• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN LITERATUR 2.1.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB II TINJAUAN LITERATUR 2.1."

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

9 2.1. Kajian Teoritis

2.1.1 Administrasi Publik

2.1.1.1 Pengertian Administrasi Publik

Administrasi publik dapat dilihat sebagai suatu proses politik, yaitu sebagai salah satu metode memerintah suatu negara dan dapat juga dianggap sebagai cara yang prinsip untuk melakukan berbagai fungsi negara. Dengan kata lain administrasi publik bukan hanya sekedar persoalan administratif tetapi juga persoalan politik (Prajudi, 2006 : 56).

Kata “administrasi” yang saat ini kita kenal di Indonesia berasal dari kata administrate (Latin : ad = pada, ministrate = melayani). Dengan demikian tinjaun dari

asal kata administrasi berarti “memberikan pelayanan kepada” artinya administrasi merupakan suatu kegiatan yang bersifat memberikan pelayanan atau servis sesuai dengan kebijakan yang ditentukan oleh yang memberikan tugas, kewajiban dan tanggungjawab kepadanya. Kata “administrasi” juga berasal dari kata “administration”

(to administer). Kata to administer dapat berarti to manage (mengelola) dan to direct (menggerakan). Ini berarti administrasi merupakan kegiatan mengelola atau menggerakan yang memilki arti sesungguhnya adalah suatu kegiatan yang punya makna luas meliputi segenap aktivitas untuk menetapkan kebijakan serta pelaksanaannya. Kata “administrasi” juga berasal dari bahasa Belanda administratie yang pengertiannya mencakup stelseimatige verkrijging en verweking van gegeven (tata usaha), bestuur (manajemen organisasi) dan beheer (manajemen sumberdaya).

(2)

Dari asal kata ini administrasi mencakup kegiatan penatausahaan dan manajemen, yang artinya suatu kegiatan yang bersifat hanya terbatas pada catat mencatat atau ketatausahaan (Syamsuddin, 2010 : 1).

Administrasi publik merupakan terjemahan dari bahasa Inggris yakni public administration yang berarti administrasi negara atau administrasi pemerintahan

(Syamsudin, 2010:110). Beberapa pengertian administrasi publik dapat dikemukakan pendapat para pakar sebagai berikut:

1. Menurut R.C. Chandler dan J.C Plano (dalam Sjamsuddin, 2010:114) administrasi publik adalah proses dimana sumber daya dan personel publik di organisir dan di koordinasikan untuk memformulasikan, mengimplementasikan dan mengelola (manage) keputusan-keputusan dalam kebijakan publik.

2. Menurut H.E. McCurdy (dalam Sjamsuddin, 2010:114) menyatakan administrasi sebagai suatu proses politik yaitu : sebagai salah satu metode memerintah suatu negara dan dapat juga di anggap sebagai cara prinsipil untuk melakukan berbagai fungsi negara.

3. Menurut Nicholas Henry (dalam Sjamsuddin, 2010:116) administrasi publik adalah suatu kombinasi yang kompleks antara teori dan praktik, dengan tujuan mempromosikan pemahaman terhadap pemerintah dalam hubungannya dengan masyarakat yang di perintah dan juga mendorong kebijakan publik agar lebih responsive terhadap kebutuhan sosial.

Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa administrasi publik adalah suatu proses kerjasama yang dilakukan antara pemerintah dengan masyarakat untuk melakukan berbagai fungsi negara serta dapat mengimplementasikan dan mengelola keputusan kebijakan publik.

Makna administrasi publik dapat dilihat juga dari persepsi orang tentang kata

“administrasi publik” itu sendiri. Ada yang mempersepsikan administrasi publik sebagai administrasi tentang publik, administrasi untuk publik, administrasi dengan publik. Administrasi dengan publik menunjukkan bagaimana pemerintah berperan sebagai agen tunggal yang berkuasa yang selalu aktif dan berinisiatif untuk mengatur

(3)

atau mengambil langkah dan prakarsa, yang menurut meraka penting bagi masyarakat.

Masyarakat diperlakukan sebagai pihak yang pasif, kurang mampu, dan harus tunduk dan menerima apa saja yang dilakukan pemerintah.

Administrasi untuk publik dipersepsikan lebih maju dari yang diatas, yaitu pemerintah berperan dalam mengemban misi pemberian pelayanan terhadap publik (service provider). Disini pemerintah sudah lebih responsive atau lebih tanggap apa yang dibutuhkan masyarakat dan mencari cara pemberian pelayanan terbaik untuk publik. Meskipun kebutuhan publik merupakan sasaran utama kegiatan pemerintah, namun seringkali pemerintah tidak berupaya menolong publik dan besar kemungkinan memperdaya publik.

Administrasi dengan publik membawa suatu makna yang sangat perorientasi kepada pemberdayaan masyarakat, lebih megutamakan kemandirian dan kemampuan masyarakat. Dalam hal ini, kegiatan lebih mengarah kepada “empowerment” yaitu pemerintah berusaha menfasilitasi masyarakat agar mampu mengatur hidupnya tanpa harus bergantung terus-menerus kepada pemerintah.

Dari beberapa pengertian tersebut penulis menyimpulkan bahwa pelaksanaan administrasi publik meniscayakan akan adanya suatu tata kelola yang demokratis dan amanah. Dari perspektif keberlangsungan sebuah negara, administrasi publik memegang peranan yang sangat penting karena apabila mampu dilaksanakan dengan baik akan mampu menghindarkan terjadinya apa yang disebut.

2.1.1.2 Ruang Lingkup Administrasi Publik

Administrasi publik memiliki ruang lingkup yang secara implisit berhubungan dengan tata pemerintahan, seperti yang diungkapkan oleh Syafiie (2006:27) bahwa

(4)

ruang lingkup administrasi publik meliputi sebagai berikut: dibidang hubungan, perisitiwa dan gejala pemerintahan yang banyak ditulis pakar pemerintahan meliputi administrasi pemerintahan pusat; administrasi pemerintahan daerah; administrasi pemerintahan kecamatan; administrasi pemerintahan kelurahan; administrasi pemerintahan desa; administrasi pemerintahan kota madya; administrasi pemerintahan kota; administrasi pemerintahan; administrative departemen; administrative no- departemen. Di bidang kekuasaan yang banyak ditulis oleh pakar ilmu politik luar

negeri; administrasi politik dalam negeri; administrasi partai politik; posisi masyarakat LSM; administrasi kebijakan pemerintahan; policy, wisdom, kondisi, peran pemerintah.

Cakupan atau ruang lingkup administrasi publik sangat kompleks tergantung dari perkembangan kebutuhan yang dihadapi masyarakat. Menurut Pasolong (2008:21) mengemukakan ada delapan ruang lingkup administrasi publik yaitu, “kebijakan publik, birokrasi publik, manajemen publik, kepemimpinan, pelayanan publik, administrasi kepegawaian negara, kinerja dan etika administrasi publik”. Sedangan menurut pendapat Henry sebagaimana dikutip oleh Pasolong (2008:19) menyebutkan ruang lingkup administrasi publik terdiri dari:

1. Organisasi publik, pada prinsipnya berkenaan dengan model-model organisasi dan perilaku birokrasi

2. Manajemen publik, yaitu berkenaan dengan sistem dan ilmu manajemen, evaluasi program dan produktivitas, anggaran publik, dan manajemen sumber daya manusia 3. Implementasi yaitu menyangkut pendekatan terhadap kebijakan publik dan

implementasinya, privatisasi, administrasi antar pemerintahan, dan etika birokrasi.

