• Tidak ada hasil yang ditemukan

URGENSI SIPD DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "URGENSI SIPD DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

URGENSI SIPD DALAM PERENCANAAN

PEMBANGUNAN DAERAH

(2)

OUTLINE PEMBAHASAN

1

SIPD DALAM UU 23 TAHUN 2014

(3)
(4)

Mengacu pada pasal 274, maka SIPD kini menjadi

bagian integral dalam proses penyusunan

dokumen perencanaan pembangunan daerah

AMANAT UU 23 TAHUN 2014

Perencanaan pembangunan Daerah didasarkan

pada data dan informasi yang dikelola dalam

sistem informasi pembangunan Daerah

(5)

(1) Pemerintah Daerah wajib menyediakan

informasi Pemerintahan Daerah yang terdiri

atas:

a. informasi pembangunan Daerah; dan

b. informasi keuangan Daerah.

(2) Informasi Pemerintahan Daerah sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) dikelola dalam suatu

sistem informasi Pemerintahan Daerah

Pasal 391:

(6)

SIPD DALAM UU 23 TAHUN 2014

Data dan Informasi pembangunan daerah:

1 kondisi geografis Daerah;

2 demografi;

3 potensi sumber daya Daerah;

4 ekonomi dan keuangan Daerah;

5 aspek kesejahteraan masyarakat;

6 aspek pelayanan umum; dan

7 aspek daya saing Daerah.

Pasal 392 UU 23/2014

Data SIPD

umum;

sosial budaya;

sumber daya alam;

infrastruktur;

ekonomi;

keuangan daerah;

politik, hukum, dan keamanan; dan

insidensial

Permendagri 54 (Informasi SIPD)

Geografi dan Demografi

Aspek Kesejahteraan Masyarakat

Aspek Daya Saing

(7)

1) Informasi pembangunan Daerah dan informasi keuangan Daerah

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 391 ayat (1) wajib diumumkan kepada

masyarakat.

2) Selain diumumkan kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1),

informasi keuangan Daerah wajib disampaikan kepala daerah kepada

Menteri dan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang

keuangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

3) Kepala daerah yang tidak mengumumkan informasi pembangunan

Daerah dan informasi keuangan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat

(1) dan ayat (2) dikenai sanksi administratif berupa teguran tertulis oleh

Menteri untuk gubernur dan oleh gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat

untuk bupati/wali kota.

4) Dalam hal sanksi teguran tertulis 2 (dua) kali berturut-turut tetap tidak

dilaksanakan, kepala daerah dikenai sanksi berupa mengikuti program

pembinaan khusus pendalaman bidang pemerintahan yang dilaksanakan

oleh Kementerian serta tugas dan kewenangannya dilaksanakan oleh wakil

kepala daerah atau oleh pejabat yang ditunjuk.

Pasal 394:

(8)

PENYESUAIAN KEBIJAKAN SIPD

DENGAN UU 23/2014

PUSAT

1

4

3

Penyesuaian regulasi

(amanat pasal 407)

2 Pengembangan aplikasi SIPD

Integrasi SIM sektoral secara nasional

Sosialisasi dan pelatihan SIPD

DAERAH

1

4

3

Penguatan kelembagaan tim SIPD

2

Optimalisasi Pengumpulan dan Input Data

Optimalisasi Evaluasi data

(9)
(10)

IMPLIKASI

1. Data-data pembangunan daerah tidak

lengkap dan tersebar di masing-masing

SKPD serta jarang diperbaharui.

2. Bappeda menghadapi kendala serius

dalam mengumpulkan data dari SKPD

karena: (a) Lemahnya koordinasi antara

Bappeda dan SKPD, (b) Minimnya SDM dan

pendanaan

di

Bappeda

untuk

pengelolaan data, dan (c) Kurangnya

political will dari atasan

3. Pusat tidak memiliki instrumen yang cukup

untuk

mengukur

capaian-capaian

substantif

program

dan

kegiatan

pembangunan yang dilakukan pemerintah

daerah

Perencanaan Pembangunan

di daerah tidak dilandaskan

pada data, padahal regulasi

terkait

mengharuskan

perencanaan pembangunan

didasarkan pada data yang

akurat

dan

dapat

dipertanggungjawabkan.

