• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perubahan Belajar Sains Siswa Sekolah Dasar pada Pembelajaran Terintegrasi (Terpadu) melalui Model Discovery Learning

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Perubahan Belajar Sains Siswa Sekolah Dasar pada Pembelajaran Terintegrasi (Terpadu) melalui Model Discovery Learning"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

52 PERUBAHAN BELAJAR SAINS SISWA SEKOLAH DASAR PADA PEMBELAJARAN

TERINTEGRASI (TERPADU) MELALUI MODEL DISCOVERY LEARNING

Yanti Fitria1), Rifda Eliyasni2), Rahwendy Yukitama3)

1,2,3PGSD FIP UNP, Kota Padang, Indonesia

* Korespondensi Penulis. E-mail: [email protected], Telp: +6285274947752 Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki pengaruh model Discovery Learning terhadap hasil belajar sains siswa pada tema benda-benda di sekitar kita di kelas V SD pada pembelajaran tematik terpadu. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian quasi eksperiment. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas V SD di Wilayah Enam garegeh Kota Bukittinggi. Sampel penelitian ini adalah siswa kelas V SDN 04 Garegeh yang terdiri dari dua kelas dengan jumlah siswa kelas VA 33 siswa dan kelas VB 32 siswa. Pengambilan sampel dilakukan dengan random sampling. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diperoleh thitung>ttabel yakni 7,185 > 1,998 dengan α=0,05 sehingga dapat disimpulkan Ha diterima yaitu terdapat pengaruh penggunaan model Discovery Learning terhadap hasil belajar siswa.

Kata kunci : model Discovery Learning, belajar sains, pembelajaran terintegrasi (terpadu)

CHANGE OF SCIENCE LEARN OF ELEMENTARY SCHOOL STUDENTS IN DISCOVERY MODEL INTEGRATED THEAMTIC LEARNING

Abstract

The purpose of this research was toinvestigate the effect of Discovery Learning model on student learning outcomes on the theme Object Around Usat 5th grade of Elementary School integrated thematic learning. This research is a quantitative research with quasi experimental research design. The population of this research is the students of 5th grade of elementary school in Region Six Garegeh of Bukittinggi City. The sample of this research is the 5th grade students of SDN 04 Garegeh consisting of two classes with the number of students VA class is 33 students and VB class is 32 students. Sampling was done by random sampling. Based on the research that has been done, obtained tcount> ttable that is 7,185 > 1,998 with α = 0,05 so it can be concluded Ha accepted that there is influence the use of Discovery Learning model of student learning outcomes.

Keyword : Discovery Learning model, learning outcomes

(2)

53 PENDAHULUAN

Ketepatan model pembelajaran yang digunakan guru sangat menentukan dalam upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang sesuai guna mencapai tujuan pengajaran. Menurut Sani (2013: 89) model pembelajaran adalah kerangka konseptual berupa pola prosedur sistematik yang dikembangkan berdasarkan teori dan digunakan dalam mengorganisasikan proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru.

Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau pola yang dapat kita gunakan untuk mendesain pola-pola mengajar secara tatap muka di dalam kelas, untuk menentukan material atau perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, media pembelajaran dan kurikulum. Menurut Trianto (2010: 51) model pembelajaran merupakan suatu proses perencanaan yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial Pada penerapan kurikulm 2013, tepatnya pada pembelajaran tematik terpadu, penggunaan model pembelajaran sangat penting. Dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat makanya tujuan pembelajaran akan tercapai seperti yang diharapkan. Salah satu model yang tepat digunakan pada pembelajaran tematik terpadu yaitu model pembalaran Discovery Learning.

Model pembelajaran Discovery Learning merupakan salah satu model pembelajaran dalam tematik terpadu dimana guru tidak langsung memberikan hasil akhir atau kesimpulan dari materi yang disampaikannya, melainkan siswa diberi kesempatan mencari dan menemukan hasil data tersebut. Sehingga proses pembelajaran ini yang akan diingat oleh siswa sepanjang masa, dan tidak mudah dilupakan. Hosnan (2014:

282) menyatakan bahwa Discovery Learning adalahsuatu model untuk mengembangkan cara belajar aktif dengan menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan tahan lama dalam ingatan.

