• Tidak ada hasil yang ditemukan

SOSIOLOGI AGAMA DEFINISI DAN UNSUR-UNSUR AGAMA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SOSIOLOGI AGAMA DEFINISI DAN UNSUR-UNSUR AGAMA"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

SOSIOLOGI AGAMA

DEFINISI DAN UNSUR-UNSUR AGAMA

PROGRAM STUDI SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

(2)

DEFINISI AGAMA DAN UNSUR-UNSUR AGAMA A. Pengertian Agama

Agama merupakan unsur kehidupan yang tidak bisa dilepaskan dari masyarakat, dalam prosesnya, agama memengaruhi karakteristik suatu masyarakat dan juga mendapat pengaruh dari masyarakat. Agama secara mendasar dapat didefinisikan sebagai seperangkat aturan dan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, hubungan manusia dengan manusia lainnya, dan mengatur hubungan manusia dengan lingkungannya.

Istilah Agama dalam bahasa sansekerta terdiri dari kosa kata ”a” berarti “tidak” dan

“gama” yang berarti kacau. Sehingga kata agama berarti tidak kacau, atau jika dijabarkan agama merupakan seperangkat peraturan yang mengatur kehidupan manusia agar teratur dan tidak kacau. Dalam bahasa latin agama’ disebut “religeo” kata ini berasal dari akar kata “religere”

yang berarti mengikat.

Dilihat dari sudut kategori pemahaman manusia, agama memiliki dua segi yang membedakan dalam perwujudannya, yaitu dari segi kejiwaan (pshichological state) dan dari segi objektif. Dari segi kejiwaan yaitu suatu kondisi subjektif atau kondisi dalam jiwa manusia berkenaan dengan apa yang dirasakan berkenaan dengan apa yang dirasakan oleh penganut agama. Segi psikologis ini sangat sulit diukur dan diamati mengingat hal tersebut merupakan kepemilikan pribadi si pemeluk agama. Sedangkan dari segi objektif, yaitu segi luar yang sering disebut dimensi empiris agama, keadaan ini muncul ketika agama dinyatakan oleh penganutnya dalam berbagai ekspresi, baik ekspresi teologis, ritual, maupun persekutuan. Segi inilah yang bisa dipelajari dengan menggunakan metodologi sosial.

Secara lebih luas dapat dijelaskan bahwa agama adalah suatu sistem kepercayaan dan

praktik-praktik yang diorganisasi dan berkaitan dengan hal-hal yang dikatakan suci atau yang

diorientasikan kepada kekhawatiran akan akhir manusia. Sedangkan dalam pembahasan yang

lebih eksklusif membatasi pengertian agama pada kepercayaan-kepercayaan dan praktik-praktik

yang mempostulatkan kekuatan-kekuatan supernatural yang berlaku dalam dunia ini. Selain itu,

agama juga dalah suatu fenomena evolusioner dalam bentuk pengertian yang sama seperti

komponen- komponen masyarakat manusia yang lainnya

(3)

Sejatinya, agama merupakan kata yang multidefinisi. Penjelasan terkait pengertian agama menjadi sangat beragam. Bahkan dapat dikatakan bahwa tidak ada terminology yang lebih sulit untuk didefinisikan (diberikn batasan pengertian) selain terminology agama. Salah satu penyebabnya karena masing-masing agama memiliki perspektif yang berbeda dalam mendefinisikan makna agama itu sendiri. Jika di Indonesia terdapat 6 agama yang diakui di Indonesia maka ke enam agama tersebut memiliki pemaknan yang berbeda terkait agama.

Pembatasan definisi terkait agama semakin sulit dilakukan mengingat beragamnya jenis agama di luar ke enam agama tersebut, sehingga sangat memungkinkan jika beberapa komunitas agama tidak mendapatkan tempat dengan batasan-batasan pengertian tersebut.

Keberagaman pandangan terkait definisi agama tidak hanya pada perspektif masing- masing agama saja, pengertian agama yang dikemukakan para ahli juga menunjukkan pengertian yang beragam dan hampir berbeda satu sama lain. E.B Taylor misalnya, mendefinisikan agama sebagai kepercayaan terhadap adanya wujud-wujud spiritual. Sedangkan Radcliffe-Brown memaparkan bahwa agama merupakan “ekspresi suatu bentuk ketergantungan pada kekuatan di luar diri sendiri, yakni kekuatan yang dapat kita katakana sebagai kekuatan spiritual dan kekuatan oral”. Brow berpendapat bahwa ekspresi penting dari rasa ketergantungan pada definisinya adalah peribadatan.

