• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA A."

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

11 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Etos Kerja

1. Pengertian Etos Kerja

Kamus Webster's World University Dictionary mendefinisikan etos sebagai kualitas atau karakter mendasar yang membentuk budaya atau cara hidup ras.1 Kata Yunani ethos, yang menunjukkan sikap, kepribadian, karakter moral, karakter, dan kepercayaan, adalah asal kata "ethos"

etimologinya.2 Kepemilikan mentalitas ini melampaui orang ke organisasi dan bahkan komunitas. Etos juga dibentuk oleh adat yang berbeda, pengaruh dari budaya, dan sistem nilai yang dianut.3 Istilah "etos", menurut Musa Asy'arie, juga dapat digunakan untuk menyebut orang selain masyarakat.

Menurut Koentjaraningrat, etos adalah kualitas tertentu yang tampak dari luar dan dapat dilihat oleh orang lain.4 Geertz, sebagaimana dikutip Taufik Abdullah, mendefinisikan etos sebagai sikap mendasar terhadap diri sendiri dan dunia luar yang meresapi semua aspek eksistensi.

Etos adalah komponen penting yang membuat penilaian.5 Etos yang dalam bahasa Yunani berarti watak atau tabiat, juga disebutkan oleh Nurcholish Madjid. Lebih lanjut, Nurcholish Madjid mengatakan bahwa etos adalah kualitas atau sikap yang unik, rutinitas, atau keyakinan tentang seseorang atau sekelompok orang. Pengertian “akhlak”

dalam kata “etos” adalah “kualitas hakekat seseorang atau sekelompok orang” yang bersifat akhlaqiy. Etos juga mengacu pada karakter moral sekelompok individu yang memegang keyakinan baik dan berbahaya.

1Hamdanah dan Jirhanuddin, Etos Kerja Wanita (Yogyakarta: K-Media, 2017), 7.

2 Sindung Haryanto, Sosiologi Ekonomi, cet. Kedua (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2020), 245.

3 Toto Tasmara, Membudidayakan Etos Kerja Islami (Jakarta: GEMA INSANI, 2002), 15.

4 Hamdanah dan Jirhanuddin, Etos Kerja Wanita (Yogyakarta: K-Media, 2017), 7.

5 Taufik Abduullah, (ed), Agama, Etos Kerja dan Perkembangan Ekonomi, cet. Kedua (Jakarta: LP3S, 1982), 3.

(2)

12

Menurut beberapa definisi yang diberikan di atas, etos juga dapat merujuk pada kepribadian seseorang, cara hidup, kebiasaan, motivasi, tujuan moral, dan perspektif tentang hidup, khususnya pemahaman, cara berperilaku, atau pengertian keteraturan yang paling lengkap. Dengan kata lain, etos adalah perspektif dasar tentang diri seseorang dan dunia luar yang memanifestasikan dirinya dalam perilaku seseorang.

Tindakan mencapai sesuatu disebut pekerjaan.

Pekerjaan adalah sesuatu yang membutuhkan penerapan kekuatan mental atau fisik. Hasan Shadily mendefinisikan kerja sebagai usaha yang dilakukan untuk melakukan proses pembuatan dengan menggunakan tenaga jasmani dan rohani.

Labour Force mendefinisikan bekerja diartikan sebagai yang terlibat dalam kegiatan selama setidaknya satu jam setiap minggu dengan tujuan mendapatkan atau berkontribusi untuk menghasilkan uang atau keuntungan. Yusuf al-Qardhawi mendefinisikan kerja sebagai suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang, baik sendiri atau bekerjasama dengan orang lain, untuk menciptakan suatu barang atau memberikan jasa.

Menurut Ahmad Janan Asifudin, ada dua jenis kerja dalam perspektif Islam. Jenis pertama adalah pekerjaan fisik, yang melibatkan penggunaan tubuh secara fisik dan semua panca indera, seperti melayani pelanggan, menyapu daun di kebun, mengajar siswa di kelas, dan berdoa. Kedua, kerja mental.6 Kerja mental dapat dibagi menjadi dua kategori: 1.

Kerja otak, yang meliputi belajar, berpikir kreatif, memecahkan masalah, menganalisis, dan membuat kesimpulan. 2. Kerja hati (qalb), seperti berusaha membentengi tekad untuk mencapai tujuan, berusaha mencintai pekerjaan dan ilmunya, serta melatih kesabaran dan tawakkal untuk menciptakan sesuatu.7

Ketika terhubung ke keduanya, itu akan lebih menonjol. Oleh karena itu, istilah "etos kerja" mengacu pada cara berpikir dan pendekatan inti tentang pekerjaan. Etos

6 Hamdanah dan Jirhanuddin, Etos Kerja Wanita (Yogyakarta: K-Media, 2017), 8.

7 Hamdanah dan Jirhanuddin, Etos Kerja Wanita (Yogyakarta: K-Media, 2017), 8.

(3)

13

kerja, sebagai cara berpikir yang mendasar, mencerminkan perspektif yang digerakkan oleh nilai tentang kehidupan dengan komponen transenden..8

Suseno mendefinisikan etos kerja sebagai pola pikir mendasar seseorang atau sekelompok individu saat melakukan suatu tugas. Anda dapat mengamati perilaku dan motif seseorang di tempat kerja. Etos kerja adalah cara hidup yang dianut seseorang untuk bekerja secara efektif dan tekun untuk mencapai tujuan tertentu. Aktivitas kerja adalah sesuatu yang dilakukan orang untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Tindakan ekonomi adalah tindakan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar.9

Suseno menggambarkan etos kerja sebagai sikap mendasar seseorang atau sekelompok orang dalam melaksanakan suatu pekerjaan. Tindakan dan niat seseorang dapat terlihat di tempat kerja. Etos kerja seseorang adalah cara hidup yang mereka adopsi untuk bekerja secara efisien dan keras untuk mencapai tujuan tertentu. Orang-orang terlibat dalam aktivitas kerja untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Kegiatan ekonomi memerlukan mengambil langkah-langkah untuk memenuhi tuntutan fundamental.10

Menurut para ahli, etos kerja seseorang sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti:

a. Pentingnya pekerjaan dalam kehidupan.

b. Cara terbaik untuk melakukan tugas.

c. Bagaimana memahami sifat pekerjaan yang terkait dengan keyakinan agama dan prinsip-prinsip spiritualnya.

Oleh karena itu, sikap, perilaku, watak, moralitas, dan etika seseorang dalam bekerja tidak dapat dipisahkan

8 Irzum Farihah, “Etos Kerja dan Kuasa Perempuan Dalam Keluarga: Studi Kasus Keluarga Nelayan, di Brondong, Lamongan Jawa Timur),” Palastren 8, No.

1 (2015): 149, di akses pada 29 Desember, 2021, http://www.journal.iainkudus.ac.id.

9 Marleni, “Pola dan Etos Kerja Perempuan Dalam Industri Rumah Tangga Di Jorong Cangkiang Nagari Batu Taba Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam,” Jurnal Ilmiah Kajian Gender: 77-78, diakses pada 28 Desember, 2021, http://www.researchgate.net.

10 Santi Puspita Dewi, Etos Kerja Perempuan Pedagang Sayur Keliling Ditinjau Dalam Perspektif Ekonomi Islam, Skripsi (Kendari: IAIN Kendari, 2020), 11. Diakses melalui http://digilib.iainkendari.ac.id pada tanggal 19 Desember 2021, pukul 00:45.

(4)

14

dari landasan keyakinan nilai-nilai spiritual yang bersumber dari hati nurani. Demikianlah etos kerja yang paling baik dan mulia berdasarkan hati nurani dapat dipahami.

