REPORT CONFLICT RESOLUTION
Konflik Struktural Antara Pemerintah Indonesia
dengan Rakyat Papua Terkait Permintaan
Kemerdekaan Untuk Wilayah Papua
Oleh :
Ibnu Amin Gani
(0801511050)
HI-2011 B
Dosen :
Santos Winarso Dwiyoga
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
JURUSAN HUBUNGAN INTERNASIONAL
A. Sejarah
Konflik yang terjadi di Papua dapat dikatakan sebagi konflik yang berlarut-larut yang belum dapat terselesaikan sampai detik ini. Dari awal ketika perebutan papua dari Belanda hingga Otonomi Khusus (OTSUS) kemudian dialog-dialog antara pemerintah dengan oknum Papua masih belum dapat terselesaikan. Berikut akan di jabarkan perkembangan konflik Papua berdasarkan klasifikasi Era pembangunan Indonesia dari masa ke masa.
I. Era Orde Lama
Pada era ini, masih kental dengan upaya-upaya dekolonisasi dari bangsa-bangsa dunia ketiga yang terjajah oleh kolonialisme barat. Termasuk di dalamnya adalah Indonesia. Negara Indonesia mendeklarasikan/memproklamasikan bahwa Indonesia telah lepas dari penjajahan dan merupakan Negara yang independen pada tahun 1945. Tidak lama setelah kemerdekaan, Belanda memulai penjajahan kembali terhadap Indonesia yang dikenal sebagai Agresi Militer Belanda ke II. salah satunya daerah Papua dijadikan sebagai daerah jajahan Belanda dan menyebutnya sebagai Nugini Belanda. Sebenarnya Belanda telah mempersiapkan kemerdekaan untuk Papua pada tahun 1970, ditandainya dengan dibentuk Dewan Nugini pada tahun 1961, dan pada 1 Desember 1961 Dewan Nugini mengibarkan bendera bintang kejora dan menerbitkan pernyataan mengenai eksistensi bangsa Papua Barat. [ CITATION Cen11 \l 1033 ]
Pada Desember 1961, Pemerintah Indonesia mendengar bahwa Belanda masih berkuasa di tanah Papua, maka dengan segera Indonesia mengirimkan pasukan yang dikenal dengan “Tiga Komando Rakyat (TRIKORA)” untuk menghentikan pembentukan “negara boneka Papua” dan kembalikan Papua ke tangan Indonesia. Ketika kondisi dunia sedang mengalami perang dingin dan dikhawatirkan Indonesia terpengaruh oleh blok komunis, maka Amerika Serikat bersama dengan negara Barat lainnya sepakat untuk menghentikan aktifitas penjajahan Belanda atas Papua, dan Belanda akhirnya setuju dengan solusi politik yang diberikan. Pada tahun 1962, terjadi perjanjian New York yang menyebabkan Belanda melepaskan tangannya di tanah Papua dan memberikan tanah Papua kepada
merdeka sendiri atau terintegrasi dengan Indonesia. Dikarenakan kekecewaan tidak di ikut sertakan didalam perjanjian New York, Bangsa Papua membentuk Organisasi Papua Merdeka (OPM) pada 1965 sebagai usaha untuk mencapai kemerdekaan. Di tahun 1969 merujuk pada Perjanjian New York, sebanyak 1026 perwakilan dari papua dalam “Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera)” memilih untuk bergabung dengan Indonesia. Mengapa perwakilan dan bukan referendum? Menurut Indonesia melalui perwakilan sudah cukup karena melalui referendum, Papua terlalu primitif untuk memberikan suara. Hasilnya pada November 1969 dikembalikan Papua ke tangan Indonesia dan secara resmi di tahun 1973 Papua tercatat bagian dari Indonesia. [CITATION Cen11 \p "33 - 34" \l 1033 ]
II. Era Orde Baru
