• Tidak ada hasil yang ditemukan

TERPAAN KOMUNIKASI PEMASARAN DAN BRAND LOYALTY

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "TERPAAN KOMUNIKASI PEMASARAN DAN BRAND LOYALTY"

Copied!
129
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

TERPAAN KOMUNIKASI PEMASARAN DAN BRAND LOYALTY (Studi Khalayak Terpaan Komunikasi Pemasaran Yamaha dalam Upaya Meningkatkan Brand Loyalty di Kalangan Mahasiswa Komunikasi FISIP

UNS tahun 2011)

Diajukan untuk Melengkapi Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Ilmu Komunikasi

Disusun Oleh: Hanifah Yahya

D 0206116

JURUSAN ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

(2)

commit to user

(3)

commit to user

(4)

commit to user

iv

MOTO

·

Dalam sebuah kehidupan tidak ada yang tidak mungkin.

Jika Allah menghendaki, segalanya mungkin terjadi.

Maka berjuang dan berusahalah

·

Hanya karena sesuatu itu sulit tak berarti kamu harus

menyerah, melainkan kamu harus berusaha lebih keras

·

Saat seseorang mengatakan kau tak mampu, janganlah

menyerah tetaplah tersenyum dan katakanlah “ akan

aku buktikan” - Luis Lira

·

Pemenang mungkin jatuh sebanyak 100x tapi mereka

bangkit sebanyak 101x – Mia Hamm

·

Siapa yang anda miliki lebih berharga dari apa yang

anda miliki

(5)

commit to user

v

PERSEMBAHAN

Tanpa terasa waktu begitu cepat hingga akhirnya aku telah berhasil

menyelesaikan sebuah karya kecil.

Dengan penuh cinta, kasih dan rasa hormat

karya ini kupersembahkan kepada :

Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW,

Abah dan Mama

(6)

commit to user

vi

KATA PENGANTAR

Dengan rahmatNya syukur alhamdulillah kepada Allah SWT yang memberi ijin atas semuanya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan Skripsi dengan judul “TERPAAN KOMUNIKASI PEMASARAN DAN BRAND LOYALTY (Studi Khalayak Terpaan Komunikasi Pemasaran Yamaha dalam Upaya Meningkatkan Brand Loyalty di Kalangan Mahasiswa Komunikasi FISIP UNS tahun 2011)”. Penyusun menyadari bahwa keberhasilan dalam menyelesaikan skripsi ini tentu saja tidak terlepas dari adanya bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati penyusun menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada :

1. Drs. H. Supriyadi SN. SU selaku Dekan FISIP UNS.

2. DR. Prahastiwi Utari, Ph. D selaku Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP

UNS.

3. Prof. Drs. H. Totok Sarsito, SU, MA, Ph.D selaku pembimbing skripsi yang

telah banyak membantu memberikan bimbingan, pengarahan serta saran

dari awal hingga akhir penulisan skripsi ini.

4. Dra. H. Sofiah, M.Si selaku pembimbing akademis yang banyak

membantu dan membimbing dalam menyelesaikan studi.

5. Drs. Surisno Utomo, M.Si dan Diah Kusumawati, S.Sos, M.Si selaku

penguji skripsi.

6. Seluruh dosen yang telah memberikan ilmunya kepada penyusun serta

seluruh staf fakultas yang telah membantu.

7. Faisal yang telah banyak memberikan dukungan, bantuan, semangat dan

(7)

commit to user

vii

8. Mas Budi yang telah banyak membantu atas waktu, bantuan, saran dan

arahan yang berguna bagi penyusun.

9. Teman-teman Princess yang telah menjadi teman-teman terbaik.

10.Teman-teman Komunikasi yang selama ini banyak memberikan masukan

dan motivasi yang sangat bermanfaat.

11.Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini yang

tidak bisa di sebutkan satu persatu, terima kasih banyak.

Akhir kata, semoga karya kecil ini mampu memberikan masukan bagi

seluruh pihak yang terkait pada umumnya dan dapat memberi manfaat bagi

siapapun yang membaca dan mengkaji karya ini.

Surakarta, April 2011

Penyusun

(8)

commit to user

viii

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN MOTTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR BAGAN... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xv

ABSTRAK ... xvi

ABSTRACT ... xvii

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Perumusan Masalah ... 7

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. Manfat Penelitian ... 8

E. Kajian Teori ... 8

1. Komunikasi ... 8

2. Komunikasi Pemasaran ... 12

3. Brand Image ... 25

4. Brand Loyalty ... 27

F. Kerangka Pikir Penelitian ... 32

(9)

commit to user

ix

H. Metodelogi Penelitian ... 33

1. Jenis Penelitian ... 33

2. Lokasi Penelitian ... 34

3. Teknik Pengumpulan Data ... 34

4. Populasi, Sampel dan Sampling ... 35

I. Definisi Konseptual dan Defnisi Operasional ... 37

1. Definisi Konseptual... 37

2. Definisi Operasional ... 39

J. Teknik Analisis Data ... 45

1. First Order Confimatory Factor Analysis ... 45

2. Evaluasi Asumsi SEM ... 47

3. Evaluasi Atas Kriteria Goodness of Fit... 49

4. Analisis Structural Equation Model (SEM)... 53

BAB II. DESKRIPSI LOKASI ... 56

A. Gambaran Umum Prodi Komunikasi FISIP UNS ... 56

1. Sejarah Perkembangan Prodi Ilmu Komunikasi UNS ... 56

2. Visi, Misi dan Tujuan ... 57

3. Kurikulum ... 59

B. Gambaran Umum Yamaha ... 61

1. Sejarah Yamaha ... 61

2. Berdirinya Yamaha Motor Coorporation ... 62

(10)

commit to user

x

BAB III. PENYAJIAN DATA ... 69

A. Analisis Statistik Diskriptif ... 69

1. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Jenis Kelamin Responden. 69 2. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Usia Responden ... 70

B. Karakteristik Tanggapan Responden... 71

1. Tanggapan Responden Mengenai Celebrity Endorsement ... 71

2. Tanggapan Responden Mengenai Event Sponsorship ... 73

3. Tanggapan Responden Mengenai TV Advertising ... 74

4. Tanggapan Responden Mengenai Print Advertising ... 75

5. Tanggapan Responden Mengenai Web Advertising... 76

6. Tanggapan Responden Mengenai Price Promotion ... 78

7. Tanggapan Responden Mengenai Brand Image ... 79

8. Tanggapan Responden Mengenai Brand Loyalty ... 81

BAB IV. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN ... 83

A. Analisis Faktor Konfirmatori (CFA) First Order ... 83

1. Uji Validitas Konvergen ... 85

2. Uji Reliabilitas Konstruk ... 90

B. Uji Kecukupan Sampel ... 93

1. Uji Normalitas ... 94

2. Uji Outlier ... 95

C. Penilaian Model Fit ... 96

(11)

commit to user

xi

E. Modifikasi Model Struktural ... 101

F. Uji Hipotesis (Analisis Kausalitas) ... 103

G. Pembahasan ... 107

BAB V. PENUTUP ... 112

A. Kesimpulan ... 112

B. Keterbatasan Penelitian ... 113

C. Saran... 113

(12)

commit to user

xii

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1.1. Indikator Berupa Pertanyaan Celebrity Endorsement ... 40

Tabel 1.2. Indikator Berupa Pertanyaan Event Sponsorship ………. ... 41

Tabel 1.3.Indikator Berupa Pertanyaan TV Advertising ... 41

Tabel 1.4.Indikator Berupa Pertanyaan Print Advertising ... 42

Tabel 1.5 Indikator Berupa Pertanyaan Web Advertising ... 42

Tabel 1.6 Indikator Berupa Pertanyaan Price Promotion ... 43

Tabel 1.7 Indikator Berupa Pertanyaan Brand Image ... 44

Tabel 1.8 Indikator Berupa Pertanyaan Brand Loyalty... 45

Tabel 1.9 Goodness Of Fit Indicess ... 57

Tabel 3.1 Distribusi Jenis Kelamin Responden ... 69

Tabel 3.2 Distribusi Usia Responden ... 70

Tabel 3.3 Deskripsi Tanggapan Responden Celebrity Endorsement ... 72

Tabel 3.4 Deskripsi Tanggapan Responden Event Sponsorship ... 73

Tabel 3.5 Deskripsi Tanggapan Responden TV Advertising ... 74

Tabel 3.6 Deskripsi Tanggapan Responden Print Advertising ... 76

Tabel 3.7 Deskripsi Tanggapan Responden Web Advertising ... 77

Tabel 3.8 Deskripsi Tanggapan Responden Price Promotion ... 78

Tabel 3.9 Deskripsi Tanggapan Responden Brand Image ... 79

Tabel 3.10 Deskripsi Tanggapan Responden Brand Loyalty ... 81

Tabel 4.1 Validitas Konvergen Variabel Celebrity Endorsement... 85

(13)