Perencanaan pembangunan

sering tidak tepat sasaran

(11)

1. Meningkatkan kualitas perencanaan, pengendalian

dan

evaluasi

pembangunan

daerah,

melalui

dukungan

ketersediaan

data

dan

informasi

pembangunan daerah yang akurat, mutakhir dan

dapat dipertanggungjawabkan

2. Mengoptimalkan pengumpulan, pengisian, evaluasi

serta pemanfaatan data dan informasi pembangunan

daerah

(12)

Pembentukan Tim

Rapat

Koordinasi

Pengumpulan

dan Pengisian

Data

Evaluasi

pengumpulan

data

Evaluasi

terpadu

SIPD

(13)

ANALISA KEBUTUHAN TIM

1

Bappeda mengidentifikasi SKPD mana saja

yang perlu dilibatkan dalam tim pengelola

SIPD, dengan mempertimbangkan urusan

wajib dan pilihan yang diselenggarakan di

daerah

terkait,

serta

sesuai

dengan

kebutuhan pengumpulan data SIPD.

PEMBENTUKAN TIM

2

Ditetapkan dengan SK kepala daerah dan

dilakukan paling lambat bulan Februari

(14)

1. mengumpulkan dan mengisi data dan

informasi SIPD kabupaten/kota; dan

2. mengevaluasi data dan informasi SIPD

kabupaten/kota

Ditetapkan dengan keputusan Bupati/Walikota dan

dapat melibatkan unsur terkait sesuai kebutuhan.

Unsur terkait antara lain meliputi:

1.

instansi vertikal di daerah seperti BPS, Kemenag,

dll,

2.

Tenaga Pendukung untuk membantu coordinator

bidang dalam pengumpulan, pengisian dan

evaluasi data.

a. Pengarah

: Bupati/Walikota

b. Penanggungjawab

: Sekretaris Daerah kabupaten/kota

c. Ketua

: Kepala Bappeda kabupaten/kota

d. Sekretaris

: Kepala Bidang pada Bappeda kabupaten/kota

yang melaksanakan tugas di bidang pengelolaan

data

e. Koordinator Bidang

: Kepala SKPD kabupaten/kota terkait sesuai

kebutuhan

(15)

Pemetaan Ketersediaan Objek Data

•Pemilahan data yang tersedia di daerah,

sesuai kondisi daerah

Pengelompokan data menurut SKPD

•Pengelompokkan data dan pembagian

tanggungjawab pengisian data kepada

masing-masing SKPD terkait

1

(16)

Dilakukan oleh koordinator bidang

1

Dikoordinasikan oleh Bappeda

2

Dalam hal data tidak ada, Pemda

perlu melakukan pengumpulan

data sendiri, dengan menggunakan

(17)

Data SIPD terdiri dari 8 kelompok yang meliputi:

umum;

sosial budaya;

sumber daya alam;

infrastruktur;

ekonomi;

keuangan daerah;

politik, hukum, dan keamanan; dan

insidensial

Jumlah elemen data 2673 elemen

data

8 kelompok

data diuraikan

dalam 31 jenis

data.

D A T A S I P D

(18)

PEMBAGIAN PERAN DALAM PENGUMPULAN DAN PENGISIAN DATA)

BAPPEDA

SKPD

1. Mengkoordinir pembentukan tim

2. Mengkoordinir rapat koordinasi

3. Melakukan pembinaan, evaluasi dan fasilitasi

pengumpulan data

4. Berkoordinasi dengan tim SIPD pusat/provinsi

5. Melakukan sosialisasi dan bimbingan teknis

bagi SKPD

1. Melakukan pengumpulan dan pengisian

data sesuai kesepakatan pengelompokkan

penanggungjawab data di rapat koordinasi

2. Berkoordinasi dengan Bappeda selaku ketua

Tim

Ket: karena keterbatasan kapasitas Server di Pusat,

maka untuk tahap awal SKPD hanya mengumpulkan

data secara offline, sedangkan input dilakukan oleh

Bappeda

(19)

