• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Aspek Hukum Rekayasa Genetika Ab

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makalah Aspek Hukum Rekayasa Genetika Ab"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

ASPEK HUKUM REKAYASA GENETIKA, ABORSI DAN EUTHANASIA

Oleh :

Solihin Niar Ramadhan 110.110.110.195

Bima Rizki Nurahman 110.110.110.237

Trian Christiawan 110.110.110.244

Dosen :

Dr. Hj. Efa Laela Fakhriah, S.H., M.H.

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS PADJADJARAN

(2)

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Peran ilmu pengetahuan dan tekologi (iptek) dalam segala sektor makin lama makin besar.Khusus menyangkut kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang kesehatan, dapat diketahui dari banyaknya penemuan obat-obatan di bidang farmasi maupun terapi pengobatannya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi medis yang bertumpu pada penelitian, sebagian besar harus didasarkan atas percobaan pada manusia.1Dalam bidang ilmu kedokteran, penelitian pada manusia

merupakan sesuatu yang tak dapat dihindarkan demi perbaikandalam diagnosis, terapi, pencegahan, dan pemberantasan penyakit.2

Penemuan dan pengembangan teknik-teknik dalam bioteknologi medis salah satunya seperti rekayasa genetika yang ada untuk menjawab masalah manusia jarang yang terlepas dari dilema. Di tangan manusia, bioteknologi medis dapat dipakai untuk kepentingan yang jahat dan baik.Teknik-teknik di atas berkembang secara bertahap. Tiap tahapan yang ada tidak pernah lepas dari sikap pro dan kontra. Bukan saja karena ilmu pengetahuan itu sendiri yang dipermasalahkan, melainkan juga implikasi dan dampak yang ditimbulkannya terhadap manusia dari segipertimbangan moral, etika, sosial, hukum, psikologi dan theologi. Segala permasalahan dapat timbul dengan penerapan bioteknologi medis yang meluas ini, misalnya masalah tentang status sebagai subyek hukum dan status bagi orang tua yang melahirkan melalui proses rekayasa genetik diatas cawan petri atau piranti teknologi yang canggih. Dan juga hak-haknya dalam lingkungan kehidupan keluarga dan masyarakat.3

Konsep pembangunan manusia Indonesia seutuhnya adalah upaya bangsa untuk mencapai tujuan pembangunan nasionalnya sebagaimana

1Veronica Komalawati, Peranan Informed Consent Dalam Transaksi Terapeutik Suatu Tinjauan Yuridis Persetujuan Dalam Hubungan Dokter dan Pasien, Bandung : Citra Aditya Bakti, 1999, hlm 89-90.

2 Ratna Suprapti Samil, Etika Kedokteran Indonesia, Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2001, hlm 121.

3 Yuzo Adhinarta S.T., “Syair dalam Teknologi Kontemporer Hari Ini Domba Besok

Gembala Sebuah Kritik Terhadap Kloning dan Semangat

(3)

yang dinyatakan dalam Pembukaan UUD 1945. Tujuan Nasional Negara Indonesia adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.4

Negara dalam rangka mewujudkan tujuannya tersebut harus dikembalikan pada dasar-dasar hakikat manusia. Oleh karena itu, dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkaitan dengan bio-teknologi rekayasa genetika. harus meliputi aspek jiwa yang mencakup akal, rasa dankehendak, aspek raga, aspek individu, aspek makhluk sosial, aspek pribadi dan juga aspek kehidupan ketuhanannya.

Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara hukum.5

Segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan pemerintahan yang berkaitan dengan tujuan hidup masyarakat harus sesuai dengan hukum. Termasuk dalam upaya perlindungan hak asasi manusia warga negaranya.Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsurkesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia.6Kesehatanjuga merupakan salah satu kebutuhan

dasarmanusia, disamping sandang, pangan danpapan. Denganberkembangnya ilmu pengetahuan dan tekologi (iptek) dalam segala sektor khususnya sektor kesehatan,aspek hukum merupakan bagian penting dalam memberikan perlindungan hukum bagi masyarakat.