commit to user

xiii

Tabel 4.3 Validitas Konvergen Variabel TV Advertising ... 87

Tabel 4.4 Validitas Konvergen Variabel Print Advertising ... 87

Tabel 4.5 Validitas Konvergen Variabel Web Advertising ... 88

Tabel 4.6 Validitas Konvergen Variabel Price Promotion ... 88

Tabel 4.7 Validitas Konvergen Variabel Brand Image ... 89

Tabel 4.8 Validitas Konvergen Variabel Brand Loyalty ... 90

Tabel 4.9 Reliabilitas Konstruk ... 91

Tabel 4.10 Hasil Uji Normalitas ... 94

Tabel 4.11 Hasil Pengujian Outlier ... 96

Tabel 4.12 Evaluasi Goodness-of-fit Indices ... 98

Tabel 4.13 Loading Faktor Tiap Instrumen ... 99

Tabel 4.14 Evaluasi Goodness-of-fit Indices Setelah Modifikasi ... 101

Tabel 4.15 Hasil Pengujian Kausalitas ... 104

(14)

commit to user

xiv

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1.1: Model Komunikasi Laswell ... 12

Gambar 1.2 :Piramida Loyalitas ... 29

Gambar 1.3.Kerangka Pikir Penelitian ... 32

Gambar 3.1:Frekuensi Jenis Kelamin Responden... 70

Gambar 3.2 : Frekuensi Usia Responden ... 71

Gambar 4.1:Model Analisis Faktor Konfirmatori (CFA) ... 84

Gambar 4.2:HasilModel Analisis Faktor Konfirmatory (CFA) ... 84

Gambar 4.3:Model Struktural (SEM) ... 98

Gambar 4.4:Model Struktural (SEM) Setelah Dire-estimasi ... 100

Gambar 4.5:Model Struktural (SEM) dengan Modifikasi Model ... 101

(15)

commit to user

xv

ABSTRAKSI

Hanifah Yahya D0206116, Terpaan Komunikasi Pemasaran dan Loyalitas Merek

Keberadaan merek bukan lagi sekedar nama, melainkan representasi produk dari sebuah perusahaan. Disinilah dibutuhkan pengelolaan citra merek yang bukan pekerjaan sederhana. Saat ini ada beberapa perusahaan di Indonesia yang aktif dalam persaingan di bidang transportasi khususnya sepeda motor, salah satunya Yamaha. Dalam menjaga, meningkatkan dan mempertahankan kualitas merek, setiap perusahaan melakukan berbagai tindakan di setiap fungsi sistem pemasaran yang ada, salah satunya adalah fungsi komunikasi. Fungsi komunikasi dilakukan melalui berbagai program komunikasi pemasaran yang dilakukan melalui kegiatan advertising, sponsorship dan sales promotion.

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) terpaan komunikasi pemasaran pada aktivitas advertising, sponsorship dan sales promotion Yamaha terhadap terbentuknya brand image 2) pengaruh brand image Yamaha terhadap brand loyalty. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Mahasiswa Komunikasi FISIP UNS dengan sampel penelitian adalah pengguna sepeda motor Yamaha sebesar 175 responden dari 180 kuesioner yang disebar. Teknik pengambilan sampel menggunakan quota sampling dan snowball sampling. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan structural equation modeling menggunakan AMOS versi 16 untuk menguji hipotesis yang diajukan.

Hasil penelitian yang diperoleh:

1. Tidak semua terpaan komunikasi pemasaran Yamaha terbukti berpengaruh terhadap Brand Image. Terpaan komunikasi pemasaran yang berpengaruh signifikan terhadap terbentuknya Brand Image adalah Celebrity Endorsement, Event Sponsorship dan TV Advertising (nilai probabilitas < 0,05). Sedangkan Print Advertising, Web Advertising, dan Price Promotion tidak berpengaruh signifikan terhadap terbentuknya Brand Image (nilai probabilitas > 0,05). 2. Brand Image Yamaha berpengaruh signifikan positif terhadap Brand Loyalty

(nilai probabilitas < 0,05).

Saran yang diajukan dalam penelitian ini adalah perusahaan sepeda motor Yamaha diharapkan secara konsisten terus memberikan citra positif kepada khalayak melalui usaha-usaha dalam bidang komunikasi pemasaran yang lebih baik lagi. Sehingga konsumen tidak akan ragu dan akan timbul perasaan positif (positive feeling) pada saat membeli dan menggunakan merek dari Yamaha sampai tercipta loyalitas konsumen terhadap merek.

.

(16)

commit to user

xvi

ABSTRACT

Hanifah Yahya, D0206116, Exposure to Marketing Communication

and Brand Loyalty

The existence of a brand is no longer just a name, but it’s a representation of a company's products. This is where brand image processing required that is not a simple job. Currently there are several companies in Indonesia which is active in the competition in the field of transport, especially motorcycles, one is Yamaha. In maintaining, improving and maintaining the brand equity every company doing various activities in every function of the marketing system, and the one of which is a function of communication. The function of communication is done through a variety of marketing communications programs specifically referred to the marketing communication’s activity.

The purpose of this research are: 1) Exposure to advertising, sponsorship, and sales promotion activities on brand image 2) The influence of brand image on brand loyalty. The population in this study are the students of communication in FISIP UNS with Yamaha customer research sample was of 175 respondents from 180 copies of questionnaires distributed. Sampling technique using quota sampling and snowball sampling. The research method used in this research using quantitative research methods with structural equation modeling using AMOS version 16 to test the hypothesis.

The results obtained:

1. Advertising, sponsorship and sales promotion’s activities not all proven has significant positive effect on brand image. The results showed only the Celebrity Endorsement, Event Sponsorship and TV Advertising that has significant positive effects on brand image (probability value <0.05).

2. Brand image has a significant positive effects on brand loyalty. The results showed that the brand image has a significant positive effects on brand loyalty (probability value <0.05).

The suggestions in this research is Yamaha must be consistent give the illustration, spirit, service and maintaining brand equity for the consumers. So consumers will not hesitate in buying products offered by Yamaha.

(17)

commit to user

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kebutuhan masyarakat akan transportasi pribadi menjadi kebutuhan yang

penting pada masa sekarang ini. Sepeda motor merupakan transportasi yang

menjadi pilihan utama bagi masyarakat. Hal tersebut dikarenakan sepeda motor

adalah kendaraan yang paling efisien dibandingkan dengan kendaraan yang

lainnya. Masyarakat tidak perlu lagi berdesak-desakan di dalam kendaraan umum.

Bakan di beberapa kota besar, manfaat utama menggunakan sepeda motor adalah

untuk mengurangi resiko kehilangan waktu akibat kemacetan. Secara kasat mata,

beberapa tahun terakhir ini kita dapat melihat jumlah kendaraan bermotor yang

semakin meningkat di jalan raya. Meningkatnya kebutuhan masyarakat akan

sepeda motor itu lah yang membuat perusahaan sepeda motor semakin bersaing

untuk mendapatkan tempat di pasaran.

Merek mempunyai peran strategis yang penting dengan menjadi pembeda

antara produk yang ditawarkan suatu perusahaan dengan merek-merek

saingannya. Dari perspektif konsumen, merek yang terpercaya merupakan

jaminan atas konsistensi kerja suatu produk dan menyediakan manfaat apapun

(dalam bentuk status maupun gengsi) yang dicari konsumen ketika membeli

merek tertentu. Lebih lanjut, merek adalah sebuah janji kepada konsumen bahwa

(18)

commit to user

memberikan kualitas yang terbaik, kenyamanan, status, dan lain-lain yang

menjadi pertimbangan konsumen ketika melakukan pembelian.

American Marketing Association mendefinisikan merek sebagai nama,

istilah, tanda, simbol, atau desain, atau kombinasi dari keseluruhannya yang

dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari penjual atau

sekelompok penjual, agar dapat dibedakan dari kompetitornya (Shimp, 2003: 8).

Ketika sebuah perusahaan hanya berpikir tentang keberhasilan sebuah bisnis,

maka akan kehilangan esensinya apabila perusahaan tersebut hanya melihat pada

pencapaian profit. Seharusnya perusahaan tidak hanya melihat pangsa pasar,

namun juga harus memperhatikan posisi perusahaan di antara kompetitornya,

kesadaran dan penghargaan konsumen terhadap sebuah merek.

