Rencana Kerja Pembangunan Daerah
Kabupaten Jember
Tahun 2016
BAB I.
PENDAHULUAN
1 PENDAHULUAN1.1. Latar Belakang
Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) adalah dokumen perencanaan tahunan Pemerintah Daerah, yang merupakan penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) serta memperhatikan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dan RKPD Provinsi. Penyusunan RKPD merupakan tahapan sistem perencanaan pembangunan daerah yang dimulai dari RPJPD, Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), dan RPJMD. Penyusunan RKPD ditujukan sebagai upaya untuk mewujudkan perencanaan pembangunan daerah yang sinergis antara perencanaan pembangunan nasional, provinsi dan kabupaten/kota. Dengan demikian, maka substansi RKPD mengacu kepada RPJMD, RPJPD dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) serta memperhatiakan RKP dan RKPD Provinsi.
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) mengamanatkan
LAMPIRAN : PERATURAN BUPATI JEMBER NOMOR : 22 TAHUN 2015 TANGGAL : 28 MEI 2015 TENTANG : RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) KABUPATEN JEMBER TAHUN 2016
penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP); Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN); dan Rencana Pembangunan Tahunan atau Rencana Kerja Pemerintah (RKP). Amanat undang-undang tersebut dijabarkan ke dalam Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah.
Untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tersebut Pemerintah telah menetapkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, yang di dalamnya mengatur tahapan, tata cara penyusunan, pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah yang meliputi RPJPD, RPJMD, Rencana Strategis (Renstra) SKPD, RKPD, dan Rencana Kerja (Renja) SKPD.
RKPD memuat rancangan kerangka ekonomi daerah, program prioritas pembangunan daerah, rencana kerja dan pendanaannya, serta prakiraan maju dengan mempertimbangkan kerangka pendanaan dan pagu indikatif. Berdasarkan acuan tersebut, maka rencana kerja dan pendanaan RKPD akan dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Jember dan pemangku kepentingan lainnya sebagai wujud dari pola perencanaan partisipatif. RKPD memuat kebijakan publik dan arah kebijakan pembangunan daerah selama satu tahun, yang diharapkan dapat menciptakan kepastian kebijakan sebagai komitmen pemerintah
daerah yang harus dilaksanakan secara konsisten. Selain daripada itu RKPD juga merupakan acuan bagi SKPD dalam menyempurnakan Renja SKPD untuk tahun yang sama.
RKPD Tahun 2016 ini berpedoman kepada RPJPD Kabupaten Jember Tahun 2005 – 2025 karena merupakan awal periode ketiga Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Tahun 2005 – 2025 sebelum ditetapkannya Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2016 – 2020 oleh Bupati terpilih dimana Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Jember rencananya akan dilaksanakan bulan Desember 2015. RKPD Tahun 2016 ini tetap memperhatikan RPJMD Tahun 2010 – 2015 dan disusun dengan tahapan berikut:
1. Persiapan penyusunan RKPD;
2. Penyusunan rancangan awal RKPD; 3. Penyusunan rancangan RKPD; 4. Pelaksanaan musrenbang RKPD;
5. Perumusan rancangan akhir RKPD; dan 6. Penetapan RKPD.
Setelah rancangan awal RKPD dibuat, tahap selanjutnya adalah merumuskan dokumen tersebut menjadi rancangan RKPD. Perumusan Rancangan RKPD pada dasarnya adalah memadukan materi pokok yang telah disusun dalam rancangan awal RKPD provinsi dengan rancangan Renja SKPD dan mensinkronkannya dengan kebijakan nasional/provinsi tahun rencana. Dengan demikian, penyusunan rancangan RKPD bertujuan untuk menyempurnakan rancangan awal melalui proses pengintegrasian dan harmonisasi program dan kegiatan prioritas yang tercantum
dalam rancangan Renja SKPD serta untuk mengharmoniskan dan menyinergikannya terhadap prioritas dan sasaran pembangunan nasional dan provinsi.
Evaluasi Rancangan awal RKP dan RKPD Provinsi ini merupakan bagian dari proses identifikasi kebijakan nasional dan provinsi yang digunakan untuk melengkapi analisis dan evaluasi yang telah dilakukan pada tahap penyusunan rancangan awal, khususnya identifikasi kebijakan nasional untuk tahun rencana.
Suatu kebijakan menjadi relevan bagi suatu daerah (yang dengan demikian harus dipedomani) karena beberapa karakteristik : 1. Amanat perundang-undangan yang bersifat mengikat secara
umum (seluruh daerah) atau khusus pada daerah tertentu. 2. Kebijakan pemerintah pusat yang karena karakteristiknya, suatu
daerah merupakan tujuan dari kebijakan tersebut.
3. Kebijakan pemerintah pusat yang karena karakteristiknya, suatu daerah dipengaruhi secara tidak langsung oleh kebijakan dimaksud.
Kebijakan nasional lainnya memiliki dampak strategik bagi daerah tahun rencana karena beberapa karakteristik :
1. Kebijakan pemerintah pusat yang mengandung peluang bagi pengembangan daerah.
2. Kebijakan pemerintah pusat yang berdampak negatif bagi suatu daerah jika tidak diantisipasi dengan program tertentu.
Tahap selanjutnya adalah merumuskan dokumen tersebut menjadi rancangan akhir RKPD setelah melalui proses pelaksanaan Musrenbang dan sinkronisasi dengan kebijakan pemerintah dan
pemerintah provinsi Jawa Timur untuk ditetapkan sebagai dokumen RKPD tahun 2016.
Selanjutnya, dalam dokumen RKPD ini, prioritas pembangunan tahunan disusun dengan beberapa pertimbangan, yaitu :
1. Memiliki dampak yang signifikan terhadap pencapaian sasaran-sasaran pembangunan yang terukur sehingga langsung dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
2. Penting dan mendesak untuk segera dilaksanakan.
3. Merupakan tugas Pemerintah Daerah sebagai pelaksana utama (sedapat mungkin dalam rentang kendali Pemerintah Daerah untuk mewujudkannya).
4. Realistis untuk dilaksanakan dan diselesaikan dalam kurun waktu satu tahun.
Sebagai dokumen perencanaan pembangunan daerah tahunan, RKPD Kabupaten Jember Tahun 2016 memuat prioritas pembangunan, program dan kegiatan pembangunan yang dilaksanakan secara teknis oleh SKPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Jember, yang ditetapkan dalam Peraturan Bupati Jember. Dengan demikian RKPD Kabupaten Jember Tahun 2016 mempunyai fungsi sebagai berikut :
1. Menjadi acuan bagi seluruh SKPD di lingkup Pemerintah Kabupaten Jember, karena memuat seluruh kebijakan publik. 2. Menjadi pedoman dalam penyusunan APBD, karena memuat
3. Menciptakan kepastian kebijakan, karena merupakan komitmen Pemerintah Daerah.
1.2. Dasar Hukum Penyusunan
Secara rinci landasan hukum yang digunakan sebagai dasar dalam penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Daerah Kabupaten Jember Tahun 2015 adalah sebagai berikut :
1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);
2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 164, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);
3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional Tahun 2005-2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700)
4. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); 5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan
Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4575);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 139, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 Tentang Organisasi Perangkat Daerah; dicari lembaran negaranya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4741) 10. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman
Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4815);
11. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4816);
12. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817);
13. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833);
14. Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2015 – 2019 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 3);
15. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;
16. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;
17. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 1 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi Jawa Timur Tahun 2005 – 2025;
18. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 3 Tahun 2014 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Jawa Timur Tahun 2014 – 2019;
19. Peraturan Daerah Kabupaten Jember Nomor 1 Tahun 2015 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Jember Tahun 2015 – 2035;
20. Peraturan Daerah Kabupaten Jember Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Jember Tahun 2005 – 2025;
21. Peraturan Daerah Kabupaten Jember Nomor 8 Tahun 2012 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Jember Tahun 2010 – 2015;
1.3. Hubungan Antar Dokumen
Rencana Kerja Pembangunan Daerah Kabupaten Jember Tahun 2016 merupakan dokumen perencanaan teknis operasional untuk kurun waktu satu tahun, yang disusun berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah. Penyusunan RKPD berpedoman pada Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Jember Tahun 2005 – 2025.
1.4. Maksud dan Tujuan
Rencana Kerja Pembangunan Daerah Kabupaten Jember Tahun 2016 dimaksudkan untuk menjadi acuan/pedoman perencanaan dan penganggaran tahunan daerah tahun 2016. Adapun tujuan penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Tahun 2016 adalah :
1. Mewujudkan pencapaian sasaran pembangunan Kabupaten Jember;
2. Mewujudkan integrasi, sinkronisasi dan sinergitas pembangunan baik antar daerah, antar ruang, antar waktu, antar fungsi pemerintahan maupun antar tingkat pemerintahan; 3. Mewujudkan keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan,
penganggaran, pelaksanaan, pengendalian dan pengawasan; 4. Mengoptimalkan partisipasi masyarakat dan dunia usaha,
Perguruan Tinggi dan Komunitas; serta
5. Mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya secara efisien, efektif, berkeadilan dan berkelanjutan.
1.5. Sistematika Dokumen
Rencana Kerja Pembangunan Daerah Kabupaten Jember Tahun 2016 disusun dengan sistematika sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Mengemukakan pengertian ringkas tentang Rencana Kerja Pembangunan Daerah Kabupaten Jember Tahun 2016, proses penyusunan RKPD, kedudukan RKPD tahun rencana dalam periode dokumen RPJMD, keterkaitan antara dokumen RKPD dengan dokumen RPJPD, Renstra SKPD, Renja SKPD serta tindaklanjutnya dengan proses penyusunan RAPBD Kabupaten Jember.
