1 RENCANA PENELITIAN
Peningkatan Self-Esteem Melalui Layanan Informasi dengan Muatan
Cinematherapy.
Self-esteem adalah keyakinan dalam kemampuan untuk bertindak dan
menghadapi tantangan hidup ini ; keyakinan dalam hak kita untuk bahagia,
perasaan berharga, layak, memungkinkan untuk menegaskan
kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan kita serta menikmati buah dari hasil kerja
keras kita (Nathaniel Branden,2005:3). Secara teoritis, orang-orang yang sukses
memiliki self-esteem antara 20-32 (James Battel : 1987). Banyak upaya yang
dapat dilakukan untuk peningkatan self-esteem, seperti bimbingan kelompok,
layanan informasi dan sebagainya, namun dewasa ini seiring dengan munculnya
inovasi dan kreatifitas dalam konseling serta tuntutan seorang Konselor harus
kreatif. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Carson, Becker, Vance, &
Forth (dalam Rahmadian, 2011:3). Kondisi ini melahirkan banyak pendekatan
salah satunya adalah Cinematherapy. Cinematherapy adalah pendekatan
terapeutik yang relatif baru, mempersiapkan klien untuk menyaksikan dan menilai
film berdasarkan interaksi karakter seseorang dengan yang lain, lingkungannya
dan masalah pribadi, dengan cara mengembangkan penghubung untuk
menyelesaikan terapeutik positif (Tyson, Foster dan Jones dalam Egeci, 2010:2).
Peneliti memilih Cinematherapy sebagai salah satu pendekatan meningkatkan
self-esteem ini.
Self-esteem ini adalah keterampilan yang dapat berubah, dipelajari, dan
dilatih sesuai situasi kondisi diri dari lingkungan yang dihadapinya oleh siapapun
seperti banyak hal yang dipelajari di dalam kehidupan ini dan bukan hanya
sesuatu yang di bawa sejak lahir. Di dalam setiap budaya ada taraf dasar harga diri
yang diperlukan, harga diri membuat orang merasa mampu mengembangkan
2 Dalam proses cinematherapy, siswa dibantu untuk mengidentifikasi
karakter. Identifikasi karakter dapat membantu mereka dalam merefleksikan
proses secara mendalam, dan mereka akan berjuang untuk menyelesaikannya.
Kesadaran emosi diperlukan dalam menonton film, supaya siswa benar-benar
merasa mengalami kondisi yang ditampilkan dalam film dan dapat memiliki
gambaran sehingga dapat digunakan untuk pertumbuhan pribadi, ketika berada
pada situasi yang sama tersebut. Dalam cinematherapy, siswa akan dibimbing
untuk menggunakan efek psikologis dari menyaksikan film, cerita, musik dan lain
sebagainya untuk mendapatkan pemahaman, inspirasi, melepaskan emosi atau
meringankan ketegangan.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan
penelitian quasi eksperimen, menggunakan model pretest-posttest control Group
Desain (desain kelompok kontrol tes awal-akhir). Jenis penelitian ini melibatkan
dua kelompok subyek yang terdiri atas kelompok eksperimen yang diberikan
perlakuan, kelompok kontrol tidak diberikan perlakuan, dan hasilnya diketahui
melalui tes akhir dengan satu macam perlakuan (Suharsimi Arikunto, 2000).
Kelompok rancangan quasi experiment diberi perlakuan dengan layanan informasi
dengan muatan cinematherapy guna meningkatkan self-esteem. Pada kelompok
kontrol tidak diberi perlakuan, dan kedua kelompok itu menyelesaikan tes awal
dan tes akhir. Variabel bebas penelitian ini adalah layanan informasi dengan
muatan cinematherapy, sedangkan variabel terikat adalah peningkatan
self-esteem. Program ini direncanakan dilakukan dalam rentang 6 (enam) minggu
dengan tujuh sesi. Setiap sesi dilaksanakan dengan sasaran yang terkait dengan
self-esteem akan ditangani untuk setiap sesi. Film yang digunakan terdiri dari 4
(empat) Film yang berbeda. Selain itu, diskusi mengenai film tersebut akan
berlangsung dengan pertanyaan panduan yang disediakan untuk peserta. Para
peserta juga akan diberikan pekerjaan rumah dalam persiapan untuk menampilkan
film/sesi berikutnya.
Hasil penelitian ini selain untuk mengungkapkan berapa besar
3 dengan muatan cinematherapy, sebelum dan sesudah diberi perlakuan, berapa
besar peningkatan self-esteem siswa kelompok yang tidak diberikan layanan
informasi dengan muatan cinematherapy, pada pretest dan postest dan berapa
besar Perbedaan self-esteem siswa kelompok diberikan layanan informasi dengan
muatan cinematherapy dengan kelompok yang tidak diberikan layanan informasi
dengan muatan cinematherapy, juga menghasilkan panduan penyelenggaraan
layanan informasi dalam konseling dengan muatan cinematherapy, yang nantinya
dapat dimanfaatkan oleh para konselor sekolah.
Hasil penelitian ini dalam waktu singkat diharapkan dapat meningkatkan
self-esteem khususnya pada sekolah yang dilakukan perlakuan. Lebih lanjut
dengan menghasilkan panduan penyelenggaraan layanan informasi dalam
konseling dengan muatan cinematherapy, dapat dimanfaatkan oleh para konselor
sekolah di lokasi penelitian untuk pengembangan untuk subyek yang lebih besar.
Untuk jangka panjang sebagai pioneer penyelenggara cinematherapy di Indonesia
khususnya di Propinsi Jambi dalam pelayanan konseling nantinya dapat
dikembangkan dan dilaksanakan pelatihan bagi Guru BK/Konselor di sekolah
maupun calon Guru BK/Konselor agar mempunyai kompetensi dan kemampuan