• Tidak ada hasil yang ditemukan

GENTA HREDAYA Volume 5 No 2 Oktober 2021 P ISSN E ISSN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "GENTA HREDAYA Volume 5 No 2 Oktober 2021 P ISSN E ISSN"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

KONSEP PEMBANGUNAN PARIWISATA MILENIAL DI KABUPATEN BULELENG

Oleh

I Gede Sutana1, Ida Bagus Gede Paramita2 STAH Negeri Mpu Kuturan Singaraja1,2,

Email: [email protected]1, [email protected]2 Abstract

The purpose of the research is to provide an alternative pattern of tourism development with the main market share of the millennial generation. This is very suitable considering the potential of nature, tradition and culture in Buleleng regency to support millennial tourism development. The driving factors such as image, characteristics and motives in traveling also support the development of this tourism. In addition, steps that can be taken for tourism development are also offered, namely, by holding tourism events, digital tourism, and sustainable tourism. This research is descriptive-qualitative research. Primary data in this study is sourced from observations and interviews while secondary data from scientific journals and books that help this research. The collected data is then selected to assist the analysis and the last step is drawing conclusions. The results of this study are a recommendation for the local government of Buleleng regency to develop tourism with a millennial market share.

Keywords: Tourism Development, Millennial Tourism.

I. PENDAHULUAN

Industri pariwisata mengalami perkembangan yang signifikan di era digital.

Di era tahun 90-an masyarakat mengetahui informasi tentang objek wisata hanya melalui brosur tabloid dan majalah dan kini informasi mengenai objek wisata sudah ada digenggaman. Milenial adalah generasi yang sangat identic dengan hal tersebut.

Banyak hal yang menarik untuk dibicarakan terkait dengan dengan milenial seperti, life style, pola pikir, maupun kemampuan mereka dalam adaptasi teknologi. Begitu pula dengan gaya mereka berwisata.

Mereka lebih senang mencari informasi- informasi objek wisata melalui website maupun media sosial. Ulasan mengenai tempat wisata menarik kini bentuknya lebuh dinamis, dulu yang bentuknya konvensional beranjak ke bentuk digital. Hal ini menjadikan pariwisata tak lagi tentang bagimana seseotrnag bepergian untuk liburan namun juga tentang komoditi baru yang dapat dijadikan profesi bagi sebagian orang contohnya vlogger ataupun yuotuber.

Selama ini banyak tempat wisata hanya dilukiskan sebagai suatu tempat dengan

fasilitas penunjang pariwisata yang kondusif, namun di era kekinian banyak masyarakat atau wisatawan yang berburu tempat-tempat tersembunyi (hidden spot) yang jarang diajamah wisatawan. Tak perduli harus menelusuri hutan atau rawa, intinya setelah mendapat tempat baru itu merupakan suatu pengalaman baru bagi wisatawan jenis ini.

Berbicara potensi, kabupaten dengan wilayah terluas di bali yakni 1.365, 88 km2 (24,25 % luas pulau bali), yang membentang dari ujung barat pulau bali sampai ujung timur ujung bali. Secara geografis buleleng memiliki garis pantai 157,05 km dengan memiliki dua danau yakni danau buyan dan danau tamblingan, daerah perbukitan yang memanjang dari barat ke timur. Melihat pantai di Buleleng tidak kalah dengan keindahan pantai di Bali selatan. Mulai dari pantai berpasir hitam, berpasir putih, berbatu hingga tebing curampun ada di Buleleng. Dari kondisi itu pengembangan pariwisata di Buleleng harusnya bisa lebih baik dari hari ini jika strateginya tepat.

Kondisi tersebut menggambarkan betapa

GENTA HREDAYA Volume 5 No 2 Oktober 2021

P ISSN 2598-6848 E ISSN 2722-1415

(2)

besar potensi yang dimiliki oleh kabupaten buleleng

Regulasi, Arah kebijakan dan strategi nasional kemeneterian pariwisata dan ekonomi kreatif 2020-2024 ada 7 arah kebiajakan yang menjadi prioritas pengembangan pariwisata antara lain: 1) pengembangan destinasi pariwisata dan produk ekonomi kreatif bernilai tambah dan berdaya saing; 2) pemasaran pariwisata dan ekonomi dan kreatif berbasis kemitraan strategis; 3) pengembangan industri pariwisata dan ekonomi kreatif terintegrasi;

4) pengelolaan SDM dan kelembagaan pariwisata dan ekonomi kreatif dalam mewujudkan SDM yang unggul dan berdaya saing; 5) meuwujudkan kreatifitas anak bangsa dengan berorientasi kepada pergerakan ekonomi kerakyatan; 6) mendorong riset, inovasi, adopsi teknologi, serta kebijakan pariwisata dan ekonomi kreatif yang berkualitas; 7) mewujudkan birokrasi kementerian pariwisata dan ekonomi kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang profesional. Dari arah kebijakan tersebut ruang gerak dan kreatifitas generasi milenial memiliki potensi yang besar dalam kebijakan dan strategi nasional Kemenparekraf. Selain sebagai pelaku usaha, generasi milenial ini memiliki potensi sebagai wisatawan dan potensi ini bisa menjadi arah prioritas pengembangan pariwisata.

Pemerintah provinsi Bali dengan misi Nangun Sat Kerthi Loka Bali berupaya menghadirkan sebuah pola pembangunan berencana dengan mengusung one island one management. Diharapkan dengan pola pembangunan seperti ini dapat memeratakan pembangunan Bali selatan dan Bali Utara. Selama ini aksebilitas pembangunan di Bali utara seperti termajinalkan dari peta pembangunan provinsi Bali. Padahal potensi yang dimiliki begitu besar, potensi yang dimiliki Bali

utara tidak kalah dengan potensi yang dimiliki Bali selatan. Namun, jika dilihat dari persfektif pariwisata kondisi geografis wilayah yang berbukit curam dengan jalur snake road (jalur berliku) menjadi kelemahan utama. Kondisi ini perlahan mulai dibenahi dengan pembangunan shortcut. Tujuan pembangunan shortcut ini tentunya untuk memotong jalur yang berliku-liku menjadi lebih landai dan nyaman dilalui oleh wisatawan.

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas menarik untuk dikaji untuk mentranspormasikan pembangunan pariwisata ke arah yang ramah milenial.

