PENGARUH MODEL PROBLEM BASED LEARNING BERBANTUAN MEDIA TANGGA PINTAR TERHADAP KEMAMPUAN
PEMAHAMAN MATEMATIS PESERTA DIDIK KELAS III SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG 2023
SKRIPSI
Oleh
YUNIA SAPITRI
ABSTRAK
PENGARUH MODEL PROBLEM BASED LEARNING BERBANTUAN MEDIA TANGGA PINTAR TERHADAP KEMAMPUAN
PEMAHAMAN MATEMATIS PESERTA DIDIK KELAS III SEKOLAH DASAR
Oleh
YUNIA SAPITRI
Masalah dalam Penulisan ini adalah rendahnya kemampuan pemhaman matematis peserta didik pada mata pelajaran matematika kelas III MI Al-Qur'an Roudhlatul Qur'an 2 Trimurjo, Lampung Tengah. Penulisan ini bertujuan untuk Mengetahui adanya pengaruh Model Problem Based Learning Berbantuan Media tangga pintar terhadap kemampuan pemahaman matematis siswa kelas III. Metode Penelitian ini adalah Quasi Eksperimen Group Design. Populasi berjumlah 60 peserta didik dengan sampel yang digunakan 60 peserta didik kelas III A dan III B, teknik sampel menggunakan non probability sampling dengan jenis teknik sampling jenuh. Instrumen yang digunakan dalam Penulisan ini yaitu tes dan non tes. Hasil analisis tingkat pengetahuan N-Gain diperoleh data kelas eksperimen rata-rata N-Gain 0,390 termasuk dalam kriteria sedang, sedangkan kelas kontrol dipeoleh rata-rata N-Gain 0,382 termasuk dalam kriteria sedang dengan kaidah tinggi > 0,7, sedang 0,3 – 0,7, serta rendah N-Gain < 0,3, tidak termasuk kedalam kriteria rendah berarti efektivitas penerapan model pembelajaran dan bantuan Media berjalan baik sedangkan tidak termasuk dalam kriteria tinggi berarti masih dapat ditingkatkan dengan banyak pertemuan atau di pengaruhi faktor yang tidak di analisis atau diluar batasan masalah penelitian. Hasil Penelitian ini dilakukan uji hipotesis memperoleh f hitung 5,257 dan α 0,05 maka f tabel 4,196 sehingga F hitung > F tabel (5,257 > 4,196) sehingga dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh model Problem Based Learning berbantuan media tangga pintar terhadap kemampuan pemahaman matematis peserta didik kelas III.
Kata Kunci: pemahaman matematis, problem based learning, tangga pintar
ABSTRACT
THE EFFECT OF PROBLEM BASED LEARNING MODEL ASSISTED BY SMART LADDER MEDIA ON THE MATHEMATICAL
UNDERSTANDING ABILITY OF THIRD GRADE PUBLIC SCHOOL STUDENTS
By
YUNIA SAPITRI
The problem in writing this is the low ability of students' mathematical understanding in class III mathematics MI Al-Qur'an Roudhlatul Qur'an 2 Trimurjo, Central Lampung. This writing aims to determine the influence of the Problem Based Learning Model Assisted by Smart Ladder Media on the mathematical understanding abilities of class III students. This research method is Quasi Experiment Group Design. The population is 60 students with a sample of 60 students in class III A and III B, the sample technique uses non-probability sampling with a type of saturated sampling technique. The instruments used in this writing are tests and non-tests. The results of the analysis of the level of N- Gain knowledge obtained from experimental class data, the average N-Gain 0.390 was included in the medium criteria, while the control class obtained an average N-Gain of 0.382 included in the medium criteria with high rules > 0.7, medium 0.3 – 0.7, and low N-Gain < 0.3, not included in the low criteria means that the effectiveness of the application of learning models and media assistance is going well while not included in the high criteria means that it can still be improved by many meetings or influenced by factors that are not affected analysis or outside the boundaries of the research problem. The results of this study were carried out to test the hypothesis to obtain f count 5.257 and α 0.05, then f table 4.196 so that F count > F table (5.257 > 4.196) so that it can be said that there is an influence of the Problem Based Learning model assisted by smart ladder media on students' mathematical understanding abilities class III.
Keywords: mathematical understanding, problem based learning, smart stairs
PENGARUH MODEL PROBLEM BASED LEARNING BERBANTUAN MEDIA TANGGA PINTAR TERHADAP KEMAMPUAN
PEMAHAMAN MATEMATIS PESERTA DIDIK KELAS III SEKOLAH DASAR NEGERI
Oleh Yunia Sapitri
(Skripsi)
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN
Pada
Jurusan Ilmu Pendidikan
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG 2023
RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama Yunia Sapitri dilahirkan di Desa Teba Jawa, Kecamatan Kedondong, Kabupaten Pesawaran pada tanggal 23 April 2001. Penulis merupakan anak ketiga dari empat bersaudara pasangan Bapak M.Yazid dan Ibu Listiana.
Pendidikan formal yang ditempuh Penulis yaitu di SDN 4 Kedondong lulus pada tahun 2013, kemudian Penulis melanjutkan seklolah menengah pertama di MTsN 1 Pesawaran lulus pada tahun 2016 serta melanjutkan pendidikan formal
menengah atas di MAN 1 Pesawaran lulus pada tahun 2019.
Pada tahun 2019 peniliti terdaftar sebagai mahasiswa S-1 Program Studi PGSD Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung, melalui jalur SBMPTN. Penulis juga terdaftar sebagai mahasiswa penerima Bidik Misi tahun 2019, Penulis mengikuti program Kampus Mengajar Angkatan 2 pada tahun 2021 selama kurang lebih 5 bulan, Penulis mengikuti perlombaan Microteaching Dies Natalis FKIP ke 59 dan berhasil mendapatkan juara pertama. Penulis melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Way Kepayang, Kecamatan Kedondong, Kabupaten Pesawaran pada tahun 2022 periode 1. Penulis juga melakukan program Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) bersamaan dengan program Kampus Mengajar di SD Negeri 16 Gedong Tataan, Gedong Tataan pada tahun 2021.
MOTTO
َيِنِمْؤُم ْمُتْ نُك ْنِإ َنْوَلْعَْلْا ُمُتْ نَأَو اوُنَزَْتَ َلََو اوُنَِتَ َلََو
" Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang yang beriman."
(Q.S. Ali'Imran : 139)
PERSEMBAHAN
Bismillahirrohmanirahim
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Alhamdulillahirabilalamin, dengan segala kerendahan hati karya ini
kupersembahkan sebagai rasa syukur dan tanda baktiku untuk:
Kedua orang tua ku, Bapak M.Yazid dan Ibu Listiana
Sebesar-besarnya ku ucapkan atas kasih sayang, bimbingan, dorongan, morivasi, kerja keras hingga dapat menyekolahkanku kejenjang Univeristas dan nasihat- nasihat yang terbaik serta selalu memanjatkan doa untuk kelancaran diriku dan
demi tercapainya cita-citaku.
Kakakku Yesi Marselina dan Yola Aprilia yang selalu mendukung dan memotivasi serta mendo'akanku untuk segera menyelesaikan skripsi ku.
Adikku tersayang Yogi Zulkevin dan Raka Faeza Alkahfi yang selalu mendukung dan mendo'akanku untuk segera menyelesaikan skripsi ku.
Bapak dan Ibu dosen pembimbingku yang telah memberikan jasa ilmu dengan sabar dan ketulusan.
Sahabat dan teman-teman terdekatku juga keluarga kelas D yang selalu membersamai perjuagan ini.
MI Al-Qur'an Roudhlatul Qur'an 2.
Alamamater Tercinta "Universitas Lampung"
SANWACANA
Puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang telah memberikan segala limpahan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya, sehingga Penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul "Pengaruh Model Problem Based Learning Berbantuan Media Tangga Pintar terhadap Kemampuan Matematis Peserta Didik Kelas III Sekolah Dasar", adalah salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.
Dalam kesempatan ini Penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani., Rektor Universitas Lampung.
2. Dr. Sunyono, M.Si., Dekan FKIP Universitas Lampung.
3. Dr. Muhammad Nurwahidin, M.Ag, M.Si Ketua jurusan Ilmu Pendidikan FKIP Universitas Lampung.
4. Drs. Rapani, M.Pd., Ketua program studi PGSD FKIP Universitas Lampung.
5. Drs. Maman Surahman, M.Pd. selaku dosen pembimbing 1 atas kesediannya memberikan bimbingan, motivasi, ilmu pengetahuan, dan saran selama proses penyusunan skripsi ini.
6. Amrina Izzatika, S.Pd., M.Pd. selaku dosen pembimbing 2 atas
kesediannya memberikan bimbingan, motivasi, ilmu pengetahuan, dan saran selama proses penyusunan skripsi ini.
7. Dra. Loliyana, M.Pd. selaku dosen pembahas dan pembimbing Akademik (PA) atas kesediannya memberikan bimbingan, motivasi, ilmu
pengetahuan, dan saran selama proses penyusunan skripsi ini.
