PENGARUH MEMUDARNYA BUDAYA GOTONG
ROYONG TERHADAP KOHESI DAN INTEGRASI
SOSIAL DI INDONESIA
Ditujukan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Pendidikan Sosial Budaya dengan Dosen M. Januar Ibnu Adham, S.Pd., M.Pd.
Disusun oleh
Iasza Fatah Enting (1510631050061)
Rini Melani (1510631050099)
Kelas : V B
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG
PENGARUH MEMUDARNYA BUDAYA GOTONG
ROYONG TERHADAP KOHESI DAN INTEGRASI
SOSIAL DI INDONESIA
Iasza Fatah Enting
1, Rini Melani
2, M. Januar Ibnu Adam, S.Pd., M.Pd.
3 ¹,²Mahasiswa Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan3Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Singaperbangsa Karawang [email protected]/[email protected]
Abstrak - Karya tulis ini merupakan studi literatur yang mana penulis lakukan dengan tujuan untuk meninjau pengaruh memudarnya budaya gotong royong di Indonesia terhadap kohesi dan integrasi sosial masyarakat Indonesia. Berdasarkan studi literatur diperoleh gagasan bahwa memudarnya budaya gotong royong dapat mempengaruhi kohesi dan integrasi sosial. Kohesi dan integrasi sosial berarti perkumpulan masyarakat yang menjadi utuh. Salah satu kegiatan yang bisa membentuk keutuhan tersebut adalah gotong royong. Oleh karena itu kita harus melestarikan budaya gotong royong. Agar terciptanya persatuan dan kesatuan di Indonesia.
Kata Kunci: Gotong royong, kohesi, integrasi sosial
Abstract - This paper is a literature study which the author aims for reviewing the effect of waning of mutual copperation culture in Indonesia towards cohesion and social integration of Indonesian society. Based on literature study, it obtained idea that the waning of mutual cooperation culture can influence cohesion and social integration. Cohesion and social integration mean, the community which become intact. One of the activities which can construct the integrity is mutual cooperation. Consequently, we must retain the mutual cooperation culture to create the unity in Indonesia.
Keyword: mutual cooperation, cohesion, social integration.
PENDAHULUAN
kepentingan pribadi dan golongan. Menempatkan masyarakat Indonesia pada persatuan dan kesatuan, berarti masyarakat Indonesia harus mempunyai rasa saling memiliki dan membutuhkan satu dengan yang lainnya, sehingga akan tumbuh rasa persatuan dan kesatuan. Persatuan dikembangkan atas dasar Bhinneka Tunggal Ika, dengan memajukan pergaulan demi kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia.
Hal tersebut menjadi mayoritas masyarakat Indonesia bangga akan Bhinneka Tunggal Ika yang melambangkan bangsa Indonesia itu sendiri. Dimana kemajemukan masyarakat Indonesia menunjukkan suatu aneka warna yang besar dalam hal budaya dan bahasa.Salah satu budaya khas masyarakat Indonesia adalah budaya gotong royong. Budaya gotong royong merupakan suatu konsep yang erat sangkut pautnya dengan kehidupan rakyat Indonesia sebagai masyarakat agraris, oleh karena itu budaya gotong royong bernilai tinggi.
Budaya gotong royong memiliki tiga konsep : Pertama, Manusia tidak hidup sendiri di dunia ini, tetapi dikelilingi oleh komunitasnya, masyarakatnya dan alam semesta sekitarnya. Kedua, dalam segala aspek kehidupan manusia pada hakikatnya tergantung terhadap sesamanya. Ketiga, memiliki hubungan baik dengan sesamanya, terdorong oleh jiwa sama-rata sama-rasa. Seluruh konsep tersebut memberikan sikap ketergantungan kepada sesama, dimana hal tersebut menciptakan suatu rasa keamanan nurani yang sangat dalam. Budaya gotong royong merupakan kunci budaya kontemporer Indonesia, yang menggambarkan masyarakat di dalamnya dan semua kebijakan yang diambil dalam kehidupan bermasyarakat harus berdasarkan konsep budaya gotong royong (Bowen 1986 : 545)
Budaya gotong royong yang dilakukan masyarakat Indonesia di masa lalu telah memberikan banyak manfaat. Melakukan setiap pekerjaan dengan cara bergotong royong dapat meringankan dan mempercepat penyelesaian pekerjaan. Dengan bergotong royong, rasa persatuan dan kesatuan juga menjadi semakin erat. Budaya gotong royong bahkan dapat menghemat pengeluaran kegiatan. Sayangnya, pada zaman modern ini penerapan nilai-nilai budaya gotong royong mulai menurun. Orang–orang sudah memikirkan kebutuhan mereka sendiri tanpa memperhatikan lingkungan sekitar. Padahal, setiap manusia merupakan makhluk sosial yang selalu membutuhkan bantuan orang lain.