(5)

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa ruang lingkup administrasi publik meliputi organisasi publik, kebijakan publik, birokrasi publik, manajemen publik, kepemimpinan, pelayanan publik, administrasi kepegawaian negara, kinerja, dan etika administrasi publik, ruang lingkup administrasi publik di bidang hubungan, peristiwa dan gejala pemerintahan, dan ruang lingkup administrasi publik di bidang kekuasaan.

2.1.1.3 Faktor – faktor Administrasi Publik

Dalam ilmu administrasi khusunya sektor publik memiliki beberapa faktor yang menjadi perbedaan dengan sektor bisnis. Berikut ini merupakan faktor-faktor administrasi publik (Syamsuddin, 2010: 120), yakni:

1. Tujuan

Administrasi Publik memiliki tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan publik atau masyarakat dalam suatu negara atau daerah.

2. Motif

Motif dari seluruh proses kegiatan dari administrasi publik adalah pemberian pelayanan yang seluas-luasnya dan sebaik-baiknya pada seluruh masyarakat.

3. Wilayah Yurisdiksi

Administrasi publik mempunyai batas wilayah kekuasaan, yaitu dalam batas wilayah negara atau daerah yang telah ditentukan melalui peraturan perundang- undangan yang berlaku.

4. Sumber Kekuasaan

(6)

Administrasi publik memperoleh kekuasaan dari rakyat baik secara langsung maupun melalui perwakilan dalam menjalankan kegiatannya. Artinya, rakyat yang berdaulat.

5. Cara Kerja

Cara kerja administrasi publik sangat ketat sebat diatur oleh serangkaian peraturan perundang-undangan yang kaku, aturan yang legal sehingga terkesan lamban.

6. Proses dan Cara Kerja

Proses dan cara kerja administrasi publik lebih mengutamakan prosedur, yaitu berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan bersifat birokratik, pendekatan legalistic, sehingga terkesan lamban.

7. Status Kepegawaian

Status kepegawaian dalam administrasi publik disebut sebagai pegawai negeri yang sistem penerimaan, pengangkatan, promosi, penggajian dan pemberhentiannya diatur dalam peraturan perundang-undangan. Administrasi negara tidak mudah memasukkan dan mengeluarkan pegawainya.

8. Sifat Pelayanan

Sifat pelayanan yang diberikan administrasi publik memberikan pelayanan yang sama kepada seluruh warga masyarakat.

9. Orientasi Kebijakan

Administras publik berorientasi pada peningkatan partisipasi semua golongan masyarakat agar menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab.

10. Otoritas

(7)

Jangkauan otoritas dari administrasi publik yaitu dapat mengatur dan memerintah semua orang yang ada dalam wilayah kekuasaan negara atau daerah.

2.1.2 Implementasi Kebijakan

2.1.2.1 Pengertian Implementasi Kebijakan

Implementasi kebijakan adalah bagian dari rangkaian proses kebijakan publik.

Proses kebijakan adalah suatu rangkaian tahap yang saling bergantung yang diatur menurut urutan waktu: penyusunan agenda, formulasi kebijakan, adopsi kebijakan, dan penilaian kebijakan (Winarno, 2007 : 29).

Meski demikian, harus diakui bahwa studi tentang implementasi kebijakan kurang mendapat perhatian dikalangan ilmuwan politik maupun policy maker (Winarno, 2007 : 104). Sebenarnya hal ini bukan berarti bahwa studi tentang implementasi kebijakan tidak terlalu penting melainkan karena rumitnya kompleksitas interelasi yang terdapat di dalamnya. Implementasi Kebijakan yang dinyatakan Winarno (2007:105) :

“implementasi kebijakan tidak berarti bahwa proses implementasi diabaikan oleh para pembuat kebijakan dan analisis-analisis kebijakan, dan juga tidak berarti bahwa hambatan-hambatan tersebut tidak dapat diatasi. Beberapa ilmuwan politik maupun pembuat kebijakan telah mulai mengembangkan studi implementasi kebijakan. Salah satu faktor yang menjadi pendorong adalah akibat dari hasil-hasil yang mengecewakan dari program-program sosial yang bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang membantu pemahaman proses implementasi kebijakan”.

Hasil-hasil implementasi kebijakan pemerintah yang mengecawakan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor baik dari luar maupun dari dalam sehingga tujuan implemntasi kurang optimal. Kamus Webster dalam Wahab (2004:64) merumuskan implementasi secara pendek bahwa to implement (mengimplementasikan) berarti to provide the means for carrying out (menyediakan sarana untuk melaksanakan sesuatu);

(8)

to give practical effect (menimbulkan dampak/akibat terhadap sesuatu). Implikasi dari

pandangan ini maka implementasi kebijakan dapat dipandang sebagai suatu proses melaksanakan keputusan kebijakan (biasanya dalam bentuk undang-undang, peraturan pemerintah, keputusan peradilan, perintah eksekutif, dan dekrit presiden).

Implementasi pelaksanaan keputusan kebijakan menurut Pressman dan Wildavsky dalam Wahab (2004 : 65) menyatakan bahwa sebuah kata kerja mengimplementasikan itu sudah sepantasnya terkait langsung dengan kata benda kebijaksanaan. Senada dengan ini, Van Meter dan Van Horn memberikan batasan terhadap konsep implementasi dengan menyatakan bahwa implementasi kebijakan adalah:

Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individu-individu (atau kelompok- kelompok), pemerintah, atau swasta yang diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam keputusan-keputusan kebijakan sebelumnya.

Tindakan-tindakan ini mencakup usaha-usaha untuk mencapai perubahan- perubahan besar dan kecil yang ditetapkan oleh keputusan-keputusan kebijakan.

Untuk mencapai tujuan sebuah implementasi sebuah kebijakan diperlukan tindakan dalam usaha mencapai suatu perubahan baik besar maupun kecil, dimana dalam melaksanakan usaha tersebut tidak lepas dari sebuah masalah. Jones dalam Tangkilisan (2003 : 67) menganalisis masalah pelaksanaan kebijakan dengan mendasarkan pada konsepsi kegiatan-kegiatan fungsional.

Jones mengemukakan beberapa dimensi dari implementasi pemerintahan mengenai program-program yang sudah disahkan, kemudian menentukan implementasi, juga membahas aktor-aktor yang terlibat dengan memfokuskan pada birokrasi yang merupakan lembaga eksekutor. Jadi implementasi merupakan suatu proses yang dinamis yang melibatkan secara terus menerus usaha-usaha untuk mencari apa yang akan dan dapat dilakukan.