Disinilah dibutuhkan pengelolaan merek yang bukan pekerjaan sederhana,

tantangan besar yang menghadang adalah banyak dan cepatnya perubahan yang

terjadi dalam lingkungan pemasaran perilaku konsumen, strategi-strategi

kompetitif, dan aspek lain dari lingkungan pemasaran seperti aturan-aturan

pemerintah yang dapat mempengaruhi keberhasilan suatu merek. sPerkembangan

industri sepeda motor di Indonesia dengan bermacam merek yang digunakan oleh

perusahaan produsennya juga menjadikan isu merek ini menjadi sangat strategis

dikarenakan dapat menjadi sarana bagi perusahaan untuk mengembangkan dan

memelihara loyalitas pelanggan terhadap merek. Merek yang kuat akan

membangun loyalitas, dan loyalitas akan mendorong bisnis terulang kembali.

(19)

commit to user

Honda, Yamaha, Suzuki, Kawasaki, Kanzen, Kymco, Piaggio dan lain

sebagainya.

Mengingat pentingnya merek, perusahaan berlomba-lomba berusaha untuk

menjaga, meningkatkan, dan mempertahankan kualitas mereknya. Dalam menjaga

kualitas merek, masing-masing perusahaan sepeda motor akan melakukan

berbagai tindakan di setiap fungsi dalam sistem pemasaran yang ada supaya

tercipta citra yang positif di benak khalayak. Fungsi-fungsi tersebut adalah fungsi

produksi, distribusi dan komunikasi. Dalam fungsi produksi guna meningkatkan

kualitas merek perusahaan melakukan berbagai upaya dalam produknya yaitu

research, manufacturing, pricing, branding, trademark. label dan design and

packaging. Dalam hal ini, Yamaha perlu melakukan berbagai inovasi yaitu

inovasi dalam hal tipe, model dan teknologinya masing-masing yang disesuaikan

dengan kebutuhan profesi, status, gaya hidup dan hobi penggunanya. Inovasi

tersebut dibuktikan dengan munculnya model-model jenis motor Yamaha yang

variatif (varian motor yang berbeda dari motor matic hingga motor sport) dan

inovatif (dalam ragam desain). Produk Yamaha yang terbaru yang paling diminati

(banyak digunakan) masyarakat adalah Mio, Vega, Jupiter Z, Jupiter MX, dan

Yamaha V-ixion. Fungsi produksi ini dimaksudkan supaya khalayak tidak merasa

bosan dan ada kecenderungan untuk terus membeli produk-produk yang baru dari

merek yang sama.

Dalam fungsi distribusi, perusahaan juga melakukan berbagai cara dalam

menjaga kualitas mereknya yaitu wholesale channels, retail channels,

(20)

commit to user

mendapatkan kepercayaan konsumen terhadap sebuah merek. Perusahaan dituntut

untuk menjaga pendistribusian barang supaya tepat waktu, aman dan terjamin

sampai kepada konsumennya. Barang yang didistribusikan juga perlu dijaga

supaya tidak mengalami kerusakan. Selain itu, penyediaan suku cadang yang

lengkap di dealer-daler resmi Yamaha juga merupakan hal penting dalam fungsi

distribusi.

Dalam fungsi komunikasi, perusahaan menjalankan berbagai program

komunikasi pemasaran untuk mempromosikan dan menginformasikan produknya

supaya ragam variasi dan inovasi tersebut dikenal oleh khalayak. Komunikasi

pemasaran ialah semua elemen dalam pemasaran yang memberi arti dan

mengkomunikasikan nilai kepada konsumen dan stakeholder sebuah perusahaan

(Warren J. Keegan, 1995). Kesuksesan program komunikasi pemasaran pada

akhirnya harus dinilai dengan memperhatikan apakah ia berhasil mempengaruhi

perilaku, namun akan menjadi tidak realistis jika mengharapkan suatu tindakan

akan muncul dari setiap usaha komunikasi. Sebelum membeli sebuah merek baru,

konsumen pertama-tama harus disadarkan dulu akan keberadaan merek tersebut

serta manfaatnya, kemudian dipengaruhi agar timbul sikap yang mendukung

terhadap merek (Shimp, 2003: 25).

Isu mengenai citra merek mulai berkembang seiring dengan situasi

persaingan bisnis yang semakin ketat. Sehingga menyebabkan kebutuhan

konsumen tidak lagi terbatas pada fungsi utama yang bisa diberikan pada suatu

produk, tetapi berkembang menjadi kebutuhan sekunder yaitu keinginan pada

(21)

commit to user

Yamaha Mitra Kencana Indonesia. Kehadiran sepeda motor ini diharapkan dapat

memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap alat transportasi.

Pembentukan citra yang positif di benak konsumen diharapkan akan

menciptakan loyalitas konsumen terhadap sebuah merek. Dalam ekuitas merek,

loyalitas merupakan asset yang penting. Tanpa adanya loyalitas dari pelanggan,

sebuah merek hanyalah sebuah merek dagang. Namun dengan adanya penciptaan

dan peningkatan loyalitas merek akan menghasilkan peningkatan nilai-nilai

kepercayaan terhadap merek (Shimp, 2003: 15). Loyalitas konsumen pada sebuah

merek merupakan pembela yang tidak terlihat atau secara tidak langsung

(invisible advocate) bagi perusahaan. Mereka akan berupaya membela merek dan

secara sukarela akan selalu berusaha merekomendasikan kepada orang lain.

Secara otomatis word of mouth akan bekerja. Contoh: seorang ibu yang

menggunakan merek susu bayi tertentu, karena ibu tersebut telah percaya dengan

merk susu bayi tertentu, maka suatu saat meskipun dia sudah tidak menyusui,

dengan semangatnya ibu tersebut akan menganjurkan merek susu yang dia pakai

kepada ibu-ibu yang lainnya. Seperti halnya dengan citra yang melekat pada

Yamaha, apabila konsumen sudah mempunyai persepsi yang positif dengan merek

Yamaha, diharapkan konsumen juga akan merekomendasikan Yamaha kepada

konsumen yang lainnya.

Masalah yang dihadapi oleh Yamaha adalah karena semakin tajamnya

persaingan dalam dunia otomotif dimana pangsa pasar sepeda motor Yamaha di

Indonesia menduduki peringkat kedua setelah merek Honda. Asosiasi Industri

(22)

commit to user

wholesale Astra Honda Motor menguasai 46,5 persen pangsa pasar, disusul

Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) yang menguasai 45,3 persen pangsa

pasar Indonesia. (Koran Jakarta, Senin, 8 Nopember 2010)

Dyonisius Betti Presiden Direktur PT YMKI menyebut tahun ini pihaknya

akan meluncurkan enam model baru. Peluncuran model tersebut, selain sebagai

upaya penyegaran guna menjaga citra merek Yamaha juga untuk memenuhi

keinginan dan kebutuhan konsumen loyal motor berlambang garpu tala itu.

Setelah membuat penasaran kalangan pecinta motor di tanah air, akhirnya

Yamaha memberikan kepastian ihwal peluncuran varian sportnya Yamaha Byson.

Motor ini dijadwalkan meluncur di pasar pada akhir semester pertama tahun ini

(Tempo Interaktif, Senin, 22 Februari 2010).

Di Indonesia kebutuhan akan sepeda motor dari tahun ke tahun semakin

meningkat, dikarenakan kebutuhan masyarakat atas transportasi roda dua lebih

simpel dan lebih murah dibandingkan kendaraan roda empat. Indonesia

merupakan salah satu negara yang memiliki konsumtifitas yang sangat tinggi, hal

tersebut yang mendasari pihak produsen motor (dimana salah satunya adalah

Yamaha) selalu berinovasi pada produk-produk yang mereka keluarkan. Dalam

kalangan mahasiswa UNS, hampir rata-rata atau sebagian besar mahasiswa

menggunakan kendaraan pribadi, khususnya sepeda motor yang merupakan sarana

transportasi paling diminati mahasiswa/i sebagai sarana transportasi untuk pergi

ke kampus. Selain salah satu sarana transportasi yang lebih sederhana, lebih irit

biaya konsumsi bahan bakar, sepeda mototr juga jauh lebih efisien dibandingkan

(23)

commit to user

B. Rumusan Masalah

Yamaha merupakan salah satu produsen kendaraan roda dua terbesar di

Indonesia, yang sudah barang tentu memiliki tingkat kesadaran merek yang tinggi.

Kesadaran merek yang telah dibangun oleh Yamaha Motor tentunya harus dijaga,

dipertahankan, bahkan diusahakan meningkat agar dapat terus menciptakan citra

merek (brand image) yang kuat di mata konsumennya. Kemudian dengan adanya

citra yang baik di mata konsumennya, diharapkan juga akan menciptakan loyalitas

merek yang kuat. Berdasarkan alasan tersebut maka perumusan masalah dalam

penelitian imi adalah :

1. Apakah terpaan komunikasi pemasaran pada aktivitas advertising,

sponsorship dan sales promotion Yamaha yang terdiri dari celebrity

endorsement, event sponsorship, TV advertising, web advertising, dan

price promotion berpengaruh terhadap terbentuknya brand image di

kalangan Mahasiswa Komunikasi FISIP UNS?

