ANALISIS KEBUTUHAN RUANG TERBUKA HIJAU
BERDASARKAN PENYEDIAAN OKSIGEN DAN AIR DI KOTA DEPOK PROPINSI JAWA BARAT
Bos Ariadi Muis, SP.,M.Si 1
1
Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Teuku Umar
Abstract
The objective of this research were to determine green open space (GOS) area based on oxygen requirement, to predict GOS area for water availability and to study human preferential society for development priority at Depok City. The research was conducted by using the approach oxygen requirement, water requirement and analysis hierarchical process. Results of the research indicated that Depok City GOS area at present is 5.125,43 ha and was predict in year 2015 will be unable to take over oxygen requirement for human, vehicles and animals, thus will need to add 933,57 ha. While, addition of GOS for water requirement is not needed, because GOS area is still wide enough and be able to fulfill water requirement. People of Depok City tent to give priority for settlement development (3,17%) and on economic consideration (51%). While developments the existing GOS had constraint, because of lack of socialization program.
Key words: green open space, oxygen requirements, water availability
1. Pendahuluan
Ruang terbuka hijau (RTH) merupakan areal berupa ruang terbuka yang bervegetasi berada di kawasan perkotaan yang mempunyai fungsi perlindungan, pemanfaatan dan pelestarian lingkungan hidup. Fungsi RTH dapat berbentuk hutan kota, taman kota, taman pemakaman umum, lapangan olahraga, jalur hijau jalan raya, bantaran rel kereta api, bantaran sungai dan kawasan pertanian. RTH disebut sebagai paru-paru kota karena merupakan produsen oksigen (O2) yang
belum tergantikan fungsinya.
Peran oksigen sangat vital bagi manusia karena fungsinya yang begitu penting, kekurangan O2 akan berdampak
serius bagi kesehatan. Manusia
membutuhkan O2 dari udara sebanyak
600 liter/hari setara dengan 864 g/hari untuk menghasilkan energi dalam tubuh dan mengeluarkan 480 liter karbon dioksida (CO2). Menurut Siahaan
(2005), pada lahan seluas 1.600 m2 yang terdapat 16 pohon berdiameter tajuk 10 m mampu menyuplai O2 sebesar 14.000
liter. Setiap jam, satu hektar daun-daun hijau dapat menyerap 8 kg karbon dioksida yang berasal dari 200 orang dalam waktu yang sama. Selain dari itu RTH juga dapat menyimpan 900 m3 air tanah per tahun, dan mentransfer air 4.000 liter per hari.
oleh urbanisasi dan kelahiran mencapai 3,70% per tahun dan jumlah penduduk saat ini 1.386.470 jiwa memerlukan perluasan permukiman, hal ini menyebabkan berubahnya fungsi dari kawasan bevegetasi menjadi kawasan terbangun. Semakin berkurangnya kawasan bervegetasi menyebabkan meningkatnya run off, luas serapan air di kota berkurang sehingga debit air yang masuk ke sungai meningkat, sementara persediaan air tanah terus berkurang sehingga mengurangi cadangan air tanah. Tersedianya air bersih dan sehat merupakan salah satu faktor yang penting bagi permukiman maupun industri, sehingga pemanfaatan
sumberdaya air yang berlebihan mengakibatkan terjadinya intrusi air laut. Pemerintah Kota Depok harus dapat menyediakan berbagai sarana dan prasarana penunjang kebutuhan hidup masyarakatnya. Salah satu kebutuhan hidup yang harus dipenuhi adalah RTH yang berfungsi sebagai penyediaan O2
dan ketersediaan air. Luas RTH yang ada saat ini 5.125,43 ha, terdiri dari hutan kota, jalur hijau, taman kota, areal pemakaman, sawah irigasi, kebun dan halaman, serta situ dan danau. Berkurangnya RTH di Kota Depok pada tahun 2003, digunakan untuk perumahan dan permukiman mencapai 10.968 ha (54,76%), dan industri, jasa serta perusahaan menempati areal 1.100 ha (6%).
