• Tidak ada hasil yang ditemukan

UPT KEAMANAN KESEHATAN KESELAMATAN KERJA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "UPT KEAMANAN KESEHATAN KESELAMATAN KERJA"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

BAB 1

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

1.1 Pendahuluan

Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan instrumen yang memproteksi pekerja, perusahaan, lingkungan hidup, dan masyarakat sekitar dari bahaya akibat kecelakaan kerja. K3 bertujuan mencegah, mengurangi, bahkan menihilkan risiko kecelakaan kerja (zero accident). Penerapan konsep ini tidak boleh dianggap sebagai upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang menghabiskan banyak biaya (cost), melainkan harus dianggap sebagai bentuk investasi jangka panjang yang memberi keuntungan yang berlimpah pada masa yang akan datang.

Bangunan gedung adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya, sebagian atau seluruhnya berada di atas dan/atau di dalam tanah dan/atau air, yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, baik untuk hunian atau tempat tinggal, kegiatan keagamaan, kegiatan usaha, kegiatan sosial, budaya, maupun kegiatan khusus. Undang-undang No.28 Tahun 2002 Pasal 16 (1) menyatakan bahwa suatu bangunan gedung haruslah memiliki keandalan yang sesuai dengan fungsinya. Keandalan bangunan gedung adalah keadaan bangunan yang memenuhi persyaratan keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kemudahan. Pencegahan dan penanggulangan terhadap bahaya kebakaran, instalasi penangkal petir dan instalasi listrik, dan kemampuan gedung menopang beban merupakan suatu syarat keselamatan, sedangkan penghawaan (ventilasi), pencahayaan dan sanitasi bangunan gedung merupakan suatu syarat kesehatan.

(3)

1.2 Definisi Keselamatan Kerja

Keselamatan kerja diartikan sebagai kondisi yang bebas dari resiko kecelakaan atau kerusakan atau dengan resiko yang relatif sangat kecil di bawah tingkat tertentu (Simanjuntak, 1994). Kondisi kerja yang aman/selamat perlu dukungan dari sarana dan prasarana keselamatan yang berupa peralatan keselamatan, alat perlindungan diri dan rambu-rambu. Alat-alat yang tergolong sebagai penunjang keselamatan kerja tersebut antara lain adalah helm, sarung tangan, masker, jaket pelindung, peralatan kebakaran, dan pelindung kaki. Untuk prasarana keselamatan seperti rambu-rambu/tanda peringatan memerlukan ketentuan-ketentuan yaitu mudah terlihat, mudah di baca, dan tahan lama; di tulis dalam bahasa resmi negara yang menggunakan produk yang dimaksud, kecuali bila secara teknis salah satu bahasa tertentu dianggap lebih sesuai; ringkas dan jelas; dan menjelaskan tingkat bahaya dan memberikan cara mengurangi resiko (Simanjuntak, 1994). Keselamatan kerja bertujuan untuk melindungi keselamatan tenaga kerja di dalam melaksanakan tugasnya juga melindungi keselamatan setiap orang yang berada di tempat kerja, selain itu melindungi keamanan peralatan dan sumber

produksi agar selalu dapat digu aka se ara efisie (“u a’ ur,

1996).

1.3 Definisi Kesehatan Kerja

(4)

hidup yang berkualitas, baik di rumah maupun dalam pekerjaan. Kesehatan juga merupakan faktor penting menjaga keberlangsungan sebuah organisasi.

1.4 Perlindungan Terhadap Pengguna Gedung

Pada dasarnya usaha untuk memberikan perlindungan keselamatan kerja pada pengguna gedung kampus ITB dalam hal ini didalamnya termasuk pekerja, pendidik, mahasiswa serta siapapun yang berada di dalamnya dilakukan 2 cara (Soeprihanto, 1996) yaitu:

1. Usaha preventif atau mencegah

Preventif atau mencegah berarti mengendalikan atau menghambat sumber-sumber bahaya yang terdapat di tempat kerja sehingga dapat mengurangi atau tidak menimbulkan bahaya bagi para pengguna gedung.

Langkah-langkah pencegahan itu dapat dibedakan, yaitu :  Subsitusi (mengganti alat/sarana yang kurang/tidak

berbahaya)

 Isolasi (memberi isolasi/alat pemisah terhadap sumber bahaya)

 Pengendalian secara teknis terhadap sumber-sumber bahaya.

 Pemakaian alat pelindung perorangan (eye

protection/googles, safety hat/cap/helmet, ear

plug/muff, gas respirator, dust respirator, gloves, tali pengaman/safety harness untuk bekerja di ketinggian dan lain-lain).

 Petunjuk dan peringatan di tempat kerja.

 Latihan dan pendidikan keselamatan dan kesehatan kerja.

2. Usaha represif atau kuratif

(5)

pengguna gedung sebagai suatu kesatuan atau team kerja sama dalam rangka mengatasi dan menghadapinya. Selain itu terutama persiapan alat atau sarana lainnya yang secara langsung didukung oleh bagian pemeliharaan gedung.

(6)

BAB 2

KESELAMATAN GEDUNG

2.1 Kebakaran

2.1.1 Pencegahan Dan Penanggulangan Terhadap Bahaya Kebakaran

Pertimbangan utama mengapa perlu upaya penanggulangan bahaya kebakaran adalah karena : adanya potensi bahaya kebakaran di semua tempat, kebakaran merupakan peristiwa berkobarnya api yang tidak dikehendaki dan selalu membawa kerugian. Dengan demikian usaha pencegahan harus dilakukan oleh setiap indivisu dan unit kerja agar jumlah peristiwa kebakaran, penyebab kebakaran dan jumlah kecelakaann dapat dikurangi sekecil mungkin melalui perencanaan yang baik.

Melalui pelatihan atau fire drilling secara berkala diharapkan pengguna gedung mampu : mengidentifikasi potensi penyebab kebakaran di lingkungan tempat kerjanya dan melakukan upaya pemadaman kebakaran dini. Kebakaran terjadi akibat bertemunya 3 unsur : bahan (yang dapat ter)bakar; suhu penyalaan/titik nyala dan zat pembakar (O2 atau udara). Untuk mencegah terjadinya kebakaran adalah dengan mencegah bertemunyan salah satu dari dua unsur lainnya.

Berdasarkan pemahaman karakteristik kebakaran pada bangunan yang umumnya cellulosic fire maka pengamanan terhadap kebakaran mencakup hal-hal sebagai berikut:

a. Pengendalian lewat perancangan bangunan yang diarahkan pada upaya minimasi timbulnya kebakaran dan intensitas terjadinya kebakaran, yang menyangkut minimasi beban api, rancangan sistem ventilasi, sistem kontrol asap, penerapan sistem kompartemenisasi dll yang dikenal sebagai sistem proteksi pasif.

(7)

rancangan pemasangan sistem deteksi & alarm kebakaran, sistem pemadam basis air (sprinkler, slang kebakaran, hose reel), sistem pemadam basis kimia (apar, pemadam khusus) dan sarana pendukungnya (disebut sistem proteksi aktif). c. Pengendalian lewat tata kelola bangunan yang

meng-antisipasi terjadinya bahaya kebakaran didasarkan pada analisis potensi bahaya kebakaran, analisis resiko dan penaksiran bahaya kebakaran (fire hazard assessment) sesuai tahap-tahap pertumbuhan kebakaran dalam ruangan. Tata kelola ini sering disebut sebagai Fire Safety Management yang mencakup kondisi sebelum, pada saat dan setelah kejadian kebakaran.

2.1.2 Sebab-sebab Kebakaran

 Kebakaran karena sifat kelalaian manusia, seperti : kurangnya pengertian pengetahuan penanggulangan bahaya kebakaran; kurang hati menggunakan alat dan bahan yang dapat menimbulkan api; kurangnya kesadaran pribadi atau tidak disiplin.

 Kebakaran karena peristiwa alam, terutama berkenaan dengan cuaca, sinar matahari, letusan gunung berapi, gempa bumi, petir, angin dan topan.

 Kebakaran karena penyalaan sendiri, sering terjadi pada gudang bahan kimia di mana bahan bereaksi dengan udara, air dan juga dengan bahan-bahan lainnya yang mudah meledak atau terbakar.

(8)

2.1.3 Peralatan Pemadaman Kebakaran

Untuk mencegah dan menanggulangi kebakaran perlu disediakan peralatan pemadam kebakaran yang sesuai dan cocok untuk bahan yang mungkin terbakar di tempat yang bersangkutan.

Perlengkapan dan alat pemadam kebakaran sederhana

 Air, bahan alam yang melimpah, murah dan tidak ada akibat ikutan (side effect), sehingga air paling banyak dipakai untuk memadamkan kebakaran. Persedian air dilakukan dengan cadangan bak-bak iar dekat daerah bahaya, alat yang diperlukan berupa ember atau slang/pipa karet/plastik.  Pasir, bahan yang dapat menutup benda terbakar sehingga

udara tidak masuk sehingga api padam. Caranya dengan menimbunkan pada benda yang terbakar menggunakan sekop atau ember

 Karung goni, kain katun, atau selimut basah sangat efektif untuk menutup kebakaran dini pada api kompor atau kebakaran di rumah tangga, luasnya minimal 2 kali luas potensi api.

 Tangga, gantol dan lain-lain sejenis, dipergunakan untuk alat bantu penyelamatan dan pemadaman kebakaran.

