TUGAS TERSTRUKTUR 2 HUKUM EKONOMI INTERNASIONAL
RUTH MONICA BAKARA
135010100111023
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
KASUS DUMPING KERTAS INDONESIA VS KOREA SELATAN
Kasus ini bermula ketika industri kertas Korea mengajukan petisi anti dumping terhadap 16 jenis produk kertas Indonesia antara lain yang tergolong dalam uncoated paper and paperboard used for writing dan printing or other grafic purpose produk kertas Indonesia kepada Korean Trade Commision (KTC) pada tanggal 30 september 2002 dan pada 9 mei 2003, KTC mengenai Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) sementara dengan besaran untuk PT pabrik kertas Tjiwi Kimia Tbk sebesar 51,61%, PT Pindo Deli 11,65%, PT Indah Kiat 0,52%, April Pine dan lainnya sebesar 2,80%. Namun, pada 7 November 2003 KTC menurunkan Bea Masuk Anti Dumping terhadap produk kertas Indonesia ke Korea Selatan dengan ketentuan PT Pabrik kertas Tjiwi Kimia Tbk, PT Pindo Deli dan PT Indah Kiat diturunkan sebesar 8,22% dana untuk April Pine dan lainnya 2,80%. Dan Indonesia mengadukan masalah ini ke WTO tanggal 4 Juni 2004 dan meminta diadakan konsultasi bilateral, namun konsultasi yang dilakukan pada 7 Juli 2004 gagal mencapai kesepakatan.
Indonesia meminta Badan Penyelesaian Sengketa (Dispute Settlement Body/DSB) Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) membentuk Panel dan setelah melalui proses-proses pemeriksaan, maka DSB WTO mengabulkan dan menyetujui gugatan Indonesia terhadap pelanggaran terhadap penentuan agreement on anti dumping WTO dalam mengenakan tindakan anti dumping terhadap produk kertas Indonesia. Panel DSB menilai Korea telah melakukan kesalahan dalam upaya membuktikan adanya praktek dumping produk kertas dari Indonesia dan bahwa Korea telah melakukan kesalahan dalam menentukan bahwa industri domestik Korea mengalami kerugian akibat praktek dumping dari produk kertas Indonesia.
KASUS MOBIL NASIONAL
Di era 1990-an Pemerintah Indonesia memperkenal sebuah Program Intensif yang dikenal dengan Paket Kebijakan Otomotif 1993. Tahun 1996, Pemerintah Indonesia memutuskan untuk mempercepat Program Intensif dengan memperkenalkan program Mobil Nasional dengan mengatur bahwa untuk mendapatkan pembebasan bea masuk, perusahaan harus mencapai tingkat kandungan lokal sebesar 20% di tahun pertama, 40% di tahun kedua, dan 60% di tahun ketiga.
Surat Instruksi Presiden No. 2 Tahun 1996 tentang Program Mobil Nasional dikeluarkan untuk memperbaiki sistem deregulasi untuk menyambut adanya pasar bebas tahun 2003. PT Timor Putra Timor Nasional yang bermitra dengan KIA Motors dari Korea Selatan adalah perusahaan pertama yang mendapatkan pembebasan bea masuk barang mewah melalui program ini. PT TPN dipercaya untuk memproduksi mobil nasional yang bernama “Timor” (akronim dari Teknologi Industri Mobil Rakyat). Timor memperoleh banyak kemudahan dan perlakuan khusus/istimewa. Hal ini terlihat dari sikap pemerintah yang memaksakan untuk mengeluarkan berbagai peraturan dan kebijakan yang sesungguhnya merusak tatanan mekanisme pasar.
Kerjasama yang dilakukan oleh Indonesia dengan Korean International Automotive (KIA) dinilai sebagai bentuk diskriminasi hukum di bidang perekonomian dunia. Salah satu negara pengekspor produk otomotif yaitu Jepang kemudian melakukan pengaduan/gugatan ke World Trade Organization (WTO). Gugatan Jepang bermula dengan dikeluarkannya Inpres No. 2 Tahun 1996 yang menunjuk PT Timor Putra Nasional sebagai pionir yang memproduksi Mobnas. Namun, karena belum dapat memproduksi di dalam negeri, maka keluarlah Keputusan Presiden No. 42 Tahun 1996 tentang Pembuatan Mobil Nasional yang membolehkan PT Timor Putra Nasional untuk mengimpor mobil nasional yang kemudian diberi merek “Timor” dalam bentuk jadi atau completely build up (CBU) dari Korea Selatan.
