• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pola Aktivitas Ruang Terbuka Publik Pada

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pola Aktivitas Ruang Terbuka Publik Pada"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

A bstract: F atahillah P ark in front of F atahillah Museum is part of J akarta K ota area ( called K ota

Tua, Old Town) which is a conservation area. F atahillah P ark currently serves as a public open

space surrounded by historic buildings on four sides. As a public open space, Taman F atahillah is

visited by people from various regions in Indonesia and foreign tourists, so there are various

activities in it. This paper describes the results of research on the pattern of human activity (visitors)

in Taman F atahillah. T he research used qualitative approach and descriptive analysis method. As

a result, as a public open space, Taman F atahillah is accessed by anyone and within the timeframe

from morning to evening. Activities that take place in Taman F atahillah are dominated by secondary

actors (visitors) while the primary actors (traders) are limited by a certain place and time. T he

activity on the path space forms a linear pattern and on an open field forming a random pattern.

K eywords: public open space, activities, area, conservation, urban design

A nstrak: Taman F atahillah di depan Museum F atahillah adalah bagian dari kawasan J akarta

K ota (disebut K ota Tua) yang merupakan kawasan konservasi. Taman F atahillah saat ini berfungsi

sebagai ruang terbuka publik yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan bersejarah pada empat

sisi. Sebagai ruang terbuka publik, Taman F atahillah didatangi orang-orang dari berbagai daerah

di Indonesia dan wisatawan manca negara, sehingga muncul beragam aktifitas di dalamnya. Tulisan

ini memaparkan hasil penelitian tentang pola aktivitas manusia (pengunjung) di Taman F atahillah.

Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dan metode analisis deskriptif. H asilnya, sebagai

ruang terbuka publik, Taman F atahillah diakses oleh siapa saja dan dalam rentang waktu dari

pagi hari hingga malam hari. Aktivitas yang berlangsung di Taman F atahillah didominasi oleh

pelaku sekunder (pengunjung) sedangkan pelaku primer (pedagang) dibatasi oleh tempat dan

waktu tertentu. Aktivitas pada ruang jalan membentuk pola linier dan pada lapangan terbuka

membentuk pola acak.

K ata K unci: ruang terbuka publik, aktivitas, kawasan, konservasi, rancang kota

POL A A K T I V I T A S R UA NG T E R B UK A PUB L I K

PA DA K AWA SA N T A M A N F AT A H I L L A H J A K A R T A

D edi H antono

A rsitektur Universitas Muhammadiyah J akarta E mail: dedihantono@ ftumj.ac.id

PE ND A H UL UA N

K awasan Taman F atahillah merupakan salah satu tempat tujuan wisata utama bagi para wisatawan yang datang ke J akarta, selain Monas dan Masjid Istiqlal serta Taman Mini Indonesia Indah ( T MII) . S elain dikenal dengan nama T aman F atahillah, kawasan ini j uga seri ng di sebut sebagai K ota T ua k arena merupak an k aw asan k onserv asi y ang terus di pertahank an k easl i an bangunan dan lingkungannya.

K awasan Taman F atahillah didominasi oleh ruang terbuka yang sangat luas dan terletak tepat di tengah-tengah kawasan. R uang terbuk a i ni di kel i l i ngi bangunan-bangunan bersejarah yang telah berubah

fungsi namun tetap mempertahankan bentuk aslinya, diantaranya: C afe B atavia, K antor Pos, M useum Wayang, Museum S eni R upa dan K eramik, serta Museum F atahillah itu sendiri.

Oleh karena sadar dengan potensi kawasan ini baik sebagai tujuan wisata, ekonomi, sejarah, dan lain-lain maka pemerintah menetapkan kawasan ini sebagai cagar budaya. D al am usaha konservasi tersebut secara garis besar ada 2 usaha perbaikan yang dilakukan, yaitu:

( 1) Tata B angunan, mempertahankan semaksimal mungk i n bentuk asl i bangunan bai k f asad maupun interiornya.

(2)

dal am usaha perbai kan tersebut. S el ai n i tu mel akukan perbai kan pada bagi an i ni ti dak sesul it j ika dibandingkan dengan mel akukan perbaikan pada bangunan.

R uang terbuka yang ada di K ota T ua memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. S alah satu elemen ruang terbuka tersebut yang masih dapat dilihat di K ota T ua adalah ruang-ruang terbuka publik yang berupa jalan, square, pelabuhan, pasar, waterfront dan sebagainya yang memiliki nilai sejarah tinggi. R uang-ruang terbuka tersebut khususnya T aman F atahillah memiliki potensi peningkatan ekonomi untuk meningkatkan gairah aktivitas disana sehingga bukan hanya sebagai kawasan tempat perlintasan saja atau bahkan tidak dilirik sama sekali (S adana, 2013) .

Perubahan fungsi ruang menjadi taman wisata k hususny a wi sata k onserv asi tentu membawa dampak perubahan pada l i ngkungannya ( Il ham Hanafy, 2017) . Dengan adanya perubahan tersebut maka elemen yang dibutuhkan ikut berubah pula. Penambahan elemen ruang terbuka ini j uga harus disesuaikan dengan regulasi yang ada guna turut melestarikan nilai sejarah kawasan tersebut (Hanafy, Ningsih, & T yas, 2017) .

Upaya untuk mengaktifkan ruang terbuka T aman F atahi l l a tel ah di l ak ukan pemeri ntah maupun swadaya masyarakat sendi ri . M el al ui beragam k egi atan y ang di sel enggarakan ol eh berbagai k omuni tas pemi nat sej arah dan buday a tel ah membangkitkan masyarakat untuk berwi sata di kawasan ini. K egiatan tersebut juga menimbulkan keragaman aktivitas, baik yang dilakukan di dalam maupun luar bangunan ( Sadana, 2013) .

Sebenarnya kawasan ini berada pada lokasi yang kurang strategis karena terletak pada ujung utara kota J akarta. B ahkan bil a menggunakan transportasi umum, kawasan ini merupakan tempat tujuan akhir perjalanan bukan daerah perlintasan yang biasanya memang ramai di si nggahi masy arakat. Namun dengan posisi tersebut tetap saja kawasan ini ramai dikunj ungi masyarakat pada hari libur bahkan pada saat j am kantor sekalipun.