1.2 Landasan Hukum
Memberikan uraian ringkas tentang dasar hukum yang digunakan dalam penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Daerah Kabupaten Jember Tahun 2016.
1.3 Hubungan Antar Dokumen
Menjelaskan tentang hubungan Rencana Kerja Pembangunan Daerah Kabupaten Jember Tahun 2016 dengan dokumen-dokumen perencanaan lainnya.
1.4 Maksud dan Tujuan
Memberikan uraian ringkas tentang maksud dan tujuan penyusunan dokumen RKPD bagi Kabupaten Jember.
1.5 Sistematika
Memuat sistematika Rencana Kerja Pembangunan Daerah Kabupaten Jember Tahun 2016.
BAB II EVALUASI PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN
CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN
PEMERINTAHAN
2.1 Gambaran Umum Kondisi Daerah
Bagian ini sangat penting untuk menjelaskan dan menyajikan secara logis dasar-dasar analisis, gambaran umum kondisi daerah yang meliputi aspek geografi dan demografi serta indikator kinerja penyelenggaraan pemerintah daerah.
2.2 Evaluasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan RKPD sampai tahun berjalan dan Realisasi RPJMD
Menjelaskan realisasi, hasil capaian program dan kegiatan yang direncanakan dalam Rencana Kerja
Pembangunan Daerah maupun Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Jember.
2.3 Permasalahan Pembangunan
Menjelaskan permasalahan pembangunan daerah berisi uraian rumusan umum permasalahan
pembangunan daerah yang berhubungan dengan prioritas pembangunan daerah, dan permasalahan lainnya yang berhubungan dengan layanan dasar dan tugas fungsi SKPD.
BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN
KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH
3.1 Arah Kebijakan Ekonomi Daerah
Menjelaskan arah kebijakan pembangunan ekonomi nasional dan provinsi, proyeksi dan tantangan pembangunan ekonomi tahun 2016
3.2 Arah Kebijakan Keuangan Daerah
Mejelaskan arah kebijakan pendapatan, belanja dan pembiayaan tahun 2016 serta pendanaan pembangunan lainnya.
BAB IV PRIORITAS DAN SASARAN PEMBANGUNAN
DAERAH
4.1 Tujuan dan Sasaran Pembangunan
Menjelaskan tujuan dan sasaran pembangunan tahun 2016.
4.2 Prioritas Pembangunan Daerah
Mengemukakan tentang prioritas pembangunan untuk tahun 2016, isu strategis, serta prioritas program pembangunan daerah berdasarkan isu strategis.
BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS DAERAH
Menjelaskan rincian program dan kegiatan prioritas RKPD Tahun 2016, instansi pelaksana/SKPD, indikator capaian masing-masing program dan kegiatan serta pagu indikatifnya.
BAB VI PENUTUP
Menguraikan tentang hal-hal pokok yang termuat dalam keseluruhan dokumen RKPD, sebagai pedoman bagi semua pihak dalam memfungsikan RKPD sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku. Pada bagian ini juga memuat antara lain :
a. Keterpaduan dan sinkronisasi penyusunan program dan kegiatan di SKPD dengan memperhatikan kewenangan serta peran/tanggung jawab/tugas SKPD;
b. Peranan stakeholder pembangunan dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi kebijakan, program, dan kegiatan RKPD; c. Penegasan RKPD sebagai acuan penyusunan
rencana kerja dan APBD;
d. Penegasan tentang kewajiban pemerintah daerah untuk mengevaluasi pelaksanaan program RKPD.
BAB II.
EVALUASI PELAKSANAAN RKPD TAHUN
LALU DAN CAPAIAN KINERJA
PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN
2 EVALUASI PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN
2.1. Gambaran Umum Kondisi Daerah
Pada bagian ini akan menjelaskan tentang kondisi geografi dan demografi serta indikator capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan Kabupaten Jember. Adapun indikator capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan yang disajikan meliputi 3 (tiga) aspek utama, yaitu aspek kesejahteraan masyarakat, aspek pelayanan umum dan aspek daya saing daerah.
2.1.1 ASPEK GEOGRAFI DAN DEMOGRAFI 2.1.1.1 Letak Geografis dan Luas Wilayah
Kabupaten Jember terletak di bagian timur wilayah Provinsi Jawa Timur tepatnya berada pada posisi 7o59’6” sampai 8o33’56” Lintang Selatan dan 113o16’28” sampai 114o03’42” Bujur Timur. Secara administratif, Kabupaten Jember berbatasan dengan Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Probolinggo di sebelah utara, Kabupaten Lumajang di sebelah barat, Kabupaten Banyuwangi di sebelah timur, dan di sebelah selatan dibatasi oleh Samudera Indonesia.
Kabupaten Jember memiliki luas wilayah kurang lebih 3.293,34 Km2, dengan panjang pantai lebih kurang 170 Km. Sedangkan luas perairan Kabupaten Jember yang termasuk ZEE (Zona Ekonomi
Eksklusif) kurang lebih 8.338,5 Km2. Secara garis besar daratannya dibedakan sebagai berikut :
Bagian selatan wilayah Kabupaten Jember adalah dataran rendah dengan titik terluarnya adalah Pulau Nusa Barong, terdapat pula sekitar 82 pulau-pulau kecil, 16 pulau diantaranya sudah memiliki nama. Pada kawasan ini terdapat Taman Nasional Meru Betiri yang berbatasan dengan wilayah administratif Kabupaten Banyuwangi.
Bagian barat laut berbatasan dengan Kabupaten Probolinggo, dimana merupakan bagian dari Pegunungan Iyang, dengan puncaknya Gunung Argopuro (3.088 m).
Bagian timur merupakan bagian dari rangkaian Dataran Tinggi Ijen.
Tabel 2.1
Ketinggian Wilayah Kabupaten Jember
No. Ketinggian Luas
Km2 % 1 0 – 25 meter 591,20 17,95 2 25 – 100 meter 681,68 20,70 3 100 – 500 meter 1.243,08 37,75 4 500 – 1000 meter 520,43 15,80 5 > 1.000 meter 256,95 7,80 Jumlah 3.293,34 100,00
Sumber : LKJP Bupati Jember Tahun 2014
Kabupaten Jember berada pada ketinggian 0–3.300 meter di atas permukaan laut (dpl), dengan ketinggian daerah perkotaan Jember lebih kurang 87 meter di atas permukaan laut (dpl). Sebagian besar wilayah berada pada ketinggian antara 100 hingga
500 meter di atas permukaan laut (37,75%), selebihnya 17,95% pada ketinggian 0 sampai dengan 25 m, 20,70% pada ketinggian 25 sampai dengan 100 m, 15,80% berada pada ketinggian 500 sampai dengan 1.000 m di atas permukaan laut dan 7,80% pada ketinggian lebih dari 1.000 m. Wilayah barat daya memiliki dataran dengan ketinggian 0–25 meter dpl. Sedangkan daerah timur laut yang berbatasan dengan Bondowoso dan tenggara yang berbatasan dengan Banyuwangi memiliki ketinggian di atas 1.000 meter dpl.
Dengan demikian dapat diketahui bahwa wilayah Kabupaten Jember memiliki ketinggian yang bervariasi, namun dapat dikatakan bahwa sebagian besar wilayah Kabupaten Jember berada pada area dataran rendah.
Secara administratif wilayah Kabupaten Jember terbagi menjadi 31 kecamatan terdiri atas 28 kecamatan dengan 226 desa dan 3 kecamatan dengan 22 kelurahan, 966 dusun/lingkungan, 4.127 RW dan 14.166 RT. Kecamatan terluas adalah Tempurejo dengan luas 524,46 Km2 atau 15,9% dari total luas wilayah Kabupaten Jember. Kecamatan yang terkecil adalah Kaliwates, seluas 24,94 Km2 atau 0,76%.
Tabel 2.2
Nama Kecamatan dan Jumlah Desa/Kelurahan di Kabupaten Jember
No. Kecamatan Jumlah Desa/Kel Jumlah Dusun/Lingk Jumlah RW Jumlah RT Luas (Km2) 1 Kencong 5 24 123 526 65,92 2 Gumukmas 8 24 159 452 82,98 3 Puger 12 37 215 646 148,99 4 Wuluhan 7 25 126 719 137,18 5 Ambulu 7 27 198 637 104,56 6 Tempurejo 8 29 123 441 524,46 7 Silo 9 41 213 627 309,98 8 Mayang 7 24 109 347 63,78 9 Mumbulsari 7 26 86 463 95,13 10 Jenggawah 8 36 93 524 51,02 11 Ajung 7 33 113 491 56,61 12 Rambipuji 8 42 150 517 52,80 13 Balung 8 27 100 369 47,12 14 Umbulsari 10 26 153 450 70,52 15 Semboro 6 14 114 326 45,43 16 Jombang 6 17 132 393 54,30 17 Sumberbaru 10 36 166 599 166,37 18 Tanggul 8 24 140 507 199,99 19 Bangsalsari 11 40 253 570 175,28 20 Panti 7 26 91 423 160,71 21 Sukorambi 5 16 78 258 60,63 22 Arjasa 6 26 64 253 43,75 23 Pakusari 7 26 96 293 29,11 24 Kalisat 12 51 152 478 53,48 25 Ledokombo 10 39 147 422 146,92 26 Sumberjambe 9 58 103 426 138,24 27 Sukowono 12 27 143 374 44,04 28 Jelbuk 6 42 78 236 65,06 29 Kaliwates 7 32 152 490 24,94 30 Sumbersari 7 33 152 505 37,05 31 Patrang 8 38 119 404 36,99 Jumlah 248 966 4.127 14.166 3.293,34
A. Topografi
Dilihat dari kondisi topografi yang ditunjukkan dengan kemiringan tanah atau elevasi, sebagian besar wilayah Kabupaten Jember (36,60%) berada pada wilayah datar dengan kemiringan lahan 0 – 2%, sehingga daerah ini baik untuk kawasan permukiman perkotaan dan kegiatan pertanian tanaman semusim. Selanjutnya wilayah yang bergelombang sampai berbukit dengan kemiringan sangat curam di atas 40% menempati wilayah 31,28%, daerah tersebut harus dihutankan sehingga dapat berfungsi sebagai perlindungan hidrologi untuk menjaga keseimbangan ekosistem.
