• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBEDAAN TEKANAN DARAH TENAGA KERJA SEBELUM DAN SESUDAH TERPAPAR KEBISINGAN MELEBIHI NAB DI UNIT BOILER BATUBARA PT. INDO ACIDATAMA, Tbk. KEMIRI, KEBAKKRAMAT, KARANGANYAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PERBEDAAN TEKANAN DARAH TENAGA KERJA SEBELUM DAN SESUDAH TERPAPAR KEBISINGAN MELEBIHI NAB DI UNIT BOILER BATUBARA PT. INDO ACIDATAMA, Tbk. KEMIRI, KEBAKKRAMAT, KARANGANYAR"

Copied!
66
0
0

Teks penuh

(1)

PERBEDAAN TEKANAN DARAH TENAGA KERJA SEBELUM DAN SESUDAH TERPAPAR KEBISINGAN MELEBIHI NAB DI UNIT

BOILER BATUBARA PT. INDO ACIDATAMA, Tbk. KEMIRI, KEBAKKRAMAT, KARANGANYAR

SKRIPSI

Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sains Terapan

Hartati

R.0207075

PROGRAM DIPLOMA IV KESEHATAN KERJA

(2)
(3)

PERNYATAAN

Dengan ini menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah

diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi, dan

sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah

ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam

naskah dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Surakarta, ...

Hartati

(4)

commit to user ABSTRAK

Hartati, R0207075, 2011. PERBEDAAN TEKANAN DARAH TENAGA KERJA SEBELUM DAN SESUDAH TERPAPAR KEBISINGAN MELEBIHI NAB DI UNIT BOILER BATUBARA PT. INDO ACIDATAMA, Tbk. KEMIRI, KEBAKKRAMAT, KARANGANYAR.

Tujuan Penelitian : untuk mengetahui dan mengkaji perbedaan tekanan darah sebelum dan sesudah terpapar kebisingan melebihi NAB di Unit Boiler Batubara PT. Indo Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar.

Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Teknik sampling yang digunakan adalah non

probability sampling dengan pendekatan sampling jenuh sehingga populasi yang

menjadi subjek penelitian adalah semua anggota populasi yang berjumlah 20 orang. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner untuk mengetahui karakteristik responden, mengukur kebisingan dan tekanan darah responden. Teknik pengolahan dan analisis data dilakukan dengan uji statistik

Paired T-Test dengan menggunakan program komputer SPSS versi 16.0.

Hasil Penelitian : Hasil analisis dengan uji Paired T-Test, uji perbedaan tekanan darah sistolik sebelum dan sesudah terpapar kebisingan melebihi NAB diketahui bahwa nilai p sebesar 0,000 atau kurang dari 0,05 (p ≤ 0,05). Sedangkan uji perbedaan tekanan darah diastolik sebelum dan sesudah terpapar kebisingan melebihi NAB diketahui bahwa nilai p sebesar 0,006 atau kurang dari 0,05 (p ≤ 0,05).

Simpulan Penelitian : Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa ada perbedaan yang bermakna antara tekanan darah sebelum dan sesudah terpapar kebisingan melebihi NAB di Unit Boiler Batubara PT. Indo Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar.

(5)

ABSTRACT

Hartati, R0207075, 2011. THE DIFFERENCE OF WORKER’S BLOOD PRESSURE BEFORE AND AFTER EXPOSED TO NAB- EXCEEDING NOISE IN COAL BOILER UNIT IN PT. INDO ACIDATAMA, TBK. KEMIRI, KEBAKKRAMAT, KARANGANYAR.

Objective : To find out and to study the difference of worker’s blood pressure before and after exposed to nab- exceeding noise in Coal Boiler Unit in PT. Indo Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar.

Method : This study employed an analytical observational method using cross sectional approach. The sampling technique used was non probability sampling using saturated sampling so that the population becoming the subject of research is all members of population consisting of 20 workers. The data collection was done using questionnaire to find out the characteristics of respondent, to measure noise and the respondents’ blood pressure. Technique of processing and analyzing data was done with paired T-test using SPSS version 16.0 computer program.

Result : From the analysis conducted using Paired T-Test, the difference of systolic blood pressure before and after exposed to NAB-exceeding noise, it can be found that p value of 0.000 or less than 0.05 (p ≤ 0.05). Meanwhile the systolic blood pressure before and after exposed to NAB-exceeding noise, it can be found that p value of 0.006 or les than 0.05 (p ≤ 0.05).

Conclusion : From the result of research, it can be concluded there is a significant difference of blood pressure before and after exposed to NAB-exceeding noise in Coal Boiler Unit in PT. Indo Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar .

(6)

commit to user PRAKATA

Alhamdulillah, segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Perbedaan Tekanan Darah Tenaga Kerja Sebelum dan Sesudah Terpapar Kebisingan Melebihi NAB di Unit Boiler Batubara PT. Indo Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar”. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat dalam rangka menyelesaikan studi Diploma IV untuk mencapai gelar Sarjana Sains Terapan.

Dalam penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Zainal Arifin Adnan, dr., Sp.PD-KR-FINASIM selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta Periode 2011. 2. Bapak Putu Suriyasa, dr., MS, PKK, Sp.Ok selaku Ketua Program Diploma

IV Kesehatan Kerja Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.

3. Bapak Sumardiyono, SKM, M.Kes selaku pembimbing I yang telah memberikan bimbingan selama penyusunan skripsi ini.

4. Ibu Susilowati, S.Sos, M.Kes selaku pembimbing II yang telah memberikan bimbingan selama penyusunan skripsi ini.

5. Bapak Sarsono, Drs., M.Si selaku penguji yang telah memberikan masukan dalam skripsi ini.

6. Ibu Lusi Ismayenti, ST., M.Kes selaku tim skripsi yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk melaksanakan penelitian ini.

7. Bapak Budi Mulyono selaku pimpinan PT. Indo Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melaksanakan penelitian. meluangkan waktunya untuk mendampingi penulis dalam pengambilan data. 11. Seluruh karyawan PT. Indo Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat,

Karanganyar atas segala bantuan dan dukungan yang diberikan.

12. Bapak, Ibu, kakak yang telah memberikan doa, dukungan dan kasih sayang selama ini. Tidak ada kata yang bisa kuucapkan, tidak ada perbuatan yang sanggup kuberikan untuk membalas segala cinta dan pengorbanan yang telah diberikan. Mas Joko yang selalu memberikan dukungan, semangat dan motivasinya selama ini.

13. Sahabatku Cha Rose, Necha, Dean, Deenar, Oneng, Tri Hartanto yang selalu memberikan semangat dalam menyelesaikan skripsi ini.

(7)

15. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan skripsi ini yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan dalam penyusunan skripsi ini. Tetapi besar harapan penulis agar skripsi ini dapat bermanfaat sebagaimana mestinya, serta penulis senantiasa mengharapkan masukan, kritik dan saran yang membangun dalam penyempurnaan skripsi ini.

Surakarta, Mei 2011

(8)

commit to user DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL... i

HALAMAN PENGESAHAN... ii

HALAMAN PERNYATAAN... iii

ABSTRAK... iv

ABSTRACK... v

PRAKATA... vi

DAFTAR ISI... viii

DAFTAR GAMBAR... x

DAFTAR TABEL... xi

DAFTAR LAMPIRAN... xii

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Rumusan Masalah... 4

C. Tujuan Penelitian... 5

D. Manfaat Penelitian... 5

BAB II. LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka... 7

1. Intensitas Kebisingan... 7

2. Tekanan Darah... 15

B. Kerangka Pemikiran... 22

(9)

BAB III. METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian... 24

B. Lokasi dan Waktu Penellitian... 24

C. Populasi Penelitian... 24

D. Teknik Sampling... 24

E. Sampel Penelitian... 24

F. Desain Penelitian... 25

G. Identifikasi Variabel Penelitian... 25

H. Definisi Operasional Variabel Penelitian... 26

I. Instrumen Penelitian... 26

J. Cara Kerja Penelitian... 29

K. Teknis Analisis Data... 30

BAB IV. HASIL A. Gambaran Umum Perusahaan... 31

B. Karakteristik Subjek Penelitian ... 32

C. Kebisingan ... 35

D. Tekanan Darah ... 36

BAB V. PEMBAHASAN A. Karakteristik Subjek Penelitian... 40

B. Analisa Univariat ... 41

C. Analisa Bivariat ... 47

(10)

commit to user

B. Saran ... 49

DAFTAR PUSTAKA ... 54

(11)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Kerangka Pemikiran ... 22

Gambar 2. Desain Penelitian ... 25

Gambar 3. Sound Level Meter merk Rion type NA-20 ... 28

(12)

commit to user DAFTAR TABEL

Tabel 1. Nilai Ambang Batas Kebisingan ... 11

Tabel 2. Standar Tekanan Darah Normal menurut Pearce ... 15

Tabel 3. Standar Tekanan Darah Normal menurut Sani ... 16

Tabel 4. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur ... 32

Tabel 5. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Masa Kerja ... 33

Tabel 6. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Status Gizi/IMT ... 33

Tabel 7. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Riwayat Penyakit... 34

Tabel 8. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kebiasaan Merokok.. 35

Tabel 9. Hasil Pengukuran Intensitas Kebisingan... 36

Tabel 10. Hasil Pengukuran Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik ... 36

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Data Responden Pekerja di Unit Boiler Batubara PT. Indo

Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar

Lampiran 2. Hasil Pengukuran Intensitas kebisingan di Unit Boiler Batubara PT.

