BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki keanekaragaman jenis rumput laut dengan potensi produksi rumput laut kering rata-rata 16 ton per ha (BEI News, 2005;ADB, 2006 dalam Bank Indonesia 2006). Area untuk budidaya rumput laut juga cukup luas, mencapai 222.180 ha atau 20% dari luas areal potensial (Kementrian Kelautan dan Perikanan, 2012).
Secara nasional produksi rumput laut pada tahun 2011 hanya 4,3 juta ton (Kementrian Kelautan dan Perikanan, 2012). Padahal apabila seluruh potensi dimanfaatkan, produksi rumput laut yang dapat dihasilkan bisa mencapai sekitar 17,774 juta ton per tahun. Apabila dihitung dengan tingkat harga rata-rata Rp 9.000,-/kg, pendapatan dari penjualan rumput laut akan mencapai sekitar Rp. 159,970 triliun. Dengan demikian, apabila industri pengolahan rumput laut dikembangkan, maka rumput laut dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan serta penurunan angka kemiskinan di Indonesia.
Kabupaten Luwu Utara merupakan wilayah yang potensial untuk membudidayakan komoditi rumput laut, bertempat di Desa Munte Kecamatan Tanalili yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani rumput laut. Masyarakat di daerah ini sangatlah menggantungkan nasibnya pada hasil dari tanaman ini, bukanya mereka enggan bercocok tanam tanaman lain, namun karena wilayah yang mereka tempati merupakan pesisir, jadi hanya tanaman inilah yang memliki nilai lebih di banding komoditi lainya. Budidaya rumput laut telah lama di laksanakan oleh masyarakat, namun pemasaran hasil rumput laut masih di hadapkan pada berbagai masalah yang antara lain adalah lemahnya posisi tawar petani sehingga harga jual rumput laut lebih banyak di tentukan oleh pedagang tanpa banyak melibatkan petani selaku produsen.
Permasalahan yang sering di hadapi oleh petani rumput laut di Desa Munte Kecamatan Tanalili dalam pengembangan perekonomian yang terkait dengan pemasaran hasil. Sistem pemasaran hasil rumput laut yang efisien sudah tentu merupakan faktor utama yang menentukan meningkat atau tidaknya produktivitas. Informasi tentang pemasaran rumput laut di lakukan oleh petugas penyuluhan lapangan di rasakan belum optimal karena sampai sekarang para petani masih belum mendapatkan informasi pemasaran yang jelas tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan pemasaran hasil rumput laut, sebagai akibatnya petani tidak dapat ikut ambil bagian dalam penentuan harga rumput laut.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana bentuk saluran pemasaran rumput laut di Desa Munte Kecamatan Tanalili ?
2. Berapa jumlah margin dan keuntungan yang di peroleh masing-masing lembaga pemasaran ?
3. Berapa persen tingkat efisiensi pemasaran pada masing-masing lembaga pemasaran ?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai pada penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui bentuk saluran pemasaran rumput laut di Desa Munte Kecamatan Tanalili.
2. Untuk mengetahui jumlah margin dan keuntungan yang di peroleh masing-masing lembaga pemasaran.
3. Untuk mengetahui tingkat efisiensi pemasaran pada masing-masing lembaga pemasaran.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang ingin di capai dalam penelitian ini adalah :
1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran umum dan informasi kepada petani rumput laut dalam rangka pengembangan usaha budidaya rumput laut.
2. Luaran yang dapat diperoleh pada penelitian ini adalah sebagai bahan informasi tentang margin, keuntungan dan tingkat efisiensi yang diperoleh setiap labaga pemasaran rumput laut. Sekaligus dapat dijadikan pedoman oleh pemerintah dalam membuat kebijakan tentang kegiatan usaha rumput laut di Desa Munte Kecamatan Tanalilli.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kajian Teori 2.1.1 Rumput laut
Rumput laut merupakan tanaman berderajat rendah, biasanya tumbuh melekat pada substrat tertentu, tidak mempunyai akar dan batang serta daun sejati, tapi hanya menyerupai batang yang disebut thallus. Pertumbuhan dan penyebaran rumput laut sangat dipengaruhi oleh toleransi fisiologi dari biota tersebut untuk beradaptasi dengan faktor-faktor lingkungan seperti substrak, salinitas, temperatur, intensitas cahaya, tekanan dan nutrisi. Umunya rumput laut sering dijumpai tumbuh pada daerah yang memiliki perairan yang dakal dengan kondisi dasar permukaan air berpasir, sedikit lumpur atau campuran keduanya (Anggadiredja dkk., 2010).
Rumput laut (sea weeds) didalam dunia ilmu pengetahuan dikenal dengan nama (algae). Tumbuhan yang akrab disapa dengan ganggang oleh masyarakat pesisir ini adalah salah satu komoditas hasil perikanan dan sebagai sumber utama penghasil agar-agar, alginat dan karaginan yang banyak dimanfaatkan dalam industri makanan, komestik, farmasi, dan industri lainnya. Berdasarkan manfaat tersebut dapat dilihat bahwa prospek pengembangan rumput laut sebagai komoditas perdagangan sangat cerah, baik pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri (Kordi, 2011).
