• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

17 1. Pengertian Living Hadis

Dalam merumuskan defenisi living hadis para pakar ahli hadis berbeda pemdapat. Menurut Sahiron Syamsudin, sunnah yang hidup “Living Hadis” adalah sunnah Nabi yang secara bebas ditafsirkan oleh para ulama, penguasa dan hakim sesuai dengan situasi yang mereka

hadapi.1 Jadi, menurut dia hadis bisa diverbalisasikan sesuai dengan

kondisi (keadaan) yang dialami suatu daerah, yang mana pada saat itu timbul permasalahan baru dan tidak ada suatu hukum yang mengatur tentang permasalahan tersebut.

Hadis boleh ditafsirkan dengan syarat tidak menghilangkan makna dasar dari hadis tersebut dengan mempertimbangkan mana yang lebih besar kemudharatan dan kemashlahatannya bila tidak segera diputuskan. Contoh, pada masa pemerintah Umar bin Khattab dia tidak lagi membagi-bagikan tanah (wilayah) rampasan perang kepada kaum muslimin tetapi hanya dengan memungut pajak. Padahal ada ayat al-Qur‟an dan Hadis yang mengatur supaya tanah (wilayah) dari hasil rampasan perang untuk dibagikan kepada kaum muslimin dengan tujuan untuk kemaslahatan terhadap kaum muslimin tersebut.

1Sahiron Syamsuddin, Metode Penelitian Living Qur‟an dan Hadis,

(2)

Umar menafsirkan ayat dan hadis tersebut bahwa perintah Nabi untuk membagikan tanah rampasan perang dengan tujuan kemaslahatan. Jika tujuannya kemaslahatan, maka dengan mengambil pajak (upeti) dari daerah-daerah yang telah dikuasai oleh kaum muslimin juga bisa mencapai kemaslahatan tersebut tanpa harus mengambil kepemilikan tanah itu sepenuhnya dan tanah tersebut juga bisa dipergunakan sebagaimana biasanya oleh pemilik tanah.

Menurut Saifuddin Zuhry Qudsy, living hadis adalah satu bentuk kajian atas fenomena praktek, tradisi, ritual, perilaku yang hidup

dimasyarakat yang memiliki landasannya di hadis Nabi.2 Misalnya

adalah tradis aqiqah yang berangkat dari pemahaman hadis Nabi, yaitu:

Artinya: “Seorang bayi tergadai dengan „aqiqahnya maka alirkan darah (semblihan aqiqah) untuknya dan singkirkan kotoran dan cukurlah rambutnya darinya”.

Dari sini kemudian muncul berbagai macam bentuk perayaan aqiqah di masyarakat misalnya dengan membaca maulid diba‟ dan menyembelih kambing. Namun ada pula yang melaksanakan aqiqah dengan menyemblih ayam disebagian daerah di Yogyakarta. Kenapa ayam? Hal ini dikarenakan resepsi atas hadis Nabi yang disesuaikan dengan kelas ekonomi mereka sendiri, bahkan dalam porsi tertentu dapat dikatakan kadar kesadaran keislaman mereka. Misalnya kelompok abangan yang

2Saifuddin Zuhri Qudsy, (Living Hadis: Genealogi, Teori dan Aplikasi Living Hadis), vol.

1 no. 1, mei 2016, h, 182

3

(3)

mempraktekkan aqiqah dengan kultur Jawa akan terlihat lebih kental

dengan sinkretisme atau Hindu-Islam.4

Kebiasaan masyarakat itu kemudian melahirkan struktur baru dari pergulatan pemikiran teks dengan realitas (konteks) tempat individu hidup dan berinteraksi. Dengan kata lain, disatu sisi budaya slametan yang eksis di Jawa kemudian ajaran Islam mengenai aqiqah disini ditambah lagi dengan kemampuan ekonomi melahirkan suatu bentuk struktur perayaan kelahiran si anak dalam bentuk menyemblih ayam yang kemudian dibagikan ke tetangga. Dalam kitab al „Um misalnya terdapat

keterangan “tustahabbu al „aqiqah walau bil „ushfur”5 disunnahkan

(dianjurkan) aqiqah walaupun dengan seekor burung kecil. Meskipun khabar dari Muhammad bin Ibrahim bin Haris at-Taimy ini tidak untuk diamalkan namun setidaknya dasar ini menjadi landasan normatif bahwa perdebatan mengenai aqiqah sudah ada pada sejak awal masa Islam. 2. Sejarah Living Hadis

Jika berbicara mengenai living hadis, kemungkinan sebagian besar dari akademika khususnya jurusan Ilmu Hadis masih merasa sangat asing dengan tema pembahasan living hadis ini, dikarenakan ada kemungkinan memang baru pertama kali mendengar istilah living hadis ini atau ada juga yang tahu dengan istilah living hadis, tapi hanya sekedar tahu, tidak sampai memahami living hadis tersebut. Bahkan ada yang mengklaim bahwa living hadis adalah suatu permasalahan yang baru dalam hadis,

4Saifuddin Zuhri Qudsy, loc. Cit.

5Muhammad bin „Idris as-Syafi „i, al-Umm, (Pakistan: Daru al-Wafa, 2001), vol. III., h.

(4)

suatu pembahasan yang baru muncul diawal abad ke 20 di masa kontemporer dewasa ini.

Sebenarnya living hadis bukanlah hal baru. Kenapa demikian? Karena sebenarnya living hadis ini tradisi menghidupkan hadis, ini telah dilakukan oleh para sahabat dan tabi‟in, seperti tradisi Madinah yang

digagas oleh Imam Malik („Amal Ahlul Madinah).6

Hanya saja secara teoritis penamaannya sebagai living hadis atau living Sunnah memang baru muncul pada awal abad ke-20 an ini, mungkin penamaannya saja yang berbeda-beda seperti, „Amal Ahlul Madinah di atas.

3. The living Hadis dan Animal Symbolicum

Sejumlah peneliti telah memberikan defenisi tentang living hadis. Syamsudin misalnya, mengatakan bahwa living hadis adalah “teks hadis

yang hidup dalam masyarakat”.7

Apa yang dimaksudnya dengan teks hadis yang hidup dalam masyarakat? Tidak lain adalah respon masyarakat terhadap teks hadis dan hasil penafsiran seseorang. Termasuk dalam pengertian respon masyarakat adalah resepsi mereka terhadap teks tertentu dan hasil penelitian tertentu.

