ASPEK ANATOMI TEMPOROMANDIBULAR DISORDER
OLEH :
Drg. I Gusti Agung Sri Pradnyani, M.Biomed
PROGRAM STUDI SARJANA KEDOKTERAN GIGI DAN PROFESI DOKTER GIGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA
2018
i
KATA PENGANTAR
Segala puja dan puji kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas karunia dan izin-Nya lah kami dapat menyelesaikan karya tulis dengan topik Aspek Anatomi Temporomandibular Disorder.
Harapan kami semoga dengan penulisan karya tulis ini, bisa menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman kita semua dalam proses belajar mengajar.
Karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman yang kami miliki, kami memohon maaf atas kesalahan yang masih terdapat di dalam karya tulis ini. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesuksesan karya tulis yang kami susun.
Denpasar, 20 Oktober 2018
Penulis
ii DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 2
1.3 Tujuan Penulisan ... 3
1.4 Manfaat Penulisan ... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Temporomandibular ... ... 4
2.1.1 Anatomi Sendi Temporomandibularis ... 4
2.1.2. Anatomi Otot yang Dapat Mempengaruhi TMJ ... 5
2.2 Myotonic Dystrophy ... 6
2.2.1 Definisi Myotonic Dystrophy ... 6
2.2.2 Penyebab Myotonic Dystrophy ... 7
2.2.3 Gejala Myotonic Dystrophy... 8
BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan ... 10
3.2 Saran ... 10
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Dunia kesehatan tidak akan pernah lepas dari yang namanya penyakit dan gangguan. Banyak penyakit dan gangguan yang dapat menyerang bagian-bagian tubuh kita. Mulai dari penyakit dan gangguan yang menyerang tulang, saraf, organ, otot, persendian, sistem dalam tubuh, dan lain sebagainya. Gangguan otot merupakan salah satu gangguan yang sering terjadi pada manusia. Fungsi utama dari otot sendiri adalah sebagai alat pergerakan untuk menggerakan rangka dan organ manusia. Otot ini memiliki sifat yang eksitabilitas/ iritabilitas, mampu melakukan kontraksi, elastisitas, dan mampu diregangkan (Wangko, Sunny, 2014). Gangguan yang biasanya terjadi pada otot manusia misalnya, dermatomyositis, compartment syndrome, myasthenia gravis, mitochondrial myopathies, polimyositis, fibromualgia, myotinia, myofascial pain syndrome, dan lain- lain. Selain dari gangguan-gangguan otot diatas, ada satu gangguan otot yang biasanya terjadi pada manusia adalah Muscular dystrophy atau yang sering disebut distrofi otot. (R., Jusuf, 2010)
Muscular dystrophy merupakan kelompok penyakit dimana serabut otot tidak dapat menjalankan fungsinya dengan normal, atau yang sering disebut dengan miopati. Muscular dystrophy ini merupakan penyakit yang bersifat genetik atau turunan. Untuk saat ini penyebab Muscular dystrophy adalah mutasi gen yang lokasinya di lengan pendek dari kromosom X. Muscular dystrophy memiliki bermacam-macam tipe, yaitu duchenne muscular dystrophy, Becker muscular dystrophy, congenital muscular dystrophy, oculopharyngeal muscular dystrophy, myotonic dystrophy, dan lain-lain (Johanson, Paula, 2008). Tipe muscular dystrophy yang akan dibahas adalah myotonic dystrophy.
Myotonic dystrophy atau distrofi miotonik adalah salah satu penyakit yang cuku sering dialami oleh orang, terutama orang dewasa, dengan prevelansi 2-14 dari 100.000 individu. Myotonic dystrophy biasanya dikenal
2
dengan sebutan steinert diseases. Penyakit Myotonic dystrophy ini merupakan suatu kondisi melemahnya otot progresif dan ketidakmampuan otot untuk melakukan relaksasi. Penyakit ini dapat terjadi pada penderita bergantung pada keturunan keluarganya dan penderitannya biasanya tidak memandang usia. Bisa saja sejak lahir hingga usia tua. Ada dua jenis Myotonic dystrophy, yaitu Myotonic dystrophy Tipe 1 dan Myotonic dystrophy tipe 2. Myotonic dystrophy Tipe 1 dapat menyerang daerah kaki bagian bawah, tangan, leher, dan wajah dan Myotonic dystrophy tipe 2 dapat menyerang bagian otot-otot leher, bahu, siku, dan pinggul. Myotonic dystrophy Tipe 1 cenderung lebih parah dan lebih umum terjadi di Inggris daripada tipe 2 (S., Peter, 2017). Pada student project (SP) kali ini, kami ingi membahas Myotonic dystrophy Tipe 1, yang menyerang tubuh bagian atas terutama bagian Temporomandibular joint (TMJ).