Klasifikasi rumput laut menurut Soegiarto, et. Al. (1985) adalah sebagai berikut: Divisi : Rhodophyta
Kelas : Rhodophyceae
Ordo : Bangiales
Famili : Solieriaceae
Genus : Eucheuma
Species : Eucheuma cottonii
Rumput laut jenis Eucheuma pada umumnya diekspor karena rumput laut jenis ini mengandung karbohidrat dalam jumlah yang besar, sedikit protein dan vitamin serta kandungan kimiawi (algin dan carrageenan) dimanfaatkan sebagai bahan baku dan tambahan dalam industri makanan, obat-obatan dan kosmetik (Soegiarto et. al. 1985). Karaginan merupakan ekstrak rumput laut yang tidak lain adalah senyawa kompleks polisakarida yang dibangun dari sejumlah unit galaktosa dan 3,6 anhydro-galaktosa baik mengandung sulfat maupun tidak dengan ikatan alfa 1,3- D-Galaktosa dan beta 1,4 - 3,6-anhydro –galaktosa secara bergantian. Echeuma cottonii terutama dimanfaatkan dalam bentuk kappa-carrageenan. (Yunizal dkk, 2000) menyatakan bahwa sebagai bahan baku pengolahan, rumput laut harus dipanen pada umur yang tepat, dan dipanen setelah berumur 1,5 bulan atau lebih.
a. Habitat rumput laut
lainnya. Faktor yang sangat berpengaruh pada pertumbuhan jenis ini yaitu arus yang cukup dengan salinitas (kadar garam) yang stabil, yaitu berkisar 28 – 34 per mil. Oleh karenanya, rumput laut jenis ini akan hidup baik bila jauh dari muara sungai (Anggadiredja, dkk., 2010).
b. Perkembangbiakan rumput laut
Perkembangbiakan rumput laut dapat terjadi melalui dua cara, yaitu vegetatif dengan thallus dan secara generatif dengan thallus dipploid yang menghasilkan spora. Perbanyakan secara vegetatif dikembangkan dengan cara setek, yaitu potongan thallus yang kemudian tumbuh menjadi tanaman baru. Sementara, perbanyakan secara generatif dikembangkan melalui spora, baik secara alamiah maupun melalui budidaya. Pertemuan dua gamet membentuk zygot yang selanjutnya berkembang menjadi sporofit (Anggadiredja, dkk., 2010). c. Budidaya eucheuma sp.
Menurut (Anggadiredja, dkk., 2010), syarat-syarat utama dalam keberhasilan budidaya rumput laut adalah:
a) Pemilihan lokasi
Keberhasilan budidaya rumput laut sangat ditentukan pada pemilihan lokasi yang tepat. Hal ini dikarenakan produksi dan kualitas rumput laut dipengaruhi oleh faktor-faktor ekologi meliputi kondisi substrat perairan, kualitas air, iklim dan geografis dasar perairan. Faktor lain yang tidak kalah pentingnya dalam penentuan lokasi yaitu faktor kemudahan (aksesibilitas), risiko (masalah keamanan), serta konflik kepentingan (pariwisata, perhubungan dan tanaman laut nasional). (Anggadiredja, dkk., 2010)
b) Persiapan Penanaman
Persiapan penanaman rumput laut Eucheuma sp. meliputi penyediaan peralatan budidaya yang sesuai dengan metode yang akan digunakan serta penyediaan bibit yang baik. Peralatan yang diperlukan harus disesuaikan dengan metode yang akan digunakan. Secara garis besar, peralatan yang digunakan antara lain patok kayu, bambu, jangka, tali poietilen (tambang plastik), tali rafia dan pelampung. Persiapan penanaman yang paling penting yaitu pemilihan dan penanganan bibit rumput laut Eucheuma sp. sebelum ditanam.
c) Penanaman
Penanaman rumput laut Eucheuma sp. dapat dilakukan menggunakan beberapa metode. Terdapat tiga metode yang sudah dikenal masyarakat serta dikembangkan secara luas, yaitu metode lepas dasar (off bottom method), rakit apung (floating rack method), dan rawai (long line method). Pemilihan metode ini tergantung pada kondisi geografis lokasi. Saat yang baik untuk penanaman adalah pada saat cuaca teduh (tidak mendung) dan paling baik adalah pagi hari atau sore hari menjelang malam. (Anggadiredja, dkk., 2010)
d) Pemeliharaan
Selama rumput laut berada di wadah budidaya, selama itu pula beberapa kegiatan terus dilakukan untuk memastikan rumput laut dalam kondisi baik. Pemeliharaan pertumbuhan rumput laut yang dilakukan secara rutin, yaitu membersihkan lumpur dan kotoran yang melekat pada rumput laut; menyulam tanaman yang rusak atau lepas dari ikatan; mengganti tali, patok, bambu, dan pelampung yang rusak; serta menjaga tanaman dari serangan pedator seperti ikan dan penyu. (Anggadiredja, dkk., 2010)
2.1.2 Sistem Pemasaran
Sistem pemasaran produk pertanian merupakan suatu kesatuan urutan lembaga-lembaga pemasaran yang melakukan fungsi-fungsi pemasaran untuk memperlancar aliran produk pertanian dari produsen awal ke tangan konsumen akhir, sebaliknya juga memperlancar aliran uang, nilai produk yang tercipta oleh kegiatan produktif yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pemasaran. Sistem pemasaran merupakan kegiatan yang produktif yang dilakukan oleh lembaga pemasaran yang dilakukan dalam urutan horizontal maupun vertikal. (Kotler, 2001).