9. Kepala Sekolah MI Roudhlatul Qur'an 2 Trimurjo telah memberikan izin dan membantu Penulis.
10. Wali kelas III MI Roudhlatul Qur'an 2 Trimurjo yang telah membantu Penulis menyelesaikan Penulisan.
11. Peserta didik Kelas III MI Roudhlatul Qur'an 2 Trimurjo yang telah berpattisipasi aktif selama Penulisan.
12. Keluarga besar yang menjadi tempat ternyaman dan selalu mendukung Penulis. Ayah dan Emak, kak Yesi, kak Yola, serta adek Yogi dan Raka yang tersayang.
13. Tim Skripsi dan sahabatku Ocha, Ulfa, Dhea, Yefsi, Soleha, Erin, Veta, Ika.
14. Teman-teman dekat ku Munee, Kak Nafa, Lina, Cici, Resti, kak masy, cici fira, dan keluarga besar kelas D PGSD Unila (Adinda,Naufal,Rambo Thasya,Nuril,Vivi,Tiwi, Tania, Dinda, Ajeng, Dwi, Nabila, Helen, Puput, Shelna, Jeplin, Adib, Didin, Indra, Wibi, Lofty serta alm.Ketut.
15. Rekan mahasiwa S1 PGSD FKIP Universitas Lampung angkatan 2019.
16. Semua pihak yang telah membantu untuk menyelesaikan skripsi ini.
Semoga Allah SWT. Membalas semua kebaikan yang diberikan kepada Penulis. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih terdapat kekurangan, Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Bandar Lampung, 28 Maret 2023
Yunia Sapitri
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
I. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang Masalah ... 1
1.1. Identifikasi Masalah... 7
1.2. Batasan Masalah ... 7
1.3. Rumusan Masalah ... 7
1.4. Tujuan Penelitian ... 7
1.5. Manfaat Penelitian ... 8
II. TINJAUAN PUSTAKA ... 10
2.1. Belajar dan Pembelajaran ... 10
2.1.1. Hakikat Belajar ... 10
2.1.2. Hakikat Pembelajaran ... 13
2.2. Model Pembelajaran Problem Based Learning ... 16
2.2.1. Pengertian Model Problem Based Learning ... 16
2.2.2. Karakteristik Model Problem Based Learning ... 18
2.2.3. Langkah-langkah Model Problem Based Learning ... 20
2.2.4. Kelebihan dan Kekurangan model Problem Based Learning ... 21
2.3. Media Tangga Pintar ... 22
2.3.1. Pengertian Media Tangga Pintar ... 22
2.3.2. Langkah - langkah Pengoperasionalan Media Tangga Pintar ... 23
2.3.3. Karakteristik Media Pembelajaran Tangga Pintar ... 24
2.4. Kemampuan Pemahaman Matematis ... 25
2.4.1. Pengertian Kemampuan Pemahaman Matematis ... 25
2.4.2. Karakteristik Pemahaman Matematis ... 27
iv
2.6. Kerangka Pikir ... 32
2.7. Hipotesis Penelitian ... 34
III. METODE PENELITIAN ... 35
3.1. Jenis Penelitian ... 35
3.2. Tempat dan Waktu Penelitian ... 36
3.2.1. Tempat Penelitian ... 36
3.2.2. Waktu Penelitian ... 36
3.3. Variabel Penelitian, Definisi Konseptual dan ... 36
Operaasional Penelitian ... 36
3.4. Populasi dan Sampel ... 39
3.4.1. Populasi Penelitian ... 39
3.4.2. Sampel Penelitian ... 40
3.5. Teknik dan Alat Pengumpulan Data ... 41
3.6. Uji Coba Instrumen Tes ... 42
3.6.1. Uji Validitas ... 42
3.6.2. Uji Reliabilitas ... 43
3.6.3. Uji Tingkat Kesukaran ... 44
3.6.4. Uji Daya Pembeda ... 45
3.6.5. Teknik Analisis Data ... 47
3.7. Uji Coba Instrumen Non-Tes ... 50
3.8. Uji Hipotesis ... 50
IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 52
4.1. Pelaksanaan Penelitian ... 52
4.2. Hasil Penelitian ... 53
4.3. Uji Prasyarat Analisis Data ... 65
4.4. Uji N-Gain ... 67
4.5. Uji Hipotesis ... 68
4.6. Pembahasan ... 72
5.2. Saran ... 77
DAFTAR PUSTAKA ... 78 LAMPIRAN……… 84
viii DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Data hasil kemampuan pemahaman matematis pada UTS Matematika ... 3
2. Populasi Penelitian ... 40
3. Hasil Uji Validitas ... 43
4. Klasifikasi Taraf Kesukaran Soal ... 45
5. Hasil Uji Tingkat Kesukaran Soal ... 45
6. Kriteria Daya Pembeda Soal ... 46
7. Hasil Uji Daya Pembeda Soal ... 47
8. Kategori nilai aktivitas belajar peserta didik ... 48
9. Jadwal dan Kegiatan dalam Pelaksanaan Penelitian ... 52
10. Hasil Analisis Aktivitas Peserta didik Kelas Eksperimen ... 54
11. Hasil Analisis Peserta didik Kelas Kontrol ... 55
12. Rekapitulasi Aktivitas Peserta Didik ... 55
13. Distribusi Nilai Pretest Kelas Eksperimen ... 57
14. Distribusi Nilai Postest Kelas Eksperimen ... 58
15. Deskripsi Hasil Pretest dan Postest Kelas Eksperimen ... 60
16. Distribusi Nilai Pretest Kelas Kontrol ... 61
17. Data Nilai Postest Kelas Kontrol... 63
18. Deskripsi Hasil Pretest dan Postest Kelas Kontrol ... 64
19. Deskripsi Kemampuan Pemahaman Matematis Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 64
20. Uji Normalitas Kelas Eksperimen ... 65
21. Rekapitulasi Homogenitas Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 67
22. N-Gain Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 67
23. Rekapitulasi Hasil Analisis Regresi Linear Sederhana ... 71
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Kerangka Pikir Penelitian ... 34
2. Design eksperimen ... 36
3. Histogram Nilai Pretest Kelas Eksperimen ... 57
4. Histogram Nilai Postest Kelas Eksperimen ... 59
5. Histogram Data Nilai Postest Kelas Kontrol ... 63
6. Deskripsi Kemampuan Pemahaman Matematis Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 65
viii DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. Surat Izin Penelitian Pendahuluan ... 84
2. Surat Izin Penelitian ... 85
3. Surat Izin Uji Coba Instrumen ... 86
4. Surat Balasan Izin Penelitian Pendahuluan ... 87
5. Surat Balasan Izin Penelitian ... 88
6. Surat Balasan Izin Uji Coba Instrumen ... 89
7. Surat Validitas Instrumen Oleh Ahli ... 90
8. Surat Valditas Lembar Observasi Oleh Ahli ... 93
9. Kisi-kisi Instrumen soal Pretest dan Posttest ... 95
10. Soal Pretest ... 97
11 Soal Postest ... 104
12. Kisi-kisi Lembar Observasi Aktivitas Peserta didik ... 108
13. Lembar Observasi ... 110
14. RPP Kelas Eksperimen ... 112
15. RPP Kelas Kontrol ... 121
16. Jawaban Pretest dan Postest Kelas Eksperimen ... 129
17. Jawaban Pretest dan Postest Kelas Komtrol ... 131
18. Hasil Uji Coba Instrumen ... 133
19. Rekapitulasi Hasil Validitas dan Reliabilitas ... 134
20. Hasil Uji Daya Beda Soal ... 136
21. Hasil Uji Tingkat Kesukaran ... 137
22. Hasil Uji Normalitas Pretest Kelas Eksperimen ... 138
23. Hasil Uji Normalitas Postest Kelas Eksperimen ... 141
24. Hasil Uji Normalitas Pretest Kelas Kontrol ... 143
25. Hasil Uji Normalitas Postest Kelas Kontrol ... 146
26. Hasil Uji Homogenitas Pretest Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 149
27. Hasil Uji Homogenitas Postest Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 150
28. Hasil Observasi Aktivitas Peserta Didik Kelas Eksperimen ... 151
29. Hasil Observasi Aktivitas Peserta didik Kelas Kontrol ... 152
30. Uji N-Gain Kelas Eksperimen ... 153
31. Uji N-Gain Kelas Kontrol ... 154
32. Uji Regresi Sederhana ... 155
33. Tabel r Product Moment ... 159
34. Tabel Chi Kuadrat ... 160
35. Tabel Distribusi F ... 161
36. Foto Aktivitas Pembelajaran ... 162
1 I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilaksanakan dengan matematis dalam menciptakan suasana pembelajaran dengan tujuan peserta didik dapat mengembangkan potensi yang ada pada dirinya. Menurut Sebayang
(2020:106) mengemukakan bahwa pendidikan berasal dari kata didik yang diartikan merawat dan memberi latihan, selanjutnya dalam memelihara dan memberi latihan ini dibutuhkan usaha sadar yang diperlukan, ajaran,
tuntunan, serta pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sehingga pendidikan dapat diartikan sebagai proses pembelajaran dimana seseorang mengerti dan paham akan suatu hal. Artinya pendidikan begitu penting untuk berlangsungnya kehidupan manusia yang juga dapat mempengaruhi pertumbuhan individu.
