Sejarah Kebudayaan Islam
Dosen pengampu:
Ahmad Irfan Mufid, MA.
Oleh
Sahara Adjie Samudera
NIM 11160110000055
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
iv
DAFTAR ISI... iv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah... 1
B. Rumusan Masalah ... 2
BAB II PEMBAHASAN ... 3
A. Pengertian politik ... 3
B. Politik dan Kepemimpinan pada Masa Klasik ... 4
1. Politik Kepemimpinan di masa Rasulullah SAW ... 4
2. Politik dan kepemimpinan di zaman Khulafa’ur Rayidin ... 9
3. Politik dan Kepemimpinan pada Masa Dinasti Umayyah ... 13
4. Politik dan kepemimpinan di zaman daulat Abbasiyah ... 15
C. Politik pada Abad Pertengahan dan Perkembangannya ... 17
1. Dinasti Utsmani ... 17
2. Dinasti Syafawi ... 18
3. Dinasti Mughal ... 19
BAB III PENUTUP ... 21
A. Kesimpulan ... 21
1 A. Latar Belakang Masalah
Politik merupakan suatu pembahasan yang tiada habisnya meski dikupas
sedemikian rupa. Di dalam dunia Islam, politik tentu saja berkembang sesuai
dengan berputarnya waktu yang ada. Jika ditelaah lebih dalam, kita akan
mendapati upaya-upaya politis pada zaman Nabi, sampai ke era kontemporer ini.
Definisi politik dari segi definisi memang luas, tetapi dalam makalah ini, saya
akan lebih memfokuskan ke sisi pemerintahan, sistem pemerintahan, dan
kekuasaan dari masa ke masa di dalam sejarah peradaban Islam.
Sejarah membuktikan bagaimana agama Islam mempunyai kejayaan di
masa lampau dari zaman Rasulullah SAW sampai dengan kekhalifahan terakhir di
zaman Dinasti Utsmani (ottoman empire). Keberhasilan ini tidak luput dari peranan Rasulullah SAW sebagai pemimpin pertama umat Islam sekaligus central
kepemimpinan dunia Arab.
Dalam hal politik Rasulullah SAW membuat berbagai kebijakan di
antaranya Piagam Madinah. Di dalam piagam Madinah tersebut Rasulullah dapat
menjadi penengah pertikaian yang terjadi baik karena isu kesukuan, maupun
keagamaan.
Dari beberapa paparan tersebut dapat di ambil kesimpulan bahwa Rasulullah
menjadi teladan dalam kepemimpinan atau pun yang menyangkut dengan
kebijakan politik. Hal ini membuat saya ingin mengupas lebih dalam sistem
politik dan kepempinan dalam Islam, terutama dari zaman Rasulullah sampai abad
B. Rumusan Masalah
1. Apa peran Rasulullah dan khalifah setelahnya di dalam perkembangan politik
Islam?
2. Bagaimana bentuk dan sistem pemerintahan dari zaman Rasulullah SAW
3 A. Pengertian politik
Kata “politik”, berasal dari bahasa Yunani “politikos” atau bahasa Latin
“politica” pemakaian kata itu yang pertama kali dalam abad ke 5 SM. Jika ditinjau
asal katanya, berasal dari kata “polis”, berarti “negara kota ” .1 Di dalam bahasa
Arab, politik diartikan sebagai “siyasah”, yang mengandung isi “kenegaraan”
sebagai halnya perkataan politik (yang berasal dari bahasa Yunani, politikos). Sebelumnya, siyasah berarti muslihat dan segala macam usaha serta ikhtiar untuk mencapai sesuatu atau menyelesaikan suatu perkara.
Menurut Benedotte Croce berpendapat politik sama artinya dengan negara
ialah : ” menyelesaikan segala soal-soal tentang perasaan, adat kebiasaan dan undang-undang yang mengatur akan tindakan-tindakan manusia, tegasnya segala
badan yang fondamentil undang-undang yang konstitusional”.2
Menurut Muhammad Rusjdi misalnya mengemukakan: “ siyasah ialah ilmu
pengetahuan tentang jabatan-jabatan dalam negara dan tentang pimpinan dalam
masyarakat yang meliputi segala urusannya, seperti soal jabatan kepala negara,
dengan segala pembesar-pembesar lainnya, ahli-ahli pemeriksa kehakiman,
keuangan, perbendaharaan dan segala jabatan yang berhubungan Langsung
dengan negara”.
Lebih sederhana, Muhammad Kurdi Ali mengemukakan pendapatnya
bahwa istilah siyasah ialah (merujuk pada) ilmu memerintah. Dia harus dipegang para ahli yang betul-betul menguasai dasar-dasar pengetahuan dan
peraturan-peraturan dalam negara”.3
1 Abidin Zainal Ahmad, Ilmu Politik Islam I, (Jakarta : PT Bulan Bintang, 1977), hlm. 18 2 Ibid. hlm. 47
Menurut Syeikh Mohammad Bakhiet, mantan Guru Besar Al- Azhar
University berkata : “siyasah ialah peraturan-peraturan yang dibuat untuk memelihara adab dan akhlaq, memelihara kepentingan umum dan menetapkan
dasar-dasar keamanan”.
Di dalam kiprah Nabi Muhammad pada bangsa Arab, Khuda Bukhsh
mengatakan bahwasanya: “Muhammad bukan saja sudah membangun suatu agama baru, tetapi juga telah menegakkan suatu politik baru”.4 Muhammad
datang pada saat yang tepat.
B. Politik dan Kepemimpinan pada Masa Klasik
Perkembangan politik pada masa ini disebut sebagai “cikal bakal” perpolitikan
dalam Islam. Masa ini terbagi ke dalam beberapa periode sebagai berikut:
1. Politik Kepemimpinan di masa Rasulullah SAW
Nabi Muhammad SAW merupakan keturunan Quraisy, yaitu suku
yang berkembang dari Kinanah ibnu Khuzaimah. Ada dua pandangan terkait
dengan pemilikan gelar Quraisy ini, yaitu Nadr Ibn Kinanah dan Fihr Ibn
Malik Ibn Nadr.5
Suku Quraisy dapat dikatakan sebagai suku terhormat dan terkuat
diantara kabilah-kabilah yang ada di Jazirah Arab bagian tengah yang
mempertahankan ka’bah dari serbuan tentara Hunyar dari Yaman. Selain itu mereka menguasai jalur perdagangan keseluruhan penjuru antara Hijaz
dengan Mesir, Yaman, Syria, Irak dan Persia, dan menguasai perdagangan
lokal, karena peran Ka’bah sebagai pertemuan kabilah-kabilah arab. Hal ini
disebabkan semenjak Qushai merebut Makkah dan Menguasainya dari bani
Khuza’ah secara otomatis otoritas agama dan politik berada ditangan Quraisy.