Sistem pemasaran mempunyai peranan penting sebagai bagian dari subsistem agribisnis. Kegiatan pemasaran akan sangat mempengaruhi kegiatan subsistem lainnya dan mekanisme agribisnis secara keseluruhan. Pemasaran seperti disebutkan sebelumnya merupakan kegiatan yang produktif karena dalam kegiatannya proses pemasaran meciptakan nilai guna bagi barang yang diproduksi salah satunya pemasaran memenuhi kegunaan waktu (time utility). Maksudnya adalah kegiatan pemasaran mendorong tersedianya produk sesuai dengan waktu dibutuhkannya oleh konsumen baik dari segi kualitas, kuantitas maupun kontinuitas. (Kotler, 2001).
Kegiatan pemasaran tidak hanya proses pemindahan produk dari tangan produsen ke tangan konsumen. Kegiatan pemasaran merupakan kegiatan yang sangat kompleks meliputi proses pengumpulan produk dari para petani, pengepakan, penyimpanan, pendistribusian, termasuk di dalamnya pemilihan saluran pemasaran. Kegiatan-kegiatan tersebut bukan tanpa biaya. Efisiensi pemasaran dapat dinilai dari biaya akumulasi semua proses tersebut. Sistem pemasaran akan semakin efisien apabila semua kegiatan tersebut di atas dilakukan dengan mengeluarkan biaya minimum. Sistem pemasaran yang efisien akan mendorong rendahnya margin pemasaran sehingga perbaikan pendapatan di pihak produsen, harga yang relatif murah bagi konsumen serta keuntungan yang normal bagi para pelaku kegiatan pemasaran akan tercapai. (Kotler, 2001).
Sifat produk pertanian yang bulky dan voluminous menyebabkan pengangkutan dalam ruang yang luas yang memakan biaya angkut yang tinggi. Hal ini tentu saja menyebabkan kegiatan pemasaran menjadi tidak efisien. Hal tersebut dapat diantisipasi dengan jarak produsen yang sebisa mungkin dekat dengan konsumen target sehingga pengangkutan dapat berjalan dengan biaya rendah. Selain itu jarak produsen dan konsumen dapat memenuhi kebutuhan konsumen jauh lebih cepat dilihat dari sisi waktu. (Kotler, 2001).
Sifat produk pertanian lain yang juga sangat mempengaruhi mekanisme pemasaran adalah sifat produk pertanian yang musiman. Sehingga penentuan sistem pemasaran harus mempertimbangkan keberimbangan antara proses produksi atau panen yang bersifat musiman dengan kebutuhan konsumen yang sepanjang waktu. Mengatasi hal tersebut maka hal yang harus diperbaiki dalam sistem pemasaran adalah distribusi antar produsen di setiap daerah serta informasi pasar dari konsumen yang akan sangat berguna bagi produsen memenuhi kebutuhan pasar. Distribusi yang lancar dari setiap produsen antar daerah adalah untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang pasti akan berbeda di setiap pasar. Distribusi yang efisien diharapkan akan mampu memenuhi kebutuhan pasar sesuai dengan kuantitas yang diinginkan dan kontinuitas. Selain itu teknologi penyimpanan antar panen akan mampu mengantisipasi kendala kesenjangan antara penawaran produk pertanian yang musiman dengan permintaan konsumen yang sepanjang waktu. (Kotler, 2001).
a. Definisi pemasaran
Sehingga dapat dikatakan bahwa keberhasilan pemasaran merupakan kunci kesuksesan dari suatu perusahaan. Menurut Stanton (2001), definisi pemasaran adalah suatu sistem keseluruhan dari kegiatan-kegiatan bisnis yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang atau jasa yang memuaskan kebutuhan baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial.
