat Islam ― 63 Hadis tentang Cara Berzikir yang Paling Baik ― 65 Hadis tentang Beban Umat ― 67
Hadis tentang Keharusan Salat di Masjid ― 69 Hadis tentang Dunia yang Terlaknat ― 71
Hadis tentang Keistimewaan Beberapa Kota ― 73 Hadis tentang Salat 12 Raka’at ― 75
Hadis tentang Menghiasi Quran dengan Membacanya ― 77 Hadis tentang Masa Hidup Lebih dari 100 Tahun ― 79 Hadis tentang Dawud & Zabur ― 81
Hadis tentang Mandi Wajib ― 83 Hukum meriwayatkan Hadis Daif ― 85 Tentang Editor ― 87
15
Hadis Muta>watir
Pertanyaan:
1. Adakah hadis mutawātir di dalam S ahīh al-Bukhāri> dan S ahīh Muslim? Ataukah semuanya hadis Āhād?
2. Apakah hadis:
تﺎﯿﻨﻟﺎﺑ لﺎﻤﻋﻷا ﺎﻤﻧإ
termasuk hadis mutawātir?Jawaban:
تﺎﯿﻨﻟﺎﺑ لﺎﻤﻋﻷا ﺎﻤﻧإ
(Sesungguhnya segala perbuatan itu hanya tergantung niatnya) bukanlah hadis mutawa>tir, karena tidak terpenuhinya salah satu syarat hadis mutawa>tir pada awal sanadnya, yaitu (hanya) diriwayatkan oleh satu orang rawi dari seorang rawi yang lain.Namun ada banyak hadis lain yang tergolong mutaw±tir pada S{ah}i>h} al-Bukha>ri> dan S{ah}i>h} Muslim, di antaranya hadis tentang haji wada‘ dan hadis:
ْﻦَﻣ َبَﺬَﻛ ﱠﻰَﻠَﻋ َﻌَـﺘُﻣ اًﺪ ﱢﻤ ْأﱠﻮَـﺒَﺘَﻴْﻠَـﻓ ُﻩَﺪَﻌْﻘَﻣ َﻦِﻣ ِرﺎﱠﻨﻟا .
16
Terjemahnya:
Siapa yang mendustaiku dengan sengaja, maka sediakanlah bagiannya dari api neraka.
Termasuk hadis muta>watir juga hadis tentang Nabi Saw. dan ahlulbaitnya yang mendatangi “sungai Haud”, serta banyak lagi hadis mutawa>tir lain.
17
Perbedaan S{ah}i>h} al-Bukha>ri>, S{ah}i>h} Muslim & Kitab Hadis Lain
Pertanyaan:
Adakah hadis yang tidak sahih, atau batil pada seluruh atau sebagian dari S{ah}īh} al-Bukhāri>, S ahīh Muslim, kitab-kitab musnad yang masyhur, Sunan Abī Dāwud, Sunan al-Tirmīżi dan Sunan al-Nasā'i>?
Jawaban:
Hadis-hadis dalam S{ah}i>h} al-Bukha>ri> dan S{ah}i>h} Muslim itu sahih. Sedangkan pada kitab sunan yang disebutkan itu, sebagian ada yang sahih, hasan, daif, munkar, dan batil.
Walla>hu a‘lam. Saya (al-Nawawi>) pernah menulis tentang hal itu.
18
19
Hadis tentang RentangWaktu Wafatnya Nabi dengan
Hari Kiamat
Pertanyaan:
Ada masyarakat awam yang mengatakan Nabi Saw. pernah bersabda bahwa sisa waktu antara masa kewafatan Beliau dengan hari kiamat berkisar seribu tahun. Apakah itu riwayat yang sahih?
Jawaban:
Ini riwayat yang batil. Tidak punya sanad sama sekali (baca:
Hadis palsu).
20
21
Hadis tentang
Menghafal 40 Hadis
Pertanyaan:
Sahihkah riwayat dari Nabi Saw. yang mengatakan:
َﻣ ْﻦ َﺣ ِﻔ َﻋ َﻆ َﻰﻠ ﱠﻣ ُأ ِْﱵ َأ ْر َﺑ َْﲔ ِﻌ َﺣ ِﺪ ْـﻳ َـﺑ َﻌ ًﺜﺎ َﺜ ُﻪ ُﷲا َـﻳ ْﻮ َم ْﻟا ِﻘ َﻴ َﻣﺎ َﻓ ِﻘ ِﺔ ْـﻴ ًﻬﺎ ْو َأ
ِْﰲ . َﻤ ِءﺎ ْﻟا ُﻌ َﻠ ِو َأ ِءﺎ َﻘ َﻬ ْﻟا ُﻔ ِة ُز ْﻣ َﺮ
Terjemahnya:
Siapa (di antara) umatku yang menghafal empat puluh hadis, Allah akan membangkitkannya sebagai seorang fakih, atau (dibangkitkan) bersama para fukaha atau ulama pada hari kiamat kelak.
Jawaban:
Hadis ini telah kami riwayatkan dari beberapa orang sahabat Nabi. Semua jalur sanadnya daif. Hadis ini laisa bi s\a>bit (tidak sahih). Walla>hu a‘lam.
22
23
Hadis tentang
Mengenal Diri & Tuhan
Pertanyaan:
Sebuah hadis dari Nabi saw:
َﻣ ْﻦ ُﻪُﻧﺎَﺴِﻟ ﱠﻞَﻛ ُﻪﱠﺑَر َفَﺮَﻋ ْﻦَﻣَو ،ُﻪﱠﺑَر َفَﺮَﻋ ْﺪَﻘَـﻓ ُﻪَﺴْﻔَـﻧ َفَﺮَﻋ .
Terjemahnya:
Siapa yang telah mengenal dirinya, maka telah mengenal Tuhannya. Siapa yang telah mengenal Tuhannya, lisannya (akan) kelu.
Apakah hadis ini sahih, ataukah tidak? Apakah makna hadis tersebut?
Jawaban:
Tidak sahih. Andai sekiranya sahih, (maka) maknanya adalah: Siapa yang telah mengenal dirinya dengan segala kelemahan dan pengharapan kepada Allah serta beribadah kepada-Nya, maka ia telah mengenal Tuhannya yang punya
24
kekuatan, daya paksa, pemeliharaan, kesempurnaan, keabsolutan dan sifat-sifat yang tinggi lainnya.