Untuk itu penulis tertarik melakukan penelitian pada kawasan yang sangat banyak pengunjungnya i ni . A kti vi tas apa saj akah yang berl angsung di dal amny a? B ag ai mana ak ti v i tas tersebut berl angsung? Pol a apa saj a yang terl uki s ol eh aktivitas yang berlangsung dalam kawasan tersebut? Hal ini bertujuan untuk mendapatkan pola sirkulasi yang berlangsung di dalam lokasi penelitian guna

menj adi ref erensi bagi perancang k ota dal am melakukan desain kota atau arsitektur kota.

A gar penelitian lebih fokus maka perlu dibuat batasan penelitian. A dapun penelitian ini berada pada batasan li ngkup substansial ( keilmuan) dan spasial ( tempat) . Penelitian ini hanya dilihat dari sudut pandang ilmu arsitektur sedangkan keilmuan lain hanya sebagai memperkaya dan pelengkap. L okasi juga berada pada kawasan ruang terbuka yang terdapat pada T aman F atahi l l ah. Namun karena li ngkup kawasan sifatnya cukup luas maka tentu suatu kawasan bisa terbawa dampak dari kawasan lain atau kota di sekitarnya. Untuk itu kajian tentang kawasan yang berada disekitarnya akan dilakukan jika diperlukan.

K A J I A N

A K T I V I T A S

D A N

R U A N G

T E R B UK A PUB L I K

S ebel um mel anj utkan penel i ti an maka perl u dicari kaj ian-kaj i an mengenai makna dari obyek yang akan diteliti. Pada umumnya kajian tersebut berasal dari pustaka atau publikasi ilmiah serta teori dari pakar ahli. K ajian ini diperlukan untuk lebih mendalami penelitian dan membatasi hal-hal yang berada diluar dari obyek penelitian.

Makna aktivitas pada suatu ruang (Gehl, 1987) dapat dibagi menjadi tiga macam kegiatan, yaitu: ( 1) . A ktivitas utama ( necessary activities) , yai tu

kegiatan rutin yang dilakukan karena keharusan untuk memenuhi suatu kebutuhan tertentu. L ingkungan yang baik adalah lingkungan yang dapat menampung dan mewadahi semua j enis kegiatan yang dibutuhkan.

( 2) . A ktivi tas pi l ihan ( opti onal acti vi ti es) , yai tu kegiatan yang dilakukan ketika ada kesempatan atau waktu yang tepat. B iasanya kegiatan ini dilakukan pada situasi lingkungan yang cukup menyenangkan dan tidak adanya aktivitas lain yang lebih mendesak.

( 3) A ktivitas sosial (social activities), yaitu kegiatan yang melibatkan interaksi dengan pihak lain di seki tarnya. K egi atan i ni cenderung ti dak terencana dalam pelaksanaannya karena adanya aktivitas utama dan aktivitas pilihan.

(3)

sehi ngga dapat menj adi perti mbangan dal am menyusun konsep dasar penataan kawasan. A nalisa behavior setti ng dilakukan dengan menggunakan beberapa kriteria sebagai berikut:

( 1). Pelaku kegiatan ( person) .

(2). Pola prilaku (standing pattern of behavior), yaitu: akti v i tas y ang berul ang-ul ang pada setti ng tertentu.

( 3). B atasan fisik ( physical milieu) .

( 4) . H ubungan antara batasan dan pola aktivi tas ( tynomorphyc).

( 5). Wilayah kuasa (territory) .

( 6). Waktu tertentu pada saat aktivitas berlangsung ( temporal).

K egiatan yang dilakukan oleh seseorang atau sekel ompok orang pada suatu l i ngkungan dapat diamati pada waktu-waktu tertentu, serta tidak dapat lepas dari wilayah atau ruang aktivitasnya (L ang, 1987) . D alam hal tersebut ada 6 aspek yang harus diperhatikan dalam memahami pola prilaku yang timbul, yaitu: pengguna, kegiatan, jumlah pengguna, wadah, posisi, dan waktu.

Shirvani dalam R ony Gunawan Sunaryo ( 2010) menjelaskan bahwa pendukung aktivitas cukup dekat kaitannya dengan fungsi dan tata guna lahan yang dapat memperkuat ruang kota dari segi aktivitas. Bentuk fisik tersebut meliputi fungsi dominan seperti taman rek reasi , pusat k ebuday aan, pusat perbelanjaan, pelayanan jasa, museum, perpustakaan, dan l ai n-l ai n. S ektor i nf ormal termasuk dal am kategori pendukung aktivitas, seperti: pedagang kaki li ma, pangkalan becak, dll . Melalui pengamatan, W hyte dalam Sunaryo (2010) mengatakan bahwa peri laku pengguna ruang publi k kota di A merika terdapat di peng aruhi ol eh beberapa f ak tor penggunaan ruang terbuka, di antaranya: tempat duduk, sinar matahari, angin, vegetasi, air, makanan, akses fisik dan visual langsung ke j alan utama, dll ( Sunaryo, 2010) .

Penel i ti an-penel i ti an yang pernah di l akukan sebelumnya menunjukkan bahwa perancangan ruang yang tidak didasarkan pada standing pattern of be-havi or rawan terhadap ti mbul nya konfl i k ruang ( Soegiono dalam S antoso, 2016) . K onflik ini akan terjadi pada ruang yang mewadahi beberapa fungsi dengan berbagai karakter kegiatan yang berbeda. Penataan ruang yang di susun berdasarkan pol a aktivitas utama dapat efektif dalam memanfaatkan keterbatasan ruang yang ada. Hal i ni disebabkan k egi atan utama pada umumny a mendomi nasi penggunaan ruang sehingga pengguna ruang l ain

harus menunggu untuk mendapatk an gi l i ran kemudi an ( S antoso, M usti kawati , S uryasari , & T itisari, 2016) .