2.1.4 Alat Pemadam Api Ringan (APAR)

APAR adalah alat yang ringan serta mudah dilayani oleh satu orang untuk memadamkan api pada awal terjadinya kebakaran. Tabung APAR harus diisi ulang sesuai dengan jenis dan konstruksinya. Jenis APAR meliputi : jenis air (water), busa (foam), serbuk kering (dry chemical) gas halon dan gas CO2, yang berfungsi untuk menyelimuti benda terbakar dari oksigen di sekitar bahan terbakar sehingga suplai oksigen terhenti. Zat keluar dari tabung karena dorongan gas bertekanan.

(9)

 APAR jenis tertentu bukan merupakan pemadam untuk segala jenis kebakaran, oleh karena itu sebelum menggunakan APAR perlu diidentifikasi jenis bahan terbakar.

 APAR hanya ideal dioperasikan pada situasi tanpa angin kuat, APAR kimiawi ideal dioperasikan pada suhu kamar

 Waktu ideal : 3 detik operasi, 10 detik berhenti, waktu maksimum terus menerus 8 detik.

 Bila telah dipakai harus diisi ulang

 Harus diperiksa secara periodik, minimal 2 tahun sekali.

Gambar 2.1. Konstruksi APAR

2.1.5 Alat Pemadam Kebakaran Besar

Alat-alat ini ada yang dilayani secara manual ada pula yang bekerja secara otomatis. Alat pemadam besar dapat dikelompokkan menjadi:

 Sistem hidran mempergunakan air sebagai pemadam api. Terdiri dari pompa, saluran air, pilar hidran (di luar gedung), boks hidran (dalam gedung) berisi : slang landas, pipa kopel, pipa semprot dan kumparan slang

 Sistem penyembur api (sprinkler system), kombinasi antara sistem isyarat alat pemadam kebakaran.

(10)

2.1.6 Pedoman Singkat Antisipasi Dan Tindakan Pemadaman Kebakaran

 Tempatkan APAR selalu pada tempat yang sudah ditentukan, mudah dijangkau dan mudah dilihat, tidak terlindung benda/perabot seperti lemari, rak buku dsb. Beri tanda segitiga warna merah panjang sisi 35 cm.

 Siagakan APAR selalu siap pakai.

Gambar 2.2. Contoh cara penggunaan alat pemadam api ringan

(11)

Gambar 2.3. Jenis-jenis APAR

 Bila terjadi kebakaran besar : bertindaklah dengan tenang, beritahu orang lain untuk pengosongan lokasi, nyalakan alarm, hubungi petugas pemadam kebakaran.

 Upayakan latihan secara periodik untuk dapat bertindak secara tepat dan tenang.

2.1.7 Fasilitas Penunjang

Keberhasilan pemadaman kebakaran juga ditentukan oleh keberadaan fasilitas penunjang yang memadai, antara lain :

Fire alarm secara otomatis akan mempercepat diketahuinya peristiwa kebakaran. Beberapa kebakaran terlambat diketahui karena tidak ada fire alarm, bila api terlanjur besar maka makin sulit memadamkannya.

 Jalan petugas, diperlukan bagi petugas yang datang menggunakan kendaraan pemadam kebakaran, kadang harus mondar-mandir/keluar masuk mengambil air, sehingga perlu jalan yang memadai, keras dan lebar, juga untuk keperluan evakuasi. Untuk itu diperlukan fasilitas :

(12)

 Pintu dapat dibuka dari dalam tanpa kunci

 Lebar pintu dapat dilewati 40 orang/menit

(13)
(14)

2.2 Instalasi Penangkal Petir

Salah satu gangguan alam yang sering terjadi adalah sambaran petir. Mengingat letak geografis Indonesia yang dilalui garis katulistiwa menyebabkan Indonesia beriklim tropis, akibatnya Indonesia memiliki hari guruh rata – rata per tahun yang sangat tinggi. Dengan demikian bangunan – bangunan di Indonesia memiliki resiko lebih besar mengalami kerusakan akibat terkena sambaran petir. Kerusakan yang ditimbulkan dapat membahayakan peralatan serta manusia yang berada di dalam gedung tersebut. Untuk melindungi dan mengurangi dampak kerusakan akibat sambaran petir maka dipasang sistem pengaman pada gedung bertingkat. Sistem pengaman itu salah satunya berupa sistem penangkal petir beserta pentanahannya. Pemasangan sistem tersebut didasari oleh perhitungan resiko kerusakan akibat sambaran petir terhadap gedung. Perhitungan resiko ini digunakan sebagai standar untuk mengetahui kebutuhan pemasangan sistem penangkal petir pada bangunan bertingkat tersebut

2.2.1 Resiko Kerusakan Akibat Sambaran Petir

Sambaran petir dapat mengakibatkan beberapa kerusakan, yaitu :

 Kematian atau korban jiwa

 Kerusakan mekanis.

Apabila arus yang besar dilepaskan pada konduktor parallel yang berdekatan atau pada suatu konduktor dengan tekukan yang tajam, akan timbul gaya mekanis yang cukup besar. Oleh karena itu, diperlukan ikatan mekanis yang cukup kuat.

(15)

 Kerusakan thermal

Dalam kaitan dengan sistem proteksi petir, efek termal pelepasan muatan petir adalah terbatas pada kenaikan besar, waktunya adalah singkat dan pengaruhnya pada sistem proteksi biasanya diabaikan. Umumnya, luas penampang konduktor proteksi petir dipilih terutama untuk memenuhi persyaratan kuat mekanis, yang berarti sudah akan cukup besar untuk membatasi kenaikan temperatur sebesar 1°C.

 Kerusakan elektrik

2.2.1 Sistem Pengaman Pada Gedung

Sistem pengaman gedung dibuat untuk melindungi gedung tersebut dari berbagai macam gangguan. Salah satu sistem pengaman gedung adalah sistem penangkal petir beserta pembumiannya. Instalasi bangunan yang menurut letak, bentuk, penggunaanya dianggap mudah terkena sambaran petir dan perlu dipasang penangkal petir adalah :

 Bangunan tinggi seperti gedung bertingkat, menara, dan cerobong pabrik.

 Bangunan-bangunan tempat penyimpanan bahan yang mudah terbakar atau meledak seperti pabrik amunisi, atau gudang penyimpan bahan peledak.

 Bangunan-bangunan sarana umum seperti gedung bertingkat pusat perbelanjaan, instansi pemerintahan, sekolah dan sebagainya.

 Bangunan yang berdasar fungsi khusus perlu dilindungi seperti gedung arsip negara.

(16)

lebih dari 1 meter, maka sistem yang sesuai adalah metode franklin yaitu sistem penangkal petir dengan elektroda batang (fiial).

2.2.1.1 Ruang Proteksi Konvensional

Pada masa awal diketemukannya penangkal petir dan beberapa tahun setelah itu, ruang proteksi dari suatu penangkal petir berbentuk ruang kerucut dengan sudut puncak kerucut berkisar antara 30° hingga 35° (Gambar 2.5.a). Pemilihan besarnya sudut proteksi ini menyatakan tingkat proteksi yang diinginkan. Semakin kecil sudut proteksi maka semakin tinggi tingkat proteksi yang diperoleh (semakin baik), namun semakin mahal biaya pembangunannya.

Gambar 2.5. Ruang proteksi konvensional

(17)

2.2.1.2 Ruang Proteksi Non Konvensional

Ruang proteksi menurut model elektro geometri hampir sama dengan ruang proteksi berdasarkan konsep lama, yaitu berbentuk ruang kerucut juga, hanya saja bidang miring dari kerucut tersebut melengkung dengan jari-jari tertentu (Gambar 2.6).

Gambar 2.6. Ruang proteksi non konvensional

Besar jari-jari ini sama dengan besarnya jarak sambar dari lidah petir. Jarak sambar (kemampuan menyambar atau menjangkau suatu benda) dari lidah petir ini ditentukan oleh besarnya arus petir yang terjadi. Dengan demikian, derajat kelengkungan dari bidang miring kerucut dipengaruhi oleh besarnya arus petir yang terjadi.

2.2.2 Prosedur Pemeliharaan Instalasi Penangkal Petir

Program pemeliharaan secara periodik sebaiknya dilakukan untuk semua instalasi penangkal petir. Frekuensi dari pemeliharaan tergantung pada hal-hal sebagai berikut :

a. cuaca dan lingkungan yang berhubungan dengan degradasi b. kerusakan aktual akibat petir

c. tingkat proteksi yang telah ditetapkan untuk bangunan gedung

(18)

c. Pengukuran resistans bumi dari terminasi bumi.

d. Pemeriksaan gawai proteksi surya (GPS) dan penggantian GPS yang rusak.

e. Pemeriksaan untuk menjamin efektivitas SPP tidak berkurang setelah menerima tambahan atau terjadi perubahan dalam bangunan gedung dan instalasi.

2.2.3 Panduan Keselamatan Selama Aktivitas Petir Berlangsung Seseorang dapat mengalami luka yang fatal akibat sengatan petir atau terbakar akibat sambaran petir. Berikut ini adalah panduan umum dalam kilang untuk mencegah pengguna gedung terhadap luka sengatan listrik atau terbakar akibat sambaran petir.

 Jangan keluar atau tetap di luar selama ada guruh bila hal tersebut terakhir diperlukan.

