• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kemunculan Masyarakat Ekonomi Indonesia dan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kemunculan Masyarakat Ekonomi Indonesia dan"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

L E M B A R C O V E R T U G A S 2 0 1 3

I Gede Mas Suputra (08/270221/SP/23072) No. Mahasiswa

Nama Matakuliah

Masyarakat Ekonomi

Dosen

M. Adhi Iksanto

Judul Tugas Kemunculan Masyarakat Ekonomi Indonesia dan Formasi Borjuasi yang Mengikutinya

Pertama, saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa:

 Karya ini merupakan hasil karya saya pribadi.

 Karya ini sebagian besar mengekspresikan ide dan pemikiran saya yang disusun menggunakan kata dan gaya bahasa saya sendiri.

 Apabila terdapat karya atau pemikiran orang lain atau sekelompok orang, karya, ide dan pemikiran tersebut dikutip dengan benar, mencantumkan sumbernya serta disusun sesuai dengan kaidah yang berlaku.

 Tidak ada bagian dari tugas ini yang pernah dikirimkan untuk dinilai, dipublikasikan dan/atau digunakan untuk memenuhi tugas mata kuliah lain sebelumnya.

Kedua, saya menyatakan bahwa apabila satu atau lebih ketentuan di atas tidak ditepati, saya sadar akan menerima sanksi minimal berupa kehilangan hak untuk menerima nilai untuk mata kuliah ini.

(2)

Dalam tulisan ini kami akan memaparkan proses pembentukan masyarakat ekonomi di Indonesia pada fase kolonial dan formasi borjuasi yang terbentuk pada saat itu. Telaah kami menggunakan pedoman buku “Ekonomi Indonesia 1800-2010: Antara Drama dan Keajaiban Pertumbuhan” karya Jan Luiten van Zanden dan Daan Marks, serta sebuah Jurnal karya Farchan Bulkin yang berjudul Negara, Masyarakat, dan Ekonomi.

Sedikit mengulang cerita untuk memperjelas alur munculnya masyarakat ekonomi di Indonesia, di Pulau Jawa tentunya. Pada awalnya Belanda datang di Banten untuk membangun VOC, adanya VOC digunakan untuk menguasai pulau-pulau penting Nusantara untuk membangun kuasi Negara Kolonial. Sebenarnya incaran utama mereka yakni rempah-rempah yang berada di Pulau Maluku. Akibatnya mulai berkembang perusahaan dagang di Jawa (awalnya hanya ingin menikmati komersialisasi Jawa tetapi justru berubah jadi Negara colonial yang sebagian besar pendapatannya dair pajak dan pengumpulan surplus produksi dgn berbagai cara).

Flashback: Jawa pada tahun 1800

Masyarakat Jawa saat itu terbagi menjadi 3 jenis kelompok yang hidup berdampingan: pribumi, kelompok kolonial bekas VOC (keturunan pegawai VOC dan pedagang independen), dan kelompok komprador (terdiri dari pedagang China, Arab, dan India dgn tipe struktur sosial yang berbeda). Sifatnya yang feodal dengan ciri-ciri mempunyai basis ekonomi pertanian dan belum mengenal uang, penduduknya yang merupakan petani bagian dari Negara terpusat untuk menciptakan surplus ekonomi yang diperoleh dengan cara non-ekonomis (kerja wajib dan klaim kepemilikan atas tanah produktif). Oleh karena itu, struktur sosio-politik dan distribusi surplus selalu mengikuti perubahan dalam perimbangan kekuasaan. Disisi lain adanya kekaburan definisi hak kepemilikan karena dalam proses pertukaran pasar tidak berjalan dengan baik.

(3)

Sejak abad 17 dan 18 VOC telah mempelajari bagaimana cara memanfaatkan sistem penarikan surplus feodal untuk mencapai tujuannya sendiri. Beberapa pajak yang dipungut merusak proses pertukaran pasar (biaya transaksi yang tinggi), tidak transparan, suku bunga yang tinggi di pasar modal. Untuk itu gambaran ekonomi Jawa sangat terbatas karena insentif untuk pasar yang buruk (muncul penyimpangan, tenaga kerja terbelakang dan tidak terampil) dan tingkat produktifitas pasar serta spesialisasi ekonomi pun rendah.

Pada abad 19 tingkat urbanisasi juga rendah karena masyarakatnya hanya stagnan bekerja di sektor pertanian pedesaan sehingga tidak ada perpindahan dan tidak ada perputaran arus perekonomian. efeknya: pertukaran pasar dan permintaan atas komoditas pertanian sangat terbatas karena baik di kota maupun desa masih berbasiskan pertanian, dan tingkat transformasi struktural dari perekonomian yang seperti ini masih rendah.

Struktur ekonomi di Jawa dapat dilihat dari adanya impor dan ekspor. Jawa sebagai pengekspor kopi utama (Priangan), teksil tenun, beras, gula, dan rempah-rempah. Struktur ekspor-impor juga merefleksikan kondisi “keterbelakangan” ekonomi jawa yang dilihat dari produk pertanian yang mendominasi ekspor, sementara produk manufaktur mendominasi impor.

