• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Politik dan Kepemimpinan dalam I

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Sejarah Politik dan Kepemimpinan dalam I"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

Sejarah Kebudayaan Islam

Dosen pengampu:

Ahmad Irfan Mufid, MA.

Oleh

Sahara Adjie Samudera

NIM 11160110000055

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

(2)

iv

DAFTAR ISI... iv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Rumusan Masalah ... 2

BAB II PEMBAHASAN ... 3

A. Pengertian politik ... 3

B. Politik dan Kepemimpinan pada Masa Klasik ... 4

1. Politik Kepemimpinan di masa Rasulullah SAW ... 4

2. Politik dan kepemimpinan di zaman Khulafa’ur Rayidin ... 9

3. Politik dan Kepemimpinan pada Masa Dinasti Umayyah ... 13

4. Politik dan kepemimpinan di zaman daulat Abbasiyah ... 15

C. Politik pada Abad Pertengahan dan Perkembangannya ... 17

1. Dinasti Utsmani ... 17

2. Dinasti Syafawi ... 18

3. Dinasti Mughal ... 19

BAB III PENUTUP ... 21

A. Kesimpulan ... 21

(3)

1 A. Latar Belakang Masalah

Politik merupakan suatu pembahasan yang tiada habisnya meski dikupas

sedemikian rupa. Di dalam dunia Islam, politik tentu saja berkembang sesuai

dengan berputarnya waktu yang ada. Jika ditelaah lebih dalam, kita akan

mendapati upaya-upaya politis pada zaman Nabi, sampai ke era kontemporer ini.

Definisi politik dari segi definisi memang luas, tetapi dalam makalah ini, saya

akan lebih memfokuskan ke sisi pemerintahan, sistem pemerintahan, dan

kekuasaan dari masa ke masa di dalam sejarah peradaban Islam.

Sejarah membuktikan bagaimana agama Islam mempunyai kejayaan di

masa lampau dari zaman Rasulullah SAW sampai dengan kekhalifahan terakhir di

zaman Dinasti Utsmani (ottoman empire). Keberhasilan ini tidak luput dari peranan Rasulullah SAW sebagai pemimpin pertama umat Islam sekaligus central

kepemimpinan dunia Arab.

Dalam hal politik Rasulullah SAW membuat berbagai kebijakan di

antaranya Piagam Madinah. Di dalam piagam Madinah tersebut Rasulullah dapat

menjadi penengah pertikaian yang terjadi baik karena isu kesukuan, maupun

keagamaan.

Dari beberapa paparan tersebut dapat di ambil kesimpulan bahwa Rasulullah

menjadi teladan dalam kepemimpinan atau pun yang menyangkut dengan

kebijakan politik. Hal ini membuat saya ingin mengupas lebih dalam sistem

politik dan kepempinan dalam Islam, terutama dari zaman Rasulullah sampai abad

(4)

B. Rumusan Masalah

1. Apa peran Rasulullah dan khalifah setelahnya di dalam perkembangan politik

Islam?

2. Bagaimana bentuk dan sistem pemerintahan dari zaman Rasulullah SAW

(5)

3 A. Pengertian politik

Kata “politik”, berasal dari bahasa Yunani “politikos” atau bahasa Latin

politica” pemakaian kata itu yang pertama kali dalam abad ke 5 SM. Jika ditinjau

asal katanya, berasal dari kata “polis”, berarti “negara kota ” .1 Di dalam bahasa

Arab, politik diartikan sebagai “siyasah”, yang mengandung isi “kenegaraan”

sebagai halnya perkataan politik (yang berasal dari bahasa Yunani, politikos). Sebelumnya, siyasah berarti muslihat dan segala macam usaha serta ikhtiar untuk mencapai sesuatu atau menyelesaikan suatu perkara.

Menurut Benedotte Croce berpendapat politik sama artinya dengan negara

ialah : ” menyelesaikan segala soal-soal tentang perasaan, adat kebiasaan dan undang-undang yang mengatur akan tindakan-tindakan manusia, tegasnya segala

badan yang fondamentil undang-undang yang konstitusional”.2

Menurut Muhammad Rusjdi misalnya mengemukakan: “ siyasah ialah ilmu

pengetahuan tentang jabatan-jabatan dalam negara dan tentang pimpinan dalam

masyarakat yang meliputi segala urusannya, seperti soal jabatan kepala negara,

dengan segala pembesar-pembesar lainnya, ahli-ahli pemeriksa kehakiman,

keuangan, perbendaharaan dan segala jabatan yang berhubungan Langsung

dengan negara”.

Lebih sederhana, Muhammad Kurdi Ali mengemukakan pendapatnya

bahwa istilah siyasah ialah (merujuk pada) ilmu memerintah. Dia harus dipegang para ahli yang betul-betul menguasai dasar-dasar pengetahuan dan

peraturan-peraturan dalam negara”.3

1 Abidin Zainal Ahmad, Ilmu Politik Islam I, (Jakarta : PT Bulan Bintang, 1977), hlm. 18 2 Ibid. hlm. 47

(6)

Menurut Syeikh Mohammad Bakhiet, mantan Guru Besar Al- Azhar

University berkata : “siyasah ialah peraturan-peraturan yang dibuat untuk memelihara adab dan akhlaq, memelihara kepentingan umum dan menetapkan

dasar-dasar keamanan”.

Di dalam kiprah Nabi Muhammad pada bangsa Arab, Khuda Bukhsh

mengatakan bahwasanya: “Muhammad bukan saja sudah membangun suatu agama baru, tetapi juga telah menegakkan suatu politik baru”.4 Muhammad

datang pada saat yang tepat.

B. Politik dan Kepemimpinan pada Masa Klasik

Perkembangan politik pada masa ini disebut sebagai “cikal bakal” perpolitikan

dalam Islam. Masa ini terbagi ke dalam beberapa periode sebagai berikut:

1. Politik Kepemimpinan di masa Rasulullah SAW

Nabi Muhammad SAW merupakan keturunan Quraisy, yaitu suku

yang berkembang dari Kinanah ibnu Khuzaimah. Ada dua pandangan terkait

dengan pemilikan gelar Quraisy ini, yaitu Nadr Ibn Kinanah dan Fihr Ibn

Malik Ibn Nadr.5

Suku Quraisy dapat dikatakan sebagai suku terhormat dan terkuat

diantara kabilah-kabilah yang ada di Jazirah Arab bagian tengah yang

mempertahankan ka’bah dari serbuan tentara Hunyar dari Yaman. Selain itu mereka menguasai jalur perdagangan keseluruhan penjuru antara Hijaz

dengan Mesir, Yaman, Syria, Irak dan Persia, dan menguasai perdagangan

lokal, karena peran Ka’bah sebagai pertemuan kabilah-kabilah arab. Hal ini

disebabkan semenjak Qushai merebut Makkah dan Menguasainya dari bani

Khuza’ah secara otomatis otoritas agama dan politik berada ditangan Quraisy.