 Cari tempat berteduh yang dapat melindungi terhadap sambaran petir seperti struktur sebagai berikut:

a. Rumah tinggal atau bangunan lain yang telah diproteksi terhadap sambaran petir.

b. Bangunan berangka logam atau bangunan dari logam yang besar seperti penyangga kolom, rak pipa diatas tanah.

c. Bangunan besar yang belum diproteksi.

d. Dalam mobil, bis, truk, forklift atau kendaraan terbuat dari logam.

e. Jalan penghubung yang dinaungi oleh bangunan dikanan-kirinya.

 Hindari tempat yang hanya sedikit atau tidak diproteksi terhadap sambaran petir sebagai berikut:

a. Bangunan kecil yang tidak diproteksi. b. Tempat berteduh sementara.

c. Mobil terbuka atau mobil dengan badan tidak terbuat dari logam.

(19)

 Hindari lokasi - lokasi yang mengandung bahaya tinggi selama bunyi guruh berlangsung seperti berikut :

a. Lapangan terbuka. b. Tempat parkir.

c. Dekat pagar kawat, dibawah bentangan kawat-kawat dan jalur rel kereta api.

d. Dibawah peralatan listrik, telepon, talang air atau benda yang konduktif secara elektris.

 Bila tidak memungkinkan untuk mencari tempat yang aman terhadap sambaran petir. sebaiknya dilaksanakan petunjuk-petunjuk sebagai berikut:

a. Cari area yang cekung, hindari tempat-tempat yang tinggi.

b. Cari bangunan atau tempat berteduh pada area yang rendah, hindari bangunan yang tidak diproteksi atau tempat berteduh pada area tinggi.

(20)

2.3 Instalasi listrik

2.3.1 Penyebab Kebakaran Karena Listrik

Proses terjadinya energi panas karena listrik sehingga dapat menyebabkan kenakaran dapat terjadi dari beberapa sebab, yaitu :

 Hubungan Singkat Langsung (Dead Short Circuits)  Hubungan Singkat Tak langsung (Limited Short Circuit)

 Pembebanan & pemanasan lebih (Overloaded & Over heating Circuit)

 Arus Bocor (Leakage Current)

 Penyambungan dan pemutusan aliran listrik (Electrical Contacts & Spark)

2.3.2 Hubungan Singkat Langsung (Dead Short Circuits)

Hubungan Singkat Langsung adalah hubungan singkat yang terjadi antara hantaran fasa dengan hantaran netral secara langsung. Kejadian ini umumnya berlangsung sangat singkat karena pengaman (fuse /MCB) bekerja dengan cepat sehingga tidak menimbulkan panas yang berlebihan. Persolan akan muncul jika kapasitas pengamannya tidak sesuai (terlalu besar), maka penghantar akan mengalami pemanasan berlebihan yang dapat memicu terjadinya kebakaran awal.

2.3.3 Hubungan Singkat Tak langsung (Limited Short Circuit) Hubungan Singkat Tak langsung adalah hubungan singkat yang terjadi karena adanya material yang menghubungkan hantaran fasa dan hantaran netral sehingga arus hubungan singkatnya belum mengaktifkan pengaman untuk bekerja. Oleh sebab itu percikan (spark) atau loncatan api (flash) yang terjadi berlangsung lama. Kejadian ini disusul terjadinya proses pemanasan berkelanjutan sehingga terjadi api (self-sustaining exothermic oxidation reaction or fire).

2.3.4 Pembebanan & Pemanasan Lebih (Overloaded & Over heating Circuit)

(21)

(KHA). Pemanasan lebih adalah kejadian dimana suatu rangkaian dibebani arus tidak melebihi kemampuan hantaran arus (KHA) tetapi mengalami pemanasan melebihi batas yang diijinkan. Hal ini bisa terjadi disebabkan oleh:

 Pengaman cabang atau induk kapasitasnya melebihi besaran standar.

 Adanya arus harmonik yang besar.  Sistem instalasi yang tidak benar.

Meskipun kabel didesain cukup, tetapi karena lokasi sirkit yang tidak memenuhi syarat dapat memicu terjadinya panas yang berlebihan (excess heat) yang bisa menyebabkan timbulnya api pemicu kebakaran awal. Sebagai contoh, kabel rol yang dibentang diatas lantai kemudian ditutup karpet. Karena ditutup karpet, panas yang terjadi akan berakumulasi sehingga isolasi rusak. Kabel rol, terdiri dari kabel serabut, karena panas yang berlebihan akhirnya satu persatu serabutnya putus dan pada kondisi tertentu akan terjadi spark and flashing sehi gga terjadi api ke akara awal ya g mengenai karpet dan api semakin membesar.

2.3.5 Arus Bocor (Leakage Current)

Arus bocor terjadi jika ada degradasi kualitas isolasi dari komponen instalasi, misalnya kerusakan isolasi kabel. Sebagai contoh, misalnya kabel terkelupas kemudian terkena air, maka air akan mengalirkan arus listrik yang menimbulkan panas. Karena kontaminasi diudara bermacam-macam (garam) maka pada titik bocor tersebut akan terjadi lintasan panas (api).

2.3.6 Penyambungan Dan Pemutusan Aliran Listrik (Electrical Contacts & Spark)

(22)

Demikian juga spark dan flashing dapat terjadi pada sambungan sambungan kabel instalasi.

2.3.7 Kesalahan Tindakan Manusia (Human Error)

Jika dilihat lokasi kebakaran yang sebagian besar terjadi pada perumahan dan tempat berusaha, ini berarti kebakaran itu dominan disebabkan oleh faktor human error. Hal ini karena masyarakat masih sangat awam dan kurang paham terhadap listrik sehingga sering kali bertindak sembrono atau teledor dalam menggunakan listrik, tidak mengikuti prosedur dan metode penggunaan listrik secara benar menurut aturan, sehingga terjadilah kebakaran yang tidak sedikit kerugiannya. Usaha yang bisa dilakukan untuk menekan terjadinya kebakaran adalah dengan meningkatkan kesadaran masyarakat pengguna listrik untuk tidak melakukan tindakan ilegal dalam mempergunakan listrik untuk keperluan sehari-hari.

2.3.8 Model Instalasi Listrik 1. Mendeteksi adanya api listrik

Adanya percikan api listrik dapat dideteksi dengan beberapa cara antara lain:

a. Ultrasonik detektor.

b. Rangkaian elektronik (photo detektor).

c. Mendeteksi arus bocor dari percikan api listrik.

(23)

sehingga LBC akan memutuskan suplai tegangan ke rangkaian tersebut dan percikan api terhenti. Model rangkaiannya seperti ditunjukkan pada Gambar berikut:

Gambar 2.7. Rangkaian deteksi dan pengaman percikan api listrik

Pemasangan ELCB harus diatur sedemikian rupa supaya pada saat ada gangguan tidak terjadi pemutusan total. Dengan dipasangnya ELCB yang peka, ini merupakan jaminan terhadap mutu instalasi dan keselamatan dari bahaya listrik, khususnya bahaya tegangan sentuh.

(24)

BAB 3

KESEHATAN GEDUNG

3.1 Penghawaan

3.1.1 Definisi Kualitas Udara

Kualitas udara di dalam gedung adalah suatu istilah yang mengacu pada kualitas udara di dalam dan di sekitar gedung dan struktur, terutama yang berkaitan dengan kesehatan dan kenyamanan penghuni di dalam gedung.

Pengertian udara dalam ruang atau indoor air menurut NHMRC (National Health Medical Research Counsil) adalah udara yang berada di dalam suatu ruang gedung yang ditempati oleh sekelompok orang yang memiliki tingkat kesehatan yang berbeda-beda selama minimal satu jam. Ruang gedung yang dimaksud dalam pengertian ini meliputi rumah, sekolah, restoran, gedung untuk umum, hotel, rumah sakit dan perkantoran.

Pada dasarnya ada tiga syarat utama yang berhubungan dengan kualitas udara dalam suatu ruang atau indoor air quality adalah:

 level suhu atau panas dalam suatu ruang atau gedung masih dalam batas-batas yang dapat diterima

 gas-gas hasil proses pernafasan dalam konsentrasi normal  kontaminan atau bahan-bahan pencemar udara berada

dibawah level ambang bau dan kesehatan (Muhamad Idham, 2003).

(25)

3.1.2 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Udara Dalam Ruangan

Kualitas udara dalam ruang suatu gedung sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, baik yang berasal dari dalam gedung sendiri maupun dari luar gedung. Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas udara dalam ruang adalah:

 Faktor fisik

 Temperatur (tekanan panas)

 Kelembaban

 Pergerakan udara (air movement)  Faktor Kimia

 Partikulat

 Asbestos, fibber glas, debu cat, debu kertas, partikel shoot

 Debu bangunan atau konstruksi, partikel ETS

 Produk-produk pernapasan, seperti uap air, karbondioksida

 Formaldehida (sumber: polywood, partikel board, karpet, bahan isolasi foam yang terbuat dari ureaformaldehid)

 Zat-zat organik mudah menguap, seperti: alkohol, aldehid, hidrokarbon alipatik, aromatik, ester, kelompok halogen. Sumber: material bangunan gedung, kosmetik, asap rokok, zat pembersih, purnish, bahan adesif atau perekat dan cat.

 Radon dan produk peluruhannya

 ETS (Environmental Tobacco Smoke)

(26)

Menurut Hasil pemeriksaan The National Institute of Occupational Safety and Health (NIOSH) ada 5 sumber pencemaran di dalam ruangan yaitu :

 Pencemaran dari alat-alat di dalam gedung seperti asap rokok, pestisida, bahan-bahan pembersih ruangan.