Dewasa ini dapat dilihat semua bidangkehidupan masyarakat sudah terjamah aspekhukum. Hal ini disebabkan karena padadasarnya manusia mempunyai hasrat untukhidup teratur. Akan tetapi keteraturan bagiseseorang belum tentu sama denganketeraturan bagi orang lain, oleh

4Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945, Alinea 4.

5Lihat Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan RepublikIndonesia Tahun 1945.

(4)

karena itudiperlukan kaidah-kaidah yang mengaturhubungan antar manusia melalui keserasianantara ketertiban dan landasan hukum.

Mengingat adanya perkembangan tuntutan kebutuhan dimasyarakat di satu sisi, dan nuansa pro-kontra pengaturannya dalam instrumen internasional serta kepentingan domestik negara pada sisi lain. Hal ini menciptakan suatu kondisi faktual yang menarik untuk dikaji dan dianalisa bila dikaitkan dengan pengelolaan bioteknologi medis yang aman lingkungan dan sesuai dengan martabat manusia serta melindungi hak-hak asasi manusia. Setidaknya dari hasil kajian ini diharapkan nantinya negara Indonesia perlu memiliki kriteria batas yang jelas antara teknologi dan produk yang berbahaya dan yang tidak diperlukan dengan yang aman dan diinginkan sesuai degan kepentingan bangsa Indonesia dan diatur dengan peraturan perundang-undangan yang jelas.7

B. Identifikasi Masalah

1. Bagaimana aspek hukum dalam praktik rekayasa genetika menurut hukum positif Indonesia ?

2. Bagaimana aspek hukum dalam praktik aborsi menurut hukum positif Indonesia ?

3. Bagaimana aspek hukum dalam praktik euthanasia menurut hukum positif Indonesia?

BAB II

(5)

ASPEK HUKUM REKAYASA GENETIKA, ABORSI, DAN EUTHANASIA DALAM HUKUM POSITIF INDONESIA

A. Tinjauan Umum Rekayasa Genetika dan Aspek Hukum yang Mengaturnya

Genetika disebut juga ilmu keturunan. Berasal dari kata latinGenos yang artinya suku bangsa, mula kejadian atau asal-usul. Genetika adalah ilmu yang mempelajari seluk-beluk alih informasi hayati dari generasi ke generasi.Di era teknologi rekayasa genetika, telah ditemukan sebuah invensi tentang mahluk hidup yang rumusan DNAnya sudah diganti atau ditambah.Mahluk seperti ini disebut “Mahluk Transgenik”.Pada bulan Juli tahun 2000, konsorsium The Human Genome Project Group dan The Celera Company menerbitkan buku tentang rumusan hidup DNA manusia. Setiap manusia memiliki unsur-unsur penting dalam tubuhnya, yaitu :

 Sel;

 Dalam setiap sel terdapat 23 pasang Kromosom;

 Setiap Kromosom berupa kumpulan padat DNA manusia;

 Sepotong DNA terdiri dari 1000-500.000 pasang Nukleus;

 Setiap gen menentukan ciri-ciri, sifat, dan bentuk manusia;

 Setiap gen menginstruksikan pembuatan protein.

Perubahan sepotong DNA disebut mutasi dan setiap mutasi menyebabkan “kelainan”. Teknik mutasi untuk mengubah potongan-potongan DNA dikenal dengan nama Rekayasa Manusia.Penerapan rekayasa genetika bidang kesehatan dan farmasi sampai saat ini antara lain :

 Diproduksinya insulin dengan cepat dan murah.

 Adanya terapi genetic;

 Diproduksinya interferon;

 Diproduksinya beberapa hormon pertumbuhan.

A.1 Aspek Hukum Kekayaan Intelektual di bidang Rekayasa Genetika

(6)

disebut sebagai organisme yang dimodifikasi secara genetik, diberi perlindungan oleh Paten.8

Di negara-negara berkembang, kebijakan untuk memberikan perlindungan terhadap invensi di bidang rekayasa genetika belum banyak diatur oleh paten.Terdapat beberapa faktor yang menjadi sebab tidak diaturnya rekayasa genetika dalam suatu peraturan perundang-undangan secara khusus.Faktor pertama adalah belum banyaknya invensi di bidang rekayasa genetika.Faktor kedua adalah banyaknya anggapan bahwa invensi di bidang rekayasa genetika tersebut bertentangan dengan nilai-nilai moral yang hidup dalam masyarakat.

