• Tidak ada hasil yang ditemukan

ABSTRACT. Keywords : Judge, Fines, skurungan, Narcotics

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ABSTRACT. Keywords : Judge, Fines, skurungan, Narcotics"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1

PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MENJATUHKAN PUTUSAN PIDANA DENDA DIGANTI DENGAN PIDANA KURUNGAN DALAM TINDAK PIDANA NARKOTIKA

( STUDY DI PENGADILAN NEGERI KLAS 1A PADANG) Anga Deswanto , ¹ . Syafridatati , ¹ , Deaf Wahyuni

2

Email : [email protected]

ABSTRACT

In a court decision handed down in the trial court judge , the narcotic crime judges often impos a fine in lieu of imprisonment . If the convicted person is unable to pay the fine , it can be replaced with imprisonment . The following issues : 1 ) How does the consideration of judges in imposing criminal penalties to be replaced with a substitute imprisonment penalties ,2 ) How to determine the ratio between the amount of the fine with the length of confinement lieu of fines , 3 ) Is constraints encountered the judge in determining the amount of the fine calculation with the length of confinement replacement . Type used is the juridical sociological research . In this study the author uses primary data and secondary data . Primary data were obtained by conducting interviews , secondary data obtained from the study kepustakaan.Teknik data collection through interviews and document research . Were analyzed qualitatively . From this study it can be concluded : 1 ) consideration of the judge in a criminal verdict replaced fines to imprisonment , in addition based on the existing regulations on how the calculation of conscience and belief hakim.2 ) In determining the ratio between the amount of the fine with the length of confinement substitute judge fines sticking to the Criminal Code and Perma No. 2 of 2002 . 3 ) The constraints are met the judge in determining the length of confinement calculation lieu of fines as set forth in the book of the Law of Criminal Law ( Penal Code ) the nominal amount per day is too small and no longer in line with the value of money at The present time.

Keywords : Judge , Fines , sKurungan , Narcotics

PENDAHULUAN

Masalah pidana dan pemidanaan dalam sejarahnya selalu mengalami perubahan.

Dari abad ke abad, keberadaannya banyak diperdebatkan oleh para ahli. Bila disimak dari sudut perkembangan masyarakat manusia, perubahan itu adalah hal yang wajar, karena manusia akan selalu berupaya untuk memperbaharui tentang suatu hal demi meningkatkan kesejah teraannya

dengan mendasarkan diri pada pengalamannya di masa lampau.

Dengan demikian, pidana dan pemidanaan sebagai ilmu atau penologi akan terkait erat dengan filosofi pemidanaan. Pidana dan pemidanaan sebagai filsafat, sudah barang tentu akan selalu mengalami

‘ketidakpuasan’. Karena itu, tidak

mengherankan bila Van der Hoeven,

seorang Guru Besar Hukum Pidana di

(2)

2 Universitas Leiden, dengan nada kecewa menyatakan bahwa ahli-ahli hukum pidana tidak dapat menjelaskan tentang dasar-dasar dari hak memidana dan juga sebab apa kita memidana.

Bila diamati perkembangan hukum pidana dewasa ini di Indonesia, terutama Undang- Bila diamati Undang Pidana Khusus atau Perundang-undangan pidana di luar kitab Undang-Undang hukum pidana (KUHP), terdapat suatu kecenderungan penggunaan sistem dua jalur dalam stelsel sanksinya yang berarti sanksi pidana dan sanksi tindakan diatur sekaligus. Menurut Muladi, hukum pidana modern yang bercirikan orientasi pada perbuatan dan pelaku (daad-dader straafrecht) stelsel sanksinya tidak hanya meliputi pidana (straf, punishment) yang bersifat penderitaan, tetapi juga tindakan tata-tertib (maatregel, treatment) yang secara relatif lebih bermuatan pendidikan.

Seperti dalam Undang- Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika hanya melarang penggunaan narkotika tanpa izin. Pengertian Narkotika itu sendiri merupakan zat atau obat yang sangat bermanfaat dan diperlukan untuk pengobatan penyakit tertentu.. Namun banyak masyarakat menyalahgunahkan atau tidak sesuai dengan standar pengobatan

dapat menimbulkan akibat yang sangat merugikan bagi perseorangan atau masyarakat khususnya generasi muda.