Kemudian menurut Martaida (2017:3) menyatakan bahwa model pembelajaran Discovery Learning merupakan model yang merupakan cara untuk mengembangkan pembelajaran siswa aktif dengan mencari tahu sendiri, menyelidiki sendiri, sehingga hasilnya akan lebih lama diingat oleh siswa. Selanjutnya Saab, Joolingen, & Hout-Wolters (Rahman, 2017: 99) menyatakan bahwa model pembelajaran Discovery Learning adalah model pembelajaran, dimana siswa membangun pengetahuan mereka sendiri dengan melakukan eksperimen untuk menemukan sebuah prinsip dari eksperimen semacam itu.

Penggunaan model Discovery Learning pada pembelajaran dapat meningkatkan pemahaman siswa pada materi pembelajaran sehingga hasil belajar meningkat dan tujuan pembelajaran dapat tercapai. Sejalan

(3)

54 dengan Eko (2016, 332) yang menyatakan bahwa

“penggunaan model Discovery Learning dapat meningkatkan keterampilan proses dan hasil belajar siswa”. Oleh karena itu penggunaan model Discovery Learning perlu dilaksanakan di Sekolah Dasar.

Penerapan model Discovery Leaarning akan membuatsiswa menjadi aktif dalam proses pembelajaran, mampu menguasai materi dan hasil belajar siswa meningkat. Hasil belajar merupakan alat ukur untuk melihat apakah siswa menguasai materi pembelajaran. Menurut Fitria (2017: 40) bahwahasil belajar merupakan suatu tolak ukur yang digunakan untuk melihat tingkat pemahaman siswa terhadap materi-materi pembelajaran yang telah dipelajari.

Kenyataan yang ditemukan di lapangan dewasa ini adalah pembelajaran tematik terpadu belum terlaksana dengan baik sebagaimana mestinya. Pada pembelajaran tematik terpadu belum tercapai tujuan yang diharapkan.

Pembelajaran tematik terpadu seharusnya membuat siswa menjadi lebih aktif dalam proses pembelajaran. Namun kebanyakan fakta yang ditemukan di lapangan yaitu pembelajaran tematik masih sama dengan pembelajaran sebelumnya, dimana siswa menjadi pasif dan tidak terlibat dalam proses pembelajaran secara aktif. Oleh karena itu perlu adanya perbaikian dalam proses pembelajaran agar pelaksanaan pembelajaran tematik dapat berhasil sesuai dengan yang diharapkan.

Pembelajaran tematik terpadu terdapat integrasi antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lain. Pembelajaran sains mampu

mengakomodasi mata pelajaran lain seperti mata pelajaran bahasa indonesia dan seni budaya. Implementasi pembelajaran sains terintegrasi di sekolah dasar merupakan hal yang sangat menentukan dalam pengembangan karakter siswa di sekolah dasar. Siswa mampu mengembangkan literasinya secara esensial.

Hal ini ditunjukkan dengan proses berpikir dalam sains. Mereka didorong untuk belajar mengaitkan materi pembelajaran dalam disiplin materi pembelajaran bahasa indonesia dan seni budaya (Fitria, 2016: 83)

Rumusan masalah penelitian ini adalah apakah terdapatpengaruh pembelajaran terpadu melalui model Discovery Learning terhadap perubahan belajar sains siswa sekolah dasar?Denagn demikian tujuan penelitian adalah untuk menyelidiki perubahan belajar sains siswa sekolah dasar pada pembelajaran terpadu melalui model Discovery Learning.

METODE PENELITIAN Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Menurut Sugiyono, (2011: 14)

“Penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai jenis penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu”.

Metode penelitian yang digunakan adalahquasi experimental design. Sugiyono (2012:112) pada quasi experimentaldesign mempunyai kelompok kontrol, tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol

(4)

55 variabel-variabel luar yang mempengaruhi

pelaksanaan eksperimen.

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada semester dua tahun ajaran 2017/2018.

Pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan pada pembelajaran tematik terpadu tema “Benda- Benda di Sekitar Kita” yang dititik beratkan pada pembelajaran IPA di kelas V. Penelitian bertempat di SDN 04 Garegeh

Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi dalam penelitian ini merupakan populasi terbatas yaitu terbatas pada siswa SD kelas V pada Wilayah Enam Garegeh Bukittinggi yang terdiri dari 10 SD. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara Random sampling.

Sugiyono (2011: 118) menyatakan “sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut”.

Sampel di dalam penelitian ini adalah siswa kelas VA dan VB SDN 04 Garegeh yang terdiri dari 2 ruang belajar yaitu VA yang berjumlah 33 siswa dan VB yang berjumlah 32 siswa. Untuk menentukan kelas kontrol dan kelas eksperimen dilakukan dengan cara random. Hasil yang didapatkan adalah Kelas VA sebagai kelas kontrol dan kelas VB sebagai kelas eksperimen.

Setelah sampel didapatkan, kemudian dilakukan uji homogenitas dan normalitas. Hasilnya yaitu kedua kelompok sampel normal dan homogen.

Prosedur Penelitian

Untuk mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan perlu disusun prosedur yang sistematis.Secara umum prosedur penelitian dapat dibagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap persiapan, pelaksanaan, dan akhir. Pada tahap persiapan peneliti melakukan kegiatan analisis dokumen dan observasi terkait pentingnya model pembelajaran Discovery Learning diuji/diimplementasikan di sekolah dasar melalui kajian literatur atau hasil-hasil riset dalam jurnal. Observasi dilakukan sebagai penguatan terhadap terdapatnya kesenjangan antara teori dan praktek pembelajaran oleh guru. Pemilihan desain penelitian yang cocok dalam membangun serta memenuhi rasa ingin tahu peneliti juga dilakukan. Desain dalam penelitian ini menggunakan kuasi eksperimen nonekuivalen (nonequivalent control group design) dengan dua variabel. Penelitian ini didesain dalam dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen merupakan kelompok yang mendapat perlakuan dengan model Discovery Learning. Sementara itu, kelompok kontrol mendapat perlakuan dengan model traditional.

Kelompok eksperimen dan kelompok kontrol memperoleh prestest dan posttest.Pada tahap selanjutnya dilakukan implementasiatau perlakuan pada kedua kelas sampel dalam rangka pengumpulan data penelitian.

Kemudian tahap analisis data. dan pembuatan instrumen untuk pengumpulan data. Setelah data dikumpulkan dilakukan analisis terhadap

(5)

56 data menggunakan statistik deskriptif dan

inferensial.

Data, Instrumen, Teknik Pengumpulan Data, dan Teknik Analisis Data

Data penelitian ini berupa data kuantitatif yaitu data pretest (tes awal) dan data posttest (tes akhir). Instrumen penelitian ini adalah instrument tes berbentuk soal objektif. Sugiyono, (2012:147) menyatakan bahwa instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati.

Instrument soal diberikan secara pretest dan posttest. Pretest diberikan sebelum adanya perlakuan, sedangkan posttest diberikan setelah adanya perlakuan terhadap sampel. Tujuan dari instrument soal ini yaitu untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa tentang materi yang telah diajarkan.

Pembuatan instrument soal didasarkan pada kisi-kisi soal yang dibatasi untuk mengukur kemampuan pengetahuan siswa. Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes hasil belajar pengetahuan yaitu tes objektif yang berjumlah 30 butir soal, kemudian dilakukan uji validitas, reabilitas, uji beda, dan taraf kesukaran, sehingga diperoleh 25 butir soal yang memenuhi kriteria soal yang baik. Teknik analisis data menggunakan statistik deskriptif dan inferensial.

