• Tidak ada hasil yang ditemukan

KORUPSI CERMIN BUDAYA INDONESIA. doc

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KORUPSI CERMIN BUDAYA INDONESIA. doc"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

KORUPSI, CERMIN BUDAYA INDONESIA

oleh Elizabeth B. V. Simanjuntak

“... Tak ada yang menakutkan (menggetarkan) orang baik yang melaksanakan kewajiban atau tugasnya dengan jujur.”1

Permasalahan korupsi adalah permasalahan yang sangat serius di banyak negara di Asia. Begitu seriusnya, perkembangan korupsi telah mengancam stabilitas dan keamanan masyarakat nasional bahkan internasional, melemahkan institusi dan nilai-nilai demokrasi dan keadilan, serta membahayakan pembangunan berkelanjutan dan penegakan hukum.2

Dalam pandangan saya mengenai korupsi, pengertian korupsi bagi saya adalah segala perbuatan yang bermaksud untuk memperoleh keuntungan pribadi maupun kelompok melalui penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan. Jika dikaitkan dengan perkuliahan Asas-asas Hukum Pidana yang disampaikan oleh ibu Surastini Fitriasih, jenis delik yang dilakukan adalah delik formil, karena perumusannya ditekankan pada perbuatan. Tanpa timbulnya suatu akibat yang berupa keuntungan bagi pribadi atau kelompok, perbuatan yang dilakukan sudah berupa tindak pidana dan dapat dikenakan sanksi hukum.

Di Indonesia, perkembangan korupsi sudah sangat meluas dari waktu ke waktu. Perluasan tersebut tidak hanya dalam kuantitas kerugian keuangan yang dialami negara dan kualitas tindak pidana, melainkan juga perluasan praktik korupsi yang semakin sistematis. Berdasarkan data KPK, di Indonesia, sepanjang tahun 2013 telah terjadi peningkatan jumlah perkara korupsi: dari 49 perkara yang ditangani pada tahun 2012, menjadi tahun meningkat hampir dua kali lipat menjadi 70 perkara pada tahun 2013. Dan hal tersebut terus berlanjut dengan perbandingan yang berbeda sampai pada saat ini. Salah satu penyebab belangsungnya perluasan korupsi di Indonesia adalah hambatan struktur administrasi. Contohnya, ketika ingin mengurus perizinan, seperti IMB, diharuskan untuk melewati beberapa ‘birokrasi’ dahulu agar bisa diproses. Ini yang disebut hambatan struktur administrasi. Ketika terlalu banyak pihak yang dilibatkan, semakin terbuka lebar peluang terjadinya korupsi. Menurut Jokowi, adanya praktik

1 Terjemahan dari istilah dalam bahasa Latin “Ab honesto virum bonum nihil deterret”

2 Saldi Isra dan Eddy O. S. Hiariej, 2009, Korupsi Mengorupsi Indonesia: Perseptif Hukum Pemberantasan Korupsi di

(2)

korupsi seperti itu dikarenakan sistemnya yang memang mendukung perbuatan korupsi.3 Tanpa disadari, terdapat beberapa fakta penegakan hukum yang memperlihatkan kontradiksi dengan upaya penegakan hukum itu sendiri, di antaranya tebang pilih penegakan hukum dan sanksi yang terlalu ringan. Dalam proses penegakan hukum (dalam arti luas mencakup kegiatan untuk melaksanakan dan menerapkan hukum serta melakukan tindakan hukum terhadap setiap pelanggaran atau penyimpangan hukum yang dilakukan oleh subjek hukum, baik melalui prosedur pengadilan ataupun prosedur arbitrase dan mekanisme penyelesaian sengketa lainnya) terjadi ketidaksamaan perlakuan di depan hukum oleh penegak hukum.4 Kemudian, sanksi hukum, yang seharusnya menurut teori hukum pidana menimbulkan penderitaan secara fisik dan psikis serta agar pelaku kejahatan merasa jera atau kapok, malah terjadi sebaliknya. Lembaga pemantau korupsi di Indonesia, Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat bahwa sepanjang 2009, dari 514 koruptor yang diajukan ke meja hijau, di antaranya atau lebih dari 50 persen hanya dijatuhi hukuman satu tahun penjara oleh majelis hakim, bahkan ada pula yang hanya dijatuhi pidana percobaan (4,23 persen atau setara dengan 16 terdakwa pada tahun 2009).5

Sebagai mahasiswa, begitu banyak upaya yang dapat dilakukan untuk memberantas tindak pidana korupsi. Namun, terlebih dahulu, mahasiswa harus mampu melawan dirinya untuk tidak ikut serta menikmati harta hasil korupsi atau bahkan turut melangsungkan tindak pidana korupsi, seperti terlambat, tugas akhir yang bukan hasil karyanya, dan lain-lain. Kemudian, peran mahasiswa dalam masyarakat dapat digolongkan sebagai kontrol sosial. Sebagai kontrol sosial, mahasiswa dapat melakukan peran preventif terhadap korupsi, seperti mengikuti diskusi publik, mengkaji peraturan-peraturan yang tidak berpihak ke pada masyarakat atau tidak mencerminkan tujuan hukum yang sebenarnya. Selain itu juga melangsungkan dialog dengan pemerintah maupun pihak legislatif. Mahasiswa juga dapat berperan edukatif, yaitu dengan memberikan bimbingan, penyuluhan atau kegiatan lain yang mendorong masyarakat untuk berani menjadi duta anti-korupsi. Dan yang terakhir adalah dengan berperan investigatif, yaitu dengan membentuk opini publik, kajian, dan sebagainya.

3http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2014/12/141210_korupsi diakses pada tanggal 29 April pukul 15.06

WIB

Referensi

Dokumen terkait

Melalui komitmen ini, Indonesia Corruption Watch (ICW) berharap agar revisi Peraturan Komisi Informasi tentang Standar Layanan Informasi Publik dapat membuka akses terhadap informasi

korupsi untuk dukungan ( supportive corruption ). Kekayaan hutan di Indonesia telah menciptakan berbagai faktor dan kepentingan tertentu dan menjadikan sektor kehutanan sangat