Dalam beberapa kasus tindak pidana narkotika yang terjadi tidak jarang hakim menjatuhkan pidana penjara dan denda. Jika dihubungkan dengan tindak pidana narkotika yang merupakan tindak pidana khusus, sanksi pidananya penjara dan denda.

Pidana denda dapat diganti dengan kurungan, bahkan dapat diperhitungkan secara harian menurut perimbangan, oleh karena itu dirasa kurang adil jika denda yang dijatuhkan disamakan antara orang kaya dan orang miskin, sehingga di Negara-negara Skandinavia denda diperhitungkan menurut hari, sehingga jumlah denda yang harus dibayar ialah sebanyak pendapat harian setiap terpidana.

Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk mengangkat hal tersebut dalam sebuah skripsi yang berjudul:

“PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MENJATUHKAN PUTUSAN PIDANA DENDA DIGANTI DENGAN PIDANA KURUNGAN DALAM TINDAK

PIDANA NARKOTIKA(DI

PENGADILAN NEGERI KLAS IA

PADANG)

(3)

3 Metodologi

Jenis penelitian dalam penulisan skripsi ini adalah secara yuridis sosiologis, artinya melihat teori-teori hokum kemudian membandingkannya dengan pelaksanaan hukum tersebut di dalam masyarakat. Di sini penulis meneliti di lapangan bagaimana pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana kurungan pengganti denda.

Sumber Data dalam skripsi ini adalah data primer dan data sekunder, data primer adalah data yang diperoleh melalui studi di lapangan dengan melakukan wawancara dengan Bapak Jamaluddin dan Bapak Syafrizal sebagai hakim di Pengadilan Negeri Klas IA Padang. Dimana wawancara itu dilakukan dengan terlebih dahulu membuat pertanyaan yang terstruktur, yang kemudian setiap jawaban dari pertanyaan itu akan dikembangkan secara semi terstruktur.

Sedangkan Data sekunder, adalah data yang diperoleh dari Data yang digunakan oleh peneliti adalah data yang dikumpulkan oleh orang lain. Pada waktu peneliti dimulai data telah tersedia. Dengan mengumpulkan bahan-bahan atau berkas putusan pengadilan yang menetapkan pidana denda diganti dengan pidana kurungan pengganti denda.

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah Wawancara, wawancara yang dipergunakan

wawancara terstruktur yaitu dilakukan dengan cara-cara yang memberikan pengarahan atau struktur tertentu dalam wawancara tersebut. Selain wawancara, teknik pengumpulan data selanjutnya adalah Studi Dokumen. Studi dokumen adalah diambil dari cara membaca serta menelaah berbagai literatur seperti buku kepustakaan, koran dan karya ilmiah yang relevan dan berkaitan langsung dengan objek penelitian.Semua data yang terkumpul baik berupa data sekunder maupun data primer akan dianalisis secara kualitatif, yaitu mengumpulkan data menurut aspek- aspek yang diteliti diambil suatu kesimpulan dengan atau tanpa angka-angka statistik.

Hasil Penelitian Dan Pembahasan Dalam tindak pidana yang diatur di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) maupun tidak pidana yang diatur di luar KUHP seperti tindak pidana narkotika, tindak pidana denda, hakim wajib langsung menetapkan berapa lama kurungan pengganti yang harus dibayarkan oleh terdakwa jika ia tidak mampu ataupun tidak mau untuk membayar denda dengan berbagai macam pertimbangan hakim.

Pasal 148 UU No. 35 Tahun 2009

tentang UU Narkotika menyebutkan bahwa

(4)

4 bagi pelaku tindak pidana narkotika yang tidak dapat membayar denda maka pelaku dijatuhi pidana penjara paling lama 2 tahun.