Selebihnya wilayah landai sampai bergelombang, dengan kemiringan antara 2 – 15% menempati wilayah 20,46%, yang digunakan untuk usaha pertanian dengan tanpa memperhatikan usaha pengawetan tanah dan air. Sedangkan daerah bergelombang dengan kemiringan 15 – 40% menempati wilayah 11,66%, daerah tersebut mudah terkena erosi, maka diperlukan usaha pengawetan tanah dan air.
Tabel 2.3
Kemiringan Lahan Kabupaten Jember
No. Kelas Lereng Luas
Km2 % 1 Datar (0 - 2%) 1.205,47 36,60 2 Landai (2 - 15%) 673,76 20,46 3 Agak curam (15 - 40%) 384,03 11,66 4 Sangat Curam (> 40%) 1.030,07 31,28 Jumlah 3.293,34 100,00
Kondisi kemiringan lahan yang bervariasi ini perlu dipertimbangkan dalam perencanaan tata ruang yang akan ditetapkan, baik dipandang dari segi potensi, kendala lingkungan, maupun dari segi dampak lingkungan yang berkaitan dengan perubahannya. Di samping itu topografi juga berpengaruh besar dalam menentukan jenis dan arah penempatan aktivitas yang akan dikembangkan pada suatu daerah.
Morfologi wilayah Kabupaten Jember didominasi oleh kawasan perbukitan. Daerah dengan kemiringan antara 8 – 15% dimanfaatkan sebagai kawasan permukiman. Daerah dengan kemiringan diatas 30% merupakan daerah perbukitan yang terletak di sebagian utara dan timur cocok untuk kawasan lindung. Daerah sebelah selatan-barat merupakan daerah landai dan dekat dengan laut yang berpotensi untuk pengembangan kegiatan perikanan, pertanian, dan perkebunan.
B. Geologi
Dataran wilayah Kabupaten Jember banyak dibentuk oleh jenis tanah litosol dan regosol coklat kekuningan. Kondisi ini sangat menentukan tingkat kesuburan dan kedalaman efektif tanah, dimana tingkat kesuburan tersebut adalah berkisar di atas 90 cm.
Kabupaten Jember mempunyai jenis tanah yang sangat bervariasi. Ada 16 jenis tanah di Kabupaten Jember yang terdistribusi secara menyebar, yaitu:
1. Asosiasi andosol coklat kekuningan dan regosol coklat kekuningan.
Alluvial coklat kekelabuan.
Alluvial hidromort.
Asosiasi alluvial kelabu dan alluvial coklat kekelabuan. 2. Asosiasi gley humus rendah dan alluvial kelabu.
Regosol kelabu.
Komplek regosol kelabu dan litosol.
Regosol coklat kekelabuan.
Regosol coklat, bahan indusk endapan pasir.
Regosol coklat.
Komplek regosol dan litosol.
Komplek latosol kemerahan dan litosol.
Latosol coklat kemerahan.
3. Asosiasi latosol coklat dan regosol kelabu.
Komplek latosol coklat kekuningan dan litosol.
Tekstur tanah didominasi oleh tekstur sedang (lempung), meliputi 79,32% dari luas daerah. Kecamatan yang memiliki tekstur sedang terluas adalah Kecamatan Tempurejo sedangkan yang memiliki area tersempit adalah Kecamatan Gumukmas. Untuk tanah yang bertekstur halus sebesar 19,50% dari luas wilayah yang mayoritas terdapat di Kecamatan Puger. Adapun untuk tanah yang bertekstur kasar sebesar 1,18% dari luas wilayah banyak terdapat di Kecamatan Sumberjambe.
Tingkat erosi di Kabupaten Jember cukup rendah. Sekitar 94,12% merupakan daerah bebas erosi dengan jenis tanah alluvial, gley, regosol, andosol, mediteran, dan latosol. Ditinjau dari segi drainase, 99,60% dari wilayah Kabupaten Jember merupakan
daerah bebas genangan. 0,39% merupakan daerah tergenang periodik, dan hanya 0,01% merupakan daerah tergenang rawa.
Batuan-batuan pembentuk daerah di Kabupaten Jember terdiri dari 5 formasi batuan, yaitu:
Meocine limestone, banyak dijumpai di daerah selatan.
Alluvium, banyak dijumpai di bagian tengah dan tenggara.
Granit, banyak terdapat di lereng bukit sebelah timur.
Meocine sedimentasi facies, di bagian timur.
Young quartenary product, di lereng gunung sebelah timur laut dan selatan.
Kabupaten Jember mempunyai banyak sungai/kali yang bermanfaat untuk pertanian. Beberapa sungai yang cukup besar adalah :
1. Kali Bedadung, merupakan sungai yang membelah Kabupaten Jember di tengah-tengah. Hulu sungai berasal dari pegunungan Hyang yang banyak terdapat mata air.
2. Kali Mayang, merupakan sungai yang bermata air dan hulu sungai berasal dari Pegunugan Raung yang berbatasan dengan Kabupaten Banyuwangi.
3. Kali Sanen, merupakan sungai yang bermata air dan hulu sungai berasal dari Pegunugan Raung. Kali Sanen bertemu dengan Kali Mayang di Desa Sumberrejo dan bermuara di Samudera Indonesia.
4. Kali Jatiroto, merupakan perbatasan dengan Kabupaten Lumajang yang bermata air dan hulu sungai dari Pegunungan Hyang, bermuara di Samudera Indonesia.
C. Klimatologi
Iklim di Kabupaten Jember adalah iklim tropis. Angka temperatur berkisar antara 23ºC – 31ºC, dengan musim kemarau terjadi pada bulan Mei sampai bulan Agustus dan musim hujan terjadi pada bulan September sampai bulan Januari. Sedangkan curah hujan cukup banyak, yakni berkisar antara 1.969 mm sampai 3.394 mm. Curah hujan di Kabupaten Jember dapat dikelompokkan menjadi 5 kelompok yaitu :
0 – 1.500 mm/tahun, terdapat di Kecamatan Puger, Wuluhan dan Kecamatan Gumukmas.
1.500 – 1.750 mm/tahun, terdapat di Kecamatan Kencong dan Ambulu.
1.750 – 2.000 mm/tahun, terdapat di Kecamatan Sumbersari, Patrang, Arjasa, Mayang, Silo, Mumbulsari, Rambipuji, Jenggawah, Umbulsari, dan Kecamatan Balung.
2.000 – 2.500 mm/tahun, terdapat di Kecamatan Kaliwates, Pakusari, Kalisat, Sumberjambe, Ledokombo, Tempurejo, Sukorambi, dan Kecamatan Bangsalsari.
>2.500 mm/tahun, terdapat di Kecamatan Tanggul, Panti, dan Kecamatan Sumberbaru.
Tabel 2.4
Penggunaan Lahan Kabupaten Jember
No. Penggunaan Lahan Luas
Ha % 1 Hutan 121.039,61 36,75 2 Perkampungan 31.877,00 9,68 3 Sawah 86.568,18 26,29 4 Tegal 43.522,84 13,22 5 Perkebunan 34.590,46 10,50 6 Tambak 368,66 0,11 7 Rawa 35,62 0,01 8 Semak/padang rumput 289,06 0,09 9 Tanah rusak/tandus 1.469,26 0,45 10 Lain-lain 9.574,26 2,91 Jumlah 329.334,00 100,00
Sumber : LKJP Bupati Jember Tahun 2014
D. Penggunaan Lahan
Ditinjau dari sudut geografisnya wilayah Kabupaten Jember seluas 3.293,34 Km2 (329.334 Ha) terdiri atas kawasan lindung dan kawasan budidaya dengan rincian tersebut diatas (Tabel 2.4).