Dalam buku mereka tahun 2014 Donny Juni Priansa, Cherrington Boatwright and Slate mengklaim bahwa etos kerja memiliki sejumlah kualitas yang menentukan identitas dan signifikansinya. Tiga komponen utama dari etos kerja yang kuat adalah: (1) Keahlian Interpersonal – elemen yang berkaitan dengan kapasitas untuk membentuk kemitraan kolaboratif dengan orang lain. Penggunaan kebiasaan, sikap, cara berpikir, penampilan, dan perilaku yang digunakan di sekitar orang lain dan berdampak pada bagaimana orang berinteraksi satu sama lain disebut sebagai keterampilan interpersonal. Keterampilan interpersonal dapat dicirikan oleh karakteristik tertentu, seperti sopan, ramah, gembira, peduli, menyenangkan, kooperatif, membantu, rajin, setia, pekerja keras, dan memiliki emosi yang stabil. (2) Inisiatif – sifat-sifat yang dapat membuat lebih mudah untuk termotivasi untuk terus meningkatkan kinerja dan tidak cepat puas dengan kinerja yang khas. Fitur ini sering dikaitkan dengan ekspektasi kinerja dan merupakan persetujuan implisit untuk melaksanakan tugas pekerjaan tertentu.

Mengikuti instruksi, mematuhi aturan, dapat diandalkan, dapat dipercaya, berhati-hati, jujur, dan tepat waktu adalah kualitas yang mungkin menjadi ciri seseorang yang dapat diandalkan.

Secara umum, etos kerja memiliki fungsi sebagai alat penggerak permanen bagi tindakan dan aktivitas individu.

Menurut A. Tabrani dalam penelitian Arischa Octarina, fungsi etos adalah: Penggerak tindakan; Gairah dalam aktivitas; dan sebagai alat penggerak, besar kecilnya motivasi akan menentukan kecepatan suatu tindakan.11

11 Rohana Sianipar dan Vania Salim, “Faktor Etos Kerja Dan Lingkungan Kerja Dalam Membentuk “Loyalitas Kerja” Pegawai Pada PT Timur Raya Alam Damai,” Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Manajemen 15, no. 1 (2019): 18. Di akses pada tanggal 5 Januari, 2022, http://jurnal.ubharajaya.ac.id.

(5)

15 2. Etos Kerja dalam Islam

Islam, yang didasarkan pada Al-Qur'an dan Hadits sebagai petunjuk dan arahan bagi umat Islam, memiliki kekuatan untuk mengontrol individu dengan mengarahkan mereka dalam bidang kerja maupun dalam hal ibadah.12

Setiap karyawan, khususnya yang beragama Islam, harus mengembangkan etos kerja yang islami karena pekerjaan yang dilakukannya, termasuk menjaga ekonomi keluarga adalah penting untuk ibadah. Oleh karena itu, memilih pekerjaan sangatlah penting. Meski hasil pekerjaan merupakan salah satu pekerjaan yang dilarang oleh agama, jangan sampai kita merasa nyaman dengan berbagai kesuksesan. Karena berkah adalah aset spiritual penting dalam Islam yang tak tergantikan.

Banyak keluarga mereka dalam kekacauan, meskipun banyak individu yang kaya dan hidup bahagia. Ada juga orang lain yang memiliki kehidupan yang bahagia namun rata-rata. Jangan hanya mengejar keuntungan demi kenikmatan dunia fana; itulah hidup. Data kami menggunakan sejumlah prinsip etos kerja Islami dari Al- Qur'an dan hadits sebagai pedoman dalam melakukan suatu pekerjaan :

a. Kerja keras

Rasulullah menasihati para pengikutnya untuk meluangkan waktu dalam mengejar tujuan mereka. Nilai sebuah karya tidak dapat ditentukan oleh hasilnya saja karena tidak akan ada kesinambungan. Namun demikian, tugas dapat terus dilakukan bahkan jika hasilnya sederhana. Di sini, persiapan menyeluruh diperlukan selain kerja keras.13















12 Hamdanah dan Jirhanuddin, Etos Kerja Wanita (Yogyakarta: K-Media, 2017), 9.

13Sudirman Tebba, Membangun Etos Kerja Dalam Prespektif Tasawuf, 4.

(6)

16

Artinya: "Dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." (Q.S An-Najm:39).14

Ayat di atas menggambarkan bahwa bekerja keras adalah satu-satunya cara untuk mencapai apa pun dalam hidup. Peluang keberhasilan manusia meningkat dengan seberapa rajin mereka bekerja.

























































Artinya: "Karena bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi para wanitapun ada bagian dari apa yang mereka usahakan."

(Q.S An-Nisa’: 32).15

Menurut ayat tersebut, tidak ada perbedaan di alam ini antara laki-laki dan perempuan, orang-orang dengan warna kulit yang berbeda, atau orang yang beriman dan orang yang tidak beriman. Setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan usahanya. Seorang pekerja yang berdedikasi akan mendapatkan jauh lebih banyak makanan daripada seorang pemalas.

Oleh karena itu, kita harus terus-menerus mengerahkan upaya untuk menjalani kehidupan yang sejahtera. Hasil dari usaha itu, sekecil apapun, lebih mulia daripada menjadi seorang pengemis.

b. Menghargai waktu

Seseorang yang menghargai, memahami, dan merasakan nilai waktu adalah salah satu esensi dari etos kerja.16 Setiap orang memiliki jumlah waktu yang sama untuk melakukan tugas sehari-harinya, yaitu 24 jam

14 An-Najm: 39.

15 An-Nisa’: 32.

16 Toto Tasmoro, Membudidayakan Etos Kerja Islami, 74.

(7)

17

sehari. Tapi ada banyak cara untuk memanfaatkan waktu itu. Ada beberapa yang memanfaatkannya secara konstruktif, tetapi ada juga yang tidak. seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur'an:

ْبَصْناَف َتْغ َرَ ف اَذِإَف

Artinya:"Maka apabila engku telah selesai dari suatu pekerjaan, maka kerjakanlah urusan yang lain dengan sungguh-sungguh." (Q.S. Al-Insyirah:

7).17

Bagian ini menjelaskan bahwa kita harus menggunakan waktu kita seefisien mungkin. Setelah tugas berhasil diselesaikan, kita tidak boleh menyerah. Menjadi bermanfaat untuk orang lain lebih terhormat daripada bermalas-malasan saat Anda masih hidup.

c. Motivasi

Motivasi adalah dorongan internal untuk membentuk kemandirian dan menumbuhkan usaha yang dilakukan, menjadikan diri sebagai pribadi yang menginginkan perubahan dan memiliki kepribadian yang kuat sehingga tidak terpengaruh secara negatif.18 Allah SWT berfirman :









































































Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubah keadaan mereka sendiri." (Q.S Ar- Rad: 11).19

17 Al-Insyirah: 7.

18Luluk sharifatul Khasanah, Skripsi : “Analisis Etos Kerja Islam Petani Karet TerhadapPemenuhan Kebutuhan Keluarga, 2007, 45.

19 Ar-Ra’d: 11.

(8)

18

Berdasarkan ayat di atas, kita diajak untuk mengendalikan takdir kita. Allah tidak akan membantu kita jika kita tidak berusaha untuk mengubah situasi yang ada.

d. Orientasi kedepan

Rosulullah SAW bersabda dengan sabdanya yang indah :

كنأك كترلخآ لمعاو، ًادبأ شيعت كنأك كايندل لمعا ًادغ وتم

Artinya: "Bekerjalah untuk duniamu seakan akan engkau akan hidup selama-lamanya dan beribadahlah untuk akhiratmu seakanakan engkau mati besok”.20

Seorang Muslim tidak akan berspekulasi tentang masa depan dan akan memastikan bahwa semua usahanya terfokus pada tujuan yang telah ditetapkan.

e. Ukhuwah (Persaudaraan)

Manusia adalah sama di mata Allah; satu-satunya perbedaan adalah seberapa besar kita percaya kepada- Nya. Namun, orang sering memperlakukan satu sama lain secara tidak adil, yang memecah belah masyarakat. Islam memerintahkan pemeluknya untuk saling menghargai.