Pandangan para tokoh yang meskipun tampak berbeda sejtinya saling melengkapi.

Agama bermula dari munculnya keyakinan pada kekuatan-kekuatan yang berada di luar jangkauan manusia atau benda-benda sakral. Keyakinan pada kekuatan yang di luar manusia tersebut menghendaki ketundukan manusia terhadap kekuatan yang dimaksud yang kemudian dimanifestasikan melalui berbagai bentuk kegiatan peribadatan. Selanjutnya, agama juga tidak hanya soal suatu bentuk peribadatan, karena masih banyaknya aspek-aspek dalam agama yang perlu diperhatikan ketika kita mempelajari diskursus terkait agama. Michael Pye, menyebutkan terdapat empat aspek utama dalam agama yang perlu dipertimbangkan, yaitu konseptual atau simbolis, subjektif atau afektif, behavoural, dan sosial.

Meskipun dalam faktanya definisi agama masih bermakna bias dan multitafsir, namun

beragam definisi tersebut setidaknya mengisyaratkan kata kunci bahwa agama merupakan

keyakinan spiritual terhadap kekuatan di luar kemampuan manusia yang menghendaki

ketundukan manausia terhadap kekuatan yang dimaksud. Dan sikap ketundukan tersebut

diekspresikan dalam berbagai bentuk kegiatan beribadah.

(4)

Umumnya kajian agama terbagi oleh dua yakni teologis dan sosiologis, agama dalam teologis berkenaan dengan adanya klaim tentang kebenaran mutlak ajaran suatu agama dan dengan misi untuk mempertahankan doktrin agama. Intinya ialah iman yakni keimanan mutlak terhadap kebenaran ajaran agama yang diyakininya.

B. Agama Secara Sosiologis

Definisi agama secara sosiologi adalah defenisi yang empiris. Sosiologi tidak pernah memberikan definisi agama yang evaluative (menilai). Ia memberikan definisi menggambarkan apa adanya, mengungkapkan apa yang dimengerti dan dialami oleh pemeluk- pemeluknya.

Agama seringkali diartikan sebagai keterkaitan sekelopok manusia dengan Tuhan. Herbert Spencer berpendapat bahwa faktor utama dalam agama adalah iman akan adanya kekuasaan yang tidak terbatas, atau kekuasaan yang tidak bisa digambarkan batas waktu atau tempatnya.

E.B. Taylor agama adalah keyakinan tentang adanya makhluk spiritual, (Kahmad, 2002:16-17).

Dalam pengertian sosiologis agama juga dipandang sebagai sebuah gejala sosial yang umum dimiliki masyarakat . Ia merupakan aspek dalam kehidupan sosial dan bagian sosial dan bagian dari sistem sosial suatu masyarakat. agama juga merupakan suatu pandangan hidup yang harus diterapkan dalam kehidupan individu ataupun kelompok. Keduanya mempunyai hubungan saling mempengaruhi dan saling bergantung dengan semua faktor yang ikut membentuk struktur sosial di masyarakat manapun.

Berbicara terkait bagaimana agama didefinisikan secara sosiologis, tidak bisa lepas dari pandangan Emile Durkheim. Durkheim telah melakukan riset dan refleksi tentang agama selama lebih kurang sepuluh tahun dan telah menghasilkan pemikiran genius dalam bidang sosiologi agama, sehingga ia menempati posisi penting dan dipandang sebagai tokoh penting “dalam perkembangan sosiologi sebagai suatu disiplin akademik. Konsep Durkheim tentang agama, juga tidak terlepas dari argumentasinya tentang agama sebagi bagian dari fakta sosial. Artinya, Durkheim mempunyai pandangan bahwa ”fakta sosial” jauh lebih fundamental dibandingkan dengan fakta individu.

Dalam pandangannya, Durkheim menjelaskan bahwa agama adalah sesuatu yang benar- benar bersifat sosial”. Menurut Durkheim, bahwa ”fungsi sosial agama” tersebut ditemukannya melalui observasi terhadap bentuk-bentuk kepercayaan yang paling awal yaitu ”totemisme”.

Dalam kepercayaan totemik tersebut terdapat ”ide- ide sosial dan keagamaan hanya hidup

(5)

dalam kesadaran individu dan ide-ide tersebut perlu ditegaskan kembali melalui berbagai ritual agama agar hidup sosial terus berlanjut. Peristiwa-peristiwa ritual yang dicermati oleh Durkheim, bukan sebagai peristiwa yang melahirkan ide-ide tentang ”yang sakral”, tetapi sebagai suatu cara untuk mengukuhkan kembali fakta sosial dan khususnya ide-ide tentang klan yang telah ada sebelumnya serta semua simbol-simbol yang menyertainya.

