41 BAB III
GAMBARAN UMUM
3.1 Deskripsi Wilayah Kabupaten Trenggalek 3.1.1 Letak Dan Kondisi Geografis
Secara geografis Kabupaten Trenggalek berada diantara koordinat 111°24 - 112°11’ Bujur Timur dan 7°53’ - 8°34’ Lintang Selatan. Kabupaten Trenggalek merupakan Kabupaten yang terletak di bagian selatan dari wilayah Propinsi Jawa Timur, sebuah kabupaten dengan dominasi wilayah pegunungan dan perbukitan di wilayah pesisir selatan Pulau Jawa, berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia.
Kabupaten Trenggalek terbagi ke dalam 14 Kecamatan, meliputi Kecamatan Panggul, Munjungan, Watulimo, Kampak, Dongko, Pule, Karangan, Suruh, Gandusari, Durenan, Pogalan Trenggalek, Tugu dan Bendungan. Dalam sistem perwilayahannya, Kabupaten Trenggalek merupakan Pusat Pelayanan Lokal dalam lingkup Wilayah Pengembangan Kediri dan sekitarnya, dengan fungsi wilayah yang diarahkan pada kegiatan pertanian tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, kehutanan, peternakan, pertambangan, pendidikan, kesehatan, pariwisata, perikanan dan industri
Kabupaten Trenggalek juga memiliki zona kepulauan yang tersebar di Wilayah Selatan Kabupaten Trenggalek. Ada 57 pulau di Kabupaten Trenggalek yang semuanya masih belum berpenghuni. Pulau-pulau pinggiran di Kabupaten Trenggalek adalah Pulau Panikan dan Pulau Sekel yang wilayahnya tidak jelas. Kemudian wilayah lautan (Zona Ekonomi Eksklusif) seluas ± 35.558 km²,
termasuk 57 pulau kecil tak berpenghuni. Pulau-pulau di Kabupaten Trenggalek diperkenalkan secara lengkap pada tabel di bawah ini (Potensi Dan Produk Unggulan Kabupaten/Kota Di Jawa Timur, 2013).
Tabel 3.1 Nama Pulau di Kabupaten Trenggalek NO NAMA PULAU WILAYAH
KECAMATAN
NO NAMA PULAU WILAYAH KECAMATAN
1. Kelompok Kidul Munjungan 30. Lumbung Panggul
2. Sasah Munjungan 31. Karang Malang Panggul
3. Cigar Munjungan 32. Kuyon Panggul
4. Ales Munjungan 33. Konyelan Panggul
5. Anak Cigar Munjngan 34. Banyu Tarung Panggul
6. Panikan Munjungan 35. Sruwi Lor Watulimo
7. Watu Payung Munjungan 36. Sruwi Kidul Watulimo
8. Percak Munjungan 37. Segunung Watulimo
9. Percak Wetan Munjungan 38. Karang Pegat Watulimo
10. Percak Tengah Munjungan 39. Watu Dukun Watulimo
11. Pecak Kulon Munjungan 40. Ngembeng Watulimo
12. Kalongan Munjungan 41. Watu Lajer Watulimo
13. Kalongan Cilik Munjungan 42. Sruwi Watulimo
14. Klompok Lor Munjungan 43. Benggolo Watulimo
15. Prenjono Munjungan 44. Siklopo Watulimo
16. Prenjono Wetan Munjungan 45. Sosari Watulimo
17. Prejono Kulon Munjungan 46. Sosari Cilik Watulimo
18. Weru Munjungan 47. Sosari Lor Warulimo
19. Waturau Munjungan 48. Solimo Wetan Watulimo
20. Endas Bajul Munjungan 49. Solimo Tengah Watulimo
21. Kapulogo Munjungan 50 Solimo Kulon Watulimo
22. Kampong Munjungan 51. Solimo Watulimo
23. Watu Gampiran Munjungan 52. Boyolangu Watulimo
24. Teang Panggul 53. Tamengan Watulimo
25. Teang Lor Panggul 54. Anakan Watulimo
26. Teang Kidul Panggul 55. Mbatang Watulimo
27. Godo Panggul 56. Babatan Watulimo
28. Godo Cilik Panggul 57. Sekel Watulimo
29. Jaran Panggul
Kabupaten Trenggalek memiliki destinasi wisata yang beranekaragam di kawasan pesisir pantai, dan yang akan dibahas oleh peniliti yakni Ekowisata Mangrove Prigi yang letaknya berhadapan langsung dengan Pantai Cengkrong. Ekowisata Mangrove Prigi Pantai Cengkrong sendiri menawarkan beberapa potensinya yang bukan hanya ekowisata saja namun potensi edusiwata dan juga ekologi.
a. Pembagian Administratif
Kabupaten Trenggalek terdiri dari 14 Kecamatan, 152 Desa dan 5 Kelurahan, 555 Vila / Rukun Tetangga, 1.287 Rukun Tetangga dan 4.490 Rukun Tetangga. Dari 14 Kecamatan, hanya Kecamatan yang sebagian besar kotanya berupa daratan yaitu Kecamatan Trenggalek, Kabupaten Karangan, Kecamatan Pogalan, Kecamatan Durenan, Kabupaten Tugu. Sedangkan 9 kecamatan lainnya umumnya tidak merata (Potensi dan Produk Unggulan Kabupaten / Kota di Jawa Timur, 2013).
Tabel 3. 2Jumlah Desa, Dusun dan Luas Kecamatan di Kabupaten Trenggalek
Sumber : Trenggalek dalam Angka, 2014.
