• Tidak ada hasil yang ditemukan

HAK PENGHUNI RUMAH NEGARA DARI ASPEK HUK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "HAK PENGHUNI RUMAH NEGARA DARI ASPEK HUK"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

HAK PENGHUNI RUMAH NEGARA DARI ASPEK HUKUM

oleh : Aa Auliasa Ariawan

Sudah banyak langkah yang kita lakukan dalam memperjuangkan hak-hak untuk membeli Rumah Negara sesuai peraturan dan perundangan yang berlaku, melalui jalur normatif dan prosedural, bahkan dalam bentuk tatap muka mulai dari rapat dengan Wakil Presiden RI Jusuf Kala, Menteri Keuangan, Menteri PUPR, Menkopolhukam, Ketua Watimpres, Sekjen Wantanas, Ketua DPR RI, Komisi I DPR RI, Komisi II DPR RI, Komisi III DPR RI, Rapat Dengar Pendapat Tertutup dengan Komisi I DPR RI, Menteri Pertahanan dan Panglima TNI, Komnas HAM RI dan Ombudsman RI dengan hasil NIHIL.

12 tahun bukanlah waktu yang pendek dalam melakukan perjuangan untuk mendapatkan hak-hak sesuai peraturan dan perundangan yang berlaku, telah banyak tenaga, pikiran, materi yang dikeluarkan, ditambah dengan intimidasi-intimidasi yang dilakukan oleh TNI. Lelah dengan panjangnya waktu yang dihabiskan dalam melakukan perjuangan, akhirnya membuat beberapa warga perumahan di lingkungan TNI menempuh jalur hukum.

Dari begitu banyak kasus hukum yang ditempuh, saya melihat dan menyimpulkan ada beberapa kesalahan mendasar yang dilakukan oleh penghuni dalam melakukan gugatan terhadap TNI, yaitu :

1. Penghuni tidak memahami dengan baik dan benar sejarah berdirinya komplek/perumahan di lingkungannya masing-masing, seharusnya sejarah berdirinya perumahan/komplek bisa dimaksimalkan sebagai pembuktian bahwa itu bukan aset milik TNI.

2. Setiap penghuni yang menempati rumah di perumahan/komplek sampai dengan keluarnya Surat Keputusan KASAD No.KEP-492/7/1971 tanggal 31 Juli 1971 yang di tanda-tangani oleh Jenderal Umar Wirahadikusumah memiliki sejarahnya masing-masing.

3. Pembangunan perumahan/komplek dan Penempatan Rumah Negara adalah dua hal yang berbeda, dan masing-masing memiliki sejarah.

4. Pemahaman para penghuni terhadap peraturan dan perundangan tentang Rumah Negara masih sangat kurang, artinya adalah sebenarnya penghuni tidak tau apa yang menjadi materi gugatan secara terperinci.

(2)

6. Kurangnya barang bahan bukti yang dimiliki oleh para penghuni yang melakukan gugatan, khususnya bukti pembanding untuk mematahkan argumentasi yang dilakukan oleh pihak TNI

Dalam menyelesaikan permasalahan rumah negara yang tidak pernah ada ujungnya diperlukan langkah-langkah strategis baru dalam menghadapi perilaku TNI dalam penertiban. Saat ini kita masih berpaku pada bagaimana caranya untuk dapat membeli Rumah Negara sesuai pertauran dan perundangan yang berlaku. Dalam tulisan ini (walau masih jauh dari sempurna) saya ingin mencoba memaparkan sedikit “Syarat Rumah Negara”, “Syarat dan Kewajiban Penghuni Rumah Negara”, dan “Syarat Membeli Rumah Negara”.

Sesuai Peraturan Pemerintah No.40 tahun 1994 tentang Rumah Negara pasal 26 ayat 2 berbunyi :

“Semua peristilahan rumah negeri atau rumah dinas yang termuat dalam ketentuan peraturan perundang-undangan sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah ini dibaca Rumah Negara”.

Artinya dengan berlakunya Peraturan Pemerintah tersebut diatas, tidak ada lagi istilah Rumah Negeri atau Rumah Dinas, tetapi semua harus dibaca dan ditulis “RUMAH NEGARA”.

