• Tidak ada hasil yang ditemukan

Klasifikasi dan Pola Kombinasi Komponen (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Klasifikasi dan Pola Kombinasi Komponen (1)"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

Klasif ikasi dan Pola

Kombinasi Komponen

Agrof orestri

Mustof a A gung Sard jono, Tony Djogo, Had i Susilo Arif in d an Nurhe ni W ijayanto

(2)
(3)

Bahan Ajaran 2

KLASIFIKASI DAN PO LA

KO MBINASI KO MPO NEN

AG RO FO RESTRI

Mustofa A gung Sardjono, Tony Djogo, Hadi Susilo A rifin dan Nurheni Wijayanto

Maret 2003

(4)

Kritik dan saran dialamatkan kepada: SRI RAHAYU UTAMI

Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya Jl. Veteran, Malang 65145

Email: Safods.Unibraw@ telkom.net BRUNO VERBIST

W orld Agroforestry Centre (ICRAF)

Southeast Asia Research O ffice, Jl. CIFO R, Situgede, Bogor 16680 Email: B.Verbist@ cgiar.org

Terbit bulan Maret 2003

© copyright World A groforestry Centre (ICRA F) Southeast A sia

Untuk tujuan kelancaran proses pendidikan, Bahan Ajaran ini bebas untuk difotocopi sebagian maupun seluruhnya.

Diterbitkan oleh:

World A groforestry Centre (ICRA F) Southeast A sia Regional Office PO Box 161 Bogor, Indonesia

Tel: +62 251 625415, 625417; Fax: +62 251 625416; email: [email protected]

Ilustrasi cover: Wiyono

(5)

A

G RO FO RESTRI DAN

E

KO SISTEM

S

EHAT

Editor: W idianto, Sri Rahayu Utami dan Kurniatun Hairiah

Pengantar

Alih-guna lahan hutan menjadi lahan pertanian disadari menimbulkan banyak masalah seperti penurunan kesuburan tanah, erosi, kepunahan flora dan fauna, banjir, kekeringan dan bahkan perubahan lingkungan global. Masalah ini bertambah berat dari waktu ke waktu sejalan dengan meningkatnya luas areal hutan yang dialih-gunakan menjadi lahan usaha lain. Agroforestri adalah salah satu sistem pengelolaan lahan yang mungkin dapat ditawarkan untuk

mengatasi masalah yang timbul akibat adanya alih-guna lahan tersebut di atas dan sekaligus juga untuk mengatasi masalah pangan.

Agroforestri, sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan baru di bidang pertanian dan kehutanan, berupaya mengenali dan mengembangkan keberadaan sistem agroforestri yang telah dipraktekkan petani sejak dulu kala. Secara sederhana, agroforestri berarti menanam pepohonan di lahan pertanian, dan harus diingat bahwa petani atau masyarakat adalah elemen pokoknya (subyek). Dengan demikian kajian agroforestri tidak hanya terfokus pada masalah teknik dan biofisik saja tetapi juga masalah sosial, ekonomi dan budaya yang selalu berubah dari waktu ke waktu, sehingga agroforestri merupakan cabang ilmu yang dinamis.

Sebagai tindak lanjut dari hasil beberapa pertemuan yang diselenggarakan oleh SEANAFE (South East A sian Network for A groforestry Education) antara lain Workshop ‘Pengembangan Kurikulum Agroforestri’ di Wanagama-UGM (Yogyakarta) pada tanggal 27-30 Mei 2001, dan Workshop ‘Pemantapan

Kurikulum Agroforestri’ di UNIBRAW (Malang) pada tanggal 12-13 November 2001, maka beberapa topik yang diusulkan dalam pertemuan tersebut dapat tersusun untuk mengawali kegiatan ini. Bahan Ajaran ini diharapkan dapat digunakan untuk mengenalkan agroforestri di tingkat Strata 1 pada berbagai perguruan tinggi. ICRAF SE Asia telah bekerjasama dengan dosen dari berbagai perguruan tinggi di Asia untuk menyiapkan dua seri Bahan Ajaran agroforestri berbahasa Inggris yang dilengkapi dengan contoh kasus dari Asia Tenggara. Seri pertama, meliputi penjelasan berbagai bentuk agroforestri di daerah tropika mulai dari yang sederhana hingga kompleks, fungsi agroforestri dalam konservasi tanah dan air, manfaat agroforestri dalam mereklamasi lahan alang-alang, dan domestikasi pohon. Seri kedua, berisi materi yang difokuskan pada kerusakan lingkungan akibat alih-guna lahan hutan menjadi lahan

pertanian dan adanya kegiatan pembukaan lahan dengan cara tebang bakar atau biasa juga disebut dengan tebas bakar. Materi Bahan Ajaran ini diperoleh dari hasil-hasil penelitian proyek global tentang "A lternatives to Slash and Burn" (ASB) yang dikoordinir oleh ICRAF, sehingga contoh kasus yang dipakai tidak hanya dari Asia Tenggara tetapi juga dari negara tropis lainnya di Afrika dan Latin Amerika. Kedua Bahan Ajaran tersebut tersedia dalam web site

http:/ / www.worldagroforestrycentre.org. Sebagai usaha berikutnya dalam membantu proses pembelajaran di perguruan tinggi, seri buku ajar kedua diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Thailand, Vietnam dan

(6)

Hampir bersamaan dengan itu ICRAF SE Asia juga telah mendukung penulisan Bahan Ajaran Pengantar Agroforestri secara partisipatif dengan melibatkan pengajar-pengajar (dosen) agroforestri dari beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Penulisan Bahan Ajaran ini selain didasarkan pada bahan-bahan yang sudah dikembangkan oleh ICRAF SE Asia, juga diperkaya oleh para penulisnya dengan pengalaman di berbagai lokasi di Indonesia. Bahan Ajaran Pengantar Agroforestri ini terdiri dari 9 bab, yang secara keseluruhan saling melengkapi dengan Bahan Ajaran agroforestri seri ASB (secara skematis disajikan pada Gambar 1). Dalam gambar ini ditunjukkan hubungan antara kesembilan bab Bahan Ajaran Pengantar Agroforestri (kelompok sebelah kiri) dengan Bahan Ajaran seri ASB yang berada di kelompok sebelah kanan (dalam kotak garis putus-putus).

G ambar 1. Topik-topik Bahan Ajaran berbahasa Indonesia y ang disiapkan untuk pembelajaran di Perguruan Tinggi di Indonesia. Bahan Ajaran ini akan segera tersedia di ICRAF web site

http:/ / www.worldagroforestry centre.org

Dari kedua seri Bahan Ajaran ini kita coba untuk menjawab lima pertanyaan utama yaitu: (1) Apakah ada masalah dengan sumber daya alam kita ? (2) Sistem apa yang dapat kita tawarkan dan apa yang dimaksud dengan agroforestri? (3) Adakah manfaatnya? (4) Apa yang dapat kita perbaiki? (5) Bagaimana prospek penelitian dan pengembangan agroforestri di Indonesia?

Bahan Ajaran ini diawali dengan memberikan pengertian tentang agroforestri, sejarah perkembangannya dan macam-macamnya serta klasifikasinya disertai dengan contoh sederhana (Bahan Ajaran Agroforestri (AF) 1 dan 2).

(7)

walaupun tidak semua pohon dapat memberikan dampak yang

menguntungkan. Untuk itu diperlukan pemahaman yang dalam akan adanya interaksi antara pohon-tanah dan tanaman semusim. Dasar-dasar proses yang terlibat dalam sistem agroforestri ini ditulis di Bahan Ajaran AF 4. Selain itu, agroforestri juga sebagai sistem produksi sehingga mahasiswa dituntut untuk menguasai prinsip-prinsip analisis ekonomi dan finansial, yang dapat diperoleh di Bahan Ajaran AF 5.

Di Indonesia agroforestri sering juga ditawarkan sebagai salah satu sistem pertanian yang berkelanjutan. Namun dalam pelaksanaannya tidak jarang mengalami kegagalan, karena pengelolaannya yang kurang tepat. Guna meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam mengelola agroforestri,

diperlukan paling tidak tiga ketrampilan utama yaitu: (a) mampu menganalisis permasalahan yang terjadi, (b) merencanakan dan melaksanakan kegiatan agroforestri, (c) monitoring dan evaluasi kegiatan agroforestri. Namun

prakteknya, dengan hanya memiliki ketiga ketrampilan tersebut di atas masih belum cukup karena kompleksnya proses yang terjadi dalam sistem

agroforestri. Sebelum lebih jauh melakukan inovasi teknologi mahasiswa perlu memahami potensi dan permasalahan yang dihadapi oleh praktek agroforestri (diagnosis). Selanjutnya, untuk menyederhanakan interpretasi proses-proses yang terlibat maka diperlukan alat bantu simulasi model agroforestri, yang dapat dijumpai di Bahan Ajaran AF 6.

Banyak hasil penelitian diperoleh untuk memecahkan masalah yang timbul di lapangan, tetapi usaha ini secara teknis seringkali mengalami kegagalan. Transfer teknologi dari stasiun penelitian ke lahan petani seringkali hanya diadopsi sebagian atau bahkan tidak diadopsi sama sekali oleh petani. Berangkat dari pengalaman pahit tersebut di atas, dewasa ini sedang

berlangsung pergeseran paradigma lebih mengarah ke partisipasi aktif petani baik dalam penelitian dan pembangunan. Dengan demikian pada Bahan Ajaran AF 7 diberikan penjelasan pentingnya memasukkan pengetahuan ekologi lokal dalam pemahaman dan pengembangan sistem agroforestri. Selanjutnya dalam Bahan Ajaran AF 8 diberikan pemahaman akan pentingnya kelembagaan dan kebijakan sebagai landasan pengembangan agroforestri yang berkelanjutan, dan analisis atas aspek kelembagaan dan kebijakan pemerintah dalam pengembangan agroforestri.

Telah disebutkan di atas bahwa agroforestri adalah praktek lama di Indonesia, tetapi agroforestri merupakan cabang ilmu pengetahuan baru. Bagaimana prospek penelitian dan pengembangannya di Indonesia? Mengingat kompleksnya sistem agroforestri, maka paradigma penelitian agroforestri berubah dari level plot ke level bentang lahan atau bahkan ke level global. Bahan Ajaran AF 9, memberikan gambaran tentang macam-macam penelitian agroforestri yang masih diperlukan dan beberapa pendekatannya.