Indo Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar

Lampiran 3. Hasil Perhitungan Intensitas Kebisingan rata-rata di Unit Boiler

Batubara PT. Indo Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat,

Karanganyar

Lampiran 4. Hasil Pengukuran Tekanan Darah

Lampiran 5. Surat Keterangan Penelitian

Lampiran 6. Uji Statistik Tekanan Darah Sistolik

Lampiran 7. Uji Statistik Tekanan Darah Diastolik

Lampiran 8. Dokumentasi

Lampiran 9. Hasil Uji Korelasi Variabel Pengganggu dengan Tekanan Darah

Lampiran 10. Surat Persetujuan Sampel dan Kuesioner Karakteristik Sampel

(14)

commit to user BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perkembangan industri yang semakin pesat dewasa ini selain

memberi dampak positif berupa peningkatan taraf hidup masyarakat, juga

dapat menimbulkan berbagai permasalahan bagi para pelaku dalam sektor

industri itu sendiri maupun masyarakat pada umumnya. Manusia sebagai

tenaga kerja merupakan pelaksana diberbagai sektor industri, supaya tenaga

kerja mampu bekerja dengan produktif dan aman maka perlu pengerahan

tenaga kerja secara efektif dan efisien. Menurut teori Blum yang dikutip

oleh Budiono (2003) bahwa status kesehatan sangat dipengaruhi oleh faktor

keturunan, pelayanan kesehatan, perilaku dan lingkungan. Hal tersebut

berlaku pula pada kesehatan tenaga kerja.

Dalam setiap proses produksi tenaga kerja tidak bisa lepas dari

kebisingan baik yang berasal dari suara mesin, peralatan kerja, suara-suara

teman kerja yang dapat mengganggu kepuasan dalam bekerja. Kebisingan

diartikan sebagai semua suara atau bunyi yang tidak dikehendaki yang

bersumber dari alat-alat proses produksi dan atau alat-alat kerja yang pada

tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran (Suma’mur,

2009).

Gangguan terhadap pemajanan kebisingan sangat bervariasi

(15)

pandang ergonomi, pengaruh pemajanan kebisingan pada intensitas yang

rendah umumnya yang berupa gangguan komunikasi, ketidaknyamanan,

dan gangguan performansi kerja. Tetapi pada pemajanan kebisingan dengan

intensitas yang lebih tinggi khususnya yang melebihi Nilai Ambang Batas

(NAB > 85 dB) dan dalam waktu yang lama dapat menurunkan fungsi

pendengaran yang bersifat sementara kemudian berlanjut permanen

(Tarwaka, 2004).

Lingkungan kerja bising perlu mendapat perhatian yang lebih

karena tenaga kerja yang terpapar bising akibat proses produksi dapat

menimbulkan gangguan kesehatan dan kenyamanan kerja. Untuk efisiensi

dan produktivitas kerja maupun untuk proteksi tenaga kerja, keseimbangan

yang optimal antara beban langsung dan beban tambahan oleh lingkungan

kerja dan kapasitas kerja perlu dicapai. Beban tambahan akibat kerja

disebabkan oleh faktor–faktor antara lain faktor fisik, faktor kimia, faktor

biologi, faktor fisiologis, faktor psikologis (Suma’mur, 2009).

Keterpaparan terhadap kebisingan yang melebihi nilai ambang

batas pada kurun waktu yang cukup lama akan berakibat pada gangguan

pendengaran ringan dan jika terjadi terus menerus akan menyebabkan

ketulian permanen. Selain itu juga menimbulkan gangguan emosional yang

memicu meningkatnya tekanan darah. Energi kebisingan yang tinggi

mampu juga menimbulkan efek seperti perubahan frekuensi detak jantung,

(16)

commit to user

terjadi efek psikososial dan psikomotor jika seseorang berada di lingkungan

yang bising (Harrington dan Gill, 2005).

PT. Indo Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar

merupakan perusahaan agrochemical yang mengolah tetes tebu menjadi

berbagai bahan kimia yang salah satu produk utamanya adalah ethanol.

Disetiap proses produksinya banyak menggunakan mesin-mesin yang dapat

menimbulkan kebisingan, salah satunya Boiler Batubara yang digunakan

untuk mensuplai uap ke plant. Berdasarkan pengukuran kebisingan di lima

titik dari ruang mesin boiler didapat hasil pengukuran pada titik pertama 88

dB, titik kedua 87 dB, titik ketiga 86 dB, titik keempat 89 db, titik kelima 88

dB. Dengan rata-rata intensitas kebisingannya 87,71 dB dengan perhitungan

menggunakan rumus sebagai berikut:

Intensitas Bising Ruangan

Tl = 20 log P/Po

Keterangan:

TI : Intensitas kebisingan ruangan

P : Tekanan suara

Po : Tekanan suara dasar

Untuk perhitungan rata-rata kebisingan sesaat :

Leq = 10 log 1/N (n1 x 10L1/10 + n2 x 10L2/10 + n3 x 10L3/10 + n4 x10L4/10 + n5

x 10L5/10)

Keterangan:

(17)

N : jumlah kejadian/jumlah data pengukuran

n : frekuensi kemunculan Ln

Ln : intensitas kebisingan dari hasil pengukuran

(Menteri Lingkungan Hidup, 1996).

Menurut Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor

KEP-51/MEN/1999 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di Tempat Kerja

menyebutkan bahwa intensitas kebisingan 85 dB selama 8 jam kerja dalam

sehari. Sehingga Unit Boiler Batubara PT. Indo Acidatama, Tbk. Kemiri,

Kebakkramat, Karanganyar intensitasnya melebihi ambang batas.

Dari hasil pengukuran kebisingan yang melebihi NAB tersebut,

dapat berpengaruh terhadap fisiologis tenaga kerja salah satunya perubahan

tekanan darah. Dari uraian diatas penulis ingin mengkaji teori tersebut

dengan mengadakan penelitian tentang Perbedaan Tekanan Darah Tenaga

Kerja Sebelum dan Sesudah Terpapar Kebisingan Melebihi NAB di Unit

Boiler Batubara PT. Indo Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat,

Karanganyar.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas maka

dalam penelitian ini penulis merumuskan masalah sebagai berikut “Adakah

perbedaan tekanan darah tenaga kerja sebelum dan sesudah terpapar

kebisingan melebihi NAB di Unit Boiler Batubara PT. Indo Acidatama,

(18)

commit to user C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui dan mengkaji perbedaan tekanan darah

tenaga kerja sebelum dan sesudah terpapar kebisingan melebihi NAB di

Unit Boiler Batubara PT. Indo Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat,

Karangnayar.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui intensitas kebisingan di Unit Boiler Batubara PT.

Indo Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar.

b. Untuk mengetahui tekanan darah tenaga kerja di Unit Boiler Batubara

PT. Indo Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar.

D. Manfaat Penelitian

1. Teoritis

Diharapkan dapat mengkaji teori bahwa ada perbedaan tekanan

darah tenaga kerja sebelum dan sesudah terpapar kebisingan melebihi

NAB di Unit Boiler Batubara PT. Indo Acidatama, Tbk. Kemiri,

Kebakkramat, Karanganyar.

2. Aplikatif

a. Bagi tenaga kerja

Diharapkan tenaga kerja mengetahui pengaruh kebisingan

terhadap tekanan darah, dan dengan penuh kesadaran untuk

melakukan upaya mengurangi ketidaknyamanan dan gangguan

(19)

b. Bagi perusahaan

Diharapkan dapat menjadi bahan masukan dalam kaitannya

dengan lingkungan kerja serta tindakan pengendalian, sehingga dapat

meningkatkan efisiensi kerja, produktivitas dan derajat kesehatan

tenaga kerja secara optimal.

c. Bagi peneliti

Diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang kebisingan

dan tekanan darah tenaga kerja di Unit Boiler Batubara PT. Indo

(20)

commit to user BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

1. Intensitas Kebisingan

a. Pengertian kebisingan

Kebisingan adalah bunyi atau suara yang tidak dikehendaki

yang bersifat mengganggu pendengaran bahkan dapat menurunkan

daya dengar seseorang yang terpapar (Tarwaka, 2004). Sedangkan

Budiono (2003) bising adalah suara atau bunyi yang tidak diinginkan.