Dari Anas r.a bahwa Nabi SAW bersabda :

ِداَخ ٍكِلاَم ِنْب ِسَنَأ َةَزَْحَ ِْبَِأ ْنَع ِبَِّنلا ْنَع للها لْوُسَر ِم

ُّبُِيُ اَم ِهْيِخَلأ َّبُِيُ َّتََّح ْمُكُدَحَأ ُنِمْؤُ ي َلا : َلاَق هِسْفَ نِل ِ

Artinya: "Tidak sempurna iman seseorang bila ia tidak mencintai saudaranya (seiman) sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri."21

20 Toto Tasmara, Membudayakan Etos Kerja Islam, 3.

21 Elga Andina, Etos Kerja Islam Karyawan PT Asuransi Takaful Keluarga Cabang Surabaya, Skripsi (Surabaya: Universitas Airlangga, 2005), 45.

(9)

19 f. Pandai bersyukur

Dunia tempat kita hidup menawarkan kita banyak kesempatan untuk menguji kepercayaan kita kepada Allah. Ada banyak jenis cobaan, termasuk tes untuk kesehatan, kekayaan, dan kemiskinan. Bahkan hal-hal baik pun bisa membuat kita melupakan Allah.

Pengalaman negatif terkadang membuat kita berdoa kepada Allah. Padahal Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk umatnya. Allah berfirman :











Artinya: "Maka nikmat Allah mana lagi yang engkau dustakan?." (Q.S. Ar Rahman: 13).22

Menurut Al-Qur'an, Allah menganugerahkan karunia yang luar biasa sehingga kita kadang-kadang melupakannya. Misalnya, memiliki perasaan stabilitas dalam hidup adalah berkah dari Tuhan. Kami dapat bersekolah dengan tenang, dan lain sebagainya.23

3. Hukum Etos Kerja

Bekerja bagi seorang muslim merupakan “ibadah” bukti pengabdian dan rasa syukurnya untuk mengolah dan memenuhi panggilan Illahi agar mampu menjadi yang terbaik karena mereka sadar bahwa bumi diciptakan sebagai ujian bagi mereka yang memiliki etos terbaik. Jika kerja adalah ibadah dan status hukum ibadah pada dasarnya adalah wajib, maka status hukum bekerja pada dasarnya juga wajib.Kewajiban ini pada dasarnya bersifat individual, atau fardhu ain, yang tidak bisa diwakilkan kepada orang lain.

Hal ini berhubungan langsung dengan pertanggung jawaban amal yang juga bersifat individual, dimana individulah yang kelak akan mempertanggung jawabkan amal masing-masing, dalam firman Allah surat Al-Jumu‟ah ayat 9-10.

22 Ar-Rahman: 13.

23 Elga Andina, Etos Kerja Islam Karyawan PT Asuransi Takaful Keluarga Cabang Surabaya, Skripsi (Surabaya: Universitas Airlangga, 2005), 46.

(10)

20













































































Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui dan Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”.24

Ketika kita memilih pekerjaan, maka haruslah didasarkan pada pertimbangan moral, apakah pekerjaan itu baik (amal shalih) atau tidak. Islam memuliakan setiap pekerjaan yang baik, tanpa mendiskriminasikannya, apakah itu pekerjaan otak atau otot,pekerjaan halus atau kasar, yang penting dapat dipertanggungjawabkan secara moral di hadapan Allah. Pekerjaan itu haruslah tidak bertentangan dengan agama, berguna secara fitrah kemanusiaan untuk dirinya, dan memberi dampak positif secara sosial dan kultural bagi masyarakatnya. Karena itu,tangga seleksi dan skala prioritas dimulai dengan pekerjaan yang manfaatnya bersifat primer, kemudian yang mempunyai manfaat pendukung, dan terakhir yang bernilai guna sebagai pelengkap.

24 Al-Jumuan: 9-10.

(11)

21

4. Faktor yang Mempengaruhi Etos Kerja

Etos kerja dipengaruhi oleh berbagai elemen, baik internal maupun eksternal, menurut Donni Juni Priansa.

a. Faktor-faktor internal 1) Agama

Pada hakikatnya, agama adalah seperangkat prinsip moral yang mempengaruhi atau mengarahkan cara hidup pemeluknya. Jika seseorang serius dengan kehidupan beragamanya, ketaatannya pada prinsip- prinsip agama niscaya akan berdampak pada cara berpikir, bertindak, dan berperilaku. Kualitas agama yang buruk dan orientasi nilai budaya yang konservatif, yang keduanya memperkuat tingkat etos kerja yang rendah secara signifikan, memiliki dampak tidak langsung terhadapnya.

2) Pendidikan

Pendidikan yang berkualitas dapat membantu orang menginternalisasi pentingnya etos kerja yang kuat. Karena pendidikan adalah proses yang tidak pernah berakhir.

3) Motivasi

Orang yang sama yang memiliki etos kerja yang kuat juga cenderung memiliki motivasi yang tinggi.

Etos kerja adalah cara berpikir dan bertindak yang tentunya dilandasi oleh nilai-nilai yang dianut oleh individu dan juga dipengaruhi oleh dorongan yang datang dari dalam.

4) Usia

Menurut beberapa data, orang yang berusia di bawah 30 tahun memiliki etos kerja yang lebih baik daripada mereka yang berusia di atas itu.

5) Jenis Kelamin

Gender dan etos kerja sering dikaitkan; beberapa peneliti telah menunjukkan bahwa perempuan lebih mungkin dibandingkan laki-laki untuk menghargai pekerjaan mereka lebih dan lebih berkomitmen untuk mereka.25

25 Rohana Sianipar dan Vania Salim, “Faktor Etos Kerja Dan Lingkungan Kerja Dalam Membentuk “Loyalitas Kerja” Pegawai Pada PT Timur Raya Alam

(12)

22 b. Faktor-faktor Eksternal26

1) Budaya

Etos budaya adalah nama lain dari mentalitas, keuletan, disiplin, dan semangat usaha masyarakat.

Kemudian etos budaya ini disebut juga dengan etos kerja dalam istilah operasionalnya.

2) Sosial Politik

Ada atau tidaknya kerangka kerja pemerintah yang mendorong individu untuk bekerja keras dan dapat menikmati sepenuhnya hasil kerja keras mereka berdampak pada apakah suatu masyarakat memiliki etos kerja yang kuat atau rendah.

3) Kondisi Lingkungan (Geografis)

Faktor geografis dapat mempengaruhi etos kerja.

Lingkungan alam yang sehat mendorong warga untuk bekerja menjaganya dan menuai keuntungannya.

Bahkan mungkin menarik pendatang baru untuk mengambil bagian dalam ekonomi lokal.

4) Struktur Ekonomi

Orang cenderung didorong untuk berkembang secara mandiri di negara-negara yang mendorong kemandirian nasional dan pertumbuhan dan perkembangan produk dalam negeri.

5) Tingkat Kesejahteraan

Orang-orang di negara maju dan makmur seringkali memiliki etos kerja yang kuat, yang memotivasi bangsa untuk sukses.

6) Perkembangan Bangsa Lain

Kemajuan banyak alat teknologi dan ketersediaan pengetahuan yang tidak terbatas telah mendorong banyak negara berkembang untuk mengadopsi etika kerja negara maju.

Damai,” Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Manajemen 15, no. 1 (2019): 17. Di akses pada tanggal 5 Januari, 2022, http://jurnal.ubharajaya.ac.id.

26 Panji Anoraga, Psikologi Kerja (Jakarta : Rineka Cipta, 1992), 52.

(13)

23 5. Indikator Etos Kerja

Menurut penelitian Sinamo yang dilakukan oleh Arischa Octarina, tanda-tanda etos kerja yang baik antara lain:

a. Kerja adalah rahmat ( Aku harus bekerja tulus penuh syukur)27

Yang Mahakuasa memberi kita rahmat sebagai tanda kasih-Nya kepada kita. Anugerah adalah pemberian, berkah, dan pemberian niat baik. Ada tiga jenis kasih karunia yang berbeda:

1) Rahmat Umum

Segala sesuatu yang memungkinkan orang untuk hidup dan tumbuh secara organik dikenal sebagai anugerah umum.28 Misalnya matahari, bumi, oksigen, Kesehatan, kecerdasan dan lain-lain.