Sejalan dengan pendidikan, Matematika merupakan salah satu pengetahuan yang termasuk kedalam pendidikan, matematika adalah pengetahuan dasar yang sangat penting untuk perkembangan ilmu dan bidang teknologi, bahkan matematika dijuluki sebagai "Queen of Science" oleh sebab itu adanya matematika merupakan hal penting. Jusniani (2019:106) menegaskan bahwa didalam matematika dapat melatih keterampilan berpikir kritis, analogis, analitis dan sistematis. Pentingnya matematika ini mewajibkan setiap orang mendapat pemahaman matematis, oleh karena itu Matematika juga mempunyai peranan penting dalam pendidikan.
Menurut Dr. Sumardyono, M.Pd, selaku Direktur SEAMEO QITEP
Regional Center For Qitep in Mathematics Yogyakarta, menjelaskan tentang apa itu konsep Matematika untuk semua. Bahwa matematika seperti
kebutuhan primer artinya termasuk kedalam kebutuhan pokok manusia.
Berdasarkan hal tersebut artinya matematika menjadi hal yang sangat berdampingan dengan kehidupan manusia.
Pada kenyataanya yang terjadi menurut Wasiah (2021: 309) matematika dianggap sebagai momok menakutkan oleh sebagian besar peserta didik, mata pelajaran yang sulit dan tidak menyenangkan, sedangkan pada zaman yang semakin maju seperti sekarang ini matematika mengambil peran besar dalam bidang teknologi dan digital yang berkembang sangat pesat.
Kesulitan peserta didik dalam menghadapi soal-soal matematika akan berpengaruh terhadap kemampuan pemahaman konsep dan ketuntasan minimal yang harus dicapai saat mengerjakan soal. Didukung oleh Permendikbudristek No. 7 Tahun 2022 bahwa ruang lingkup materi Matematika di Sekolah Dasar memuat konsep bilangan, operasi hitung aritmetika, identifikasi pola numerik dan non numerik, bangun datar, pengukuran, dan interpretasi data.
Faktor terpenting dalam pembelajaran matematika adalah kemampuan pemahaman matematis peserta didik. Bahkan ditegaskan dalam
Permendikbudristek No. 7 Tahun 2022 bahwa pada mata pelajaran
matematika harus memuat materi yang sesuai, oleh karena itu pemahaman matematis perlu ditingkatkan agar ruang lingkup materi yang telah
ditentukan pemerintah dapat tercapai tujuan dan ketuntasan peserta didik.
Alan dan Afriansyah (2017:68) mengemukakan bahwa dilapangan hal yang paling banyak ditemukan adalah pembelajaran tidak berpusat pada peserta didik dalam proses pembelajaran matematika. Hal tersebut didukung oleh pernyataan Harianja et al., (2020:2) sebagai berikut:
Conventional teaching methods that are commonly used in teaching mathematics in Indonesia, do not give opportunities to students to express and communicate their ideas. The learning process in mathematics is still dominated by conventional learning methods and without using media.
Berdasarkan pernyataan diatas disebutkan bahwa proses pembelajaran matematika yang dilakukan pendidik di lapangan menggunakan metode
pembelajaran konvensional dimana proses pembelajaran berpusat pada pendidik dan belum adanya bantuan media pembelajaran sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran untuk memberikan contoh dan pengalaman belajar lebih bermakna bagi peserta didik. Sehingga hal tersebut
menyebabkan peserta didik tidak bisa menuangkan dan mengkomunikasikan ide-idenya. NCTM (National Council Of Teacher Of Mathematics) disebut juga dengan dewan guru matematika nasional memberikan pernyataan bahwa kemampuan pemahaman matematis adalah hal urgent didalam pinsip pembelajaran matematika
Berdasarkan hasil observasi Pra-Penelitian yang dilakukan pada Peserta didik kelas III MI Al-Qur'an Roudhlatul Qur'an 2, pada 12 Oktober 2022.
Hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan wali kelas IIIA dan IIIB bahwa mata pelajaran matematika merupakan mata pelajaran yang dianggap sulit, peseta didik masih bingung ketika diberikan soal. Contohnya jika peserta didik diberikan soal dengan materi yang sama namun berbeda dengan contoh soal, peseta didik tidak bisa menyelesaikannya, tidak hanya itu peserta didik juga tidak aktif saat proses pembelajaran berlangsung.
Hasil observasi dilapangan terkait kemampuan pemahaman matematis peserta didik masih rendah dapat dilihat dari hasil ujian tengah semester mata pelajaran Matematika peserta didik kelas III di MI Al-Qur'an Roudhlatul Qur'an 2 sebagai berikut :
Tabel 1.Data hasil kemampuan pemahaman matematis pada UTS Matematika
Kelas
Interval nilai
Jumlah peserta didik Nilai < 70 Nilai > 70
III A 21 9 30
III B 20 10 30
Jumlah 41 19 60
Sumber: hasil observasi
Berdasarkan hasil data pada tabel 1 di atas dapat dilihat bahawa kemampuan peserta didik dalam pemahaman matematis dapat dikatakan rendah terbukti
dengan adanya data hasil uts Matematika pada kelas III A terdapat 21 peserta didik dengan nilai kurang dari 70 dan terdapat 9 peserta didik dengan nilai lebih dari 70 sedangkan kelas III B terdapat 20 peserta didik dengan nilai kurang dari 70 dan 10 peserta didik dengan nilai lebih dari 70.
Jusniani (2018:106) menyebutkan bahwa faktor terbesar selain cara mengajar pendidik yaitu peringkat Indonesia sendiri berada di 70 dan 72 negara dengan rata-rata skor 403 sedangkan rata-rata skor internasional 493.
Hal tersebut membuktikan bahwa Indonesia berada pada tingkat bawah yang menunjukan kemampuan pemahaman matematis peserta didik di Indonesia berdasarkan survey Programme for International Student Assessment (PISA).
Menurut Sari (2022:5) Pemahaman matematis peserta didik dikatakan masih tergolong rendah apabila peserta didik belum bisa mengerjakan soal dengan baik, peserta didik masih menghafal bukan memahami prinsip sehingga belum bisa memaknai materi, peserta didik juga belum bisa mendefinisikan sendiri materi menggunakan bahasanya sendiri, membedakan contoh dan bukan contoh serta memaknainya dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan penjelasan diatas mempertegas bahwa kemampuan pemahaman matematis peserta didik tergolong dalam tingkat rendah.
Hal tersebut sejalan dengan penelitian Septiani dkk., (2019: 323) bahwa pemahaman matematis peserta didik umumnya masih rendah ditunjukan dengan belum mampunya peserta didik memahami soal, artinya peserta didik belum memahami dan memilih prosedur dari konsep algoritma serta menerapkannya dalam menyelesaikan soal. Penelitian tersebut menjelaskan juga bahwa permasalahan yang paling besar dalam matematika adalah rendahnya kemampuan pemahaman matematis yang disebabkan oleh pembelajaran yang masih digunakan yaitu pembelajaran konvensional.
Silviana dan Mardiani (2021:292) menjelaskan bahwa kenyataan dilapangan pembelajaran matematika kurang melibatkan peserta didik, umumnya
pendidik mata pelajaran matematika menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan penugasan, hal tersebut menjadi penyebab rendahnya
kemampuan pemahaman matematis peserta didik. Oleh karena itu untuk mewujudukan Pemahaman Matematis Peserta didik, perlu adanya bantuan perangkat pembelajaran yang mendukung seperti Model dan Media
pembelajaran untuk menyampaikan materi. Peneliti menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning dan media pembelajaran Tangga Pintar sebagai salah satu cara untuk digunakan dalam pembelajaran.
Peneliti memilih model pembelajaran Problem Based Learning karena menekankan pada keterlibatan peserta didik (Student Centre) dalam proses pembelajaran. Model Problem Based Learning atau model pembelajaran berbasis masalah adalah suatu model pembelajaran yang mengunakan masalah nyata atau masalah yang ada di kehidupan sehari-hari sebagai suatu konteks bagi peserta didik belajar tentang cara berpikir kritis dan
kemampuan pemecahan masalah.
Model Problem Based Learning merupakan model pembelajaran yang peneliti pilih untuk mengatasi rendahnya kemampuan pemahaman matematis peserta didik. Hal tersebut didukung oleh beberapa peneliti sebelumnya, salah satunya adalah Tri Noviansyah, Maman Surahman, dan Amrina Izzatika (2019:7) proses pembelajaran dengan menggunakan model Problem Based Learning dibantu alat peraga atau media pembelajaran dapat memberikan pengalaman belajar yang bermakna, peserta didik tidak sulit memahami materi pembelajaran yang diberikan, serta dengan bantuan media pembelajaran yaitu tangga pintar diharapkan adanya peningkatan pada kognitif peserta didik.