Kebisingan adalah semua suara yang tidak dikehendaki yang

bersumber dari alat-alat proses produksi dan atau alat-alat kerja yang

pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran

(Kepmenaker No.Kep-51 MEN/1999). Priatna dan Utomo (2002)

mengemukakan kebisingan adalah suara-suara yang tidak dikehendaki

bagi manusia. Jadi kebisingan secara umum adalah suara yang tidak

dikehendaki yang bersumber dari alat-alat proses produksi dan atau

alat-alat kerja yang bersifat mengganggu pendengaran.

b. Jenis kebisingan

Jenis kebisingan menurut Suma’mur (2009):

1) Kebisingan kontinyu dengan spektrum frekuensi yang luas

(Steady state, Wide band noise).

(21)

2) Kebisingan kontinyu dengan spektrum frekuensi sempit (Steady

state, narrow band noise).

Misal: gergaji sirkuler, katup gas.

3) Kebisingan terputus-putus (intermittent).

Misal: lalu lintas, suara kapal terbang.

4) Kebisingan impulsif (impact impulsive noise).

Misal: tembakan bedil, meriam, ledakan.

5) Kebisingan impulsif berulang.

Misal: mesin tempa, pandai besi.

Menurut Haryono dan Subaris (2007), bising diberbagai

industri dalam garis besar dapat digolongkan dalam 2 golongan, yaitu:

1) Bising-bising impulsif

Kebisingan impulsif (impact/impulse noise) adalah

kebisingan yang ditimbulkan oleh sumber tunggal atau bunyi

yang pada saat tertentu terdengar secara tiba-tiba, misal

kebisingan yang ditimbulkan oleh ledakan bom, meriam.

Sedangkan impulsif berulang terjadi pada mesin produksi di

industri. Kebisingan impulsif yang berintensitas tinggi dapat

menyebabkan rusaknya alat-alat pendengaran. Kerusakan dapat

terjadi pada gendang pendengaran dan tulang-tulang halus di

telinga tengah. Getaran-getaran yang menyebabkan kerusakan ini

(22)

commit to user

2) Intermittent/Interutted Noise

Adalah kebisingan dimana suara mengeras dan kemudian

melemah secara perlahan-lahan. Sebagai contoh, kebisingan yang

ditimbulkan oleh kendaraan lalu lintas atau pesawat udara yang

tinggal landas.

c. Sumber kebisingan

Menurut Dirjen PPM dan PL., DEPKES & KESSOS RI.

dalam Haryono dan Subaris (2007), sumber kebisingan dibedakan

menjadi :

1) Bidang industri

Industri besar termasuk didalamnya pabrik, bengkel dan

sejenisnya. Bidang industri dapat dirasakan oleh tenaga kerja

maupun masyarakat disekitar industri.

2) Bidang rumah tangga

Umumnya disebabkan oleh alat-alat rumah tangga dan

tidak terlalu tinggi tingkat kebisingannya.

3) Bidang spesifik

Bising yang disebabkan oleh kegiatan-kegiatan khusus,

misalnya pemasangan tiang pancang tol atau bangunan.

Bila sumber kebisingan dilihat dari sifatnya dibagi menjadi 2

yaitu:

(23)

2) Sumber kebisingan dinamis : mobil, pesawat terbang, kapal laut

dan lainnya (Wisnu, 1996).

Sedangkan sumber bising yang dilihat dari bentuk sumber

suara yang dikeluarkannya, ada dua macam yaitu:

1) Sumber bising yang berbentuk sebagai suatu titik/bola/lingkaran.

Contoh: sumber bising dari mesin-mesin industri/mesin yang tak

bergerak.

2) Sumber bising yang berbentuk sebagai suatu garis, misalnya:

kebisingan yang timbul karena kendaraan-kendaraan yang bergerak

dijalan. (Men. KLH, 1989)

d. Nilai Ambang Batas (NAB)

Nilai ambang batas adalah standar faktor tempat kerja yang

dapat diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan penyakit atau

gangguan kesehatan dalam pekerjaan sehari-hari untuk waktu tidak

melebihi 8 jam sehari atau 40 jam seminggu. (Kepmenaker No. 51

MEN/1999). NAB kebisingan di tempat kerja adalah intensitas suara

tertinggi yang merupakan nilai rata-rata, yang masih dapat diterima

tenaga kerja tanpa mengakibatkan hilangnya daya dengar yang

menetap untuk waktu kerja terus menerus tidak lebih dari 8 jam sehari

dan 40 jam seminggu (Budiono dkk, 2003). Nilai ambang batas yang

diperbolehkan untuk kebisingan ialah 85 dB, selama waktu pemaparan

(24)

commit to user Tabel 1. Nilai Ambang Batas Kebisingan

Waktu pemajanan per hari Intensitas kebisingan dalam dBA

(25)

e. Efek kebisingan terhadap kesehatan

Pengaruh pemaparan kebisingan menurut Sandes, dkk.

dalam Tarwaka (2004) secara umum dapat dikategorikan menjadi dua

berdasarkan pada tinggi rendahnya intensitas kebisingan dan lama

waktu pemaparan. Pengaruh pemaparan kebisingan antara lain adalah:

1) Pengaruh kebisingan intensitas tinggi (di atas NAB) adalah

terjadinya kerusakan pada indera pendengaran yang dapat

menyebabkan penurunan daya dengar baik yang bersifat permanen

atau ketulian maupun bersifat sementara, pengaruh kebisingan akan

sangat terasa apabila jenis kebisingannya terputus-putus dan

sumbernya tidak diketahui. Secara fisiologis kebisingan dengan

intensitas tinggi dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti,

meningkatnya tekanan darah dan denyut jantung, resiko serangan

jantung meningkat, gangguan pencernaan, gangguan dalam

bekerja, peningkatan kelelahan, dan resiko masyarakat, apabila

kebisingan akibat suatu proses produksi demikian hebatnya

sehingga masyarakat sekitarnya protes menuntut agar kegiatan

tersebut dihentikan.

2) Pengaruh kebisingan intensitas rendah (di bawah NAB) adalah

dapat menyebabkan stress pada karyawan yang secara spesifik

dapat mengakibatkan stress menuju keadaan cepat marah, sakit

(26)

commit to user

penurunan perfomansi kerja yang kesemuannya itu akan bermuara

pada kehilangan efisiensi dan produktivitas kerja.

f. Pengendalian kebisingan

Kebisingan dapat dikendalikan dengan :

1) Pengendalian Secara Teknis

a) Mengubah cara kerja, dari yang menimbulkan bising menjadi

berkurang suara yang menimbulkan bisingnya.

b) Menggunakan penyekat dinding dan langit-langit yang kedap

suara.

c) Mengisolasi mesin-mesin yang menjadi sumber kebisingan.

d) Substitusi mesin yang bising dengan mesin yang kurang bising.

e) Menggunakan fondasi mesin yang baik agar tidak ada

sambungan yang goyang, dan mengganti bagian-bagian logam

dengan karet.

f) Modifikasi mesin atau proses.

g) Merawat mesin dan alat secara teratur dan periodik sehingga

dapat mengurangi suara bising (Budiono dkk, 2003).

2) Pengendalian secara administratif:

a) Pengadaan ruang kontrol pada bagian tertentu (misalnya bagian

diesel).

b) Tenaga kerja di bagian tersebut hanya melihat dari ruang

(27)

berbising tinggi, dalam waktu yang telah ditentukan, serta

menggunakan APD (ear muff).

c) Pengaturan jam kerja, disesuaikan dengan NAB yang ada.

d) Cara ini dilakukan untuk mengurangi waktu pemajanan dan

tingkat kebisingan, sehingga suara yang diterima organ

pendengaran pekerja, masih dalam batas aman (Budiono dkk,

2003).

3) Pengendalian secara medis

Pemeriksaan audiometri sebaiknya dilakukan pada saat

awal masuk kerja, secara periodik, secara khusus, dan pada akhir

masa kerja (Budiono dkk, 2003).

4) Penggunaan Alat Pelindung Diri

Apabila pengendalian secara teknis dan administratif

belum dapat mereduksi tingkat dan lama kebisingan yang diterima

maka digunakan alat pelindung kebisingan yaitu ear plug atau ear

muff disesuaikan dengan jenis pekerjaan, kondisi, dan penurunan

intensitas kebisingan yang diharapkan (Budiono dkk, 2003).