 Pencemaran di luar gedung meliputi masuknya gas buangan kendaraan bermotor, gas dari cerobong asap atau dapur yang terletak di dekat gedung, dimana semuanya dapat terjadi akibat penempatan lokasi lubang udara yang tidak tepat.

 Pencemaran akibat bahan bangunan meliputi pencemaran formaldehid, lem, asbes, fiberglass dan bahan-bahan lain yang merupakan komponen pembentuk gedung tersebut.  Pencemaran akibat mikroba dapat berupa bakteri, jamur,

protozoa dan produk mikroba lainnya yang dapat ditemukan di saluran udara dan alat pendingin beserta seluruh sistemnya.

 Gangguan ventilasi udara berupa kurangnya udara segar yang masuk, serta buruknya distribusi udara dan kurangnya perawatan sistem ventilasi udara.

Pencemaran udara memperberat keadaan penyakit ataupun membuat saluran pernafasan menjadi lebih peka terhadap penyebab penyakit yang telah ada. Sifat zat pencemar akan menentukan jaringan tubuh yang akan terkena penyakit. Menurut Crosby yang dikutip oleh Soemirat (2005), toksikan dalam ruang tertutup dapat terdiri dari formaldehid dari penutup dinding, stiren dan ptalat ester dari plastik, vinil klorida, larutan pembersih yang mengandung klor, gas CO, asap rokok yang mengandung zat toksik, serta yang paling penting adalah polusi yang mengandung gas radon.

3.1.3 Akibat Pencemaran Udara

(27)

terhadap saluran pernafasan antara lain iritasi pada saluran pernafasan yang dapat menyebabkan pergerakan silia menjadi lambat sehingga tidak dapat membersihkan saluran pernafasan, peningkatan produksi lendir akibat iritasi oleh bahan pencemar, rusaknya sel pembunuh bakteri di saluran pernafasaan, membengkaknya saluran pernafasan dan merangsang pertumbuhan sel. Akibat dari semua hal tersebut akan menyebabkan terjadinya kesulitan bernafas, sehingga benda asing termasuk bakteri atau mikroorganisme lain tidak dapat dikeluarkan dari saluran pernafasan dan akibatnya memudahkan terjadinya infeksi saluran pernafasan.

Polutan udara dapat menjadi sumber penyakit virus, bakteri dan beberapa jenis cacing. Dampak yang diakibatkan oleh polutan udara yang buruk dapat mengakibatkan seseorang menjadi alergi yang selanjutnya menjadi pintu masuk bagi bakteri yang dapat berpotensi terjadinya infeksi (Pramudya Sunu, 2001). Gangguan-gangguan tidak spesifik tetapi khas yang diderita individu atau manusia selama berada di dalam gedung tertentu dikenal dengan istilah Sick Building Sindrome (SBS).

3.1.4 Pengertian Sick Building Sindrome

(28)

sistem ventilasi. Beberapa gejala yang sering dikeluhkan penghuni suatu gedung atau personil laboratorium meliputi gejala iritasi membran mukosa, gejala Central Nervous System (CNS), perasaan sesak di dada dan gejala iritasi kulit. Sindrom ini pada umumnya dialami oleh minimal 20% penghuni gedung dan semua gejala akan hilang atau berkurang pada saat keluar dari gedung. Menurut Tjandra Yoga Aditama (2002), istilah SBS mengandung dua maksud yaitu:

 kumpulan gejala (sindroma) yang dikeluhkan seseorang atau sekelompok orang meliputi perasaan-perasaan tidak spesifik yang mengganggu kesehatan berkaitan dengan kondisi gedung tertentu,

 kondisi gedung tertentu berkaitan dengan keluhan atau gangguan kesehatan tidak spesifik yang dialami penghuninya, sehingga dikataka gedu g ya g sakit .

Kondisi fisik gedung sangat berpengaruh terhadap terjadinya SBS. Kelembaban relatif akan sangat efektif dalam konsentrasi yang rendah serta akan meningkatkan ventilasi sekurang-kurangnya 20 CFM-OA (cubic foot per minute outside air) per penghuni dimana kondisi ini sangat efektif untuk mengurangi gejala SBS. Pada umumnya 70% masalah SBS akan muncul dalam kondisi suplai udara yang tidak memenuhi syarat, distribusi udara dalam ruang yang dihuni tidak memenuhi syarat, filtrasi untuk udara luar tidak memenuhi syarat, adanya kelembaban suatu gedung yang cukup tinggi untuk pertumbuhan bakteri dan jamur.

3.1.5 Penyebab Sick Building Syndrome

Lingkungan kerja perkantoran meliputi semua ruangan, halaman dan area sekelilingnya yang merupakan bagian atau yang berhubungan dengan tempat kerja untuk kegiatan perkantoran (Departemen Kesehatan RI, 1999). Lingkungan kerja perkantoran biasanya disebut secara berbeda dari pabrik.

(29)

lingkungan kerja produksi. Hal ini karena adanya anggapan bahwa pekerjaan administrasi dan jasa lebih menggunakan pikiran dinilai lebih berat daripada pekerjaan produksi yang menggunakan kekuatan fisik. Dengan demikian para eksekutif yang menangani administrasi dan jasa memerlukan tempat yang nyaman untuk meningkatkan produktifitas kerja

Fenomena SBS berkaitan dengan kondisi gedung, terutama rendahnya kualitas udara ruangan. Menurut Tjandra Yoga Aditama (2002), berbagai bahan pencemar (kontaminan) dapat mengganggu lingkungan udara dalam gedung (indoor air environment) melalui empat mekanisme utama, yaitu:

 gangguan sistem kekebalan tubuh (imunologik);  terjadinya infeksi;

 bahan pencemar yang bersifat racun (toksik);

 bahan pencemar yang mengiritasi dan menimbulkan gangguan kesehatan.

(30)

Ventilasi yang tidak baik meliputi kurangnya udara segar yang masuk ke dalam ruangan gedung, distribusi udara yang tidak merata dan buruknya perawatan sarana ventilasi. Sedangkan menurut EPA (1998), penyebab SBS atau sindrome gedung sakit sebagai berikut:

1. Ventilasi tidak cukup

Standar ventilasi pada sebuah gedung yaitu kira-kira 15 kaki berbentuk kubus sehingga udara luar dapat masuk dan menyegarkan penghuni di dalamnya, terutama tidak semata-mata untuk melemahkan dan memindahkan bau. Dengan ventilasi yang tidak cukup, maka proses pengaturan suhu tidak secara efektif mendistribusikan udara pada penghuni ruangan sehingga menjadi faktor pemicu timbulnya SBS.

2. Zat pencemar kimia

Zat pencemar kimia bersumber dari dalam ruangan polusi udara dalam ruangan bersumber dari dalam ruangan itu sendiri, seperti bahan pembersih karpet, mesin foto kopi, tembakau dan termasuk formaldehid. 3. Zat pencemar kimia bersumber dari luar gedung

Udara luar yang masuk pada suatu bangunan bisa merupakan suatu sumber polusi udara dalam gedung, seperti pengotor dari kendaraan bermotor, pipa ledeng lubang angin dan semua bentuk partikel baik padat maupun cair yang dapat masuk melalui lubang angin atau jendela dekat sumber polutan. Bahan-bahan polutan yang

(31)

4. Zat pencemar biologi

Zat pencemar biologi seperti bakteri, virus dan jamur adalah jenis pencemar biologi yang berkumpul di dalam pipa saluran udara dan alat pelembab udara serta berasal dari alat pembersih karpet.

5. Faktor fisik lingkungan

Temperatur yang tidak cukup, kelembaban dan pencahayaan merupakan faktor fisik pendorong timbulnya SBS. Keluhan tentang temperatur di dalam ruangan terjadi terutama pada bangunan berpendingin, sedangkan kelembaban merupakan jumlah embun di udara (London Hazards Centre, 1990). Pada kelembaban tinggi (diatas 60-70%) dan dalam temperatur hangat, keringat hasil badan tidak mampu untuk menguap sehingga temperatur ruangan dirasakan lebih panas dan akan merasa lengket. Ketika kelembaban rendah (dibawah 20%), temperatur kering, embun menguap dengan lebih mudah dari keringat, sehingga selaput lendir dan kulit,kerongkongan serta hidung menjadi mengering, akibatnya kulit menjadi gatal serta ditandai dengan sakit kepala, kekakuan dan mata mengering.

3.1.6 Upaya Pencegahan

Pencegahan SBS harus dimulai dari sejak perencanaan sebuah gedung untuk suatu pekerjaan atau kegiatan tertentu, penggunaan bahan bangunan mulai dari fondasi bangunan, dinding, lantai, penyekat ruangan, cat dinding yang dipergunakan, tata letak peralatan yang mengisi ruangan sampai operasional peralatan tersebut.

(32)

sangat efektif untuk mengurangi polusi di dalam ruangan. Dalam kondisi tertentu yaitu konsentrasi polutan sangat tinggi, dapat diupayakan dengan ventilasi pompa keluar.