Kemudian dalam upaya memaksimalkan kemampuan pemahaman
matematis peserta didik Peneliti menggunakan media pembelajaran tangga pintar. Media tangga pintar menurut Yuli (2018:60) adalah media
pembelajaran yang berbantuk tiga dimensi. Peneliti memodifikasi dan menyimpulkan berdasarkan pendapat para ahli diatas terkait media
pembelajaran tangga pintar merupakan media pembelajaran matematika dengan menggunakan strefoam yang dimodifikasi menyerupai tangga dengan bentuk tiga dimensi.
Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas maka peneliti tertarik untuk melaksanakan penelitian dengan menggunakan model pembelajaran
Problem Based Learning Berbantuan Media Tangga Pintar untuk
mengetahui apakah ada pengaruhnya terhadap Kemampauan Pemahaman Matematis Peserta didik Kelas IIIMI Al-Qur'an Roudhlatul Qur'an 2 . Sehingga peneliti mengambil judul Penelitian "Pengaruh Model Problem Based Learning Berbantuan Media Tangga Pintar terhadap Kemampuan Pemahaman Matematis Peserta didik Kelas III Sekolah Dasar".
7 1.1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka identifikasi masalah penelitian ini sebagai berikut:
1. Kurangnya kemampuan pemahaman matematis peserta didik kelas III MI Al-Qur'an Roudhlatul Qur'an 2 .
2. Pendidik belum menerapkan model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik.
3. Pendidik belum menggunakan alat bantu berupa Media pembelajaran 4. Peserta didik pasif pada proses pembelajaran (students centre)
5. Nilai matematika peserta didik masih banyak kurang dari KKM 1.2. Batasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah, peneliti membatasi permasalahan yang akan diteliti, yaitu belum adanya penerapan:
1. Model Problem Based Learning Berbantuan Media Tangga Pintar 2. Kemampuan Pemahaman Matematis belum maksimal
1.3. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Apakah terdapat pengaruh pada penerapan model Problem Based Learning berbantuan media tangga pintar terhadap kemampuan pemahaman matematis peserta didik kelas III MI Al-Qur'an Roudhlatul Qur'an 2?
1.4. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah maka tujuan peneltiian ini untuk :
Mengetahui adanya pengaruh Model Problem Based Learning Berbantuan Media tangga pintar terhadap kemampuan pemahaman matematis peserta didik kelas III Al-Qur'an Roudhlatul Qur'an 2.
1.5. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian yang ingin dicapai, hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat untuk semua pihak terkait, antara lain :
1.5.1. Manfaat Teoretis
Hasil penelitian ini dapat memberikan solusi serta pedoman dalam pembelajaran matematika yang sesuai dengan model pembelajaran serta menggunakan media pembelajaran Tangga pintar untuk meningkatkan kemampuan pemahaman matematis peserta didik kelas III Sekolah Dasar.
1.6.2. Manfaat Praktis
Manfaat praktis yang dapat diperoleh dari penelitian ini antara lain : 1.6.2.1. Peserta didik
Hasil penelitian dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning Berbantuan Media tangga pintar dapat membantu meningkatkan kemampuan pemahaman matematis peserta didik.
1.6.2.2. Pendidik
Penelitian ini dapat membantu pendidik dalam
melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (Student Center) sehingga pembelajaran aktif tidak monoton dan membosankan, juga untuk mempermudah pendidik melaksanakan model Problem Based Learning dengan bantuan Media Tangga Pintar untuk meningkatkan kemampuan pemahaman Matematis Peserta didik.
1.6.2.3. Kepala Sekolah
Hasil penelitian ini dapat memberikan solusi dan kontribusi untuk Kepala sekolah dalam meningkatkan kualitas
pembelajaran juga sebagai design pembelajaran serta sumber informasi untuk mengarahkan dan mendukung pendidik meningkatkan kemampuan pemahaman matematis peserta didik.
1.6.2.4. Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini dapat memberikan pengetahuan baru dan wawasan baru juga pengalaman berharga serta hasil peneltiian ini dapat dijadikan pertimbangan dan masukan dalam mengembangkan peneltian dengan menerapkan pengaruh model Problem Based Learning Berbantuan Media Tangga Pintar untuk meningkatkan kemampuan pemahaman matematis peserta didik.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Belajar dan Pembelajaran 2.1.1. Hakikat Belajar
Belajar merupakan salah satu bagian dari komponen ilmu pendidikan yang terdapat tujuan dan acuan. Seseorang dikatakan belajar jika ia dapat menambah atau merubah perilaku mulai dari pengaturan, keterampilan juga pemahaman. Djamaluddin (2019:6) Menjelaskan bahwa belajar merupakan suatu proses yang dilakukan oleh
seseorang untuk mendapatkan perubahan yang diharapkan dapat berubah menjadi lebih baik lagi.
Pendapat lain dari Makki, dkk (2019:1) yang menjelaskan bahwa Belajar merupakan perubahan yang ada didalam diri untuk
menyatakan kepribadian diri sebagai hal baru dari hasil dapat berupa sikap atau prilaku, pengetahuan serta pengertian. Pengertian dari belajar juga diperkuat pendapat dari Khuluqo (2017:1) menjelaskan bahwa belajar adalah suatu aktivitas dimana didalamnya terdapat proses perubahan dari ketidaktahuan, proses pemahaman, serta proses kemampuan dalam mencapai hasil yang diharapkan.
Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses yang dilakukan untuk mengubah ketidaktahuan dan menambah pengetahuan serta pemahaman juga kemampuan baik dalam tingkah laku atau dalam tingkat pemahaman dimana dalam proses belajar tersebut terdapat tujuan yang ingin dicapai.
2.1.1.1 Tujuan Belajar
Tujuan adalah suatu hal yang menjadi sasaran yang sudah direncanakan secara matang sebelumnya, dimana tujuan dapat dijadikan sasaran oleh seseorang secara individu atau kelompok. Kurniasih (2018:3) menjelaskan bahwa tujuan belajar merupakan hasil dari proses belajar yang dimana tujuan akhirnya dapat memiliki kemampuan dalam diri, perilaku, sikap, agama, juga dalam kemampuan
keterampilan dalam berbangsa dan bernegara
Pahlawan dan Tambusai (2017: 35) mendeskripsikan tujuan belajar adalah suatu perubahan didalam kepribadian sebagai bentuk baru dapat berupa kemampuan perilaku dalam kecapakan. Herawati (2018: 31) menegaskan bahwa tujuan belajar secara umum terdapat tiga jenis diantaranya:
1) Tujuan belajar untuk mendapat pengetahuan 2) Tujuan belajar untuk menanamnkan konsep serta
pengetahuan
3) Tujuan belajar untuk membentuk sikap.
Berdasarkan pendapat ahli diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan belajar pada dasarnya adalah untuk menambah,
mengubah juga menyempurnakan mulai dari sikap. Perilaku, kepribadian, pengetahuan untuk menghadapi permalahan yang dihadapi. Pokok utama dalam proses belajar adalah untuk menjadikan perilaku dan sikap seseorang lebih baik dari sebelumnya, karena kepribadian sikap juga perilaku sangat penting disamping kepintaran diri seseorang.
2.1.1.2 Ciri - ciri Belajar
Ciri merupakan suatu khas yang menjadi tanda sebagai pembeda dengan hal lain. Ciri belajar menurut Faizah (2017:
183) diantaranya:
1) Belajar ditandai adanya perubahan perilaku
2) Perubahan perilaku yang terjadi relative tetap
3) Perubahan perilaku tidak bisa langsung diamati karena siftanya potensial
4) Perubahan perilaku yang terjadi karena adanya pembiasaan 5) Pembiasaan atau pengalaman tersebut memberikan
penguatan.
Mengenai ciri belajar dipertegas oleh Wahyu (2020) bahwa semua perilaku atau tingkah laku tidak semuanya termasuk kedalam aktivitas belajar, perilaku dan tingkah laku yang termasuk kedalam ciri belajar diantaranya:
1) Perubahan tingkah laku secara sadar
2) Perubahan bersifat kelanjutan dan fungsional 3) Perubahan bersifat positif dan aktif
4) Perubahan bersifat pemanen
5) Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah 6) Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku Ciri utama belajar menurut Setiawati (2018: 34) terdapat proses, perilaku, serta pengalaman:
1) Proses belajar berkiatan juga dengan proses mental dan emosional yaitu proses berpikir juga merasakan.
2) Perubahan perilaku hasil belajar, seseorang belajar ditandai dengan ciri berubahnya atau bertambahnya perilaku yang dapat berupa pengetahuan, keterampilan, dan penguasaan nilai-nilai sikap.
3) Pengalaman belajar artinya terdapat interaksi yang terjadi baik antar individu atu lingkunagannya.
Berdsarkan pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa ciri – ciri belajar adalah perubahan baik itu perilaku,
pengetahuan, keterampilan atau kemampuan yang dimiliki memalui aktivitas-aktivitas proses belajar.