2) Rahmat Khusus

Nikmat khusus adalah nikmat yang diberikan kepada kita. Misalnya, bantuan seringkali muncul dengan sendirinya ketika kita dihadapkan pada suatu tantangan. Anugerah khusus ditandai dengan konsistensinya untuk tiba tepat waktu dan sesuai dengan kebutuhan kita

3) Rahmat Terselubung

Kapasitas hati kita untuk menemukan aspek positif dari apa yang telah terjadi dikenal sebagai anugerah terselubung. Agar kita mengerti bahwa segala sesuatu yang telah Allah gambarkan memiliki kebaikan (hikmah) pada intinya.

Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak menghargai ketiga jenis anugerah itu. Bekerja merupakan salah satu cara kita untuk mengungkapkan rasa syukur atas nikmat Tuhan dengan memberikan kembali apa yang telah diberikan. Kita sadar akan tingginya tingkat pengangguran di negara kita. Tapi tidakkah kita mengerti

27 Jansen Sinamo, 8 Etos Kerja Profesional, (Jakarta:Institute Darma Medika,2005), 30.

28 Jansen Sinamo, 8 Etos Kerja Profesional, (Jakarta:Institute Darma Medika,2005), 33.

(14)

24

bahwa ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk sebuah pekerjaan agar bisa bertahan hidup?.

b. Kerja adalah amanah (Aku harus bekerja penuh dengan integritas)

Kepercayaan yang ditunjukkan kepada kami adalah ucapan terima kasih yang tulus dan tak terkira.29 Proses mendapatkan kepercayaan seseorang seringkali melibatkan banyak pengamatan tentang apa, siapa, dan bagaimana calon penerima melakukan sesuatu.

Pekerjaan adalah amanah, posisi adalah amanah, dan kita diberi amanah melalui pekerjaan kita. Kepada mereka yang telah menaruh kepercayaan pada Anda, Anda memiliki kewajiban untuk melakukan yang terbaik.

Berat badan kita meningkat sebanding dengan tugas kita.

c. Kerja adalah panggilan (Aku harus bekerja tuntas penuh dengan tanggung jawab)

Sebagai manifestasi dari panggilan Tuhan kepada kita, kerja berfungsi sebagai panggilan, profesi, dharma, dan tujuan hidup di area tertentu di mana kita bekerja.

Artinya, apapun pekerjaan kita, kita telah menjalankan perintah Tuhan untuk memajukan diri, masyarakat, bangsa, dan agama kita.

Integritas yang kuat, yang terdiri dari kejujuran, dedikasi, keberanian untuk mendengarkan hati nurani, dan untuk memenuhi persyaratan profesi dengan segenap hati, pikiran, dan energi, diperlukan agar panggilan dapat dilaksanakan sepenuhnya.

d. Kerja adalah aktualisasi (Aku harus bekerja penuh suka cita

Aktualisasi adalah kemampuan untuk membuat kemungkinan menjadi kenyataan. Salah satu kebahagiaan terbesar dalam hidup adalah mencapai apa yang orang lain yakini tidak dapat dicapai dengan bantuan ketekunan dan otak.

Kegagalan bukanlah sinyal untuk menyerah;

sebaliknya, ini adalah petunjuk bahwa kita harus menyesuaikan strategi kita dengan cara yang cerdas dan

29Thohir Luth, Anatara Perut Dan Etos Kerja Dalam Prespektif Islam,(Jakarta: Gema Insani, 2011), 45.

(15)

25

licik. Ini menyiratkan menghargai setiap langkah di sepanjang jalan untuk mewujudkan tujuan kita, salah satunya adalah melakukan banyak upaya dan ketekunan.

e. Kerja adalah ibadah (Aku harus bekerja serius dengan penuh pengabdian)

Setiap agama telah mengatakan bahwa ciri-ciri seorang mukmin meliputi ketakwaan kepada Tuhannya, perbuatan baik, akhlak yang mulia, dan cinta kepada sesama. Dengan kata lain, ibadah seseorang dapat dipahami dari etosnya, dan teologinya dapat dipahami dari etosnya.30

Salah satu bentuk ibadah adalah bekerja. Bekerja berfungsi sebagai cara kedua bagi kita untuk memuliakan Allah selain doa dan perbuatan baik lainnya. Agama memerintahkan pemeluknya untuk menjaga eksistensi ini dan berusaha mengembangkannya agar bisa hidup sejahtera, salah satunya dengan menghargai tenaga kerja.

Orang-orang memiliki berbagai tujuan di tempat kerja. Ada yang ingin memenuhi kebutuhan pokoknya dan ada pula yang ingin mengisi waktu luangnya. Namun lebih dari itu, buatlah komitmen untuk bekerja sepenuhnya karena Allah demi mendapatkan ridho-Nya.

Itulah yang membedakan kami yang mengamalkan agama dengan yang tidak.31 Umat Islam hanya perlu diberi pakaian, makan, dan tempat tinggal. Tetapi prinsip panduan utama adalah tambahan agama yang sejati. di Q.S. Al-Bayyinah ayat 5 dijelaskan bahwa:



































Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan

30 Jansen Sinamo, 8 Etos Kerja Profesional, (Jakarta:Institute Darma Medika,2005), 125.

31 Thohir Luth, Anatara Perut Dan Etos Kerja Dalam Prespektif Islam,(Jakarta: Gema Insani, 2011), 20.

(16)

26

agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan solat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus”.

(Q.S. Al-Bayyinah: 5).32

f. Kerja adalah seni : harus bekerja kreatif penuh suka cita.

Kegiatan kreatif, artistik, dan interaktif inilah yang mengubah kerja menjadi bentuk seni yang membuatnya menyenangkan dan penuh gairah. Kita harus inovatif dalam pekerjaan kita dan bagaimana kita menghadapi tantangan saat terlibat dalam usaha artistik ini. Kita akan merasa puas dengan diri kita sendiri jika kita telah menemukan karir yang kita sukai dan cintai dan yang artistik atau indah.

g. Kerja adalah kehormatan : harus bekerja unggul penuh dengan ketekunan.

Ada banyak aspek kaya untuk bekerja sebagai suatu kehormatan. Pengusaha menunjukkan kekaguman mereka atas kemampuan kita, antara lain dengan memilih kita untuk posisi atau pekerjaan. Kedua, karena kita dihargai atas kemampuan kita, secara mental kembangkan rasa percaya diri pada diri kita sendiri.

Ketiga, pekerjaan menganugerahkan rasa hormat dalam masyarakat karena memanfaatkan keterampilan individu. Tanpa meminta bantuan orang lain, kita bisa produktif. Keempat, memiliki sarana keuangan untuk memenuhi tuntutan. Kelima, dengan mengikuti aturan yang harus kita ikuti secara langsung atau tidak langsung, kita dapat mempertahankan perilaku moral kita.

Tujuan utama kerja yang dapat meningkatkan kemanusiaan adalah agar kita terlibat dalam pekerjaan yang berdedikasi dan luar biasa yang pada akhirnya akan menghasilkan imbalan atas ketekunan kita.

32Al-Bayyinah: 5.

(17)

27

h. Kerja adalah pelayanan : harus bekerja sempurna penuh kerendahan hati.33

Pekerjaan adalah pelayanan, terlepas dari pekerjaan yang sebenarnya. Kita berusaha untuk menjaga kepuasan klien kita atau mereka yang mempercayakan kita agar kita dapat terus menjadi karyawan yang sederhana.

Di dunia, misalnya, ungkapan "pelanggan adalah raja" sering digunakan. Oleh karena itu, kita harus dapat menyenangkan klien dengan layanan yang kita berikan sehingga mereka akan melakukannya lagi ketika tiba saatnya untuk membeli atau menggunakan barang kita.