Penulis lain, M. Mansur, berpendapat bahwa pengertian The living hadis sebenarnya bermula dari fenomena hadis in everyday life, yang

6Op. Cit., h. 180

7Heddy Shri Ahimsa Putra, (Living al-Qur‟an, Fenomena, Perspektif Antropologi), vol.

(5)

tidak lain adalah makna dan fungsi hadis yang riil dipahami dan dialami

masyarakat muslim.8

Living hadis juga diartikan sebagai fenomena yang hidup di tengah masyarakat muslim terkait dengan hadis ini sebagai objek studinya. Oleh karena itu, kajian tentang living hadis dapat diartikan sebagai kajian tentang berbagai peristiwa sosial terkait dengan kehadiran hadis atau keberadaan hadis disebuah komunitas muslim. Dengan pengertian ini maka dalam bentuknya yang paling sederhana the living hadis pada dasarnya sudah sama tuanya dengan hadis itu sendiri.

Meskipun demikian, praktek-praktek tersebut belum menjadi objek kajian penelitian mengenai hadis. Studi mengenai living hadis adalah studi tentang hadis tetapi tidak bertumpu pada eksistensi tekstualnya. Melainkan studi tentang fenomena sosial yang lahir terkait dengan kehadiran hadis dalam wilayah geografi tertentu dan mungkin masa tertentu pula.

Menawarkan the living hadis sebagai sebuah objek kajian pada dasarnya adalah menawarkan fenomena penafsiran terhadap hadis atau pemaknaan hadis dalam arti yang lebih luas dari pada yang selama ini dipahami, untuk dikaji dengan menggunakan perspektif yang juga lebih luas, lebih bervariasi. Sementara itu, mengusung pemaknaan gejala sosial-budaya ke kancah sebuah perbincangan, hal itu menurut peneliti berarti menempatkan asumsi-asumsi paradigma Antropologi hermaneutik

8M. Mansur, dkk, Metodologi Penelitian Living Qur‟an dan Hadis, (Yogyakarta: TH.

(6)

sebelum kita membicarakan berbagai macam pemaknaan terhadap hadis sebagai sabda-sabda Nabi.

Salah satu asumsi dasar Antropologi interpretatif adalah bahwa manusia adalah animal sybolicum atau hewan yang mampu menggunakan simbol-simbol untuk menyampaikan pesan dari individu

satu ke individu yang lain.9 Menurutnya, simbol di sini diartikan sebagai

segala sesuatu yang dimaknai, sehingga pemaknaan merupakan proses

yang sangat penting dalam kehidupan manusia.10

Kemampuan memberikan makna inilah yang membedakan manusia dengan binatang dan manusia kemudian mampu berbahasa. Bahasa merupakan sebuah sistem pemaknaan. Bahasa sebagai perangkat simbol berupa bunyi yang diproduksi oleh mulut manusia merupakan perangkat simbol yang paling fundamental dalam kehidupan manusia. Tanpa bahasa tidak akan ada kehidupan sosial, tidak akan ada kebudayaan. Kehidupan sosial yang menghasilkan kebudayaan hanya bisa lahir karena adanya interaksi sosial yang simbolik, dan interaksi simbolik ini hanya dapat berlangsung jika ada bahasa.

Adanya kemampuan berbahasa pada setiap manusia yang normal menunjukkan bahwa kemampuan simbolik atau kemampuan memberi makna ini diwarisi oleh manusia secara genetis. Ini merupakan asumsi dasar kedua. Dengan kemampuan ini manusia tidak pernah lagi melihat segala sesuatu sebagaimana adanya, tetapi sebagai sesuatu yang telah

9Op. Cit., h. 239. 10Ibid.

(7)

diberi makna, karena segala sesuatu dalam kehidupan manusia selalu menjadi objek atau tujuan pemaknaan.

Dengan bekal simbolisasi dan kerangka pemaknaan tersebut maka manusia selalu memandang dunia disekelilingnya sebagai dunia simbol, sebagai belantara simbol dengan berbagai macam maknanya. Dalam kehidupan sehari-hari simbol-simbol yang mewujudkan bahasa adalah tulisan-tulisan, yang jika terkumpul sebagai kesatuan dan menyampaikan

pesan atau makna tertentu biasa disebut “teks”.11

Oleh karena karena itu kehidupan sehari-hari dan lingkungan kehidupan tersebut merupakan sebuah belantara simbol, maka kehidupan sehari-hari dan lingkungan tersebut juga merupakan sebuah “teks” yang dapat dibaca dan dimaknai.

Di tengah kumpulan-kumpulan manusia yang merupakan animal symbolicum, sebuah benda seperti kitab hadis tidak lagi hadir tanpa makna. Begitu pula perlakuan manusia terhadap hadis itu sendiri. Dari sudut pandang ini, the living hadis adalah sebuah jagad simbolis, sebuah symbolic universe, dan juga teks yang dapat dimaknai.12 Sebagai sebuah sistem simbol, hadis tidak hanya menjadi objek penafsiran para ahli hadis, tetapi juga ditafsirkan oleh setiap muslim, dan bahkan juga oleh mereka non-muslim.

Dilihat dari perspektif Antropologi, setiap individu sebagai animal symbolicum adalah seorang penafsir. Masing-masing individu tentu memiliki kerangka pemaknaan sendiri, sehingga tafsir masing-masing

11Ibid., h. 241 12Ibid.

(8)

individu adalah “benar” atau masuk akal dalam kerangka tafsir yang yang digunakan. Oleh karena itu pula, disini tidak ada lagi tafsir yang dianggap paling benar, dengan demikian setiap individu dapat belajar dari individu lain tentang tafsir-tafsir yang berbeda-beda.