Pengembalian Ka’bah ke tangan suku Quraisy ini memberikan pengaruh luas
4 Bakhs Khuda, Politic in Islam, (India: Idarah Idabiat, 1975), hlm.. 1
5 Hasin Ibrahim Hasan, Tarikh Islam, Al Siyasi wa al Ijtima, (Kairo: Maktabah al Nahdiyah,
bagi perannya dalam penguasaan aspek termasuk di dalamnya adalah
perdagangan dan politik.
Secara sosial politik Makkah dan Quraisy telah mengambil peran
yang signifikan di jazirah arab, di mana saat itu tengah terjadi perpecahan
politik dan sosial.6 Meskipun secara politik tidak membentuk sebuah
kerajaan, namun pilihan terhadap sosial ekonomi telah menjadikan Makkah
terselamatkan dari perpecahan dan kehancuran. Dan ini tidak terlepas dari
peranan ka’bah pada satu sisi dan sisi lain mata pencaharian bangsa Quraisy sebagai pedagang. Nabi Muhammad SAW lahir pada hari Senin 12 Rabiul
Awal tahun gajah / 20 April 571 M dalam kondisi yatim karena bapaknya
Abdullah Ibn Abdul Muthalib telah meninggal dunia di Yatsrib dalam
perjalanan pulang dari perniagaan di syria bersama rombongan pedagang
Quraisy. Kelahiran Muhammad ini disambut gembira dan suka cita oleh
kakeknya Abdul Muthalib.
Ketika usianya mendekati 40 tahun, dilihatnya masyarakat Makkah telah kehilangan martabat sebagai manusia. Maka dia tetapkan langkah-langkah untuk menyingkir dari keramaian Makkah, dia mendekatkan diri kepada tuhan, pencipta Qalam, mencari ketenangan jiwa, menjernihkan pikiran seraya berharap mendapat petunjuk dari Allah. Ini di lakukan di sebuah gua bernama gua Hira di jabal Nur, sampai beberapa lama sehingga datang Malaikat Jibril dengan membawa wahyu Al-Quran.
Tepat pada tanggal 17 Ramadhan tahun 610 M, malaikat Jibril datang di hadapannya menyampaikan wahyu Allah yang pertama yaitu surat Al-Alaq 1-5. Dengan turunnya wahyu ini, berarti Muhammad dipilih Allah sebagai Nabi, karena sifat wahyu terbatas pada beliau dan tidak diperintahkan untuk diserukan kepada manusia.
Setelah wahyu pertama ini turun, Jibril tidak pernah muncul lagi untuk beberapa lama, sehingga nabi sangat cemas menanti kedatangan wahyu selanjutnya, wahyu kedua turun Surat Al-Mudatsir 1-7 turun kepada nabi dengan membawa perintah untuk disampaikan ke seluruh umat manusia. Dan saat itulah Muhammad diangkat menjadi Rasul dengan tugas menyeru manusia kepada kebenaran hakikat yang bersumber pada ajaran ilahi.7
6 Ira M Lopidus, Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta: Rajawali, 1999) Hlm. 112. 7 Taufiqurrahman,Sejarah social politik Masyarakat Islam (Surabaya: Pustaka Islamika,
Dakwah Rasul Muhammad menyeru kepada Islam di Makkah
dilaksanakan selama 10 tahun atau menurut riwayat yang lain 13 tahun.
Dakwah ini dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi dan diam-diam di
lingkungan kerabat dekat dan teman-teman dekat.
Dakwah tahap kedua dilakukan Rasullah dilakukan dengan menyeru
kepada keluarga dalam lingkup yang lebih luas dengan sasaran semua
keluarga yang bergabung dalam bani muthalib. Rasullah SAW dalam
dakwahnya mengundang keluarga Abdul Muthalib. Tetapi semua undangan
yang datang menolak ajaran Rasulullah, bahkan mereka sampai
menertawakan seruan tersebut dan mengejeknya lalu pergi. Saat itu Ali Bin
Abi Thalib datang, dia bangkit dan berjanji akan menjadi penolong
Rasulullah SAW dan memerangi siapa yang menentangnya.
Dakwah tahap ketiga secara terang-terangan sesuai perintah allah
dalam surat Al-Hijr 94. Seruan ini dilakukan Rasul kepada penduduk
Makkah,dan orang yang datang ke Makkah untuk berziarah yang tinggal di
luar kota Makkah. Dengan semangat pantang mundur, dakwah ini
memberikan hasil positif bertambahnya jumlah pemeluk Islam.8
Penolakan kaum musyrikin Quraisy terhadap dakwah Rasulullah Muhammad SAW menurut pandangan Syalabi di sebabkan lima faktor. Pertama, politik : mereka mengira Muhammad yang keturunan Bani Muthalib dan Hasyim datang Untuk menundukkan dan menguasai otoritas politik dan ekonomi yang saat itu ada di tangan keluarga Bani Abd Syams. Persaingan pengaruh dan kekuasaan inilah yang menjadikan mereka tidak tunduk kepada seruan Nabi Muhammad SAW kedua Sosial : yaitu persamaan hak antar manusia dalam Islam yang diajarkan Rasulullah, Islam tidak membedakan antara kaya dan miskin, penguasa dan rakyat, tuan dan hamba karena ketakwaan kepada Allah. Hal ini bertentangan semangat bangsa arab yang terstratafikasi sesuai dengan kasta. Ketiga, kepercayaan terhadap hari kebangkitan. mereka menolak ajaran Rasul bagi mereka hidup adalah pengaruh dan kekuasaan, sedang ketika dibangkitkan mereka tidak mempunyai kekuasaan dan pengaruh. Keempat Tradisi : yaitu orang arab selalu taqlid terhadap tradisi nenek moyang mereka, dengan mengimani Islam berarti telah melanggar tradisi tersebut. Kelima ekonomi : dalam hal ini
masyarakat arab telah bergantung kepada berhala, tidak bisa lepas dari perdagangan patung, sehingga ketika Islam datang yang ingin menghilangkan berhala, maka bagi mereka telah menghilangkan rezeki pemahat dan penjual patung tersebut.