Temporomandibular joint (TMJ) atau yang kita kenal dengan sebutan sendi temporomandibular, merupakan sistem persendian yang terdapat di kepala manusia. Temporomandibular joint (TMJ) atau sendi temporomandibular berfungsi untuk menghubungkan antara tulang rahang dengan tulang tengkorak. Sendi ini sering mengalami gangguan yang disebut dengan temporomandibular joint disorder. Sebanyak 33% dari jumlah populasi menderita temporomandibular joint disorder selama hidupnya. (P., Jeffrey, 2008). Temporomandibular joint disorder merupakan sebuah gangguan gerak yang menyerang struktur bagian pengunyahan.
(American Academy of Orofacial Pain, 2008).
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana Myotonic dystrophy yang terjadi pada temporomandibular joint (TMJ) atau sendi temporomandibular?
2. Mengapa Myotonic dystrophy pada temporomandibular joint (TMJ) atau sendi temporomandibular dapat terjadi?
3. Apa gejala yang dialami penderita Myotonic dystrophy pada temporomandibular joint (TMJ) atau sendi temporomandibular?
3
4. Bagaimana cara pengobatan Myotonic dystrophy pada temporomandibular joint (TMJ) atau sendi temporomandibular?
1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah diatas, maka tujuan dibuatnya student project ini yaitu:
1. Untuk mengetahui gangguan otot myotonic dystrophy pada temporomandibular joint (TMJ) atau sendi temporomandibular
2. Untuk membahas gejala dan penyebab gangguan otot myotonic dystrophy pada temporomandibular joint (TMJ) atau sendi temporomandibular
1.4 Manfaat Penulisan
Adapun manfaat yang didapat dari pengerjaan student project ini adalah : 1. Dapat menambah wawasan tentang gangguan otot myotonic dystrophy
pada temporomandibular joint (TMJ) atau sendi temporomandibular 2. Dapat memberikan informasi kepada masyarakat tentang gangguan otot
myotonic dystrophy pada temporomandibular joint (TMJ) atau sendi temporomandibular dengan wawasan yang kita miliki
4 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Anatomi Temporomandibular
2.1.1 Anatomi Sendi Temporomandibularis
Sendi temporomandibularis, satu pada tiap sisinya, memungkinkan mulut membuka dan menutup dan gerak kompleks mengunyah atau gerak dari sisi ke sisi rahang bawah.
Setiap sendi merupakan sendi synovialis dan dibentuk antara capitulum mandibulae dan fossa articulare/mandibularis dan tuberculum articulare tulang temporale (lihat Gambar 8.117A).
Tidak seperti sebagian besar sendi synoviales yang lain, yaitu permukaan articulare tulang tertutup oleh lapisan tulang rawan hialin, tulang-tulang sendi temporomandibularis tertutup oleh fibrocartilago.
Selain itu, sendi tersebut terbagi secara utuh oleh suatu discus articularis fibrosum menjadi 2 bagian: Bagian bawah sendi terutama memungkinkan gerak mandibula untuk depresi dan elevasi, seperti sendi ginglymus.
Bagian atas sendi memungkinkan capitulum mandibulae untuk berpindah ke depan (protrusi) pada tuberculum articulare dan ke belakang (retraksi) ke dalam fossa mandibulae (Drake, Vogl, & Mitchell, 2012).