Yang dimaksud Rumah Negara dalam :

1. Peraturan Pemerintah No.40 tahun 1994 pasal 1 ayat 1, 2. Peraturan Presiden No.11 tahun 2008 pasal 1 ayat 1,

3. Peraturan Menteri Keuangan No.138/PMK.06/2010 pasal 1 ayat 2,

4. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.22/PRT/M/2008 pasal 1 ayat 1, ialah:

“Rumah Negara adalah bangunan yang dimiliki negara dan berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga serta menunjang pelaksanaan tugas pejabat dan/atau pegawai negeri”.

Sedangkan yang dimaksud Rumah Negara dalam Peraturan Menteri Pertahanan No.30 tahun 2009 pasal 1 ayat a, ialah :

(3)

“SYARAT RUMAH NEGARA"

Untuk menetapkan/menentukan sebuah bangunan rumah dapat disebut Rumah Negara sesuai Peraturan Pemerintah No.40 tahun 1994 tentang Rumah Negara : Pasal 12 :

(1) Untuk menentukan golongan Rumah Negara dilakukan penetapan status Rumah Negara sebagai Rumah Negara Golongan I, Rumah Negara Golongan II, dan Rumah Negara Golongan III.

(2) Penetapan status Rumah Negara sebagai Rumah Negara Golongan I dan Rumah Negara Golongan II sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan oleh pimpinan instansi yang bersangkutan.

(3) Penetapan starus Rumah Negara Golongan III sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan oleh Menteri.

(4) Tata cara penetapan status sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut oleh Menteri.

Pasal 13 ayat (1) :

Setiap Rumah Negara wajib didaftarkan

Peraturan Presiden No.11 tahun 2008 Bab III Tata Cara Penetapan Status Rumah Negara pasal 4 :

(1) Pejabat eselon I atau pejabat yang ditunjuk mendaftar dan mengajukan usul Penetapan Status Rumah Negara Golongan I atau Rumah Negara Golongan II kepada Pimpinan Instansi yang bersangkutan yang diperoleh dari Pengadaan Rumah Negara dan/atau perubahan fungsi menjadi Rumah Negara paling lambat 6 (enam) bulan sejak dimiliki oleh negara.

(2) Usul Penetapan Status Rumah Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan dengan melampirkan dokumen sebagai berikut:

a. bukti kepemilikan Rumah Negara;

b. gambar legger/gambar arsip berupa rumah dan gambar situasi; dan c. tanda bukti kepemilikan hak atas tanah.

(3) Berdasarkan usul penetapan sebagaiman dimaksud pada ayat (1), Pimpinan Instansi yang bersangkutan menetapkan status Rumah Negara dalam lingkup wewenangnya ke dalam Rumah Negara Golongan I dan/atau Rumah Negara Golongan II paling lambat 1 (satu) tahun sejak dimiliki oleh negara.

(4) Tembusan keputusan Penetapan Status Rumah Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disampaikan kepada Menteri dan Menteri Keuangan.

(5) Pimpinan Instansi yang bersangkutan menyampaikan daftar Rumah Negara Golongan I dan Rumah Negara Golongan II sebagai barang milik negara yang berada dalam lingkup wewenangnya kepada:

a. Menteri selaku Pembina Rumah Negara; dan

b. Menteri Keuangan selaku Pengelola Barang Milik Negara.

(4)

Peraturan Menteri Keuangan No.138/PMK.06/2010 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara berupa Rumah Negara.

Pasal 8 :

(1) BMN berupa Rumah Negara harus dilakukan penetapan status penggunaan oleh Pengelola Barang.

(2) Penetapan status penggunaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a. Rumah Negara Golongan I dan Golongan II ditetapkan status

penggunaannya pada Pengguna Barang;

b. Rumah Negara Golongan III ditetapkan status penggunaannya pada Pengguna Barang Rumah Negara Golongan III.