E. Kawasan Lindung, Suaka Alam dan Suaka Margasatwa Kawasan lindung di Kabupaten Jember terdiri atas : (1) Kawasan yang memberikan perlindungan di bawahnya yang berada di bagian timur; (2) Kawasan perlindungan setempat yang berada di sempadan pantai selatan Jember (100 m), sempadan sungai/kali di seluruh Jember, kawasan sekitar waduk, dan kawasan sekitar mata air; (3) Kawasan suaka alam berada di Wisata Pantai Watu Ulo,
Gunung Watangan, Taman Nasional Meru Betiri dan Pegunungan Hyang; (4) Kawasan cagar budaya di Kecamatan Arjasa; (5) Kawasan rawan bencana alam karena erosi tinggi berada di Kecamatan Arjasa, Patrang, Sumberjambe, Mumbulsari, Kencong dan Wuluhan, dan kawasan rawan bencana alam karena hutan rusak berada di Kecamatan Silo dan Mumbulsari.
Kawasan budidaya terdiri dari : (1) Pertanian Tanaman Pangan berada di seluruh kawasan kecuali pusat kota; (2) Perkebunan berada di lereng Gunung Argopuro dengan komoditi teh, kopi, kakao, karet; lereng Gunung Raung dengan komoditi kopi dan tembakau; kawasan tengah hingga selatan dengan komoditi tembakau, tebu dan kelapa; (3) Perikanan laut terdapat di Kecamatan Gumukmas, Puger, Ambulu, Wuluhan dan Kencong; perikanan darat terdapat di Kecamatan Rambipuji, Kalisat dan Bangsalsari; (4) Pertambangan/Galian C berada di Kecamatan Puger, Pakusari, Sumbersari, Kalisat, Wuluhan, Arjasa, Ledokombo dan Rambipuji; (5) Hutan Produksi berada di kawasan perbatasan dengan Bondowoso dan Banyuwangi; (6) Industri kecil tersebar di setiap kecamatan, industri manufaktur berada di Kecamatan Rambipuji, Panti, Balung, Jenggawah, Sumbersari dan Arjasa; (7) Permukiman berada di Kawasan Pusat Kota dan setiap ibukota kecamatan.
Kondisi lahan pertanian dan perkebunan di Kabupaten Jember sangat subur. Oleh karena itu, mayoritas penggunaan lahan di wilayah Kabupaten Jember didominasi oleh lahan pertanian dan perkebunan. Kondisi ini sangat sesuai mengingat mata pencaharian utama penduduk Kabupaten Jember adalah di sektor pertanian.
Kawasan hutan produksi yang ada di Kabupaten Jember adalah berupa hutan jati dan hutan kayu lainnya. Persebaran kawasan hutan produksi ini berada di kawasan perbatasan Kabupaten Jember dengan kabupaten-kabupaten lainnya. Misalnya, pada sebelah utara Kabupaten Jember yang berbatasan dengan Kabupaten Bondowoso dan sebelah timur yang berbatasan dengan Kabupaten Banyuwangi. Selain itu, kawasan hutan produksi juga banyak ditemui di bagian selatan Kabupaten Jember yang berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia.
Untuk kawasan industri, di Kabupaten Jember mayoritas berupa industri pengolahan hasil pertanian dan pergudangan yang mengolah tembakau. Persebaran lokasi industri ini berada di wilayah bagian barat dan timur Kabupaten Jember, yaitu di Kecamatan Bangsalsari, Rambipuji, Balung, Jenggawah, Arjasa, Pakusari, Kalisat, dan Sukowono.
Untuk kawasan permukiman, persebarannya merata di Kabupaten Jember dengan kepadatan rendah – sedang. Sedangkan untuk kawasan permukiman di wilayah perkotaan, yaitu Kecamatan Kaliwates, Kecamatan Patrang, dan Kecamatan Sumbersari memiliki kepadatan sedang – tinggi.
F. Potensi Pengembangan Wilayah
Berdasarkan hasil identifikasi terhadap semua potensi sumberdaya di setiap wilayah Kecamatan di Kabupaten Jember, dapat dilihat pada Tabel 2.5.
Tabel 2.5
Data Potensi Setiap Wilayah Kecamatan di Kabupaten Jember Komoditi Tanaman Pangan dan Hortikultura
No Kecamatan
Komoditas Basis dari Sektor/Subsektor Pertanian
Tanaman Pangan Hortikultura
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. Ajung Ambulu Arjasa Balung Bangsalsari Gumukmas Jelbuk Jenggawah Jombang Kalisat Kaliwates Kencong Ledokombo
- Padi, Jagung, Kedelai, Kacang Tanah, Ubi Kayu, Ubi Jalar
- Padi, Jagung, Kedelai, Ubi Kayu, Ubi Jalar
- Padi, Jagung, Kacang Tanah, Ubi Kayu, Ubi Jalar
- Padi, Jagung, Kedelai, Kacang Tanah, Ubi Kayu,
- Padi, Jagung, Kedelai, Kacang Tanah, Ubi Kayu,
- Padi, Jagung, Kedelai, Kacang Tanah, Ubi Kayu, Ubi Jalar
- Padi, Jagung, Kacang Tanah, Ubi Kayu,
- Padi, Jagung, Kedelai, Kacang Tanah, Ubi Kayu, Ubi Jalar
- Padi, Jagung, Kedelai, Kacang Tanah, Ubi Kayu,
- Padi, Jagung, Kacang Tanah, Ubi Kayu, Ubi Jalar
- Padi, Jagung, Kedelai, Ubi Kayu, Ubi Jalar
- Padi, Jagung, Kedelai, Kacang Tanah, Ubi Kayu,
- Padi, Jagung, Kedelai, Kacang Tanah, Ubi Kayu, Ubi Jalar
- Kc. Panjang, Cabe Besar, Tomat Semangka, Belimbing, Jeruk Siam, Mangga, Rambutan
- Kubis, Kol, Kc. Panjang, Cabe Besar, Cabe Rawit, Alpukat, Jambu Air, jambu biji, mangga, Nangka, Pepaya, Pisang, Sawo
- Cabe Besar, Cabe Rawit, Alpukat, Belimbing, Jambu Biji, Jeruk Siam, Mangga, Pepaya, Pisang, Rambutan, Salak, Petai
- Kc. Panjang, Cabe Rawit, Mangga, nanas, Rambutan
- Kc. Panjang, Cabe Besar, Cabe Rawit, Semangka, Durian, Pisang, Rambutan
- Sawi, Kc. Panjang, Cabe Besar Cabe Rawit, Semangka, Belimbing, Jambu Biji, Jeruk Siam, Mangga, Pepaya, Pisang, Salak
- Cabe Besar, Cabe Rawit, Durian, Jambu Biji, Mangga, Pisang, Rambutan, Petai
- Kc. Panjang, Cabe Besar, Cabe Rawit, Belimbing, Jambu Biji, Jeruk Siam, Mangga, Pisang, Rambutan
- Kc. Panjang, Cabe Besar, Cabe Rawit, Jeruk Siam, Mangga
- Kc. Panjang, Cabe Besar, Duku, Durian, mangga, Pisang
- Cabe Besar, Cabe Rawit, mangga, Pisang, Rambutan
- Kc. Panjang, Cabe Besar, Cabe Rawit, Belimbing, Jeruk Siam, Mangga
- Kc. Panjang, Cabe Besar, Cabe Rawit, Tomat, Ketimun, semangka, Alpukat, Duku, Durian, Jambu Biji
Mangga, Pepaya, Pisang, Rambutan, Petai
No Kecamatan
Komoditas Basis dari Sektor/Subsektor Pertanian
Tanaman Pangan Hortikultura
14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. Mayang Mumbulsari Pakusari Panti Patrang Puger Rambipuji Semboro Silo Sukorambi Sukowono Sumberbaru Sumberjambe Sumbersari Tanggul
- Padi, Jagung, Kedelai, Kacang Tanah, Ubi Kayu, Ubi Jalar
- Padi, Jagung, Kedelai, Ubi Kayu,
- Padi, Jagung,
- Padi, Jagung, Kedelai, Kacang Tanah, Ubi Kayu, Ubi Jalar
- Padi, Jagung, Kedelai, Kacang Tanah, Ubi Kayu,
- Padi, Jagung, Kedelai, Kacang Tanah, Ubi Kayu, Ubi Jalar
- Padi, Jagung, Kedelai, Kacang Tanah, Ubi Kayu, Ubi Jalar
- Padi, Jagung, Kedelai, Kacang Tanah, Ubi Kayu, Ubi Jalar
- Padi, Jagung, Kacang Tanah, Ubi Kayu,
- Padi, Jagung, Kedelai, Kacang Tanah, Ubi Kayu, Ubi Jalar
- Padi, Jagung, Ubi Kayu, Ubi Jalar
- Padi, Jagung, Kedelai, Kacang Tanah, Ubi Kayu,
- Padi, Jagung, Kacang Tanah, Ubi Kayu, Ubi Jalar
- Padi, Jagung, Kedelai, Ubi Kayu, Ubi Jalar
- Padi, Jagung, Kedelai, Kacang Tanah, Ubi Kayu, Ubi Jalar
- Kc. Panjang, Cabe Besar, Cabe Rawit, Durian, Jambu biji, Mangga, Pisang, Markisa
- Kc. Panjang, Cabe Besar, Cabe Rawit, Mangga, Manggis, Pisang, Salak
- Kc. Panjang, Cabe Besar, Cabe Rawit, Alpukat, Duku, Durian, Mangga, Pisang, Rambutan
- Kc. Panjang, Cabe Besar, Tomat, Alpukat, Belimbing, Duku, Durian, Jambu air, Jambu Biji, Jeruk Siam, Mangga,
Manggis, Nanas, Pisang, Rambutan, Petai
- Kc. Panjang, Cabe Besar, Cabe Rawit, Alpukat, Belimbing, Duku, Durian, Jambu air, Jambu Biji
Mangga, Pisang, Rambutan, sukun
- Kc. Panjang, Cabe Besar, Cabe Rawit, Semangka, Jmbu Biji, mangga, Pisang
- Kc. Panjang, Cabe Besar, Mangga, Salak
- Kc. Panjang, Cabe Besar, Cabe Rawit, Belimbing, Durian, Jeruk Siam, Manggis, Rambutan, salak
- Cabe Besar, Cabe Rawit, Alpukat
- Sawi, Kc. Panjang, Cabe Besar Cabe Rawit, Kangkung, Bayam, Durian, manggis, nanas, Pisang, Rambutan, Petai
- Cabe Besar, Cabe Rawit, Belimbing, Durian, Pisang
- Kc. Panjang, Cabe Besar, Cabe Rawit, Belimbing, Duku, Durian, Jambu air, Jambu Biji, Jeruk Siam, Mangga, Manggis, Pisang, rambutan, salak
- Kc. Panjang, Cabe Besar, Cabe Rawit, Alpukat, Durian, Pisang, Rambutan
- Cabe Besar, Cabe Rawit
- Kc. Panjang, Cabe Rawit, Alpukat, Durian, manggis, Rambutan
No Kecamatan
Komoditas Basis dari Sektor/Subsektor Pertanian
Tanaman Pangan Hortikultura
29. 30. 31 Tempurejo Umbulsari Wuluhan
- Padi, Jagung, Kedelai, Kacang Tanah, Ubi Kayu, Ubi Jalar
- Padi, Jagung, Kedelai,
- Padi, Jagung, Kedelai, Kacang Tanah, Ubi Kayu, Ubi Jalar
- Kc. Panjang, Cabe Besar, Cabe Rawit, Ketimun, mangga, Pisang, Sirsat, Rambutan
- Kc. Panjang, Cabe Besar, Belimbing, Jeruk Siam, Pisang, Rambutan, Salak
- Kubis, Kc. Panjang, CabeBesar Cabe Rawit, Mangga, nangka
Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Jember (2014)
Tabel 2.6
Data Potensi Setiap Wilayah Kecamatan di Kabupaten Jember Komoditi Perkebunan dan Peternakan/Perikanan