Sedangkan menurut R ustam Hakim dalam D edi Hantono (2013) bahwa ruang adalah suatu wadah y ang ti dak ny ata namun bi sa di rasak an keberadaanya. Hal rasa ini bisa didapat dari panca indera yang dimiliki oleh manusia yang fungsinya memang untuk merasakan sesuatu hal. R uang bisa terlihat secara kasat mata wujudnya. R uang juga bisa terasa ol eh sentuhan-sentuhan hal us pada kul i t manusia. R uang j uga memiliki aroma pada satu rasa yang sama. R ustam Hakim menyorot ruang sebagai keberadaan yang dapat dirasakan baik secara fisik maupun dengan menggunakan panca indera yang dimiliki manusia ( Hantono, 2013) .

Bila dikutip dari ahli yang berasal dari luar, ruang publ i k adal ah suatu tempat di mana terj adi nya kehi dupan secara bersama ( C arr, 1992) . T entu aktivitas yang terjadi dalam ruang publik dilakukan secara bersama walaupun bisa dalam waktu dan tujuan yang berbeda. J alan, lapangan, dan taman kota ikut memberi bentuk dari pasang surutnya kehidupan manusia yang dinamis ( C arr, 1992) .

S edangk an R ob K ri er ( 1979) mengarti k an sebagai ruang yang berada di antara bangunan-bangunan perkotaan maupun daerah. K rier lebih detail menjelaskan secara fisik bahwa ruang publik merupak an ruang yang terbentuk antar massa bangunan ( K ri er, 1979) . S ehi ngga pendapat i ni hampi r sama dengan E k o B udi hardj o y ang menyebutkan bahwa ruang publik adalah ruang yang berada di luar bangunan atau berada pada ruang terbuka. K rier lebih senang menyebut ruang publik sebagai ruang kota.

D ari beberapa pengerti an yang diajukan oleh beberapa ahli maka dapat disimpulkan bahwa ruang terbuka publik adalah ruang terbuka yang berada di l uar bangunan y ang dapat di pergunakan ol eh manusia, baik secara individu maupun berkelompok untuk mel akukan akti v i tas sehari -hari , seperti : berjalan, berolah-raga, rekreasi, sosialisasi, dan lain-lain.

R uang publik menurut R ob K rier ( 1979) ada 2 bentuk, yaitu:

(4)

memiliki bentuk seperti ini adalah jalan, sungai, koridor, dan lain-lain.

( 2). Persegi ( the square) , yaitu ruang yang memiliki dimensi yang hampir sama pada seluruh sisinya, memi l i k i k ecenderungan membentuk pol a sirkulasi ke segala arah, acak, organik. Pada umumnya ruang publik seperti ini dalam wuj ud lapangan, taman, dan lain-lain.

S ec ara k arak teri sti k , geometri s k eduany a memi l i k i bentuk y ang sama namun y ang membedakan adalah pola fungsi dan sirkulasinya. R ustam H aki m berpendapat bahwa berdasarkan keberadaannya maka ruang publik memiliki 2 (dua) golongan, yaitu:

( 1). R uang publik tertutup, yaitu ruang publik yang terdapat di dalam bangunan atau halaman suatu bangunan/gedung. R uang i ni bi asanya bi sa diakses oleh banyak orang namun dalam batasan tertentu.

( 2). R uang publik terbuka, yaitu ruang publik yang berada di luar bangunan. R uang publik ini lebih jamak diakses oleh banyak orang.

R uang publik memiliki 2 ( dua) fungsi utama, yaitu: ( 1). F ungsi sosial, memiki fungsi sebagai wadah

aktivitas manusia, diantaranya:

a. S ebagai tempat bermain dan berolah raga. b. Sebagai tempat bermain dan sarana olahraga. c. S ebagai tempat komunikasi sosial.

d. Sebagai tempat peralihan dan menunggu. e. S ebagai tempat untuk mendapatkan udara

segar.

f. Sebagai sarana penghubung antara satu tempat ke tempat lainnya.

g. Sebagai pembatas antar massa bangunan. h. Sebagai sarana penelitian dan pendidikan serta

peny ul uhan bagi masy arak at untuk membentuk kesadaran lingkungan.

i. Sebagai sarana untuk menciptakan kebersihan, k esehatan, k eserasi an, dan k ei ndahan lingkungan.

( 2) . F ungsi ekol ogis, lebih dekat keterkai tannya dengan alam, diantaranya:

a. S ebagai penyegar udara, mempengaruhi dan memperbaiki iklim mikro.

b. Sebagai penyerap air hujan.

c. S ebagai pengendali banjir dan pengatur tata air.

d. S ebagai pemelihara ekosistem tertentu dan perlindungan plasma nutfah.

e. S ebagai pelembut arsitektur bangunan. R uang publik j uga dapat berfungsi sebagai:

( 1). Pusat interaksi dan komunikasi masyarakat baik formal (upacara bendera, S halat Ied, bazaar, dan l ai n-l ai n) , maupun i nf ormal ( demonstrasi mahasiswa, pertemuan antar individu, dan lain-lain.

( 2). Sebagai tempat kegiatan pedagang sektor non formal, seperti: pedagang makanan, souvenir, tambal ban, dan lain-lain.

( 3) . S ebagai paru- paru k ota sehi ngga bany ak masyarakat yang memanfaatkan sebagai tempat berol ahraga, bermai n, rek reasi bersama keluarga, dan lain-lain ( D armawan, 2005).

M E T O D E PE NE L I T I A N

Penti ngnya metode yang tepat dalam sebuah penel i ti an berdampak pada k eak uratan hasi l penelitian tersebut. D an untuk mendapatkan metode y ang tepat perl u di si mpul k an terl ebi h dahul u mengenai rumusan masalah dan kajian yang literatur yang dibutuhkan. Untuk mendapatkan pola suatu aktivi tas diperlukan pengamatan yang cukup j eli sehingga didapat hasil akhi r berupa kesimpul an, saran, atau bahkan teori baru. mendapatk an g ambaran meng enai k arak teri sti k l ok asi y ang ak an di tel i ti . Observasi adalah metode pengumpulan data melalui pengamatan dengan menggunakan panca indera manusi a. Pada tahap ini bisa langsung melakukan pengumpulan data atau hanya sekedar meninj au lokasi penelitian. c . M eny usun k erangk a penel i ti an untuk

mengetahui data dan literatur yang diperlukan. d. Menyusun hipotesa, variabel, dan lain-lain. e. M eny i apk an daf tar pertany aan untuk

wawancara jika diperlukan.