(3) Penetapan status penggunaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada permohonan penetapan status penggunaan yang diajukan oleh Pengguna Barang dan Pengguna Barang Rumah Negara Golongan III.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.22/PRT/M/2008 tentang Pedoman Teknis Pengadaan, Pendaftaran, Penetapan Status, Penghunian, Pengalihan Status, dan Pengalihan Hak atas Rumah Negara :

Pasal 1, ayat :

6. Pendaftaran adalah kegiatan pencatatan/inventarisasi rumah negara baik yang berdiri sendiri dan/atau berupa Satuan Rumah Susun beserta atau tidak beserta tanahnya yang dilaksanakan untuk tertib administrasi kekayaan negara.

7. Penetapan status rumah negara adalah keputusan yang menetapkan status golongan rumah negara kedalam Rumah Negara Golongan I, Rumah Negara Golongan II, atau Rumah Negara Golongan III yang berdiri sendiri dan/atau berupa Satuan Rumah Susun beserta atau tidak beserta tanahnya.

Pasal 6 Pendaftaran Rumah Negara :

Pimpinan Instansi yang bersangkutan wajib melaksanakan pendaftaran rumah negara yang ada dalam lingkup wewenangnya kepada Menteri dalam hal ini Direktur Jenderal Cipta Karya melalui:

a. Direktur Penataan Bangunan dan Lingkungan untuk rumah negara yang terletak di DKI Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.

b. Kepala Dinas Pekerjaan Umum/Dinas Teknis Provinsi yang membidangi rumah negara yang terletak di luar DKI Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.

Pasal 7 Penetapan Status Rumah Negara :

(1) Untuk menentukan golongan rumah negara dilakukan penetapan status rumah negara sebagai Rumah Negara Golongan I, Rumah Negara Golongan II, dan Rumah Negara Golongan III.

(2) Penetapan status rumah negara berdasarkan penetapan status golongan dilakukan oleh :

(5)

b. Menteri dalam hal ini Direktur Jenderal Cipta Karya untuk Rumah Negara Golongan III.

Pedoman Teknis Pendaftaran Rumah Negara dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.22/PRT/M/2008 tentang Pedoman Teknis Pengadaan, Pendaftaran, Penetapan Status, Penghunian, Pengalihan Status, dan Pengalihan Hak atas Rumah Negara dalam Bab II Pendaftaran Rumah Negara disebutkan :

II.1. Ketentuan Pendaftaran Rumah Negara

Pendaftaran adalah kegiatan pencatatan/inventarisasi rumah negara baik yang berdiri sendiri dan/atau berupa satuan rumah susun beserta atau tidak beserta tanahnya yang dilaksanakan untuk tertib administrasi kekayaan negara.

2. Tujuan pendaftaran :

a. mengetahui status dan penggunaan rumah negara;

b. mengetahui jumlah secara tepat dan rinci jumlah aset yang berupa rumah negara;

c. menyusun program kebutuhan pembangunan rumah negara;

d. mengetahui besarnya pemasukan keuangan kepada negara dari hasil sewa dan pengalihan hak rumah negara;

e. menyusun rencana biaya pemeliharaan dan perawatan II.1. Tata Cara Pendaftaran Rumah Negara

2. Kelebgkapan Pendaftaran

a. surat permohonan pendaftaran; b. daftar inventarisasi;

c. kartu legger;

d. gambar legger/gambar arsip rumah dan gambar situasi;

e. fotokopi keputusan otorisasi pembangunan rumah/ surat keterangan perolehan dari instansi yang bersangkutan;

f. fotokopi tanda bukti hak atas tanah atau surat keterangan tentang penguasaan tanah;

g. fotokopi Surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB) atau surat keterangan membangun dari instansi yang bersangkutan.

Peraturan Menteri Pertahanan No.30 tahun 2009 tentang Tata Cara Pembinaan Rumah Negara di Lingkungan Departemen Pertahanan dan Tentara Nasional Indonesia pada Bagian Keenam Pendaftaran Rumah Negara :

Pasal 8 :

(6)

(2) Tujuan pendaftaran sebagaimana pada ayat (1) adalah: a. mengetahui status dan penggunaan rumah negara;

b. mengetahui secara tepat dan rinci jumlah dan nilai aset berupa rumah negara;

c. menyusun program kebutuhan pembangunan rumah negara;

d. mengetahui besarnya pemasukan keuangan kepada negara dari hasil sewa dan pengalihan hak rumah negara; dan

e. menyusun rencana biaya pemeliharaan dan perawatan.