semua aspek kehidupan yang ada di masyarakat, salah satunya adalah aspek budaya gotong royong Indonesia. Alasan lain yang membuat masyarakat Indonesia sudah mulai melupakan nilai-nilai luhur dari budaya gotong royong adalah sifat-sifat seperti malas, dimana sifat malas ini membuat mereka enggan untuk melakukan kegiatan bersama-sama seperti kerja bakti dan sebagainya.
Lalu masyarakat sekarang sudah terjangkit virus matrealisme yang membuat mereka menuhankan uang, dan mengangapnya lebih penting dari segalanya sehingga mereka hanya sibuk dengan pekerjaan yang dirasa bisa memberikan keuntungan berupa uang. Alasan-alasan inilah yang membuat masyarakat melupakan pentingnya sosialisasi dengan masyarakat yang lain. Ketika hal seperti ini terus terjadi maka akan memiliki dampak yang buruk terhadap masyarakat khususnya generasi muda. Karena generasi muda yang tumbuh dalam lingkungan budaya seperti ini maka mereka juga akan hidup dengan cara yang salah pula.
Badan Pusat Statistik merilis data pada 2010 yang menyebut ada 1.128 suku di Indonesia yang tersebar di lebih dari 17 ribu pulau. Keberagaman ini menjadikan Indonesia salah satu negara dengan budaya paling kaya. Di sisi lain, keberagaman juga dapat memicu konflik bila tak dijembatani dengan baik. Tragedi di Indonesia yang bersumber karena perbedaan budaya. Konflik itu tak hanya menelan korban materi namun juga menghilangkan nyawa ratusan orang. Seperti yang terjadi pada Tragedi Sampit, Tragedi ini bermula dari konflik antara kelompok etnis Dayak dan Madura yang terjadi di Sampit, Kalimantan Tengah. Konflik ini bermula pada 18 Februari 2001 saat empat anggota keluarga Madura, Matayo, Haris, Kama dan istrinya, tewas dibunuh. Warga Madura lantas mendatangi rumah milik suku Dayak bernama Timil yang dianggap telah menyembunyikan si pembunuh. Massa meminta agar Timil menyerahkan pelaku pembunuhan itu. Karena permintaan mereka tidak dituruti, massa marah dan membakar rumah. Selain itu konflik ini terjadi karena ketidak cocokan antara dua suku yaitu suku Madura dan suku Dayak.
Oleh sebab itu perlu kesadaran diri dari berbagai pihak untuk senantiasa menumbuhkan semangat bergotong-royong agar terwujud kehidupan bangsa yang lebih baterah pada kerukunan dengan saling bahu-membahu dalam menyelesaikan permasalahan yang ada. Karena persatuan merupakan harga mati yang tak dapat di nilai dengan kepingan nominal dan tak kan luntur meski didera goda dan masa.
penulis mengambil judul “Pengaruh Memudarnya Kohesi dan Integrasi Sosial Terhadap Budaya Gotong Royong di Indonesia”.
KAJIAN TEORI
1. Pengertian Budaya
Keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia harus dipandang sebagai sebuah kekayaan bukan kemiskinan. Bahwa Indonesia tidak memiliki identitas budaya yang tunggal bukan berarti tidak memiliki jati diri, namun dengan keanekaragaman budaya yang ada membuktikan bahwa masyarakat kita memiliki kualitas produksi budaya yang luar biasa, jika mengacu pada pengertian bahwa budaya adalah hasil cipta manusia. Ada beberapa pengertian budaya menurut beberapa ahli salah satu diantaranya adalah tokoh terkenal Indonesia yaitu Koentjaraningrat. Menurut Koentjaraningrat (2000: 181) kebudayaan dengan kata dasar budaya berasal dari bahasa sansa kerta ”buddhayah”, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi” atau “akal”. Jadi Koentjaraningrat mendefinisikan budaya sebagai “daya budi” yang berupa cipta, karsa dan rasa, sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa, dan rasa itu. Sedangkan menurut Liliweri (2002: 8) kebudayaan atau budaya merupakan pandangan hidup dari sekelompok orang dalam bentuk perilaku, kepercayaan, nilai, dan simbol simbol yang mereka terima tanpa sadar yang semuanya diwariskan melalui proses komunikasi dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Hal ini sesuai dengan pendapat Hawkins (2012) yang mengatakan bahwa budaya adalah suatu kompleks yang meliputi pengetahuan, keyakinan, seni, moral, adat-istiadat serta kemampuan dan kebiasaan lain yang dimiliki manusia sebagai bagian masyarakat. Adapun menurut Ruth Benedict (dalam Moeis Syarif 2009:3) melihat kebudayaan sebagai pola pikir dan berbuat yang terlihat dalam kehidupan sekelompok manusia dan yang membedakannya dengan kelompok lain. Dan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Budaya berarti sebuah pemikiran, adat istiadat atau akal budi. Secara tata bahasa, arti dari keudayaan diturunkan dari kata budaya dimana cenderung menunjuk kepada cara berpikir manusia
karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis.
Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.
2. Pengertian Budaya Gotong royong
Menurut Koentjaraningrat budaya gotong royong yang dikenal oleh masyarakat Indonesia dapat dikategorikan ke dalam dua jenis, yakni gotong royong tolong menolong dan gotong royong kerja bakti. Budaya gotong royong tolong menolong terjadi pada aktivitas pertanian, kegiatan sekitar rumah tangga, kegiatan pesta, kegiatan perayaan, dan pada peristiwa bencana atau kematian. Sedangkan budaya gotong royong kerja bakti biasanya dilakukan untuk mengerjakan sesuatu hal yang sifatnya untuk kepentingan umum, entah yang terjadi atas inisiatif warga atau gotong royong yang dipaksakan.
Dalam perspektif sosiologi budaya, nilai gotong royong adalah semangat yang diwujudkan dalam bentuk perilaku atau tindakan individu yang dilakukan tanpa mengharap balasan untuk melakukan sesuatu secara bersama-sama demi kepentingan bersama atau individu tertentu. Gotong royong menjadikan kehidupan manusia Indonesia lebih berdaya dan sejahtera. Dengan gotong royong, berbagai permasalahan kehidupan bersama bisa terpecahkan secara mudah dan murah, demikian halnya dengan kegiatan pembangunan masyarakat.
Collette (dalam N Rochmadi 2012:6) menyatakan bahwa gotong royong telah berurat dan berakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia dan merupakan pranata asli paling penting dalam pembangunan masyarakat. Adapun menurut Pranadji (dalam N Rochmadi 2012: 7). Implementasi nilai gotong royong pada masyarakat Indonesia merupakan bagian esensial dari revitalisasi nilai sosial budaya dan adat istiadat pada masyarakat yang memiliki budaya beragan agar terbebas dari dominasi sosial, ekonomi, politik, pertahanan dan keamanan, serta ideologi lain yang tidak mensejahterahkan”
Dalam perspektif sosio budaya, nilai gotong royong adalah semangat yang diwujudkan dalam bentuk perilaku atau tindakan individu yang dilakukan tanpa pamrih (mengharap balasan) untuk melakukan sesuatu secara bersama-sama demi kepentingan bersama atau individu tertentu. Misalnya; petani secara bersama-sama membersihkan saluran irigasi yang menuju sawahnya, masyarakat bergotong royong membangun rumah warga yang terkena angin puting beliung, dan sebagainya (Pranadji, 2009 : 62)
Sedangkan menurut Bintarto (1980:11) menyatakan bahwa gotong royong merupakan perilaku sosial yang kongkrit dan merupakan suatu tata nilai kehidupan sosial yang turun temurun dalam kehidupan di desa –desa Indonesia.Tumbuh suburnya tradisi kehidupan gotong royong di pedesaan tidak lepas karena kehidupan pertanian memerlukan kerjasama yang besar dalam upaya mengolah tanah, menanam, memelihara hingga memetik hasil panen. Adapun pendapat Kartodirjo ( 1987) yang menyatakan bahwa penerapan nilai gotong royong di Indonesia mengalami pasang surut penggunaannya mengikuti arus dan gelombang masyarakat penggunanya (dinamis).