5
2.1.2 Anatomi Otot yang Dapat Mempengaruhi TMJ
Myotonic Dystrophy yang dapat terjadi pada otot dapat mempengaruhi Temporomandibular Joint (TMJ) Dysfunction. TMJ merupakan persendian yang menghubungkan antara rahang bawah (mandibula) dengan rahang atas (maxila). Otot yang mengalami Myotonic dystrophy yang dapat memepengaruhi kerja dari Temporomandibular Joint (TMJ) biasanya adalah Masticatory Muscle atau Otot Pengunyah. (Gold, 1966) Bagian-bagian dari Masticatory Muscle secara umum antara lain, M.
Temporalis, M. Masseter, M. Pterigoideus lateralis dan M. Pterigoideus medialis. Gerakan yang dilakukan oleh M. Temporalis adalah elevasi dan retraksi mandibula. Sedangkan gerakan yang dilakukan oleh M. Masseter adalah elevasi dan protursi mandibula. Jika dilihat secara lateral view antara lain, M. Temporalis, M. Levator labii superioris alaeque nasi, M.
Levator labii superioris, M. Zygomaticu minor, M. Zygomaticus major, M.
Levator anguli oris, M. Orbicularis oris, M. Mentalis, M. Depressor labii inferioris, M. Depressor anguli oris, M. Buccinator, M. Masseter, M.
Pterigoideus lateralis, M. Pterigoideus medialis, dan M. Constrictor paaryngis superior (lihat Gambar 2.1.2.1). (Netter, 2016).
6
Sedangkan Masticatory Muscle jika dilihat secara posterior view adalah sebagai berikut, M. Pterigoideus medialis, M. Levator veli palatini, M. Tensor veli palatini, dan M. Pterigoideus lateralis. (Netter, 2016).
Terjadinya myotonic dystrophy pada otot-otot tersebut dapat memicu Temporomandibular joint dysfunction.
2.2. Myotonic Dystrophy
2.2.1 Definisi Myotonic Dystrophy
7
Myotonic Dystrophy adalah salah satu penyakit distrofi otot yang menyerang otot ataupun organ lainnya di dalam tubuh manusia. Kata Myotonic adalah kata sifat yang berasal dari kata myotonia yang berarti ketidakmampuan otot untuk relaksasi. Myotonic Dystrophy atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan Distrofi miotonik seringkali disingkat sebagai "DM", dimana kata “DM” mengacu pada bahasa Yunani yaitu dystrophia myotonica (MDA, 2010).
Myotonic Dystrophy juga dapat diartikan sebagai kondisi genetik
yang menyebabkan kelemahan otot yang progresif. Biasanya penyakit ini mempengaruhi gerakan otot mulai dari otot jantung, otot pernafasan, otot yang digunakan untuk menelan, usus, lensa mata dan juga otak. Usia seseorang yang dapat terkena penyakit ini bervariasi, mulai dari lahir hingga usia tua. Semakin tua usia seseorang, semakin ringan juga gejala yang akan dideritanya (Harper, P., 2017). Hingga saat ini ada 2 tipe Myotonic Distrophy yaitu tipe 1 dan tipe 2. Myotonic Distrophy tipe 1
seringkali disebut juga dengan Steinert’s Disease, sedangkan Myotonic Distrophy tipe 2 seringkali disebut dengan proximal myotonic myopathy.
Diantara kedua tipe DM ini yang paling umum terjadi pada orang dewasa adalah DM tipe 1(Turner, C., 2010).
2.2.2 Penyebab Myotonic Dystrophy
Myotonic Dystrophy merupakan penyakit yang disebabkan mutasi
gen. Myotonic Dystrophy tipe 1 disebabkan oleh mutasi gen DMPK (dystrophia-myotonic protein kinase) pada kromosom 19, sedangkan Myotonic Dystrophy tipe 2 disebabkan oleh mutasi gen CNBP atau Znf9
(Zinc finger protein 9) pada kromoson 3 (NLM, 2018). Jenis mutasi spesifik yang ditemukan pada kedua jenis Myotonic Dystrophy adalah ekspansi berulang trinukleotida. Jenis mutasi ini terjadi ketika segmen DNA berulang secara abnormal, hal ini membuat gen tidak stabil. Gen yang bermutasi membuat versi RNA messenger (mRNA) berubah yang merupakan salinan dari gen yang biasanya digunakan untuk produksi protein. mRNA abnormal membentuk rumpun didalam sel yang
8
mengganggu produksi banyak protein lainnya. Perubahan ini mencegah sel-sel di otot dan jaringan lain berfungsi normal, yang mengarah ke tanda- tanda dan gejala Myotonic Dystrophy (MDF, 2018).