Saat ini ketersediaan air di Kota Depok cenderung berkurang, air permukaan menjadi kotor sehingga tidak dapat dimanfaatkan untuk menunjang kebutuhan sehari-hari. Penyediaan air Kota Depok bersumber dari PDAM, mata air baku dan air permukaan dengan kapasitas suplai 1.567,5 liter/detik hanya mampu melayani 38.388 pelanggan dari 76.046 sambungan (50,47%), dan
besarnya jumlah pemakaian air mencapai 11.403.912 m3/tahun. Salah satu penyebab berkurangnya ketersediaan air tanah adalah menurunnya luas ruang untuk resapan air, dan pengambilan air oleh manusia yang berlebihan sedangkan upaya mengembalikannya ke dalam tanah tidak ada. Oleh karena itu agar muka air tanah relatif stabil dan meningkat, salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan merencanakan suatu RTH yang dapat mengkonservasi air.
Permasalahan yang ada di Kota Depok saat ini adalah ketersediaan RTH dan kebutuhan air yang tidak tercukupi, disebabkan oleh alih fungsi peruntukan lahan akibat kebijakan pemerintah daerah. Ruang terbuka hijau dianggap penting oleh masyarakat jika dapat memberi manfaat dan adanya perhatian dari pemerintah daerah. Selain itu, keberhasilan pengembangan pembangunan RTH ditentukan oleh tingkat partisipasi masyarakat. Partisipasi masyarakat dapat berupa penyediaan lahan untuk RTH dan kesadaran untuk menanam berbagai jenis pohon di lingkungan rumah masing-masing.
Kebutuhan RTH dan penyediaan air yang dilakukan oleh pemerintah serta para ahli dibidangnya, sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, perlu melibatkan banyak pihak diluar instansi pemerintah. Dengan kesadaran akan pentingnya keberadaan RTH dan ketersediaan air sebagai sumber kehidupan, baik masa kini maupun masa datang yang dibutuhkan oleh berbagai sektor, maka hal tersebut membantu pengadaan RTH dan penyediaan air di Kota Depok.
mengetahui kebutuhan RTH dalam menyediakan oksigen dan air di Kota Depok, Propinsi Jawa Barat.
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah menentukan luas ruang terbuka hijau berdasarkan kebutuhan oksigen dan ketersediaan air, serta menilai preferensi masyarakat terhadap prioritas pengembangan pembangunan di Kota Depok.
2. Metode Penelitian
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di wilayah administrasi Kota Depok, Propinsi Jawa Barat. Meliputi 6 (enam) Kecamatan yaitu Sawangan, Pancoran Mas, Sukmajaya, Cimanggis, Beji, dan Limo, dengan luas wilayah 20.029 hektar. Waktu penelitian dilaksanakan selama 1 (satu) tahun mulai Oktober 2005 - Oktober 2006.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Peta Rupabumi Administrasi Kota Depok, Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Depok 2000-2010, dan Software ArcView GIS 3.3, Adobe Photoshop 7.0, AutoCAD 2002, Expert Choice 2000 serta Kuesioner.
Peralatan yang digunakan adalah satu unit komputer, kamera digital, tripod, meteran dan alat tulis.
Metode Pengumpulan Data
Tahapan penelitian ini terdiri dari beberapa kegiatan yaitu:
1. Inventarisasi data primer dan data sekunder terdiri dari data fisik, biofisik, sosial dan budaya, serta ekonomi yang diperoleh melalui
survei lapangan, studi pustaka, wawancara dan pencatatan.
2. Tinjauan tapak dengan tujuan melihat secara langsung kondisi RTH saat ini berupa jenis vegetasi, luas RTH, sumber air dan intensitas pemeliharaannya.
3. Analisis data untuk mengetahui potensi sumberdaya alam dan penyelesaian permasalahan yang terjadi di Kota Depok.
4. Sintesis adalah tahap mengajukan program penyediaan ruang terbuka hijau.
5. Pembuatan konsep kebutuhan RTH berdasarkan penyediaan oksigen dan air dengan pertimbangan kriteria kebutuhan RTH di Kota Depok dan diselaraskan pula dengan tujuan dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Depok 2000-2010.
a. Analisis kebutuhan luas RTH Kota Depok berdasarkan penyediaan oksigen
Luas kebutuhan RTH dihitung berdasarkan kebutuhan oksigen dengan metode Gerarkis, 1974 (dalam Wisesa, 1988) yaitu sebagai berikut:
Keterangan:
Lt = Luas RTH pada tahun t (m2)
Pt = Jumlah kebutuhan oksigen bagi
penduduk per hari pada tahun t (kg/hari) Kt = Jumlah kebutuhan oksigen bagi
kendaraan bermotor per hari pada tahun t (kg/hari)
Tt = Jumlah kebutuhan oksigen untuk
ternak per hari pada tahun t (kg/hari)
54 = Konstanta, produksi berat kering tanaman per hari per m2 RTH (g/hari/m2) 0,9375 = Konstanta, produksi oksigen 0,9375 /g berat kering tanaman.