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian

1. Deskripsi Data Pretest dan Posttest Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

Hasil yang diperoleh pada pretest dan posttest dari kelas eksperimen dan kelas kontrol penelitian ini disajikan dalam tabel distribusi frekuensi berikut ini:

Tabel 1. Data Pretest dan Posttest Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

Kelas

Eksperimen Kelas Kontrol Hasil

tes awal

Hasil tes akhir

Hasil pretest

Hasil postest

N 32 32 33 33

Nilai

maksimun 84 100 88 96

Nilai

minimum 60 76 52 56

Rata-rata 71,75 87,5 70,06 75,27 Standar

Deviasi

6,420 733

6,242 415

7,81800 6

75,272 7

Tabel 1 di atas memperlihatkan bahwa nilai rata-rata pretest pada kelas eksperimen sebesar 71,75 dengan nilai tertinggi 84 dan terendah 60. Sedangkan rata-rata pretest pada kelas kontrol sebesar 70,06 dengan nilai tertinggi 88 dan terendah 52. Setelah dilakukan pembelajaran pada kelas eksperimen dengan menggunakan model Discovery Learning, dan pada kelas kontrol dilakukan pembelajaran dengan pendekatan saintifik, diketahui bahwa nilai rata-rata posttest pada kelas eksperimen sebesar 87,5 dengan nilai tertinggi 100 dan terendah 76, sedangkan rata-rata posttest pada kelas kontrol sebesar 75,27 dengan nilai tertinggi 96 dan terendah 56. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata kelas eksperimen setelah diberi perlakuan dengan model Discovery Learning mengalami peningkatan sebesar 15,75 dari 71,75 menjadi 87,5.

Sedangkan rata-rata kelas kontrol yang diberi

(6)

57 perlakuan pendekatan saintifik mengalami

peningkatan sebesar 5,21 dari 70,06 menjadi 75,27.

2. Pengujian Prasarat Analisis dan Pengujian Hipotesis

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan uji Liliefors dengan berbantu Microsoft Excel 2007 dengan taraf signifikansi 5% atau α = 0,05. Hasil uji normalitas pretest pada kelas eksperimen dan kelas kontrol dalam penelitian ini disajikan pada tabel berikut:

Tabel 2. Hasil Uji Normalitas Pretest Kelas Eksperimen dan Kontrol

N o

Kelas N Lhit Ltabel

α 0,05

Kes 1 Eksperi

men 32 -0,0282 0,156 Data

Normal 2 Kontrol

33 -0,0108 0,154 Data

Normal

Tabel 2 menunjukkan bahwa diketahui Lhitung kelas eksperimen sebesar -0,0282 dan Lhitung kelas kontrol sebesar -0,0108 dengan jumlah sampel kelas eksperimen 32 siswa dan kelas kontrol 33 siswa. Pada taraf signifikansi α

= 0,05 didapat nilai Ltabel kelas eksperimen sebesar 0,156 dan nilai ltabel kelas kontrol sebesar 0,154. Sehingga pada kelas eksperimen diperoleh Lhitung< Ltabel, (-0,0282 < 0,156), dan untuk kelas kontrol diperoleh Lhitung<Ltabel (- 0,0108 < 0,154). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa data pada kedua kelas berdistribusi normal.Hasil uji normalitas posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol dalam penelitian ini disajikan pada tabel berikut:

Tabel 3. Hasil Uji Normalitas Posttest Kelas Eksperimen dan Kontrol

N o

Kela s

N Lhitung Ltabel α 0,05

Kes 1 Eksp

erim en

32 0,00147 0.156 Data

Normal 2 Kont

rol 33 0,01689 0,154 Data Normal

Tabel 3, diketahui Lhitung kelas eksperimen sebesar 0,00147 dan Lhitung kelas kontrol sebesar 0,01689 dengan jumlah sampel kelas eksperimen 32 siswa dan kelas kontrol 33 siswa. Pada taraf signifikansi α = 0,05 didapat nilai Ltabel kelas eksperimen sebesar 0,156 dan nilai ltabel kelas kontrol sebesar 0,154.

Sehingga pada kelas eksperimen diperoleh Lhitung < Ltabel, (0,00147< 0,156), dan untuk kelas kontrol diperoleh Lhitung<Ltabel (0,01689< 0,154). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa data pada kedua kelas berdistribusi normal.

Uji homogenitas dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah data untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki varian yang homogen atau tidak. Uji homogenitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan uji-F berbantu Microsoft Excel 2017 dengan taraf signifikansi 5% atau α

= 0,05.