2.2.3 Gejala Myotonic Dystrophy
Secara umum gejala yang dapat dirasakan oleh penderita myotonic dystrophy adalah sebagai berikut (Anonim, 2013) :
1. Kesulitan relaksasi otot (myotonia)
Otot-otot sulit untuk berelaksasi atau kembali ke keadaan semula setelah berkontraksi.
2. Kelemahan Otot (Miopati)
Distrofi miotonik dapat menyebabkan kelemahan otot yang semakin memburuk dari waktu ke waktu Kelemahan ini biasanya terjadi pada otot wajah (facial muscle), lengan, tangan, dan leher.
3. Kekakuan otot
Otot dapat terasa kaku dan sakit saat digerakkan, terutama setelah anda beraktivitas berat.
4. Kelopak mata terkulai (ptosis)
Kelopak mata terkulai yaitu kelopak mata yang menurun atau yang juga disebut ptosis atau blepharoptosis adalah keadaan dimana batas kelopak mata atas turun ke posisi yang lebih rendah dari biasanya. pada kasus yang lebih parah, kelopak mata yang menurun dapat menutupi seluruh atau sebagian pupil sehingga mengganggu penglihatan.
5. Gangguan bicara
Myotonic dystrophy adalah salah satu jenis distropi otot yang dapat mengakibatkan kesulit untuk menelan, selain itu juga kesulitan tersenyum, mengunyah dan berbicara.
6. Kesulitan mengangkat kepala saat berbaring
Karena myotonic dystrophy dapat secara bertahap melemahkan otot tubuh sehingga penderita kesulitan melakukan berbagai kegiatan seperti kesulitan dalam mengangkat kepala saat berbaring.
9
7. Kesulitan memegang atau mengangkat objek
Penderita juga dapat mengalami kesulitan memegang atau mengangkat objek karena otot-otot tersebut telah mengalami kelemahan.
8. Gaya berjalan terseok-seok
Penderita mungkin juga akan mengalami kesulitan dalam berjalan sehingga berjalan seperti terseok-seok.
9. Kesulitan naik tangga atau bangkit dari duduk
Kesulitan lainnya akibat melemahnya otot adalah kesulitan naik tangga dan bangkit dari duduk ataupun berbaring.
10. Katarak
Berkembang cukup lambat biasanya terjadi pada lansia tetapi dapat terjadi pada orang semuda 30 tahun.
11. Detak jantung aritmis
Detak jantung penderita tidak normal sehingga aliran darah pun ikut terganggu.
12. Kesulitan Menelan
Karena melemahnya otot sehingga berkurangnya kemampuan untuk menelan dikarenakan kontraksi otot yang tidak sempurna.
13. Masalah pada usus
Penderita mengalami gangguan pencernaa seperti sembelit dan sakit perut
14. Gangguan Pernafasan
Melemahnya otot akan menyebabkan kontraksi pada paru-paru melemah sehingga tarika nafas menjadi pendek.
15. Kebotakan
Pria yang mengalamin myotonic dystrophy akan mengalami perubahan hormon menyebabkan kebotakan secara premature.
16. Kantuk yang berlebihan di siang hari
Kelemahan otot yang makin memburuk dari waktu ke waktu dapat mengubah perilaku dan menyebabkan kantuk yang berlebihan pada penderitanya.