Siapa yang telah mengenal Tuhannya, lisannya (akan) kelu untuk mencapai bentuk kesyukuran dan pujian yang sebenar- sebenarnya kepada Allah, sebagaimana sebuah hadis s\abt (Sahih) dari S{ah}i>h} Muslim dan kitab hadis lain, bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda:
ُﺳ ْﺒ َﺤ َﻚَﻧﺎ ِﺼْﺣُأ َﻻ ْﻲ ًءﺎَﻨَـﺛ َﻚْﻴَﻠَﻋ َﺖْﻧَأ ، ﺎَﻤَﻛ َﺖْﻴَـﻨْـﺛَأ ﻰَﻠَﻋ َﻚِﺴْﻔَـﻧ .
Terjemahnya:
Maha suci Engkau, aku tidak dapat menghitung (banyaknya bentuk) pujian kepada-Mu. Engkau adalah sebagaimana pujian- Mu atas diri-Mu (sendiri).
Walla>hu a'lam.
25
Hadis tentang “ Kesalahan ” yang dilakukan Nabi
Pertanyaan:
Sebuah hadis mengatakan:
ﺎَﻣ ِﻣ ﱠﻨﺎ ﱠﻻِإ َﻣ ْﻦ ﻰَﺼَﻋ َﻫ وَأ ٍﺔَﻴِﺼْﻌَِﲟ ﱠﻢ ؛ ﱠﻻِإ َﲕَْﳛ َﻦ ْﺑ ﺎﱠﻳِﺮَﻛَز .
Terjemahnya:
Tiada seorangpun dari kami (para Nabi), kecuali pernah melakukan maksiat atau berniat melakukannya, selain Yah}ya> bin Zakariya>.
Apakah hadis ini sahih? Siapakah di antara para kolektor hadis yang pernah meriwayatkannya? Siapakah nama sahabat yang telah meriwayatkannya?
Jawaban:
Ini adalah hadis daif, tidak boleh berhujjah dengan hadis ini. Abu> Ya‘la> al-Mau¡ili> pernah meriwayatkannya dalam kitab Musnad-nya dari Zuhair, dari ‘Affa>n dari H{amma>d Ibn
26
Musallamah, dari ‘Ali> bin Zaid bin Jud‘a>n, dari Yu>suf bin Mahra>n, dari Ibn ‘Abba>s, dari Nabi Saw. Beliau bersabda:
ــَﻣﺎ ْﻦ ــِﻣ ــَﺣ َأ ٍﺪ ْﻦ ــِﻣ َوــَﻟ َدآ ِﺪ َم ِإ َوــَﻗ ﱠﻻ ْﺪ ْﺧ َأ ــَﻄ َﺄ
َأ ْو ــَﻫ َِﲞ ﱠﻢ ِﻄ ْﻴ ــَﺌ ٍﺔ َﺲْﻴــَﻟ ــَْﳛ َﲕ ــْﺑ َﻦ
َز َﻛ ِﺮ ﱠﻳﺎ .
Terjemahnya:
Tiada seorangpun manusia, kecuali pernah melakukan kesalahan, atau berniat melakukannya, kecuali Yah}ya> bin Zakariya>.
Di dalam kitab Musnad itu disebut nama Ibn ‘Abba>s. Sanad hadis ini daif, karena ‘Ali> bin Zaid bin Jud‘a>n daif, dan Yu>suf bin Mahr±n juga dinilai dengan jarh} (penilaian negatif) yang beragam.Walla>hu a‘lam.
27
Hadis tentang
Kewajiban mencari Ilmu
Pertanyaan:
Hadis:
ٍﻢِﻠْﺴُﻣ ﱢﻞُﻛ َﻰﻠَﻋ ٌﺔَﻀْﻳِﺮَﻓ ِﻢْﻠِﻌْﻟا ُﺐَﻠَﻃ .
Terjemahnya:
Menuntut ilmu wajib atas setiap muslim.
Apakah hadis ini sahih, ataukah tidak? Siapakah yang telah meriwayatkannya dari kalangan ahli hadis dan sahabat?
Jawaban:
Hadis itu daif, meskipun isi kandungannya sahih. Abu> Ya‘la> al- Maus}ili> meriwayatkan hadis ini dalam kitab Musnad-nya dan dengan jalur sanadnya sendiri, dari Anas dari Nabi Saw.
Sanadnya daif, karena terdapat nama Hafs} bin Sulaima>n, seorang yang daif.
28
29
Hadis tentangUmat Islam Laksana Hujan
Pertanyaan:
َﻣ َﺜ ُﻞ
ُأ ﱠﻣ ِْﱵ َﻛ َﻤ َﻄ ْﻟﺎ َﻻ ِﺮ ُﻳ ْﺪ ى َر َأ ﱠو ُﻟ ُﻪ َﺧ ْـﻴ ٌﺮ َأ ْم ُﺮ ُﻩ. ِﺧآ
Terjemahnya:
Perumpamaan umatku laksana hujan, tidak diketahui apakah yang lebih baik itu di awalnya, ataukah di akhirnya.
Siapakah ahli hadis yang telah meriwayat hadis ini, dan apa maknanya?
Jawaban:
Hadis itu daif. Abu> Ya‘la> al-Maus}ili> meriwayatkannya dari jalur sanad Yu>suf al-S{affa>r, dari ¤a>bit, dari Nabi Saw. Para ahli hadis telah menyepakati bahwa Yu>suf adalah daif, kas\i>r al- wahm (banyak melakukan dugaan yang salah), munkar al- H{adi>s\ (hadisnya munkar).
30
Andai sekiranya sahih, maka makna hadis ini adalah: Setelah turunnya ‘I<sa> As, terjadilah suatu peristiwa, (yaitu) ketika keberkahan sudah tampak (di mana-mana) kebaikan banyak (dijumpai), (kebenaran) agamapun telah tampak ketika orang meragukannya. Apakah mereka (umat yang hidup di masa) itu tergolong umat yang terbaik, daripada umat-umat sebelumnya, atau umat-umat sebelumnya tetap menjadi terbaik daripada umat di masa itu? Inilah yang dibingungkan oleh manusia saat itu. Jika kebingungan itu tidak muncul, tentu umat yang terbaik adalah umat yang terdahulu. Hal inis senada dengan ungkapan sebuah syair:
ٍﻞـ ِﺧﻼَﺧ َْﲔَـﺑ ِءﺎَﺴْﻋَﻮْﻟا َﺔﻴِﺒَﻇ ﺎَﻴَـﻓ
۩
َو َـﺑ ﺮـِﻣﺎَﻋ ﱡمُأ ْمَأ ِﺖْﻧَأﺎَﻫ ﺎَﻘﱠـﻨﻟا َْﲔ
Duhai yang kijang betina yang ada di kerumunan kijang belang
● dan yang mulus, engkaukah itu, atau umm ‘Amir.