TAHAP 4: EVALUASI

PENGUMPULAN

DAN

PENGISIAN

DATA

•Dilakukan internal masing-masing tim pengelola SIPD

•Aspek yang dievaluasi antara lain (a) keterisian data, (b)

tumpang tindih dan duplikasi data

•Dilakukan paling lambat bulan Juni

•Dapat dilakukan berkali-kali sesuai kebutuhan

TAHAP 5: EVALUASI

TERPADU

•Dilakukan secara bersama-sama oleh tim pengelola SIPD

kabupaten/kota dan provinsi

•Difasilitasi oleh tim pengelola SIPD provinsi

•Dapat melibatkan tim pengelola SIPD nasional

•Aspek yang dievaluasi antara lain (a) sinkronisasi data

antar kabupaten/kota, (b) validasi dan verifikasi data

•Dilakukan paling lambat bulan Desember

•Data yang telah dievaluasi dalam forum evaluasi

terpadu ditetapkan oleh kepala daerah dan dikirimkan

ke tim pengelola SIPD nasional.

(20)

Keterangan:

1. Jadwal ini merupakan batas akhir waktu

pelaksanaan

2. Rapat koordinasi dan evaluasi dapat dilakukan

berkali kali sesuai kebutuhan

(21)

1 2 3 4 5 6

SIPD

PERSIAPAN RANCANGAN AWAL RANCANGAN MUSRENBANG RANCANGAN AKHIR PERATURAN DAERAH

Pengolahan data dan informasi

Evaluasi Capaian Periode sebelumnya

Penelaahan RTRW

Analisis Isu-Isu Strategis

Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah

Analisis Ekonomi dan Keuangan Daerah

Instrumen untuk:

SIPD DALAM PROSES PENYUSUNAN

DOKUMEN PERENCANAAN

(22)

BAB I PENDAHULUAN

BAB II GAMBARAN

UMUM KONDISI

DAERAH

BAB III GAMBARAN

PENGELOLAAN

KEUANGAN DAERAH

SERTA KERANGKA

PENDANAAN

BAB IV ANALISIS

ISU-ISU STRATEGIS

BAB VIII INDIKASI

RENCANA PROG

PRIORITAS DISERTAI

KEBUTUHAN

PENDANAAN

BAB V VISI, MISI,

TUJUAN DAN

SASARAN

BAB VI STRATEGI

DAN ARAH

KEBIJAKAN

BAB VII KEBIJAKAN

UMUM DAN PROG

PEMB DAERAH

BAB X PEDOMAN

TRANSISI DAN

KAIDAH

PELAKSANAAN

BAB IX PENETAPAN

INDIKATOR KINERJA DAERAH

SIPD

Menu Informasi

pembangunan, dan

8 kelompok data

SIPD

Kelompok data

keuangan daerah

Visi dan Misi

SIPD DALAM RPJMD

(23)

No

Provinsi

2011 (%)

2012 (%)

2013 (%)

2014 (%)

2015 (%)