B. Perempuan

1. Pengertian Perempuan

Dari istilah empu, yang berarti "tuan" atau "orang yang paling berilmu", perempuan secara linguistik diturunkan. Zaitunah Subhan mengklaim bahwa istilah

"perempuan" berasal dari kata "tuan", yang berarti penghormatan. Ilmuwan seperti Plato mengklaim bahwa sementara pria dan wanita memiliki mentalitas yang berbeda dan sering dibandingkan berdasarkan kekuatan fisik dan spiritual, tidak ada perbedaan di antara mereka dalam hal keterampilan.34

Menurut teori feminis tentang gender, pembedaan karakter yang berlaku bagi laki-laki dan perempuan hanyalah semacam stereotip gender. Wanita terkenal karena baik, penuh kasih, menarik, memikat, sopan, emosional, keibuan, dan membutuhkan perlindungan, misalnya. Sementara laki- laki sering dianggap kuat, tangguh, logis, maskulin, luar biasa, agresif, dan protektif.35

33 Rohana Sianipar dan Vania Salim, “Faktor Etos Kerja Dan Lingkungan Kerja Dalam Membentuk “Loyalitas Kerja” Pegawai Pada PT Timur Raya Alam Damai,” Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Manajemen 15, no. 1 (2019): 18-19. Di akses pada tanggal 5 Januari, 2022, http://jurnal.ubharajaya.ac.id.

34 Hassanatunnajah, Peran Ganda Perempuan Dalam Meningkatkan Ekonomi Keluarga di Desa Mekar Jaya Kecamatan Bayung Lencir, Skripsi, (Jambi: Universitas Negeri Sulthan Thaha Saifuddin, 2020), 11.

35 Nurulmi, Peran Perempuan Dalam Peningkatan Kesejahteraan Keluarga Petani di Desa Padangloang Kecamatan Patampanua Kabupaten

(18)

28

Wanita dipandang sebagai orang yang baik, pemaaf, dan ulet. Laki-laki dengan demikian adalah karakter yang memiliki dasar yang kuat, berani, dan kasar sebagai lawan dari makhluk yang bekerja di luar rumah. Oleh karena itu, bekerja di luar rumah untuk menafkahi keluarga adalah pekerjaan yang tepat. Perempuan kurang terwakili dalam kehidupan publik dan melengkapi laki-laki. Pada kenyataannya, wanita memainkan beberapa fungsi dalam kehidupan rumah tangga dan memainkan peran penting di dalamnya.

Wanita pada dasarnya adalah ibu rumah tangga.

Laki-laki memberikan penghasilan, sementara perempuan memberikan perawatan dan mendistribusikan makanan.36 Dia adalah seorang pemimpin yang menangani setiap situasi sendirian. Tanggung jawab utama perempuan dan satu- satunya hak istimewa adalah keterampilan membesarkan anak-anak negara. Tanpa pengasuhan seorang wanita, sebuah negara pasti akan binasa.37 Seperti dalam firman-Nya:



















































































Artinya: "Kaum pria adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (pria) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena

Pinrang, Skripsi, (Makassar: Universitas Islam Negeri Makassar, 2017), 12.

Diakses melalui http://repository.uin-alauddin.ac.id/6954 diakses pada tanggal 08 Desember 2021, pukul 20:55.

36 Huzaemah Tahido Yanggo, Fikih Perempuan Kontemporer (Jakarta:

Ghalia Indonesia, 2010), 38.

37 Gandhi Mahatma, Kaum Perempuan dan Ketidakadilan Sosial (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), 48.

(19)

29

mereka (pria) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Maka dari itu, wanita yang salihah ialah yang taat kepada Allah subhanahu wa ta’alaagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah memelihara (mereka).

Wanita-wanita yang kalian khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka, dan jauhilah mereka di tempat tidur, dan pukullah mereka.Jika mereka menaati kalian, janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka.Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar." (Q.S. An-Nisa: 34).38 Perempuan dan laki-laki sama-sama manusia. Islam menganjurkan baik laki-laki maupun perempuan untuk bekerja mencari nafkah guna menghidupi diri dan keluarganya.39 Islam memberikan hak yang sama kepada perempuan sebagaimana yang diberikan kepada laki-laki, dan Islam membebankan kewajiban yang sama pada keduanya, dengan pengecualian beberapa hal yang khusus untuk perempuan atau laki-laki karena alasan syara'. Laki-laki dan perempuan diciptakan untuk hidup berdampingan dan bekerja sama dalam suatu komunitas oleh Allah SWT untuk mempersiapkan mereka menghadapi dunia eksistensi sebagai manusia.40

Wanita adalah guru pertama dalam kehidupan seorang anak, memberikan prinsip-prinsip moral dan informasi akademis yang akan tinggal bersama anak selamanya dan tidak akan dilupakan seiring waktu dan musim berubah.41

Perempuan sebagai objek seringkali diabaikan dalam sosiologi. Dia adalah satu-satunya yang mengakui keberadaannya di luar pernikahan dan keluarga. Dengan kata lain, ia menempati peran konvensional yang diberikan

38 An-Nisa: 34.

39 Faqihuddin Abdul Kodir, Qira’ah Mubadalah Tafsir Progresif Untuk Keadilan Gender Dalam Islam (Yogyakarta: IRCiSoD, 2021), Cetakan IV, 379.

40 Hassanatunnajah, Peran Ganda Perempuan Dalam Meningkatkan Ekonomi Keluarga di Desa Mekar Jaya Kecamatan Bayung Lencir, Skripsi, (Jambi: Universitas Negeri Sulthan Thaha Saifuddin, 2020), 12-13.

41 Athibi dan Ukasyah Abdulmanan, Wanita Mengapa Merosot Akhlaknya (Jakarta: Gema Insani Press, 1998), 74.

(20)

30

masyarakat kepadanya dalam sosiologi: tempat perempuan adalah di rumah.42

2. Hak Perlindungan Kerja Perempuan

Pekerja wanita harus mendapatkan perlindungan khusus terkait dengan kodrat yang melekat pada dirinya yaitu ketika masa haid (datang bulan), kehamilan, melahirkan, dan menyusui anak. Hamil, melahirkan serta menyusui anak merupakan hak asasi manusia sebagaimana yang diatur dalam pasal 10 ayat 1 UU Nomor 39 tahun 1999 tentang hak asasi manusia “setiap orang berhak membentuk suatu keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah”. Dengan didasarkan kepada pasal 10 ayat 1 UU nomor 39 tahun 1999 tentang hak asasi manusia, negara Indonesia telah menghormati dan melindungi pekerja wanita terkait dengan hak reproduktif. Sehingga terhadap hal tersebut, perusahaanperusahaan yang memperkerjakan pekerja harus memberikan perlindungan hukum terhadap pekerja wanita terkait hak reproduktif. Walaupun sudah diatur dalam beberapa instrumen hukum, namun masih banyak pelanggaran yang dilakukan perusahaan terhadap pekerja wanita.43

Bukan hanya terhadap diskriminasi wanita hamil dan menyusui saja tetapi diskriminasi upah terdapat pada tunjangan kesejahteraan. Pada umumnya para pekerja laki laki akan mendapatkan tunjangan kesejahteraan untuk anak dan istri, namun pada pekerja perempuan tidak mendapatkan tunjangan kesejahteraan untuk suami dan anak. Hal ini dikarenakan adanya anggapan bahwa wanita mudah diatur, bahkan anggapan ini juga berimbas pada adanya pembatasan persyaratan jabatan yang memberikan syarat pada jenis kelamin. Seperti pada persyaratan lowongan pekerjaan yang memberikan syarat pada jenis kelamin tertentu, padahal lowongan pekerjaan tersebut tidak mempunyai karakter khas

42 Jane C. Ollenburger dan Helen A. Moore, Sosiologi Wanita (Jakarta:

Rineka Cipta, 2002), 1.

