• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMANFAATAN TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI G

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PEMANFAATAN TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI G"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

PEMANFAATAN TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI GEOGRAFI UNTUK

PEMETAAN KASUS KORUPSI DI INDONESIA

Oleh : Drs. Agus Santoso Budiharso, M.Sc.

Latar Belakang

Ada ungkapan dalam bahasa Inggris

Corruption is real extra ordinary crime

hal ini harus di

sikapi secara serius oleh seluruh elemen masyarakat. Masyarakat sudah muak mendengar tiap

hari di berita-berita baik daerah maupun nasional bahwa Korupsi sudah menjadi wabah

penyakit yang menular di setiap aparat negara dari tingkat yang paling rendah hingga tingkatan

yang paling tinggi. Ini sangat sangat memilukann hati ini. Bagaimana negara yang

diperjuangkan dengan darah para syuahada dan pahlawan kita akan maju kalau selalu dirorong

oleh para tikus-tikus koruptor? Korupsi harus di cegah dan di tindak seberat beratnya.

Kebijakan pencegahan korupsi telah diupayakan oleh pemerintah. Namun, berbagai

kebijakan dan lembaga pemberantasan yang telah ada ternyata tidak cukup membawa

Indonesia menjadi negara yang bersih dari korupsi. Berdasarkan kondisi dimana Indonesia

tetap dicap sebagai salah satu negara terkorup di dunia tentunya ada beberapa hal yang

kurang tepat dalam pelaksanaan kebijakan atau pun kinerja dari lembaga pemberantasan

korupsi tersebut.

(2)

Berdasar beberapa aturan di atas, dirumuskan pelbagai langkah strategis dalam rangka

optimalisasi pemberantasan korupsi. Pelbagai ketentuan tersebut menjadi acuan bagi para

pihak di pusat dan daerah serta aparatur penegak hukum dalam memberantas korupsi. Setelah

kebijakan tersebut diberlakukan, ternyata memunculkan dinamika yang menarik. Pada satu

sisi, terjadi pembentukan dan konsolidasi kelembagaan; dan di sisi lain masyarakat makin

sadar dan kritis akan pentingnya pemberantasan korupsi. Namun hal inipun belum cukup

karena pada kenyataannya perilaku korupsi masih marak terjadi.

Jaksa Agung secara tertulis pada Rapat Kerja Komisi III DPR RI dengan Jaksa Agung RI,

tanggal 18 februari 2014 membeberkan fakta sebagai berikut bahwa data perkara tindak pidana

korupsi yang ditangani Kejaksaan RI, Tahun 2013 sebanyak 1.709 kasus (penyelidikan), 1.653

perkara (penyidikan), 2.023 perkara (penuntutan; yang berasal dari penyidikan Kejaksaan

sebanyak 1.249 dan penyidikan Polri sebanyak 774). Berdasarkan Laporan Kinerja Akhir

Tahun 2013 Kejaksaan RI kerugian negara yang berhasil diselamatkan sebesar Rp.

403.102.000.215 dan USD 500.000. Sedangkan data KPK Tahun 2013 (Laporan Akuntabilitas

Kinerja KPK Tahun 2013) sebanyak 81 kasus (penyelidikan), 102 perkara (penyidikan), 73

perkara (penuntutan), dan kerugian negara yang berhasil diselamatkan sebesar Rp. 1,196

triliun.

Berdasarkan hal-hal di atas ternyata korupsi tidak pernah berhenti dan dilakukan dengan

berbagai modus. Oleh karena itu pemberantasan korupsi kedepan diperlukan strategi dan terus

dikembangkan berbagai antisipasi modus baru dalam korupsi di negeri yang aku cintai ini.

Modus-Modus Korupsi

Dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, ada 8 (delapan) kelompok delik korupsi, yaitu : 1. Kelompok delik yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara; 2. Kelompok delik penyuapan (aktif maupun pasif); 3. Kelompok delik penggelapan dalam jabatan; 4. Kelompok delik pemerasan dalam jabatan (knevelarij, extortion); 5. Kelompok delik pemalsuan; 6. Kelompok delik berkaitan dengan pemborongan, leveransir, dan rekanan; 7.