1 Provinsi DI Yogyakarta

53,58

63,2

72,17

73,56

54,21

2 Provinsi Jawa Tengah

39,61

39,04

47,76

57,88

50,35

3 Provinsi Kalimantan Selatan

44,37

47,89

52,71

44,46

35,45

4 Kepulauan Bangka Belitung

29,36

31,09

44,75

42,83

31,37

5 Provinsi Kalimantan Timur

17,41

22,91

31,19

34,89

30,69

6 Provinsi Kalimantan Tengah

22,33

27,67

30,11

32,6

27,29

7 Provinsi Nusa Tenggara Barat

22,89

24,3

29,08

38,71

26,03

8 Provinsi Riau

35,42

39,27

43,81

37,19

22,68

9 Provinsi Jawa Barat

14

18,71

26,65

33,86

22,1

10 Provinsi Jawa Timur

27,51

33,12

36,32

45,81

20,98

11 Provinsi Sulawesi Barat

5,2

10,78

20,19

45,73

20,29

12 Provinsi Bengkulu

33,22

34,2

38,5

29,58

20,16

13 Provinsi Sulawesi Selatan

11,32

15,14

16,47

19,19

17,12

14 Provinsi Aceh

35,79

40,8

35,64

34,47

16,29

15 Provinsi Lampung

40,23

37,85

36,43

20,75

14,03

16 Provinsi Kalimantan Barat

19,92

19,76

22,21

22,2

11,55

17 Provinsi Jambi

32,25

36,1

37,33

26,73

10,55

18 Provinsi Kepulauan Riau

17,43

18,49

20,74

22

10,16

19 Provinsi Banten

8,81

10,92

14,35

21,61

9,77

20 Provinsi Bali

38,53

40,22

51,2

45,56

8,84

21 Provinsi Sumatera Barat

35,03

36,84

39,95

37,26

8,73

22 Provinsi Sumatera Selatan

7,99

10,64

9,56

11,5

7,72

23 Provinsi Kalimantan Utara

8,58

10,87

10,49

9,45

7,62

24 Provinsi Maluku

9,29

11,54

16,62

11,03

6,59

25 Provinsi Sulawesi Tengah

25,5

27,13

21,15

13,98

6,55

26 Provinsi Sulawesi Utara

2,04

4,24

5,17

7,42

5,58

27 Provinsi Sumatera Utara

10,55

13,46

15

16,29

5,55

28 Provinsi Gorontalo

18,48

20,67

14,64

10,54

3,62

29 Provinsi Sulawesi Tenggara

14,62

14,2

16,84

14,35

3,61

30 Provinsi Nusa Tenggara Timur

10,13

10,65

14,57

13,25

2,49

31 Provinsi Papua

0,85

0,73

0,11

0,08

0,02

32 Provinsi Maluku Utara

1,37

0,33

0,34

0,6

0,01

33 Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta

0,06

0,36

0,11

0,2

0

34 Provinsi Papua Barat

0,37

0,01

0,19

0

0

(24)

Tingkat Keterisian SIPD Kab/Kota se-Provinsi Jabar

No Kab/Kota 2011 (%) 2012 (%) 2013 (%) 2014 (%) 2015 (%) 1 Kabupaten Bandung 9,8 11,1 5 15,19 99,77 2 Kabupaten Sumedang 57,83 61,68 97,77 85,47 96,21 3 Kota Bandung 49,85 90,78 94,33 92,81 93,33 4 Kota Bogor 38,73 49,27 51,6 97,48 89,98 5 Kota Sukabumi 4 22,33 98,21 96,02 73,54 6 Kabupaten Majalengka 1,41 4,14 1,14 88,64 65,46 7 Kota Cirebon 0,11 11,21 40,18 49,8 57,85 8 Kabupaten Sukabumi 2,9 3,42 38,81 34,81 42,88 9 Kabupaten Bekasi 1,96 60,77 69,91 70,71 38,37 10 Kabupaten Ciamis 41,41 43,52 34,32 43,75 31,44 11 Kabupaten Tasikmalaya 2,45 3,46 30,15 51,71 27,93 12 Kabupaten Kuningan 0 7,02 24,4 93,75 27,01 13 Kota Bekasi 23,2 40,15 83,36 82,47 21,95 14 Kabupaten Cirebon 20,7 18,67 45,5 12,2 20,59 15 Kabupaten Pangandaran 0 0 5,63 45,98 19,5 16 Kabupaten Indramayu 0 0 2,97 12,37 18,72 17 Kabupaten Bandung Barat 0 0,33 19,56 25,18 14,92 18 Kota Tasikmalaya 18,16 38,96 38,86 33,83 14,78 19 Kabupaten Bogor 74,12 55,67 82,24 83,61 13,99 20 Kota Depok 21,6 23,57 20,19 37,06 11,49 21 Kabupaten Garut 16,63 20,18 28,81 43,37 3,83 22 Kabupaten Subang 1,56 1,6 1,26 3,4 1,82 23 Kabupaten Purwakarta 3,26 6,5 7,21 1,89 1,23 24 Kabupaten Karawang 26,27 25,2 5,08 0,78 0,3 25 Kabupaten Cianjur 17,27 24,92 10,69 4,22 0,07 26 Kota Banjar 19,94 10,61 14,89 3,27 0 27 Kota Cimahi 20,25 10,45 9,99 10,78 0 No Kab/Kota 2011 (%) 2012 (%) 2013 (%) 2014 (%) 2015 (%) Rata-rata 1 Kota Bandung 49,85 90,78 94,33 92,81 93,33 1 2 Kabupaten Sumedang 57,83 61,68 97,77 85,47 96,21 79,792 3 Kota Bogor 38,73 49,27 51,6 97,48 89,98 65,412 4 Kabupaten Bogor 74,12 55,67 82,24 83,61 13,99 61,926 5 Kota Sukabumi 4 22,33 98,21 96,02 73,54 58,82 6 Kota Bekasi 23,2 40,15 83,36 82,47 21,95 50,226 7 Kabupaten Bekasi 1,96 60,77 69,91 70,71 38,37 48,344 8 Kabupaten Ciamis 41,41 43,52 34,32 43,75 31,44 38,888 9 Kabupaten Majalengka 1,41 4,14 1,14 88,64 65,46 32,158 10 Kota Cirebon 0,11 11,21 40,18 49,8 57,85 31,83 11 Kabupaten Kuningan 0 7,02 24,4 93,75 27,01 30,436 12 Kota Tasikmalaya 18,16 38,96 38,86 33,83 14,78 28,918 13 Kabupaten Bandung 9,8 11,1 5 15,19 99,77 28,172 14 Kabupaten Sukabumi 2,9 3,42 38,81 34,81 42,88 24,564 15 Kabupaten Cirebon 20,7 18,67 45,5 12,2 20,59 23,532 16 Kabupaten Tasikmalaya 2,45 3,46 30,15 51,71 27,93 23,14 17 Kota Depok 21,6 23,57 20,19 37,06 11,49 22,782 18 Kabupaten Garut 16,63 20,18 28,81 43,37 3,83 22,564 19 Kabupaten Pangandaran 0 0 5,63 45,98 19,5 14,222 20 Kabupaten Bandung Barat 0 0,33 19,56 25,18 14,92 11,998 21 Kabupaten Karawang 26,27 25,2 5,08 0,78 0,3 11,526 22 Kabupaten Cianjur 17,27 24,92 10,69 4,22 0,07 11,434 23 Kota Cimahi 20,25 10,45 9,99 10,78 0 10,294 24 Kota Banjar 19,94 10,61 14,89 3,27 0 9,742 25 Kabupaten Indramayu 0 0 2,97 12,37 18,72 6,812 26 Kabupaten Purwakarta 3,26 6,5 7,21 1,89 1,23 4,018 27 Kabupaten Subang 1,56 1,6 1,26 3,4 1,82 1,928