Jatuhnya rezim Soekarno dan digantikan dengan rezim Soeharto, dan secara formal Papua telah menjadi bagian dari Indonesia, Presiden Soeharto menerapkan beberapa kebijakan yang makin membuat kekecewaan masyarakat Papua. Diantaranya adalah mengganti nama Nugini Barat menjadi Irian Jaya, melarang penggunaan bendera bintang kejora dan lagu kebangsaan papua, Dewan Nugini di bubarkan dan yang paling mencolok dari semuanya adalah melakukan kerjasama dengan perusahaan pertambangan milik Amerika Serikat yaitu Freeport McMoRan untuk menambang pasokan tembaga terbesar di dunia. Hal ini yang kemudian menjadi sebuah protes besar akan eksploitasi sumber daya alam di Papua.[CITATION Cen11 \p 35 \l 1033 ]
III. Era Reformasi
100 Ketua Papua (Tim 100). Namun ketika dialog sudah membicarakan mengenai menuntut kemerdekan untuk Papua, Pemerintah langsung mengakhiri dialog nasional tersebut. Kemudian Habibie menyetujui UU 45/1999 tentang pembentukan provinsi Papua, Papua Barat, dan Papua Tengah. Tetapi justru kebijakan ini mengundang respon negatif Papua yang menanggap hal ini adalah cara untuk memecah dan melemahkan Papua. [ CITATION Cen11 \l 1033 ]
Naiknya sosok pemimpin baru yaitu Presiden Abdulrahman Wahid, melihat konteks permasalahan Papua ini, Abdulrahman Wahid kemudian memberikan wadah bagi rakyat Papua untuk memberikan pendapatnya dan mensuarakan haknya yaitu dengan dibentuknya Kongres Rakyat Papua. Bagi rakyat papua ini adalah momentum berharga, dengan kemudian mereka membentuk Presidium Dewan Papua (PDP) dewan ini dibentuk untuk tujuan kemerdekan yang dipimpin oleh Theys Eluay beserta pemimpin politik, akademisi, dan pemuka agama yang mewakili Papua dan dewan ini diakui perwakilan yang sah dari rakyat papua. Kongres ini membentuk 4 komisi yaitu pelurusan sejarah, pengembangan agenda politik, konsolidasi organisasi papua dan hak-hak orang papua asli. Kongres Papua ini juga melibatkan Pemerintah untuk terlibat di dalam dialog yang di mediasikan oleh pihak ketiga yaitu Uni Eropa ataupun Perdana Menteri Selandia Baru. Tetapi tidak satupun proposal dan usulan dari kongres ini direspon oleh pemerintah Indonesia. Pada Juni 2000, kongres ini mendeklarasikan kemerdekaannya dan menyatakan independen. Mendengar hal ini Abdulrahman Wahid langsung mengirimkan militer dan polisi ke papua karena telah bertindak mengancam kedaulatan Indonesia.[CITATION Cen11 \p "35 - 36" \l 1033 ]
moneter. Keabsahannya tetap menurut kewenangan dari Mahkamah Agung. Dengan diberlakukannya OTSUS, mengakui hak-hak orang papua dan meningkatkan pengembangan serta kepemimpinan, mengatur pembagian pendapatan antara pemerintah Indonesia dengan Papua dalam sektor-sektor penting. Kemudian pada era pemerintahan SBY dan Jusuf Kalla pembentukan suatu badan yang bernama Majelis Rakyat Papua (MRP) untuk merangkul rakyat asli Papua. Dan memiliki kewenangan untuk menimbang dan mensetujui Calon Gubernur. Melihat kewenangan ini ada rasa ketakutan sehingga menunda pembentukan MRP ini selama 4 tahun. Dan pada akhirnya MRP dibentuk dan hanya memberi batasan fungsi dari MRP tersebut yaitu sebagai badan budaya non-politik yang terbatas untuk melindungi kepentingan rakyat papua.[CITATION Cen11 \p "36 - 37" \l 1033 ]
Menilai OTSUS ini, banyak dari rakyat papua menilai kurang menerima dengan solusi tersebut. OTSUS tidak dibentuk atas dasar dialog dengan rakyat Papua dan tidak dimengerti oleh semua pihak yang berkepentingan sebagai solusi dari permasalahan ini. Di tingkat kabupaten dan provinsi, OTSUS justru dijadikan sebagai orang-orang politik dan birokrat papua untuk meningkatkan kekuasaan mereka dan mendapatkan dana. Sekitar Rp 28 Triliun dana yang tersedia untuk Papua tidak menyebar merata secara efektif. Dengan OTSUS, tidak mengurangi tindakan-tindakan kekerasan di Papua, banyak terjadi diskriminasi dan pelanggaran hak asasi manusia.[CITATION Cen11 \p 38 \l 1033 ]