2. Tekanan Darah

a. Pengertian tekanan darah

Darah termasuk golongan jaringan ikat dan merupakan media

komunikasi antar sel dari berbagai bagian tubuh dan dengan dunia luar

(28)

commit to user

Tekanan darah adalah tekanan yang didesakkan dengan

mensirkulasi darah pada dinding pembuluh darah (Ramadhan, 2010).

Tekanan darah sistolik adalah tekanan yang diturunkan sampai suatu titik

dimana denyut dapat dirasakan. Sedangkan tekanan diastolik adalah

tekanan di atas arteri brakialis perlahan-lahan dikurangi sampai bunyi

jantung atau denyut arteri dengan jelas dapat didengar dan titik dimana

bunyi mulai menghilang (Tahang, 2004). Perbedaan tekanan antara

sistolik dan diastolik disebut tekanan nadi dan normalnya adalah 30-50

mmHg (Pearce, 2009).

b. Penggolongan tekanan darah

Tabel 2. Standar Tekanan Darah Normal

No Usia Diastole Sistole

1 Pada masa bayi 50 70-90

2 Pada masa anak 60 80-100

3 Masa remaja 60-70 90-110

4 Dewasa muda 60-70 110-125

5 Umur lebih tua 80-90 130-150

(Sumber : Pearce, 2009).

Sedangkan klasifikasi hipertensi menurut JNC-VII dalam

Hermawati (2005) adalah sebagai berikut:

1) Tekanan darah normal: tekanan sistolik < 120 mmHg dan tekanan

(29)

2) Pre hipertensi: tekanan sistolik 120-139 mmHg dan tekanan diastolik

80-90 mmHg.

3) Hipertensi, ada dua macam yaitu:

a) Stadium I: tekanan sistolik 140-159 mmHg dan tekanan diastolik

90-99 mmHg.

b) Stadium II: tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 100

mmHg.

Tabel 3: Kategori Tekanan Darah

Kategori Sistolik Diastolik

Optimal <120 <80

Normal <130 <85

Normal-Tinggi 130-139 85-89

Tingkat 1 (hipertensi ringan)

Tingkat 2 (hipertensi sedang) 160-179 100-109

Tingkat 3 (hipertensi berat) ≥180 >110

(30)

commit to user c. Tekanan darah rata-rata

Menurut Guyton dan Hall dalam Hermawati (2005) antara

tekanan sistole dan diastole ada yang dinamakan tekanan darah rata-rata,

yang angkanya lebih mendekati tekanan diastolik dari pada tekanan

sistolik. Karena tekanan sistolik lebih pendek daripada diastole. Tekanan

darah rata-rata sedikit kurang daripada nilai-nilai tengah antara tekanan

sistole dan diastole. Tekanan rata-rata menurun dengan cepat sampai

kira-kira 5 mmHg pada akhir arteriol. Besarnya penurunan tekanan

sepanjang arteriol sangat berbeda-beda tergantung apakah mereka

kontriksi/dilatasi. Besar nilai pada orang dewasa kira-kira 90 mmHg

yang sedikit lebih kecil dari rata-rata tekanan sistole 120 mmHg dan

tekanan diastole 80 mmHg. Tekanan arteri rata-rata dirumuskan sebagai

berikut :

TR = TD + 1/3 (TS - TD) mmHg

Keterangan:

TR : tekanan arteri rata-rata dengan satuan mmHg

TD : tekanan diastolik dengan satuan mmHg

TS : tekanan sistolik dengan satuan mmHg

Tekanan rata-rata inilah yang sesungguhnya menjadi pendorong

mengalir darah lebih lama terpengaruh untuk tekanan diastolik daripada

tekanan sistolik. Peningkatan atau penurunan darah rata-rata akan

(31)

tidak memadai lagi, maka terjadilah gangguan pada sistem transpor

oksigen, karbondioksida dan hasil metabolisme lainnya.

d. Resistensi Aliran Darah

Resistensi merupakan hambatan aliran darah dalam pembuluh,

tetapi tidak dapat diukur secara langsung dengan cara apapun.

Sebaliknya, resistensi harus dihitung dari pengukuran aliran darah dan

perbedaan tekanan darah dua titik di dalam pembuluh.

Bila perbedaan tekanan antara dua titik adalah 1 mmHg dan

aliran darah adalah 1 ml/detik, resistensinya dikatakan sebesar 1 satuan

resistensi perifer, biasanya disingkat PRU (Peripheral Resistance Unit)

(Guyton&Hall, 2008).

Satuan fisik dasar yang disebut satuan CGS (sentimeter, gram,

detik) dipakai untuk menyatakan resistance. Resistensi untuk satuan ini

dapat dihiting dengan rumus : R = 1333 /

Keterangan :

R : resistensi aliran darah dalam dyne detik/cm5

mmHg : menyatakan tekanan darah

ml/detik : menyatakan kecepatan aliran darah

e. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tekanan Darah

Menurut Parsudi dalam Subagiya (2007) tekanan darah normal

sangat bervariasi tergantung pada:

(32)

commit to user

2) Latihan kerja yang lama akan menurunkan tekanan sistolik yang

progresif sehingga mudah lelah.

3) Umur, semakin tua tekanan sistolik semakin tinggi biasanya

dihubungkan dengan timbulnya arteriosklerosis kira-kira

sepersepuluh dan orang tua meningkat di atas 200 mmHg.

4) Seks, pada wanita sebelum menopause 5-10 mmHg lebih rendah dari

pria seumurnya, tetapi setelah menopause tekanan darahnya tinggi.

5) Anemia berat akan menyebabkan viskositas darah turun 1-2,5 kali

viskositas normalnya 3 kali sehingga menyebabkan meningkatkan

beban kerja jantung yang akan menaikkan tekanan arteri.

6) Emosi, takut, cemas biasanya tekanan darahnya akan naik.

7) Penyakit ginjal, penyakit hipertensi akan menyebabkan suplai

vaskuler berkurang atau berkurangnya filtrasi glomerolus yang akan

menyebabkan hipertensi.

8) Merokok, meskipun tidak terdapat hubungan merokok dalam

hipertensi namun merokok merupakan faktor risiko mayor terhadap

penyakit kardiovaskuler.

9) Minum alkohol, mengkonsumsi alkohol secara berlebihan dapat

meningkatkan tekanan darah dan menyebabkan resistensi terhadap

otot anti hipertensi.

10) Kafein dapat meningkatkan tekanan darah secara akut namun secara

(33)

11) Pemakaian obat-obatan tertentu seperti kontrasepsi oral dekongestan

hidung, obat anti flu karena jenis obat ini dapat meningkatkan

tekanan darah.

12) Faktor lingkungan kerja yang berpengaruh terhadap tekanan darah

seperti suhu ruangan dan kebisingan karena dapat mempengaruhi

gangguan tidur dan efek syaraf otonom.

3. Hubunganpaparan kebisingan dengan tekanan darah

Pada saat bekerja terjadi peningkatan metabolisme sel-sel otot

sehingga aliran darah meningkat untuk memindahkan zat–zat makanan dari

darah yang dibutuhkan jaringan otot. Semakin tinggi aktivitas maka semakin

meningkat metabolisme otot sehingga curah jantung akan meningkat untuk

mensuplai kebutuhan zat makanan melalui peningkatan aliran darah (Pulung

dan Setya, 2005).

Kebisingan dapat terjadi di mana-mana termasuk di tempat kerja.

Kebisingan di tempat kerja mempunyai efek terhadap pekerja. Gangguan

kesehatan merupakan salah satu efek negatif yang disebabkan oleh

kebisingan. Menurut Cohen dan Jensen dalam Kusmindari (2008) kebisingan

yang tinggi akan menimbulkan gangguan pada kardiovaskuler, alergi, sakit

tenggorokan, dan dapat meningkat tekanan darah. Terdapat perbedaan

tekanan darah antara kebisingan yang tinggi dan rendah.

Kebisingan berhubungan dengan terjadinya peningkatan tekanan

(34)

commit to user

cukup lama akan akan menyebabkan terjadinya penyempitan pembuluh darah

sehingga memacu jantung untuk bekerja lebih keras memompa darah

keseluruh tubuh, dalam waktu lama tekanan darah akan naik (Haryoto, 2005).

Kebisingan dapat mempengaruhi kesehatan terhadap fungsi tubuh

yang menyebabkan peningkatan tekanan darah dan peningkatan sensitivitas

tubuh seperti meningkatnya sistem kardiovaskuler dalam bentuk kenaikan

tekanan darah dan peningkatan denyut jantung (Candra, 2007).