Maksudnya, aku jadi ragu sebab keduanya mirip, walaupun kijang betina beda dengan Umm ‘Amir.
Jika ini sahih, maka tidak kontradiksi dengan hadis-hadis sahih lainnya, seperti:
ْﻢُﻬَـﻧْﻮُﻠَـﻳ َﻦْﻳِﺬﱠﻟا ﱠُﰒ ِْﱏْﺮَـﻗ ْﻢُﻛُﺮْـﻴَﺧ .
Terjemahnya:
Sebaik-baik di antara kamu adalah yang ada pada masaku, kemudian masa sesudah mereka.
31
Dan hadis:
ُﻪْﻨِﻣ ﱞﺮَﺷ ُﻩَﺪْﻌَـﺑ ىِﺬﱠﻟاَو ﱠﻻِإ ٍمﺎَﻋ ْﻦِﻣ ﺎَﻣ
.
Terjemahnya:
Tiada satupun masa sesudahnya, kecuali lebih buruk dari masa itu.
32
33
Hadis tentang Makhluk adalah
“ Keluarga-Keluarga ” Allah
Pertanyaan:
َْﳋ ْﻠ َا ِﻋ َﻴ ُﻖ ٌلﺎ .
Terjemahnya:
Makhluk adalah keluarga-keluarga.(al-Hadis)
Apakah hadis ini sahih? Siapakah di antara ahli hadis yang meriwayatkannya?
Jawaban:
Abu> Ya‘la> al-Maus}ili> telah meriwayat hadis ini dari jalur Yu>suf bin ‘At}iyah, dari S|a>bit dari Anas, dari Nabi Saw. Beliau bersabda:
ُلﺎَﻴِﻋ ُﻖْﻠَْﳋَا ِﻪِﻟﺎَﻴِﻌِﻟ ْﻢُﻬُﻌَﻔْـﻧَأ ِﷲا َﱃِإ ْﻢُﻬﱡـﺒَﺣَأَو ،ِﷲا
.
34
Terjemahnya:
Makhluk itu adalah “keluarga-keluarga Allah”. Makhluk yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi
“keluarga-keluarga-Nya”.
Itu hadis daif, karena Yu>suf bin ‘At}iyah adalah daif, demikian menurut konsensus para ulama.
35
Hadis tentang Larangan memerangi Pelaku Salat
Pertanyaan:
Ada hadis yang populer, yang mengatakan:
َْﲔﱢﻠَﺼُﻤْﻟا ِﻞْﺘَـﻗ ْﻦَﻋ ُﺖْﻴُِ
.
Terjemahnya:
Aku dilarang untuk memerangi orang-orang yang melakukan salat.
Apakah hadis itu sahih? Siapakah di antara ahli hadis yang meriwayatkannya?
Jawaban:
Daif. Abu> Da>wud telah meriwayatkannya dengan sanad yang daif.
36
37
Hadis tentang
Kewalian Imam ‘ Ali >
Pertanyaan:
Para ulama Ahlusunah pernah menyebutkan suatu riwayat, bahwa Ali Ra. bercerita:
َﻟ ﱠﻤ َﻏ ﺎ ﱠﺴ ْﻠ ُﺖ ﱠﻨﻟا َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُ ﷲا ﻰﱠﻠَﺻ ﱠِﱯ ِا ْﻣ
َﺼ َﺘ ْﺼ َﻣﺎ ُﺖ َء َﺟﺎ َُﳏ َﺮ َﻋ ْـﻴ َـﻨ ْﻴ ِﻪ
َو ُﺳ ﱠﺮ ِﺗ ِﻪ َﻮَـﻓ ، َﻦْﻳِﺮِﺧﻵْاَو َْﲔِﻟﱠوَﻷْا َﻢْﻠِﻋ ُﺖْﺛ ﱠر .
Terjemahnya:
Ketika aku memandikan Nabi Saw, aku mengirup air yang mengalir di kedua mata dan pusar beliau. Akupun mewarisi ilmu orang tempo dulu, dan masa mendatang.
Apakah riwayat ini sahih, atau tidak?
ُﻩَﻻْﻮَﻣ ﱞﻰِﻠَﻌَـﻓ ُﻩَﻻْﻮَﻣ ُﺖْﻨُﻛ ْﻦَﻣ .
Terjemahnya:
Siapa yang (ingin agar) aku sebagai “walinya”, maka (jadikanlah) Ali sebagai “walinya”.
Apa makna hadis Nabi Saw. ini?
38
Apakah dengan menjadi Abu> Bakr dan ‘Umar sebagai “wali”, berarti lebih mengunggulkan keduanya dibanding ‘Ali> ?.
Apa maksud dari pernyataan:
ﱞﻲِﻠَﻋ ْﻢُﻛُﺄَﻀْﻗَأ .
Terjemahnya:
Yang paling bijaksana (di antara) kamu, adalah ‘Ali>.
Apakah maksudnya ‘Ali lebih bijaksana dari Abu> Bakr dan ‘Umar?
Jika maksudnya demikian, mengapa Abu> Bakar dan ‘Umar tidak sepakat dengan ‘Ali> dalam banyak kasus? Jika bukan begitu, jadi apa maksud pernyataan tersebut? Apakah maksudnya Ali lebih unggul dari mereka berdua, dalam hal kepemimpinan umat? Apa yang harus dilakukan bagi orang meyakini bahwa ‘Ali> lebih unggul daripada Abu> Bakr dan ‘Umar?
Jawaban:
Riwayat yang pertama itu tidak sahih.
Sedangkan sabda Nabi Saw.:
ُﻩَﻻْﻮَﻣ ﱞﻰِﻠَﻌَـﻓ ُﻩَﻻْﻮَﻣ ُﺖْﻨُﻛ ْﻦَﻣ .
Terjemahnya:
Siapa yang (ingin agar) aku sebagai “walinya”, maka (jadikanlah) Ali sebagai “walinya”.
Itu adalah hadis sahih, yang diriwayatkan oleh Abu> ‘Isa> al- Tirmiz\i> dan lain-lain. Al-Tirmiz\i> mengatakan: Itu hadis hasan.