Berarti terhadap tindak pidana khusus seperti narkotika pun, jika terpidana tidak dapat membayarkan denda maka dapat diganti dengan pidana penjara paling lama 2 tahun sesuai dengan pertimbangan- pertimbangan hakim nantinya, namun di dalam tindak pidana narkotika yang merupakan tindak pidana khusus, jika denda tidak dibayar maka diganti dengan pidana penjara lain halnya dengan tindak pidana yang diatur didalam KUHP yang diganti dengan pidana kurungan. Karena dengan adanya asas Lex Specialist Derogaat Legi Generalis, dimana aturan khusus mengenyampingkan aturan umum.

Menurut Bapak Jamaluddin, dalam menjatuhkan beberapa besarnya pidana denda dan lamanya pidana kurungan pengganti denda, selain berpatokan dengan aturan yang telah ada dan hati nurani hakim juga berperan disini, namun juga berdasarkan pertimbangan-pertimbangan hakim yang mana bisa memberatkan dan meringankan terhadap terdakwa, diantaranya:

a. Keadaan Ekonomi

Jika terdakwa hanya berpenghasilan Rp 20.000,-/hari, maka tidak akan mungkin hakim menjatuhkan denda lebih besar dari pada itu, karena hakim boleh menjatuhkan minimum dari pidana denda tersebut, ataupun jika tidak dibayarkan maka akan diganti dengan kurungan selama beberapa hari.

b. Status sosial dalam masyarakat

Jika dilihat dari status sosialnya dalam masyarakat akan berbeda rasa malu antara orang yang mempunyai status sosial yang baik dalam masyarakat dengan tidak, karena dalam menjatuhkan pidana denda hakim berhak menetapkan beberapa besarnya denda yang akan dijatuhkan asalkan tidak bertentangan dengan peraturan yang ada. Mungkin dalam prakteknya bisa saja dalam kasus yang sama tapi antara terdakwa yang satu dengan yang lain, besarnya denda tidak sama. Hal ini berdasarkan pertimbangan hakim yang menjatuhkan asalkan tidak melebihi maksimum pidana denda tersebut.

Karena keadilan itu relative dan tidak akan sama jika dilihat dari status sosial seseorang dalam masyarakat.

c. Latar belakang atau pribadi

(5)

5 Terdapat hal yang memberatkan dari meringankan terdakwa misalnya, terdakwa baru sekali baru sekali ini melakukan tindak pidana, terdakwa melakukan tindak pidana untuk perlindungan diri dan lain sebagainya. Seorang yang berpendidikan cara berfikirnya akan lebih baik dari orang yang tidak berpendidikan, maka hal tersebut akan menjadi salah satu faktor pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan.

Berdasarkan pertimbangan diatas di satu pihak dalam menjatuhkan putusan pidana denda hakim menentukan sendiri pidana apa yang sesuai dengan terdakwa, namun di lain pihak hakim juga memberikan kebebasan kepada terpidana untuk memilih apakah dia mampu untuk membayar pidana denda atau menjalankan pidana kurungan pengganti denda. Karena itu merupakan hak dari terpidana untuk memilih pidana apa yang akan ia jalankan. Dalam prakteknya lebih banyak terpidana memilih untuk menjalankan kurungan daripada membayar denda, apalagi dalam perkara narkotika dimana salah satu contohnya dimana pidana denda ditetapkan sebesar 800 juta sampai 1 milyar. Sekadar apapun orang tidak akan mau untuk mengeluarkan uang sebesar itu,

lebih baik dia menjalankan kurungan pengganti yang paling lama hanya 2 tahun saja.

Seandainya pasal-pasal itu hanya menyebutkan ancaman pidana denda saja, maka hal ini berakibat seseorang tidak akan membayar atau melunasi pidana denda yang dibebankan kepadanya tidak dapat diberi sanksi dengan jenis sanksi lainnya, sehingga putusan tersebut tidak dapat dilaksanakan dan hal ini sudah tentu akan mengakibatkan sulitnya menegakkan suatu keadilan di tengah-tengah masyarakat, oleh karena itu, pidana denda ini diberikan alternatif pembayarannya yaitu pidana kurungan atau pidana penjara (bagi tindak pidana narkotika), karena tidak semua terpidana yang akan mampu untuk membayar denda dengan jumlah yang besar. Maka dari itu untuk pidana kurungan pengganti pidana denda ini harus dipandang sebagai alat pemaksa agar pidana denda itu sendiri dapat dipatuhi dengan sebaik-baiknya tanpa mengabaikan tujuan dari hokum itu sendiri yaitu membuat seseorang sadar akan kesalahan yang dilakukan itu merugikan diri sendiri dan orang lain.