KASUS ROKOK KRETEK INDONESIA DAN AMERIKA SERIKAT
Sengketa rokok kretek antara Indonesia dan AS di WTO bermula dari diberlakukannya peraturan Family Smoking Prevention and Tobacco Control Act di AS. Undang-undang tersebut melarang produksi dan perdagangan rokok beraroma, termasuk rokok kretek dan rokok beraroma buah-buahan, untuk menurunkan tingkat perokok muda di kalangan masyarakat AS. Akan tetapi, ketentuan tersebut mengecualikan rokok beraroma mentol produksi dalam negeri AS.
Atas keputusan tersebut, Indonesia akhirnya mengajukan pembentukan Panel ke Badan Penyelesaian Sengketa WTO (Dispute Settlement Body– DSB) atas dasar AS melanggar ketentuan WTO mengenai National Treatment Obligation yang tercantum dalam TBT Agreement Pasal 2.1 TBT. Dalam ketentuan tersebut, tiap negara anggota WTO berkewajiban untuk memberikan perlakuan yang sama terhadap produk sejenis baik yang diproduksinya di dalam negeri maupun yang berasal dari impor negara anggota WTO lainnya.
Dalam panel WTO pada September 2011, Indonesia dimenangkan WTO lantaran lembaga tersebut beranggapan rokok kretek dan rokok mentol adalah produk sejenis (like products) dan keduanya memiliki daya tarik yang sama bagi kaum muda. Tak puas dengan keputusan tersebut, pemerintah AS mengajukan banding ke WTO pada 5 Januari 2012. Namun, hasil banding yang dikeluarkan AB kemarin menegaskan kembali bahwa keputusan Panel
sebelumnya adalah benar.
Di samping itu, AB menemukan bahwa AS melanggar ketentuan Pasal 2.12 TBT Agreement, yakni AS tidak memberikan waktu yang cukup (reasonable interval) antara sosialisasi kebijakan dan waktu penetapan kebijakan. Lebih lanjut, AB merekomendasikan kepada DSB agar meminta Pemerintah AS untuk membuat kebijakan sesuai dengan ketentuan dalam TBT Agreement.
KASUS ENRON INDONESIA DAN MIGA
Kasus Enron dimulai dengan dikeluarkannya Keppres No.5 Tahun 1998 yang membatalkan beberapa proyek Pemerintah, termasuk proyek PLTU Pasuruan. Antara Pemerintah Indonesia dan Konsorsium tersebut sudah menandatangani kontrak, sehingga pemerintah Indonesia sudah terikat kontrak pada proyek pembangunan PLTU Pasuruan tersebut, meski pelaksanaannya belum dimulai. Sementara itu, Enron adalah salah satu anggota yang termasuk dalam Konsorsium East Java Power, sehingga secara otomatis ia juga dirugikan akibat pembatalan seara sepihak yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia. Pembatalan proyek ini merupakan salah satu upaya untuk mengatasi gejolak moneter di Indonesia yaitu dengan melakukan penghematan diberbagai bidang.
Dengan berlandaskan argumentasi bahwa Pemerintah Indonesia telah melakukan pembatalan perjanjian (breach of contract), maka Enron mengajukan klaim ke MIGA dan memperoleh kompensasi. Karena pembatalan tersebut, Pemerintah Indonesia harus membayar sebesar 15 juta dollar kepada MIGA.
KASUS KARAHA BODAS DAN PERTAMINA
Karena krisis ekonomi dan atas rekomendasi Internasional Monetery Fund (IMF), pada tanggal 20 September 1997, Presiden melalui Keppres No. 39/ 1997 tentang Penangguhan/Pengkajian Kembali Proyek Pemerintah, BUMN Swasta yang berkaitan dengan Pemerintah/ BUMN. Keppres tersebut menangguhkan pelaksanaan proyek PLTP Karaha sampai keadaan ekonomi pulih. Selanjutnya, pada 1 November 1997, melalui Kepres No. 47/1997 proyek diteruskan. Namun, berdasarkan Keppres No. 5/ 1998 pada tanggal 10 Januari 1998 proyek kembali ditangguhkan.