3.1.2 Topografi Kabupaten Trenggalek
Kabupaten Trenggalek tingginya terdiri dari 2/3 zona berbatu dan 1/3 lainnya berupa rawa-rawa dengan ketinggian 0 hingga 690 meter di atas permukaan laut. 66% wilayah Kabupaten Trenggalek yang merupakan wilayah rawa bergelombang memiliki ketinggian antara 0 atau lebih 100 meter di atas permukaan laut, dan ketinggian 53,8% dengan ketinggian 100 m - 500 m. Sebagian besar Kabupaten Trenggalek memiliki geografi yang tinggi di atas 40% dengan luas ± 28.378 ha yang merupakan wilayah yang cenderung longsor. Sebagian besar tanah ini adalah tanah rusak yang cenderung untuk pengembangan tanah. Wilayah ini tersebar di beberapa wilayah antara lain
No KECAMATAN IBUKOTA JML DESA/KELURAHAN JML DUSUN LUAS 1. Panggul Wonocoyo 17 66 131.56 2. Munjungan Munjungan 11 44 154.80 3. Watulimo Prigi 12 33 154.44 4. Kampak Bendoagung 7 23 79.00 5. Dongko Dongko 10 53 141.20 6. Pule Pule 10 35 118.12 7. Karangan Karangan 12 32 50.92 8. Suruh Suruh 7 26 50.72 9. Gandusari Gandusari 11 54 54.96 10. Durenan Kendalrejo 14 47 57.16 11. Pogalan Ngadirenggo 10 33 41.80 12. Trenggalek Ngantru 8/5 35 61.16 13. Tugu Gondang 15 45 74,72 14. Bendungan Dempyong 8 29 90.84 Jumlah 152/5 555 1.261.40
Kecamatan Bendungan, Pule, Dongko, Watulimo, Munjungan dan Panggul. Luas rawa-rawa dengan kemiringan antara 0% - 15% adalah ± 42.292 ha.
Sebagian besar ruang dengan geografi datar terletak di bagian utara Kabupaten Trenggalek, meliputi Kecamatan Trenggalek, Karangan, Pogalan, Durenan, dan Tugu. Keadaan kemiringan tanah di Kabupaten Trenggalek dapat diperjelas bahwa terdapat kondisi yang bergeser dan datar menjadi sangat curam, khususnya dengan kemiringan 0% - 7% untuk zona rawa dan 7% - 40% untuk zona berbatu. . Hal inilah yang menyebabkan penguasaan tanah atas tanah menjadi padat di dalam zona-zona yang memiliki kelas tingkatan pada tanah dengan kemiringan tanah di atas 15%, penggunaan tanah dilakukan dengan pembuatan terasering. Kemiringan suatu lahan teridentifikasi berpengaruh terhadap disintegrasi tanah (Potensi dan Produk Unggulan Kabupaten / Kota di Jawa Timur, 2013).
Di Pantai Cengkrong, Kabupaten Trenggalek, terdapat destinasi liburan yang terkenal, khususnya Ekowisata Mangrove. Ekowisata Mangrove Prigi. Pantai Cengkrong berada di sebelah barat Pantai Prigi dan di sebelah timur Gunung Kumbokarno dan Pantai Damas. Kawasan pantai ini cukup strategis untuk dikunjungi karena berada di pinggir Jalan Lintas Selatan (JLS) Pulau Jawa yang melewati Kabupaten Trenggalek. Waktu tempuh sekitar 1-2 jam dari pusat kota. Klaim ketenaran pantai laut ini terletak pada pasirnya yang halus, agak putih seperti tanah, dan cocok untuk bermain. Anda bisa menikmati angin basah sambil duduk di lantai di bawah pohon menikmati keindahan pantai. Pantai Cengkrong di Trenggalek adalah salah satu tempat wisata yang wajib dikunjungi
karena daya tariknya yang menawan adalah yang terbaik. Pantai Cengkrong penting untuk garis pantai selatan Pulau Jawa. Meskipun berada di pantai selatan, karakter ombaknya tidak terlalu besar seperti ombak pantai selatan pada umumnya. Hal tersebut bisa terjadi karena Pantai Cengkrong terhalang oleh lereng karang yang melawan ganasnya ombak laut selatan. Di pantai barat terdapat lereng kasar yang melintang, di mana air asin mengalir dari hutan bakau. Aliran ini dimanfaatkan oleh pemancing sebagai pelabuhan tempat tambatan perahu mereka.
3.1.3 Demografi Kabupaten Trenggalek
Kabupaten Trenggalek dengan luas wilayah 1.261,40 km² menurut hasil registrasi penduduk akhir tahun 2014 sebesar 818.797 jiwa. Dari jumlah seluruh penduduk tersebut sebanyak 50,34% merupakan penduduk laki-laki. Sebaran penduduk pada tahun 2014 menunjukkan bahwa di Kecamatan Panggul berpenduduk terbanyak dengan 89.069 jiwa. Kecamatan yang paling sedikit jumlah penduduknya adalah Kecamatan Suruh yaitu 28.973 jiwa.
Kepadatan penduduk Kabupaten Trenggalek sebesar 649 orang per km² dimana Kecamatan Pogalan mempunyai tingkat kepadatan penduduk paling tinggi yaitu sebesar 1.424 jiwa/km². Kecamatan yang tingkat kepadatan penduduknya paling rendah adalah Kecamatan Bendungan dengan 332 jiwa per km².
Tabel 3. 3Karakteristik Penduduk Kabupaten Trenggalek Tahun 2014
No. Kecamatan Rumah Tangga
Penduduk Kepadatan
Penduduk (Jiwa/Km²) Laki-Laki Perempuan Jumlah
1. Kecamatan Panggul 19.466 34.194 35.131 69.325 527 2. Kecamatan Munjungan 12.925 23.557 23.359 46.916 303 3. Kecamatan Watulimo 17.465 32.037 30.588 62.625 405 4. Kecamatan Kampak 10.331 17.783 17.960 35.743 452 5. Kecamatan Dongko 16.896 30.066 29.182 59.248 420 6. Kecamatan Pule 14.072 25.445 25.463 50.908 431 7. Kecamatan Karangan 13.461 22.060 23.372 45.432 892 8. Kecamatan Suruh 7.499 12.217 12.329 24.546 484 9. Kecamatan Gandusari 14.342 24.305 24.777 49.082 893 10. Kecamatan Durenan 14.246 24.556 24.429 48.985 857 11. Kecamatan Pogalan 14.115 23.450 24.501 47.951 1.147 12. Kecamatan Trenggalek 17.707 30.580 32.026 62.606 1.024 13. Kecamatan Tugu 13.476 22.365 23.399 45.764 612 14. Kecamatan Bendungan 7.260 12.538 12.742 25.280 278 Total 193.261 335.153 339.258 674.411 535 Sumber : Trenggalek dalam Angka, 2014.