(9)

Dengan demikian implementasi mengatur kegiatan-kegiatan yang mengarah pada penempatan suatu program kedalam tujuan kebijakan yang diinginkan.Tiga kegiatan utama yang paling penting dalam implementasi keputusan menurut Tangkilisan (2003 : 19) adalah:

1. Penafsiran yaitu merupakan kegiatan yang menterjemahkan makna program kedalam pengaturan yang dapat diterima dan dapat dijalankan.

2. Organisasi yaitu merupakan unit atau wadah untuk menempatkan program kedalam tujuan kebijakan.

3. Penerapan yang berhubungan dengan perlengkapan rutin bagi pelayanan, upah dan lain-lain.

Setidaknya ada dua hal mengapa implementasi kebijakan pemerintah memiliki relevansi: Pertama, secara praktis akan memberikan masukan bagi pelaksanaan operasional program sehingga dapat dideteksi apakah program telah berjalan sesuai dengan yang telah dirancang serta mendeteksi kemungkinan tujuan kebijakan negatif yang ditimbulkan. Kedua, memberikan alternatif model pelaksanaan program yang lebih efektif. Yang perlu ditekankan disini adalah bahwa tahap implementasi kebijakan tidak akan dimulai sebelum tujuan dan saran-saran ditetapkan atau diidentifikasi oleh keputusan-keputusan kebijakan. Dengan demikian, tahap implementasi terjadi hanya setelah undang-undang ditetapkan dan dana disediakan untuk membiayai implementasi kebijakan tersebut (Winarno, 2007:102).

Berdasarkan pandangan yang diutarakan di atas dapat disimpulkan, bahwa proses implementasi kebijakan itu sesungguhnya tidak hanya menyangkut perilaku badan administratif yang bertanggung jawab untuk melaksanakan program dan menimbulkan ketaatan pada diri kelompok sasaran, melainkan pula menyangkut

(10)

jaringan kekuatan-kekuatan politik, ekonomi dan sosial yang langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi perilaku dari semua pihak yang terlibat dan yang pada akhirnya berpengaruh terhadap tujuan kebijakan, baik yang negatif maupun yang positif .

2.1.2.2 Model Implementasi Kebijakan

Menurut Sabatier (2006: 21), terdapat dua model yang berpacu dalam tahap implementasi kebijakan, yakni model top down dan model bottom up. Kedua model ini terdapat pada setiap proses pembuatan kebijakan. Model elit, model proses dan model inkremental dianggap sebagai gambaran pembuatan kebijakan berdasarkan model top down. Sedangkan gambaran model bottom up dapat dilihat pada model kelompok dan

model kelembagaan.

Tujuan implementasi kebijakan diformulasi ke dalam program aksi dan proyek tertentu yang dirancang dan dibiayai. Program dilaksanakan sesuai dengan rencana.

Implementasi kebijakan atau program secara garis besar dipengaruhi oleh isi kebijakan dan konteks implementasi. Keseluruhan implementasi kebijakan dievaluasi dengan cara mengukur luaran program berdasarkan tujuan kebijakan. Luaran program dilihat melalui dampaknya terhadap sasaran yang dituju baik individu dan kelompok maupun masyarakat. Luaran implementasi kebijakan adalah perubahan dan diterimanya perubahan oleh kelompok sasaran.

Ada aspek pelaksanaan, terdapat dua model implementasi kebijakan publik yang efektif, yaitu model linier dan model interaktif (Baedhowi, 2004: 47). Pada model linier, fase pengambilan keputusan merupakan aspek yang terpenting, sedangkan fase

(11)

pelaksanaan kebijakan kurang mendapat perhatian atau dianggap sebagai tanggung jawab kelompok lain. Keberhasilan pelaksanaan kebijakan tergantung pada kemampuan instansi pelaksana. Jika implementasi kebijakan gagal maka yang disalahkan biasanya adalah pihak manajemen yang dianggap kurang memiliki komitmen sehingga perlu dilakukan upaya yang lebih baik untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan pelaksana.

Berbeda dengan model linier, model interaktif menganggap pelaksanaan kebijakan sebagai proses yang dinamis, karena setiap pihak yang terlibat dapat mengusulkan perubahan dalam berbagai tahap pelaksanaan. Hal itu dilakukan ketika kebijakan publik dianggap kurang memenuhi harapan stakeholders. Ini berarti bahwa berbagai tahap implementasi kebijakan publik akan dianalisis dan dievaluasi oleh setiap pihak sehingga potensi, kekuatan dan kelemahan setiap fase pelaksanaannya diketahui dan segera diperbaiki untuk mencapai tujuan.

Meskipun persyaratan input sumberdaya merupakan keharusan dalam proses implementasi kebijakan, tetapi hal itu tidak menjamin suatu kebijakan akan dilaksanakan dengan baik. Input sumberdaya dapat digunakan secara optimum jika dalam proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan kebijakan terjadi interaksi positif dan dinamis antara pengambil kebijakan, pelaksanaan kebijakan dan pengguna kebijakan (masyarakat) dalam suasana dan lingkungan yang kondusif.

Jika model interaktif implementasi kebijakan di atas disandingkan dengan model implementasi kebijakan yang lain, khususnya model proses politik dan administrasi dari Grindle, terlihat adanya kesamaan dan representasi elemen yang mencirikannya. Tujuan kebijakan, program aksi dan proyek tertentu yang dirancang

(12)

dan dibiayai menurut Grindle menunjukkan urgensi fase pengambilan keputusan sebagai fase terpenting dalam model linier implementasi kebijakan. Sementara itu, enam elemen isi kebijakan ditambah dengan tiga elemen konteks implementasi sebagai faktor yang mempengaruhi aktivitas implementasi menurut Grindle mencirikan adanya interaksi antara pengambil kebijakan, pelaksana kebijakan dan pengguna kebijakan dalam model interaktif. Begitu pula istilah model proses politik dan proses administrasi menurut Grindle, selain menunjukkan dominasi cirinya yang cenderung lebih dekat kepada ciri model interaktif implementasi kebijakan, juga menunjukkan kelebihan model tersebut dalam cara yang digunakan untuk mengukur keberhasilan implementasi kebijakan, beserta output dan outcomesnya.

Selain model implementasi kebijakan di atas Van Meter dan Van Horn mengembangkan Model Proses Implementasi Kebijakan (Tarigan, 2000: 20).

Keduanya meneguhkan pendirian bahwa perubahan, kontrol dan kepatuhan dalam bertindak merupakan konsep penting dalam prosedur implementasi. Keduanya mengembangkan tipologi kebijakan menurut: (i) jumlah perubahan yang akan dihasilkan, dan (ii) jangkauan atau ruang lingkup kesepakatan mengenai tujuan oleh berbagai pihak yang terlibat dalam proses implementasi.