(3) Menteri menunjuk Pejabat Eselon I sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk mendaftarkan rumah negara yang diperoleh dari pengadaan rumah negara melalui pembangunan, pembelian, tukar menukar atau hibah kepada Dirjen Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum dalam hal ini :

a. Direktur Penataan Bangunan dan Lingkungan untuk rumah negara yang terletak di DKI Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang dan Bekasi;

b. Direktur Penataan Pembangunan dan Lingkungan melalui Kepala Dinas Pekerjaan Umum/Dinas Teknis Provinsi yang membidangi rumah negara di Provinsi untuk rumah negara yang terletak di luar DKI Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang dan Bekasi, sebagai pelaksanaan tugas pembantuan.

(4) Tata cara pendaftaran rumah negara dilaksanakan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.

“SYARAT DAN KEWAJIBAN MENGHUNI RUMAH NEGARA”

Penghunian adalah kegiatan menghuni rumah negara sesuai fungsi dan statusnya, yang diatur dalam :

Peraturan Pemerintah No.40 tahun 1994 tentang Rumah Negara: Pasal 7 :

Penghuni RumahNegara hanya dapat diberikan kepada Pejabat atau Pegawai Negeri.

Pasal 8 ayat (1)

Untuk dapat menghunai Rumah Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 harus memiliki Surat Izin Penghunian.

Pasal 10 :

(1) Penghuni Rumah Negara Wajib: a. membayar sewa rumah;

b. memelihara rumah dan memanfaatkan rumah sesuai dengan fungsinya. (2) Penghuni Rumah Negara Dilarang:

a. menyerahkan sebagian atau seluruh rumah kepada pihak lain; b. mengubah sebagian atau seluruh bentuk rumah;

(7)

Peraturan Menteri Keuangan No.138/PMK.06/2010 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara berupa Rumah Negara pasal 10 ayat (1) :

BMN berupa Rumah Negara hanya dapat digunakan sebagai tempat tinggal pejabat atau pegawai negeri yang memiliki Surat Izin Penghunian.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.22/PRT/M/2008 tentang Pedoman Teknis Pengadaan, Pendaftaran, Penetapan Status, Penghunian, Pengalihan Status, dan Pengalihan Hak atas Rumah Negara

Pasal 8 ayat (1) :

Penghunian rumah negara oleh pejabat atau pegawai negeri dilakukan berdasarkan surat izin penghunian yang diberikan oleh pejabat yang berwenang.

Pasal 10 :

Persyaratan penghunian Rumah Negara Golongan II sebagai berikut : a. berstatus pegawai negeri;

b. mendapatkan surat izin penghunian dari Pejabat Eselon I atau pejabat yang ditunjuk;

c. membuat surat pernyataan untuk mentaati kewajiban dan larangan;

d. belum pernah membeli atau memperoleh fasilitas rumah dan/atau tanah dari negara berdasarkan peraturan yang berlaku;

e. tidak sedang menghuni Rumah Negara Golongan II lainnya atau Rumah Negara Golongan III atas nama suami-isteri; dan

f. untuk rumah negara yang berbentuk rumah susun sudah mempunyai perhimpunan penghuni yang ditetapkan Pimpinan Instansi.

Pasal 11 :

Persyaratan penghunian Rumah Negara Golongan III sebagai berikut :

a. pegawai negeri, pensiunan pegawai negeri, janda/duda pegawai negeri janda/duda pahlawan, pejabat negara atau janda/duda pejabat negara. Dalam hal penghuni telah meninggal dunia, surat izin penghunian diberikan kepada anak sah yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

b. mendapatkan surat izin penghunian dari Direktur Penataan Bangunan dan Lingkungan atau pejabat yang ditunjuk, atau Kepala Dinas Pekerjaan Umum/Dinas Teknis Provinsi yang membidangi rumah negara untuk rumah negara yang terletak di luar DKI Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi; c. membuat surat pernyataan untuk mentaati kewajiban dan larangan;

d. belum pernah membeli atau memperoleh fasilitas rumah dan/atau tanah dari negara berdasarkan peraturan yang berlaku;

e. tidak menghuni Rumah Negara Golongan II lainnya;