Pada tanggal 22 Maret 2002 pemerintah melalui Keppres No. 15/2002, berniat melanjutkan proyek tersebut. Selanjutnya, didukung juga dengan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 216K/31/MEM/2002 tentang Penetapan Status Proyek PTLP Karaha dari ditangguhkan menjadi diteruskan. Akhirnya, Karaha Bodas Company (KBC) pada tanggal 30 April 1998 memasukkan gugatan ganti rugi ke Arbitrase Jenewa (Swiss) sesuai dengan tempat yang dipilih oleh para pihak dalam JOC. Pengadilan arbitrase Jenewa pada tanggal 18 Desember 2000 membuat putusan agar Pertamina dan PLN membayar ganti rugi kepada KBC. Kurang lebih US$ 270.000.000.dengan rincian, Pertamina harus membayar denda yang dihitung dari nilai ganti rugi US$ 111,1 juta dan hilangnya kesempatan
mendapatkan keuntungan (opportunity lost) US$ 150 Juta, ditambah dengan bunga 4% pertahun sejak 2001. Pertamina dan PLN selanjutnya melanggar kewajiban kontrak mereka terhadap KBC.
Atas putusan arbitrase Jenewa, Pertamina tidak bersedia secara sukarela melaksanakannya. Sebagai upaya hukum, Pertamina telah meminta pengadilan di Swiss untuk membatalkan putusan arbitrase. Hanya saja upaya ini tidak dilanjutkan (dismiss) karena tidak dibayarnya uang deposit sebagaimana dipersyaratkan oleh Swiss Federal Supreme Court. Sementara itu, KBC telah melakukan upaya hukum berupa permohonan untuk pelaksanaan Putusan Arbitrase Jenewa di pengadilan beberapa negara di mana asset dan barang Pertamina berada, kecuali di Indonesia. Pada tanggal 21 Pebruari 2001, KBC mengajukan permohonan pada US District Court for the Southern District of Texas untuk
melaksanakan Putusan Arbitrase Jenewa. Selanjutnya KBC mengajukan permohonan yang sama pada pengadilan Singapura dan Hong Kong. Dalam menyikapi upaya hukum KBC, Pertamina melakukan upaya hukum berupa penolakan pelaksanaan di pengadilan-pengadilan yang diminta oleh KBC untuk melakukan eksekusi.
Pertamina melanjutkan upaya hukum pembatalan putusan arbitrase Jenewa di pengadilan
September 2002, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat akhirnya mengabulkan gugatan Pertamina dengan membatalkan putusan arbitrase internasional, UNCITRAL, di Jenewa, Swiss.
KASUS CHURCHILL MINNING DAN INDONESIA
Awal dari gugatan yang diajukan oleh Churchill Mining karena dibatalkannya Izin Usaha Pertambangan oleh Bupati Kutai imur saat itu, Isran Noor. Pencabutan Izin Usaha Pertambangan (IUP) ini adalah rekomendasi dari Pemerintah Pusat berdasarkan hasil temuan BPK pada
September 2008. Dalam laporan audit khusus yang dilakukan BPK, ditemukan adanya lima KP palsu yang terbit pada 2006-2008. Palsunya lima KP yang saat ini disebut Izin Usaha
Pertambangan (IUP) ini bisa dilihat dari kode penomoran yang terbalik serta mendapatkan surat keterangan dari Menteri Kehutanan kepada Irsan Noor selaku Bupati Kutai Timur terkait dengan kegiatan empat perusahaan yang tergabung dalam Grup Ridlatama untuk melakukan
penambangan di atas kawasan hutan produksi.
Tidak terima atas dibatalkannya Izin Usaha Pertambangan miliknya, Churchill Minning kemudian mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri (PN), Pengadilan Tinggi, Mahkamah Agung (MA) hingga Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Namun upaya hukum yang ditempuh oleh perusahaan tambang yang berpusat di London itu selalu kalah.
Tidak puas akan hal itu, Churchill Mining kembali melakukan upaya hukum ke International Center for Settlement and Investment Dispute (ICSID), dalam gugatannya pihak Churchill Mining mencantumkan Bupati Kutai Timur, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Kementerian Luar Negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), serta menggugat ganti rugi sengketa lahan tambang kepada pemerintah Indonesia US$ 1,05 miliar dari sebelumnya US$ 2 miliar.