No Kecamatan
Komoditas Basis dari Sektor/Subsektor Pertanian
Perkebunan Peternakan/Perikanan
1 Ajung Tembakau, kelapa, kopi, pinang, tebu, kapuk.
Sapi Potong
2 Ambulu Tembakau, kelapa, kopi, lada, pinang, kakao, kapuk.
Sapi Perah, Sapi Potong, Kerbau, Ayam Petelur.
3 Arjasa
Tembakau, kelapa, kopi, cengkeh, panili, jambu, mete, pinang, tebu, kapuk.
Sapi Perah, Kambing.
4 Balung Tembakau, kelapa, kopi, pinang, tebu, kapuk.
Ayam Petelur, Sapi Perah.
5 Bangsalsari Tembakau, kelapa, kopi, lada, cengkeh, panili, pinang, tebu, kapuk.
Kambing, Kuda, Ayam Buras, Gurami, Lele, Nila.
6 Gumukmas Kelapa, kopi, lada, jambu mete, pinang, tebu, kapuk.
Sapi Potong, Sapi Perah, Kerbau, Ayam Buras, Ayam Pedaging, Gurami, Lele, Nila.
7 Jelbuk Tembakau, kelapa, kopi, cengkeh, panili, pinang, mlinjo, tebu, kapuk.
Kambing.
8 Jenggawah Tembakau, kelapa, kopi,lada, panili, pinang, tebu, kapuk.
No Kecamatan
Komoditas Basis dari Sektor/Subsektor Pertanian
Perkebunan Peternakan/Perikanan
9 Jombang Kelapa, kopi, pinang, tebu, kapuk. Kerbau.
10 Kalisat Tembakau, kelapa, kopi, jambu mete, pinang, kakao, tebu, kapuk.
Tombro, Nila, Ikan Hias.
11 Kaliwates Tembakau, kelapa, kopi, pinang, tebu, kapuk.
Sapi Perah.
12 Kencong Kelapa, pinang, tebu, kapuk. Babi, Ayam Pedaging.
13 Ledokombo Temabaku, kelapa, kopi, lada, cengkeh, panili, jambu mete, pinang, kakao, tebu, kapuk.
Tombro, Nila, Ikan Hias.
14 Mayang Tembakau, kelapa, kopi, lada, pinang, tebu, kapuk.
Tombro, Nila, Ikan Hias.
15 Mumbulsari Tembakau, kelapa, kopi, lada, cengkeh, panili, pinang, tebu, kapuk.
Kambing, Domba, Ayam Petelur.
16 Pakusari Tembakau, kelapa, kopi, pinang, tebu, kapuk.
Ayam Pedaging.
17 Panti Tembakau, kelapa, kopi, lada, cengkeh, panili, pinang, kakao, tebu, kapuk.
Domba, Kambing, Ayam Petelur.
18 Patrang Kelapa, kopi, panili, jambu. -
19 Puger Tembakau, kelapa, pinang, tebu, kapuk.
Sapi Potong, Domba, Gurami, Lele, Nila.
20 Rambipuji Tembakau, kelapa, kopi, pinang, kakao, tebu, kapuk.
Aym Pedaging, Ayam Petelur.
21 Semboro Kelapa, kopi, pinang,kakao, tebu, kapuk.
Gurami, Nila, Lele, Babi.
22 Silo Tembakau, kelapa, kopi, lada, cengkeh, panili, pinang, kakao, tebu, kapuk.
Sapi, Potong, Domba, Ayam Buras, Tombro, Nila, Ikan Hias.
23 Sukorambi Tembakau, kelapa, kopi, cengkeh, pinang, tebu, kapuk.
Domba, Ayam Petelur.
24 Sukowono Tembakau, kelapa, kopi, cengkeh, pinang, tebu, kapuk.
Ayam Buras, Ayam Pedaging, Ayam Petelur, Tombro, Nila, Ikan Hias.
No Kecamatan
Komoditas Basis dari Sektor/Subsektor Pertanian
Perkebunan Peternakan/Perikanan
25 Sumberbaru Kelapa, kopi, cengkeh, pinang, tebu, kapuk.
Sapi. Potong, Sapi, Perah, Kambing.
26 Sumberjambe Tembakau, kelapa, kopi, cengkeh, jambu mete, pinang, tebu, kapuk.
Sapi Potong, Ayam Petelur, Tombro, Nila, Ikan Hias.
27 Sumbersari Tembakau, kelapa, pinang, tebu, kapuk.
-
28 Tanggul Kelapa, kopi, cengkeh, pinang, tebu, kapuk.
Sapi Perah, Ayam Petelur, Kuda, Kambing.
29 Tempurejo Tembakau, kelapa, kopi, lada, panili, pinang, tebu, kapuk.
Sapi Potong, Kambing, Domba.
30 Umbulsari Kelapa, kopi, pinang, tebu, kapuk. Ayam Buras, Babi, Gurami, Lele, Nila, Ayam Pedaging.
31 Wuluhan Tembakau, kelapa, kopi, lada panili, pinang, kakao, tebu, kapuk.
Sapi Potong, Kambing, Gurami, Lele, Nila.
Sumber : Dinas Kehutanan dan Perkebunan dan Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kabupaten Jember (2014)
G. Kawasan rawan bencana alam
Kawasan rawan bencana alam merupakan kawasan yang diindikasikan sebagai kawasan yang sering terjadi bencana, baik bencana letusan gunung, longsor, banjir dan gelombang tsunami sehingga dapat berakibat rusaknya lingkungan secara menyeluruh. Dalam melakukan antisipasi terhadap bencana yang setiap saat dapat terjadi, maka diperlukan pembentukan suatu tatanan baik upaya deteksi gempa, melestarikan kawasan lindung dan kegiatan penanggulangan bencana secara dini.
Adapun kawasan rawan bencana tersebut terdiri dari :
1. Kawasan rawan bencana tanah longsor yaitu kawasan yang memiliki Patahan atau sesar (atau istilah geologi-nya "fault")
pada lapisan batuan bumi yg memungkinkan satu blok batuan bergerak relatif terhadap blok yg lainnya. Wilayah rawan bencana terutama rawan gempa, gerakan tanah dan tanah longsor, banjir lumpur, erosi, dan wilayah aliran lahar gunung berapi terutama yang mempunyai tektur tanah halus dan ketebalan soil melebihi 90 cm. Kawasan ini di Kabupaten Jember meliputi Kecamatan Arjasa, Jelbuk, Sukorambi, Bangsalsari, Tanggul, Sukowono, Sumberjambe, Silo, Tempurejo, dan Sumberbaru.
2. Kawasan rawan angin topan yang perlu diperhatikan di Kabupaten Jember meliputi Kecamatan Patrang, Sukorambi, Arjasa, Kalisat, Pakusari, dan Mayang.
3. Kawasan rawan kebakaran hutan meliputi Kecamatan Panti, Bangsalsari, Sukorambi, Tanggul, Sumberbaru, Arjasa, Jelbuk, Silo, dan Tempurejo
Akibat yang ditimbulkan oleh bencana alam ini sangat merugikan serta penderitaan bagi manusia karena dapat mengurangi kesempatan masyarakat untuk terus menjalankan estafet pembangunan, menanamkan investasi yang lebih besar, menciptakan kegiatan baru maupun melaksanakan upaya pengembangan gagasan bagi perbaikan kehidupan masyarakat itu sendiri.