Homogenitas pretest kelas eksperimen dan kelas kontrol

Hasil uji homogenitas pretest kelas eksperimen dan kelas kontrol dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

(7)

58 Tabel 4. Hasil Uji Homogenitas Pretest Kelas

Eksperimen dan Kontrol

Berdasarkan tabel 4, diketahui Fhitung kelas eksperimen dan kelas kontrol sebesar 1,48 dengan jumlah sampel kelas eksperimen 32 siswa dan kelas kontrol 33 siswa. Pada taraf signifikansi α = 0,05 didapat Ftabel 1,84.

Sehingga diperoleh Fhitung < Ftabel, yakni (1,48

< 1,84). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa data padakelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki varian yang homogen.

2) Homogenitas posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol

Hasil uji homogenitas posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Tabel 5. Hasil Uji Homogenitas Posttest Kelas Eksperimen dan Kontrol

Berdasarkan tabel 5, diketahui Fhitung kelas eksperimen dan kelas kontrol sebesar 1,42 dengan jumlah sampel kelas eksperimen 32 siswa dan kelas kontrol 33 siswa. Pada taraf signifikansi α = 0,05 didapat Ftabel 1,84.

Sehingga diperoleh Fhitung < Ftabel, yakni (1,42

< 1,84). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa data pada kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki varian yang homogen.

Uji hipotesis dilakukan terhadap nilai posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol. Berdasarkan

uji prasyarat analisis data, diketahui bahwa data posttest untuk kedua kelompok berdistribusi normal dan memiliki varian yang homogen.

Sehingga dapat dilakukan pengujian hipotesis dengan menggunakan uji t independent atau uji t sampel bebas dengan cara melakukan uji dua pihak.Hasil perhitungan nilai posttest dengan menggunakan uji t disajikan pada tabel berikut:

Tabel 6. Hasil Uji T dua pihak Posttest Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

No Kelas N Varians i

Fhitu ng

Ftabel Ke s

1 Eksp

erime n

32 41.2258

1 1,48 1,84 Ho mo gen

2 Kontr

ol 33 61.1212 1

No Kelas N Varians Fhit Ftab Kesimpulan

1 Eksperimen 32 38.96774

1,42 1,84 Homogen

2 Kontrol 33 55.45455

N o

Kelas N Mean Thitung Ttabe lα 0,05

/2

Kesimpulan

1 Eks 32 87,5 7,18

5

1,99

8 Hipotesis diterima 2 Kontrol 33 75,27

(8)

59 Berdasarkan tabel 6 diketahui nilai t

hitung sebesar 7,185 dan t tabel 1,998 pada taraf signifikasi α/2 atau 0,05/2. Karena 7,185 > 1,998 maka Ho ditolak, dan Ha diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh penggunaan model Discovery Learning terhadap hasil belajar siswa pada tema Benda-Benda di Sekitar Kita kelas V SD Wilayah Enam Garegeh Kota Bukittinggi.

Pembahasan

Penelitian ini dilakukan untuk menyelidiki pengaruh model Discovery Learning terhadap hasil belajar siswa pada tema Benda- Benda di Sekitar Kita Kelas V SD Wilayah Enam Garegeh Kota Bukittinggi. Discovery Learning adalah suatu model pembelajaran dimana siswa dituntut untuk menemukan sendiri konsep dalam proses pembelajaran. Menurut Hosnan (2014 : 282) bahwa Discovery Learning adalah suatu model untuk mengembangkan cara belajar aktif dengan menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan tahan alam dalam ingatan. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan awal kedua kelas, maka terlebih dahulu diberikan tes awal atau pretest.

Berdasarkan tes awal atau pretest yang dilakukan di kelas eksperimen dan kelas kontrol, pada kelas eksperimen diperoleh rata-rata 71,75 dengan nilai tertinggi 84 dan nilai terendah 60. Sedangkan pada kelas kontrol, diperoleh rata-rata 70,06 dengan nilai tertinggi 88 dan nilai terendah 52.

Dari data pretest dapat disimpulkan bahwa selisih rata-rata kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah adalah sebesar 1,69.

Setelah diberikan pretest pada kedua kelas, maka dilakukanlah pembelajaran dengan model Discovery Learning pada kelas eksperimen dan pembelajaran dengan pendekatan saintifik pada kelas kontrol.