43 Desia Rakhma Banjarani, “Pelaksanaan dan Perlindungan Akses Hak Pekerja Wanita di Indonesia: UU No 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Atas konvens”, Jurnal HAM vol 10 nomor 1 Juli (2019) : 121.

(21)

31

yang hanya boleh dikerjakan oleh jenis kelamin tertentu.

Kemudian pada jabatan strategis yang kebanyakan hanya diperuntukkan bagi pria, dimana kebanyakan pekerja wanita selalu diposisikan pada jenis-jenis jabatan yang tidak memberikan keputusan final, tentu hal ini juga merupakan salah satu merupakan diskriminasi wanita.44 Wanita yang hamil dan melahirkan atau kondisi medis harus diperlakukan sama untuk semua pekerjaan. Termasuk bukti penerimaan manfaat dibawah pinggiran mendapatkan keuntungan dari program, dan orang tersebut tidak mempengaruhi tapi mampu dalam kemampuan mereka.

Perlindungan hak-hak perempuan pekerja dalam ketentuan perundangundangan merupakan dasar hukum bagi pekerja perempuan didalam melaksanakan hak-haknya sebagai pekerja dan perlindungan terhadap tindakan diskriminasi yang dilakukan oleh pemberi kerja serta pihak lain ditempat kerja. Hak-hak pekerja perempuan salah satunya adalah hak maternal. Hak maternal pada dasarnya sama dengan hak kesehatan reproduksi. Aspek perlindungan terhadap hak-hak maternal ini, pada dasarnya menjadi ketentuan yang wajib diharmonisasikan ke dalam peraturan perundang-undangan bidang ketenagakerjaan di Indonesia.

Hak tersebut meliputi hak atas perlindungan khusus terhadap fungsi melanjutkan keturunan dalam bentuk: tidak dipecat atas dasar kehamilan atau dasar status perkawinan, pengadaan cuti hamil dengan hayaran, pengadaan pelayanan sosial dalam bentuk tempat penitipan anak, pemberian pekerjaan yang tidak berbahaya bagi kehamilan.45

Perbedaan gender prinsip dasarnya adalah sesuatu yang wajar dan merupakan sunnatullah sebagai sebuah fenomena kebudayaan. Perbedaan gender tidak menjadi masalah selama tidak menimbulkan ketidakadilan gender (gender in equalities). Namun yang menjadi persoalan adalah perbedaan gender ternyata telah melahirkan berbagai ketidakadilan baik

44 Aulya Murfiatul Khoiriyah, “Perlindungan dan Hak Pekerja Perempuan di Bidang ketenagakerjaan”, Jurnal Ijougs vol 1 No 1 (2020) : 63.

45 Nurjannah, “Prinsip Anti Diskriminasi dan Perlindungn Hak-Hak Maternal Pekerja Perempuan Dalam Perspektif Keadilan Gender, Jurnal IUS Vol 1 No 1 April (2019) : 37-38.

(22)

32

kaum laki-laki terutama kepada kaum perempuan. Keadilan gender adalah proses yang adil bagi perempuan dan laki-laki.

Untuk pastikan agar proses itu adil bagi yang dimainkan.

Keadilan gender mengantarkan perempuan dan laki-laki menuju kesetaraan gender. Iklan gender kesetaraanalah keadaan bagi perempuan dan laki-laki menikmati status dan kondisi yang sama untuk merealisasikan hak asasinya secara penuh dan sama-sama menyelesaikan dalam menyumbangkanya dalam pembangunan, dengan demikian kesetaraan jenis kelamin adalah penilaian yang sama oleh masyarakat terhadap persamaan dan perbedaan perempuan dan laki-laki dalam berbagai peran yang mereka lakukan.46

Upaya perlindungan khusus kepada pekerja perempuan diperlukan sebagai salah satu bentuk untuk mewujudkan kesetaraan gender. Upaya perlindungan ini diberikan sesuai dengan kekhususan yang dimiliki kaum perempuan.

"perusahaan-perusahaan harus memperhatikan berbagai keistimewaan yang khas yang menjadi hak dasar pekerja perempuan. Mereka memiliki hak khusus seperti hak cuti hamil, hak cuti melahirkan, hak cuti tertentu sebagai kodrat perempuan," dalam hubungan kerja, tidak boleh ada perlakuan diskriminasi terhadap pekerja perempuan terutama dalam pemberian upah, tunjangan keluarga dan jaminan sosial, kesempatan mengikuti pelatihan, serta promosi jabatan."Pemenuhan hak tersebut tidak boleh berlaku diskriminatif".

Kesetaraan gender dapat dilihat dari empat indikator diantaranya: (1) factor akses, perempuan dan laki-laki akses yang sama terhadap sumber-sumber daya pembangunan (2) faktor partisipasi, perempuan dan laki-laki sama-sama berpartisipasi dalam program-program pembangunan (3) faktor manfaat, perempuan dan laki-laki harus sama sama menikmati manfaat dari hasil pembangunan (4) faktor kontrol, memiliki kewenangan penuh untuk mengambil

46 Ridwan, Kekerasan Berbasis Gender (Purwokerto: Fajar Pustaka, 2006), 25.

(23)

33

keputusan atas penggunaan dan hasil sumber daya baik laki- laki dan perempuan.47

3. Wanita Bekerja Dalam Pandangan Islam

Hukum Islam memperlakukan laki-laki dan perempuan secara setara dan tidak membedakan hak-hak mereka. Keduanya diberi kesempatan dan kebebasan untuk mencoba dan bertahan hidup di dunia ini. Keduanya diperlukan untuk menjalankan peran masing-masing dalam kehidupan dan untuk saling melengkapi.48 Sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Quran surat An-Nisa :32

























































Artinya: "Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya.

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (Q.S. An-Nisa: 32).49

Pada ayat di atas dijelaskan bahwa dilarang iri hati kepada orang lain dengan mengharapkan atau menginginkan harta, ternak, istri, atau harta lainnya, serta menahan diri dari berdoa dengan memohon, “Ya Allah, berilah kami rezeki sebagaimana yang Engkau berikan kepadanya, atau (rizki)

47 Aulya Murfiatul Khoiriyah, “Perlindungan dan Hak Pekerja Perempuan di Bidang ketenagakerjaan”, Jurnal Ijougs vol 1 No 1 (2020) : 65.

48 Huzaemah Tahido Yanggo, Fikih Perempuan Kontemporer (Jakarta, Ghalia Indonesia, 2010), 90.

49 An-Nisa:32.

(24)

34

yang lebih baik darinya.” Ayat tersebut diturunkan sehubungan dengan Ummu Salamah, istri Nabi Muhammad, yang bertanya kepada Nabi: “Jika Allah mewajibkan atas kami (perempuan) apa yang menjadi kewajiban laki-laki, agar kami mendapatkan pahala seperti yang diberikan kepada laki-laki, Tetapi Allah melarang hal itu dengan menurunkan firman-Nya, khususnya ayat di atas, dan menjelaskan bahwa setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, akan mendapatkan pahala atau pahala sesuai dengan apa yang mereka kerjakan.

Bukti adanya hak-hak perempuan atas pekerjaan terdapat pada paragraf di atas. Salam Sejarah perjalanan Nabi menunjukkan bahwa perempuan telah berpartisipasi dalam pertempuran, mengurus masalah medis, memberikan peralatan, dan menyembuhkan prajurit yang terluka. Selain itu, telah ditunjukkan bahwa beberapa wanita bekerja di bisnis sambil membantu suami mereka di pertanian.

C. Perekonomian Keluarga

Keluarga sebagai unit sosial terkecil sangat penting dalam upaya peningkatan kesejahteraan sosial, yang diperkirakan dapat menurunkan prevalensi masalah sosial, terutama yang disebabkan oleh masalah ekonomi.50 Asas- asas dasar keluarga sejahtera tertuang dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang kesejahteraan sosial, khususnya dalam Pasal 1 ayat 1 tersebut, yang mendefinisikan kesejahteraan sosial sebagai kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial warga negara dalam rangka memungkinkan mereka hidup secara layak dan mampu mengembangkan diri dalam rangka menjalankan fungsi sosialnya.