Dari pandangan Durkheim ini, dapat diketahui bahwa ritual-ritual keagamaan tidak lain adalah suatu mekanisme primer untuk mengekspresikan dan menguatkan kembali sentiment dan solidaritas kelompok. Jadi seluruh pandangan Durkheim tentang agama terpusat pada klaimnya bahwa “agama adalah sesuatu yang bersifat sosial”. Artinya bahwa dalam setiap kebudayaan, agama adalah bagian yang paling berharga dari seluruh kehidupan sosial. Agama melayani masyarakat dengan memberikan ide, ritual, dan perasaan-perasaan yang akan menuntun seseorang dalam hidup masyarakat.

Sedangkan menurut Karl Marx, agama hanya dipandang sebagai salah satu faktor bangunan atas yang pembentukannya dipengaruhi oleh bangunan pokok yaitu sistem ekonomi (sistem perhubungan dan kekuatan produksi).Agama adalah produk dan ekspresi kepentngan dari masyarakat kelas yang digunakan untuk memanipulasi dan menindas kelas di bawahnya.

Agama memanipulasi manusia atas realitas realitas hiup dan kehidupan yang dihadapi dengan memberikan pengharapan-pengharapan kehidupan masa depan yang bersifat hakiki dan kekal.

Atas harapan tersebut, realitas kehidupan manusia bergeser dari realitas yang bersifat materil kepada kondisi masa depan yang bersifat nonmaterial. Dari sini Marx menyatakan bahwa agama menjadikan manusia terasing dari kehidupan realitasnya.

C. Unsur-Unsur Agama

Dengan berbagai uraian diatas tentang agama, dapat dipahami bahwa agama telah menjadi suatu sistem sosial yang terbentuk oleh penganut-penganutnya, berporos pada kekuatan- keuatan nonempiris yang dipercayai dan didayagunakan untuk mencapai keselamatan bagi diri mereka dan masyarakat luas pada umumnya.

Beberapa ilmuwan seperti Light, Killer, dan Calhoun (1989), memusatkan perhatian pada

unsur-unsur dasar suatu agama, yaitu sebagai berikut :

(6)

1. Kepercayaan

Setiap agama pasti memiliki kepecayaan seperti percaya kepada Tuhan, nabi-nabi, dan kitab. Pada dasarnya kepercayaan itu merupakan suatu bentuk keyakinan akan adanya kekuatan-kekuatan di luar dirinya, yang dianggap sebagai kekuatan yang lebih tinggi dari kekuatan manusia.

2. Simbol

Setiap agama mengenal berbagai lambang atau simbol, baik itu berupa pakaian, ucapan, tulisan maupun tindakan. Masing-masing agama memiliki symbol yang berbeda dan memiliki makna yang berbeda pula. Symbol juga menjadi identitas suatu agama yang akan membedakan dengan agama lainnya.

3. Praktek

Setiap ajaran agama yang ada memiliki praktek keagamaan seperti sholat, kebaktian, puasa, semedi, dan lain sebagainya. Praktik keagamaan atau ritual dalam agama didasarkan atas kepercayaan dan iman yang diyakini. Praktik tersebut merupakan suatu ekspresi atau perilaku atas apa yang mereka yakini.

4. Pemeluk

Agama memiliki sejumlah pemeluk/ pengikut. Pemeluk agama memiliki religious emotion yang membuatnya menjadi patuh dan taat kepada apa yang disembah.

5. Pengalaman keagamaan

Setiap pemeluk agama memiliki beberapa bentuk pengalaman keagamaan,

D. Pengertian Sosiologi Agama

Dalam berbagai literatur batasan atau definisi sosiologi agama ( sociology of religion ) hampir tidak ada perbedaan yang sangat berarti. Menurut J. Wach sosiologi agama secara luas sebagai suatu studi tentang “ interalasi “ dari agama dan masyarakat, serta bentuk-bentuk interaksi yang terjadi antar mereka. Menurut H.Goddijin – W.

Goddijin, sosiologi agama ialah bagian dari sosiologi umum yang mempelajari suatu

ilmu budaya, empiris, pofan dan positif yang menuju kepada pengetahuan umum,yang

jernih dan pasti dari struktur, fungsi-fungsi dan perubahan-perubahan kelompok

keagamaan dan gejala-gejala kekelompokan tersebut ( Ishomudin, 2002 : 22 ) .