Hal ini sesuai dengan Soekanto (1982 : 116) bahwa gotong royong menjadi cara hidup, bertahan hidup dan berelasi di dalam masyarakat agraris yang berbentuk masyarakat paguyuban atau dalam istilah Ferdinand Tonnies disebut dengan masyarakat geme in schaft. Hal tersebut dikemukakan juga oleh Bintarto (1980:11) bahwa gotong royong merupakan perilaku sosial yang kongkrit dan merupakan suatu tata nilai kehidupan sosial yang turun temurun dalam kehidupan di desa –desa Indonesia.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai gotong royong adalah kerja sama antara sejumlah warga masyarakat untuk menyelesaikan sesuatu atau pekerjaan tertentu yang dianggap berguna untuk kepentingan bersama.
Dengan demikian, Gotong royong merupakan budaya bangsa Indonesia yang dilaksanakan oleh seluruh warga masyarakat sesuai dengan kegiatan masing-masing.
3. Pengertian Kohesi
masyarakat meningkatkan kohesi sosial. Definisi tentang kohesi sosial dinyatakan Johnson and Johnson (1991) seperti yang dikutip oleh Noorkamilah (2008) menyatakan bahwa kohesi sosial dalam sebuah komunitas terjadi ketika anggota-anggota kelompok saling menyukai dan saling menginginkan kehadiran satu dengan lainnya. Kemudian Noorkamilah (2008) menambahkan bahwa kohesi sosial dapat dilihat dari partisipasi anggota komunitas, rasa solidaritas yang menumbuhkan rasa kebersamaan dan rasa memiliki terhadap sebuah kelompok.
Selain itu, Mollering (2001) seperti yang dikutip oleh Primadona (2001) menyatakan bahwa salah satu fungsi penting kepercayaan (trust) dalam hubungan-hubungan sosial kemasyarakatan adalah pemeliharan kohesi sosial, trust membantu merekatkan setiap komponen sosial yang hidup dalam sebuah komunitas menjadi kesatuan yang tidak tercerai-berai. Selain itu, menurut Faturochman (2006) seperti yang dikutip oleh Yuasidha (2014) faktor-faktor yang membentuk kohesivitas, yakni setiap anggota memiliki komitmen yang tinggi, interaksi didominasi kerjasama bukan persaingan, mempunyai tujuan yang terkait satu dengan yang lainnya, sesuai dengan perkembangan waktu tujuan yang dirumuskan meningkat, terjadi pertukaran antar anggota yang sifatnya mengikat, dan ada ketertarikan antar anggota sehingga relasi yang terbentuk menguatkan jaringan relasi di dalam komunitas. Menurut Taylor et al. (2009) seperti yang dikutip oleh Wulansari et al. (2012) menyatakan bahwa kohesi sosial diartikan sebagai kekuatan, baik positif maupun negatif, yang menyebabkan anggota tetap bertahan dalam komunitas. Kohesi sosial dapat meningkat seiring dengan tingginya rasa suka antar anggota. Anggota dapat saling menyukai ketika mereka saling menerima. Sedangkan menurut Cartwright (1990) seperti yang dikutip oleh Ramdhani dan Martono (1996) menambahkan bahwa kohesi sosial merupakan derajat kekuatan ikatan dalam satu kelompok yang masing-masing anggotanya secara psikologis menjadi saling tarik menarik dan saling tergantung.
renteng diterapkan dalam rangka mempererat saling ketergantungan antara masing-masing anggota kelompok yang telah mengakar pada diri anggota sebagai bentuk budaya dari masyarakat setempat yang pada umumnya masih memegang teguh nilai-nilai adat luhur menjadikan tingkat kohesi sosial menjadi kuat.
Menurut Myers (2010) kohesi sosial merupakan perasaan “we feeling” yang mempersatukan setiap anggota menjadi satu bagian. Rasa memiliki tersebut juga dapat membentuk kohesi sosial antar individu dalam suatu komunitas.
Dengan demikian dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Kohesi sosial terdiri dari kekuatan yang berlaku pada anggota suatu masyarakat atau kelompok untuk tinggal di dalamnya, dan dengan aktif berperan untuk kelompok dalam kelompok kompak, anggota ingin menjadi bagian dari kelompok, mereka biasanya suka satu sama lain dan hidup rukun serta bersatu dan setia di dalam mengejar tujuan kelompok.
4. Pengertian Integrasi Sosial
Integrasi berasal dari bahasa inggris "integration" yang berarti kesempurnaan atau keseluruhan. Integrasi sosial dimaknai sebagai proses penyesuaian di antara unsur-unsur yang saling berbeda dalam kehidupan masyarakat sehingga menghasilkan pola kehidupan masyarakat yang memilki keserasian fungsi.