Bahan-bahan kimia tertentu yang merupakan polutan sumbernya dapat berada didalam ruangan itu sendiri. Bahan-bahan polutan sebaiknya diletakan di dalam ruangan-ruangan khusus yang berventilasi dan di luar area kerja. Sedangkan karpet yang dipergunakan untuk pelapis dinding maupun lantai secara rutin perlu di bersihkan dengan penyedot debu dan apabila dianggap perlu dalam jangka waktu tertentu dilakukan pencucian. Demikian pula pembersihan AC secara rutin harus selalu dilakukan.

Tata letak peralatan elektronik memegang peranan penting. Tata letak yang terkait dengan jarak pajanan peralatan penghasil radiasi elektromagnetik ini tidak hanya dipandang dari segi ergonomic tetapi juga kemungkinan memberikan andil dalam menimbulkan SBS. Kebutuhan para penghuni ruangan untuk merokok tidak dapat dihindari. Perlu disediakan ruangan khusus yang berventilasi cukup, jika tidak memungkinkan untuk meninggalkan gedung. Hal ini untuk mencegah kumulasi asap rokok yang mempunyai andil dalam menimbulkan SBS. Berikut adalah hal yang dapat dilakukan untuk menjaga kualitas udara dalam gedung:

 Kontrol terhadap temperatur ruang dengan memasang termometer ruangan.

 Kontrol terhadap polusi

 Pe asa ga Exhaust Fan

(perlindungan terhadap kelembaban udara).

 Pemasangan stiker, poster

dilara g erokok .

 Sistim ventilasi dan pengaturan suhu udara

dalam ruang (lokasi udara masuk, ekstraksi udara, filtrasi, pembersihan dan pemeliharaan secara berkala filter AC) minimal setahun sekali, kontrol mikrobiologi serta distribusi

(33)

 Kontrol terhadap linkungan (kontrol di dalam/diluar kantor).  Misalnya untuk indoor: penumpukan barang-barang bekas

yang menimbulkan debu, bau dll.

 Outdoor: disain dan konstruksi tempat sampah yang memenuhi syarat kesehatan dan keselamatan, dll.

 Perencanaan jendela sehubungan dengan pergantian udara jika AC mati.

(34)

4. Pencahayaan

Pencahayaan sangat penting dalam kehidupan manusia sehari-hari khususnya pada bangunan, tanpa pencahayaan bangunan akan terasa membosankan dan tidak bernyawa dimana kita akan merasa terhambat dalam melakukan kegiatan kita.

Sumber cahaya ada dua jenis yaitu :

 sumber cahaya alami yaitu matahari berperan sebagai penerang alami pada siang hari

 sumber cahaya buatan yaitu lampu berperan sebagai penerang buatan pada malam hari

Pencahayaan mempunyai 3 fungsi utama yaitu :

 General Lighting yaitu penerangan merata yang menerangi seluruh ruang

 Task Lighting yaitu penerangan setempat untuk mendukung kegiatan tertentu (lampu baca)

 Decorative Lighting yaitu penerangan tambahan untuk unsur dekoratif.

4.1. Pengaruh Penerangan di Tempat Kerja

(35)

Menurut Grandjean (1993) penerangan yang tidak didesain dengan baik akan menimbulkan gangguan atau kelelahan penglihatan selama kerja. Pengaruh dari penerangan yang kurang memenuhi syarat akan mengakibatkan :

 Kelelahan mata sehingga berkurangnya daya dan effisiensi kerja.

 Kelelahan mental.

 Keluhan pegal di daerah mata dan sakit kepala di sekitar mata.

 Kerusakan indra mata dll.

Selanjutnya pengaruh kelelahan pada mata tersebut akan bermuara kepada penurunan performansi kerja, termasuk:

 Kehilangan produktivitas  Kualitas kerja rendah  Banyak terjadi kesalahan  Kecelakan kerja meningkat

Penerangan mengandung aspek kuantitas (intensitas cahaya) dan kualitas (warna,kesilauan). Kesilauan dapat secara langsung (tersorot lampu) maupun tidak langsung (pantulan). Pencahayaan ruangan, khususnya di tempat kerja yang kurang memenuhi persyaratan tertentu dapat memperburuk penglihatan, karena jika pencahayaan terlalu besar atau pun lebih kecil, pupil mata harus berusaha menyesuaikan cahaya yang diterima oleh mata. Akibatnya mata harus memicing silau atau berkontraksi secara berlebihan, Karena jika pencahayaan lebih besar atau lebih kecil, pupil mata harus berusaha menyesuaikan cahaya yang dapat diterima oleh mata. Pupil akan mengecil jika menerima cahaya yang besar. Hal ini merupakan salah satu penyebab mata cepat lelah.

(36)

kehilangan jam kerja dan mengurangi kepuasan kerja, penurunan mutu produksi, meningkatkan frekuensi kesalahan, mengganggu konsentrasi dan menurunkan produktivitas kerja.

Penerangan yang kurang baik akan menyebabkan kita tidak dapat melihat benda-benda dengan jelas, kemudian tidak dapat melihat sumber bahaya dengan jelas pula atau dapat melihat suatu bahaya tetapi bahaya tersebut tidak dapat kita kenali dengan cepat (Tarwaka, 1998).

4.2 Ciri-ciri Penerangan Yang Baik

Penerangan akan mempengaruhi seorang pekerja untuk dapat melihat dengan baik. Untuk dapat melihat dengan baik maka dibutuhkan suatu penerangan yang baik pula. Ciri-ciri penerangan yang baik tersebut adalah :

 Sinar / cahaya yang cukup

(37)
(38)

 Sinar / cahaya yang tidak berkilau atau menyilaukan

Cahaya yang menyilaukan terjadi bila ada cahaya yang berlebihan diterima oleh mata. Ada dua kategori cahaya yang menyilaukan (glare):

1. Discomfort glare yaitu cahaya yang tidak menyenangkan tetapi tidak begitu mengganggu kegiatan visual. Efeknya : Sakit kepala dan dapat meningkatkan kelelahan.

(39)

Sumber-sumber glare:

a. Lampu yang dipasang terlalu rendah tanpa pelindung. b. Jendela atau ventilasi cahaya yang langsung berhadapan

dengan mata.

c. Cahaya dengan terang yang berlebihan. d. Pantulan dari permukaan terang.

Untuk menghindari glare dapat dipasang penyerap cahaya atau warna yang dapat menyerap cahaya, memasang pelindung pada sumber cahaya dan menghindari atau menjauhkan sumber cahaya yang berlebihan.

Obyek yang dilihat harus terbebas dari cahaya yang menyilaukan. Cahaya yang menyilaukan dapat langsung datang dari sumber cahaya (direct-glare zone) ataupun dari pemantulan / pengembalian cahaya (indirect-glare zone). Benda yang mengkilap, licin, halus dan berkilau akan mengganggu pekerja saar melihat objek yang dilihat. Keadaan ini dapat ditanggulangi dengan menempatkan kembali suatu pekerjaan dan sumber-sumber penerangan, untuk mengurangi cahaya pantulan yang menuju pada objek yang sedang dikerjakan.

 Kontras yang tepat

Untuk dapat melihat objek dengan jelas maka perlu kekontrasan. Kontras yang kurang berakibat kesulitan untuk melihat benda tersebut, kontras yang berlebihan pun akan mengakibatkan kesalahan dan kesulitan untuk melihat objek. Background yang kacau sebaiknya dihindari. Untuk meningkatkan kekontrasan dapat dilakukan dengan menambah tingkat terangnya cahaya yang dibutuhkan dan juga pemilihan warna yang tepat.

(40)

perpindahan seharusnya dihindari dengan menggunakan sekat-sekat.

Brightness yang tepat akan memberikan efek produktivitas yang tinggi pada pekerja. Terangnya cahaya yang diperlukan oleh suatu obyek tergantung pada banyaknya cahaya yang dipantulkan dari obyek tersebut kemata kita. Penglihatan kesuatu bagian sering tergantung dari perbedaan cahaya diantara bagian tersebut dengan latar belakangnya. Perbedaan terangnya cahaya dapat dinyatakan sebagai ratio atau perbandingan terangnya cahaya, makin besar perbedaan ratio makin cepat tugas dilaksanakan. Untuk efisien dan mudahnya melihat maka penerangan hendaknya mempunyai cahaya terang yang relatif uniform.

 Bayangan (shadow) dan distribusi cahaya yang baik

Bayang-bayang yang tajam adalah akibat dari sumber cahaya buatan yang kecil atau cahaya matahari. Secara umum shadow digunakan untuk inspeksi menunjukkan cacat pada permukaan suatu barang. Dengan distribusi cahaya yang baik maka akan dapat mengurangi kelelahan pada mata kita karena harus selalu focus kepada objek yang dilihat. Banyaknya cahaya yang dipancarkan dan diperlukan tergantung dengan jenis pekerjaanyang dilakukan. Pada umumnya distribusi penerangan yang merata akan dibutuhkan didalam industri, karena ini akan memungkinkan fleksibilitas dalam lay-out dan akan membantu adanya perataan/ uniformitas dari terangnya cahaya. Penerangan yang buruk, adanya bagian yang gelap dan bagian-bagian yang terang, adalah kurang baik.

 Pemilihan warna yang tepat

(41)

warna-warna gelap. Pengaruh adanya warna akan jelas, dalam keselamatan da kemudahan dalam melihat. Jika diadakan pengkoordnasian penerangan dengan baik, pemilihan warna yang baik maka akan menimbulkan keadaan penglihatan yang cukup baik, yaitu akan mengurangi sinar silau, mengawasi kontras yang tajam dan meminimalisir kelelahan mata.