Pemahaman ini menekankan pada gagasan bahwa setiap orang, laki-laki dan perempuan, memiliki kesempatan yang sama untuk mengejar upaya memuaskan keinginan, baik jasmani maupun rohani, dalam upaya memenuhi kebutuhan hidup. Berdasarkan justifikasi ini, jelaslah bahwa

50 Omas dan Ihromi, Para Ibu Yang Berperan Tunggal dan Yang Berperan Ganda (Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Indonesia, 2001), 103.

(25)

35

keluarga, unit sosial terkecil, secara fundamental penting bagi pembangunan dan pertumbuhan kesejahteraan sosial.51

Ekonomi merupakan salah satu kunci kekuatan di dalam keluarga dalam upaya mencapai kesejahteraan sebab keluarga merupakan unit yang terkoodinir dalam produksi ekonomi dimana setiap anggota keluarga akan bekerja sama untukmembangun ekonomi keluarga yang kuat. Ekonomi keluarga yang dimaksud dalam hal ini ialah kegiatan dan fungsi keluarga dalam memenuhi kebutuhan material seperti makanan, minuman, perumahan, pakaian, barang-barang dan jasa.52

Kegiatan ekonomi keluarga dilakukan dengan bekerja (mencari nafkah) untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan, kegiatan belajar untuk anak, penyediaan dan pemeliharaan sandang, pangan dan papan serta kegiatan lain yang menyangkut kebutuhan keluarga.53 Fungsi keluarga dalam perekonomian keluarga berupa kegiatan mencari nafkah, merencanakan, meningkatkan pemeliharaan dan mendistribusikan penghasilan keluarga guna meningkatkan dan melangsungkan kesejahteraan keluarga.54

Komponen-komponen kebutuhan material yang dibutuhkan oleh keluarga sering dikaitkan dengan Komponen Kebutuhan Hidup Layak (KHL). KHL adalah standar kebutuhan yang harus dipenuhi oleh individu untuk dapat hidup layak.55 Standar komponen kebutuhan hidup layak ini terdiri atas beberapa komponen yaitu:

1. Makanan dan minuman (pangan) yang terdiri dari beras, sumber protein (daging, ikan, telur ayam), tempe dan tahu, susu bubuk, gula pasir, minyak goreng, sayuran, buah-buahan, teh atau kopi dan bumbu-bumbu dapur.

51 Resmiwal, Menggugah Partisipasi Gender (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2013), 46.

52 Sulistyowati Irianto, Perempuan dan Hukum (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2006), 541.

53 Nunuk P. Murniati, Getar Gender (Magelang: Indonesiatera, 2004), 206.

54 Ghufran H. Kordi K., Perempuan di Tengah Masyarakat dan Budaya Patriarki (Yogyakarta: Spektrum Nusantara, 2018), 40.

55 John, Nugraha, dkk., Hubungan Industrial (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2016), 92.

(26)

36

2. Pakaian (sandang) yang meliputi celana, kemeja, kaos oblong, pakaian dalam, sarung, sepatu, kaos kaki, ikat pinggang.

3. Perumahan (papan) yang meliputi tempat tidur, perlengkapan tidur, meja dan kursi, lemari, perlengkapan makan, listrik, setrika, dan perlengkapan memasak.

4. Pendidikan yang meliputi buku tulis dan buku bacaan, pulpen dan pensil, dan biaya sekolah.

5. Kesehatan yang terdiri dari obat-obatan, pasta gigi, sabun mandi, sikat gigi, shampoo, dan obat anti nyamuk.

6. Transportasi yang terdiri dari kendaraan pribadi dan angkutan umum.

Dalam rangka memenuhi kebutuhan untuk dapat hidup layak tersebut maka keluarga harus memiliki pendapatan yang memadai. Teori Maslow menjelaskan bahwa untuk memenuhi kebutuhan pokok maka seseorang harus memiliki pendapatan yang memadai, sebab orang yang memiliki pendapatan yang tinggi lebih memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dibandingkan dengan mereka yang pendapatannya lebih rendah.56

Pendapatan merupakan balas jasa yang diterima oleh seseorang setelah melakukan suatu pekerjaan. Pada dasarnya tujuan utama setiap orang yang bekerja adalah untuk memperoleh pendapatan. Melalui pendapatan yang memadai maka diharapkan kebutuhan pangan, sandang, papan, pendidikan maupun kesehatan dapat terpenuhi. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi besar kecilnya pendapatan yang diterima. Faktor tersebut ialah umur, pendidikan, status pekerjaan serta kemandirian dari seseorang. Apabila seseorang berusia produktif, berpendidikan tinggi, memiliki status pekerjaan yang tinggi serta mampu mengambil inisiatif dan cakap dalam mengatasi masalah maka pendapatan yang diterima cenderung memadai. Pendapatan yang memadai menjadi sumber kekuatan utamakeluarga dalam memenuhi kebutuhan

56 Siti Partini Suardiman, Perempuan Kepala Rumah Tangga (Yogyakarta: Penerit Jendela, 2001), 66.

(27)

37

ekonomi berupa kebutuhan sandang, pangan, papan, pendidikan maupun kesehatan.57

Adapun macam-macam sistem perekonomian sebagai berikut:

1. Setiap orang memiliki kebebasan penuh untuk terlibat dalam kegiatan menjual komoditas dan hal-hal lain dalam sistem ekonomi kapitalis.

2. Sistem ekonomi sosialisme memungkinkan setiap orang untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi dengan banyak kebebasan, tetapi dengan campur tangan pemerintah.

3. Sistem ekonomi komunisme adalah sistem di mana fungsi pemerintah adalah mengendalikan semua kegiatan ekonomi.

4. Sistem ekonomi merkantilisme adalah kerangka politik- ekonomi yang menempatkan nilai tinggi pada perdagangan internasional untuk meningkatkan kepemilikan aset dan uang negara.

5. Fasisme adalah, dengan kata lain, sikap rasionalitas ekstrim. Sistem ekonomi fasisme adalah paham yang mengutamakan negara sendiri dan memandang rendah negara lain.

D. Usaha Rumahan (home industry) 1. Pengertian Industri

Industri didefinisikan oleh undang-undang nomor 5 tahun 1984 sebagai kegiatan ekonomi yang mengubah sumber daya mentah, bahan baku, dan bahan setengah jadi menjadi komoditas yang bernilai tinggi untuk dikonsumsi.

Sedangkan menurut kamus ekonomi, industri adalah perusahaan yang produktif, khususnya dalam bidang manufaktur atau bagi usaha-usaha yang menyediakan jasa seperti transportasi yang membutuhkan tenaga kerja dan modal yang cukup tinggi.58

Penulis buku "Teori Lokasi Industri," Parlin Sitorus, mengklaim bahwa ada dua cara untuk mendefinisikan

57 Siti Partini Suardiman, Perempuan Kepala Rumah Tangga (Yogyakarta: Penerbit , 2001), 74.

58 Ety Rachaety dan Ratih Tresnawati, Kamus Istilah Ekonomi (Jakarta:

Bumi Aksara, 2005), Cet Ke-1, 159.