Dalam kamus Sosiologi, Soekanto (1983 : 157-158) mengartikan integrasi sebagai pengendalian terhadap konflik dan penyimpangan dalam suatu sistem sosial. Sedangkan menurut P. Soedarno (1992:38) Integrasi berasal dari kata sifat integer, yang berarti “utuh”, “tidak bercacat”, “tidak retak”, “tidak gempil”, “bulat padu”. Secara etimologi, integrasi berasal dari kata latin yang artinya memberi tempat bagi suatu unsur demi suatu keseluruhan. Kemudian dari bentuk kata kerja itu di bentuk kata benda integritas yang artinya keutuhan atau kebulatan. Selanjutnya, dari kata integritas di bentuk kata sifat integer yang artinya utuh. Oleh sebab itu, istilah integrasi berarti membuat unsur-unsur tertentu menjadi satu kesatuan yang bulat dan utuh. (Emiliana Sadilah 1997:24).
kepentingan-kepentingan, soal hidup-mati, maupun dalam hal pandangan berbagai masalah pokok dalam kehidupan sosial politik budaya masyarakat.
Sejalan dengan itu, Hendropuspito (1989:65) berpendapat, bahwa secara umum integrasi diartikan sebagai pernyataan secara terencana dari bagian-bagian yang berbeda menjadi satu kesatuan yang serasi. Kata integrasi berkaitan erat dengan terbentuknya suatu bangsa, karena suatu bangsa terdiri dari berbagai unsur seperti suku/etnis, ras, tradisi, kepercayaan dan sebagainya, yang beranekaragam.
Sedangkan menurut pakar sosiologi Maurice Duverger dalam bukunya, mengatakan Integrasi di definisikan sebagai dibangunnya interdependensi yang lebih rapat antara bagian-bagian antara organisme hidup atau antar anggota-anggota dalam masyarakat sehingga integrasi adalah proses mempersatukan masyarakat, yang cenderung membuatnya menjadi suatu kata yang harmonis yang didasarkan pada tatanan yang oleh angota-anggotanya dianggap sama harmonisnya.
Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan Integrasi sosial adalah wujud keserasian hidup masyarakat dalam suatu sistem, bukan penyeragaman karena anggota masyarakat masih memiliki identitas masing-masing, didalamnya terdapat kerjasama dari seluruh anggota masyarakat sehingga tercapai keharmonisan hidup dan menghasilkan kesepakatan nilai-nilai yang sama-sama di junjung tinggi.
PEMBAHASAN
1. Budaya Gotong Royong di Indonesia
mewujud dalam kegiatan kematian, memperbaiki atap rumah dan menggali sumur, dalam pesta perkawinan, dan dalam hal mengerjakan kepentingan umum, seperti memperbaiki jembatan atau jalan yang rusak. Hal serupa dikatakan Nur, Bulkis, & Hamka (2003 dalam Kusumastuti, 2015) bahwa masyarakat Indonesia dalam mengelola infrastruktur (seperti jembatan dan jalan) dilakukan dalam bentuk gotong royong baik dalam bentuk ide, tenaga, maupun dana.
Koentjaraningrat (1998:155) menegaskan bahwa dalam kehidupan modern tolong menolong tidak akan pernah hilang karena setiap manusia pasti memiliki sahabat-sahabat karib, kerabat dekat dan teman-teman yang merupakan kelompok primernya. Jiwa gotong royong tidak terbatas pada kelompok primer saja dan karena itu bisa dipertahankan dalam kehidupan modern. Bintarto (Fasya, 1987: 2) menegaskan bahwa kesadaran masyarakat untuk terlibat aktif karena mereka menyadari tidak bisa hidup sendiri tanpa perlindungan masyarakatnya dan lingkungan alam sekitarnya. Masyarakat menyadari bahwa manusia pada hakikatnya tergantung dalam segala aspek kehidupannya dengan sesamanya.