(8)

Pedoman Teknis Pendaftaran Rumah Negara dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.22/PRT/M/2008 tentang Pedoman Teknis Pengadaan, Pendaftaran, Penetapan Status, Penghunian, Pengalihan Status, dan Pengalihan Hak atas Rumah Negara dalam Bab IV Penghunian Rumah Negara disebutkan :

IV.1. Ketentuan Penghunian Rumah Negara 1. Surat Ijin Penghunian :

a. Penghunian rumah negara hanya dapat diberikan kepada pejabat atau pegawai negeri;

b. Untuk dapat menghuni rumah negara bagi pejabat atau pegawai negeri harus memiliki Surat Izin Penghunian (SIP).

f. Masa berlakunya Surat Izin Penghunian Rumah Negara Golongan II adalah 3 (tiga) tahun dan dapat diperpanjang/dicabut setelah dilakukan evaluasi oleh Pejabat Eselon I dilingkungan instansi yang bersangkutan;

k. Surat Izin Penghunian rumah negara berisi ketentuan:

1) identitas pejabat yang berwenang menandatangani izin penghunian;

2) data kepegawaian calon penghuni rumah negara; 3) alamat rumah negara yang akan dihuni;

4) luas tanah, luas bangunan rumah negara; 5) sewa per bulan sesuai ketentuan yang berlaku;

6) kewajiban dan larangan yang harus dipatuhi oleh calon penghuni; 7) jangka waktu calon penghuni harus segera menempati rumah

negara;

8) sanksi apabila penghuni tidak melaksanakan kewajiban dan larangan.

2. Kewajiban dan larangan penghuni rumah negara a. Kewajiban

1) menempati rumah negara selambat-lambatnya dalam jangka waktu 60 (enam puluh) hari sejak Surat Izin Penghunian diterima;

2) membayar sewa rumah negara yang besarnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku;

3) memelihara dan memanfaatkan rumah negara sesuai dengan fungsinya;

4) membayar pajak-pajak, retribusi dan lain-lain yang berkaitan dengan penghunian rumah negara;

5) membayar biaya pemakaian daya listrik, telepon, air, dan/atau gas; 6) mengosongkan dan menyerahkan rumah beserta kuncinya kepada

Pejabat yang berwenang selambat-lambatnya dalam jangka waktu 2 (dua) bulan sejak diterima pencabutan Surat Izin Penghunian; dan

(9)

b. Larangan

1) mengubah sebagian atau seluruh bentuk rumah tanpa izin tertulis dari instansi yang bersangkutan;

2) menyerahkan sebagian atau seluruh rumah kepada pihak lain; 3) menggunakan rumah tidak sesuai dengan fungsi yang ditetapkan;

dan

4) menghuni rumah negara dalam satu kota/daerah yang sama bagi masing-masing suami/isteri yang berstatus pegawai negeri.

5. Sewa Rumah Negara

Sewa rumah negara mengikuti ketentuan yang diatur oleh Menteri Pekerjaan Umum yang mengatur tentang sewa rumah negara.

Peraturan Menteri Pertahanan No.30 tahun 2009 tentang Tata Cara Pembinaan Rumah Negara di Lingkungan Departemen Pertahanan dan Tentara Nasional Indonesia pada Bagian Kedelapan Penghunian Rumah Negara :

Pasal 11 :

(1) Setiap anggota berhak menempati satu rumah negara dan untuk dapat menghuni rumah negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10, anggota harus memiliki Surat Izin Penghunian (SIP).

(2) Surat Izin Penghunian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan oleh PPBMNE-1 atau pejabat yang ditunjuk di lingkungannya masing-masing, dan pemegang surat izin penghunian (SIP) harus bernama sama dengan nama penghuni rumah negara yang bersangkutan.