Asumsi:
♠ Kebutuhan O2 per hari tiap penduduk
adalah 600 l/hari.
♠ Pengguna O2 hanya manusia,
kendaraan bermotor dan ternak, sedangkan jumlah hewan peliharaan dan ternak yang relatif kecil diabaikan dalam perhitungan.
♠ Jumlah kendaraan yang keluar dan masuk dalam wilayah Kota Depok dianggap sama tiap hari.
♠ Suplai O2 dari luar wilayah Kota
Depok diabaikan dan hanya dilakukan oleh tanaman.
♠ Kesejahteraan penduduk meningkat tiap tahun sehingga mampu membeli kendaraan bermotor.
b. Analisis kebutuhan luas RTH untuk ketersediaan air Kota Depok
Untuk meningkatkan ketersediaan air dilakukan penghitungan berdasarkan metode Fahutan IPB (1987) yaitu:
Keterangan:
La = Luas RTH yang diperlukan
untuk mencukupi kebutuhan air (ha) P0 = Jumlah penduduk kota pada
tahun ke 0 (jiwa)
K = Konsumsi air per kapita (liter/hari)
r = Laju kebutuhan air bersih; sama dengan laju pertambahan penduduk (%) c = Faktor pengendali; upaya pemda menurunkan laju pertambahan penduduk (%)
♠ Sumber air berasal dari wilayah Kota Depok dan tidak menerima dari daerah lain.
♠ Jenis vegetasi yang digunakan memiliki kemampuan sama dalam meresapkan air.
♠ Upaya pemerintah mengendalikan pertambahan penduduk dinilai secara kualitatif.
♠ Laju pertambahan penduduk 10 tahun mendatang relatif tetap (3,70%).
♠ Standar kebutuhan konsumsi air bersih 250 l/orang/hari dan bersumber dari PDAM Kota Depok dengan kapasitas suplai air bersih tetap1).
c. Analisis preferensi masyarakat terhadap prioritas pembangunan RTH
Menggunakan pendekatan metode Saaty (1993) yaitu Analysis Hierarchy Process (AHP), bertujuan untuk mengetahui preferensi masyarakat dalam menentukan suatu kebijakan terhadap prioritas utama pembangunan di Kota Depok. Analisis ini dilakukan
1)
Departemen Pekerjaan Umum. 1998. Persyaratan Teknis Bangunan Gedung. Medisa. Jakarta. 106 hlm.
menggunakan software Expert Choice 2000 dan melalui 8 tahap yaitu: (1) Identifikasi masalah, (2) Penyusunan hirarki, (3) Penyusunan matrik perbandingan, (4) Menghitung matrik pendapat individu, (5) Menghitung pendapat gabungan, (6) Pengolahan horizontal, (7) Pengolahan vertikal, (8) Revisi pendapat.
Pemilihan responden dilakukan secara sengaja (purposive sampling) dengan pertimbangan responden adalah pengguna tapak (stakeholder), terdiri dari 4 (empat) sta keholder berjumlah 30 responden, yaitu (1) Pemerintah Kota Depok terdiri dari badan perencanaan dan pembangunan daerah, dinas kependudukan dan lingkungan hidup, dinas kebersihan dan pertamanan kota, dinas lalu lintas dan angkutan jalan raya, (2) Swasta, (3) Tokoh Masyarakat, (4) Perguruan Tinggi.
3. Hasil Penelitian
1. Kebutuhan Luas RTH Kota Depok Berdasarkan Penyediaan Oksigen
Peningkatan jumlah penduduk, kendaraan bermotor, dan hewan ternak di Kota Depok sangat cepat, disebabkan karena letak wilayahnya yang sangat strategis berbatasan langsung dengan wilayah DKI Jakarta. Peningkatan jumlah penduduk yang mencapai 3,70% per tahun, menjadikan Kota Depok sebagai pusat permukiman, perdagangan, jasa dan pendidikan. Sektor permukiman, perdagangan, dan jasa merupakan sektor ekonomi yang
banyak diminati oleh masyarakat baik formal maupun informal. Oleh sebab itu, kebutuhan lahan untuk fasilitas sarana dan prasarana fisik kota sangat dibutuhkan.