Pembelajaran dilaksanakan sebanyak dua kali pertemuan dengan materi tema 9 subtema 3 pada kelas V semester 2 di SDN 04 Garegeh.

Selanjutnya kedua kelas dilakukan postest untuk memperoleh data yang akan digunakan untuk pengujian hipotesis. Berdasarkan hasil posttest di kelas eksperimen diperoleh rata-rata 87,5 dengan nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 76, sedangkan pada kelas kontrol diperoleh rata-rata 75,27 dengan nilai tertinggi 96 dan terendah 56. Rata-rata kelas eksperimen setelah diberi perlakuan dengan model Discovery Learning mengalami peningkatan yaitu sebesar 15,75 dari 71,75 menjadi 87,5.

Sedangkan rata-rata kelas kontrol yang diberi perlakuan pendekatan saintifik mengalami peningkatan sebesar 5,21 dari 70,06 menjadi 75,27.Selanjutnya, dilakukan uji prasyarat analisis yakni uji normalitas dan homogenitas data. Tujuan dari uji normalitas adalah untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas pada penelitian ini menggunakan uji Liliefors dengan ketentuan L hitung < L tabel maka data berdistribusi normal pada taraf signifikasi 0,05. Berdasarkan uji Liliefors yang dilakukan terhadap nilai pretest kelas eksperimen diperoleh L hitung sebesar - 0,0282 dan L tabel pada taraf signifikansi 0,05 sebesar 0,156, sehingga L hitung < L tabel artinya data pretest kelas eksperimen

(9)

60 berdistribusi normal. Sedangkan pada kelas

kontrol diperoleh L hitung sebesar -0,01088 dan L tabel pada taraf signifikansi 0,05 sebesar 0,154, sehingga L hitung < L tabel artinya data pretest kelas kontrol berdistribusi normal.

Uji normalitas juga dilakukan terhadap nilai posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol.

Pada kelas eksperimen diperoleh L hitung sebesar 0,00147 dan L tabel pada taraf signifikansi 0,05 sebesar 0,156, sehingga L hitung < L tabel artinya data posttest kelas eksperimen berdistribusi normal. Sedangkan pada kelas kontrol diperoleh L hitung sebesar 0,01689 dan L tabel pada taraf signifikansi 0,05 sebesar 0,154, sehingga L hitung < L tabel artinya data posttest kelas kontrol berdistribusi normal.Selanjutnya dilakukan uji homogenitas dengan menggunakan uji Fisher dengan membandingkan nilai varians terbesar dengan varians terkecil. Berdasarkan uji Fisher yang dilakukan terhadap hasil pretest kelas eksperimen dan kelas kontrol diperoleh F hitung sebesar 1,48 sedangkan F tabel pada taraf signifikansi 0,05 yaitu 1,84. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data pretest kedua kelas memiliki variansi yang homogen.

Kemudian uji Fisher juga dilakukan terhadap data posttest kedua kelas, berdasarkan hasil pengujian posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol diperoleh F hitung sebesar 1,42 sedangkan F tabel pada taraf signifikansi 0,05 yaitu 1,84. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data posttest kedua kelas memiliki variansi yang homogen.Selanjutnya dilakukan uji hipotesis. hasil uji hipotesis posttest yang

dilakukan dengan menggunakan uji t, didapatkan thitung > ttabel (7,185 > 1,998).

Dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima.

Hasil penelitian ini memperlihatkan adanya pengaruh Model Discovery Learningterhadap hasil belajar siswa pada tema Benda-Benda di Sekitar Kita Kelas V SD Wilayah Enam Garegeh Kota Bukittinggi. Dari hasil data posttest siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol, diketahui bahwa rata-rata kelas eksperimen setelah diberi perlakuan dengan model Discovery Learning mengalami peningkatan yang signifikan yaitu sebesar 15,75 dari 71,75 menjadi 87,5. Sedangkan rata- rata kelas kontrol yang diberi perlakuan pendekatan saintifik mengalami peningkatan sebesar 5,21 dari 70,06 menjadi 75,27.