Tanpa mengurangi kredibilitas model proses implementasi kebijakan dari Van Meter dan Van Horn terlihat bahwa elemen yang menentukan keberhasilan penerapannya termasuk ke dalam elemen model proses politik dan administrasi menurut Grindle. Kata kunci yakni perubahan, kontrol dan kepatuhan termasuk dalam dimensi isi kebijakan dan konteks implementasi kebijakan. Demikian pula dengan tipologi kebijakan yang dibuat oleh keduanya termasuk dalam elemen isi kebijakan dan

(13)

konteks implementasi menurut Grindle. Tipologi jumlah perubahan yang dihasilkan termasuk dalam elemen isi kebijakan dan tipologi ruang lingkup kesepakatan termasuk dalam konteks implementasi.

Sejalan dengan pendapat di atas, Korten dalam Tarigan (2000 : 19) membuat Model Kesesuaian implementasi kebijakan atau program dengan memakai pendekatan proses pembelajaran. Model ini berintikan kesesuaian antara tiga elemen yang ada dalam pelaksanaan program, yaitu program itu sendiri, pelaksanaan program dan kelompok sasaran program.

Korten dalam Tarigan (2000 : 20) menyatakan bahwa suatu program akan berhasil dilaksanakan jika terdapat kesesuaian dari tiga unsur implementasi program.

Pertama, kesesuaian antara program dengan pemanfaat, yaitu kesesuaian antara apa yang ditawarkan oleh program dengan apa yang dibutuhkan oleh kelompok sasaran (pemanfaat). Kedua, kesesuaian antara program dengan organisasi pelaksana, yaitu kesesuaian antara tugas yang disyaratkan oleh program dengan kemampuan organisasi pelaksana. Ketiga, kesesuaian antara kelompok pemanfaat dengan organisasi pelaksana, yaitu kesesuaian antara syarat yang diputuskan organisasi untuk dapat memperoleh output program dengan apa yang dapat dilakukan oleh kelompok sasaran program.

Berdasarkan pola yang dikembangkan Korten dalam Tarigan (2000 : 20), dapat dipahami bahwa jika tidak terdapat kesesuaian antara tiga unsur implementasi kebijakan, kinerja program tidak akan berhasil sesuai dengan apa yang diharapkan. Jika output program tidak sesuai dengan kebutuhan kelompok sasaran jelas outputnya tidak dapat dimanfaatkan. Jika organisasi pelaksana program tidak memiliki kemampuan

(14)

melaksanakan tugas yang disyaratkan oleh program maka organisasinya tidak dapat menyampaikan output program dengan tepat. Atau, jika syarat yang ditetapkan organisasi pelaksana program tidak dapat dipenuhi oleh kelompok sasaran maka kelompok sasaran tidak mendapatkan output program. Oleh karena itu, kesesuaian antara tiga unsur implementasi kebijakan mutlak diperlukan agar program berjalan sesuai dengan rencana yang telah dibuat.

Model kesesuaian implementasi kebijakan yang diperkenalkan oleh Korten dalam Tarigan (2000 : 20) memperkaya model implementasi kebijakan yang lain. Hal ini dapat dipahami dari kata kunci kesesuaian yang digunakan. Meskipun demikian, elemen yang disesuaikan satu sama lain, program, pemanfaat dan organisasi, juga sudah termasuk baik dalam dimensi isi kebijakan (program) dan dimensi konteks implementasi (organisasi) maupun dalam outcomes (pemanfaat) pada model proses politik dan administrasi.

2.1.2.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Implementasi Kebijakan

Menurut Hogwood dan Gunn dalam Wahab (2007 : 71) untuk dapat mengimplementasikan kebijakan secara sempurna maka diperlukan beberapa persyaratan, antara lain:

1. Kondisi eksternal yang dihadapi oleh Badan/Instansi pelaksana;

Kendala atau hambatan pada saat implementasi kebijakan sering kali di luar kendali para administrator, sebab hambatan-hambatan itu di luar jangkauan wewenang kebijaksanaan dan badan pelaksana, hambatan tersebut diantaranya bersifat fisik (contoh proyek pertanian tidak bisa berjalan akibat kemarau panjang), hambatan yang bersifat politis dalam artian bahwa kebijaksanaan maupun tindakan-tindakan harus disepakati oleh berbagai pihak yang terkait.

2. Tersedia waktu dan sumber daya;

(15)

Dana untuk pelaksanaan program sudah tersedia, tetapi harus dapat dihabiskan dalam tempo yang amat singkat, kadang lebih cepat dari kemampuan program atau proyek untuk secara efektif menyerapnya. Kelau program tersebut tidak berhasil ada kekhawatiran mengenai keharusan untuk mengembalikan dana proyek yang tidak terpakai habis pada setiap tahun anggaran seringkali menjadi penyebab kenapa instansi-instansi pemerintah selalu berada dalam situasi kebingungan karena takut dana menjadi hangus, sehingga terjadi praktek yang sesungguhnya tidak perlu dilakukan.

3. Keterpaduan sumber daya yang diperlukan;

Dalam hal ini menyangkut proyek konstruksi seringkali terjadi hambatan yang serius. Misalnya perpaduan antara dana, tenaga kerja, tanah, peralatan dan bahan- bahan bangunan yang diperlukan untuk membangun proyek tersebut seharusnya dapat dipersiapkan secara serentak, namun ternyata salah satu atau mungkin kombinasi dari beberapa sumber tersebut mengalami keterlambatan dalam penyediaannya sehingga berakibat proyek tersebut tertunda pelaksanaan dan penyelesaiannya dalam beberapa bulan.

4. Implementasi didasarkan pada hubungan kausalitas yang handal;

Kebijaksanaan kadangkala tidak dapat diimplementasikan secara efektif bukan lantaran ia telah diimplementasikan secara sembrono/asal-asalan, melainkan karena kebijaksanaan itu sendiri memang kurang ajar. Penyebab dari semua ini, kalau mau dicari tidak lain karena kebijaksanaan itu didasari oleh tingkat pemahaman yang tidak memadai mengenai persoalan yang akan ditanggulangi sebab-sebab timbulnya masalah dan cara pemecahannya.

5. Hubungan kausalitas bersifat langsung dan hanya sedikit mata rantai penghubung;

Kebijaksanaan-kebijaksanaan yang berhubungan sebab akibatnya tergantung pada mata rantai yang amat panjang maka ia akan mudah sekali mengalami keretakan, sebab semakin panjang mata rantai kausalitas, semakin besar hubungan timbal balik diantara mata rantai penghubungnya dan semakin menjadi kompleks implemnetasinya.

6. Hubungan ketergantungan harus dapat diminimalkan;

Implementasi yang sempurna menuntut adanya persyaratan bahwa hanya terdapat Badan pelaksana tunggal yang untuk keberhasilan misi yang diembannya, tidak perlu tergantung pada Badan-badan lain, atau kalaupun dalam pelaksanannya harus melibatkan badan-badan atau instansi-instansi lain, maka hubungan ketergantungan dengan organisasi-organisasi ini haruslah pada tingkat yang minimal, baik dalam artian jumlah maupun kadar kepentingannya.