Pada dasarnya semua aktifitas kehidupan membutuhkan oksigen (O2). Dari semua
jenis konsumen, yang sangat banyak mengkonsumsi O2 adalah manusia,
kendaraan bermotor dan hewan ternak. Manusia mengkonsumsi O2 untuk
pembakaran zat-zat makanan dalam tubuh, sedangkan kendaraan bermotor memerlukan O2 untuk pembakaran bahan
bakarnya. Selain dari itu O2 bagi hewan
ternak digunakan untuk metabolisme basal dalam tubuhnya.
Hasil analisis kebutuhan luas RTH berdasarkan penyediaan O2 untuk
penduduk, kendaraan bermotor dan hewan ternak, membuktikan bahwa peningkatan konsumsi O2 setiap tahun
semakin bertambah dan membutuhkan lahan yang lebih luas untuk menambah suplai O2 yaitu melalui pengembangan
RTH di Kota Depok. Dengan menggunakan rumus bunga berganda dapat diprediksikan jumlah penduduk, kendaraan bermotor dan hewan ternak yang ada di Kota Depok.
Tabel 1 menunjukkan bahwa pada tahun 2005 jumlah penduduk Kota Depok mencapai 1.386.470 jiwa, dan membutuhkan O2 sebanyak 1.197.910
kg/hari. Pada tahun 2010 terjadi peningkatan jumlah penduduk hingga 1.662.663 jiwa, dan O2 yang dibutuhkan
Tabel 1 Jumlah pengguna dan kebutuhan oksigen di Kota Depok Keterangan
Jumlah Pengguna O2 Kebutuhan O2 (kg/hari)
2005 2010 2015 2005 2010 2015
Penduduk 1.386.470 1.662.663 1.993.876 1.197.910 1.436.541
1.722.70 8 Kendaraan
Bermotor
50.959 98.116 188.915 144.221 271.908 523.536
Hewan Ternak
1.394.910 3.231.989 4.702.013 243.662 564.562 821.345
Terjadinya pertambahan jumlah pengguna O2 setiap tahun, maka
kebutuhan konsumsi O2 juga meningkat.
Oksigen sangat penting bagi kehidupan karena menghasilkan energi yang diperlukan oleh makhluk hidup. Tumbuhan menghasilkan jutaan ton O2
setiap hari dan melepaskannya ke atmosfer bumi. Atmosfer bumi
mengandung campuran uap air dan gas, yang terdiri dari 77% gas nitrogen, 21% gas O2 dan 1% gas CO2. Gambar 1
memperlihatkan perbandingan jumlah kebutuhan O2 antara penduduk,
kendaraan bermotor dan hewan ternak pada tahun 2005-2015 yang semakin meningkat.
Agar terjadi keseimbangan lingkungan hidup, maka salah satu usaha untuk memenuhi kebutuhan O2 di Kota
Depok, yaitu melalui pengembangan
RTH baik berupa hutan kota, taman kota, jalur hijau jalan, bantaran rel kereta api, bantaran sungai ataupun kawasan pertanian. Berdasarkan data dinas
Gambar 1 Perbandingan kebutuhan oksigen untuk manusia,
0 200000 400000 600000 800000 1000000 1200000 1400000 1600000 1800000 2000000
2005 2010 2015 Tahun
K
e
b
u
tu
h
a
n
O
k
s
ig
e
n
(
k
g
/h
a
ri
)
pertamanan Kota Depok 2004, luas RTH yang ada saat ini 5.125,43 ha.
Hasil perhitungan yang diperoleh dengan menggunakan rumus Gerarkis berdasarkan kebutuhan O2,
memperlihatkan luas RTH yang dibutuhkan Kota Depok untuk tahun 2005 mencapai 3.132 ha, dan kebutuhan
pohon berdiameter tajuk 2 m berjumlah 1.370.125 batang pohon. Untuk tahun 2010 diprediksikan kebutuhan luas RTH dan jumlah pohon di Kota Depok memerlukan lahan seluas 4.490 ha dan 1.963.882 batang pohon (Tabel 2).