2.1.1.3. Prinsip Belajar
Prinsip - prinsip belajar banyak dikemukan oleh para ahli diantaranya menurut Ibrahim (2012:5) bahwa prinsip belajar relatif berlaku umum yang berkiatan dengan perhatian, motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung, pengulangan, tantangan, balikan dan penguatan, serta perbedaan.
Selanjutnya dijelaskan secara rinci oleh Muis (2013:30-33) terkait prinsip belajar yaitu: 1) Prinsip kesiapan, 2) Prinsip motivasi, 3) Prinsip tujuan dan keterlibatan langsung, 4)
Prinsip persepsi dan keaktifan, 5) Prinsip perbedaan individual, 6) Prinsip transfer, retensi dan tantangan, 7) Prinsip belajar kognitif, 8) Prinsip belajar afektif, 9) Prinsip belajar
psikomotorik, 10) Prinsip pengulangan, balikan, penguatan dan evaluasi.
Berdasarkan pendapat ahli diatas dapat disimpulkan bahwa prinsip belajar adalah hubungan yang terjadi antara pendidik dan peserta didik untuk mendapat tujuan dari proses
pembelajaran, dimana prinsip belajar ini dijadikan sebagai usaha dan upaya dalam mencapai hasil yang diharapkan.
2.1.2. Hakikat Pembelajaran
Pembelajaran dapat dikatakan sebagai suatu proses yang didalamnya terdapat aktivitas-aktivitas belajar seseorang dalam memahami materi dan mendapat pengetahuan baru. Sejalan dengan itu menurut Wahyu (2020: 12) membagi konsep pembelajaran menjadi tiga pengertian diantaranya:
a) Pengertian pembelajaran dalam kuantitatif b) Pengertian pembelajaran dalam institusional c) Pengertian pembelajaran dalam kualiatatif
Fakhrurrazi (2018: 86) menegaskan tekait apa itu pembelajaran, bahwa pembelajaran adalah penggabungan yang rapi meliputi unsur pendidik dan guru, buku, dan alat belajar lainnya, fasilitas serta proses yang mempengaruhi untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Dijelaskan juga oleh Arfani (2016:88) bahwa pembelajaran adalah sebuah kegiatan atau aktivitas peserta ddik dimana didalamnya terdapat proses untuk mengajarkan peserta didik yang terdapat usaha terencana untuk memanipulasi sumber belajar agar dapat terjadinya proses pembelajaran pada diri peserta didik.
Berdasarkan pendapat ahli diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan memerlukan hubungan antara pendidik dan peserta didik, yang dimana saat proses pembelajaran
berlangsung menekankan pada keaktifan dan keterlibatan langsung peserta didik dan pendidik sebagai fasilitator dan motivator.
2.1.2.1. Tujuan Pembelajaran
Pembelajaran mempunyai tujuannya sendiri yang hendak dicapai menurut Warsito (2017: 185) tujuan pembelajaran adalah sikap yang ingin dicapai dan sikap atau perilaku yang dikerjakan peserta didik dalam kondisi dan tingkat kompetensi tertentu.
Ananda (2019: 84) menjelaskan juga bahwa tujuan pembelajaran adalah hasil belajar yang diperoleh setelah proses pembelajaran sudah dilaksanakan yang umumnya meliputi pengetahuan, keterampilan serta sikap yang diharapkan ada pada diri peserta didik.
Merujuk pada pendapat para ahli diatas dapat simpulkan bahwa tujuan pembelajaran adalah hasil belajar yang mengarahkan pada sasaran yang ingin dicapai peserta didik. Hasil belajar tersebut dapat berupa hasil belajar
kognitif, psikomotorik, dan afektif, sehingga belajar dan pembelajaran adalah dua hal yang saling mempengaruhi dan saling berhubungan.
2.1.2.2. Ciri – ciri Pembelajaran
Berdasarkan definisi pembelajaran, maka terdapat ciri-ciri pembelajaran. Ciri pembelajaran menurut James dan Djamarah (2011:5-6) :
1) Terdapat tujuan yang jelas, proses pembelajaran terdapat tujuan yang jelas untuk membantu peserta didik dalam proses pembelajaran
2) Terdapat rancangan rencana, pada pembelajaran harus merumuskan rencana terlebih dahulu seperti rpp dan silabus.
3) Kesaling keterpautan antara unsur-unsur sistem terhadap keseluruhan pembelajaran
4) Pendidik sebagai fasilitator.
Selanjutnya Menurut Haq (2017: 29) terdapat enam ciri pembelajaran:
1) Peserta didik menjadi objek yang aktif dalam proses pembelajaran.
2) Pendidik menyiapkan materi pembelajaran dan mengemasnya sebaik mungkin dengan cara membuat perangkat pembelajaran yang menjadi pendukung.
3) Aktivitas dan kegiatan pembelajaran peserta didik berdasarkan pengamatan juga kajian.
4) Pendidik aktif memberikan pembelajaran yang bermakna dan bertindak sebagai fasilitator dan motivator.
5) Orientasi pembelajaran
6) Pendidik menggunakan teknik mengajar sesuai dengan karakteristik dan tujuan yang ingin dicapai.
Berdasarkan pendapat ahli diatas disimpulkan bahwa ciri pembelajaran adalah adanya proses atau aktivitas belajar
antara peserta didik dan pendidik yang terdiri dari peserta didik yang aktif, pendidik menjadi fasilitator dan
motivator dan sudah adanya tujuan yang direncanakan yang tercantum dalam rpp juga silabus.
2.1.2.3. Komponen Pembelajaran
Komponen merupakan gabungan dari hal yang mendukung proses pembelajaran. Berikut komponen pembelajaran menurut Syam dkk., (2022: 7) komponen utama dalam pembelajaran adalah adanya peserta didik, pendidik, dan sumber belajar. Komponen pembelajaran ditergaskan kembali oleh Dolong (2016:296-298) bahwa komponen pmbelajaran meliputi: 1) Peserta didik, 2) Pendidik, 3) Bahan atau materi, 4) Metode, 5) Media, dan 6) Evaluasi.
Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa komponen pembelajaran adalah hal penting dimana hal yang termasuk kedalam komponen pembelajaran adalah peserta didik, pendidik, sumber belajar, metode, media dan evaluasi.
2.2. Model Pembelajaran Problem Based Learning 2.2.1. Pengertian Model Problem Based Learning
Model Problem Based Learning adalah model pembelajaran yang melibatkan masalah dalam kehidupan nyata dimana memusatkan peserta didik sebagai Student Center dalam proses pembelajaran.
Peneliti memilih model Problem Based Learning untuk mendukung pembelajaran aktif dan bermakna. Model Problem Based Learning ini juga sangat memenuhi kriteria dan karakteristik untuk
menerapkan media pembelajaran Tangga pintar agar kemampuan
pemahaman matematis peserta didik meningkat. Berikut penjelasan dari beberapa ahli mengenai Problem Based Learning:
Ahmad Shofiyudin (2020:12) menerangkan bahwa “Pembelajaran berbasis masalah adalah deskripsi pedagogis aliran Konstruktivisme.
Konstruktivisme merupakan semua pengetahuan yang
dikonstruksikan oleh seseorang itu sendiri, tidak dipahami langsung dengan indera manusia, adapuan indra manusia itu sendiri seperti pendengaran, perabaan, penciuman dan lain sebagainya.
Problem Based Learning menurut Syamsidah & Suryani (2018: 19) adalah model pembelajaran melibatkan peserta didik yang mencoba memecahkan masalah dengan beberapa langkah metode ilmiah kepada peserta didik mereka diharapkan dapat memperoleh
pengetahuan yang berkaitan dengan materi pelajaran dan pada saat yang sama, peserta didik diharapkan dapat memiliki keterampilan memecahkan masalah.
Model pembelajaran Problem Based Learning adalah pembelajaran yang menekankan pada aktivitas pemecahan masalah. Yulianti dan Gunawan (2019:401) “Model pembelajaran berbasis masalah bertujuan untuk membuat peserta didik menantang dan mandiri, terbiasa mengambil inisiatif dan kompeten menggunakan pemikiran kritis untuk memecahkan masalah”. Completeness dan Thompon Caughlin (2018: 2) menegaskan bahwa Problem Based Learning focus on learning on selected issues so that learners not only learn the concepts related to the problem but also the scientific method to solve the problem.
Model pembelajaran Problem Based Learning menitikberatkan pada isu-isu terpilih oleh karena itu peserta didik tidak hanya mempelajari
konsep-konsep yang berkaitan dengan masalah tersebut tetapi juga terkait metode ilmiah untuk memecahkan masalah
Berdasarkan penjelasan para ahli terkait model pembelajaran Problem Based Learning dapat disimpulkan bahwa model Problem Based Learning dalam proses pembelajaran, terkait penyelesaian masalah yang harus diselesaikan oleh peserta didik sehingga dalam proses untuk mengatasi masalah tersebut, peserta didik harus mampu berpikir kritis dan mandiri serta menjadi lebih aktif dalam proses belajar untuk mencapai hasil pembelajaran yang diharapkan, dengan menekankan pada keterlibatan peserta didik (Student Centre) dalam proses pembelajaran yang mengunakan masalah nyata atau masalah yang ada di kehidupan sehari-hari sebagai suatu konteks bagi peserta didik belajar tentang cara berpikir kritis dan kemampuan pemecahan masalah.