Kelompok delik gratifikasi; 8. Kelompok delik yang merintangi dan menghalang-halangi penanganan perkara korupsi.

(3)

mengemukakan bahwa korupsi sebagai an abuse of public power for private gains , dengan bentuk antara lain :

a) Political Corruption (Grand Corruption ) yang terjadi di tingkat tinggi (penguasa, politisi, pengambil keputusan) dimana mereka memiliki suatu kewenangan untuk memformulasikan, membentuk dan melaksanakan Undang-Undang atas nama rakyat, dengan memanipulasi institusi politik, aturan prosedural dan distorsi lembaga pemerintahan, dengan tujuan meningkatkan kekayaan dan kekuasaan;

b) Bureaucratic Corruption (Petty Corruption), yang biasa terjadi dalam administrasi publik seperti di tempat-tempat pelayanan umum;

c) Electoral Corruption , dengan tujuan untuk memenangkan suatu persaingan seperti dalam pemilu, pilkada, keputusan pengadilan, jabatan pemerintahan dan sebagainya;

d) Private or Individual Corruption , korupsi yang bersifat terbatas , terjadi akibat adanya kolusi atau konspirasi antar individu atau teman dekat;

e) Collective or Aggregated Corruption , dimana korupsi dinikmati beberapa orang dalam suatu kelompok seperti dalam suatu organisasi atau lembaga;

f) Active and Passive Corruption dalam bentuk memberi dan menerima suap (bribery ) untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu atas dasar tugas dan kewajibannya;

g) Corporate Corruption baik berupa corporate criminal yang dibentuk untuk menampung hasil korupsi ataupun corruption for corporation dimana seseorang atau beberapa orang yang memiliki kedudukan penting dalam suatu perusahaan melakukan korupsi untuk mencari keuntungan bagi perusahaannya tersebut.

Strategi Pemberantasan Korupsi

Pemberantasan korupsi merupakan prioritas utama guna meningkatkan kesejahteraan rakyat dan kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta dalam rangka pencapaian tujuan nasional. Oleh karena itu kebijakan optimalisasi pemberantasan korupsi harus ditindaklanjuti dengan strategi yang komprehensif , integral , dan holistik agar benar-benar dapat mencapai hasil yang diharapkan. Menyimak penyebab terjadinya korupsi, dapat disimpulkan terkait aspek-aspek manusia, regulasi, birokrasi, political will, komitmen, dan konsistensi penegak hukum.

(4)

revolusi mental untuk mengubah antropo sentris menjadi Allah sentris dengan kata lain dari materialistik menuju spiritualistik. Hal ini akan membawa manusia sadar bahwa dirinya adalah bagian yang harus berperilaku cukup (enough)

Persebaran korupsi di Indonesia

Korupsi di Indonesia ini sudah sangat merata dari semua penjuru wilayah. Mulai dari Aceh hingga Papua. Sudah saatnya peta korupsi di buat dengan menggunakan sistem informasi geografi (SIG) yang handal.

Jumlah kasus korupsi Indonesia meningkat 12% di sepanjang tahun 2014, di tengah upaya keras pemerintah dalam memerangi dan memberantas korupsi, yang merupakan sebagai salah satu persoalan terbesar bangsa. Lembaga Indonesia Corruption Watch (ICW) mengatakan bahwa dari laporan kepolisian dan KPK, tercatat 629 kasus korupsi dengan berbagai jenis seperti suap, penyalahgunaan wewenang, penyalahgunaan dana serta pemalsuan data. Dari semua jenis kasus korupsi tersebut, terdapat lebih dari 1300 orang yang telah ditetapkan tersangka. Data tahun 2014 ini lebih banyak jika dibandingkan dengan jumlah kasus korupsi tahun 2013 sebanyak 560 kasus dengan 1271 orang tersangka (www.jokowinomics.com).

Kondisi Ini Belum diketahui wilayah mana saja di indonesia yang paling tinggi tingkat korupsinya, karena belum terpetakan dengan jelas secara spasial. Apabila digunakan teknologi SIG maka akan jelas wilayah mana yang mempunyai tingkat korupsi yang tinggi hingga terendah. Dengan berbagai cara geostatistik gradasi tingkat korupsi secara spasial akan mudah dideteksi. Hal ini akan memudahkan lembaga pemberantasan korupsi melakukan pencegahan dan penindakan.