7. Kesamaan persepsi dan kesepakatan terhadap tujuan;

Harus adanya pemahaman yang menyeluruh mengenai dan kesepakatan terhadap tujuan atau sasaran yang akan dicapai dan yang terpenting keadaan ini harus dapat dipertahankan selama proses implementasi. Tujuan tersebut haruslah dirumuskan dengan jelas, spesifik dan lebih baik apabila dapat dipahami dan disepakati oleh seluruh pihak yang terlibat dalam organisasi, bersifat saling melengkapi dan mendukung serta mampu berperan selaku pedoman dengan demikian pelaksanaan program dapat dimonitor

(16)

8. Tugas-tugas diperinci dan diurutkan secara sistematis;

Dalam mengayunkan langkah menuju tercapainya tujuan-tujuan yang telah disepakati, masih dimungkinkan untuk merinci dan menyusun dalam urutan- urutan yang tepat seluruh tugas yang harus dilaksanakan oleh setiap pihak yang terlibat.Hambatan-hambatan untuk mencapai kondisi implementasi yang sempurna tidak dapat kita sangsikan lagi.

9. Komunikasi dan koordinasi yang baik;

Harus ada komunikasi dan koordinasi yang sempurna diantara berbagai unsur atau badan yang terlibat dalam program.Dalam hubungan ini bahwa untuk mencapai implementasi yang sempurna barangkali harus diperlakukan suatu sistem satuan administrasi tunggal.Komunikasi memang memainkan peran penting bagi berlangsungnya koordinasi dan implementasi pada umumnya.

10. Pihak-pihak yang berwenang dapat menuntut kepatuhan pihak lain.

Harus terdapat kondisi kepatuhan penuh dan tidak ada penolakan sama sekali terhadap perintah dari siapapun dalam sistem administrasi itu. Apabila terdapat potensi penolakan terhadap perintah itu maka harus dapat diidentifikasi oleh kecanggihan sistem informasinya dan dicegah sedini mungkin oleh sistem pengendali yang andal.

Menurut Grindle dalam Wibawa, et. all (2004 : 34) implementasi kebijakan ditentukan oleh isi kebijakan dan konteks implementasinya. Isi kebijakan berkaitan dengan kepentingan yang dipengaruhui oleh kebijakan, jenis manfaat yang akan dihasilkan, derajat perubahan yang diinginkan, kedudukan pembuat kebijakan, siapa pelaksana program, dan sumber daya yang dikerahkan. Sementara konteks implementasi berkaitan dengan kekuasaan, kepentingan dan strategi aktor yang terlibat, karakteristik lembaga dan penguasa dan kepatuhan serta daya tanggap pelaksana.

Sedangkan George C Edward III dalam Subarsono (2010:90) memberikan pandangan bahwa implementasi kebijakan dipengaruhi oleh empat variabel, yakni : 1. Komunikasi

Persyaratan pertama bagi implementasi kebijakan yang efektif adalah bahwa mereka yang melaksanakan keputusan harus mengetahui apa yang harus mereka lakukan. Keputusan-keputusan kebijakan dan perintah-perintah harus diteruskan kepada personil yang tepat sebelum keputusan-keputusan dan perintah itu dapat diikuti.

(17)

2. Sumber Daya

Sumber daya adalah faktor penting untuk implementasi kebijakan agar efektif.

Tanpa sumber daya, kebijakan hanya tinggal di atas kertas dan menjadi dokumen saja. Sumber-sumber yang penting meliputi: staf yang memadai serta keahlian- keahlian yang baik untuk melaksanakan tugas-tugas mereka, informasi, wewenang dan fasilitas-fasilitas yang diperlukan untuk menterjemahkan usul-usul diatas kertas guna melaksanakan pelayanan-pelayanan publik.

3. Disposisi

Disposisi adalah watak dan karakteristik yang dimiliki implementor, seperti komitmen, kejujuran, sifat demokratis. Apabila implementor memiliki disposisi yang baik, maka dia dapat menjalankan kebijakan dengan baik seperti apa yang diinginkan oleh pembuat kebijakan.

4. Struktur Birokrasi

Birokrasi merupakan salah satu badan yang paling sering bahkan secara keseluruhan menjadi pelaksana kebijakan.Birokrasi secara sadar atau tidak sadar memilih bentuk-bentuk organisasi untuk kesepakatan kolektif, dalam rangka memecahkan masalah-masalah sosial dalam kehidupan modern.

Keempat variabel tersebut di atas, sangat berpengaruh dalam pelaksanaan serta tercapainya suatu tujuan implementasi kebijakan karena dari faktor yang satu ke faktor yang lainnya saling mempengaruhi apabila salah satu faktor tidak tecapai atau kurang optimal maka hasilnya pun demikian, misalanya faktor komunikasi, apabila suatu kebijakan pemerintah dilahirkan maka harus langsung di informasikan pada masyarakat, dalam penyampaian informasi tersebut tidak terlepas dari sebuah komunikasi baik komunikasi langsung maupun tidak langsung. Apabila tidak ada komunikasi bagaimana bisa kebijakan tersebut akan sampai pada masyarakat dan apabila masyarakat tidak mengetahui informasi tersebut bagaimana juga implementasi kebijakan tersebut akan tercapai.

Berbagai pendekatan dalam implementasi kebijakan, baik terkait dengan implementor, sumberdaya, lingkungan, metoda, permasalahan dan tingkat kemajemukan yang dihadapi di masyarakat. Sumberdaya manusia sebagai implementor mempunyai peranan yang penting dalam pengendalian implementasi

(18)

kebijakan publik. Sehingga penulis dalam penelitian menggunakan teori Van Metter dan Van Horn (Subarsono, 2010: 99) yang menyebutkan ada lima variabel yang mempengaruhi kinerja implemantasi, yaitu :

1. Standar dan sasaran kebijakan;

Standar dan sasaran kebijakan harus jelas dan terukur sehingga dapat direalisasikan. Apabila standar dan sasaran kebijakan kabur, maka akan terjadi multi implementasi dan mudah menimbulkan konflik diantara para agen implementasi.

2. Sumber Daya;

Implementasi kebijakan perlu dukungan sumber daya, baik sumber daya manusia maupun sumber daya non manusia.

3. Komunikasi antar organisasi dan penguatan aktivitas;

Dalam implementasi program perlu dukungan dan koordinasi dengan instansi lain.

Untuk ini diperlukan koordinasi dan kerja sama antar instansi bagi keberhasilan suatu program

4. Karakteristik agen pelaksana;

Agar pelaksana mencakup struktur birokrasi, norma-norma, dan pola-pola hubungan yang terjadi dalam birokrasi, yang semuanya akan mempengaruhi implementasi suatu program.

5. Kondisi-kondisi sosial, ekonomi, dan politik

Variabel ini mencakup sumber daya ekonomi, lingkungan yang dapat mendukung keberhasilan implementasi kebijakan, sejauh mana kelompok-kelompok kepentingan dapat memberikan dukungan bagi implementasi kebijakan, karakteristik para partisipan, yakni mendukung atau menolak, bagaimana sifat opini publik yang ada di lingkungan dan apakah elit politik mendukung implementasi kebijakan

6. Disposisi Implementor

Disposisis Implementor ini mencakup tiga hal yang penting, yakni a) respons implementor terhadap kebijakan, yang akan mempengaruhi kemauannya untuk melaksanakan kebijakan, b) kognisi, yakni pemahamannya terhadap kebijakan, dan c) intensitas disposisi implementor yakni preferensi nilai yang dimiliki oleh implementor.