4. Ragam dan Variant living hadis a. Tradisi tulis

Yaitu merupakan salah satu proses yang sangat penting dalam

perkembangan living hadis.13 Tulis menulis tidak hanya sebatas

sebagai bentuk ungkapan yang sering terpampang ditempat-tempat yang strategis seperti bus, masjid, sekolahan, dan fasilitas umum lainnya. Di masa kampanye presiden di Makassar banyak

terpampang tulisan: , tentu saja berbagai

ungkapan tertulis dari hadis Nabi Muhammad SAW.14

Tidak diungkapkan secara langsung secara lengkap, jargon tersebut muncul untuk menanggapi pesaing politik Golkar yaitu Megawati Soekarno Putri tahun 1999. Padahal jika dirunut ke belakang tidak demikian. Pemaknaan adakan kelengkapan redaksi hadis dan konteks hadis tersebut diturunkan perlu sekali dilakukan. Hadis yang didalamnya terdapat adanya isyarat kejayaan suatu

13Alfatih Suryadilaga, Aplikasi Penelitian Hadis Dari Teks ke Konteks, (Yogyakarta:

TH-Press,2009), h. 185

(9)

pemerintahan yang dipimpin oleh seorang wanita dengan ungkapan

tidak akan makmur dan sukses.15

Membahas dan mensyarah hadis tidak dapat diartikan secara tekstual belaka. Oleh karena itu, perlu membaca dan menelaah latar belakang adanya hadis tersebut (asbabul wurud). Hadis tersebut tidak berlaku umum karena ada peristiwa khusus yakni respon Nabi Muhammad dalam suksesi kepemimpinan di kerajaan Persia yang mana saat itu dipimpin oleh seorang wanita. Dengan demikian, pemahaman terhadap hadis Nabi harus dilakukan dengan pendekatan temporal, lokal dan kontekstual sebagaimana yang digagas oleh M. Syuhudi Ismail.

Dengan demikian, perkataan Nabi Muhammad tersebut bukan sebagai Rasulullah melainkan sebagai pribadi yang mengungkapkan realitas sosial masayarakat yang ada pada saat itu. Respon pribadi Rasulullah SAW di atas terjadi dengan dua kemungkinan:

1) Sabda Nabi Muhammad SAW adalah doa agar pemimpin Persia tersebut tidak sukses dalam memimpin negara karena sikapnya yang menghina dan memusuhi Islam.

2) Berdasarkan realitas yang ada Nabi beranggapan tidak pantas hal tersebut dilakukan. Oleh karena itu, jika realitas sudah

15Ibid.

(10)

berubah maka pemahaman semacam itu juga berubah tidak taken for granted.16

b. Tradisi Lisan

Tradisi lisan dalam living hadis sebenarnya muncul seiring dengan praktek yang dijalankan oleh umat Islam. Seperti bacaan dalam pelaksanaan dalam shalat subuh di hari Jum‟at. Dikalangan pesantren yang kiainya hafiz al-Qur‟an, shalat Subuh hari Jum‟at relatif panjang karena dalm shalat tersebut dibaca dua surat yang panjang yaitu hamim al-sajadah dan al-Insan. Sebagaimana Sabda Nabi Muhammad SAW.

Adapun di dalam shalat jum‟at, kadang-kadang sang imam membaca surat al-„Ala dan al-Ghasyiyah atau al-Jumuah dan Munafiqun. Namun untuk kedua ayat yang terakhir kadang-kadang hanya dibaca tiga ayat terakhir dalam masing-masing surat.

c. Tradisi Praktek

16Sahiron Syamsuddin, Op. Cit., h. 119 17

Al-Hafizh Abi Abdullah Muhammad bin Yazid al-Qazwainy, Sunan Ibnu Majah, (ttp.: Daru al-Fikr, tt.), juz. 1, h. 139

(11)

Tradisi praktek dalam living hadis ini cenderung banyak dilakukan oleh umat Islam. Salah satu persoalan yang ada adalah

masalah ibadah shalat. Di masyarakat Lombok NTB

mengisyaratkan adanya pemahaman shalat wetu telu dan wetu lima. Padahal dalam hadis Nabi Muhammad SAW contoh yang

dilakukan adalah lima waktu.18

5. Beberapa Pendekatan dalam Living Hadis

Di sini peneliti hendak mengemukakan beberapa pendekatan yang dapat dipakai dalam kajian living hadis. Pendekatan ini tidak baku, namun bisa diaplikasikan dalam penelitian living hadis dan tentu saja banyak teori-teori sosiologi dan antropologi yang bisa dipakai untuk disiplin living hadis.

a) Fenomenologi

Pada awalnya fenomenologi merupakan salah satu disiplin dalam tradisi filsafat. Berasal dari bahasa Yunani phenomenon

yang bermakna sesuatu yang tampak, seuatu yang terlihat.19

Fenomenologi adalah ilmu pengetahuan mengenai apa yang tampak. Studi fenomenologi merupakan studi tentang makna. Dalam hal ini peneliti ingin mendeskripsikan pemaknaan umum dari sejumlah individu terhadap berbagai pengalaman hidup mereka mengenai sebuah konsep atau fenomena. Dengan demikian, fokus fenomenologi adalah mendeskripsikan apa yang

18Suryadilaga, Op. Cit.,h. 195

(12)

sama pada semua partisipan ketika mereka mengalami sebuah fenomena. Misalnya, duka cita di alami secara universal.

Menurut Cresswell tujuan dari fenomenologi adalah untuk

mereduksi pengalaman-pengalaman individu pada sebuah

fenomena menjadi sebuah deskripsi tentang esensi intisari

universal.20 Untuk tujuan ini para peneliti kualitatif

mengidentifikasi sebuah fenomena misalnya, joget shalawat mataram, tradisi grebeg maulud, dan sebagainya. Sang peneliti mengumpulkan data dari individu-individu yang telah mengalami fenomena tersebut dan mengembangkan sebuah deskripsi gabungan tentang esensi dari pengalaman bagi semua individu tersebut. Deskripsi ini mencakup apa yang mereka alami dan bagaimana mereka mengalaminya.

Salah satu contoh yang menarik dari penggunaan fenomenologi dalam living hadis adalah tulisan al-Fatih Suryadilaga mafhum al-shalawat „inda majmu‟at joget shalawat mataram dirasah fi al hadis al-hayy. Tulisan ini mencoba menelaah tradisi joget spritual yang berasal dari Kesultanan Mataram dengan menggunakan fenomenologi sebagai pendekatannya. Penelitian al-fatih surya dilaga ini berkesimpulan bahwa; pertama, JSM merupakan fenomena tradisi sosial budaya keagamaan, JSM tergolong tarian spritual atau bisa juga disebut sebagai gerakan seni

20John W. Cresswell, Penelitian Kualitatif dan Desain Riset: Memilih diantara Lima

(13)

spritual. Kedua, JSM adalah sebuah fenomena living hadis setidaknya terdapat beberapa hadis Nabi yang dijadikan prinsip dasar dalam JSM; 1) Hadis-hadis perintah bershalawat kepada Nabi. 2) Hadis-hadis tentang perintah meneladani akhlak Nabi. Ketiga, merupakan syi‟ar budaya agama. Keempat, JSM adalah gerakan sosial keagamaan yang ingin menyampaikan nilai-nilai pendidikan karakter akhlak melalui seni Islami. Penggunaan fenomenologi sebagai suatu metode dalam banyak tugas akhir mahasiswa. Pada umumnya salah satu pertanyaan yang diajukan adalah apa makna dan esesnsi dari suatu praktek yang sedang diteliti.

b) Studi Naratif

Research naratif adalah suatu tipe desain kualitatif yang spesifik yang narasinya dipahami sebagai teks yang dituturkan atau dituliskan dengan menceritakan tentang peristiwa, aksi atau

rangkaian peristiwa yang terhubung secara kronologis.21 Dari

defenisi ini dapat kita petik bahwa yang dimaksud dengan studi naratif adalah narasi, deskripsi paparan yang diomongkan, dituturkan, diceritakan atau dituliskan secara berurutan atau kronologis. Narasi ini berisi tentang rangkaian kejadian atau peristiwa yang saling berhubungan.