Untuk keterisian di tahun 2015, Kab. Cirebon

berada di posisi 14 (20,59%)

Untuk keterisian rata2 tahun 2011-2015, Kab.

Cirebon berada di posisi 15 (23,532%)

(25)

URGENSI SIPD

UU 23/2014 (ps. 274)  Perencanaan pembangunan

Daerah didasarkan pada data dan informasi yang dikelola

dalam sistem informasi pembangunan Daerah

Terjadinya peralihan kewenangan dalam penyelenggaraan urusan

pemerintahan (lamp UU 23/2014) ditindaklanjuti dengan Pemetaan

Urusan Pemerintahan (ps. 24) untuk melihat potensi dan kondisi

daerah dalam penyelenggaraan urusan  kebutuhan terhadap data

dalam proses pemetaan diperoleh dari SIPD

Terintegrasinya SIPD dengan SDDKN  penyediaan data terkait

gambaran keadaan pembangunan real yang dilaporkan

Mensetneg kepada Presiden dan Wapres, diperoleh dari data

yang bersumber dari SDDKN yang terintegrasi dengan SIPD

(26)

T E R I M A K A S I H

Subdit Partisipasi Masyarakat dan Informasi

Pembangunan Daerah

Email:

[email protected]

Referensi

Dokumen terkait

BPKP mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pengawasan keuangan dan pembangunan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.. Dalam

BPKP mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pengawasan keuangan dan pembangunan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.. Dalam

AMIN SAID HUSNI.. Pemberian IMB sebagai bagian dari urusan wajib pemerintahan pada dasarnya tidak memungut retribusi sesuai dengan ketentuan peraturan

laporan pelaksanaan RAN-PG kepada menteri/kepala lembaga yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perencanaan pembangunan nasional sekali dalam I (satu) tahun

menetapkan norma, standar, prosedur, dan kriteria dalam rangka penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang berupa ketentuan peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh

ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang sumber daya air. f) Pemerintah Pusat adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan Pemerintahan

BPKP mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pengawasan keuangan dan pembangunan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku..

BPKP mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pengawasan keuangan dan pembangunan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.. Dalam