Keberhasilan dalam pengimplentasian sebuah kebijakan tidak lepas dari suatu kinerja terutama kinerja seorang implementor baik dalam pembuatan kebijakan maupun dalam mensosialisasikan terhadap masyarakat. Dalam mensosialisasikan kebijakan tersebut harus tepat sasaran dan sesuai dengan isi kebijakan tersebut.

(19)

Berikutnya model Mirilee S. Grindle dalam Nugroho (2009 : 634) Fenomena isi kebijakan Teori Gridle meliputi enam hal, yaitu :

1. Kepentingan kelompok sasaran

Kepentingan kelompok sasaran perlu diperhatikan, ini adalah salah satu variable yang harus diperhatikan dalam sebuah program kebijakan. Dengan mengetahui kepentingan kelompok sasaran maka akan mempermudah pencapaian efisiensi dan efektivitas dari setiap program yang dilaksanakan.

2. Manfaat yang diterima

Hal ini terkait dengan kepentingan kelompok sasaran, dengan adanya kejelasan kepentingan kelompok sasaran maka akan dapat terwujud kemanfaatan yang optimal yang dapat diterima dan dirasakan oleh kelompok sasaran.

3. Perubahan yang diinginkan

Setiap program yang dilaksanakan tentu saja bertujuan untuk memperbaiki atau mengubah kondisi yang lebih baik dan dapat menguntungkan semuah pihak, yaitu pemerintah sebagai implementor dan juga masyarakat sebagai kelompok sasaran.

4. Ketepatan program

Program yang dilaksanakan diharapkan dapat tepat sasaran kepada mereka yang layak untuk menjadi sasaran dari program yang ada. Ketepatan program harus sangat diperhatikan oleh para implementor, hal ini karena apabila terjadi kekeliruan akan berdampak adanya kesiasiaan dari program yang dilakukan.

5. Kejelasan implementor

Implementor adalah mereka yang melaksanakan satu palaku dari implementasi suatu program. Dengan adanya kejelasan implementor akan memperlancar pelaksanaan program yang ada.

6. Sumber Daya Manusia yang memadai

Implementor yang melaksanakan program seharusnya memenuhi standar kualitas yang baik.Memadai dalam hal kualitas dan kuantitas sehingga SDM yang ada mencukupi bagi pelaksanaan program yang dibuat.

Dari keenam hal yang dijelaskan oleh Mirilee S. Grindle dalam Nugroho (2009 : 634) telah jelas dan nyata bahwa isi kebijakan yang disosialisasikan harus tepat sasaran serta manfaat yang diinginkan harus jelas baik bagi pemerintah maupun bagi pengguna dan harus didukung oleh sumber daya yang memadai sehingga tujuan dan perubahan yang diinginkan juga tercapai dan tidak saling merugikan.

Alasan penulis menggunakan model ini karena variabel ataupun indikator yang dikemukakan oleh Mirilee S. Grindle merupakan variabel yang bisa menjelaskan

(20)

secara komprehensif tentang kinerja implementasi dan dapat lebih kongkret dalam menjelaskan proses implementasi yang sebenarnya.

2.1.2.4 Tahap-Tahap Dalam Proses Implementasi

Sedemikian jauh pembicaraan kita terpusat pada faktor-faktor yang mempengahi proses implementasi secara keseluruhan. Menurut Wahab (2010 : 102) untuk memperjelas persoalannya, proses ini haruslah ditinjau menurut tahapan- tahapannya, yaitu:

1. Output-output kebijaksanaan (keputusan-keputusan) dari badan-badan pelaksana Tujuan-tujuan undang-undang harus diterjemahkan/dijabarkan ke dalam peraturan-peraturan khusus, prosedur-prosedur pelaksanaan yang baku untuk memproses kasus-kasus tertentu, keputusan-keputusan khusus yang menyangkut penyelesaian sengketa (misalnya yang menyangkut perizinan, lisensi), dan pelaksanaan keputusan-keputusan mengenai penyelesaian sengketa itu. Proses ini biasanya membutuhkan usaha-usaha tertentu pada pihak para pejabat di satu atau lebih badan-badan pelaksana untuk mempersiapkan analisis teknis mengenai cara bagaimana aturan-aturan umum dapat diterapkan secara berhasil pada situasi yang lebih konkrit dan kemudian penerapan sesungguhnya aturan-aturan itu pada ribuan kasus yang spesifik.

Meskipun adanya beberapa perbedaan tertentu antara tujuan-tujuan undang-undang dan keputusan-keputusan kebijaksanaan hampir-hampir tidak dapat dihindarkan, perbedaan-perbedaan ini sebenamya dapat dikurangi jika undang-undang menetapkan tujuan-tujuan yang jelas dan tegas, menugaskan implementasi pada badan-badan yang bersimpati terhadap tujuan-tujuan undang- undang dan bersedia menempatkannya pada prioritas utama, mengurangi jumlah

(21)

titik-titik veto, menyediakan insentif yang memadai guna menanggulangi penolakan di antara pejabat-pejabat yang tidak patuh/indisiphner, menyediakan sumber-sumber keuangan yang cukup guna melaksanakan analisis teknis dan memproses kasus-kasus tertentu, dan mempengaruhi aturan-aturan keputusan serta pintu-pintu akses demi tercapainya tujuan-tujuan program. Kesejajaran keputusan-keputusan kebijaksanaan dengan tujuan-tujuan program juga tergantung pada kemampuan kelompok-kelompok masyarakat dan lembaga- lembaga legislatif serta eksekutif atasan yang mendukung program untuk campur tangan secara aktif dalam proses implementasi, untuk menunjang sumber-sumber yang dimiliki badan-badan pelaksana dan untuk menghadapi penolakan/

perlawanan dari kelompok-kelompok sasaran.

Bahkan dalam kondisi yang amat menguntungkan sekalipun, badan-badan pelaksana dan keseluruhan sistem politik tidak akan mudah begitu saja membiarkan, sampai beberapa tahun lamanya (misalnya lebih dari lima tahun) ketegangan-ketegangan dan konflik-konflik yang melekat pada suatu program yang mengharuskan perubahan-perubahan perilaku tertentu. Lebih lanjut, sebagai telah dikemukakan sebelumnya, keseimbangan dukungan kelompok-kelompok masyarakat terhadap program semacam itu gampang merosot dari waktu ke waktu.

Dalam jangka waktu lima hingga tujuh tahun pejabat-pejabat lembaga atasan atau pejabat-pejabat pelaksana akan cenderung:

a. Mengubah, menunda, atau mengabaikan tujuan-tujuan yang digariskan dalam undang-undang agar diperoleh perubahan-perubahan kecil pada perilaku kelompok-kelompok sasaran; atau

b. Mengurangi oposisi melalui berbagai bentuk pembayaran (misalnya, subsidi, pemotongan pajak).