Setelah dirasa cukup memahami konsep dasar agroforestri dan

(8)

Ucapan terima kasih

Seri Bahan Ajaran Pengantar Agroforestri ini disusun oleh beberapa orang tenaga pengajar (dosen) dari empat universitas di Indonesia (Institut Pertanian Bogor, Universitas Gajah Mada, Universitas Mulawarman, dan Universitas Brawijaya) yang bekerjasama dengan beberapa orang peneliti dari dua lembaga penelitian internasional yaitu World Agroforestry Centre (ICRAF-SE Asia) dan Centre of International Forestry Research (CIFOR), Bogor. Sebenarnya, proses penyusunan Bahan Ajaran ini sudah berlangsung cukup lama dan dengan memberi kesempatan kepada tenaga pengajar dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Namun, minimnya tanggapan dari berbagai pihak menyebabkan hanya beberapa tenaga dari empat perguruan tinggi dan dua lembaga penelitian tersebut yang berpartisipasi.

Penghargaan yang setinggi-tingginya disampaikan kepada rekan-rekan penulis: Sambas Sabarnurdin (UGM), Mustofa Agung Sarjono (UNMUL), Hadi Susilo Arifin (IPB), Leti Sundawati (IPB), Nurheni Wijayanto (IPB), Didik Suharjito (IPB), Tony Djogo (CIFOR), Didik Suprayogo (UNIBRAW), Sunaryo

(UNIBRAW), Meine van Noordwijk (ICRAF SE Asia), Laxman Joshi (ICRAF SE Asia), Bruno Verbist (ICRAF SE Asia) dan Betha Lusiana (ICRAF SE Asia) atas peran aktifnya dalam penulisan Bahan Ajaran ini. Suasana kekeluargaan penuh keakraban yang terbentuk selama penyusunan dirasa sangat membantu kelancaran jalannya penulisan. Semoga keakraban ini tidak berakhir begitu saja setelah tercetaknya Bahan Ajaran ini.

Bahan Ajaran ini disusun berkat inisiatif, dorongan dan bantuan rekan Bruno Verbist yang selalu bersahabat, walaupun kadang-kadang beliau harus berhadapan dengan situasi yang kurang bersahabat.

Bantuan Ibu Tikah Atikah, Dwiati Novita Rini dan Pak Wiyono dari ICRAF SE Asia Bogor dalam pengaturan tata letak teks dan pembuatan ilustrasi untuk Bahan Ajaran ini sangat dihargai.

Dukungan finansial penyusunan Bahan Ajaran ini diperoleh dari Pemerintah Belanda melalui “Proyek Bantuan Langsung Pendidikan” di Indonesia (DSO, Directe Steun Onderwijs).

Penutup

Bahan Ajaran bukan merupakan bahan mati, isinya harus dinamis sesuai

dengan perkembangan ilmu, teknologi dan kebutuhan. Oleh karena itu, dengan terselesaikannya Bahan Ajaran ini bukan berarti tugas kita sebagai pengajar juga telah berakhir. Justru dengan terbitnya Bahan Ajaran ini baru nampak dan disadari oleh para penulis bahwa ternyata masih banyak materi penting lainnya yang belum tertuang dalam seri Bahan Ajaran ini. Para penulis sepakat untuk terus mengadakan pembaharuan dan pengembangan bilamana masih tersedia kesempatan. Demi kesempurnaan Bahan Ajaran ini, kritik dan saran perbaikan dari pengguna (dosen dan mahasiswa), peneliti maupun anggota masyarakat lainnya sangat dibutuhkan.

Semoga buku ini dapat membantu kelancaran proses pembelajaran agroforestri di perguruan tinggi di Indonesia, dan semoga dapat memperbaiki tingkat pengetahuan generasi muda yang akan datang dalam mengelola sumber daya alam.

(9)

KLASIFIKASI DAN PO LA KO MBINASI KO MPO NEN

AG RO FO RESTRI

DAFTAR ISI

1. LATAR BELAKANG 1

2. KLASIFIKASI AG RO FO RESTRI 1

2.1 Klasifikasi berdasarkan komponen penyusunnya 2

Agrisilvikultur (Agrisilvicultural systems) 2

Silvopastura (Silvopastural systems) 2

Agrosilvopastura (Agrosilvopastural systems) 3

2.2 Klasifikasi berdasarkan istilah teknis yang digunakan 4

Sistem agroforestri 4

Sub-sistem agroforestri 4

Praktek agroforestri 4

Teknologi agroforestri 5

2.3 Klasifikasi berdasarkan masa perkembangannya 5

Agroforestri tradisional/klasik (traditional/classical agroforestry) 5 Agroforestri modern (modern atau introduced agroforestry) 6

2.4 Klasifikasi berdasarkan zona agroekologi 7

Agroforestri pada zona monsoon 7

Agroforestri pada zona tropis lembab 8

Agroforestri pada zona kering (zona semi arid, atau semi ringkai) 10

Agroforestri pada zona pesisir dan kepulauan 11

Agroforestri pada zona pegunungan 13

2.5 Klasifikasi berdasarkan orientasi ekonomi 13

Agroforestri skala subsisten (Subsistence agroforestry) 13 Agroforestri skala semi-komersial (Semi-commercial agroforestry) 14 Agroforestri skala komersial (Commercial agroforestry) 15

2.6 Klasifikasi berdasarkan sistem produksi 15

Agroforestri berbasis hutan (Forest based Agroforestry) 15 Agroforestri berbasis pada pertanian (Farm based Agroforestry) 15 Agroforestri berbasis pada keluarga (Household based Agroforestry) 15

2.7 Klasifikasi berdasarkan lingkup manajemen 15

Agroforestri pada tingkat tapak (skala plot) 16

Agroforestri pada tingkat bentang lahan 16

3. PO LA PENG KO MBINASIAN KO MPO NEN 17

3.1 Pengkombinasian menurut dimensi w aktu 18

Kombinasi secara permanen (permanent combination) 20

Kombinasi secara sementara (temporary combination) 20

3.2 Pengkombinasian secara tata ruang 20

Penyebaran secara horizontal 21

(10)
(11)

Bahan A jaran 2

KLASIFIKASI DAN PO LA KO MBINASI KO MPO NEN

AG RO FO RESTRI

M ustofa A gung Sardjono, Tony Djogo, Hadi Susilo A rifin, Nurheni W ijayanto

TUJUAN

1 . Menjela ska n b erb a g a i kla sif ika si a g rof orestri d id a sa rka n p a d a komp onen p eny usunny a , istila h y a ng d ig una ka n, seja ra h p erkemb a ng a nny a , zona a g ro-ekolog iny a , orienta si ekonomi, sistem p rod uksi, ma up un ska la ma na jemen

2 . Menjela ska n b erb a g a i p ola komb ina si komp onen d a la m a g rof orestri d a ri sud ut ta ta rua ng d a n d imensi wa ktu.

3. Memb ed a ka n a g rof orestri d id a sa rka n p a d a p eng kla sif ika sia n d a n/ a ta u p ola komb ina si komp onen y a ng meny usunnya.

1. Latar Belakang

Sebagaimana telah diuraikan dalam Bahan Ajaran 1, agroforestry atau sering diindonesiakan menjadi ‘wanatani’ atau ‘agroforestri’ hanyalah sebuah istilah kolektif (collective term) dari berbagai bentuk pemanfaatan lahan terpadu (kehutanan, pertanian, dan/ atau peternakan) yang ada di berbagai tempat di belahan bumi, tidak terkecuali yang dapat dijumpai di negara-negara

berkembang wilayah tropis sebagaimana di Indonesia. Pemanfaatan lahan tersebut secara tradisional telah dikembangkan/ dipelihara oleh masyarakat lokal (local communities) atau diperkenalkan dalam tiga dasawarsa terakhir ini oleh berbagai pihak, baik instansi pemerintah (instansi sektoral seperti

Departemen Kehutanan, Departemen Pertanian beserta dinas-dinas terkaitnya), lembaga penelitian (nasional dan internasional), perguruan tinggi, ataupun lembaga swadaya masyarakat (LSM)/ organisasi non-pemerintah ( non-governmental organizations). Di lapangan bentuk-bentuk agroforestri tersebut dapat diklasifikasikan ataupun ditinjau dari berbagai pola kombinasi elemen-elemen yang menyusunnya.

2. Klasifikasi Agroforestri

Pengklasifikasian agroforestri dapat didasarkan pada berbagai aspek sesuai dengan perspektif dan kepentingannya. Pengklasifikasian ini bukan

dimaksudkan untuk menunjukkan kompleksitas agoroforestri dibandingkan budidaya tunggal (monoculture; baik di sektor kehutanan ataupun di sektor pertanian). Akan tetapi pengklasifikasian ini justru akan sangat membantu dalam menganalisis setiap bentuk implementasi agroforestri yang dijumpai di lapangan secara lebih mendalam, guna mengoptimalkan fungsi dan

(12)

— 2 —

2.1 Klasif ikasi berdasarkan komponen penyusunnya

Pengklasifikasian agroforestri yang paling umum, tetapi juga sekaligus yang paling mendasar adalah ditinjau dari komponen yang menyusunnya (Lihat Bahan Ajaran 1). Komponen penyusun utama agroforestri adalah komponen kehutanan, pertanian, dan/ atau peternakan. Ditinjau dari komponennya, agroforestri dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Agrisilvikultur (Agrisilvicultural systems)

Agrisilvikultur adalah sistem agroforestri yang mengkombinasikan komponen kehutanan (atau tanaman berkayu/woody plants) dengan komponen pertanian (atau tanaman non-kayu). Tanaman berkayu dimaksudkan yang berdaur panjang (tree crops) dan tanaman non-kayu dari jenis tanaman semusim (annual crops). Dalam agrisilvikultur, ditanam pohon serbaguna (lihat lebih detil pada bagian multipurpose trees) atau pohon dalam rangka fungsi lindung pada lahan-lahan pertanian (multipurpose trees/shrubs on farmlands, shelterbelt, windbreaks, atau soil conservation hedges – lihat Nair, 1989; dan Young, 1989).