Dan selanjutnya Rasulullah SAW berhijrah ke Yatsrib pada hari
jum’at, 12 Rabi’ul Awwal, Nabi bersama rombongan tiba di Yatsrib di sambut dengan penuh kehangatan dengan kaum Anshar dan kaum Muhajirin.
Setibanya Rasul di Madinah, maka secara resmi beliau telah menjadi pemimpin kota. Beliau dihadapkan persoalan menata masyarakat majemuk, terdiri dari kaum Anshar dan kaum Muhajirin, serta muslim suku Aus dan kaum Khazraj, anggota suku Aus dan Khazraj yang masih menyembah berhala, nantinya masuk Islam, orang-orang Yahudi terdiri bani Qainuga, Bani Nadhir, Bani Quraidlah serta sub suku-suku lainnya. Untuk menopang kebijakan politik Madinah, maka ayat Al-Quran yang turun lebih banyak mengambil bentuk sosial kemasyarakatan atas dasar keyakinan agama.9
Perilaku nabi yang melintasi batas kerasulan dengan menjadi
pemimpin sebuah komunitas inilah yang menjadi periode sejarah Islam
Madinah sebagai periode politik. Nabi saat itu bukan hanya sebagai Rasul
pimpinan agama, namun juga menduduki jabatan sebagai kepala negara dan
hakim , yaitu pemegang otoritas duniawi.10
Langkah pertama yang dilakukan Nabi adalah tiba di Yastri b adalah
mengganti nama kota tersebut menjadi Madinah. Hal ini dilakukan Nabi
untuk membangun pandangan baru pada masyarakat bahwa kota ini berbeda
dengan sebelumnya dibangun dengan landasan agama dan peradabannya
sesuai dengan namanya sebagai kota yang berseri-seri. Kemudian dibangun
Masjid. Masjid bukan hanya sekedar tempat ibadah saja tapi lebih dari itu
untuk mempersatukan masyarakat dalam bingkai keagamaan tauhid.
Langkah kedua adalah membangun landasan kehidupan bernegara
yang diatur dalam piagam Madinah. Pertama berisi pembentukan koalisi
antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar dalam sebuah kelompok bersama
dengan Ummat.
9 Khan Zafrullah, Muhammad seal of the potret, (London: Routleadge and Keagen
paul),1986, hlm. 88
Kedua, piagam Madinah juga berisi aturan yang menyatukan
hubungan antar komunitas muslim dan non muslim. Hal ini diperlukan karena
penduduk Madinah terdiri warga muslim (Muhajirin dan Anshar), kaum
Yahudi dan bangsa Arab yang belum menganut Islam. Perjanjian ini
digunakan untuk menciptakan Madinah dalam suasana stabil dan tentram.
Adapun isi piagam tersebut :
1. Kebebasan memeluk dan menjalankan agamanya.
2. Nasehat menasihati dan tolong menolong dalam berbyat kebaikan.
3. Saling bantu-membantu untuk melawan siapa saja yang menyerang
Madinah.
4. Membela mereka yang teraniaya
5. Bertetangga baik.11
Piagam Madinah selain berisi perjanjian dalam hidup bermasyarakat
di negara Madinah, juga ia merupakan alat legitimasi bagi Nabi Muhammad
untuk menjadi pemimpin bukan saja bagi kaum muslim tapi juga bagi seluruh
penduduk Madinah, padahal beliau belum pernah memaklumatkan dirinya
sebagai pemimpin. Syafi’i Ma’arif mengatakan bahwa piagam Madinah ini
bertujuan untuk menciptakan keserasian politik dengan mengembangkan
toleransi sesama agama dan budaya seluas-luasnya.
Langkah ketiga adalah meletakkan dasar-dasar berpolitik ekonomi dan
sosial kemasyarakatan berdasarkan wahyu Al-Quran. Langkah ini dilakukan
untuk menguatkan status negara Madinah.
Langkah keempat adalah mempertahankan kedaulatan negara
Madinah dari segala rongrongan, intervensi dan serangan dari luar.
Rongrongan dan intervensi ini dilakukan oleh orang-orang kafir Makkah,
orang-orang munafiq Madinah dan orang-orang Yahudi.
Dalam hal ini Rasulullah membangun negara Madinah dengan dengan
sistem pemerintahan daulah Islam yang mana akidah Islam menjadi landasan
daulah Islam, maka haruslah undang-undang dasarnya berikut
perundang-undangan yang lain harus digali dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.
2. Politik dan kepemimpinan di zaman Khulafa’ur Rayidin
Pasca wafatnya Rasulullah SAW, umat Islam mulai mengalami
kebingungan bahwasanya ke mana tongkat kepemimpinan umat ini diberikan.
Di antaranya adalah khulafa’ur rasyidin. Pada masa ini perpolitikan dan
kepemimpinan dapat dibedakan ke dalam fokus dan kebijakan politik
masing-masing khalifah. Hal ini tentu saja merupakan langkah politis yang dilakukan
mereka.
a. Abu Bakar Al-Shidiq : Politik Konsolidasi
Masa kekhalifahan Abu bakar yang berlangsung selama 2 tahun,
11-13 H (632-634 M), diawali dengan pidato yang memberi komitmen
bahwa dirinya diangkat menjadi pemimpin Islam sebagai khalifah
Rasulullah, yaitu menggantikan Rasulullah melanjutkan tugas-tugas
kepemimpinan agama dan kepemimpinan pemerintahan. 12
Pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah, pada satu sisi
memberikan keuntungan tersendiri bagi berlanjutnya pemerintahan
negara Madinah, namun pada sisi lain munculnya penolakan orang-orang
arab, terutama orang-orang yang baru masuk Islam. Penentangan
terhadap negara Madinah yang dilakukan oleh suku-suku arab
merupakan sebuah realitas bangsa arab sangat sulit menerima kebenaran,
sangat sulit untuk tunduk pada ajaran yang baru, yang tidak umum
berkembang pada lingkungan mereka. Pada zaman Abu bakar banyak
yang keluar dari Islam serta ada gerakan penolakan membayar zakat,
serta adanya pengangkatan nabi baru yaitu Musailamah Al-Kazzab maka
12 Ibnu Gunadi, Sistem Politik pada Masa Khulafaur Rasyidin,
orientasi politik yang dijalankan pertama kali yaitu adalah melakukan
konsolidasi, mempersatukan masyarakat Arab dalam kekuasaan dan
dalam keagamaan Islam serta tetap dalam menjalankan ajaran agama.
Tindakan Abu Bakar adalah melakukan pembersihan, menumpas
serta memerangi mereka, melawan kemurtadan yang berjalan alot yang
dimenangkan oleh pemerintah Abu Bakar di bawah pimpinan Khalid bin
Walid. Namun, di samping itu semua, banyak penghafal Al-Quran yang
tewas dalam perang tersebut. Melihat suasana ini Umar merasa cemas,
dan mengusulkan Abu Bakar untuk membukukan Al-Quran. Abu Bakar
pada awalnya tidak Menyetujui usulan ini karena tidak ada otoritas dari
nabi untuk membukukan Al-Quran, namun kemudian ia setuju dan
memberikan tugas tersebut kepada Zaid bin Tsabit untuk menuliskannya.
b. Umar bin Khattab Al-Faruq : Politik Ekspansi
Umar di tunjuk sebagai pengganti Abu Bakar melalui proses yang
berbeda dalam pergantian pemimpin negara Madinah dari Nabi
Muhammad ke Abu Bakar. Proses itu terjadi ketika Abu Bakar sakit, di
mana sebelum wafat, dia memanggil sahabat senior untuk konsultasi dan
diminta pendapat siapa yang paling tepat untuk menggantikannya sebagai
Khalifah. Hal ini dilakukan oleh Abu Bakar karena ketakutan dia akan
timbul perpecahan di antara umat Islam. Maka bermusyawarah lah Abu
Bakar Utsman Bin Affan, Abdurrahman Bin Auf, dari kaum Muhajirin
dan As’ad Bin Khudair dari Anshar.
Khalifah Umar menjabat sebagai Khalifah selama 10 Tahun, dari tahun 13-23 H (634-644 M). Masa pemerintahan Umar melakukan beberapa langkah politik. Langkah politik ekspansi merupakan langkah yang paling populer selama pemerintahan Umar. Langkah ini dilakukan karena pasukan Islam sudah menyebar ke beberapa wilayah yang dikirim oleh pemerintahan Abu Bakar, mau tidak mau dia harus meneruskan langkah tersebut.
mengkonsentrasikan pasukan Islam hanya digunakan untuk menjalankan penaklukan dan untuk membentengi wilayah yang ditundukkan.13
Langkah politik yang ketiga adalah pasukan Islam tidak diperbolehkan memaksa warga taklukan untuk masuk Islam. Langkah keempat adalah didasari oleh keberhasilan meluaskan jajahan yang membawa implikasi pada membanjirnya harta-harta, baik rampasan, upeti, pajak, dan lainnya. Untuk memudahkan urusan administrasi dan keuangan, maka dalam pemerintahannya dibentuk lembaga-lembaga dan dewan-dewan seperti Bait Al Maal (perbendaharaan negara), pengadilan dan pengangkatan hakim, jawatan pajak, penjara, jawatan kepolisian, juga membuat aturan tentang gaji kepada tentara, guru, imam dan muadzin, pembebanan bea cukai, pumgutan pajak atas orang kristen bani Tighlap pengganti Jizyah, Umar juga menempa mata uang dan tahun Hijrah yang dimulai dari hijrah rasul.14
Pemerintahan Khalifah Umar yang berlangsung selama 10 tahun, 6
bulan, 4 hari, dapat dikatakan sebagai pemerintahan yang demokratis,
serta meletakkan prinsip-prinsip demokrasi dalam pemerintahannya
dengan jalan membangun jaringan pemerintahan sipil. Juga bersifat
egaliter dengan menjamin persamaan hak dalam bernegara, tidak
membedakan atasan dan bawahan, penguasa dan rakyat.
c. Utsman Bin Affan : Politik Sentralistik dan Nepotisme
Utsman Ibn Affan ibn abd al-ash ibn Umayyah. Ia lahir di
Makkah dari kalangan yang dihormati, dua tahun setelah kelahiran Nabi
Muhammad atau seusia Abu Bakar. Dalam pemerintahannya, Utsman
melakukan kebijakan-kebijakan politik yaitu dengan melanjutkan
ekspansi yang dilakukan Umar ke berbagai wilayah barat, timur, utara.
Dalam ekspansi ini dimotivasi oleh dakwah sekaligus memperluas
kekuasaan, di mana hasil rampasan, pajak dapat digunakan untuk
meningkatkan kemajuan negara serta kesejahteraan umat Islam.
Dalam langkah politik selanjutnya Utsman menyempurnakan pembagian kekuasaan pemerintah dengan menekankan sistem kekuasaan
13 Ira M Lopidus, Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta: Rajawali, 1999) Hlm. 71.
terpusat (sentralisasi) dari seluruh pendapatan propinsi dan menetapkan juru hitung Syafawi. Langkah ini efektif karena makin luasnya wilayah yang telah dikuasai oleh Islam dan makin banyaknya pegawai serta pasukan yang harus mendapat gaji.