Tabel 2 Luas RTH dan kebutuhan jumlah pohon di Kota Depok Tahun
Luas RTH (ha) Jumlah Pohon (batang) Dibutuhkan Tersedia Tambahan
2005 3.132 5.125,43 - 1.370.125
2010 4.490 5.125,43 - 1.963.882
2015 6.059 5.125,43 933,57 2.650.397
Luas RTH di Kota Depok sampai tahun 2010 masih mampu memenuhi kebutuhan O2 bagi manusia, kendaraan
bermotor dan hewan ternak, tetapi untuk tahun 2015 dibutuhkan penambahan luas lahan RTH 933,57 ha dan diperlukan 2.650.397 batang pohon agar dapat mencukupi kebutuhan pengguna O2.
2. Kebutuhan Luas RTH untuk Ketersediaan Air Kota Depok
Air adalah sumberdaya yang sangat vital bagi kelangsungan hidup dan kehidupan manusia. Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk, maka suatu saat air tidak akan mampu mencukupi kebutuhan seluruh makhluk hidup di dunia ini jika tidak ada upaya untuk melestarikannya. Air yang dikonsumsi oleh manusia dapat berasal dari dalam tanah dan juga dari air permukaan. Oleh karena itu ketersediaan air di permukaan tidak seterusnya tetap jumlahnya sehingga dapat menjadi berkurang. Salah satu penyebab
berkurangnya ketersediaan air tanah adalah menurunnya luas ruang untuk resapan air.
Dengan semakin berkurangnya air yang masuk ke dalam tanah, maka air sungai akan semakin bertambah banyak dan kemudian meluap. Jika tidak ada usaha pencegahan maka akan terjadi banjir. Pengambilan air oleh manusia yang berlebihan dan tidak ada usaha mengembalikannya ke dalam tanah akan mengakibatkan berkurangnya air tanah.
Penyediaan air bersih di Kota Depok dikelola oleh PDAM Kabupaten Bogor. Kapasitas suplai air mencapai 1.567,5 liter/detik atau 135.432 m3/hari, yang terpakai hanya 1.466 liter/detik. Besarnya jumlah pemakaian air bagi masyarakat adalah 11.403.912 m3/tahun. Potensi air tanah saat ini sebesar 41.343.696 m3/tahun (BPS Kota Depok, 2003).
bersih, serta jumlah potensi air tanah yang ada saat ini, maka dengan menggunakan pendekatan perhitungan luas hutan kota berdasarkan kebutuhan air untuk tahun 2005-2015, dapat diketahui luas RTH yang diperlukan wilayah Kota Depok. Hasil perhitungan kebutuhan luas RTH untuk ketersediaan air di Kota Depok tertera pada Tabel 3. Tabel 3 Kebutuhan luas RTH untuk
penyediaan air di Kota Depok Tahun
Luas RTH (ha)
Dibutuhkan Tersedia Tambahan
2005 11,53 5.125,43 - 2010 14,64 5.125,43 - 2015 18,37 5.125,43 -
Dari hasil perhitungan kebutuhan luas RTH untuk ketersediaan air di Kota Depok dinyatakan bahwa, dari tahun 2005-2015 wilayah Kota Depok tidak memerlukan penambahan luas RTH, karena luas RTH yang tersedia sangat besar untuk mencukupi kebutuhan air bagi masyarakat wilayah Kota Depok.
Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk terhadap kebutuhan air dan ketersediaan lahan untuk RTH, sudah saatnya pemerintah Kota Depok memperhatikan pembagunan yang berwawasan lingkungan, karena air, udara dan tanah yang semua ini akan menjadi lebih produktif dipergunakan bagi pembangunan wilayah dan peningkatan kesehatan masyarakat Kota Depok.
Pemerintah Kota Depok memegang peranan penting dalam hal ini, dengan mengeluarkan kebijakan perlindungan sumber air dan penertiban daerah pinggiran sungai dari
permukiman agar tidak tercemar oleh limbah rumah tangga. Selain dari itu jaringan pendistribusian air bersih PDAM harus menyebar merata di seluruh wilayah Kota Depok, sehingga masyarakat dapat menikmati air bersih. 3. Preferensi Masyarakat terhadap
Prioritas Pengembangan Kota Depok
Keberhasilan suatu program pengembangan RTH di Kota Depok, ditentukan oleh konsistensi pemerintah daerah dan partisipasi masyarakat dalam menciptakan RTH sebagai suplai O2 dan
penyediaan air bersih. Partisipasi masyarakat dapat dilakukan oleh pemerintah daerah dengan cara memasukkan masalah lingkungan dalam rencana kegiatan kelembagaan sosial yang ada, melaksanakan penyuluhan secara terpadu melalui lembaga swadaya masyarakat, tentang fungsi dan manfaat dari RTH kota, dan mengikutsertakan masyarakat dalam menentukan prioritas program pengembangan pembangunan di Kota Depok.