Hasil belajar kelas eksperimen yang diberi perlakuan dengan model Discovery Learning lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol yang diberi perlakuan dengan pendekatan saintifik. Hal ini menunjukkan bahwa model pembelajaran Discovery Learning baik digunakan dalam proses pembelajaran dalam upaya membangun kepribadian siswa aktif. Menurut Hanafiah dan Cucu Suhana (Faisal, 2014: 109) keunggulan model Discovery Learning yaitu (1) Membantu siswa untuk mengembangkan kesiapan serta penguasaan keterampilan dalam proses kognitif. (2) Siswa memperoleh pengetahuan secara individual sehinggan dapat dimengerti dan mengendap dalam pikirannya. (3) Dapat membangkitkan motivasi dan gairah belajar siswa untuk belajar lebi giat lagi. (4)

(10)

61 Memberikan peluang untuk berkembang dan

maju sesuai dengan kemampuan dan minat masing-masing. (5) Memperkuat dan menambah kepercayaan pada diri sendiri dengan proses menemukan sendiri karena pembelajaran berpusat pada siswa dengan peran guru yang sangat terbatas.Hosnan (2014:287-288) mengemukakan beberapa kelebihan dari model Discovery Learning yakni sebagai berikut : (1) Membantu siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-keterampilan dan proses-proses kognitif. (2) Dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah.

(3) Strategi ini memungkinkan peserta didik berkembang dengan cepat dan sesuai dengan kecepatannya sendiri. (4) Membantu peserta didik memperkuat konsep dirinya, karena memperoleh kepercayaan bekerja sama dengan yang lain. (5) Mendorong keterlibatan keaktifan siswa. (6) Melatih siswa belajar mandiri. (7) Mendorong siswa berpikir intuisi dan merumuskan hipotesis sendiri. (8) Dapat mengembangkan bakat dan kecakapan individu.

Menurut Marzano (Hosnan, 2014 : 288) mengemukakan kelebihan dari model Discovery Learning yaitu (1) Menumbuhkan sekaligus menamankan sikap inquiri. (2) Pengetahuan bertahan lama. (3) Hasil belajar Discovery mempunyai efek transfer yang lebih baik. (4) Meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan berpikir bebas. (5) Melatih keterampilan- keterampilan kognitif siswa untuk menemukana dan memecahkan masalah tanpa pertolongan orang lain. Berdasarkan analisis diatas, telah terbukti bahwa terdapat pengaruh yang signifikan

pada pembelajaran dengan model Discovery Learning terhadap hasil belajar siswa pada tema Benda-Benda di Sekitar Kita di kelas V SD Wilayah Enam Garegeh Kota Bukittinggi.

Pada kelas yang menerapkan pembelajaran dengan model Discovery Learning memiliki rata-rata yang lebih tinggi 12,23 dibandingkan dengan pendekatan saintifik, dikarenakan model Discovery Learning membuat siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran. Menurut Hosnan (2014: 282) Discovery Learning adalah suatu model untuk mengembangkan cara belajar aktif dengan menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan tahan lama dalam ingatan. Eko (2016. 1: 332) menyatakan bahwa penggunaan model Discovery Learning dapat meningkatkan keterampilan proses dan hasil belajar siswa.

Oleh karena itu penggunaan model Discovery Learning perlu dilaksanakan di Sekolah Dasar.

Pada model ini, guru tidak langsung memberikan hasil akhir atau kesimpulan dari materi yang disampaikannya. Melainkan siswa diberi kesempatan mencari dan menemukan hasil data tersebut. Sehingga proses pembelajaran ini yang akan diingat oleh siswa sepanjang masa, sehingga hasil yang ia dapat tidak mudah dilupakan. Disamping itu dengan menghadirkan model pada saat pembelajaran, akan membangkitkan rasa ingin tahu siswa untuk menggali pengetahuan. Konsep pembelajaran akan tertanam kuat pada diri siswa karena adanya model akan mempermudah siswa untuk mengingat materi pembelajaran.