(7)

Dari definisi tersebut dapat memberikan gambaran bahwa, sosiologi agama adalah cabang dari sosiologi umum yang mempelajari masyarakat agama ( religious society ) secara sosiologis untuk mencapai keterangan-keterangan ilmiah dan pasti demi masyarakat agama itu sendiri dan masyarakat atau masyarakat pada umumnya.

Lahir dan Berkembangnya Sosiologi Agama

Fenomena agama dalam masyarakat mulai tumbuh pada abad ke -19 oleh sejumlah sarjana barat terkenal seperti Edward B. Taylor ( 1832-1917 ), Herbert Spencer ( 1820-1903 ), Friderich H. Muller ( 1823-1917 ), James G. Fraser ( 1854-1941 ). Namun, pengkajian masalah agama secara ilmiah dan terbina baru sekitar tahun 1900. Mulai saat itu muncul buku-buku sosiologi agama yang sering disebut dengan nama sosiologi agama klasik. Periode klasik ini terutama dikuasai oleh dua orang sosiolog yang terkenal, yaitu Emile Durkheim dari Prasncis ( 1858-1917 ) dan Max Weber dari Jerman ( 1864-1920 ).

Dua sarjana tersebut lazim dipandang sebagai pendiri sosiologi agama ( Ishomudin, 2002 : 23)

Objek, Pendekatan dan Metode Sosiologi Agama

Objek material sosiologi agama adalah masyarakat agama. Seperti masyarakat nonagama terdiri atas komponen-komponen konstituf, seperti kelompok keagamaan.

Institusi-institusi religius yang mempunyai ciri pola tingkah laku sendiri. Sesungguhnya

yang dimaksud bukanlah agama sebagai suatu sistem ajaran ( dogma dan moral ) itu

sendiri, tetapi agama sudah mengjawantah dalam bentuk-bnetuk kemasyarakatan yang

nyata atau dengan kata lain agama sebagai fenomena sosial. Sebagai fakta sosial yang

dapat disaksikan dan dialami banyak orang. Untuk jelasnya, sosiologi agama tidak

membuat evaluasi mengenai ajaran dogma dan moral yang diyakini pemeluk-pemeluknya

sebagai berasal dari “ dunia luar “, dunia sakral yang jauh berbeda secara esensial

dengan dunia empiris dan oleh karenannya juga tidak dapat disentuh oleh pengkajian

empiris.

(8)

Dalam fenomena agama yang dicari adalah dimensi sosiologisnya. Sampai seberapa jauh agama dan nilai-nilai keagamaan memainkan peranan dan pengaruh atas eksistensi dan operasu masyarakat manusia, kemudian inilah yang disebut dengan pendekatan ( objek formal ) sosiologi agama. Lebih konkret, misalnya seberapa jauh unsur kepercayaan mempengaruhi pembentukan pemeluk-pemeluknya,ikut mengambil bagian dalam menciptakan jenis-jenis kebudayaa, mewarnai dasar dan haluan negara, mempengaruhi terbentuknya partai- partai politik dan golongan nonpolitik, memainkan peranan dan munculnya strata ( lapisan ) sosial, dalam lahirnya organisasi-organisasi, seberapa jauh agama ikut mempengaruhi proses sosial, perubahan sosial, sekularisasi, fanatisme, bentrokan dan sebagainya.

Sosiologi agama melalui pengamatan dan penelitian mau mencari keterangan- keterangan ilmiah untuk dipergunakan sebagai sarana meningkatkan daya guna dan fungsi agama itu sendiri demi kepentingan masyarakat yang bersangkutan khususnya dan masyarakat luas umumnya. Sedangkan dalam mencapai tujuannya sosiologi agama tidak berbeda dengan sosiologi umum, yaitu menggunakan metode-metode observasi, interview dan angket mengenai masalah-masalah keagamaan yang dianggap penting dan sanggup memberikan data-data yang dibutuhkan. Dengan kata lain, seluruh proses pengumpulan data kuantitatif dan kualitatif mengikuti teknik yang dipakai sosiologi secara umum.