Pengembalian Ka’bah ke tangan suku Quraisy ini memberikan pengaruh luas

4 Bakhs Khuda, Politic in Islam, (India: Idarah Idabiat, 1975), hlm.. 1

5 Hasin Ibrahim Hasan, Tarikh Islam, Al Siyasi wa al Ijtima, (Kairo: Maktabah al Nahdiyah,

(7)

bagi perannya dalam penguasaan aspek termasuk di dalamnya adalah

perdagangan dan politik.

Secara sosial politik Makkah dan Quraisy telah mengambil peran

yang signifikan di jazirah arab, di mana saat itu tengah terjadi perpecahan

politik dan sosial.6 Meskipun secara politik tidak membentuk sebuah

kerajaan, namun pilihan terhadap sosial ekonomi telah menjadikan Makkah

terselamatkan dari perpecahan dan kehancuran. Dan ini tidak terlepas dari

peranan ka’bah pada satu sisi dan sisi lain mata pencaharian bangsa Quraisy sebagai pedagang. Nabi Muhammad SAW lahir pada hari Senin 12 Rabiul

Awal tahun gajah / 20 April 571 M dalam kondisi yatim karena bapaknya

Abdullah Ibn Abdul Muthalib telah meninggal dunia di Yatsrib dalam

perjalanan pulang dari perniagaan di syria bersama rombongan pedagang

Quraisy. Kelahiran Muhammad ini disambut gembira dan suka cita oleh

kakeknya Abdul Muthalib.

Ketika usianya mendekati 40 tahun, dilihatnya masyarakat Makkah telah kehilangan martabat sebagai manusia. Maka dia tetapkan langkah-langkah untuk menyingkir dari keramaian Makkah, dia mendekatkan diri kepada tuhan, pencipta Qalam, mencari ketenangan jiwa, menjernihkan pikiran seraya berharap mendapat petunjuk dari Allah. Ini di lakukan di sebuah gua bernama gua Hira di jabal Nur, sampai beberapa lama sehingga datang Malaikat Jibril dengan membawa wahyu Al-Quran.

Tepat pada tanggal 17 Ramadhan tahun 610 M, malaikat Jibril datang di hadapannya menyampaikan wahyu Allah yang pertama yaitu surat Al-Alaq 1-5. Dengan turunnya wahyu ini, berarti Muhammad dipilih Allah sebagai Nabi, karena sifat wahyu terbatas pada beliau dan tidak diperintahkan untuk diserukan kepada manusia.

Setelah wahyu pertama ini turun, Jibril tidak pernah muncul lagi untuk beberapa lama, sehingga nabi sangat cemas menanti kedatangan wahyu selanjutnya, wahyu kedua turun Surat Al-Mudatsir 1-7 turun kepada nabi dengan membawa perintah untuk disampaikan ke seluruh umat manusia. Dan saat itulah Muhammad diangkat menjadi Rasul dengan tugas menyeru manusia kepada kebenaran hakikat yang bersumber pada ajaran ilahi.7

6 Ira M Lopidus, Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta: Rajawali, 1999) Hlm. 112. 7 Taufiqurrahman,Sejarah social politik Masyarakat Islam (Surabaya: Pustaka Islamika,

(8)

Dakwah Rasul Muhammad menyeru kepada Islam di Makkah

dilaksanakan selama 10 tahun atau menurut riwayat yang lain 13 tahun.

Dakwah ini dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi dan diam-diam di

lingkungan kerabat dekat dan teman-teman dekat.

Dakwah tahap kedua dilakukan Rasullah dilakukan dengan menyeru

kepada keluarga dalam lingkup yang lebih luas dengan sasaran semua

keluarga yang bergabung dalam bani muthalib. Rasullah SAW dalam

dakwahnya mengundang keluarga Abdul Muthalib. Tetapi semua undangan

yang datang menolak ajaran Rasulullah, bahkan mereka sampai

menertawakan seruan tersebut dan mengejeknya lalu pergi. Saat itu Ali Bin

Abi Thalib datang, dia bangkit dan berjanji akan menjadi penolong

Rasulullah SAW dan memerangi siapa yang menentangnya.

Dakwah tahap ketiga secara terang-terangan sesuai perintah allah

dalam surat Al-Hijr 94. Seruan ini dilakukan Rasul kepada penduduk

Makkah,dan orang yang datang ke Makkah untuk berziarah yang tinggal di

luar kota Makkah. Dengan semangat pantang mundur, dakwah ini

memberikan hasil positif bertambahnya jumlah pemeluk Islam.8

Penolakan kaum musyrikin Quraisy terhadap dakwah Rasulullah Muhammad SAW menurut pandangan Syalabi di sebabkan lima faktor. Pertama, politik : mereka mengira Muhammad yang keturunan Bani Muthalib dan Hasyim datang Untuk menundukkan dan menguasai otoritas politik dan ekonomi yang saat itu ada di tangan keluarga Bani Abd Syams. Persaingan pengaruh dan kekuasaan inilah yang menjadikan mereka tidak tunduk kepada seruan Nabi Muhammad SAW kedua Sosial : yaitu persamaan hak antar manusia dalam Islam yang diajarkan Rasulullah, Islam tidak membedakan antara kaya dan miskin, penguasa dan rakyat, tuan dan hamba karena ketakwaan kepada Allah. Hal ini bertentangan semangat bangsa arab yang terstratafikasi sesuai dengan kasta. Ketiga, kepercayaan terhadap hari kebangkitan. mereka menolak ajaran Rasul bagi mereka hidup adalah pengaruh dan kekuasaan, sedang ketika dibangkitkan mereka tidak mempunyai kekuasaan dan pengaruh. Keempat Tradisi : yaitu orang arab selalu taqlid terhadap tradisi nenek moyang mereka, dengan mengimani Islam berarti telah melanggar tradisi tersebut. Kelima ekonomi : dalam hal ini

(9)

masyarakat arab telah bergantung kepada berhala, tidak bisa lepas dari perdagangan patung, sehingga ketika Islam datang yang ingin menghilangkan berhala, maka bagi mereka telah menghilangkan rezeki pemahat dan penjual patung tersebut.