(5)

yang bisa diambil selama penelitian, diantaranya: a. D ata primer, berasal dari obyek peneli tian secara langsung, seperti: lokasi dan obyek penelitian.

b. Data skunder, dibutuhkan dalam mencari teori-teori pendukung yang relevan dengan kasus penelitian. D engan teori inilah maka hasil penelitian dapat dipertanggungj awab-kan. c. D ata tersier, merupakan kompilasi data primer

dan skunder, seperti: katalog, angket. A ngket adal ah suatu metode pengumpul an data dalam bentuk rangkaian pertanyaan yang harus di i si ol eh responden. M etode i ni memil iki beberapa kelemahan, misal nya: hanya dapat dilakukan oleh responden yang bi sa baca tul i s, perl u k etel i ti an dal am menyusun pertanyaan yang bisa dipahami oleh seluruh lapisan responden, bisa terjadi kesalahan pengisian angket baik dikarenakan k esal ahpahaman responden atau kesengaj aan mereka serta dibutuhkan waktu ekstra untuk mensosialisasikan bahan angket serta proses dan pengumpulan hasil angket. A tas dasar inilah peneliti tidak melakukan data angket karena keterbatasan waktu. S elain itu, untuk mencari suatu pola cukup dapat dilakukan dengan melakukan pengamatan dan kajian literatur.

( 3). Tahap analisis dan temuan, merupakan inti dari proses penel i ti an. S el ai n data y ang tel ah dikumpulkan dengan lengkap maka pemilihan pendekatan dan metode yang tepat merupakan salah satu kunci keberhasilan suatu penelitian.

Menurut L ang ( 1987) penelitian yang dilakukan dengan pendek atan k ual i tati f dapat mel al ui pengamatan dan pemetaan perilaku ( behavior map-ping) untuk mengetahui pola aktivitas seseorang. M etode anal i si s desk ri pti f di l ak uk an untuk memperol eh pengunaan ruang berdasarkan pol a aktivitas seseorang. Dibutuhkan beberapa variabel untuk menganalisa penelitian ini, diantaranya: ( 1). Pelaku, yaitu orang yang menggunakan ruang

publik pada K awasan Taman F atahillah dengan berbagai macam tujuan. Pelaku juga merupakan obyek pengamatan selain Taman F atahillah itu sendiri. Bentuk pengamatan yang dilakukan bisa dalam bentuk rekaman akti vitas mereka atau wawancara langsung kepada mereka.

( 2) . A kti vi tas, yai tu kegi atan y ang terj adi pada K awasan Taman F atahillah.

( 3). A lur, yaitu pola gerakan pelaku dari, selama, dan

keluar dari K awasan Taman F atahillah.

( 4) . Waktu, yai tu masa yang di gunakan pel aku sel ama berada dal am K aw asan T aman F atahi llah. Waktu yang dipi lih oleh peneli ti adalah pada waktu siang hari agar lebih banyak melihat aktivitas pelaku di lokasi penelitian. Dan untuk l ebi h mel i hat perbedaan penel i ti melakukan penelitian ini pada saat hari kerja da hari libur. Namun gambar yang disajikan pada laporan ini kebanyakan hanya gambar/foto yang di ambi l pada saat hari k erj a untuk l ebi h memudahkan pembaca mel ihat kondisi fi sik Taman F atahillah. Untuk hasil pengamatan pada hari libur dinarasikan dalam tulisan pada laporan ini.

( 5) . B entuk, yai tu tempat yang menj adi obyek penelitian dalam hal ini adalah K awasan Taman F atahillah. F atahillah yang terletak di DK I J akarta. Walaupun lokasi ini secara administratif masih dalam wilayah K otamadya J akarta B arat namun l etaknya l ebih condong ke U tara. K awasan T aman F atahi l l ah berada dal am K aw asan J ak arta K ota y ang merupakan kawasan konservasi dan revitalisasi.

Obyek penelitian adalah ruang terbuka publik yang berada tepat di tengah antar 8 ( delapan) massa bangunan, yaitu masing-masing 3 ( tiga) bangunan pada sisi Utara dan sisi B arat sedangkan pada sisi T i mur dan S el atan hanya dibatasi oleh 1 ( satu) gedung bangunan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat berikut ini:

( 1). Sisi Utara, dibatasi oleh C afe B atavia, Gedung J asindo, dan K antor Pos.

(6)

Gambar 1. K eyplan

( Sumber: G oogle Map dan olah pribadi)

A k sesibilitas

Menurut R ob K rier (1979) bahwa ruang publik dapat berbentuk memanjang (jalan, sungai, dll) dan persegi (lapangan, taman, dll) maka peneliti melakukan pada kedua bentuk ruang tersebut pada lokasi penelitian. Pengamatan aktivitas diambil pada akses menuju l ok asi penel i ti an dan T aman F atahi l l ah y ang berbentuk l apangan. U ntuk obyek pengamatan menggunakan teori L ang (1987) yang terdiri dari 5 variabel, yaitu:

( 1). Pelaku, dibedakan atas 3 kelompok yaitu primer ( orang yang sehari-hari berada di lokasi, seperti penduduk sekitar atau pedagang), sekunder ( or-ang yor-ang dator-ang khusus ke Taman F atahillah atau disebut pengunj ung) , dan tersier ( orang yang melintas) .

( 2). A ktivitas, merupakan hasil pengamatan pelaku di T aman F atahillah.

(3). A lur, menurut R ob K rier dibedakan atas 2 bentuk sirkulasi yaitu linear dan acak.

( 4). Waktu, dibedakan atas 2 yaitu waktu kerj a dan waktu libur

( 5). R uang, menurut R ob K rier ada 2 bentuk ruang publik yaitu memanjang ( the street) dan persegi ( the square) .

Sarana transportasi untuk menuju kawasan ini cukup mudah dan beragam. B anyak pilihan sarana angkutan umum yang dapat digunakan, diantaranya: ( 1). K ereta A pi dan K ereta R el L istrik ( K R L ) .

Pada sisi Selatan dari K awasan Taman F atahillah terdapat Stasiun K ota yang merupakan stasiun kereta api terbesar di Indonesia yang memiliki 8 jalur kereta. Stasiun ini merupakan stasiun akhir melayani rute dalam kota, antar kota, dan antar provinsi. D ari stasiun ini pengunjung bisa berjalan kaki menuju K awasan T aman F atahi ll ah yang j araknya hanya beberapa puluh meter saja. Selain berjalan kaki, pada w ak tu- w ak tu tertentu ada oj ek sepeda y ang menyediakan j asa khusus mengantar pengunjung ke K awasan T aman F atahillah. Pada umumnya para pengemudi ojek sepeda ini adalah laki-laki berusia paruh baya.

( 2). B us T rans J akarta.

B us i ni adal ah sarana transportasi y ang di sedi ak an ol eh Pemprov. D K I J ak arta untuk melayani penduduknya menuju suatu tempat tuj uan. Para pengguna bus ini hanya bisa berhenti pada halte-halte yang telah disediakan, salah satunya adalah Halte J akarta K ota yang letaknya berada diantara K awasan Taman F atahillah dan Stasiun K ota. Sama halnya dengan Stasiun K ota, halte ini juga merupakan salah satu halte Bus T rans J akarta perhentian terakhir. Para pengunj ung bi sa langsung menuj u K wasan F atahillah dengan berjalan kaki menyusuri j alur pe-destrian yang ada.

( 3). B us T ingkat Pariwisata.

Sama halnya dengan B us T rans J akarta, bus ini merupakan sarana transportasi yang disediakan oleh Pemprov. D K I J akarta sejak F ebruari 2014. B us ini memiliki kursi penumpang yang berada pada 2 ( dua) level lantai sehingga dinamakan bus tingkat. B us ini melayani rute perjalanan dari Bundaran Senayan (sisi Selatan K ota J akarta), Monas ( bagian tengah K ota J akarta), hingga K awasan K ota T ua ( sisi Utara K ota J akarta) yang merupakan lokasi penelitian.

( 4). A ngkutan K ota ( A ngkot) .

(7)

D ari hasil pengamatan yang terlihat pada Gambar. 2, untuk menuju ke T aman F atahillah bisa dicapai melalui 3 ( tiga) j alan raya dengan 7 (tuj uh) akses yang berbeda seperti berikut ini:

( 1). J alan K unir: A kses A , A kses B , dan A kses C . ( 2). J alan K ali B esar T imur: A kses D dan A kses E . ( 3). J alan L ada: A kses F dan A kses G.

Gambar 2. A ksesibilitas

( Sumber: G oogle Map dan olah pribadi)

Pengunj ung hanya bi sa mengakses ke dal am kawasan hanya dengan berj al an kaki sedangkan kendaraan bermotor harus parkir di sekitar kawasan. Masing-masing akses memiliki setting dan tuj uan yang berbeda.

A kses A

A kses A berasal dari J alan K unir. Pengunj ung yang melalui akses ini pada umumnya datang dengan menggunakan motor atau mobil karena terdapatnya area parkir pada J alan K unir. D ari semua akses yang ada maka akses ini yang paling jarang digunakan karena berada di ujung J alan K unir dan tidak adanya magnet aktivitas pada akses tersebut.

Gambar 3. A kses A dari J alan K unir

( Sumber: koleksi pribadi)

A kses B

A kses B berasal dari J alan K unir. Sama halnya dengan A kses A mak a A kses B di l al ui ol eh pengunj ung yang datang ke T aman F atahil l ah menggunakan motor atau mobil pribadi. Namun di sepanjang jalur ini dipenuhi dengan pedagang dan atraksi yang bi sa di ni kmati pengunj ung, diantaranya: manusia patung yang menawarkan j asa untuk f oto bersama deng an i mbal an seikhlasnya.

M anusi a patung di si ni adal ah orang yang seluruh tubuh dan pakaiannya dilumuri dengan pewarna dan hanya diam sepanjang hari layaknya sebuah patung. B anyak pengunjung yang antri untuk dapat berfoto bersama dengan manusia patung tersebut. B agi yang i ngi n nuansa asl i J akarta, ada juga yang menyediakan jasa berfoto bersama dengan Ondel - Ondel , bonek a k has B etawi.

D engan adanya aktivitas tersebut maka akses i ni merupak an ak ses y ang pal i ng bany ak digunakan diantara akses lainnya. K eramaian ini ditambah dengan banyaknya pedagang kaki lima yang menjual berbagai aksesoris dan oleh-oleh pada pangkal A kses B .

Gambar 4. A kses B dari J alan K unir

( Sumber: koleksi pribadi)

A kses C

A kses C berasal dari J alan K unir. A kses ini cukup banyak digunakan pengunjung. S elain adanya area park i r y ang menj adi magnet ak ti v i tas adal ah pedagang kaki lima yang juga berada di J alan K unir.

A kses D

(8)

perkantoran yang berada pada sisi J alan K ali B esar B arat dan J alan K ali B esar T imur dengan lokasi penel i ti an. Namun pada wak tu penel i ti an i ni di l akuk an sedang berl angsung perbai k an K al i K rukut yang membelah J alan K ali B esar B arat dan J alan K ali B esar T imur.

Selama pekerj aan perbaikan tersebut J alan K ali B esar T imur ditutup sehingga A kses D cenderung tidak berfungsi. Pada saat pengamatan, hanya terlihat satu atau dua orang sesekali yang melintasi jalur ini. Namun dari wawancara dengan pel ak u di sana normalnya akses ini cukup ramai digunakan. Hal ini bisa dilihat dengan adanya cafe dan mini market yang berdiri di sana. A palagi terdapatnya area parkir pada J alan K ali B esar dan merupakan penghubung antara j alan tersebut dan Taman F atahillah.

Gambar 5. A kses C dari J alan K unir

( Sumber: koleksi pribadi)

Gambar 6. A kses D dari J alan K ali B esar T imur

( Sumber: koleksi pribadi)

A kses E

A kses E berasal dari J alan K ali B esar T imur. Sama halnya dengan A kses E , akses ini tidak begitu aktif karena masih ada pekerjaan perbaikan pada J alan K ali Besar T imur. Oleh karena itu tidak begitu banyak pengamatan aktivitas yang dilakukan pada A kses E . Untuk A kses E ini peneliti tidak memiliki foto karena lokasi tertutup sedang dalam perbaikan.

Namun hasil dari wawancara dengan pelaku disana bahwa normalnya akses cukup ramai digunakan karena terdapatnya area parki r dan penghubung antara j alan tersebut dan Taman F atahillah.

A kses F

A kses F berasal dari J alan L ada. S ebagian besar jalur ini digunakan oleh pengunjung yang datang ke lokasi dengan menggunakan kendaraan umum dikarenakan tidak tersedianya area parkir. K endaraan umum yang di gunakan oleh pengunj ung berupa angkot dan B us T ransJ akarta. Pada sisi S el atan kawasan ini terdapat Halte T ransJ akarta “J akarta K ota” yang jaraknya hanya sekitar 50 meter. T urun dari halte pengunjung bisa langsung melintas ke jalur pedestarian yang membawa mereka kepada j alur A kses F ini.

Pada jalur ini terdapat cafe yang bernuansa tempo dulu. Sebagian penikmat cafe tersebut dapat duduk-duduk di beranda terbuka sambil melihat orang-or-ang berl al u-l al orang-or-ang melintasi akses ini . A da j uga pedagang kaki li ma yang menawarkan berbagai barang dan j asa, seperti: aksesoris, peramal nasib, dan lain-lain. Oleh sebab itu akses ini cukup ramai oleh pengunj ung, bukan hanya sekedar melintas bahkan berhenti sejenak untuk melakukan aktivitas tertentu.

Gambar 7. A kses F dari J alan L ada

( Sumber: koleksi pribadi)

A kses G

A kses G berasal dari J alan L ada. Pengunj ung y ang mengg unak an j al ur i ni ada 2 mac am berdasarkan waktu kunjung, yaitu:

(9)

Halte B us T ransJ akarta “J akarta K ota” dan Stasiun “K ota”. M erek a c uk up berj al an k ak i dan meny eberang j al an menuj u k aw asan T aman F atahillah.

( 2). K endaraan pribadi, pada hari Sabtu-Minggu dan hari libur nasional. Hal ini disebabkan pada hari tersebut sebagian J alan L ada digunakan sebagai lahan parki r. T entu parki r l i ar i ni cukup mengganggu keindahan lingkungan dan kenyaman pejalan kaki karena j uga mengambil j alur pedestrian yang ada.

Gambar 8. A kses G dari J alan L ada

( Sumber: koleksi pribadi)

A ktivitas Pada Taman F atahillah

Untuk mendapatkan hasil penelitian yang akurat maka l okasi penel iti an di bagi berdasarkan pada keempat sisi ruang terbuka yang berbentuk persegi. Ol eh karena bentuk persegi tersebut cenderung sejajar dengan arah mata angin maka pembagiannya menj adi 5 ( l i ma) segmen, yai tu S egmen 1 yang berada pada sisi Utara, Segmen 2 yang berada pada sisi T imur, S egmen 3 yang berada pada sisi S elatan, Segmen 4 yang berada pada sisi B arat, dan Segmen 5 yang berada di tengah-tengah kawasan.

Untuk mengetahui akti vitas yang berlangsung pada masing-masing segmen maka digunakan teori Ghel ( 1987), yaitu:

( 1). A ktivitas Utama: wisata.

( 2). A ktivitas Pilihan: makan/minum, parkir. ( 3). A ktivitas S osial: pertemuan.

D engan teori ini, selain merekam aktivitas yag berl angsung di dal amny a j uga menc ari tahu keberagaman ak ti v i tas terutama pada kategori “aktivitas utama”.

Segmen 1

Untuk masuk ke segmen ini bisa melalui A kses A , A kses B , A kses C , dan A kses D. Segmen 1 adalah ruang terbuka yang berada berada pada sisi Utara.

A da 3 ( tiga) massa bangunan yang membatasi ruang terbuka ini, yaitu C afe Batavia, Gedung J asindo, dan K antor Pos. K eti ga bangunan i ni ti dak begi tu memberi dampak terhadap aktivitas wisata yang ada di segmen ini. K arena selain kedua bangunan yang berfungsi sebagai kantor, bangunan C afé B atavia pun hanya diperuntukkan bagi kalangan menengah atas dan turis asing.

P ada umumny a pengunj ung berj al an menyelusuri segmen yang berbentuk memanjang ini

Gambar 10. Segmen 1

( Sumber: koleksi pribadi)

untuk memilih-milih sepeda yang akan disewa dari sisi T imur ke B arat atau sebaliknya sehingga pola sirkulasi pada segmen ini cenderung berbentuk lin-ear. Pemilik sepeda onthel menyewakan sepedanya dari pagi sampai sore sepanjang hari namun aktivitas lain berlangsung sepanjang waktu dari pagi sampai malam. Banyak juga pengunjung yang berhenti pada sisi B arat segmen ini atau lebih tepatnya di depan C afe B atavia terutama pada pagi sampai sore hari hanya untuk sekedar foto sendiri atau beramai-ramai.

S egmen 2

U ntuk masuk k e segmen y ang berbentuk memanjang ini bisa melalui A kses A dan A kses G. Segmen 2 adalah ruang terbuka yang berada berada pada sisi T imur. Hanya ada 1 (satu) massa bangunan yang membatasi ruang terbuka ini, yaitu Museum Seni R upa dan K eramik.

Berbeda dengan keempat segmen yang lain, pada segmen i ni j arak antar ruang terbuka dengan bangunan memiliki jarak yang cukup j auh. Hal ini di sebabk an G edung M useum S eni R upa dan K eramik i ni memil iki halaman sendiri yang luas namun lebih sedikit bersifat privat di bandingkan dengan Taman F atahillah itu sendiri.

(10)

sebagai ruang perl intasan pej alan kaki dan j alur bersepeda sehingga pola sirkulasi berbentuk linier. A ktivitas yang dilakukan pada segmen ini berjalan sepanjang waktu dari pagi sampai malam.

S egmen 3

Untuk masuk ke segmen ini bisa melalui A kses E , A kses F, dan A kses G. S egmen 3 adalah ruang terbuka yang berada berada pada sisi Selatan. Hanya ada 1 (satu) massa bangunan yang membatasi ruang terbuka ini, yaitu Museum F atahillah.

Gedung Museum F atahillah adalah icon/land-mark kawasan ini sehingga ruang terbuka yang ada juga dikenal sebagai T aman F atahillah. B entuknya yang simetris, berwarna putih, dimensi yang besar menj adi kan gedung i ni terl i hat sangat megah. A palagi tidak adanya buffer pandangan, seperti : pagar, pohon besar, atau benda lainnya yang bisa menggangu citra bangunan yang ada. Gedung ini dapat telihat sangat j elas dan mudah dikenali.

T idak ada pembatas antara segmen ini dengan S egmen 5 ( R uang T engah T aman F atahi l l ah) menjadikan pola sirkulasi pada segmen ini berbentuk linier namun cenderung acak. T idak ada aktivitas lain di segmen ini selain aktivitas pengunjung berupa duduk atau sekedar berf oto y ang berl angsung sepanjang hari dari pagi sampai alam.

Segmen 4

U ntuk masuk k e segmen y ang berbentuk memanjang ini hanya bisa melalui A kses C , A kses D , A kses E , dan A kses F. Segmen 4 adalah ruang terbuka yang berada berada pada sisi B arat. A da 3 ( ti ga) massa bangunan yang membatasi ruang terbuka ini, yaitu Museum Wayang, K antor B ank Mega, dan 1 (satu) bangunan yang tak terpakai.

Gambar 11. S egmen 2

( Sumber: koleksi pribadi)

Pada umumnya pengunjung berjalan menyelusuri segmen y ang berbentuk memanj ang i ni untuk memilih-mili h sepeda yang akan disewa dari sisi T i mur ke B arat atau sebal i knya sehi ngga pol a

sirkulasi pada segmen ini cenderung berbentuk lin-ear. Pemilik sepeda onthel menyewakan sepedanya dari pagi sampai sore sepanjang hari namun aktivitas lain berlangsung sepanjang waktu dari pagi sampai malam.

A da yang cukup unik dari segmen ini adalah adanya bangunan swasta yang berfungsi sebagai k antor perbank an, y ai tu B ank M ega. Padahal sebenarnya kawasan ini adalah kawasan tertutup yang tidak dilalui j alan umum sehingga kendaraan bermotor tidak bisa masuk bahkan melintasi kawasan ini. K alaupun ada mobil yang masuk hanyalah mobil di nas bagi kantor yang berada dal am kawasan tersebut.

Namun yang sangat disayangkan dari segmen ini adalah menjadi tempat meletakkan gerobak sampah pada satu pojok di ruang terbukanya. Selain menjadi pemandangan yang tidak menyenangkan, aroma dari sisa-sisa sampah yang tertinggal di dalam gerobak

Gambar 12. Segmen 3

( Sumber: koleksi pribadi)

Gambar 13. Segmen 4

( Sumber: Google Map-Street V iew, akses 9 September

(11)

tersebut bisa membuat kita menutup hidung ketika melintasinya (Gambar. 8) .

S egmen 5

Segmen 5 adalah ruang terbuka yang berada tepat di tengah kawasan. B entuk ruang persegi seperti lapangan ( square) . Oleh karena keberadaannya di tengah maka untuk menuj u ke segmen i ni bi sa melalui dari akses mana saja.

S egmen i ni di manfaatkan pengunj ung untuk berwisata keliling kawasan dengan menggunakan sepeda onthel yang disewakan dari Segmen 1 dan Segmen 4. Sepeda ini tidak bisa dibawa keluar dari T aman F atahi l l ah. S el ai n akses yang ti dak bi sa dilewati kendaraan juga ada pengawasan dari sistem keamanan dan pemi l i k sepeda sewaan tersebut. S el ai n bersepada mengeli li ngi T aman F atahi llah, pengunjung juga bisa berjalan kaki sambil menkmati pemandangan di sekitar kawasan sambil mengambil f oto. Waktu pemanf aatan segmen i ni adal ah di sepanjang waktu. Sedangkan pola sirkulasi berbentuk acak (organik) .

Gambar 14. Salah satu pojok pada Segmen 4 yang

dijadikan sebagai tempat penyimpanan gerobak sampah.

Gambar 15. Taman F atahillah pada hari kerja ( kiri) dan hari libur ( kanan)

(12)

Melalui analisis aktivitas pada T abel 1 di atas maka terdapat temuan pol a ak ti v i tas terhadap hubungannya dengan pelaku, alur, dan waktu.

Pola A k tivitas dan Pelak u

A ktivitas pelaku pada kawasan ini didominasi oleh pelaku sekunder ( pengunj ung) pada seluruh segmen. S ebagai kawasan wisata tentu diharapkan mampu mengundang wisatawan untuk datang ke kawasan ini. B agi pelaku primer ( pedagang) hanya berada pada lokasi tertentu yaitu hanya pada Segmen 1 dan S egmen 4. D ari si ni terl i hat bahwa para pedagang diperbolehkan beraktivitas pada kawasan ini namun dengan batasan tertentu. Mereka tersebar hanya pada Segmen 1 dan Segmen 4. S edangkan pelaku tersier ( pelaku yang hanya sekedar melintas kawasan) hampir tidak terlihat pada kawasan ini. Pada umumnya pengunj ung yang hadir berhenti pada segmen tertentu yang menandakan bahwa mereka memiliki tujuan tertentu pada kawasan ini.

Pola A k tivitas dan A lur /B entuk

R uang yang berbentuk memanjang ( the street) akan membentuk sirkulasi linier sedangkan ruang y ang berbentuk persegi ( the square) ak an membentuk sirkulasi yang acak. Pada S egmen 1 s/d S egmen 4 yang berbentuk memanj ang memil iki sirkulasi linier. Pengecualian terhadap hal tersebut terdapat pada S egmen 3 yang pola sirkul asi nya berbentuk linier cenderung acak. Hal ini disebabkan tidak ada batasan antara Segmen 3 dengan Segmen 5 sebagaimana segmen lainnya sehingga batas dan bentuk memanjang dari S egmen 3 sedikit “kabur”. Untuk Segmen 5 yang berbentuk persegi (the square) pola sirkulasi berbentuk acak.