Pasal 12 :

(1) Penghuni rumah negara wajib :

a. membayar sewa rumah negara sesuai ketentuan Peraturan Perundangundangan;

b. membayar rekening listrik, air, telepon dan membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB); dan

c. memelihara, mengamankan dan memanfaatkan rumah negara sesuai dengan fungsinya.

(2) Kewajiban penghuni rumah negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b diatur sesuai ketentuan yang berlaku di lingkungan Dephan dan TNI.

(3) Penghuni Rumah Negara dilarang :

a. mengubah sebagian atau seluruh bentuk rumah tanpa izin tertulis dan PPBMNW atau pejabat yang ditunjuk;

b. menyerahkan sebagian atau seluruh rumah kepada pihak lain;

c. menggunakan rumah tidak sesuai dengan fungsi yang ditetapkan; dan

(10)

(4) Anggota yang melanggar larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) akan dilakukan pencabutan Surat Izin Penghunian (SIP) setelah terlebih dahulu dilakukan penelitian dan pemeriksaan sehingga cukup bukti adanya pelanggaran tersebut.

“SYARAT MEMBELI RUMAH NEGARA”

Untuk dapat membeli Rumah Negara yang kita huni, telah di tetapkan dalam Undang-Undang No.72 tahun 1957 tentang Penetapan Undang-Undang Darurat No.19 tahun 1955 tentang Penjualan Rumah-Rumah Negeri kepada Pegawai Negeri sebagai Undang-Undang.

Pasal 1 :

Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga dengan persetujuan Menteri Keuangan dapat menjual rumah‐rumah Negeri termasuk golongan III sebagai termaksud pada "Burgerlijke Woningregeling" Staatsblad 1934 No. 147, dengan semua perubahan dan tambahannya, beserta atau tidak beserta tanahnya kepada :

(a) Pegawai Negeri dan Pegawai Daerah Otononi;

(b) Pegawai Negeri/Pegawai Daerah Otonom yang telah menerima pensiun, baik yang telah maupun yang tidak dipekerjakan kembali pada Negeri/Daerah Otonom menurut peraturan‐peraturan kepegawaian yang berlaku ;

menurut peraturan‐peraturan yang ditetapkan oleh Menteri‐menteri tersebut.

Pasal 5 :

Untuk sementara diadakan pembatasan, bahwa penjualan dilakukan hanya kepada Pegawai-pegawai sebagai termaksud pada pasal 1 sub (a) dan sub (b), yang telah mempunyai waktu dinas sedikit‐dikitnya 10 tahun.

Petunjuk pelaksanaan penjualan/pengalihan hak Rumah Negara telah beberapa kali mengalami perubahan, yag terakhir adalah Peraturan Pemerintah No.31 tahun 2005 tentang Rumah Negara jo. Peraturan PemerintahNo.40 tahun 1994 tentang Rumah Negara.

Peraturan Pemerintah No.31 tahun 2005 tentang Rumah Negara jo. Peraturan Pemerintah No.40 tahun 1994 tentang Rumah Negara

Pasal 16 :

(1) Rumah Negara yang dapat dialihkan haknya adalah Rumah Negara Golongan III.

(2) Rumah Negara Golongan III sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) beserta atau tidak beserta tanahnya hanya dapat dialihkan haknya kepada penghuni atas permohonan penghuni.

(11)

(4) Suami dan istri yang masing-masing mendapat izin untuk menghuni Rumah Negara sebagaimana dimaksud dalam dalam ayat (1) hanya dapat diberikan kepada salah satu dari suami dan istri yang bersangkutan.

Pasal 17 :

(1) Penghuni Rumah Negara yang dapat mengajukan permohonan pengalihan hak harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

1. Pegawai Negeri:

a. mempunyai masa kerja sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) tahun; b. memiliki Surat Izin Penghunian yang sah;

c. belum pernah dengan jalan/cara apapun memperoleh/membeli rumah dari Negara berdasar peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2. Pensiunan Pegawai Negeri: a. menerima pensiun dari Negara;

b. memiliki Surat Izin Penghunian yang sah;

c. belum pernah dengan jalan/cara apapun memperoleh/membeli rumah dari Negara berdasar peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3. Janda/Duda Pegawai Negeri:

a. masih berhak menerima tunjangan pensun dari Negara yang:

1) almarhum suaminya/istrinya sekurang-kurangnya mempunyai masa kerja 10 (sepuluh) tahun pada Negara, atau

b. masa kerja almarhum suaminya/istrinya ditambah dengan jangka waktu sejak yang bersangkutan menjadi janda/duda berjumlah sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) tahun.

c. memiliki Surat Izin Penghunian yang sah;

d. almarhum suaminya/istrinya belum pernah dengan jalan/cara apapun memperoleh/membeli rumah dari Negara berdasar peraturan perundang-undangan yang berlaku.