Dari pertimbangan-pertimbangan diatas

maka tepat jika pidana denda itu ada

alternatif pembayarannya, karena tidak

semua orang akan sanggup untuk membayar

(6)

6 sejumlah uang. Dimana tujuan pidana itu sendiri adalah membuat jera pelaku bukan untuk memiskinkan pelaku. Cara perhitungan pidana kurungan sebagai pengganti denda adalah di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) terdapat pengaturan tentang pidana denda yang diganti dengan kurungan pengganti denda yaitu dalam Pasal 30 KUHP yang berbunyi :

1. Pidana denda paling sedikit tiga rupiah tujuh puluh lima sen

2. Jika pidana denda tidak dibayarkan, ia diganti dengan pidana kurungan 3. Lamanya kurungan pengganti paling

sedikit satu hari dan paling lama enam bulan

4. Dalam putusan hakim, lamanya pidana kurungan pengganti denda ditetapkan demikian: jika pidana dendanya tujuh rupiah lima puluh sen atau kurang, dihitung satu hari; jika lebih dari tujuh rupiah lima puluh sen dihitung paling banyak satu hari demikian pula sisanya yang tidak cukup tujuh rupiah lima puluh sen 5. Jika ada pemberatan pidana denda

disebabkan karena perbarengan atau pengulangan, atau karena ketentuan Pasal 52, maka pidana kurungan pengganti paling lama delapan bulan

6. Pidana kurungan pengganti sekali- kali tidak boleh lebih dari delapan bulan.

Caraperhitungan lamanya pidana kurungan pengganti denda ditetapkan di dalam Pasal 30 ayat (4) KUHP, namun jika dilihat besarnya jumlah nominal uang yang terdapat di dalam KUHP tidak sesuai lagi dengan zaman sekarang, ini bahkan jauh perbedaannya. Jika aturan ini tetap menjadi patokan hakim dalam menentukan besarnya denda dengan lamanya kurungan pengganti denda maka dirasa tidak seimbang dan tidak adil.

Jika dilihat dari besarnya jumlah pidana denda di dalam KUHP memang tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman pada saat sekarang ini, karena KUHP itu sendiri merupakan peninggalan dari Belanda, dimana ukuran tentang besarnya denda diukur dengan mata uang pada saat itu, untuk menetapkan jumlah denda pada saat sekarang, dan biasanya dikali Rp 10.000,- (sepuluh ribu rupiah).

Dalam hal lamanya kurungan pengganti

denda memang telah diatur dan dicantumkan

dalam KUHP bagaimana cara

perhitungannya, yaitu dalam Pasal 30 ayat

(4) KUHP, namun kalau hal itu saja yang

menjadi patokan hakim antara besarnya

denda dengan lamanya kurungan pengganti

(7)

7 tidak akan seimbang, karena besarnya jumlah mata uang dalam KUHP itu tidak sesuai dengan zaman sekarang ini, sebagai penegak hukum dan pelaksana undang- undang, seorang hakim tidak boleh lari dari aturan yang telah ada apalagi KUHP adalah pegangan utama untuk menentukan hukuman yang akan diberikan kepada terdakwa. Namun, dalam prakteknya tidak ada aturan khusus mengenai cara perhitungan dari lamanya kurungan pengganti denda tersebut.