3.2 Desa Karanggandu
Desa Karanggandu merupakan salah satu dari 12 desa yang terletak di wilayah Kecamatan Watuimo, Kabupaten Trenggalek. Luas Desa Karanggandu 2.537,5 ha, yang terbagi dalam berbagai fungsi yaitu tanah kering, tanah fasilitas umum, tanah hutan, lahan sawah, pekarangan/pemukiman dan lain-lain. Desa Karanggandu mamiliki kondisi wilayah berupa dataran tinggi, dataran rendah dan pesisir pantai. Banyak potensi di Desa Karanggandu, khususnya pada bidang pertanian dan perkebunan yang didukung dengan program dan bantuan pemerintah.
3.2.1 Sejarah Desa Karanggandu
Desa Karanggandu pada mulanya merupakan pedukuhan yang terletak di lereng Gunung Kedaton. Gunung Kedaton merupakan tempat yang terletak di daerah paling utara Desa Karanggandu. Sekitar tahun 1900 Desa Karanggandu sebagian besar masih berupa hutan, yang memiliki sistem pemerintahan yang masih sangat sederhana. Desa Karanggandu dibagi menjadi 4 dusun, yakni :
1. Dusun Tirto
2. Dusun Gading
3. Dusun Gandu
4. Dusun Karangsono.
Perkembangan masyarakat Desa Karanggandu cukup pesat dengan mata pencaharian sebagai petani dan berkebun. Sebagian masyarakat yang lain juga berprofesi sebagai nelayan. Karena dekat dengan pantai dan dikelilingi oleh perbukitan, masyarakat memanfaatkan kondisi lingkungan sebagai sumber penghidupan untuk mereka.
3.2.2 Visi dan Misi Desa Karanggandu 1. Visi
Terwujudnya masyarakat Karanggandu yang damai, demokratis, memiliki kepedulian dan etos kerja yang tinggi serta disiplin, beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia adalah cita – cita luhur masa depan masyarakat Karanggandu.
2. Misi
Untuk mewujudkan visi sebagaimana tersebut diatas, maka ditetapkan misi sebagai berikut:
1. Membangun masyarakat Karanggandu dengan jiwa sosial yang tinggi dan berakhlak mulia
2. Menciptakan hubungan yang harmonis dengan ulama, tokoh masyarakat, dan lembaga kemasyarakatan Desa Karanggandu
3. Mewujudkan pemerintah yang bersih, transparan, dan demokratis
4. Meningkatkan partisipasi dan kepedulian masyarakat Karanggandu dalam pembangunan
5. Meningkatkan pelayanan kepada masyarakat secara optimal
6. Menciptakan masyarakat sadar hukum demi terwujudnya rasa aman, tentram, rukun dan damai
7. Mengoptimalkan pengelolaan kekayaan alam untuk kesejahteraan masyarakat Karanggandu
3.2.3 Kondisi Gografis Desa Karanggandu
Desa karanggandu memiliki kondisi wilayah berupa dataran tinggi dan sering terjadi bencana alam. Bencana alam yang sering dialami yaitu tanah longsor, sehingga sangat perlu adanya kokompakkan masyarakat di bidang swadaya, gotong royong dalam menhadapi permasalahan tersebut. Kondisi yang tropis sehingga sangat memungkinkan untuk pengembangan di sektor pertanian, perkebunan dan perternakan.
Berikut merupakan kondisi geografis Desa Karanggandu :
Ketinggian : 200 mdpl
Curah Hujan : 2.600/4.500 mm/tahun
Topografi : Dataran rendah, dataran tinggi, pesisir Suhu udara rata-rata : 20°C - 45°C
Desa Karanggandu memiliki batas wilayah sebagai berikut :
Sebelah utara : Desa Margomulyo
Sebelah Timur : Desa Prigi
Sebelah Selatan : Samudera Hindia
Berdasarkan data statistik,luas wilayah yang ada di Desa Karanggandu dimanfaatkan sebagai : Pertanian : 95 Ha Hutan Negara : 4.776,6 Ha Pekarangan / Permukiman : 196 Ha Lain-lain : 518 Ha
3.2.4 Kondisi Demografi Desa Karanggandu
Penduduk Desa Karanggandu terdiri dari :
a. Jumlah Penduduk : 6.693 jiwa
Laki-laki : 3.328 jiwa
Perempuan : 3.365 jiwa
b. Jumlah Kepala Keluarga : 2.713 KK
c. Mutasi Penduduk :
Lahir : 84 orang
Mati : 72 orang
Pindah : 47 orang
3.2.5 Kondisi Ekonomi Desa Karanggandu
Kondisi perekonomian Desa Karanggandu setiap tahunnya mengalami peningkatan walaupun tidak terlalu signifikan. Pemerintah desa mengharapkan adanya perkembangan perekonomian pada masyarakat dan dukungan dari Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat yang terealisasi dengan berbagai bentuk bantuan serta program.
Desa Karanggandu memiliki banyak potensi khusunya di bidang pertanian dan perkebunan yang didukung dengan program dan bantuan pemerintah. Hal tersebut menjadi potensi mata pencaharian masyarakat untuk pebaikan taraf hidup. Adapun Desa Karanggandu memiliki potensi perkebunan sebagai berikut:
1. Padi : 608 ton / tahun
2. Cengkeh : 76 ton / tahun
3. Kelapa : 138 ton / tahun
4. Durian : 72 ton / tahun
5. Pisang : 211 ton / tahun
3.3 Hutan Mangrove Pantai Cengkrong
3.3.1 Lokasi Hutan Mangrove Pantai Cengkrong
Hutan mangrove Pantai Cengkrong terletak di Kabupaten Trenggalek, yang lebih tepatnya berada di RT 01 RW 01, Desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo. Hutan mangrove ini bersebelahan dengan jembatan jalur lintas
selatan (JLS) yang baru selesai dibangun pada tahun 2012. Hal tersebut membuat daerah Pantai Cengkrong, khususnya Hutan Mangrove ramai dikunjungi wisatawan, baik wisatawan lokal Kabupaten Trenggalek maupun wisatawan dari luar Trenggalek. Wilayah ini sendiri berada dalam pengelolaan Kelompok Masyarakat Pengawas (POKMASWAS) Kejung Samudera yang diawasi langsung oleh Dinas Perikanan Kabupaten Trenggalek.