Seperti halnya, masyarakat Banjar desa Andhika yang menjalankan tradisi bahaul yang
identik dengan budaya gotong royong adalah masyarakat yang hidup bersama menghasilkan kebudayaan, kebiasaan, nilai dan tradisi. Ada banyak tradisi gotong royong di negeri ini, diantaranya tradisi mapalus di Minahasa (Suman, dkk., 2012), momosat di Bolaang Mangondow dan sambatan di Yogyakarta (Fajarini, 2014: 124). Akan halnya pada masyarakat nelayan di Bulutui dan Pulai Nain di Sulawesi Utara, sebagaimana yang digambarkan oleh Wardiat (2016: 145) bahwa pranata sosial yang mereka namakan Kerukunan Warga dan Persatuan berfungsi untuk kegiatan hajatan dan kedukaan yang juga identik dengan gotong royong dan solidaritas. Dalam kaitan ini, Soemardjan (Soekanto, 2006:22) mengartikan masyarakat sebagai orang-orang yang hidup bersama menghasilkan kebudayaan dan mereka mempunyai kesamaan wilayah, identitas, kebiasaan, nilai, tradisi, sikap dan rasa persatuan yang diikat oleh kesamaan.
terpecahkan secara mudah dan murah, demikian halnya dengan kegiatan pembangunan masyarakat.
Gotong royong yang dilakukan masyarakat Indonesia di masa lalu telah memberikan banyak manfaat. Melakukan setiap pekerjaan dengan cara bergotong royong dapat meringankan dan mempercepat penyelesaian pekerjaan. Dengan bergotong royong, rasa persatuan dan kesatuan juga menjadi semakin erat. Gotong royong bahkan dapat menghemat pengeluaran kegiatan. Sayangnya, pada zaman ini penerapan nilai-nilai gotong royong mulai menurun. Orang–orang sudah memikirkan kebutuhan mereka sendiri tanpa memperhatikan lingkungan sekitar. Padahal, setiap manusia merupakan makhluk sosial yang selalu membutuhkan bantuan orang lain.
Sikap budaya gotong royong yang semula menjadi sikap hidup bangsa telah mengalami banyak gempuran yang terutama bersumber pada budaya Barat yang agresif dan dinamis, mementingkan kebebasan individu. Dengan memanfaatkan keberhasilannya di berbagai bidang kehidupan serta kekuatannya di bidang fisik dan militer, Barat cukup mendominasi dunia dan umat manusia. Dampak globalisasi ini telah mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan yang ada di masyarakat, salah satunya adalah aspek budaya gotong royong Indonesia.
Masa sekarang ini, dampak globalisasi telah mempengaruhi pola pikir masyarakat Indonesia tentang hakikat budaya gotong royong. Masyarakat lebih suka membeli barang-barang mewah yang sarat dengan pemborosan daripada menyisihkan hartanya untuk membantu orang fakir dan miskin. Masyarakat menjadi cenderung individualis, konsumtif, dan kapitalis sehingga rasa kebersamaan, kekeluargaan, dan senasib sepenanggungan antar sesama manusia mulai hilang tergerus ganasnya badai globalisasi yang mempunyai dampak negatif serta dampak positif tanpa difilter terlebih dahulu oleh kebanyakan masyarakat Indonesia. Arus globalisasi dalam bidang sosial budaya begitu cepat merasuk ke dalam masyarakat terutama kalangan muda.
2. Pengaruh Memudarnya Budaya Gotong Royong terhadap Kohesi dan Integrasi Sosial di Indonesia
ikatan kebangsaan saat ini ditandai dengan menguatnya primordialisme dampak dari kebebasan politik yang berlebihan, serta apatisme dan individualisme akibat globalisasi yang mendorong penetrasi budaya asing. Memudarnya kohesi dan integrasi sosial dilihat dari berbagai tindak kekerasan yang terus terjadi dalam masyarakat. Seperti Narkotika, pembunuhan, pelecehan seksual, perdagangan manusia, pornografi, pengerusakan lingkungan yang terus meningkat.
Terjadinya pergeseran terhadap nilai-nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pergeseran sistem nilai ini sangat tampak dalam kehidupan masyarakat sekarang ini, seperti penghargaan terhadap nilai budaya dan bahasa, nilai solidaritas sosial, musyawarah mufakat, kekeluargaan, sopan santun, kejujuran, rasa malu, dan cinta tanah air dirasakan semakin memudar (Kemendiknas, 2010).
Konflik agama merupakan salah satu konflik yang cukup sering terjadi di Indonesia. Lunturnya budaya luhur yang telah ada di Indonesia sejak dulu seperti gotong royong, dapat menjadi salah satu faktor dari terjadinya konflik agama. Gotong royong yang mencerminkan suatu kebersamaan merupakan suatu acuan untuk menciptakan kehidupan yang jauh dari konflik. Dengan keberadaannya yang semakin luntur tentunya akan dapat memicu terjadinya perselisihan yang dapat berujung pada konflik karena berkurangnya nilai kebersamaan. Sehingga sangatlah penting untuk menjaga gotong royong di tengah masyarakat, terutama didalam masyarakat yang memiliki perbedaan.