Pola A k tivitas dan W ak tu

A ktivitas bagi pengunjung terjadi di sepanjang hari, pada saat jam kerja dan hari libur serta dari pagi sampai malam walaupun berbeda intensitasnya berbeda-beda. Pada hari libur dan waktu pagi sampai sore hari pengunjung lebih banyak dibandingkan waktu lainnya. Sedangkan pola aktivitas tidak begitu berubah diantara waktu tersebut. Pada umumnya pengunj ung mengandalkan wisata sepeda ontel dan mengunjungi museum. Namun pada hari kerja yaitu S eni n sampai J umat ak ti v i tas w i sata sedi k i t

bercampur dengan aktivitas kerja. Hal ini karena ada beberapa bangunan yang berfungsi sebagai kantor pada beberapa segmen.

K E S I M PUL A N

D ari pembahasan yang telah dilakukan di atas maka ada beberapa hasi l y ang dapat di si mpul k an, diantaranya:

( 1). R uang terbuka yang esensinya bisa diakses oleh siapa saja namun dengan bentuk yang dikelilingi ol eh bangunan menj adi kan ke-“terbuka”-an tersebut menjadi terbatas. Hanya orang yang memiliki tujuan khusus yang akan menggunakan ruang terbuka tersebut.

( 2) . Posisi area parkir kendaraan mempengaruhi pemi l i han tempat bagi para pedagang. A da kecenderungan pedagang memilih lokasi yang aksesnya dij angkau oleh lokasi parkir.

(3). R uang Terbuka pada Taman F atahillah memiliki aksesibilitas yang cukup tinggi. S iapapun boleh menggunakan ruang i ni tanpa adanya bi aya tambahan. B ahkan aktivitas yang berlangsung dalam rentang waktu yang sangat panjang yaitu dari pagi sampai malam hari kecuali bagi pelaku primer, dalam hal ini pedagang dan pemilik sewa sepeda onthel. Tentu hal ini merupakan indikator bahwa kawasan sangat diminati pengunjung dan sangat potensi al untuk di k embangkan l agi bentuk wisata yang ditawarkan.

(4). A ktivitas yang berlangsung pada kelima segmen cukup konsisten dalam arti hanya ditemukan ak ti v i tas utama y ai tu ak ti v i tas w i sata. K eragaman aktivitas justru didapat pada ketujuh akses yang menuju Taman F atahillah, seperti: parkir, tempat makan/minum, foto dengan jasa model ( manusi a patung) . “K emi sk i nan” keragaman aktivitas pada suatu kawasan wisata merupakan indikator yang kurang baik dalam kegiatan wisata tersebut.

D A F T A R PUS T A K A

C arr, S. (1992). Public Space. New Y ork: C ambridge University Press.

D armaw an, E . ( 2005) . A nal i sa R uang Publ i k A rsitektur K ota. Semarang: Penerbit Universi-tas D iponegoro.

(13)

Hanafy, I., Ningsih, S . M., & Tyas, A . D . H. ( 2017) . E l emen R uang T erbuk a P ubl i k S ebagai Pelengkap F ungsi Taman F atahillah K ota T ua J akarta. R eka K arsa, 5( 2) . R etrieved from http:/ /j urnalonl ine.itenas.ac.id/i ndex.php/rekakarsa/ article/view/1501

H antono, D . ( 2013) . Pengaruh R uang T erbuka T erhadap K i nerj a Pegawai . Pengaruh R uang Terbuka T erhadap K inerja Pegawai, 12( 2), 1– 12. https: //doi .org/https: //doi .org/10.24853/ nalars.12.2.%25p

K rier, R . ( 1979). Urban S pace. New Y ork: R izzoli. L ang, J . (1987) . T he B uilt E nvironment S ocial B

e-havior: A rchitecture D etermini sm R examined V iair. C ambridge: T he W IT Press.

S adana, A . S . ( 2013) . Pengembangan K omunitas Pemi nat S ej arah dan B udaya. In S i mposi um Nasional R A PI X II. Surakarta: F akultas Teknik U ni v ersi tas M uhammadi yah S urakarta. R e-trieved from https://publikasiilmiah.ums.ac.id/ b i t s t r e a m / h a n d l e / 1 1 6 1 7 / 4 0 8 8 / A 13.pdf?sequence=1& isA llowed=y

S antoso, J . T ., Mustikawati, T., S uryasari , N., & T itisari , E . Y . ( 2016) . Pol a A ktivi tas W i sata B elanja dI K ampung Wisata K eramik Dinoyo, Malang. T esa A rsitektur, 14(1), 1. https://doi.org/ 10.24167/tes.v14i1.560

Gambar

Gambar 1. Keyplan
Gambar 2. Aksesibilitas(Sumber: Google Map dan olah pribadi)
Gambar 5. Akses C dari Jalan Kunir
Gambar 8. Akses G dari Jalan Lada(Sumber: koleksi pribadi)
+3

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bundaran perumahan Cemara Asri memiliki kerapian serta kebersihan yang baik (B) sebagai ruang terbuka publik yang menjadi area olahraga

Untuk dapat melihat perkembangan kebutuhan masyarakat pada ruang terbuka publik di pusat kota diperlukan tinjauan terhadap perubahan- perubahan yang terjadi pada ruang terbuka

Bab ini secara umum menjelaskan mengenai teori yang mencakup tentang konsep dan karakteristik ruang terbuka, ruang terbuka publik, ruang terbuka ditinjau segi bentuk, ruang

Penyebaran kuesioner pada pengunjung ruang terbuka publik Itenasi di 20 lokasi, diperoleh data bahwa pengunjung datang ke ruang terbuka memiliki beragam alasan, yaitu

Dari beberapa analisis yang telah dilakukan dapat diambil temuan studi sebagai proses untuk memperlihatkan pola pemanfaatan ruang terbuka publik di Kota Semarang oleh

Didapatkan beberapa temuan bahwa desain setting mempengaruhi serta dapat dipengaruhi oleh aktifitas pelaku dalam pemanfaatan ruang terbuka publik yang menjadi

Pelaku, yaitu orang yang menggunakan ruang publik pada Kawasan Taman Fatahillah dengan berbagai macam tujuan.. Pelaku juga merupakan obyek pengamatan selain Taman Fatahillah

Dari analisis yang dilakukan dihasilkan beberapa karakteristik ruang terbuka publik organik di kawasan pesisir Kota Manado yang terlihat dari bentuk fisik,