Sistem Tanam Paksa 1830-1870

Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, Van Den Bosch berhasil memajukan perekonomian lokal. Di bawah komandonya, perekonomian bergerak dalam sebuah mekanisme yang bernama Sistem Tanam Paksa. Awal tahun 1830-an, di mana periode tanam paksa mulai berlaku, produksi ekspor dalam negeri meningkat secara dramatis. Semisal, hasil kopi meningkat menjadi 64.000 ton pada tahun 1839 di mana pada tahun 1829 hanya mampu mencapai besaran 20.000 ton saja. Begitu pula untuk komoditas gula, pada tahun 1831 hanya mampu mengekspor 6.700 ton namun di tahun 1840 mampu meningkat tajam.

(4)

dengan mudah mengisi posisi birokrasi pada waktu itu. Pun pula mengenai hak memiliki sebagian hasil persawahan dari warga pribumi, elite lokal juga mendapatkannya. Dampaknya, bupati atau regenten pada waktu itu menjadi sangat kaya dan kuat. Selain menjalin kerjasama dengan elite lokal, tanam pakasa juga melibatkan pengusaha China. Utamanya dalam pengolahan gula di mana negara koloni memberikan kredit kepada pengusaha China dalam mendirikan pabrik-pabrik baru.

Selain itu, penyuplaian tenaga kerja dari daerah pun dilakukan secara besar-besaran oleh negara untuk mengisi kantong-kantong ketenagakerjaan di pabrik baru. Negara koloni memberikan jaminan, bahwa gula yang dihasilkan akan dibeli oleh negara dengan harga yang juga terjamin (Fasseur, 1975: 65). Dalam pengaplikasian mekanisme sistem tanam paksa tersebut bisa dikatakan merupakan arena yang memeprtemukan kepentingan negara koloni, elite lokal (jawa), dan pengusaha China. Merekalah pennentu kebijakan dalam hal perekonomian yang sedang berlangsung di masa tanam paksa. Dengan power dan legitimasi yang dimiliki masing-masing aktor tersebut, kiranya bisa kita indikasikan bahwa mereka merupakan kaum borjuasi politik yang mampu mengutak-atik kebijakan untuk kepentingan ekonomi mereka.

Awal kemunculan masyarakat ekonomi di Indonesia barangkali bisa disebabkan oleh beberapa determinan penting seperti Sistem Tanam Paksa yang memusatkan segala aspek ekonomi sosial di tangan penguasa Belanda. Sistem Tanam Paksa merupakan pembentuk pondasi penting kehadiran elite-elite lokal yang berada di sektor ekonomi dalam dinamika sosial masyarakat Indonesia. sebabnya adalah ketika proses akumulasi modal yang dilakukan pemerintah Hindia Belanda memerlukan orang-orang pribumi untuk berada di dalam sistem. Fungsi mereka jelas, sebagai alat komunikasi “baru” untuk mempromosikan kebijakan-kebijakan yang digelontorkan pemerintah Hindia-Belanda. Kerjasama ini kemudian memperkuat posisi masing-masing aktor di dalam sebuah sistem tersebut, dan masyarakatlah yang kemudian tersubordinasi akibat sistem yang memaksa masyarakat tidak memiliki andil yang kuat di dalam proses ekonomi tersebut.

(5)

di era Orde Baru yang memunculkan corak kepentingan negara untuk negara sendiri, contohnya dapat kita lihat di sektor perkebunan melalui perusahaan negara NHM. Hal ini mengacu pada satu kesimpulan bahwa yang dijelaskan Zanden dan Farchan Bulkin mengarah pada satu frame penjelasan yang sama bahwa kemunculan masyarakat ekonomi Indonesia sangat banyak dipengaruhi oleh kolonial, hanya bedanya pada sisi mana awalnya memandang.

Beberapa variabel penting di dalam dnamika ekonomi masyarakat Jawa di abad ke-19 pada umumnya tersebar di beberapa sektor, antara lain pajak, infrastruktur, kebijakan kolonial, selisih harga, pedagang Cina, komoditas, perlindungan hak kepemilikan, dan lain-lain. Dari beberapa variabel tersebut kemudian sistem yang tercipta adalah keterpurukan ekonomi masyarakat yang paling bawah akibat tertindas secara struktural antara lain oleh para pedagang Cina yang secara brutal memonopoli komoditas (terutama beras dan gula) hingga proses eksploitasi secara nyata terlihat di dalam tulisan-tulisan yang menceritakan sejarah ekonomi masyarakat Jawa pada pertengahan abad 19.