. Ruang hutan mangrove Pantai Cengkrong memiliki luas 42.577 Ha, dalam keadaan luas 32.5 Ha dan dalam keadaan rusak 10.057 Ha (Data Dinas Perikanan Kabupaten Trenggalek, 2016). Informasi telah berubah dari satu tahun ke tahun lainnya. Sejak ditandatangani untuk cakupan yang sangat luas pada tahun 2010, seiring dengan maraknya individu-individu yang peduli terhadap perlindungan mangrove, akhirnya tanaman di hutan mangrove mulai tumbuh kembali dan mengalami pertambahan kawasan mangrove dalam kondisi yang sangat baik.
3.3.2 Sejarah Hutan Mangrove
Menurut sejarah yang berkembang di masyarakat bahwa, pada sekitar tahun 1960-a di Pancer Cengkrong ditemukan buaya putih, sehingga kawasan ini menjadi daerah yang dikeramatkan. Pada saat tersebut, hutan mangrove masih asri dan rindang, namun seiring perubahan waktu, pancer Cengkrong mulai banyak dikunjungi dan mitos yang ada mulai pudar. Awalnya hanya beberapa orang berkunjung dengan maksud melihat-lihat keadaan hutan mangrove, namun disisi lain ada beberapa orang yang diketahui sumber daya
alam yang ada di hutan mangrove, seperti kayu dan biota mangrove lainnya (kepiting, ikan, dll).
Hutan Mangrove Pantai Cengkrong lambat laun terbengkalai dengan kondisi pohon yang rusak dan hampir gundul. Akhirnya munculah imisiatif dari kelompok nelayan yang perduli terhadap kondisi hutan mangrove dan melakukan konservasi. Masyarakat akhirnya membuat kelompok perduli hutan mangrove yang diberi nama Pokmaswas Kejung Samudra. Kelompok ini mendapatkan pembinaan dari Dinas Perikanan Kabupaten Trenggalek untuk melestarikan Ekosistem Mangrove di Pancer Cengkrong.
3.3.3 Kondisi Hutan Mangrove
Luas Hutan Mangrove saat ini mencapai 32,5 Ha dalam kondisi baik dan merupakan Hutan Mangrove yang memiliki jenis mangrove terbanyak di Jawa Timur. Adapun jenis-jenis mangrove yang terdapat di Hutan Mangrove Pantai Cengkrong menurut Dinas Perikanan Kabupaten Trenggalek meliputi :
1. Sonneratia Alba 2. Rhizophora apiculata 3. Ceriops tagal 4. Avicennia alba 5. Excoecaria agallocha 6. Aegiceras corniculatum
7. Bruguiera gymnorrhiza
8. Bruguiera cylindrical
9. Bruguiera sexangula
10. Xylocarpus moluccensis
11. Dll
Selain jenis tanaman mangrove yang beraneka ragam, juga terdapat biota-biota lain di dalamnya. Adapun biota-biota-biota-biota di hutan mangrove pantai cengkrong yaitu : 1. Kepiting bakau 2. Kerang bakau 3. Ikan 4. Udang bakau 5. Cacing 6. Burung 7. Biawak 8. Dll
Semakin banyak biota yang dapat ditemukan di hutan mangrove berarti semakin subur dan berkembang tanaman mangrove tersebut.
3.4 Kelompok Masyarakat Pengawas “Kejung Samudra” Desa Karanggandu
3.4.1 Profil Pokmaswas Kejung Samudra
Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Kejung Samudra adalah sebuah pertemuan yang terdiri dari beberapa kelompok yang merasa khawatir dengan iklim hutan bakau. Perkumpulan ini bertujuan untuk memberi jatah hutan bakau dalam keadaan darurat dengan upaya perlindungan dan pemulihan bakau. Selain itu, Pokmas juga mengawasi dan memastikan iklim pantai di sekitar sana.
Pengembangan Pokmaswas juga sesuai dengan menyelesaikan berbagai jenis partisipasi dengan beberapa organisasi. Tercapainya upaya pelestarian sistem hayati mangrove melalui Pokmaswas Kejung Samudra, berawal dari pertimbangan luar biasa daerah itu sendiri terhadap kapasitas dan keunggulan dusun mangrove untuk pesisir pantai Trenggalek. Mereka yakin bahwa hutan bakau merupakan pendukung utama keberadaan ikan di pantai mereka.
Selama ini, dalam penyelenggaraannya, Pokmas Kejung Samudra bertujuan untuk menumbuhkan sistem hayati hutan mangrove melalui pembudidayaan, penanaman, benar-benar fokus pada dan penanganan barang-barang mangrove. Sebelumnya kawasan mangrove memiliki keunikan sekitar 85 hektar, sehingga jauh lebih luas. Program perlindungan hutan mangrove yang dikendalikan oleh pokmaswas Kejung Samudra juga diharapkan dapat mengenalkan jenis-jenis pohon mangrove kepada masyarakat secara keseluruhan sehingga ada ketertarikan untuk menjaga dan memperhatikan kelestarian.