B. Analisis
Atau terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan pihak tersebut. Singkatnya, harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Pada poin-poin pemicu konflik yang pertama, pada awalnya persepsi yang terbangun dari masyarakat Papua adalah mereka mendapatkan kemerdekaannya sendiri atas janji pemberian kemerdekaan dari Belanda yang ditandai dengan dibentuknya Dewan Nugini untuk mempersiapkan kemerdekaannya. Tetapi, dengan masuknya Indonesia, harapan dan persepsi kemerdekaan tersebut hilang karena Indonesia menganggap bahwasanya Papua merupakan bagian dari Indonesia dan harus diselamatkan dari penjajahan Belanda. Secara tidak langsung Papua berhutang budi dengan Indonesia dan akan merasa bersalah jika Papua memerdekakan dirinya. Kemudian ketika perjanjian New York, terlihat disitu tidak benar-benar mewakilkan suara dari rakyat Papua secara keseluruhan dan merasa tidak sah dengan perjanjian new york tersebut, harapannya terulang gagal. Pada kasus Freeport, persepsi awal adalah sumber daya alam yang melimpah tersebut dapat digunakan oleh Indonesia dengan sebaik-baiknya yang ditujukan untuk pembangunan Papua, melainkan ditujukan kepada pihak asing. Kerap kali di lancarkan sebuah dialog nasional dan dialog damai, tetapi harapan untuk dapat didengar kemerdekaannya selalu tidak terpenuhi dan bahkan justru mendapat tekanan secara militer. Dan terakhir dengan dibentuk OTSUS ini justru membawa Papua menjadi berkurangnya kapabilitas untuk harapan awal yaitu merdeka. Justru menjadikan pejabat-pejabat politik di Majelis Rakyat Papua menjadi ajang untuk berebut kekuasaan dan korupsi. Inilah yang disebut sebagai deceremental deprivation dimana ekspektasi berjalan konstan tetapi kapabilitas secara kualitas menurun. Dari motif awal sampai motif terakhir tercermin ekspektasi yang konstan, tetapi dengan dibentuknya OTSUS justru membuat kapabilitas secara kualitas rakyat Papua menurun.
yang terjadi, Papua dapat dikatakan sebagai suatu daerah yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah terkait dengan pembangunan dari daerahnya. Akses pendidikan yang sulit, infrastruktur yang kurang memadai, masyarakatnya yang masih tergolong primitif dan ekonomi yang masih rendah. Hal inilah yang seharusnya menjadi pusat perhatian dari pemerintah Indonesia untuk segera di atasi. Papua mungkin memang ingin memerdekakan dirinya tetapi apabila terjamin pembangunan yang baik menurut penulis ini akan menjadi suatu titik balik untuk Papua kembali berpikir untuk berpisah dengan Indonesia. Memakan waktu proses yang lama tentunya dikarenakan fenomena Freeport yang seharusnya kekayaannya dapat membangun Papua melainkan diberi ke pihak asing. Permasalahan ini bukanlah lagi permasalahan kecil, melainkan ini sudah harus menjadi prioritas untuk pemerintah Indonesia mengatasinya. Mengingat situasi dan kondisi papua yang masih tergolong “sabar” menyikapi pemerintah Indonesia yang kurang perhatian dengan Papua.
C. Kesimpulan
bagi masyarakat Papua. Tanpa dibutuhkannya pihak ketiga dalam konflik ini, tentu mengatasi permasalahan ini akan tercipta dengan baik. Akan lebih baik jika sejarah buruk tidak terulang, yaitu ketika Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ingin melepaskan diri dari Indonesia hingga sampai terjadi baku tembak antara GAM dengan TNI. Kondisi Papua hari ini masih tergolong “sabar” dan dapat dikatakan masih ada peluang untuk menyelesaikannya juga dengan cara yang “sabar”.