Di era 1940-an hingga 1960-an, konsolidasi sistem ekonomi berkembang pesat terutama di pulau Jawa. Komoditas beras yang pada awalnya merupakan produk untuk konsumsi lokal mulai diekspor untuk kepentingan kerajaan Belanda. Motif dari hal ini jelas, mengingat pada saat itu karut-marut penggunaan mata uang masih menjadi problema. Terutama dalam hal satuan pertukaran barang dengan mata uang. Pemberlakuan mata uang pun mulai diterapkan untuk membayar hasil komoditas petani dan sebagai upah pekerja bebas maupun paksa. Jika dilihat dengan menggunakan paradigma neo-institusionalisme, kehadiran sistem seperti ini tak luput dari institusi-institusi sosial maupun ekonomi yang bekerja di dalamnya. Motif tentang persebaran mata uang dan eksploitasi tenaga kerja didukung oleh kelompok-kelompok hegemonik macam priyayi, administrator Belanda, dan para pedagang Cina yang mendukung dari sektor ekonomi dan sosial. Akibatnya adalah sistem yang muncul meng-institusionalisasi-kan sektor-sektor tersebut ke dalam sebuah sistem Tanam Paksa yang oleh beberapa ilmuwan dianggap sebagai sebuah eksperimen awal kemunculan masyarakat ekonomi di Jawa.

(6)

dari faktor-faktor itu, kita dapat melihat bahwa institusi negara serta institusi pasar lain (pedagang Cina) memanfaatkan peluang tersebut sebesar-besarnya demi keuntungan yang berlimpah. Tentu dengan kerjasama dengan pihak lain. Para pedagang Cina bahkan bekerja sama dengan kaum pribumi demi menjaga kepentingan ekonomi-nya dengan meminang gadis-gadis priyayi, memberikan pendidikan, dan lain-lain.

Pasar sebagai sentra ekonomi pun kemudian terbagi menjadi dua, pasar di pedesaan yang sebagian besar dikuasai oleh perantara Cina dan pasar perkotaan yang sedikit lebih fluid

dari aspek penguasaannya antara para pedagang dengan elite lokal. Keberadaan para petani tidak dapat dinafikan ketika harus berurusan dengan sistem produksi masif komoditas seperti ini. sistem upah dan tidak adanya subsistensi- seperti yang dilakukan sebelum adanya sistem tanam paksa- memunculkan ketergantungan yang berlebihan terhadap kredit yang disajikan sedemikian rupa oleh para kreditor di desa. Mereka memberikan kredit dengan bunga cukup tinggi sehingga mengakibatkan masyarakat secara perlahan tapi pasti memberikan hak kepemilikan yang paling riil (yakni tenaga) untuk membayar utang-utang mereka yang terlampau tinggi.

Sementara fragmentasi kekayaan semakin jelas, kehadiran borjuasi ekonomi sekaligus sebagai borjuasi politik hadir di dalam proses transaksional antara kekuasaan (wewenang) dengan modal. Bulkin (1984) mengemukakan bahwa ini merupakan politisasi dan ideologisasi dari kelompok atas golongan Pribumi ( Bangsawan, Intelektual pendidikan Barat, Pemimpin Agama, dan anggota kelompok pedagang komersial). Artinya, kaum elite lokal menyediakan “lahan” untuk para pemodal dengan mentransaksikan sebagian modalnya untuk melanggengkan kekuasaan elite lokal yang berada di wilayah tersebut.

(7)

Daftar Pustaka

C. Fasseur, (1975). Kultuurstelsel en Koloniale Baten: De Nederlandse Exploitatie Van Java 1840-1860. Leiden: University Press.

Farchan Bulkin, 1984, Negara, Masyarakat, dan Ekonomi, Jurnal Prisma, No. 8.

Referensi

Dokumen terkait

Dua ancaman serius yang muncul akibat ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, yakni: faktor ekonomi (keterbatasan eksplorasi yang berakibat pada.. suplai, harga; dan

a) Variabel yang paling berpengaruh terhadap pendapatan masyarakat sekitar kampus dari sektor informal secara keseluruhan antara lain pengalaman kerja, curahan

Untuk variabel yang lain yaitu laju inflasi tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi regional dan variabel tingkat keter- bukaan ekonomi (ekspor netto)

Besar pengaruh inflasi, investasi serta pertumbuhan ekonomi terhadap pengangguran di Indonesia sebesar 27,9 %, sedangkan sisanya sebesar 72,1 % dipengaruhi oleh variabel-variabel

Beberapa aktivitas eksternal ekonomi utama dijalankan oleh Kementerian lain semisal Kementerian Perdagangan untuk aktivitas perdagangan internasional dan Badan Koordinasi

Secara keseluruhan variabel electronic Word of Mouth mempunyai pengaruh yang paling kuat terhadap citra merek dalam menghadapai Masyarakat Ekonomi ASEAN, dimensi

Secara keseluruhan variabel electronic Word of Mouth mempunyai pengaruh yang paling kuat terhadap citra merek dalam menghadapai Masyarakat Ekonomi ASEAN, dimensi

Perubahan Struktural Ekonomi Indonesia pada Masa Orde Baru Melalui International Monetary Fund (IMF) sebagai Institusi dengan Paham Neoliberalisme : Studi Program