Gambar 1. Contoh sistem agrisilvikultur, pohon mahoni ditanam berbaris di antara ubikayu di Lampung Utara (Foto: Kurniatun Hairiah)

Seringkali dijumpai kedua komponen penyusunnya merupakan tanaman berkayu (misal dalam pola pohon peneduh gamal/Gliricidia sepium pada perkebunan kakao/Theobroma cacao). Sistem ini dapat juga dikategorikan sebagai agrisilvikultur (Shade trees for plantation crops – Lihat Nair, 1989). Pohon gamal (jenis kehutanan) secara sengaja ditanam untuk mendukung (pelindung dan konservasi tanah) tanaman utama kakao (jenis perkebunan/ pertanian). Pohon peneduh juga dapat memiliki nilai ekonomi tambahan. Interaksi yang terjadi (dalam hal ini bersifat ketergantungan) dapat dilihat dari produksi kakao yang menurun tanpa kehadiran pohon gamal.

Silvopastura (Silvopastural systems)

Sistem agroforestri yang meliputi komponen kehutanan (atau tanaman

(13)

— 3 —

Gambar 2. Contoh sistem silvopastura, Legume cover cropCallopogonium di bawah tegakan pohon

Gmelina arborea sebagai lahan penggembalaan sapi di Filipina.

(Foto: Kurniatun Hairiah)

Kedua komponen dalam silvopastura seringkali tidak dijumpai pada ruang dan waktu yang sama (misal: penanaman rumput hijauan ternak di bawah tegakan pinus, atau yang lebih ekstrim lagi adalah sistem ‘cut and carry’ pada pola pagar hidup/living fences of fodder hedges and shrubs; atau pohon pakan

serbaguna/multipurpose fodder trees pada lahan pertanian yang disebut ‘protein bank’). Meskipun demikian, banyak pegiat agroforestri tetap

mengelompokkannya dalam silvopastura, karena interaksi aspek konservasi dan ekonomi (jasa dan produksi) bersifat nyata dan terdapat komponen berkayu pada manajemen lahan yang sama.

Agrosilvopastura (Agrosilvopastural systems)

Telah dijelaskan bahwa sistem-sistem agrosilvopastura adalah

pengkombinasian komponen berkayu (kehutanan) dengan pertanian (semusim) dan sekaligus peternakan/ binatang pada unit manajemen lahan yang sama. Tegakan hutan alam bukan merupakan sistem agrosilvopastura, walaupun ketiga komponen pendukungnya juga bisa dijumpai dalam ekosistem dimaksud. Pengkombinasian dalam agrosilvopastura dilakukan secara terencana untuk mengoptimalkan fungsi produksi dan jasa (khususnya

(14)

— 4 —

Gambar 3. Contoh sistem

agrosilvopastura: Parak di Maninjau dengan berbagai macam pohon seperti kayu manis, pala, durian, sebagai tumbuhan bawah kapulaga (Ammomumcardamomum) dan beberapa paku-pakuan liar dari hutan (Foto Kurniatun Hairiah).

Terdapat beberapa contoh Agrosilvopastura di Indonesia, baik yang berada di Jawa maupun di luar Jawa. Contoh praktek agrosilvopastura yang luas diketahui adalah berbagai bentuk kebun pekarangan (home-gardens), kebun hutan (forest-gardens), ataupun kebun desa (village-forest-gardens), seperti sistem Parak di Maninjau (Sumatera Barat) atau Lembo dan Tembawang di

Kalimantan, dan berbagai bentuk kebun pekarangan serta sistem Talun di Jawa (lihat a.l. Soemarwoto, et al., 1985a;b; Sardjono, 1990; De Forestra, et al., 2000).

Dua sistem yang lain, yaitu sistem silvofisher dan apiculture dapat dilihat di Bahan Ajaran 1.

2.2 Klasif ikasi berdasarkan istilah teknis yang digunakan

Meskipun kita telah mengenal agroforestri sebagai sistem penggunaan lahan, tetapi seringkali digunakan istilah teknis yang berbeda atau lebih spesifik, seperti sistem, sub-sistem, praktek, dan teknologi (Nair, 1993).

Sistem agroforestri

Sistem agroforestri dapat didasarkan pada komposisi biologis serta

pengaturannya, tingkat pengelolaan teknis atau ciri-ciri sosial-ekonominya. Penggunaan istilah sistem sebenarnya bersifat umum. Ditinjau dari komposisi biologis, contoh sistem agroforestri adalah agrisilvikultur, silvopastura,

agrosilvopastura.

Sub-sistem agroforestri

Sub-sistem agroforestri menunjukkan hirarki yang lebih rendah daripada sistem agroforestri, meskipun tetap merupakan bagian dari sistem itu sendiri. Meskipun demikian, sub-sistem agroforestri memiliki ciri-ciri yang lebih rinci dan lingkup yang lebih mendalam. Sebagai contoh sistem agrisilvikultur masih terdiri dari beberapa sub-sistem agroforestri yang berbeda seperti tanaman lorong (alley cropping), tumpangsari (taungya system) dan lain-lain. Penggunaan istilah-istilah dalam sub-sistem agroforestri yang dimaksud, tergantung bukan saja dari tipe maupun pengaturan komponen, akan tetapi juga produknya, misalnya kayu bakar, bahan pangan dll.

Praktek agroforestri

(15)

— 5 —

khas dari agroforestri yang murni didasarkan pada kepentingan/ kebutuhan ataupun juga pengalaman dari petani lokal atau unit manajemen yang lain, yang di dalamnya terdapat komponen-komponen agroforestri. Praktek agroforestri yang berkembang pada kawasan yang lebih luas dapat

dikategorikan sebagai sistem agroforestri. Perlu diingat, praktek agroforestri dapat berlangsung dalam suasana sistem yang bukan agroforestri, misalnya penanaman pohon-pohon turi di persawahan di Jawa adalah praktek agroforestri pada sistem produksi pertanian.

Teknologi agroforestri

Penggunaan istilah ‘teknologi agroforestri’ adalah inovasi atau penyempurnaan melalui intervensi ilmiah terhadap sistem-sistem atau praktek-praktek

agroforestri yang sudah ada untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar. Oleh karena itu, praktek agroforestri seringkali juga dikatakan sebagai

teknologi agroforestri. Sebagai contoh, pengenalan mikoriza atau teknologi penanganan gulma dalam upaya mengkonservasikan lahan alang-alang (Imperata grassland) ke arah sistem agroforestri (agrisilvikultur; sub-sistem tumpangsari) yang produktif (Murniati, 2002). Uji coba pola manajemen pola tanam dan tahun tanam baru dalam sistem tumpangsari pada kebun jati di beberapa tempat di Jawa Timur dan Jawa Tengah melalui Manajemen Rejim (MR; dikembangkan oleh Prof. Hasanu Simon dari Universitas Gajah Mada, Yogyakarta) dapat pula dipertimbangkan sebagai bagian dari teknologi baru agroforestri).

2.3 Klasif ikasi berdasarkan masa perkembangannya

Ditinjau dari masa perkembangannya, terdapat dua kelompok besar agroforestri, yaitu:

Agroforestri tradisional/klasik (traditional/classical agroforestry)

Dalam lingkungan masyarakat lokal dijumpai berbagai bentuk praktek pengkombinasian tanaman berkayu (pohon, perdu, palem-paleman, bambu-bambuan, dll.) dengan tanaman pertanian dan atau peternakan. Praktek tersebut dijumpai dalam satu unit manajemen lahan hingga pada suatu bentang alam (landscape) dari agroekosistem pedesaan. Thaman (1988) mendefinisikan agroforestri tradisional atau agroforestri klasik sebagai ‘setiap sistem pertanian, di mana pohon-pohonan baik yang berasal dari penanaman atau pemeliharaan

(16)

— 6 —

Kolom 1. Agroforestri Tradisional/ Klasik (Thaman, 1989) dan Contoh-contohnya di Indonesia

•= Teg a ka n huta n a la m trop is lemb a b , huta n p a y a u a ta u huta n p a nta i y a ng memb a ta si

Agroforestri modern (modern atau introduced agroforestry)

Berbagai bentuk dan teknologi agroforestri yang dikembangkan setelah diperkenalkan istilah agroforestri pada akhir tahun 70-an, dikategorikan sebagai agroforestri modern. Walaupun demikian, sistem taungya (yang di Indonesia lebih popular dengan nama sistem tumpangsari), yang pertama kali diperkenalkan oleh Sir Dietrich Brandis (seorang rimbawan Jerman yang bekerja untuk kerajaan Inggris) di Burma (atau Myanmar sekarang) pada pertengahan abad XIX, dipertimbangkan sebagai cikal bakal agroforestri modern (dari aspek struktur biofisiknya saja, filosofi taungya sebenarnya tidak sesuai dengan agroforestri, karena taungya pada awalnya lebih berprinsip pada pembangunan hutan tanaman dengan tenaga murah dari rakyat miskin). Agroforestri modern umumnya hanya melihat pengkombinasian antara tanaman keras atau pohon komersial dengan tanaman sela terpilih. Berbeda dengan agroforestri tradisional/ klasik, ratusan pohon bermanfaat di luar komponen utama atau juga satwa liar yang menjadi bagian terpadu dari sistem tradisional kemungkinan tidak terdapat lagi dalam agroforestri modern (lihat Thaman, 1989; Sardjono, 1990).

Tabel 1. Beberapa Perbedaan Penting antara Agroforestri Tradisional dan Agroforestri Modern.

Asp ek Tinja ua n Ag rof orestri Tra d isiona l Ag rof orestri Mod ern

(17)

— 7 — seca ra turun temurun oleh ma sy a ra ka t/ p emilik la ha n

Aspek tinjauan y ang disajikan di atas hany a beberapa butir, atau masih bisa diuraikan lebih bany ak lagi.

Beberapa contoh agroforestri modern yang dapat dijumpai di beberapa daerah di Indonesia adalah berbagai model tumpangsari (baik yang dilaksanakan oleh Perhutani di hutan jati di Jawa atau yang coba diperkenalkan oleh beberapa pengusaha Hutan Tanaman Industri/ HPHTI di luar Jawa), penanaman tanaman peneduh (shade trees) pada perkebunan kakao atau kopi, serta penanaman palawija pada tahun-tahun pertama perkebunan karet.

2.4 Klasif ikasi berdasarkan zona agroekologi

Menurut Nair (1989), klasifikasi agroforestri dapat juga ditinjau dari

penyebarannya atau didasarkan pada zona Agroekologi, yaitu: (1) Agroforestri yang berada di wilayah tropis lembab dataran rendah (lowland tropical humid tropic); (2) Agroforestri pada wilayah tropis lembab dataran tinggi (high-land tropical humid tropic); (3) Agroforestri pada wilayah sub-tropis lembab dataran rendah (lowland humid sub-tropic); dan (4) Agroforestri pada wilayah sub-tropis dataran tinggi (highland humid sub-tropic).