Pada umumnya kebisingan bernada tinggi sangat mengganggu,

lebih-lebih yang terputus atau yang datangnya secara tiba-tiba (mendadak)

dan tidak terduga dapat menimbulkan reaksi fisiologis berupa peningkatan

tekanan darah ± 10 mmHg (Moeljosoedarmo, 2008).

Reaksi peningkatan tekanan darah terjadi pada permulaan pemajanan

terhadap bising, yang kemudian akan kembali kepada keadaan semula.

Apabila terpajan bising terus-menerus maka akan terjadi adaptasi sehingga

perubahan tekanan darah tersebut tidak nampak lagi (Moeljosoedarmo, 2008).

Rangsangan (stimulasi) kebisingan bermula melalui serabut saraf

yang secara tidak langsung mengenai kardiovasculer yang akan menimbulkan

konstriksi pada pembuluh darah, tekanan sistole akan meningkat dan tekanan

arteri semakin kuat. Pengaruh tersebut bersifat sementara dan sampai derajat

tertentu terjadi adaptasi dan dari proses adaptasi tersebut adalah indikasi dari

(35)

B. Kerangka pemikiran

Gambar 1. Bagan Kerangka Pemikiran

C. Hipotesis

Ada perbedaan tekanan darah tenaga kerja sebelum dan sesudah

terpapar kebisingan melebihi NAB di Unit Boiler Batubara PT. Indo

(36)

commit to user BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional

analitik. Menggunakan pendekatan cross sectional, karena variabel bebas

dan variabel terikat diobservasi hanya sekali pada saat yang sama

(Taufiqurahman, 2004).

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Unit Boiler Batubara PT. Indo

Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar, pada bulan Februari

2011.

C. Populasi Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh tenaga kerja di Unit

Boiler Batubara PT. Indo Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat,

Karanganyar yang berjumlah 20 orang.

D. Teknik Sampling

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian adalah non

probability sampling dengan pendekatan sampling jenuh yang merupakan

teknik penentuan sampel bila anggota populasi digunakan sebagai sampel

(37)

E. Sampel Penelitian

Besar sampel dalam penelitian ini sebanyak 20 orang yang

merupakan populasi pekerja di Unit Boiler Batubara PT. Indo Acidatama,

Tbk. Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar.

F. Desain Penelitian

Gambar 2. Bagan Desain Penelitian

G. Identifikasi Variabel Penelitian

a. Variabel Bebas

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kebisingan.

(38)

commit to user c. Variabel Pengganggu

1) Variabel pengganggu terkendali : umur, jenis kelamin, kondisi

kesehatan, riwayat penyakit, konsumsi kafein, kebiasaan merokok dan

konsumsi obat-obatan, tekanan panas.

2) Variabel pengganggu tidak terkendali : kondisi psikologis, olah raga.

H. Definisi Operasional Variabel

a. Variabel bebas : Kebisingan

1) Definisi

Kebisingan adalah suara yang ditimbulkan oleh mesin Boiler Batubara

PT. Indo Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar yang

intensitasnya melebihi ambang batas sehingga mengganggu kesehatan

tenaga kerja.

2) Alat Ukur :Sound Level Meter merk Rion type Na-20

3) Satuan : decibel (dB)

4) Hasil : Kebisingan sebelum dan sesudah bekerja

5) Skala Pengukuran : Nominal

b. Variabel terikat : Tekanan Darah

1) Definisi

Tekanan darah adalah kekuatan yang diciptakan oleh jantung ketika

memompa darah menuju pembuluh arteri dan kekuatan pembuluh

arteri ketika mendesak darah ke jantung.

2) Alat Ukur : Sfigmomanometer dan Stetoskop Merk ABN

(39)

4) Hasil : Data hasil pengukuran tekanan darah

5) Skala Pengukuran : Rasio

I. InstrumenPenelitian

Instrumen penelitian merupakan peralatan untuk mendapatkan data

sesuai dengan tujuan penelitian. Dalam penelitian ini peralatan yang

digunakan untuk pengambilan data beserta pendukungnya adalah:

1. Kebisingan

Untuk mengukur kebisingan digunakan alat Sound Level Meter

merk RION type NA-20

Teknik pengukurannya adalah :

a. Pasang baterai pada tempatnya

b. Putar switch ke BATT untuk mengecek kondisi baterai

c. Putar switch ke A

d. Putar FILTER-CAL-INT ke arah INT

e. Putar level switch sesuai dengan tingkat kebisingan yang terukur

f. Gunakan meter dynamic characteristic selector switch “FAST”

karena jenis kebisingannya continue.

g. Arahkan mikrofon pada sumber kebisingan

h. Jarak sound level meter dengan sumber bising adalah sesuai dengan

posisi tenaga kerja selama kerja

i. Pengukuran di lima titik, masing-masing titik diukur sebanyak 5 kali

(40)

commit to user

Gambar 3. Sound Level Meter merk RION type NA-20

2. Tekanan Darah

Untuk mengukur tekanan darah digunakan alat

Sfigmomanometer dan Stetoskop Merk ABN.

Teknik pengukurannya adalah :

a. Tenaga kerja dalam posisi duduk tegak, lengan kiri diletakkan diatas

meja

b. Lengan bagian atas dibalut dengan manset lalu digelembungkan

sampai nadi dalam lengan atas tidak terasa

c. Dicari pembuluh darah arteri yang dekat dengan lengan yang dibalut

manset dan pada pembuluh darah arteri tersebut stetoskop diletakkan

d. Tekanan udara dalam manset dikeluarkan dengan memutar katup pada

bladder dengan perlahan lalu mendengarkan suara yang dihasilkan

dari aliran darah, waktu pertama kali terdengar suara denyut itu

disebut tekanan sistolik

e. Manset terus dikempiskan secara perlahan sampai suara denyut

(41)

Gambar 4. Sfigmomanometer dan Stetoskop merk ABN

3. Kuesioner, yaitu untuk mengetahui kesediaan tenaga kerja menjadi

responden dan mengetahui identitasnya.

4. Alat tulis, yaitu untuk mencatat hasil pengukuran.

5. Timbangan berat badan, yaitu alat untuk mengukur berat badan

seseorang.

6. Microtoice, yaitu alat untuk mengukur tinggi badan.

J. Cara Kerja Penelitian

Cara kerja penelitian meliputi tahap-tahap sebagai berikut :

1. Tahap persiapan

a. Mempersiapkan lembar isian data subjek penelitian

b. Mempersiapkan peralatan yang akan digunakan untuk pengukuran

c. Survei pendahuluan ke tempat penelitian untuk melihat kondisi

tempat kerja, proses kerja, kondisi tenaga kerja serta melakukan

(42)

commit to user 2. Tahap pelaksanaan

a. Mengisi lembar isian data meliputi umur, masa kerja dan tingkat

pendidikan.

b. Mengukur berat badan, tinggi badan untuk menghitung status

gizi/IMT.

c. Mengukur kebisingan dengan Sound Level Meter merk RION type

NA-20.

d. Mengukur tekanan darah sebelum dan sesudah terpapar kebisingan

melebihi NAB dengan Sfigmomanometer dan Stetoskop merk

ABN. Pengukuran sebelum terpapar kebisingan dilakukan saat

tenaga kerja sampai di tempat kerja lalu di istirahatkan ± 10 menit,

sedangkan setelah terpapar kebisingan tenaga kerja langsung

diukur tekanan darahnya sebelum berganti pakaian untuk pulang.

3. Tahap Penyelesaian

Mengumpulkan semua data, mengolah, menganalisa dan

menyimpulkan.

K. Teknik Pengolahan dan Analisis Data

Teknik pengolahan dan analisis data dalam penelitian ini dilakukan

dengan uji statistik Paired T-Test dengan menggunakan program komputer

SPSS versi 16.0, dengan syarat data berdistribusi normal. Normalitas data

menggunakan uji One Sample Kolmogorov-Smirnov Test. Nilai signifikasi

(Asymp.sig.) apabila nilai signifikasi > 0,05 (p > 0,05) maka data dalam

(43)

Interpretasi hasil uji statistik Paired T-Test sebagai berikut:

a. Jika p value ≤ 0,01 maka hasil uji dinyatakan sangat signifikan.

b. Jika p value > 0,01 tetapi ≤ 0,05 maka hasil uji dinyatakan signifikan.

(44)

commit to user BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Perusahaan

PT. Indo Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar

terletak + 15 km ke arah timur laut dari Surakarta atau 110 Km sebelah

selatan ibu kota Jawa Tengah Semarang tepatnya di Desa Kemiri,

Kebakkramat, Karanganyar. Dari segi ekonomi, lokasi PT. Indo Acidatama,

Tbk. Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar cukup mudah mendapatkan bahan

baku yang berupa tetes tebu (molasses) yang diperoleh dari pabrik gula di

sekitarnya.