21Ibid.

(14)

Pada dasarnya, research ini memiliki banyak bentuk menggunakan beragam praktek analitis dan berakar pada beragam sosial dan humaniora. Research naratif dimulai dengan pengalaman-pengalaman yang diekspresikan dalam cerita-cerita dan individu-individu. Adapun research naratif ini dapat mencakup; pertama, narasi mengalami pengalaman orang lain (biografi). Kedua, pengalaman sendiri yang ditulis oleh pengarang (auto biografi). Ketiga, rekaman sejarah yang utuh tentang kehidupan seseorang atau sejarah kehidupan. Keempat, sejarah kehidupan yang diperoleh dari hasil ingatan sang peneliti (sejarah tutur).

Contoh dari penelitian ini adalah dengan melihat tokoh hadis dengan melihat biografi, baik melihat intelektualya (memoir), atau life story. Seperti life story perjalanan hidup Imam al-Bukhari, bagaimana perjalanan Bukhara, Samarkhan, Baghdad, Damaskus, Bashrah, Kuffah, Makkah, Madinah. Bagaimana misalnya ia bolak-balik dari Makkah ke Madinah hingga belasan kali dengan menggunakan unta, bagaimana sang ibu berdoa untuk kesembuhan

kebutaan al-Bukhari disaat masih kecil dan seterusnya.22

B. Sujud Syukur

1. Pengertian Sujud Syukur

22Ibid.

(15)

Secara bahasa, sujud syukur merupakan gabungan dari dua kata yaitu, sujud dan syukur. Sujud berasal dari bahasa Arab dengan akar kata

-(sajada-yasjudu-sujuudan) yang berarti sujud,

menundukkan kepala sampai ke tanah, tikar sembahyang.23 Sedangkan

akar kata dari syukur adalah ا

(syakara-yasykuru-syukran) yang berarti berterima kasih kepadanya, memujinya.24

Sedangkan sujud syukur menurut terminologi adalah sujud terima kasih karena mendapat nikmat (keuntungan) atau terhindar dari bahaya kesusahan yang besar, dan sujud syukur hukumnya sunat. Adapun perbandingan sujud syukur dan sujud tilawah ialah:

a. Syarat dan rukun keduanya sama.

b. Sujud tilawah disunatkan dalam shalat dan diluar shalat. Sedangkan sujud syukur hanya disunatkan diluar shalat, tidak boleh dilakukan

dalam shalat.25

Jadi, yang penulis maksud dengan sujud syukur dalam kajian ini adalah suatu fenomena sosial-agama dalam bentuk ekspresi kegembiraan (selebrasi) yang dilakukan oleh individu atau kelompok dengan cara

23Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: PT. Mahmud Yunus Wadzuryah,

1990), h. 163

24

Ibid., h. 201

25Syaikh Abdul Qadir Al-Rahbawi, Al-Shalah „Ala al-Mazhab al-Arba‟ah, diterjemahkan

oleh H. Ahmad Yaman, Panduan Lengkap Shalat Menurut Empat Mazhab, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2014), cet. 10, h. 105-106

(16)

menundukkan kepala sampai ke tanah, karena bangga dengan hasil yang dicapai sekaligus bersyukur terhadap nikmat Allah SWT.

2. Hadis-hadis tentang Sujud Syukur a. Hadis riwayat khamsah

Artinya: Dari Abu Bakrah RA. : Bahwa kebiasaan Nabi SAW jika datang kepadanya sesuatu yang membahagiakan, maka beliau pun langsung sujud sebagai ungkapan syukur kepada Allah (sujud syukur). (HR. Ibnu Majah).

Di dalam syarah Sunan Abu Daud kitab „Aunul Ma‟bud dikatakan bahwa hadis ini merupakan dalil disyari‟atkannya sujud syukur. Dia (pensyarah) juga mengatakan bahwa bila kita menoleh kepada mazhab yang empat terjadi beberapa perbedaan pendapat bahwa ada yang mengatakan sujud syukur adalah makruh dan ada

pula yang mengatakan sunah.27

Perbedaan pendapat ini dimulai dari apakah sujud syukur disyaratkan bersuci atau tidak, maka ada yang mengatakan bahwa thaharah itu merupakan syarat (aturan) untuk melaksanakan shalat, dan di dalam sujud syukur tidak disyaratkan untuk berwudhu (thaharah). Sebagaimana contoh yang telah dilakukan oleh para sahabat dan bahkan Nabi Muhammad sendiri. Misalnya, Abu Bakar

26Al-Hafizh Abi Abdullah Muhammad bin Yazid al-Qazwainy, Sunan Ibnu Majah, (ttp.:

Daru al-Fikr, tt.), juz. 1, h. 440

27„Abdurrahman Muhammad „Usman, „Aunul Ma‟bud, (Madinah: Maktabah

(17)

ash-Shidiq sujud syukur ketika mendapat kabar bahwa Musailamah al-Kazzab terbunuh dalam peperangan, dan Rasulullah SAW sujud syukur mendengar kabar dari Jibril bahwa “Barangsiapa yang bershalawat kepadanya (Nabi Muhammad) sekali, maka Allah akan bershalawat kepada orang tersebut sepuluh kali.” Kemudian Nabi langsung sujud syukur sebanyak tiga kali, karena dia bersyukur dengan syafaat yang Allah berikan kepadanya dan juga syafaat

terhadap umatnya.28 Hal-hal penting dari hadis adalah sebagai

berikut:

1. Hadis tersebut menunjukkan perintah bersujud, yaitu sujud syukur yang disunnahkan ketika mendapatkan nikmat yang baru atau selamat dari petaka, baik petaka atau nikmat itu khusus menimpa pelakunya atau segenap kaum muslimin.