Dalam konteks Indonesia, klasifikasi seperti ini dapat didasarkan pada wilayah agroekologi yang sedikit berbeda. Didasarkan pada zona klimatis utama, terdapat 4 wilayah yaitu (a) Z ona Monsoon (khususnya di Jawa dan Bali), (b) Z ona Tropis Lembab (di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi), serta (c) Z ona Kering atau Semi Arid (Nusa Tenggara). Pembagian berdasarkan zona ekologi klimatis utama tersebut di atas dapat pula berdasarkan ekologi lokal, antara lain (d) Z ona Kepulauan (misalnya Nusa Tenggara atau di Kepuluan Maluku), dan (e) Z ona Pegunungan (baik di Jawa, Sumatera, atau di Papua).

Agroforestri pada zona monsoon

(18)

— 8 —

milik (misal melalui sistem pekarangan) dan lahan negara (misal areal hutan jati dan pinus PERHUTANI melalui sistem tumpangsari).

Agroforestri pada zona tropis lembab

Ekosistem tropis lembab menempati kawasan hutan yang terluas di Indonesia, tersebar dari Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Ekosistem ini memiliki karakter biofisik penting antara lain tingginya curah hujan dan kelembaban udara. Topografi berbukit-bukit dengan dominasi jenis tanah podsolik merah kuning yang memiliki kesuburan (dan berarti daya dukung lahan) yang rendah. Tegakan alaminya dicirikan dengan pohon-pohon tinggi berdiameter besar dan tingginya keanekaragaman hayati (baik bersifat keragaman tapak ataupun bentang lahan). Meskipun ekosistem tropis lembab sering disebut dengan M ixed Dipterocarps Forest (karena dominasi jenis-jenis pohon komersial dari suku Dipterokarpa), akan tetapi sebutan tersebut lebih ditujukan bagi Hutan Tropis Lembab Dataran Rendah (Lowland Dipterocarps Forests). Di samping itu masih ada Hutan Tropis Lembab Dataran Tinggi (termasuk di dalamnya yang disebut Hutan Pegunungan) dan formasi-formasi edafis seperti misalnya hutan rawa (swamp forests) serta hutan payau (mangrove forests).

Tabel 2 . Tabel 2 . Tabel 2 .

Tabel 2 . Beberapa bentuk agroforestri yang berkembang di Jawa

Sistem Sub -Sistem Contoh Pra ktek Contoh Teknolog i

(19)

— 9 —

Meskipun memiliki diversitas yang tinggi, akan tetapi ekosistem tropis lembab dengan karakter kondisi biofisiknya pada dasarnya sangat rentan gangguan. Masyarakat lokal secara tradisional telah mengembangkan berbagai bentuk (dan pendekatan) pemanfaatan lahan agroforestri untuk memenuhi

kebutuhannya. Secara umum berbagai bentuk agroforestri tersebut berasal dari pola perladangan. Strukturnya meniru hutan alam yang tersusun atas tanaman berkayu (dominan), juga jenis-jenis flora dan fauna endemik yang belum dibudidayakan secara luas (bahkan termasuk jenis-jenis liar dari hutan alam). Beberapa kegiatan pada dasarnya memanfaatkan tegakan alam, namun dalam beberapa dasawarsa terakhir masyarakat telah berinisiatif untuk

menyempurnakan, mengembangkan atau melaksanakan kombinasi agroforestri lainnya.

Inventarisasi dan identifikasi bentuk-bentuk agroforestri belum sepenuhnya selesai dilakukan hingga saat ini. Beberapa yang telah sempat diteliti dan dipromosikan dicantumkan dalam Tabel 3.

Tabel 3 . Tabel 3 . Tabel 3 .

Tabel 3 . Bentuk Agroforestri yang berkembang di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi

Sistem Sub -Sistem Contoh Pra ktek Contoh Teknolog i

Ag risilvikultur Perla d a ng a n

(20)

— 10 —

Sistem Sub -Sistem Contoh Pra ktek Contoh Teknolog i

Keb un Huta n

Agroforestri pada zona kering (zona semi arid, atau semi ringkai)

Wilayah ini mencakup kawasan NTT, NTB, sebagian Bali dan Jawa Timur sebagian Sulawesi Selatan/ Tenggara dan sebagian Papua bagian selatan. Ciri khas daerah ini adalah perbedaan musim hujan dan kemarau yang sangat menyolok. Rata-rata hujan turun dalam 3–4 bulan dan musim kemarau 7-8 bulan. Curah hujan tahunan berkisar kurang dari 1000 mm di daerah tertentu sampai dengan 1200 mm. Di dataran yang lebih tinggi, curah hujan bisa mencapai lebih dari 1500 sampai 2000 mm/ tahun dengan lama musim hujan enam bulan. Evapotranspirasi jauh lebih besar daripada presipitasi (Roshetko, et al., 2000). Keseimbangan air (water balance) yang khas di daerah ini menuntut pemilihan pola dan jenis tanam yang memadai.

Petani umumnya mengusahakan tanaman pangan hanya dalam musim hujan. Dalam musim kemarau tidak ada peluang untuk mengusahakan tanaman semusim kecuali di daerah yang ada irigasinya. Biasanya pada musim kemarau masyarakat mengusahakan pemeliharaan ternak. Dengan demikian tanaman atau pohon dan semak penghasil pakan ternak merupakan salah satu pilihan penting.

(21)

— 11 —

teknologi untuk pencegah erosi juga menjadi perhatian serius. Gulma cenderung tumbuh sangat cepat pada musim hujan.

Persoalan temperatur yang tinggi dan sering terjadinya kebakaran memerlukan tanaman peneduh (naungan) dan pencegah api. Ternak liar yang sering

digembalakan secara bebas atau tidak sengaja maupun sengaja berkeliaran di kebun-kebun petani menyebabkan tanaman pagar memerlukan perhatian khusus dari para petani di kawasan Nusa Tenggara dan Bali.

Pemilihan tanaman dan pohon menjadi perhatian utama untuk mengatasi masalah ekonomi dan lingkungan di daerah setempat. Ada banyak model agroforestri tradisional dan yang diperkenalkan di daerah ini. Pengembangan agroforestri diarahkan kepada penanganan masalah ketersedian air yang terbatas, erosi, pencegahan kebakaran dan berkeliarannya ternak liar, kurangnya ketersediaan pakan ternak pada musim kemarau serta upaya memperbaiki tingkat pendapatan petani berbasis pertanian lahan kering skala kecil.

Jenis wanatani yang diamati di NTT dan NTB serta Bali disampaikan dalam Tabel 4.

Agroforestri pada zona pesisir dan kepulauan

Ciri utama pada zona kepulauan adalah lahan terbatas dengan kemiringan yang tinggi, berbatu atau berpasir serta sangat rentan terhadap erosi dan

longsoran atau pergerakan tanah jika terjadi hujan lebat, apalagi jika penutupan tanah sangat rendah baik oleh vegetasi alami maupun vegetasi buatan.

Di zona kepulauan di kawasan Nusa Tenggara, umumnya kontras terdapat tanaman pantai dan tanaman di kawasan pegunungan. Konservasi tanah, pemeliharaan ternak dan pengembangan tanaman kelapa di kawasan pantai menjadi ciri utama penanganan ekosistem pertanian dan upaya memperoleh pendapatan. Akhir-akhir ini di kawasan pantai, tanaman kelapa mulai dikombinasikan dengan tanaman perkebunan seperti coklat, cengkeh dan vanili tergantung pada tingkat curah hujan. Tanaman kelapa dipadukan pula dengan pisang dan ubi-ubian yang menjadi pola menu utama pangan

masyarakat pantai tradisional.

Tabel 4. Beberapa Bentuk Agroforestri yang berkembang di Nusa Tenggara

Sistem Sub -Sistem Contoh Pra ktek Contoh

(22)

— 12 —

Sistem Sub -Sistem Contoh Pra ktek Contoh

Teknolog i

Padang peng g embalaan (Timor; rump ut terna k d a n ta na ma n leg um);

Keb un Huta n (Forest-g ardens)

Catatan: Diringkas dari Roshetko et al.(2002)

Di zona ini, pengembangan sebagian wanatani sangat tergantung pada ada tidaknya kawasan alluvial di dataran rendahnya. Kawasan alluvial ini umumnya mempunyai potensi untuk pengembangan ternak ikan air tawar maupun campuran (untuk ikan Bandeng). Pengembangan silvofisheri sangat potensial. Tanaman bakau (Rhizopora sp.), biasanya menjadi andalan penguatan tambak atau tempat kepiting dan ikan bertelur.

(23)

— 13 —

memungkinkan di tahap awal. Namun cengkeh juga tumbuh di dataran yang lebih tinggi sedangkan mente memerlukan daerah yang lebih kering.

Agroforestri pada zona pegunungan

Z ona pegunungan umumnya mempunyai iklim yang lebih dingin dan basah. Agroforestri biasanya dikaitkan dengan pengembangan hortikultura seperti sayuran dan buah-buahan. Kontras dengan dataran rendah, jenis ternak di kawasan pegunungan terbatas.

Kawasan pegunungan umumnya ideal untuk tanaman buah-buahan dan sayuran. Wanatani bisa merupakan perpaduan antara tanaman buah-buahan dengan sayuran atau dengan tanaman pangan. Beberapa pohon berkayu yang juga dapat dijumpai di wilayah pegunungan seringkali menjadi bagian dari sistem agroforestri yang dikembangkan, misalnya di Papua banyak dijumpai jenis cemara gunung (Casuarina sp.).

2.5 Klasif ikasi berdasarkan orientasi ekonomi

Banyak pihak yang berpandangan bahwa agroforestri dikembangkan untuk memecahkan permasalahan kemiskinan dan petani kecil, karena adanya lapar lahan (sebagai contoh di Jawa yang memiliki kepadatan penduduk >700 jiwa/ km2) ataupun kondisi lingkungan hidup yang sulit akibat aspek geografis

(keterisolasian wilayah) dan/ atau aspek ekologis (wilayah-wilayah beriklim kering). Pendapat ini tidak dapat disalahkan seratus persen, karena

kenyataannya selama ini memang program-program (atau proyek-proyek) pengembangan agroforestri lebih banyak dijumpai pada negara-negara

berkembang yang miskin di wilayah tropis (Afrika, Asia, dan Amerika Latin).