Makna hadis ini menurut para ahli hadis – yang menjadi acuan dalam penelitian hadis –yaitu: Orang yang aku (Nabi saw.) bela, jadikan wali, cintai dan sucikan itulah Ali. Demikain menurut al-Ima>m Abu> ‘Abdilla>h Muh}ammad bin Idri>s al-Sya>fi‘i>
39
– semoga Allah merahmatinya – yang mengatakan: Maksud Nabi Saw. mengatakan itu adalah (menunjukkan) orang yang telah menolong/membela agama Islam, sebagaimana firman Allah:
Artinya:
Demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman, dan karena sesungguhnya orang- orang kafir itu tidak mempunyai pelindung. (Q.S. Muh}ammad (47): 11)
Ada riwayat yang mengatakan bahwa hadis tersebut dilatarbelakangi oleh kisah Usa>mah bin Zaid Ra. yang pernah berkata kepada ‘Ali>: Engkau bukanlah seorang “wali”, akan tetapi pembela Rasulullah Saw. Rasulullah Saw. bersabda:
ُﻩَﻻْﻮَﻣ ﱞﻰِﻠَﻌَـﻓ ُﻩَﻻْﻮَﻣ ُﺖْﻨُﻛ ْﻦَﻣ .
Terjemahnya:
Siapa yang (ingin agar) aku sebagai “walinya”, maka (jadikanlah) Ali sebagai “walinya”.
Para ulama dan pakar bahasa berpendapat bahwa: Term
“maula>” mempunyai lebih kurang dua puluh arti, di antaranya:
Pengatur, penguasa, senior, hamba, pemberi karunia, orang yang diberi karunia, pembebas, orang yang diberi kebebasan, pembela, pencinta, pengikut, pendamping, putra paman (keponakan), pemegang amanah, menantu, cerdas.
40
Jadi, yang kami (al-Nawa>wi>) maksudnya adalah bahwa: ‘Ali>
adalah “maula>” bagi Abu> Bakr dan ‘Umar, dan keduanyapun menjadi “maula>” ‘Ali>. Penyebutan ‘Ali> (pada hadis tersebut) tidaklah menafikan selain dari ‘Ali>. Hal ini disebabkan seperti yang telah disebutkan sebelumnya.
Adapun pertanyaan: Apakah Abu> Bakr dan ‘Umar lebih unggul daripada ‘Ali>? Ketahuilah, bahwa masing-masing keduanya memiliki keunggulan dibandingkan ‘Ali>, sesuai dengan konsensus ulama Ahlusunah. Dalilnya adalah hadis- hadis sahih yang lebih popular dan lebih jelas dari dalil-dalil yang ditanyakan tadi. Pembahasan ini membutuhkan penjelasan yang panjang.
Adapun hadis:
ﱞﻲِﻠَﻋ ْﻢُﻛُﺄَﻀْﻗَأ .
Terjemahnya:
Yang paling bijaksana (di antara) kamu, adalah ‘Ali>.
Maksud hadis itu bukanlah menyatakan bahwa ‘Ali lebih bijaksana daripada Abu> Bakr dan ‘Umar ra. Sesungguhnya dimaksudkan adalah lebih bijaksana daripada audiensi, tidak dijelaskan apakah Abu> Bakr dan ‘Umar termasuk daripada audiensi tersebut.
Hadis itu tidaklah menunjukkan bahwa keberadaan seorang bisa menjadi lebih bijaksana daripada sekelompok orang, atau setiap individu dari sekelompok orang tersebut. Tidak juga
41
menunjukkan bahwa keberadaan seorang yang paling bijaksana, dipahami bahwa orang lain taklid kepadanya.
Sebab sesungguhnya tidak boleh seorang mujtahid taqlid kepada mujtahid lainnya. Bahkan jika seorang yang melakukan ijtihad yang berbeda dengan orang lain, maka dia mesti mengamalkan hasil ijtihadnya itu.
Adapun pertanyaan: Bukankah hadis itu menyimpulkan bahwa ‘Ali lebih utama daripada Abu> Bakr dan ‘Umar?
Jawabannya adalah: Sesungguhnya tidak dapat disimpulkan demikian, karena beberapa alasan:
1. Tidak ada keterangan yang jelas bahwa ‘Ali> lebih bijaksana daripada Abu> Bakr dan ‘Umar, sebagaimana yang telah kami (al-Nawawi>) jelaskan.
2. Sesungguhnya keberadaan seorang yang lebih bijaksana dari orang lain tidaklah secara mutlak dipahami bahwa orang tersebut lebih alim daripada orang lain. Hal itu hanya menunjukkan bahwa dia lebih bijaksana dalam persoalan penetapan hukum saja.
3. Keberadaan seorang yang lebih bijaksana dan lebih alim daripada orang lain, tidaklah menunjukkan bahwa orang tersebut lebih utama daripada yang lain. Sebab aspek keutamaan tidaklah hanya terbatas pada persoalan penetapan hukum saja.
42
Berkaitan dengan pertanyaan: Apakah ‘Ali> lebih utama daripada Abu> Bakr dan ‘Umar dalam persoalan kepemimpinan umat? Ketahuilah, bahwa ‘Ali> tidaklah lebih utama daripada Abu> Bakr dan ‘Umar dalam persoalan kepemimpinan ini, sebab masing-masing keduanya adalah lebih utama di masa mereka daripada ‘Ali> dalam persoalan kepemimpinan.
Sangat diharamkan menyakini bahwa ‘Ali> lebih utama daripada Abu> Bakr dan ‘Umar dalam persoalan kepemimpinan umat, karena hal itu dapat melukai perasaan umat Islam. Hal itu juga “terkesan” menyepelekan keputusan Rasulullah yang mendahulukan Abu> Bakr berkali-kali dalam mengimami salat, serta perintah beliau untuk menutup seluruh jendela rumah, selain jendela Abu> Bakr, dan hal lainnya yang menunjukkan keridaan Nabi saw. kepada kepemimpinan Abu> Bakr. Kami (al-Nawawi>) menilai Abu> Bakar lebih layak daripada yang lain dalam persoalan kepemimpinan ini.
Kami meriwayatkan suatu pernyataan Sufya>n al-S|auri> dengan sanad yang tidak mengandung celaan (baca: Sahih) dalam Sunan Abi> Da>wud – semoga Allah merahmatinya. Dia (Sufyan) berkata: Siapa saja yang mendakwahkan bahwa ‘Ali>
ra. lebih berhak daripada Abu> Bakr dan ‘Umar dalam hal kemimpinan, maka dia telah menuduh Abu> Bakr, ‘Umar, kaum muhajirin dan Ansar melakukan suatu kesalahan. Dia (Sufya>n) berkata lagi: Aku tidak mengira bahwa (orang yang
43
menyakini hal tersebut) amalnya terangkat ke langit. Inilah pernyataan Sufya>n, sementara dia adalah orang yang mantap keyakinannya kepada ‘Ali> ra. secara proporsional, sebagaimana yang diketahui. Walla>hu a‘lam.