Perilaku nepotisme dengan menempatkan Bani Umayyah menempati posisi penting dalam pemerintahan Ustman, dalam pandangan ini menjadi titik kelemahan. Maka muncullah pembenrontakan-pemberontakan yang terjadi di beberapa negara yang dilakukan oleh orang-orang yang kecewa terhadap Khalifah Utsman. Seperti Muawiyah ibn Abi Sufyan yang menjadi gubernur di Siria, Walid ibn Uqbah menjadi gubernur di Iraq dan Abdullah ibn,Sa’ad gubernur Mesir. Perilaku ini telah menempatkan Utsman menyandang Khalifah simbolik, tanpa menjalankan pemerintahan. 15
Pemerintahan Khalifah Utsman masih dapat dikatakan
demokratis, karena Khalifah tidak pernah menunjukkan sikap represif,
bahkan dia sangat baik dan saleh dan seluruh waktunya digunakan untuk
ibadah. Namun perilaku bawahannya yang tidak bisa diawasi karena
faktor usia yang sudah tua dan lemas inilah yang menjadi
pemerintahannya berkurang demokrasinya.
d. Ali bin Abi Thalib
Ia bernama Ali Bin Abi Thalib ibn Abdul Muthalib, sepupu nabi
Muhammad SAW dan menantunya karena ia menikah dengan Fatimah
Binti Muhammad.
Masa pemerintahannya berlangsung selama 5 tahun, dari 36-41 H
(656-661 M), diwarnai oleh timbulnya banyak kekacauan dan
pemberontakan. Pengangkatannya sebagai khalifah tidak dilaksanakan
sebagaimana yang pernah dialami oleh khalifah-khalifah sebelumnya
seperti musyawarah, penunjukan dan pembentukan dewan formatur.
Perilaku politik yang dijalankan oleh Khalifah Ali tidak bisa lepas
dari suasana saat itu akibat kebijaksanaan Utsman dan tantangan dari
oposisi atas kekhilafannya. Mengenai soal kebijakan Utsman, khalifah
mencoba menyelesaikannya dengan menarik semua tanah hibah yang telah
dibagikan kepada kerabat Utsman, kembali kepemilikan negara.
Selanjutnya mengganti gubernur yang tidak disukai oleh rakyat.
Terhadap penentangnya seperti Aisyah, Thalhah, dan Zubair yang
menuntut Ali segera menghukum pembunuh Utsman, Ali mencoba
menyelesaikan secara damai. Hal ini dilakukan untuk menghindari
pertikaian di antara masyarakat Islam. Namum kompromi yang diajukan
oleh Ali di tolak, maka peperangan tidak bisa ditolak lagi, terjadilah
perang jamal yang mana Thalhah dan Zubair gugur sedangkan Aisyah
dikembalikan ke Madinah.16
Dan dengan Muawiyah terjadi peperangan tetapi Muawiyah
meminta damai dengan cara Tahkim dengan tipu muslihatnya Muawiyah
menang dalam Tahkim ini dan menyulut pertikaian baru antar umat Islam,
yaitu dengan terpecahnya umat Islam ada pendukung Ali ada yang keluar
dari golongan Ali pada tanggal 17 Ramadhan Ali terbunuh oleh kaum
Khawarij yang fanatik yaitu Ibn Muljam. Selanjutnya Hasan anak
menyerahkan kekuasaan Khalifah secara penuh kepada Muawiyah agar
harapannya umat Islam bisa bersatu kembali.
3. Politik dan Kepemimpinan pada Masa Dinasti Umayyah
Dinasti Umayyah dibangun Mu’awiyah Ibn Abi Sufyan setelah keberhasilannya memenangkan perselisihan dengan Ali Bin Abi Thalib.
Munculnya Mu’awiyah sebagai Khalifah telah merubah sistem sosial politik masyarakat Islam. Ini dapat dilihat dari system suksesi atau perpindahan kekuasaan dari Ali melalui cara kekerasan dan kecurangan serta melanggar prinsip demokrasi yang telah berlaku selama itu serta diajarkan oleh Islam dan
dipraktikkan oleh Khulafa’ur rasyidin dalam pergantian Khalifah. Apalagi dia mewariskan kekuasaan Khalifah kepada Anaknya yaitu Yazid. Sukses ini dilakukan dengan kewajiban seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya.
16 Taufiqurrahman, Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam, (Surabaya: Pustaka Islamika,
Dengan demikian dinobatkannya Mu’awiyah menjadi Khalifah, telah
dimulainya babak baru dalam perpolitikan Islam. Mu’awiyah sebagai keturunan Aristokrat Makkah yang menguasai bidang politik, ekonomi, dan militer sebelum masuknya mereka ke dalam Islam, berusaha untuk mengembalikan kekuasaan mereka. Mereka dari keturunan Abd Syam dan ayahnya Abi Sofyan ketika terjadi Fathu Makkah menghilangkan otoritas dan kehormatan yang telah lama disandang oleh mereka, dan menjadikan mereka sejajar dengan Ummat Islam yang lainnya.17
Dinasti Umayyah ini memperkenalkan Solidaritas baru yang berlainan
dengan solidaritas semasa Nabi maupun Khulafa’ur Rasyidin bentuk solidaritas
kesukuan Arab, Arabisme menggantikan bentuk solidaritas Islam.bagi mereka
suku Quraisy mempunyai kedudukan tinggi dan terhormat dalam masyarakat
bangsa Arab sehingga kedudukan ini dicoba untuk dihimpun dalam satu
solidaritas dibah kepemimpinan Mu’awiyah.
Dan hal ini yang membuat Mu’awiyah membangun kekuatan besar
pada Bani Umayyah yang mana solidaritas kesukuan Arab diubah dengan
bentuk sempit lagi yaitu : solidaritas Bani Umayyah sehingga menumbuhkan
sistem Monarki.18
Dalam hal ini Mu’awiyah mencontoh system perpolitikan dari bangsa
Persia serta Romawi dan selanjutnya diadopsi kedalam system kenegaraan pada kemudian hari dengan memberikan hak kepemimpinan Khalifah Kepada anaknya Yazid. Landasan politik yang menjadikan Monarkhi, hereditas dan solidaritas Arab sebagai system politik Bani Umayyah bukan sebagaimana
yang dilakukan Khulafa’ur Rasyidin. Yang memakai system demokrasi dan
sollidaritas Islam. Untuk memperkuat landasan politik serta mempertahankan dinasti Umayyah maka dilakukan kebijakan politik yaitu memperluasa kekuasaan administrasi Negara dan memperkuat barisan Militer.