10
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Myotonic Dystrophy yang merupakan penyakit dimana serabut otot tidak dapat menjalankan fungsinya dengan normal. Hal ini disebabkan oleh mutasi gen, oleh karena itu penyakit ini bersifat penyakit menurun. Ada dua jenis Myotonic Dystrophy yaitu Myotonic Dystrophy tipe 1 disebabkan oleh mutasi gen DMPK pada kromosom 19 dan Myotonic Dystrophy tipe 2 disebabkan oleh mutasi gen CNBP pada kromoson 3. Usia seseorang yang terkena penyakit ini bervariasi mulai dari bayi sampai usia lanjut. Myotonic Dystrophy dapat terjadi pada Temporomandibula Joint atau yang dikenal sebagai sendi temporomandibular dengan fungsi yang menghubungkan tulang rahang dengan tulang tengkorak.Oleh karena itu seseorang yang terkena Myotonic Dystrophy pada Temporomandibula Joint akan sulit mengontrol pergerakan mandibularnya. Gejala umum penderita Myotonic Dystrophy diantaranya kesulitan relaksasi otot, kelemahan otot, kekakuan otot, kelopak mata terkulai, gangguan bicara, kesulitan mengangkat kepala saat berbaring, kesulitan menelan.
3.2 Saran
Bila seseorang merasakan gejala-gejala dari Myotonic Dystrophy sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter. Selanjutnya jika seseorang telah di diagnosa menderita Myotonic Dystrophy maka dapat dilakukan tindak lanjut. Karena myotonic dhystrophy merupakan penyakit genetik dan belum ada pengobatan yang pasti untuk menyembuhkannya maka dapat dilakukan treatment untuk mengurangi gejala dari Myotonic Dystrophy yaitu salah satu bagian dari penyakit distrofi otot:
Pembedahan untuk koreksi katarak
Obat jantung atau pembedahan jantung
Terapi fisik untuk melatih otot yang megalami kelemahan atau kekakuan
Terapi okupasi untuk membantu aktivitas sehari-hari
Ventilasi mekanis untuk mendukung pernapasan
DAFTAR PUSTAKA
American Academy of Orofacial Pain. 2008. In: Orofacial Pain: Guidelines for Assessment, Diagnosis and Management, 4th ed. de Leeuw R, editor.
Chicago: Quintessence.
Anonim. 2013. Myotonic Dystrophy Type I (Steinert’s Disease). Ontario:
Muscular Dhystrophy Canada.
Drake, R. L., Vogl, W., & Mitchell, A. W. (2012). Gray's Basic Anatomy.
Philadelphia: Churchill Livingstone Elsevier.
Gold, G. N. (1966). Temporomandibular joint dysfunction in myotonic dystrophy (Vol. 16). American Academy of Neurology.
Harper, P. 2017. The myotonic dystrophies An overview of the condition, cause, and management. http://www.musculardystrophyuk.org/wp- content/uploads/2015/02/Myotonic-dystrophy-2017.pdf. 17 Oktober 2018.
Harper, S. P. 2017. The myotonic dystrophies: An overview of the condition, cause,
and management. Muscular Distrophy UK ver. 3.
Johanson, Paula. 2008. Muscular Dystrophy. Rosen Publishing Group. ISBN 978- 1-4042-1850-5.
Muscular Dystrophy Association (MDA). 2010. Myotonic Dystrophy (DM).
https://www.mda.org/disease/myotonic-dystrophy. 16 Oktober 2018.
Myotonic Dystrophy Foundation. 2015. Myotonic Dystrophy Foundation Toolkit.
https://www.myotonic.org/sites/default/files/MDF%20Toolkit%202015-08- 10.pdf.
Netter, F. H. 2016. Atlas Anatomi Manusia (6 ed.). (I. K. Liem, Ed., & E.
Singapore, Trans.) Elsevier Inc.
Okeson. J. P. 2008. Management of Temporomandibular Disorders and Occulusion. 6th ed. MO: CV Mosby. St. Louise.
Sofjan, J. R. 2010. Patologi Umum 13. Universitas Indonesia Esa Unggul:
Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan. Jakarta.
Turner, C. 2010. The myotonic dystrophies: diagnosis and management. J Neurol Neurosurg Psychiatry 2010(81) : 358-367.
U.S. National Library of Medicine. 2018. Myotonic Dystrophy https://ghr.nlm.nih.gov/condition/myotonic-dystrophy#genes.
Wangko, Sunny. 2014. JARINGAN OTOT RANGKA: Sistem membran dan struktur halus unit kontraktil. Jurnal Biomedik 6(3):S27-32.