Dan selanjutnya Rasulullah SAW berhijrah ke Yatsrib pada hari

jum’at, 12 Rabi’ul Awwal, Nabi bersama rombongan tiba di Yatsrib di sambut dengan penuh kehangatan dengan kaum Anshar dan kaum Muhajirin.

Setibanya Rasul di Madinah, maka secara resmi beliau telah menjadi pemimpin kota. Beliau dihadapkan persoalan menata masyarakat majemuk, terdiri dari kaum Anshar dan kaum Muhajirin, serta muslim suku Aus dan kaum Khazraj, anggota suku Aus dan Khazraj yang masih menyembah berhala, nantinya masuk Islam, orang-orang Yahudi terdiri bani Qainuga, Bani Nadhir, Bani Quraidlah serta sub suku-suku lainnya. Untuk menopang kebijakan politik Madinah, maka ayat Al-Quran yang turun lebih banyak mengambil bentuk sosial kemasyarakatan atas dasar keyakinan agama.9

Perilaku nabi yang melintasi batas kerasulan dengan menjadi

pemimpin sebuah komunitas inilah yang menjadi periode sejarah Islam

Madinah sebagai periode politik. Nabi saat itu bukan hanya sebagai Rasul

pimpinan agama, namun juga menduduki jabatan sebagai kepala negara dan

hakim , yaitu pemegang otoritas duniawi.10

Langkah pertama yang dilakukan Nabi adalah tiba di Yastri b adalah

mengganti nama kota tersebut menjadi Madinah. Hal ini dilakukan Nabi

untuk membangun pandangan baru pada masyarakat bahwa kota ini berbeda

dengan sebelumnya dibangun dengan landasan agama dan peradabannya

sesuai dengan namanya sebagai kota yang berseri-seri. Kemudian dibangun

Masjid. Masjid bukan hanya sekedar tempat ibadah saja tapi lebih dari itu

untuk mempersatukan masyarakat dalam bingkai keagamaan tauhid.

Langkah kedua adalah membangun landasan kehidupan bernegara

yang diatur dalam piagam Madinah. Pertama berisi pembentukan koalisi

antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar dalam sebuah kelompok bersama

dengan Ummat.

9 Khan Zafrullah, Muhammad seal of the potret, (London: Routleadge and Keagen

paul),1986, hlm. 88

(10)

Kedua, piagam Madinah juga berisi aturan yang menyatukan

hubungan antar komunitas muslim dan non muslim. Hal ini diperlukan karena

penduduk Madinah terdiri warga muslim (Muhajirin dan Anshar), kaum

Yahudi dan bangsa Arab yang belum menganut Islam. Perjanjian ini

digunakan untuk menciptakan Madinah dalam suasana stabil dan tentram.

Adapun isi piagam tersebut :

1. Kebebasan memeluk dan menjalankan agamanya.

2. Nasehat menasihati dan tolong menolong dalam berbyat kebaikan.

3. Saling bantu-membantu untuk melawan siapa saja yang menyerang

Madinah.

4. Membela mereka yang teraniaya

5. Bertetangga baik.11

Piagam Madinah selain berisi perjanjian dalam hidup bermasyarakat

di negara Madinah, juga ia merupakan alat legitimasi bagi Nabi Muhammad

untuk menjadi pemimpin bukan saja bagi kaum muslim tapi juga bagi seluruh

penduduk Madinah, padahal beliau belum pernah memaklumatkan dirinya

sebagai pemimpin. Syafi’i Ma’arif mengatakan bahwa piagam Madinah ini

bertujuan untuk menciptakan keserasian politik dengan mengembangkan

toleransi sesama agama dan budaya seluas-luasnya.

Langkah ketiga adalah meletakkan dasar-dasar berpolitik ekonomi dan

sosial kemasyarakatan berdasarkan wahyu Al-Quran. Langkah ini dilakukan

untuk menguatkan status negara Madinah.

Langkah keempat adalah mempertahankan kedaulatan negara

Madinah dari segala rongrongan, intervensi dan serangan dari luar.

Rongrongan dan intervensi ini dilakukan oleh orang-orang kafir Makkah,

orang-orang munafiq Madinah dan orang-orang Yahudi.

(11)

Dalam hal ini Rasulullah membangun negara Madinah dengan dengan

sistem pemerintahan daulah Islam yang mana akidah Islam menjadi landasan

daulah Islam, maka haruslah undang-undang dasarnya berikut

perundang-undangan yang lain harus digali dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.

2. Politik dan kepemimpinan di zaman Khulafa’ur Rayidin

Pasca wafatnya Rasulullah SAW, umat Islam mulai mengalami

kebingungan bahwasanya ke mana tongkat kepemimpinan umat ini diberikan.

Di antaranya adalah khulafa’ur rasyidin. Pada masa ini perpolitikan dan

kepemimpinan dapat dibedakan ke dalam fokus dan kebijakan politik

masing-masing khalifah. Hal ini tentu saja merupakan langkah politis yang dilakukan

mereka.

a. Abu Bakar Al-Shidiq : Politik Konsolidasi

Masa kekhalifahan Abu bakar yang berlangsung selama 2 tahun,

11-13 H (632-634 M), diawali dengan pidato yang memberi komitmen

bahwa dirinya diangkat menjadi pemimpin Islam sebagai khalifah

Rasulullah, yaitu menggantikan Rasulullah melanjutkan tugas-tugas

kepemimpinan agama dan kepemimpinan pemerintahan. 12

Pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah, pada satu sisi

memberikan keuntungan tersendiri bagi berlanjutnya pemerintahan

negara Madinah, namun pada sisi lain munculnya penolakan orang-orang

arab, terutama orang-orang yang baru masuk Islam. Penentangan

terhadap negara Madinah yang dilakukan oleh suku-suku arab

merupakan sebuah realitas bangsa arab sangat sulit menerima kebenaran,

sangat sulit untuk tunduk pada ajaran yang baru, yang tidak umum

berkembang pada lingkungan mereka. Pada zaman Abu bakar banyak

yang keluar dari Islam serta ada gerakan penolakan membayar zakat,

serta adanya pengangkatan nabi baru yaitu Musailamah Al-Kazzab maka

12 Ibnu Gunadi, Sistem Politik pada Masa Khulafaur Rasyidin,

(12)

orientasi politik yang dijalankan pertama kali yaitu adalah melakukan

konsolidasi, mempersatukan masyarakat Arab dalam kekuasaan dan

dalam keagamaan Islam serta tetap dalam menjalankan ajaran agama.