Dalam hal ini Mu’awiyah mengambil kebijakan politiknya yaitu administrasi Negara dengan memindahkan ibukota Negara dari Kufah ke Damaskus. Madinah sebagai pusat Dakwah Agama. Dalam politik selanjutnya setelah Muawiyah meninggal dilanjutkan Malik ibn Marwan yaitu dengan memperbaiki kinerja pemerintahannya, serta memadamkan pemberontakan di berbagai wilayah.19
17 Ibid, hlm. 86.
Selanjutnya Khalifah Umar Bin Abdul Aziz dia lebih berorientasi
dalam politik yaitu memperbaiki dan meningkatkan kesejahteraan Masyarakat,
dan tidak melakukan ekspansi politik, memperkuat politik di dalam Negara.20
Setelah kematian Umar Bin Abdul Aziz, kondisi pemerintahan dinasti
Umayyah terus mengalami kemunduran. Yazid Ibn Abdul Malik yang
menggantikannya terlalu hidup bermewah-mewahan. Dan terjadi
pemberontakan-pemberontakan dari kaum Syi’ah didukung dengan kaum
Abbasiyah sampai khalifah terakhir tidak mampu memerangi kaum
pemberontakan sehingga sampai Marwan yang terakhir menjadi pemimpin
dinasti Umayyah berakhir.
4. Politik dan kepemimpinan di zaman daulat Abbasiyah
Berdirinya daulat Abbasiyah, telah mengakhiri daulat Umayyah yang
menekankan landasan politiknya pada Arabisme. Daulat Abbasiyah pada
perkembangannya juga mewarisi Umayyah dalam beberapa hal tapi ia punya
cirri khusus yang berbeda dengan pendahulunya. Pemerintah daulat Abbasiyah
mendasarkan kebijakan politiknya pada prinsip Universalitas Islam. Prinsip
pemerintah yang Inklusif, transparan, rasional, prinsip pembaharuan ekonomi,
dan mendorong berkembangnya ilmu pengetahuan.
Prinsip politik universalitas Islam dikembangkan oleh daulat Abbasiyah karena, daulat ini mengklaim bahwa daulat ini meneruskan tradisi kepemimpinan Islam sebagai pengganti Nabi dan Khulafa’ur Rasyidin bukan tradisi kepemimpinan Arabisme atau kesukaan Arab yang dikembangkan daulat Umayyah. Selanjutnya daulat ini dibangun atas dukungan politik seluruh komponen masyarakat muslim, baik itu Arab maupun non Arab. Dan juga mereka menggunakan kata Imam sebagai pemimpin umat dibidang spiritual,
karena dari dukungan Syi’ah. kata Imam ini dipakai sebagai bukan pemimpin
agama saja tetapi politik juga di pakai.
Pemerintahan daulat Abbasiyah menerapkan prinsip Inklusif transparansi dan rasional.dibawah pemerintahan Islam Abbasiyah seluruh komponen masyarakat dipersatukan dalam asas kesamaan mereka dalam menjalankan kewajiban dan mendapatkan hak-hak warga Negara.
Langkah politik pertama yang dilakukan Abu Ja’far Al-Mansur adalah memindahkan ibukota dari kufah ke Baghdad karena alasan keamanan dan stabilitas daulat Abbasiyah. Serta langkah selanjutnya yaitu ekspansi sebagaimana yang dilakukan oleh daulat Umayyah. Dan dalam hal administrasi melakukan sentralisasi kekuasaan politik ditangan khalifah serta elite penguasa.
Dalam hal ini Al-Mansur juga mengangkat wazir sebagai koordinator departemen yaitu Khalid Ibn Barmak berasal dari Balkh Persia. sistem pelimpahan kekuasaan dinasti Abbasiyah sama dengan dinasti umayyah yaitu sama dengan cara turun menurun.21
Sebelum Harun Al Rasyid menjabat Khalifah daulat Bani Abbasiyah di
pimpin oleh Al-Mahdi serts Al Hadi. Dalam kebijakan politiknya Al Mahdi ia
meneguhkan keberadaan Abbasiyah sebagai pemimpin agama, menegakkan
kebenaran di tengah ummat yang menyimpang dari ajaran Islam, serta
membangun pertahanan dan keamanan dan dia membangun benteng
pertahanan kota-kota terutama di Rusafah, di sebrang sungai Tigris di
Baghdad. Dan melakukan perluasan dengan melakukan
penaklukan-penaklukan dan berhasil memenanginya dan berdampak politik bagi kekuasaan
daulat Abbasiyah karena raja Kabul, Tabaristan, Sind, Cina, Farghana dll,
bersumpah setia kepada Abbasiyah.
Dalam kepemimpinannya Harun Al Rasyid sebagai khalifah yang
murah hati, berlaku sopan, berwawasan serta menghormati ulama dan
mengedepankan Akal dari pada emosinya.
Dalam hal ini kebijakan politik Harun Al-Rasyid adalah meningkatkan
kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya, karena orientasi politiknya dengan
ekspansi sudah tertutup, sebab hamper seluruh dunia hamper dikuasai, kecuali
Byzantium dan beberapa wilayah yang sulit dimasuki dan terkait dengan alam
apalagi tidak menjanjikan.dalam hal ini Harun Al Rasyid membangun
peradaban Islam yaitu membangun Pusat-pusat pendidikan, rumah sakit,
21 Harun Nasution, Islam ditinjau dari berbagai aspeknya I, (Jakarta :UI Press, 1985), hlm.
ekonomi, kebudayaan, farmasi, untuk kesejahteraan dan persatuan
masyarakatnya.22
Setelah meninggalnya Harun Al Rasyid terjadilah fase kemunduran di
masa Abbasiyah yaitu berebut takhta kekuasaan dan terjadi pemberontakan
oleh bangsa Arab karena di masa Khalifah Al-Ma’mun bangsa Arab merasa
tersingkirkan oleh bangsa Persia. Dan di zaman Khalifah Al Ma’mun terjadi
peristiwa Mehnah yaitu di mana Khalifah memaksakan kehendaknya untuk
menyebarkan Faham Al-Quran adalah Makhluk sesuai faham Mu’tazilah yang
dianutnya.
Kematian Al-Mu’tashim diganti oleh putranya Al-Wasiq menjadi
pertanda berakhirnya zaman keemasan daulat Abbasiyah di Baghdad.
C. Politik pada Abad Pertengahan dan Perkembangannya
Politik dalam Islam terus berkembang sampai pada titik di mana Islam
mengalami masa keemasan maupun masa kemunduran. Dua periodisasi tersebut
menunjukkan bahwa bagaimana pun jalan sejarah yang ditempuh, akan selalu ada
perkembangannya, baik perkembangan ke arah positif maupun negatif. Di dalam
materi ini, terdapat tiga dinasti besar dan termasuk ke dalam tiga dinasti terakhir
dalam Islam. Yakni dinasti utsmani, syafawi, dan mughal.
1. Dinasti Utsmani
Pemerintahan Dinasti Utsmani didirikan oleh Utsman Putera Ertugrul, bangsa Turki dan Kabilah Oghuz yang berasal dari Mongol, utara negeri China. Pada abad ke 13 ketika kesultanan Seljuk di Baghdad melemah akibat serangan tentara mongol pada tahun 1243, dan cenkraman dari Byzantium melemah, segera beberapa kerajaan kecil memerdekakan diri dari kekuasaan Seljuk.dan ketika itu Ertugrul salah satu pimpinan Negara tentara di perbatasan Byzantiumyang telah mendatangkan 400 pengikutnya ,mengabdi pada dinasti Seljuk berkat bantuan mereka, sultan Ala Al Din yang sedang berperang melawan byzantiumakhirnya menang atas bantuan mereka. Dan atas jasanya Ertugrul dihadiahi sebidang tanah di Asia kecil yang berbatasan dengan Byzantium. Ertugrul selanjutnya membina wilayah itu dan menjadkan Syukud sebagai Ibukotanya.
Dan ketika sultan Ala Al Din terbunuh oleh Mongol dan Anaknya Ghyizas juga terbunuh maka terjadi kekosongan kekuasaan yang menimbulkan perpecahan. Melihat keadaan ini Utsman yang menggantikan Ertugrul menyatakan kemerdekaan dan berkuasa penuh daerah yang dikuasainyasejak itulah kerajaan Turki Utsman yang disebut juga dinasti Utsmaniyah, sesuai dengan nama pendirinya yaitu Utsman.23
Dinasti Utsmani merupakan dinasti yang membangun kerajaan atas aturan kemiliteran dan digunakan untuk melakukan ekspansi. Politik ekspansi inilah yang menjadi model seluruh perilaku politik dinasti Utsman, sehingga sepanjang sejarahnya tidak lepas dari kebijaksanaan tersebut dan inilah yang menjadi ukuran kemajuan pada abad pertengahan. Khalifah selanjutnya yaitu Murad I memantapkan keamanan dalam negeri, dan melakukan perluasaan dibenua Eropa.
Setelah meninggalnya Timur Lenk timbul perselisihan diantara Anak-anaknya. Sehingga kondisi ini dimanfaatkan oleh Muhammad I untuk melepaskan diri dari kekuasaan Mongol.Turki Utsmani mencapai puncak kemajuan pada Muhammad II atau biasa disebut Muhammad Al-Fatih, karena gelar Al-Fatih sendiri di dapat karena mampu menaklukan Byzantium dan menguasai Constatiopel pada tahun 1453 M.24
Setelah Al-Fatih meninggal terjadi kemunduran dalam penguasaan
eropa banyak mengalami kekalahan-kekalahan oleh bangsa eropa dan banyak
terjadi perjanjian-perjanjian dengan eropa yang merugikan turki
Utsmani.bahkan satu persatu Negara di eropa memedekakan diri, bahkan ke
wilayah yang ada di timur tengah ketika melihat kekalahan Utsmani. Abad
ke-20 pemerintahan Utsmani terus mengakomodasi pembaharuan, tetapi akhirnya
Kamal Al-Ataturk menjatuhkan dinasti ini 1924 Dan Turki beralih ke Republik
Turki.
2. Dinasti Syafawi
Dinasti Syafawi didirikan oleh Ismail Ibn Haider di wilayah Persia.
Penamaan dinasti Syafawi karena kelahiran dinasti ini berasal dari gerakan
tarekat Syafawiyah. Perjalanan tarekat safawiyah menuju terbentuknya dinasti
safawi dapat dibedakan menjadi dua fase. Pertama : gerakan tarekat murni.
23 Mahmud, Fayyas, Sayyid, A Short History of Islam, (Pakistan: Oxford University, 1960,)
hlm. 459.
Kedua : sebagai gerakan politik yang mendapat dukungan luas oleh masyarakat
Persia yang sudah terpengaruh oleh tarekat Safawiyah.
Dinasti syafawi merupakan dinasti agama karena lebih dilandasi
praktek syi’ah Itsna Asyariyah. Dengan gagasan ideology syiah yang menjadi perekat konsolidasi, nasionalisme safawi dalam waktu sepuluh tahun mampu menguasai wilayah-wilayah yang nantinya pada masa modern menjadi wilayah Iran. Raja yang paling berjasa membawa ke puncak kejayaan adalah Shah Abbas langkah pertama yang dilakukan adalah merekonstruksi tentara lama mengganti dengan baru dari golongan Ghulam (budak-budak) dari tawanan perang bangsa Georgia,, Armenia, dan Sircassia. Mereka mempertahankan ideologi Negara, tetapi Nampak lebih terbuka dan toleran yaitu dengan mengadakan perjanjian dengan kerajaan Utsmani, serta tidak akan menghina tiga Khalifah pertama (Abu Bakar, Umar, Utsman) dalam khutbah-khutbah
Jum’at. Dalam hal ini Syah Abbas mempertimbangkan lebih baik mengalah
untuk sementara waktu demi kemenangan jangka panjang.
Selanjutnya melakukan kerjasama dengan militer Inggris, safawi mulai membuat perhitungan luar sasaran utamanya adalah daerah-daerah yng pernah hilang dari kekuasaannya selaanjutnya melakukan perluasan kekuasaan ke bagian timur, Syah Abbas juga memindahkan ibu kota kerjaan dari Qiswan ke Isfahan Pada tahun 1957. Kerajaan ini mencapai kemajuan politiknya ditandai dengan luas wilayahnya yang mencakup dari khurasan di sebelah timur, sekitar laut kaspia di sebelah utara, Asia kecil, Persia barat daya di sebelah barat dan kepulauan Hurmuz di sebelah selatan.25
Selanjutnya setelah meninggalnya Shah Abbas para penerus nya tidak
cakap dalam pemerintahan dan memimpin Negara dan lebih suka berfoya,foya
daripada memikirkan Negara masa depan negaranya.dan condongnya
pemerintahan ke syi’ah sehingga golongan Sunni merasa dikucilkan dan
mengadakan pemberontakan. Selanjutnya Shah Husein menyerah kepada Nadir
Qulil dan secara resmi dinobatkan menjadi Shah Iran, dengan demikian
berakhirnya Dinasti Safawiyah yang berkuasa selama 235 tahun.
3. Dinasti Mughal
Kerajaan Mughal merupakan penguasaan Islam yang paling lama
berkuasa di India, dalam kejayaan masa Mughal terjadi pada masa
pemerintahan Akbar, tak diragukan lagi Akbar adalah seorang negarawan dan
sekaligus jendral besar yang melandasi kekuasaan atas dasar prinsip-prinsip
militeristik.
Di samping menerapkan sesuatu pemerintah militeristik, Akbar juga menerapkan politik Sulakhul (toleransi universal). Dan dibawah pemerintahannya itulah system pemerintahan kekaisaran terbentuk. Dan diapun mempersatukan berbagai etnis dalam suatu kelas penguasa, yang meliputi orang Turki, Afghanistan, Persia, dan Hindu.
Dalam tingkat birokrasi Akbar menghimpun berbagai berbagai etnis dijajaran birokrasinya d tingkat sipil dan militer. Dan dalam diplomatic militer mengadakan perjanjian dengan Abd Allah Khan, penguasa Ozberg mengenai demarkasi wilayah kekuasaan masing-masing dalam politik sulakhul yaitu seluruh rakyat India dipandang sama dalam semua bidang kehidupan. Bahkan dalam soal Agama Akbar mempunyai pandangan liberal dan ingin menyatukan semua agama dalam agama baru yaitu Din Illahi. 26
Selanjutnya setelah Akbar meninggal digantikan oleh Aurangzeb dalam
kebijakan pemerintahan yaitu pemikiran Puritanisme. Antara laindengan
menyerang praktik-praktik sosial dan keagamaan menyeleweng yang
bermunculan di India muslim karena mayoritas muslim karena pengaruh
mayoritas Hindu di sekitarnya dan menyebabkan pemberontakan di
mana-mana terhadap pemerintahan pusat.
Dan selanjutnya tercatat sebagai sultan-sultan yang lemah. Dan mulai
abad ke-18 sejarah dinasti ini boleh dibilang merupakan sejarah perebutan
takhta di tingkat penguasa dan peperangan-peperangan sampai runtuhnya
dinasti ini.
21
besar lagi panjang. Dari sejarah tersebut membuktikan bahwa dunia Islam pun
mengenal politik. Jika dikaji lebih dalam, dapat disaksikan rentetan cerita-sejarah
yang berawal dari masa Rasulullah SAW sampai abad pertengahan, termasuk tiga
Dinasti besar Islam.
Pada masa Rasulullah, politik Islam Dalam pemerintahan khulafa’ur Rasyidin
Abu Bakar melakukan politik Konsolidasi yaitu langkah politik guna menyatukan
umat Islam dan menumpas pemberontakan-pemberontakan, baik dari nabi palsu
maupun umat Islam yang ingkar zakat. Di masa Umar melakukan Politik Ekspansi
yaitu menyebar luaskan ajaran agama Islam dan juga melakukan penaklukan
penaklukan di daerah Arab dan diajarkan agama Islam ke daerah yang sudah di
taklukan, Utsman Bin Affan yaitu politik sentralistik yang mana kekuasaan dia
dipusatkan di satu daerah saja dan juga dalam perpolitikan Utsman memakai
politik nepotisme dan membagikan kursi politiknya ke anggota keluarga. Di masa
Ali Bin Abi Thalib perpolitikannya banyak terjadi perpecahan serta
pemberontakan-pemberontakan oleh beberapa kelompok umat Islam dan
terjadinya tahkim yang mana menjadi polemik terbesar umat Islam dalam sejarah
perpolitikan Islam.
Dalam sejarah Umayyah memakai politik Arabisme yaitu semua anggota
politik orang Arab Quraisy dan juga menyalahi demokrasi Islam dengan
mengganti penerus khalifah dengan sistem turun-menurun yang dilanjutkan oleh
dinasti Abbasiyah memakai politik universalitas Islam yang mana seluruh
DAFTAR PUSTAKA
Abidin Zainal Ahmad, Ilmu Politik Islam I, Jakarta : PT Bulan Bintang, 1977. Amin, Ahmad, Islam dari Masa ke Masa, Bandung, Rosyada, 1987.
Bakhs Khuda, Politic in Islam, India: Idarah Idabiat, 1975.
Effendy, Mochtar, Kepemimpinan Menurut Ajaran Islam, Palembang, Al-Mukhtar, 1997.
Hasin Ibrahim Hasan, Tarikh Islam, Al Siyasi wa al Ijtima, Kairo: Maktabah al-Nahdiyah, 1964.
Ira M Lopidus, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Rajawali, 1999.
Khan Zafrullah, Muhammad Seal of the Potret, London: Routleadge and Keagen and Paul 1986.
Mahmud, Fayyas Sayyid. A Short History of Islam, Pakistan: Oxford , 1960. Nasution, Harun. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya I, Jakarta :UI Press,
1985
Nasution, Harun. Teologi Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1978. Syadali Munawir. Islam dan Tata Negara, Jakarta : UI Press, 1993.
Syalabi, Ahmad. Sejarah Kebuyaan Islam Jakarta : Pustaka Al Husna,1979.
Taufiqurrahman. Sejarah social politik Masyarakat Islam, Surabaya: Pustaka Islamika, 2003.
Thaba, Aziz Abdul. Islam dan Negara,(Jakarta: Gema Insani Press, 1996.