44
45
Hadis tentang “ Menziarahi ” Nabi saw. & Ibrahim as.
Pertanyaan:
Orang awam di daerah Syam mengatakan, bahwa Nabi saw.
pernah bersabda:
َﺔﱠﻨَْﳉا ِﷲا َﻰﻠَﻋ ُﻪَﻟ ُﺖْﻨﱠﻤَﺿ ،ٍةَﺪِﺣاَو ٍﺔَﻨَﺳ ِﰱ َﻢْﻴِﻫاَﺮْـﺑِإ ِْﰊَأ َراَزَو ،ِْﱐَراَز ْﻦَﻣ
.
Terjemahnya:
Siapa saja yang telah mengunjungiku dan mengunjungi
"Bapakku" Ibrahim pada satu tahun, (maka) aku akan menjaminkan diriku kepada Allah, (agar diberikan) kepadanya surga.
Mereka juga mengatakan, bahwa ada juga (hadis lain yaitu):
"Siapa saja yang telah melaksanakan ibadah haji (mengunjungi Mekah), hendaknya ia meng-qudus-kan hajinya itu pada tahun yang sama".
Maksudnya adalah dengan mengunjungi Baitul Maqdis pada tahun (musim) haji (yang sama). Apakah dua hadis ini punya sanad, ataukah tidak?
Jawaban:
46
Hadis yang telah disebutkan ba>t}il dan maud}u>‘ (Palsu). Tidak satupun dari keduanya yang punya dasar (sanad). Namun (demikian), mengunjungi Nabi saw. dan Baitul Maqdis adalah suatu fadilah (amalan sunnah) yang tidak hanya dikhususkan pada waktu (musim) haji saja. Apabila ada orang yang tidak mengunjungi makam Nabi saw. atau tidak mengunjungi Baitul Maqdis pada musim haji, maka hal itu tidak berpengaruh terhadap sah tidaknya ibadah hajinya.
47
Hadis tentang Bahasa Bumi
Pertanyaan:
Ada yang mengatakan:
ِإ ﱠن َـﺑ ْﻴ َﺴ َنﺎ َﺴ ِﻟ ُنﺎ ْا ْر َﻷ ِض .
Terjemahnya:
Sesungguhnya Baisa>n itu adalah bahasa bumi.
Apakah ini sahih?
Jawaban:
Tidak sahih.
48
49
Hadis tentang 2 Orang yang Paling Senior di Surga
Pertanyaan:
َأ ﱠن َْﳊا َﺴ َو ﻦ ُْﳊا َﺴ َﺳ ، ْﲔ ﱢﻴ َﺪ َﺷ ا َﺒ ِبﺎ ْﻫ ِﻞ َأ َْﳉا ﱠﻨ َو ، ِﺔ َأ ﱠن َأ َﺑ َﺑ ﺎ ْﻜ َو ُﻋ ٍﺮ َﻤ َﺮ ـَﺳ ، ﱢﻴ َﺪ ا
ُﻬ ْﻮ ُﻛ َأ ْﻫ ِل َْﳉا ﱠﻨ ِﻞ َر َﺿ ِﺔ ُﷲا ِﻰ ْـﻨ ُﻬ َﻋ ْﻢ.
Terjemahnya:
Sesungguhnya H{asan dan H{usain adalah dua pemuda ahli surga yang senior. Abu> Bakr dan ‘Umar adalah dua orang dewasa ahli surga yang senior. (al-Hadis)
Apakah hadis ini sahih, atau tidak? Apakah makna hadis tersebut?
Apakah H{asan dan H{usain wafat di usia remaja atau Abu> Bakr dan
‘Umar wafat di usia dewasa?
Jawaban:
Ada hadis sahih yang diriwayatkan dari Abu> Sa‘i>d al-Khud}ri>
ra. yang mengatakan: Rasulullah saw. bersabda:
َْﳊ َا ـــَﺴ َو ﻦ ُْﳊا ـــَﺴ ـــَﺳ ْﻴ ُْﲔ َﺪ ـــَﺷ ا َﺒ ِبﺎ ـــْﻫ َأ َْﳉا ِﻞ ـــﱠﻨ ِﺔ .
) لﺎـــﻗو ،يﺬـــﻣﱰﻟا ﻩاور :
ﻦـــﺴﺣ ﺚﻳﺪـــﺣ
ﺢﻴﺤﺻ (.
50
Terjemahnya:
H{asan dan H{usain adalah remaja ahli surga yang senior.
(H.R. al-Tirmiz\i>, katanya: Hadis hasan sahih).
Hadis dari Anas ra., (ia) mengatakan: Rasulullah saw.
bersabda tentang Abu> Bakr dan ‘Umar ra.
ــــــَﻫ َﺬ اَﺪْﻴــــــَﺳ ِنا ــــــُﻬ ُﻛ
ْﻮ ِل ِﺔــــــﱠﻨَْﳉا ِﻞــــــْﻫَأ ــــــِﻣ
َﻦ ﱠوﻷا ــــــِﻟ َو َْﲔ ــــــ ِﺧﻵا ِﺮ ْﻳ َﻦ ِإ ﱠﻻ ﱠﻨﻟا ــــــِﺒ
َﱢﲔ
.(ﻦﺴﺣ ﺚﻳﺪﺣ :لﺎﻗو ،يﺬﻣﱰﻟا ﻩاور ). َْﲔ َﺳ ِﻠ ُﻤ ْﺮ َو ْﻟا
Terjemahnya:
Kedua ini adalah orang dewasa ahli surga yang senior dari orang-orang terdahulu dan belakangan, selain para nabi dan rasul. (H.R. al-Tirmiz\i>, (ia) berkata: Hadis hasan).
Abu> Bakar, ‘Umar, H{asan dan H{usain ra. wafat pada usia tua.
Makna hadis tersebut adalah bahwa H{asan dan H{usain ra.
adalah senior orang-orang yang wafat pada usia remaja dan masuk surga. Abu> Bakr dan ‘Umar adalah senior orang-orang yang wafat pada usia dewasa, dan masuk surga. Semuanya adalah penghuni surga yang berusia tiga puluh tiga tahun.
Senioritas yang menjadi syarat ketokohan, tidaklah selalu berdasarkan usia. Kadang-kadang yang menjadi senior adalah orang yang berusia tua, terkadang juga orang yang berusia muda.
Dengan demikian, tidak mesti dipahami bahwa hadis ini ditujukan kepada H{asan dan H{usain yang ketika itu masih berusia remaja, atau Abu> Bakar dan ‘Umar yang telah dewasa.