4. Janda/Duda Pahlawan, yang suaminya/istrinya dinyatakan sebagai Pahlawan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku:

a. masih berhak menerima tunjangan pensun dari Negara; b. memiliki Surat Izin Penghunian yang sah;

c. almarhum suaminya/istrinya belum pernah dengan jalan/cara apapun memperoleh/membeli rumah dari Negara berdasar peraturan perundang-undangan yang berlaku.

5. Pejabat Negara atau Janda/Duda Pejabat Negara:

a. masih berhak menerima tunjangan pensun dari Negara; b. memiliki Surat Izin Penghunian yang sah;

(12)

(2) Apabila penghuni Rumah Negera sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meninggal dunia, maka pengajuan permohonan pengalihan hak atas Rumah Negara dapat diajukan oleh anak sah dari penghuni yang bersangkutan.

(3) Apabila pegawai/penghuni yang bersangkutan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) meninggal dan tidak mempunyai anak sah, maka rumah negara kembali ke Negara.

Peraturan Presiden No.11 tahun 2008 Bab IV Tata Cara Pengalihan Status Rumah Negara pasal 7 :

Pengalihan Status Rumah Negara Golongan II menjadi Rumah Negara Golongan III wajib memenuhi syarat sebagai berikut:

a. umur Rumah Negara paling singkat 10 (sepuluh) tahun sejak dimiliki oleh negara atau sejak ditetapkan perubahan fungsinya sebagai Rumah Negara;

b. status hak atas tanahnya sudah ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

c. rumah dan tanah tidak dalam keadaan sengketa berdasarkan surat pernyataan dari instansi yang bersangkutan;

d. penghuninya telah memiliki masa kerja sebagai Pegawai Negeri paling singkat 10 (sepuluh) tahun;

e. penghuni rumah memiliki Surat Izin Penghunian (SIP) yang sah dan suami atau istri yang bersangkutan belum pernah membeli atau memperoleh fasilitas rumah dan/atau tanah dari negara berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan;

f. penghuni menyatakan bersedia mengajukan permohonan Pengalihan Hak Rumah Negara paling singkat 1 (satu) tahun terhitung sejak rumah tersebut menjadi Rumah Negara Golongan III dengan ketentuan: karena kelalaian mengajukan permohonan tersebut, kepada penghuni dikenakan sanksi membayar sewa 2 (dua) kali dari sewa setiap bulannya yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan

g. untuk Rumah Negara yang berbentuk Rumah Susun, sudah mempunyai perhimpunan penghuni yang ditetapkan Pimpinan Instansi.

Peraturan Menteri Keuangan No.138/PMK.06/2010 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara berupa Rumah Negara.

Pasal 13 :

(1) Penjualan BMN berupa Rumah Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2) dilakukan kepada penghuni yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(2) Penjualan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan mekanisme tidak secara lelang.

(13)

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.22/PRT/M/2008 tentang Pedoman Teknis Pengadaan, Pendaftaran, Penetapan Status, Penghunian, Pengalihan Status, dan Pengalihan Hak atas Rumah Negara.

Pasal 15 ayat (1) :

Rumah negara yang dapat dialihkan haknya adalah Rumah Negara Golongan III.