Untuk mengetahui preferensi masyarakat terhadap prioritas pembangunan khususnya pengembangan RTH di Kota Depok, dilakukan pendekatan metode proses analisis hirarki (AHP). Masyarakat yang dimintai pendapatnya berjumlah 30 responden, dan yang layak dinilai pendapatnya hasil analisis terdiri dari 10 stakeholder. Masing-masing stakeholder sebelumnya telah memiliki nilai Inconsistency Ratio (IC) = <0,1 artinya para stakeholder termasuk konsisten dalam memberikan nilai pembobotan dengan tingkat penyimpangan sangat kecil.
permukiman, perdagangan, perkantoran, penghijauan dan pariwisata. Faktor pengambilan keputusan oleh pemerintah daerah didasarkan atas pertimbangan aspek ekonomi, lingkungan dan sosial. Selain dari itu, untuk mengetahui perubahan skala prioritas pengembangan dilakukan dengan uji sensitivitas. Analisis sensitivitas ini dimaksudkan untuk mengetahui kecenderungan perubahan suatu kebijakan terhadap faktor lain yang mempengaruhinya.
Dengan menggunakan metode AHP melalui program software Expert Choise 2000, hasil analisa pendapat 10 stakeholder dapat diketahui, yaitu sebagai berikut:
a. Analisis pendapat gabungan stakeholder
Hasil analisis dari pendapat tokoh masyarakat dan perguruan tinggi, diperoleh nilai 0,374 dan 0,355 (Tabel 4), artinya tokoh masyarakat dan perguruan tinggi berpendapat bahwa sektor penghijauan merupakan masalah utama yang banyak dipersoalkan dan dikembangkan secara luas. Terkait dengan RTH sebagai penghasil O2
dengan berbagai macam jenis tumbuhan didalamnya, dapat membantu meningkatkan ketersediaan dan kualitas air bersih di Kota Depok.
Tabel 4 Hasil analisis pendapat gabungan responden
Stakeholder Permukiman Perdagangan Perkantoran Penghijauan Pariwisata
Pemerintah 0,334 0,187 0,177 0,219 0,135
Swasta 0,299 0,186 0,148 0,154 0,210
Masyarakat 0,204 0,164 0,130 0,374 0,108
Perguruan Tinggi
0,214 0,191 0,145 0,355 0,094
b. Analisis pendapat kriteria manfaat pengembangan
Hasil analisis dari pendapat gabungan stakeholder terhadap kriteria manfaat pengembangan Kota Depok, stakeholders berpendapat bahwa pengembangan sektor permukiman jauh lebih bermanfaat di tinjau dari
Tabel 5 Hasil analisis kriteria manfaat pengembangan
Kriteria Manfaat Permukiman Perdagangan Perkantoran Penghijauan Pariwisata
Pendapatan 0,363 0,235 0,159 0,130 0,114
Pemanfaatan Ruang
0,371 0,146 0,135 0,246 0,102
Manfaat RTH 0,235 0,168 0,103 0,282 0,212
Jumlah RTH 0,229 0,128 0,109 0,331 0,223
Pemerataan - Pembangunan
0,336 0,161 0,157 0,225 0,092
Aktifitas Sosial 0,368 0,128 0,166 0,239 0,098
c. Prioritas pengembangan pembangunan Kota Depok
Hasil dari analisis metode AHP mengenai preferensi masyarakat (stakeholder) terhadap prioritas pengembangan pembangunan di Kota Depok, bahwa nilai pembobotan tertinggi untuk pengembangan pembangunan di Kota Depok diprioritaskan pada sektor permukiman
dengan nilai 0,317, selanjutnya secara berturut pengembangan diprioritaskan pada sektor penghijauan (0,205), perdagangan (0,178), perkantoran (0,175), dan pariwisata (0,126). Hasil pendapat tersebut dapat dibuktikan kembali melalui uji sensitivitas untuk prioritas pengembangan pembangunan (Gambar 2).