Sesungguhnya pemahaman yang seperti ini adalah jelas
51
karena suatu ketidaktahuan dan kekeliruan yang fatal. Sebab ketika Nabi saw. wafat, H{asan dan H{usain masih berusia di bawah delapan tahun. Keduanya belum bisa disebut remaja.
Sedangkan Abu Bakar berusia lebih dari enam puluh tahun, dan ‘Umar berusia lebih dari lima puluh tahun, sehingga keduanya disebut berusia tua pada waktu hadis tersebut diucapkan.
Hadis ini muncul di Madinah. Rasulullah saw. hanya tinggal di Madinah selama sepuluh tahun. Hadis ini kemungkinan muncul di akhir-akhir masa Nabi. Dikatakan dewasa jika sudah mencapai usia empat puluh tahun. Empat puluh tahun masuk dalam ketegori usia tua.Walla>hu a‘lam.
52
53
Hadis tentang Kegelapan Malam
Pertanyaan:
Dari 'Aisyah ra. (ia) berkata:
ِﷲا ُلْﻮــــُﺳَر َﺬــــَﺧَأ َﻢﱠﻠــــَﺳَو ِﻪــــْﻴَﻠَﻋ ُﷲا ﱠﻰﻠــــَﺻ
َلﺎــــَﻘَـﻓ َﺮــــَﻤَﻘْﻟا ِﱐاَرَﺄــــَﻓ ،ْيِﺪــــَﻴِﺑ :
ﱠﻧِﺈَﻓ ،اَﺬَﻫ ﱢﺮَﺷ ْﻦِﻣ ِﷲﺎِﺑ ْيِﺬْﻴِﻌَﺘْﺳِإ َﺐَﻗَو اَذِإ ُﻖِﺳﺎَﻐْﻟا ُﻪ
.
Terjemahnya:
Rasulullah saw. memegang tanganku, dan memperlihatkan bulan, lantas bersabda: “Berlindunglah kepada Allah dari kejahatan bulan. Sesungguhnya bulan inilah (maksud dari ayat):
al-ga>siq iz\a> waqab”. (al-Hadis)
Apakah hadis ini sahih, atau tidak? Apakah makna hadis tersebut?
Apakah yang menyebabkan berlindung dari kegelapan malam?
Jawaban:
Ini hadis daif. Al-gasiq adalah kegelapan. Dinamakan al-ga>siq karena sifatnya yang menutup, sehingga menjadi kelam dan gelap. Al-wuqu>b adalah masuk. Masuk dalam kegelapan dan
54
lain-lain, maksudnya adalah karena kondisinya yang tertutupi dan lain-lain.
Al-Ima>m al-H{a>fiz\ Abu> Bakr al-Khat}i>b al-Bagda>di> – semoga Allah merahmatinya – berkata: Seakan-akan yang menjadi sebab perlindungan (pada hadis ini) adalah kondisi masuknya ke dalam kegelapan. Sebab para pembuat onar mulai bertebaran dan beraksi dalam situasi gelap. Mereka tidak melakukan keonaran dalam situasi terang. Lantas mereka menggunakan azimat-azimat dan “menghipnotis” orang-orang yang “kebal”. Jadi, dinisbahkan kepada bulan, karena operasi mereka dilakukan ketika terbitnya bulan. Penamaan ini berdasarkan faktor penyebab atau kelaziman bagi sesuatu.
Walla>hu a‘lam.
55
Hadis tentang
Hubungan Zodiak
& Black Magic
Pertanyaan:
ِﺮْﺤﱢﺴﻟا َﻦِﻣ ًﺔَﺒَﻌُﺷ َﺲَﺒَﺘْـﻗا ِﺪَﻘَـﻓ ِمْﻮُﺠﱡﻨﻟا َﻦِﻣ ﺎًﻤْﻠِﻋ َﺲَﺒَﺘْـﻗا ِﻦَﻣ .
Terjemahnya:
Siapapun yang mengutip pendapat dari zodiak, berarti telah mengambil satu bagian dari black magic. (al-Hadis)
Apakah hubungan zodiak dengan black magic?
Jawaban:
Hadis yang telah disampaikan di sini, mengandung pengertian yang lain yaitu keduanya sama-sama batil, tipuan dan kamuflase. Allahlah penggerak dan pencipta keduanya, bahkan seluruh yang ada, maha suci Allah dan Maha Tinggi.
Black magic itu hanyalah khayalan saja.
56
Pertanyaan:
اْﻮُﻜِﺴْﻣَﺄَﻓ ُمْﻮُﺠﱡﻨﻟا ِتَﺮِﻛُذ اَذِإ .
Terjemahnya:
Jika zodiak disebut-sebut, tahanlah diri kalian!
Apakah maknanya?
Jawaban:
Tahanlah dirimu untuk tidak terlibat dan mengamalkan ilmu tentang zodiak, serta juga membenarkan orang yang mengatakannya.
57
Hadis tentang Nyanyian
Pertanyaan:
Sahihkah hadis yang menyatakan bahwa Nabi saw bersabda:
َﻟ َﻌ َﻦ ُﷲا ْﻟا ُﻤ َﻐ َو ْﻟا ﱢﲎ ُﻤ َﻐ َﻟ ُﻪ ﱠﲎ .
Terjemahnya:
Allah melaknat orang yang bernyanyi dan minta nyanyian.
Dan sabdanya:
َﻞْﻘُـﺒْﻟا ُءﺎَﻤْﻟا ُﺖِﺒْﻨُـﻳ ﺎَﻤَﻛ ِﺐْﻠَﻘْﻟا ِﰱ َقﺎَﻔﱢـﻨﻟا ُﺖِﺒْﻨُـﻳ ُءﺎَﻨِﻐْﻟَا .
Terjemahnya:
Nyanyian itu menumbuhkan sifat kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan jamur.
Jawaban:
Tidak ada yang sahih tentang hal itu.
58
59
Hadis tentang Bermain Catur
Pertanyaan:
Sabda Nabi saw.:
ٌنْﻮُﻌْﻠَﻣ َﻮُﻬَـﻓ ِﺞْﻧَﺮْﻄﱢﺸﻟﺎِﺑ َﺐِﻌَﻟ ْﻦَﻣ .
Terjemahnya:
Siapa saja yang bermain catur, maka dia terlaknat.
Apakah hadis ini sahih?
Jawaban:
(Al-Nawa>wi>) ra. menjawab, hadis ini tidak sahih. Hadis yang sahih adalah hadis yang melarang bermain dadu. Walla>hu a‘lam. Aku (al-Nawawi) telah menulis tentang ini.