Arahan pengembangan yang dilakukan pada kawasan rawan bencana adalah dengan menciptakan kesempatan yang sama bagi penduduk untuk dapat merasa aman di daerah tempat tinggalnya. Pengembangan ini berarti memberikan kesempatan masyarakat untuk memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan dalam menangani masalah bencana di daerahnya.
H. Demografi
Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional Tahun 2013 jumlah penduduk Kabupaten Jember pada tahun 2013 adalah sebesar 2.369.250 jiwa. Peningkatan per tahun sejak tahun 2010 berturut-turut sebesar 0,48%, 0,70% dan 0,30%.
Tabel 2.7
Pertumbuhan Jumlah Penduduk Kabupaten Jember Tahun 2010 – 2014
No. Tahun Jumlah Penduduk
1 2010 2.334.579
2 2011 2.345.851
3 2012 2.362.179
4 2013 2.369.250
Sumber : BPS Kabupaten Jember (2011, 2012, 2013)
Peningkatan jumlah penduduk tersebut mempengaruhi tingkat kepadatan penduduk. Kepadatan penduduk yang cukup tinggi terjadi pada wilayah ibu kota kabupaten seperti Kecamatan Kaliwates, Sumbersari, Patrang dengan tingkat kepadatan masing-masing 4.485,20 jiwa/km², 3.408,34 jiwa/km² dan 2.553,96 jiwa/km². Padahal ketiga wilayah tersebut memiliki persentase luas wilayah yang relatif kecil tehadap luas Kabupaten Jember, dengan proporsi luas masing-masing sebesar 0,76%, 1,12% dan 1,12%.
Tabel 2.8
Kepadatan Penduduk per Kecamatan di Kabupaten Jember Tahun 2010 Hasil Sensus PendudukTahun 2010
Sumber : Jember Dalam Angka, 2014
No. Kecamatan Jml Penduduk
(Jiwa) Luas (Km²) Kepadatan Penduduk 1 Kencong 65.173 65,92 988,67 2 Gumukmas 79.224 82,98 954,74 3 Puger 114.506 148,99 768,55 4 Wuluhan 114.695 137,18 836,09 5 Ambulu 105.103 104,56 1.005,19 6 Tempurejo 70.663 524,46 134,73 7 Silo 103.850 309,98 335,02 8 Mayang 48.362 63,78 758,26 9 Mumbulsari 62.339 95,13 655,30 10 Jenggawah 81.318 51,02 1.593,85 11 Ajung 74.416 56,61 1.314,54 12 Rambipuji 78.934 52,80 1.494,96 13 Balung 77.005 47,12 1.634,23 14 Umbulsari 69.539 70,52 986,09 15 Semboro 43.475 45,43 956,97 16 Jombang 50.003 54,30 920,87 17 Sumberbaru 99.416 166,37 597,56 18 Tanggul 82.760 199,99 413,82 19 Bangsalsari 113.905 175,28 649,85 20 Panti 59.399 160,71 369,60 21 Sukorambi 37.950 60,63 625,93 22 Arjasa 38.055 43,75 869,83 23 Pakusari 41.713 29,11 1.432,94 24 Kalisat 74.962 53,48 1.401,68 25 Ledokombo 62.528 146,92 425,59 26 Sumberjambe 60.126 138,24 434,94 27 Sukowono 58.734 44,04 1.333,65 28 Jelbuk 31.962 65,06 491,27 29 Kaliwates 111.861 24,94 4.485,20 30 Sumbersari 126.279 37,05 3.408,34 31 Patrang 94.471 36,99 2.553,96 Jumlah 2.332.726 3.293,34 708,32
Sedangkan kepadatan penduduk yang terendah berada di Kecamatan Tempurejo dengan kepadatan 134,73 jiwa/km² dan Kecamatan Silo dengan kepadatan 335,02 jiwa/km² dengan proporsi luas wilayah masing-masing 15,95% dan 9,41%.
Berdasarkan komposisi penduduknya, jumlah penduduk laki-laki sebesar 1.146.856 jiwa, sedangkan penduduk perempuan sebesar 1.185.870 jiwa, sehingga rasio jenis kelamin sebesar 96,71. Angka tersebut menunjukkan bahwa penduduk perempuan di Kabupaten Jember lebih banyak dibanding penduduk laki-laki.
2.1.2 ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT
Aspek kesejahteraan masyarakat meliputi fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi, fokus kesejahteraan sosial, serta fokus seni budaya dan olahraga.
2.1.2.1 Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi
Tolok ukur keberhasilan pembangunan ekonomi suatu daerah, dapat ditunjukkan dari indikator makro sosial ekonomi. Berbagai indikator makro ekonomi daerah yang digunakan dalam mengukur capaian kinerja pembangunan terlihat sebagaimana tabel berikut ini:
Tabel 2.9
Indikator Makro Pembangunan Daerah Kabupaten Jember Tahun 2010 s/d 2013
No Uraian Satuan
Tahun
2010 2011 2012 2013
1 Jumlah Penduduk jiwa 2.334.579 2.345.851 2.362.179 2.885.950* 2 PDRB ADHB Juta Rp. 25.285.251,20 28.389.360,16 32.167.437,00 36.875.274,82 3 PDRB ADHK Juta Rp. 11.550.549,43 12.359.522,16 13.250.979,80 14.165.901,52 4 Pertumbuhan Ekonomi % 6,04 7,00 7,21 6,63 5 PDRB Per Kapita Ribu Rp.
/Jiwa 10.830,754 12.101,945 13.617,697 12,777,516
6 Laju Inflasi % 7,09 2,43 4,49 7,21
7 Indekas Ketimpangan Wilayah 0,440 0,463 0,528 - 8 Persentase Penduduk Miskin KK - 246.063 - - 9 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 64,95 65,53 65,93 66,60 10 Angka Rata-Rata Lama Sekolah Tahun 6,79 6,73 6,53 6,45 11 Angka Melek Huruf P 15 Tahun + % 83,08 83,48 83,6 83,65 12 Angka Harapan Hidup Tahun 62,84 63,03 63,21 63,64 13 Tingkat Pengangguran Terbuka % 2,71 3,95 3,91 3,97 14 Pengeluaran Per Kapita riil disesuaikan Ribu
Rupiah 61,61 62,51 63,43 64,42
A. Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Jember tidak berbeda jauh dengan yang terjadi pada level nasional maupun regional Jawa Timur. Secara absolut terjadi peningkatan nilai tambah di semua sektor baik menurut harga konstan maupun harga berlaku, seluruh sektor ekonomi juga mengalami pertumbuhan positif. Pertumbuhan tertinggi dialami oleh sektor konstruksi dan sektor perdagangan, hotel dan restoran yaitu lebih dari 10%. Pertumbuhan terendah dialami sektor pertanian.
Tabel 2.10
PDRB Kabupaten Jember Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2010 – 2013 No Lapangan Usaha 2010 2011 2012 2013 Rata-Rata Rp. (juta) % Rp. (juta) % Rp. (juta) % Rp. (juta) %
1 Pertanian 9.796.541,56 38,74 10.633.456,54 37,46 11.416.095,66 35,49 12.629.387,39 34,25 36,485 2 Pertambangan dan Galian 724.771,43 2,87 789.077,38 2,78 875.873,84 2,72 977.099,49 2,65 2,755 3 Industri
Pengolahan 2.708.963,13 10,71 3.069.569,71 10,81 3.558.629,94 11,06 4.079.661,76 11,06 10,91 4 Listrik dan Air
Bersih 216.724,23 0,86 241.555,63 0,85 271.549,25 0,84 311.067,95 0,84 0,8475 5 Bangunan 576.045,37 2,28 669.866,00 2,36 760.441,73 2,36 927.864,52 2,52 2,38 6 Perdagangan, Hotel & Restoran 6.200.097,88 24,52 7.145.247,08 25,17 8.555.146,35 26,60 10.218.267,60 27,71 26 7 Pengangkutan & Komunikasi 1.147.672,35 4,54 1.319.619,99 4,65 1.480.512,86 4,60 1.714.734,60 4,65 4,61 8 Keuangan, Persewaan & Jasa Persh. 1.309.419,27 5,18 1.505.079,24 5,30 1.748.169,33 5,43 2.032.768,03 5,51 5,355 9 Jasa-jasa 2.605.015,98 10,30 3.015.888,59 10,62 3.501.018,04 10,88 3.984.423,48 10,81 10,6525 Kabupaten Jember 25.285.251,20 100,00 28.389.360,16 100,00 32.167.437,00 100,00 36.875.274,82 100,00 100,00
Sumber : BPS Kabupaten Jember (2014)
Besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Jember tahun 2013 menurut harga berlaku adalah sebesar 36,87 trilyun rupiah, sedangkan atas dasar harga konstan mencapai 14,16 trilyun rupiah. Pertumbuhan ekonomi yang terjadi di Kabupaten
Jember tahun 2013 adalah sebesar 6,90% dibandingkan tahun 2012.
Beberapa tekanan, gejolak dan stimulus ekonomi yang terjadi dan ikut mewarnai pembentukan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Jember di tahun 2013 antara lain adalah :
Pertama, dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 7,21% di tahun 2012, maka pendapatan masyarakat meningkat sehingga akan mendorong permintaan konsumsi masyarakat menjadi lebih kuat serta menciptakan permintaan baru bagi barang dan jasa.