Tindakan Abu Bakar adalah melakukan pembersihan, menumpas

serta memerangi mereka, melawan kemurtadan yang berjalan alot yang

dimenangkan oleh pemerintah Abu Bakar di bawah pimpinan Khalid bin

Walid. Namun, di samping itu semua, banyak penghafal Al-Quran yang

tewas dalam perang tersebut. Melihat suasana ini Umar merasa cemas,

dan mengusulkan Abu Bakar untuk membukukan Al-Quran. Abu Bakar

pada awalnya tidak Menyetujui usulan ini karena tidak ada otoritas dari

nabi untuk membukukan Al-Quran, namun kemudian ia setuju dan

memberikan tugas tersebut kepada Zaid bin Tsabit untuk menuliskannya.

b. Umar bin Khattab Al-Faruq : Politik Ekspansi

Umar di tunjuk sebagai pengganti Abu Bakar melalui proses yang

berbeda dalam pergantian pemimpin negara Madinah dari Nabi

Muhammad ke Abu Bakar. Proses itu terjadi ketika Abu Bakar sakit, di

mana sebelum wafat, dia memanggil sahabat senior untuk konsultasi dan

diminta pendapat siapa yang paling tepat untuk menggantikannya sebagai

Khalifah. Hal ini dilakukan oleh Abu Bakar karena ketakutan dia akan

timbul perpecahan di antara umat Islam. Maka bermusyawarah lah Abu

Bakar Utsman Bin Affan, Abdurrahman Bin Auf, dari kaum Muhajirin

dan As’ad Bin Khudair dari Anshar.

Khalifah Umar menjabat sebagai Khalifah selama 10 Tahun, dari tahun 13-23 H (634-644 M). Masa pemerintahan Umar melakukan beberapa langkah politik. Langkah politik ekspansi merupakan langkah yang paling populer selama pemerintahan Umar. Langkah ini dilakukan karena pasukan Islam sudah menyebar ke beberapa wilayah yang dikirim oleh pemerintahan Abu Bakar, mau tidak mau dia harus meneruskan langkah tersebut.

(13)

mengkonsentrasikan pasukan Islam hanya digunakan untuk menjalankan penaklukan dan untuk membentengi wilayah yang ditundukkan.13

Langkah politik yang ketiga adalah pasukan Islam tidak diperbolehkan memaksa warga taklukan untuk masuk Islam. Langkah keempat adalah didasari oleh keberhasilan meluaskan jajahan yang membawa implikasi pada membanjirnya harta-harta, baik rampasan, upeti, pajak, dan lainnya. Untuk memudahkan urusan administrasi dan keuangan, maka dalam pemerintahannya dibentuk lembaga-lembaga dan dewan-dewan seperti Bait Al Maal (perbendaharaan negara), pengadilan dan pengangkatan hakim, jawatan pajak, penjara, jawatan kepolisian, juga membuat aturan tentang gaji kepada tentara, guru, imam dan muadzin, pembebanan bea cukai, pumgutan pajak atas orang kristen bani Tighlap pengganti Jizyah, Umar juga menempa mata uang dan tahun Hijrah yang dimulai dari hijrah rasul.14

Pemerintahan Khalifah Umar yang berlangsung selama 10 tahun, 6

bulan, 4 hari, dapat dikatakan sebagai pemerintahan yang demokratis,

serta meletakkan prinsip-prinsip demokrasi dalam pemerintahannya

dengan jalan membangun jaringan pemerintahan sipil. Juga bersifat

egaliter dengan menjamin persamaan hak dalam bernegara, tidak

membedakan atasan dan bawahan, penguasa dan rakyat.

c. Utsman Bin Affan : Politik Sentralistik dan Nepotisme

Utsman Ibn Affan ibn abd al-ash ibn Umayyah. Ia lahir di

Makkah dari kalangan yang dihormati, dua tahun setelah kelahiran Nabi

Muhammad atau seusia Abu Bakar. Dalam pemerintahannya, Utsman

melakukan kebijakan-kebijakan politik yaitu dengan melanjutkan

ekspansi yang dilakukan Umar ke berbagai wilayah barat, timur, utara.

Dalam ekspansi ini dimotivasi oleh dakwah sekaligus memperluas

kekuasaan, di mana hasil rampasan, pajak dapat digunakan untuk

meningkatkan kemajuan negara serta kesejahteraan umat Islam.

Dalam langkah politik selanjutnya Utsman menyempurnakan pembagian kekuasaan pemerintah dengan menekankan sistem kekuasaan

13 Ira M Lopidus, Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta: Rajawali, 1999) Hlm. 71.

(14)

terpusat (sentralisasi) dari seluruh pendapatan propinsi dan menetapkan juru hitung Syafawi. Langkah ini efektif karena makin luasnya wilayah yang telah dikuasai oleh Islam dan makin banyaknya pegawai serta pasukan yang harus mendapat gaji.

Perilaku nepotisme dengan menempatkan Bani Umayyah menempati posisi penting dalam pemerintahan Ustman, dalam pandangan ini menjadi titik kelemahan. Maka muncullah pembenrontakan-pemberontakan yang terjadi di beberapa negara yang dilakukan oleh orang-orang yang kecewa terhadap Khalifah Utsman. Seperti Muawiyah ibn Abi Sufyan yang menjadi gubernur di Siria, Walid ibn Uqbah menjadi gubernur di Iraq dan Abdullah ibn,Sa’ad gubernur Mesir. Perilaku ini telah menempatkan Utsman menyandang Khalifah simbolik, tanpa menjalankan pemerintahan. 15

Pemerintahan Khalifah Utsman masih dapat dikatakan

demokratis, karena Khalifah tidak pernah menunjukkan sikap represif,

bahkan dia sangat baik dan saleh dan seluruh waktunya digunakan untuk

ibadah. Namun perilaku bawahannya yang tidak bisa diawasi karena

faktor usia yang sudah tua dan lemas inilah yang menjadi

pemerintahannya berkurang demokrasinya.

d. Ali bin Abi Thalib

Ia bernama Ali Bin Abi Thalib ibn Abdul Muthalib, sepupu nabi

Muhammad SAW dan menantunya karena ia menikah dengan Fatimah

Binti Muhammad.