2.2.2. Karakteristik Model Problem Based Learning
Karakteristik model Problem Based Learning menurut Rusmiatiwi (2018:296) sebagai berikut:
a. Learning is students centered
b. Authentic problems form the organizing focus for learning c. New information is acquired through self-directed learning, d. Learning occurs in small groups
e. Teachers act as facilitators.
Menurut Alfian ( 2021: 8-9) karakteristik model Problem Based Learning yaitu:
a. Pembelajaran berbasis masalah adalah bagian dari pembelajaran kolaboratif., peserta didik bekerja secara kolaboratif kelompok untuk mencapai tujuan bersama.
b. Model Problem Based Learning adalah model pembelajaran yang masalahnya diselesaikan oleh peserta didik untuk memperoleh pengetahuan baru yang menjadi dasar bagi solusi untuk masalah.
c. Integratif, Target utama model Problem Based Learning ini adalah: mendorong kemampuan peserta didik
d. Evaluasi, karakteristik Model Problem Based Learning yang terkahir adalah Evaluasi, artinya setelah peserta didik dapat menyelesaikan permasalah maka proses terakhir adalah evaluasi terhadap upaya memecahkan masalah tersebut.
Karakteristik model Problem Based Learning diterangkan juga oleh Fauzi (2017: 57) bahwa Model Problem Based Learning memiliki lima karakteristik dasar dalam belajar yaitu Model Problem Based Learning berbasis masalah, peserta didik dituntut untuk
memecahkan masalah dan mengarahkannya untuk menemukan solusi dari permasalahan yang ada di kehidupan nyata, Model Problem Based Learning (bersifat Student Center, model Problem Based Learning menerapkan sikap mandiri pada peserta didik, dan yang terkahir model Problem Based Learning bersifat refletif artinya peserta didik dalam menyelesaikan masalah dan menemukan
masalah dapat diselesaikan dengan diskusi secara berkelompok.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat ditegaskan bahwa Karakteristik utama dari pembelajaran berbasis masalah adalah pemecahan masalah secara terpadu dengan peserta didik itu sendiri yang aktif dalam pemecahan masalah dimana masalah tersebut dapat diselesaikan secara individu atau kelompok kecil.
2.2.3. Langkah-langkah Model Problem Based Learning
Langkah – langkah model Problem Based Learning berdasarkan pada Ramlawati (2017:5) yaitu:
a. Orientasi peserta didik pada masalah
b. Mengorganisasikan peserta didik untuk belajar c. Membimbing penyelidikan individual atau kelompok d. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
e. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Adapun langkah-langkah model Problem Based Learning menurut Ariyani dan Kristin (2021: 354) tahap awal pembelajaran dimulai dengan disajikannya suatu permasalahan, kemudian peserta didik mengidentifikasi permasalahan, tahap selanjutnya penyelesaian dan merancang tujuan akhir yang hendak dicapai, langkah terakhir peserta didik mengumpulkan banyak informasi melalui berbagai sumber baik itu dari buku atau internet.
Langkah - langkah model Problem Based Learning menurut Syamsidah & Suryani (2018: 19) sebagai berikut :
a. Mendefinisikan masalah
Merumuskan masalah dari peristiwa atau kasus tertentu sehingga peserta didik dengan jelas dapat mengkaji masalah b. Mendiagnosis masalah
Mendiagnosis masalah artinya peserta didik menetapkan sebab dan akibat terjadinya permasalahan
c. Merumuskan alternatif strategi
Talam tahap ini peserta didik menguji setiap tindakan yang dirumuskan lewat diskusi kelas.
d. Menemukan dan menerapkan strategi pilihan
Tahap ini peserta didik memutuskan strategi mana yang akan dilakukan.
e. Evaluasi
Peserta didik dalam tahap ini melakukan evaluasi terhadap apa yang sudah di lakukan. Dalam tahap ini juga peserta didik dapat memilih alternatif penyelesaian.
Berdasarkan langkah - langkah Model Problem Based Learning yang dikemukakan oleh para ahli diatas sehingga Peneliti
memutuskan untuk menggunakan langkah - langkah pembelajaran
menurut Ahyar, hal ini dikarenakan menurut peneliti pada langkah - langkah yang dikemukan Ahyar dapat mudah dipahami dan di mengerti serta berkesinambungan dengan indikator kemampuan pemahaman matematis peserta didik.
2.2.4. Kelebihan dan Kekurangan model Problem Based Learning Kelebihan dan kekurangan model Problem Based Learning Sunita (2019:15) menjelaskan kelebihan dan kekurangan model Problem Based Learning dalam pelaksanaannya.
a. Kelebihan model Problem Based Learningmenurut Sunita : Kelebihan model Problem Based Learning sebagai berikut :
1. Realistik dengan kehidupan peserta didik 2. Konsep sesuai dengan kebutuhan peserta didik 3. Memupuk sifat inquiry peserta didik
4. Retensi konsep jadi kuat
5. Memupuk kemampuan problem solving
b. Kekurangan dari model Problem Based Learning menurut Sunita:
Kekurangan dari model Problem Based Learning sebagai berikut : 1. Persiapan pembelajaran kompleks
2. Sulitnya mencari problem yang relevan 3. Sering terjadi miss-konsepsi
4. Model ini memerlukan waktu yang tidak sedikit'
Sedangkan menurut Noviansyah (2019 : 35) mengemukakan kelebihan dan kekurangan model Problem Based Learning adalah sebagai berikut.
a. Kelebihan model Problem Based Learning:
1. Melatih peserta didik untuk mendesign suatu penemuan 2. Berfikir dan bertindak kreatif
3. Peserta didik dapat memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis
4. Mengidentifikasi dan mengevaluasi penyelidikan 5. Menafasirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan 6. Merangsang bagi perkembangan kemajuan berfikir
peserta didik
7. Membuat pendidikan lebih relevan dengan kehidupan.
b. Kekurangan penggunaan model Problem Based Learning : 1. Beberapa pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan
Problem Based Learning 2. Membutuhkan alokasi waktu 3. Pembelajaran berdasarkan masalah
Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat simpulkan bahwa model Problem Based Learning merupakan salah satu model pembelajaran yang baik dan cocok diterapkan untuk peserta didik dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk memecahkan suatu permasalahan. Dalam model Problem Based Learning juga menutut peserta didik untuk aktif dalam prose pembelajaran sehingga Pembelajaran lebih bermakna disamping itu kekurangan dari model Problem Based Learning sendiri adalah model Problem Based Learning tidak bisa diterapkan secara penuh dengan semua materi pelajaran.
2.3. Media Tangga Pintar
2.3.1. Pengertian Media Tangga Pintar
Media tangga pintar menurut Yuli (2018 : 60) adalah "media pembelajaran yang berbantuk tiga dimensi". Arif (2020: 10)
menjelaskan juga bahwa media tangga pintar merupakan media yang dibuat tanpa adanya proyeksi dengan penyajian 3 dimensi. Berdasar dari dari Alas dan Situbondo (2013: 4) bahwa Media tiga dimensi adalah media yang menyerupai benda asli untuk difungsikan sebagai alat tiruan agar proses pembelajaran berjalan efektif.
Berdasarkan pendapat ahli diatas disimpulkan bahwa media pembelajaran Tangga pintar adalah salah satu media yang dibuat seperti tangga dengan bentuk tiga dimensi.
Media tiga dimensi adalah sekelompok Media yang tidak memiliki Proyeksi dengan presentasi visual tiga dimensi. Media ini dapat dijadikan sebagai objek awal hidup atau mati, dan juga dalam bentuk tiruan mewakili aslinya. Sebagai alat bantu, media pembelajaran tangga pintar ini mempunyai konsep matematis pembagian dan perkalian serta memamahi satuan jarak mulai dari KM sampai MM, untuk menambah semangat dan menarik perhatian peserta didik peneliti menambahkan ornamen - ornamen pendukung agar media pembelajaran terlihat menarik seperti gambar kupu-kupu, Matahari, rumput dan pohon. Peneliti juga memberikan warna-warna yang mencolok pada media pembelajaran. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik dapat berperan aktif dalam pembelajaran dengan semangat. Media pembelajaran tangga pintar ini Peneliti
mengadaptasi dan memodifikasi dari penelitian yang dilakukan oleh Amalia Yunia Rahmawati dengan judul penelitian "Pengaruh
Penggunaan Media Pembelajaran Tangga Pintar dan Ular Tangga Pintar Pada Penjumlahan dan Pengurangan terhadap Motivasi Belajar Peserta didik Kelas 1 pada Pembelajaran Matematika di MI Ma'Arif Polorejo".