2. Apakah brand image Yamaha berpengaruh terhadap brand loyalty pada

Mahasiswa Komunikasi FISIP UNS?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah yang tersebut, maka tujuan yang hendak

dicapai pada penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui terpaan komunikasi pemasaran pada aktivitas

advertising, sponsorship dan sales promotion Yamaha yang terdiri dari

(24)

commit to user

advertising, dan price promotion terhadap terbentuknya brand image di

kalangan Mahasiswa Komunikasi FISIP UNS.

2. Untuk mengetahui pengaruh brand image Yamaha terhadap brand loyalty

di kalangan Mahasiswa Komunikasi FISIP UNS.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat member kontribusi terhadap studi

mengenai pengaruh terpaan komunikasi pemasaran terhadap brand loyalty

dimana terpaan komunikasi pemasaran dilihat melalui elemen advertising,

sponsorship, dan sales promotion.

2. Manfaat Praktis

Sebagai masukan bagi PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (PT YMKI)

mengenai pentingnya pengaruh dari terpaan komunikasi pemasaran

(marketing communications) terhadap terbentuknya citra merek (brand

image) dalam upaya meningkatkan loyalitas konsumen (brand loyalty)

dari konsumen atau pelanggan Yamaha Motor di Indonesia.

E. Kajian Teori 1. Komunikasi

Salah satu fungsi dalam sistem pemasaran adalah komunikasi. Dalam

fungsi komunikasi. Produk tidak akan sampai kepada konsumen bila tidak

(25)

commit to user

fungsi komunikasi. Dalam fungsi komunikasi, perusahaan menjalankan

berbagai tindakan untuk memberi informasi tentang produk dan juga

mengajak khalayak untuk lebih mengenal hingga tercipta persepsi yang positif

terhadap merek tersebut.

Komunikasi sendiri memiliki banyak pengertian. Berikut pengertian

komunikasi menurut beberapa ahli:

a. Carl I. Hovland, komunikasi adalah proses mengubah perilaku orang lain (

communication is the proses to modify the behavior of other individuals).

(Onong Uchjana Effendi, 1990: 10)

b. Harold D. Lasswell memberikan sebuah definisi singkat bahwa cara yang

tepat untuk menerangkan suatu tindakan komunikasi ialah menjawab

pertanyaan “siapa yang menyampaikan, apa yang disampaikan, melalui

saluran apa, kepada siapa dan apa oengaruhnya” (Hafied Cangara, 2005:

18). Lasswell dalam karyanya The Structure and Function of

Communication in Society, menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima

unsur sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan, yakni: komunikator

(communicator, source, sender), pesan (message), media (channel, media),

komunikan (communicant, communicate, receiver, recipient), efek (effect,

impact, influence). Jadi, berdasarkan paradigma Lasswell tersebut,

komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada

komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu. (Onong

(26)

commit to user

Adapun unsur-unsur dalam proses komunikasi yaitu (Onong Uchjana

Effendi, 1990: 10) :

a. sender ialah komunikator yang menyampaikan pesan kepada seseorang atau sejumlah orang.

b. encoding ialah penyandian, yakni proses pengalihan pikiran ke dalam bentuk lambang.

c. message ialah pesan yang merupakn seperangkat lambang bermakna yang disampaikan oleh komunikator.

d. media ialah saluran komunikasi tempat berlalunya pesan dari komunikator kepada komunikan.

e. decoding ialah pengawasandian, yaitu proses dimana komunikan menetapkan makna pada lambang yang disampaikan oleh komunikator kepadanya.

f. receiver ialah komunikan yang menerima pesan dari komunikator g. response ialah tanggapan, seperangkat reaksi pada komunikan

setelah diterpa pesan.

h. feedback ialah umpan balik, yakni tanggapan komunikan apabila tersampaikan kepada komunikator.

i. noise ialah gangguan tak terencana yang terjadi dalam proses komunikasi sebagai akibat diterimanya pesan lain oleh komunikan yang berbeda dengan pesan yang disampaikan oleh komunikator kepadanya.

Sedangkan jenis- jenis komunikasi antara lain (Ruslan, 2007: 68) :

a. Komunikasi intrapersonal

Proses komunikasi intrapersonal terjadi apabila individu meneriama rangsangan dari luar pusat saraf, dan selanjutnya pusat saraf akan memberi reaksi yaitu proses berpikir, berdoa, bermeditasi, melamun dan sebagainya.

b. Komunikasi Interpersonal

Proses komunikasi interpersonal merupakan model dasar proses komunikasi antar manusia. dalam komunikasi interpersonal dapat dirasakan bahwa proses komunikasi adalah proses yang dinamis dalam tukar informasi antara dua individu.

(27)

commit to user

Ialah proses komunikasi antara seseorang dengan kelompoknya. Jenis komunikasi ini bisa berlangsung antara satu orang dan kelompok, antar kelompok, atau kelompok dengan individu.

d. Komunikasi massa

Komunikasi massa memiliki dua makna, yitu proses komunikasi dengan massa dan proses komunikasi dengan menggunakan media massa.

Komunikasi yang dilakukan memiliki tujuan, adapun

tujuan-tujuan tersebut adalah sebagai berikut (Onong Uchjana Effendy, 1995: 5) :

a. Mengubah sikap (to change the attitude)

b. Mengubah opini pendapat/pandangan (to change the opinion) c. Mengubah perilaku (to change the behavior)

d. Mengubah masyarakat (to change the society)

Secara umum komunikasi mencakup tiga aspek, yaitu :

a. Aspek kognitif yaitu menyangkut kesadaran dan pengetahuan. b. Aspek afektif yaitu menyangkut sikap atau perasaan/emosi. c. Aspek psikomotorik yaitu menyangkut perilaku atau tindakan

Harold W. Laswell sebagaimana dikutip oleh Onong Uchjana Effendy

menjelaskan bahwa pengertian komunikasi massa adalah proses penyampaian

pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan

efek tertentu.

Serangkaian kegiatan dalam proses komunikasi dapat digambarkan

dalam model Komunikasi yang digambarkan oleh Laswell berikut:

WHO Says What In which

Channel

To Whom

(28)

commit to user

Gambar 1.1 : Model Komunikasi Laswell (Rosady Ruslan, 2007: 28) Bagan di atas dapat diungkapkan dengan pernyataan bahwa

komunikasi mencakup: Pengirim (Who), yang menyampaikan pesan (Says

What) melalui saluran atau media (In Which Channel) kepada penerima atau

khalayak (To Whom) yang memberikan tanggapan sebagai efek dari pesan

yang diterimanya (With What Effect).

Dalam penelitian ini, proses komunikasi dilakukan oleh Yamaha

melalui aktivitas komunikasi pemasaran yang disampaikan melalui media.

Proses komunikasi tersebut diharapkan akan membentuk citra merek (brand

image) hingga meningkatkan loyalitas konsumen terhadap merek (loyalitas

merek).

2. Komunikasi Pemasaran

Dalam menjaga, meningkatkan, dan mempertahankan kualitas

mereknya setiap perusahaan termasuk Yamaha akan melakukan berbagai

tindakan di setiap fungsi pemasaran yang ada, seperti fungsi produksi,

distribusi dan komunikasi. Dalam fungsi produksi, perusahaan wajib menjaga

kualitas, harga, maupun kemasan barang supaya konsumen merasa puas.

Dalam fungsi distribusi, pengiriman barang harus terjamin dan tergaransi,

aman dan lancar sampai kepada konsumen. Selanjutnya, untuk fungsi

komunikasi, program komunikasi pemasaran merupakan salah satu cara untuk

mengkomunikasikan produk kepada khalayak. Usaha tersebut dilakukan

supaya tercipta citra merek (brand image) yang baik di benak khalayak untuk

(29)

commit to user

Pembahasan dalam kajian teori ini berfokus pada komunikasi

pemasaran di tingkat merek. Komunikasi pemasaran dapat dipahami dengan

menguraikan dua unsur pokoknya, yaitu komunikasi dan pemasaran.