(22)

Dalam kenyataannya, barangkali hanya melalui cara menambah ketentuan undang-undang seperti itulah output kebijaksanaan dari badan-badan pelaksana dapat tetap sejalan dengan maksud dan tujuan undang-undang.

2. Kepatuhan kelompok sasaran terhadap output-output kebijaksanaan

Meskipun kebanyakan orang umumnya mengaku patuh kepada hukum, beberapa penelitian mengenai kepatuhan terhadap hukum dan keputusan- keputusan administrasi telah mengungkapkan bahwa, dalam prakteknya, perilaku patuh itu pada umumnya berhubungan dengan penilaian individu mengenai untung ruginya kalau mereka taat atau mengikuti ketentuan-ketentuan undang- undang/hukum.

Studi-studi lain, misalnya yang dilakukan oleh Rodgers dan Bullock dalam Subarsono (2010: 97) mengungkapkan hal yang kurang lebih sama, yakni bahwa keputusan seseorang untuk patuh terhadap peraturan/undang-undang merupakan fungsi dari:

a. Kemungkinan bahwa pelanggaran akan mudah dideteksi dan diseret ke pengadilan;

b. Tersedianya sanksi-sanksi untuk menghukum mereka yang melakukan pelanggaran;

c. Sikap kelompok sasaran terhadap keabsahan (legitimasi) peraturan perundang-undangan yang bersangkutan; dan

d. Ongkos/beban bagi kelompok sasaran yang patuh.

Peluang bahwa adanya sanksi-sanksi tertentu akan diikuti oleh timbulnya ketidakpatuhan/pelanggaran dipengaruhi oleh macam dan besarnya sanksi yang

(23)

disediakan oleh undang-undang; sumber-sumber yang tersedia pada pihak badan- badan pelaksana guna memonitor pelanggaran; kemampuan kelompok-kelompok masyarakat untuk menunjang sumber-sumber yang dimiliki badan-badan pelaksana dalam memonitor kepatuhan dan usaha-usaha penegakan hukum lainnya; keteguhan sikap aparat-aparat pelaksana untuk meneruskan kasus pelanggaran ke pengadilan; dan jumlah titik-titik veto yang senyatanya dihadapi dalam melaksanakan usaha penegakan hukum.

Berkaitan dengan masalah persepsi masyarakat terhadap keabsahan peraturan, berbagai literatur tentang ketidakpatuhan masyarakat memperlihatkan dengan jelas bahwa sementara orang lebih sukamasuk penjara, daripada patuh pada peraturan yang sangat tidak adil. Namun, pada umumnya kebanyakan orang akan bersedia mengubah perilakunya (bahkan yang dilandasi oleh keyakinan tertentu) apabila peluang akan dikenakannya sanksi yang sangat berat cukup tinggi.

3. Dampak nyata output-output kebijaksanaan

Dari seluruh perbincangan terdahulu kita telah memusatkan perhatian pada persoalan pencapaian tujuan-tujuan program. Oleh karena itu seharusnyalah kini kita menyadari bahwa suatu undang-undang atau peraturan akan berhasil mencapai dampak yang diinginkan apabila:

a. Output-output kebijaksanaan badan-badan pelaksana sejalan dengan, tujuan- tujuan formal undang-undang;

b. Kelompok-kelompok sasaran benar-benar patuh terhadap output-output kebijaksanaan tersebut;

(24)

c. Tidak ada penggerogotan terhadap output-output kebijaksanaan tersebut atau terhadap dampak kebijaksanaan sebagai akibat adanya peraturan-peraturan yang baling bertentangan;

d. Undang-undang/peraturan tersebut memuat teori kausalitas yang andal mengenai hubungan antara perubahan perilaku pada kelompok sasaran dengan tercapainya tujuan yang telah digariskan.

Sungguhpun perhatian pokok kita adalah mengenai persoalan kesesuaian dampak kebijaksanaan dengan tujuan-tujuan resmi yang telah digariskan dalam peraturan, masih ada 2 (dua) aspek lain dari tahap proses implementasi ini yang perlu dijelaskan secara, ringkas di sini.

Pertama, implementasi suatu undang-undang mungkin karena perubahan- perubahan kondisi sosial, ekonomi dan teknologi menimbulkan dampak yang berbeda dengan apa yang digariskan dalam tujuan. Hal kedua, berkenaan dengan dampak perubahan-perubahan jangka panjang dalam kekuatan politik dari kepentingan-kepentingan yang selama ini bersaing. Misalnya, mobilisasi kelompok-kelompok masyarakat sebagai bagian dari implementasi program dapat mengakibatkan tumbuhnya organisasi-organisasi politik lokal yang kemudian memilih anggota-anggota mereka untuk menduduki jabatan-jabatan penting di daerah dan mungkin akanterjadi perubahan besar dalam berbagai program di daerah yang bersangkutan.

4. Persepsi terhadap dampak output kebijaksanaan

Walaupun dampak nyata output-output kebijaksanaan badan-badan pelaksana ini merupakan perhatian utama para analis kebijaksanaan dan para administrator, seringkali dampak nyata kebijaksanaan itu sulit untuk diukur secara

(25)

komprehensif dan sistematik. Lagi pula, hal yang barangkali paling diperhatikan dalam evaluasi program yang dilakukan oleh sistem politik ialah dampak yang dipersepsikan oleh kelompok-kelompok masyarakat dan lembaga-lembaga atasan yang berwenang. Persepsi mengenai dampak output kebijaksanaan ini mungkin akan menimbulkan perubahan-perubahan tertentu dalam mandat undang-undang.

Persepsi seseorang mengenai dampak kebijaksanaan tertentu mungkin merupakan fungsi dari dampak nyata yang diwarnai oleh nilai-nilai orang yang mempersepsikannya.Dengan demikian, secara umum dapat diduga ada korelasi yang tinggi antara sikap awal terhadap suatu undang-undang dengan persepsi serta evaluasi mengenai dampaknya. Lebih lanjut, sejalan dengan teori yang disebut disonansi kognitif (Roger Brown, 2002 : 46), seorang aktor yang tidak sepakat terhadap dampak suatu undang-undang yang dipersepsinya akan:

a. Memandang dampak tersebut sebagai sesuatu yang tidak sejalan dengan tujuan undang-undang yang sebenamya;

b. Memandang undang-undang itu sebagai sesuatu yang tidak absah, dan atau c. Mempertanyakan kesahihan (validitas) data yang menyangkut dampak

tersebut.

5. Perbaikan (revisi) mendasar dalam undang-undang

Mengingat saat ditetapkannya suatu undang-undang (atau keputusan kebijaksanaan lainnya) haruslah dipandang sebagai titik awal bagi analisis implementasi, maka perbaikan atau reformulasi undang-undang tersebut haruslah dipandang sebagai titik kulminasi dari proses implementasi (walaupun proses ini

(26)

mungkin berlangsung berulang kali).