KASUS INDO – PT NNT – DIVESTASI
Sesuai Kontrak Karya tahun 1986 yang ditandatangani Pemerintah RI dan PT. NNT, ada kesepakatan untuk mendivestasikan mayoritas saham Newmont kepada bangsa Indonesia (dalam kontrak disebut sebagai Indonesian Participant) setelah 5 tahun masa operasi tambang. Divestasi direncanakan bertahap dan dilakukan selama 5 tahun, yang semestinya jatuh pada tahun 2006-2010. Singkat kata divestasi Newmont gagal dilakukan pada masa awal periode tersebut dan baru dilakukan setelah Pemerintah RI menang dalam kasus divestasi saham tersebut di pengadilan arbitrase tahun 2009. Saham sebesar 31% mesti didivestasikan oleh kepemilikan asing Newmont (yang 20% telah dimiliki PT. Pukuafu Indah, perusahaan swasta nasional) sehingga Indonesian Participant bisa memiliki 51% saham perusahaan tambang ini.
Perselisihan terjadi setelah Pemerintah RI menjatuhkan lalai kepada Newmont,11 Februari 2008, karena tidak kunjung menjual 3% sahamnya untuk periode 2006 dan 7% saham periode 2007. Pemerintah menggugat Newmont ke arbitrase internasional pada 3 Maret 2008. Di hari yang sama, Newmont juga mengajukan gugatan atas pemerintah. Pada 11 Juli 2008,
Newmont mengajukan
arbitrase tambahan terkait divestasi 7% saham yang diwajibkan kontrak karya. Proses arbitrase berjalan sejak 15 Juli 2008 melalui korespondensi sampai digelarnya sidang tertutup
3-8 Desember 2003-8 di Jakarta. Panel terdiri atas tiga anggota.
Indonesia. Semua kewajiban tersebut harus dilaksanakan dalam waktu180 hari sesudah tanggal putusan arbitrase.
KASUS PRODUK ALAS KAKI DENGAN ARGENTINA
Sengketa dagang antara Argentina melawan Uni Eropa, Indonesia dan Amerika Serikat, berawal dari tindakan investigasi Argentina atas impor sepatu dari berbagai negara termasuk Indonesia pada tanggal 14 Februari 1997 yang diikuti dengan pengenaan tindakan safeguards yang bersifat sementara pada bulan September 1997 yang sangat merugikan pihak eksportir sepatu Indonesia. Tindakan safeguards Argentina yang merupakan hambatan perdagangan serius (trade barrier) bagi ekspor Indonesia di tetapkan dalam bentuk specific duty yang cukup tinggi dimana untuk alas kaki dengan HS.
Sebagai negara produsen dan eksportir alas kaki, maka Indonesia sangat berkepentingan dalam sengketa ini. Dengan demikian, keputusan dari Tingkat Banding WTO ini menunjukkan bahwa dalam melaksanakan ekspor khususnya alas kaki, Indonesia tidak pernah melanggar ketentuan perdagangan dalam kerangka WTO. Sebagai ilustrasi, Indonesia adalah negara pengekspor alas kaki nomor 3 ke Argentina dengan nilai ekspor sebesar USD 22,030,351 pada tahun 1997, USD 15,516,357 pada tahun 1998 dan USD 4,558,332 untuk periode Januari – Juni 1999. Sedangkan pangsa pasar produk alas kaki Indonesia untuk tahun 1997 adalah sebesar 14,06%, untuk tahun 1998 sebesar 8,72% dan untuk periode Januari – Juni 1999 sebesar 5,4%.
Badan Penyelesaian Sengketa (Dispute Settlement Body) – WTO pada tanggal 14 Desember 1999 dalam Tingkat Banding (Appellate Body) kasus tindakan safeguards Argentina atas impor produk alas kaki yang berasal dari Uni Eropa, Amerika Serikat dan Indonesia, telah memutuskan bahwa tindakan safeguards yang diterapkan Argentina tersebut melanggar
ketentuan dalam pasal XIX: 1 (a) GATT 1994 dan Persetujuan Safeguards – WTO.
Keputusan Appellate Body WTO tersebut merupakan keberhasilan yang kedua kalinya untuk Indonesia dalam menghadapi sengketa perdagangan dengan pihak Argentina, dimana sebelumnya Indonesia telah berhasil menggagalkan rencana pihak Argentina untuk mengenakan tindakan safeguards transisi dalam rangka persetujuan tekstil dan pakaian jadi, Indonesia
komitmennya pada pertemuan Badan Penyelesaian Sengketa Dagang – WTO yang akan diselenggarakan pada tanggal 27 Januari 2000.