2. Ketentuan hukum yang berlaku pada sujud syukur adalah ketentuan hukum yang berlaku pada sujud tilawah, sehingga jika seseorang yang menghukumi sujud yang pertama (sujud tilawah) adalah bagian dari shalat, maka dalam syukur pun harus menghukumi sujud syukur adalah bagian dari shalat dan

diberlakukan kepada sejumlah hukum shalat yang

mensyaratkan, yaitu harus dilakukan dalam keadaan suci, menghadap kiblat, bertakbir, salam, dan ketentuan hukum shalat lainnya. Sedang jika seorang menghukumi sujud tilawah bukan

28Ibid.

(18)

bagian dari shalat sepeti Ibnu Taimiyah dan yang lainnya, maka ia harus memberlakukan ketentuan hukum kepada sujud syukur sebagaimana yang diberlakukan kepada sujud tilawah.

Karena itulah, syaikh (Ibnu Taimiyah) berkata dalam Al Ikhtibarat, “Sujud syukur tidak disyaratkan harus suci sebagaimana disyaratkan dalam sujud tilawah.”

3. Madzhab Syafi‟i dan Hambali mensunnahkan sujud syukur. Ibnu al-Qayyim berkata, “Jika tidak terdapat nash yang memerintahkan sujud ketika mendapatkan nikmat yang baru, maka ketentuan tersebut murni keputusan qiyas dan perbuatan yang tergolong ibadah yang dicintai. Sedangkan menurut madzhab Hanafi dan Maliki; bahwa sujud syukur tidak disunnahkan menurut mereka.

4. Sujud syukur berbeda dengan sujud tilawah karena sujud tilawah boleh dilakukan dalam shalat saat imam membaca ayat sajdah dalam shalatnya, sedangkan sujud syukur jika dilakukan dalam shalat niscaya membatalkan shalatnya; menurut madzhab Hambali.

Dalam Syarh Az-Zad dikatakan; bahwa sujud syukur disunnahkan diluar shalat saat memperoleh nikmat yang baru dan terhindar dari petaka, jika sujud syukur dilakukan saat shalat oleh selain

(19)

orang yang bodoh dan orang yang lupa maka dapat membatalkan shalat.29

b. Hadis riwayat Ahmad

Artinya: “Dari Abdurrahman bin Auf RA, dia berkata: Nabi SAW sujud dan melamakannya, kemudian mengangkat kepalanya, beliau bersabda, “Sesungguhnya jibril datang kepadaku, maka aku sujud sebagai rasa syukur kepada Allah.” (HR. Ahmad) Hal-hal penting dari hadis;

1) Disunnahkan sujud syukur jika memperoleh nikmat yang baru. 2) Disunnahkan melamakan sujud sebagai pernyataan syukur kepada

Allah, pengakuan terhadap sejumlah nikmat-Nya, pujian kepada-Nya dan permintaan penambahan karunia-kepada-Nya.

3) Berita gembira yang disampaikan oleh Jibril AS kepada Rasulullah SAW ialah,

.

31

Artinya: “Barangsiapa membaca shalawat satu kali kepada Nabi SAW, niscaya Allah mencurahkan rahmat kepadanya sepuluh kali.”

Rasulullah SAW sangat bahagia dengan karunia tersebut, karena dua alasan;

29Ibid., h. 374

30Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, (ttp.: Daru al-Fikr, tt.), jil. 1, h. 191 31Ibid.

(20)

Pertama, Allah meninggikan derajatnya, mengangkat kedudukannya dan memperbanyak pahalanya karena shalawat yang dibacakan kaum muslimin kepadanya dan sejumlah doa yang dipanjatkan mereka untuk kebaikannya.

Kedua, pahala yang besar tersebut diberikan kepada umatnya; manakala mereka membacakan shalawat kepada Nabi mereka, maka Allah Ta‟ala dengan karunia dan kemurahan-Nya berkenan mencurahkan rahmat-Nya sepeluh kali kepada siapa saja yang

membaca shalawat satu kali kepada Nabi-Nya SAW.32

c. Hadis riwayat Abu Daud

Artinya: “Dari Sa‟d bin Abi Waqqash, ia menuturkan, “Kami bersama Rasulullah SAW keluar dari Makkah menuju Madinah. Ketika kami hampir sampai di „Azwara, beliau turun lalu mengangkat kedua tangannya dan berdoa sejenak kepada Allah lantas bersungkur sujud. Lama beliau melakukan itu. Kemudian beliau berdiri lalu mengangkat kedua tangannya sesaat, lantas bersungkur sujud. Begitu beliau lakukan tiga

32Abdullah bin Abdurrahman Al Bassam, Op. Cit., h. 375

33Al Imam Al Hafidzh Abi Dawud Sulaiman bin Al Ays‟ats Al Sajatany, Sunan Abi

(21)

kali. Setelah itu beliau bersabda, „Sesungguhnya tadi aku memohon kepada tuhanku agar aku diberi izin untuk memberi syafa‟at kepada umatku, kemudian Allah memperkenankan untuk sepertiga umatku, maka aku menyungkur sujud, bersyukur kepada Tuhanku. Setelah itu aku mengangkat kepala dan memohon lagi kepada Tuhanku untuk umatku, kemudian Allah memperkenankan untuk sepertiga umatku maka aku menyungkur sujud, bersyukur kepada tuhanku. Setelah itu aku mengangkat kepala dan memohon lagi kepada Tuhanku untuk umatku, kemudian Allah memperkenankan untuk sepertiga umatku maka aku menyungkur sujud, bersyukur kepada tuhanku.” (HR. Abu Dawud)

Abu Bakrah berkata: “Rasulullah apabila datang kepadanya suatu urusan yang membahagiakan dia akan langung sujud (syukur) kepada Allah”. Abu Dawud berkata, ini merupakan atsar yang shahih. Al-Munziry berkata, hadis ini juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzy dan Ibnu Majah, dan At-Tirmidzy mengatakan hadis ini hasan gharib. Kami (At-Tirmidzy) tidak menemukan hadis ini dari jalur lain kecuali hanya hadis dari jalur Bakar bin Al‟Aziz ini, dan Bakar bin Al-„Aziz bin Abi Bakrah berkata, dan sungguh hadis tentang sujud syukur dari Al-Bara‟ bin „Azib ini sanadnya shahih.