Oleh karena itu penulis mengangkat sebuah kajian untuk membentuk sebuah penelitian dengan judul “Konsep Pembangunan Industri Pariwisata Milenial Di Kabupaten Buleleng”.

Penelitian ini akan mengkaji tentang potensi wilayah kabupaten Buleleng dalam menunjang pembangunan pariwisata milenial, faktor pendorong pembangunan pariwisata milenial dan konsep pembangunan pariwisata milenial.

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif- kualitatif yaitu penelitian yang lebih banyak menggunakan dan mengumpulkan informasi dengan cara mendalami setiap fenomena sosial yang diteliti. Sumber data dalam penelitian ini adalah data primer diperoleh dari, observasi atau pengamatan langsung dilapangan dalam hal ini Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng, Organisasi Pengelola Usaha atau Jasa Pariwisata di Kabupaten Buleleng, serta masyarakat dalam hal ini generasi milenial di Kabupaten Buleleng, serta informasi dari hasil wawancara dengan informan penelitian.

Data sekunder yakni berupa jurnal, hasil penelitian, dan referensi lainnya termasuk materi yang bisa di akses dari internet, yang terkait erat dengan masalah-masalah yang sesuai dengan topik dalam penelitian ini.

(3)

II. PEMBAHASAN

2.1 Potensi Kabupaten Buleleng dalam Menunjang Pariwisata Milenial

No Kecamatan Ragam Wisata DTW

1 Tejakula Alam dan Tirta Air Terjun Yeh Mampeh, Taman Laut Desa Les,

Budaya Desa Tua Julah, Desa Tua Sembiran Spiritual Pura Ponjok Batu,

Kuliner Jajan Bali Cerorot 2 Kubutambahan Spiritual Pura Maduwe Karang

3 Sawan Alam dan Tirta Pantai Kerobokan, Air Terjun Sekumpul, Bengbengan, Fiji, Bukit Lalang, Yeh Mampeh, Teja,

Budaya Pande Gong, Monumen Perang Jagaraga, Spiritual Pura Beji Sangsit

4 Sukasada Alam dan tirta Danau Buyan, Air Terjun Banyumala, Gitgit, Bertingkat, Colek Pamor, Campuhan, Jembong, Cinta, Monkey Forest Wanagiri

Budaya Tradisi Magoak-goakan, tari joged, twin lake festival

Kuliner Jajan Laklak

5 Buleleng Alam dan tirta Pantai Lovina, pantai penimbangan, Budaya Gong Merdangga, Festival Buleleng,

Gerabah, pengrajin perak, Gedong Kirtya, Museum Buleleng, Puri Buleleng, Puri Kanginan, Situs Budha, Kuliner Tipat Blayag, Siobak, Dodol

6 Gerogak Alam dan tirta Taman Nasional Bali Barat, Taman Laut Pulau Menjangan, Air Terjun Banyuwedang, Bendungan Renon, Taman Laut Pemuteran,

Spiritual Pura Pulaki

7 Seririt Kuliner Durian Bestala

8 Busung Biu Alam dan Tirta Terasering Umajero, Terasering Kekeran, Bendungan Titab,

9 Banjar Alam dan Tirta Air Panas banjar, Air Terjun Melanting, Danau Tamblingan, Air Terjun Singsing, Budaya Sapi Gerumbungan, Megangsing, Desa

Tua Sidetapa, Pedawa, Tigawasa, Cempaga, Banyuseri, Lovina Festival, Spiritual Brahma Wihara Arama

Sumber: Dinas Statistik Kabupaten Buleleng

2.2 Faktor Pendukung Pembangunan Pariwisata Milenial

Keputusan seseorang untuk melakukan perjalanan wisata dipenagruhi oleh kuatnya faktor pendorong (push factors) dan faktor penarik (pull factors). Faktor pendorong dan

penarik dapat pula diartikan sebagai faktor internal dan faktor eksternal yang mempengaruhi keputusan seseorang untuk berwisata. Faktor penarik atau faktor eksternal telah dibawah secara detail pada pembahasan sebelumnya. Sedangkan faktor

(4)

pendorong akan dibahas pada bagian ini.

Faktor pendorong sejatinya adalah adalah faktor internal yang memotivasi wisatawan untuk melakukan perjalanan wisata ke suatu destinasi. Faktor pendorong umumnya bersifat sosial-psikologis atau merupakan person spesiific motivation yang sangat menentukan seseorang melakukan perjalan wisata. Secara geografis potensi Kabupaten Buleleng memiliki karakteristik topografi yang kompleks, selain memiliki garis pantai terpanjang Buleleng juga memiliki daerah perbukitan yang sangat potensial jika dimanfaatkan untuk kegiatan pariwisata.

Pengembangan pariwisata harus terencana secara menyeluruh, sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, baik dari segi ekonomi, sosial dan kultural, serta menghindari timbulnya permasalahan ekonomi, sosial dan kultural yang bersifat negative (Citra,2016).

Karakteristik wilayah Buleleng yang kompleks memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata yang ada, seperti wisata bahari, wisata alam, dan wisata budaya. Spilane (1987) dalam Rusvitasari dan Solikhin (2014) menjelaskan bahwa wisata alam, yaitu perjalanan yang memanfaatkan potensi sumber daya alam dan lingkungannya, wisata bahari yaitu wisata menikmati keindahan laut, dan wisata budaya yaitu berwisata dengan tujuan mengenali adat dan budaya daerah setempat atau kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat di suatu daerah. Kategorisasi wisata tersebut terdistribusi di Kabupaten Buleleng seperti Pantai Lovina yang terkenal dengan atraksi lumba-lumba dan pantai pemuteran yang terkenal dengan keindahan bawah lautnya, terutama Biorock atau media transplantasi

terumbu karang, dan Objek Wisata Kolam Renang Air Sanih yang memiliki daya tarik wisata. Kemudian untuk sektor wisata alam terdapat Air Terjun Gitgit yang berada di Desa Gitgit menjadi salah satu air terjun andalan di Kabupaten Buleleng. Potensi inilah yang mendorong pembangunan pariwisata milenial di kabupaten Buleleng adalah citra destinasi pariwisata Buleleng, karakteristik wisatawan dan motivasi berwisata.

a. Citra

Definisi citra destinasi sudah tidak asing lagi dalam dunia pariwisata karena pada hakikatnya citralah yang sebenarnya yang menggerakkan dan mendorong wisatawan menentukan pilihan destinasi wisatanya. Citra sebuah destinasi merupakan persepsi yang terbentuk dari berbagai informasi yang diterima oleh wisatawan. Setiap destinasi pariwisata mempunyai citra tertentu yang mengandung keyakinan, kesan, dan persepsi tentang sebuah destinasi. Citra yang terbentuk merupakan kombinasi antara berbagai faktor yang ada pada destinasi seperti, pemandangan alam, keamanan, kesehatan dan sanitasi, keramah-tamahan (Coban, 2012; Jamaludin et al, 2012).