Komunikasi adalah proses dimana pemikiran dan pemahaman disampaikan

antarindividu, atau antara organisasi dengan individu. Pemasaran adalah

sekumpulan kegiatan dimana perusahaan dan organisasi lainnya mentransfer

nilai-nilai (pertukaran) antara mereka dengan pelanggannya. Tentu saja,

pemasaran lebih umum pengertiannya daripada komunikasi pemasaran,

namun kegiatan pemasaran banyak melibatkan aktivitas komunikasi. Jika

digabungkan, komunikasi pemasaran merepresentasikan gabungan semua

unsur dalam bauran pemasaran merek, yang memfasilitasi terjadinya

pertukaran dengan menciptakan suatu arti yang disebarluaskan kepada

pelanggan atau kliennya (Shimp, 2003: 4).

Berikut merupakan jenis-jenis komunikasi pemasaran beserta

definisi-definisinya:

a. Penjualan Perorangan (Sales Promotion)

Bentuk komunikasi antarindividu dimana tenaga penjual/wiraniaga

menginformasikan, mendidik, dan melakukan persuasi kepada calon

pembeli untuk membeli produk atau jasa perusahaan (Shimp, 2003: 5).

Aktivitas personal selling memiliki beberapa fungsi yaitu sebagai berikut

(Fandy Tjiptono, 1995: 204):

1. Prospecting, yaitu mencari pembeli dan menjalin hubungan dengan mereka.

(30)

commit to user

3. Communicating, yaitu memberi informasi mengenai produk perusahaan kepada pelanggan.

4. Selling, yakni mendekati, mempresentasikandan mendemonstrasikan, mengatasi penolakan, serta menjual produk kepada pelanggan

5. Servicing, yakni memberikan berbagai jasa dan pelayanan kepada pelanggan.

6. Information gathering, yakni melakukan riset dan intelijen pasar. 7. Allocating, yaitu menentukan pelanggan yang akan dituju.

Personal selling terhitung kegiatan komunikasi pemasaran yang

paling efektif untuk mempengaruhi konsumen. Sehingga perusahaan

menjadi fokus dari konsumen melalui tenaga pemasar (sales people) yang

dimiliki. Dalam penjualan personal, perancangan pesan lebih spesifik,

komunikasi yang lebih personal, dan pengumpulan feedback secara

langsung dari pelanggan.

b. Periklanan (advertising)

Iklan adalah bentuk komunikasi tidak langsung, yang didasari pada

informasi tentang keunggulan atau keuntungan suatu merek, yang disusun

sedemikian rupa sehingga menimbulkan rasa menyenangkan yang akan

mengubah pikiran orang untuk membeli. Secara sederhana iklan

didefinisikan sebagai pesan yang menawarkan suatu produk yang

ditujukan kepada masyarakat lewat suatu media (Rhenald Kasali, 1995: 9).

Iklan memiliki empat fungsi utama, yaitu menginformasikan

khalayak mengenai seluk beluk produk (informative), mempengaruhi

khalayak untuk membeli (persuading), menyegarkan informasi yang telah

(31)

commit to user

menyenangkan sewaktu khalayak menerima dan mencerna informasi

(entertainment) (Fandy Tjiptono, 1995: 206).

Beriklan melalui media massa adalah sebuah kebutuhan pokok

bagi pemasar agar produk dan jasa yang dia tawarkan diketahui oleh

khalayak luas, Maxwell E. Mc. Combs dan Lee. B. Becker dalam bukunya

Using Mass Communications Theory” yang dikutip dari Drs. Totok

Juroto menyebutkan terdapat 7 sebab mengapa manusia membutuhkan

media massa, yakni:

1. Untuk mengetahui apa yang penting dan perlu baginya

2. Untuk membantunya mengambil keputusan (media menjadi bahan rujukan sebelum mengambil keputusan)

3. Untuk memperoleh informasi sebagai bahan pembahasan 4. Memberikan perasaan ikut terlibat dalam peristiwa tertentu 5. Memberikan penguatan atas pendapatnya

6. Mencari konfirmasi atas keputusan yang diambilnya 7. Memperoleh relaksasi dan hiburan

Secara umum media yang tersedia dapat dikelompokkan menjadi

media cetak, media elektronik, media luar ruang, dan media lini bawah

(Fandy Tjiptono, 1995: 229) :

1. Media cetak (print advertising), yaitu media yang statis dan mengutamakan pesan-pesan dengan sejumlah kata, gambar, atau foto baik dalam tata warna maupun hitam putih. Jenis-jenis media cetak adalah:

a) Surat kabar b) Majalah

(32)

commit to user

2. Media elektronik, yaitu media dengan teknologi elektronikdan hanya bisa digunakan bila ada jasa transmisi siaran. Jenis-jenis media elektronik adalah:

a) Televisi b) Radio

3. Media luar ruang, yaitu media iklan (biasanya berukuran besar) yang dipasang di tempat-tempat terbuka seperti di pinggir jalan, pusat keramaian, atau tempat-tempat khusus lainnya, seperti di dalam bis kota, gedung, pagar, dan tembok. Jenis0jenis media luar ruang digunakan dalam media lini bawah (Khasali, 1992 : 142), yaitu:

a) Pameran b) Direct Mail c) Point of purchase d) Merchandising Schemes e) Kalender

c. Promosi Penjualan (Sales Promotion)

Promosi penjualan adalah bentuk persuasi langsung melalui

penggunaan berbagai insentif yang dapat diatur untuk merangsang

pembelian produk dengan segera dan atau meningkatkan jumlah barang

yang dibeli pelanggan. Promosi penjualan yang berorientasi pada

konsumen memakai kupon, premium, contoh gratis, undian, dan potongan

harga(harga promosi).

Secara umum tujuan dari promosi penjualan adalah (Fandy

Tjiptono, 1995: 209):

1. Meningkatkan permintaan dari para pemakai industrial dan atau konsumen akhir.

(33)

commit to user

3. Mendukung dan mengkoordinasikan kegiatan personal selling dan iklan.

Bentuk promosi penjualan berorientasi konsumen adalah

menggunakan kupon, premium, contoh gratis, kontes/undian dan potongan

harga setelah pembelian.

d. Pemasaran Sponsorship (Sponsorship Marketing)

Pemasaran sponsorship adalah aplikasi dalam mempromosikan

perusahaan dan merek mereka dengan mengasosiasikan perusahaan atau

salah satu dari merek dengan kegiatan tertentu (Shimp,2003: 6). Dengan

melakukan event sponsorship yang didalam kegiatannya banyak diikuti

masyarakat, perusahaan dapat meningkatkan reputasi merek, serta

meningkatkan jumlah liputan pers yang menguntungkan bagi perusahaan

dalam hal publisitas media massa, sehingga pemberian event sponsorship

oleh perusahaan dapat memiliki efek yang positif terhadap brand image.

Nilai-nilai pokok promosi terwujud berupa terciptanya kesadaran khalayak

akan keberadaan perusahaan ataupun produk-produk perusahaan. Manfaat

dari event sponsorship dapat menciptakan suatu proses pengakraban antara

perusahaan maupun produk-produk perusahaan dengan konsumenya

melalui liputan media yang berlangsung secara berulang-ulang. Reputasi

perusahaan dimata khalayak pun akan positif, sehingga sikap dan

pandangan khalayak terhadap perusahaan akan lebih baik. Jika reputasi

perusahaan baik maka reputasi produk-produk perusahaan juga akan sama

(34)

commit to user e. Publisitas (publicity)

Seperti halnya iklan, publisitas menggambarkan komunikasi

massa, namun tidak seperti iklan, poerusahaan sponsor tidak

menngeluarkan biaya untuk waktu dan ruang beriklan. Publisitas biasanya

dilakukan dalam bentuk berita atau komentar editorial mengenai produk

atau jasa dari perusahaan. Bentuk-bentuk ini dimuat dalam bentuk media

cetak atau televisi secara gratis karena perwakilan media menganggap

informasi tersebut penting dan layak disampaikan kepada khalayak

mereka. Dengan demikian publisitas tidak dibiayai oleh perusahaan yang

mendapatkan manfaatnya (Shimp, 2003: 6).

f. Komunikasi di tempat pembelian (point of purchase communication)

Melibatkan peraga, poster, tanda dan berbagai materi lain yang

didesain untuk mempengaruhi keputusan untuk membeli dalam tempat

pembelian (Shimp, 2003: 6) .

Tujuan dari kegiatan komunikasi pemasaran adalah untuk

mempengaruhi perilaku khalayak sasarannya. Hal ini berarti kegiatan

komunikasi pemasaran harus mampu mempengaruhi kesadaran merek.

Kesuksesan kegiatan pemasaran membutuhkan usaha-usaha komunikasi yang

diarahkan kepada peningkatan beberapa bentuk respon dari perilaku

konsumen. Dengan kata lain, tujuannya adalah untuk menggerakkan orang

(35)

commit to user

harus dinilai dengan memperhatikan apakah ia berhasil mempengaruhi

perilaku. Sebelum membeli sebuah merek, konsumen harus disadarkan dulu

akan keberadaan merek tersebut beserta manfaatnya, kemudian dipengaruhi

agar timbul sikap yang mendukung terhadap merek(Shimp, 2003: 25).