(

) dengan menfathahkan „ain dan sukun zai dan

memfathahkan al-waw, memfathahkan ra‟. Ada yang mengatakan bahwa „Azwara adalah nama sebuah tempat yang terletak dipertengahan

jalan antara Madinah menuju Mekah.34

(22)

(

) “kemudian Allah memperkenankan sepertiga

umatku yang lain” dengan kha‟ baris kasrah dan ada juga yang mengatakan dengan baris fathah. At-Taury Basyty berkata: yang dimaksud dengan “kemudian Allah memperkenankan sepertiga umatku yang lain” adalah maka Dia (Allah) memberiku dan juga mereka (umatku) syafaat dan aku juga akan memberikan syafaat kepada umatku, maka mereka tidak akan masuk neraka. Itu semua tidak didapatkan oleh umat terdahulu.

Sesungguhnya umat terdahulu diazab oleh Allah dan mereka akan masuk neraka. Karena sebagian besar dari mereka dilaknat karena melakukan maksiat terhadap nabi-nabi mereka maka mereka tidak akan menerima syafaat. Syafaat ini hanya khusus diberikan Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW. dan hadis ini merupakan salah satu dalil

tentang mengangkat tangan dalam berdoa.35

d. Hadis riwayat Imam Ahmad

Artinya: “Diriwayatkan dari „Abdullah diriwayatkan ayahku diriwayatkan dari Ahmad bin „Abdul Malik Al Harany

35Ibid., h. 465

(23)

diriwayatkan Abu Bakrah Bakar bin „Abdul „Aziz Ibnu Abi Bakrah berkata: aku mendengar ayahku meriwayatkan dari Abi Bakrah, Bahwasanya ia pernah melihat Nabi SAW didatangi pembawa berita gembira tentang kemenangan tentaranya mengalahkan musuh mereka, yang mana saat itu kepala beliau sedang di atas pangkuan Aisyah, maka beliau langsung bangkit lalu bersungkur sujud dan memanjangkan sujudnya. Kemudian beliau mengangkat kepalanya, lalu menghadap kearah puncaknya lalu beliau masuk kemudian mengarah kiblat. (HR. Ahmad)

Jadi menurut hemat peneliti hadis ini merupakan salah satu dalil bahwa sujud syukur itu dilakukan tanpa harus berwudhu dulu. karena dari hadis di atas tidak ada diceritakan kalau Nabi berwudhu dulu sebelum sujud syukur, lalu hadis ini juga merupakan dalil untuk memanjangkan sujud syukur dan anjuran agar ketika melakukan sujud syukur menghadap kiblat.

e. Hadis Riwayat Ahmad

Artinya: “Dari Abdurrahman bin Auf, ia menuturkan, “Rasulullah SAW keluar lalu menghadap kearah puncaknya, lalu beliau masuk kemudian menghadap kiblat, lalu bersungkur sujud dan memanjangkan sujudnya. Kemudian beliau mengangkat kepalanya lalu bersabda, „Sesungguhnya tadi Jibril mendatangiku dan menyampaikan berita gembira kepadaku. Jibril mengatakan, „Sesungguhnya Allah „Azza wa Jalla mengatakan kepadamu, „Barangsiapa yang bershalawat untukmu maka aku bershalawat untuknya, dan barangsiapa yang mengucapkan salam kepadamu maka aku mengucapkan

(24)

salam kepadanya.‟ Maka aku bersujud kepada Allah sebagai kesyukuran.”(HR. Ahmad)

Berdasarkan hemat peneliti hadis ini merupakan salah satu dalil diantara sekian banyak dalil lain yang menganjurkan kita untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad. Karena bagi siapa saja yang bershalawat satu kali kepada Nabi Muhammad, Allah akan bershalawat kepada orang tersebut sebagai ganjarannya.

C. Interaksi Simbolik a. Pengertian

Secara etimologi interaksi simbolik terdiri dari dua kata, pertama,

interaksi yang berarti; hal saling mempengaruhi.38 Kedua, simbolik yang

berarti; lambang, simbol.39

Sedangkan pengertian interaksi simbolik secara terminologi adalah

interaksi manusia melalui penggunaan simbol-simbol.40 Jadi yang

dimaksud dengan interaksi simbolik adalah hubungan (komunikasi) seseorang dengan orang lain menggunakan simbol. Menurut Mead salah seorang ahli sosiologi mengatakan bahwa orang tak hanya menyadari

orang lain tetapi juga mampu menyadari dirinya sendiri.41

38

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (ttp.: Balai Pustaka, tt.), h. 335

39Ibid., h. 840

40Pip jones, Introducing Social Theory, diterjemahkan oleh Achmad Fedyani Saifuddin,

Pengantar Teori-teori Sosial-Dari Teori Fungsionalisme hingga Post-modernisme, (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2010), cet. 2, h. 142

41Margaret. M. Poloma, Contemporary Sociological Thoery, diterjemahkan oleh Tim

Penerjemah YASOGAMA, Sosiologi Kontemporer, (Jakarta: PT. Raja GrafindoPersada, 2007), h. 257

(25)

Dengan demikian orang tak hanya berinteraksi dengan orang lain, tetapi secara simbolis dia juga berinteraksi dengan dirinya sendiri.

Interaksi simbolik dilakukan dengan menggunakan bahasa dan isyarat.42

Jika ada seseorang yang bertanya bagaimana mungkin seseorang bisa berinteraksi dengan dirinya sendiri? Contoh sederhana seseorang berinteraksi dengan dirinya sendiri adalah ketika perut seseorang tersebut lapar pasti akan mengeluarkan bunyi (isyarat) dia lemas, lesu tak bertenaga (simbol), itu menandakan perut seseorang sedang berbicara (berinteraksi) dengan pemilik tubuh (body) dengan memberikan tanda (simbol) atau isyarat untuk segera diisi dengan pasokan makanan yang bisa menghilangkan lemas, lesu dan bertenaga lagi.

Menurut Heddy Sahri Ahimsa Putra salah satu asumsi dasar Antropologi intrpretatif adalah bahwa manusia adalah animal sybolicum atau hewan yang mampu menggunakan simbol-simbol untuk

menyampaikan pesan dari individu satu ke individu yang lain.43

Menurutnya, simbol di sini diartikan sebagai segala sesuatu yang dimaknai, sehingga pemaknaan merupakan proses yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Kemampuan memberikan makna inilah yang membedakan manusia dengan binatang dan manusia kemudian mampu

berbahasa.44

Bahasa merupakan sebuah sistem pemaknaan.Bahasa sebagai perangkat simbol berupa bunyi yang diproduksi oleh mulut manusia

42Ibid.