Dalam implementasi, agroforestri telah membuktikan merupakan sistem pemanfaatan lahan yang mampu mendukung orientasi ekonomi, tidak hanya pada tingkatan subsisten saja, melainkan pada tingkatan semi-komersial hingga komersial sekalipun (Nair, 1989).

Agroforestri skala subsisten (Subsistence agroforestry)

Sesuai dengan skalanya yang subsisten (seringkali diistilahkan ‘asal-hidup’), maka bentuk-bentuk agroforestri dalam klasifikasi ini diusahakan oleh pemilik lahan sebagai upaya mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Utamanya tentu saja berkaitan dengan upaya pemenuhan kebutuhan pangan keluarga.

Meskipun demikian fungsi agroforestri seperti ini juga dimaksudkan untuk kebutuhan-kebutuhan hidup lainnya, tidak terkecuali bahan mentah (raw materials, a.l. bahan baku usaha pertanian) dan dalam mendukung kegiatan-kegiatan ritual (upacara-upacara tradisional – contoh penanaman pohon pinang [A reca catechu] pada lahan masyarakat Dayak). Orientasi agroforestri subsisten memang menggambarkan masyarakat yang lebih mementingkan risiko

kegagalan pemenuhan kebutuhan hidup yang rendah, dibandingkan memperoleh pendapatan tunai (cash income) yang tinggi. Hal ini penting, karena miskinnya pemilik lahan dan ketiadaan pasar di suatu wilayah.

Agroforestri dengan skala subsisten ini secara umum merupakan agroforestri yang tradisional, dengan beberapa ciri-ciri penting yang bisa dijumpai adalah: (a) Lahan yang diusahakan terbatas; (b) Jenis yang diusahakan beragam

(24)

— 14 —

dalam jumlah terbatas; (c) Pengaturan penanaman tidak beraturan (acak); (d) Pemeliharaan/ perawatan serta aspek pengelolaan lainnya tidak intensif.

Agroforestri skala ini dapat dijumpai pada wilayah-wilayah pedalaman/ relatif terisolir dan di kalangan masyarakat tradisional. Beberapa contohnya adalah: Pola perladangan tradisional (traditional shifting cultivation), kebun hutan dan kebun pekarangan tradisional (traditional forest- and home-gardens) pada masyarakat adat di Kalimantan (lihat budidaya Lembo – Sardjono, 1990).

Agroforestri skala semi-komersial (Semi-commercial agroforestry)

Pada wilayah-wilayah yang mulai terbuka aksesibilitasnya, terutama bila menyangkut kelompok-kelompok masyarakat yang memiliki motivasi ekonomi dalam penggunaan lahan yang cukup tinggi, terjadi peningkatan

kecenderungan untuk meningkatkan produktivitas serta kualitas hasil yang dapat dipasarkan untuk memperoleh uang tunai. Meskipun demikian, dengan keterbatasan investasi yang dimiliki, jangkauan pemasaran produk yang belum meluas, serta ditambah dengan pola hidup yang masih subsisten, maka jaminan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari tetap menjadi dasar pertimbangan terpenting. Pentingnya risiko kegagalan ini terlihat dari tetap

dipertahankannya keanekaragaman jenis tanaman pada lahan usaha.

Contoh yang paling mudah dan luas dijumpai adalah pola-pola pengusahaan kebun pekarangan pada masyarakat transmigran di luar Jawa (misalnya di wilayah Kabupaten Kutai Barat – Kalimantan Timur). Masyarakat transmigran mulai meningkatkan jenis-jenis yang dibudidayakan dan yang memiliki nilai semi-komersial (produknya dapat dimanfaatkan sendiri dan sekaligus dapat dijual), seperti kelapa (Cocos nucifera) dan kopi (Coffea spp.), daripada mempertahankan jenis-jenis yang tumbuh alami serta tidak komersial (wild species) sebagaimana dijumpai pada lahan-lahan masyarakat tradisional setempat.

Guna memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai agroforestri semi-komersial, maka pada Tabel 7 disajikan perbandingan struktur (jumlah pohon pada tingkatan diameter tertentu) dan komposisi (kategori jenis tanaman) dari kebun hutan dan kebun pekarangan (traditional forest- and home-gardens) Masyarakat Dayak Tunjungdengan kebun pekarangan para transmigran Jawa (diistilahkan sebagai home-garden) di Kecamatan Barongtongkok, Kabupaten Kutai Barat.

Tabel 7. Perbandingan struktur dan komposisi jenis-jenis tanaman yang dijumpai pada kebun-hutan dan kebun-pekarangan tradisional dengan kebun-pekarangan masyarakat transmigran

Jumla h Pohon/ Ha

menurut Dia meter Ka teg ori Jenis Ta na ma n (% )

Pra ktek Ag rof orestri

> 5 cm > 1 0 cm Lia r

(25)

— 15 —

Agroforestri skala komersial (Commercial agroforestry)

Pada orientasi skala komersial, kegiatan ditekankan untuk memaksimalkan produk utama, yang biasanya hanya dari satu jenis tanaman saja dalam kombinasi yang dijumpai (lihat pembahasan tentang agroforestri modern). Ciri-ciri yang dimiliki biasanya tidak jauh berbeda antar berbagai bentuk implementasi, baik dalam lingkup pertanian ataupun kehutanan, yaitu antara lain: (1) Komposisi hanya terdiri dari 2-3 kombinasi jenis tanaman, di mana salah satunya merupakan komoditi utama (adapun komponen lainnya berfungsi sebagai unsur pendukung); (2) Dikembangkan pada skala yang cukup luas (investasi besar) dan menggunakan input teknologi yang memadai; (3) Memiliki rantai usaha tingkat lanjut (penanganan pascapanen dan

perdagangan) yang jelas serta tertata baik; (4) Menuntut manajemen yang profesional.

Contoh-contohnya di sektor pertanian adalah perkebunan-perkebunan tanaman keras (tree crop plantation) skala besar (misalnya perkebunan karet modern dengan pola tumpangsari palawija pada awal pembangunannya, dan perkebunan kakao serta kopi yang dikombinasikan dengan tanaman peneduh). Di sektor kehutanan, dikenal pola tumpangsari (taungya system) pada hutan jati (Tectona grandis) di Perum Perhutani di Jawa dan Nusa Tenggara Barat atau Hutan Tanaman Industri (HTI/Timber Estate Plantation; termasuk pola HTI-Masyarakat) di luar Jawa.

2.6 Klasif ikasi berdasarkan sistem produksi

Agroforestri berbasis hutan (Forest Based Agroforestry)

Fores based agroforestry systems pada dasarnya adalah berbagai bentuk

agroforestri yang diawali dengan pembukaan sebagian areal hutan dan/ atau belukar untuk aktivitas pertanian, dan dikenal dengan sebutan agroforest (lihat lebih detil pada Bahan Ajaran 1).

Agroforestri berbasis pada pertanian (Farm based Agroforestry)

Farm based agroforestry dianggap lebih teratur dibandingkan dengan agroforest (forest based agroforestry) dengan produk utama tanaman pertanian dan atau peternakan tergantung sistem produksi pertanian dominan di daerah tersebut. Komponen kehutanan merupakan elemen pendukung bagi peningkatan produktivitas dan/ atau sustainabilitas sistem.

Agroforestri berbasis pada keluarga (Household based Agroforestry)

Agroforestri yang dikembangkan di areal pekarangan rumah ini juga disebut agroforestri pekarangan (homestead agroforestry) di Bangladesh. Di Indonesia, yang terkenal adalah model kebun talun di Jawa Barat. Sedangkan di

Kalimantan Timur, ada kebun pekarangan tradisional yang dimiliki oleh satu keluarga besar (clan). Kondisi ini bisa terjadi karena pada masa lampau beberapa keluarga tinggal bersama-sama pada rumah panjang (atau disebut sebagai ‘lamin’ - lihat Sardjono, 1990). Di berbagai daerah di Indonesia, pekarangan biasanya ditanam pohon buah-buahan dengan tanaman pangan.

2.7 Klasif ikasi berdasarkan lingkup manajemen

(26)

— 16 —

kombinasi jenis dalam satu unit manajemen (misal satu kebun). Tetapi secara tradisional dan sesuai dengan tuntutan aspek perencanaan tata ruang wilayah di masa depan, kombinasi kehutanan, pertanian, dan/ atau peternakan juga berlangsung dalam satu bentang alam dari suatu agroekosistem (sistem

pedesaan; lihat pemahaman agroforestri tradisional di atas yang dikemukakan oleh Thamman, 1988). Klasifikasi agroforestri berdasarkan lingkup

manajemennya, adalah sebagai berikut:

Agroforestri pada tingkat tapak (skala plot)

Pengkombinasian komponen tanaman berkayu (kehutanan), dengan tanaman non-kayu (pertanian) dan/ atau peternakan pada satu unit manajemen lahan ini umum dibicarakan dalam agroforestri. Sistem ini biasanya dilakukan pada lahan-lahan milik perorangan (petani) atau milik badan hukum (perusahaan). Titik berat bentuk agroforestri ini adalah optimalisasi kombinasi melalui

simulasi dan manipulasi jenis tanaman/ hewan, dan seringkali pada skala lahan yang relatif terbatas (misalnya pada kebun pekarangan transmigrasi dengan luas rata-rata 0,25 hektar). Pemahaman akan karakter jenis, dan responnya dalam kombinasi, merupakan kunci keberhasilan agroforestri pada tingkatan ini.

Agroforestri pada tingkat bentang lahan

Pada suatu bentang lahan pedesaan di beberapa wilayah di Indonesia, dapat ditemukan tata guna lahan yang bervariasi antar tapak. Bahkan pada beberapa kelompok masyarakat pedesaan, alokasi lahan dimusyawarahkan

sebaik-baiknya berdasarkan kebutuhan bersama serta kesesuaian terhadap kondisi/ karakterisitik tapak berdasarkan pengalaman tradisional. Sebagai contoh, pada masyarakat Dayak Kenyah di Batu Majang (Kalimantan Timur), selain areal yang digunakan sebagai pemukiman (yang akan berkembang kebun pekarangan) terdapat juga kawasan desa yang dipertahankan sebagai hutan lindung (istilah setempat adalah Tana’ Ulen). Hutan lindung ini

berfungsi sebagai pengatur tata air dan menyediakan bahan baku kayu secara terbatas (untuk keperluan komunal). Di samping Tana’ Ulen, terdapat pula lokasi yang diperuntukkan bagi kegiatan berladang. Beberapa lahan pertanian pada masyarakat Dayak Benuaq dan Dayak Tunjung dialokasikan bagi

pengembangan perkebunan karet (Hevea brasiliensis). Sehingga dalam skala bentang lahan, terdapat mosaik agroforestri (Sardjono, 1990). Interaksi antar sistem penggunaan lahan atau kegiatan produksi tersebut terjadi atas dasar pertimbangan kebutuhan komunal dan karakter lingkungan yang dikenal baik oleh masyarakat.