Pasal 17 :

(1) Persyaratan penghuni yang dapat mengajukan permohonan pengalihan hak Rumah Negara Golongan III sebagai berikut :

a. Pegawai negeri :

1. mempunyai masa kerja sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) tahun; 2. memiliki Surat Izin Penghunian yang sah;

3. belum pernah membeli atau memperoleh fasilitas rumah dan/atau tanah dari Negara berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. b. Pensiunan pegawai negeri :

1. menerima pensiun dari Negara;

2. memiliki Surat Izin Penghunian yang sah;

3. belum pernah membeli atau memperoleh fasilitas rumah dan/atau tanah dari Negara berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. c. Janda/duda pegawai negeri :

1. masih berhak menerima tunjangan pensiun dari Negara, yang:

a) almarhum suaminya/istrinya sekurang-kurangnya mempunyai masa kerja 10 (sepuluh) tahun pada Negara; atau

b) masa kerja almarhum suaminya/istrinya ditambah dengan jangka waktu sejak yang bersangkutan menjadi janda/duda berjumlah sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) tahun.

2. memiliki Surat Izin Penghunian yang sah;

3. belum pernah membeli atau memperoleh fasilitas rumah dan/atau tanah dari Negara berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. d. Janda/duda pahlawan, yang suaminya/isterinya dinyatakan sebagai pahlawan

berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku: 1. masih berhak menerima tunjangan pensiun dari Negara; 2. memiliki Surat izin Penghunian yang sah;

3. belum pernah membeli atau memperoleh fasilitas rumah dan/atau tanah dari Negara berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. e. Pejabat negara atau janda/duda pejabat negara :

1. masih berhak menerima tunjangan pensiun dari Negara; 2. memiliki Surat Izin Penghunian yang sah;

3. belum pernah membeli atau memperoleh fasilitas rumah dan/atau tanah dari Negara berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (1) Apabila penghuni rumah negara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)

(14)

(2) Apabila pegawai/penghuni yang bersangkutan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) meninggal dan tidak mempunyai anak sah, maka rumah kembali ke Negara.

Pedoman Teknis Pendaftaran Rumah Negara dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.22/PRT/M/2008 tentang Pedoman Teknis Pengadaan, Pendaftaran, Penetapan Status, Penghunian, Pengalihan Status, dan Pengalihan Hak atas Rumah Negara dalam Bab V Pengalihan Status Rumah Negara disebutkan :

V.1. Ketentuan Pengalihan Status Rumah Negara

Pengalihan Status Rumah Negara adalah perubahan status Rumah Negara Golongan II menjadi Rumah Negara Golongan III atau perubahan status Rumah Negara Golongan I menjadi Rumah Negara Golongan II atau sebaliknya yang berdiri sendiri dan/atau berupa Satuan Rumah Susun beserta atau tidak beserta tanahnya

6. Pengalihan status Rumah Negara Golongan II menjadi Rumah Negara Golongan III dilakukan berdasarkan permohonan penghuni.

V.2. Tata Cara Pengalihan Status Rumah Negara Golongan II Menjadi Rumah Negara Golongan III

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menggambarkan bahwa pada suasana rumah tinggal pada lahan terbatas penghuni pribumi mempunyai kecenderungan memilih strategi ruang atau menciptakan

Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 99 menyatakan anak sah adalah: anak yang lahir dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah dan hasil pembuahan suami istri

Amandemen undang-undang tentang poligami juga mengizinkan suami untuk menikah poligami dengan perjanjian tertulis dari istri pertama, atau dengan izin pengadilan

1) Hidup Bersama adalah melakukan hubungan sebagai suami istri di luar ikatan perkawinan yang sah yang seolah-olah merupakan suatu rumah tangga. 2) Zina adalah

Rumah tangga adaah kumpulan dari masyarakat terkecil yang terdiri dari pasangan suami istri, anak-anak, mertua, dan sebagainya. Terwujudnya rumah tangga yang sah setelah

Meskipun terhadap pasangan suami istri yang tidak bisa memiliki keturunan bisa melakukan adopsi atau anak angkat, namun dalam peraturan yang berlaku di Indonesia

1) Anak yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yang sah. 2) Hasil pembuahan suami istri yang sah di luar rahim dan dilahirkan oleh istri tersebut. Pasal 100 menyatakan

Sementara dalam Kompilasi Hukum Islam23 dikatakan bahwa anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yang sah24 dari hasil pembuahan suami istri yang sah di