Di Indonesia, rekayasa genetika tidak diatur dalam undang-undang secara khusus. Namun apabila kita lihat dalam Undang-Undang No.14 Tahun 2001 tentang Paten, terdapat batasan mengenai aspek hukum dalam rekayasa genetika.Paten adalah hak eksklusif yang diberikan oleh Negara kepada Inventor atas hasil Invensinya dibidang teknologi, yang untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri Invensinya tersebut ataumemberikan persetujuannya kepada pihak lain untuk melaksanakannya.9Paten tidak diberikan untuk Invensi tentang:10

a. proses atau produk yang pengumuman dan penggunaan atau pelaksanaannya bertentangan denganperaturan perundang-undangan yang berlaku, moralitas agama, ketertiban umum, atau kesusilaan;

b. metode pemeriksaan, perawatan, pengobatan dan/atau pembedahan yang diterapkan terhadapmanusia dan/atau hewan; c. teori dan metode di bidang ilmu pengetahuan dan matematika;

atau

d. i. semua makhluk hidup, kecuali jasad renik;

ii. proses biologis yang esensial untuk memproduksi tanaman atau hewan, kecuali proses non-biologisatau proses mikrobiologis.

8Tim Lindsey, et.al, Hak Kekayaan Intelektual : Suatu Pengantar, Bandung : Alumni, 2013, hlm.10-11.

(7)

Dari huruf d ke-I, yang dimaksud dengan makhluk hidup dalam huruf d butir i ini mencakup manusia, hewan, atautanaman, sedangkan yang dimaksud dengan jasad renik adalah makhluk hidup yang berukuransangat kecil dan tidak dapat dilihat secara kasat mata melainkan harus dengan bantuanmikroskop, misalnya amuba, ragi, virus, dan bakteri. Kita dapat menyimpulkan bahwa rekayasa genetika dapat diberikan hak paten yang diatur dalam Undang-Undang No.14 Tahun 2001 Tentang Paten, dikhususkan hanya untuk jasad renik, bukan untuk makhluk hidup lain termasuk manusia.

A.2 Aspek Hukum Kesehatan di bidang Rekayasa Genetika

Dalam Undang-Undang No.36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan, tidak mengatur mengenai tindakan rekayasa genetika terhadap manusia. Namun apabila kita lihat dalam Pasal 109, yang menyatakan bahwa :

“Setiap orang dan/atau badan hukum yang memproduksi,mengolah, serta mendistribusikan makanan dan minumanyang diperlakukan sebagai makanan dan minuman hasilteknologi rekayasa genetik yang diedarkan harus menjaminagar aman bagi manusia, hewan yang dimakan manusia, danlingkungan.”

Pasal tersebut hanya mengatur mengenai penggunaan teknologi rekayasa genetika terhadap pengamanan makanan atau minuman agar layak dikonsumsi oleh manusia.Pemerintah berwenang dan bertanggung jawab mengatur danmengawasi produksi, pengolahan, pendistribusian makanan,dan minuman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 109,Pasal 110, dan Pasal 111.11

Peraturan pelaksana yang mengatur mengenai rekayasa genetik di Indonesia terdapat dalam Peraturan Pemerintah No.21 Tahun 2005 tentang Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetika.Namun peraturan pemerintah tersebut bukan merupakan peraturan pelaksana dari Pasal 109 Undang-Undang No.36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan.