60
61
Asal-muasal Bunga Mawar
Pertanyaan:
Sahihkah riwayat yang mengatakan bahwa bunga mawar diciptakan dari keringat Nabi saw. atau keringat Buraq?
Jawaban:
Tidak ada yang sahih.
62
63
Hadis tentang
Batas Usia Umat Islam
Pertanyaan:
َْﲔِﻌْﺒﱠﺴﻟاَو َْﲔﱢـﺘﱢﺴﻟا َْﲔَـﺑ ﺎَﻣ ِْﱵﱠﻣُأ ُرﺎَﻤْﻋَأ .
Terjemahnya:
"Umur-umur umatku antara enam puluh dan tujuh puluh tahun".(Hadis Masyhur)
Apakah hadis itu sahih? Apakah punya rujukan dalam kitab-kitab hadis yang muktabarah (diakui para ulama)? Siapa nama sahabat Nabi yang meriwayatnya?
Jawaban:
Itu hadis hasan. Abu> Hurairah ra. telah meriwayatkannya, Rasulullah Saw. telah bersabda:
َْﲔِﻌْﺒــﱠﺴﻟاَو َْﲔﱢـﺘــﱢﺴﻟا َْﲔــَـﺑ ﺎــَﻣ ِْﱵــﱠﻣُأ ُرﺎــَﻤْﻋَأ َو ،
َأ َـﻗ ﱡﻠ ــُﻬ ْﻢ ــَﻣ ْﻦ ــَُﳚ ْ ﻮ ُز َذ َﻚ ــِﻟ .
) ﻩاور
لﺎﻗو ،يﺬﻣﱰﻟا :
ﻦﺴﺣ ﺚﻳﺪﺣ (
64
Terjemahnya:
Umur-umur umatku antara enam puluh dan tujuh puluh tahun.
Sedikit di antara mereka yang umurnya lebih dari itu. (H.R. al- Tirmiz\i>, katanya: Hadis hasan).
65
Hadis tentangCara Berzikir yang Paling Baik
Pertanyaan:
َﺧ ْـﻴ ُﺮ ﱢﺬﻟا ْﻛ َْﳋا ِﺮ ﱡﻲ ِﻔ َو ، َﺧ ْـﻴ ُﺮ ْﻟا َﻤ َﻣ ِلﺎ َﻳ ﺎ ْﻜ ْﻲ. ِﻔ
Terjemahnya:
Sebaik-baik zikir adalah (zikir) khafi (tanpa mengeraskan suara), dan sebaik-baik harta adalah yang (bisa) mencukupi (kebutuhan).
(al-Hadis)
Apakah hadis ini sahih? Apa maknanya?
Jawaban:
Tidak sahih. Makna hadis tersebut yaitu, sesungguhnya zikir khafi> (zikir tanpa mengeraskan suara) jauh dari sifat riya, sombong dan lain-lain. Hal ini jika dilakukan pada tempat yang dikhawatirkan bisa muncul sifat riya dan sombong dan lain-lain. Jika tidak, tentu zikir jahar (dengan mengeraskan suara) yang lebih baik.
66
Adapun maksud dari: “Sebaik-baik harta adalah yang (bisa) mencukupi (kebutuhan)”, adalah harta yang secukupnya, yaitu sekedar terlepas fitnah kekayaan dan kefakiran. Riwayat yang sahih mengatakan bahwa Nabi Saw. bersabda:
ُـﻗ ٍﺪﱠﻤَُﳏ ِلآ َقْزِر ْﻞَﻌْﺟا ﱠﻢُﻬّﻠﻟَا ْﻮﺎًﺗ
.
Terjemahnya:
Ya Allah, jadikanlah rizki keluarga Muhammad “qutan”
(secukupnya atau tidak kekurangan).
67
Hadis tentang Beban Umat
Pertanyaan:
َأ َﻧﺎ ِْﱵﱠﻣأ َو ُءآَﺮُـﺑ َﻦ ِﻣ َﻜﱠﺘﻟا ِﻒﱡﻠ .
Terjemahnya:
Aku dan umatku, “lepas” dari takalluf. (al-Hadis).
Apakah hadis ini sahih? Apa maknanya?
Jawaban:
(Hadis itu) tidak sahih. “Takalluf” artinya melakukan hal-hal yang tiada manfaatnya. “Takalluf” juga digunakan kepada orang yang menyusahkan dirinya dengan melakukan sesuatu di luar kebiasaannya.
68
69
Hadis tentang
Keharusan Salat di Masjid
Pertanyaan:
ِﺪِﺠْﺴَﻤْﻟا ِﰱ ﱠﻻِإ ِﺪِﺠْﺴَﻤْﻟا ِرﺎَِﳉ َةَﻼَﺻ َﻻ .
Terjemahnya:
"Tiada artinya salat bagi yang tinggal dekat masjid, kecuali (dilakukannya) di masjid". (al-Hadis)
Dalam hadis yang lain:
ٌةَﻼَﺻ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ْﻦَﻤِﻟ َةَﻼَﺻ َﻻ .
Terjemahnya:
"Tiada artinya salat bagi siapa saja yang berkewajiban untuk salat".
Apakah kedua hadis ini sahih?
Jawaban:
Keduanya daif.
70
71
Hadis tentang
Dunia yang Terlaknat
Pertanyaan:
ﺎَﻴْـﻧﱡﺪﻟ َا ٌﺔَﻧﻮُﻌْﻠَﻣ ٌنﻮُﻌْﻠَﻣ ،
ﺎَﻣ ﺎَﻬﻴِﻓ ُﺮْـﻴَﻏ ، ِﺮْﻛِذ َﱃﺎَﻌَـﺗ ِﷲا
.
Terjemahnya:
Dunia itu terlaknat, terlaknat (juga) seisinya, selain (yang) berzikir kepada Allah.(al-Hadis)
Apakah hadis itu sahih?
Jawaban:
Itu hadis hasan. Al-Tirmiz\i> dan yang lain pernah meriwayatkannya. Walla>hu a‘lam. Saya (al-Nawawi>) (juga) pernah menulisnya.
72
73
Hadis tentang
Keistimewaan Beberapa Kota
Pertanyaan:
Apakah sahih hadis yang meriwayatkan tentang keistimewaan kota ‘Asqalan, ‘Ikkah, ‘Ain al-Baqr, ‘Ain Salwan dan ‘Ain Qalus?
Jawaban:
Tidak ada satupun yang sahih tentang itu.