Gotong royong merupakan nilai luhur yang telah ada didalam kehidupan masyarakat Indonesia. Melalui gotong royong dapat menghasilkan suatu kebersamaan dan kesatuan ditengah kehidupan masyarakat Indonesia yang beranekaragam.
Memudarnya nilai gotong royong terjadi apabila rasa kebersamaan mulai menurun dan setiap pekerjaan tidak lagi bersifat sukarela, bahkan hanya dinilai dengan materi atau uang (Bintari dan Darmawan, 2016: 59). Hal ini menyebabkan rendahnya sikap kohesi dan Integrasi sosial, menurunnya sikap tolong menolong, dan menguatnya sikap individualis di negeri ini yang tampak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.
membentuk kohesi dan integrasi sosial di Indonesia. Oleh karena itu kita harus melestarikan budaya gotong royong di Indonesia. Agar terciptanya persatuan dan kesatuan di Indonesia.
Di Indonesia terdapat beberapa wilayah yang mengupayakan pelestarian budaya gotong royong. Seperti yang dilakukan oleh Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPKB) Kota Bengkulu, Dra. Rosmidar, mengajak masyarakat untuk selalu bergotong royong. Hal ini untuk meningkatkan kepedulian dan peran aktif masyarakat berdasarkan semangat kebersamaan dan kekeluargaan agar terjadi penguatan integrasi sosial.
Hal ini disampaikannya dalam rangka Peringatan Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat (BBRGM) ke-XII yang dilaksanakan di halaman Kantor Camat Muara Bangkahulu. Peringatan BBRGM ini mengambil tema “Dengan bulan gotong royong masyarakat XII, kita gelorakan kerja gotong royong menuju kemandirian dan kesejahteraan masyarakat”. Kegiatan yang digelar pukul 09.00 WIB ini dihadiri oleh FKPD, kepala dinas, kepala badan, camat, lurah di jajaran Pemerintah Kota Bengkulu.
Kemudian disampaikannya bahwa, BBRGM ini rencananya akan dilaksanakan selama satu bulan penuh pada bulan Juni ini. Dalam hal ini pelaksanaan berdasarkan Permen nomor : 42 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyelenggaraan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat. Sementara maksud dan tujuan diadakan kegiatan tersebut adalah untuk meningkatkan kepedulian dan peran aktif masyarakat dan berdasarkan semangat kebersamaan, kekeluargaan dan gotong royong menuju pada penguatan integrasi sosial melalui kegiatan-kegiatan gotong royong dalam pembangunan serta pemeliharaan hasil pembangunan.
“Dengan terlaksananya kegiatan pencanangan ini, maka diharapkan kerjasama masyarakat dalam berbagai bidang pembangunan dapat diarahkan pada penguatan dalam pembangunan untuk kemandirian bangsa,” ucapnya.
Walikota Bengkulu yang dalam hal ini disampaikan oleh Asisten I Kota Bengkulu Drs. Hilman Fuadi, MM mengajak kepada semua komponen masyarakat untuk meningkatkan kepedulian dan peran aktif dalam membangun Kota Bengkulu dengan 3 sasaran.
ketahanan keluarga sebagai dasar dalam mempersiapkan sumberdaya manusia yang tangguh,” sampai Hilman.
Kesimpulan
Masyarakat Indonesia sebagai sebuah masyarakat majemuk memiliki karakteristik. Kemajemukan masyarakat Indonesia menunjukkan suatu aneka warna yang besar dalam hal budaya dan bahasa. Salah satu budaya khas masyarakat Indonesia adalah budaya gotong royong. Gotong royong dapat menghasilkan suatu kebersamaan dan kesatuan ditengah kehidupan masyarakat Indonesia yang beranekaragam. Sayangnya pada era globalisasi ini penerapan nilai-nilai budaya gotong royong mulai menurun. Orang-orang sudah memikirkan kebutuhan mereka sendiri tanpa memperhatikan lingkungan sekitar.padahal setiap manusia merupakan makhluk sosial yang selalu membutuhkan bantuan orang lain. Di Indonesia ada yang dikenal dengan istilah persatuan dan kesatuan atau ada juga yang disebut dengan kohesi dan integrasi sosial. Kohesi dan integrasi sosial berarti perkumpulan masyarakat yang menjadi utuh. Salah satu kegiatan yang bisa membentuk keutuhan masyarakat adalah gotong royong. Oleh karena itu kita sebagai bangsa Indonesia harus melestarikan budaya gotong royong. Agar terciptanya persatuan dan kesatuan di Indonesia.