(42)

4.3 Penunjang Kualitas Cahaya

Berikut merupakan hal yang dapat dilakukan dalam menunjang kualitas pencahayaan gedung :

Optimalkan pencahayaan alami Mengapa ?

 Cahaya alami adalah yang terbaik dan merupakan sumber cahaya yang murah, sehingga akan menghemat biaya.

 Pemerataan cahaya dalam tempat kerja dapat ditingkatkan melalui cahaya alami, hal ini terbukti dapat meningkatkan efisisiensi dan kenyamanan.

 Penggunaan cahaya alamiah merupakan gerakan ramah lingkungan.

Bagaimana caranya?

 Bersihkan jendela dan pindahkan sekat yang menghalangi cahaya alamiah

 Ubah tempat kerja atau lokasi mesin agar dapat lebih banyak terkena cahaya alamiah

 Perluas atau pertinggi jendela agar makin banyak cahaya alamiah yang masuk

 Sendirikan saklar lampu pada tempat dekat jendela agar dapat dimatikan bila cahaya alamiahnya terang

Petunjuk penting :

 Gabungkan cahaya alamiah dengan cahaya buatan untuk meningkatkan pencahayaan tempat kerja

Gunakan warna cerah pada dinding dan langit-langit Mengapa ?

(43)

 Dinding dan langit-langit yang cerah akan menghemat energi karena dengan sedikit cahaya dapat meningkatkan penerangan ruang

 Dinding dan langit-langit yang cerah akan membuat ruangan menjadi nyaman, sehingga kondusif untuk bekerja efisien

 Permukaan warna cerah penting dalam pekerjaan teliti dan pemeriksaan

Bagaimana caranya?

 Untuk dapatkan pantulan sempurna gunakan warna paling cerah (mis. putih = 80-90 % pantulan) untuk langit-langit dan warna muda (50-85% pantulan) untuk dinding.

 Hindari perbedaan kecerahan antara dinding dan langit-langit

 Jangan gunakan bahan/cat mengkilap agar tidak menyilaukan

 Atur agar langit-langit dan tata lampu dapat saling memantul sehingga pencahayaan makin merata

Petunjuk penting :

 Bersihkan dinding dan langit-langit secara teratur, karena debu akan menyerap banyak cahaya

 Bagian atas lampu yang terbuka bukan hanya memberikan pantulan dari langit-langit, tetapi juga memberikan pencahayaan yang merata serta mencegah bertumpuknya kotoran.

 Warna cerah dinding dan langit-langit membuat lingkungan kerja menjadi nyaman dan efektif.

Terangi lorong, tangga, turunan Mengapa ?

 Tempat gelap menyebabkan kecelakaan, apalagi pada pemindahan barang-barang

 Tangga, balik pintu dan gudang cenderung terlindung dan gelap karena tidak terjangkau sinar matahari, sehingga perlu perhatian pada daerah ini

(44)

Bagaimana caranya?

 Bersihkan jendela dan pasang lampu

 Pindahkan sekat yang menghalangi sinar masuk

 Pindahkan lampu agar makin terang

 Usahakan cahaya alamiah dengan membuka pintu atau memasang jendela dan genting kaca

 Tempatkan saklar dekat pintu masuk/ keluar lorong dan tangga

 Gunakan warna cerah pada tangga agar nampak jelas Petunjuk penting :

 Tata lampu adalah bagian penting dalam pemeriksaan berkala dan program pemeliharaan

 Penerangan pada lorong, tangga dan gudang boleh jadi kurang daripada di ruang produksi, tetapi hal ini penting bagi keselamatan transportasi dan perpindahan orang/barang

 Pasang saklar otomatis bila tangga, lorong dan gudang digunakan secara teratur, atau jika tiba-tiba mati dapat menimbulkan kecelakaan

 Penerangan yang baik pada lorong dan tangga mencegah kecelakaan pengguna gedung dan tamu, mengurangi kerusakan produk dan meningkatkan citra perusahaan.

Pencahayaan merata Mengapa ?

 Perubahan pandangan dari terang ke gelap memerlukan adaptasi mata dan membutuhkan waktu serta menimbulkan kelelahan

 Bekerja menjadi lebih nyaman dan efisien pada ruangan dengan variasi penerangan kecil

 Penting untuk mencegah kelap-kelip, karena melelahkan mata

(45)

Bagaimana caranya?

 Hilangkan kap, karena tidak ekonomis dan mengurangi terangnya ruang kerja

 Pertimbangkan untuk mengubah ketinggian lampu dan menambah penerangan utama agar ruang makin terang

 Gunakan cahaya alamiah

 Kurangi zona bayangan dengan pemasangan lampu, pantulan dinding serta perbaikan layout ruang kerja

 Hindari cahaya bergetar dengan menukar neon dengan lampu pijar

Penerangan yang memadai menjadikan pekerjaan efisien dan nyaman

Mengapa ?

 Penerangan memadai meningkatkan kenyamanan pekerja dan ruang kerja

 Penerangan memadai mengurangi kesalahan dan kecelakaan

 Penerangan yang memadai dan pas akan membantu pekerja mengawasi benda kerja secara cepat dan rinci sesuai tuntutan tugas

Bagaimana caranya?

 Kombinasikan cahaya alamiah dan cahaya buatan

 Pemasangan lampu mempertimbangkan kebutuhan pekerjaan

 Ubah posisi lampu dan arah cahaya agar jatuh pada objek kerja

 Pertimbangkan umur pekerja, yang tua perlu penerangan lebih besar

 Penerangan diatur agar lebih mudah mengamati objek Petunjuk lain :

 Rawatlah tata lampu secara rutin, bersihkan lampu, reflektor, jendela, dinding, sekat dsb

(46)

 Periksalah kesehatan mata pengguna gedung > 40 tahun, karena biasanya mereka berkaca mata

 Usahakan penerangan yang baik dan memadai secara murah, banyak cara untuk mencapai hal itu

Mengaplikasikan penerangan lokal untuk pekerjaan teliti dan pemeriksaan

Mengapa ?

 Dibanding dengan pekerjaan produksi dan kantor, pekerjaan presisi dan pemerikaan memerlukan lebih banyak penerangan

 Penerangan lokal yang memadai akan meningkatkan keselamatan dan efisiensi

 Kombinasi penerangan utama dan lokal akan diperoreh penerangan memadai dan mengurangi gangguan akibat adanya bayangan

Bagaimana caranya?

 Pasang penerangan lokal dekat dan di atas pekerjaan teliti dan pemeriksaan

 Usahakan penerangan lokal mudah dipindah-pindahkan sesuai kebutuhan, mudah dibersihkan dan dirawat

 Gunakan neon untuk pekerjaan warna yang cermat

 Pastikan kombinasi cahaya alamiah dan buatan memberikan kontras antara benda kerja dan bidang latar

Petunjuk penting :

 Pastikan penerangan lokal tidak mengganggu pandangan pengguna gedung

 Pada mesin yang bergetar, pasang lampu pada batang yang tegar

 Gunakan kap agar tidak menyilaukan

 Lampu pijar timbulkan panas, hindari ini dengan memasang lampu TL

(47)

Pindahkan sumber cahaya atau pasang tabir untuk mengurangi silau

Mengapa?

 Silau langsung atau pantulan mengurangi daya lihat orang

 Silau menyebabkan tidak nyaman dan kelelahan mata

 Banyak cara menguranginya silau Bagaimana caranya?

 Pasang panel display atau layar

 Jangan pakai lampu telanjang (pakailah kap)

 Pindahlan lampu di atas kepala atau naikkan

 Kurangi silau dari jendela dengan sekat, tabir, tirai dsb

 Pasang lampu lokal

 Ubah arah pencahayaan Petunjuk lain :

 Ganti kaca jendela dari bening ke buram

 Lampu lokal dipasang sedekat mungkin dengan benda kerja

Pindahkan benda mengkilap agar tidak menyilaukan Mengapa?

 Silau tidak langsung sama dengan silau langsung dapat mengurangi daya lihat pengguna gedung

 Membuat kurang nyaman dan kelelahan mata Bagaimana caranya?

 Kurangi pantulan dari permukaan mengkilap atau pindahkan letaknya

 Gunakan penutup pada benda mengkilap

 Kurangi nyala lampu

 Buat latar yang terang di belakang benda kerja Petunjuk lain :

 Coba berbagai posisi agar diperoleh pencahayaan yang baik

(48)

Bersihkan jendela dan pelihara sumber penerangan secara berkala

Mengapa ?

 Penerangan yang kotor dan tidak terpelihara akan mengurangi pencahayaan

 Pemeliharaan dan kebersihan akan menghemat energi

 Pemeliharaan akan menambah umur bola lampu Bagaimana caranya?

 Bersihkan secara teratur

 Petugas memadai dalam hal alat dan ketrampilan

 Rencanakan program pemeliharaan sebagai program terpadu

(49)

3.3 Hygiene dan Sanitasi

Sanitasi ialah suatu cara untuk mencegah berjangkitnya penyakit menular dengan jalan memutuskan mata rantai dari sumber penularan. Sanitasi atau kesehatan lingkungan pada hakekatnya adalah kondisi atau keadaan lingkungan yang optimum sehingga berpengaruh positif terhadap status kesehatan yang optimum pula.