Berikut ini secara spasial Kasus Pennganan Korupsi yang datanya dari ICW KORUPSI BERDASARKAN PROVINSI semester I tahun 2014. Berdasarkan Peta Penanganan Korupsi tersebut, dapat dengan mudah perebaran korupsi yang ada di wilayah Indonesia. Apabila datanya ada yang lebih detail pemetaan ini dapat dilakukan dengan mendasarkan kasus per kasus pada setiap wilayah satuan Peta dalam hal ini misalnya setiap kabupaten. Apabila di Seluruh kasus dn penananganan Korupsi dibuat peta dengan menggunakan Teknologi Sistem informasi Geografi, maka para pengambil keputusan dapat menetapkan sasaran strategi berdasarkan sebaran geografis kasus korupsi dengan mudah dan akurat.

(5)

Gambar : Persebaran Penanganan kasus Korupsi di Indonesia ada masing-masing Provinsi

Grafik Persebaran Korupsi per Provinsi di Indonesia Kesimpulan :

Dengan Teknologi SIG Korupsi dapat dipetakan secara ssitematis dan dapat digunakan untuk pengambilan keputusan dalam rangka pencegahan Korupsi.

0 5 10 15 20 25 30 35

40

Korupsi 2013 - 2014

Series1 Series2

(6)

Dengan demikian apabila saya terpilih sebagai Komisioner KPK saya akan memanfaatkan Teknologi SIG untuk menangani berbgai kasus korupsi, tentunya bersinergi dengan ahli-ahli lain dalam KPK dan penegak hukum yang lain.

Referensi :

Muladi (2005) Konsep Total Enforcement Dalam Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi , Makalah disampaikan dala “e i ar Nasio al Korupsi, Pe egaha da Pe era tasa ya , Le ha as RI dan ADEKSI-ADKASI, Jakarta, 8 Desember 2005, hlm. 4-5

Laporan Kinerja Akhir Tahun 2013 Kejaksaan RI. Laporan Akuntabilitas Kinerja KPK Tahun 2013

http://www.jokowinomics.com/2015/02/20/berita/ekonomi/jumlah-kasus-korupsi-indonesia-meroket-di-tahun-2014/

Gambar

Gambar : Persebaran Penanganan kasus Korupsi di Indonesia ada masing-masing Provinsi

Referensi

Dokumen terkait

Data tekstual prasasti yang ditemukan (berasal) dari areal terbahas menunjukkan bahwa di wilayah Kota dan Kabupaten Malang sekarang ini, sekitar seribu tahun silam (abad

Penelitian yang dilakukan Gustanti (1999) terhadap uji efek anti kanker dadih sapi yang mengandung bakteri Lactococcus lactis terhadap mencit yang diinduksi

Hotel kapsul merupakan pengertian dari sebuah hotel yang berukuran lebih kecil dibandingkan dengan hotel umunya dan dengan sistem yang berbeda, yaitu sistem pengerjaan ketika

Hal ini ditindak lanjuti dengan keluarnya peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.03/ Menhut-II/2005 tanggal 18 Januari 2005 tentang Pedoman Verifikasi izin Usaha Pemanfaatan Hasil

Evaluasi yaitu suatu cara penilaian dari kinerja supplier/subkon untuk menetapkan peringkat supplier/subkon yang memenuhi persyaratan sebagai supplier/pemasok

Dengan kata lain, adalah wajar untuk menggunakan suatu kelas yang khusus dari himpunan fuzzy jenis II - interval-valued fuzzy sets ( IVFS) ( Zahed, [8]) untuk

P : Kalau dari segi metode, misalnya perpindahan materialnya atau metode kerja lainnya, apakah ada yang bisa menyebabkan cacat potong?... Terima kasih

Hanya saja disebabkan ia terbentuk sejak pertama sebagai hasil dari suatu hubungan perzinaan, maka ia tidak memiliki hubungan nasab, perwalian dan pewarisan kecuali