Berikut adalah elemen komunikasi pemasaran yang terdiri dari

aktivitas periklanan (advertising), pemasaran sponsorship dan promosi

penjualan (sales promotion) yang diduga mempengaruhi citra merek (brand

image) :

a. Celebrity Endorsement

Selebriti adalah individu atau karakter diketahui sebagian besar

dari populasi umum, terutama karena publisitas yang terkait dengan

kehidupan mereka. FTC (the Federal Trade Commissions) memiliki garis

panduan berikut tentang dukungan selebriti. dukungan harus

merefleksikan kepercayaan pendapat, jujur atau pengalaman dari selebriti.

Jika pendukung membuat klaim, pengiklan harus memiliki pembuktian

untuk klaim ini sesuai dengan prinsip-prinsip yang dijelaskan di atas.

Selebriti tidak harus menggunakan produk. Namun, jika selebriti ini

mengklaim telah menggunakan produk, maka yang harus benar. Baik

selebriti dan pengiklan yang bertanggung jawab atas kekeliruan hal

tersebut. Selain itu, pengiklan harus memastikan bahwa selebriti terus

menggunakan produk jika pengesahan memberikan kesan ini. Misalnya,

(36)

commit to user

kesan bahwa Boone dan keluarganya digunakan obatnya. Dia harus

berkontribusi untuk dana yang membuat pengembalian ke konsumen dari

perbaikan/pengobatan jerawat (Gerard J. Tellis, 1998: 44). Para bintang

televisi, aktor film, para atlet terkenal, dan pribadi-pribadi yang telah mati

(pada sketsa pembuka) digunakan secara luas di dalam iklan-iklan di

majalah, iklan radio, dan iklan televisi untuk mendukung produk. Menurut

definisi, selebriti adalah tokoh (aktor, penghibur, atau atlet) yang dikenal

masyarakat karena prestasinya di dalam bidang-bidang yang berbeda dari

golongan produk yang didukung. Para selebriti banyak diminta sebagai

juru bicara produk. Kemungkinan sebanyak ¼ dari semua iklan

menggunakan dukungan selebriti. Para pengiklan dan biro-biro periklanan

bersedia membayar harga yang tinggi pada kaum selebriti tersebut yang

disukai dan dihormati oleh khalayak yang menjadi sasaran dan yang

diharapkan akan mempengaruhi sikap perilaku konsumen yang baik

terhadap produk yang didukung (Shimp, 2003: 460).

b. Event Sponsorship

Sponsorship adalah dukungan finansial kepada suatu organisasi,

orang, atau aktivitas yang dipertukarkan dengan publisitas merek dan

suatu hubungan. Sponsorship dapat membedakan sekaligus meningkatkan

nilai suatu merek. Beberapa pedoman yang digunakan oleh

perusahaan-perusahaan dalam memilih sponsorship: target khalayak, penguatan citra

(37)

commit to user

sponsor lainnya. Event sponsorship merupakan salah satu kegiatan

promosi yang dianggap efektif sebagai strategi komunikasi bisnis

perusahaan agar namanya bisa dikenal di masyarakat dan sekaligus

melakukan publisitas (Stanton, 1993: 140). Dengan adanya event

sponsorship, media massa akan meliputnya tanpa kita harus membayar

ruang media, dan liputan tersebut akan didengar, dilihat dan dibaca oleh

masyarakat (Jefkins, 1972: 187).

c. TV Advertising

Perusahaan-perusahaan yang memasarkan produknya secara

nasional seringkali menggunakan televisi jaringan untuk menjangkau para

pelanggan potensial di seluruh negeri. Pengiklan, yang melalui agen

periklanan, membeli waktu slot yang dikehendaki dari satu atau lebih

jaringan utama (ABC, CBS, Fox, dan NBC) dan memasang iklannya pada

semua stasiun loka yang berafiliasi dengan jaringan. Biaya periklanan

demikian tergantung kepada waktu (jam) iklan tayang, popularitas

program televisi dimana iklan dipasang, dan frekuensi penayangan dalam

setahun dimana harga perikalanan lebih tinggi dalam triwulan pertama

(Januari-Maret) dan triwulan keempat (Oktober-Desember) saat orang

lebih banyak berada dirumah menonton televisi dan tingkat (rating)nya

berada di puncak (Shimp, 2003 : 531).

d. Print Advertising

Periklanan melalui media cetak adalah media yang statis dan

(38)

commit to user

dalam tata warna maupun hitam putih. Bentuk-bentuk iklan dalam media

cetak biasanya berupa iklan baris, iklan display, suplemen, pariwara, dan

iklam layanan masyarakat. Jenis-jenis media cetak terdiri atas (Tjiptono,

1997: 243):

1) Surat Kabar

Suatu surat kabar di Amerika serikat menjangkau sekitar 57

juta keluarga selama seminggu dan hampir 61 juta pada hari minggu.

Surat kabar secara historis merupakan media periklanan terdepan,

tetapi belakangan ini televisi mengungguli surat kabar sebagai media

yang menerima jumlah pengeluaran periklanan terbesar. Hal ini

disebabkan oleh kenyataan bahwa jumlah pembaca Surat kabar berada

pada siklus penurunan yang konstan selama beberapa tahun (Shimp,

2003: 513). Kekuatan periklanan surat kabar. Orang yang membaca

surat kabar untuk mencari berita, berada dalam di dalam kerangka

mental yang benar untuk mengolah iklan yang menyajikan berita

pembukuan toko, produk baru, penjualan, dan sebagainya. Jangkauan

khalayak yang luas merupakan kekuatan kedua dari periklanan surat

kabar, lebih dari 58 persen orang dewasa membaca surat kabar harian,

dan pada hari minggu jumlah pembaca meningkat sampai sekitar 67

persen. Jangkauan tidak terbatas pada kelompok sosioekonomi atau

demografis tetapi lebih meluas keseluruh strata. Lebih dari 60%

pembaca surat kabar adalah masyarakat yang berlatar belakang sarjana.

(39)

commit to user

surat kabar merupakan media yang relatif murah untuk mencapai

konsumen ini. Surat kabar khusus juga mampu mencapai sejumlah

konsumen berpotensi. Misalnya, sebagian besar mahasiswa membaca

surat kabar kampus (Shimp, 2003: 515).

2) Majalah

Meskipun majalah dianggap sebagai media massa, tercatat ada

ratusan majalah khusus (special interest magazines), yang

masing-masing ditunjukan untuk khalayak yang memiliki perhatian dan gaya

hidup khusus. Banyak faktor yang mempengaruhi pemilihan majalah

sebagai sarana pemasangan iklan. Yang paling penting adalah

pemilihan majalah yang dapat menjangkau pasar sasaran pengiklan.

Tetapi, karena pengiklan dapat memilih dari beberapa sarana alternatif

untuk memenuhi tujuan pasar sasaran, maka pertimbangan biaya juga

memainkan peran yang sangat penting.

e. Web Advertising

Internet adalah jaringan komputer yang saling berhubungan yang

terdapat di seluruh dunia yang memungkinkan transfer informasi secara

elektronik. Suatu organisasi riset penting menyatakan bahwa revolusi

internet sedang menyapu bola bumi dengan kecepatan yang sedemikian

rupa sehingga perusahaan-perusahaan mencoba dengan giat untuk

(40)

commit to user

dan bagaiman mengungkit kesempatan baru ini. Jutaan orang diseluruh

dunia mempunyai akses pada internet dan World Wide Web (the Web atau

www). Periklanan melalui internet. Ribuan pemasar telah beralih ke

internet sebagai calon media untuk mempromosikan merek mereka dan

melakukan transaksi penjualan. Meskipun riset menunjukkan bahwa para

konsumen menganggap iklan di internet “tidak terlalu berharga”

dibandingkan dengan media iklan tradisional, namun pendapat periklanan

online naik sampai kira-kira $2 juta pada tahun 1998 dan diproyeksikan

akan mencapai $4 juta menjelang tahun 2000. mocrosoft sendiri

menghabiskan lebih dari $ 30 juta untuk periklanan internet pada tahun

1997. tetapi pada tahun 1998, pengiklan internet rata-rata hanya

menginvestasikan sekitar $700.000 untuk media iklan ini.

Para pengiklan internet menggunakan dua bentuk umum

periklanan: iklan spanduk (banner advertising) dan sponsor (sponsorship).

Iklan spanduk merupakan bentuk periklanan internet yang lebih umum.