Sedangkan higiene adalah usaha kesehatan masyarakat yang mempelajari pengaruh kondisi lingkungan terhadap kesehatan manusia, upaya untuk mencegah timbulnya penyakit karena pengaruh lingkungan tersebut, serta membuat kondisi lingkungan sedemikian rupa sehingga terjamin pemeliharaan kesehatan.

3.3.1 Bangunan 1. Pekerjaan Atap

 Genteng / penutup atap lainnya harus berkualitas baik, tidak mudah retak / pecah sehingga menyebabkan kebocoran.  Genteng / penutup atap lainnya sebaiknya di finishing

dengan memakai bahan yang tahan terhadap cuaca seperti veernish untuk genteng dan cat untuk seng.

 Apabila mengalami kebocoran, harus segera di ganti agar tidak merusak yang lainnya seperti plafond dan dinding.

2. Pekerjaan Kusen dan Pintu

 Kayu kusen dan pintu harus dimeni dulu sebelum dicat, agar lebih tahan terhadap rayap.

 Kusen, pintu, dan jendela harus sering dibersihkan.  Kusen, pintu dan jendela selalu dalam kering.

 Cat atau pelitur yang terkelupas harus segera diperbaiki agar kusen, daun pintu dan jendela terpelihara dengan baik.

3. Pekerjaan Dinding

 Dinding harus selalu bersih dari kotoran dan serta harus selalu kering.

(50)

 Dinding yang terkelupas harus segera diperbaiki dengan cara menambah bagian yang rusah dengan adukan semen dan pasir, kemudian segera dicat kembali.

4. Pekerjaan Kaca

 Kaca harus dibersihkan setiap hari dari segala kotoran.

5. Pekerjaan Lantai

 Lantai harus dalam keadaan bersih dan kering.

 Lantai yang pecah / lepas segera diganti agar tidak merusak yang lain.

 Pada waktu pemasangan harus memakai lapisan pasir t = 5 cm dibawah adukan lantai / keramik untuk menghindari retak.

 Adukan dibawah lantai / keramik harus dipastikan merata keseluruh permukaan lantai / keramik dan tidak boleh terlalu tebal, tebal adukan sekitar 2 cm.

6. Pekerjaan Kamar Mandi/WC  Dibersihkan setiap hari.

 Jangan membuang air sabun, kotoran yang bisa menyumbat kedalam kloset.

 Kotoran yang ada dilantai (seperti : tanah, daun dsb) jangan dibuang kedalam saluran buangan, karena akan menyumbat saluran tersebut.

 Ubin yang pecah segera diganti untuk menghindari kerusakan yang lebih parah.

7. Pekerjaan Listrik dan Air Bersih

 Sambungan-sambungan listrik harus benar-benar tertutup rapat untuk menghindari hubungan pendek apabila terkena air bocoran dan tidak membahayakan.

 Instalasi listrik harus di periksa setiap 5 tahun sekali.

(51)

 Apabila tidak digunakan sebaiknya dimatikan, selain untuk menghemat biaya operasional juga memperpanjang umur daripada instalasi tersebut.

 Sumber air bersih sebaiknya diletakkan minimal dengan jarak 20 m dari septictank / resapan.

 Saluran air bersih harus mempergunakan pipa PVC yang baik mutunya dan tahan lama.

 Untuk saluran yang bocor segera diperbaiki/diganti.

8. Pekerjaan Furniture

 Furniture (meja, kursi, lemari dsb) harus dibersihkan setiap hari, untuk menjaga supaya kotoran-kotoran tersebut tidak merusak furniture tersebut.

 Apabila ada yang rusak segera diperbaiki. Kalau lepas dipaku kembali. Kalau kerusakannya parah segera diganti.

 Apabila cat pelitur sudah mengelupas, segera dicat / pelitur kembali untuk mencegah rayap dan sebagainya yang akan merusak furniture tersebut.

3.3.2 Toilet/Kamar Mandi

 Toilet selalu dalam keadaan bersih

 Lantai terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, tidak licin, berwarna terang dan mudah dibersihkan

 Ada pembuangan air limbah dari toilet dan kamar mandi, dilengkapi dengan penahan bau

 Letak toilet dan kamar mandi tidak berhubungan langsung dengan tempat pengelolaan makanan (dapur, ruang makan)  Lubang penghawaan harus berhubungan langsung dengan

udara luar

 Harus dilengkapi dengan slogan untuk memelihara kebersihan

 Tidak terdapat penampungan atau genangan air yang dapat menjadi tempat perindukan binatang pengerat dan serangga.  Disediakan tempat cuci tangan dan sabun cair.

(52)

 Penyediaan tempat sampah yang tertutup.

3.3.3 Kantin

Kantin yang sehat secara fisik tentunya harus mempunyai sarana dan prasarana yang memadai. Berdasarkan fisiknya tersebut, kantin sehat dapat dibedakan menjadi kantin dengan ruangan tertutup dan kantin dengan ruangan terbuka seperti di koridor atau di halaman kampus. Meskipun kantin berada di ruang terbuka, namun ruang pengolahan dan tempat penyajian makanan harus dalam keadaan tertutup.

Untuk keseluruhan kantin, rekomendasi dan persyaratan yang wajib dipenuhi adalah:

 Sumber air bersih

 Air harus bebas dari mikroba dan bahan kimia yang dapat membahayakan kesehatan seseorang.

 Air tidak berwarna dan berbau.

 Air memenuhi persyaratan kualitas air bersih dan atau air minum dan

 Untuk air yang akan digunakan untuk memasak atau mencuci bahan pangan harus memenuhi persyaratan bahan baku air minum.

Tempat Penyimpanan

 Tempat penyimpanan harus mudah dibersihkan dan bebas dari hama seperti serangga, binatang pengerat seperti tikus, burung, atau mikroba dan ada sirkulasi udara.

 Penyimpanan bahan baku dan produk pangan harus sesuai dengan suhu penyimpanan yang dianjurkan.

 Untuk bahan mentah termasuk bumbu dan bahan tambahan pangan tempat penyimpanannya harus terpisah dengan produk atau makanan yang siap disajikan.

(53)

 Bahan berbahaya seperti pemberantas serangga, tikus, kecoa, bakteri dan bahan berbahaya lainnya tidak boleh disimpan di kantin.

 Kantin juga mempunyai tempat penyimpanan peralatan makan yang bebas pencemaran (lemari).

 Peralatan harus mudah dibersihkan, kuat dan tidak mudah berkarat.

 Permukaan peralatan yang kontak langsung dengan pangan harus halus, tidak bercelah, tidak mengelupas, dan tidak menyerap air

Tempat Pengolahan/ Tempat Persiapan Makanan

 Ruangan pengolahan atau persiapan makanan harus selalu dalam keadaan bersih dan terpisah dari ruang penyajian dan ruang makan dan harus tertutup.

 Terdapat tempat/meja yang permanen dengan permukaan halus, tidak bercelah dan mudah dibersihkan.

 Ruang pengolahan tidak berdesakan sehingga setiap pengguna gedung yang sedang bekerja dapat leluasa bergerak.

 Ventilasi yang cukup harus tersedia agar udara panas dan lembab di dalam ruangan pengolahan dapat dibuang keluar dan diganti dengan udara segar.

 Pada ruang pengolahan atau dapur wajib terdapat APAR, baking soda serta smoke detector untuk pencegah kebakaran.

 Apabila kompor gas yang digunakan maka tabung gas harus berlabel SNI serta terdapat tata cara penggantian selang tabung yang terpasang untuk pekerja.

 Jika tercium bau gas maka pekerja kantin harus segera menghubungi UPT K3L di 0812 217 93088.

Tempat Penyajian (Display Makanan) dan Ruang Makan

(54)

konsumen dapat melihat makanan yang disajikan dengan jelas.

 Tempat penyajian atau display makanan harus selalu tertutup untuk melindungi makanan dari debu, serangga dan hama lainnya.

 Ruang makan di kantin harus menyediakan meja dan kursi dalam jumlah yang cukup dan nyaman.

 Meja dan kursi tersebut harus selalu dalam keadaan bersih, tidak berdesakan sehingga setiap konsumen dapat leluasa bergerak.

 Permukaan meja harus mudah dibersihkan dan tidak memiliki celah.

 Ruang makan pada kantin harus mempunyai ventilasi yang cukup agar udara panas dan lembab di dalam ruangan pengolahan dapat dibuang keluar dan diganti dengan udara segar serta jauh dari tempat penampungan sampah dan toilet (jarak minimal 20 m).

Fasilitas Sanitasi

 Tersedia bak cuci piring dan peralatan dengan air mengalir serta rak pengering.

 Wastafel dengan sabun/detergen dan lap bersih atau tisue di tempat makan dan di tempat pengolahan/persiapan makanan.

Perlengkapan Kerja dan Penyimpanan Uang di Kasir

 Perlengkapan kerja pekerja kantin yang harus disediakan antara lain baju kerja, tutup kepala, dan celemek berwarna terang (agar mudah terkontrol kebersihannya), sarung tangan sekali pakai untuk penyajian dan pengolahan serta lap yang bersih.

 Sedangkan untuk pekerja kantin pria jika memelihara janggut maka janggut harus diikat dan menggunakan masker, rambut harus tertata rapi dengan dipotong pendek atau diikat.  Berkenaan dengan tempat penyimpanan uang, maka uang

(55)

makanan siap saji karena uang merupakan sumber kontaminasi mikroba yang sering tidak kita sadari.