Untuk pidana denda yang diatur dalam KUHP, cara perhitungan antara jumlah denda dengan lamanya kurungan pengganti tersebut berpatokan kepada Pasal 30 ayat (4) KUHP, dimana jika pidana denda tujuh rupiah lima puluh sen atau kurang dihitung satu hari, sesuai dengan Perma No. 2 Tahun 2012, dimana dalam Pasal 3, pidana denda dikali 1000. Jadi jika disesuaikan maka takaran denda perhari adalah 7,5 x 1000 = Rp 7.500,-/hari. Dengan kata lain cara perhitungannya: Ukuran denda perhari : Rp 7,5 x 1.000 = Rp. 7.500,-

Kendala- kendala yang ditemui Hakim ialah( 1) jumlah nominal uang dalam kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tersebut masih kecil dibandingkan dengan nilai uang pada saat sekarang ini. (2) Tidak

adanya pengaturan yang pasti tentang perhitungan konversi denda kekurungan pengganti ini, meskipun telah ada Peraturan Mahkama Agung NO 2 Tahun 2012 Tentang Penyesuaian Batasan Tindak Pidana Ringan dan Jumlah Denda dalam KUHP, namun peraturan tersebut hanya mampu untuk mengatasi masalah kuhsus untuk denda yang diatur dalam KUHP saja, tidak akan mampu mengatasi problem perhitungan pidana kurungan pengganti untuk denda-denda yang diatur diliuar KUHP. Lagi pula Perma ini baru saja keluar, sehingga belum dapat diterapkan sepenuhnya oleh Hakim dalam menjatuhkan putusanya.

DAFTAR PUSTAKA

A.Z, Abidin Farid dan A. Hamzah. 2008.

Bentuk-bentuk Khusus Perwujudan Delik (Percobaan, Penyertaan, dan Gabungan Delik) dan Hukum Penitensier. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Adami Chazawi. Pelajaran Hukum Pidana I, Stelsel Pidan,, Tindak Pidana, Teori-Teori Pemidanaan & Batas Berlakunya Hukum Pidana.

Jakarta: PT. RajaGrafindo

Persada.

(8)

8 .

Andi Hamza. 1993, Sistem Pidana dan Pemidanaan Indonesia. Jakarta:

PT. Pradnya Paramita.

Barda Nawawi Arief. 2010. Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana. Jakarta:

Kencana

Bambang Sunggono. 2003. Metode Penelitian Hukum. Jakarta:

RajaGrafindo.

Muladi dan Barda Nawawi Arief. 1992.

Teori-teori dan Kebijakan Hukum Pidana. Bandung: Alumni.

M, Yayah Harahap. 2007. Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHP. Jakarta: Sinar Grafika

S.R.Sianturi dan Mompang L.

Panggabean.1996, Hukum Penitensia di Indonesia.Jakarta:

Alumni Ahaem-Petehaem.

Sholehuddin. 2003.Sistem Sanksi Dalam Hukum Pidana. Jakarta: PT.

RajaGrafindo Persada.

Supramono, Gatot. 2007. Hukum Narkoba Indonesia. Jakarta: Djambatan.

Tolib Setiady 2010 .Pokok-Pokok Hukum Penitensier Indonesia. Bandung:

Alfabeta.

Referensi

Dokumen terkait

Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan

Perbedaan nilai germination test pada setiap contoh benih dipengaruhi oleh beberapa parameter benih (ISTA, 2020) antara lain, (1) normal seeds yaitu kecambah

(2006) menganalisis 7 variabel independen yang diduga menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi kelemahan Pengendalian Internal, yaitu: (1) firm size , yang diukur dengan nilai

Ikääntyvien henkilöiden ravitsemusta ja syömistä on tutkittu paljon. Uutta tutkimusta kuitenkin tarvitaan, sillä ikääntyvien ruokaan liittyvät toiveet ja tarpeet muuttuvat ajan

Terdapat banyak lagi tempat bersejarah dan menarik untuk dilawati dan dihayati kisahnya oleh bakal-bakal haji di antaranya perigi Uthman yang berhampiran dengan Masjid Quba`

dipendekkan menjadi “Klinik Hemat Listrik” (KHL) disediakan secara cuma-cuma oleh PLN djBB ditiap Unit Pelayanan seperti APJ (Area Pelayanan Jaringan) / UPJ

8 Vegetasi dilakukan dengan 2 metode yaitu observasi atau pengamatan jenis-jenis tumbuhan pada tiap penggunaan jenis lahan di Desa Kebondowo dan metode analisis