Agroforestri pada tingkat bentang lahan dewasa ini dalam lingkup kehutanan masyarakat (community forestry) seringkali disebut dengan istilah ‘Sistem Hutan Kerakyatan’ (SHK/community based forest system management). Meskipun penekanan SHK pada wilayah-wilayah masyarakat adat/ tradisional (Mushi, 1998), tetapi mengingat sub-elemennya antara lain ladang, kebun, sawah, pekarangan, tempat-tempat yang dikeramatkan sebagai satu kesatuan yang integral dalam upaya komunal dari satu komunitas atau lebih, sistem ini bisa dikatakan sebagai suatu agroforestri.

(27)

— 17 —

mengakomodir kepentingan berbagai sektor terutama kehutanan dan pertanian (von Maydell, 1978). Dengan demikian, agroforestri dapat mengubah dari situasi yang dissosiatif menjadi yang bersifat assosiatif (kooperasi, kolaborasi, ataupun koordinasi).

3. Pola Pengkombinasian Komponen

Secara sederhana agroforestri merupakan pengkombinasian komponen tanaman berkayu (woody plants)/ kehutanan (baik berupa pohon, perdu, palem-paleman, bambu, dan tanaman berkayu lainnya) dengan tanaman pertanian (tanaman semusim) dan/ atau hewan (peternakan), baik secara tata waktu (temporal arrangement) ataupun secara tata ruang (spatial arrangement).

Menurut von Maydell (1985), kombinasi yang ideal terjadi bila seluruh komponen agroforestri secara terus menerus berada pada lahan yang sama. Akan tetapi secara alami (atau seringkali atas dasar alasan ekonomi), kombinasi komponen berkaitan erat dengan dinamika dari keseimbangan perubahan musim sesuai dengan ritme tahunan, suksesi tertentu akibat dari gangguan atau perlakuan manusia secara periodik atau sporadik. Sebagai contoh telah dikemukakan, bahwa satwa-satwa liar yang berperan pada proses regenerasi dan penyebaran kebun hutan tradisional tidak berada sepanjang waktu dalam sistem, tetapi sebagian ada yang bersifat musiman (saat musim buah).

Pengkombinasian berbagai komponen dalam sistem agroforestri menghasilkan berbagai reaksi, yang masing-masing atau bahkan sekaligus dapat dijumpai pada satu unit manajemen, yaitu persaingan, melengkapi, dan ketergantungan (von Maydell, 1987).

Persaingan (competition)

Pohon-pohon dan perdu, tanaman pertanian dan binatang bersaing satu sama lain guna memperoleh cahaya, air, hara, ruang hidup, input kerja, lahan, kapital dan lain sebagainya. Persaingan ini tidak dapat dideteksi secara langsung, namun dapat diduga secara tidak langsung. Misalnya, tanaman tertentu menjadi perantara parasit bagi tanaman lain, pohon sebagai tempat sarang burung-burung yang dapat mengakibatkan berkurangnya panen tanaman padi-padian, dll. Tidak jarang persaingan justru diharapkan misalnya berkurangnya gulma rumput-rumputan akibat terlindung tajuk pohon.

M elengkapi (complementary)

Reaksi saling melengkapi ini dapat secara waktu, ruang ataupun kuantitatif. Secara waktu, misalnya ketersediaan daun-daunan lebar atau buah-buahan sebagai makanan ternak pada musim-musim di mana rumput tidak tersedia (misal A cacia albida di Afrika). Secara ruang, misalnya pemanfaatan

keseluruhan biotop atau produksi secara lebih baik melalui dua strata atau lebih sekaligus. Secara kuantitatif, misalnya produk sejenis yang diperoleh dari satu lahan secara bersamaan, antara lain protein nabati dan hewani.

Ketergantungan (dependency)

(28)

— 18 —

tidak terlampau tinggi. Beberapa pertanyaan yang perlu dijawab adalah: komponen apa yang tergantung pada komponen lain?; apa manfaat hubungan antar komponen tersebut?; seberapa jauh hubungan ketergantungan tersebut?

Pola interaksi antar komponen di atas diuraikan dalam Bab 4. Ketiga interaksi tersebut dapat dimanfaatkan untuk melakukan/ merekayasa desain

pengkombinasian komponen penyusun agroforestri secara baik, guna meraih secara optimal tujuan yang diinginkan dalam upaya pemanfaatan lahan terpadu tersebut. Desain atau pola kombinasi agroforestri juga harus mempertimbangkan banyak hal yang berkaitan erat dengan kapasitas dan kebutuhan masyarakat yang dilayaninya.

Kolom 3. Tiga Kriteria Desain Agroforestri yang Baik (Raintree, 1987; dengan modifikasi)

•= Produktivitas (productivity): melip uti b erb a g a i ca ra untuk mening ka tka n outp ut

p rod uk p ohon, memp erb a iki p a nen ta na ma n musima n seb a g a i komb ina siny a , meng ura ng i inp ut untuk b ud id a y a p erta nia n, mening ka tka n ef isiensi tena g a kerja , d iversif ika si p rod uksi, serta memenuhi keb utuha n d a sa r p emilik la ha n;

•= Sustainabilitas (sustainability): kesina mb ung a n sistem p rod uksi a ka n d a p a t d ica p a i

tujua n konserva si d a n seka lig us meng g ug a h motiva si p eta ni kecil y a ng sering ka li kura ng p ed uli terha d a p kep enting a n ja ng ka p a nja ng ;

•= Taraf Adopsi (adoptability): teknolog i (a g rof orestri) ha rus sesua i d eng a n ka ra kter

sosia l d a n ling kung a n setemp a t. Sua tu teknolog i y a ng tid a k d a p a t d ila ksa na ka n oleh p eta ni p eng g una menja d i tid a k b erma nf a a t, wa la up un memenuhi sy a ra t, seca ra teknis ca ng g ih d a n d a ri sud ut kea rif a n ling kung a n

3.1 Pengkombinasian menurut dimensi waktu

Pengkombinasian secara tata waktu dimaksudkan sebagai durasi interaksi antara komponen kehutanan dengan pertanian dan atau peternakan. Kombinasi tersebut tidak selalu nampak di lapangan, sehingga dapat

menimbulkan kesalahpahaman bahwa suatu bentuk pemanfaatan lahan tidak dapat dikategorikan sebagai agroforestri. Beberapa contoh yang dapat dikemukakan, antara lain:

•= Kebun rotan pada masyarakat Dayak di Kalimantan yang dikategorikan sebagai agrisilvikultur. Bagi yang tidak memahami sistem pola

perladangan akan sulit mengkategorikannya sebagai agroforestri. Padahal, masa bercocok tanam padi hanya berkisar 1-3 tahun, sedangkan masa budidaya rotannya (dari penanaman hingga tidak produktif lagi dan diubah kembali menjadi ladang) bisa mencapai puluhan tahun.

•= Kebun hutan tradisional (misal pada sistem Lembo di Kalimantan Timur – Sardjono, 1990) dikategorikan sebagai salah satu bentuk agrosilvopastura. Meskipun pada dasarnya satwa liar hadir secara tetap, akan tetapi jenis dan populasinya bervariasi tergantung dari kondisi floristik dan pengusahaan kebun hutan itu sendiri. Kondisi ini bahkan berlaku pada satwa yang termasuk hama, misalnya vertebrata khususnya serangga.

(29)

— 19 —

Dengan demikian, jangka waktu dan proses kesinambungan penggunaan lahan penting untuk diperhatikan dalam agroforestri. Pemahaman ini seringkali tidak sesederhana pada budidaya tunggal (monokultur).

Huxley (1977) dan Nair (1993) mengkategorikan kombinasi secara waktu menjadi 4 (empat), yaitu: (1) Co-incident, yaitu kombinasi selama jangka waktu budidaya jenis/ komponen agroforestri; (2) Concomitant, kombinasi pada awal atau akhir waktu budidaya suatu jenis/ komponen agroforestri; (3) Overlapping, kombinasi bergantian yang tumpang tindih antara akhir dan awal dari dua (atau lebih) jenis/ komponen agroforestri; (4) Interpolated, yaitu kombinasi tersisip pada jangka waktu budidaya jenis/ komponen agroforestri. Ketiga kombinasi terakhir di atas masih memerlukan penjelasan lagi, apakah bersifat berkala (intermittent) atau terus menerus (continous). Agar lebih jelas gambaran dari keseluruhan kombinasi secara tata waktu di atas dapat dilihat pada

Gambar 4.

Gambar 4. Pengkombinasian agrof oresti berdasarkan dimensi waktu (Nair, 1993).

Jika kombinasi komponen agroforestri secara tata waktu disederhanakan, maka secara garis besar kombinasi tersebut dapat dibagi menjadi dua, yaitu

kombinasi permanen (permanent combination) dan sementara (temporary

(30)

— 20 —

Kombinasi secara permanen (permanent combination)

Kombinasi komponen agroforestri ini dapat terdiri dari komponen kehutanan dengan paling sedikit satu dari komponen pertanian dan peternakan.

Kombinasi permanen ini dapat dijumpai dalam tiga kemungkinan, yaitu:

1. Kombinasi komponen kehutanan, pertanian, dan peternakan

berkesinambungan selama lahan digunakan (co-incident). Sebagai contoh, berbagai bentuk kebun pekarangan (home gardens) yang dapat dijumpai di banyak wilayah nusantara;

2. Pemeliharaan tegakan/ pohon-pohon secara permanen pada lahan-lahan pertanian sebagai sarana memperbaiki lahan, tanaman pelindung, atau penahan air. Sebagai contoh, penanaman pohon-pohon turi (Sesbania grandifora) pada pematang-pematang sawah di Jawa, pohon pelindung pada perkebunan komersial (kopi, kakao);

3. Pemeliharaan/ penggembalaan ternak secara tetap (berjangka waktu tahunan) pada lahan-lahan hutan/ bertumbuhan kayu, tanpa melihat pada umur tegakan. Contoh–contoh dapat dijumpai pada wilayah-wilayah kering/ semi arid.