Iklan-iklan spanduk ini merupakan iklan berukuran kecil, yang statis

dipasang dalam konteks yang sering dikunjungi. Bentuk iklan lainnya

adalah periklanan sponsor, di mana seorang pengiklan merupakan sponsor

parsial atau ekslusif dari suatu situs dan diuntungkan dari beberapa

kunjungan ke situs tersebut (Shimp, 2003: 542).

f. Price Promotion

Harga seringkali memiliki pengaruh yang besar atas periklanannya.

(41)

commit to user

diturunkan harganya saat ada cuci gudang. Periklanan disini digunakan

untuk menyampaikan harga yang rendah dan memotivasi konsumen agar

mau datang ke toko tersebut. Karena harga memainkan peran yang sangat

penting dalam periklanan produk, maka advertiser harus

mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi bagaimana sebuah

perusahaan menentukan harga bagi produk-produknya. Beberapa

pertimbangan penting diantaranya adalah permintaan pasar, biaya produksi

dan distribusi, persaingan dan tujuan perusahaan. Dari faktor-faktor

tersebut, perusahaan dapat menentukan strategi penerapan harga yang

tepat. Namun, karena faktor-faktor itu pula, harga merupakan salah satu

elemen dalam bauran pemasaran dimana perusahaan hanya memiliki

sedikit penggalian dan pengawasan (Hasan, 2008: 415).

3. Citra Merek (Brand Image)

Salah satu dimensi pengetahuan tentang merek yang berdasarkan

konsumen adalah citra dari sebuah merek. Citra merek (brand image) dapat

dianggap sebagai jenis asosiasi yang muncul di benak konsumen ketika

mengingat sebuah merek tertentu. Asosiasi tersebut secara sederhana dapat

muncul dalam bentuk pemikiran atau citra tertentu yang dikaitkan kepada

suatu merek. Merek dihubungkan dengan pemikiran atau asosiasi tertentu

dapat dikonseptualisasi berdasarkan 1) jenis, 2) dukungan, 3) kekuatan, dan 4)

(42)

commit to user

Kartajaya (2006) menyatakan bahwa pembentukan citra merek

merupakan upaya kritis dalam membangun ekuitas merek. Sebab citra itulah

yang ditangkap dan dipercaya oleh benak konsumen. Karena itu Kartajaya,

(2006) lantas memberi empat kategori asosiasi-asosiasi merek yang bisa

dibentuk yaitu: brand as a product, brand as an organization, brand as a

person dan brand a symbol.

Melalui citra merek yang kuat, maka pelanggan akan memiliki asumsi

positif terhadap merek dari produk yang ditawarkan oleh perusahaan sehingga

konsumen tidak akan ragu untuk membeli produk yang akan ditawarkan

perusahaan. Citra merek menjadi hal yang sangat penting diperhatikan

perusahaan, melalui citra merek yang baik, maka dapat menimbulkan nilai

emosional pada diri konsumen, dimana akan timbulnya perasaan positif

(positive feeling) pada saat membeli atau menggunakan suatu merek.

Demikian sebaliknya apabila suatu merek memiliki citra (image) yang buruk

di mata konsumen kecil kemungkinan konsumen untuk membeli produk

tersebut.

4. Loyalitas Merek (Brand Loyalty)

Loyalitas merek (brand loyalty) kerap kali dihubungkan dengan

pembelian ulang sebagai sebuah konsep perilaku atau tindakan. Padahal

sebenarnya brand loyalty belum sampai ke tahap pembelian ulang. Loyalitas

merek mencerminkan komitmen psikologis terhadap merek tertentu sedangkan

(43)

commit to user

kali. Ajzen (1998, dalam Hasan, 2008: 86) menyatakan bahwa loyalitas

merupakan kondisi psikologis (attitudinal dan behavioral) yang berkaitan

dengan sikap terhadap produk, konsumen akan membentuk keyakinan,

menetapkan suka dan tidak suka, dan memutuskan apakah mereka ingin

membeli produk. Menurut Brown, dimensi sikap merupakan niat dan

preferensi pelanggan untuk membeli suatu jasa atau produk tertentu. Niat

untuk membeli atau merekomendasikan dan preferensi pada suatu perusahaan

merupakan faktor penting dalam menentukan bisnis di masa yang akan datang.

Loyalitas berkembang mengikuti empat tahap, yaitu kognitif, afektif,

konatif, dan tindakan. Tinjauan ini memperkirakan bahwa konsumen

konsumen menjadi loyal lebih dulu pada aspek kognitifnya, berturut kemudian

pada aspek afektif, aspek konatif dan akhirnya aspek tindakan. Berikut

keempat tahap tersebut (Hasan, 2008: 86) :

a. Tahap pertama (Loyalitas Kognitif)

Loyalitas yang menggunakan basis informasi yang memaksa menunjuk

pada satu merek atas merek lainnya, loyalitasnya hanya didasarkan pada

aspek kognisi saja.

b. Tahap kedua (Loyalitas Afektif)

Loyalitas didasarkan pada aspek afektif konsumen. Loyalitas tahap ini

jauh lebih sulit diubah, karena loyalitasnya sudah masuk ke dalam benak

konsumen sebagai afektif, bukan sebagai kognisi yang mudah berubah.

(44)

commit to user

dengan kognisi dan evaluasi konsumen secara keseluruhan tentang suatu

merek (Oskamp, 1991)

c. Tahap ketiga (Loyalitas Konatif)

Dimensi konatif (niat melakukan) yang dipengaruhi oleh

perubahan-perubahan afektif terhadap merek. Konasi menunjukkan suatu niat atau

komitmen untuk melakukan sesuatu ke arah tujuan tertentu.

d. Tahap keempat (Loyalitas Tindakan)

Penginterpretasian loyalitas hanya pada pembelian ulang saja tidak cukup,

karena pelanggan yang membeli ulang belum tentu mempunyai sikap

positif terhadap merek yang dibeli. Mengenali perilaku loyal dilihat dari

dimensi ini adalah dari komitmen pembelian ulang yang ditujukan pada

suatu merek dalam kurun waktu tertentu secara teratur.

David Aaker (1991, dalam Hasan, 2008: 159), membuat urutan loyalitas

merek dalam lima tingkatan:

2 1

3

4

5

(45)

commit to user

1) Switcher adalah pembeli yang sama sekali tidak loyal. Pembeli yang tidak mau terikat dengan merek apapun. Merek mempunyai peranan kecil dalam keputusan pembeli jenis ini.

2) Habitual buyer, pembeli ini adalah pembeli yang merasa puas dengan produk, atau paling tidak mereka tidak kecewa. Pembeli ini memilih merek, karena kebiasaan saja (contoh: perokok).

3) Satisfied buyer with switching cost, pembeli ini adalah mereka-mereka yang puas (satisfied buyer) dengan menanggung atau mengeluarkan biaya pengalihan (switching cost), seperti biaya waktu, uang, dan mungkin resiko pemakaian karena pengalihan merek .

4) Linking the brand, pembeli sangat menyukai merek, pembelinya berdasarkan asosiasi merek (mungkin simbol, atau karena serangkaian pengalaman menggunakan sudah lama).

5) Comitment buyer, mereka ini adalah pembeli-pelanggan yang sangat setia, mereka sangat bangga dalam menggunakan merek tertentu itu. Merek sangat penting bagi pembeli, karena fungsional benefit dan emosional benefit mampu mengekspresikan jati dirinya sebagai wow….mantap. Inilah sebetulnya puncak usaha perusahaan membangun brand (meningkatkan, memelihara, dan inovasi yang konsisten).

Salah satu by-product utama dalam usaha meningkatkan ekuitas

sebuah merek adalah meningkatnya loyalitas konsumen terhadap merek.

Pertumbuhan jangka panjang dan profitabilitas amat bergantung pada

penciptaan dan peningkatan loyalitas merek (brand loyalty). Kutipan dari dua

praktisi pemasaran terkenal berikut ini, merupakan ringkasan dari sifat dan

pentingnya loyalitas merek (Shimp, 2003: 14):

(46)

commit to user

Riset telah menunjukkan bahwa ketika perusahaan

mengkomunikasikan pesan yang unik dan positif melalui iklan, penjualan

perseorangan, promosi penjualan, dan cara-cara lain, mereka dapat

membedakan merek mereka secara efektif melalui penawaran yang kompetitif

dan melindungi diri dari kompetisi harga. Komunikasi pemasaran mempunyai

peran yang esensial dalam penciptaan ekuitas merek yang positif dan

membangun loyalitas merek yang kuat (Shimp, 2003: 15).