PT. Indo Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar mulai

beroperasi tahun 1989 dengan peralatan yang serba modern dan canggih,

sehingga mampu mengolah tetes tebu (molasses) sebagai hasil samping

pabrik gula menjadi produk-produk kimia yang mempunyai nilai ekonomi

tinggi. Produk utama yang dihasilkan di PT. Indo Acidatama. Tbk. Kemiri,

Kebakkramat, Karanganyar antara lain Ethanol 96,0%, Acetic Acid 99,80%,

dan Ethyl Acetate 100%. Kadar tersebut merupakan kadar minimal yang

diproduksi, sedangkan produk yang keluar kadarnya disesuaikan dengan

permintaan konsumen.

Penelitian ini dilaksanakan di Unit Boiler Batubara PT. Indo

(45)

ruang operator yang kedap suara dan ruang mesin yang kurang kedap

terhadap kebisingan karena ruang Boiler ini selain menghasilkan kebisingan

dari mesin Boiler sendiri juga lokasinya tidak jauh dari ruang mesin Boiler

Biogas dan ruang mesin Compressor yang mana mesin tersebut menimbulkan

kebisingan yang melebihi nilai ambang batas (NAB). Mesin Boiler ini

bertugas mensuplai uap ke plant untuk proses produksi dan juga untuk

menggerakkan alat-alat dalam proses produksi. Di PT. Indo Acidatama, Tbk.

Kemiri, Kebakkamat, Karanganyar terdapat 2 buah Boiler Batubara yaitu

Alstom dan Basuki.

B. Karakteristik Subjek Penelitian

1. Umur

Distribusi responden berdasarkan umur tenaga kerja di Unit

Boiler Batubara PT. Indo Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat,

Karanganyar, tahun 2011 dapat digambarkan pada tabel 4.

Tabel 4. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur

No Umur (tahun) Frekuensi Persentase (%)

1 34-39 4 20

2 40-45 8 40

3 46-52 8 40

Total Rata-rata = 43,75 20 100

Sumber : Data primer tahun 2011

Berdasarkan tabel 4 diperoleh umur responden yang terendah

(46)

commit to user 2. Masa Kerja

Masa kerja karyawan di Unit Boiler Batubaralebih dari 10 tahun,

adapun distribusi frekuensi masa kerja responden di Unit Boiler Batubara

PT. Indo Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar tahun 2011

dapat dilihat pada tabel 5.

Tabel 5. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Masa Kerja Responden

No Masa Kerja

(tahun) Frekuensi Persentase (%)

1 11-15 4 20

2 16-20 9 45

3 21-24 7 35

Total Rata-rata = 19 20 100

Sumber : Data primer tahun 2011

Berdasarkan tabel 5 diperoleh masa kerja responden terendah

adalah 11 tahun dan tertinggi 24 tahun, rata-rata masa kerja responden

adalah 19 tahun.

3. Status gizi/IMT

Hasil perhitungan status gizi/IMT terhadap 20 responden di unit

boiler batubara diperoleh sebaran status gizi/IMT sebagai berikut :

Tabel 6. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Status Gizi/IMT

No IMT Frekuensi Persentase (%)

1 < 18,5 0 0

2 18,5 – 22,9 7 30

(47)

4 27,5 > 0 0

Total Rata-rata = 23,46 20 100

Sumber : Data primer tahun 2011

Dari hasil pengukuran Indeks Masa Tubuh (IMT) diperoleh IMT

terendah 19,31 dan IMT tertinggi 27,34 dengan rata-rata IMT responden

23,46.

4. Kondisi Kesehatan

Dari hasil pengisian kuesioner tenaga kerja yang menjadi sampel

penelitian dalam kondisi sehat. Hal ini ditandai dengan tidak adanya

tenaga kerja yang sedang mengkonsumsi obat-obatan yang dapat

menaikkan tekanan darah seperti obat flu.

5. Riwayat Penyakit

Dari hasil pengisian kuesioner diketahui tenaga kerja yang

menjadi sampel penelitian ada yang memiliki riwayat penyakit hipertensi

dan hipotensi. Adapun distribusi frekuensi untuk riwayat penyakit sebagai

berikut :

Tabel 7. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Riwayat Penyakit

No Riwayat penyakit Frekuensi Presentase

(%)

1 Hipertensi 1 5

2 Hipotensi 4 20

3 Tidak ada riwayat penyakit 15 75

(48)

commit to user

Dari hasil pendataan riwayat penyakit diketahui 1 responden (5%)

memiliki riwayat penyakit hipertensi, 4 responden (20%) memiliki riwayat

penyakit hipotensi, dan 25 responden (75%) tidak memiliki riwayat

penyakit hipertensi maupun hipotensi.

6. Kebiasaan Merokok

Dari hasil pengisian kuesioner diketahui tenaga kerja ada yang

memiliki kebiasaaan merokok, adapun distribusi frekuensinya sebagai

berikut :

Tabel 8. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kebiasaan Merokok

No Kebiasaan Merokok Frekuensi Presentase (%)

1 Perokok 8 40

2 Bukan Perokok 12 60

Total 20 100

Sumber : Data primer tahun 2011

Berdasarkan tabel 8 dapat diketahui 8 responden (40%) memiliki

kebiasaan merokok dan 12 responden (60%) tidak memilki kebiasaan

merokok.

C. Hasil Pengukuran Intensitas Kebisingan Tempat Kerja

Berdasarkan pengukuran intensitas kebisingan dengan alat Sound

Level Meter pada tempat kerja dilakukan di 5 titik pengukuran di Unit Boiler

Batubara PT. Indo Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar

(49)

commit to user Tabel 9. Hasil Pengukuran Intensitas Kebisingan

Titik

Sumber : Data primer tahun 2011

Dari tabel 9 dapat diketahui bahwa intensitas kebisingan terendah

adalah 86 dB, intensitas kebisingan tertinggi adalah 89 dB dan rata-rata

intensitas kebisingan di Unit Boiler Batubara adalah 87,71 dB

D. Hasil Pengukuran Tekanan Darah Tenaga Kerja

Sebanyak 20 sampel penelitian di Unit Boiler Batubara dilakukan

pengukuran tekanan darah sebelum dan sesudah terpapar kebisingan melebihi

NAB. Untuk lebih jelas hasil pengukuran tekanan darah dapat dilihat pada

tabel 10 sebagai berikut:

Tabel 10. Hasil Pengukuran Tekanan Darah Tenaga Kerja Sebelum dan

Sesudah Terpapar Kebisingan Melebihi NAB

Nama Subjek Penelitian

Tekanan Darah

Sistolik Diastolik

Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah

A 95 110 75 80

B 122 140 90 95

C 120 145 80 94

D 110 126 75 70

(50)

commit to user

Sumber : Data primer tahun 2011

Dari hasil pengukuran tekanan darah subjek penelitian di Unit Boiler

Batubara PT. Indo Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar

diperoleh rata-rata tekanan darah sistolik sebelum terpapar kebisingan

melebihi NAB 116,3 mmHg sedangkan sesudah terpapar kebisingan melebihi

NAB adalah 125,3 mmHg. Selisih sebelum dan sesudah terpapar kebisingan

melebihi NAB sebesar 9 mmHg, sedangkan rata-rata tekanan darah diastolik

sebelum terpapar kebisingan melebihi NAB adalah 80,4 mmHg sedangkan

sesudah terpapar kebisingan melebihi NAB adalah 85,2 mmHg. Selisih

sebelum dan sesudah terpapar kebisingan melebihi NAB 4,8 mmHg.

Distribusi frekuensi perubahan tekanan darah sistolik dan diastolik

sebelum dan sesudah terpapar kebisingan melebihi NAB pada subjek

(51)

Tabel 11. Distribusi Frekuensi Perubahan Tekanan Darah Sistolik dan

Diastolik Responden

Tekanan Darah

Perubahan Tekanan Darah

Meningkat Menurun Tetap

Jumlah Presentase Jumlah Presentase Jumlah Presentase

Sistolik 16 80 % 3 15 % 1 5 %

Diastolik 12 60 % 2 10 % 6 30 %

Sumber : Data primer tahun 2011

Dari hasil pengukuran tekanan darah sistolik menunjukkan bahwa

dari ke 20 subjek penelitian di Unit Boiler Batubara PT. Indo Acidatama,

Tbk. Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar terdapat 16 orang (80%) mengalami

peningkatan, 3 orang (15%) mengalami penurunan, dan 1 orang (5%) tekanan

darah sistoliknya tetap. Sedangkan untuk tekanan darah diastolik

menunjukkan bahwa terdapat 12 orang (60%) mengalami peningkatan, 2

orang (10%) mengalami penurunan, dan 6 orang tekanan diastoliknya tetap.