Gambar 3. 1 Papan Lembaga Pokmaswas Kejung Samudra Sumber : POKMASWAS Kejung Sanudra
3.4.2 Tugas dan Kegiatan Pokmaswas Kejung Samudra
Beberapa tugas yang diemban oleh Pokmaswas Kejung Samudra yaitu (Dokumen Pokmaswas Kejung Samudra) :
a. Membuat rencana kerja kegiatan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat pantai
b. Membuat rencana untuk meningkatkan pengelolaan sumberdaya perikanan pantai secara lestari
c. Meningkatkan kemampuan dan keikutsertaan masyarakat pantai dalam pembangunan khususnya pembangunan masyarakat pantai
Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Pokmaswas Kejung Samudra meliputi (Dokumen Pokmaswas Kejung Samudra) :
a. Mengadakan rembug/diskusi hal-hal yang berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya perikanan pantai
b. Menghimpun dan mengkoordinir masukan dari kalangan masyarakat pantai yang berhubungan dengan rencana dan pelaksanaan serta perubahan-perubahan terhadap rencana pembangunan perikanan baik yang menyangkut hukum atau peraturan yang berkaitan dengan alat tangkap, terumbu karang, hutan bakau dan lain sebagainya c. Menghimpun dan mengkoordinir masukan dari masyarakat pantai tentang hal-hal yang berhubungan dengan kesepakatan aturan setempat/adat/desa pengawasan dan penegakan hukum serta penelitian yang berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya pantai. d. Membantu pelaksanaan rencana pembangunan perikanan pantai, pencatatan data dasar sumberdaya perikanan serta kegiatan-kegiatan yang terkait dengan informasi, pendidikan dan pelatihan perikanan pantai
e. Mewakili nelayan dalam lembaga kenelayanan yaitu kelompok PSBK, Prigi Lestari, maupun KP3K Trenggalek.
3.4 3 Susunan Pengurus Kelompok Masyarakat Pengawas
Pokmaswas merupakan kelompok yang bersifat sukarela, tidak digaji dan juga biaya yang dikeluarkan merupakan biaya yang diperoleh dari swadaya masyarakat. Adapun susunan pengurus Pokmaswas itu sendiri juga bukan dari paksaan, melainkan dari kesadaran pribadi masing – masing anggota Pokmaswas.
Gambar 3. 2 Struktur Pengurus Pokmaswas Kejung Samudra Sumber : Dokumen Pokmaswas Kejung Samudra
3.5 Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Trenggalek
3.5.1 Profil Dinas Perikanan Kabupaten Trenggalek
Dinas Perikanan Kabupaten Trenggalek merupakan perangkat daerah sebagai unsur pelaksana pemerintah daerah di bidang kelautan dan perikanan yang diatur dengan Peraturan Daerah Kabupaten Trenggalek Nomor 22 Tahun 2011. Dengan adanya perubahan kelembagaan daerah yang mengacu pada
Peraturan Pemerintah Nomor. 41 tahun 2007 menyebabkan perubahan tugas dan fungsi organisasi. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Trenggalek dan sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 22 Tahun 2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Kabupaten Trenggalek dan Peraturan Bupati Trenggalek Nomor 124 Tahun 2011 tanggal 27 Desember 2011 tentang Penjabaran Tugas dan Fungsi Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Trenggalek dan Peraturan Bupati Trenggalek Nomor 93 Tahun 2012 tanggal 5 November 2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja TPI sebagai Unit Pelaksana Teknis Dinas Kelautan dan Perikanan Kantor Kabupaten Trenggalek.
Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Trenggalek Nomor 17 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah serta Peraturan Bupati Trenggalek Nomor 35 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Kantor Wilayah, Kelautan dan Kelautan Kabupaten Trenggalek Dinas Perikanan diubah menjadi Dinas Perikanan Kabupaten Trenggalek.
Lokasi Dinas Perikanan Kabupaten Trenggalek berada di Jalan Ronggo Warsito No mor 14 Kabupaten Trenggalek. Gedung Kantor Dinas Perikanan terdiri dari dua tingkat dengan luas total kurang lebih 344 m2. Dinas Perikanan Kabupaten Trenggalek berhadapan langsung dengan Dinas Perikanan sehingga memudahkan akses informasi perikanan di kawasan Trenggalek.
Gambar 3. 3 Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP), sekarang Dinas Perikanan
Sumber : Dokumentasi peneliti
3.5.2 Tugas dan Fungsi Dinas Perikanan Kabupaten Trenggalek
Dinas Perikanan Kabupaten Trenggalek sebagaimana dijabarkan dalam Peraturan Bupati Trenggalek melaksanakan fungsi :
a. Penyusunan kebijakan teknis Urusan Pemerintahan bidang perikanan.
b. Penyusunan perencanaan program dan anggaran
Urusan Pemerintahan bidang perikanan.
c. Pelaksanaan kegiatan Urusan Pemerintahan bidang perikanan d. Pemantauan, evaluasi, dan pelaporan atas pelaksanaan kegiatan
Urusan Pemerintahan bidang perikanan.
Urusan Pemerintahan bidang perikanan.
f. Pembinaan penyelenggaraan kegiatan Urusan Pemerintahan bidang perikanan.
g. Pembinaan UPTD.
h. Pelaksanaan administrasi Urusan Pemerintahan bidang perikanan. i. Penyusunan perjanjian kinerja.
j. Penetapan dan pelaksanaan standar pelayanan dan standar operasional prosedur.
k. Pelaksanaan survei kepuasaan masyarakat secara periodik. l. Pengelolaan administrasi umum meliputi penyusunan program,
ketatalaksanaan, ketatausahaan, keuangan, kepegawaian, rumah tangga, perlengkapan, kehumasan, kepustakaan dan kearsipan. m. Pemberdayaan dan pembinaan jabatan fungsional.
n. Pengevaluasian dan pelaporan pelaksanaan tugas dan fungsi.
3.5.3 Bidang Dinas Perikanan Trenggalek
Dinas Perikanan Trenggalek dalam menjalankan tugas nya memiliki beberapa bidang untuk memudahkan pembagian kerja. Adapun beberapa bidang yang dimilki meliputi :
a. Sekertariat
- Sub Bagian Keuangan, Perencanaan dan Pelaporan
- Sub Bagian Umum dan Kepegawaian
b. Bidang Perikanan Tangkap
- Seksi Eksploitasi dan Teknologi Penangkapan Ikan - Seksi Pengelolaan Sumberdaya Perikanan
c. Bidang Pengelolaan Hasil Perikanan
- Seksi Pengelolaan Tempat Pelelangan Ikan dan Pemasaran - Seksi Bina Mutu dan Diversifikasi Produk
d. Bidang Perikanan Budidaya
- Seksi Produksi Perikanan Budidaya
- Seksi Perbenihan, Kesehatan Ikan dan Lingkungan
3.6 Perum Perhutani (KPH Kediri – RPH Prigi)
3.6.1 Profil Perhutani
Perum Perhutani adalah sebuah organisasi hutan milik negara yang berurusan dengan pulau Jawa dan Madura yang memiliki peran penting dalam mendukung pengaturan pemeliharaan alam, sosial-sosial dan moneter di wilayah setempat layanan penjaga hutan. Perhutani, dalam hal arahan pemerintah, akan melengkapi aset hutan yang dijalankan para eksekutif yang bisa bersaing di tingkat dunia nanti. Melalui perubahan organisasi, administrasi Perhutani melakukan upaya yang gigih untuk meningkatkan dan membangun bisnis untuk melayani kepentingan publik serta menghasilkan keuntungan yang bergantung pada standar administrasi perusahaan yang baik.
Gambar 3. 4 Peta Lokasi Wilayah Kerja Perum Perhutani Jawa Timur Sumber : perhutani.co.id
Pembagian wilayah Jawa Timur memiliki luas areal penggusuran hutan seluas 1.134.052,0 ha. Divisi ini memiliki 23 Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), 23 kawasan, dan 5 Seksi Perencanaan Hutan (SPH), Seksi Perencanaan Kehutanan (FPS).
Menurut kawasan hutan mangrove Pantai Cengkrong, Perum Perhutani yang mengelola lahan tersebut adalah Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH Kediri), Bagian dari Kesatuan Pengelolaan Hutan (BKPH) Bandung dan Hutan Pemangkuan (RPH) Prigi. Areal KPH Kediri berada di Jl. Hasanudin No.10, Dandangan, Kabupaten Kota Kediri, Kota Kediri, Jawa Timur. Kantor Kesatuan Pengelolaan Kehutanan (BKPH) Bandung terletak di Jl. Raya
Bandung-Prigi, Kecamatan Bandung, Kabupaten Tulungagung. Sementara RPH Prigi terletak di Desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek.
Gambar 3. 5 Kantor Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan Kediri
Gambar 3. 6 Perum Perhutani Resirt Pemangkuan Hutan (RPH) Prigi Sumber : Dokumentasi peneliti
3.6.2 Landasan Hukum Perum Perhutani
Perhutani didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor: 15 Tahun 1972, kemudian diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor: 2 Tahun 1978, Peraturan Pemerintah Nomor: 36 Tahun 1986, Peraturan Pemerintah Nomor: 30 Tahun 2003 dan Peraturan Pemerintah Nomor: 72 Tahun 2010. Sejak Oktober 2 Tahun 2014 Perhutani menjadi perusahaan induk BUMN Kehutanan dengan bergabung dengan 5 (lima) perusahaan kehutanan yaitu PT Inhutani I, PT Inhutani II, PT Inhutani III, PT Inhutani IV dan PT Inhutani V sebagai anak perusahaan sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor: 73 / 2014.
3.6.3 Visi, Misi dan Tata Nilai Perum Perhutani
a. Visi
Menjadi Perusahaan Unggul dalam Pengelola Hutan Lestari b. Misi
- Mengelola Sumberdaya Hutan Secara Lestari (Planet)
- Meningkatkan Manfaat Pengelolaan Sumberdaya Hutan bagi Seluruh Pemangku Kepentingan (People)
- Menyelenggarakan Bisnis Kehutanan dengan Prinsip Good Corporate Governance (Profit) c. Tata Nilai - Berkelanjutan - Ekselen - Responsibilitas - Matang - Akuntabilitas - Kerja sama tim - Nilai Tambah - Agilitas
3.6.4 Perum Perhutani (RPH Prigi) Sebagai Pengawas Hutan Mangrove Hutan mangrove Pantai Cengkrong termasuk di bawah pengawasan Perum Perhutani Resirt Pemangkuan Hutan (RPH) Prigi. RPH Prigi merupakan RPH yang bertugas untuk melakukan pengawasan dan pengelolaan hutan di wilayah Prigi Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek termasuk hutan mangrove yang ada di Pantai Cengkrong Desa Karanggandu.
Tabel 3. 4 Luas Kawasan Hutan RPH Prigi No. Jumlah Anak
Petak
Klas Hutan Luas Hutan Keterangan 1 3 HL 4.317,8 HL : 4.317,8 Ha 2 3 Kpkh 0,3 HP : 1.202,2 Ha 3 9 KPS 61,0 4 4 KTn 4,4 5 12 Ldti 87,7 6 2 Tjkl 50,2 7 45 TKL 998,7 78 5.520,1
Sumber : Dokumen Perhutani RPH Prigi
Berdasarkan data di atas, jumlah keseluruhan hutan yang diawasi dan dikelola oleh perhutani di kawasan Prigi sejumlah 5.520,1 Ha. Dari jumlah tersebut, bagian hutan lindung (HL) seluas 4.317,8 Ha dan hutan produksi seluas 1.202,2 Ha. Adapun petak yang digunakan untuk pengelolaan hutan yaitu terbagi sejumlah 78 petak.
Dalam melaksanakan tugasnya, perhutani RPH Prigi terbagi atas 8 anggota yang memiliki tugas berbeda. Namun secara keseluruhan,
perhutani RPH Prigi saling membantu satu sama lain untuk mencapai tujuan.
RPH Prigi merupakan perhutani yang juga bertugas melakukan pengawasan dan juga pengelolaan atas hutan mangrove Pantai Cengkrong. Dalam tugasnya tersebut, perhutani melakukan kerjasama dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Agro Lestari. LMDH tersebut merupakan lembaga yang beranggotakan dari masyarakat setempat (Desa Karanggandu). LMDH Agro Lestari merupakan anak binaan perum perhutani KPH Kediri yang bertugas untuk melakukan pengawasan dan juga pengelolaan di hutan Prigi termasuk hutan mangrove Pantai Cengkrong.
3.7 Sejarah Pengelolaan Hutan Mangrove Pantai Cengkrong
Hutan mangrove merupakan hutan yang memiliki beragam manfaat dan fungsi bagi kehidupan. Namun, sebagian besar masyarakat tidak mengetahui akan pentingnya hutan mangrove. Sebagian besar masyarakat memanfaatkan mangrove secara kasarnya, seperti untuk kayu bakar dan dijual. Seperti halnya dengan masyarakat Desa Karanggandu yang berdekatan dengan kawasan hutan mangrove. Karena alasan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga yang pada waktu itu terjadi krisis moneter, masyarakat yang perekonomiannya rendah, banyak yang menebang pohon mangrove. Pada tahun 1999 an, kayu mangrove di Desa Karanggandu dihargai Rp 100 per batangnya.
Akibat kurangnya pendidikan dan rendahnya perekonomian, masyarakat desa setempat akhirnya menjadikan hutan mangrove yang tidak diketahui siapa pemiliknya sebagai tempat untuk menambah penghasilan baru. Masyarakat menebang pohon secara bersama – sama. Dan hal tersebut seperti
menjadi hal yang wajar bagi masyarakat desa setempat. Karena penebangan masal yang dilakukan oleh masyarakat, menjadikan hutan mangrove yang awalnya asri dan lebat, menjadi gundul. Hanya batang batang kayu kecil yang tersisa.
Penebangan hutan mangrove tersebut sangat dirasakan dampaknya bagi kalangan nelayan. Beberapa masyarakat Desa Karanggandu acuh dengan keadaaan hutan mangrove. Mereka tidak terlalu merasakan dampak dari perubahan kuantitas hutan mangrove. Namun beberapa orang khususnya nelayan kepiting merasakan dampak dari penebangan hutan mangrove tersebut. Perlu disadari bahwa efek yang diyakini ditimbulkan oleh aktivitas dan aktivitas sekitar yang menebang pohon dan tidak mempertimbangkan dampak yang akan terjadi nantinya.
Salah satu nelayan yang menaruh perhatian pada arti penting hutan bakau adalah Bapak Imam Syaifuddin. Imam Syaifuddin merupakan warga Desa Karanggandu yang merupakan pemancing. Dari kesadaran tinggi yang dikendalikan oleh Imam Syaifuddin ini, akhirnya muncullah dorongan untuk membentuk kumpulan individu-individu yang peduli dengan dusun bakau. Imam Syaifuddin, yang mempelopori pengaturan pertemuan, dihargai oleh beberapa sahabat dari berbagai panggilan. Kesadaran lingkungan sekitar terutama diperlukan untuk kepentingan normal baik dalam sudut pandang alam, politik dan sosial-sosial. Pengembangan kesadaran dan dorongan area lokal terdekat harus ditingkatkan dari dalam area lokal agar peka dan peduli terhadap iklim umum.
Mirip dengan Pak Imam Syaifuddin, jika tidak ada kesadaran dan dorongan pikiran serta membentuk tandan pemeliharaan bakau, kemungkinan besar akan terjadi akibat buruk yang lebih besar.
Kesadaran individu dan gagasan dari beberapa orang yang dibingkai dalam kelompok peduli mangrove bergabung dengan aktivitas. Mereka melakukan upaya untuk membangun kembali pohon bakau yang rusak. Mereka juga melengkapi pembibitan agar ada lebih banyak mangrove. Mereka mencoba untuk memiliki pilihan untuk membangun kembali hutan bakau seperti dulu. Berbagai jenis penghalang dihadapi, mulai dari masalah biaya dan pelarian individu karena permintaan keuangan keluarga mereka. Ada banyak individu yang bertahan dan beberapa pasti tidak. Kelompok pemeliharaan mangrove berupaya melakukan perlindungan mangrove selama kurang lebih satu tahun dengan sengaja dan tanpa bayaran. Bersama-sama mereka melakukan upaya pelestarian mangrove dengan sengaja dan sungguh-sungguh. Hingga akhirnya kerja keras penjagaan mangrove tersebut disaksikan oleh Dinas Perikanan Trenggalek.
Dinas yang bertugas dalam melaksanakan pengelolaan terhadap daerah pesisir laut termasuk di dalamnya hutan mangrove melihat usaha yang dilaksanakan oleh kelompok peduli mangrove tersebut sebagai sebuah potensi yang bisa diberdayakan. Dan pada akhirnya melalui surat keputusan presiden, nama kelompok peduli mangrove dirubah menjadi Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Kejung Samudra dengan nomor register 2.5.15.406.256.01.0104.0804. Karena Pokmaswas ialah anak binaan Dinas Perikanan, maka dari itu Dinas Perikanan Trenggalek aktif melaksanakan
kegiatan pembinaan kepada Pokmaswas Kejung Samudra setelah terlegalisasinya Pokmaswas.
Dinas Perikanan Trenggalek aktif melaksanakan sosialisasi tentang bagaimana cara perawatan mangrove yang baik dan benar, sosialisasi tentang pentingnya hutan mangrove, fungsi dan kegunaan hutan mangrove yang sesuai dan bagaimana menata hutan mangrove. Dinas Perikanan Trenggalek juga aktif dalam merangkul Pokmaswas Kejung Samudra untuk melaksanakan pengkajian dengan beberapa hutan mangrove di Pulau Jawa.
Setelah melihat kinerja Pokmaswas yang sungguh sungguh dalam pelestarian hutan mangrove, pada tahun 2011 Dinas Perikanan Kabupaten Trenggalek memberikan fasilitas jembatan kayu sepanjang ± 400 meter dengan lebar ± 1,5 meter yang terbuat dari kayu balau. Di pinggiran jembatan tersebut terdapat juga gazebo sebanyak 5 buah pada setiap ujung jembatan yang memiliki tujuan untuk mempermudah kegiatan rehabilitasi dan pemantauan. Pihak Dinas Perikanan Trenggalek telah melaksanakan perizinan ke Pemerintah Daerah untuk melakukan pembangunan jembatan, dan pada tahun 2014 pembengunan tersebut telah selesai dilaksanakan.
3.8 Hukum dan Kerjasama Pengelolaan Hutan Mangrove
3.8.1 Latar Belakang Kerjasama Pengelolaan Hutan Mangrove
Sesuai perintah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Pemerintah Kabupaten Trenggalek berencana menyelesaikan Pemantauan Kawasan Konservasi Mangrove di Pantai Cengkrong, Desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek.
Adapun tujuan pengawetan hutan mangrove berdasarkan Rencana Kerja Sama Konservasi Hutan Mangrove oleh Dinas Perikanan Trenggalek bersama Perum Perhutani KPH Kediri, lebih spesifik:
a. Menjalankan amanah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau Pulau Kecil, Pemerintah Kabupaten Trenggalek
b. Keberadaan Hutan Mangrove yang berada di Pantai Cengkrong merupakan ekosistem utama pendukung kehidupan penting di wilayah pesisir dan kelautan.
c. Hutan mangrove memiliki fungsi ekologis sebagai penyedia nutrient bagi biota perairan, tempat pemijahan dan asuhan (nursery ground) berbagai macam biota, penahan abrasi pantai, amukan angin topan dan sunami, penyerap limbah, pencegah interupsi air laut.
d. Hutan mangrove juga mempunyai fungsi ekonomis yang tinggi sebagai penyedia kayu, obat-obatan, alat dan teknik penangkapan ikan.
3.8.2 Dasar Hukum Kerjasama Pengelolaan Hutan Mangrove
Adapun dasar hukum yang melatarbelakangi kerjasama pengelolaan Hutan Mangrove berdasarkan Rencana Kerjasama Konservasi Hutan Mangrove oleh Dinas Perikanan Trenggalek bersama dengan Perum Perhutani KPH Kediri yaitu :
Tabel 3. 5 Dasar Hukum
NO DASAR HUKUM
1 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
2 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2004.
3 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau Pulau Kecil, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014.
4 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.
5 Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 tentang Pegawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.
6 Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Kewenangan antara Pemerintah, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota.
7 Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Kerjasama Daerah.
8 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2010 tentang Penggunaan Kawasan Hutan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2012. 9 Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2010 tentang Perusahaan Umum
Kehutanan Negara.
10 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 22 Tahun 2009 tentang Petunjuk Teknis Tata Cara Kerjasama Daerah.
11 Peraturan Meneteri Kehutanan Nomor P.16/Menhut-II/2014 tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Hutan.
12 Peraturan Direktur Jenderal Planologi Kehutanan Nomor P.6/VII- PKH/2014 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penggunaan Kawasan Hutan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan melalui mekanisme kerjasama dengan pengelola hutan.
3.8.3 Bentuk Kerjasama Pengelolaan Hutan
Adapun bentuk-bentuk kerjasama yang dijalin oleh Dinas Perikanan Trenggalek dengan Perum Perhutani KPH Kediri berdasarkan Rencana Kerjasama Konservasi Hutan Mangrove yaitu :
A. Pelaksanaan Kerjasama tersebut dalam rangka pengelolaan sumberdaya yang ada di wilayah pesisir di Pantai Cengkrong Desa Karanggandu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek.
B. Konservasi mangrove bertujuan untuk menjaga kelestarian hutan mangrove karena hutan mangrove merupakan mitigasi bencana alam laut dan perubahan iklim laut di wilayah pesisir serta tempat memijah bagi ikan dan tempat mengasuh anak-anak ikan.
Rencana Kerjasama Konservasi Hutan Mangrove beserta sarana dan prasarananya untuk mendapatkan aspek legal pemanfaatan/ penggunaan kawasan hutan dengan tujuan untuk melindungi ekosistem pesisir pantai dan laut sekitar wilayah Trenggalek serta melindungi ekosistem pesisir pantai dan laut sekitar wilayah Trenggalek serta melindungi biota laut yang hampir punah serta hal tersebut sejalan dengan kegiatan pengelolaan sumberdaya hutan oleh Perum Perhutani.
C. Pengembangan Konservasi Hutan Mangrove memberikan dampak terbentuknya ekowisata wisata alam hutan mangrove serta memberikan daya tarik bagi pengunjung dalam menikmati keindahan Hutan Mangrove yang memeberikan kontribusi kepada Perum Perhutani dan masyarakat sekitar kedepannya.
D. Dalam pelaksanaan kegiatan pemantauan dan pengawasan konservasi hutan mangrove disamping bekerjasama dengan Perum Perhutani KPH Kediri juga dengan memeberdayakan Kelompok Masyarakat Pengawas yang merupakan kelompok yang difasilitasi dan dibina oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Trenggalek yang dalam pelaksanaannya disinkronkan dengan LMDH Agro Lestari Desa Karanggandu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek.
3.8.4 Kawasan dan Kondisi Hutan Mangrove yang Diajukan Kerjasama A. Letak Lokasi dan Luas Kawasan Hutan
Konservasi Hutan Mangrove terletak di Kawasan Hutan Produksi petak 113c Hutan Kelas TKTBKP (Tanah Kosong Tidak Baik untuk Kelas Perusahaan) seluas kurang lebih 32,26 hektar RPH Prigi BKPH Bandung KPH Kediri, ruang kewenangan Desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek.
B. Kondisi Fisik
1. Keadaan di lapangan terdapat mangrove dari tahun 2002 hingga belum lama ini karena latihan Rehabilitasi yang dilakukan oleh Dinas Perikanan Kabupaten Trenggalek dengan 4 jenis tumbuhan mangrove yaitu Burguera, Gymnorrhiza, Rhizophora, Ceriops Decandra, Xyro Carpus.Sp.
2. Kondisi tahun 2012, 2013 dan 2014 memfasilitasi program pengembangan ekowisata mangrove berupa penanaman bibit mangrove dan pembangunan jembatan kayu.
3. Di dalam kawasan hutan yang diminta telah dibangun sarana dan prasarana berupa jembatan kayu dengan panjang kurang lebih 400
meter dan lebar kurang lebih 1,5 meter dari bahan kayu balau serta terdapat 5 gazebo di setiap ujung jembatan yang bertujuan untuk memudahkan kegiatan rehabilitasi. dan memantau akses. oleh Dinas Perikanan Kabupaten Trenggalek.