Lingkup dan arah perubahan atau upaya untuk melakukan perubahan di dalam tugas-tugas resmi yang harus dijalankan oleh badan-badan pelaksana akan merupakan fungsi dari persepsi terhadap dampak kegiatan badan-badan itu di masa lalu, perubahan-perubahan yang berlangsung dalam prioritas-prioritas kebijaksanaan di kalangan masyarakat pada umumnya dan di antara elite-elite pembuat kebijakan sebagai akibat dari berubahnya kondisi-kondisi sosial, ekonomi; sumber-sumber politik antara kelompok yang bersaing dan posisi-posisi strategis dari lembaga-lembaga atasan yang mendukung maupun yang menentangnya.

Semua tahapan di atas seringkali digabung menjadi satu di bawah pokok bahasan mekanisme umpan balik. Namun di sini terdapat 2 (dua) proses yang terpisah.

Jika seseorang hanya tertarik pada persoalan sejauh mana dampak nyata suatu implementasi program sejalan dengan tujuan-tujuan program, maka yang penting diperhatikan hanyalah tiga tahap yang disebutkan pertama. Kendatipun demikian, ada baiknya jika diperhatikan pula evaluasi yang dilakukan oleh sistem politik terhadap undang-undang/kebijakan itu, dan hat ini tercakup dalam dua tahap yang disebut terakhir.

Masing-masing tahap tersebut dapat disebut sebagai titik akhir (end point) atau variabel tergantung. Masing-masing tahap itu juga merupakan input bagi keberhasilan

tahap yang lain. Misalnya, kepatuhan kelompok sasaran terhadap keputusan-keputusan kebijakan badan-badan pelaksana jelas akan mempengaruhi dampak nyata keputusan- keputusan dari badan-badan pelaksana, itu jelas merupakan variabel kunci yang

(27)

mempengaruhi revisi/perbaikan undang-undang.

2.2. Kerangka Pemikiran

Suatu kebijakan publik yang telah disahkan tidak akan bermanfaat apabila tidak diimplementasikan secara maksimal dan benar. Hal ini disebabkan karena implementasi kebijakan publik berusaha untuk mewujudkan kebijakan publik yang masih bersifat abstrak kedalam realita nyata. Maka harus ada implementor yang konsisten dan profesional untuk mensosialisasikan isi kebijakan tersebut. Dengan kata lain, bahwa pelaksanaan kebijakan publik berusaha menimbulkan hasil (outcome) yang dapat dinikmati terutama oleh kelompok sasaran.

Dalam melaksanakan implementasi kebijakan menuntut adanya syarat antara lain adanya orang atau pelaksana, uang, dan kemampuan organisasional. Implementasi dalam hal ini merupakan proses mendapatkan sumber daya tambahan, sehingga dapat menghitung apa yang harus dikerjakan. Apa yang dikemukakan di atas paling tidak kebijakan memerlukan dua macam tindakan berurutan: pertama, merumuskan tindakan yang akan dilakukan; dan kedua, melaksanakan tindakan apa yang telah dirumuskan tadi.

Pemerintah telah memberikan perhatian di bidang higiene dan sanitasi dengan menetapkan Open Defecation Free dan peningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat sejalan dengan komitmen pemerintah dalam mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs) diperlukan sebagai kerangka pembangunan baru yang mengakomodasi semua perubahan yang terjadi pasca 2015-Millennium Development Goals (MDGs) tahun 2015, yaitu meningkatkan akses air minum dan sanitasi dasar secara

(28)

berkesinambungan kepada separuh dari proporsi penduduk yang belum mendapatkan akses.

Winarno (2008 : 29) menerangkan bahwa Implementasi kebijakan adalah bagian dari rangkaian proses kebijakan publik. Proses kebijakan adalah suatu rangkaian tahap yang saling bergantung yang diatur menurut urutan waktu: penyusunan agenda, formulasi kebijakan, adopsi kebijakan, dan penilaian kebijakan.

Berikutnya model Edwards III dalam Subarsono (2010 : 99) fenomena isi kebijakan Teori Edwards III meliputi empat hal, yaitu : 1) Komunikasi; 2) Sumber Daya; 3) Disposisi; 4) Struktur Birokrasi. Alasan penulis menggunakan model ini karena variabel yang dikemukakan oleh Edwards III merupakan variabel yang bisa menjelaskan secara komprehensif tentang implementasi kebijakan dan dapat lebih kongkret dalam menjelaskan proses implementasi yang sebenarnya.

Dengan bertitik tolak dari pemikiran diatas, berikut ini penulis kemukakan kerangka pikir penelitian sebagai berikut :

Gambar 2.1

Kerangka Pikir Penelitian Implementasi Kebijakan Sanitasi Total

Berbasis Masyarakat (STBM) di Desa Mayangan Kecamatan Legonkulon

belum optimal

Implementasi Kebijakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di Desa Mayangan Kecamatan Legonkulon optimal

Implementasi Kebijakan

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)

1. Komunikasi;

2. Sumber Daya;

3. Disposisi;

4. Struktur Birokrasi

Edwards III dalam Subarsono (2010 : 99)

(29)

2.3. Hipotesis

Berangkat dari kerangka pemikiran yang telah dibahas sebelumnya, penulis mengajukan hipotesis sebagai berikut “Implementasi Kebijakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di Desa Mayangan Kecamatan Legonkulon akan optimal jika memperhatikan indikator : 1) Komunikasi; 2) Sumber Daya; 3) Disposisi; 4) Struktur Birokrasi”.

Referensi

Dokumen terkait

Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Infeksi Menular Seksual pada Wanita Pekerja Seksual.. The Risk Factors Analysis Occurrence of Chlamydia Infection to Direct

Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan minuman probiotik sari buah ini adalah buah durian lay ( Durio kutejensis ) yang diperoleh dari Balikpapan Kalimantan Timur

Dari 144 sekolah negeri terdapat 40 SMP Terbuka dan 15 sekolah satu atap yang berdiri baru dua Mujiono, 2013 Pengaruh Kompetensi Guru Terhadap Wawasan Kebangsaan Siswa

Formulasi dari struktur aktiva adalah sebagai berikut: Struktur aktiva :  Aktiva Total Tetap  Aktiva Total (Syamsudin 2001:9) Perusahaan yang mempunyai aktiva tetap jangka panjang

Jika dilihat dari analisis struktur biaya dan pendapatan petani pada usahatani padi sawah yang dilakukan oleh ketiga etnis petani yaitu petani etnis Lampung, etnis Jawa, dan

Pada saat ini, dalam rangka mendukung pembangunan pertanian lahan kering (Pangan dan Perkebunan) BPTP Lampung pada tahun 2009-2014 akan meningkatkan peran KP Natar

Sosialisasi pemilahan Sosialisasi pemilahan sampah medis dan non sampah medis dan non medis medis Dilakukan Dilakukan penyuluhan / penyuluhan / pelatihan tentang pelatihan

Setelah terbentuk asam piruvat dalam proses glikolisis, kemudian asam piruvat akan masuk ke dalam tahapan dekarboksilasi oksidatif membentuk asetil