KASUS AMRO vs INDONESIA
Disebabkan oleh timbulnya persoalan manajemen hotel,yang menimbulkan konflik antara pihak penanam jasa, pada tanggal 1 Juni 1978 pihak Inkopad mengambil alih manajemen hotel, beserta control terhadapnya. Diikuti pula dengan IProfit Sharing Agreement ini meliputi
manajemen, tanah, bangunan dan seluruh isi Hotel Kartika Plaza. Tidak terima dengan keputusan ini, PT AMCO kemudian mengajukan gugatan kepada Pemerintah Indonesia ke ICSID,
sebagaimana dituduhkan oleh PT AMCO bahwa pada tanggal 31 Maret/1 April 1980 Pemerintah RI secara melanggar hukum, dengan an armed military action, telah mengambil alih control dan manajemen Hotel Kartika Plaza dari PT AMCO dan pada tahun yang sama, pada 9 juli 1980 bertindak atas nama BKPM, Ketua Badan itu telah mencabut izin penanaman modal asing AMCO ASIA Corporation, yang oleh pihak AMCO ASIA Corporation dipandang sebagai tindakan yang melanggar hak-hak mereka yang justru dijamin oleh hukum Indonesia,yang karenanya telah menimbulkan kerugian bagi pihak AMCO ASIA Corporation
Dalam tingkat pertama oleh lembaga ICSID yang putusannya berisikan bahwa Pemerintah Indonesia telah dinyatakan melakukan pelanggaran baik terhadap ketentuan hukum internasional maupun hukum Indonesia sendiri, dimana Pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) telah melakukan pencabutan lisensi penanaman modal asing yang dilakukan oleh para investor asing seperti AMCO Asia Corporation, Pan America Development dan PT. Amco Indonesia.
Putusan tingkat ketiga oleh ICSID pada pokoknya berisikan bahwa Indonesia tetap dikenakan kewajiban pembayaran terhadap kerugian yang ditimbulkan akibat pencabutan lisensi atau izin penanaman modal asing kepada pihak investor yaitu sebesar US $ 3.200.000 pada tingkat pertama.
KASUS KEMASAN ROKOK POLOS INDONESIA DAN AUSTRALIA
Awal permasalahan dari gugatan yang diajukan Indonesia ke WTO bersama tiga Negara lainnya adalah kebijakan Pemerintah Australia yang mengharuskan rokok yang dijual di negeri kangguru tersebut berkemasan polos. Hal ini menurut Pemerintah Indonesia telah merugikan negaranya, kewajiban menggunakan kemasan polos produk rokok telah mencederai hak anggota WTO di bawah perjanjian Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPS). Sesuai perjanjian tersebut, konsumen memiliki hak untuk mengetahui produk yang akan dikonsumsi, dan di sisi lain produsen juga memiliki hak untuk menggunakan merek dagangnya secara bebas tanpa hambatan-hambatan yang tidak berdasar.
Kebijakan yang diberlakukan oleh Pemerintah Australia tersebut dianggap bisa
menyesatkan dan justru malah menambah bahaya dari rokok itu sendiri serta mencederai Hak Kekayaan Intelektual. Untuk diketahui, Indonesia adalah negara produsen rokok kretek terbesar di dunia dan secara peringkat menempati posisi dua terbesar di dunia setelah Uni Eropa, sebagai negara produsen pengekspor produk tembakau manufaktur.
Selain 36 negara lain yang terlibat, terdapat tiga anggota WTO lainnya yang mengikuti jejak yang sama dengan Indonesia. Yaitu menggugat kebijakan yang diberlakukan Australia terkait kemasan rokok ini. Ketiga negara itu adalah Honduras, Republik Dominika, dan Kuba. Awalnya 5 negara mengajukan permohonan, tetapi Ukraina mengundurkan diri dengan alasan yang tidak bisa dibuka. Sehingga ada 36 negara yang disebut pihak terpati, atau negara-negara yang bakal terkena dampak baik langsung maupun tidak. Bachrul merinci, dari total 36 negara tersebut hanya 20 negara yang mau menentukan pilihan suaranya.