2.3.2. Langkah - langkah Pengoperasionalan Media Tangga Pintar Langkah - langkah pengoperasionalan media pembelajaran tangga pintar menurut Lestari (2021: 26) setiap turun satu anak tangga akan dikali sepuluh dan naik satu tangga dibagi sepuluh. Arif (2020:11) menjelaskan juga terkait langkah pengoperasionalan media tangga pintar hampir sama saja dengan cara penggunaan anak tangga pada umumnya, menaiki anak tangga artinya menambahkan jumlah dalam hal ini materi satuan panjang atau pengukuran dibagi sepuluh serta menuruni anak tangga mengurangi jumlah dalam hal ini pada materi satuan panjang atau pengukuran artinya dikali sepuluh.
Berdasarkan Langkah - langkah Pengoperasionalan Media pembelajaran tangga pintar menurut para ahli diatas Peneliti merumuskan dan mengadaptasi pengoperasionalannya diantaranya sebagai berikut :
a. Menyiapkan alat dan bahan yaitu : Media tangga pintar tiga dimensi, angka-angka yang sudah diberi tusuk gigi bagian bawahnya, dan soal untuk menghitung jarak
b. Peneliti menjelaskan konsep pemahaman terkait materi satuan jarak kepada peserta didik.
c. Peneliti menunjukan contoh bagaimana cara penggunaan media tangga pintar.
d. Peserta didik bergantian mempraktikkan penggunaan tangga pintar.
e. Jika soal yang diberikan mengetahui jarak M ke KM artinya tangga naik sehingga angka akan di bagi 10 begitu juga
sebaliknya. Cara agar penghitungannya mudah menggunakan stik angka yang sudah di siapkan.
f. Setiap soal yang diberikan akan diberikan waktu berpikir.
g. Jika peserta didik dapat menjawab dengan benar maka bisa diperbolehkan duduk kembali.
2.3.3. Karakteristik Media Pembelajaran Tangga Pintar
Media pembelajaran tangga pintar adalah alat bantu ajar sederhana yang dikemas secara menarik dengan menggunakan warna - warna mencolok untuk menarik perhatian peserta didik. Tangga pintar sebagai media pembelajaran yang Peneliti gunakan memiliki karakteristik sebagai berikut :
a. Media pembelajaran yang simpel dan sederhana
b. Media pembelajaran kreatif dan menyenangkan untuk peserta didik
c. Terbuat dari bahan dengan harga yang lebih murah d. Cara penggunaan yang mudah dan praktis
e. Memberikan stimulus kemampuan pemahaman konsep dengan cara mencari jawaban dari soal satuan jarak melalui masalah dalam kehidupan sehari – hari
f. Peserta didik dibuat antusias dengan mencari angka - angka warna - warni yang sudah di beri tusuk gigi pada bagian bawahnya untuk mencapkan pada rel tangga setiap satuan jarak.
g. Mempunyai kekurangan mudah rusak jika tidak berhati-hati menggunakannya, karena terbuat dari sterofoam .
2.4. Kemampuan Pemahaman Matematis
2.4.1. Pengertian Kemampuan Pemahaman Matematis
Kata mampu merupakan kata dasar dari kata kemampuan dengan penambahan imbuhan ke dan an. kemampuan dapat diartikan sebagai kesediaan atau kesanggupan seseorang untuk melakukan sutau pekerjaan atau suatu hal. Sejalan dengan itu Sari (2022: 12) menjelaskan bahwa kemampuan berasal dari kata mampu yang berarti sanggup, menjadi kemampuan artinya kesanggupan, dimana artinya adalah kapasitas seseorang untuk melaksanakan suatu hal.
Pemahaman adalah bagian yang sangat penting dalam proses belajar dan pemecahan masalah, kata kunci dalam keberhasilan matematika adalah pemahaman peserta didik. Pokok utama yang sering dihadapi dalam mata pelajaran matematika adalah pemahaman. Menurut Alan dan Afriansyah (2017: 69) Pemahaman adalah kemampuan untuk mendeskripsikan situasi atau tindakan. Dikatakan bahwa seorang mengerti, jika dia bisa menjelaskan kembali apa yang perlu dari bahan atau konsep yang diperoleh.
Lesmana (2022: 95) menjelaskan bahwa Pemahaman memiliki 3 macam yaitu 1) pengubahan atau translation maksudnya adalah mengubah suatu soal kata-kata kedalam bentuk simbol atau sebaliknya, 2) interpretasi yaitu menggunakan konsep yang sesuai
dengan soal yang diberikan, 3) ekstrapolasi adalah mengaplikasikan konsep kedalam perhitungan matematis. Sari (2016: 2) mempertegas bahwa Kemampuan pemahaman matematis merupakan hal yang penting dalam proses pembelajaran, hal tersebut bermaksud bahwa materi yang diajarkan kepada peserta didik tidak djadikan hafalan, namun lebih dari itu peserta didik dapat mengerti akan konsep dari materi yang dijelaskan atau yang sedang dipelajari. Pemahaman matematis lebih rinci dijelaskan Darmawan (2022: 102) oleh NCTM bahwa pemahaman matematis adalah konsep secara verbal dan non verbal (tulisan), membuat contoh dan bukan contoh,
mempresentasikan konsep, diagram dan simbol, mengubah bentuk representasi ke bentuk representasi yang lain, mengenal macam- macam makna, menganlisis sifat dan mengetahui syarat-syarat yang menentukan konsep.
Pemahaman matematis menurut Lesmana (2022: 95) adalah keterampilan dasar dalam proses pembelajaran matematika seperti mengingat materi, menghafal rumus, konsep matematika dan
menerapkannya kedalam permasalahan kehidupan sehari-hari, dalam proses belajar matematika, memahami matematika merupakan bagian yang sangat penting bahwa Mata pelajaran yang diajarkan kepada peserta didik tidak seperti menghafal, tetapi lebih dari itu agar pemahaman peserta didik bisa lebih baik memahami konsep topik untuk disampaikan. Nurapriani dkk., (2020: 1 ) menjelaskan bahwa kemampuan pemahaman matematis dalam matematika adalah kemampuan paling dasar. Hal terpenting dalam matematika adalah peserta didik dapat menyelesaikan masalah, dan dalam
menyelesaikan masalah dalam matematika adalah dengan kemampuan pemahaman matematis.
Menurut beberapa pendapat para ahli, Peneliti menyimpulkan bahwa pemahaman matematis adalah pengetahuan peserta didik tentang konsep, prinsip, prosedur, dan kemampuan peserta didik
menggunakan strategi solusi terhadap sebuah masalah. Seseorang mampu memahami secara matematis berarti orang tersebut
mengetahui apa yang telah mereka pelajari, tindakan telah diambil, mungkin menggunakan konsep dalam konteks matematika dan di luar konteks matematika. Kemampuan pemahaman matematis sangat diperlukan untuk bekal memahami materi selanjutnya dengan materi yang pastinya meningkat dari sebelumnya, sehingga pemahaman matematis yang didapat dari materi sebelumnya dijadikan bekal untuk materi selanjutnya. Sehingga kemampuan pemahaman matematis adalah kesanggupan peserta didik dalam menyelesaikan permasalahan dengan menggunakan cara penyelesaian yang sesuai.
2.4.2. Karakteristik Pemahaman Matematis
Pemahaman matematis memiliki karakteristik tertentu salah satunya adalah didalam pemahaman matematis terdapat konsep – konsep matematis disebabkan peserta didik diwajibkan memahami pengetahuan – pengetahuan yang mencakup ranah pembelajaran yang diampu.
Berdasarkan Permendikbud No. 22 Tahun 2016 salah satu tujuan pembelajaran matematika adalah:
(a) Memahami konsep matematika, mendeskripsikan bagaimana keterkaitan antar konsep matematika dan menerapkan konsep atau algoritma secara efisien, luwes, akurat dan tepat dalam memecahkan masalah secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah.
(b) Menalar pola sifat dari matematika, mengembangkan atau memanipuasi matematika dalam menyusun argumen, merumuskan bukti, atau mendeskripsikan argumen dalam pernyataan matematika.
(c) Memecahkan masalah matematika yang meliputi kemampuan memahami masalah, menyusun model penyeleaian matematika, dan memberi solusi yang tepat.
(d) Mengkomunikasikan argumen atau gagasan dengan diagram, tabel, simbol, atau media lain untuk memperjelas permasalahan.
Rendahnya kemampuan pemahaman konsep matematis peserta didik, bisa disebabkan oleh beberapa faktor, baik itu faktor eksternal guru maupun faktor internal peserta didik. Faktor eksternal yang berasal dari luar diri peserta didik, seperti metode atau strategi pembelajaran.