(8)

A.3 Aspek Etika

Masalah etis akan segera timbul apabila bioteknologi medis ini diterapkan kepada manusia, karena dalam proses pembuahan di tabung petri, biasanya banyakembrio dihasilkan, tetapi tidak semua dapat dipakai untuk ditanam dalam rahim, maka oleh sebab itu sebagian lagi akan dimusnahkan atau dibuang. Padahal secara etis embrio adalah mahkluk hidup. Apalagi jika kloning manusia dilakukan dengan menggunakan jasa bank sel telur dan melibatkan pihak ketiga yaitu ibu pengandung yang menyediakan jasa penyewaan rahimnya sampai pada proses kelahiran. Tidak terbayangkan betapa kompleksnya permasalahan etis yang akan timbul.

Dalam hukum kesehatan, pengembangan iptek sebagai hasil budaya manusia Indonesia didasarkan pada moral ketuhanan dan kemanusiaan yang adil dan beradab. Atas dasar landasan filosifis tersebut maka penelitian dan penerapan bioteknologi rekayasa genetika untuk tujuan pengobatan medis (cloning terapeutic) dibuka ruang untuk itu, karena mempunyai nilai manfaat bagi umat manusia, sepanjang tentunya dilakukan sesuai dengan informed consent maupun reserved informed consent sebagai rambu-rambu yang harus ditaati oleh setiap peneliti, demi untuk mencegah penyalahgunaan kode genetika dan informasi genetika. Hal ini untuk mengantisipasi potensi terjadinya pelanggaran hak dalam hubungan kontraktual.12

B. Tinjauan Umum Aborsi dan Aspek Hukum yang Mengaturnya Terdapat istilah ilmiah yang dalam bahasa Belanda disebut dengan afdrijving, atau dalam bahasa Latin disebut dengan Abortus yang dialihkan dalam bahasa Indonesia dengan istilah Aborsi atau gugur kandungan. Abortus artinya keluarnya buah kandungan/buah kehamilan sebelum tiba waktunya untuk dilahirkan menurut alam, yaitu pada waktu janin masih demikian kecilnya, sehingga tidak dapat hidup terus. Sehubungan dengan hal itu, ilmu kedokteran membedakan ke dalam 3 kriteria, yaitu :

(9)

1) Abortus : yaitu masa berakhirnya kehamilan yang berlangsung kurang dari 28 minggu, atau bila berat bayi yang dilahirkan kurang dari 1000 gram.

2) Partus Prematurus:yaitu persalinan sebelum waktunya, yang merupakan berakhirnya kehamilan diantara minggu ke 28 sampai minggu ke 38, atau berat bayi lebih dari 2500 gram. 3) Partus a Terme : yaitu persalinan yang terjadi pada waktunya,

yang merupakan masa kehamilan berakhir minggu ke 38 sampai minggu ke 42.

Dikenal 2 macam abortus, yaitu :13

1. Abortus Spontanius (Aborsi spontan/keguguran/keluron/miskram), yaitu aborsi yang terjadi dengan sendirinya, tanpa pengaruh dari luar. Hal ini tidak ada aspek hukum yang mengaturnya karena kehendak Tuhan.

2. Abortus Provokatus (Aborsi buatan), yaitu aborsi yang dilakukan dengan sengaja. Jenis aborsi ini terdiri dari 2 macam, yaitu :

1) Abortus Provocatus Tharapeutis / Medicinalis, yaitu aborsi yang dilakukan berdasarkan indikasi medis karena kehamilan merupakan bahaya yang terlalu besar bagi wanita atau pertimbangan lain yang dibenarkan oleh Undang-Undang, yaitu terdapat dalam Pasal 75 ayat (2) Undang-Undang No.36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan yang menyatakan: tidakdapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebuthidup di luar kandungan; atau

b. kehamilan akibat perkosaan yang dapatmenyebabkan trauma psikologis bagi korbanperkosaan.”

(10)

Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah melalui konseling dan/ataupenasehatan pra tindakan dan diakhiri dengan konselingpasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yangk ompeten dan berwenang.14Dalam pasal 76

Undang-Undang No.3 Tahun 2009, Aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan:

a. sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung darihari pertama haid terakhir, kecuali dalam hal kedaruratanmedis;

b. oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri;

c. dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan; d. dengan izin suami, kecuali korban perkosaan; dan

e. penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yangditetapkan oleh Menteri.”