43Heddy Shri Ahimsa Putra, Op. Cit., h. 239. 44Ibid.

(26)

merupakan perangkat simbol yang paling fundamental dalam kehidupan manusia. Tanpa bahasa tidak akan ada kehidupan sosial, tidak akan ada kebudayaan. Kehidupan sosial yang menghasilkan kebudayaan hanya bisa lahir karena adanya interaksi sosial yang simbolik, dan interaksi simbolik ini hanya dapat berlangsung jika ada bahasa.

Prinsip-prinsip dasar interaksi simbolik; 1. Manusia dibekali kemampuan untuk berpikir. 2. Kemampuan berpikir dibentuk oleh interaksi sosial.

3. Dalam interaksi sosial manusia mempelajari arti dan simbol dengan menggunakan kemampuan berpikir mereka tersebut.

4. Makna dan simbol memungkinkan manusia melanjutkan tindakan dan berinteraksi.

5. Manusia mampu mengubah arti dan simbol yang mereka gunakan tergantung situasi dan kondisinya.

6. Jika ada dua pilihan peluang tindakan, manusia akan memilih satu diantara dua yang menguntungkan.

7. Pola tindakan dan interaksi akan membentuk kelompok dan

masyarakat.45

b. Macam-macam Interaksi Simbolik

Interaksi simbolik berdasarkan akar historisnya terbagi dua; 1. Pragmatisme

45Goerge Ritzer, Modern Socialogical Theory, diterjemahkan oleh Triwibowo B. S, Teori

(27)

Pragmatisme adalah pemikiran filsafat yang meliputi banyak hal. Ada beberapa aspek pragmatisme mempengaruhi orientasi

sosiologi.46 Pertama, realitas berada dalam dunia nyata. Jadi realitas

itu akan tercipta sendiri saat kita melakukan sesuatu, maksudnya adalah apapun yang kita lakukan setiap saat akan menimbulkan realitas (kejadian yang sedang terjadi) yang baru.

Kedua, manusia mendasarkan pengetahuan mereka terhadap sesuatu apabila sesuatu itu telah terbukti berguna bagi mereka. Misalnya, seorang pengendara motor yang sudah pernah mengalami kecelakaan di jalan raya dan ketika terjadi kecelakaan, yang pertama terbentur ke aspal adalah kepalanya. Beruntung saat itu dia mengenakan helm sehingga kepalanya tidak ada sedikitpun lecet apalagi retak. Maka mulai saat itu sang pengendara motor yang kecelakaan tadi menyadari, ternyata helm tersebut yang telah melindungi kepalanya dan pengendara tersebut yang pada awalnya memakai helm hanya karena ada polisi atau karena hanya ada aturan, tetapi setelah kecelakaan itu niat dia memakai helm telah berubah dan memang tulus dari hatinya dan bukan lagi karena takut dengan polisi.

Ketiga, manusia mendefenisikan sesuatu baik itu orang, benda berdasarkan kegunaannya bagi mereka. Seperti yang sering didengar yaitu perkataan seorang ibu yang marah kepada anaknya yang tidak

46Ibid., h. 251

(28)

mengerjakan apa yang disuruhnya “Dasar anak ndak baguno”47

Jadi, ia hanya mendefenisikan bahwa anak itu adalah seorang anak yang mau patuh apabila disuruh dan rajin bekerja, seolah-olah terlihat bahwa apabila anak tersebut anak bandel dan tidak mau disuruh maka anak itu bukanlah anaknya walaupun darah daging ia sendiri.

Keempat, bila manusia ingin memahami seseorang baik itu dari segi tingkah lakunya, pribadinya maka manusia tersebut akan mendasarkan penilaiannya terhadap seseorang tersebut berdasarkan

pekerjaannya.48 Contohnya, orang komplek akan beranggapan lain

(curiga) terhadap seorang wanita yang membawa seorang laki-laki ke kos-kosannya, dan kosan tersebut berada di sekitar komplek mereka. Karena wanita tersebut bekerja di diskotik.

2. Behaviorisme

Behaviorisme terbagi 2, yaitu:

a. Behaviorisme Radikal (Behaviorisme Watson).

Behaviorisme radikal adalah memusatkan perhatian pada

perilaku individual yang dapat diamati.49 Sasaran perhatiannya

adalah pada perilaku yang mendatangkan respon. Jadi menurut perpektif behaviorisme radikal tidak ada hubungan antara proses mental dengan perilaku ketika sedang dilakukan dan behaviorisme radikal ini juga mengatakan bahwa manusia sama dengan binatang dalam hal melakukan perilaku.

47Bahasa Minang dari “dasar anak tidak berguna”. 48Ibid.

(29)

b. Behaviorisme Psikologi (Behaviorisme Mead).

Behaviorisme psikologi bukan hanya memperhatikan perilaku individual yang diamati tetapi juga memperhatikan perilaku yang

tak tampak (psikologi).50 Menurut Mead dalam mengamati

individu (seseorang) kita tidak hanya memperhatikan apa yang tampak (perilaku) tetapi juga harus memperhatikan mental sang pelaku (psikologi) dan menurut Mead dalam berperilaku mental inilah yang membedakan manusia dengan binatang. Dalam berperilaku binatang hanya akan mengedepankan nafsunya sedangkan manusia dalam bertindak akan mengukur sesuatu yang akan dikerjakannya dengan jiwanya (psikologi).

c. Fungsi Teori Interaksi Simbolik

1) Teori interaksi simbolik berfungsi sebagai salah satu barometer bagi seorang peneliti dalam melakukan penelitian dimasyarakat dalam menentukan karakteristik masayarakat tersebut.

2) Teori interaksi simbolik merupakan buku panduan bagi seorang peneliti dalam melihat realitas yang terjadi sebelum mengambil keputusan dan kesimpulan.

d. Tujuan Teori Interaksi Simbolik

1) Untuk dapat memahami makna yang terkandung dalam simbol-simbol yang digunakan masyarakat dalam berinteraksi.

50Ibid.

(30)

2) Agar tidak tersalah dalam memahami simbol yang digunakan masyarakat.