Kedua, ada kekuatan belanja pemerintah dalam anggaran belanja daerah 2013 sebesar 2,76 trilyun rupiah. Penggunaan anggaran daerah yang diprioritaskan untuk membangun proyek-proyek infrastruktur, disinyalir memberikan dampak positif bagi perekonomian.
Ketiga, terjadi penurunan volume dan nilai ekspor di tahun 2013, seperti yang dilaporkan Dinas Perindustrian, Perdagangan dan ESDM Kabupaten Jember, total nilai ekspor hanya mencapai 5,529 milyar dollar (tahun 2012 mencapai 5,539 milyar dollar).
Di sisi lain, faktor cuaca menyebabkan perlambatan pertumbuhan di tahun 2013. Hal ini memaksa beberapa komoditas bahan makanan mengalami penurunan produksi seperti produksi padi dan jagung.
Menurut hasil Sensus Penduduk 2010, sebanyak 56,35% penduduk Kabupaten Jember merupakan penduduk perdesaan dan sisanya sebesar 43,65% adalah penduduk perkotaan. Lebih lanjut masih menurut data hasil Sensus Penduduk 2010 dari seluruh penduduk yang bekerja (usia 15 tahun ke atas) sebanyak 51,89%
bekerja di sektor pertanian, 16,59% bekerja pada sektor perdagangan dan 5,20% bekerja di sektor industri pengolahan.
Sehingga tidak mengherankan apabila sektor pertanian, sektor perdagangan, hotel dan restoran dan sektor industri pengolahan merupakan the main driving sector bagi roda perekonomian di Kabupaten Jember. Andil ketiga sektor tersebut dalam pembentukan nilai tambah di Kabupaten Jember mencapai 73,02%.
Gambar 2.1
Distribusi Persentase PDRB Berdasarkan Lapangan Usaha Kabupaten Jember Tahun 2000 dan 2013
Tabel 2.11 menunjukkan peranan masing masing sektor dalam pembentukan nilai tambah total di Kabupaten Jember dalam kurun waktu yang berbeda, terpaut lebih dari satu dasawarsa, yaitu tahun 2000 dibandingkan dengan tahun 2013. Terlihat jelas untuk sektor primer terjadi penurunan peranan/kontribusi terhadap pembentukan nilai PDRB, seperti sektor pertanian andil sektor ini mencapai 43,26% di tahun 2000, kemudian mengalami penurunan yang cukup signifikan di tahun 2013, yaitu hanya sebesar 34,25%. Sektor pertambangan dan penggalian pun mengalami hal yang sama.
Tabel 2.11
PDRB Kabupaten Jember Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2010 – 2013
No Lapangan Usaha
2010 2011 2012 2013
Rata-Rata Rp. (juta) % Rp. (juta) % Rp. (juta) % Rp. (juta) %
1 Pertanian 4.619.631,09 39,99 4.787.322,32 38,73 5.003.260,26 37,76 5.205.901,00 36,75 38,3075 2 Pertambangan
dan Galian 396.530,67 3,43 413.551,27 3,35 430.970,11 3,25 459.321,84 3,24 3,3175 3 Industri
Pengolahan 1.208.040,12 10,46 1.309.344,34 10,59 1.393.937,30 10,52 1.495.148,24 10,55 10,53 4 Listrik dan Air Bersih 98.299,04 0,85 105.292,57 0,85 111.627,07 0,84 118.656,10 0,84 0,845 5 Bangunan 244.601,33 2,12 265.310,45 2,15 288.230,12 2,18 322.222,66 2,27 2,18 6 Perdagangan, Hotel & Restoran 2.698.523,93 23,36 2.986.287,18 24,16 3.334.965,87 25,17 3.701.082,58 26,13 24,705 7 Pengangkutan & Komunikasi 513.215,22 4,44 564.179,37 4,56 610.426,67 4,61 659.316,93 4,65 4,565 8 Keuangan, Persewaan & Jasa Persh. 616.109,71 5,33 670.086,08 5,42 732.780,77 5,53 779.350,69 5,50 5,445 9 Jasa-jasa 1.155.598,32 10,00 1.258.148,58 10,18 1.344.781,63 10,15 1.424.901,48 10,06 10,0975 Kabupaten Jember 11.550.549,43 100,00 12.359.522,16 100,00 13.250.979,80 100,00 14.165.901,52 36,75 100,00
Sumber : BPS Kabupaten Jember (2014)
Kemudian sektor sekunder yang terdiri dari sektor industri pengolahan, sektor listrik, gas dan air bersih dan sektor
bangunan/konstruksi mengalami peningkatan kontribusi walaupun tidak terlalu besar, bahkan sektor industri pengolahan tercatat statis yaitu peranan sektor ini tetap sebesar 11,06%.
Selanjutnya sektor tersier, kontribusi terhadap pembentukan nilai PDRB yang terbentuk di Kabupaten Jember tahun 2000 hanya sebesar 39,22%, dan kini 13 tahun sesudahnya, sektor tersier mampu memberikan dukungan terhadap total nilai tambah/PDRB mencapai 48,68%.
Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang banyak mendapat campur tangan Pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pusat. Hal ini dikarenakan sektor pertanian berkaitan langsung dengan ketahanan dan kedaulatan pangan nasional.
Namun mengapa peranan sektor pertanian mengalami penurunan di Kabupaten Jember selama 2000 – 2013 yaitu dari 43,26% di tahun 2000 menjadi 34,25% di tahun 2013. Harap dipahami secara absolut besaran nilai tambah sektor pertanian selalu mengalami kenaikan yaitu dari 3,05 trilyun rupiah di tahun 2000 menjadi 12,62 trilyun rupiah di tahun 2013, terjadi kenaikan hampir empat kali lipat.
Penurunan peranan sektor pertanian lebih disebabkan oleh percepatan output sektor sekunder dan tersier yang lebih dinamis sehingga menghasilkan nilai tambah yang bagaikan deret ukur pada tiap tahunnya. Kenaikan sektor sekunder dan tersier tentunya dikarenakan sektor pertanian yang kian tangguh dan mantap. Namun diakui terjadinya alih fungsi lahan dari lahan pertanian ke non pertanian juga ikut memberikan andil penurunan peranan sektor
pertanian terhadap penciptaan nilai tambah, walaupun kecil pengaruhnya.
Demikian pula sektor pertambangan dan penggalian, walalupun secara absolut nilainya selalu meningkat namun sektor ini sangat terpengaruh oleh kesediaan alam dalam memberikan resourcenya dan kenaikan permintaan akan sektor ini terbatas. Jadi tidak mengherankan apabila kelincahan sektor pertambangan dan penggalian dengan mudah dilewati oleh sektor sekunder dan tersier.
Sektor industri pengolahan merupakan sektor strategis, di samping diharapkan mampu menyerap tenaga kerja sangat besar, sektor ini juga dapat dilakukan ekspansi secara cepat. Hal ini terlihat proporsi sektor industri pengolahan terhadap total nilai PDRB. Begitupun sektor indusri pengolahan di Kabupaten Jember sebagian besar merupakan golongan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mempunyai peranan yang cukup signifikan terhadap perekonomian Jember, selain karena pelaku ekonominya adalah masyarakat lokal, kegiatan UMKM juga menggunakan bahan baku lokal, tenaga kerja yang dipakai juga tenaga kerja lokal dan hasil produksinya banyak dikonsumsi masyarakat. Selain itu, semakin banyak kegiatan UMKM yang produksinya berorientasi ekspor, sehingga dinamika UMKM mampu menggeliatkan perekonomian daerah.
Fenomena menarik terlihat pada sektor industri pengolahan, kontribusi sektor ini paling stabil selama 13 tahun terakhir yaitu sebesar 11,06%. Apabila kita telusuri lebih mendalam peranan sektor ini paling lemah terjadi pada tahun 2006, yaitu sebesar
10,48% dan kontribusi terkuat terjadi pada tahun 2001 yaitu sebesar 11,25%. Hal ini menunjukkan sektor UMKM sebagai tulang punggung sektor industri pengolahan di Kabupaten Jember merupakan sektor yang tangguh dan eksis dalam kurun waktu 13 tahun pengamatan.
Kemudian peranan sektor infrastruktur, yaitu sektor listrik, gas dan air dan sektor bangunan tidak lebih dari 2,52%. Namun jangan disepelekan keberadaan dua sektor ini penting bagi perkembangan sektor industri, perdagangan dan sektor jasa jasa. Semakin baik dan layak infrastruktur suatu daerah, maka semakin tertarik seorang investor untuk menanamkan modalnya di daerah tersebut.
Selanjutnya, pada tabel 2.11, peranan sektor perdagangan, hotel dan restoran selama lima tahun terakhir menunjukkan penguatan dan eksistensinya sebagai sektor penyumbang PDRB terbesar kedua setelah sektor pertanian. Hal ini tidaklah mengherankan karena di kawasan tapal kuda Jawa Timur, Kabupaten Jember merupakan kabupaten yang maju dan lengkap dengan infrastruktur yang bertaraf nasional, baik infrastruktur pendidikan, keuangan dan lainnya. Kota Jember juga terkenal sebagai kota perdagangan di kawasan timur Jawa Timur. Tercatat kontribusi sektor ini mencapai 24,52% di tahun 2010, kemudian naik menjadi 25,17% di tahun 2011, meningkat menjadi 26,60% di tahun 2012 dan terakhir peranan sektor perdagangan, hotel dan restoran dalam pembentukan total nilai tambah di Kabupaten Jember adalah sebesar 27,71%.