 Pekerja yang menerima pembayaran (kasir) tidak merangkap sebagai pengolah dan/atau penyaji makanan, agar tidak terjadi pemindahan mikroba melalui uang.

Tempat Pembuangan Limbah (sampah, limbah cair dan asap)  Tempat sampah atau limbah padat di kantin harus tersedia

dan jumlahnya cukup serta selalu tertutup (pada bagian dalam dilapisi plastik sekali buang untuk kemudahan pemindahan ke TPS), di dalam maupun di luar kantin harus bebas dari sampah.

 Jarak kantin dengan tempat penampungan sampah sementara minimal 20 meter.

 Sampah harus dibuang secara berkala dan teratur dan dibuang pada tempatnya.

 Terdapat selokan atau saluran pembuangan air (termasuk air limbah dan berfungsi dengan baik serta mudah dibersihkan bila terjadi penyumbatan).

(56)

BAB 4

KENYAMANAN GEDUNG

4.1 Kebisingan

Kebisingan adalah semua suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat-alat proses produksi dan atau alat-alat kerja yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran (Kepmenaker No 51. tahun 1999). Kebisingan merupakan salah satu polusi yang tidak dikehendaki manusia, dikatakan tidak dikehendaki karena dalam jangka panjang, bunyi-bunyian tersebut akan dapat mengganggu ketenangan kerja, merusak pendengaran, dan menimbulkan kesalahan komunikasi bahkan kebisingan yang serius dapat mengakibatkan kematian. Semakin lama telinga mendengar kebisingan, makin buruk pula dampak yang diakibatkannya, diantaranya adalah pendengaran dapat semakin berkurang.

(57)

4.1.1 Sumber-sumber Bising

Sumber bising dalam pengendalian kebisingan lingkungan dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:

a. Bising interior,

Bising yang berasal dari manusia, alat-alat rumah tangga atau mesin-mesin gedung yang antara lain disebabkan oleh radio, televisi, alat-alat musik, dan juga bising yang ditimbulkan oleh mesin-mesin yang ada digedung tersebut seperti kipas angin, motor kompresor pendingin, pencuci piring dan lain-lain.

b. Bising eksterior,

Bising yang dihasilkan oleh kendaraan transportasi darat, laut, maupun udara, dan alat-alat konstruksi. Dalam dunia industri jenis-jenis bising yang sering dijumpai antara lain meliputi:

 Bising kontinu dengan jangkauan frekuensi yang luas. Misalkan suara yang ditimbulkan oleh mesin bubut, mesin frais, kipas angin, dan lain-lain.

 Bising kontinu dengan jangkauan frekuensi yang sempit. Misalkan bising yang dihasilkan oleh suara mesin gergaji, katup gas, dan lain-lain.

 Bising terputus-putus (intermittent). Misal suara lalu lintas, suara kapal terbang.

 Bising impulsive seperti pukulan palu, tembakan pistol, dan lain-lain.

(58)

Kerusakan pendengaran manusia terjadi karena pengaruh kumulatif exposure dari suara diatas intensitas maksimal dalam jangka waktu lebih lama dari waktu yang diijinkan untuk tingkat kebisingan yang bersangkutan.

4.1.2 Pengukuran Tingkat Kebisingan

Sumber kebisingan di perusahaan biasanya berasal dari mesin-mesin untuk proses produksi dan alat-alat lain yang dipakai untuk melakukan pekerjaan. Sumber-sumber tersebut harus diidentifikasi dan dinilai kehadirannya agar dapat dipantau sedini mungkin dalam upaya mencegah dan mengendalikan pengaruh paparan kebisingan terhadap pekerja yang terpapar. Dengan demikian penilaian tingkat intensitas kebisingan di perusahaan secara umum dimaksudkan untuk beberapa tujuan, yaitu:

 Memperoleh data intensitas kebisingan pada sumber suara.  Memperoleh data intensitas kebisingan pada penerima suara

(pekerja dan masyarakat sekitar perusahaan).

 Menilai efektivitas sarana pengendalian kebisingan yang telah ada dan merencanakan langkah pengendalian lain yang lebih efektif.

 Mengurangi tingkat intensitas kebisingan baik pada sumber suara maupun pada penerima suara sampai batas diperkenankan.

 Membantu memilih alat pelindung dari kebisingan yang tepat sesuai dengan jenis kebisingannya.

(59)

405/Menkes/SK/XI/2002 besarnya rata-rata 85 dB-A untuk batas waktu kerja terus-menerus tidak lebih dari 8 jam atau 40 jam seminggu. Selanjutnya apabila tenaga kerja menerima pemaparan kebisingan lebih dari ketetapan tersebut, maka harus dilakukan pengurangan waktu pemaparan.

4.1.3 Pengaruh Kebisingan

Pengaruh pemaparan kebisingan secara umum dapat dikategorikan menjadi dua berdasarkan tinggi rendahnya intensitas kebisingan dan lamanya waktu pemaparan. Pertama, pengaruh pemaparan kebisingan intensias tinggi (diatas NAB) dan kedua, pengaruh pemaparan kebisingan intensitas rendah (di bawah NAB), yaitu:

a. Pengaruh kebisingan intensitas tinggi, sebagai berikut:

 Pengaruh pemaparan kebisingan intensitas tinggi adalah terjadinya kerusakan pada indera pendengaran yang dapat menyebabkan penurunan daya dengar baik yang bersifat sementara maupun bersifat permanen atau ketulian.

 Pengaruh kebisingan akan sangat terasa apabila jenis kebisingannya terputus-putus dan sumber kebisingannya tidak diketahui.

 Secara fisiologis, kebisingan dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti: meningkatnya tekanan darah dan tekanan jantung, resiko serangan jantung meningkat, dan gangguan pencernaan.

 Reaksi masyarakat, apabila kebisingan dari suatu proses produksi demikian hebatnya sehingga masyarakat sekitarnya menuntut agar kegiatan tersebut dihentikan.

b. Pengaruh kebisingan intensitas tingkat rendah

(60)

beberapa waktu setelah terpapar kebisingan. Kehilangan Pendengaran semacam ini terjadi setelah beberapa menit hingga kebisingan yang cukup tinggi.

Pemaparan yang lebih lama (berbulan – bulan atau bertahun

– tahun) pada bising yang sama hanya memungkinkan pemulihan kehilangan pendengaran secara parsial, sedangkan kehilangan pendengaran yang masih tersisa menjadi indikasi gangguan pendengaran secara permanen. Kehilangan pendengaran diatas cenderung untuk sama dengan berkurangnya daya mendengar akibat bertambahnya usia.

Tingkat intensitas kebisingan rendah banyak ditemukan di lingkungan kerja seperti perkantoran, ruang administrasi perusahaan, dan lain-lain. Intensitas kebisingan yang masih dibawah NAB tersebut secara fisiologis tidak menyebabkan kerusakan pendengaran. Namun demikian, kehadirannya sering dapat menyebabkan penurunan performansi kerja, sebagai salah satu penyebab stres dan gangguan kesehatan lainnya. Stres yang disebabkan karena pemaparan kebisingan dapat menyebabkan terjadinya kelelahan dini, kegelisahan dan depresi. Secara spesifik stres karena kebisingan dapat menyebabkan dampak, yaitu:

 Stres menuju keadaan cepat marah, sakit kepala, dan gangguan tidur.

 Gangguan reaksi psikomotor.  Kehilangan konsentrasi.

 Penurunan performansi kerja yang dapat menimbulkan kehilangan efisiensi dan produktivitas kerja.

4.1.4 Rencana dan Langkah Pengendalian Kebisingan Di Tempat Kerja

Gambar

Gambar 2.1. Konstruksi APAR
Gambar 2.2. Contoh cara penggunaan alat pemadam api ringan
Gambar 2.3. Jenis-jenis APAR
Gambar 2.4. Prosedur Kebakaran
+6

Referensi

Dokumen terkait

kecelakaan kerja salah satunya adalah khasus kebakaran yang terjadi perlu adanya. pengetahuan oleh setiap individu dan masyarakat tentang kebakaran dan bagaimana

Alat pelindung diri personil pada pekerjaan Survey Investigasi Desain (SID) pengendalian banjir Sungai Bugel di Indramayu adalah untuk keselamatan kaki dengan

Hal ini di karenakan pabrik tersebut mementingkan kesehatan dan keselamatan kerja yang berlaku seperti adanya peraturan yang menyatakan setiap pegawai yang bekerja

Kondisi pekerjaan yang tidak aman tidak hanya dengan peralatan yang baik, tetapi semua tergantung pada kerja sama setiap orang dalam tempat kerja yang bersih dan rapi.. Anda

barang yang menempel di dinding (seperti jam atau papan tersebut melukai anda. atau 4 turun dengan tangga secara perlahan dan jangan panik kepada Satuan Pengamanan dan UPT

Pada dasarnya jaminan atas keselamatan dan kesehatan kerja merupakan upaya perusahaan untuk memberikan dukungan setiap aktivitas yang dilakukan para karyawan. Adanya

Pada dasarnya jaminan atas keselamatan dan kesehatan kerja merupakan upaya perusahaan untuk memberikan dukungan setiap aktivitas yang dilakukan para karyawan. Adanya

Dari uraian keterbatasan-keterbatasan seperti tersebut di atas, maka dapat disirnpulkan, bahwa Revised NIOSH Lifting Equation tidak dupa t ditcrapka n pada kondisi sebagai berikut: