• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH Model Konseptual Keperawatan Mandiri Self Care D.E. Orem

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MAKALAH Model Konseptual Keperawatan Mandiri Self Care D.E. Orem"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

Model Konseptual Keperawatan Mandiri “Self Care” D.E. Orem

Disusun Oleh : Kelompok Tutorial 2

1. Bella Ayuningtyas S 20140320014 2. Inggrid Tanjung Wulandari 20140320031 3. Adriyan Surya Nugraha 20140320041 4. Jami’atul Fitri 20140320044 5. Ahmad Ramdani 20140320052 6. Ikbal S. Solaeman 20140320062 7. Chintya Eldza Pangestu 20140320085 8. Rahmah Yanita Kusuma 20140320090 9. Syifa Aulia Hanin 20140320125 10. Yurika Ratna Pratiwi 20140320126 11. Wawan Sugianto 20140320127

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

(2)

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Puji syukur kami ucapakan kepada Allah SWT, karena berkat rahmat, hidayah serta petunjuknyalah penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Model Konseptual Keperawatan Mandiri “Self Care” D.E. Orem” , dengan baik. Tak lupa shalawat berserta salam kami suguhkan kepangkuan Nabi besar Muhammad Shalawlah Hualai Wasalam, dimana beliau telah membawa umat manusia dari jaman kegelapan menuju jaman yang terang benderang. Tidak lupa penulis mengucapkan rasa terimakasih kepada semua pihak yang terlibat dalam pembuatan makalah ini dari tahap penyusunan hingga selesai.

Penulis juga menyadari bahwa setiap menusia memiliki kekurangan, maka dari itu dengan lapang dada penulis menerima kritik dan saran yang membangun dari pembaca untuk menyempurnakan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan penulis dan para pembaca sekalian.

Wassalamualaikum Wr.Wb.

Yogyakarta, 08 Desember 2016 Penulis

(3)

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI ii BAB I A. Latar Belakang 1 B. Rumusan Masalah 1 C. Tujuan 1 D. Manfaat 2 BAB II

A. Sejarah Dorothea Orem 3

B. Pengertian 4

C. Theory Self Care Deficit 4

D. Model Konseptual dan Kebutuhan Dasar 5

E. Keyakinan dan Nilai – nilai 6

F. Tujuan 6

G. Pengetahuan dan Keterampilan 7

H. Aplikasi Terhadap Keperawatan Keluarga 9

BAB III

A. Kesimpulan 10

(4)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keperawatan merupakan salah satu bentuk pelayanan kesehatan yang professional, dilakukan oleh tenaga keperawatan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan pasien, keluarga maupun masyarakat. Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat dituntut untuk bisa mengembangkan segala kratifitasnya dalam bentuk pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan, dan tindakan keperawatan.

Teori orem adalah teori yang berpusat pada kemandirian pasien, keluarga dan masyarakat, teori ini memiliki tujuan untuk meningkatkan taraf hidup, kesehatan dan kesejahteraan dengan cara memandirikan pasien, keluarga dan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan sehari – hari. Dalam hal ini, perawat memiliki peran untuk memberikan bantuan dan dukungan dengan cara mengajarkan, mengarahkan dan mensuport pasien, keluarga maupuan masyarakat, agar mereka dapat memenuhi kebutuhan self care, tanpa bantuan dari orang ketiga dalam hal ini perawat ataupun tenaga kesehatan lainnya.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, penulis merumuskan masalah sebagai berikut ; 1. Apa yang dimaksud dengan teori orem…?

2. Apa saja model konseptual dari teori Orem …? 3. Apa tujuan dari teori Orem …?

4. Teori Orem bagus diaplikasikan pada komunitas yang seperti apa..?

C. Tujuan

Dengan rumusan masalah yang telah ada sebelumnya, tujuan dari makalah ini adalah ; 1. Mengetahui definisi dari teori Orem

2. Mengetahui model konseptual dari teori orem. 3. Mengetahui tujuan dari teori Orem.

(5)

D. Manfaat

Adapun manfaat yang dari penulisan makalah ini adalah ;

1. Menambah wawasan masyarakat tentang teori Orem dan aplikasinya dalam komunitas atau kehidupan sehari – hari.

2. Menambah wawasan penulis tentang teori Orem, model konseptual dan pengaplikasiannya.

(6)

BAB II PEMBAHASAN

A. Sejarah Dorothea Orem

Dorothea Orem lahir di Baltimore, Maryland pada tahun 1914. Ia menerima diploma di keperawatan pada tahun 1934 dari Providence Hospital School of Nursing, Washington, DC Orem menerima sarjana sains dalam pendidikan keperawatan pada tahun 1939 dan master ilmu dalam pendidikan keperawatan pada tahun 1945 dari Catholic University of America, Washington DC .

Selama tahun 1958-1959 Dorothea Orem bekerja sebagai seorang konsultan pada bagian pendidikan Departemen Kesehatan, Pendidikan dan Kesejahteraan dan berpartisipasi dalam suatu proyek pelatihan peningkatan praktek perawat (vokasional). Pekerjaan ini menstimulasi Orem untuk membuat suatu pertanyaan : “Kondisi apa dan kapan seseorang membutuhkan pelayanann keperawatan?” Orem kemudian menekankan ide bahwa seorang perawat itu adalah “Diri sendiri”. Ide inilah yang kemudian dikembangkan dalam konsep keperawatannya “Self Care”. Pada tahun 1959 konsep keperawatn Orem ini pertama sekali dipublikasikan. Tahun 1965 Orem bekerjasama dengan beberapa anggota fakultas dari Universitas di Amerika untuk membentuk suatu Comite Model Keperawatan (Nursing Model Commitee). Tahun 1968 bagian dari Nursing Model Commitee termasuk Orem melanjutkan pekerjaan mereka melalui Nursing Development Conference Group (NDCG). Kelompok ini kemudian dibentuk untuk menghasilkan suatu kerangka kerja konseptual dari keperawatan dan menetapkan disiplin keperawatan. Orem Kemudian mengembangkan konsep keperawatanya “self care” dan pada tahun 1971 dipublikasikan Nursing; Concepts of Practice. Pada edisi pertama fokusnya terhadap individu, sedangkan edisi kedua (1980), menjadi lebih luas lagi meliputi multi person unit (keluarga, kelompok dan masyarakat). Edisi ketiga (1985) Orem menghadirkan General Theory Keperawatan dan pada edisi keempat (1991) Orem memberikan penekanan yang lebih besar terhadap anak-anak, kelompok dan masyarakat. Sepanjang karirnya, Orem banyak menerima gelar kehormatan, seperti penghargaan Sigma Theta Tau International. Dorothea Orem meninggal dunia pada bulan Juni 2007.

(7)

B. Pengertian

Keperawtan mandiri “self care” menurut orem adalah : “Suatu pelaksanaan kegiatan yang diprakarsai dan dilakukan oleh individu itu sendiri untuk memenuhi kebutuhan guna mempertahankan kehidupan, kesehatan, dan kesejahteraan sesuai keadaan, baik sehat maupun sakit.” (orem’s 1980).

C. Theory Self Care Deficit

Orem mengembangkan teori Self Care Deficit meliputi 3 teori yang berkaitan yaitu : 1. Self Care

Self care adalah performance atau praktek kegiatan individu untuk berinisiatif dan membentuk prilaku mereka dalam memelihara kehidupan, kesehatan dan kesejahteraan. Jika self care dibentuk dengan efektif maka hal tersebut akan membantu membentuk integritas struktur dan fungsi manusia dan erat kaitannya dengan perkembangan manusia.

2. Self care deficit

Merupakan hal utama dari teori general keperawatan menurut Orem. Dalam teori ini keperawatan diberikan jika seorang dewasa (atau pada kasus ketergantungan) tidak mampu atau terbatas dalam melakukan self care secara efektif. Keperawatan diberikan jika kemampuan merawat berkurang atau tidak dapat terpenuhi atau adanya ketergantungan. Orem mengidentifikasi lima metode yang dapat digunakan dalam membantu self care:

a. Tindakan untuk atau lakukan untuk orang lain. b. Memberikan petunjuk dan pengarahan.

c. Memberikan dukungan fisik dan psychologis.

d. Memberikan dan memelihara lingkungan yang mendukung pengembangan personal.

e. Pendidikan. Perawat dapat membantu individu dengan menggunakan beberapa atau semua metode tersebut dalam memenuhi self care.

(8)

3. Nursing system

Nursing system didesain oleh perawat didasarkan pada kebutuhan self care dan kemampuan pasien melakukan self care. Orem mengidentifikasi tiga klasifikasi nursing system yaitu Wholly Compensatory , Partially Compensatory , Supportie

Education. Ketiga nursing system ini digunakan sebagai dasar pengetahuan dan

keterampilan praktek perawat. D. Model Konseptual dan Kebutuhan Dasar

1. Model konseptual keperawatan mandiri didasari oleh enam pasal berikut ini.

a. Keperawatan mandiri didasarkan pada tindakan dimana manusia melaksanakannya.

b. Keperawatan mandiri didasarkan pada kesengajaan dan pengambilan keputusan sebagai pedoman tindakan.

c. Setiap orang menghendaki keperawatan mandiri dan menjadi kebutuhan dasar manusia.

d. Orang dewasa mempunyai hak dan tanggung jawab untuk merawat diri sendiri dan orang lain untuk memelihara kesehatan mereka agar hidup sehat.

e. Keperawatan mandiri adalah perubahan tingkah laku secara lambat dan terus – menerus didukung dari pengalaman sosial sebagai hubungan interpersonal. f. Keperawatan mandiri akan meningkatkan harga diri seseorang, sehingga

memengaruhi konsep diri.

2. Orem mengemukakan beberapa kebutuhan mendasar dalam keperawatan mandiri (self care) yang dapat dijadikan dasar untuk melakukan pengkajian dan menetukan masalah atau diagnosis keperawatan, diantaranya yaitu :

a. Pemeliharaan dengan cukup pengambilan udara; b. Pemeliharaan dengan cukup pengambilan air; c. Pemeliharaan dengan cukup pengambilan makanan;

(9)

d. Pemeliharaan proses eliminasi;

e. Pemeliharaan dengan keseimbangan antara aktifitas dan istirahat; f. Pemeliharaan dan keseimbangan antara kesendirian dan interaksi sosial; g. Pencegahan risiko pada kehidupan dan keadaan sehat manusia;

h. Perkembangan dalam kelompok sosial sesuai dengan potensi, pengetahuan dan keinginan manusia.

E. Keyakinan dan Nilai – nilai

Keyakinan orem’s tentang empat konsep utama Keperawatan adalah ;

1. Klien : individu atau kelompok yang tidak mampu secara terus menerus mempertahankan self care untuk hidup dan sehat, pemulihan dari sakit / trauma atau coping dan efeknya.

2. Sehat : kemapuan individu atau kelompok memenuhi tuntutan self care yang berperan untuk mempertahankan dan meningkatkan integritas structural fungsi dan perkembangan.

3. Lingkungan : tatanan dimana klien tidak dapat memenuhi kebutuhan Keperawatan self care dan perawat termasuk didalamnya tetapi tidak spesifik. 4. Keperawatan : pelayanan yang dengan sengaja dipilih atau kegiatan yang

dilakukan untuk membantu individu, keluarga dan kelompok masyarakat dalam mempertahankan self care yang mencakup integritas structural, fungsi dan perkembangan berdasarkan keyakinan empat konsep utama diatas, Orem’s mengembangkan konsep modelnya hingga dapat diaplikasikan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan.

F. Tujuan

Tujuan model keperawatan pada model Orem’s secara umum adalah :

1. Menurunkan tuntutan self care kepada tingkat dimana klien dapat memenuhinya, ini berarti menghilangkan self care deficit.

(10)

2. Memungkinkan klien meningkatkan kemampuannya untuk memenuhi tuntutan self care.

3. Memungkinkan orang yang berarti (bermakna) bagi klien untuk memberikan asuhan dependent (dependent care) jika self care tidak memungkinkan, oleh karena self care deficit apapun dihilangkan.

4. Jika ketiganya diatas tidak ada yang bisa tercapai, perawat secara langsung dapat memenuhi kebutuhan – kebutuhan self care klien.

Tujuan keperawatan pada model Orem’s yang diterapkan kedalam praktek keperawatan keluarga atau komunitas adalah :

1. Menolong klien dalam hal ini keluarga untuk keperawatan mandiri secara therapeutic.

2. Menolong klien bergerak kearah tindakan – tindakan asuhan mandiri.

3. Membantu anggota keluarga untuk merawat anggota keluarga yang mengalami gangguan secara kompoten.

Dengan demikian maka focus asuhan keperawatan pada model Orem’s yang diterapkan pada praktek keperawatan keluarga / komunitas adalah :

1. Aspek Interpersonal : Hubungan didalam keluarga

2. Aspek Sosial : Hubungan keluarga dengan masyarakat disekitarnya.

3. Aspek Prosedural : Melatih keterampilan dasar keluarga sehingga mampu mengantisipasi perubahan yang terjadi.

4. Aspek Tehnis : Mengajarkan kepada keluarga tentang tehnik dasar yang dilakukan dirumah misalnya melakukan tindakan kompres secara benar.

G. Pengetahuan dan Keterampilan untuk praktek

Perawat menolong klien untuk menemukan kebutuhan self care dengan menggunakan tiga kategori dalam system keperawatan dan melalui lima metode bantuan :

(11)

a. Wholly Compensatory : Bantuan secara keseluruhan, dibutuhkan untuk klien yang tidak mampu mengontrol dan memantau lingkungannya dan tidak berespon terhadap rangsangan.

b. Partially Compensatory : Bantuan sebagian, dibutuhkan bagi klien yang mengalami keterbatasan gerak karena sakit atau kecelakaan.

c. Supportie Education : Dukungan pendidikan dibutuhkan oleh klien yang memerlukannya untuk dipelajari, agar mmapu melakukan perawatan mandiri.

2. Metode Bantuan :

Perawat membantu klien dengan menggunakan system dan melalui lima metode bantuan yang meliputi :

a. Acting atau melakukan sesuatu untuk klien b. Mengajarkan klien

c. Mengarahkan klien d. Mensupport klien

e. Menyediakan lingkungan untuk klien agar dapat tumbuh dan berkembang. Untuk melaksanakan hal tersebut, lima area utama untuk praktek keperawatan didiskripsikan sebagai berikut :

a. Masuk kedalam dan memelihara hubungan perawat – klien dengan individu, keluarga atau kelompok sampai klien dapat diizinkan pulang dari perawatan.

b. Menetapkan jika dan bagaiman klien dapat dibantu melalui perawatan. c. Merespon keperluan klien, keinginannya dan kebutuhannya untuk kontak

dengan perawat dan asisten.

d. Mengkoordinasikan dan mengintegrasikan keperawatan dan kehidupan sehari – hari klien, pelayanan kesehatan yang dibutuhkan atau diterima.

(12)

e. Pelayanan sosial dan penyuluhan yang dibutuhkan atau yang diterima. Model konsep / teori keperawatan self care mempunyai makna bahwa semua manusia mempunyai kebutuhan – kebutuhan self care dan mereka mempunyai hak untuk memperolehnya sendiri kecuali jika tidak mampu. Dengan demikian perawat mengakui potensi pasien untuk berpartisipasi merawat dirinya sendiri pada tingkat kemampuannya dan perawatan dapat menentukan tingkat bantuan yang akan diberikan.

Untuk menetapkan model konsep / teori keperawatan ini diperlukan suatu pengetahuan dan keterampilan yang mendalam terhadap teori keperawatan sehingga diperoleh kemampuan teknikal dan sikap yang terapeutik.

H. Aplikasi Terhadap Keperawatan Keluarga

Model konseptual menurut Orem ini tepat digunakan untuk keperawatan keluarga karena tujuan akhir dari keperawatan keluarga adalah kemandirian keluarga dalam melakuakn opaya kesehatan yang terkait dengan lima tugas kesehatan keluarga, yaitu : mengenal masalah, mengambil keputusan untuk mengatasi masalah, merawat anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan, memodifikasi lingkungan yang dapat menunjang kesehatan dan menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan secara tepat.

Sebagai contoh perawatan anggota keluarga yang mengidap diabetes mellitus dengan tipe ketergantungan insulin, sehingga perlu dilakukan penyuntikan insulinberkala diperlukan pelatihan kemandirian klien dan keluarga dalam melakukan penyuntikan insulin tersebut.

(13)

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Dorothea Orem adalah salah satu pakar dalam ilmu keperawata yang mengembangkan konsep keperawatan “self care”. Menurut orem konsep keperawatan “self care” adalah suatu pelaksanaan kegiatan yang diprakarsai dan dilakukan oleh individu itu sendiri untuk memenuhi kebutuhan guna mempertahankan kehidupan, kesehatan, dan kesejahteraan sesuai keadaan, baik sehat maupun sakit.

Konsep keperawatan ini berfokus pada pengembangan keperawatan mandiri yang dilakukan oleh pasien, maupun anggota keluarga guna meningkatkan kemandirian pasien dengan memperhatikan unsur fisiologis, psikologis dan lingkungan. Model keperawatan orem menyediakan hubungan antara perawat dan pasien maupun anggota keluarga, terdiri dari tindakan untuk memenuhi perawatan diri yang dipelukan.

(14)

DAFTAR PUSTAKA

Denden dermawan. 2012. “Buku Ajar Keperawatan Komunitas”. Yogyakarta : Gosyen Publishing

Wahit iqbal mubarak, Nurul chayatin. 2009. “Ilmu Keperawatan Komunitas Pengantar dan Teori”. 2009. Jakarta : Salemba Medika

Muslim Shah. 2015. “Compare and Contrast of Grand Theories: Orem’s Self-Care Deficit Theory and Roy’s Adaptation Model”. International Journal Of Nursing Didactics. Vol 5. No 1 : 40-42

Abi Muhlisin. 2010. “Teori Self Care Dari Orem Dan Pendekatan Dalam Praktek Keperawatan” . Berita Ilmu Keperawatan ISSN 1979-2697. Vol 2. No 2 ; 97-100 A Working Document. 2016. “Theory Based Nursing Practice” . The University of

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah hasil belajar pengetahuan konseptual siswa akibat model pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation (GI) lebih baik

Berkenaan dengan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan kerangka konseptual model pembelajaran mandiri yang dapat digunakan dalam pelatihan

Adapun penentuan metode penelitian yang digunakan penulis mengacu kepada tujuan penelitian yang ingin dicapai, yaitu untuk Menemukan model konseptual pendidikan

Sedangkan tujuan khusus penelitian adalah (1) Menghasilkan prototipe e-module fisika bermuatan model perubahan konseptual untuk pembelajaran fisika pada jenjang

Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan pengaruh asuhan keperawatan melalui pendekatan model modified holistic care terhadap penurunan stres hospitalisasi pada

Tujuan Penulisan ini adalah untuk memberikan laporan pelaksanaan residensi keperawatan maternitas dengan fokus asuhan keperawatan pada ibu hamil dengan kontraksi dini

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,