Kombinasi secara sementara (temporary combination)

1. Penggembalaan ternak atau kehadiran hewan di kawasan

berhutan/ bertumbuhan kayu hanya dilakukan pada musim-musim tertentu (continous interpolated). Contoh kehadiran berbagai satwa hutan (terutama jenis-jenis burung) di kebun-kebun hutan dan kebun pekarangan pada saat musim buah (khususnya bulan-bulan Desember hingga Maret); 2. Penggembalaan ternak atau kehadiran hewan di kawasan

berhutan/ bertumbuhan kayu pada awalnya dibatasi dengan pertimbangan keselamatan permudaan. Akan tetapi dengan pertambahan umur tegakan, pembatasan ini semakin diperlonggar. (Catatan: Belum dijumpai informasi contohnya di Indonesia);

3. Di Sahel (satu kawasan di Afrika), pohon A cacia albida tumbuh permanen pada lahan usaha dan pada musim hujan memberikan perlindungan dan pupuk hijau bagi tanaman gandum. Pada musim kering menghasilkan buah sebagai makanan ternak yang juga digembalakan pada lahan tersebut. (Catatan: Belum dijumpai informasi contohnya di Indonesia);

4. Pemanfaatan secara periodik lahan-lahan pertanian untuk produksi kayu (Catatan: Belum dijumpai informasi contohnya di Indonesia);

5. Setelah persiapan lahan kawasan hutan/ kebun, petani diperkenankan menggunakannya sementara untuk tanaman sela musiman dan sekaligus memelihara tanaman pokok kehutanan. Setelah 3-5 tahun, maka usaha pertanian harus dihentikan. Pemanfatan tumpang tindih seperti ini dijumpai luas pada sistem-sistem tumpangsari (taungya) baik di Jawa (di hutan Jati) atau di luar Jawa;

6. Pemakaian lahan secara bergantian antara kehutanan dan peternakan. (Catatan: Belum dijumpai informasi contohnya di Indonesia).

3.2 Pengkombinasian secara tata ruang

(31)

— 21 —

•= Penyebaran merata, apabila komponen berkayu (kehutanan) secara teratur bersebelahan dengan komponen pertanian, baik dikarenakan permudaan alam ataupun penanaman;

•= Penyebaran tidak merata, apabila komponen berkayu (kehutanan) ditempatkan secara jalur di pinggir atau mengelilingi lahan pertanian.

Kolom 4. M anajemen Pohon Pelindung (Gliricidia sp.) Berdasarkan Dimensi Waktu dan

Ruang: Kasus pada Perkebunan Kakao (Theobroma cacao) di Jahab Kalimantan Timur

•= Setela h la ha n sia p , sa tu ta hun seb elum p ena na ma n komod iti uta ma ka ka o (Ta hun -1) d ila kuka n p ena na ma n p ohon p elind ung (d a ri jenis g a ma l a ta u Gliricidia sepium);

•= Setela h p ohon p elind ung b erumur sa tu ta hun, ma ka d ila kuka n p ena na ma n ka ka o (Theobroma cacao) d i a nta ra p ohon-p ohon g a ma l;

•= Pa d a teg a ka n ka ka o umur tig a ta hun, d ila kuka n p ema ng ka sa n/ p eneb a ng a n I pohon p elind ung g a ma l seb a ny a k 2 5 % (a ta u meny isa ka n 7 5 % d a ri p op ula si y a ng a d a );

•= Pa d a teg a ka n ka ka o umur emp a t ta hun, d ila kuka n p ema ng ka sa n/ p eneb a ng a n II p ohon p elind ung g a ma l seb a ny a k 2 5 % (a ta u meny isa ka n 5 0 % d a ri p op ula si a wal);

•= Pa d a teg a ka n ka ka o b erumur lima ta hun d ila kuka n p ema ng ka sa n/ p eneb a ng a n III (tera khir) seb a ny a k 2 5 % d eng a n meny isa ka n 2 5 % d a ri p op ula si a wa l. Kond isi y a ng a d a d ip erta ha nka n hing g a ma sa p a nen ka ka o.

Catatan: O bservasi kasus dilakukan Tahun 1985/ 86 di perkebunan Kakao Pinang Manis/ Hasfarm; kerjasama Fahutan Unmul dan G TZ.

Penyebaran secara horizontal

Penyebaran secara horizontal ditinjau dari bidang datar pada lahan yang diusahakan untuk agroforesti (dilihat dari atas, sebagaimana suatu potret udara). Penyebaran komponen penyusun agroforestri secara horizontal memiliki berbagai macam bentuk, sebagai berikut:

1. Pohon-pohon tumbuh secara merata berdampingan dengan tanaman pertanian, baik sifatnya temporer (misalkan dalam sistem tumpangsari) ataupun permanen (dalam hal ini bisa berbentuk berbagai tanaman

campuran atau plantation crops and other crops). Penanaman ini yang disebut dengan istilah ‘sistem jalur berselang’ (alternate rows);

2. Tegakan hutan alam (biasanya bekas tebangan atau logged-over area) yang ditebang jalur untuk penanaman tanaman keras komersial. Termasuk dalam kombinasi yang kedua ini adalah sistem ‘jungle shading’ yang pernah diuji coba pada perkebunan kakao (Cacao theobroma) di Jahab (Kaltim);

3. Mirip dengan model jalur berselang (lihat butir 1), hanya saja lahan di sini digunakan lebih intensif. Pohon-pohon yang kecil dan mudah dipangkas atau dapat segera dijarangi ditanam di antara pohon-pohon komersial besar dan tanaman pertanian. Contoh antara lain penanaman lamtoro gung (Leucaena leucochepala) dalam sistem tumpangsari di hutan jati di Jawa;

(32)

— 22 —

5. Suatu kombinasi antara agrisilvikutur dan silvopastura, di mana pohon-pohonan atau perdu-perduan berkayu ditanam di sekeliling lahan pertanian agar berfungsi sebagai pagar hidup (border tree planting);

6. Tegakan pohon atau perdu tumbuh tersebar secara tidak merata pada lahan pertanian. Dalam hal ini, tidak ada model distribusi yang sistematis (model acak atau random). Contoh konkrit untuk ini adalah permudaan alam pada hutan sekunder selama masa bera dalam kegiatan perladangan berpindah; 7. Pohon-pohonan (tumbuhan berkayu) dan tanaman pertanian ditanam

dalam bentuk jalur/ lorong. Fungsi utama pohon-pohonan (tumbuhan berkayu) adalah sebagai pelindung bagi tanaman pertanian yang ada. Contoh dari desain kombinasi ini adalah berbagai bentuk tanaman lorong (alley cropping);

8. Tegakan pohon atau perdu berkayu tumbuh secara berkelompok (cluster) pada suatu lahan pertanian (atau lahan yang diberakan/ diistirahatkan). Komponen pohon, perdu dan lain-lainnya dapat hadir secara alami (dan selanjutnya dipelihara) maupun sengaja ditanam (dibudidayakan). Contoh untuk pola ini adalah sistem kebun hutan tradisional (traditional forest gardens);

9. Pohon atau perdu berkayu ditempatkan di sekeliling petak atau

ditempatkan pada sisi-sisi petak yang disebut sebagai trees along border atau sistem kotak (box system). Contoh percobaan pada perkebunan kakao di Kalimantan Timur.

Gambar 5. Contoh kombinasi secara tata ruang horizontal

Penyebaran secara vertikal

Berbeda dengan penyebaran secara horizontal, maka penyebaran vertikal dilihat dari struktur kombinasi komponen penyusun agroforestri berdasarkan bidang samping atau penampang melintang (cross-section). Yang terlihat bukan hanya strata kombinasi, tetapi juga kemerataan distribusi masing-masing jenis. Keseluruhan dari penyebaran horizontal di atas juga dapat dikombinasikan dengan penyebaran vertikal, yaitu:

(33)

— 23 —

2. Tidak merata, di mana komponen kehutanan dan pertanian tersusun dalam strata yang tidak beraturan (acak/ random) pada sebidang lahan. Struktur tidak merata lebih banyak dijumpai pada agroforestri tradisional yang lebih polikultur. Struktur ini sangat berkaitan dengan diversitas (diversity), atau aspek kelimpahan jenis (species richness) dan kemerataannya (eveness).

Gambar 6A . Contoh kombinasi komponen penyusun agrof orestri secara tata ruang vertikal teratur: Pohon karet ditanam berbaris teratur dan ubikayu ditanam dalam lorongnya. (Foto dari Lampung Utara oleh Kurniatun Hairiah).

Gambar 6B. Kombinasi komponen penyusun agrof orestri secara vertical tidak teratur, terdiri dari kelapa, kayu manis, pisang, pepaya, surian dan kapulaga (Foto dari Maninjau oleh Kurniatun Hairiah).

PERTANYAAN

1 . Jela ska n b erb a g a i kla sif ika si a g orof orestri d id a sa rka n p a d a komp onen p eny usunnya, istila h y a ng d ig una ka n, seja ra h p erkemb a ng a nny a , zona a g ro-ekolog iny a , orienta si ekonomi, sistem p rod uksi, ma up un ska la , b eserta contoh ma sing -ma sing !

2 . Jela ska n b erb a g a i p ola komb ina si komp onen d a la m a g rof orestri d a ri sud ut ta ta ruang d a n d imensi wa ktu, b eserta contoh ma sing -ma sing !

(34)

— 24 —

BAHAN BACAAN

Combe J dan G Budow ski. 1979. Classification of agroforestry techniques. In de las Salas G (Ed.). 1979. Proceedings of the W orkshop on Agroforestry Systems in Latin America

CA TIE. Turialba, Costa Rica. p17-47.

De Forestra H, A Kusw oro, G Michon dan WA Djatmiko. 2000. Ketika Kebun berupa Hutan. Agroforest Khas Indonesia Sebuah Sumbangan M asyarakat. ICRA F. Bogor.

Djogo A PY. 1995. M odel-M odel W anatani Potensial untuk Pertanian Lahan Kering. Makalah Disampaikan dalam Lokakarya Nasional A groforestri I (16-18 Januari 1995). Ujung Pandang.

Dove M. 1988. Sistem Perladangan di Indonesia: Suatu Studi Kasus dari Kalimantan Barat. Gajahmada University Press. Yogyakarta.