Sementara itu faktor internal yang berasal dari dalam diri peserta didik, seperti emosi dan sikap terhadap matematika. Yanti dan Ramadhani (2019: 95) Karakeristik pemahaman matematis tesusun secara hierarkis, dimana karakteristik yang satu menjadi dasar karakteristik lainnya, oleh karena itu karakteristik pemahaman matematis memuat konsep matematis karena suatu ide yang diterima secara luas dalam pendidikan peserta didik perlu memahami
pengetahuan-pengetahuan yang terdapat didalam cakupan pembelajaran yang diampu. Sejalan dengan itu karakteristik pemahaman matematis
Menurut Kartika (2018: 778) Karakteristik pemahaman matematis dapat dirumuskan melalui strategi pembelajaran, pengaplikasian perhitungan sederhana, penggunaan simbol untuk mempresentasikan konsep, dan mengubah bentuk satu ke bentuk yang lain.
Berdasarkan penjelasan diatas maka karakteristik pemahaman matemastis perlu adanya pemahaman dan strategi dalam
menyelesaikan soal matematika mlai dari soal sederhana hingga soal cerita, bagaimana peserta didik memilih prosedur penyelesaian yang sesuai dengan konsep matematisnya.
2.4.3. Indikator Pemahaman Matematis
Indikator Kemampuan pemahaman konse matematis, menurut Menurut Rahayu dan Pujiastuti (2018: 96) adalah sebagai berikut:
Ciri dari peserta didik yang mempunyai kemampuan
pemahaman konsep yang baik, apabila peserta didik tesebut dapat menunjukkan indikator-indikator pemahamn konsep dalam tes. Indikator-indikator pemahaman konsep menurut Sumarmo dalam yaitu, (1) Menyatakan ulang sebuah konsep;
(2) Mengklasifikasi objek-objek menurut sifat-sifat tertentu (sesuai dengan konsepnya); (3) Memberikan contoh dan non- contoh dari konsep; (4) Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis; (5) mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu konsep; (6) Menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tertentu; (7) Mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah.
Indikator kemampuan pemahaman matematis menurut pendapat Mulyani dkk., (2018: 252) membedakan dua jenis pemahaman, yaitu:
(1) Pemahaman komputasional, yaitu dapat menerapkan konsep atau rumus pada perhitungan rutin atau sederhana, atau mengerjakan sesuatu secara algoritmik saja; (2) Pemahaman fungsional yaitu dapat mengaitkan suatu konsep dengan konsep lainnya secara benar dan menyadari proses yang dilakukan.
Indikator pemahaman matematis menurut Nuraeni (2018: 977) diantaranya yaitu:
1) Menyatakan ulang sebuah konsep
2) Mengklasifikasikan objek tertentu yang sesuai
3) Mengidentifikasi contoh dan bukan contoh dari suatu konsep 4) Menggunakan dan memilih prosedur penyelesaian
5) Menerapkan konsep dalam algoritma
Berdasarkan pendapat para ahli diatas peneliti memutuskan untuk menggunakan indikator pemahaman matematis yang dikemukakan oleh Nuraeni. Peneliti memilih indikator tesebut karena sesuai dengan pendekatan pembelajaran dan model pembelajaran serta indikator tersebut telah menerangkan pemahaman matematis.
2.5. Penelitian Relevan
Penelitian terdahulu yang peneliti sajikan adalah upaya untuk
menyempurnakan skripsi yang peneliti tulis untuk mencari perbandingan, adapun beberapa penelitian yang relevan sebagai berikut :
a. Devika Aulia (2022) " Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning Berbantuan Video YouTube terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Kelas V Madrasah Ibtidaiyah". Pada penelitian ini menggunakan metode Quasi Experimental Group Design, dengan hasil penelitian Terdapat pengaruh serta perbedaan pembelajaran dengan Model Pembelajaran Problem Based Learning Berbantuan Video YouTube. Persamaan dan perbedaan dengan Penelitian Devika Aulia tahun 2022 dengan judul "Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning Berbantuan Video YouTube terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Kelas V Madrasah Ibtidaiyah" persamaan dengan penelitian yang peneliti lakukan terdapat dalam model
pembelajaran yang digunakan yaitu Model Problem Based Learning (PBL), persamaan kedua sama - sama menggunakan bantuan media pembelajaran penelitian oleh Devika Aulia menggunakan bantuan media Video YouTube sedangkan bantuan media peneliti menggunakan Media Tangga Pintar, perbedaan penelitian terdapat pada Varibel bebas, varibel bebas yang peneliti gunakan adalah "Pemahaman Matematis Peserta didik" sedangkan variabel bebas dalam penelitian Devika Aulia adalah "Berpikir Kritis Peserta didik".
b. Amalia Yunia Rahmawati (2020) "Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran Tangga Pintar dan Ular Tangga Pintar Pada Penjumlahan dan Pengurangan terhadap Motivasi Belajar Peserta didik Kelas 1 pada Pembelajaran Matematika di MI Ma'Arif Polorejo". Menggunakan metode penelitian Eksperimen dengan pendekatan Penelitian kuantitatif, dengan hasil penelitian Hasil Penelitian menunjukan bahwa media tangga pintar dan ular tangga pintar berpengaruh secara signifikan
terhadap motivasi belajar peserta didik, kedua Media ini dapat
menumbuhkan motivasi belajar dan membuat suasana belajar di kelas yang berbeda. Persamaan dan perbedaan dengan Penelitian Amalia Yunia Rahmawati tahun 2020 dengan judul "Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran Tangga Pintar dan Ular Tangga Pintar Pada Penjumlahan dan Pengurangan terhadap Motivasi Belajar Peserta didik Kelas 1 pada Pembelajaran Matematika di MI Ma'Arif Polorejo"
persamaan dengan penelitian ini terletak pada Penggunaan Media pembelajaran yaitu sama-sama menggunakan media pembelajaran Tangga Pintar. Perbedaan dengan Penelitian ini adalah variabel bebas pada penelitian ini "Motivasi Belajar Peserta didik" sedangkan Variabel bebas peneliti "Pemahaman Matematis, perbedaan kedua Penelitian ini menggunakan tiga varibel yaitu Media Pembelajaran Tangga Pintar (X1) dan Ular Tangga Pintar (X2) dan Motivasi Belajar Peserta didik (y) sedangkan peneliti menggunakan dua Variabel, variabel X Model Problem Based Learning Berbantuan Media Tangga Pintar dan variabel y Pemahaman matematis peserta didik.
c. Yohana dan Agustina (2020) "Meta Analisis Efektivitas Pembelajaran Kontekstual terhadap Kemampuan Pemahaman Matematis Bagi Peserta didik Sekolah Dasar". Menggunakan metode penelitian Pembanding Kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian pemebelajaran Kontekstual Efektif dalam meningkatkan Kemampuan pemahaman Matematis peserta didik 7,4% sampai dengan 117,49% dengan rata - rata
peningkatan 46,59%. Pembelajaran Kontekstual untuk meningkatkan kemampuan pemahaman matematis peserta didik memberikan pengaruh yang berbeda-beda juga dipengaruhi oleh keberhasilan peserta didik dalam belajar. Persamaan dan perbedaan dengan Penelitian Yohana dan Agustina tahun 2020 dengan judul "Meta Analisis Efektivitas
Pembelajaran Kontekstual terhadap Kemampuan Pemahaman
Matematis Bagi Peserta didik Sekolah Dasar" persamaan yang pertama yaitu sama-sama menggunakan dua variabel, persamaan kedua terletak
pada variabel bebas "Pemahaman Matematis", perbedaan terletak pada varibel terikat dalam penelitian ini menggunakan pembelajaran
Kontekstual sedangkan peneliti menggunakan model Problem Based Learning.
d. Tri Noviansyah, Maman Surahman, dan Amrina Izzatika (2019)
"Pengaruh Model Problem Based Learning Menggunakan Alat Peraga Terhadap Hasil Belajar". Variabel penelitiannya yaitu Pengaruh Model Problem Based Learning Menggunakan Alat Peraga (X) Hasil Belajar (Y). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quasi
experiment dengan hasil penelitian dengan regresi linier sederhana bahwa ada pengaruh model Problem Based Learning Menggunakan Alat Peraga Terhadap Hasil Belajar pada pembelajaran IPA terpadu peserta didik kelas V SD. Persamaan dengan penelitian ini terletak pada dua variabel yang digunakan, dan persamaan pada variabel bebas yaitu menggunakan model Problem Based Learning menggunakan alat peraga atau media pembelajaran. Perbedaan dengan penelitian ini terletak pada variabel terikat yang digunakan, variabel terikat pada penlitian ini adalah hasil belajar sedangkan variabel bebas peneliti adalah kemampuan pemahaman matematis peserta didik.
2.6. Kerangka Pikir
Kerangka Pikir adalah deskripsi yang terdapat konsep untuk menjelaskan hubungan antara variabel satu dengan variabel lainnya. Menurut Hardani dan Ahyar (2020: 314) kerangka pikir adalah model konseptual tentang bagaimana teori terkait dengan berbagai faktor yang diidentifikasi sebagai suatu masalah yang penting. Kerangka pikir yang baik akan menjelaskan hubungan antara variabel terikat dan variabel bebas. Dalam penelitian ini variabel terikatnya adalah model pembelajaran Problem Based Learning berbantuan media tangga pintar sedangkan variabel bebas dalam penelitian ini adalah kemampuan pemahaman matematis peserta didik.