(28)

38

industri: arti luas dan arti terbatas. Dalam arti luas, industri adalah kumpulan bisnis yang menciptakan barang-barang yang sebanding dengan elastisitas permintaan positif yang kuat. Sebaliknya, industri adalah bagian dari produsen produk dan jasa yang seragam.59

Hasibuan mengklasifikasikan konsep industri ke dalam lingkup makro dan mikro. Dalam arti luas, industri adalah sekelompok bisnis yang menciptakan produk atau produk yang seragam dengan kualitas yang terkait erat dan dapat dipertukarkan. Sebaliknya, industri adalah kegiatan ekonomi yang berharga dalam skala yang lebih kecil.60

Bersamaan dengan kata "industri", frasa

"industrialisasi" adalah istilah lain yang sering digunakan dalam industri. Proses industrialisasi melibatkan kombinasi kemajuan teknologi, inovasi, spesialisasi, dan perdagangan, dan pada akhirnya didorong oleh perubahan struktur ekonomi yang disebabkan oleh peningkatan kekayaan manusia.61

Jelas dari deskripsi perbedaan antara industri dan industrialisasi yang diberikan di atas bahwa industri menempatkan fokus yang lebih besar pada proses manufaktur produk atau jasa. Industrialisasi, di sisi lain, menempatkan fokus pada proses modernisasi ekonomi untuk mendorong laju pertumbuhan ekonomi. Industrialisasi diperlukan untuk mengurangi kemiskinan, meningkatkan kekayaan, memecahkan masalah pengangguran dan menciptakan lapangan kerja, memperluas dan memperkuat fondasi ekonomi, dan memajukan keadilan.

a. Macam-macam Industri

Jumlah dan jenis industri bervariasi untuk setiap negara atau daerah karena industri merupakan kegiatan ekonomi yang luas. Secara umum, setiap kegiatan dan perusahaan ini menjadi lebih rumit semakin cepat tingkat pertumbuhan industri di suatu negara atau daerah.

59 Parlin Sitorus, Teori Lokasi Industry (Jakarta: Universitas Trisakti Press, 1996), 4.

60 Nurimansyah Hasibuan, Ekonomi Industry Dalam Pembangunan (Jakarta: LP3S, 1998), Cet ke-1, 15.

61 Tulus Tambunan, Perekonomian Indonesia (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2001), Cet ke-1, 107.

(29)

39

Berikut ini adalah kategori industri berdasarkan parameter yang relevan:

1) Klasifikasi industri berdasarkan bahan baku

a) Industri ekstaktif, yaitu industri yang sumber bahan baku utamanya adalah alam. Industri pertanian, perikanan, dan kehutanan, misalnya.

b) Industri non ekstaktif, yaitu industri yang mengambil output dari industri lain dan memprosesnya lebih lanjut. Misalnya, industri kayu lapis dan tekstil.

c) Industry fasilitatif, yaitu operasi di sektor industri yang menawarkan layanan seperti transportasi dan lain-lain.62

2) Klasifikasi industri berdasarkan tenaga kerja

a) Industri rumah tangga/usaha rumahan (home industry), yaitu industri yang mempekerjakan kurang dari empat karyawan. Industri ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut: modal yang sangat kecil;

tenaga kerja empat atau kurang; anggota keluarga sebagai karyawan; dan pemilik atau pengelola bisnis sering kali menjadi kepala rumah tangga atau anggota keluarganya. Pertimbangkan pasar untuk makanan ringan.

b) Industri kecil, yaitu industri dengan tenaga kerja tipikal 5 hingga 19 pekerja. Ciri-cirinya termasuk sejumlah kecil uang dan sejumlah kecil karyawan.

Bisnis batu bata antara lain contohnya.

c) Industri sedang, yaitu industri dengan tenaga kerja antara 20 dan 99. Diantaranya ada industri konveksi, dan lain sebagainya

d) Industri besar, yaitu industri dengan lebih dari 100 orang staf. Staf industri besar sering kali memiliki keahlian khusus, dan pemimpinnya dipilih setelah lulus uji kompetensi dan kelayakan. Uang besar

62 Edi Eka Putra, Peran Home Industri Dalam Meningkatkan Perekonomian Di Desa Desaloka Kecamatan Setuluk Kabupaten Sumbawa Barat, Skripsi, (Mataram: Universitas Muhammadiyah Mataram, 2020), 14.

(30)

40

juga dikumpulkan dalam bentuk kepemilikan saham. sektor tekstil, misalnya.63

2. Pengertian Usaha Rumahan (home industry)

Home mengacu pada rumah atau kampung halaman seseorang. Sedangkan istilah "industri" dapat merujuk pada suatu profesi, perusahaan, benda, atau organisasi. Oleh karena itu, industri rumah tangga adalah tempat produksi barang atau usaha kecil. Karena kegiatan ekonomi seperti ini kebanyakan dilakukan di rumah, maka disebut sebagai firma kecil.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) industri memiliki dua pengertian yaitu:

a. Dalam arti luas, industri mengacu pada setiap usaha komersial dan kegiatan ekonomi yang bersifat produktif.

b. Dalam arti sempit, istilah "industri" hanya mengacu pada industri pengolahan, yang merupakan kegiatan ekonomi yang memerlukan transformasi barang mekanik, kimia, atau manual dasar menjadi barang setengah jadi atau barang jadi, setelah itu barang dari nilai yang lebih rendah diubah menjadi barang yang lebih tinggi nilainya dan lebih berharga sifatnya. penggunaan akhir.64

Industri rumah tangga, kadang-kadang dikenal sebagai usaha rumahan, adalah pengolahan komoditas dalam negeri.65 Industri rumahan atau home industry pada dasarnya adalah bisnis rumahan untuk produk atau usaha kecil. Karena kegiatan ekonomi seperti ini kebanyakan dilakukan di rumah, maka disebut sebagai firma kecil.66

63 Edi Eka Putra, Peran Home Industri Dalam Meningkatkan Perekonomian Di Desa Desaloka Kecamatan Setuluk Kabupaten Sumbawa Barat, Skripsi, (Mataram: Universitas Muhammadiyah Mataram, 2020), 15-16.

64 Fariya Istiqomah, Pemberdayaan Masyarakat Colo Melalui Home Industry Sirup Parijoto Alammu Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Di Desa Colo Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus, Skripsi, (Kudus: Institut Agama Islam Negeri Kudus, 2021), 24.

65 Nurdin Elyas, Berwiraswasta Dengan Home Industry (Yogyakarta:

Absolut, 2006), Cet ke-3, 11.

66 Afriyani, Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Melalui Home Industry Tahu Di Desa Landsbaw Kecamatan Gisting Kabupaten Tanggamus, Skripsi, (Lampung: Universitas Islam Negeri Raden Intan, 2017), 36. Diakses melalui http://repository.radenintan.ac.id pada tanggal 08 Desember 2021, pukul 20:14.

Referensi

Dokumen terkait

Mes- kipun di sisi yang lain, reaktualisasi filsafat Islam, khususnya dalam rangka reintegrasi keilmuan di perguruan tinggi Islam menjadi sangat krusial mengingat umat

Sesuai dengan anggaran yang telah dialokasikan dalam Rencana Kinerja Anggaran Kementerian dan Lembaga (RKA-KL) pada tahun 2018, lingkup BPTP Nusa Tenggara Timur

Dengan melihat hal tersebut, adapun tujuan dalam penelitian ini ialah untuk menciptakan kesadaran kolektif masyarakat Toraja di tengah pandemi covid 19 yang

Menghasilkan DOKTER yang mampu menguasai dan mengembangkan ilmu kedokteran dengan wawasan ilmu pengetahuan dan teknologi kelautan, bermoral Pancasila, mentaati Undang-Undang

Jawaban saudara saksi “Atas informasi yang saya terima dari saudara Margo Santoso, kemudian saya memanggil saudara Budi Harsono, yang selanjutnya setelah saya bertemu dengan

Peningkatan Kreativitas melalui Pendekatan Tematik dalam Pembelajaran Seni Grafis Cetak Tinggi Bahan Alam di SD Sistem pendidikan Sekolah Dasar, sebagaimana diungkapkan

Penggunaan metode penelitian kualitatif, dengan alasan data kualitatif tetap diperlukan sebagai data pendukung untuk kelengkapan analisis data penelitian, serta alur

Sistem pengambilan keputusan yang akan digunakan pada penelitian ini adalah metode Electre (Elimination and Choice Translation Reality), yang diharapkan dapat