Fungsi dan Perananan Sosiologi Agama dalam Masyarkat Agama

Sosiologi agama adalah cabang dan juga vertikal dari sosiologi umum, ilmu yang menduduki tempat yang “ profan “, bukan ilmu yang sakral, bukan seperti ilmu teologi, tetapi ilmu profan yang, yang positif dan empiris yang dilakukan dan dibina oleh sarjana oleh ilmu sosial, entah orangnya suci atau tidak suci. Karena maksud ilmu tersebut bukan untuk keterangan teknis ilmiah mengenai hal ihwal masyarakat agama. Apabila, dilihat dari sejarah kelahiran dan berkembangnya sosiologi agama itu, maka ilmu ini lebih merupakan ilmu terpakai daripda ilmu teoritis murni.

Kegunaan sosiologi dalam forum keilmuan merupakan suatu sumbangan yang

tidak kecil bagi instansi keagamaa. Demikian pula sosiologi agama bemaksud membantu

para pemimpin agama dalam mengatasi masalah sosio-religius yang tidak kalah beratnya

(9)

dengan masalah-masalah sosial nonkeagamaan. Dalam bidang teoritis dimana para ahli keagamaan memerlukan konsep-konsep dan resep-resep ilmiah prkatis yang sulit diperoleh dari teologi, maka sosiologi agama dapat memberikan sumbangannya.

Melihat beratnya masalah yang dihadapi bangsa ini, maka dapat diajukan

beberapa pertanyaan sebagai berikut , “ Manakah ilmu pengetahuan yang dirasa

kompeten dan dapat diharapkan sanggup memecahakan masalah teknologi, teologi, ilmu

ekonomi, ilmu politik, antropologi budaya atau ilmu hukum ? “. Maka ilmu yang layak

diharapkan sanggup memberikan jawaban yang khas dan tepat adalah dengan

menggunakan sosiologi agama. Yang dimaksud dengan ketepatan disini adalah bilamana

dalam penelusuran masalah orang tersebut terbentur pada kesulitan yang berseumber

pada keagamaan, sekurangnya demikian anggapan sejumlah agamawan terkemuka yang

didukung penganut-penganutnya. Akan tetapi, apabila masalah itu dikaji secara

sosiologis, masalah yang bergejolak bukanlah masalah ortodoks, melainkan hanya

masalah kebudayaan, pendeknya masalah sosiologis. Misalnya, tentang kepemimpinan

agama yang membuat pemeluknya tertekan dan menimbulkan ketegangan-ketegangan

yang mencekam karena kurang memahamai teknik organisasi dan penggunanaan dalam

situasi yang sudah berubah yang menuntut pergantian struktur dan sistem baru yang

sesuai.

(10)

DAFTAR PUSTAKA

Ishomuddin. 2002. Pengantar Sosiologi Agama. Ghalia Indonesia; Jakarta Selatan.

Kahmad, Dedeng. 2000. Sosiologi Agama. PTRemaja Rosdakarya ; Bandung

Hendropuspito. 2006. Sosiologi Agama. Penerbit Kanisius. : Yogyakarta

Referensi

Dokumen terkait

Sosiologi terapan sangat berguna dalam kehidupan masyarakat dalam menganalisis masalah-masalah yang terjadi.. Ilmu sosiologi terapan yang menganalisis tentang masyarakat urban

Analisis sosiologi khususnya tentang fenomena sosial keagamaan di masyarakat dapat membantu dalam menemukan titik-titik kritis yang terkait dengan agama di dalam

 Secara komprehensif Sosiologi Komunikasi mempelajari tentang interaksi sosial sebagai aspek yang berhubungan dengan interaksi tersebut seperti bagaimana interaksi (komunikasi)

Sosiologi adalah bagian dari ilmu sosial yang mempelajari masyarakat. Dengan kata lain objek studi dari sosiologi adalah masyarakat. Lebih jauh sosiologi dianggap

Seperti ahli sosiologi mempelajari dan menganalisis hubungan manusia dalam keluarga, perusahaan, agama, politik, masyarakat dan sistem hubungan sosial lainnya, mereka dapat mencari dan

Sosiologi sebagai cabang Ilmu Pengetahuan Sosial sebenarnya memiliki berbagai pembidangan, antara lain, ada sosiologi agama, sosiologi korupsi, sosiologi kesehatan, sosiologi pedesaan,

Sosiologi adalah ilmu sosial yang mempelajari gejala-gejala kemasyarakatan dan bertujuan menghasilkan pengertian dan pola-pola umum dari interaksi manusia di

PENGERTIAN SOSIOLOGI Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang masyarakat, interaksi sosial, dan pola hubungan antarmanusia dalam kehidupan bermasyarakat.. Tujuan utama