Saran
Masyarakat Indonesia harus terus menjaga dan mempertahankan pelaksanaan dari gotong royong yang memiliki peranan yang kuat dalam menjaga persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat majemuk yang memiliki keberagaman suku, bahasa, agama dan budaya. Sehingga perlu mempertahankan hal-hal yang dapat menciptakan kebersamaan semua masyarakat. Salah satunya yaitu budaya gotong royong.
Pemerintah pun harus terus melakukan upaya-upaya untuk tetap mempertahankan kegiatan gotong royong yang ada pada saat ini, agar pelaksanaan gotong royong tidak mengalami pemudaran. Kerjasama yang terjalin antar warga dan pemerintah harus tetap dijaga agar gotong royong dapat berjalan dengan baik dan tanpa ada yang merasa keberatan. Daftar Pustaka
Online:
Admin. (2017) Konflik dan Integrasi Sosial. Diperoleh dari
Anisa, Hana Hilaly. (2016). Alih Fungsi Lahan dan Tingkat Kohesi Sosial Masyarakat Pedesaan. Diperoleh dari http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/81932 . [Diakses pada tanggal 27 November pukul 21.00 WIB].
Berutu, Lister. 2005. Gotong royong, musyawarah dan mufakat sebagai faktor penunjang kerekatan berbangsadan bernegara. Diperoleh dari
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/15265/1/etv-jun2005- %203.pdf. [Diakses pada tanggal 27 November 2017 pukul 21.00 WIB].
Hayati. (2015). Integrasi dan Reintegrasi Sosial Sebagai Upaya Pemecahan Masalah Konflik dan Kekerasan. Diperoleh dari
http://blog.unnes.ac.id/qudwahhayati/2015/12/15/materi-sosiologii-kelas-xi-bab-4- integrasi-dan-reintegrasi-sosial-sebagai-upaya-pemecahan-masalah-konflik-dan-kekerasan/. [Diakses pada tanggal 27 November pukul 21.00 WIB]
Jalali. (2014). Makalah Integrasi Sosial dan Teori-Teori Emile Durkhem. Diperoleh dari http://djalali22.blogspot.co.id/2014/06/integrasi-sosial-dan-teori-teori-emile.html [Diakses pada tanggal 27 November 2017 pukul 21.00 WIB].
Majalah 1000guru. (2016). Pudarnya Budaya Gotong Royong pada Era Globalisasi. Diperoleh dari http://majalah1000guru.net/2016/05/budaya-gotong-royong-globalisasi/ [Diakses pada tanggal 26 November 2017 pukul 09.00 WIB]. Redaksi7. (2015). Gotong Royong Kuatkan Integrasi Sosial. Diperoleh dari
http://bengkuluekspress.com/gotong-royong-kuatkan-integrasi-sosial/ [Diakses pada tanggal 1 Desember 2017 pukul 11.00 WIB]
Rusmiati, dkk. (2014). Teori-Teori Integrasi Sosial. Diperoleh dari
http://ronikurosaky.blogspot.co.id/2014/05/teori-integritas-sosial-menurut-emile.html Diakses pada tanggal 27November 2017 pukul 21.00 WIB].
Ulfah, Fitria Maria. “Materi Sosiologii Kelas XI : Integrasi Dan Reintegrasi Sosial Sebagai Upaya Pemecahan Masalah Konflik Dan Kekerasan”. Diperoleh dari
http://blog.unnes.ac.id/fitriamariahulfah/2015/12/13/materi-sosiologii-kelas-xi- integrasi-dan-reintegrasi-sosial-sebagai-upaya-pemecahan-masalah-konflik-dan-kekerasan/ [Diakses pada tanggal 27 November 2017 Pukul 21.00 WIB].
Buku :
Bintarto. 1980. Gotong royong suatu karakteristik Baangsa Indonesia. Yogyakarta: PT Bina Ilmu.
Pasya, Gurniwan Kamil.2000. Gotong Royong dalam Kehidupan Masyarakat. PDF. Universitas Pendidikan Indonesia.
Waluya, Bagja. (2009). Sosiologi 2 : Menyelami Fenomena Sosial Di Masyarakat Untuk
Kelas XI SMA/MA/Program Ilmu Pengetahuan Sosial. Jakarta : Pusat Perbukuan