Setelah melihat definisi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pemasaran merupakan usaha terpadu untuk menggabungkan rencana-rencana strategis yang diarahkan kepada usaha pemuas kebutuhan dan keinginan konsumen untuk memperoleh keuntungan yang diharapkan melalui proses pertukaran atau transaksi. Kegiatan pemasaran perusahaan harus dapat memberikan kepuasan kepada konsumen bila ingin mendapatkan tanggapan yang baik dari konsumen. Perusahaan harus secara penuh tanggung jawab tentang kepuasan produk yang ditawarkan tersebut. Dengan demikian, maka segala aktivitas perusahaan, harusnya diarahkan untuk dapat memuaskan konsumen yang pada akhirnya bertujuan untuk memperoleh laba. Pemasaran merupakan faktor penting untuk mencapai sukses bagi perusahaan akan mengetahui adanya cara dan falsafah yang terlibat didalamnya. Cara dan falsafah baru ini disebut konsep pemasaran (marketing concept). Konsep pemasaran tersebut dibuat dengan menggunakan tiga faktor dasar yaitu:
a) Saluran perencanaan dan kegiatan perusahaan harus berorientasi pada konsumen/ pasar.
b) Volume penjualan yang menguntungkan harus menjadi tujuan perusahaan, dan bukannya volume untuk kepentingan volume itu sendiri.
c) Seluruh kegiatan pemasaran dalam perusahaan harus dikoordinasikan dan diintegrasikan secara organisasi.
dalam memperkenalkan produk telah berjalan dengan benar. Penjualan dan pemasaran sering dianggap sama tetapi sebenarnya berbeda. Tujuan utama konsep pemasaran adalah melayani konsumen dengan mendapatkan sejumlah laba, atau dapat diartikan sebagai perbandingan antara penghasilan dengan biaya yang layak. Ini berbeda dengan konsep penjualan yang menitikberatkan pada keinginan perusahaan. Falsafah dalam pendekatan penjualan adalah memproduksi sebuah pabrik, kemudian meyakinkan konsumen agar bersedia membelinya. Sedangkan pendekatan konsep pemasaran menghendaki agar manajemen menentukan keinginan konsumen terlebih dahulu, setelah itu baru melakukan bagaimana caranya memuaskan
b. Jenis jenis saluran pemasaran
Pemasaran hasil pertanian merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan dan mengembangkan kegiatan pemasaran suatu produk, kita harus mempertimbangkan saluran pemasaran yang dapat dipakai untuk menyalurkan produk dari produsen ke konsumen. Menurut Philip Khotler (1996) mengemukakan bahwa saluran pemasaran adalah serangkaian organisasi yang saling tergantung dan terlibat dalam proses menjadikan suatu produk atau jasa siap untuk digunakan atau di konsumsi. Sedangkan menurut Basu Swastha (1999) saluran pemasaran adalah saluran yang digunakan oleh produsen untuk menyalurkan barang tersebut dari produsen sampai kekonsumen atau pemakai industry.
Setelah melihat pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa saluran pemasaran adalah serangkaian organisasi yang saling tergantung dalam rangka proses penyaluran barang dari produsen kepada konsumen.Suatu barang dapat berpindah melalui beberapa tangan sejak dari produsen sampai kepada konsumen. Ada beberapa saluran distribusi yang dapat digunakan untuk menyalurkan barang-barang yang ada. Jenis saluran distribusi dapat diklasifikasikan sebagai berikut : a) Saluran distribusi langsung, Saluran ini merupakan saluran distribusi yang
b) Saluran disrtibusi yang menggunakan satu perantara yakni melibatkan produsen dan pengecer. Disini pengecer besar langsung membeli barang kepada produsen, kemudian menjualnya langsung kepada konsumen. Saluran ini biasa disebut dengan saluran satu tingkat (one stage chanel).
c) Saluran distribusi yang menggunakan dua kelompok pedagang besar dan pengecer, saluran distrinusi ini merupakan saluran yang banyak dipakai oleh produsen. Disini produsen hanya melayani penjualan dalam jumlah besar kepada pedagang besar saja, tidak menjual kepada pengecer pembelian oleh pengecer dilayani oleh pedagang besar dan pembelian oleh konsumen hanya dilayani oleh pengecer saja. Saluran distribusi semacam ini disebut juga saluran distribusi dua tingkat (two stage chanel).
d) Saluran distribusi yang menggunakan tiga pedagang perantara. Dalam hal ini produsen memilih agen sebagai perantara untuk menyalurkan barangnya kepada pedagang besar yang kemudian menjualnya kepada took-toko kecil. Saluran distribusi seperti ini dikenal juga dengan istilah saluran distribusi tiga tingkat (three stage chanel), Philip Kotler (1996).
c. Margin pemasaran
Produktivitas hasil pertanian selalu mengalami fluktuasi, sedangkan harga hasil pertanian ditingkat prodesen cenderung mengalami peningkatan yang cukup berarti, hal ini diduga berkaitan dengan rendahnya produktivitas dari hasil pertanian. Singh dalam Sahara (2001) mengatakan bahwa fluktuasi harga yang tinggi di sektor pertanian merupakan suatu fenomena yang umum akibat ketidakstabilan (inherent instability) pada sisi penawaran.
rantai tataniaga dan besarnya biaya tataniaga. Besarnya biaya tataniaga akan mengarah pada semakin besarnya perbedaan harga antara petani produsen dengan konsumen. Hubungan antara harga yang diterima petani produsen dengan harga yang dibayar oleh konsumen pabrikan sangat bergantung pada struktur pasar yang menghubungkannya dan biaya transfer. Apabila semakin besar margin pemasaran ini akan menyebabkan harga yang diterima petani produsen menjadi semakin kecil dan semakin mengindikasikan sebagai sistem pemasaran yang tidak efisien (Tomek&Robinson, 1990). Persoalan mutu dan harga hasil pertanian merupakan bagian dari masalah tataniaga hasil pertanian yang tidak dapat dipisahkan karena mempunyai dampak langsung terhadap pihak-pihak yang terkait dalam perdagangan hasil pertanian.