King KFS. 1968. Agrisilviculture: The Taungya System. Bulletin No. 1. Department of Forestry, University of Ibadan. Nigeria.

King KFS. 1979. A groforestry and the utilization of fragile ecosystems. Forest Ecology and M anagement 2: 161-168.

Lundgren BO. 1982. The use of agroforestry to improve the productivity of converted tropical land. Paper prepared for the Office of Technology A ssessment of the United States Congress. ICRA F Miscellaneous Papers. ICRA F. Nairobi, Kenya.

Lundgren BO and JB Raintree. 1982. Sustained A groforestry ?. In Nestel B (Ed.). 1989.

Agricultural Research for D evelopment : Potentials and Challenges in Asia. ISNA R- The Hague, The Netherlands. p.37-49.

von Maydell H-J. 1978. A groforstw irtschat: Kombination von land- und

forstw irtschaftlicher Bodennutzung. Forstarchiv 49 (1978), 5, 96-99. Hannover. von Maydell H-J. 1981. A groforstw irschaft aus forstlicher Sicht. In Combe J et al. (Eds.).

1981. Fachseminar “ Agro-Forstwirtschat” . Prosiding. CA TIE-DSE-GTZ. Feldafing. von Maydell H.-J. 1986. A groforstw irtschat in den Tropen und Subtropen. In Rehm, S.

(Ed.). 1986. Grundlagen des Pflanzenabbaus in den Tropen und Subtropen. Eugenulmer. Stuttgart.

von Maydell H-J. 1987. International Research in A groforestry (Editorial). Agroforestry System Journal 5 (1987), 3, 193-195.

von Maydell H.-J. 1988. Agroforestry (Lecture Notes). GTZ-Fahutan Unmul. Samarinda.

Murniati. 2002. From Imperata cylindrica grassland to productive agroforestry system. Dissertation. Wageningen University. Wageningen.

Mushi MA . 1998. Sistem Hutan Kerakyatan: Inisiatif LSM Mempromsikan Komuniti Forestri. Dalam A w ang SA , Mushi MA dan Y Nugroho (Eds.). 1998. Menggali Potensi Bersama untuk Memekarkan Community Forestry Menjelang A bad 21. FKKM-PT. Inhutani I. Ujung Pandang.

Nair PKR. 1985. Classification of agroforestry systems. A groforestry Systems 3:97-128. Nair PKR. 1987. A groforestry systems in the tropics. Kluw er, Dordrecht.

Nair PKR. 1993. A n Introduction to A groforestry. Kluw er A cademic Publisher. Dordrecht, the Netherlands.

Roshetko J, Mulaw arman, WJ Santoso dan IN Oka. 2002. Wanatani di Nusa Tenggara. Prosiding Lokakarya Wanatani Se-Nusa Tenggara. ICRA F dan Winrock

International. Bogor.

Sardjono MA . 1990. Die Lembo Kultur in Ostkalimantan. Ein Modell fuer die

(35)

— 25 —

Sardjono MA . 1993. Agroforestri. Suatu Pengantar. Diktat untuk Mahasisw a Fakultas Kehutanan Unmul (Edisi I). Universitas Mulaw arman, Samarinda. (Tidak dipublikasikan).

Soemarw oto O., et al. 1985a. The Javanese Home-Garden as an Integrated A groecosystem. Food and Nutrition Bull., 7/3/1985/44-47.

Soemarw oto O, et al. 1985b. The Talun-Kebun: A Man-made Forest Fitted to Family Needs. Food and Nutrition Bull., 7/3/1985/48-51.

Suharjito D, Khan A , Djatmiko WA , Sirait MT dan S Evelyna. 2000. Karakteristik Pengelolaan Hutan berbasiskan M asyarakat. A ditya Media. Yogyakarta.

Thaman RR. 1989. Rainforest Management w ithin Cintex of Existing A groforestry Systems. In Heuveldop, J., T. Homola, H.-J. von Maydell, T. van Tuyll. 1989.

Proceeding GTZ Regional Seminar. Korolevu (Fiji)

Torres F. 1983. A groforestry: concepts and practices. In Hoekstra, D. A . dan Kuguru, F. M. (Eds.). 1983. Agroforestry Systems for Smallscale Farmers. ICRA F/ BA T, Nairobi, Kenya. 27-42.

Wiersum KF. 1982. Tree Gardening and Taungya in Java : Examples of A groforestry Techniques in the Humid Tropics. Agroforestry System Journal 1 (1982), 1, 53-70.

Young A . 1989. Agroforestry for Soil Conservation. Science and Practice of A grofoestry No. 4. ICRA F. Nairobi.

Zakaria RY. 1994. Hutan dan Kesejahteraan M asyarakat Lokal. WA LHI. Jakarta.

W EB SITE

(36)
(37)

M eine van Noord w ijk

ICRAF-SEA, Jl. CIFOR, Situged e, Bogor 16680; e-mail: M .van-Noord w [email protected]

M ustofa Agung Sard jono

Fakultas Pertanian, Universitas M ulawarman, Jl. M . Yamin Kampus Gunung Kelua, Samarinda75123, Kalimantan Timur, PO Box 1013;

e-mail: [email protected] ; M A_Sard [email protected]

Nurheni Wijayanto

Fahutan – IPB, PO Box 69, Bogor 16001; e-mail: nurheniw @ind o.net.id

Sambas Sabarnurdin

Fakultas Kehutanan, Universitas Gajah M ad a, Jl. Agro Bulaksumur Yogyakarta 55281; e-mail: [email protected]

Sri Rahayu Utami

Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Braw ijaya, Jl. Veteran, M alang 165145;

e-mail: [email protected]

Sunaryo

Jurusan Bud idaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Jl. Veteran, M alang 165145 e-mail: [email protected]

Suyanto

ICRAF-SEA, Jl. CIFOR, Situged e, Bogor 16680; e-mail: [email protected]

Tony Djogo

CIFOR, Jl. CIFOR, Situged e, Bogor 16680; e-mail: [email protected]

Wid ianto

Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Braw ijaya, Jl. Veteran, M alang 165145;

e-mail: Wied [email protected] Bruno Verbist

ICRAF-SEA, Jl. CIFOR, Situged e, Bogor 16680; e-mail: [email protected]

Did ik Suprayogo

Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian,

Universitas Brawijaya, Jl. Veteran, M alang 165145; e-mail: [email protected]

Did ik Suharjito

Fakultas Kehutanan, IPB, PO Box 69, Bogor 16001; e-mail: sosekhut@ind o.net.id

G. A. Wattimena

Jurusan Bud idaya Pertanian, Fakultas Pertanian, IPB, Kampus Darmaga, PO Box 168, Bogor 16680

Had i Susilo Arifin

Jurusan Bud idaya Pertanian, Fakultas Pertanian, IPB, Kampus Darmaga, PO Box 168, Bogor 16680; e-mail: hsarifin@ind o.net.id

Kurniatun Hairiah

Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Braw ijaya, Jl. Veteran, M alang 165145 ; e-mail: d i M alang: safod [email protected];

d i Bogor: [email protected]

Laxman Joshi

ICRAF-SEA, Jl. CIFOR, Situged e, Bogor 16680; e-mail: [email protected]

Leti Sund aw ati

Fahutan – IPB, PO Box 69, Bogor 16001; e-mail: [email protected]

M artua Sirait

ICRAF-SEA, Jl. CIFOR, Situged e, Bogor 16680; e-mail: M [email protected]

DAFTAR PENULIS dan PENYUMBANG NASKAH DAFTAR BAHAN AJARAN AGRO FO RESTRI

1. Pengantar Agroforestri. Penulis: M ustofa A gung Sardjono, Kurniatun Hairiah, Sambas Sabarnurdin.

2. Klasifikasi Agroforestri. Penulis: M ustofa Agung Sardjono, Tony Djogo, Hadi Susilo A rifin, Nurheni W ijay anto.

3. Fungsi d an Peran Agroforestri. Penulis: Widianto, Kurniatun Hairiah, Didik Suharjito, M ustofa A gung Sardjono.

4. Peran Agroforestri pada Skala Plot: Analisis komponen agroforestri sebagai kunci keberhasilan atau kegagalan pemanfaatan lahan. Penulis: Didik Supray ogo, Kurniatun Hairiah, Sunary o,

M eine v an Noordwijk.

5. Aspek Sosial Ekonomi d an Budaya Agroforestri. Penulis: Didik Suharjito, Leti Sundawati, Sri Rahay u Utami, Suy anto.

6. Pengelolaan d an Pengembangan Agroforestri. Penulis: W idianto, Nurheni Wijay anto, Didik Supray ogo, M eine v an Noordwijk, Betha Lusiana.

7. Peranan Pengetahuan Ekologi Lokal d alam Sistem Agroforestri. Penulis: Sunary o, Lax man Joshi.

8. Kelembagaan d an Kebijakan dalam Pengembangan Agroforestri. Penulis: Tony Djogo, Sunary o, Didik Suharjito, M artua Sirait.

9. Prospek Penelitian dan Pengembangan Agroforestri. Penulis: Kurniatun Hairiah, Sri Rahay u Utami, Bruno Verbist, Meine v an Noordwijk, M ustofa Agung Sardjono.

(38)

DSO

Gambar

Gambar 1. Topik-topik Bahan Ajaran berbahasa Indonesia yang disiapkan untuk pembelajaran di Perguruan
Gambar 1.  Contoh sistem agrisilvikultur, pohon mahoni ditanam berbaris di antara ubikayu di Lampung Utara (Foto: Kurniatun Hairiah)
Gambar 2.  Contoh sistem silvopastura, Legume cover crop Callopogonium di bawah tegakan pohon Gmelina arborea sebagai lahan penggembalaan sapi di Filipina
Gambar 3.  Contoh sistem agrosilvopastura: Parak di Maninjau dengan berbagai macam pohon seperti kayu manis, pala, durian, sebagai tumbuhan bawah kapulaga (Ammomum cardamomum) dan beberapa paku-pakuan liar dari hutan (Foto Kurniatun Hairiah)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pada grooming dijelaskan tentang pola yang berbeda yang diamati pada skala global, dimana sebagian besar perbedaan antar kelompok dalam ukuran kelompok dan dalam

Dari dua analisis yang dilakukan, pada analisis data menggunakan seluruh peubah prediktor, diperoleh nilai dugaan dan nilai jarak antar kuantil yang tidak jauh berbeda

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,