3) Agar masyarakat bisa menciptakan simbol tersendiri yang mana mereka yang berada di daerah itu memahami makna dari simbol yang mereka gunakan.

e. Pemaknaan tentang Teori Interaksi Simbolik

Harus diakui bahwa gagasan Mead dalam buku Mind, Self, and Society, mengungkapkan bahwa pada dasarnya tindakan sosial manusia terdiri dari empat tahap, yakni (1) impulse, (2) perception, (3) manipulation, dan (4) consummation.51 Tahap impulse adalah tahap ketika manusia menangkap fenomena diluar dirinya sejak dari lahir. Ini adalah tahap ketika seseorang menangkap fenomena (kejadian-kejadian) yang baru dirasakan dan dilihat seseorang. Tahap perception ini adalah seseorang sedang memilih (menyeleksi) tindakan disekitar yang akan diamalkan. Tahap manipulation ini adalah tahap seseorang apa yang harus dilakukan setelah memilih kondisi (contoh) yang diamalkan. Tahap consummation ini adalah pengamalan terhadap apa yang dipilih untuk

pemecahan masalah.52 Pemaknaan terhadap interaksi simbolik akan

memunculkan beberapa premis; 1) Pikiran (mind)

Pikiran yang didefenisikan Mead sebagai proses percakapan seseorang dengan dirinya sendiri, tidak ditemukan di dalam diri

51Agus Maladi Irianto, Interaksionisme Simbolik Pendekatan Antropologis Merespons

Fenomena Keseharian, (Semarang: Gigih Pustaka Mandiri, 2015), cet. 1, h. 3

(31)

individu; pikiran adalah fenomena sosial. Pikiran muncul dan berkembang dalam proses sosial dan merupakan bagian integral dari

proses sosial.53 Maksudnya adalah manusia akan mencari jalan keluar

dari masalah yang dia hadapi, yakni dengan melibatkan pikiran atau berfikir, sebagaimana contoh yang telah penulis terangkan di atas. 2) Citra Diri (self image)

Citra diri adalah sesorang akan bertindak (melakukan) sesuatu

tergantung penilaian orang lain terhadap dirinya.54 Jika orang lain

menilainya seorang yang baik maka dia akan terdorong untuk terus melakukan yang baik tersebut. Tetapi, apabila seseorang menilainya sebagai seorang yang tidak baik maka itu akan menyebabkan dia semakin kehilangan kepercayaan diri dan itu akan mendorong dia untuk selalu melakukan hal buruk tersebut.

Contoh, hubungan murid sekolah dasar dengan gurunya. Ada dua orang murid laki-laki, anak laki-laki yang pertama yang duduk penuh perhatian di bangku tedepan, berkelakuan baik dan sopan, nampaknya akan dianggap sebagai murid yang “pintar” dan “rajin”. Sebaliknya, anak laki-laki yang kedua yang duduk dibelakang, nampaknya kurang perhatian dan malas, akan dinilai sebagai murid yang “kurang baik” atau “bodoh”.

Dalam hal ini sekalipun murid-murid tersebut sebenarnya memiliki kemampuan yang sama, guru tetap memutuskan mereka tidak sama,

53George Ritzer, Op.Cit., h. 264 54Pip jones, Op. Cit., h. 142

(32)

dan akibatnya mereka diperlakukan berbeda. Anak laki-laki yang pertama akan didorong agar terus rajin belajar, sedangkan anak laki-laki yang kedua itu dihukum dan diawasi kelakuannya. Reaksi (tindakan) guru yang berbeda ini akan mempengaruhi anak-anak itu dalam memandang diri mereka sendiri. Dipacu oleh dorongan dan dukungan guru, anak laki-laki yang pertama belajar lebih keras dan mencapai potensi tertingginya. Sebaliknya anak laki-laki yang kedua karena dinilai oleh guru dia sebagai seorang yang tidak mampu (bodoh,nakal), anak kedua itu malah semakin malas dan semakin kurang memperhatikan pelajaran.

Dalam contoh di atas seorang guru harusnya memperlakukan dan mendorong kedua anak itu sama, sehingga konsekuensi yang lebih positif banyak terjadi pada citra diri anak laki-laki kedua tersebut. 3) Masyarakat (society)

Masyarakat berarti proses tanpa henti yang mendahului pikiran dan diri. Masyarakat mencerminkan sekumpulan tanggapan terorganisasi yang diambil alih oleh individu. Menurut pengertian ini masyarakat mempengaruhi mereka, memberi mereka kemampuan melalui kritik

diri, untuk mengendalikan mereka sendiri.55 Kenapa dikatakan

masyarakat mendahului pikiran dan diri individu? Karena sebenarnya jauh sebelum individu (seorang manusia) dan pikirannya ada (hadir ke

55George Ritzer,Op. Cit., h. 271

(33)

bumi) masyarakat itu sendiri sudah ada. Bahkan Mead mengatakan tindakan komunitas tertuju pada individu berdasarkan keadaan tertentu.

Jadi, menurut Mead seorang anak (individu) yang baru lahir dan hidup di lingkungan pasar, merupakan suatu hal yang lumrah baginya apabila berbicara dengan nada yang agak keras. Karena faktor lingkungan dan masyarakat yang mempengaruhinya.

Referensi

Dokumen terkait

pada rakaat terakhir setelah bangun dari sujud yang terakhir.. kalian berkaitan dengan cara salat rasulullah saw. Saya lihat beliau ketika bertakbir, mengangkat tangan sejajar

Sujud syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan kuasa-Nya kepada penulis, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad

1) Membiasakan Membacakan Buku Sejak Anak dalam Kandungan. Anak sudah dapat mendengar suara ibu dan ayahnya sejak dalam kandungan. Dengan membacakan buku sejak masih di

Radio sebagai media memiliki sifat yang khas yang terdiri dari kelebihan dan kelemahannya jika dibandingkan dengan media massa lain seperti, Surat Kabar, Majalah maupun

Persamaan pada penelitian yang berjudul Register Perekonomian pada Rubik Ekonomi Surat Kabar Harian Kompas dengan penelitian peneliti yang berjudul Register Bidang

Infografis kini dapat ditemukan di berbagai surat kabar, presentasi, dan internet dengan beragam jenis visual grafis yang mencakup peta diagram, visualisasi data dan

emiter mendapat bias positif maka seperti pada dioda, elektron mengalir dari emiter menuju base. Kolektor pada rangkaian ini lebih positif sebab mendapat

Ayat tersebut memberi anjuran manusia untuk menjauhi kemiskinan dengan bekerja keras sebagai wujud ikhtiyar dan bertawakal kepada Allah, sebagaimanan hadits Rasulullah SAW yang