Selain itu keberadaan lokasi lahan pertanian yang terpencar-pencar dan jauh dari pusat perekonomian yang mengarah pada terbentuknya rantai tataniaga yang panjang karena adanya peran hierarki dari pedagang perantara yang cenderung menambah kompleksitas upaya perbaikan mutu hasil pertanian. Analisis margin pemasaran digunakan untuk mengetahui distribusi biaya dari setiap aktivitas pemasaran dan keuntungan dari setiap lembaga perantara serta bagian harga yang diterima petani. Atau dengan kata lain analisis margin pemasaran dilakukan untuk mengetahui tingkat kompetensi dari para pelaku pemasaran yang terlibat dalam pemasaran/disribusi (Tomeck&Robinson, 1990). d. Beberapa fungsi dalam pemasaran
Dalam proses pemasaran, hasil pertanian ada beberapa fungsi yang harus ditampung oleh pihak produsen dan elemen-elemen terlibat dalam penyaluran yang seringkali funsi-fungsi ini menimbulkan masalah yang harus diperlukan oleh produsen maupun elemen-elemen yang terlibat dalam rantai pemesaran. Fungsi-fungsi tersebut terdiri dari :
b) Penjualan dan penyebaran ini merupakan kegiatan untuk mencari dan mengusahakan agar barang-barang yang telah diproduksi atau dimiliki dapat dipasarkan secara menguntungkan.
c) Pengangkutan dan transportasi, merupakan suatu fungsi yang berarti memindahkan suatu produk dari sumber penghasilanya ke pasar atau konsumen pada waktu tertentu yang tepat disesuaikan dengan kebutuhan dan kepentingan pasar atau konsumen. Jadi transportasi menciptakan kegunaan tempat dan kegunaan waktu.
d) Menyimpan produk (storage), fungsi ini merupakan fungsi yang hampir ditemukan pada setiap lembaga pemasaran, ini merupakan suatu pengumpulan sementara produk sebelum dipasarkan.
e) Pengolahan produk, dalam tataniaga pemasaran disini bukan pengolahan bentuk, ukuran luar dan sebagainya, tetapi berupa penyortiran produk-produk tersebut.
f) Pendanaan atau pembiayaan (financing), yaitu penyediaan sejumlah uang guna suatu transaksi jual beli produk.
g) Resiko, merupakan fungsi yang bersangkutan dengan kerugian yang timbul akibat kurang matangnya pertimbangan dalam pembuatan rencana.
h) Keterangan pasar, yaitu fungsi pencarian informasi tentang pasar yang diperlukan untuk penyusunan kebijakan pemasaran produk, Mubyarto (1997).
2.3 Efisiensi pemasaran
Efisiensi operasional berhubungan dengan penanganan aktivitas-aktivitas yang dapat meningkatkan rasio dari output-input pemasaran. Input pemasaran adalah sumber daya yang meliputi tenaga kerja, pengepakan, mesin-mesin, dan lain-lain yang diperlukan untuk melaksanakan fungsi-fungsi pemasaran. Output pemasaran termasuk didalamnya adalah kegunaan waktu, bentuk, tempat dan kepemilikan yang berhubungan dengan kepuasan konsumen (Asmarantaka, 2009). Sehingga bagaimana pemasaran mampu memenuhi peranaannya dalam empat kegunaan tersebut. suatu sistem pemasaran dikatakan efisien apabila pemasaran mampu menyalurkan produk yang sesuai dengan yang diinginkan konsumen, mampu menyalurkan produk ke pasar yang sesuai dengan kualitas, kuantitas dan kontinuitas yang tepat konsumen, mampu menyalurkan produk tepat dengan waktu permintaan konsumen.
Dari pemaparan di atas maka diperoleh bahwasanya sumber daya merupakan biaya sedangkan kegunaan adalah benefits dari rasio efisiensi pemasaran. Biaya pemasaran secara sederhana adalah jumlah dari semua harga sumber daya yang dipergunakan dalam proses pemasaran. Oleh sebab itu nilainya lebih mudah dihitung atau diprediksi dibanding indikator/ nilai kepuasan konsumen (output pemasaran). Rasio efisiensi pemasaran (operasional) dapat dilihat dari peningkatan dalam dua cara yaitu (Asmarantaka, 2009) :
a) Pada perubahan sistem pemasaran dengan mengurangi biaya perlakuan pada fungsi-fungsi pemasaran tanpa mengubah manfaat/ kepuasan konsumen
b) Meningkatkan kegunaan output dari proses pemasaran tanpa meningkatkan biaya pemasaran.