Masa pemerintahannya berlangsung selama 5 tahun, dari 36-41 H

(656-661 M), diwarnai oleh timbulnya banyak kekacauan dan

pemberontakan. Pengangkatannya sebagai khalifah tidak dilaksanakan

sebagaimana yang pernah dialami oleh khalifah-khalifah sebelumnya

seperti musyawarah, penunjukan dan pembentukan dewan formatur.

Perilaku politik yang dijalankan oleh Khalifah Ali tidak bisa lepas

dari suasana saat itu akibat kebijaksanaan Utsman dan tantangan dari

oposisi atas kekhilafannya. Mengenai soal kebijakan Utsman, khalifah

(15)

mencoba menyelesaikannya dengan menarik semua tanah hibah yang telah

dibagikan kepada kerabat Utsman, kembali kepemilikan negara.

Selanjutnya mengganti gubernur yang tidak disukai oleh rakyat.

Terhadap penentangnya seperti Aisyah, Thalhah, dan Zubair yang

menuntut Ali segera menghukum pembunuh Utsman, Ali mencoba

menyelesaikan secara damai. Hal ini dilakukan untuk menghindari

pertikaian di antara masyarakat Islam. Namum kompromi yang diajukan

oleh Ali di tolak, maka peperangan tidak bisa ditolak lagi, terjadilah

perang jamal yang mana Thalhah dan Zubair gugur sedangkan Aisyah

dikembalikan ke Madinah.16

Dan dengan Muawiyah terjadi peperangan tetapi Muawiyah

meminta damai dengan cara Tahkim dengan tipu muslihatnya Muawiyah

menang dalam Tahkim ini dan menyulut pertikaian baru antar umat Islam,

yaitu dengan terpecahnya umat Islam ada pendukung Ali ada yang keluar

dari golongan Ali pada tanggal 17 Ramadhan Ali terbunuh oleh kaum

Khawarij yang fanatik yaitu Ibn Muljam. Selanjutnya Hasan anak

menyerahkan kekuasaan Khalifah secara penuh kepada Muawiyah agar

harapannya umat Islam bisa bersatu kembali.

3. Politik dan Kepemimpinan pada Masa Dinasti Umayyah

Dinasti Umayyah dibangun Mu’awiyah Ibn Abi Sufyan setelah keberhasilannya memenangkan perselisihan dengan Ali Bin Abi Thalib.

Munculnya Mu’awiyah sebagai Khalifah telah merubah sistem sosial politik masyarakat Islam. Ini dapat dilihat dari system suksesi atau perpindahan kekuasaan dari Ali melalui cara kekerasan dan kecurangan serta melanggar prinsip demokrasi yang telah berlaku selama itu serta diajarkan oleh Islam dan

dipraktikkan oleh Khulafa’ur rasyidin dalam pergantian Khalifah. Apalagi dia mewariskan kekuasaan Khalifah kepada Anaknya yaitu Yazid. Sukses ini dilakukan dengan kewajiban seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya.

16 Taufiqurrahman, Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam, (Surabaya: Pustaka Islamika,

(16)

Dengan demikian dinobatkannya Mu’awiyah menjadi Khalifah, telah

dimulainya babak baru dalam perpolitikan Islam. Mu’awiyah sebagai keturunan Aristokrat Makkah yang menguasai bidang politik, ekonomi, dan militer sebelum masuknya mereka ke dalam Islam, berusaha untuk mengembalikan kekuasaan mereka. Mereka dari keturunan Abd Syam dan ayahnya Abi Sofyan ketika terjadi Fathu Makkah menghilangkan otoritas dan kehormatan yang telah lama disandang oleh mereka, dan menjadikan mereka sejajar dengan Ummat Islam yang lainnya.17

Dinasti Umayyah ini memperkenalkan Solidaritas baru yang berlainan

dengan solidaritas semasa Nabi maupun Khulafa’ur Rasyidin bentuk solidaritas

kesukuan Arab, Arabisme menggantikan bentuk solidaritas Islam.bagi mereka

suku Quraisy mempunyai kedudukan tinggi dan terhormat dalam masyarakat

bangsa Arab sehingga kedudukan ini dicoba untuk dihimpun dalam satu

solidaritas dibah kepemimpinan Mu’awiyah.

Dan hal ini yang membuat Mu’awiyah membangun kekuatan besar

pada Bani Umayyah yang mana solidaritas kesukuan Arab diubah dengan

bentuk sempit lagi yaitu : solidaritas Bani Umayyah sehingga menumbuhkan

sistem Monarki.18

Dalam hal ini Mu’awiyah mencontoh system perpolitikan dari bangsa

Persia serta Romawi dan selanjutnya diadopsi kedalam system kenegaraan pada kemudian hari dengan memberikan hak kepemimpinan Khalifah Kepada anaknya Yazid. Landasan politik yang menjadikan Monarkhi, hereditas dan solidaritas Arab sebagai system politik Bani Umayyah bukan sebagaimana

yang dilakukan Khulafa’ur Rasyidin. Yang memakai system demokrasi dan

sollidaritas Islam. Untuk memperkuat landasan politik serta mempertahankan dinasti Umayyah maka dilakukan kebijakan politik yaitu memperluasa kekuasaan administrasi Negara dan memperkuat barisan Militer.

Dalam hal ini Mu’awiyah mengambil kebijakan politiknya yaitu administrasi Negara dengan memindahkan ibukota Negara dari Kufah ke Damaskus. Madinah sebagai pusat Dakwah Agama. Dalam politik selanjutnya setelah Muawiyah meninggal dilanjutkan Malik ibn Marwan yaitu dengan memperbaiki kinerja pemerintahannya, serta memadamkan pemberontakan di berbagai wilayah.19

17 Ibid, hlm. 86.

(17)

Selanjutnya Khalifah Umar Bin Abdul Aziz dia lebih berorientasi

dalam politik yaitu memperbaiki dan meningkatkan kesejahteraan Masyarakat,

dan tidak melakukan ekspansi politik, memperkuat politik di dalam Negara.20

Setelah kematian Umar Bin Abdul Aziz, kondisi pemerintahan dinasti

Umayyah terus mengalami kemunduran. Yazid Ibn Abdul Malik yang

menggantikannya terlalu hidup bermewah-mewahan. Dan terjadi

pemberontakan-pemberontakan dari kaum Syi’ah didukung dengan kaum

Abbasiyah sampai khalifah terakhir tidak mampu memerangi kaum

pemberontakan sehingga sampai Marwan yang terakhir menjadi pemimpin

dinasti Umayyah berakhir.

4. Politik dan kepemimpinan di zaman daulat Abbasiyah

Berdirinya daulat Abbasiyah, telah mengakhiri daulat Umayyah yang

menekankan landasan politiknya pada Arabisme. Daulat Abbasiyah pada

perkembangannya juga mewarisi Umayyah dalam beberapa hal tapi ia punya

cirri khusus yang berbeda dengan pendahulunya. Pemerintah daulat Abbasiyah

mendasarkan kebijakan politiknya pada prinsip Universalitas Islam. Prinsip

pemerintah yang Inklusif, transparan, rasional, prinsip pembaharuan ekonomi,

dan mendorong berkembangnya ilmu pengetahuan.

Prinsip politik universalitas Islam dikembangkan oleh daulat Abbasiyah karena, daulat ini mengklaim bahwa daulat ini meneruskan tradisi kepemimpinan Islam sebagai pengganti Nabi dan Khulafa’ur Rasyidin bukan tradisi kepemimpinan Arabisme atau kesukaan Arab yang dikembangkan daulat Umayyah. Selanjutnya daulat ini dibangun atas dukungan politik seluruh komponen masyarakat muslim, baik itu Arab maupun non Arab. Dan juga mereka menggunakan kata Imam sebagai pemimpin umat dibidang spiritual,

karena dari dukungan Syi’ah. kata Imam ini dipakai sebagai bukan pemimpin

agama saja tetapi politik juga di pakai.

Pemerintahan daulat Abbasiyah menerapkan prinsip Inklusif transparansi dan rasional.dibawah pemerintahan Islam Abbasiyah seluruh komponen masyarakat dipersatukan dalam asas kesamaan mereka dalam menjalankan kewajiban dan mendapatkan hak-hak warga Negara.

(18)

Langkah politik pertama yang dilakukan Abu Ja’far Al-Mansur adalah memindahkan ibukota dari kufah ke Baghdad karena alasan keamanan dan stabilitas daulat Abbasiyah. Serta langkah selanjutnya yaitu ekspansi sebagaimana yang dilakukan oleh daulat Umayyah. Dan dalam hal administrasi melakukan sentralisasi kekuasaan politik ditangan khalifah serta elite penguasa.

Dalam hal ini Al-Mansur juga mengangkat wazir sebagai koordinator departemen yaitu Khalid Ibn Barmak berasal dari Balkh Persia. sistem pelimpahan kekuasaan dinasti Abbasiyah sama dengan dinasti umayyah yaitu sama dengan cara turun menurun.21

Sebelum Harun Al Rasyid menjabat Khalifah daulat Bani Abbasiyah di

pimpin oleh Al-Mahdi serts Al Hadi. Dalam kebijakan politiknya Al Mahdi ia

meneguhkan keberadaan Abbasiyah sebagai pemimpin agama, menegakkan

kebenaran di tengah ummat yang menyimpang dari ajaran Islam, serta

membangun pertahanan dan keamanan dan dia membangun benteng

pertahanan kota-kota terutama di Rusafah, di sebrang sungai Tigris di

Baghdad. Dan melakukan perluasan dengan melakukan

penaklukan-penaklukan dan berhasil memenanginya dan berdampak politik bagi kekuasaan

daulat Abbasiyah karena raja Kabul, Tabaristan, Sind, Cina, Farghana dll,

bersumpah setia kepada Abbasiyah.

Dalam kepemimpinannya Harun Al Rasyid sebagai khalifah yang

murah hati, berlaku sopan, berwawasan serta menghormati ulama dan

mengedepankan Akal dari pada emosinya.

Dalam hal ini kebijakan politik Harun Al-Rasyid adalah meningkatkan

kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya, karena orientasi politiknya dengan

ekspansi sudah tertutup, sebab hamper seluruh dunia hamper dikuasai, kecuali

Byzantium dan beberapa wilayah yang sulit dimasuki dan terkait dengan alam

apalagi tidak menjanjikan.dalam hal ini Harun Al Rasyid membangun

peradaban Islam yaitu membangun Pusat-pusat pendidikan, rumah sakit,

21 Harun Nasution, Islam ditinjau dari berbagai aspeknya I, (Jakarta :UI Press, 1985), hlm.

(19)

ekonomi, kebudayaan, farmasi, untuk kesejahteraan dan persatuan

masyarakatnya.22

Setelah meninggalnya Harun Al Rasyid terjadilah fase kemunduran di

masa Abbasiyah yaitu berebut takhta kekuasaan dan terjadi pemberontakan

oleh bangsa Arab karena di masa Khalifah Al-Ma’mun bangsa Arab merasa

tersingkirkan oleh bangsa Persia. Dan di zaman Khalifah Al Ma’mun terjadi

peristiwa Mehnah yaitu di mana Khalifah memaksakan kehendaknya untuk

menyebarkan Faham Al-Quran adalah Makhluk sesuai faham Mu’tazilah yang

dianutnya.

Kematian Al-Mu’tashim diganti oleh putranya Al-Wasiq menjadi

pertanda berakhirnya zaman keemasan daulat Abbasiyah di Baghdad.

C. Politik pada Abad Pertengahan dan Perkembangannya

Politik dalam Islam terus berkembang sampai pada titik di mana Islam

mengalami masa keemasan maupun masa kemunduran. Dua periodisasi tersebut

menunjukkan bahwa bagaimana pun jalan sejarah yang ditempuh, akan selalu ada

perkembangannya, baik perkembangan ke arah positif maupun negatif. Di dalam

materi ini, terdapat tiga dinasti besar dan termasuk ke dalam tiga dinasti terakhir

dalam Islam. Yakni dinasti utsmani, syafawi, dan mughal.

1. Dinasti Utsmani

Pemerintahan Dinasti Utsmani didirikan oleh Utsman Putera Ertugrul, bangsa Turki dan Kabilah Oghuz yang berasal dari Mongol, utara negeri China. Pada abad ke 13 ketika kesultanan Seljuk di Baghdad melemah akibat serangan tentara mongol pada tahun 1243, dan cenkraman dari Byzantium melemah, segera beberapa kerajaan kecil memerdekakan diri dari kekuasaan Seljuk.dan ketika itu Ertugrul salah satu pimpinan Negara tentara di perbatasan Byzantiumyang telah mendatangkan 400 pengikutnya ,mengabdi pada dinasti Seljuk berkat bantuan mereka, sultan Ala Al Din yang sedang berperang melawan byzantiumakhirnya menang atas bantuan mereka. Dan atas jasanya Ertugrul dihadiahi sebidang tanah di Asia kecil yang berbatasan dengan Byzantium. Ertugrul selanjutnya membina wilayah itu dan menjadkan Syukud sebagai Ibukotanya.

(20)

Dan ketika sultan Ala Al Din terbunuh oleh Mongol dan Anaknya Ghyizas juga terbunuh maka terjadi kekosongan kekuasaan yang menimbulkan perpecahan. Melihat keadaan ini Utsman yang menggantikan Ertugrul menyatakan kemerdekaan dan berkuasa penuh daerah yang dikuasainyasejak itulah kerajaan Turki Utsman yang disebut juga dinasti Utsmaniyah, sesuai dengan nama pendirinya yaitu Utsman.23

Dinasti Utsmani merupakan dinasti yang membangun kerajaan atas aturan kemiliteran dan digunakan untuk melakukan ekspansi. Politik ekspansi inilah yang menjadi model seluruh perilaku politik dinasti Utsman, sehingga sepanjang sejarahnya tidak lepas dari kebijaksanaan tersebut dan inilah yang menjadi ukuran kemajuan pada abad pertengahan. Khalifah selanjutnya yaitu Murad I memantapkan keamanan dalam negeri, dan melakukan perluasaan dibenua Eropa.

Setelah meninggalnya Timur Lenk timbul perselisihan diantara Anak-anaknya. Sehingga kondisi ini dimanfaatkan oleh Muhammad I untuk melepaskan diri dari kekuasaan Mongol.Turki Utsmani mencapai puncak kemajuan pada Muhammad II atau biasa disebut Muhammad Al-Fatih, karena gelar Al-Fatih sendiri di dapat karena mampu menaklukan Byzantium dan menguasai Constatiopel pada tahun 1453 M.24

Setelah Al-Fatih meninggal terjadi kemunduran dalam penguasaan

eropa banyak mengalami kekalahan-kekalahan oleh bangsa eropa dan banyak

terjadi perjanjian-perjanjian dengan eropa yang merugikan turki

Utsmani.bahkan satu persatu Negara di eropa memedekakan diri, bahkan ke

wilayah yang ada di timur tengah ketika melihat kekalahan Utsmani. Abad

ke-20 pemerintahan Utsmani terus mengakomodasi pembaharuan, tetapi akhirnya

Kamal Al-Ataturk menjatuhkan dinasti ini 1924 Dan Turki beralih ke Republik

Turki.

2. Dinasti Syafawi

Dinasti Syafawi didirikan oleh Ismail Ibn Haider di wilayah Persia.

Penamaan dinasti Syafawi karena kelahiran dinasti ini berasal dari gerakan

tarekat Syafawiyah. Perjalanan tarekat safawiyah menuju terbentuknya dinasti

safawi dapat dibedakan menjadi dua fase. Pertama : gerakan tarekat murni.

23 Mahmud, Fayyas, Sayyid, A Short History of Islam, (Pakistan: Oxford University, 1960,)

hlm. 459.

(21)

Kedua : sebagai gerakan politik yang mendapat dukungan luas oleh masyarakat

Persia yang sudah terpengaruh oleh tarekat Safawiyah.

Dinasti syafawi merupakan dinasti agama karena lebih dilandasi

praktek syi’ah Itsna Asyariyah. Dengan gagasan ideology syiah yang menjadi perekat konsolidasi, nasionalisme safawi dalam waktu sepuluh tahun mampu menguasai wilayah-wilayah yang nantinya pada masa modern menjadi wilayah Iran. Raja yang paling berjasa membawa ke puncak kejayaan adalah Shah Abbas langkah pertama yang dilakukan adalah merekonstruksi tentara lama mengganti dengan baru dari golongan Ghulam (budak-budak) dari tawanan perang bangsa Georgia,, Armenia, dan Sircassia. Mereka mempertahankan ideologi Negara, tetapi Nampak lebih terbuka dan toleran yaitu dengan mengadakan perjanjian dengan kerajaan Utsmani, serta tidak akan menghina tiga Khalifah pertama (Abu Bakar, Umar, Utsman) dalam khutbah-khutbah

Jum’at. Dalam hal ini Syah Abbas mempertimbangkan lebih baik mengalah

untuk sementara waktu demi kemenangan jangka panjang.

Selanjutnya melakukan kerjasama dengan militer Inggris, safawi mulai membuat perhitungan luar sasaran utamanya adalah daerah-daerah yng pernah hilang dari kekuasaannya selaanjutnya melakukan perluasan kekuasaan ke bagian timur, Syah Abbas juga memindahkan ibu kota kerjaan dari Qiswan ke Isfahan Pada tahun 1957. Kerajaan ini mencapai kemajuan politiknya ditandai dengan luas wilayahnya yang mencakup dari khurasan di sebelah timur, sekitar laut kaspia di sebelah utara, Asia kecil, Persia barat daya di sebelah barat dan kepulauan Hurmuz di sebelah selatan.25

Selanjutnya setelah meninggalnya Shah Abbas para penerus nya tidak

cakap dalam pemerintahan dan memimpin Negara dan lebih suka berfoya,foya

daripada memikirkan Negara masa depan negaranya.dan condongnya

pemerintahan ke syi’ah sehingga golongan Sunni merasa dikucilkan dan

mengadakan pemberontakan. Selanjutnya Shah Husein menyerah kepada Nadir

Qulil dan secara resmi dinobatkan menjadi Shah Iran, dengan demikian

berakhirnya Dinasti Safawiyah yang berkuasa selama 235 tahun.

3. Dinasti Mughal

Kerajaan Mughal merupakan penguasaan Islam yang paling lama

berkuasa di India, dalam kejayaan masa Mughal terjadi pada masa

pemerintahan Akbar, tak diragukan lagi Akbar adalah seorang negarawan dan

(22)

sekaligus jendral besar yang melandasi kekuasaan atas dasar prinsip-prinsip

militeristik.

Di samping menerapkan sesuatu pemerintah militeristik, Akbar juga menerapkan politik Sulakhul (toleransi universal). Dan dibawah pemerintahannya itulah system pemerintahan kekaisaran terbentuk. Dan diapun mempersatukan berbagai etnis dalam suatu kelas penguasa, yang meliputi orang Turki, Afghanistan, Persia, dan Hindu.

Dalam tingkat birokrasi Akbar menghimpun berbagai berbagai etnis dijajaran birokrasinya d tingkat sipil dan militer. Dan dalam diplomatic militer mengadakan perjanjian dengan Abd Allah Khan, penguasa Ozberg mengenai demarkasi wilayah kekuasaan masing-masing dalam politik sulakhul yaitu seluruh rakyat India dipandang sama dalam semua bidang kehidupan. Bahkan dalam soal Agama Akbar mempunyai pandangan liberal dan ingin menyatukan semua agama dalam agama baru yaitu Din Illahi. 26

Selanjutnya setelah Akbar meninggal digantikan oleh Aurangzeb dalam

kebijakan pemerintahan yaitu pemikiran Puritanisme. Antara laindengan

menyerang praktik-praktik sosial dan keagamaan menyeleweng yang

bermunculan di India muslim karena mayoritas muslim karena pengaruh

mayoritas Hindu di sekitarnya dan menyebabkan pemberontakan di

mana-mana terhadap pemerintahan pusat.

Dan selanjutnya tercatat sebagai sultan-sultan yang lemah. Dan mulai

abad ke-18 sejarah dinasti ini boleh dibilang merupakan sejarah perebutan

takhta di tingkat penguasa dan peperangan-peperangan sampai runtuhnya

dinasti ini.

(23)

21

besar lagi panjang. Dari sejarah tersebut membuktikan bahwa dunia Islam pun

mengenal politik. Jika dikaji lebih dalam, dapat disaksikan rentetan cerita-sejarah

yang berawal dari masa Rasulullah SAW sampai abad pertengahan, termasuk tiga

Dinasti besar Islam.

Pada masa Rasulullah, politik Islam Dalam pemerintahan khulafa’ur Rasyidin

Abu Bakar melakukan politik Konsolidasi yaitu langkah politik guna menyatukan

umat Islam dan menumpas pemberontakan-pemberontakan, baik dari nabi palsu

maupun umat Islam yang ingkar zakat. Di masa Umar melakukan Politik Ekspansi

yaitu menyebar luaskan ajaran agama Islam dan juga melakukan penaklukan

penaklukan di daerah Arab dan diajarkan agama Islam ke daerah yang sudah di

taklukan, Utsman Bin Affan yaitu politik sentralistik yang mana kekuasaan dia

dipusatkan di satu daerah saja dan juga dalam perpolitikan Utsman memakai

politik nepotisme dan membagikan kursi politiknya ke anggota keluarga. Di masa

Ali Bin Abi Thalib perpolitikannya banyak terjadi perpecahan serta

pemberontakan-pemberontakan oleh beberapa kelompok umat Islam dan

terjadinya tahkim yang mana menjadi polemik terbesar umat Islam dalam sejarah

perpolitikan Islam.

Dalam sejarah Umayyah memakai politik Arabisme yaitu semua anggota

politik orang Arab Quraisy dan juga menyalahi demokrasi Islam dengan

mengganti penerus khalifah dengan sistem turun-menurun yang dilanjutkan oleh

dinasti Abbasiyah memakai politik universalitas Islam yang mana seluruh

(24)

DAFTAR PUSTAKA

Abidin Zainal Ahmad, Ilmu Politik Islam I, Jakarta : PT Bulan Bintang, 1977. Amin, Ahmad, Islam dari Masa ke Masa, Bandung, Rosyada, 1987.

Bakhs Khuda, Politic in Islam, India: Idarah Idabiat, 1975.

Effendy, Mochtar, Kepemimpinan Menurut Ajaran Islam, Palembang, Al-Mukhtar, 1997.

Hasin Ibrahim Hasan, Tarikh Islam, Al Siyasi wa al Ijtima, Kairo: Maktabah al-Nahdiyah, 1964.

Ira M Lopidus, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Rajawali, 1999.

Khan Zafrullah, Muhammad Seal of the Potret, London: Routleadge and Keagen and Paul 1986.

Mahmud, Fayyas Sayyid. A Short History of Islam, Pakistan: Oxford , 1960. Nasution, Harun. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya I, Jakarta :UI Press,

1985

Nasution, Harun. Teologi Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1978. Syadali Munawir. Islam dan Tata Negara, Jakarta : UI Press, 1993.

Syalabi, Ahmad. Sejarah Kebuyaan Islam Jakarta : Pustaka Al Husna,1979.

Taufiqurrahman. Sejarah social politik Masyarakat Islam, Surabaya: Pustaka Islamika, 2003.

Thaba, Aziz Abdul. Islam dan Negara,(Jakarta: Gema Insani Press, 1996.

Referensi

Dokumen terkait

Sebelum menjadi kesultanan—dengan Islam sebagai agama resmi sejak dinobatkannya sultan yang pertama, Abdul Kahir, pada tahun 1640—Bima merupakan sebuah kerajaan yang

1. Sepakat mereka yang mengikat dirinya. Kata sepakat yang dimaksud harus diberikan secara bebas kepada para pihak yang mengadakan perjanjian. Kecakapan untuk

Dengan keempat bentuk komponen kepemimpinan transformasional ini, para pemimpin dapat menginspirasi pengikut mereka untuk dapat berkinerja melebihi kepentingan dan

Tetapi, hal itu tidak berlangsung lama karena Yahudi ingin mendominasi dengan menanamkan pengaruhnya kepada umat Islam, lalu mereka gagal, dan sebagai konsekuensinya mereka

Liputan televisi lebih disukai para politisi karena liputan itu nampak lebih nyata dan akrab daripada foto atau kutipan pembicaraan mereka yang dipublikasikan lewat surat

Sebagai contoh para petinggi Negara kita yang harusnya menyadari bahwa mereka dipercaya masyarakat Indonesia untuk mengurus Bangsa dengan ideologi sendiri, tetapi

Wawancara tentang peran sebagai tokoh: Menurut Bapak Mukhlis Selaku Kepala Bidang Bina Ideologi dan Wawasan Kebangsaan: “ Beliau selaku Kepala Bakesbangpol Kota Banjarmasin selalu

yang berdakwah melalui seni mempertahankan diri,37 Sheikh Wan Hussein Senawi dan Tok Pulai Chondong yang terkenal kerana seni bina masjid mereka iaitu Masjid Wadi Hussein Telok Manok,