12,5 17,5
17,8 20,5
31,7
0 5 10 15 20 25 30 35
Permukiman Penghijauan Perdagangan Perkantoran Pariwisata
Prioritas Pengembangan
S
e
n
s
it
iv
it
a
s
P
ri
o
ri
ta
s
(
%
Penetapan skala prioritas pengembangan pembangunan di Kota Depok didasarkan atas pertimbangan aspek ekonomi sebagai prioritas utama (51%), disusul dengan pertimbangan aspek lingkungan sebagai prioritas kedua (36,6%), dan pertimbangan aspek sosial sebagai prioritas terakhir (12,4%). Uji sensitifitas ini dimaksudkan untuk mengetahui kecenderungan perubahan suatu prioritas terhadap faktor lain yang mempengaruhinya.
4. Kesimpulan
Hasil dari penelitian analisis kebutuhan RTH berdasarkan penyediaan oksigen dan air di Kota Depok, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Kota Depok saat ini memiliki luas RTH 5.125,43 ha. Sampai tahun 2010 diprediksikan RTH yang ada masih mampu memenuhi kebutuhan O2 bagi manusia, kendaraan
bermotor dan hewan ternak, tetapi pada tahun 2015 dibutuhkan penambahan luas RTH 933,57 ha. 2. Ketersediaan dan kebutuhan air bagi
masyarakat di Kota Depok dari tahun 2005-2015, tidak memerlukan
penambahan luas RTH, karena luas RTH yang tersedia 5.125,43 ha, sehingga masih mampu mencukupi kebutuhan air bagi masyarakat Kota Depok.
3. Preferensi masyarakat memprioritaskan pengembangan pembangunan pada sektor permukiman (31,7%), atas dasar pertimbangan aspek ekonomi sebagai prioritas utama (51%), dan dengan tujuan pengembangan adalah pemanfaatan ruang, meningkatkan aktifitas sosial masyarakat, menciptakan pendapatan bagi daerah, dan pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Kota Depok. Pengembangan pembangunan RTH di Kota Depok mengalami kendala, karena kurangnya sosialisasi pada masyarakat yang berimplikasi pada pemahaman akan arti pentingnya RTH.
Saran
1. Segera menyusun Perda Konservasi RTH yang bertujuan melindungi keberlanjutan RTH sebagai aset, potensi, dan investasi Kota Depok jangka panjang.
2. Perlunya proses sosialisasi, penyuluhan, bimbingan, advokasi yang serius dan kontinu pada masyarakat luas tentang pentingnya
pembangunan RTH yang
berorientasi kelestarian lingkungan. 3. Mengadakan dengar pendapat publik
mencari solusi pengembangan RTH yang diinginkan masyarakat sebagai stakeholder utama RTH berbasis masyarakat.
4. Harus ada evaluasi segera terhadap berbagai kebijakan pembangunan yang tidak menghiraukan kelestarian
dan keseimbangan ruang terbuka hijau di Kota Depok.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2003. Di Ta man Kota Lebih Oke. http://www.pikiran-rakyat.com/Cetak/-0903/
13/hikmah/lainnya07.htm [1 Februari 2005]
BPS Kota Depok. 2003. Kota Depok Dalam Angka 2002. Kerjasama Bappeda dan BPS Depok. 284 hlm. Departemen Pekerjaan Umum. 1998.
Persyaratan Teknis Bangunan Gedung. Medisa. Jakarta. 106 hlm. Fakultas Kehutanan IPB. 1987. Konsepsi
Pengembangan Hutan Kota. Kerjasama Fakultas Kehutanan IPB dan Setjen Departemen Kehutanan. Jakarta. 82 hlm.
Saaty, T. L. 1993. Pengambilan Keputusan Bagi Para Pemimpin. Gramedia. Jakarta. 270 hlm.
Siahaan R. 2005. Seha t da n Ener gik Ber ka t Oksigen. Human Health. Tahun IV No.1 Januari. Hal 29-30. WJEMP Depok City. 2004. Assignment
Completion Report (ACR), Study for Nor malization and Mana gement of Lakes. Draft. PT. Innerindo Dinamika. Kota Depok. 274 hlm. Wisesa, S.P.C. 1988. Studi
P engembangan Hutan Kota Di Wila yah Kotamadya Bogor. Skripsi. Jurusan Konservasi Sumberdaya