Efisiensi harga dapat dianalisa melalui ada atau tidaknya keterpaduan pasar antara pasar acuan dengan pasar pengikut misalnya pasar di tingkat petani dengan pasar di tingkat eksportir atau di konsumen akhir. Terkait dengan pihak-pihak yang turut dalam kegiatan pemasaran, suatu sistem pemasaran dikatakan efisien apabila bagian pendapatan yang diperoleh produsen sebanding dengan biaya produksi yang dikeluarkan. Selain itu efisiensi pemasaran akan dicapai apabila lembaga pemasaran tidak mengambil keuntungan atas kegiatannya dengan jumlah yang sangat besar dan mampu memenuhi kebutuhan konsumen sesuai dengan yang diinginkan baik dari aspek kualitas, kuantitas dan kontinuitas. Di pihak konsumen sendiri efisiensi pemasaran tercapai apabila konsumen merasakan kepuasan atas kegiatan pemasaran yang dilakukan dengan disertai harga produk yang murah.
Efisiensi pemasaran pun perlu dikondisikan oleh pemerintah sebagai pihak yang mengatur dan mengawas mekanisme pemasaran. Pemerintah dengan perangkat kebijakan yang dimilikinya perlu mengkondisikan sistem pemasaran untuk mencapai efisien diantaranya dengan menciptakan kondisi yang ideal agar produk pertanian mampu menjadi primadona bagi pasar domestik dan mampu bersaing dengan produk pertanian impor. Dukungan informasi dan teknologi mampu mempercepat efisiensi pemasaran.
2.4 Hasil Penelitian Yang Relevan
Penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Wa Ode Astuti (2006) dengan judul “Analisis Pemasaran Rumput Laut Di Kecamatan Kulisusu Kabupaten Muna”. Dengan menggunakan analisis margin pemasaran. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa margin pemasaran rumput laut di Kecamatan Kalisusu Kabupaten Muna sangat besar. Yaitu sebesar Rp. 2000. Hal ini disebabkan oleh panjang nya saluran pemasaran yang ada di daerah tersebut.
menerima 95,45% sedagakan untuk saluran 2 nya sebesar 86,95%. Kecilnya share harga di saluran II disebabkan oleh panjangnya saluran pemasaran II.
Penelitian Asri Hidayati (2000) yang berjudul Analisis Kinerja Sistem Pemasaran Kaitanya Dengan Pengembangan Produksi Rumput Laut Di Kabupaten Lombok Timur. Metode yang digunakan adalah metode metode survey dengan responden petani, pengumpul dan eksportir. Hasil yang didapat kan berupa harga rumput laut ditentukan sebelumnya oleh eksportir, sehingga petani berada pada posisi yang lemah, namun karena penawaran rumput laut relatif sedikit, petani masih dapat menerima harga yang cukup baik.
Penelitian Rahayu Puji (2007) yang berjudul Efisiensi Pemasaran Buah Manggis Di Kecamatan Lingsar Lombok Barat. Analisis yang digunakan adalah kualitatif dan kuantitatif, kualitatif dilakukan untuk mengkaji saluran serta lembaga pemasaran, sedangkan kuantitatifnya digunakan untuk menganalisis margin dan volume penjualan. Hasil yang didapatkan yaitu sistem pemasaran buah manggis Kecamatan Lingsar Lombok Barat meliputi sistem tebasan dan sistem eceran dan pemasaran buah manggis nya belum efisien. Jenis pengguna (konsumen) buah manggis didominasi oleh eksportir dan wilayah distribusi buahnya mencakup wilayah Kota Mataram, Kabupaten/Kota di Provinsi NTB, Bali dan ekspor dengan melalui Bali.
memiliki nilai margin terendah dan farmer share tertinggi, dengan penyebaran RPM nya merata jika dibandingkan dengan saluran lainya.
2.5 Kerangka Pikir
Tidak banyak petani yang dapat menjual sendiri hasil usahataninya ke pedagang besar. Pedagang besar tersebut terlalu jauh bagi petani. Petani juga tidak memiliki kemampuan untuk menjalankan fungsi pemasaran seperti pembiayaan, penjualan, transportasi dan tindakan lainnya yang berhubungan dengan pemasaran. Hal ini dikarenakan petani tidak memiliki pengetahuan dan fasilitas yang diperlukan untuk berbagai keperluan tersebut. Mereka juga tidak memiliki sarana untuk mengangkut hasil taninya ke pasar. Karena itu diperlukan lembaga pemasaran untuk menyalurkan komoditi dari sentra produksi ke konsumen.