Citra/image destinasi pariwisata di kabupaten buleleng yang terbangun dalam pikiran calon wisatawan pun sangat baik.

Kompleksitas potensi menjadi daya tarik utama kabupaten buleleng dan menjadi salah satu pilihan untuk dikunjungi jika akan berwisata. Tidak heran tren kunjungan wisatawan yang melakukan perjalan wisata dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Secara statistik data kunjungan wisatawan ke buleleng tersaji dalam tabel di bawah ini:

Tabel Data Kunjungan Wisatawan dari Tahun 2015-2019

No Tahun Wisatawan Jumlah Persentase Pertumbuhan Domestik Mancanegara

1 2015 402.639 300.305 702.944 5,89%

2 2016 504.145 301.313 805.458 14,6%

3 2017 681.900 272.700 954.600 18,5%

4 2018 610.102 391.690 1.001.792 4,9%

5 2019 769.759 314.409 1.084.168 8,2%

Total 2.968.545 1.580.417 4.548.962 55,09%

(5)

Rata-rata 593.709 316.084 909.792 11,02%

Sumber: Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng Berdasarkan Tabel di atas, dapat dilihat

bahwa jumlah kunjungan wisatawan baik itu domestik dan mancanegara ke Kabupaten Buleleng terus mengalami peningkatan yang cukup baik di setiap tahunnya. Wisatawan yang berkunjung ke Buleleng ada dua jenis, yaitu Wisatawan Domestik dan Wisatawan Mancanegara. Jika dilihat dari tren kunjungan wisatawan 5 tahun terakhir yaitu dari tahun 2015 hingga 2019. Jumlah wisatawan domestik lebih banyak dibandingkan dengan wisatawan mancanegara. Dan kita patut berbangga dengan peningkatan jumlah wisatawan domestik yang mulai meningkat

tajam di Tahun 2016 hingga Tahun 2017. Hal ini sedikit tidaknya berpengaruh pada hukum penawaran dan permintaan. Ketika mulai menjamurnya tempat-tempat wisata alam yang menawarkan lokasi khusus “selfie”, disana pula terdapat daya tarik “plus”

kunjungan wisata khususnya bagi milenial.

Dan ketika milenial ini semakin bertambah banyak dalam berwisata, disana pula sebagai penarik para investor untuk mengembangkan tempat daya tarik wisata. Hal ini nantinya akan sangat menguntungkan bagi perkembangan pariwisata Buleleng.

Gambar Foto Selfie Wisatawan Milenial di Beberapa Objek Wisata di Kabupaten Buleleng Sumber: Instagram SingarajaNow

Selain sisi keindahan alam, faktor kemananan dan kebersihan juga ditawarkan oleh kabupaten Buleleng. Sesuai dengan hasil wawancara dengan beberapa responden yang ditemui dibeberapa objek wisata sebanyak 64,5% menjawab kemananan dan kebersihan objek wisata di Buleleng sudah baik, sedangkan 34,6% menjawab sedang dan terakhir sebanyak 1% menjawab tidak baik.

Begitu pula sanitasi, sanitasi adalah usaha-usaha kesehatan lingkungan yang menitik beratkan pada pengawasan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan manusia. Berdasarkan kuesioner yang disebar, Image/citra wisatawan terhadap

kabupaten Buleleng terkait sanitasi sebanyak 56,3% menjawab baik, sedangkan 42,1%

menjawab sedang dan 1,5% menjawab tidak baik.

b. Karakteristik Wisatawan Milenial Kabupaten Buleleng

Karakterisitik Milenial berdasarkan Umur dan jenis Kelamin.

Generasi milenial merupakan salah satu penggolangan generasi yang dilakukan melihat segmetntasi demografis. Segmentasi demografis adalah pengelompokan wisatawan berdasarkan aspek umur. Asisten Deputi Pengembangan Wisata Budaya Deputi

(6)

Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata tahun 2019 yang menyatakan sebagai berikut:

1. Baby Boomers kelahiran 1946-1964.

Baby Boomers adalah mereka yang lahir setelah masa Perang Dunia II atau sekitar tahun 1946 sampai 1964. Generasi baby boomers turut menikmati kemakmuran di masa hidup mereka dan saat ini, sebagian besar telah menikmati masa pensiun mereka yang terjamin.

2. Generasi X Kelahiran 1965-1980. Jika dibandingkan dengan generasi sebel umnya, mereka yang tergolong dalam Generasi X cenderung lebih toleran terhadap perbedaan termasuk dalam hal agama, kelas, ras, etnis, dan orientasi seksual.

3. Generasi Y Kelahiran 1981-1999.

Tumbuh besar seiring perkembangan teknologi yang sangat pesat, Generasi Y biasanya sangat fasih menggunakan internet serta perangkat canggih.

Generasi ini terbiasa terkoneksi selama 24 jam sehari setiap hari, melalui gadget yang beraneka macam termasuk smartphone, tablet, atau laptop.

4. Generasi Z Kelahiran 2000-2010. Saat ini, mereka masih berusia remaja atau anak-anak. Generasi ini tumbuh dengan berbagai kemudahan teknologi dan ketersediaan akses ke dunia luar yang tak terbatas.

5. Generasi Alpha Kelahiran 2010-

…Setelah tahun 2010, mereka yang baru lahir disebut sebagai bagian dari Generasi Alpha. Banyak dari mereka sudah menggunakan smartphone sebelum lancar berjalan atau berbicara. Karena itu, banyak yang berang-gapan bahwa generasi ini merupakan generasi yang paling transformatif, terutama dalam hal penggunaan dan pengembangan teknologi.

Generasi milenial menjadi topik pembicaraan di berbagai sektor termasuk pariwisata di beberapa waktu belakangan ini.

Hal ini dikarenakan banyaknya jumlah generasi milenial jika dibandingkan dari generasi – generasi lainnya. Dengan tingginya

jumlah generasi milenial, maka generasi milenial dapat menjaring segmen pasar yang baik di berbagai sektor, termasuk pariwisata terutama dikabupaten Buleleng. Dari beberapa responden yang diberikan pertanyaan karakteristik wisatawan milenial berdasarkan umur dan jenis kelamin yang tertarik dengan Pariwisata Milenial di kabupaten Buleleng adalah dari umur dengan persentasi 11-21 tahun sebanyak 67,3 %, 22- 40 sebanyak 31,2% dan 41-56 sebanyak 1,5%.

Rata-rata generasi dari umur 11-40 Tahun menduduki peringkat paling banyak dan merupakan potensi besar untuk pengembangan pariwisata dengan basis pasar milenial. Berdasarkan jenis kelamin wisatawan milenial yang tertarik dengan wisata milenial adalah perempuan sebanyak 60% dan laki-laki sebanyak 40%

Karakterisitik Milenial berdasarkan Daerah Asal

Sampel yang digunakan dalam peneltian ini adalah masyarakat buleleng dan beberapa sampel dari kabupaten yang berbatasan dengan Buleleng. Dari hasil pengolahan data responden didapat jumlah generasi milenial yang tertarik mengunjungi kabupaten Buleleng berdasarkan daerah asal adalah: 349 orang berasal dari Buleleng, 120 orang berasal dari Tabanan, 11 orang berasal dari Jembrana, 14 orang berasal Denpasar, 3 orang dari Jawa Timur, 2 orang dari Badung, 6 orang dari Karangsem, 8 orang dari Bangli, dan 7 orang dari Gianyar.

Karakteristik Milenial Berdasarkan Konektifitas Internet

Dalam penelitian ini responden juga menilai layanan konekvitas jaringan internet sangat penting. Dimana 96,5% menjawab sangat memerlukan internet saat akan melakukan perjalanan wisata ke kabupaten Buleleng. Sebanyak 14% menjawab ragu- ragu dan sebanyak 4% menjawab tidak perlu.

(7)

Karakteristik Psikografis (Tipologi) Wisatawan Milenial Di Kabupaten Buleleng

Tipologi wisatawan milenial yang berkunjung ke Buleleng cenderung bersifat allocentric (menyukai menyukai hal-hak baru, unik, berpetualang, mencari tempat baru, dan tidak banyak diketahui oleh orang lain, serta memilih untuk menggunakan fasilitas seadanya) sebanyak 48%. Midcentric sebanyak 42% adalah dan psychocentric wisatawan yang lebih menyukai tempat- tempat popular sebanyak 9,8%.

c. Motif

Salah satu aspek yang tak dapat dipisahkan dari sebuah perjalanan wisata adalah dari perspektif motif yang mendasari seorang wisatawan datang ke suatu objek atau wilayah. Demikian beragamnya motif wisata yang mendorong seseorang melakukan perjalanan wisata, Akan tetapi tidak ada kepastian apakah semua jenis motif wisata telah atau dapat diketahui. Namun pada hakikatnya motif orang untuk mengadakan perjalanan wisata itu tidak terbatas dan tidak dapat dibatasi. Ada 4 kelompok besar motif seseorang melaksanakan wisata yakni:

- Physical or physiological motivation (motifasi yang bersifat fisik atau fisiologis), antara lain untuk relaksasi, kesehatan, kenyamanan. berpartisipasi dalam kegiatan olah raga, bersantai, dan sebagainya. Dari hasil penelitian ini didapat bahwa 83,8% responden menyatakan bahwa merreka pernah melaksanakan perjalanan wisata ke Buleleng Barat.karena keinginan untuk melarikan/ melepaskan diri dari di lingkungan rumah muncul sebagai dorongan motif terkuat pertama bagi pengunjung wisata. Sedangkan 16,2%

mengikuti rombongan teman-teman.

- Cultural motivation (motivası budaya), yaitu keinginan untuk mengetahui budaya, adat, tradisi, dan kesenian daerah lain. Termasuk juga ketertarikan akan berbagai objek tinggalan budaya (monumen bersejarah). Berdasarkan hasil wawancara dengan narasumber I

Putu Mardika menyatakan bahwa perjalanan wisata karena motivasi budaya memang agak jarang dijadikan alasan berwisata. Akan tetapi ketika event budaya ini dikemas dengan baik bisa menjadi popular juga. Contoh, Sapi Gerumbungan digelar berdekatan dengan objek wisata Lovina, yang mana merupakan objek wisata terpopuler dan salah satu kawasan pariwisata di kawasan wisata Bali Utara. Pantai Lovina menyuguhkan keindahan alam pantai dengan suguhan atraksi dolphin atau lumba-lumba di alam bebas termasuk keindahan bawah lautnya dan suguhan sunrise membuat tempat tersebut popular

- Social motivation atau interpersonal motivation (motivasi yang bersifat sosial), seperti mengunjungi teman dan keluarga (VFR. Visiting friends and relatives), menemui mitra kerja, melakukan hal- hal yang dianggap mendatangkan gengsi (nilai prestise), melakukan dan ziarah, pelarian dari situasi-situasi yang membosankan.

responden yang melakukan perjalanan ke Buleleng barat didominasi oleh mereka yang melakukan perjalanan lebih dari 10 kali dalam setahun (76,3%).

Sedangkan 5,2% responden menyatakan berkunjung sebanyak 5-10 kali berkunjung. Lalu 16,2% sebanyak 1-5 kali.dan 2,4% responden tidak pernah berkepentingan dalam motif sosial.

Motif sosial ini biasanya dilakukan dalam rangka berkunjung ke rumah sahabat undangan hajatan pulang kampung dan berziarah.

- Fantasy motivation (motivası karena faniası), yaitu adanya fantası bahwa di daerah lain seseorang akan bisa lepas dari rutinitas keseharian memberikan kepuasan psikologis. Hal menarik yang didapat dan menarik adalah fantasi wisatawan untuk berkunjung ke Buleleng adalah aksesbiltas yang memadai layaknya tempat wisata yang ada di wilayah Bali selatan. Dengan 54,8% responden menyatakan berharap

(8)

akses yang layak dan mudah yang disediakan, sedangkan 43,1% responden lainnya menilai aksesbilitas di Kabupaten Buleleng sudah cukup untik menunjang keperluan wisatawan.

-

2.3 Konsep Pembangunan Pariwisata Milenial

a. Event Pariwisata Sport Tourism

Sport Tourism telah menjadi industry pariwisata dengan perkembangan yang sangat signifikan di seluruh dunia. Menurut Gibson (1998), menyatakan salah satu segmen industri pariwisata yang paling cepat berkembang adalah perjalanan yang berkaitan dengan olahraga dan aktivitas fisik. Sport tourism telah menjadi pasar yang menguntungkan mengingat potensi destinasi di dunia dan keberagaman jenis olahraga.

Untuk wilayah Buleleng sendiri ada berbagai sport tourism yang ditawarkan pada wisatawan mulai dari offroad,bersepeda, trecking, diving, water sport dll. Namun pada penelitian ini karena keterbatasan waktu hanya diangkat dua jenis sport tourism saja yaitu layang layang (tradisi mekorod) dan diving atau seawalker.

Mekorod adalah ajang ketangkasan bermain layang-layang. Jika di Bali Selatan ada layang-layang besar dengan mengadu keindahannya, di Bali Utara atau Buleleng ada mekorot yaitu adu tangkas saling memutuskan benang layang-layang satu sama lain. Event mekorod di Buleleng rutin digelar setiap tahunnya ivent ini diselenggarakan pada musim layangan (Juni-Sepetember setiap tahunnya) beberapa event yang terkenal antara lain Buleleng Mekorod Festival (Lovina) lomba mekorod juga diadakan rutin di Kecamatan Buleleng, Kecamatan Kubutamabahan, Busungbiu dan Seririt.

Persatuan olahraga layangan Buleleng (Porlab) adalah organisasi yang menaungi tradisi ini. Dengan melihat bahwa ivent ini rutin diselenggarakan setiap tahunnya maka tradisi mekorod layak ditawarkan kepada wisatawan yang dating berkunjung ke Buleleng sebagai salah satu wahana Sport

Tourism yang menantang dan memacu adrenalin.

Sport Tourism yang ke dua adalah Water Sport. Dengan kondisi geografis Buleleng dimana laut dan garis pantai sebelah utara Pulau Bali maka potensi Sport Tourism yang ditawarkan kepada para wisatawan tentunya sangat beragam, Water Sport yang ditawarkan anatara lain, adalah memancing, menyelam, kano, perahu layer, seawalker dan berenang Bersama lumba lumba.. Water Sport yang dipilih untuk dibahas dalam penelitian ini adalah menyelam. Wisata menyelam di Buleleng kini mulai dikembangkan juga di Buleleng timur berdasarkan hasil wawancara dengan I Gede Adi Wistara (Perbekel Desa Les) Water Sport menyelam ini kini sedang dikembangkan di wilayah Desa Les, Kecamatan Tejakula. Pemerintah Desa Les memadukan kegiatan menyelam ini dengan Ecotourism yang di usung oleh Desa Les dimana masyarakat menata terumbu karang yang ada di wilayahnya untuk bisa dijadikan tempat menyelam. Dengan arus air yang cenderung tenang dan perairan yang tidak terlalu dalam ini memudahkan para wisatawan unuk menikmati pemandangan terumbu karang dan biota laut yang tumbuh didalamnya.

Wisata Budaya

Wisatawan dengan motivasi budaya adalah wisatawan yang melakukan perjalanan ke tempat lain untuk memuaskan rasa ingin tahu atas budaya, lingkungan atau komunitas yang berbeda, unik dan bahkan otentik.

Secara umum wisatawan dengan motivasi budaya mempunyai keinginan untuk melakukan interaksi baik dengan objek budaya atau dengan komunitas setempat tergantung dengan jadwal dan waktu yang dimiliki. Begitu pula halnya dengan kabupaten Buleleng yang kaya akan budaya dan tradisi yang dapat dijadikan sebagai daya tarik wisata. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kadis Kebudayaan Kabupaten Buleleng menyatakan, “Sumber sejarah dan budaya di Buleleng merupakan salah yang terbanyak diantara Kabupaten/Kota lainnya di

(9)

Bali. Kekayaan seni dan budaya di Buleleng ini sebenarnya dapat digunakan sebagai daya tarik bagi wisatawan khususnya milenial untuk mengetahui sambal mempelajari tentang seni dan budaya Buleleng. Ada beberapa tradisi-tradisi seperti Ngusaba Bukakak, Megoak-Goakan, Gebug Ende yang bisa menjadi produk wisata budaya unggulan Buleleng. Selain itu adanya event-event seperti PKB Buleleng dan Bullfest juga menjadi wahana bagi para pelaku seni di Buleleng untuk memperkenalkan sejarah dan kebudayaan Buleleng. Peninggalan- peninggalan sejarah seperti bangunan tua bisa juga menjadi daya tarik bagi wisatawan milenial yang biasanya digunakan sebagai spot foto. Hal-hal ini perlu dikaji bersama sehingga terlahir sebuah konsep atau event- event terkait pariwisata budaya di Buleleng”.

Wisata Musik

Wisata musik sering diidentikan dengan suatu perjalanan wisata yang dimotivasi oleh keinginan untuk mendengarkan musik secara langsung.

Padahal jika dilihat dari daya tarik yang dimiliki, wisata musik bukan semata terkait dengan "menikmati/menonton musik"

(melalui festival) tetapi juga terkait dengan peningkatan pengetahuan soal musik, menampilkan musik dan bahkan pelestarian musik. Pengembangan sektor wisata musik layak dilirik oleh kabupaten Buleleng. Wisata musik sangat menjanjikan karena efek penggandanya. Ambil misal, wisatawan datang ke tempat pertunjukan musik tentu tidak cuma untuk menonton musik. Mereka mungkin harus menginap, sarapan pagi atau makan malam, membayar ongkos parkir, membeli pulsa, hingga membeli oleh-oleh atau suvenir. Mungkin juga setelah menyaksikan pertunjukan musik, wisatawan tidak langsung pulang, tapi menyempatkan pula pelesiran dengn menyambangi beberapa destinasi wisata, yang tidak jauh dari lokasi pertunjukan musik. Festival musik di kabupaten Buleleng sudah rutin dilaksanakan terutama pada event Bulfest (Buleleng Fetival). Acara ini sebenarnya sudah banyak menyedot perhatian pengunjung (lokal

buleleng) terutama saat acara musik dilaksanakan. Band-band lokal dan nasional membawa pengikut tersendiri dan bervariasi jumlahnya sehingga membuat tempat pelaksanaan lumayan penuh sesak. Potensi ini harusnya dilirik dan dimanfaatkan lalu dikembangkan secara maksimal karena pasar yang datang sudah lumayan banyak khususnya saat pagelaran musiknya.

Pagelaran yang memobilisasi banyak manusia ini harusnya dikemas dengan lebih kreatif dan tersendiri (semacam soundrenaline) dengan mengundang bintang tamu dari berbagai genre music lokal, nasional dan internasional, sehingga pangsa pasar yang datang akan jauh lebih banyak. ini berdampak positif untuk menunjang perekenomian dalam sector pariwisata sekaligus sebagai ajang promosi destinasi-destinasi wisata yang ada di Kabupaten Bueleleng secara gratis kepada penonton yang hadir.

b. Digital Tourism Influencer

Pemasaran secara digital menggunakan media sosial kini memang lebih banyak diminati dibandingkan dengan strategi konvensional seperti pemasangan billboard ataupun sejenisnya yang dianggap tidak relevan dengan perkembangan era digital seperti sekarang ini. Begitu pula untuk promosi pariwisata di Kabupaten Buleleng.

Promosi pariwisata khususnya di Buleleng kini telah beralih dari media konvensional ke media digital. Pemilihan media digital dipilih karena media ini kini banyak digandrungi oleh kaum anak muda yang menjadi target utama wisata milenial di Buleleng. Promosi yang disampaikan melalui media digital (sosial media) seperti facebook, Instagram, youtubr, twitter, tiktok, dan media lainnya akan lebih cepat dan mudah diterima oleh masyarakat karena hampir setiap individu kini memiliki smartphone dan bisa mengakses sosial media. Dalam promosi Influencer di sosial media memiliki pengaruh yang besar bagi para pengikutnya. Tidak jarang, fans dari influencer tersebut akan membeli apa saja yang diiklankan oleh influencer karena loyalitas mereka. Bekerja sama dengan

(10)

influencer akan membuat bisnis mampu menjangkau demografis pengguna sosial media yang lebih besar. Langkah ini akan efektif untuk meningkatkan kunjungan wisatawan untuk berkunjung ke Buleleng.

Digital Campaign

Saat ini teknologi informasi dan komunikasi semakin meningkat, era industri 4.0 dirasa semakin meningkatkan sistem teknologi yang dapat mempermudah berbagai kehidupan manusia, termasuk dalam dunia pariwisata. Teknologi informasi menjadi salah satu sarana yang digunakan dalam mempromosikan pariwisata dari berbagai media sosial dengan berbagai digital marketingnya. Ada beberapa digital campaign yang bisa dimanfaatkan untuk menggaet pangsa milinial yakni:

1. Search Engine Optimization (SEO) adalah pola marketing dengan membidik kata kunci tertentu dan membuat konten sedemikian rupa berdasarkan tips SEO.

Penting untuk diketahui, biasanya pengguna internet hanya akan membuka beberapa halaman pertama di Google saja untuk menemukan yang mereka cari, dan inilah kenapa sangat penting memaksimalkan penerapan SEO sehingga kata kunci yang Anda bidik mudah ditemukan pengguna internet tersebut.

2. Sosial Media Marketing menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia modern saat ini. Hampir semua orang, dari berbagai profesi, usia, gender, dan lapisan masyarakat manapun, memiliki sosial media sebagai salah satu cara mereka saling berinteraksi. Pemanfaatan sosial media secara tepat sebagai media promosi online, bisa sangat membantu

untuk mempromosikan,

memperkenalkan, bahkan memasarkan produk dan jasa bisnis termasuk pariwisata. Sosial media marketing bisa dengan menggunakan Instagram atau Instagram Ads, Facebook Ads, bahkan Twitter Ads. Bisa pula dengan meningkatkan user generated content dengan mengajak pelanggan untuk

memberikan testimoni positif di sosial media mereka masing-masing.

3. Content viral marketing adalah praktik pemasaran yang dilakukan dengan membuat konten yang memiliki kemungkinan viral yang tinggi, sehingga bisa menarik lebih banyak pengguna internet untuk mencari tahu, membaca, bahkan melakukan interaksi. Konten viral di sini bisa dalam bentuk sesuatu yang sedang tren, lucu atau aneh, yang dapat memikat banyak orang dan membuat mereka membagikannya.

Kedua jenis pemasaran ini memang gampang-gampang susah untuk dilakukan. Oleh karena itu, penting untuk lebih mempelajari mengenai media sosial dan digital marketing secara lebih mendalam.

c. Suistainable Tourism

Pembangunan pariwisata berkelanjutan pada intinya berkaitan dengan usaha menjamin agar sumber daya alam, sosial dan budaya yang dimanfaatkan untuk pembangunan pariwisata pada generasi ini agar dapat dinikmati untuk generasi yang akan datang. Adapun prinsip-prinsip yang menjadi acuan dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism development) terdiri dari:

1. Pembangunan pariwisata harus dibangun dengan melibatkan masyarakat lokal , dengan ide yang melibatkan masyarakat lokal juga dan untuk kesejahteraan masyarakat lokal. Mestinya juga melibatkan masyarakat lokal sehingga masyarakat lokal akan mempunyai rasa memiliki untuk peduli,bertanggung jawab, komitment, meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap pelestarian lingkungan alam dan budaya terhadap keberlanjutan pariwisata dimasa sekarang sampai untuk dimasa yang akan datang. Dan pemerintah juga harus dapat menangkap peluang dengan cara memperhatikan kualitas daya dukung lingkungan kawasan tujuan, memanfaatkan sumber daya lokal secara lestari dalam penyelanggaraan kegiatan

(11)

ekowisata dan juga dapat mengelola jumlah pengunjung, sarana dan fasilitas sesuai dengan daya lingkungan daerah tujuan tersebut. Sehingga pemerintah dapat menigkatkan pendapatan masyarakat setempat dengan membuka lapangan kerja.

2. Menciptakan keseimbangan antara kebutuhan wisatawan dan masyarakat.

Keseimbangan tersebut akan dapat terwujud jika semua pihak dapat bekerjasama dalam satu tujuan sebagai sebuah komunitas yang solid. Komunitas yang dimaksud adalah masyarakat lokal, pemerintah lokal, industri pariwisata, dan organisasi masyarakat yang tumbuh dan berkembang pada masyarakat di mana destinasi pariwisata dikembangkan.

Maksudnya adalah dengan adanya atas dasar musyawarah dan permufakatan masyarakat setempat dengan adanya tersebut dapat menghasilkan dampak positif yaitu dapat membangun hubungan kemitraan dengan masyarakat setempat dalam proses perencanaan dan pengelolaannya, terjalinnya komunikasi yang baik anata industry pariwisata, peemrintan dan masyarakat ehingga akan terciptanya pariwisata berkelanjutan sesuai yang direncanakan.

3. Pembangunan pariwisata harus melibatkan para pemangku kepentingan, dan dengan melibatkan lebih banyak pihak akan mendapatkan input yang lebih baik. Serta harus dapat menampung pendapat organisasi masyarakat lokal, melibatkan kelompok masyarakat miskin, kaum perempuan, asosiasi pariwisata, dan kelompok lainnya dalam masyarakat yang berpotensi mempengaruhi jalannya pembangunan.

4. Memberikan kemudahan kepada para pengusaha lokal dalam sekala kecil, dan menengah. Program pendidikan yang berhubungan dengan kepariwisataan harus mengutamakan penduduk lokal dan industri yang berkembang pada wilayah tersebut harus mampu menampung para pekerja lokal sebanyak mungkin dengan itu membuka kesempatan kepada

masyarakat untuk membuka usaha dan mengajarkan masyarakat untuk menjadi pelaku ekonomi dalam kegiatannya mengikuti tujuan pariwisata itu sendiri tanpa mengorbakan alam atau apapun.

5. Pariwisata harus dikondisikan untuk tujuan membangkitkan bisnis lainnya dalam masyarakat, artinya pariwisata harus memberikan dampak pengganda pada sector lainnya, baik usaha baru maupun usaha yang telah berkembang saat ini.

6. Adanya kerjasama antara masyarakat lokal sebagai kreator atraksi wisata dengan para operator penjual paket wisata, sehingga perlu dibangun hubungan kerjasama yang saling menguntungkan anatra satu sama lain dengan itu menekan tingkat kebocoran pendapatan pemerintah dan dapatb mengingkatkan pendapatan pemerintah maupun pelaku yang melakukan kegiatan itu sendiri.

7. Pembangunan pariwisata harus dapat memperhatikan perjanjian, peraturan, perundang – undangan baik tingkat nasional maupun intenasional sehingga pembangunan pariwisata dapat berjalan dengan lancar tanpa kendala. Dan juga membentuk kerjasama dengan masyarakat setempat untuk melakukan pengawasan dan pencegahan terhadap dilanggarnya peraturan yang berlaku.

8. Pembangunan pariwisata harus mampu menjamin keberlanjutan, memberikan keuntungan bagi masyarakat saat ini dan tidak merugikan generasi yang akan datang. Karena anggapan bahwa pembangunan pariwisata berpotensi merusaklingkungan adalah sesuatu yang logis, jika dihubungkan dengan peningkatan jumlah wisatawan dan degradasi daerah tujuan pariwisata tersebut.

9. Pariwisata harus bertumbuh dalam prinsip optimalisasi bukan pada exploitasi.

10. Harus ada monitoring dan evaluasi secara periodik untuk memastikanpembangunan pariwisata tetap berjalan dalam konsep

(12)

pembangunan berkelanjutan, dengan menggunakan prinsip pengelolaan manajemen kapasitas, baik kapasitas wilayah, kapasitas obyek wisata tertentu, kapasitas ekonomi, kapasitas sosial, dan kapasitas sumber daya yang lainnya sehingga pembangunan pariwisata dapat terus berkelajutan.

11. Harus ada keterbukaan terhadap penggunaan sumber daya seperti penggunaan air bawah tanah, penggunaan lahan, dan penggunaan sumber daya lainnya harus dapat dipastikan tidak disalah gunakan.

12. Melakukan program peningkatan sumber daya manusia dalam bentuk pendidikan, pelatihan, dan sertifikasi untuk bidang keahlian pariwisata agar para pekerja ahli dalam bidangnya masing-masing.

13. Terwujudnya tiga kualitas, yakni pariwisata harus mampu mewujudkan kualitas hidup ”quality of life”

masyarakat lokal, pada sisi yang lainnya pariwisata harus mampu memberikan kualitas berusaha ”quality of opportunity” kepada para penyedia jasa dalam industri pariwisata dan sisi berikutnya dan menjadi yang terpenting adalah terciptanya kualitas pengalaman wisatawan ”quality of experience”.

III. SIMPULAN

Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut : 1. Dalam membahas Potensi Kabupaten

Buleleng dalam menunjang pariwisata Milenial sangatlah besar. Kabupaten Buleleng memiliki ragam potensi wisata yang sangat komplit, hal ini ditunjang oleh luas wilayah dan kondisi geografis kabupaten Buleleng. Dengan garis pantai membentang dari barat ke timur sepanjang bali utara, Buleleng memiliki potensi wisata bahari yang besar.

Perbukitan yang memanjang dari barat ke timur Kabupaten Buleleng memberikan banyak pilihan ragam wisata yang banyak ditawarkan, puluhan air terjun dua danau dan pemandangan

alam serta perkebunan rakyat memberikan banyak opsi dalam ragam wisata di buleleng. Selain itu dengan luas wilayah yang dimiliki Bulelng juga didukung oleh ragam adat, tradisi dan budaya juga menjadi daya tarik yang tak terpisahkan dari kabupaten Buleleng.

Kondisi ini merupakan salah satu faktor pendorong wisatawan milenial yang berkunjung ke Kabupaten Buleleng.

2. Terdapat beberapa Faktor yang menjadi Pendorong Pembangunan Pariwisata Milenial di Kabupaten Buleleng, yang pertama adalah citra pariwisata Buleleng yang baik. Buleleng memiliki iklim yang setabil dengan cuaca yang sejuk di wilayah sejuk dipegunungan dan cuaca yang hangat di daerah dataran rendah menjadikan Buleleng layak dikunjungi oleh wisatawan. Pemandangan alam dan keramah tamahan penduduk menjadi nilai tambah citra pariwisata Buleleng.