2) Abortus Provocatus Criminalis, yaitu aborsi yang dilakukan dengan maksud yang tidak dibenarkan oleh undang-undang. Jenis aborsi ini termasuk dalam golongan kejahatan terhadap nyawa seorang anak yang masih dalam kandungan seorang wanita (doodslag op een aan geboren vrucht) yang diatur dalam Pasal 346 s.d Pasal 349 KUHP.

Pasal 346

Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.

Pasal 347

(1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.

(11)

(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

Pasal 348

(1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.

(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencarian dalam mana kejahatan dilakukan. tidaksesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal75 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10(sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00(satu miliar rupiah).”

C. Tinjauan Umum Euthanasia dan Aspek Hukum yang Mengaturnya

(12)

bringing about of easy and painless death for reason suffering from an incurable an painfull desease).

Sahetapy membedakan euthanasia ke dalam 3 jenis, yaitu :15

1) Action ti Permit Death to Occur

Kematian ini dapat terjadi karena pasien dengan sungguh-sungguh dan secara cepat menginginkan untuk mati.Jenis euthanasia ini yang biasa disebut dengan euthanasia dalam arti yang pasif (permission). 2) Failure to Take Action to Prevent Death

Kematian ini terjadi karena kelalaian atau kegagalan dari seorang dokter dalam mengambil suatu tindakan untuk mencegah adanya kematian.

3) Positive Action to Cause Death

Kematian jenis ini merupakan tindakan positif dari dokter untuk mempercepat terjadinya kematian.Euthanasia jenis ini bersifat aktif.

Menurut Kode Etik Kedokteran Indonesia, kata euthanasia dipergunakan dalam tiga arti, yaitu :

a. Berpindah ke alam baka dengan tenang dan aman tanpa penderitaan dan bagi yang beriman dengan nama Allah di bibirnya. b. Waktu hidup akan berakhir (sakaratul maut) penderitaan pasien

diperingan dengan memberi obat penenang;

c. Mengakhiri penderitaan dan hidup pasien dengan sengaja atas permintaan pasien sendiri dan keluarganya.

Dalam hukum positif Indonesia, euthanasia atau pembunuhan atas permintaan sendiri yang jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati dari si korban diatur dalam Pasal 344 KUHP yang menyatakan : “Barang siapa merampas nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri yang jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.” Jenis kejahatan pembunuhan ini memiliki unsur khusus, yaitu :

(13)

4) Atas permintaan orang itu sendiri yang jelas (uitdrukkelijk); 5) Dinyatakan dengan kesungguhan hati (ernstig).

Jenis kejahatan pembunuhan ini secara umum terjadi dalam hal apabila seseorang menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan (incurable desease).Mengikuti pendapat Leenen, bahwa euthanasia baru ada bilamana atas permintaan dari pasien untuk dilakukan tindakan atau membiarkan tanpa dilakukannya tindakan dan karenanya yang memintakan meninggal dunia sebagai akibat langsung dari tindakan tersebut.16

BAB III PENUTUP A. Simpulan

 Dalam hukum positif Indonesia, aspek hukum pidana tidak mengatur mengenai rekayasa genetika. Rekayasa genetika diatur dalam aspek hukum perdata dan hukum kekayaan intelektual. Pengembangan iptek khususnya rekayasa genetika sebagai hasil budaya manusia didasarkan pada moral ketuhanan dan kemanusiaan yang adil dan beradab. Atas dasar landasan filosifis tersebut maka

(14)

penelitian dan penerapan bioteknologi rekayasa genetika untuk tujuan pengobatan medis (cloning terapeutic) dibuka ruang untuk itu, karena mempunyai nilai manfaat bagi umat manusia.Hal tersebut duatur sepanjang tentunya dilakukan sesuai dengan informed consent maupun reserved informed consent sebagai rambu-rambu yang harus ditaati oleh setiap peneliti, demi untuk mencegah penyalahgunaan kode genetika dan informasi genetika. Hal ini untuk mengantisipasi potensi terjadinya pelanggaran hak dalam hubungan kontraktual.