Pelaksanaan fungsi pemasaran oleh lembaga lembaga pemasaran menyebabkan terbentuknya biaya pemasaran. Semakin panjang saluran pemasaran suatu produk, maka semakin besar pula biaya pemasaran yang harus dikeluarkan. Setiap lembaga pemasaran yang terlibat akan mengambil profit atau keuntungan untuk jasa yang telah mereka berikan. Dengan demikian apabila semakin banyak lembaga lembaga pemasaran yang berperan dalam pemasaran rumput lau maka akan semakin tidak efektif dan efisien sistem pemasaran rumput laut tersebut.
Besarnya biaya pemasaran akan berpengaruh terhadap harga beli konsumen, karena biaya pemasaran ini merupakan tambahan harga pada barang-barang yang harus ditanggung oleh konsumen. Semakin tinggi biaya pemasaran, akan mengurangi tingkat efisiensi pemasaran. Oleh kerana itu untuk meningkatkan efisiensi pemasaran dapat dilakukan dengan cara memperkecil biaya pemasaran.
Gambar 1 : Skema Kerangka Pikir Sistem Pemasaran Rumput Laut
: Saluran Pemasaran
: Menyatakan Hubungan
BAB III Petani
Tengkulak
Pengumpul
Eksportir
Fugsi Pemasaran : 1. pembelian /penjualan 2. transport 3. pembiayaan 4. dll
Biaya pemasaran
Harga jual
Efisiensi
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Desain Penelitian
Sesuai dengan penelitian ini yaitu analisis sistem pemasaran rumput laut di Desa Munte Kecamatan Tanalili, maka penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yaitu penelitian yang menggambarkan sistem pemasaran serta item-item yang membentuknya, diantaranya saluran pemasaran, margin pemasaran, dan juga efisiensi pemasaran yang diterima oleh pelaku pemasaranya.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di Desa Munte Kecamatan Tanalili pada Bulan Desember Tahun 2016. Alasan penulis memilih lokasi ini di karenakan mayoritas peduduk di Desa Munte berprofesi sebagai petani rumput laut.
3.3 Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini terdiri dari petani rumput laut dan pedagang yang terlibat dalam pemasaran rumput laut. Pada penelitian ini, metode pengambilan sampel menggunakan metode sampling bola salju (snowball sampling), yaitu pengambilan sampel tingkat pertama dalam hal ini adalah petani rumput laut ditentukan secara acak sederhana (simple random sampling) yaitu dipilih 30 orang petani dari jumlah populasi petani rumput laut sebanyak 150 orang yang dianggap dapat mewakili petani yang mengusahakan rumput laut.
Sedangkan sampel berikutnya dalam hal ini adalah pedagang ditentukan oleh petani dimana petani yang telah dipilih tersebut di identifikasi (digali datanya), kemudian responden ini disuruh untuk mengidentifikasikan responden lain (pedagang) yang merupakan bagian dari populasi target. Proses ini akan berhenti bilamana jumlah sampel dianggap telah memadai. Berdasarkan informasi dari petani : Pedagang tengkulak berjumlah 4 orang dan pedagang pengumpul berjumlah 2 orang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1 berikut:
No Macam Lembaga Pemasaran Populasi Sampel
1 Petani 150 30
2 Pedagang pengumpul 4 4
3 Pedagang Besar 2 2
Jumlah 156 36
(Sumber : Kantor Desa Munte)
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Jenis data yang di kumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer terdiri dari, (1) Identitas responden (umur, jumlah anggota keluarga, tingkat pendidikan, pengalaman bertani atau berdagang rumput laut), (2) Bentuk saluran pemasaran rumput laut (lembaga yang di lalui dalam memasarkan rumput laut), (3) Margin dan keuntungan yang di peroleh lembaga pemasaran (harga beli, harga jual, jumlah rumput laut yang di jual setiap lembaga pemasaran, dan biaya yang di keluarkan setiap lembaga pemasaran), (4) Tingkat efisiensi pemasaran pada masing – masing lembaga pemasaran (harga beli, harga jual (eceran), dan biaya yang di keluarkan.
Data sekunder merupakan data yang di peroleh dari kantor – kantor atau instansi terkait yang erat kaitanya dengan penelitian ini. Kantor – kantor yang di jadikan sumber data adalah Dinas Kelautan/Perikanan. Biro Pusat Statistik, Kantor Kecamatan dan Kantor Kabupaten setempat. Adapun jenis data sekunder yang di butuhkan adalah : Keadaan umum wilayah, jumlah petani rumput laut, jumlah produksi rumput laut, jumlah penduduk keseluruhan.
3.5 Tehnik Analisis Data
Data yang telah di peroleh akan memberikan gambaran fenomena saluran pemasaran, gambaran fenomena tersebut akan di kaji menggunakan analisis kuantitatif dan dijelaskan secara deskriptif.