Dari hasil tersebut di atas, untuk normalitas data tekanan darah

digunakan uji Kolmogorov-Smirnov Test dengan hasil normalitas data tekanan

sistolik nilai p sebelum terpapar kebisingan melebihi NAB adalah 0,224 dan

nilai p sesudah terpapar kebisingan melebihi NAB adalah 0,788. Sedangkan

tekanan diastolik nilai p sebelum terpapar kebisingan melebihi NAB adalah

0,025 dan nilai p sesudah terpapar kebisingan melebihi NAB adalah 0,269.

Hasil ini menunjukkan bahwa data tersebut berdistribusi normal karena nilai p

> 0,05.

Hasil uji statistik tekanan darah sistolik sebelum dan sesudah terpapar

(52)

commit to user

menunjukkan bahwa ada perbedaan yang bermakna antara tekanan darah

sistolik sebelum dan sesudah terpapar kebisingan melebihi NAB.

Hasil uji statistik tekanan darah diastolik sebelum dan sesudah terpapar

kebisingan melebihi NAB dengan Paired T-Test diketahui bahwa nilai p

sebesar 0,006 atau kurang dari 0,05 (p ≤ 0,05), maka Ho ditolak. Hasil ini juga

menunjukkan bahwa ada perbedaan yang bermakna antara tekanan darah

(53)

BAB V

PEMBAHASAN

A. Karakteristik Subjek Penelitian

Keseluruhan tenaga kerja di Unit Boiler Batubara PT. Indo

Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar berjumlah 20 orang,

kemudian digunakan teknik sampling non probability dengan pendekatan

sampling jenuh maka seluruh tenaga kerja dijadikan sampel penelitian.

Kemudian dilakukan penyebaran kuesioner untuk mengetahui identitas

tenaga kerja yang meliputi nama, umur, jenis kelamin, berat badan, tinggi

badan, status gizi, pendidikan, masa kerja, kondisi kesehatan dan riwayat

penyakit.

Dalam penelitian ini subjek penelitian berumur antara 34 – 50

tahun, menurut Buckman dan Westcott (2010) tekanan darah mulai

meningkat pada umur sekitar 35 tahun. Seluruh sampel dalam penelitian ini

adalah laki-laki. Kondisi kesehatan yang baik, dari hasil pengisian

kuesioner tenaga kerja berada dalam kondisi sehat dan tidak sedang

mengkonsumsi obat-obatan, menurut Depkes RI (2003) seseorang yang

mengkonsumsi obat-obatan seperti oral dekongestan hidung, obat-obat

hidung, obat supresi nafsu makan dapat meningkatkan tekanan darah.

Masa kerja minimal 11 tahun dan maksimal 24 tahun, gangguan

(54)

commit to user

bagian dengan tingkat kebisingan yang tinggi, maka semakin tinggi resiko

terpapar oleh kebisingan (Tarwaka, 2004). Status gizi sampel penelitian

berkisar antara 19,31 - 27,34 yang termasuk dalam kategori status gizi

normal dan overweight. Status gizi dalam kategori obesitas disebabkan

jaringan lemak yang jumlahnya berlebihan, jaringan ini meningkatkan

kebutuhan metabolik dan konsumsi oksigen secara menyeluruh sehingga

curah jantung bertambah untuk memenuhi kebutuhan metabolik yang lebih

tinggi, berat badan semakin tinggi akan mempunyai kecenderungan tekanan

darahnya semakin tinggi juga (Basha dalam Rusli, 2009).

B. Analisis Univariat

Analisis univariat dimaksudkan untuk menggambarkan sebaran

dari hasil penelitian yang diperoleh secara kuantitatif dengan menggunakan

daftar distribusi dan dibuat presentase.

1. Umur

Seluruh populasi yang digunakan sebagai sampel dalam

penelitian ini yang berumur 34 – 39 tahun sebanyak 4 orang tenaga

kerja dengan presentase 20 %, yang berumur 40 – 45 tahun sebanyak 8

orang tenaga kerja dengan presentase 40 %, sedangkan yang berumur

46 – 52 sebanyak 8 orang tenaga kerja dengan frekuensi 40 %.

Menurut Vitahealth (2006) tekanan darah akan cenderung

tinggi bersama dengan peningkatan usia. Umumnya sistolik akan

meningkat sejalan dengan peningkatan usia, sedangkan diastolik akan

(55)

Sehingga dapat diketahui bahwa umur sampel penelitian masih dalam

keadaan normal untuk peningkatan dan penurunan tekanan darah.

2. Masa Kerja

Dari hasil penelitian masa kerja responden antara 11 – 15

tahun sebanyak 4 orang tenaga kerja dengan presentase 20 %, masa

kerja 16 – 20 tahun sebanyak 9 orang tenaga kerja dengan presentase 45

%, sedangkan masa kerja 21 – 24 tahun sebanyak 7 orang tenaga kerja

dengan presentase 3%.

Gangguan akibat bising akan mudah dialami oleh tenaga kerja

yang bekerja dengan masa yang lebih lama, karena semakin lama

tenaga kerja bekerja pada bagian dengan tingkat kebisingan yang tinggi,

maka semakin tinggi resiko terpapar oleh kebisingan (Tarwaka, 2004).

Sehingga masa kerja responden berpengaruh terhadap tekanan darah.

3. Status Gizi/IMT

Dalam penelitian ini status gizi/IMT subjek penelitian berkisar

antara 19,31 - 27,34 dengan rata-rata 23,46.

Indeks Massa Tubuh yang kurang dari 18,5 termasuk dalam

kategori kurus, untuk IMT antara 18,5 - 22,9 termasuk dalam kategori

normal, untuk IMT 23,0 - 27,4 termasuk dalam kategori over weight

dan untuk IMT lebih dari 27,5 termasuk dalam kategori obesitas.

Dari kategori IMT di atas dapat diketahui bahwa status

(56)

commit to user

kategori normal, sedangkan 23 orang tenaga kerja termasuk dalam

kategori over weight.

Menurut Buckman dan Westcott status gizi (obesitas) akan

menambah beban kerja jantung sehingga terjadi peningkatan tekanan

darah. Subjek penelitian dalam penelitian ini mempunyai status gizi

atau indeks massa tubuh yang normal dan over weight, sehingga dapat

dikatakan bahwa status gizi/IMT subjek penelitian tidak mempengaruhi

tekanan darah.

4. Jenis kelamin

Dalam penelitian ini semua tenaga kerja yang menjadi sampel

penelitian adalah laki-laki. Karena populasi di Unit Boiler Batubara

semua berjenis kelamin laki-laki.

5. Keadaan fisik

Kondisi kesehatan tenaga kerja di Unit Boiler Batubara dalam

keadaan sehat. Tenaga kerja yang menjadi sampel penelitian dinyatakan

sehat diperoleh dengan pengisian kuesioner dan wawancara langsung

dengan tenaga kerja. Untuk mengetahui riwayat penyakit tenaga kerja

juga diketahui dari pengisian kuesioner.

Menurut Budiono (2003) pengertian sehat senantiasa

digambarkan sebagai suatu kondisi fisik, mental, dan sosial seseorang

yang tidak saja bebas dari penyakit atau gangguan kesehatan melainkan

juga menunjukkan kemampuan untuk berinteraksi dengan lingkungan

(57)

6. Kebisingan

Kebisingan di Unit Boiler Batubara termasuk jenis kebisingan

kontinyu dengan spektrum frekuensi luas yang dihasilkan oleh mesin

boiler merk alstom dan basuki. Dari hasil pengukuran kebisingan di

ruang Boiler Batubara didapatkan hasil pengukuran intensitas

kebisingan terendah 86 dB dan intensitas kebisingan tertinggi 89 dB.

Rata-rata intensitas kebisingan di ruang mesin Boiler Batubara adalah

87,71 dB, jadi intensitas kebisingan di Unit Boiler Batubara termasuk

dalam range 85 dB - 88 dB.