Secara umum, usaha untuk` meningkatkan ekuitas suatu merek

dilakukan melalui pilihan yang positif atas identitas merek (yaitu pemilihan

nama, merek atau logo yang baik). Namun, usaha yang paling sering

dilakukan adalah melalui program pemasaran dan komunikasi pemasaran, agar

tercipta asosiasi yang mendukung, kuat, dan unik di benak konsumen antara

merek dengan atribut/manfaatnya. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan jika

dikatakan bahwa usaha untuk meningkatkan ekuitas merek adalah hal yang

penting. Produk yang memiliki kualitas tinggi dan merepresentasikan nilai

yang baik secara potensial mempunyai ekuitas merek yang tinggi. Namun

dibutuhkan usaha komunikasi pemasaran yang efektif dan konsisten untuk

membangun membangun dan mempertahankan ekuitas merek. Citra merek

yang mendukung tidak terjadi secara otomatis. Komunikasi pemasaran yang

berkelanjutan umumnya dibutuhkan untuk menciptakan asosiasi yang

mendukung, kuat dan unik mengenai merek. Iklan yang efektif, promosi

penjualan yang menarik, sponsorship yang kreatif, dan bentuk-bentuk lain dari

(47)

commit to user

image) serta pangsa pasarnya yang besar. Kemudian salah satu by product

utama dalam usaha meningkatkan ekuitas sebuah merek adalah loyalitas

konsumen terhadap merek. Pertumbuhan jangka panjang dan profitibilitas

amat bergantung pada penciptaan dan peningkatan loyalitas merek (brand

loyalty) (Shimp, 2003: 14).

F. Kerangka Pikir Penelitian

Berdasarkan kajian teori dan hasil penelitian sebelumnya, tentang terpaan

komunikasi pemasaran Yamaha pada aktivitas advertising, sponsorship dan sales

promotion terhadap terbentuknya brand image dalam upaya meningkatkan brand

loyalty. Maka untuk memberikan kemudahan dalam membaca alur pemikiran

disertakan kerangka pemikiran sebagai berikut:

Sumber: Rekontruksi Model Penelitian Tong dan Hawley, 2009

Gambar 1.3: Kerangka Pikir Penelitian

Brand Image

Brand Loyalty

Web Advertising

Event Sponsorship

Celebrity Endorsement

Price Promotion

TV Advertising

(48)

commit to user

G. Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah kesimpulan sementara atau reposisi tentatif hubungan

antara dua variabel atau lebih terhadap permasalahan yang diteliti sampai terbukti

melalui data yang terkumpul. Berdasarkan kerangka teori dan konsep yang

disusun, maka hipotesis dari penelitian ini adalah:

1. Diduga terdapat terpaan komunikasi pemasaran Yamaha pada aktivitas

advertising, sponsorship, dan sales promotion yang terdiri dari celebrity

endorsement, event sponsorship, TV advertising, print advertising, web

advertising, dan price promotion terhadap terbentuknya brand image di

kalangan Mahasiswa Komunikasi FISIP UNS.

2. Diduga terdapat pengaruh brand image Yamaha terhadap brand loyalty di

kalangan Mahasiswa Komunikasi FISIP UNS.

H. Metodelogi Penelitian 1. Jenis Penelitian

Metodologi penelitian yang peneliti gunakan adalah penelitian

kuantitatif dengan jenis penelitian penjelasan (explanatory research) dengan

studi khalayak. Masri Singarimbun dan Sofyan Effendy dalam bukunya yang

berjudul Metode Penelitian Survei menjelaskan bahwa penelitian penjelasan

(explanatory research) adalah penelitian untuk menjelaskan hubungan kausal

(49)

commit to user

2. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian adalah Universitas Sebelas Maret Surakarta pada

Prodi Komunikasi FISIP. Adapun alasan penelitian dilakukan di Prodi

Komunikasi FISIP Universitas Sebelas Maret Surakarta, karena banyak

mahasiswa yang menggunakan sepeda motor Yamaha yang menyebabkan

peneliti tertarik untuk melakukan penelitian pada Prodi Komunikasi FISIP

Universitas Sebelas Maret Surakarta, selain itu lokasi penelitian merupakan

tempat peneliti kuliah.

3. Teknik Pengumpulan Data a. Studi Pustaka

Yaitu pengumpulan data dengan cara mencari data-data pendukung

melalui buku-buku, catatan, dokumen-dokumen, ataupun website.

b. Kuesioner (angket)

Yaitu suatu data yang berisikan pertanyaan yang telah disusun dan

diatur sedemikian rupa guna mengumpulkan informasi yang diinginkan.

c. Survey

Yaitu teknik pengumpulan data dengan cara melakukan

pengamatan langsung dilapangan informasi tambahan dapat diperoleh,

sehingga dapat lebih memahami konteks dan keseluruhan objek yang

(50)

commit to user

4. Populasi, Sampel, dan Sampling a. Subyek Penelitian

1) Subyek penelitian yang digunakan adalah mahasiswa FISIP

Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2) Objek penelitian yang diteliti adalah YAMAHA.

b. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/

subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang

ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik

kesimpulannya (Sugiyono, 2006: 55). Arikunto (2006: 130) mengatakan

bahwa ”Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian”. Berdasarkan

pendapat tersebut di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa populasi

adalah keseluruhan subjek yang dijadikan sasaran penelitian. Beberapa

literatur penelitian menjelaskan bahwa dalam kegiatan penelitian, peneliti

tidak harus meneliti semua subyek yang diteliti. Artinya penelitian dapat

menggunakan sampel. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh

mahasiswa/i Prodi Komunikasi FISIP Universitas Sebelas Maret Surakarta

tahun 2011sebanyak 579 orang.

c. Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti

(Arikunto, 2006: 117). Sampel yang disarankan dalam penggunaan SEM

adalah lebih dari 100 atau minimal 5 kali jumlah observasi. Namun apabila

(51)

commit to user

dilakukan penarikan sampel seluruhnya, maka penelitian akan

menggunakan rekomendasi untuk menggunakan Maximum Likelihood

yaitu penarikan sampel antara 100-200 sampel (Ferdinand, 2002:49).

Dalam penelitian ini sampel yang akan digunakan adalah 175 orang

responden yang telah memenuhi syarat, yaitu Mahasiswa Komunikasi

FISIP UNS yang menggunakan sepeda motor Yamaha.

Jumlah sampel 175 tersebut penulis anggap cukup, selain telah

mencukupi kriteria yang digunakan untuk metode Maximum Likelihood

yang mensyaratkan 100-200 sampel, jumlah pengambilan sampel 175

responden mengacu pada pendapat dari Roscoe (1975) dalam Sekaran,

(2005: 160) yang memberikan pedoman penentuan besarnya sampel

penelitian:

1. Ukuran sampel lebih dari 30 dan kurang dari 500 adalah tepat untuk

kebanyakan penelitian.

2. Dalam penelitian multivariate, jumlah sampel sebaiknya beberapa kali

(lebih baik apabila 10 kali atau lebih) lebih besar dari jumlah variabel

dalam studi.

d. Sampling

Teknik sampling (pengambilan sampel) yang digunakan dalam

penelitian ini adalah teknik non probability sampling, yaitu teknik

pengambilan sampel yang tidak memberi peluang/kesempatan sama bagi

setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel

Gambar

Gambar 1.2: Piramida Loyalitas commit to user
Gambar 1.3: Kerangka Pikir Penelitian
Tabel I.5
  Tabel I.7
+7

Referensi

Dokumen terkait

Lebih dalam lagi, keberadaan bahasa dalam media massa tidak lagi sebagai alat menggambarkan realitas, melainkan bisa menentukan makna citra tentang realitas yang

Lebih lanjut, diperlukan suatu upaya dari kita untuk melakukan penelitian yang diharapkan memberikan suatu gambaran akan penerapan dalam hal pengelolaan brand image (citra

Produsen terkadang tidak mampu memahami secara langsung pikiran konsumen terhadap suatu produk, citra merek atau brand image merupakan kesan dari hasil

Dalam mengkomunikasikan suatu citra merek sebuah lembaga kepada masyarakatnya, hal yang dibutuhkan bukan lagi hanya terkait komunikasi dan promosi, namun kinerja,

Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa pengaruh dari kesadaran merek, kualitas yang diterima, dan citra merek terhadap kepuasan merek yang menyebabkan

Jurnal tepak manajemen bisnis 258 peran kualitas produk, citra merek, dan gaya hidup terhadap keputusan pembelian konsumen dan loyalitas merek pada pengguna smartphone merek apple di

Identifikasi tersebut mendorong konsumen untuk membentuk perasaan yang kuat terhadap merek H&M sebagai resonansi dari citra diri mereka yang akan meningkatkan brand love pada diri

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi komunikasi pemasaran melalui media sosial Instagram untuk membangun citra merek akun bisnis