Sedangkan data mengenai margin, keuntungan dan efisiensi pemasaran yang diterima lembaga pemasaran akan juga akan di analisis menggunakan alat analisis kuantitatif berdasarkan rumus sebagai berikut :
M=Hp – Hb ( Hanafiah dan Saefuddin, 1986 )
Dimana M = Margin Pemasaran Hb = Harga Pembelian Hp = Harga Penjualan
2. Untuk menghitung persentase margin, digunakan rumus :
%M= M
HEx100 ( Hanafiah dan Saefuddin, 1986 )
Dimana %M = Presentase Margin HE = Harga Eceran
M = Margin
3. Untuk mengetahui jumlah keuntungan yang diperoleh masing-masing lembaga
pemasaran, digunakan rumus sebagai berikut :
Π=M – Bp (Adiwilaga, 1996)
Dimana Π = Keuntungan Lembaga Pemasaran M = Margin Pemasaran
Bp = Biaya Penjualan
4. Untuk mengetahui tingkat efisiensi pemasaran rumput laut pada masing-masing lembaga pemasaran, digunakan rumus sebagai berikut :
Eps= Bp
HE x100 (Soekartawi, 2002)
Dimana Eps = Efisiensi Pemasaran Bp = Biaya Pemasaran HE = Harga Eceran Kriteria :
Eps<5 Efisien
Eps>5tidak Efisien
3.6 Variabel dan Definisi Operasional Variabel
1. Petani Rumput Laut, adalah individu ataupun kelompok orang yang melakukan budidaya rumput laut.
2. Pedagang pengumpul adalah mereka yang memiliki modal kerja- aktif membeli dan mengumpulkan rumput laut dari petani rumput laut.
4. Eksportir adalah orang atau perusahaan yang melakukan pemasaran rumput laut ke Luar Negeri, baik dalam bentuk bahan baku, setengah jadi dan lain-lain
5. Biaya pemasaran adalah segala biaya yang dikeluarkan oleh lembaga dalam memasaran rumput laut
6. Margin pemasaran adalah selisih antara harga jual dengan harga beli rumput laut yang dilakuan oleh suatu lembaga pemasaran.
7. Efisiensi pemasaran adalah perbandingan antara biaya pemasaran dengan total nilai penjualan rumput laut yang dinyatakan dalam bentuk persen. 8. Keuntungan pemasaran adalah selisi dari margin yang diterima dengan
biaya yang dikeluarkan pada setiap lembaga pemasaran.
9. Rantai pemasaran adalah lembaga-lembaga yang terlibat dalam proses pemasaran rumput laut dari petani rumput laut sampai kepada eksportir rumput laut.
10.Lembaga pemasaran adalah individu atau badan yang melaksanakan kegiatan pemasaran rumput laut, misalnya produsen (petani rumput laut, pedagang pengumpul, pedagang besar dan eksportir.
DAFTAR PUSTAKA
Adiwilaga. 1996. Ilmu Usaha Tani. Penerbit Alumni Bnadung. Bandung
Assauri. 1987. Prinsip Margin Pemasaran. Erlangga, Yogyakarta.
Badan Pusat Statistik Sulawesi Selatan. 2007. Sulawesi Selatan Dalam Angka. Badan Pusat Statistik Sulawesi Selatan. Makassar.
Hanafiah dan Saefuddin. 1986. Tataniaga Hasil Perikanan. Universitas Indonesia. Jakarta.
Kottler, Philip dan Gary Armstrong. 2000. Dasar-Dasar Pemasaran. Prenhallindo. Jakarta.
Kotler P. 1991. Prinsip Pemasaran. Edisis Bahasa Indonesia. Jakarta. Mubyarto. 1998. Pengantar Ekonomi Pertanian. LP3ES, Yakarta
Masyrofie. 1994. Tataniaga Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Malang.
Nur, S. 2007. Kebijakan Pemerintah Kabupaten Pangkep Di Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia Sektor Perikanan dan Perkebunan Dalam Rangka Mempercepat Pembangunan Daerah. Disampaikan Pada Seminar Dalam Rangka Dies Natalis Politeknik Pertanian Negeri Pangkep.
Rahardi, dkk. 1993. Manajemen Produksi Perikanan, Erlangga. Yakarta
Saptana, Sayaka, B. 2008. Pengembangan Kelembagaan Partnership dalam Pemasaran Komoditas Pertanian. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Bogor
Suparta, N. 2005. Pendekatan Holistik Membangun Agribisnis. CV Bali Media Adhikarsa. Denpasar.
Sudiyono. 2001. Pemasaran Pertanian. Universitas Muhamadiyah. Malang.
Soekartawi. 2002. Analisis Usahatani. Universitas Indonesia. Jakarta.
Sa’id, E.G dan Intan A.H. 2001. Manajemen Agribisnis. Ghalia Indonesia Jakarta.
Saununu, P C. 2007. Analisis Pengembangan Agribisnis Jagung di Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur. Disertasi tidak di terbitkan. Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin, Makassar.
Saefuddin, A,M. 1995. Harga Margin Pemasaran. Universitas Kelautan Bogor. Bogor.
Soekartawi. 1993. Agribisnis, Teori dan Aplikasinya. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.