 Dalam hukum positif Indonesia, aspek hukum pidana mengatur mengenai aborsi. Dikenal 2 macam abortus, yaitu Abortus Spontanius (Aborsi spontan/keguguran/keluron/miskram), danAbortus Provokatus (Aborsi buatan). Aborsi yang mengandung aspek hukum adalah aborsi buatan. Tidak semua aborsi buatan merupakan ilegal, terdapat ketentuan pengecualian untuk dilakukannya aborsi buatan ini, yaitu antara lain adanya indikasi medis yang dapat membahayakan pihak ibu atau anak. Aborsi buatan selain melanggar nilai-nilai keagamaan juga melanggar undang-undang. Secara umum ketentuan pidana diatur dalam pasal 346, 347, 348 dan 349 KUHP, dan secara khusus diatur dalam pasal 194 Undang-Undang No.36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan.

(15)

DAFTAR PUSTAKA

Arman Anwar, Penerapan Bioteknologi Rekayasa Genetika di Bidang Medis Ditinjau dari Perspektif Filsafat Pancasila, HAM dan Hukum Kesehatan di Indonesia, Jurnal Sasi Vol.17 No.4,Periode Oktober-Desember 2010.

Atang Ranoemihardja, Ilmu Kedokteran Kehakiman : Forensic Science, Bandung : Tarsito, 1983.

Ratna Suprapti Samil, Etika Kedokteran Indonesia, Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2001.

(16)

Sofjan Ranggawidjaja, Tidak Pidana Khusus dalam KUHP, Bandung, Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, 2013.

Tim Lindsey, et.al, Hak Kekayaan Intelektual : Suatu Pengantar, Bandung : Alumni, 2013.

Veronica Komalawati, Membangun Hukum Yang Manusiawi Dalam Mencegah Eksploitasi Bioteknologi, Informasi Genetik, Dan Bioterorisme di Indonesia, Orasi Ilmiah Guru Besar Hukum Kesehatan, Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Bandung, 2009.

Veronica Komalawati, Peranan Informed Consent Dalam Transaksi Terapeutik Suatu Tinjauan Yuridis Persetujuan Dalam Hubungan Dokter dan Pasien, Bandung : Citra Aditya Bakti, 1999.

Yuzo Adhinarta S.T., “Syair dalam Teknologi Kontemporer Hari Ini Domba Besok Gembala Sebuah Kritik Terhadap Kloning dan Semangat Zaman”,<http://members.tripod.com /GKA_Gloria/feb98.htmab> [23/11/2014].

Undang-Undang No.14 Tahun 2001 Tentang Paten

Referensi

Dokumen terkait

Atas dasar definisi tersebut, selanjutnya penulis mengemukakan hipotesis sebagai berikut “Terdapat kontribusi yang signifikan pada Pelatihan “In House Training” Guru

Hasil dari penelitian ini adalah sebuah alat pendingin ruangan dengan sistem sensor suhu LM35 yang menghasilkan persentase keberhasilan 95% karena tingkat

Dikenal 2 tipe sebaran nematoda, yaitu sebaran secara vertikal dan sebaran secara horizontal. Faktor utama yang menentukan sebaran nema-toda secara vertikal adalah

Kajian tentang makna kata berarti memahami analisis hubungan makna yang membedakannya dengan kata lain, (Lyon, 1979:204). Dengan kata lain, analisis makna kata

Perumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimana melakukan penjadwalan cement mill untuk memproduksi semen OPC dan semen Non OPC dengan meminimasi jumlah pembilasan

Siswanto dkk.: Pengaruh temperatur terhadap struktur mikro dan sifat mekanik dalam proses fussion brazing Ni-Hard 4 dengan S45C menggunakan CuZn 35 sebagai logam pengisi. Rohrig

Wajib pajak akan berprilaku patuh dalam melaksanakan kewajiban peprajakan apabila wajib pajak dapat memperoleh banyak manfaat atas kepemilikan NPWP, wajib pajak

Alhamdulillah, puji syukur peneliti panjatkan kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala atas berkah, rahmat dan hidayah -Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan penulisan skripsi