Menurut Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor

KEP-51/MEN/1999 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di Tempat

Kerja menyebutkan bahwa intensitas kebisingan 85 dB selama 8 jam

kerja dalam sehari. Sehingga di Unit Boiler Batubara PT. Indo

Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar intensitasnya

melebihi ambang batas. Dengan intensitas kebisingan yang melebihi

ambang batas tersebut maka tenaga kerja hanya diperkenankan 4 jam

berada di tempat kerja, tetapi kenyataan sebagian besar tenaga kerja

lebih banyak berada di ruang mesin Boiler Batubara dan di bagian luar

ruang mesin Boiler Batubara daripada di ruang operator yang kedap

suara. Tetapi untuk operator mesin Boiler Batubara lebih banyak berada

(58)

commit to user

Tenaga kerja dapat bekerja di tempat bising dengan waktu

pemaparan 8 jam/hari harus dengan memakai alat pelindung telinga

yaitu ear plug atau ear muff. Dengan memakai ear plug saja tenaga

kerja dapat mengurangi paparan bising yang diterima sehingga dapat

meminimalkan pengaruh kebisingan yang ditimbulkan dari mesin

Boiler Batubara. Tetapi kenyataan di lapangan tenaga kerja tidak

memakai ear plug, hal ini dikarenakan tenaga kerja merasa tidak

nyaman dalam bekerja jika harus memakai ear plug.

7. Tekanan darah

Tekanan darah dapar diukur dengan beberapa metode salah

satunya dengan metode auskultatori yaitu dengan menggunakan sebuah

Stetoskop dan Sphygmomanometer (Ramadhan, 2010). Pengukuran

tekanan darah dilakukan sebelum dan sesudah terpapar kebisingan

melebihi NAB dengan tujuan untuk mengetahui perbedaan tekanan

darah tenaga kerja sebelum dan sesudah terpapar kebisingan melebihi

NAB.

Pengukuran tekanan darah sistolik dari 20 subjek penelitian, 16

subjek penelitian (80%) mengalami peningkatan dan 3 subjek penelitian

(15%) mengalami penurunan, dan 1 subjek penelitian (5%) tekanan

darah sistoliknya tetap. Pengukuran tekanan darah diastolik dari 20

subjek penelitian, 12 subjek penelitian (60%) mengalami peningkatan

dan 2 subjek penelitian (10%) mengalami penurunan, dan 6 subjek

(59)

Pengukuran tekanan darah sebelum dan sesudah terpapar

kebisingan ada yang meningkat, menurun, dan stabil. Tekanan darah

yang meningkat disebabkan intesitas kebisingannya masih tinggi yang

akan meningkatkan tekanan darah pada tenaga kerja, hal tersebut sesuai

dengan teori yang dikemukakan oleh Melamed dalam Vano (2010)

bahwa kebisingan yang melebihi ambang batas memiliki pengaruh

terhadap fisiologi (detak jantung) dan akan menaikan tekanan darah

seseorang. Selain itu peningkatan tekanan darah terjadi karena jantung

memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih banyak cairan pada

setiap detiknya dan arteri besar kehilangan kelenturan dan menjadi kaku

sehingga tidak dapat mengembang pada saat jantung memompa darah

melalui arteri tersebut (Aditama, 2005).

Untuk subjek penelitian yang mengalami penurunan tekanan

darah sesudah terpapar kebisingan melebihi NAB disebabkan paparan

bising yang tinggi mempengaruhi kerja jantung tenaga kerja sehingga

akan menurunkan tekanan darah. Hal tersebut sesuai dengan teori yang

dikemukakan oleh Aditama (2005) bahwa tekanan darah akan menurun

atau menjadi lebih kecil karena aktivitas jantung untuk memompa darah

berkurang, arteri mengalami pelebaran dan banyak cairan keluar dari

sirkulasi. Sedangkan hasil pengukuran tekanan darah yang tidak

mengalami perubahan, hal ini disebabkan tenaga kerja terpapar

(60)

commit to user

hasilkan oleh mesin boiler batubaratidak begitu berdampak pada tenaga

kerja. Hal tersebut sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh

Moeljosoedarmo (2008) apabila terus-menerus terpajan bising, maka

akan terjadi adaptasi sehingga perubahan efek fisiologis itu tidak

tampak lagi.

C. Analisis Bivariat

Hasil uji statistik dengan uji Paired T-Test menunjukkan bahwa

ada perbedaan yang bermakna antara tekanan darah sistolik dan diastolik

sebelum dan sesudah terpapar kebisingan melebihi NAB.

Hal tersebut dapat diketahui dari uji Paired T-Test yang telah

dilakukan dengan program SPSS versi 16.0 dengan hasil t hitung – 4,228

untuk tekanan sistolik dan – 3,129 untuk tekanan diastolik. Dimana dengan

hasil negatif (-) menunjukkan tekanan darah sistolik dan diastolik sebelum

terpapar kebisingan lebih kecil daripada setelah terpapar kebisingan. Dan

besar nilai p = 0,000 untuk tekanan sistolik dan p = 0,006 untuk tekanan

diastolik, dimana nilai tersebut ( p ≤ 0,05) maka ada perbedaan yang

bermakna antara tekanan darah sebelum dan sesudah terpapar kebisingan

melebihi NAB baik tekanan sistolik maupun diastoliknya.

Tenaga kerja sebelum terpapar kebisingan melebihi NAB tekanan

darahnya lebih rendah daripada setelah terpapar kebisingan melebihi NAB

yang tekanan darahnya cenderung meningkat. Hasil uji dinyatakan

signifikan, berdasarkan analisis data diketahui bahwa ada perbedaan yang

(61)

melebihi NAB. Adapun penelitian-penelitian terdahulu sebagai referensi

dalam hasil penelitian ini adalah Haryo Nugroho (2004) yang menunjukkan

bahwa ada perbedaan yang bermakna antara tekanan darah sebelum dan

sesudah terpapar bising. Hal serupa juga dilakukan oleh Endah Sri Lestari

(1997), Rizka Meilinasari Nuzla (2005), dan Indra (2006) bahwa ada

perbedaan yang bermakna tekanan darah sebelum dan sesudah terpapar

(62)

commit to user BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Dari analisis dengan uji statistik Paired T-Test nilai p sebesar 0,000

untuk tekanan darah sistolik. Dengan nilai p sebesar 0,000 berarti p ≤

0,05 maka hasil uji dinyatakan signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa

ada perbedaan yang bermakna antara tekanan darah sistolik tenaga kerja

sebelum dan sesudah terpapar kebisingan melebihi NAB di Unit Boiler

Batubara PT. Indo Acidatama, Tbk. Kemiri, Kebakkramat,

Karanganyar.

2. Besar nilai p untuk tekanan darah diastolik adalah 0,006. Dengan nilai p

0,006 berarti p ≤ 0,05 maka hasil uji dinyatakan signifikan. Hal ini

menunjukkan bahwa ada perbedaan yang bermakna antara tekanan

darah diastolik tenaga kerja sebelum dan sesudah terpapar kebisingan

melebihi NAB di Unit Boiler Batubara PT. Indo Acidatama, Tbk.

Kemiri, Kebakkramat, Karanganyar.

B. Saran

1. Seharusnya perusahaan meningkatkan budaya pemakaian ear plug di

lingkungan kerja yang bising.

2. Seharusnya tenaga kerja diberikan sanksi yang tegas apabila tidak

(63)

3. Seharusnya perusahaan memberikan penyuluhan kepada tenaga kerja

tentang dampak kebisingan terhadap kesehatan agar selama bekerja

selalu memakai alat pelindung telinga dan selalu menjaga

kesehatannya.

4. Bagi peneliti selanjutnya untuk dapat mengendalikan status gizi tenaga

kerja karena dalam penelitian ini status gizi tenaga kerja belum bisa

Gambar

Gambar 1.  Kerangka Pemikiran ................................................................
Tabel  1.  Nilai Ambang Batas Kebisingan ..................................................
Tabel 1. Nilai Ambang Batas Kebisingan
Tabel 2. Standar Tekanan Darah Normal
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil analisa nilai gizi menunjukkan bahwa penambahan daging-tulang leher ayam pada taraf 0 g, 10 g dan 20 g pada adonan cookies secara linier meningkatkan kadar air, protein

BERPENGUAT PASIR SILIKA TERHADAP KEKUATAN IMPAK DAN STUKTUR MIKRO PADA KOMPOSIT MATRIK.. ALUMINIUM DENGAN METODE

Reaksi pada fase cair adalah proses yang mula-mula. dikembangkan secara

Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini dilakukan dengan tujuan, untuk mempelajari anatomi reproduksi dan pola reproduksi dari burung tekukur dan burung puter di penangkaran.

Mahasiswa akan dikenakan tambahan atau perpanjangan biaya skripsi apabila melebihi masa studi dari 8 semester / Khusus Prog.. POTONGAN 5% jika MELUNASI Investasi pendidikan

Perbedaan prestasi belajar matematika antara siswa yang di beri model. pembelajaran Creative Problem Solving berbasis

With the intention to foster the development and diversification of economic cooperation and the widening of commercial exchanges among the Republic of Indonesia

The research variables used Capital Adequacy Ratio (CAR, Aktiva Produktif Bermasalah (APB), Non Performing Loan (NPL), Pemenuhan Penyisihan Penghapusan