Keamanan, kesehatan dan sanitasi yang disediakan di Kabupaten Buleleng cuku layak bagi para wisatawan. Dengan menimbang karakter wisatawan milenial terdapat beberapa motif berwisata ke Buleleng diantaranya adalah Psychological Motivation, Culture Motivation, Social Motivation, Fantasy Motivation.

3. Dapat diketahui bahwa dalam membangun sebuah Konsep Pembangunan Pariwisata Milenial di Kabupaten Buleleng perlu diperhatikan beberapa hal, yang pertama event pariwisata yang digemari wisatawan milenial perlu lebih sering digelar adapun event yang digemari oleh Sport and Recreation, Heritage, Music dan Gastronomi. Perlu dipertimbangkan digital tourism juga memberikan dampak yang signifikan dalam menarik wisatawan milenial, influenser memberikan daya tarik tersendiri alam memperomosikan pariwisata Buleleng.

Selain itu digital campaign mutlak menjadi kebutuhan pengembangan pariwisata Buleleng sehingga kegianatan digital event mendapat respon yang

(13)

menarik dari wisatawan. Mengingat besarnya potensi dan pasar wisatawan milenial di Kabupaten Buleleng, perncanaan pengembangan pariwisata Buleleng berbasis milenial harus dapat dilaksanakan denga baik dan evaluasi untuk perbaikan pelayanan pariwisata adalah hal yang mutlak harus dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, & Purwandi. (2017). Millenial nusantara. Jakarta. Jakarta: PT.

Gramedia Pustaka Utama.

Buleleng Kab. (2018). Kondisi Fisik Kabupaten Buleleng. From Website Resmi Kabupaten Buleleng:

https://www.bulelengkab.go.id/p rofile/kondisi-fisik-kab-

buleleng-95

Bungin, B. (2006). Metode Penelitian Kualitatif : Aktualisasi Metodologis kearah Ragam Varian Kontemporer. Jakarta:

Raja Grafindo Persada.

Dinas Statistik Kabupaten Buleleng. (2017).

Statistik Daerah Kabupaten Buleleng 2017.

Singaraja: Dinas Statistik Kabupaten Buleleng.

Dispar Buleleng. (2016, Februari 29). Profil Pariwisata Buleleng. From Profil Pariwisata Buleleng Dinas Pariwisata Pemerintah Kabupaten Buleleng:

https://dispar.bulelengkab .go.id/profil/profil- pariwisata-buleleng-11

Hanum, F., Suganda, D., Muljana, B., Endyana, C., & Rachmat, H.

(2020). Konsep Smart

Tourism Sebagai

Implementasi Digitalisasi di Bidang Pariwisata.

TORNARE: Journal of Sustainable Tourism Research, Vol. 3, No. 1, 14- 17.

Ikayanti, A. (2020). Pengaruh influencer dan Iklan Instagram Pada

Pemasaran Pariwisata (Studi Kasus Explore Nusa Penida) . Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia.

Kohdyat, H. (1998). Sejarah Pariwisata dan Perkembangannya di Indonesea. Jakarta: Grasindo.

Miles, M., & Huberman, M. (1992). Analisis Data Kualitatif. Jakarta: Universitas

Indonesia.

Moleong, L. (2007). Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosda Karya. Muhadjir, H. (1996). Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Rake Sarasin. Parhusip, N., & Arida, I. (2018).

Wisatawan Milenial Di Bali (Karakteristik, Motivasi,

Dan Makna Berwisata). Jurnal Destinasi Pariwisata, Vol.6, No.2, 299-303.

Patilima, H. (2005). Metode penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Paturusi, S. (2008). Perencanaan Kawasan Pariwisata. Denpasar:

Udayana Press. Pendit, N. (1994).

Ilmu Pariwisata: Sebuah Pengantar Perdana. Jakarta: Pradnya

Paramita.

Pitana, I., & Gayatri, P. (2005).

Sosiologi Pariwisata: Kajian Sosiologis Terhadap Struktur, Sistem, dan Dampak-Dampak Pariwisata. Yogyakarta: CV.

Andi Offset.

Rasyidah, R. (2019). Strategi Pariwisata 4.0: Peran Milenial dalam Nation Branding Wonderful Indonesia 2016-2019. Jurnal Global &

Policy Vol.7, No.2, 101-113.

Ridwan, M. (2012). Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata. Medan: PT.

Sofmedia.

Soemanto, R. (2010). Sosiologi Pariwisata.

Jakarta: Universitas Terbuka.

Yoeti, O. (1998). Anatomi Pariwisata. Bandung: Angkasa.

Gambar

Tabel Data Kunjungan Wisatawan dari Tahun 2015-2019
Gambar Foto Selfie Wisatawan Milenial di Beberapa Objek Wisata di Kabupaten Buleleng  Sumber: Instagram SingarajaNow

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian oleh Amru (7) yang menunjukkan bahwa sikap mempengaruhi mempengaruhi kejadian drop out alat kontrasepsi suntik pada pasangan usia subur (PUS) di wilayah

Jurnal Penelitian Kesejahteraan Sosial Volume 20 No 1 April 2021 ISSN 1412 6451 E ISSN 2528 0430 Daftar Isi 1 2 3 4 5 6 Peran Dinas Sosial Kota Surabaya dalam Mendukung Program

Nama Jurnal, Tahun terbit, Volume, Nomor,

Pada sloka ini Bhatari Uma memulai pertanyaannya yang mana Bhatari Uma ingin mengetahui mengenai asal mula penjelmaan Tuhan (Bhatara Iswara). Oleh karena itu pada

Menggugah sebuah diskursus untuk menelisik fenomena tersebut secara mendalam sebagai sebuah upaya mengedukasi dan menyumbangkan gagasan pemikiran dalam menjunjung tinggi

Permasalahan penelitian ini adalah (1) Bagaimana kemampuan mendeskripsikan cara pencegahan kerusakan lingkungan (erosi, abrasi, banjir, dan longsor) tanpa menggunakan

Solusi yang diharapkan oleh Pabrik Gula Toelangan lebih dilihat dari segi teknik dan sosial di dalam pabrik yaitu dengan melakukkan revitalisasi PG untuk mengatasi

Keberadaan sebuah Pura tidak lepas dari sejarah berdirinnya Pura tersebut, begitu juga Pura Dalem Ularan di Banjar Kuwum Desa Banyuatis Kecamatan Banjar kabupaten