Kini akses untuk memperoleh informasi semakin mudah, baik secara visual, audio maupun audio visual, infromasi dapat dikirim
dan sampai secara realtime, tidak memerlukan delay waktu yang panjang. Berbagai gadget plus kemudahannya juga sudah dinikmati bahkan sampai kalangan menengah kebawah. Ditambah semakin terjangkaunya biaya untuk akses informasi melalui internet menjadikan sub sektor komunikasi menjadi syarat yang penting bagi lancarnya perekonomian suatu daerah dan arus perdagangan yang lebih signifikan. Kemudahan komunikasi pula yang menyebabkan subsektor angkutan mengalami kepastian dalam berbisnis dan memperoleh profit yang lebih signifikan. Karena informasi yang lancar tentunya akan mengurangi kerugian dalam proses distribusi suatu barang.
Hubungan sektor angkutan dan komunikasi dengan sektor perdagangan, hotel dan restoran adalah saling menguatkan, simbiosis mutualisme. Peranan Sektor Pengangkutan dan Komunikasi di Kabupaten Jember tahun 2013 sebesar 4,65%.
Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan memiliki kontribusi sebesar 5,51% terhadap pembentukan nilai PDRB di Kabupaten Jember tahun 2013. Sedangkan Sektor Jasa-Jasa memiliki andil sebesar 10,81% terhadap total nilai tambah yang terbentuk di Kabupaten Jember tahun 2013.
Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Jember tidak berbeda jauh dengan yang terjadi pada level nasional maupun regional Jawa Timur. Secara absolut terjadi peningkatan nilai tambah di semua sektor baik menurut harga konstan maupun harga berlaku, seluruh sektor ekonomi juga mengalami pertumbuhan positif. Pertumbuhan tertinggi dialami oleh sektor konstruksi dan sektor perdagangan,
hotel dan restoran yaitu lebih dari 10%. Pertumbuhan terendah dialami sektor pertanian.
Tabel 2.12
Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Jember Tahun 2010 – 2013
No. Tahun Pertumbuhan Ekonomi
1 2010 6,05 %
2 2011 7,00 %
3 2012 7,21 %
4 2013 6,90 %
Sumber : BPS Kabupaten Jember (2014)
Pertumbuhan ekonomi selama empat tahun terakhir secara umum di Kabupaten Jember menunjukkan peningkatan yaitu sebesar 6,05% pada tahun 2010, meningkat menjadi 7,00% di tahun 2011 dan naik lagi sebesar 7,21% di tahun 2012 dan terakhir tumbuh sebesar 6,90%. Untuk tahun 2013, pertumbuhan positif terjadi pada semua sektor/lapangan usaha. Sektor-sektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi dari PDRB atas dasar harga konstan 2000, adalah sektor bangunan/konstruksi sebesar 11,79%, sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 10,98% dan sektor Angkutan dan Komunikasi sebesar 8,01%. Sementara itu pertumbuhan yang terendah dialami oleh sektor pertanian sebesar 4,05% dan sektor jasa jasa sebesar 5,96%.
Tabel 2.13
Pertumbuhan PDRB Sektoral Kabupaten Jember Tahun 2010 – 2013 Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Persen)
Sektor 2010 2011 2012 2013
Primer (Agriculture)
1. Pertanian 4,28 3,63 4,51 4,05
2. Pertambangan dan Penggalian 7,14 4,29 4,21 6,58
Sekunder (Manufaktur)
3. Industri Pengolahan 6,81 8,39 6,46 7,26 4. Listrik, Gas dan Air Bersih 6,42 7,11 6,02 6,30 5. Bangunan / Konstruksi 6,92 8,47 8,64 11,79
Tersier (Service)
6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 7,32 10,66 11,68 10,98 7. Pengangkutan dan Komunikasi 7,90 9,93 8,20 8,01 8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 7,40 8,76 9,36 6,36
9. Jasa-jasa 7,46 8,87 6,89 5,96
PDRB 6,04 7,00 7,21 6,90
Sumber : BPS Kabupaten Jember (2014)
Apabila dilihat dari sumbangan pertumbuhan masing-masing sektor, sektor-sektor yang memberikan sumbangan terbesar adalah sektor perdagangan, hotel & restoran sebesar 2,75%, sektor pertanian sebesar 1,53%, sedangkan sektor yang sumbangan pertumbuhannya terkecil adalah sektor listrik, dan air bersih sebesar 0,05%.
Terlihat jelas bahwa selama kurun waktu empat tahun terakhir kecenderungan pola pertumbuhan ekonomi Kabupaten Jember terus membaik, terutama mulai tahun 2010 – 2012, membentuk linier progresif, namun pada tahun 2013 pertumbuhan ekonomi mengalami perlambatan artinya tetap tumbuh positif namun tidak sebesar tahun sebelumnya. Hal ini dipicu melemahnya nilai tukar rupiah dan keputusan pemerintah mengenai kenaikan harga Bahan
Bakar Minyak (BBM) per tanggal 22 Juni 2013. Hal ini juga menyebabkan kenaikan inflasi pada tahun kalender 2013 di Jember sebesar 7,21%. Namun pemerintah pusat langsung bergerak cepat meluncurkan empat paket kebijakan ekonomi yaitu di dalamnya ditujukan untuk menjaga daya beli masyarakat dan tingkat inflasi.
Tabel 2.14
Sumbangan Pertumbuhan Masing-Masing Sektor terhadap Pertumbuhan PDRB Kabupaten Jember Tahun 2010 – 2013
Lapangan Usaha Pertumbuhan Ekonomi Sumbangan Pertumbuhan
2010 2011 2013 2014 2010 2011 2013 2014
Primer (Agriculture)
1. Pertanian 4,28 3,63 4,51 4,05 1,71 1,41 1,71 1,53 2. Pertambangan dan Penggalian 7,14 4,29 4,21 6,58 0,21 0,13 0,13 0,21
Sekunder (Manufaktur)
3. Industri Pengolahan 6,81 8,39 6,46 7,26 0,75 0,89 0,65 0,76 4. Listrik, Gas dan Air Bersih 6,42 7,11 6,02 6,30 0,06 0,07 0,06 0,05 5. Bangunan / Konstruksi 6,92 8,47 8,64 11,79 0,14 0,17 0,17 0,26
Tersier (Service)
6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 7,32 10,66 11,68 10,98 1,68 2,56 2,92 2,75 7. Pengangkutan dan Komunikasi 7,90 9,93 8,20 8,01 0,35 0,45 0,41 0,37 8. Keuangan, Persewaan dan Jasa
Perusahaan 7,40 8,76 9,36 6,36 0,40 0,44 0,47 0,35 9. Jasa-jasa 7,46 8,87 6,89 5,96 0,75 0,88 0,69 0,60
PDRB 6,05 7,00 7,21 6,90 6,05 7,00 7,21 6,90
Sumber : BPS Kabupaten Jember (2014)
Untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan masyarakat atas produk pangan terutama mempertahankan sekaligus meningkatkan produksi pertanian, di lapangan masih terkendala banyak hambatan yang sering dijumpai. Dari sekian banyak hambatan ada yang dapat ditangani melalui introduksi teknologi, yaitu suatu cara mengubah dan mengendalikannya dengan teknik rekayasa tertentu, tetapi
adapula yang sangat sulit ditangani terutama yang berkaitan dengan kejadian fenomena alam, yaitu perubahan iklim. Perubahan iklim meliputi perubahan suhu udara, kelembaban udara, curah hujan dan radiasi sinar matahari serta perubahan kondisi tanah yang akhirnya sangat besar implikasinya terhadap masa pertumbuhan, hasil produksi ataupun mutu hasil akhir tanaman pangan yang dihasilkan.
Menurut catatan Dinas Pertanian Kabupaten Jember pada tahun 2013 beberapa komoditas tanaman pangan mengalami penurunan produksi dibanding tahun sebelumnya seperti tanaman padi yang berproduksi sebanyak 930.027 ton (tahun lalu sebanyak 970.096 ton), tanaman jagung produksi sebanyak 384.896 ton (tahun 2012 sebanyak 411.853 ton) dan beberpa tanaman lain. Untuk tanaman sayur sayuran dan buah buahan cenderung mengalami kenaikan. Dari subsektor perkebunan terpantau dua jenis tanaman tembakau juga mengalami penurunan produksi. Kombinasi naik turunnya produksi dari subsektor tanaman pangan, peternakan, perkebunan, perikanan dan kehutanan menyebabkan pertumbuhan sektor pertanian hanya tumbuh sebesar 4,05% pada tahun 2013.
Sebagai komponen sektor primer, sektor penggalian juga berperan sebagai sumber bahan baku bagi keperluan produksi di sektor-sektor lain seperti industri manufaktur (misalnya industri bahan galian non logam) dan sektor bangunan. Naiknya permintaan dari kedua sektor tersebut mengangkat pertumbuhan sektor penggalian walaupun secara alamiah bahan baku di sektor ini semakin berkurang. Pada tahun 2013 sektor penggalian masih mampu tumbuh sebesar 6,58%.