74
75
Hadis tentang Salat 12 Rakaat
Pertanyaan:
ﺎًﺘْﻴَـﺑ ُﻪَﻟ ُ ﷲا َﲎَـﺑ ًﺔَﻌَﻛَر َةَﺮْﺸَﻋ َْﱴَﻨْـﺛا ﱠﻰﻠَﺻ ْﻦَﻣ ِﺔﱠﻨَْﳉا ِﰱ
.
Terjemahnya:
Siapa yang salat dua belas rakaat, Allah akan membangunkan rumah untuknya di dalam surga. (al-Hadis)
Apakah makna Hadis Nabi ini adalah bahwa (ditujukan kepada) siapa yang salat sunnah rawa>tib, Allah akan menjadikan (rumah) itu untuknya, atau tidak (begitu maknanya)?
Apakah hadis itu sahih atau tidak?
Jawaban:
(Hadis) itu terdapat dalam S{ah}i>h}Muslim, dan berlaku kepada salat sunnah rawa>tib. Walla>hu a‘lam.
76
77
Hadis tentangMenghiasi Quran dengan Membacanya
Pertanyaan:
Apakah makna Hadis Nabi:
ْﻢُﻜِﺗاَﻮْﺻَﺄِﺑ َنآْﺮُﻘْﻟا اْﻮُـﻨﱢـﻳَز .
Terjemahnya:
Hiasilah Alquran, dengan suara-suaramu.
Bagaimanakan cara menghiasinya?
Jawaban:
Makna hadis: Bacalah Alquran dengan suara yang bagus, enak didengar. Walla>hu a‘lam.
78
79
Hadis tentang Masa Hidup Lebih dari 100 Tahun
Pertanyaan:
Apakah makna Hadis Nabi Saw.:
َﻣ ِﻣ ﺎ ْﻦ َـﻧ ْﻔ َﻣ ْـﻨ ٍﺲ ُﻔ ْﻮ َﺳ ٍﺔ ُﺔَﺋﺎِﻣ ﺎَﻬْـﻴَﻠَﻋ ْ ِﰐْﺄ َﺗ َﺳ َﻨ
َو ِﻫ ٍﺔ َﻲ َﺣ ﱠﻴ ٌﺔ َـﻳ ْﻮ َﻣ ِﺌ ٍﺬ.
Terjemahnya:
Tidak ada satupun yang (masih) bernyawa, dan hidup lebih dari seratus tahun pada saat itu.
Jawaban:
Hadis itu memberitahukan bahwasanya (khusus) pada malam itu setiap yang bernyawa yang tidak sampai hidup seratus tahun. Akan tetapi akan meninggal dunia sebelum (mencapai tahun) itu. Maksudnya, satu generasi akan berakhir dengan kehadiran generasi yang lain. Pada hadis itu (juga mengisyaratkan) pendeknya cita-cita atau harapan (orang yang hidup saat itu). Jadi maksudnya bukan berarti setelah masa itu
80
tidak satupun yang (bisa) hidup lebih dari seratus tahun.
Walla>hu a‘lam.
81
Hadis tentang Dawud & Zabur
Pertanyaan:
ُنآْﺮُﻘْﻟا َدُواَد َﻰﻠَﻋ َﻒﱢﻔُﺧ .
Terjemahnya:
Dimudahkan Alquran untuk Daud.(al-Hadis)
Apakah makna Hadis ini?, Alquran manakah yang dimaksud?
Jawaban:
Maksudnya adalah Zabur. Walla>hu a‘lam.
82
83
Hadis tentang Mandi Wajib
Pertanyaan:
ِإ ﱠن ـﱠﻨﻟا َِﱯ َﻢﱠﻠــَﺳَو ِﻪـْﻴَﻠَﻋ ُ ﷲا ﱠﻰﻠــَﺻ ــُﺳ ِﺌ
َﻞ ـَﻋ ﱠﺮﻟا ِﻦ ــُﺟ ـَُﳚ ِﻞ ُﻊ َأ ِﻣﺎ ْﻫــَﻠ ُﻪ ﱠُﰒ ُﻳ ْﻜ ــ ِﺴ
ُﻞ
؟ ٍﻞ ْﺴ ُﻏ ْﻦ ِﻣ َﻠ ْﻴ ِﻪ َﻋ َﻫ ْﻞ
Terjemahnya:
Sesungguhnya Nabi Saw pernah ditanyakan tentang seseorang yang menggauli isterinya, (tetapi) kemudian air maninya tidak bisa keluar. Apakah orang tersebut wajib mandi?. (al-Hadis) Apakah hadis ini sahih?
Jawaban:
Sahih. Namun (hadis ini) telah ter-mansu>kh. Ketika ujung kemaluan laki-laki sudah masuk pada rongga kemaluan perempuan, (maka) keduanya wajib mandi, keluar cairan atau tidak keluar. Walla>hu a‘lam.
84
85
Hukum meriwayatkan Hadis Daif
Pertanyaan:
Jika telah diketahui ada hadis yang tidak sahih dari Nabi Saw.
Apakah boleh diriwayat atau dituliskan kepada orang lain?
Jawaban:
Boleh. Sepantasnya (juga) dijelaskan kedaifannya, agar orang lain tidak merasa tertipu. Saya (al-Nawawi>) (juga) pernah menulis (penjelasan) tentang kedua hal ini.
86
87
Tentang Editor
Asrar Mabrur Faza,
lahir 7 Pebruari 1982 di Barus, Sumatera Utara. Putra Faisal Aziz Batubara, B.A dan Zaimah, B.A. Jenjang pendidikan S1 Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir Hadis dan S2 Pengkajian Islam di Program Pascasarjana di IAIN Sumatera Utara, Medan. Sekarang sedang mengikuti S3 Konsentrasi Hadis pada Program Pascasarjana di UIN Alauddin Makassar Sulawesi Selatan.Aktifitas akademis mengajar di perguruan Tinggi Islam di Medan. Di antara karya tulisnya: SMS (Sapaan Muhammad Saw.) Buat Kamiu (2008), Dialog Lintas Mazhab (2008), Hadis Pluralisme: Studi Kritis Hadis Toleransi Beragama (2010), Mengapa Harus Puasa Senin- Kamis? (2010), Biar Beda Agama Tetap Sahabatku (2010), Muslim Pluralis (2010), Imam Muslim (2010), Penggagas Ilmu-Ilmu Hadis (2011), Alquran yang Ramah (2011), Biografi Rawi Hadis (2012), dan Sekuntum Hikmah: Dari Maha Guru Ahlusunah, Syi‘ah dan Ahmadiyah (2012). Penulis bisa dihubungi via E-mail: asrar [email protected], atau sms ke 081356251189.