(11)

62 SIMPULAN

Simpulan penelitian ini adalah terdapat pengaruh model Discovery Learning terhadap perubahan hasil belajar siswa pada tema Benda- Benda di Sekitar Kita Kelas V SD Wilayah Enam Garegeh Kota Bukittinggi. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata kelas eksperimen yang menggunakan model Discovery Learning dalam proses pembelajaran memperoleh nilai rata-rata 87,5 dan kelas kontrol yang menggunakan pendekatan saintifik memperoleh nilai rata 75,27. Dari data posttest kedua kelas diketahui bahwa rata-rata nilai kelas eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol dengan selisih nilai 12,23.Hasil uji hipotesis didapat bahwa thitung

> ttabel, yaitu 7,185 > 1,998yang dibuktikan dengan taraf signifikan α 0,05 yang berarti terdapat pengaruh yang signifikan pada model pembelajaran Discovery Learning terhadap hasil belajar siswa pada tema Benda-Benda di Sekitar Kita di kelas V SD Wilayah Enam Garegeh Kota Bukittinggi.

DAFTAR RUJUKAN

Faisal. (2014). Sukses Mengawal Kurikulum 2013 di SD. Yogyakarta: Diandra Creative

Fitria, Y .(2017). Efektivitas Capaian Kompetensi Belajar Siswa dalam Pembelajaran Sains di Sekolah Dasar.

Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran Sekolah Dasar, 1(2).

Fitria, Y. (2016). Refleksi Pemetaan Pemahaman Calon Guru SD Tentang Integrated Sains Learning. Pedagogi: Jurnal Ilmu Pendidikan, 14(2), 82-87.

Fitrianto, E. N. (2016) Peningkatan Keterampilan Proses dan Hasil Belajar Ipa Menggunakan Discovery Learning.

Yogyakarta: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Edisi 14 Tahun ke-5

Hosnan. (2014). Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21. Bogor: Ghalia Indonesia

Martaida. (2017). The Effect of Dsicovery Learning Model on Student Critical Thinking and Cognitive Ability in Junior High School. University of Medan. IOSR Journal of Research &

Method in Education (IOSR-JRME). E- ISSN: 2320-7388, p-ISSN: 2320-737X.

volume 7, Issue 6 Ver. 1 (Nov.-Des.

2017), PP 01-08

Rahman. (2017). Using Discovery Learning to Encourage Creative Thinking. Khairun University of Ternate, South Maluku, Indonesia. International Journal of Social Sciences & Educational Studies.

ISSN 2520-0968 (Online), ISSN 2409- 1294 (Print), October 2017, Vol.4, No.2 (Special Issue)

Sani. (2014). Pembelajaran Saintifik untuk Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta:

Bumi Aksara

Sugiyono. (2012) Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta

Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.

Bandung: Alfabeta

Trianto. (2010) Model Pembelajaran Terpadu.

Jakarta: Bumi Aksara.

(12)

63 PROFIL SINGKAT

Dr. Yanti Fitria, M.Pd dilahirkan pada tanggal 20 Mei 1976 di Padang. Berasal dari pasangan suami istri, ibu bernama Murniati (Alm) dan bapak H.

Mustapar. Pendidikan yang ditempuh mulai jenjang sarjana pendidikan kimia UNP, dilanjutkan pada pendidikan Magister pendidikan konsentrasi MIPA/IPA UNP. Pendidikan terakhir yang telah ditempuh adalah doktor pendidikan IPA Univesitas Pendidikan Indonesia Bandung.

Diamanahkan sebagai Dosen tetap PNS pada bidang keahliah IPA di Program studi Pendidikan Dasar dan jurusan PGSD FIP UNP

Referensi

Dokumen terkait

Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati (Sugiyono, 2010). LKS Kimia disesuaikan dengan LC 3E pada materi pokok

Menurut Sugiyono, instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati (Sugiyono, 2003:119). Dalam penelitian ini

Menurut Sugiyono (2012 : 102) “Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun.. sosial yang

Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati (Sugiyono, 2011 hlm. Instrumen penelitian yang digunakan dalam

kemampuan motorik dan tes keterampilan dasar sepakbola. 147), instrumen adalah alat yang. digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang

Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena (variabel) alam maupun sosial yang diamati (Sugiyono, 2010). Instrumen yang digunakan dalam

Menurut Sugiyono (2012, hlm. 102) instrumen penelitian adalah sutu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati secara spesifik, semua fenomena

Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati (Sugiyono, 2016). Instrumen penelitian yang digunakan